Anda di halaman 1dari 43

PAJAK PENGHASILAN

Pajak penghasilan adalah pajak yang dibebankan pada penghasilan


perorangan, perusahaan atau badan hukum lainnya. Pajak penghasilan bisa
diberlakukan progresif, proporsional, atau regresif.

Sejarah Pajak Penghasilan

Pengenaan pajak langsung sebagai cikal bakal dari pajak penghasilan


sudah terdapat pada zaman Romawi Kuno, antara lain dengan adanya pungutan
yang bernama tributum yang berlaku sampai dengan tahun 167 Sebelum Masehi.
Pengenaan pajak pajak penghasilan secara eksplisit yang diatur dalam suatu
Undang-undang sebagai Income Tax baru dapat ditemukan di Inggris pada tahun
1799. Di Amerika Serikat, pajak penghasilan untuk pertama kali dikenal di New
Plymouth pada tahun 1643, dimana dasar pengenaan pajak adalah " a person's
faculty, personal faculties and abilitites", Pada tahun 1646 di Massachusett dasar
pengenaan pajak didasarkan pada "returns and gain". “Tersonal faculty and
abilities" secara implisit adalah pengenaan pajak pengahasilan atas orang pribadi,
sedangkan "Returns and gain" berkonotasi pada pajak penghasilan badan.
Tonggak-tonggak penting dalam sejarah pajak di Amerika Serikat adalah Undang-
Undang Pajak Federal tahun 1861 yang selanjutnya telah beberapa kali
mengalami tax reform, terakhir dengan Tax Reform Act tahun 1986. Surat
Pemberitahuan Pajak Penghasilan (tax return) yang dibuat pada tahun 1860-an
berdasarkan Undang-Undang Pajak Federal tersebut telah dipergunakan sampai
dengan tahun 1962.

Pajak Penghasilan di Indonesia

Sejarah pengenaan Pajak Penghasilan di Indonesia dimulai dengan adanya


tenement tax (huistaks) pada tahun 1816, yakni sejenis pajak yang dikenakan
sebagai sewa terhadap mereka yang menggunakan bumi sebagai tempat
berdirinya rumah atau bangunan. Pada periode sampai dengan tahun 1908
terdapat perbedaan perlakuan perpajakan antara penduduk pribumi dengan orang

1
Asia dan Eropa, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa terdapat banyak
perbedaan dan tidak ada uniformitas dalam perlakuan perpajakan Tercatat
beberapa jenis pajak yang hanya diperlakukan kepada orang Eropa seperti "patent
duty". sebaliknya business tax atau bedrijfsbelasting untuk orang pribumi. Di
samping itu, sejak tahun 1882 hingga 1916 dikenal adanya Poll Tax yang
pengenaannya berdasarkan status pribadi, pemilikan rumah dan tanah.

Pada 1908 terdapat Ordonansi Pajak Pendapatan yang diperlakukan untuk


orang Eropa, dan badan-badan yang melakukan usaha bisnis tanpa memperhatikan
kebangsaan pemegang sahamnya. Dasar pengenaan pajaknya penghasilan yang
berasal dari barang bergerak maupun barang tak gerak, penghasilan dari usaha,
penghasilan pejabat pemerintah, pensiun dan pembayaran berkala. Tarifnya
bersifat proporsional dari 1%, 2% dan 3% atas dasar kriteria tertentu. Selanjutnya,
tahun 1920 dianggap sebagai tahun unifikasi, dimana dualistik yang selama ini
ada, dihilangkan dengan diperkenalkannya General Income Tax yakni Ordonansi
Pajak Pendapatan Yang Dibaharui tahun 1920 (Ordonantie op de Herziene
Inkomstenbelasting 1920, Staatsblad 1920 1921, No.312) yang berlaku baik bagi
penduduk pribumi, orang Asia maupun orang Eropa. Dalam Ordonansi Pajak
Pendapatan ini telah diterapkan asas-asas pajak penghasilan yakni asas keadilan
domisili dan asas sumber.

Karena desakan kebutuhan dengan makin banyaknya perusahaan yang


didirikan di Indonesia seperti perkebunan-perkebunan (ondememing), pada tahun
1925 ditetapkanlah Ordonansi Pajak Perseroan tahun 1925 (Ordonantie op de
Vennootschapbelasting) yakni pajak yang dikenakan tethadap laba perseroan,
yang terkenal dengan nama PPs (Pajak Perseroan). Ordonansi ini telah mengalami
beberapa kali perubahan dan penyempurnaan antara lain dengan UU No. 8 tahun
1967 tentang Psnibahan dan Penyempurnaan Tatacara Pcmungiitan Pajak
Pendapatan 1944, Pajak Kekayaan 1932 dan Pajak Perseroan tahun 1925 yang
dalam praktck lebih dikenal dengan UU MPO dan MPS. Perubahan penting
lainnya adalah dengan UU No. 8 tahun 1970 dimana fungsi pajak
mengatur/regulerend dimasukkan ke dalam Ordonansi PPs 1925., khususnya
tentang ketentuan "tax holiday".

2
Ordonasi PPs 1925 berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 1983,
yakni pada saat diadakannya tax reform, Pada awal tahun 1925-an yakni dengan
mulai berlakunya Ordonansi Pajak Perseroan 1925 dan dengan perkembangan
pajak pendapatan di Negeri Belanda, maka timbul kebutuhan untuk merevisi
Ordonansi Pajak Pendapatan 1920, yakni dengan ditetapkannnya Ordonasi Pajak
Pendapatan tahun 1932 (Ordonantie op de Incomstenbelasting 1932, Staatsblad
1932, No.111) yang dikenakan kepada orang pribadi (Personal Income Tax).
Asas-asas pajak penghasilan telah diterapkan kepada penduduk Indonesia; kepada
bukan penduduk Indonesia hanya dikenakan pajak atas penghasilan yang
dihasilkannnya di Indonesia; Ordonansi ini juga telah mengenal asas sumber dan
asas domisili.

Dengan makin banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia, maka


kebutuhan akan mengenakan pajak terhadap pendapatan karyawan perusahaan
muncul. Maka pada tahun 1935 ditetapkanlah Ordonansi Pajak Pajak Upah
(loonbelasting) yang memberi kewajiban kepada majikan untuk memotong Pajak
Upah/gaji pegawai yang mempunyai tarif progresif dari 0% sampai dengan 15%.
Pada zaman Perang Dunia II diberlakukan Oorlogsbelasting (Pajak Perang)
menggantikan ordonansi yang ada dan pada tahun 1946 diganti dengan nama
Overgangsbelasting (Pajak Peralihan). Dengan UU Nomor 21 tahun 1957 nama
Pajak Peralihan diganti dengan nama Pajak Pendapatan tahun 1944 yang disingkat
dengan Ord. PPd. 1944. Pajak Pendapatan sendiri disingkat dengan PPd. Saja.

Ord. PPd. 1944 setelah beberapa kali mengalami perubahan terutama


dengan perubahan tahun 1968 yakni dengan adanya UU No. 8 tahun 1968 tentang
Perubahan dan Penyempurnaan Tatacara Pemungutan Pajak Pendapatan 1944,
Pajak Kekayaan 1932 dan Pajak Perseroan 1925, yang lebih terkenal dengan "UU
MPO dan MPS". Perubahan lainnya adalah dengan UU No. 9 tahun 1970 yang
berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 1983, yakni dengan diadakannya tax
reform di Indonesia.

3
Subyek pajak penghasilan

Menurut Undang Undang no.36 tahun 2008 tentang pajak penghasilan, subyek
pajak penghasilan adalah sebagai berikut:

1. Subyek pajak pribadi yaitu orang pribadi yang bertempat tinggal di


Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus
delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau
orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan
mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.
2. Subyek pajak harta warisan belum dibagi yaitu warisan dari seseorang
yang sudah meninggal dan belum dibagi tetapi menghasilkan pendapatan,
maka pendapatan itu dikenakan pajak.
3. Subyek pajak badan badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di
Indonesia, kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi
kriteria:

Pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan;

Pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau


Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;

penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau Pemerintah


Daerah; dan pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara;
dan

1. Bentuk usaha tetap yaitu bentuk usaha yang digunakan oleh orang
pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di indonesia
tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan, atau badan
yang tidak didirikan dan berkedudukan di Indonesia, yang melakukan
kegiatan di Indonesia.

4
Bukan subyek pajak penghasilan

Undang Undang No. 17 tahun 2000 menjelaskan tentang apa yang tidak termasuk
obyek pajak sebagai berikut:

1. Badan perwakilan negara asing.


2. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat - pejabat lain dari
negara asing dan orang - orang yang diperbantukan kepada mereka yang
bekerja pada dan bertempat tinggal bersama mereka dengan syarat bukan
warga negara indonesia dan negara yang bersangkutan memberikan
perlakuan timbal balik.
3. Organisasi internasional yang ditetapkan oleh keputusan menteri keuangan
dengan syarat Indonesia ikut dalam organisasi tersebut dan organisasi
tersebut tidak melakukan kegiatan usaha di Indonesia. Contoh: WTO,
FAO, UNICEF.
4. Pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh
keputusan menteri keuangan dengan syarat bukan warga negara indonesia
dan tidak memperoleh penghasilan dari Indonesia.

Obyek Pajak Penghasilan

Yang menjadi Objek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap Tambahan


Kemampuan Ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang
berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk
konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan,
dengan nama dan dalam bentuk apapun.

Undang-undang Pajak Penghasilan Indonesia menganut prinsip pemajakan


atas penghasilan dalam pengertian yang luas, yaitu bahwa pajak dikenakan atas
setiap tambahan kemampuan ekonomis yang Diterima atau Diperoleh Wajib
Pajak dari manapun asalnya yang dapat dipergunakan untuk konsumsi atau
menambah kekayaan Wajib Pajak tersebut.

5
Pengertian penghasilan dalam Undang-undang PPh tidak memperhatikan
adanya penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada adanya tambahan
kemampuan ekonomis. Tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak merupakan ukuran terbaik mengenai kemampuan Wajib
Pajak tersebut untuk ikut bersama-sama memikul biaya yang diperlukan
pemerintah untuk kegiatan rutin dan pembangunan.

Dilihat dari penggunaannya, penghasilan dapat dipakai untuk konsumsi


dan dapat pula ditabung untuk menambah kekayaan Wajib Pajak.

Karena Undang-undang PPh menganut pengertian penghasilan yang luas


maka semua jenis penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu tahun
pajak digabungkan untuk mendapatkan dasar pengenaan pajak. Dengan demikian,
apabila dalam satu Tahun Pajak suatu usaha atau kegiatan menderita kerugian,
maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan lainnya
(Kompensasi Horisontal), kecuali kerugian yang diderita di luar negeri. Namun
demikian, apabila suatu jenis penghasilan dikenakan pajak dengan tarif yang
bersifat final atau dikecualikan dari Objek Pajak, maka penghasilan tersebut tidak
boleh digabungkan dengan penghasilan lain yang dikenakan tarif umum.

Kronologi Perubahan Undang-undang yang mengatur Pajak Penghasilan

Pajak Penghasilan (disingkat PPh) di Indonesia diatur pertama kali dengan


Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 dengan penjelasan pada Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50. Selanjutnya berturut-turut peraturan
ini diamandemen oleh :

1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1991,


2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994, dan
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000.
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.

6
Mulai Juli 2003 sampai Desember 2004, pemerintah menerapkan sistem pajak
yang ditanggung pemerintah yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47
Tahun 2003 dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 486/KMK.03/2003.

Perubahan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) telah disesuaikan juga beberapa
kali dalam:

1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 564/KMK.03/2004, berlaku untuk


tahun pajak 2005 (sekaligus meniadakan pajak yang ditanggung
pemerintah).
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 137/PMK.03/2005, berlaku untuk
tahun pajak 2006.

Pajak penghasilan atau PPh untuk Koperasi

Pajak penghasilan atau PPh sedang "in" saat ini. Sunset policy yang di luncurkan
direktorat pajak untuk mendorong orang atau badan memilik NPWP masih terus
diperpanjang. Menghitung Pajak penghasilan atau PPh dimulai dengan
menghitung hitung dulu Penghasilan Kena Pajak. Rumus PPh: penghasilan
dikurangi biaya-biaya. Kemudian terapkan tarif Pajak penghasilan Kena Pajak
tersebut.

Tarif Pajak penghasilan atau PPh dibagi atas:

1. Untuk WP orang pribadi

s
Rp. 0 s.d. Rp 25 juta, tarifnya 5%
Rp. 25 juta s.d. Rp 50 juta, tarifnya 10%
Rp. 50 juta s.d. Rp 100 juta, tarifnya 15%
Rp. 100 juta s.d. Rp 200 juta, tarifnya 25%
Rp. 200 juta ke atas, tarifnya 35%

7
2. Untuk WP berbentuk badan usaha
Rp. 0 s.d. Rp 50 juta, tarifnya 10%
Rp. 50 juta s.d. Rp 100 juta, tarifnya 15%
Rp. 100 juta ke atas, tarifnya 30%

Tarif Pajak penghasilan atau PPh dibagi atas adalah tarif progresif. Artinya setiap
lapisan Penghasilan Kena Pajak dikenakan sesuai tarifnya, tidak diakumulasi
terlebih dahulu, baru dikenakan tarif. Sebelum dikenakan tarif, Penghasilan Kena
Pajak dibulatkan dulu sampai ribuan ke bawah.

contoh :

1. Penghasilan Kena Pajak WP orang pribadi = Rp 300.000.950


Penghasilan Kena Pajak dibulatkan : Rp 300.000.000

PPh nya adalah :


5% x Rp 25.000.000 = Rp 1.250.000
10% x Rp 25.000.000 = Rp 2.500.000
15% x Rp 50.000.000 = Rp 7.500.000
25% x Rp 100.000.000 = Rp 25.000.000
35% x Rp 100.000.000 = Rp 35.000.000
Total = Rp 71.250.000.

2. Penghasilan Kena Pajak WP badan = Rp 300.000.950.


Penghasilan Kena Pajak dibulatkan : Rp 300.000.000

PPh nya adalah :


10% x Rp 50.000.000 = Rp 5.000.000
15% x Rp 50.000.000 = Rp 7.500.000
30% x Rp 200.000.000 = Rp 60.000.000
Total = Rp 72.500.000.

8
Bagaimana dengan pajak koperasi? Menurut sudut pandang pajak koperasi adalah
objek pajak hal ini sesuai dengan pengertian koperasi secara spesifik kedudukan
koperasi di mata hukum pajak adalah sebagai berikut.

• Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 17 Tahun


2000, koperasi merupakan badan usaha yang merupakan subjek pajak
yang memiliki kewajiban dan hak perpajakan yang sama dengan badan
usaha lainnya.
• Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh koperasi adalah objek
pajak.
• Modal koperasi terdiri dari : modal sendiri dan modal pinjaman
• Anggota koperasi tidak dibedakan antara orang pribadi dan badan hukum
dalam negeri.

Jika koperasi adalah badan usaha yang terkena pajak lantas penghasilaha apa saja
yang menjadi objek Pajak penghasilan atau PPh :

1. Bunga Simpanan Koperasi


Bunga simpanan koperasi merupakan imbalan yang diberikan koperasi kepada
anggota berdasarkan simpanan wajib dan sukarela yang disetorkan kepada
koperasi. Bunga simpanan koperasi yang akan diterima oleh anggota sesuai
dengan Ad/ART Koperasi :
 Bunga simpanan koperasi yang diterima atau diperoleh
anggota dipotong Pajak penghasilan atau PPh :
Pasal 23 final oleh koperasi sebesar 15% dari jumlah bunga yang diterima
sepanjang jumlah bunga simpanan yang diterima atau diperoleh anggota
lebih dari Rp 240.000,00 setiap bulannya.
 Dalam hal bunga simpanan yang diterima anggota tidak
melebihi Rp 240.000,00 dalam sebulan, dikecualikan dari pemotongan
PPh Pasal 23

9
2. Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi
 Sisa Hasil Usaha (SHU) adalah pendapatan koperasi yang
diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya-biaya operasional
dan kewajiban lainnya termasuk pajak dalam tahun buku yang
bersangkutan.
 SHU merupakan bagian laba yang diberikan kepada
anggota atas simpanan pokoknya.
 Pemberian SHU tidak dijanjikan di awal, tetapi tergantung
pada laba yang diperoleh koperasi.
 Berdasarkan pasal 4 ayat (1) huruf g Undang-undang
Nomor 17 Tahun 2000, SHU termasuk ke dalam pengertian dividen yang
merupakan objek PPh sehingga harus dilaporkan dalam SPT Tahunnan
penerima.
 Namun, pembagian SHU tersebut bukan merupakan objek
PPh Pasal 23 oleh pihak lain (Lihat pasal 23 ayat (4) huruf f Undang-
Undang nomor 17 Tahun 2000).

Kewajiban Koperasi sebagai Pemotong Pajak

1. Memotong PPh pada saat pembayaran atau terutangnya bunga dan


memberikan bukti pemotongan kepada anggota yang menerima bunga
simpanan koperasi.
2. Menyetorkan secara kolektif PPh selambat-lambatnya tanggal 10 bulan
berikutnya (menggunakan SSP dimana kolom nama dan NPWP SSP diisi
dengan nama dan NPWP koperasi).
3. Melaporkan ke KPP terkait selambat-lambatnya tanggal 20 bulan
berikutnya (menggunakan SPT Masa PPh Pasal 23/26).

Penghasilan koperasi yang bukan objek pajak

10
1. Bantuan atau sumbangan yang diterima oleh koperasi sepanjang tidak ada
hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan (Lihat
Pasal 4 ayat (3) huruf a Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000).
2. Harta hibahan yang diterima oleh koperasi sepanjang antara pemberi hibah
dengan koperasi tersebut tidak ada hubungan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan dengan syarat bahwa nilai aktiva (nilai
kekayaan koperasi sebelum dikurangi dengan hutang) tidak termasuk
tanah dan bangunan pada saat akan menerima hibah, tidak lebih dari Rp
600.000.000,00. Dividen atas bagian laba dari penyertaan modal pada
badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia (Lihat
Pasal 4 ayat (3) huruf f)
3. Sisa hasil usaha yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya.
4. Bunga simpanan yang tidak melebihi Rp 240.000,00 setiap bulannya.

11
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap
pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke
konsumen. Dalam bahasa Inggris, PPN disebut Value Added Tax (VAT) atau
Goods and Services Tax (GST). PPN termasuk jenis pajak tidak langsung,
maksudnya pajak tersebut disetor oleh pihak lain (pedagang) yang bukan
penanggung pajak atau dengan kata lain, penanggung pajak (konsumen akhir)
tidak menyetorkan langsung pajak yang ia tanggung.

Mekanisme pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN ada pada pihak


pedagang atau produsen sehingga muncul istilah Pengusaha Kena Pajak yang
disingkat PKP. Dalam perhitungan PPN yang harus disetor oleh PKP, dikenal
istilah pajak keluaran dan pajak masukan. Pajak keluaran adalah PPN yang
dipungut ketika PKP menjual produknya, sedangkan pajak masukan adalah PPN
yang dibayar ketika PKP membeli, memperoleh, atau membuat produknya.
Indonesia menganut sistem tarif tunggal untuk PPN, yaitu sebesar 10 persen.
Dasar hukum utama yang digunakan untuk penerapan PPN di Indonesia adalah
Undang-Undang No. 8/1983 berikut revisinya, yaitu Undang-Undang No.
11/1994 dan Undang-Undang No. 18/2000.

Barang tidak kena PPN


Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari
sumbernya, meliputi:
1. Minyak mentah.
2. Gas bumi.
3. Panas bumi.

12
4. Pasir dan kerikil.
5. Batu bara sebelum diproses menjadi briket batu bara.
6. Bijih timah, bijih besi, bijih emas, bijih tembaga, bijih nikel, bijih perak,
dan bijih bauksit.
Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat
Objek Pajak Pertambahan Nilai
Apabila ditinjau dari jenis penyerahan yang menjadi objek PPN, maka terdapat 6
(enam) jenis PPN. Dari keenam jenis PPN, 2 (dua) jenis di antaranya dibatasi
dengan unsur untuk dapat mengenakan PPN, yaitu PPN Barang dan PPN Jasa.
Unsur-unsur yang harus dipenuhi untuk dapat dikenakan PPN adalah:
1. adanya penyerahan;
2. yang diserahkan adalah Barang Kena Pajak (BKP);
3. yang menyerahkan adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP);
4. penyerahannya harus di Daerah Pabean, yaitu daerah Republik Indonesia;
5. PKP yang menyerahkan harus dalam lingkungan perusahaan pekerjaannya
terhadap barang yang dihasilkan.

Penyerahan yang dikenakan PPN meliputi:


1. penyerahan hak karena suatu perjanjian;
2. pengalihan barang karena suatu perjanjian sewa-beli dan perjanjian
leasing;
3. penyerahan kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang;
4. pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma;
5. penyerahan likuidasi atas aktiva yang tujuan semula tidak untuk
diperjuabelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran, sepanjang PPN
sewaktu memperoleh aktiva dapat dikreditkan menurut perundang-
undangan perpajakan yang bersangkutan;
6. penyerahan dari cabang ke cabang lainnya, atau dari pusat ke cabang atau
sebaliknya;
7. penyerahan secara konsinyasi.

Menghitung PPN Pajak Masukan

13
Sasaran Pajak Pertambahan Nilai bukan harga jual atau penggantian, atau
nilai impor, atau nilai ekspor, melainkan nilai tambah atas penyerahan BKP, atau
pemberian JKP dan seterusnya. Tetapi untuk mencari nilai tambah tidak semudah
diduga, bahkan sulit, karena antara barang yang dibeli tidak harus sama dengan
barang yang dijual dan faktor lainnya. Untuk memudahkan dalam perhitungannya
maka yang ditunjuk sebagai dasar pengenaan adalah harga jual untuk PPN
Barang, penggantian untuk PPN Jasa, Nilai Impor untuk impor barang dan
sebagainya. Tetapi pelaksanaannya menimbulkan pajak berganda.

Untuk menghindari pemungutan pajak berganda dapat dilakukan beberapa


cara, yaitu:
1. Menerapkan kredit PPN atas bahan baku atau bahan pembantu termasuk
faktor produksi lainnya;
2. Mencari nilai tambah pada setiap produksi;
3. Menerapkan tarif yang berbeda-beda dengan memperhatikan tingkat
tahapan produksi seperti barang jadi, barang setengah jadi dan barang
esensial;
4. Menentukan dasar pengenaan dengan memperhatikan pertambahan
nilainya;
5. Menerapkan pemungutan sekali.

Mengkredit Pajak Masukan

Yang melatarbelakangi sistem kredit pajak adalah upaya untuk


menghindari pengenaan pajak berganda, sebagaimana yang telah ditetapkan
dalam Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai bahwa sasaran pengenaannya
adalah pertambahan nilai. Sedangkan untuk menghitung besarnya pertambahan
nilai untuk setiap unit produksi adalah sulit sekali. Oleh karena itu, untuk
memudahkan (menyederhanakan) cara perhitungan pajaknya maka ditetapkan
harga jual sebagai dasar pengenaan, dengan ketentuan bahwa PPN yang terutang
dan telah dibayar sewaktu membeli Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak

14
dikreditkan dari PPN yang akan dibayar sewaktu melakukan penjualan Barang
Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak.
Meskipun demikian, agar tercegah adanya pengkreditan pajak yang tidak
semestinya, maka tidak setiap pajak masukan dapat dikreditkan, melainkan
terbatas yang telah memenuhi persyaratan.
Melalui sistem pengkreditan pajak masukan tersebut, akan menghasilkan 3 (tiga)
alternatif:
1. Masih harus membayar PPN, dalam hal pajak Keluaran lebih besar
daripada Pajak Masukan;
2. Terjadi kelebihan pembayaran pajak, dalam hal Pajak Keluaran lebih kecil
daripada Pajak Masukan;
3. Tidak kurang bayar dan tidak terjadi kelebihan pembayaran PPN, dalam
Pajak Keluaran sama dengan Pajak Masukan.
4. Latar Belakang Diberlakukannya Pajak Penjualan atas Barang Mewah
5. Setiap pemungutan pajak termasuk pemungutan Pajak Pertambahan Nilai
diharapkan mencerminkan keadilan baik secara horizontal maupun
vertikal. Untuk mencapai sasaran agar pemungutan Pajak Pertambahan
Nilai mencerminkan keadilan tersebut maka diberlakukan pemungutan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), di samping diberlakukan
tarif proporsional dan progresif.

MEKANISME PEMBAYARAN PPN

Pembayaran PPN dapat dilakukan dengan cara menitipkan uang pajak


kepada pihak penjual (pihak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa
Kena Pajak) yang telah berstatus sebagai Pengusaha Kena Pajak, atau dengan cara
membayarkannya secara langsung ke negara.
1. Pembayaran PPN dengan Menitipkan Ke Pihak Penjual
Pembayaran PPN dengan cara menitipkan uang pembayarannya kepada pihak
penjual, yaitu pihak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena
Pajak dan telah berstatus sebagai Pengusaha Kena Pajak, dilakukan dalam hal
terjadi konsumsi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak oleh siapapun dari

15
pihak penjual atau pihak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa
Kena Pajak tersebut. Cara seperti ini merupakan cara yang paling umum
dilakukan dan dikenal dengan mekanisme umum. Dengan mekanisme ini,
pihak penjual atau pihak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa
Kena Pajak tersebut akan mendapatkan aliran uang masuk (cash inflow)
berupa Pajak Pertambahan Nilai (Pajak Keluaran). Pajak Keluaran yang telah
diterima dan merupakan cash inflow tersebut, akan disetorkan atau tidak
disetorkan ke negara, tergantung kepada hasil pertandingan antara Pajak
Keluaran tersebut dengan Pajak Masukan atau Cash Outflow.

Pembayaran PPN Secara Langsung ke Negara


Mekanisme pembayaran Pajak Pertambahan Nilai dengan cara membayarkan
secara langsung ke negara, dilakukan apabila:
a. Dalam hal Pengusaha Kena Pajak menyerahkan Barang
Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak kepada Instansi Pemerintah, dimana instansi
pemerintah tidak menitipkan uang pembayaran PPN kepada pihak penjual,
melainkan langsung menyetorkannya ke negara;
b. Dalam hal terjadi impor Barang Kena Pajak, dimana pihak
yang melakukan impor akan membayar PPN secara langsung ke negara
sebagai bagian dari persyaratan untuk menebus Barang Kena Pajak yang
diimpornya;
c. Dalam hal terjadi pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar
daerah pabean, dimana pihak yang memanfaatkan Jasa Kena Pajak akan
menyetor sendiri PPN yang terutang dengan menggunakan Surat Setoran
Pajak yang berfungsi sebagai Faktur Pajak Standar;
d. Dalam hal terjadi pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak
berwujud dari luar daerah pabean, dimana pihak yang memanfaatkan Barang
Kena Pajak tidak berwujud tersebut akan menyetor sendiri PPN yang terutang
dengan menggunakan Surat Setoran Pajak yang berfungsi sebagai Faktur
Pajak Standar;
e. Dalam hal terjadi kegiatan membangun bangunan yang
dilakukan sendiri, apabila persyaratan-persyaratannya dipenuhi;

16
f. Dalam hal terjadi penyerahan aktiva yang menurut tujuan
semula tidak untuk diperjualbelikan, apabila persyaratan-persyaratannya
dipenuhi;
g. Dalam hal SPT Masa PPN berstatus kurang bayar yang
disebabkan oleh jumlah Pajak Keluaran yang lebih besar dibandingkan dengan
jumlah Pajak Masukan, dimana batas paling lambat untuk menyetorkan
selisihnya (Pajak Keluaran –VS- Pajak Masukan) adalah pada tanggal 15
(lima belas) bulan berikutnya. Terdapat Pengusaha Kena Pajak tertentu yang
Dasar Pengenaan Pajaknya menggunakan Nilai Lain, artinya jumlah Pajak
Masukannya dianggap (deemed) selalu lebih kecil dibandingkan dengan
jumlah Pajak Keluarannya, sehingga SPT Masa PPN-nya selalu berstatus
kurang bayar.

KARAKTERISTIK PAJAK PERTAMBAHAN NILAI


Sebagai pajak yang dikenakan terhadap kegiatan konsumsi, Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:
1. Pajak Obyektif
PPN tergolong sebagai pajak yang obyektif, karena penekanannya mula-
mula kepada obyeknya terlebih dahulu, baru kemudian kepada subyeknya.
Siapapun subyeknya (masyarakat yang mampu maupun yang kurang mampu),
akan dikenakan PPN, selama mereka mengonsumsi Barang Kena Pajak atau
Jasa Kena Pajak, di dalam daerah pabean. Perlakuan PPN yang sama terhadap
semua kelompok masyarakat inilah, baik yang miskin maupun yang kaya,
yang menimbulkan sifat tidak adil. Kelemahan ini kemudian diatasi dengan
pemberian pajak tambahan yaitu Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM)
terhadap konsumsi atas BKP tertentu yang digolongkan oleh pemerintah
sebagai BKP mewah, yang umumnya hanya dikonsumsi oleh golongan
masyarakat yang telah mampu secara ekonomi.

Mekanisme Pengkreditan
Setiap akhir masa pajak, Pengusaha Kena Pajak akan melaporkan SPT
Masa PPN yang merupakan tempat untuk mempertandingkan antara Pajak

17
Keluaran dengan Pajak Masukan. Pajak Masukan menimbulkan aliran uang
keluar atau cash outflow, sedangkan pajak keluaran menimbulkan aliran uang
masuk atau cash inflow. Pajak Masukan merupakan uang muka pajak,
sedangkan pajak keluaran merupakan hutang pajak. Saldo keduanya akan
saling dioffset, di dalam SPT Masa PPN, setelah masa pajak berakhir, dan
akan menghasilkan tiga kemungkinan: Pertama, akan menghasilkan
kekurangan pembayaran pajak apabila jumlah Pajak Keluaran atau Cash
Inflow melebihi jumlah Pajak masukan atau Cash Outflow; Kedua, akan
menghasilkan kelebihan pembayaran pajak apabila jumlah Pajak Masukan
atau Cash Outflow melebihi jumlah Pajak Keluaran atau Cash Inflow. Ketiga,
akan menghasilkan jumlah nihil apabila jumlah Pajak Keluaran atau Cash
Inflow sama dengan jumlah Pajak Masukan atau Cash Outflow.
Pemahaman mengenai cash inflow untuk Pajak Keluaran dan Cash
Outflow untuk Pajak Masukan ini menjelaskan mengapa untuk transaksi
penyerahan BKP/JKP kepada Instansi Pemerintah dan ekspor akan
menimbulkan kelebihan bayar PPN. Hal ini dikarenakan Pajak Keluarannya
tidak menimbulkan uang masuk (cash inflow), yang akan bertanding dengan
Pajak Masukan yang telah menimbulkan aliran uang keluar (cash outflow).
Tetapi, untuk transaksi-transaksi tertentu yang TIDAK PERNAH
menimbulkan Pajak Keluaran sehingga tidak menimbulkan aliran uang masuk
(zero cash inflow), Pajak Masukannya (cash outflow) juga tidak dapat
dikreditkan, yaitu, pertama, transaksi penyerahan bukan Barang Kena Pajak
atau bukan Jasa Kena Pajak yang tidak terutang PPN. Kedua, transaksi
penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang mendapatkan
fasilitas di bidang PPN, seperti penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena
Pajak yang mendapat fasilitas PPN dibebaskan, ditunda, ditangguhkan, atau
ditanggung pemerintah. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghindari
kelebihan bayar Pajak Pertambahan Nilai.

FAKTUR PAJAK STANDAR CACAT

18
Faktur pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh pengusaha
kena pajak yang melakukan penyerahan barang kena pajak atau penyerahan
jasakena pajak atau bukti pungutan pajak karena impor barang kena pajak yang
digunakan oleh Direktorat jenderal Pajak. Bagi pengusaha kena pajak (PKP)
faktur pajak ini merupakan bukti dari pemenuhan kewajiban perpajakannya. Bagi
pembeli atau penerima jasa faktur pajak ini digunakan sebagai sarana
pengkreditan pajak masukan.

Faktur pajak dapat digunakan sebagai sarana pengkreditan jika faktur


pajak tersebut tidak cacat. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui
bilamana faktur pajak itu dinyatakan sebagai faktur pajak yang cacat. Berikut ini
adalah cirri-ciri faktur pajak standar:
1. Diisi dengan data yang tidak benar
Pengisisan data yang tidak benar bias berupa NPWP salah, nomor seri faktur
pajak yang tidak benar. Data yang tidak benar juga bias karena kesalahan
penulisan nama pembeli atau nama perusahaan yang tercantum dalam faktur
pajak.
2. Diisi tidak lengkap
Pengisian faktur pajak standar tidak lengkap karena ada kolom atau barus
yang ternyata tidak diisi kecuali kolom “PPnBM” yang disediakan untuk diisi
oleh pabrikan atau importir Barang Kena Pajak (BKP) yang tergolong mewah.
Pengisian tidak lengkap dapat berupa:
• Baris “NPWP” pembeli BKP atau penerima JKP tidak diisi
“jabatan” penandatangan faktur pajak tidak diisi
• Pada baris “jumlah harga jual/penggantian/uang muka/termijn”
tidak dicoret pada bagian kalimat yang tidak perlu sebagaimana diminta
dalam catatan bagian bawah sebelah kiri.
• Tanda tangan menggunakan cap tanda tangan
• Dalam lampiran II butir 13 Keputusan Direktur Jenderal Pajak
nomor KEP-549/PJ./2000 digariskan bahwa cap tanda tangan tidak
diperkenankan dibubuhkan pada faktur pajak.

19
3. Pengisian atau pembetulan dilakukan dengan cara yang tidak benar
4. Faktur pajak dibuat melampaui batas waktu yang telah ditentukan
Mengenai batas waktu pembuatan faktur pajak akan dibahas dalam tulisan
yang lain
5. Faktur pajak dibuat oleh pengusaha yang belum atau tidak dikukuhkan
sebagai pengusaha kena pajak (PKP)

Berdasarkan pasal 14 Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (UU PPN


1984) orang atau badan yang tidak dikukuhkan sebagai PKP dilarang untuk
membuat faktur pajak. Faktur pajak yang dibuat oleh pengusaha non PKP secara
yuridis tidak sah. Oleh karena itu pajak masukan yang tercantum di dalamnya
tidak dapat dikreditkan leh PKP pembeli atau penerima JKP. Bahkan bagi
pengusaha yang belum dikukuhkan sebagai PKP namun menerbitkan faktur pajak
maka menurut Ketentuan Umum Perpajakan akan dikenai sanksi pidana
sebagaimana diatur dalam pasal 39A sebagai berikut yang intinya adalah bahwa
Setiap orang yang dengan sengaja menerbitkan faktur pajak tetapi belum
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dipidana dengan pidana penjara paling
sedikit 2 (dua) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun serta denda paling sedikit 2
(dua) kali jumlah pajak dalam faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti
pemotongan pajak, dan/atau bukti setoran pajak dan paling banyak 6 (enam) kali
jumlah pajak dalam faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti pemotongan
pajak, dan/atau bukti setoran pajak.

Tarif Pajak Dan Cara Menghitung PPN/PPnBM

Berapa tarif PPN/PPnBM ?


1. Tarif PPN adalah 10% (sepuluh persen)
2. Tarif PPn BM adalah serendah-rendahnya 10% (sepuluh persen) dan
setinggi-tingginya 50% (lima puluh persen).

20
Perbedaan kelompok tarif tersebut didasarkan pada pengelompokan Barang Kena
Pajak (BKP) yang tergolong mewah yang atas penyerahan/impor BKP-nya
dikenakan PPn BM.
3. Tarif PPN/ PPn BM atas ekspor BKP adalah 0% (nol persen).
Apa saja yang termasuk DPP ?
1. Harga jual/ penggantian
Adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya
diminta oleh penjual/ pembeli jasa karena penyerahan BKP/ Jasa Kena Pajak
(JKP), tidak termasuk PPN/ PPn BM dan potongan harga yang dicantumkan
dalam Faktur Pajak.
2. Nilai Impor
Adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan Bea Masuk ditambah
pungutan lainnya yang dikenakan berdasarkan ketentuan dalam peraturan
perundang-undangan Pabean untuk Impor BKP, tidak termasuk PPN/ PPn BM.
3. Nilai Ekspor
Adalah nilai berupa uang, termasuk semau biaya yang diminta oleh Eksportir.
4. Nilai lain
Adalah nilai yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang dipakai sebagai dasar
untuk menghitung pajak yang terutang.
Nilai lain tersebut diatur oleh Keputusan Menteri Keuangan Nomor :
642/KMK.04/1994 tanggal 29 Desember 1994 :
a. Untuk pemakaian sendiri/ pemberian cuma-cuma BKP dan/atau
JKP adalah harga jual atau penggantian, tidak termasuk laba kotor
b. Untuk penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah
perkiraan harga jual rata-rata;
c. . Untuk penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata per
judul film;
d. Untuk persedian BKP yang masih tersisa pada saat pembubaran
perusahaan adalah harga pasar wajar;
e. Untuk aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjual
belikan yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan
adalah harga pasar wajar;

21
f. Untuk penyerahan jasa biro perjalanan/ parawisata adalah 10%
(sepuluh persen) dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya
ditagih;
g. Untuk jasa pengiriman paket adalah 10% (sepuluh persen) dari
jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih.
h. Untuk PKP Pedagang Eceran (PE) :
o PPN yang terutang adalah sebesar 10% (sepuluh persen) x harga jual BKP.
o PPN yang harus dibayar adalah sebesar : 10%x20%x jumlah seluruh barang
dagangan.
i. Jasa anjak piutang adalah 5% dari seluruh jumlah imbalan yang
diterima berupa service charge, provisi, dan diskon.
Bagaimana cara menghitung PPN ?
PPN yang terutang = tarif x DPP
PPN yang terutang merupakan Pajak Keluaran (PK) yang dipungut oleh PKP
penjual dan merupakan Pajak Masukan bagi PKP pembeli.

Contoh :

1. PKP "A" bulan Januari 1996 menjual tunai kepada PKP "B"
100 pasang sepatu @ Rp.100.000,00 = Rp.10.000.000,00
PPN terutang yang dipungut oleh PKP"A"
10% x Rp.10.000.000,00 = Rp. 1.000.000,00
Jumlah yang harus dibayar PKP "B" = Rp.11.000.000,00
2. PKP "B" dalam bulan Januari 1996 :
o Menjual 80 pasang sepatu @ Rp.120.000,00 = Rp. 9.600.000,00
o Memakai sendiri 5 pasang sepatu untuk pemakaian sendiri,
DPP adalah harga jual tanpa menghitung laba kotor, yaitu Rp 100.000,- per
pasang = Rp 500.000,00
PPN yang terutang :
o Atas penjualan 80 pasang sepatu
10% x Rp.9.600.000,00 = Rp 960.000,00
o Atas pemakai sendiri

22
10% x Rp.500.000,00 = Rp 50.000,00
Jumlah PPN terutang = Rp 1.010.000,00

3. PKP Pedagang Eceran (PE) "C" menjual


o BKP seharga = Rp.10.000.000,00
o Bukan BKP = Rp. 5.000.000,00
Rp.15.000.000,00
PPN yang terutang
10% x Rp.10.000.000,00 = Rp. 1.000.000,00
PPN yang harus disetor
10% x 20% x Rp.15.000.000,00 = Rp. 300.000,00
4. PKP "D" pabrikan yang menghasilkan mesin cuci pakaian. Mesin cuci
pakaian dikategorikan sebagai BKP yang tergolong mewah dan dikenakan
PPn BM dengan tarif sebesar 20%. Dalam bulan Januari 1996 PKP "D"
menjual 10 buah mesin cuci kepada PKP "E" seharga Rp.30.000.000,00.
o PPN yang terutang
10% x Rp.30.000.000,00 = Rp 3.000.000,00
o PPn BM yang terutang
20% x Rp. 30.000.000,000 = Rp 6.000.000,00
PPN dan PPn BM yang terutang PKP "D" = Rp. 9.000.000,00
5. PKP "E" bulan Januari 1996 menjual 10 buah mesin cuci tersebut diatas
seharga Rp.40.000.000,00
PPN yang terutang
10% x Rp.40.000.000,00 = Rp. 4.000.000,00
Catatan :
PKP "E" tidak boleh memungut PPn BM, karena PKP "E" bukan pabrikan dan
PPn BM dikenakan hanya sekali.
[
Tata Cara Pembayaran Dan Pelaporan PPN/PPnBM

Siapa saja yang wajib membayar/menyetor & melaporkan PPN/PPnBM ?


1. Pengusaha Kena Pajak (PKP)

23
2. Pemungut PPN/PPn BM, adalah :
o KPKN
o Bendaharawan Pemerintah Pusat dan Daerah
o Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
o Pertamina
o BUMN/ BUMD
o Kontraktor Bagi Hasil dan Kontrak Karya bidang Migas dan Pertambangan
Umum lainnya
o Bank Pemerintah
o Bank Pembangunan Daerah
o Perusahaan Operator Telepon Selular.
Apa saja yang wajib disetor oleh PKP dan pemungut PPN & PPnBM ?
1. Oleh PKP adalah :
a. PPN yang dihitung sendiri melalui pengkreditan Pajak Masukan
dan Pajak Keluaran.Yang disetor adalah selisih Pajak Masukan dan
Pajak Keluaran, bila Pajak Masukan lebih kecil dari Pajak
Keluaran.
b. PPn BM yang dipungut oleh PKP Pabrikan Barang Kena Pajak
(BKP) yang tergolong mewah.
c. PPN/ PPn BM yang ditetapkan oleh DJP dalam Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar Tambahan (SKPKBT), dan Surat Tagihan Pajak (STP).
2. Oleh Pemungut PPN/PPn BM adalah PPN/PPn BM yang dipungut oleh
Pemungut PPN/ PPn BM
Dimana tempat pembayaran/penyetoran pajak ?
1. Kantor Pos dan Giro
2. Bank Pemerintah, kecuali BTN
3. Bank Pembangunan Daerah
4. Bank Devisa
5. Bank-bank lain penerima setoran pajak
6. Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Khusus untuk impor tanpa
LKP

24
Kapan saat pembayaran/penyetoran PPN/PPnBM ?
1. PPN dan PPn BM yang dihitung sendiri oleh PKP harus disetorkan paling
lambat tanggal 15 bulan takwim berikutnya setelah bulan Masa Pajak.
Contoh : Masa Pajak Januari 1996, penyetoran paling lambat tanggal 15 Pebruari
1996.
2. . PPN dan PPn BM yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP
harus dibayar/ disetor sesuai batas waktu yang tercantum dalam SKPKB,
SKPKBT, dan STP tersebut.
3. PPN/ PPn BM atas Impor, harus dilunasi bersamaan dengan saat
pembayaran Bea Masuk, dan apabila pembayaran Bea Masuk ditunda/
dibebaskan, harus dilunasi pada saat penyelesaian dokumen Impor.
4. PPN/PPn BM yang pemungutannya dilakukan oleh:
a. Bendaharawan Pemerintah, harus disetor selambat-lambatnya
tanggal 7 bulan takwim berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
b. . Pemungut PPN selain Bendaharawan Pemerintah, harus disetor
selambat-lambatnya tanggal 15 bulan takwim berikutnya setelah
Masa Pajak berakhir.
c. . Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang memungut PPN/ PPn
BM atas Impor, harus menyetor dalam jangka waktu sehari setelah
pemungutan pajak dilakukan.
5. PPN dari penyerahan gula pasir dan tepung terigu oleh Badan Urusan
Logistik (BULOG), harus dilunasi sendiri oleh PKP sebelum Surat
Perintah Pengeluaran Barang (D.O) ditebus.
Catatan:
Apabila tanggal jatuh tempo pembayaran jatuh pada hari libur, maka pembayaran
harus dilaksanakan pada hari kerja berikutnya.

Kapan saat pelaporan PPN/PPnBM ?

1. PPN dan PPn BM yang dihitung sendiri oleh PKP, harus dilaporkan dalam
SPT Masa dan disampaikan kepada Kantor Pelayanan Pajak setempat
selambat-lambatnya 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.

25
2. PPN dan PPn BM yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP
yang telah dilunasi segera dilaporkan ke KPP yang menerbitkan.
3. PPN dan PPn BM yang pemungutannya dilakukan oleh :
a. Bendaharawan Pemerintah harus dilaporkan selambat-lambatnya
14 hari setelah Masa Pajak berakhir.
b. Pemungut Pajak Pertambahan Nilai selain Bendaharawan
Pemerintah harus dilaporkan selambat-lambatnya 20 hari setelah
Masa Pajak berakhir.
c. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atas Impor, harus dilaporkan
secara mingguan selambat-lambatnya 7 hari setelah batas waktu
penyetoran pajak berakhir.
4. Untuk penyerahan gula pasir dan tepung terigu oleh BULOG, maka PPN
dan PPn BM dihitung sendiri oleh PKP, harus dilaporkan dalam SPT Masa
dan disampaikan kepada KPP setempat selambat-lambatnya 20 hari
setelah Masa Pajak berakhir.
Catatan :
Apabila tanggal jatuh tempo pelaporan jatuh pada hari libur, maka pelaporan
harus dilaksanakan pada hari kerja sebelum tanggal jatuh tempo.

Apa sarana yang digunakan untuk melakukan pembayaran/penyetoran pajak?

1. Untuk membayar/menyetor PPN dan PPn BM digunakan formulir Surat


Setoran Pajak yang tersedia gratis di Kantor-kantor Pelayanan Pajak dan
Kantor-kantor Penyuluhan Pajak di seluruh Indonesia.
2. Surat Setoran Pajak menjadi lengkap dan sah bila jumlah PPN/PPnBM
yang disetorkan telah diberi teraan oleh : Bank, Kantor Pos dan Giro, atau
Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai penerima setoran.

PPNBM

PPnBM merupakan jenis pajak yang merupakan satu paket dalam Undang-
undang Pajak Pertambahan Nilai. Namun demikian, mekanisme pengenaan

26
PPnBM ini sedikit berbeda dengan PPN. Berdasarkan Pasal 5 Ayat (1) Undang-
undang PPN, Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dikenakan terhadap :
1. penyerahan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah yang dilakukan
oleh Pengusaha yang menghasilkan Barang Kena Pajak Yang Tergolong
Mewah di dalam Daerah Pabean dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya;
2. impor Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah.
Dengan demikian, PPnBM hanya dikenakan pada saat penyerahan BKP Mewah
oleh pabrikan (pengusaha yang menghasilkan) dan pada saat impor BKP Mewah.
PPnBM tidak dikenakan lagi pada rantai penjualan setelah itu. Adapun fihak yang
memungut PPnBM tentu saja pabrikan BKP Mewah pada saat melakukan
penyerahan atau penjualan BKP Mewah. Sementara itu, PPnBM atas impor BKP
mewah dilunasi oleh importir berbarengan dengan pembayaran PPN impor dan
PPh Pasal 22 Impor.
Dasar Pertimbangan Pengenaan PPnBM
1. perlu keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang
berpenghasilan rendah dengan konsumen yang berpenghasilan tinggi;
2. perlu adanya pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Pajak Yang
Tergolong Mewah;
3. perlu adanya perlindungan terhadap produsen kecil atau tradisional;
4. perlu untuk mengamankan penerimaan negara;
Pengertian BKP Mewah
1. bahwa barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan pokok; atau
2. barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentu; atau
3. pada umumnya barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat
berpenghasilan tinggi; atau
4. barang tersebut dikonsumsi untuk menunjukkan status; atau
5. apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral masyarakat, serta
mengganggu ketertiban masyarakat, seperti minuman beralkohol.
Pengertian Menghasilkan
PPnBM dikenakan pada saat Pengusaha yang menghasilan BKP Mewah
menyerahkan kepada fihak lain. Termasuk dalam pengertian menghasilkan adalah
sebagai berikut ;

27
1. Merakit : menggabungkan bagian-bagian lepas dari suatu barang menjadi
barang setengah jadi atau barang jadi, seperti merakit mobil, barang
elektronik, perabot rumah tangga, dan sebagainya;
2. Memasak : mengolah barang dengan cara memanaskan baik dicampur
bahan lain atau tidak;
3. Mencampur : mempersatukan dua atau lebih unsur (zat) untuk
menghasilkan satu atau lebih barang lain;
4. Mengemas : menempatkan suatu barang ke dalam suatu benda yang
melindunginya dari kerusakan dan atau untuk meningkatkan
pemasarannya;
5. Membotolkan : memasukkan minuman atau benda cair ke dalam botol
yang ditutup menurut cara tertentu;
Tarif, Kelompok dan Jenis BKP Mewah
Berdasarkan Pasal 8 Undang-undang PPN, ditentukan :
1. Tarif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah adalah paling rendah 10%
(sepuluh persen) dan paling tinggi 75% (tujuh puluh lima persen).
2. Atas ekspor Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah dikenakan pajak
dengan tarif 0% (nol persen).
3. Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan kelompok Barang Kena Pajak
Yang Tergolong Mewah yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang
Mewah.
4. Jenis Barang yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah atas
Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah ditetapkan dengan Keputusan
Menteri Keuangan.”

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN DAN PPN BM)

Jatuh tempo : Menyetor tanggal 15 bulan berikutnya


Melapor tanggal 20 bulan berikutnya
Mata Rantai Harga Jual Pajak Keluaran Pajak Masukan PPN
Pabrik (PT. X) Rp 100,000 Rp 10,000 Rp 10,000
¯

28
Distributor (PT. Y) Rp 250,000 Rp 25,000 Rp 10,000 Rp 15,000
¯
Agen (PT. Q) Rp 350,000 Rp 35,000 Rp 25,000 Rp 10,000
¯
Pedagang Besar Rp 500,000 Rp 50,000 Rp 35,000 Rp 15,000
Konsumen Rp 50,000

Contoh soal :
Jasa kena pajak
PT. X membangun outlet dengan luas bangunan 200 m2 dengan biaya Rp
500.000.000,-
Jawaban :
DPP 40% x Rp 500.000.000 = Rp 200,000,000
PPN 10% x Rp 200.000.000 = Rp 20,000,000

PT. Samsung pabrik AC harga jual Rp 4.000.000,- termasuk PPN BM 20%


PPN = Rp 4.000.000 x 10% Rp 400,000
PPN BM = Rp 4.000.000 x 20% Rp 800,000
Harga Jual Rp 4,000,000
Yang harus dibayar Rp 5,200,000

Nilai Import
Cost insurance freigh (CIF) US$ 20.000
Nilai konversi Rp 9.500/US$
Bea masuk 20%
Jawaban :
Nilai import = US$ 20.000,- x Rp 9.500,- Rp 190,000,000
Bea masuk 20% x Rp 190.000.000,- Rp 38,000,000
DPP Rp 228,000,000
PPN 10% Rp 22,800,000
PPN BM 20% Rp 45,600,000
Yang harus dibayar Rp 68,400,000

29
Contoh soal :
PT. Korindo Motors mendapatkan tagihan dari PT. Suzuki atas pembelian mobil
Rp 375.000.000,- termasuk PPN dan PPN BM 40%
PPN BM 50/150 x Rp 375.000.000,- = Rp 125,000,000
PPN 10/150 x Rp 375.000.000,- = Rp 25,000,000
Rp 150,000,000
Harga Rp 375,000,000
PPN BM Rp (125,000,000)
PPN Rp (25,000,000)
Rp 225,000,000

PPN DAN PPn BM DALAM TATA NIAGA KENDARAAN BERMOTOR

Sehubungan dengan adanya keragu-raguan dalam pelaksanaan ketentuan


PPN di bidang tata niaga kendaraan bermotor, dengan ini diberikan beberapa
penegasan sebagai berikut :
1. Dalam tataniaga kendaraan bermotor, mata rantai distribusi kendaraan
bermotor pada umumnya melewati lini-lini sebagai berikut :
a. Lini I : Importir Umum/ATPM/Industri Perakitan.
b. Lini II : Distributor
c. Lini III : Dealer
d. Lini IV : Sub-Dealer/Showroom
2. Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-43/PJ.51/1989
tanggal 7 Agustus 1989 ditegaskan bahwa dalam rangka pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1988, setiap lini dalam distribusi
kendaraan bermotor dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP)
kecuali lini IV (Sub-Dealer/Showroom) tidak dikukuhkan sebagai PKP
karena statusnya sebagai Pedagang Pengecer.
3. Sesuai dengan ketentuan Pasal 37 jo. Pasal 38 Peraturan Pemerintah
Nomor 50 Tahun 1994 sebagaimana beberapa kali diubah terakhir dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 1999, bahwa mulai tanggal 1

30
Januari 1995 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1988 tentang
Pengenaan PPN atas Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) yang
dilakukan oleh Pedagang Besar dan penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP)
disamping Jasa yang dilakukan oleh Pemborong, dinyatakan tidak berlaku.
4. Memperhatikan harga kendaraan bermotor saat ini, maka dalam tata niaga
kendaraan bermotor tidak ada Pengusaha Kecil, karena jumlah peredaran
usaha melebihi Rp. 240.000.000,00 dalam satu tahun buku. Oleh karena
itu setiap Pengusaha pada seluruh lini distribusi kendaraan bermotor
tersebut adalah Pengusaha Kena Pajak, termasuk Sub-dealer/Showroom.
5. Sebagai Pengusaha Kena Pajak, Pengusaha kendaraan bermotor
berkewajiban untuk melakukan hak dan kewajibannya sebagai PKP,
yaitu : memungut, menyetor dan melaporkan PPN dan/atau PPn BM yang
terutang atas penyerahan kendaraan bermotor yang dilakukannya.
6. Diinstruksikan kepada seluruh Kepala Kantor Pelayanan Pajak untuk
melakukan pengawasan kepatuhan dari masing-masing pihak yang terlibat
dalam pendistribusian kendaraan bermotor yang terdaftar di KPP masing-
masing.
7. Untuk mempermudah pemahaman mata rantai distribusi kendaraan
bermotor ini, dapat digambarkan sebagai berikut:
IMPORTIR UMUM/INDUSTRI PERAKITAN/ATPM
(PKP)
------------------------------------------------------------------------
!!
!!
!!
!!

--------------------
DISTRIBUTOR
(PKP)
---------------------
!!
!!
!!
!!
-------------
DEALER ---------------------
(PKP)
-------------

31
------------------------------ ------------------------------------------
SUB-DEALER/SHOWROOM
(PKP)
------------------------------------------
!!
!!
!!
-------------------
KONSUMEN
-------------------
8. Untuk memperjelas mekanisme pemungutan PPN dan PPn BM, diberikan
contoh penghitungan pada Lampiran I Surat Edaran ini.
9. Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta
atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena
Pajak (kendaraan bermotor), tidak termasuk pajak yang dipungut menurut
Undang-Undang Nomor 8 Tahun1983 sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1994 dan potongan harga yang
dicantumkan dalam Faktur Pajak.
Berdasarkan ketentuan di atas, untuk mencegah akibat ganda pengenaan
PPn BM, maka dalam menentukan Dasar Pengenaan Pajak atas
penyerahan Barang Kena pajak yang sama pada rantai berikutnya
(sesudah"Pabrikan"/Importir), unsur PPn BM (seperti halnya
PPNnya)harus dikeluarkan dahulu
10. Dalam hal pembelian kendaraan bermotor dengan sistim on the road
(langsung atas nama pembeli) maka Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
(BBNKB), retribusi untuk Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor
(STNK) dan Buku Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) tidak
merupakan unsur Harga Jual yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak
sepanjang BBNKB serta retribusi untuk STNK dan BPKB tersebut tidak
dicantumkan dalam Faktur Pajak.
Diberikan contoh perhitungan pada lampiran 2 dan 3 Surat Edaran ini.
11.
a. PPN terutang pada saat terjadinya penyerahan kendaraan bermotor
dari PKP (Importir Umum/ATPM/Industri
Perakitan/Distributor/Dealer/Sub-Dealer/Showroom). Dalam hal pembayaran
diterima sebelum penyerahan kendaraan bermotor atau pembayaran uang muka,

32
maka PPN terutang pada saat diterimanya pembayaran tersebut. Jumlah PPN yang
terutang pada saat pembayaran uang muka tersebut dihitung secara proporsional
dengan jumlah pembayarannya dan diperhitungkan dengan PPN yang terutang
pada saat dilakukan penyerahan.

Contoh :
 Harga Jual kendaraan Bermotor Rp 165.000.000,-
(termasuk PPN sebesar Rp 15.000.000,- (10%))
 Uang Muka diterima tanggal 10 Agustus 2000 sebesar Rp.
55.000.000,-
 Kendaraan akan diserahkan tanggal 20 September 2000
dengan kekurangan bayar sebesar Rp. 110.000.000,-
PPN terutang dan harus dipungut :
 - Pada saat diterima uang muka tanggal 10 Agustus 2000,
sebesar 10/110 x Rp 55.000.000,- = Rp 5.000.000,- dan
harus dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan Agustus 2000.
 Pada saat penyerahan kendaraan tanggal 20 September
2000, sebesar 10/110 x Rp 110.000.000,- = Rp 10.000.000,-
dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan September
2000.

b. Apabila atas penyerahan tersebut juga terutang PPn BM karena


penyerahan dilakukan oleh Pemungut PPn BM ("Pabrikan"), maka
dalam pembayaran uang muka yang diterima sebelum penyerahan
kendaraan bermotor, terutang PPn BM disamping terutang PPN.

12. Contoh mekanisme pemungutan PPN dan PPn BM


c. Untuk kendaraan impor dalam keadaan CBU :
1) Importir Umum/Industri Perakitan/ATPM :
a) impor :
 Nilai Impor (DPP) : Rp. 200.000.000,-

33
 PPN (10%) : Rp. 20.000.000,- (Pajak Masukan)
 PPn BM (50%) : Rp. 100.000.000,-
------------------------
Harga Impor : Rp. 320.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP) : Rp. 220.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 22.000.000,- (Pajak Keluaran)
- PPn BM (50%) : Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
------------------------
Harga Penjualan : Rp. 342.000.000,-

2) Distributor :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP) : Rp. 220.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 22.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (50%) : Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
------------------------
Harga Pembelian : Rp. 342.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP) : Rp. 240.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 24.000.000,- (Pajak Keluaran)
- PPn BM (50%) : Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
------------------------
Harga Penjualan : Rp. 364.000.000,-

3) Dealer :
a) Pembelian :

34
- Harga beli (DPP) : Rp. 240.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 24.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (50%) : Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
------------------------
Harga Pembelian : Rp. 364.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP) : Rp. 260.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 26.000.000,- (Pajak Keluaran)
- PPn BM (50%) : Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
------------------------
Harga Penjualan : Rp. 386.000.000,-

4) Sub-Dealer/Showroom :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP) : Rp. 260.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 26.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (50%) : Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
------------------------
Harga Pembelian : Rp. 386.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP) : Rp. 280.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 28.000.000,- (Pajak Keluaran)
- PPn BM (50%) : Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
------------------------
Harga Penjualan : Rp. 408.000.000,- (yang dibayar konsumen)

b. Untuk kendaraan impor dalam keadaan CKD atau produksi dalam negeri :
1) Importir Umum/Industri Perakitan/ATPM :
a) impor :

35
- Nilai Impor (DPP) : Rp. 150.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 15.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (-%) : Rp. -,-
------------------------
Harga Impor : Rp. 165.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP) : Rp. 220.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 22.000.000,- (Pajak Keluaran)
- PPn BM (50%) : Rp. 110.000.000,-
------------------------
Harga Penjualan Rp. 352.000.000,-

2) Distributor :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP) : Rp. 220.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 22.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (50%) : Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
------------------------
Harga Pembelian : Rp. 352.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP) : Rp. 240.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 24.000.000,- (Pajak Keluaran)
- PPn BM (50%) : Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
-----------------------
Harga Penjualan : Rp. 374.000.000,-

3) Dealer :
a) Pembelian :

36
- Harga beli (DPP) : Rp. 240.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 24.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (50%) : Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
------------------------
Harga Pembelian : Rp. 374.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP) : Rp. 260.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 26.000.000,- (Pajak Keluaran)
- PPn BM (50%) : Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
------------------------
Harga Penjualan : Rp. 396.000.000,-

4) Sub-Dealer/Showroom :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP) : Rp. 260.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 26.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (50%) : Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
-----------------------
Harga Pembelian : Rp. 396.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP) : Rp. 280.000.000,-
- PPN (10%) : Rp. 28.000.000,- (Pajak Keluaran)
- PPn BM (50%) : Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
------------------------
Harga Penjualan : Rp. 418.000.000,- (yang dibayar konsumen)

Catatan :
Pemungutan PPn BM dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-17/PJ.51/1999

37
tanggal 2 Nopember 1999 dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-
18/PJ.51/2000 tanggal22 Juni 2000.
14. CONTOH PENGHITUNGAN PPN KENDARAAN BERMOTOR
(Harga Jual On the Road)
1. Dealer "B" menjual satu unit kendaraan bermotor dengan harga jual kepada
pembeli sebesar Rp 205.000.000 (termasuk PPN, PPn BM dan tidak termasuk Bea
Balik Nama) yang dibeli dari Main Dealer "A".
2. Atas pembelian tersebut, Dealer "B" mendapat potongan harga dari Main
Dealer "A".
3. PPn BM sebesar Rp 8.000.000,- sudah dipungut dan dilaporkan oleh Main
Dealer "A".
4. Pengurusan balik nama kendaraan bermotor dilakukan oleh Main Dealer "A"
dan pembeli membayar Rp 18.000.000,- kepada Main Dealer "A" melalui Dealer
"B".
PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PPN OLEH DEALER "B" ADALAH :
Harga Jual Main Dealer "A" (On The Road) Rp 225.000.000,-
Potongan harga untuk Dealer "B" Rp 4.000.000,-
-----------------------
Harga Tebus Rp 221.000.000,-
Bea Balik Nama (BBN) Rp 18.000.000,-
-----------------------
Harga Beli Dealer "B" Rp 203.000.000,-
15. Faktur Pajak (Off the Road) :
BELI JUAL
Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Rp 117.272.727,- Rp 186.363.636,-
PPN (10%) Rp 17.727.273,- Rp 18.636.364,-
PPn BM (15%) Rp 8.000.000,- Rp 8.000.000,-
----------------------- -----------------------
JUMLAH Rp 203.000.000,- Rp 205.000.000,-
16. Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak :
• BELI
100/110 X (Rp 203.000.000,- Rp 8.000.000,-) = Rp 177.272.727,-

38
• JUAL
100/110 x (Rp 205.000.000,- Rp 8.000.000,-) = Rp 186.363.636,-
17. Perhitungan PPN Yang Harus Disetor Ke Kas Negara Oleh Dealer :
- PAJAK KELUARAN (10% x Rp 186.363.636,-) = Rp 18.636.364,-
- PAJAK MASUKAN (10% x Rp 177.272.727,-) = Rp 17.727.273,-
----------------------
PPN yang harus disetor Rp 909.091,-

18. CONTOH PENGHITUNGAN PPN DAN PPn BM KENDARAAN


BERMOTOR
YANG BERASAL DARI SASIS (DEALER SEBAGAI WAJIB PUNGUT PPn
BM)
1. Dealer "B" membeli sasis kendaraan bermotor dari Main Dealer "A" seharga
Rp 100.000.000,- dengan potongan harga sebesar Rp 2.000.000,- kemudian
menyuruh Karoseri "C" mengubah sasis tersebut menjadi kendaraan bermotor
angkutan orang dan kemudian menjualnya kepada pembeli dengan harga Rp
126.500.000 (termasuk PPN dan PPn BM).
2. PPn BM sebesar Rp 15.800.000,- dipungut dan dilaporkan oleh Dealer "B",
sebagai pihak yang menyuruh melakukan pengubahan.
PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PPN OLEH DEALER "B" ADALAH :
Harga Jual Sasis Main Dealer "A" Rp 100.000.000,-
Potongan harga untuk Dealer "B" Rp 2.000.000,-
-----------------------
Harga Tebus/Beli Dealer "B" Rp 98.000.000,-
19. Faktur Pajak (Off The Road) :
BELI JUAL
Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Rp 89.090.090,- Rp 101.200.000,-
PPN (10 %) Rp 8.909.091,- Rp 10.120.000,-
Dasar Pengenaan Pajak (Karoseri "C") Rp 10.000.000,-
PPN - Karoseri (10 %) Rp 1.000.000,-
PPn BM (15 %) Rp -,- Rp 15.180.000,-
----------------------- -----------------------

39
JUMLAH Rp 109.000.000,- Rp 126.500.000,-
20. Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak :
- Beli Sasis
100/110 X Rp 98.000.000,- = Rp 89.090.909,-
- Jual Kendaraan Bermotor
100/110 x Rp 126.500.000,- = Rp 101.200.000,-
21. Perhitungan PPN Dan PPn BM Yang Harus Disetor Ke Kas Negara Oleh
Dealer :
1) PPN
- PAJAK KELUARAN (10 % x Rp 101.200.000,-) = Rp 10.120.000,-
- PAJAK MASUKAN (Rp 8.909.091 + Rp 1.000.000,-) = Rp 9.909.091,-
----------------------
PPN yang harus disetor Rp 210.909,-

2) PPn BM
15 % x Rp 101.200.000,- = Rp 15.180.000,-

22. Contoh :
- Harga Jual kendaraan Bermotor Rp 250.000.000,- (termasuk PPN sebesar Rp
20.000.000,- (10 %) dan PPn BM sebesar Rp 30.000.000,- (15%))
- Uang Muka diterima tanggal 10 Agustus 2000 sebesar Rp. 25.000.000,-
- Kendaraan akan diserahkan tanggal 20 September 2000 dengan kekurangan
bayar sebesar Rp. 225.000.000,- PPN dan PPn BM terutang dan harus dipungut :
- Pada saat diterima uang muka tanggal 10 Agustus 2000 :
1) PPN : sebesar 10/125 x Rp 25.000.000,- = Rp 2.000.000,- dan harus dilaporkan
pada SPT Masa PPN bulan Agustus 2000.
2) PPn BM : sebesar 15/125 x Rp 25.000.000,- = Rp 3.000.000,- dan harus
dilaporkan pada SPT Masa PPn BM bulan Agustus 2000.

- Pada saat penyerahan kendaraan tanggal 20 September 2000 :


1) PPN : sebesar 10/125 x (Rp. 250.000.000,- Rp 25.000.000,-) = Rp 18.000.000,-
dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan September 2000.

40
2) PPn BM : sebesar 15/125 x (Rp 250.000.000,- Rp 25.000.000,-) = Rp
27.000.000,- dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPn BM bulan September
2000.

23. Ketentuan dalam Surat Edaran ini berlaku mulai tanggal 1 Agustus 2000.
24. Dengan berlakunya ketentuan ini, maka ketentuan yang dimaksud dalam
Surat-surat Edaran sebelumnya sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan
Surat Edaran ini, dinyatakan masih tetap berlaku.
KELOMPOK BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG MEWAH
SELAIN KENDARAAN BERMOTOR YANG DIKENAKAN PAJAK
PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH

Tarif
(%) Jenis Barang Kena Pajak

10 kelompok alat rumah tangga, pesawat pendingin, pesawat pemanas, dan


pesawat penerima siaran televisi;
kelompok peralatan dan perlengkapan olah raga;
kelompok mesin pengatur suhu udara;
kelompok alat perekam atau reproduksi gambar, pesawat penerima siaran radio;
kelompok alat fotografi, alat sinematografi, dan perlengkapannya;

20 kelompok alat rumah tangga, pesawat pendingin, pesawat pemanas, selain


yang dikenakan tariff 10%;
kelompok hunian mewah seperti rumah mewah, apartemen, kondominium, town
house, dan sejenisnya;
kelompok pesawat penerima siaran televisi dan antena serta reflektor antena,
selain yang dikenakan tariff 10%;
kelompok mesin pengatur suhu udara, mesin pencuci piring, mesin pengering;
pesawat elektromagnetik dan instrumen musik;
kelompok wangi-wangian;

41
30 kelompok kapal atau kendaraan air lainnya, sampan dan kano, kecuali untuk
keperluan negara atau angkutan umum;
kelompok peralatan dan perlengkapan olah raga selain yang dikenakan tariff 10%;
40 kelompok minuman yang mengandung alcohol;
kelompok barang yang terbuat dari kulit atau kulit tiruan;
kelompok permadani yang terbuat dari sutra atau wool;
kelompok barang kaca dari kristal timbal dari jenis yang digunakan untuk meja,
dapur, rias, kantor, dekorasi dalam ruangan atau keperluan semacam itu;
kelompok barang-barang yang sebagian atau seluruhnya terbuat dari logam mulia
atau dari logam yang dilapisi logam mulia atau campuran daripadanya;
kelompok kapal atau kendaraan air lainnya, sampan dan kano, selain yang
dikenakan tarif 30%, kecuali untuk keperluan negara atau angkutan umum;
kelompok balon udara dan balon udara yang dapat dikemudikan, pesawat udara
lainnya tanpa tenaga penggerak;
kelompok peluru senjata api dan senjata api lainnya, kecuali untuk keperluan
negara;
kelompok jenis alas kaki;
kelompok barang-barang perabot rumah tangga dan kantor;
kelompok barang-barang yang terbuat dari porselin, tanah lempung cina atau
keramik;
Kelompok barang-barang yang sebagian atau seluruhnya terbuat dari batu selain
batu jalan atau batu tepi jalan;

50 kelompok permadani yang terbuat dari bulu hewan halus;


kelompok pesawat udara selain yang dikenakan tarif 40%, kecuali untuk
keperluan negara atau angkutan udara niaga;
kelompok peralatan dan perlengkapan olah raga selain yang dikenakan tarif 10%
dan tarif 30%;
kelompok senjata api dan senjata api lainnya, kecuali untuk keperluan negara.

75 kelompok minuman yang mengandung alkohol selain yang dikenakan tariff


40%;

42
kelompok barang-barang yang sebagian atau seluruhnya terbuat dari batu mulia
dan/atau mutiara atau campuran daripadanya;
kelompok kapal pesiar mewah, kecuali untuk keperluan negara atau angkutan
umum."

43