Anda di halaman 1dari 102

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI

DENGAN TEKNIK MENULIS TERBIMBING PADA SISWA KELAS II


SLTPN 3 KRADENAN KECAMATAN KRADENAN
KABUPATEN GROBOGAN

SKRIPSI

Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :
Nama : Anis Safaatun
NIM : 2134960161
Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia dan Daerah

FAKULTAS BAHASA DAN SENI


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertanggungjawabkan dihadapan panitia ujian Skripsi Fakultas

Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang pada :

Hari : Sabtu

Tanggal : 17 September 2005

Panitia Ujian

Ketua, Sekretaris,

Prof. Dr. Rustono Drs. Agus Yuwono, M.Si.


NIP 131281222 NIP 132049997

Penguji I, Penguji II,

Drs. Mukh Doyin, M.Si. Drs. Wagiran, M.Hum.


NIP 132106367 NIP 132050001

Penguji III,

Drs. Suparyanto
NIP 130516901

iii
PERNYATAAN

Saya menyatakan, bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar – benar hasil karya

saya sendiri bukan jiplakan orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau

temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan

kode etik ilmiah.

Kudus, September 2005

Penulis

iii
SARI

Anis Safaatun. 2005. Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Diskripsi dengan


Teknik Menulis Terbimbing Pada Siswa Kelas II SLTP N 3 Kradenan
Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan. Skripsi Jurusan Bahasa dan
Sastra. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.
Pembimbing I:Drs. Suparyanto;Pembimbing II:Drs. Wagiran, M.Hum.

Kata Kunci : Peningkatan, Menulis, Teknik Menulis Terbimbing.

Kendala proses pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia terutama


pada pembelajaran menulis di antaranya adalah kebosanan dan ketidaksukaan siswa
pada pembelajaran menulis. Hal ini disebabkan kurangnya variasi dalam
pembelajaran menulis. Pembelajaran menulis sering hanya berlangsung di dalam
kelas. Berkaitan dengan hal tersebut, guru perlu mencoba berbagai alternatif, baik
strategi maupun metode pembelajaran dan memanfaatkan segala potensi yang ada,
baik di dalam maupun di luar sekolah.
Permasalahan yang diungkap dalam penelitian ini adalah apakah
pembelajaran dengan teknik menulis terbimbing dapat meningkatkan kemampuan
menulis deskripsi siswa kelas II SLTPN 3 Kradenan Kecamatan Kradenan Kabupaten
Grobogan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan adanya
peningkatan kemampuan menulis deskripsi dengan teknik menulis terbimbing pada
siswa kelas II SLTPN 3 Kradenan Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas II SLTPN 3 Kradenan yang
berjumlah 4 kelas. Dari keempat kelas tersebut, peneliti memilih kelas II B dengan
jumlah siswa 39, yang terdiri atas 20 siswa putra dan 19 siswa putri. Penelitian ini
menggunakan desain penelitian tindakan kelas dengan dua siklus, yang terdiri atas
perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang
digunakan teknik tes dan teknik nontes. Analisis data menggunakan analisis
kuantitatif dan kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan kemampuan siswa dalam menulis karangan
deskripsi pada aspek isi karangan terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar
43,05 %, aspek bahasa sebesar 22,60 %, aspek teknik penulisan sebesar 23,84 %, aspek
ejaan dan tanda baca sebesar 1,39 %, aspek kesatuan gagasan sebesa 2,54 %, aspek diksi
sebesar 2,54 % dan aspek judul karangan sebesar 0,53 %. Nilai rata – rata siklus I 38,33,
nilai rata – rata siklus II 44,04. Sedangkan, peningkatan dari siklus I ke tes siklus II

ii
sebesar 96,54 %. Hasil penelitian nontes yang diperoleh berdasarkan observasi, jurnal,
dan wawancara, menunjukkan peningkatan. Hal ini terlihat pada sikap siswa yang
semula pada siklus I kurang bersemangat dalam kegiatan pembelajaran, pada siklus II
siswa merasa lebih bersemangat dan lebih senang karena siswa merasa lebih mudah
mengembangkan dan menuangkan idenya dalam mengarang.
Dari penelitian tindakan kelas ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan
menulis karangan deskripsi yang dimiliki siswa kelas II SLTPN 3 Kradenan meningkat,
setelah mengikuti pembelajaran dengan teknik menulis terbimbing. Berdasarkan hal
tersebut, sebaiknya teknik menulis terbimbing digunakan sebagai salah satu alternatif
guru sebagai upaya meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi.

ii
PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertanggungjawabkan dihadapan panitia ujian Skripsi Fakultas

Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang pada :

hari :

tanggal :

Panitia Ujian

Ketua, Sekretaris,

Prof. Dr. Rustono Drs. Agus Nuryatin, M.Hum


NIP 131281222 NIP 131813650

Penguji I, Penguji II,

Dra. Mimi Mulyani, M.Hum Drs. Wagiran, M.Hum


NIP 131863779 NIP 132050001

Penguji III,

Drs. Suparyanto
NIP 130516901

ii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

Jangan berharap untuk bisa mencapai langkah ke seribu apabila langkah pertama

tidak dilakukan. Jangankan langah ke seribu. Langkah keduapun tidak akan pernah

terjadi selama langkah pertama tidak ada. Maka lakukanlah langkah pertama.

Bertindak ! Bukannya menunda-nunda.

(Edward Linggar)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan kepada :

1. Bapak, Ibu terkasih ;

2. Adik-adikku tersayang Rifai dan Reni ;

3. Suamiku tercinta Agus Wibowo, S.Pd ;

4. Anakku tersayang Anin, Didi dan Difa.

ii
PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Pengasih dan

Penyayang, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi

ini.

Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan yang sangat

berharga dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih

kepada

1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan kepada

penulis untuk menyusun skripsi.

2. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni yang telah memberikan ijin untuk melakukan

penelitian.

3. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan kemudahan

dalam penyusunan skripsi.

4. Drs. Suparyanto, selaku pembimbing pertama yang telah memberikan bimbingan

kepada penulis selama penyusunan skripsi ini

5. Drs. Wagiran, M.Hum., selaku pembimbing kedua yang bijaksana dan sabar

dalam membimbing sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

6. Seluruh pihak yang telah membantu terselesaikanya skripsi ini yang tidak

mungkin kami sebut satu persatu

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, namun

penulis berharap apa yang penulis peroleh ini sedikit banyak mempunyai arti dan

dapat memberikan manfaat.

Kudus, September 2005

Penulis

ii
DAFTAR ISI

SARI.................................................................................................................... i

PENGESAHAN .................................................................................................. iii

PENYATAAN .................................................................................................... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...................................................................... v

PRAKATA.......................................................................................................... vi

DAFTAR ISI....................................................................................................... vii

DAFTAR TABEL............................................................................................... x

DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 4

1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................ 4

1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................... 5

BAB II LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN ............... 6

2.1 Tinjauan Pustaka ......................................................................... 6

2.2 Landasan Teoretis ....................................................................... 11

2.2.1 Hakikat Karangan Deskripsi ........................................... 11

2.2.2 Pengajaran Menulis Karangan Deskripsi ........................ 13

2.2.3 Teknik Menulis Terbimbing ........................................... 15

2.2.4 Kelebihan dan Kelemahan Teknik Menulis Terbimbing 17

ii
2.3 Kerangka Berpikir....................................................................... 18

2.4 Hipotesis Tindakan ..................................................................... 19

BAB III METODE PENELITIAN..................................................................... 20

3.1 Subjek Penelitian......................................................................... 20

3.2 Variabel Penelitian ...................................................................... 21

3.3 Instrumen Penelitian ................................................................... 21

a. Bentuk Tes ............................................................................ 21

b. Bentuk Nontes....................................................................... 24

3.4 Uji Instrumen .............................................................................. 25

3.5 Teknik Pengumpulan Data.......................................................... 26

3.6 Desain Penelitian......................................................................... 27

3.7 Teknik Analisis Data................................................................... 30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 31

4.1 Hasil Penelitian ........................................................................... 31

4.1.1 Kondisi Awal Sebelum Tindakan ................................... 31

4.1.2 Penelitian Siklus I ........................................................... 31

4.1.2.1 Hasil Tes Siklus I ............................................. 31

4.1.2.2 Hasil Nontes Siklus I........................................ 35

4.1.3 Penelitian Siklus II .......................................................... 37

4.1.3.1 Hasil Tes Siklus II............................................ 37

4.1.3.2 Hasil Nontes Siklus II ...................................... 42

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian ...................................................... 47

ii
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 54

5.1 Simpulan ..................................................................................... 54

5.2 Saran............................................................................................ 54

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 56

LAMPIRAN-LAMPIRAN.................................................................................. 58

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Kemampuan Menyusun Isi Karangan................................................. 32

Tabel 2 Kemampuan Menyusun Bahasa.......................................................... 32

Tabel 3 Kemampuan Menyusun Teknik Penulisan ......................................... 33

Tabel 4 Kemampuan Menggunakan Ejaan dan Tanda Baca ........................... 34

Tabel 5 Kemampuan Menyusun Kesatuan Gagasan........................................ 34

Tabel 6 Kemampuan Menggunakan Diksi....................................................... 35

Tabel 7 Kemampuan Menyusun Judul Karangan ............................................ 36

Tabel 8 Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi Tes Siklus I ..................... 37

Tabel 9 Kemampuan Menyusun Isi Karangan................................................. 40

Tabel 10 Kemampuan Menyusun Bahasa.......................................................... 40

Tabel 11 Kemampuan Menyusun Teknik Penulisan ......................................... 41

Tabel 12 Kemampuan Menyusun Ejaan Dan Tanda Baca................................. 42

Tabel 13 Kemampuan Menyusun Kesatuan Gagasan........................................ 42

Tabel 14 Kemampuan Menggunakan Diksi....................................................... 43

Tabel 15 Kemampuan Menyusun Judul Karangan ............................................ 44

Tabel 16 Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi Tes Siklus II.................... 45

Tabel 17 Perbandingan Hasil Tes Siklus I Dan Tes Siklus II ............................ 47

ii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Program Satuan Pembelajaran

Lampiran 2 Rencana Pembelajaran Siklus I dan Rencana Pembelajaran


Siklus II

Lampiran 3 Pedoman Wawancara dan Jurnal Siswa

Lampiran 4 Pedoman Jurnal

Lampiran 5 Jurnal Siswa

Lampiran 6 Data Penelitian Siklus I

Lampiran 7 Data Lampiran Siklus II

Lampiran 8 Hasil Karangan Siswa

Lampiran 9 Surat Keterangan dari SLTP N 3 Kradenan

ii
2004

2.2.3 2.2.4 2.3 2.4

ii
kemampuan menyusun teknik penulisan dalam menulis karangan

deskripsi mencapai nilai rata-rata 96,9. Nilai rata-rata 96,9 kemampuan

menyusun teknik penulisan merupakan skor rata-rata yang dapat

dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab kategori nilai kurang baru dicapai

pada skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai siswa dalam menyusun

teknik penulisan adalah skor 3. Skor 3 berarti teknik penulisan antara

paragraf yang satu dengan yang lain belum terpelihara dengan baik.

Sedangkan skor tertinggi yang dicapai adalah skor 9. Skor 9 berarti teknik

penulisan tersebut cukup cermat/ serasi.


Tabel 4
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN EJAAN DAN TANDA BACA.
No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor
1. 10 - -
2. 8 24 192
3. 6 14 84
4. 4 1 4
5. 2 - -
30 39 280
Rata-rata 71,7

Berdasarkan Tabel 4 di atas, kemampuan menggunakan ejaan dan

tanda baca dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 71,7.

Nilai rata-rata 71,7 dalam kemampuan menggunakan ejaan dan baca

merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab

kategori nilai kurang baru dicapai pada skor 51 – 61. Skor terendah yang

dicapai siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca adalah skor 2. Skor

2 berarti penggunaan ejaan dan tanda baca siswa tersebut masih belum jelas,

sebab siswa kurang memperhatikan penggunaan titik dan koma. Sedangkan,

skor tertinggi yang dicapai adalah skor 8. Skor 8 berarti penggunaan ejaan

dan tanda baca tepat.

Tabel 5
KEMAMPUAN MENYUSUN KESATUAN GAGASAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1. 15 - -
2. 12 - -
3. 9 24 216
4. 6 15 90
5. 3 - -
45 39 306
Rata-rata 117,6
Berdasarkan Tabel 5 di atas, kemampuan menyusun kesatuan

gagasan dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 117,6.

Nilai rata-rata 117,6 dalam kemampuan menyusun kesatuan gagasan

merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab

kategori nilai kurang baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang

dicapai siswa dalam menyusun kesatuan gagasan tersebut masih kurang

jelas karena siswa kurang memperhatikan unsur subjek dalam kalimat.

Sedang skor tertinggi yang dicapai siswa adalah skor 9. Skor 9 berarti

kemampuan menyusun kesatuan gagasan cukup tepat.

Tabel 6
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN DIKSI

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor

1. 15 - -
2. 12 - -
3. 9 24 216
4. 6 15 90
5. 3 - -

45 39 306

Rata-rata 117,6

Berdasarkan Tabel 6 di atas, kemampuan menggunakan diksi

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 117,6. Nilai rata-

rata 117,6 dalam kemampuan menggunakan diksi merupakan skor rata-rata

yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab kategori nilai kurang
baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai siswa dalam

menggunakan diksi tersebut masih tidak tepat karena pada karangan siswa

terlalu banyak penggunaan kata depan, kata bersinonim sehingga kalimat

tidak efektif. Sedang skor tertinggi yang dicapai siswa adalah skor 9. Skor 9

berarti kemampuan menggunakan diksi cukup tepat.

Tabel 7
KEMAMPUAN MENYUSUN JUDUL KARANGAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1. 10 - -
2. 8 29 232
3. 6 10 60
4. 4 - -
5. 2 - -
30 39 292
Rata-rata 74,8

Berdasarkan Tabel 7 di atas, kemampuan menyusun judul karangan


dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 74,8. Nilai
rata-rata 74,8 dalam kemampuan menyusun judul karangan merupakan skor
rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab kategori nilai
kurang baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai siswa
dalam menyusun judul karangan adalah skor 2. Skor 2 berarti menyusun
judul karangan kurang bisa menarik perhatian pembaca. Sedang skor
tertinggi yang dicapai siswa adalah skor 8. Skor 8 dalam kemampuan
menyusun judul karangan tersebut sesuai dengan temanya.
Tabel 8
KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI
TES SIKLUS I

No Aspek Rata-rata skor


1 Kemampuan menyusun isi karangan 51,8
2 Kemampuan menyusun bahasa 32,3
3 Kemampuan menyusun teknik penulisan 32,3
4 Kemampuan menggunakan ejaan dan tanda baca 35,9
5 Kemampuan menyusun kesatuan gagasan 39,3
6 Kemampuan menggunakan diksi 39,3
7 Kemampuan menyusun judul karangan 37,4
Jumlah 268,3
Rata-rata 20006,6

4.1.2.2 Hasil Nontes Siklus I

Hasil di atas didukung data nontes pada siklus I yang meliputi

pengamatan, wawancara, dan jurnal sebagai berikut.

a. Pengamatan

Pengamatan dalam penelitian tindakan ini menghasilkan data

kualitatif sebagai berikut. Pada saat kegiatan belajar mengajar

menulis disampaikan dengan teknik menulis terbimbing,

umumnya para siswa menyambut dengan senang. Hal ini terlihat

pada waktu dijelaskan tentang bagaimana cara menyusun

karangan deskripsi dengan menggunakan teknik menulis

terbimbing, pada waktu itu muncul beberapa siswa yang

mengajukan pertanyaan. Sebagai contoh bagaimana cara

menyusun karangan deskripsi dengan teknik menulis terbimbing ?

Apakah dengan menggunakan teknik menulis terbimbing akan


lebih mudah ? Karena mereka beranggapan bahwa dengan teknik

menulis terbimbing itu berarti akan lebih sulit dalam

mengembangkan idenya. Dengan munculnya pertanyaan itu

keadaan proses belajar mengajar menjadi sedikit gaduh. Namun

kegaduhan tersebut dapat teratasi setelah dijelaskan tentang

teknik menulis terbimbing dalam menulis karangan deskripsi.

Walaupun demikian, ada sebagian kecil siswa yang tidak

memperdulikan pembelajaran ini, mereka menganggap

pembelajaran dan kurang senang dalam menulis karangan

deskripsi karena mereka menganggap bahwa menulis merupakan

tugas yang sulit dan membosankan. Namun ada pula yang sambil

bermusyawarah dalam mengerjakan menulis dengan teman

sebangkunya.

Dalam proses penyusunan karangan deskrisi ada pula siswa

yang mengerjakan dengan serius dan sesekali memegang

keningnya untuk mengembangkan logika dan imajinasi-nya yang

sudah ada. setelah menemukan idenya mereka terus melanjutkan

karangannya. Akhirnya mereka dapat menyelesaikan tugas

menulis karangan deskripsinya dengan teknik menulis

terbimbing.

b. Wawancara

Hasil dari wawancara dalam bentuk tanya jawab yang

berkaitan dengan pembelajaran menulis karangan deskripsi adalah


sebagai berikut. Secara umum tema yang disajikan dapat diterima

oleh siswa. Siswa merasa senang terhadap metode yang

diterapkan karena siswa langsung mengembangkan kerangka

karangan yang ada. Siswa minta dalam menentukan data atau

bahan yang berkaitan dengan tema diberi waktu terlebih dahulu

untuk mengembangkan logika dan imajinasinya, sehingga dapat

menuangkan idenya dengan baik dan dapat menulis dengan

bebas.

c. Jurnal

Melalui pengelompokkan jenis aspek yang diamati dalam

jurnal sebagian mengungkapkan kesulitannya dalam

mengembangkan gagasan dan menyusun kalimat.

Pengembangan siswa yang tidak dapat langsung menulis,

menyebabkan mereka merasa bingung, dan akhirnya ingin

mengetahui pekerjaan teman yang lain.

Berdasarkan tes dan nontes yang telah dilaksanakan pada

Siklus I ini ternyata hasil yang diperoleh belum memenuhi target

kategori baik atau mencapai nilai rata-rata 71 – 80 karena belum

memenuhi target maka perlu mengadakan tindakan pada siklus II

4.1.3 Penelitian Siklus II

4.1.3.1 Hasil Tes Siklus II


Hasil penelitian tes siklus II ini menunjukkan

kemampuan menulis karangan deskripsi siswa sebagai

berikut.
Tabel 9
KEMAMPUAN MENYUSUN ISI KARANGAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 20 - -
2 16 - -
3 12 27 480
4 8 11 88
5. 4 1 4
60 39 578
Rata-rata 296,4

Berdasarkan Tabel 9 di atas, kemampuan menyusun isi karangan

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 296,4. Nilai

rata-rata 296,4 dalam kemampuan menyusun karangan merupakan skor rata-

rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai baik, sebab kategori nilai sangat

baik baru dicapai pada skor 81 – 100. Skor terendah yang dicapai siswa

dalam menyusun isi karangan adalah skor 4. Skor 4 berarti isi karangan

siswa tidak sesuai/ tidak tepat. Sedang skor tertinggi yang dicapai siswa

adalah skor 12. Skor 12 berarti isi karangan tersebut cukup sesuai dengan

temanya.

Tabel 10
KEMAMPUAN MENYUSUN BAHASA

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 15 - -
2 12 - -
3 9 25 225
4 6 14 84
5. 3 - -
45 39 309
Rata-rata 158,4
Berdasarkan Tabel 10 kemampuan menyusun bahasa dalam menulis

karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 158,4. Nilai rata-rata 158,4 dalam

kemampuan menyusun bahasa merupakan skor rata-rata yang dapat

dikategorikan sebagai nilai kurang, sebab kategori nilai cukup baru dicapai pada

skor 61 – 70. Skor terendah yang dicapai siswa dalam menyusun bahasa adalah

skor 6. Skor 6 berarti bahasa yang digunakan dalam mengarang deskripsi kurang

tepat dengan maknanya. Sedangkan skor tertinggi yang dicapai siswa adalah skor

9. Skor 9 berarti bahasa yang digunakan oleh siswa cukup tepat dengan

maknanya.

Tabel 11
KEMAMPUAN MENYUSUN TEKNIK PENULISAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 15 - -
2 12 - -
3 9 26 234
4 6 13 78
5. 3 - -
45 39 312
Rata-rata 160

Berdasarkan Tabel 11 di atas, kemampuan menyusun teknik penulisan

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 160. Nilai rata-rata

160 dalam kemampuan menyusun teknik penulisan merupakan skor rata-rata

yang dapat dikategorikan sebagai nilai kurang, sebab kategori nilai cukup baru

dicapai pada skor 61 – 70. Skor terendah yang dicapai siswa dalam menyusun

teknik penulisan adalah skor 6. Skor 6 berarti teknik penulisan antara paragraf
yang satu dengan yang lain kurang cermat/ kurang serasi. Skor tertinggi yang

dicapai adalah skor 9. Skor 9 berarti teknik penulisan sudah cukup cermat/ cukup

serasi.

Tabel 12
KEMAMPUAN MENYUSUN EJAAN DAN TANDA BACA

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 10 - -
2 8 25 200
3 6 14 84
4 4 - -
5. 2 - -
30 39 284
Rata-rata 145,6

Berdasarkan Tabel 12 di atas, kemampuan menggunakan ejaan dan

tanda baca dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata

145,6. Nilai rata-rata 145,6 dalam kemampuan menggunakan ejaan dan

tanda baca merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai

jelek, sebab kategori kurang baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah

yang dicapai siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca adalah skor 6.

Skor 6 berarti siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca sudah cukup

tepat. Skor tertinggi yang dicapai adalah skor 8. Skor 8 berarti penggunaan

ejaan dan tanda baca tepat sesuai dengan ejaan yang berlaku.

Tabel 13
KEMAMPUAN MENYUSUN KESATUAN GAGASAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 15 - -
2 12 - -
3 9 27 243
4 6 12 72
5. 3 - -
45 39 315
Rata-rata 161,5

Berdasarkan Tabel 13 di atas, kemampuan menyusun kesatuan

gagasan dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 161,5.

Nilai rata-rata 161,5 dalam kemampuan menyusun kesatuan gagasan

merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai kurang,

sebab kategori nilai cukup baru dicapai pada skor 61 – 70. Skor terendah

yang dicapai siswa dalam menyusun kesatuan gagasan adalah skor 6. Skor 6

berarti kesatuan gagasan dalam karangan deskripsi masih kurang tepat. Skor

tertinggi yang dicapai adalah skor 9. Skor 9 berarti menyusun kesatuan

gagasan kurang tepat.

Tabel 14
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN DIKSI

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor

1 15 - -
2 12 - -
3 9 27 243
4 6 12 72
5. 3 - -

45 39 315

Rata-rata 161,5
Berdasarkan Tabel 14 di atas, kemampuan menggunakan diksi

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 161,5. Nilai

rata-rata 161,5 dalam kemampuan menggunakan diksi merupakan skor rata-

rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai kurang, sebab kategori nilai

cukup baru dicapai pada skor 61 – 70. Skor terendah yang dicapai siswa

dalam menggunakan diksi adalah skor 6. Skor 6 berarti penggunaan diksi

pada karangan siswa kurang tepat. Sedangkan skor tertinggi yang dicapai

siswa adalah skor 9. Skor 9 dalam kemampuan menggunakan diksi cukup

tepat.

Tabel 15
KEMAMPUAN MENYUSUN JUDUL KARANGAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor

1 10 - -
2 8 30 240
3 6 9 54
4 4 - -
5. 2 - -

30 39 294

Rata-rata 150,7

Berdasarkan Tabel 15 di atas, kemampuan menyusun judul

karangan dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata

150,7. Nilai rata-rata 150,7 dalam kemampuan menyusun judul karangan

merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek,


sebab kategori nilai kurang baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah

yang dicapai siswa dalam menyusun judul karangan adalah skor 6. Skor

6 berarti cukup sesuai dengan tema. Sedangkan skor tertinggi yang

dicapai siswa adalah skor 8. Skor 8 dalam kemampuan menyusun judul

karangan tersebut sesuai dengan tema.


Tabel 16
KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI TES SIKLUS II

No Aspek Rata-rata skor


1 Kemampuan menyusun isi karangan 74,1
2 Kemampuan menyusun bahasa 39,6
3 Kemampuan menyusun teknik penulisan 40,0
4 Kemampuan menggunakan ejaan dan tanda baca 36,4
5 Kemampuan menyusun kesatuan gagasan 40,3
6 Kemampuan menggunakan diksi 40,3
7 Kemampuan menyusun judul karangan 37,6
Jumlah 308,3
Rata-rata 3164,3

4.1.3.2 Hasil Nontes Siklus II

Hasil di atas didukung data nontes yang meliputi

pangamatan, wawancara, dan jurnal.

a. Pengamatan

Pengamatan yang diadakan pada siklus II ini

menghasilkan data kualitatif sebagai berikut. Pada waktu

kegiatan pembelajaran menulis karangan deskripsi

berlangsung mayoritas siswa mengamati tes mengarang

yang ada dengan teliti. Dalam mengamati soal tes

mengarang siswa begitu serius dan sambil mengumpulkan

data dan fakta melalui cara mengembangkan logika dan

imajinasinya serta menghubungkan dan memulai menulis

sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Hal ini terlihat

dari keseriusan siswa dalam menulis. Akhirnya semua

siswa dapat menyelesaikan hasil karangan deskripsinya.


b. Wawancara

Ungkapan siswa melalui bentuk wawancara dan jurnal

dilakukan setelah siswa selesai menulis. Hasil wawancara

antara lain siswa mengungkapkan bahwa cara kedua

dalam menulis karangan deskripsi teknik menulis

terbimbing yang dilaksanakan secara berulang kali latihan

lebih efektif dalam mengembangkan gagasan. Kendala

yang ditemui lebih sedikit dan siswa merasa lebih tertarik

dengan cara yang kedua ini.

c. Jurnal

Melalui pengelompokkan dalam jurnal, siswa

mengungkapkan nada yang sama tidak mengalami

kesulitan yang berarti. Penulis dengan cara kedua lebih

mudah dari kegiatan menulis waktu pertama. Setelah

siswa melakukan tes pada siklus II dengan cara mengamati

tema karangan disertai kerangka karangan yang ada

dengan teliti dan kemudian mengembangkan logika dan

imajinasinya maka siswa dapat lebih mudah menuangkan

dan mengembangkan idenya menjadi karangan deskripsi

yang baik.

Keadaan siswa pada siklus II terlihat adanya peningkatan kearah

perbaikan, yaitu siswa lebih teliti dalam menulis isi karangan jenis

deskripsi. Peningkatan ini bisa diamati berdasarkan peningkatan yang

terlihat pada tabel di atas, yaitu siswa yang mampu menulis karangan

deskripsi dengan kategori yang sangat baik ada 20,6 % yang hasil tersebut
pada siklus I belum dapat dicapai. Hal ini membuktikan bahwa terjadi

perbaikan sikap siswa kearah yang lebih baik.


Penelitian ini dilandasi adanya fenomena yang terjadi pada siswa SLTP

dalam menulis karangan deskripsi yang masih kurang pemahamannya,

dikarenakan isi karangan yang salah, bahasa yang digunakan kurang tepat. Sumber

lisan didapatkan dari guru yang mengajar dikelas tersebut. Kurangnya pemahaman

siswa tersebut bisa dicermati dari hasil karangannya yang didalamnya masih

terdapat banyak kesalahan dalam bidang isi karangan, bahasa yang digunakan,

teknik penulisan, ejaan dan tanda baca, kesatuan gagasan, diksi dan judul

karangan.

4.1.2 Penelitian Siklus I

4.1.2.1 Hasil Tes Siklus I

Dalam Tes Siklus I ini yang dinilai terdiri atas tujuh aspek

kemampuan menulis siswa, yaitu : 1) isi karangan, 2) bahasa

yang digunakan, 3) teknik penulisan, 4) ejaan dan tanda baca,

5) kesatuan gagasan, 6) diksi, 7) judul karangan.

Tabel 1
KEMAMPUAN MENYUSUN ISI KARANGAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1. 20 - -
2. 16 - -
3. 12 26 312
4. 8 10 80
5. 4 3 12
60 39 404
Rata-rata 207,1

31
32

Berdasarkan Tabel 1 di atas, kemampuan menyusun isi karangan

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 207,1. Nilai rata-

rata 207,1 dalam kemampuan menyusun karangan merupakan skor rata-rata

yang dapat dikategorikan sebagai nilai kurang, sebab kategori nilai cukup baru

dicapai pada skor 61 – 70. Skor tersebut dianggap cukup untuk menunjukkan

kemampuan siswa. Skor terendah yang dicapai siswa dalam menyusun

karangan ini adalah skor 4. Skor 4 berarti isi karangan siswa tersebut tidak

sesuai atau tidak tepat. Sedangkan, skor tertinggi yang dicapai adalah skor 12,

skor 12 berarti isi karangan tersebut cukup sesuai dengan temanya.

Tabel 2
KEMAMPUAN MENYUSUN BAHASA

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1. 15 - -
2. 12 - -
3. 9 10 90
4. 6 25 150
5. 3 4 12
45 39 252
Rata-rata 96,9
Berdasarkan Tabel 2 di atas, kemampuan menyusun bahasa yang

digunakan dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 96,9.

Nilai rata-rata 96,9 dalam kemampuan menyusun bahasa merupakan skor rata-

rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek sebab kategori nilai kurang

baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai siswa dalam

menyusun bahasa adalah skor 3. Skor 3 berarti isi bahasa siswa tersebut tidak

jelas maknanya. Sedangkan skor tertinggi yang dicapai adalah sskor 9. Skor 9

berarti kemampuan menyusun isi bahasa tersebut cukup tepat maknanya.


33

Tabel 3
KEMAMPUAN MENYUSUN TEKNIK PENULISAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1. 15 - -
2. 12 - -
3. 9 10 90
4. 6 25 150
5. 3 4 12
45 39 252
Rata-rata 96,9

Berdasarkan Tabel 3 di atas, kemampuan menyusun teknik penulisan

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 96,9. Nilai rata-rata

96,9 kemampuan menyusun teknik penulisan merupakan skor rata-rata yang

dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab kategori nilai kurang baru

dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai siswa dalam menyusun

teknik penulisan adalah skor 3. Skor 3 berarti teknik penulisan antara paragraf

yang satu dengan yang lain belum terpelihara dengan baik. Sedangkan skor

tertinggi yang dicapai adalah skor 9. Skor 9 berarti teknik penulisan tersebut

cukup cermat/ serasi.


34

Tabel 4
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN EJAAN DAN TANDA BACA.
No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor
1. 10 - -
2. 8 24 192
3. 6 14 84
4. 4 1 4
5. 2 - -
30 39 280
Rata-rata 71,7

Berdasarkan Tabel 4 di atas, kemampuan menggunakan ejaan dan

tanda baca dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 71,7.

Nilai rata-rata 71,7 dalam kemampuan menggunakan ejaan dan baca

merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab

kategori nilai kurang baru dicapai pada skor 51 – 61. Skor terendah yang

dicapai siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca adalah skor 2. Skor 2

berarti penggunaan ejaan dan tanda baca siswa tersebut masih belum jelas,

sebab siswa kurang memperhatikan penggunaan titik dan koma. Sedangkan,

skor tertinggi yang dicapai adalah skor 8. Skor 8 berarti penggunaan ejaan dan

tanda baca tepat.

Tabel 5
KEMAMPUAN MENYUSUN KESATUAN GAGASAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1. 15 - -
2. 12 - -
3. 9 24 216
4. 6 15 90
5. 3 - -
45 39 306
Rata-rata 117,6
35

Berdasarkan Tabel 5 di atas, kemampuan menyusun kesatuan gagasan

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 117,6. Nilai rata-

rata 117,6 dalam kemampuan menyusun kesatuan gagasan merupakan skor

rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab kategori nilai

kurang baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai siswa dalam

menyusun kesatuan gagasan tersebut masih kurang jelas karena siswa kurang

memperhatikan unsur subjek dalam kalimat. Sedang skor tertinggi yang dicapai

siswa adalah skor 9. Skor 9 berarti kemampuan menyusun kesatuan gagasan

cukup tepat.

Tabel 6
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN DIKSI

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor

1. 15 - -
2. 12 - -
3. 9 24 216
4. 6 15 90
5. 3 - -

45 39 306

Rata-rata 117,6

Berdasarkan Tabel 6 di atas, kemampuan menggunakan diksi dalam

menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 117,6. Nilai rata-rata 117,6

dalam kemampuan menggunakan diksi merupakan skor rata-rata yang dapat

dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab kategori nilai kurang baru dicapai pada

skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai siswa dalam menggunakan diksi
36

tersebut masih tidak tepat karena pada karangan siswa terlalu banyak

penggunaan kata depan, kata bersinonim sehingga kalimat tidak efektif.

Sedang skor tertinggi yang dicapai siswa adalah skor 9. Skor 9 berarti

kemampuan menggunakan diksi cukup tepat.

Tabel 7
KEMAMPUAN MENYUSUN JUDUL KARANGAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1. 10 - -
2. 8 29 232
3. 6 10 60
4. 4 - -
5. 2 - -
30 39 292
Rata-rata 74,8

Berdasarkan Tabel 7 di atas, kemampuan menyusun judul karangan


dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 74,8. Nilai rata-
rata 74,8 dalam kemampuan menyusun judul karangan merupakan skor rata-
rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab kategori nilai kurang
baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai siswa dalam
menyusun judul karangan adalah skor 2. Skor 2 berarti menyusun judul
karangan kurang bisa menarik perhatian pembaca. Sedang skor tertinggi yang
dicapai siswa adalah skor 8. Skor 8 dalam kemampuan menyusun judul
karangan tersebut sesuai dengan temanya.
37

Tabel 8
KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI
TES SIKLUS I

No Aspek Rata-rata skor


1 Kemampuan menyusun isi karangan 51,8
2 Kemampuan menyusun bahasa 32,3
3 Kemampuan menyusun teknik penulisan 32,3
4 Kemampuan menggunakan ejaan dan tanda baca 35,9
5 Kemampuan menyusun kesatuan gagasan 39,3
6 Kemampuan menggunakan diksi 39,3
7 Kemampuan menyusun judul karangan 37,4
Jumlah 268,3
Rata-rata 20006,6

4.1.2.2 Hasil Nontes Siklus I

Hasil di atas didukung data nontes pada siklus I yang meliputi

pengamatan, wawancara, dan jurnal sebagai berikut.

a. Pengamatan

Pengamatan dalam penelitian tindakan ini menghasilkan data

kualitatif sebagai berikut. Pada saat kegiatan belajar mengajar

menulis disampaikan dengan teknik menulis terbimbing, umumnya

para siswa menyambut dengan senang. Hal ini terlihat pada waktu

dijelaskan tentang bagaimana cara menyusun karangan deskripsi

dengan menggunakan teknik menulis terbimbing, pada waktu itu

muncul beberapa siswa yang mengajukan pertanyaan. Sebagai

contoh bagaimana cara menyusun karangan deskripsi dengan teknik

menulis terbimbing ? Apakah dengan menggunakan teknik menulis

terbimbing akan lebih mudah ? Karena mereka beranggapan bahwa


38

dengan teknik menulis terbimbing itu berarti akan lebih sulit dalam

mengembangkan idenya. Dengan munculnya pertanyaan itu keadaan

proses belajar mengajar menjadi sedikit gaduh. Namun kegaduhan

tersebut dapat teratasi setelah dijelaskan tentang teknik menulis

terbimbing dalam menulis karangan deskripsi.

Walaupun demikian, ada sebagian kecil siswa yang tidak

memperdulikan pembelajaran ini, mereka menganggap pembelajaran

dan kurang senang dalam menulis karangan deskripsi karena mereka

menganggap bahwa menulis merupakan tugas yang sulit dan

membosankan. Namun ada pula yang sambil bermusyawarah dalam

mengerjakan menulis dengan teman sebangkunya.

Dalam proses penyusunan karangan deskrisi ada pula siswa

yang mengerjakan dengan serius dan sesekali memegang keningnya

untuk mengembangkan logika dan imajinasi-nya yang sudah ada.

setelah menemukan idenya mereka terus melanjutkan karangannya.

Akhirnya mereka dapat menyelesaikan tugas menulis karangan

deskripsinya dengan teknik menulis terbimbing.

b. Wawancara

Hasil dari wawancara dalam bentuk tanya jawab yang berkaitan

dengan pembelajaran menulis karangan deskripsi adalah sebagai

berikut. Secara umum tema yang disajikan dapat diterima oleh siswa.

Siswa merasa senang terhadap metode yang diterapkan karena siswa

langsung mengembangkan kerangka karangan yang ada. Siswa


39

minta dalam menentukan data atau bahan yang berkaitan dengan

tema diberi waktu terlebih dahulu untuk mengembangkan logika dan

imajinasinya, sehingga dapat menuangkan idenya dengan baik dan

dapat menulis dengan bebas.

c. Jurnal

Melalui pengelompokkan jenis aspek yang diamati dalam

jurnal sebagian mengungkapkan kesulitannya dalam

mengembangkan gagasan dan menyusun kalimat. Pengembangan

siswa yang tidak dapat langsung menulis, menyebabkan mereka

merasa bingung, dan akhirnya ingin mengetahui pekerjaan teman

yang lain.

Berdasarkan tes dan nontes yang telah dilaksanakan pada Siklus

I ini ternyata hasil yang diperoleh belum memenuhi target kategori

baik atau mencapai nilai rata-rata 71 – 80 karena belum memenuhi

target maka perlu mengadakan tindakan pada siklus II

4.1.3 Penelitian Siklus II

4.1.3.1 Hasil Tes Siklus II

Hasil penelitian tes siklus II ini menunjukkan kemampuan

menulis karangan deskripsi siswa sebagai berikut.


40

Tabel 9
KEMAMPUAN MENYUSUN ISI KARANGAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 20 - -
2 16 - -
3 12 27 480
4 8 11 88
5. 4 1 4
60 39 578
Rata-rata 296,4

Berdasarkan Tabel 9 di atas, kemampuan menyusun isi karangan

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 296,4. Nilai rata-

rata 296,4 dalam kemampuan menyusun karangan merupakan skor rata-rata

yang dapat dikategorikan sebagai nilai baik, sebab kategori nilai sangat baik

baru dicapai pada skor 81 – 100. Skor terendah yang dicapai siswa dalam

menyusun isi karangan adalah skor 4. Skor 4 berarti isi karangan siswa tidak

sesuai/ tidak tepat. Sedang skor tertinggi yang dicapai siswa adalah skor 12.

Skor 12 berarti isi karangan tersebut cukup sesuai dengan temanya.

Tabel 10
KEMAMPUAN MENYUSUN BAHASA

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 15 - -
2 12 - -
3 9 25 225
4 6 14 84
5. 3 - -
45 39 309
Rata-rata 158,4
41

Berdasarkan Tabel 10 kemampuan menyusun bahasa dalam menulis

karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 158,4. Nilai rata-rata 158,4 dalam

kemampuan menyusun bahasa merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan

sebagai nilai kurang, sebab kategori nilai cukup baru dicapai pada skor 61 – 70. Skor

terendah yang dicapai siswa dalam menyusun bahasa adalah skor 6. Skor 6 berarti

bahasa yang digunakan dalam mengarang deskripsi kurang tepat dengan maknanya.

Sedangkan skor tertinggi yang dicapai siswa adalah skor 9. Skor 9 berarti bahasa

yang digunakan oleh siswa cukup tepat dengan maknanya.

Tabel 11
KEMAMPUAN MENYUSUN TEKNIK PENULISAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 15 - -
2 12 - -
3 9 26 234
4 6 13 78
5. 3 - -
45 39 312
Rata-rata 160

Berdasarkan Tabel 11 di atas, kemampuan menyusun teknik penulisan

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 160. Nilai rata-rata 160

dalam kemampuan menyusun teknik penulisan merupakan skor rata-rata yang dapat

dikategorikan sebagai nilai kurang, sebab kategori nilai cukup baru dicapai pada

skor 61 – 70. Skor terendah yang dicapai siswa dalam menyusun teknik penulisan

adalah skor 6. Skor 6 berarti teknik penulisan antara paragraf yang satu dengan yang

lain kurang cermat/ kurang serasi. Skor tertinggi yang dicapai adalah skor 9. Skor 9

berarti teknik penulisan sudah cukup cermat/ cukup serasi.


42

Tabel 12
KEMAMPUAN MENYUSUN EJAAN DAN TANDA BACA

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 10 - -
2 8 25 200
3 6 14 84
4 4 - -
5. 2 - -
30 39 284
Rata-rata 145,6

Berdasarkan Tabel 12 di atas, kemampuan menggunakan ejaan dan

tanda baca dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 145,6.

Nilai rata-rata 145,6 dalam kemampuan menggunakan ejaan dan tanda baca

merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab

kategori kurang baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai

siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca adalah skor 6. Skor 6 berarti

siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca sudah cukup tepat. Skor

tertinggi yang dicapai adalah skor 8. Skor 8 berarti penggunaan ejaan dan tanda

baca tepat sesuai dengan ejaan yang berlaku.

Tabel 13
KEMAMPUAN MENYUSUN KESATUAN GAGASAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 15 - -
2 12 - -
3 9 27 243
4 6 12 72
5. 3 - -
45 39 315
Rata-rata 161,5
43

Berdasarkan Tabel 13 di atas, kemampuan menyusun kesatuan

gagasan dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 161,5.

Nilai rata-rata 161,5 dalam kemampuan menyusun kesatuan gagasan

merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai kurang, sebab

kategori nilai cukup baru dicapai pada skor 61 – 70. Skor terendah yang

dicapai siswa dalam menyusun kesatuan gagasan adalah skor 6. Skor 6 berarti

kesatuan gagasan dalam karangan deskripsi masih kurang tepat. Skor tertinggi

yang dicapai adalah skor 9. Skor 9 berarti menyusun kesatuan gagasan kurang

tepat.

Tabel 14
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN DIKSI

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor

1 15 - -
2 12 - -
3 9 27 243
4 6 12 72
5. 3 - -

45 39 315

Rata-rata 161,5

Berdasarkan Tabel 14 di atas, kemampuan menggunakan diksi dalam

menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 161,5. Nilai rata-rata

161,5 dalam kemampuan menggunakan diksi merupakan skor rata-rata yang

dapat dikategorikan sebagai nilai kurang, sebab kategori nilai cukup baru
44

dicapai pada skor 61 – 70. Skor terendah yang dicapai siswa dalam

menggunakan diksi adalah skor 6. Skor 6 berarti penggunaan diksi pada

karangan siswa kurang tepat. Sedangkan skor tertinggi yang dicapai siswa

adalah skor 9. Skor 9 dalam kemampuan menggunakan diksi cukup tepat.

Tabel 15
KEMAMPUAN MENYUSUN JUDUL KARANGAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor

1 10 - -
2 8 30 240
3 6 9 54
4 4 - -
5. 2 - -

30 39 294

Rata-rata 150,7

Berdasarkan Tabel 15 di atas, kemampuan menyusun judul

karangan dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata

150,7. Nilai rata-rata 150,7 dalam kemampuan menyusun judul karangan

merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab

kategori nilai kurang baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang

dicapai siswa dalam menyusun judul karangan adalah skor 6. Skor 6 berarti

cukup sesuai dengan tema. Sedangkan skor tertinggi yang dicapai siswa

adalah skor 8. Skor 8 dalam kemampuan menyusun judul karangan tersebut

sesuai dengan tema.


45

Tabel 16
KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI TES SIKLUS II

No Aspek Rata-rata skor


1 Kemampuan menyusun isi karangan 74,1
2 Kemampuan menyusun bahasa 39,6
3 Kemampuan menyusun teknik penulisan 40,0
4 Kemampuan menggunakan ejaan dan tanda baca 36,4
5 Kemampuan menyusun kesatuan gagasan 40,3
6 Kemampuan menggunakan diksi 40,3
7 Kemampuan menyusun judul karangan 37,6
Jumlah 308,3
Rata-rata 3164,3

4.1.3.2 Hasil Nontes Siklus II

Hasil di atas didukung data nontes yang meliputi

pangamatan, wawancara, dan jurnal.

a. Pengamatan

Pengamatan yang diadakan pada siklus II ini

menghasilkan data kualitatif sebagai berikut. Pada waktu

kegiatan pembelajaran menulis karangan deskripsi

berlangsung mayoritas siswa mengamati tes mengarang yang

ada dengan teliti. Dalam mengamati soal tes mengarang

siswa begitu serius dan sambil mengumpulkan data dan fakta

melalui cara mengembangkan logika dan imajinasinya serta

menghubungkan dan memulai menulis sesuai dengan tema

yang telah ditentukan. Hal ini terlihat dari keseriusan siswa

dalam menulis. Akhirnya semua siswa dapat menyelesaikan

hasil karangan deskripsinya.


46

b. Wawancara

Ungkapan siswa melalui bentuk wawancara dan jurnal

dilakukan setelah siswa selesai menulis. Hasil wawancara

antara lain siswa mengungkapkan bahwa cara kedua dalam

menulis karangan deskripsi teknik menulis terbimbing yang

dilaksanakan secara berulang kali latihan lebih efektif dalam

mengembangkan gagasan. Kendala yang ditemui lebih sedikit

dan siswa merasa lebih tertarik dengan cara yang kedua ini.

c. Jurnal

Melalui pengelompokkan dalam jurnal, siswa

mengungkapkan nada yang sama tidak mengalami kesulitan

yang berarti. Penulis dengan cara kedua lebih mudah dari

kegiatan menulis waktu pertama. Setelah siswa melakukan

tes pada siklus II dengan cara mengamati tema karangan

disertai kerangka karangan yang ada dengan teliti dan

kemudian mengembangkan logika dan imajinasinya maka

siswa dapat lebih mudah menuangkan dan mengembangkan

idenya menjadi karangan deskripsi yang baik.

Keadaan siswa pada siklus II terlihat adanya peningkatan kearah

perbaikan, yaitu siswa lebih teliti dalam menulis isi karangan jenis deskripsi.

Peningkatan ini bisa diamati berdasarkan peningkatan yang terlihat pada tabel

di atas, yaitu siswa yang mampu menulis karangan deskripsi dengan kategori

yang sangat baik ada 20,6 % yang hasil tersebut pada siklus I belum dapat

dicapai. Hal ini membuktikan bahwa terjadi perbaikan sikap siswa kearah yang

lebih baik.
47

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian

Tabel 17
Perbandingan Hasil Tes Siklus I dan Tes Siklus II

Peningkatan
No Aspek Tes Siklus I Tes Siklus II
dalam %
1 Isi karangan 51,8 74,1 43,05
2 Bahasa yang digunakan 32,3 39,6 22,60
3 Teknik penulisan 32,3 40,0 23,84
4 Ejaan dan tanda baca 35,9 36,4 1,39
5 Kesatuan gagasan 39,3 40,3 2,54
6 Diksi 39,3 40,3 2,54
7 Judul karangan 37,4 37,6 0,53
Jumlah 268,3 308,3 96,54
Rata-rata 38,33 44,04 13,79

Pembahasan hasil penelitian menulis karangan deskripsi dengan teknik

menulis terbimbing yang dilakukan pada siklus I dan siklus II serta didukung

nontes yang berupa pengamatan, wawancara dan jurnal dalam penelitian

tindakan kelas yang diadakan adalah sebagai berikut.

Dalam penelitian tindakan kelas pada siklus I ini penulis mengadakan kegiatan

menulis karangan deskripsi dengan menggunakan teknik menulis terbimbing.

Siswa disuruh mengamati langkah-langkah menulis yang telah dituliskan di

papan tulis. Setelah itu siswa langsung melihat soal tes menulis karangan

deskripsi dan langsung mengerjakan menulis karangan deskripsi sesuai dengan

tema yang ada. Keaktifan siswa diamati dalam memperhatikan penjelasan guru

tentang langkah-langkah menulis karangan deskripsi dengan teknik menulis

terbimbing dan kekreatifan siswa dalam mengembangkan tema menjadi

karangan deskripsi.
48

Berdasarkan hasil tes menulis dari 39 siswa pada siklus I ini aspek

karangan dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 51,8. Hal

ini menunjukkan aspek gagasan yang dikemukakan secara aktual dalam

menulis tersebut belum begitu tampak. Sedangkan, kesesuaian judul dengan

tema, sebagian siswa masih kurang tepat juga, sehingga tampak kesalahan

siswa dalam menulis karangan deskripsi.

Aspek bahasa yang digunakan dalam karangan deskripsi dari hasil

penelitian didapat nilai rata – rata 32,3. Hal ini karena siswa dalam menyusun

kalimat masih banyak yang tidak jelas maknanya. Ketidaktepatan siswa dalam

menggunakan diksi, masih banyak menggunakan bahasa daerah, masih suka

menggunakan kata yang mempunyai arti dan fungsi sama secara bersamaan.

Teknik dalam penulisan belum menunjukkan teknik yang benar.

Kesatuan paragraf belum terpelihara. Hal ini karena siswa kurang

memperhatikan kepaduan kalimat dalam suatu paragraf, peralihan paragraf ke

paragraf lain belum tepat, dan gagasan yang dipaparkan belum memenuhi

kelogisan. Siswa kurang memperhatikan hubungan antara paragraf satu dengan

paragraf lainnya.

Penggunaan margin kurang rapi. Siswa dalam menulis karangan

deskripsi terkesan mengabaikan penggunaan garis tepi, hal ini menimbulkan

penulisan karangan deskripsi tersebut tidak rapi dan tidak urut. Penulisan awal

paragraf yang seharusnya menjorok ke dalam kurang lebih 3 cm, kurang begitu

diperhatikan. Pemakaian ejaan dan tanda baca sebesar 38,5 % atau 15 siswa

yang masih kurang. Hal ini pemakaian huruf besar masih kurang tepat.

Kesalahan siswa awal kalimat tidak menggunakan huruf besar masih kurang
49

tepat. Kesalahan siswa awal kalimat tidak menggunakan huruf besar,

penggunaan tanda baca kurang tampak. Masih sering dijumpai akhir kalimat

tanpa menggunakan tanda titik. Siswa mengartikan tanda koma sebagai tempat

berhenti sewaktu membaca. Penulisan huruf dibuat-buat yang menimbulkan

kesalahan huruf yang benar.

Aspek kesatuan gagasan dalam penulisan karangan deskripsi mencapai

nilai rata – rata 39,3. Hal ini karena unsur subyek kalimat kurang jelas.

Ketidakjelasan subyek dalam kalimat, karena kesalahan siswa dalam

menggunakan preposisi. Siswa sering menempatkan preposisi di awal subyek,

agar kedudukan subyek jelas dalam kalimat, maka sebaiknya preposisi

dihilangkan. Kesalahan siswa menempatkan partikel antara subyek dan

predikat, sehingga kedudukan predikat menjadi keterangan subjek dan

pernyataan siswa tidak dapat disebut sebagai kalimat karena tidak berpredikat.

Untuk itu ditambahkan kata-kata yang berfungsi sebagai predikat.

Kalimat yang belum menunjukkan kehematan mencapai nilai rata – rata

39,3. Hal ini terjadi karena sering mengulang subyek dalam kalimat, demikian

halnya dengan penggunaan kata depan yang tidak sesuai, siswa juga

menuliskan kata yang mempunyai makna jarang yang diikuti dengan kata

ulang dan masih ada pemakaian kata yang bersinonim sehingga kalimatnya

tidak efektif.

Penulisan judul karangan dalam karangan deskripsi mencapai nilai rata –

rata 37,4. Siswa dalam menyusun judul karangan dapat perhatian pembaca, hal

ini karena judul disajikan siswa belum dapat mempengaruhi pembaca dan
50

siswa juga menuliskan judul terlalu panjang kalimatnya, sehingga terkesan

kurang efektif.

Dari 39 responden terdapat 10 siswa yang masih berkemampuan kurang.

Ke-10 siswa tersebut mendapat nilai rata-rata kemampuan menulis dengan

rentang 51 – 60. Didukung dengan nontes hasil pengamatan penelitian

menunjukkan siswa tersebut mempunyai angka presentase tinggi kurang

konsentrasi dalam pembelajaran dibandingkan dengan siswa lain yang

presentasenya mendapat lebih baik. Mereka dalam kegiatan pembelajaran

kurang serius, hanya asal membuat. Dari hasil wawancara, siswa tersebut

belum mampu untuk mengembangkan gagasan yang diwujudkan dalam bentuk

tulisan, sedangkan hasil jurnal menunjukkan bahwa siswa tersebut kurang

menyukai pembelajaran menulis karena masih dirasakan sulit dan

membosankan.

Adapun siswa yang berkemampuan baik ada 12 orang. Mereka itu

kemampuan menulisnya memang sudah baik dilihat pada waktu menulis, siswa

tersebut tanpa menjumpai hal-hal yang menyulitkan.

Dalam penelitian tindakan kelas siklus II ini, siswa melaksanakan

pembelajaran menulis karangan deskripsi dengan teknik menulis terbimbing.

Selain siswa mengamati langkah-langkah menulis seperti yang telah dijelaskan

pada siklus I, siswa dalam mengamati tema kurang teliti. Kemudian siswa

disuruh mengembangkan logika dan imajinasinya yang dihubungkan denga

tema yang ada. Setelah itu mengembangkan ke dalam kalimat paragaraf sampai

menjadi tulisan deskripsi yang baik dan mengamati hasil karangan tersebut.

Kembali setelah menulis karangan deskripsi. Bersamaan itu pula peneliti


51

mengadakan tindakan pengamatan terhadap siswa yang meliputi segala

aktivitas dan kreativitas ketika menyusun karangan deskripsi. Tindakan yang

lain dilakukan peneliti melalui wawancara dan jurnal tentang teknik menulis

terbimbing dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi.

Berdasarkan analisis hasil menulis karangan deskripsi siswa, pada siklus

II dar 39 siswa tersebut mencapai nilai rata – rata 74,1. Hal ini karena ia masih

kurang mampu mengembangkan kebenaran gagasan yang aktual. Untuk itu ia

perlu berlatih lebih cermat lagi.

Adapun penggunaan bahasa dalam menulis karangan deskripsi mencapai

nilai rata – rata 43,5. Hal ini disebabkan siswa tersebut menggunakan diksi atau

pilihan katanya yang kurang tepat. Siswa menggunakan kata yang kurang

sesuai dengan makna dalam kalimat.

Kemampuan teknik penulisan yang digunakan siswa dlam menulis

karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 40,0. Susunan kalimat dalam

suatu paragraf belum membentuk satu kesatuan yang utuh atau kepaduan

kalimat dalam paragraf masih kurang. Hal ini karena siswa dalam menyusun

kalimat dengan kalimat lain kurang berkesinambungan dan belum logis. Agar

kalimat siswa koheren, perlu digunakan tanda baca yang tepat. Peralihan

paragraf pun masih belum baik. Hal ini terlihat antara paragraf yang satu

dengan yang lain kurang padu.

Kemampuan siswa dalam penggunaan ejaan dan tanda baca dalam

menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 35,8. Siswa dalam

menggunakan tanda baca koma cenderung masih dilupakan atau terabaikan.

Akibatnya, kalimat itu sulit dipahami. Pemakaian huruf besar masih dijumpai
52

kesalahan tidak sesuai dengan kaidah yang ada siswa ada yang mengawali

kalimat dengan huruf kecil.

Kemampuan mengembangkan gagasan yang belum baik mencapai nilai

rata – rata 40,3. Hal ini disebabkan siswa dalam menyusun kalimat sering

didahului dengan preposisi sehingga subyeknya kurang jelas. Demikian juga

penempatan keterangan kurang tepat sehingga kalimatnya sulit dipahami.

Kehematan kalimat dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai

rata – rata 40,3. Siswa menggunakan kata depan tidak benar dalam penulisan.

Misal kata ke dan di yang seharusnya dipisah, namun penulisannya justru

dirangkaikan. Tampak juga penggunaan sinonim yang tidak efektif dan

dijumpai kata yang pemakaiannya bermakna ganda, sehingga kalimatnya

mempunyai makna ganda.

Dari analisis di atas jumlah 39 responden yang berkemampuan cukup ada

10 siswa dengan rentang 61 – 70. Didukung dengan data nontes hasil

pengamatan pada siklus II ini menunjukkan bahwa siswa tersebut juga

mempunyai persentase tinggi tidak serius dalam pembelajaran dibandingkan

dengan siswa lain.

Selain itu, karena kemampuan intelegensi mereka yang lemah. Siswa

merasa kesulitan untuk mengembangkan kemampuan menyusun kalimat.

Siswa kurang latihan dan kurang sungguh-sungguh dalam keterampilan

menulis. Hal ini didasarkan pada waktu peneliti mengadakan wawancara

dengan responden setelah kegiatan menulis. Dari jurnal di atas menunjukkan

mereka kurang tertarik dan kurang senang dengan pelajaran keterampilan

menulis karena dirasakan masih sulit.


53

Berdasarkan persentase kemampuan menulis karangan deskripsi yang

dicapai dalam siklus II ini, siswa yang berkemampun baik ada 20 siswa dapat

mencapai hasil 71 – 80. Dilihat dari tabel 8 dan 16 halaman depan, kemampuan

menulis siswa cukup mengalami peningkatan dari 12 siswa menjadi 20 siswa.

Ini berarti ada kenaikan 20 siswa. Ini menunjukkan ada kenaikan siswa yang

kemampuannya meningkat. Pada siklus I penelitian ini tidak terdapat siswa

yang mencapai kemampuan yang baik sekali, namun pada siklus II penelitian

ada 9 siswa yang dapat mencapai hasil baik sekali. Ini berarti ada peningkatan.

Persentase kemampuan menulis siswa, berdasarkan uraian pada siklus I

dan siklus II mengalami peningkatan meskipun belum dapat mencapai

kemampuan menulis yang ideal. Ini disebabkan oleh dua faktor yang

mempengaruhi yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi

pengetahuan siswa, sikap, konsentrasi siswa, motivasi, kondisi siswa dan

minat. Adapun faktor eksternal mencakup gangguan tempat siswa belajar dan

suasana kelas yang terkendali.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah keterampilan menulis karangan

deskripsi siswa kelas II B SLTP Negeri 3 Kradenan Kabupaten Grobogan tahun

ajaran 2002/2003. Dari sebanyak empat kelas di kelas II dipilih kelas II B

sebagai sampel dengan berbagai pertimbangan : (1) Menurut penilaian penulis,

keterampilan menulis karangan deskripsi tidak dapat dibanggakan, dan rata-rata

kemampuan siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak ada perbedaan

yang jauh, (2) Kelas II B dalam mencapai prestasi belajar untuk seluruh mata

pelajaran secara umum kurang. Data tersebut didukung dengan suatu kenyataan

bahwa kelas II B dalam memiliki buku pelajaran sangat minim serta minat

membaca di perpustakaan pun kurang aktif. Dampak dari hal tersebut dalam

penguasaan materi pelajaran bahasa Indonesia sangat kurang. Hal ini

merupakan kendala yang menjadi penghambat bagi siswa untuk memiliki

kemampuan menulis yang baik, terutama dalam menulis karangan deskripsi,

(3) pada umumnya siswa kelas II untuk tingkat SLTP harus sudah memiliki

kemampuan menulis karangan deskripsi sehingga diperlukan dasar – dasar

keterampilan menulis dalam karangan deskripsi salah satunya dengan teknik

menulis terbimbing.

Adapun jumlah siswa kelas II B sebanyak 39 orang yang terdiri dari 20

putra dan 19 putri.

20
21

3.2 Variabel Penelitian

Variabel yang dipakai dalam penelitian ini adalah :

1. Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi

Keterampilan menulis yang menjadi obyek dalam penelitian ini

adalah keterampilan menulis karangan deskripsi. Keterampilan menulis

karangan deskripsi dapat dikategori berhasil apabila dalam menyusun

kerangka karangan deskripsi sudah mempertimbangkan isi gagasan,

organisasi isi, gramatika, kosakata, ejaan dan tanda baca dengan benar.

2. Pembelajaran dengan Teknik Menulis Terbimbing

Pada hakikatnya, belajar berbahasa adalah belajar berkomunikasi.

Oleh karena itu, pembelajaran bahasa yang menggunakan teknik menulis

terbimbing diarahkan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam

berkomunikasi. Pembelajaran bahasa di SLTP pun menggunakan teknik

menulis terbimbing. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia di

SLTP diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam

berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis.

3.3 Instrumen Penelitian

a. Bentuk Tes

Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan oleh penulis untuk

mengumpulkan data penelitian tes menulis dalam bentuk esei. Tes bentuk

esei digunakan dengan pertimbangan, antara lain : meminta siswa untuk

menyusun sendiri karyanya dengan menggunakan kata-katanya sendiri.

Selain itu, digunakan untuk mengukur kemampuan-kemampuan tertentu


22

seperti kemampuan menyusun, menghubungkan, dan menimbang bahan

untuk mengarang secara efektif. Dengan menggunakan tes esei tersebut

penulis dapat mengetahui penguasaan struktur kalimat dalam karangan

deskripsi siswa dan juga dapat mendorong siswa untuk membuat karangan

sebaik-baiknya.

Tes bentuk esei ini menggunakan tujuh kriteria yaitu : isi karangan,

bahasa yang dipergunakan, teknik penulisan, ejaan dan tanda baca, kesatuan

gagasan, diksi, dan judul karangan. Adapun yang menjadi acuan peneliti

dalam penilaian karangan deskripsi adalah meliputi : aspek, bobot.

Untuk memudahkan dalam melakukan penilaian hasil menulis

karangan deskripsi, peneliti perlu skala nilai sebagai pedoman dalam

penelitian. Dengan skala penelitian ini, nilai-nilai yang didapat akan mudah

diatur dan mudah diketahui aspek-aspek mana yang menjatuhkan dan

aspek-aspek mana yang menaikkan nilai karangan. Skala penilaian tersebut

adalah sebagai berikut.

Pedoman Penilaian (Skoring) Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi

Skala
No Aspek yang dinilai Bobot Skor Nilai
1 2 3 4 5
1 Isi karangan v 4 20
2 Bahasa yang digunakan v 3 15
3 Teknik penulisan v 3 15
4 Ejaan dan tanda baca v 2 10
5 Kesatuan gagasan v 3 15 100
6 Diksi v 3 15
7 Judul karangan v 2 10
Jumlah 20 100 100
Sumber : Evaluasi Pembelajaran Bahasa Indonesia, 1997
23

Keterangan :

1. Arti skala nilai (dihubungkan dengan kriteria masing-masing aspek)

1 = jelek

2 = kurang

3 = cukup

4 = baik

5 = sangat baik

2. Bobot dimaksudkan untuk membedakan kekompleksitasan masing-

masing aspek dan berfungsi sebagai pengali angka skala nilai yang

diperoleh masing-masing aspek.

3. Untuk menentukan nilai siswa berdasarkan standar nilai 100 dapat

digunakan rumus :

nilai = jumlah (skala x bobot)

Pedoman Penskoran Kemampuan Menulis

No Aspek yang dinilai Skor Kriteria


1 Isi Karangan 20 Sangat sesuai
16 Sesuai
12 Cukup sesuai
8 Kurang sesuai
4 Tidak sesuai
2 Bahasa yang digunakan 15 Sangat tepat
12 Tepat
9 Cukup tepat
6 Kurang tepat
3 Tidak tepat
3 Teknik penulisan 15 Sangat cermat/serasi
12 Cermat/serasi
9 Cukup cermat/serasi
6 Kurang cermat/serasi
3 Tidak cermat/serasi
24

No Aspek yang dinilai Skor Kriteria


4 Ejaan dan tanda baca 10 Sangat tepat
8 Tepat
6 Cukup tepat
4 Kurang tepat
2 Tidak tepat
5 Kesatuan gagasan 15 Sangat tepat
12 Tepat
9 Cukup tepat
6 Kurang tepat
3 Tidak tepat
6 Diksi 15 Sangat tepat
12 Tepat
9 Cukup tepat
6 Kurang tepat
3 Tidak tepat
7 Judul karangan 10 Sangat sesuai
8 Sesuai
6 Cukup sesuai
4 Kurang sesuai
2 Tidak sesuai
b. Bentuk Nontes

Alat pengumpul data berupa nontes digunakan untuk mengamati

perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran menulis karangan deskripsi

dengan teknik menulis terbimbing. Bentuk instrumen data yang berupa

nontes adalah jurnal, pengamatan, dan wawancara. Aspek-aspek nontes

yang diamati dan yang akan diungkapkan pada siklus I maupun siklus II

penelitian ini adalah :

1). Pengamatan, yaitu mengamati perhatian dan sikap siswa, respon siswa

dalam bertanya dan menjawab pertanyaan, dan aktivitas siswa-siswa

ketika kegiatan pembelajaran menulis ;


25

2). Jurnal adalah berbagai cara merekam, mencatat respon tertulis terhadap

pengalaman yang dimiliki oleh peneliti selama pelaksanaan tindakan.

Aspek yang diamati meliputi ungkapan siswa tentang sikap dan tingkah

laku siswa pada saat pembelajaran, perasaan siswa bilamana senang

atau tidak senang dalam kegiatan menulis karangan deskripsi dengan

menggunakan teknik menulis terbimbing ;

3). Wawancara yaitu teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab

antara guru sebagai peneliti dan siswa sebagai penulis. Teknik ini untuk

mendapatkan data tentang pengajaran bahasa dan sastra Indonesia yang

berkaitan dengan pelajaran menulis.

3.4. Uji Instrumen

Uji validitas terhadap instrumen dalam penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan uji validitas isi untuk mendapatkan data penelitian yang dibuat

berdasarkan indikator – indikator variabelnya. Indikator – indikator yang menjadi

kriteria penilaian yaitu isi karangan, bahasa yang digunakan, teknik penulisan, ejaan dan

tanda baca, kesatuan gagasan, diksi, judul karangan. Uji instrumen yang digunakan

dalam penelitian ini adalah tes dan nontes. Tes yang digunakan adalah bentuk perintah

kepada siswa untuk membuat karangan deskripsi. Uji instrumen ini dilakukan pada

siswa kelas II SLTP pada waktu proses pembelajaran karangan deskripsi, siswa disuruh

mengarang karangan deskripsi dengan tema yang telah ditentukan setelah itu,

dikumpulkan. Karena kondisi siswa perlu disiapkan terlebih dahulu supaya dapat

menerima pelajaran baru. Hasil uji instrumen ini pada siklus I belum mencapai hasil

yang memuaskan sedangkan pada siklus II sudah terjadi peningkatan.


26

Soal tersebut adalah sebagai berikut

Pada siklus I

Susunlah sebuah karangan deskripsi dengan tema Kebersihan Lingkungan

Sekolah sebanyak empat paragraf !

Pada siklus II

Susunlah sebuah karangan deskripsi dengan tema Sawah di Belakang Gedung

Sekolah sebanyak empat paragraf !

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Langkah – langkah menulis terbimbing (1) guru menerangkan kepada

siswa tentang konsep dasar karangan deskripsi, (2) guru memberikan contoh

langkah – langkah dalam menyusun sebuah karangan seperti menentukan tema,

menentukan tujuan, mengumpulkan data, membuat kerangka karangan, dan

mengembangkan kerangka karangan, (3) guru memberikan contoh konkret

tentang karangan deskripsi.

Adapun kriteria keberhasilan menulis karangan deskripsi siswa

ditentukan dengan rentang nilai 0-100.

Hasil menulis karangan deskripsi siswa

1). Yang mendapat nilai ≤ 50 = Jelek

2). Yang mendapat nilai 51 - 60 = kurang

3). Yang mendapat nilai 61 - 70 = cukup

4). Yang mendapat nilai 71 - 80 = baik

5). Yang mendapat nilai 81 - 100 = sangat baik


27

3.6 Desain Penelitian

Desain penelitian ini menggunakan prosedur penelitian tindakan kelas,

penelitian tindakan kelas ini menggunakan dua siklus, yaitu siklus I dan siklus

II, siklus I terdiri dari 1) rencana tindakan I, 2) pelaksanaan tindakan I, 3)

observasi I, 4) refleksi atau evaluasi I.

Dalam proses siklus I apabila belum terselesaikan, maka dapat

dilanjutkan pada siklus yang kedua yang terdiri dari : 1) rencana tindakan II, 2)

pelaksanaan tindakan II, 3) observasi II, 4) refleksi atau evaluasi II.

Untuk lebih jelasnya kedua siklus tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Siklus I

1. Rencana Tindakan I

Pada tahap perencanaan ini dilakukan persiapan – persiapan

penelitian, yaitu membuat satuan pelajaran, rencana pelajaran, membuat

lembar observasi, memberikan apersepsi terhadap mata pelajaran bahasa

Indonesia, menyampaikan materi pembelajaran keterampilan menulis

karangan deskripsi, mengadakan postes berupa latihan menyusun karangan

deskripsi sebagai tindakan awal.

2. Tindakan I

Pelaksanaan tindakan yang dilakukan dalam tahap awal ini adalah

mengadakan apersepsi mata pelajaran bahasa Indonesia dengan tujuan

untuk mengetahui kesiapan siswa dalam menerima pelajaran. Apabila

langkah awal ini dirasa sudah cukup, materi menulis tentang menyusun
28

karangan deskripsi disampaikan, dengan pelaksanaan teknik menulis

terbimbing tentang kebersihan lingkungan sekolah.

3. Observasi I

Observasi dilaksanakan dengan mengamati aktivitas siswa selama

kegiatan proses belajar mengajar juga memberikan penilaian terhadap

kemampuan atau keterampilan maupun sikap siswa dalam merespon

tindakan. Aspek yang dinilai adalah aspek isi gagasan, organisasi isi,

gramatikal, kosakata, ejaan dan tanda baca. Aspek sikap yang diamati

antara lain tentang keaktifan peran siswa, sikap siswa dalam menerima

pelajaran, kesulitan yang dialami siswa, keberanian siswa bertanya kepada

guru, keberanian siswa mengemukakan pendapat, dan keaktifan siswa

dalam mengoreksi dan merevisi hasil karangan.

4. Refleksi I

Pada tahap ini kemampuan atau keterampilan siswa menulis

karangan deskripsi pada umumnya belum tampak, terutama isi gagasan,

organisasi isi, dan struktur bahasa yang dipakai masih terdapat banyak

kesalahan. Semua kekurangan / kelemahan yang timbul pada siklus I

dikemukakan sebagai bahan perenungan. Tentu saja hal ini untuk

mempersiapkan siklus II yang memang perlu untuk penelitian lebih lanjut.

Siklus II

1. Revisi Rencana Tindakan I

Sebagai tindak lanjut siklus yang pertama, perlu diadakan kegiatan

ulang. Pada tahap perencanaan ini disiapkan seperangkat yang serupa

dengan siklus I, yaitu satuan pelajaran, rencana pembelajaran, lembar


29

pengamatan. Untuk meningkatkan kemampuan atau keterampilan siswa

menyusun karangan deskripsi perlu adanya pemberian penekanan pada

materi terutama aspek – aspek penilaian dalam menulis. Untuk menghindari

kejenuhan siswa tentang materi karangan dilakukan perubahan pada objek

lokasi. Tahap ini menjadi acuhan pemberian tindakan siklus II.

2. Tindakan II

Tindakan siklus II ini sedikit berbeda dengan tindakan siklus I. Pada

siklus I upaya peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan

deskripsi ditempuh melalui teknik menulis terbimbing dengan objek

kebersihan lingkungan sekolah. Adapun pada siklus II upaya peningkatan

kemampuan siswa menulis karangan deskripsi ditempuh melalui teknik

menulis terbimbing dengan objek sawah di belakang gedung sekolah.

Selain itu diberikan penekanan tentang aspek – aspek penilaian dalam

menulis.

3. Observasi II

Pada tahap ini yang dilakukan mencatat dan menilai peningkatan

kemampuan dan keterampilan siswa dalam menulis. Apakah siswa dalam

menulis sudah mampu menemukan isi gagasan, mampu menggunakan

organisasi isi, mampu menggunakan kosakata dalam penyusunan kalimat.

Aspek penilaian pada siklus II ini sama dengan pada siklus I.

4. Refleksi II

Setelah diadakan tindakan siklus II akan dapat diketahui perubahan –

perubahan yang terjadi. Siswa rata – rata mampu menemukan isi gagasan

karangan, organisasi isi karangan, mampu menyusun kata atau kalimat


30

dengan baik, mampu menggunakan kosakata, ejaan, dan tanda baca dalam

susunan kalimat. Dengan adanya perubahan tersebut diharapkan tujuan

penelitian ini dapat tercapai.

3.7. Teknik Analisis Data

Data penelitian ini dianalisis dengan teknik analisis data secara kualitatif

dan kuantitatif atau deskriptif.

a. Data yang dianalisis secara kualitatif adalah data nontes yang diperoleh dari

pemantauan serta perubahan yang dilakukan pada waktu pengamatan, hasil

jurnal siswa, dan wawancara dengan siswa.

b. Data yang dianalisis secara kuantitatif atau deskriptif presentase adalah data

yang berupa tes mengarang karangan deskripsi dianalisis dengan langkah-

langkah sebagai berikut

1) Menghitung nilai responden dari tiap-tiap aspek ;

2) Merekap nilai siswa ;

3) Menghitung nilai rata-rata siswa ;

4) Menghitung persentase nilai.

Persentase ini dihitung menggunakan rumus berikut :

R
NP = x 100 %
SM
Keterangan :

NP = nilai dalam persen

R = skor yang dicapai siswa

SM = skor maksimal ideal


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini didapatkan dari tindakan pada siklus I dan tindakan

siklus II, berupa hasil tes, dan hasil nontes (pengamatan, wawancara, dan

jurnal).

4.1.1 Kondisi Awal Sebelum Tindakan

Penelitian ini dilandasi adanya fenomena yang terjadi pada siswa SLTP

dalam menulis karangan deskripsi yang masih kurang pemahamannya,

dikarenakan isi karangan yang salah, bahasa yang digunakan kurang tepat. Sumber

lisan didapatkan dari guru yang mengajar dikelas tersebut. Kurangnya pemahaman

siswa tersebut bisa dicermati dari hasil karangannya yang didalamnya masih

terdapat banyak kesalahan dalam bidang isi karangan, bahasa yang digunakan,

teknik penulisan, ejaan dan tanda baca, kesatuan gagasan, diksi dan judul

karangan.

4.1.2 Penelitian Siklus I

4.1.2.1 Hasil Tes Siklus I

Dalam Tes Siklus I ini yang dinilai terdiri atas tujuh aspek

kemampuan menulis siswa, yaitu : 1) isi karangan, 2) bahasa

yang digunakan, 3) teknik penulisan, 4) ejaan dan tanda baca,

5) kesatuan gagasan, 6) diksi, 7) judul karangan.

31
32

Tabel 1
KEMAMPUAN MENYUSUN ISI KARANGAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1. 20 - -
2. 16 - -
3. 12 26 312
4. 8 10 80
5. 4 3 12
60 39 404
Rata-rata 207,1

Berdasarkan Tabel 1 di atas, kemampuan menyusun isi karangan

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 207,1. Nilai rata-

rata 207,1 dalam kemampuan menyusun karangan merupakan skor rata-rata

yang dapat dikategorikan sebagai nilai kurang, sebab kategori nilai cukup baru

dicapai pada skor 61 – 70. Skor tersebut dianggap cukup untuk menunjukkan

kemampuan siswa. Skor terendah yang dicapai siswa dalam menyusun

karangan ini adalah skor 4. Skor 4 berarti isi karangan siswa tersebut tidak

sesuai atau tidak tepat. Sedangkan, skor tertinggi yang dicapai adalah skor 12,

skor 12 berarti isi karangan tersebut cukup sesuai dengan temanya.

Tabel 2
KEMAMPUAN MENYUSUN BAHASA

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1. 15 - -
2. 12 - -
3. 9 10 90
4. 6 25 150
5. 3 4 12
45 39 252
Rata-rata 96,9
33

Berdasarkan Tabel 2 di atas, kemampuan menyusun bahasa yang

digunakan dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 96,9.

Nilai rata-rata 96,9 dalam kemampuan menyusun bahasa merupakan skor rata-

rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek sebab kategori nilai kurang

baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai siswa dalam

menyusun bahasa adalah skor 3. Skor 3 berarti isi bahasa siswa tersebut tidak

jelas maknanya. Sedangkan skor tertinggi yang dicapai adalah sskor 9. Skor 9

berarti kemampuan menyusun isi bahasa tersebut cukup tepat maknanya.

Tabel 3
KEMAMPUAN MENYUSUN TEKNIK PENULISAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1. 15 - -
2. 12 - -
3. 9 10 90
4. 6 25 150
5. 3 4 12
45 39 252
Rata-rata 96,9

Berdasarkan Tabel 3 di atas, kemampuan menyusun teknik penulisan

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 96,9. Nilai rata-rata

96,9 kemampuan menyusun teknik penulisan merupakan skor rata-rata yang

dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab kategori nilai kurang baru

dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai siswa dalam menyusun

teknik penulisan adalah skor 3. Skor 3 berarti teknik penulisan antara paragraf

yang satu dengan yang lain belum terpelihara dengan baik. Sedangkan skor

tertinggi yang dicapai adalah skor 9. Skor 9 berarti teknik penulisan tersebut

cukup cermat/ serasi.


34

Tabel 4
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN EJAAN DAN TANDA BACA.
No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor
1. 10 - -
2. 8 24 192
3. 6 14 84
4. 4 1 4
5. 2 - -
30 39 280
Rata-rata 71,7

Berdasarkan Tabel 4 di atas, kemampuan menggunakan ejaan dan

tanda baca dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 71,7.

Nilai rata-rata 71,7 dalam kemampuan menggunakan ejaan dan baca

merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab

kategori nilai kurang baru dicapai pada skor 51 – 61. Skor terendah yang

dicapai siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca adalah skor 2. Skor 2

berarti penggunaan ejaan dan tanda baca siswa tersebut masih belum jelas,

sebab siswa kurang memperhatikan penggunaan titik dan koma. Sedangkan,

skor tertinggi yang dicapai adalah skor 8. Skor 8 berarti penggunaan ejaan dan

tanda baca tepat.

Tabel 5
KEMAMPUAN MENYUSUN KESATUAN GAGASAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1. 15 - -
2. 12 - -
3. 9 24 216
4. 6 15 90
5. 3 - -
45 39 306
Rata-rata 117,6
35

Berdasarkan Tabel 5 di atas, kemampuan menyusun kesatuan gagasan

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 117,6. Nilai rata-

rata 117,6 dalam kemampuan menyusun kesatuan gagasan merupakan skor

rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab kategori nilai

kurang baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai siswa dalam

menyusun kesatuan gagasan tersebut masih kurang jelas karena siswa kurang

memperhatikan unsur subjek dalam kalimat. Sedang skor tertinggi yang dicapai

siswa adalah skor 9. Skor 9 berarti kemampuan menyusun kesatuan gagasan

cukup tepat.

Tabel 6
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN DIKSI

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor

1. 15 - -
2. 12 - -
3. 9 24 216
4. 6 15 90
5. 3 - -

45 39 306

Rata-rata 117,6

Berdasarkan Tabel 6 di atas, kemampuan menggunakan diksi dalam

menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata-rata 117,6. Nilai rata-rata 117,6

dalam kemampuan menggunakan diksi merupakan skor rata-rata yang dapat

dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab kategori nilai kurang baru dicapai pada

skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai siswa dalam menggunakan diksi
36

tersebut masih tidak tepat karena pada karangan siswa terlalu banyak

penggunaan kata depan, kata bersinonim sehingga kalimat tidak efektif.

Sedang skor tertinggi yang dicapai siswa adalah skor 9. Skor 9 berarti

kemampuan menggunakan diksi cukup tepat.

Tabel 7
KEMAMPUAN MENYUSUN JUDUL KARANGAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1. 10 - -
2. 8 29 232
3. 6 10 60
4. 4 - -
5. 2 - -
30 39 292
Rata-rata 74,8

Berdasarkan Tabel 7 di atas, kemampuan menyusun judul karangan


dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 74,8. Nilai rata-
rata 74,8 dalam kemampuan menyusun judul karangan merupakan skor rata-
rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab kategori nilai kurang
baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai siswa dalam
menyusun judul karangan adalah skor 2. Skor 2 berarti menyusun judul
karangan kurang bisa menarik perhatian pembaca. Sedang skor tertinggi yang
dicapai siswa adalah skor 8. Skor 8 dalam kemampuan menyusun judul
karangan tersebut sesuai dengan temanya.
37

Tabel 8
KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI
TES SIKLUS I

No Aspek Rata-rata skor


1 Kemampuan menyusun isi karangan 51,8
2 Kemampuan menyusun bahasa 32,3
3 Kemampuan menyusun teknik penulisan 32,3
4 Kemampuan menggunakan ejaan dan tanda baca 35,9
5 Kemampuan menyusun kesatuan gagasan 39,3
6 Kemampuan menggunakan diksi 39,3
7 Kemampuan menyusun judul karangan 37,4
Jumlah 268,3
Rata-rata 20006,6

4.1.2.2 Hasil Nontes Siklus I

Hasil di atas didukung data nontes pada siklus I yang meliputi

pengamatan, wawancara, dan jurnal sebagai berikut.

a. Pengamatan

Pengamatan dalam penelitian tindakan ini menghasilkan data

kualitatif sebagai berikut. Pada saat kegiatan belajar mengajar

menulis disampaikan dengan teknik menulis terbimbing, umumnya

para siswa menyambut dengan senang. Hal ini terlihat pada waktu

dijelaskan tentang bagaimana cara menyusun karangan deskripsi

dengan menggunakan teknik menulis terbimbing, pada waktu itu

muncul beberapa siswa yang mengajukan pertanyaan. Sebagai

contoh bagaimana cara menyusun karangan deskripsi dengan teknik

menulis terbimbing ? Apakah dengan menggunakan teknik menulis

terbimbing akan lebih mudah ? Karena mereka beranggapan bahwa


38

dengan teknik menulis terbimbing itu berarti akan lebih sulit dalam

mengembangkan idenya. Dengan munculnya pertanyaan itu keadaan

proses belajar mengajar menjadi sedikit gaduh. Namun kegaduhan

tersebut dapat teratasi setelah dijelaskan tentang teknik menulis

terbimbing dalam menulis karangan deskripsi.

Walaupun demikian, ada sebagian kecil siswa yang tidak

memperdulikan pembelajaran ini, mereka menganggap pembelajaran

dan kurang senang dalam menulis karangan deskripsi karena mereka

menganggap bahwa menulis merupakan tugas yang sulit dan

membosankan. Namun ada pula yang sambil bermusyawarah dalam

mengerjakan menulis dengan teman sebangkunya.

Dalam proses penyusunan karangan deskrisi ada pula siswa

yang mengerjakan dengan serius dan sesekali memegang keningnya

untuk mengembangkan logika dan imajinasi-nya yang sudah ada.

setelah menemukan idenya mereka terus melanjutkan karangannya.

Akhirnya mereka dapat menyelesaikan tugas menulis karangan

deskripsinya dengan teknik menulis terbimbing.

b. Wawancara

Hasil dari wawancara dalam bentuk tanya jawab yang berkaitan

dengan pembelajaran menulis karangan deskripsi adalah sebagai

berikut. Secara umum tema yang disajikan dapat diterima oleh siswa.

Siswa merasa senang terhadap metode yang diterapkan karena siswa

langsung mengembangkan kerangka karangan yang ada. Siswa


39

minta dalam menentukan data atau bahan yang berkaitan dengan

tema diberi waktu terlebih dahulu untuk mengembangkan logika dan

imajinasinya, sehingga dapat menuangkan idenya dengan baik dan

dapat menulis dengan bebas.

c. Jurnal

Melalui pengelompokkan jenis aspek yang diamati dalam

jurnal sebagian mengungkapkan kesulitannya dalam

mengembangkan gagasan dan menyusun kalimat. Pengembangan

siswa yang tidak dapat langsung menulis, menyebabkan mereka

merasa bingung, dan akhirnya ingin mengetahui pekerjaan teman

yang lain.

Berdasarkan tes dan nontes yang telah dilaksanakan pada Siklus

I ini ternyata hasil yang diperoleh belum memenuhi target kategori

baik atau mencapai nilai rata-rata 71 – 80 karena belum memenuhi

target maka perlu mengadakan tindakan pada siklus II

4.1.3 Penelitian Siklus II

4.1.3.1 Hasil Tes Siklus II

Hasil penelitian tes siklus II ini menunjukkan kemampuan

menulis karangan deskripsi siswa sebagai berikut.


40

Tabel 9
KEMAMPUAN MENYUSUN ISI KARANGAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 20 - -
2 16 - -
3 12 27 480
4 8 11 88
5. 4 1 4
60 39 578
Rata-rata 296,4

Berdasarkan Tabel 9 di atas, kemampuan menyusun isi karangan

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 296,4. Nilai rata-

rata 296,4 dalam kemampuan menyusun karangan merupakan skor rata-rata

yang dapat dikategorikan sebagai nilai baik, sebab kategori nilai sangat baik

baru dicapai pada skor 81 – 100. Skor terendah yang dicapai siswa dalam

menyusun isi karangan adalah skor 4. Skor 4 berarti isi karangan siswa tidak

sesuai/ tidak tepat. Sedang skor tertinggi yang dicapai siswa adalah skor 12.

Skor 12 berarti isi karangan tersebut cukup sesuai dengan temanya.

Tabel 10
KEMAMPUAN MENYUSUN BAHASA

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 15 - -
2 12 - -
3 9 25 225
4 6 14 84
5. 3 - -
45 39 309
Rata-rata 158,4
41

Berdasarkan Tabel 10 kemampuan menyusun bahasa dalam menulis

karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 158,4. Nilai rata-rata 158,4 dalam

kemampuan menyusun bahasa merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan

sebagai nilai kurang, sebab kategori nilai cukup baru dicapai pada skor 61 – 70. Skor

terendah yang dicapai siswa dalam menyusun bahasa adalah skor 6. Skor 6 berarti

bahasa yang digunakan dalam mengarang deskripsi kurang tepat dengan maknanya.

Sedangkan skor tertinggi yang dicapai siswa adalah skor 9. Skor 9 berarti bahasa

yang digunakan oleh siswa cukup tepat dengan maknanya.

Tabel 11
KEMAMPUAN MENYUSUN TEKNIK PENULISAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 15 - -
2 12 - -
3 9 26 234
4 6 13 78
5. 3 - -
45 39 312
Rata-rata 160

Berdasarkan Tabel 11 di atas, kemampuan menyusun teknik penulisan

dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 160. Nilai rata-rata 160

dalam kemampuan menyusun teknik penulisan merupakan skor rata-rata yang dapat

dikategorikan sebagai nilai kurang, sebab kategori nilai cukup baru dicapai pada

skor 61 – 70. Skor terendah yang dicapai siswa dalam menyusun teknik penulisan

adalah skor 6. Skor 6 berarti teknik penulisan antara paragraf yang satu dengan yang

lain kurang cermat/ kurang serasi. Skor tertinggi yang dicapai adalah skor 9. Skor 9

berarti teknik penulisan sudah cukup cermat/ cukup serasi.


42

Tabel 12
KEMAMPUAN MENYUSUN EJAAN DAN TANDA BACA

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 10 - -
2 8 25 200
3 6 14 84
4 4 - -
5. 2 - -
30 39 284
Rata-rata 145,6

Berdasarkan Tabel 12 di atas, kemampuan menggunakan ejaan dan

tanda baca dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 145,6.

Nilai rata-rata 145,6 dalam kemampuan menggunakan ejaan dan tanda baca

merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab

kategori kurang baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang dicapai

siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca adalah skor 6. Skor 6 berarti

siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca sudah cukup tepat. Skor

tertinggi yang dicapai adalah skor 8. Skor 8 berarti penggunaan ejaan dan tanda

baca tepat sesuai dengan ejaan yang berlaku.

Tabel 13
KEMAMPUAN MENYUSUN KESATUAN GAGASAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor


1 15 - -
2 12 - -
3 9 27 243
4 6 12 72
5. 3 - -
45 39 315
Rata-rata 161,5
43

Berdasarkan Tabel 13 di atas, kemampuan menyusun kesatuan

gagasan dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 161,5.

Nilai rata-rata 161,5 dalam kemampuan menyusun kesatuan gagasan

merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai kurang, sebab

kategori nilai cukup baru dicapai pada skor 61 – 70. Skor terendah yang

dicapai siswa dalam menyusun kesatuan gagasan adalah skor 6. Skor 6 berarti

kesatuan gagasan dalam karangan deskripsi masih kurang tepat. Skor tertinggi

yang dicapai adalah skor 9. Skor 9 berarti menyusun kesatuan gagasan kurang

tepat.

Tabel 14
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN DIKSI

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor

1 15 - -
2 12 - -
3 9 27 243
4 6 12 72
5. 3 - -

45 39 315

Rata-rata 161,5

Berdasarkan Tabel 14 di atas, kemampuan menggunakan diksi dalam

menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 161,5. Nilai rata-rata

161,5 dalam kemampuan menggunakan diksi merupakan skor rata-rata yang

dapat dikategorikan sebagai nilai kurang, sebab kategori nilai cukup baru
44

dicapai pada skor 61 – 70. Skor terendah yang dicapai siswa dalam

menggunakan diksi adalah skor 6. Skor 6 berarti penggunaan diksi pada

karangan siswa kurang tepat. Sedangkan skor tertinggi yang dicapai siswa

adalah skor 9. Skor 9 dalam kemampuan menggunakan diksi cukup tepat.

Tabel 15
KEMAMPUAN MENYUSUN JUDUL KARANGAN

No. Skor Aspek Frekuensi Jumlah Skor

1 10 - -
2 8 30 240
3 6 9 54
4 4 - -
5. 2 - -

30 39 294

Rata-rata 150,7

Berdasarkan Tabel 15 di atas, kemampuan menyusun judul

karangan dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata

150,7. Nilai rata-rata 150,7 dalam kemampuan menyusun judul karangan

merupakan skor rata-rata yang dapat dikategorikan sebagai nilai jelek, sebab

kategori nilai kurang baru dicapai pada skor 51 – 60. Skor terendah yang

dicapai siswa dalam menyusun judul karangan adalah skor 6. Skor 6 berarti

cukup sesuai dengan tema. Sedangkan skor tertinggi yang dicapai siswa

adalah skor 8. Skor 8 dalam kemampuan menyusun judul karangan tersebut

sesuai dengan tema.


45

Tabel 16
KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI TES SIKLUS II

No Aspek Rata-rata skor


1 Kemampuan menyusun isi karangan 74,1
2 Kemampuan menyusun bahasa 39,6
3 Kemampuan menyusun teknik penulisan 40,0
4 Kemampuan menggunakan ejaan dan tanda baca 36,4
5 Kemampuan menyusun kesatuan gagasan 40,3
6 Kemampuan menggunakan diksi 40,3
7 Kemampuan menyusun judul karangan 37,6
Jumlah 308,3
Rata-rata 3164,3

4.1.3.2 Hasil Nontes Siklus II

Hasil di atas didukung data nontes yang meliputi

pangamatan, wawancara, dan jurnal.

a. Pengamatan

Pengamatan yang diadakan pada siklus II ini

menghasilkan data kualitatif sebagai berikut. Pada waktu

kegiatan pembelajaran menulis karangan deskripsi

berlangsung mayoritas siswa mengamati tes mengarang yang

ada dengan teliti. Dalam mengamati soal tes mengarang

siswa begitu serius dan sambil mengumpulkan data dan fakta

melalui cara mengembangkan logika dan imajinasinya serta

menghubungkan dan memulai menulis sesuai dengan tema

yang telah ditentukan. Hal ini terlihat dari keseriusan siswa

dalam menulis. Akhirnya semua siswa dapat menyelesaikan

hasil karangan deskripsinya.


46

b. Wawancara

Ungkapan siswa melalui bentuk wawancara dan jurnal

dilakukan setelah siswa selesai menulis. Hasil wawancara

antara lain siswa mengungkapkan bahwa cara kedua dalam

menulis karangan deskripsi teknik menulis terbimbing yang

dilaksanakan secara berulang kali latihan lebih efektif dalam

mengembangkan gagasan. Kendala yang ditemui lebih sedikit

dan siswa merasa lebih tertarik dengan cara yang kedua ini.

c. Jurnal

Melalui pengelompokkan dalam jurnal, siswa

mengungkapkan nada yang sama tidak mengalami kesulitan

yang berarti. Penulis dengan cara kedua lebih mudah dari

kegiatan menulis waktu pertama. Setelah siswa melakukan

tes pada siklus II dengan cara mengamati tema karangan

disertai kerangka karangan yang ada dengan teliti dan

kemudian mengembangkan logika dan imajinasinya maka

siswa dapat lebih mudah menuangkan dan mengembangkan

idenya menjadi karangan deskripsi yang baik.

Keadaan siswa pada siklus II terlihat adanya peningkatan kearah

perbaikan, yaitu siswa lebih teliti dalam menulis isi karangan jenis deskripsi.

Peningkatan ini bisa diamati berdasarkan peningkatan yang terlihat pada tabel

di atas, yaitu siswa yang mampu menulis karangan deskripsi dengan kategori

yang sangat baik ada 20,6 % yang hasil tersebut pada siklus I belum dapat

dicapai. Hal ini membuktikan bahwa terjadi perbaikan sikap siswa kearah yang

lebih baik.
47

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian

Tabel 17
Perbandingan Hasil Tes Siklus I dan Tes Siklus II

Peningkatan
No Aspek Tes Siklus I Tes Siklus II
dalam %
1 Isi karangan 51,8 74,1 43,05
2 Bahasa yang digunakan 32,3 39,6 22,60
3 Teknik penulisan 32,3 40,0 23,84
4 Ejaan dan tanda baca 35,9 36,4 1,39
5 Kesatuan gagasan 39,3 40,3 2,54
6 Diksi 39,3 40,3 2,54
7 Judul karangan 37,4 37,6 0,53
Jumlah 268,3 308,3 96,54
Rata-rata 38,33 44,04 13,79

Pembahasan hasil penelitian menulis karangan deskripsi dengan teknik

menulis terbimbing yang dilakukan pada siklus I dan siklus II serta didukung

nontes yang berupa pengamatan, wawancara dan jurnal dalam penelitian

tindakan kelas yang diadakan adalah sebagai berikut.

Dalam penelitian tindakan kelas pada siklus I ini penulis mengadakan kegiatan

menulis karangan deskripsi dengan menggunakan teknik menulis terbimbing.

Siswa disuruh mengamati langkah-langkah menulis yang telah dituliskan di

papan tulis. Setelah itu siswa langsung melihat soal tes menulis karangan

deskripsi dan langsung mengerjakan menulis karangan deskripsi sesuai dengan

tema yang ada. Keaktifan siswa diamati dalam memperhatikan penjelasan guru

tentang langkah-langkah menulis karangan deskripsi dengan teknik menulis

terbimbing dan kekreatifan siswa dalam mengembangkan tema menjadi

karangan deskripsi.
48

Berdasarkan hasil tes menulis dari 39 siswa pada siklus I ini aspek

karangan dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 51,8. Hal

ini menunjukkan aspek gagasan yang dikemukakan secara aktual dalam

menulis tersebut belum begitu tampak. Sedangkan, kesesuaian judul dengan

tema, sebagian siswa masih kurang tepat juga, sehingga tampak kesalahan

siswa dalam menulis karangan deskripsi.

Aspek bahasa yang digunakan dalam karangan deskripsi dari hasil

penelitian didapat nilai rata – rata 32,3. Hal ini karena siswa dalam menyusun

kalimat masih banyak yang tidak jelas maknanya. Ketidaktepatan siswa dalam

menggunakan diksi, masih banyak menggunakan bahasa daerah, masih suka

menggunakan kata yang mempunyai arti dan fungsi sama secara bersamaan.

Teknik dalam penulisan belum menunjukkan teknik yang benar.

Kesatuan paragraf belum terpelihara. Hal ini karena siswa kurang

memperhatikan kepaduan kalimat dalam suatu paragraf, peralihan paragraf ke

paragraf lain belum tepat, dan gagasan yang dipaparkan belum memenuhi

kelogisan. Siswa kurang memperhatikan hubungan antara paragraf satu dengan

paragraf lainnya.

Penggunaan margin kurang rapi. Siswa dalam menulis karangan

deskripsi terkesan mengabaikan penggunaan garis tepi, hal ini menimbulkan

penulisan karangan deskripsi tersebut tidak rapi dan tidak urut. Penulisan awal

paragraf yang seharusnya menjorok ke dalam kurang lebih 3 cm, kurang begitu

diperhatikan. Pemakaian ejaan dan tanda baca sebesar 38,5 % atau 15 siswa

yang masih kurang. Hal ini pemakaian huruf besar masih kurang tepat.

Kesalahan siswa awal kalimat tidak menggunakan huruf besar masih kurang
49

tepat. Kesalahan siswa awal kalimat tidak menggunakan huruf besar,

penggunaan tanda baca kurang tampak. Masih sering dijumpai akhir kalimat

tanpa menggunakan tanda titik. Siswa mengartikan tanda koma sebagai tempat

berhenti sewaktu membaca. Penulisan huruf dibuat-buat yang menimbulkan

kesalahan huruf yang benar.

Aspek kesatuan gagasan dalam penulisan karangan deskripsi mencapai

nilai rata – rata 39,3. Hal ini karena unsur subyek kalimat kurang jelas.

Ketidakjelasan subyek dalam kalimat, karena kesalahan siswa dalam

menggunakan preposisi. Siswa sering menempatkan preposisi di awal subyek,

agar kedudukan subyek jelas dalam kalimat, maka sebaiknya preposisi

dihilangkan. Kesalahan siswa menempatkan partikel antara subyek dan

predikat, sehingga kedudukan predikat menjadi keterangan subjek dan

pernyataan siswa tidak dapat disebut sebagai kalimat karena tidak berpredikat.

Untuk itu ditambahkan kata-kata yang berfungsi sebagai predikat.

Kalimat yang belum menunjukkan kehematan mencapai nilai rata – rata

39,3. Hal ini terjadi karena sering mengulang subyek dalam kalimat, demikian

halnya dengan penggunaan kata depan yang tidak sesuai, siswa juga

menuliskan kata yang mempunyai makna jarang yang diikuti dengan kata

ulang dan masih ada pemakaian kata yang bersinonim sehingga kalimatnya

tidak efektif.

Penulisan judul karangan dalam karangan deskripsi mencapai nilai rata –

rata 37,4. Siswa dalam menyusun judul karangan dapat perhatian pembaca, hal

ini karena judul disajikan siswa belum dapat mempengaruhi pembaca dan
50

siswa juga menuliskan judul terlalu panjang kalimatnya, sehingga terkesan

kurang efektif.

Dari 39 responden terdapat 10 siswa yang masih berkemampuan kurang.

Ke-10 siswa tersebut mendapat nilai rata-rata kemampuan menulis dengan

rentang 51 – 60. Didukung dengan nontes hasil pengamatan penelitian

menunjukkan siswa tersebut mempunyai angka presentase tinggi kurang

konsentrasi dalam pembelajaran dibandingkan dengan siswa lain yang

presentasenya mendapat lebih baik. Mereka dalam kegiatan pembelajaran

kurang serius, hanya asal membuat. Dari hasil wawancara, siswa tersebut

belum mampu untuk mengembangkan gagasan yang diwujudkan dalam bentuk

tulisan, sedangkan hasil jurnal menunjukkan bahwa siswa tersebut kurang

menyukai pembelajaran menulis karena masih dirasakan sulit dan

membosankan.

Adapun siswa yang berkemampuan baik ada 12 orang. Mereka itu

kemampuan menulisnya memang sudah baik dilihat pada waktu menulis, siswa

tersebut tanpa menjumpai hal-hal yang menyulitkan.

Dalam penelitian tindakan kelas siklus II ini, siswa melaksanakan

pembelajaran menulis karangan deskripsi dengan teknik menulis terbimbing.

Selain siswa mengamati langkah-langkah menulis seperti yang telah dijelaskan

pada siklus I, siswa dalam mengamati tema kurang teliti. Kemudian siswa

disuruh mengembangkan logika dan imajinasinya yang dihubungkan denga

tema yang ada. Setelah itu mengembangkan ke dalam kalimat paragaraf sampai

menjadi tulisan deskripsi yang baik dan mengamati hasil karangan tersebut.

Kembali setelah menulis karangan deskripsi. Bersamaan itu pula peneliti


51

mengadakan tindakan pengamatan terhadap siswa yang meliputi segala

aktivitas dan kreativitas ketika menyusun karangan deskripsi. Tindakan yang

lain dilakukan peneliti melalui wawancara dan jurnal tentang teknik menulis

terbimbing dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi.

Berdasarkan analisis hasil menulis karangan deskripsi siswa, pada siklus

II dar 39 siswa tersebut mencapai nilai rata – rata 74,1. Hal ini karena ia masih

kurang mampu mengembangkan kebenaran gagasan yang aktual. Untuk itu ia

perlu berlatih lebih cermat lagi.

Adapun penggunaan bahasa dalam menulis karangan deskripsi mencapai

nilai rata – rata 43,5. Hal ini disebabkan siswa tersebut menggunakan diksi atau

pilihan katanya yang kurang tepat. Siswa menggunakan kata yang kurang

sesuai dengan makna dalam kalimat.

Kemampuan teknik penulisan yang digunakan siswa dlam menulis

karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 40,0. Susunan kalimat dalam

suatu paragraf belum membentuk satu kesatuan yang utuh atau kepaduan

kalimat dalam paragraf masih kurang. Hal ini karena siswa dalam menyusun

kalimat dengan kalimat lain kurang berkesinambungan dan belum logis. Agar

kalimat siswa koheren, perlu digunakan tanda baca yang tepat. Peralihan

paragraf pun masih belum baik. Hal ini terlihat antara paragraf yang satu

dengan yang lain kurang padu.

Kemampuan siswa dalam penggunaan ejaan dan tanda baca dalam

menulis karangan deskripsi mencapai nilai rata – rata 35,8. Siswa dalam

menggunakan tanda baca koma cenderung masih dilupakan atau terabaikan.

Akibatnya, kalimat itu sulit dipahami. Pemakaian huruf besar masih dijumpai
52

kesalahan tidak sesuai dengan kaidah yang ada siswa ada yang mengawali

kalimat dengan huruf kecil.

Kemampuan mengembangkan gagasan yang belum baik mencapai nilai

rata – rata 40,3. Hal ini disebabkan siswa dalam menyusun kalimat sering

didahului dengan preposisi sehingga subyeknya kurang jelas. Demikian juga

penempatan keterangan kurang tepat sehingga kalimatnya sulit dipahami.

Kehematan kalimat dalam menulis karangan deskripsi mencapai nilai

rata – rata 40,3. Siswa menggunakan kata depan tidak benar dalam penulisan.

Misal kata ke dan di yang seharusnya dipisah, namun penulisannya justru

dirangkaikan. Tampak juga penggunaan sinonim yang tidak efektif dan

dijumpai kata yang pemakaiannya bermakna ganda, sehingga kalimatnya

mempunyai makna ganda.

Dari analisis di atas jumlah 39 responden yang berkemampuan cukup ada

10 siswa dengan rentang 61 – 70. Didukung dengan data nontes hasil

pengamatan pada siklus II ini menunjukkan bahwa siswa tersebut juga

mempunyai persentase tinggi tidak serius dalam pembelajaran dibandingkan

dengan siswa lain.

Selain itu, karena kemampuan intelegensi mereka yang lemah. Siswa

merasa kesulitan untuk mengembangkan kemampuan menyusun kalimat.

Siswa kurang latihan dan kurang sungguh-sungguh dalam keterampilan

menulis. Hal ini didasarkan pada waktu peneliti mengadakan wawancara

dengan responden setelah kegiatan menulis. Dari jurnal di atas menunjukkan

mereka kurang tertarik dan kurang senang dengan pelajaran keterampilan

menulis karena dirasakan masih sulit.


53

Berdasarkan persentase kemampuan menulis karangan deskripsi yang

dicapai dalam siklus II ini, siswa yang berkemampun baik ada 20 siswa dapat

mencapai hasil 71 – 80. Dilihat dari tabel 8 dan 16 halaman depan, kemampuan

menulis siswa cukup mengalami peningkatan dari 12 siswa menjadi 20 siswa.

Ini berarti ada kenaikan 20 siswa. Ini menunjukkan ada kenaikan siswa yang

kemampuannya meningkat. Pada siklus I penelitian ini tidak terdapat siswa

yang mencapai kemampuan yang baik sekali, namun pada siklus II penelitian

ada 9 siswa yang dapat mencapai hasil baik sekali. Ini berarti ada peningkatan.

Persentase kemampuan menulis siswa, berdasarkan uraian pada siklus I

dan siklus II mengalami peningkatan meskipun belum dapat mencapai

kemampuan menulis yang ideal. Ini disebabkan oleh dua faktor yang

mempengaruhi yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi

pengetahuan siswa, sikap, konsentrasi siswa, motivasi, kondisi siswa dan

minat. Adapun faktor eksternal mencakup gangguan tempat siswa belajar dan

suasana kelas yang terkendali.


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan pembahasan, penelitian tindakan kelas ini dapat disimpulkan

sebagai berikut

1. Kemampuan menulis karangan deskripsi yang dimiliki oleh siswa kelas II B

SLTPN 3 Kradenan meningkat, setelah mengikuti pembelajaran menulis dengan

teknik menulis terbimbing. Hal ini dapat kita ketahui setelah membandingkan

hasil tes pada siklus pertama dengan hasil tes pada siklus kedua. Hasil pada

siklus pertama, siswa baru mencapai kategori baik. Hasil pada siklus keduapun

siswa bisa mencapai nilai baik sekali.

2. Analisis data kualitatif melalui observasi wawancara dan jurnal menunjukkan

bahwa siswa kelas II B SLTPN 3 Kradenan lebih berminat, senang dan lebih

termotivasi dalam pembelajaran menulis deskripsi dengan teknik menulis

terbimbing. Dengan teknik menulis terbimbing para siswa akan lebih mudah

dalam menuangkan ide atau gagasan. Pembelajaran menulis karangan deskripsi

dengan menggunakan teknik menulis terbimbing mampu mengubah perilaku.

Perubahan perilaku tersebut ditunjukkan dengan sikap lebih bersemangat dan

tampak bergairah dalam mengkuti pembelajaran menulis karangan deskripsi.

5.2 Saran

Berdasarkan simpulan di atas, penulis menyarankan kepada guru bahasa

Indonesia sebagai berikut

54
55

1. Agar dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi menggunakan teknik

menulis terbimbing, karena teknik menulis terbimbing telah terbukti dapat

meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi. Selain meningkatkan

kemampuan, teknik menulis terbimbing juga mampu mengubah perilaku siswa

dalam pembelajaran bahasa Indonesia, serta membuat pembelajaran lebih

bervariasi.

2. Agar dalam menyampaikan pembelajaran menulis karangan deskripsi, teknik

menulis terbimbing dapat dilakukan secara bertahap. Dengan demikian, siswa

dapat lebih mudah menuangkan gagasan-gagasannya.


DAFTAR PUSTAKA

Akhmad, Sabarti, Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. 1997. Menulis I.


Jakarta: Depdikbud

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:


Bina Aksara

Badudu, J.S. 1994. Pintar Berbahasa Indonesia 3. Petunjuk Guru Bahasa Indonesia
SLTP. Jakarta: Pendidikan Pendahuluan PN Balai Pustaka

Budinuryanto, Kasuriyanta, dan Imam Koermen. 1997. Pengajaran Keterampilan


Berbahasa. Jakarta: Depdikbud

Depdikbud. 1993. Kurikulum Pendidikan Dasar. GBPP SLTP Mata Pelajaran


Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud

Engkoswara. 1984. Dasar-Dasar Metodologi Pengajaran. Jakarta: Bina Aksara

Gunawan, Syukur Budiarjo, Asram, dan Slamet Samsoerizal. 1997. Belajar


Mengarang : Dari Narasi Hingga Argumentasi. Surabaya: Erlangga

Hadjar, Ibnu. 1999. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam


Pendidikan. Jakarta: PT Kurnia Alam Perista Raja Grafindo Persada

Keraf, Gorys. 1982. Eksposisi dan Deskripsi. Ende Flores: Nusa Indah

Marwoto, Suyatmi, dan Suyitno. 1987. Komposisi Praktis. Yogyakarta: Hanindita

Nursito. 1999. Penuntun Mengarang. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa

Purwo, Bambang Kaswanti. 1997. Pokok-Pokok Pengajaran Bahasa dan Kurikulum


1994 Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdikbud

Rachman, Maman. 1993. Strategi dan Langkah-Langkah Penelitian Pendidikan.


Semarang: IKIP Semarang Press

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta
Wacana University Press

Suhadi. 1999. Meningkatkan Kemampuan Menulis. Yogyakarta: Andi

Surimiharja, Agus, H. Akhlah Husen, dan Nunuy Nurjanah. 1996. Petunjuk Praktis
Menulis. Jakarta: Depdikbud

56
57

Tarigan, Henry Guntur. 1993. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.


Bandung: Angkasa

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1995. Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Wahyu, Herman, J. 1994. Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra. Surakarta:


Sebelas Maret University Press
58

Lampiran 4
LEMBAR OBSERVASI

Keaktifan Siswa
No. Urut
Siklus I Siklus II
01 9 9
02 9 −
03 9 9
04 − −
05 9 9
06 9 9
07 9 9
08 9 9
09 − 9
10 9 9
11 9 9
12 9 9
13 − 9
14 9 9
15 9 9
16 9 9
17 9 9
18 9 9
19 9 9
20 9 9
21 9 9
22 9 9
23 9 9
24 9 9
25 9 9
26 9 9
27 9 9
28 9 9
29 9 9
30 9 9
31 9 −
32 9 9
33 9 9
34 9 9
35 9 9
36 9 9
37 9 9
38 9 9
39 9 9
Keterangan : 9 = aktif − = kurang aktif
Lampiran 3

PEDOMAN WAWANCARA

1. Wawancara ke :

2. Hari/Tanggal/Waktu :

3. Tempat/Sekolah :

4. Masalah :

5. Responden :

No Pertanyaan Jawaban

1 Bagaimana pendapat Anda tentang pembelajaran menulis

dengan teknik menulis terbimbing ?

2 Kesulitan-kesulitan apakah yang Anda hadapi selama

mengikuti kegiatan pembelajaran ?

3 Bagaimana saran Anda terhadap pembelajaran menulis

dengan menggunakan teknik menulis terbimbing ?

4 Bagaimana kesan Anda terhadap pembelajaran tersebut ?

5 Manakah yang lebih Anda sukai menulis paragraf

deskripsi di dalam kelas atau di luar kelas ?

Catatan :

Pedoman ini bukan pedoman wawancara berstruktur.

Pertanyaan bisa berkembang.

64
JURNAL SISWA

NAMA : Purwati

KELAS : 2B

NO. ABSEN : 30

1. Apa kesulitan yang kamu hadapi selama menulis karangan deskripsi dengan

menggunakan teknik menulis terbimbing ?

Jawab : Kesulitan yang saya alami, mengungkapkan kata-katanya,

padahal sudah dipikir, tapi tidak bisa keluar dari pikiran.

2. Apa penyebab kesulitan ketika kamu menulis deskripsi melalui teknik menulis

terbimbing ?

Jawab : Kurangnya pengalaman dalam menulis karangan dan

menuangkan ide-ide.

3. Bagaimana perasaan kamu terhadap pembelajaran menulis karangan deskripsi

yang guru ajarkan ?

Jawab : Senang, ajarannya cukup jelas dan singkat, serta mudah

dipahami.

65
Lampiran 6

DATA PENILAIAN SIKLUS PERTAMA

No Aspek-Aspek Yang Dinilai Skor Rata-


Jumlah
Resp 1 2 3 4 5 6 7 Rata

1. 6 6 6 6 6 6 7 43 6,142
2. 7 8 7 7 7 7 6 49 7,000
3. 7 7 7 7 7 6 7 48 6,857
4. 7 7 6 6 6 6 8 46 6,571
5. 6 7 6 7 6 6 7 45 6,427
6. 7 7 7 7 7 7 7 49 7,000
7. 7 7 7 7 6 6 7 47 6,714
8. 7 7 7 7 7 6 8 49 7,000
9. 7 7 7 7 6 6 7 47 6,714
10. 6 6 6 6 6 6 7 43 6,142
11. 8 7 7 7 7 6 7 49 7,000
12. 7 6 6 6 6 6 7 44 6,285
13. 7 7 7 6 6 6 7 46 6,571
14. 6 6 6 6 6 6 7 43 6,142
15. 6 6 6 7 6 6 7 44 6,285
16. 6 6 6 6 6 6 7 43 6,142
17. 8 7 8 8 7 7 8 53 7,571
18. 7 7 7 8 6 7 8 50 7,142
19. 7 7 7 7 6 6 7 47 6,714
20. 7 7 7 7 6 6 7 47 6,714
21. 7 7 8 7 6 6 7 48 6,857
22. 6 7 7 6 6 6 8 46 6,571
23. 7 6 6 7 6 7 6 45 6,427
24. 7 6 8 6 7 7 8 49 7,000
25. 7 8 7 7 6 7 6 48 6,142
26. 8 8 7 7 6 6 7 49 7,000
27. 7 7 7 6 6 7 7 47 6,714
28. 8 7 8 7 7 6 6 49 7,000
29. 8 7 8 8 7 7 8 53 7,571
30. 7 7 7 7 6 6 7 47 6,741
Lampiran 7

No Aspek-Aspek Yang Dinilai Skor Rata-


Jumlah
Resp 1 2 3 4 5 6 7 Rata

1. 7 6 6 7 6 6 7 45 6,427
2. 8 8 7 8 7 8 8 54 7,571
3. 8 8 7 8 8 7 8 54 7,571
4. 7 6 7 7 6 6 7 46 6,571
5. 7 7 6 7 7 6 7 47 6,714
6. 9 8 7 7 7 7 8 53 7,571
7. 8 8 7 7 7 7 8 52 7,428
8. 8 8 8 7 7 7 9 54 7,714
9. 8 7 7 7 7 7 8 51 7,285
10. 7 6 7 7 6 6 7 46 6,571
11. 9 8 8 8 8 7 8 56 8,000
12. 6 7 6 7 6 6 7 45 6,427
13. 7 6 6 6 6 6 7 44 6,285
14. 7 7 6 7 6 6 7 46 6,571
15. 7 7 7 7 7 7 8 50 7,142
16. 7 6 6 7 7 6 7 46 6,571
17. 9 8 8 8 8 7 8 56 8,000
18. 8 8 8 8 7 7 8 54 7,714
19. 8 7 8 8 7 7 8 53 7,571
20. 8 8 7 8 7 7 8 53 7,571
21. 8 7 7 8 7 7 8 52 7,428
22. 7 7 8 7 7 7 7 50 7,142
23. 7 7 6 7 6 6 8 47 6,714
24. 7 8 7 7 7 7 8 51 7,285
25. 7 7 7 7 6 6 8 48 6,714
26. 8 8 7 8 7 7 8 53 7,571
27. 8 8 7 7 7 7 8 52 7,428
28. 8 8 7 7 8 7 8 53 7,571
29. 9 8 8 7 7 7 9 55 8,000
30. 7 7 7 7 6 7 7 48 6,571
No Aspek-Aspek Yang Dinilai Skor Rata-
Jumlah
Resp 1 2 3 4 5 6 7 Rata

31. 7 7 6 7 7 6 7 47 6,571
32. 7 6 7 7 7 6 7 47 6,571
33. 7 7 7 7 7 7 6 48 6,875
34. 6 6 6 6 6 6 7 43 6,142
35. 8 8 8 7 7 7 7 52 7,571
36. 7 6 6 7 6 6 8 46 6,571
37. 7 7 8 8 6 7 8 51 7,285
38. 7 7 7 8 7 7 8 51 7,285
39. 7 8 7 7 7 7 8 51
No Aspek-Aspek Yang Dinilai Skor Rata-
Jumlah
Resp 1 2 3 4 5 6 7 Rata

31. 7 6 6 7 6 6 8 46 6,571
32. 7 6 6 7 6 6 7 45 6,427
33. 7 7 7 7 7 6 8 49 7,000
34. 6 7 7 7 6 6 7 46 6,851
35. 8 9 7 8 8 8 8 56 8,000
36. 7 8 8 7 7 7 8 52 7,428
37. 9 8 8 7 7 7 8 54 7,714
38. 8 8 8 8 6 7 8 53 7,571
39. 7 8 8 8 7 7 8 53 7,571
PEDOMAN JURNAL

Tulis pesan dan kesan Anda tentang hal-hal dibawah ini.

1. Apa kesulitan yang kamu hadapi selama menulis karangan dekripsi dengan

menggunakan teknik menulis terbimbing ?

2. Apa penyebab kesulitan ketika kamu menulis deskripsi melalui teknik menulis

terbimbing ?

3. Bagaimana perasaan kamu terhadap pembelajaran menulis karangan deskripsi

yang guru ajarkan ?