Anda di halaman 1dari 5

January 7, 2011 [MEMULAI HIDUP DENGAN LANGKAH BARU]

Memulai Hidup dengan Langkah Baru


“Bila enqkau berpulang ke alam baqa’ tanpa membawa bekal
taqwa, sedang engkau melihat orang-orang lain membawanya
pada hari penghimpunan, pastilah engkau menyesal karena
tidak seperti mereka. Mereka pulang mempunyai persiapan
sedang engkau tidak memiliki apapun ”. (Imam Ibnu Qayyim of
Jauziyah dalam kitabnya Al Fawaid)
Al Hitami, pujangga sufi kelahiran Spanyol mengungkapkan
dengan puitis bahwa, “Hidup itu ibarat tidur, sedang mati seolah
bangun berbaur.” Pernyataan Al Hitami berisi wasiat, bahwa apapun
yang sedang kita peroleh dalam hidup ini tak boleh disikapi dengan
sombong atau lupa daratan dengan akibat meninggalkan kerabat dan
sahabat.
Sebaiknya, bila sedang dirundung malang, mesti bersabar dengan
tetap harus berusaha dan tidak boleh berputus asa. Sebenarnya rotasi
kehidupan itu ibarat perputaran roda. Ketika sedang berada dibagian
atas jangan merasa lebih, dan pula ketika berada di bawah jangan
terlalu bersedih hati.
Menurut akidah Islamiyah, hidup yang kini dijalani bukan hidup
paripurna. Masih akan ditempuh sesi berikutnya. Yakni hidup sesudah
mati. Satu kehidupan kekal abadi. Di akhirat kelak. Firman Allah SWT:
“Mengapa kamu sekalian ingkar kepada Allah, padahal kamu
tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu
dimatikan dan dihidupkanNya kembali, kemudian kepada-Nya
lah kamu dikembalikan”. (Q.S. Al-Baqarah: 28)
Semua yakin bahwa mati itu pasti akan datang. Cepat atau
lambat. Tidak membedakan status sosial, ekonomi ataupun usia. Telah
banyak orang kaya dihampiri malaikat Izrail. Tidak sedikit yang masih
muda belia tiba-tiba meninggal. Kematian akan mendatangi segala
umur dan semua lapisan di semua tempat. Firman Allah SWT:
“Dimana saja kamu berada, kematian pasti akan menjumpai
kamu, kendatipun kamu berada di benteng yang tinggi dan
kokoh”. (Q.S An-Nisa’:78)

H. Masoed Abidin 1
January 7, 2011 [MEMULAI HIDUP DENGAN LANGKAH BARU]

Seorang muslimin tidak seharusnya takut akan kematian.


Kematian adalah awal dari sebuah kebahagiaan yang telah dijanjikan
oleh Allah bagi yang benar beriman dan banyak melakukan kebajikan.
Walaupun bagi yang ingkar dan tidak memiliki bekal kebajikan, mati
sangat ditakuti, karena selain harus bercerai dengan istri, berpisah
dengan keluarga, dan melepaskan semua harta, berarti pula mereka
mula merasakan penderitaan akibat siksaan yang berkepanjangan. Na
‘uzubillah.
Mari kita perhatikan tuntunan Rasulullah SAW berikut ini:
“Pergunakanlah lima masa sebelum datang lima masa:
pergunakanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu,
pergunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa
sibukmu, pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa
tuamu, pergunakanlah masa kayamu, sebelum datang masa
kefakiranmu dan pergunakanlah masa hidupmu sebelum
datang saat kematianmu”. (HR. Al Baihaqi)
Mulailah hidup dengan langkah yang baru, dengan energi dan
semangat yang baru. Tinggalkan masa lalu yang kurang bermanfaat.
Teruslah berjalan dengan menelusuri lorong-lorong kehidupan yang
menuju ke kampung akhirat.
Umur yang dianugerahkan Allah hendaknya dimanfaatkan dengan
baik dengan beramal dan beribadah. Manusia dijadikan untuk
mengabdi kepada Allah SWT. Pergunakanlah waktu dengan baik. Allah
bersumpah demi waktu.

‫مل ُسسوا‬
ِ َ ‫من ُسسوا وَع‬
َ ‫ن َءا‬ ِ ‫إ ِّل ال ّس‬- ‫ر‬
َ ‫ذي‬ ٍ ‫سس‬
ْ ‫خ‬ ِ َ‫ن ل‬
ُ ‫في‬ َ ْ ‫ن اْل ِن‬
َ ‫سا‬ ّ ِ ‫إ‬- ‫ر‬ ْ َ‫َوال ْع‬
ِ ‫ص‬
.‫ر‬
ِ ْ ‫صب‬
ّ ‫وا ِبال‬
ْ ‫ص‬
َ ‫وا‬ َ ْ ‫وا ِبال‬
َ َ ‫حقّ وَت‬ ْ ‫ص‬
َ ‫وا‬
َ َ ‫ت وَت‬
ِ ‫حا‬
َ ِ ‫صال‬
ّ ‫ال‬
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada
dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya
mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran.” (Q.S. Al-’Ashr:1-3)

H. Masoed Abidin 2
January 7, 2011 [MEMULAI HIDUP DENGAN LANGKAH BARU]

Waktu amat penting dan harus diperhatikan oleh manusia. Jika tak
ada waktu, tidak akan ada perjalanan umur manusia. Malik bin Nabi
mengungkap di dalam bukunya Syuruth An Nahdhah (Syarat-syarat
Kebangkitan): “Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh
penjuru sejak dahulu kala, melintas pulau, kota, dan desa,
membangkitkan semangat atau menina bobokkan manusia.
Waktu diam seribu hasa, sampai-sampai manusia tidak
menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun
segala sesuatu -selain Allah- tidak akan mampu melepaskan diri
darinya”. Maka, tidak memperhatikan waktu dan umur, akan
membuat kehidupan sia-sia. Waktu sangatlah terbatas. Jika waktu
telah berakhir (berlalu), ia tak akan bisa diganti atau kembali.
Sayidina Ali bin Ahi Thalib pernah berkata: “Rezki yang tidak
diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih
banyak di hari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak
mungkin kembali esok". Artinya, dalam menjalani kehidupan
haruslah dengan penuh keimanan serta ketaqwaan kepada Allah SWT.
Perbanyaklah amal shaleh. Jika umur atau perjalanan hidup tidak diisi
taqwa, hidup akan hampa, tidak bermakna dan sia-sia. Dalam
peredaran waktu terdapat kewajiban dan tanggung jawab. Manusia
berkewajiban menggunakan kesempatan dan mengatur waktunya
dengan baik.
Dalam Islam, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya.
Akibat buruk dan baik adalah buah perilakunya sendiri. Al Qur’an
menyatakan : “Barang siapa yang berbuat sesuai dengan
hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk
(keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat
maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya
sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul
dosa orang lain. Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum
Kami mengutus seorang rasul.“ (Q.S Al-Israa’: 15)
Di dalam Al-Quran kita temukan kisah tentang Luqman yang
menasehati anaknya tentang kewajiban-kewajiban utama manusia.
Ada tiga kewajiban manusia yang harus ia penuhi.
1. Kewajiban manusia kepada Allah . (Q.S Luqman:13)

H. Masoed Abidin 3
January 7, 2011 [MEMULAI HIDUP DENGAN LANGKAH BARU]

2. Kewajiban anak kepada orang tua (Q.S. Luqman: 14)


3. Kewajiban manusia kepada sesamanya (Q.S. Luqman:18 -
19)
Asy Syahid Hasan Al-Bana dalam “Hadits Tsulatsa”, yang
disusun Ahmad Isa ‘Asyur Asy-Syahid, mengajari cara membagi waktu
dalam rangka melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab. “Allah
SWT telah memerintahkan kita untuk menggunakan waktu
dalam empat hal”.
Dalam hal yang dapat menyelamatkan agama kita, yaitu
1.
berupa ketaatan kepada Allah, manusia wajib menjaga
waktunya.. Ini pun terbagi dua: (a). yang difardhukan oleh
Allah seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan seterusnya. (b).
yang dianjurkan oleh Allah berupa amalan-amalan nafilah
(sunnah), seperti tilawatil Qur’an, sedekah, zikir, dan membaca
shalawat nabi.
Dalam hal-hal yang memberikan manfaat kepada kita, yakni
2.
untuk mencari rezki yang halal untuk keperluan kita dan keluarga
yang kita tanggung, maka wajib memanfaatkan waktunya. Jika
hal itu dilakukan dengan ikhlas, maka akan menjadi amal
ibadah.
Dalam hal yang mendatangkan manfaat kepada orang lain,
3.
merupakan bagian dari silaturrahim dalam bentuk pendekatan
(qurbah/taqarrub) diri yang paling agung, maka manusia
berkewajiban menyediakan waktunya.
Dalam hal yang dapat memberi ganti atas sesuatu yang
4.
hilang dari kita, yaitu waktu istirahat, manusia wajib
menggunakan waktunya. Sediakan waktu khusus untuk dapat
memperbaharui dan menyegarkan kembali semangat dengan
istirahat (irhanaa ya Bilaal bis-shalah), seperti berolah raga,
berwisata (siruu fil-ardhi) dengan cara bermanfaat dan positif.
Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Dzar Al Ghifari,
Rasulullah SAW bersabda: “Yang berakal selama akalnya belum
terkalahkan oleh hawa nafsunya, berkewajiban mengatur
waktu-waktunya. Ada waktu yang digunakan untuk
bermunajat dengan Tuhannya. Ada waktu yang digunakan

H. Masoed Abidin 4
January 7, 2011 [MEMULAI HIDUP DENGAN LANGKAH BARU]

untuk melakukan introspeksi (menghitung diri). Ada waktu


yang digunakan untuk memikirkan ciptaan Allah (belajar). Ada
pula waktu yang digunakan khusus untuk diri (dan keluarga)
guna memenuhi keperluan makan dan minum.” (Diriwayatkan
oleh lbnu Hibban).

Kita memasuki tahun 2011, awal tahun yang baru. Tahun yang
lalu sudah menjadi masa yang lalu, tidak akan terbentang lagi sebagai
masa depan. Tahun-tahun selanjutnya adalah tahun yang lain, menjadi
kelanjutan dari perjalanan umur, jika Allah masih memberikan jatah
hidup kepada kita.
Sekilas, masuknya tahun baru berarti bertambahlah umur kita
satu tahun, Al hamdulilah. Kita patut bersyukur karena Allah telah
memperpanjang umur kita. Namun, jika kita menyimak ungkapan
bijak, “Umurku berkurang setiap hari.. .Sedang dosa terus
bertambah... Bagaimana mungkin aku bisa memikulnya…”
Memasuki tahun baru berarti sisa umur kita makin berkurang.
Otomatis, maut semakin dekat dan kita tidak tahu kapan berakhir.
Sebelum umur berakhir, akal sehat yang bersandar kepada iman akan
bangkit untuk semakin memacu diri dalam mengisi sisa umur dengan
amal shaleh dan ketaqwaan.
Akal sehat dan iman taqwa memandu kita agar sisa umur tak sia-
sia dan hidup tak boleh rugi.
Semoga Allah meridhai kita, Amin.
Allahu a ‘lam bishawab.

H. Masoed Abidin 5