Anda di halaman 1dari 11

TUGAS TERSTRUKTUR

MATA KULIAH

HUKUM KETENAGAKERJAAN

Tentang

KOMENTAR ARTIKEL

Oleh :

Andi Masaid E1A001147

KELAS C/GAB

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS HUKUM

PURWOKERTO

2001
Artikel I
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam perkembangan ekonomi saat ini, banyak industri-industri yang telah

menggunakan mesin-mesin berat dalam memproduksi produk-produknya. Namun

tak lepas dari itu semua, sebuah mesin diperlukan adanya teknisi atau pengguna

mesin dan hampir tiap industri baik besar maupun kecil paling tidak memiliki satu

buah engineering yang tugasnya mengatur jalannya mesin-mesin yang digunakan

dalam memproduksi produk-produk industri agar berjalan dengan baik.

Di dalam dunia usaha dan pasar kerja, seorang engineer tidak secara tiba-

tiba ada dan tersedia. Namun hal ini diperlukan adanya suatu proses agar tercipta

seorang engineer yang dibutuhkan oleh pasar kerja dan dunia usaha. Hal ini

dimaksudkan agar tiap-tiap engineer yang ada, kemampuan dan abilitynya dapat

berfungsi secara total di dalam sebuah industri maupun perusahaan-perusahaan

baik besar maupun kecil.

B. Perumusan Masalah

1. Bagaimana cara menciptakan suatu engineer yang sesuai?


BAB II

PEMBAHASAN

Sebuah industri maupun perusahaan tbk. di Indonesia, sudah pasti berhubungan

dengan teknologi yang ada serta alat produksi dalam membuat produk industri itu sendiri.

Kesemuanya itu tidak lepas dari sebuah kompetensi dari seorang engineer dalam

mengoperasikan alat-alat tersebut agar dapat berjalan dengan baik, serta menghindari

adanya troubleshoot terhadap alat-alat tersebut.

Dalam menggunakan alat-alat tersebut diperlukan adanya kemampuan dalam

mengoperasikan alat-alat tersebut. Dalam menciptakan kemampuan terhadap seseorang

dalam mengoperasikan alat-alat tersebut, diperlukan adanya suatu pelatihan kerja

mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan teknologi bahkan yang berhubungan

dengan alat-alat tersebut di atas.

Dari artikel di atas jelas terlihat bahwa perkembangan teknologi sangat penting,

namun adaptasi para buruh pengguna teknologi jauh lebih penting dibanding dengan

teknologi itu sendiri, karena tanpa pengguna, teknologi takkan berjalan dengan baik

dalam sebuah industri dan perusahaan. Selain hal itu pelatihan yang dimaksud adalah

untuk membekali, meningkatkan dan mengembangkan kompetensi kerja guna

meningkatkan kemampuan, produktivitas dan kesejahteraan bagi tenaga kerja. Dalam hal

ini kompetensi yang dimaksud adalah kemampuan kerja tiap individu mencakup aspek

pengetahuan ketrampilan dan sikap kerja sesuai standard yang ditetapkan.

Disamping hal-hal yang tersebut di atas, pelatihan kerja juga memperhatikan

pasar kerja dan dunia usaha, dalam hal ini pengusaha melihat bahwa pasar kerja yang
sedang marak atau paling sering digunakan dalam bidang apa? Disitulah pelatihan kerja

dilaksanakan.

Seperti halnya pada pabrik bihun dimana pabrik tersebut sudah menggunakan

teknologi tinggi, serta penggunaan teknologi tersebut membutuhkan pelatihan kerja yang

cukup mempunyai kompetensi dalam mengoperasikan teknologi tersebut. Memang

sebelumnya pabrik tersebut hanya menggunakan tenaga sapi, namun kini sudah menjadi

berteknologi tinggi. Dalam hal ini kemungkinan besar pekerja yang sebelumnya belum

mengetahui mengenai teknologi tersebut, maka pengusaha pabrik tersebut yang

bertanggung jawab atas peningkatan dan atau pengembangan komptensi pekerjanya

melalui pelatihan kerja, dalam hal ini pengusaha sebagai pengguna.

Selain tanggung jawab yang ada pada pengusaha, para pekerja juga berhak unguk

mendapatkan ataupun memperoleh dan atau meningkatkan serta mengembangkan

kompetensi kerja sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannyamelalui pelatihan kerja.

Dengan adanya pelatihan kerja maka teknologi setinggi apapun dalam suatu industri akan

dapat difungsikan secara maksimal oleh para pekerja jika kompetensi mereka memenuhi

dan sesuai dengan teknologi tersebut, dan hal ini dapat terwujud dari sebuah pelatihan

kerja.
PENUTUP

Dalam sebuah industri diperlukan beberapa komponen agar dapat disebut sebagai

industri maju. Diantaranya dipengaruhi terhadap penggunaan teknologi dalam industri

tersebut, serta kompetensi para pekerja yang terdapat dalam industri tersebut.

Hal ini dapat menjadi kendala jika salah satu dari komponen tersebut belum

dipenuhi, karena jumlah produksi dalam jangka waktu tertentu akan menurun yang

mengakibatkan hilangnya kesempatan dalam meraih customer dan para konsumen di

lingkungan pasar. Untuk itu pelatihan kerja dan peningkatan teknologi terhadap suatu

industri sangat penting eksistensinya bila dihubungkan dengan pemasaran dan hasil

produksi.
Artikel II
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Semakin terpuruknya Bangsa Indonesia dalam perekonomian dunia,

membuat para rakyat kecil semakin sulit untuk mencari nafkah dan pekerjaan.

Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk membuka usaha sendiri dalam

mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Meski dirasa hal tersebut belum cukup

untuk menutup kekurangan namun hasil tersebut sudah cukup untuk dapat

melanjutkan hidup di hari esok.

Ada kalanya sebuah wirausaha mengalami kesulitan, sehingga jatuh dan

akhirnya bangkrut. Namun di lain pihak ada pula wirausaha yang maju dan

akhirnya menjadi sebuah industri dengan hasil yang lumayan besar. Pencapaian

ini di dasarkan pada sebuah perencanaan kerja yang sistematis dari si pengusaha

wirausaha tersebut sebelumnya, yang kini telah menjadi sebuah industri yang

memiliki beberapa tenaga kerja pembantu. Dengan kata lain, sebuah perencanaan

kerja sangat penting dalam memajukan industri dan meningkatkan

pendayagunaan tenaga kerja secara optimal serta produktif dalam mencapai

kenerja yang tinggi pada industri tertentu.

B. Perumusan Masalah

Seperti apa perencanaan tenaga kerja?


BAB II

PEMBAHASAN

Dalam artikel di atas, usaha mbo sinah yang sebelumnya merupakan usaha

kecil-kecilan, sekarang telah berkembang menjadi sebuah industri grabah di daerah wedi,

Kabupaten Klaten, dimana daerah tersebut merupakan salah satu daerah sentra industri

kerajinan grabah. Disamping sebuah manajemen yang teratur dan terarah, sebuah industri

seperti halnya industri grabah milik mbok sinah, juga harus memiliki perencanaan kerja

dalam memproduksikan produknya agar produk dan tenaga yang digunakan dapat

diimplementasikan secara optimal dan produktif, dalam rangka mencapai kinerja yang

tinggi pada terhadap industri mbok sinah itu sendiri.

Seperti yang telah disiratkan dalam artikel tersebut, bahwa di daerah wedi,

kabupaten klaten tersebut banyak warga setempat yang memiliki tangan-tangan terampil

untuk membuat aneka macam mainan. Hal ini merupakan salah satu faktor dalam sebuah

perencanaan kerja, dimana warga-warga tersebut di atas dapat di implementasikan dalam

industri grabah milik mbok sinah.

Salah satu faktor di atas merupakan sebuah produktivitas tenaga kerja, dimana

sebuah industri membutuhkan tenaga kerja yang terampil dalam membuat produk-

produknya, dan disamping itu industri tersebut akan dapat memasarkan lebih banyak

produk dalam waktu yang tidak terbilang lama.

Perencanaan inipun melihat bahwa berapa jumlah penduduk daerah wedi,

berapa orang penduduk daerah wedi yang belum bekerja, dan ada berapa tenaga terampil

di daerah wedi dalam bidang industri milik mbok sinah. Apabila informasi tersebut sudah
dapat di dapat dan ketersediaan tenaga kerja sudah mendukung maka industri yang

bersangkutan akan berjalan secara optilmal sesuai dengan yang telah direncanakan.

Apabila tenaga kerja yang dibutuhkan kurang mendukung, maka dari tenaga

kerja terampil yang ada, untuk dapat melakukan pelatihan kerja dalam meningkatkan

kinerja masing-masing individu dalam rangka mensejahterakan masayarakat pada

umumnya dan tenaga kerja yang bersangkutan pada khususnya.


BAB III

PENUTUP

Sebuah perencanaan kerja sangat dibutuhkan dalam sebuah pembentukan

industri, agar proses industrial dapat berjalan lancar dan untuk meningkatkan

pendayagunaan tenaga kerja secara optimal dan produktif dalam mencapati kinerja yang

tinggi pada sebuah instansi.

Salah satunya adalah penduduk dan tenaga kerja, dimana sebuah perencanaan

kerja melihat sebuah informasi mengenai berapa jumlah penduduk pada suatu daerah, dan

berapa jumlah penduduk di daerah tersebut yang belum bekerja.