Anda di halaman 1dari 8

Fakta (Mengejutkan) Tentang

Rokok dan Perokok


8 Juli 2008
tags: anak, djarum, fakta, Indonesia,
kecanduan, kemiskinan, kesehatan,
miskin, perda, perokok, Prihatin,
Realita, rokok
oleh Charles
Perhatikanlah fakta-fakta berikut
tentang rokok dan perokok di
Indonesia dan dunia:
1. Sejauh ini, tembakau berada pada
peringkat utama penyebab
kematian yang dapat dicegah di
dunia. Tembakau menyebabkan
satu dari 10 kematian orang
dewasa di seluruh dunia, dan
mengakibatkan 5,4 juta kematian
tahun 2006. Ini berarti rata-rata
satu kematian setiap 6,5
detik. Kematian pada tahun 2020
akan mendekati dua kali jumlah
kematian saat ini jika kebiasaan
konsumsi rokok saat ini terus
berlanjut. [1]
2. Diperkirakan, 900 juta (84
persen) perokok sedunia hidup di
negara-negara berkembang atau
transisi ekonomi termasuk di
Indonesia. The Tobacco Atlas
mencatat, ada lebih dari 10 juta
batang rokok diisap setiap
menit, tiap hari, di seluruh
dunia oleh satu miliar laki-laki,
dan 250 juta perempuan.
Sebanyak 50 persen total
konsumsi rokok dunia dimiliki
China, Amerika Serikat, Rusia,
Jepang dan Indonesia. Bila kondisi
ini berlanjut, jumlah total rokok
yang dihisap tiap tahun adalah
9.000 triliun rokok pada tahun
2025. [1]
3. Di Asia, Badan Kesehatan Dunia
(WHO) menyebutkan, Indonesia
menempati urutan ketiga
terbanyak jumlah perokok
yang mencapai 146.860.000 jiwa.
Namun, sampai saat ini Indonesia
belum mempunyai Peraturan
Perundangan untuk melarang
anak merokok. Akibat tidak
adanya aturan yang tegas, dalam
penelitian di empat kota yaitu
Bandung, Padang, Yogyakarta
dan Malang pada tahun 2004,
prevalensi perokok usia 5-9 tahun
meningkat drastis dari 0,6 persen
(tahun 1995) jadi 2,8 persen
(2004). [1]
4. Peningkatan prevalensi merokok
tertinggi berada pada interval
usia 15-19 tahun dari 13,7 persen
jadi 24,2 persen atau naik 77
persen dari tahun 1995. Menurut
Survei Global Tembakau di
Kalangan Remaja pada 1.490
murid SMP di Jakarta tahun 1999,
terdapat 46,7 persen siswa
yang pernah merokok dan 19
persen di antaranya mencoba
sebelum usia 10 tahun.
“Remaja umumnya mulai
merokok di usia remaja awal atau
SMP,” kata psikolog dari Fakultas
Psikologi UI Dharmayati Utoyo
Lubis. [1]
5. Sebanyak 84,8 juta jiwa
perokok di Indonesia
berpenghasilan kurang dari
Rp 20 ribu per hari–upah
minimum regional untuk Jakarta
sekitar Rp 38 ribu per hari. [2]
6. Perokok di Indonesia 70 persen
diantaranya berasal dari
kalangan keluarga miskin. [3]
7. 12,9 persen budget keluarga
miskin untuk rokok dan untuk
orang kaya hanya sembilan
persen. [3]
8. Mengutip dana Survei Ekonomi
dan Kesehatan Nasional
(Susenas), konsumsi rumah
tangga miskin untuk
tembakau di Indonesia
menduduki ranking kedua
(12,43 persen) setelah konsumsi
beras (19.30 persen). “Ini aneh
tatkala masyarakat kian prihatin
karena harga bahan pokok naik,
justru konsumen rokok kian
banyak,” [3]
9. Orang miskin di Indonesia

mengalokasikan uangnya untuk


rokok pada urutan kedua setelah
membeli beras. Mengeluarkan
uangnya untuk rokok enam
kali lebih penting dari
pendidikan dan kesehatan. [3]
10. Pemilik perusahaan rokok PT

Djarum, R. Budi Hartono,


termasuk dalam 10 orang terkaya
se-Asia Tenggara versi Majalah
Forbes. Ia menempati posisi
kesepuluh dengan total harta US$
2,3 miliar, dalam daftar yang
dikeluarkan Kamis (8/9/2005). [4]
11. Sekitar 50% penderita kanker

paru tidak mengetahui bahwa


asap rokok merupakan penyebab
penyakitnya. [5]
12. Dari 12% anak-anak SD yang

sudah diteliti pernah merasakan


merokok dengan coba-coba.
Kurang lebih setengahnya
meneruskan kebiasaan merokok
ini. [5]
13. Besaran cukai rokok di

Indonesia dinilai masih terlalu


rendah. Saat ini, besarnya cukai
rokok 37 persen dari harga rokok.
Bandingkan dengan India (72
persen), Thailand (63 persen),
Jepang (61 persen). [6]
14. Sebanyak 1.172 orang di

Indonesia meninggal setiap


hari karena tembakau. [7]
15. 100 persen pecandu narkoba

merupakan perokok. [8]


16. Perda DKI Jakarta No 2 Tahun

2005, Pasal 13 ayat 1: Tempat


umum, sarana kesehatan, tempat
kerja dan tempat yang secara
spesifik sebagai tempat proses
belajar mengajar, arena kegiatan
anak, tempat ibadah dan
angkutan umum dinyatakan
sebagai kawasan dilarang
merokok. — Pelanggarnya
diancam dengan sanksi pidana
berupa denda maksimum Rp 50
juta, atau 6 bulan kurungan.
Kenyataannya, Perda ini seperti
dianggap tidak ada oleh perokok,
dan pemerintah pun tidak tegas
dalam menjalankannya.
Hmm, seandainya pemerintah dapat
tegas menjalankan Perda di atas,
mungkin hutang pemerintah akan
langsung lunas dibayar para
perokok… Selain itu tentunya akan
mengurangi pencemaran udara,
membuat masyarakat lebih sehat,
mengurangi angka kemiskinan, dan
mengurangi angka kriminalitas.
Di antara 16 fakta di atas, fakta
mana yang paling mengejutkan
untuk Anda? Kalau untuk saya, fakta
nomor 5 yang paling mengejutkan.
Saya jadi ingat kata-kata: tidak ada
perokok yang terlalu miskin untuk
membeli rokok. Tampaknya kata-
kata itu ada benarnya. Mereka lebih
memilih rokok dibandingkan
kebutuhan pokok mereka lainnya.
Ironis…