Anda di halaman 1dari 1

BUDIDAYA AYAM RAS PETELUR

ASPEK PEMASARAN
PROSPEK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS

Pertumbuhan ekonomi di segala sektor telah memacu pula meningkatan pendapatan


masyarakat, baik di kota maupun di pedesaan yang pada gilirannya akan mempengaruhi
kemampuan masyarakat untuk meningkatkan gizinya, terutama yang bersumber dari
protein hewani yang relatif murah dan mudah didapat sehingga yang berpendapatan
menengah kebawah lebih banyak mengkonsumsinya dibandingkan dengan daging sapi
atau

susu.
Prospek Pengembangan Agribisnis Budidaya Ayam Ras Petelur

Salah satu penghasil hewani adalah ternak. Secara nasional, perkembangan


populasi berbagai jenis ternak menunjukkan peningkatan yang besar, terutama untuk
ternak unggas. Walaupun demikian, Indonesia dengan jumlah penduduk 200 juta orang
masih tergolong sebagai negara yang tingkat konsumsi daging ayam dan telur yang masih
rendah dibanding dengan kebutuhan gizi maupun konsumsi negara lain. Atas dasar ini,
pengembangan usaha peternakan ayam ras petelur mendapat prioritas dalam
pengembangan perekonomian khususnya usaha kecil peternakan ayam ras petelur.

Prospek pengembangan agribisnis ayam ras petelur di masa yang akan datang
dilihat dari sisi penawaran (supply side) dan sisi permintaan (demand side) telur di
Indonesia. Dari sisi permintaan, prospek agribisnis ayam ras petelur sangat berkaitan
dengan peranan telur ayarm ras dalam struktur konsumsi telur dan sifat permintaannya
yang sangat sesuai dengan perkembangan masa depan. Dalam struktur konsumsi telur
nasional, pangsa telur ayam ras mengalami peningkatan yang cukup berarti, dari 53,92%
pada tahun 2000 menjadi 62,71% pada tahun 2005.

ANALISA PERMINTAAN, PENAWARAN DAN PELUANG PASAR

Selain pangsanya meningkat konsumsi per kapita juga meningkat, dari 1,44 kg/kapita
pada tahun 2000 menjadi 2,31 kg/kapita pada tahun 1990 dan 3,30 kg/kapita pada tahun
2005. Hal ini menunjukkan bahwa struktur konsumsi telur di Indonesia telah mengalami
pergeseran yang memperbesar pangsa telur ayam ras. Apabila konsumsi telur tersebut
dibandingkan dengan standar nasional konsumsi telur adalah 3,5 kg/kapita/tahun maka
masih akan ada peluang pasar pengembangan usaha peternakan ayam ras petelur