Anda di halaman 1dari 32

DRAFT AWAL

MODUL
KURIKULUM DAN PENGEMBANGAN MATERI
PEMBELAJARAN

Oleh:
Drs. Suparlan, M.Ed

Mata Kuliah : Kurikulum dan Pengembangan Materi Pembelajaran


Semester : II (kedua)
SKS : 2 (dua)
Fakultas : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

UNIVERSITAS TAMA JAGAKARSA


Jalan Letjen TB Simatupang Nomor 152
Tanjung Barat, Jakarta Selatan 12530
Telepon: (021) 7890965, 7829919, 78831838, 7890634
Fax: (021) 7890966

0
Daftar Isi

1 Pengantar ...................................................................................................................... 2
2 Kompetensi ................................................................................................................... 2
3 Tujuan Pembelajaran .................................................................................................... 2
4 Kegiatan Pembelajaran ................................................................................................. 3
4.1 Rincian Materi Pembelajaran................................................................................ 3
4.2 Uraian Singkat Materi Pembelajaran dan Contoh ................................................ 3
4.3 Tes Formatif Untuk Masing-masing Pertemuan ................................................. 20
4.4 Umpan Balik ....................................................................................................... 24
5 Referensi ..................................................................................................................... 24
6 Lampiran ..................................................................................................................... 24

1
1 Pengantar

Untuk dapat melaksanakan tugas profesionalnya dengan baik, calon guru harus
memiliki empat standar kompetensi guru, yaitu (1) kompetensi pedagogis, (2)
kompetensi kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi
profesional. Kompetensi pedagogis adalah kompetensi yanga terkait dengan
penguasaan guru tentang teori belajar mengajar dan prinsip-prinsip
pembelajaran yang mendidik, termasuk di dalamnya penguasaan terhadap hal-
hal yang terkait dengan kurikulum.

Mata kuliah Kurikulum dan Pengembangan Materi Pembelajaran ini


diharapkan dapat menjadi bekal para calon guru tentang berbagai aspek yang
terkait kurikulum dan pembelajaran. Dalam sistem pendidikan nasional, kita
mengenal tiga komponen utama, yakni (1) peserta didik, (2) guru, dan (3)
kurikulum. Dalam proses belajar mengajar, ketiga komponen tersebut terdapat
hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Tanpa
peserta didik, guru tidak akan dapat melaksanakan proses pembelajaran. Tanpa
guru para siswa juga tidak akan dapat secara optimal belajar. Tapa kurikulum,
guru pun tidak akan mempunyai bahan ajar yang akan diajarkan kepada
peserta didik.

Mata kuliah Kurikulum dan Pengembangan Materi Pembelajaran ini


mencakup dua hal penting: (1) hal-hal yang terkait dengan kurikulum, dan (2)
pengembangan materi pembelajaran yang terdapat dalam kurikulum.

2 Kompetensi

Setelah mengikuti kegiatan perkuliahan dalam mata kuliah Kurikulum dan


Pengembangan Materi Pembelajaran, diharapkan mahasiswa dapat memiliki
kompetensi sebagai berikut:

2.1. Memahami pengertian kurikulum;


2.2. Memahami komponen utama kurikulum;
2.3. Memahami proses pengembangan kurikulum;
2.4. Memahami sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia;
2.5. Memahami Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP);
2.6. Memahami silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

3 Tujuan Pembelajaran

3.1. Menjelaskan pengertian etimologis kurikulum;


3.2. Menjelaskan beberapa definisi kurikulum;
3.3. Menjelaskan beberapa macam kurikulum;
3.4. Menyebutkan komponen utama kurikulum;
3.5. Menyebutkan dua dokumen KTSP;
3.6. Menyusun dua dokumen KTSP tersebut;
3.7. Menyusun silabus;
3.8. Menyusun RPP.

2
4 Kegiatan Pembelajaran
4.1 Rincian Materi Pembelajaran

Mata kuliah ini disampaikan kepada mahasiswa dalam 12 kali pertemuan


dengan rindian materi pembelajaran sebagai berikut:

Pertemuan Materi pembelajaran


I Informasi Mata Kuliah
II Pengertian Etimologis Kurikulum
III Definisi Kurikulum
IV Macam-macam Kurikulum
V Pengembangan Kurikulum
VI UTS
VII Perkembangan Kurikulum Di Indonesia
VIII KTSP: Dokumen I
IX KTSP: Dokumen II
X Silabus
XI Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
XII UAS dan Tugas Mandiri

4.2 Uraian Singkat Materi Pembelajaran dan Contoh

Pertemuan I: Informasi Mata Kuliah

· Dalam pertemuan ini mahasiswa akan menerima fotokopi silabus mata


kuliah, agar secara dini mahasiswa dapat mengetahui apa saja yang
akan dipelajari selama satu semester.
· Mahasiswa paling tidak memiliki satu buku referensi untuk mata
kuliah ini. Mahasiswa harus melaporkan tentang buku referensi apa
yang dimiliki.
· Pertemuan ini seluruhnya dilakukan dengan cara dialog antara dosen
dengan mahasiswa.

Pertemuan II: Manusia dan Pendidikan

Pengertian kurikulum:

· Secara etimologis, kurikulum berasal dari kata dalam Bahasa Latim


”curir” yang artinya pelari, dan ”curere yang artinya ”tempat berlari”.
Jadi istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman
Romawi kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarah
yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai dengan finish.
· In The Curriculum, the first textbook published on the subject, in
1918, John Franklin Bobbitt said that curriculim, as an idea, has its
roots in the Latin word for race-course, explaining the curriculum as
the course of deeds and experiences through which children become
the adults they should be, for success in adult society. Furthermore,

3
the curriculum encompasses the entire scope of formative deed and
experience occurring in and out of school, and not experiences
occurring in school; experiences that are unplanned and undirected,
and experiences intentionally directed for the purposeful formation of
adult members of society (www.wikipedia.com).
· Secara terminologis, istilah kurikulum yang digunakan dalam dunia
pendidikan dengan pengertian sebagai sejumlah pengetahuan atau
mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa untuk
mencapai satu tujuan pendidikan atau kompetensi yang ditetapkan.
Sebagai tanda atau bukti bahwa seseorang peserta didik telah
mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan adalah dengan
sebuah ijazah atau sertifikat.
· Pengertian kurikulum mengalami perkembangan selaras dengan
perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Prof. Dr. H. Engkoswara,
M.Ed, guru besar Universitas Pendidikan Indonesia telah merumuskan
perkembangan pengertian kurikulum tersebut dengan menggunakan
formula sebagai berikut:

· K = -------------, artinya kurikulum adalah jarak yang harus


ditempuh oleh pelari.
· K = Σ MP, artinya kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran
yang harus ditempuh oleh peserta didik.
· K = Σ MP + KK, artinya kurikulum adalah sejumlah mata
pelajaran dan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan sekolah
yang harus ditempuh oleh peserta didik.
· K = Σ MP + K + SS + TP, artinya kurikulum adalah sejumlah
mata pelajaran dan kegiatan-kegiatan dan segala sesuatu yang yang
berpengaruh terhadap pembentukan pribadi peserta didik sesuai dengan
tujuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau
sekolah.

Pertemuan III: Definisi Kurikulum

Para pakar kurikulum telah mencoba untuk mendefinisikan kurikulum. Dari


sekian banyak definisi tersebut dalam modul ini akan dikemukakan beberapa
definisi.

· In The Curriculum, the first textbook published on the subject, in 1918,


John Franklin Bobbitt said that, the curriculum is a social engineering
arena. Per his cultural presumptions and social definitions, his
curricular formulation has two notable features: (i) that scientific
experts would best be qualified to and justified in designing curricula
based upon their expert knowledge of what qualities are desirable in
adult members of society, and which experiences would generate said
qualities; and (ii) curriculum defined as the deeds-experiences the
student ought to have to become the adult he or she ought become.
· Hence, he defined the curriculum as an ideal, rather than as the
concrete reality of the deeds and experiences that form people to who
and what they are.

4
· Contemporary views of curriculum reject these features of Bobbitt's
postulates, but retain the basis of curriculum as the course of
experience(s) that forms human beings in to persons. Personal
formation via curricula is studied at the personal level and at the
group level, i.e. cultures and societies (e.g. professional formation,
academic discipline via historical experience). The formation of a
group is reciprocal, with the formation of its individual participants.
· Although it formally appeared in Bobbitt's definition, curriculum as a
course of formative experience also pervades John Dewey's work (who
disagreed with Bobbitt on important matters). Although Bobbitt's and
Dewey's idealistic understanding of "curriculum" is different from
current, restricted uses of the word, curriculum writers and
researchers generally share it as common, substantive understanding
of curriculum.
· In formal education or schooling (cf. education), a curriculum is the
set of courses, course work, and content offered at a school or
university. A curriculum may be partly or entirely determined by an
external, authoritative body (i.e. the National Curriculum for England
in English schools). In the U.S., each state, with the individual school
districts, establishes the curricula taught. Each state, however, builds
its curriculum with great participation of national academic subject
groups selected by the United States Department of Education, e.g.
National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) for
mathematical instruction. In Australia each state's Education
Department establishes curricula. UNESCO's International Bureau of
Education has the primary mission of studying curricula and their
implementation worldwide.
· Curriculum means two things: (i) the range of courses from which
students choose what subject matters to study, and (ii) a specific
learning program. In the latter case, the curriculum collectively
describes the teaching, learning, and assessment materials available
for a given course of study.
· Edward A. Krug mendefinisikan kurikulum sebagai berikut. “A
curriculum consists of the means used to achieve or carry out given
purposes of schooling”.

Pertemuan IV: Macam-macam Kurikulum

Kita mengenal berbagai macam kurikulum ditinjau dari berbagai aspek:

· Ditinjau dari konsep dan pelaksanaannya, kita mengenal beberapa


istilah kurikulum sebagai berikut:
1. Kurikulum ideal, yaitu kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal,
sesuatu yang dicita-citakan sebagaimana yang tertuang di dalam
dokumen kurikulum
2. Kurikulum aktual, yaitu kurikulum yang dilaksanakan dalam
proses pengajaran dan pembelajaran. Kenyataan pada umumnya
memang jauh berbeda dengan harapan. Namun demikian,
kurikulum aktual seharusnya mendekati dengan kurikulum ideal.
Kurikulum dan pengajaran merupakan dua istilah yang tidak dapat

5
dipisahkan. Kurikulum merujuk kepada bahan ajar yang telah
direncanakan yang akan dilaksanakan dalam jangka panjang.
Sedang pengajaran merujuk kepada pelaksanaan kurikulum
tersebut secara bertahap dalam belajar mengajar.
3. Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), yaitu segala sesuatu
yang terjadi pada saat pelaksanaan kurikulum ideal menjadi
kurikulum faktual. Segala sesuatu itu bisa berupa pengaruh guru,
kepala sekolah, tenaga administrasi, atau bahkan dari peserta didik
itu sendiri. Kebiasaan guru datang tepat waktu ketika mengajar di
kelas, sebagai contoh, akan menjadi kurikulum tersembunyi yang
akan berpengaruh kepada pembentukan kepribadian peserta didik.

· Berdasarkan struktur dan materi mata pelajaran yang diajarkan, kita


dapat membedakan:
1. Kurikulum terpisah-pisah (separated curriculum), kurikulum yang
mata pelajarannya dirancang untuk diberikan secara terpisah-
pisah. Misalnya, mata pelajaran sejarah diberikan terpisah dengan
mata pelajaran geografi, dan seterusnya.
2. Kurikulum terpadu (integrated curriculum), kurikulum yang bahan
ajarnya diberikan secara terpadu. Misalnya Ilmu Pengetahuan
Sosial merupakan fusi dari beberapa mata pelajaran sejarah,
geografi, ekonomi, sosiologi, dan sebagainya. Dalam proses
pembelajaran dikenal dengan pembelajaran tematik yang diberikan
di kelas rendah Sekolah Dasar. Mata pelajaran matematika, sains,
bahasa Indonesia, dan beberapa mata pelajaran lain diberikan
dalam satu tema tertentu.
3. Kurikulum terkorelasi (corelated curriculum), kurikulum yang
bahan ajarnya dirancang dan disajikan secara terkorelasi dengan
bahan ajar yang lain.

· Berdasarkan pengembangnya dan penggunaannya, kurikulum dapat


dibedakan menjadi:
1. Kurikulum nasional (national curriculum), yakni kurikulum yang
disusun oleh tim pengembang tingkat nasional dan digunakan
secara nasional.
2. Kurikulum negara bagian (state curriculum), yakni kurikulum
yang disusun oleh masing-masing negara bagian, misalnya di
masing-masing negara bagian di Amerika Serikat.
3. Kurikulum sekolah (school curriculum), yakni kurikulum yang
disusun oleh satuan pendidikan sekolah. Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum sekolah.
Kurikulum sekolah lahir dari keinginan untuk melakukan
diferensiasi dalam kurikulum.

Pertemuan V: Pengembangan Kurikulum

Yang dimaksud pengembangan kurikulum adalah proses penyusunan


kurikulum oleh pengembang kurikulum (curriculum developer) dan kegiatan
yang dilakukan agar kurikulum yang dihasilkan dapat menjadi bahan ajar dan
acuan yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

6
Pertemuan VI: UTS

Dalam pertemuan V ini, mahasiswa akan menjawab menjawab soal-soal


berbentuk Benar – Salah sebagai berikut:

· Secara etimologis, kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus


ditempuh oleh seorang pelari (B/S)
· Pengertian curriculum sama atau identik dengan curriculum vitae (B/S)
· Kurikulum berasal dari kata dalam Bahasa Latim ”curir” yang artinya
pelari, dan ”curere yang artinya ”tempat berlari” (B/S).
· Perilaku pendidik yang menjadi perhatian peserta didik dapat menjadi
kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) (B/S)
· KTSP merupakan national curriculum (B/S)
· Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran dalam
Integrated Curriculum (B/S).
· Model pembelajaran tematik yang diberikan di kelas awal Sekolah
Dasar merupakan pelaksanaan dari Separated Curriculum (B/S)
· Sejarah merupakan mata pelajaran dalam Separated Curriculum (B/S)
· Sains merupakan mata pelajaran dalam Corelated Curriculum (B/S)

Pertemuan VII: Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Secara umum, perubahan dan penyempurnaan kurikulum dilakukan setiap


sepuluh tahun sekali. Perubahan kurikulum tersebut dilakukan agar kurikulum
tidak ketinggalan dengan perkembangan masyarakat, termasuk ilmu
pengetahuan dan teknologinya. Kurikulum yang pernah diberlakukan secara
nasional di Indonesia dapat dijelaskan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel Kronologis Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Tahun Kurikulum Keterangan


1947 Rencana Pelajaran · Kurikulum ini merupakan kurikulum
1947 pertama di Indonesia setelah
kemerdekaan.
· Istilah kurikulum masih belum
digunakan. Sementara istilah yang
digunakan adalah Rencana Pelajaran
1954 Rencana Pelajaran · Kurikulum ini masih sama dengan
1954 kurikulum sebelumnya, yaitu Rencana
Pelajaran 1947
1968 Kurikulum 1968 · Kurikulum ini merupakan kurikulum
terintegrasi pertama di Indonesia.
Beberapa masa pelajaran, seperti
Sejarah, Ilmu Bumi, dan beberapa
cabang ilmu sosial mengalami fusi
menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial

7
(Social Studies). Beberapa mata
pelajaran, seperti Ilmu Hayat, Ilmu
Alam, dan sebagainya mengalami fusi
menjadi Ilmu Pengetahun Alam (IPS)
atau yang sekarang sering disebut
Sains.
1975 Kurikulum 1975 · Kurikulum ini disusun dengan kolom-
kolom yang sangat rinci.
1984 Kurikulum 1984 · Kurikulum ini merupakan
penyempurnaan dari kurikulum 1975
1994 Kurikulum 1994 · Kurikulum ini merupakan
penyempurnaan dari kurikulum 1984
2004 Kurikulum Berbasis · Kurikulum ini belum diterapkan di
Kompetensi (KBK) seluruh sekolah di Indonesia.
Beberapa sekolah telah dijadikan uji
coba dalam rangka proses
pengembangan kurikulum ini
2008 Kurikulum Tingkat · KBK sering disebut sebagai jiwa
Satuan Pendidikan KTSP, karena KTSP sesungguhnya
(KTSP) telah mengadopsi KBK. Kurikukulum
ini dikembangkan oleh BSNP (Badan
Standar Nasional Pendidikan).

Pertemuan VIII: KTSP: Dokumen I

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003)


tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional
Pendidikan mengamanatkan kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada standar isi
(SI) dan standar kelulusan (SKL) serta berpedoman pada panduan yang
disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Selain dari itu,
penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut
kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005

Apa yang dimaksud dengan KTSP ?

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi


dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta
kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan
dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan
untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan
potensi yang ada di daerah.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional
yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.

8
Bagaimana Konsep Dasar KTSP?

Konsep dasar KTSP meliputi 3 (tiga) aspek yang saling terkait, yaitu (a)
kegiatan pembelajaran, (b) penilaian, dan (c) pengelolaan kurikulum berbasis
sekolah.

Kegiatan pembelajaran dalam KTSP mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1. Berpusat pada peserta didik


2. Mengembangkan kreativitas
3. Menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang
4. Kontekstual
5. Menyediakan pengalaman belajar yang beragam
6. Belajar melalui berbuat

Penilaian dalam KTSP mempunyai karakteristik

1. Dilakukan oleh guru untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi


yang ditetapkan, bersifat internal, bagian dari pembelajaran, dan sebagai
bahan untuk peningkatan mutu hasil belajar;
2. Berorientasi pada kompetensi, mengacu pada patokan, ketuntasan belajar,
dilakukan melalui berbagai cara, yaitu (a) portfolios (kumpulan kerja
siswa), (b) products (hasil karya), (c) projects (penugasan), (d)
performances (unjuk kerja), dan (e) paper & pen test (tes tulis).

Pengelolaan kurikulum berbasis sekolah

Pengelolaan kurikulum berbasis sekolah mempunyai prinsip-prinsip:

1. Mengacu pada Visi dan Misi Sekolah


2. Pengembangan perangkat kurikulum (a.l. silabus)
3. Pemberdayaan tenaga kependidikan dan sumber daya lainnya untuk
meningkatkan mutu hasil belajar
4. Pemantauan dan

Apa Landasan KTSP ?

1. UU Nomor20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


2. PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
3. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
4. Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Lulusan
5. Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 dan Nomor 6 Tahun 2007 tentang
pelaksanaan Permendiknas Nomor 22 dan 23/2006
6. Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian
Pendidikan

Bagaimana Prinsip Pengembangan KTSP?

9
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam
mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan
pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi,
proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana,
pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan
standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan
dalam mengembangkan kurikulum.

Foto:
Para guru sedang mengikuti diklat tentang penyusunan KTSP (Australia
Indonesia Basic Education Program - IBEP)

Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan


peserta didik dan lingkungannya.

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik


memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk
mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi
peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi
sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik.

2. Beragam dan Terpadu

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman


karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan,
serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama,
suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Kurikulum
meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan
pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan
kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.

10
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan
seni

Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan,


teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis. Oleh karena itu,
semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta
didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni.

4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan

Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku


kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan
kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan,
dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan
keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial,
keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan
keniscayaan.

5. Menyeluruh dan berkesinambungan

Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi,


bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan
disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.

6. Belajar sepanjang hayat


Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan
formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan
tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan
manusia seutuhnya.

7. Seimbang antara kepentingan Nasional dan kepentingan Daerah

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional


dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah
harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka
Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI).

Acuan Operasional Penyusunan KTSP

1. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia


2. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat
perkembangan dan kemampuan peserta didik
3. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan
4. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional

11
5. Tuntutan dunia kerja
6. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
7. Agama
8. Dinamika perkembangan global
9. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
10. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat
11. Kesetaraan gender
12. Karakteristik satuan pendidikan
Dokumen I KTSP

Dokumen I KTSP terdiri atas 4 bab, meliputi:

1. Bab I Pendahuluan, meliputi subbab (A) Latar Belakang, (B) Tujuan, dan
(C) Prinsip Pengembangan KTSP.
2. Bab II Tujuan Pendidikan, meliputi subbab (A) Visi, (B) Misi, (C)
Tujuan Sekolah.
3. Bab III Struktur dan Muatan Kurikulum, meliputi (A) mata pelajaran, (B)
muatan lokal, (C) kegiatan pengembangan diri, (D) pengaturan beban
belajar, (E) ketuntasan belajar, (F) kenaikan kelas dan kelulusan, (G)
pendidikan kecakapan hidup, dan (H) pendidikan berbasis keunggulan
lokal dan global.

Mata pelajaran muatan nasional, alokasi jam pelajaran, dan


pengelompokan mata pelajaran serta aturan pengelolaan jam pelajaran
mengacu pada Bab II Standar Isi. Muatan Lokal merupakan mata
pelajaran yang dikembangkan untuk mengakomodasi kepentingan daerah
atau satuan pendidikan. Pengembangan Standar Kompetensi dan
Kompetensi dasar yang akan dicapai dilakukan oleh satuan pendididkan
dan/atau Dinas Pendidikan yang terkait.

Kegiatan pengembangan diri merupakan kegiatan yang mewadahi bakat


dan minat peserta didik. Tujuan kegiatan pengembangan diri adalah
mengembangkan potensi peserta didik, terutama pada perubahan
perilaku sesuai dengan target yang dicanangkan oleh satuan pendidikan.

Pengaturan beban belajar mengacu pada bab III Standar Isi. Beban belajar
dalam bentuk tatap muka dirancang bersama oleh satuan pendidikan.
Rancangan beban belajar dalam bentuk penugasan terstruktur dan
kegiatan mandiri tidak terstruktur dirancang oleh guru mata pelajaran.

Ketuntasan belajar adalah target minimal yang akan dicapai oleh satuan
pendidikan. Kriteria Ketuntasan minimal (KKM) merupakan hasil
analisis atas kompleksitas, daya dukung, dan intake siswa terhadap
kompetensi dasar, standar kompetensi, dan mata pelajaran yang
dibelajarkan. Agar hasil belajar peserta didik dapat mencapai, bahkan
melebihi KKM, satuan pendidikan merancang program remedial dan
pengayaan.

12
Kriteria kenaikan kelas dan kelulusan dikembangkan oleh satuan
pendidikan. Acuan minimal kriteria kenaikan kelas adalah Peraturan
Dirjen tentang Laporan Hasil Belajar dan POS UN tahun sebelumnya.

Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan kecakapan yang


diperlukan agar seseorang mampu dan berani menghadapi problema
kehidupan dan memecahkannya secara arif dan kreatif. Kecakapan hidup
yang perlu dikembangkan adalah kecakapan personal, sosial, dan
akademik. Kecakapan vokasional terakomodasi dalam mata pelajaran
muatan lokal.

Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dikembangkan dengan


memanfaatkan keunggulan lokal dan meningkatkan daya saing global.
Keunggulan lokal dapat dikembangkan dalam muatan lokal,
pengembangan diri, maupun terintegrasi dalam mata pelajaran.

4. Baba IV Kalender pendidikan berisi rancangan kalender sekolah yang


mengacu pada kalender dinas pendidikan terkait dan pedoman
penyusunan kalender yang terdapat dalam bab IV standar isi.

Pertemuan IX: KTSP: Dokumen II

Dokumen KTSP:
· KTSP terdiri atas dua dokumen, yaitu (1) dokumen I yang berisi tentang
(a) landasan, (b) program, dan (c) pengembangan kurikulum.
· Dokumen I (pertama) disusun oleh tim handal yang dibentuk oleh
sekolah dengan melibatkan semua pemangku kepentingan. Pemangku
kepentingan tersebut adalah (1) kepala sekolah, (2) guru, (3) tenaga
administrasi, (4) pengawas sekolah, dan (5) komite sekolah dan orangtua
siswa, serta (6) dinas pendidikan.
· Dokumen II (kedua) merupakan penjabaran secara operasional dari
dokumen pertama, terdiri atas (a) silabus dan (b) Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP).
· Dokumen Dokumen II disusun oleh guru kelas dan guru mata pelajaran,
atau kelompok kerja guru kelas atau guru mata pelajaran dalam kegiatan
organisasi profesi seperti Kelompok Kerja Guru (untuk guru sekolah
dasar), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), atau bahkan
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Pertemuan X: Silabus

Apakah itu silabus?

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata


pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar,
materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian
kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar

13
Silabus menjawab tiga pertanyaan dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu apa
kompetensi yang harus dikuasai siswa, bagaimana cara mencapainya, dan
bagaimana cara mengetahui pencapaiannya.

Siapa yang menyusun silabus?

Silabus disusun oleh guru yang mengajarkan mata pelajaran. Proses


penyusunan silabus dapat saja disusun bersama oleh satu tim guru mata
pelajaran, dalam satu kegiatan guru, misalnya dalam kegiatan MGMP.

Apa landasan penyusunan silabus?

Berdasarkan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 17 Ayat (2), Sekolah dan komite
sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum
tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar
kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas
kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP,
SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di
bidang agama untuk MI. MTs, MA, dan MAK.

Contoh silabus

14
Contoh Silabus
Silabus

Nama Sekolah : SMP


Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas/Semester : I/1
Tujuan: Siswa dapat berkomunikasi secara lisan dan tulis dalam bahasa Inggris dalam wacana transaksional dan interpersonal dalam
konteks kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan lingkungan terdekat siswa.

Standar
Pengalaman Alokasi
Tema Kompetensi/ Subtema Indikator Penilaian Sumber/Bahan/Alat
Belajar waktu
Kompetensi Dasar
My Listening-Speaking Family life Siswa terbiasa Siswa Penilaian 10 jam Contoh-contoh teks
Famil Siswa dapat menyapa orang lain membiasakan otentik pelajaran yang sesuai (lisan
y berinteraksi secara dengan ungkapan diri untuk dengan (belum dan tulis), termasuk
interpersonal sangat yang benar dalam berinteraksi unjuk kerja termasuk yang diucapkan oleh
sederhana dengan bahasa Inggris dalam hal (performan- untuk guru secara rutin atau
lingkungan terdekat, sesuai dengan perkenalan, ce) terstruktur yang diambil dari
terutama dalam waktu dan orang sapaan, ucapan dan mandiri) buku teks atau
- Perkenalan yang diajak bicara. terima kasih seumber-sumber lain.
diri/orang lain Identity Siswa dapat dan permintaan Orang, dan alat bantu
- sapaan menyebutkan maaf dalam belajar yang sesuai
- ucapan terima anggota keluarga konteks yang terdapat di
kasih inti dan terdekat. kehidupan lingkungan hidup
- permintaan maaf nyata, terutama siswa (termasuk di
di lingkungan rumahnya). Jika ada,
sekolah, dengan tayangan atau
guru dan teman. rekaman elektronik
di TV, kaset,
audio/visual, dsb.
Siswa dapat Home Siswa dapat

15
Standar
Pengalaman Alokasi
Tema Kompetensi/ Subtema Indikator Penilaian Sumber/Bahan/Alat
Belajar waktu
Kompetensi Dasar
meminta dan environ- menyebutkan nama
memberi informasi ment benda-benda yang
tentang nama ada di rumahnya.
benda-benda di
lingkungan sekitar,
seperti:
- Things in my
bedroom
- Things in my
kitchen
Reading Identity - Siswa dapat - -
- Siswa dapat membaca nyaring
memahami teks-teks bacaan
hubungan anggota pendek dengan
keluarga inti dan ucapan, intonasi,
terdekat yang dan tata bahasa
disebutkan dalam yang benar.
teks fungsional - Siswa dapat
pendek. menyebutkan
hubungan keluarga
orang-orang yang
disebutkan dalam
teks pendek,
dengan bantuan
family tree,
seperti: ‘Rini is my
…. She’s
beautiful.’, ‘I like
my uncle. His

16
Standar
Pengalaman Alokasi
Tema Kompetensi/ Subtema Indikator Penilaian Sumber/Bahan/Alat
Belajar waktu
Kompetensi Dasar
name is ….’
- Siswa dapat - Home - Siswa dapat - -
memahami environ- membaca nyaring
benda-benda di ment teks-teks bacaan
lingkungan pendek dengan
sekitar yang ucapan, intonasi,
disebutkan dalam dan tata bahasa
teks fungsional yang benar.
pendek. - Siswa dapat
menyebutkan
benda-benda yang
disebutkan dalam
teks fungsional
pendek.
Writing - Identity - Menuliskan
- Siswa dapat anggota keluarga
menghasilkan teks inti dan
fungsional pendek terdekatnya,
untuk dengan tata
memperkenalkan bahasa, ejaan, dan
anggota keluarga tanda baca yang
inti terdekatnya. benar.

My … - My … 3
Schoo Classroom
l - My
teachers
- The

17
Standar
Pengalaman Alokasi
Tema Kompetensi/ Subtema Indikator Penilaian Sumber/Bahan/Alat
Belajar waktu
Kompetensi Dasar
Canteen
- Break
time

18
Pertemuan XI: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang


menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai
satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan
dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu)
kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) atau beberapa indikator untuk 1
(satu) kali pertemuan atau lebih.perencanaan merupakan langkah yang sangat
penting sebelum pelaksanaan kegiatan. Kegiatan belajar mengajar (KBM)
membutuhkan perencanaan yang matang agar berjalan secara efektif.
Perencanaan KBM dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) atau beberapa istilah lain seperti desain pembelajaran, skenario
pembelajaran. RPP memuat seluruh KD, indikator yang akan dicapai, materi
yang akan dipelajari, langkah pembelajaran, waktu, media dan sumber belajar
serta penilaian untuk setiap KD.

Rencana pelaksanaan pembelajaran harus dibuat agar kegiatan pembelajaran


berjalan sistematis dan mencapai tujuan pembelajaran, tanpa rencana
pelaksanaan pembelajaran kegiatan pembelajaran di kelas biasanya tidak
terarah. Oleh karena itu peserta harus mampu menyusun rencana pelaksanaan
pembelajaran berdasarkan silabus yang disusunnya. Rencana pelaksanaan
pembelajaran harus mengimplementasikan PAKEM.

Format RPP

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Mata Pelajaran :…
Kelas/Semester :…
Pertemuan Ke- :…
Alokasi Waktu :…
Standar Kompetensi :…
Kompetensi Dasar :…
Indikator :…

I. Tujuan Pembelajaran :…
II. Materi Ajar :…
III. Metode Pembelajaran : ....
IV Langkah-langkah Pembelajaran

Pertemuan pertama
1. Kegiatan Awal :…
2. Kegiatan Inti :…
3. Kegiatan Akhir : ....

Pertemuan kedua

19
Pertemuan XII: UAS dan Tugas Mandiri

Tugas Mandiri:

1. Adakan pertemuan dengan minimal 3 (tiga) orang guru (SD/MI,


SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK). Tanyakan tentang hal-hal yang terkait
dengan silabus dan RPP kepada mereka. Buat daftar pertanyaan. Catat
hasil tanya jawab dengan mereka, dan buatkan laporan hasil tanya jawab
tersebut, minimal dalam 3 (tiga) halaman. Serahkan kepada dosen Anda.
2. Mintalah fotokopi silabus dan RPP buatan mereka. Serahkan kepada
dosen Anda.

4.3 Tes Formatif Untuk Masing-masing Pertemuan

Tes Formatif Pertemuan II (pertemuan pertama hanya penjelasan singkat


tentang materi mata kuliah).

Tes esai:

1. Jelaskan pengertian kurikulum secara etimologis!!


2. Jelaskan formula kurikulum berikut:

No. Formula Kurikulum Penjelasan


1 K = -------------

2 K = Σ MP

3 K = Σ MP + KK

4 K = Σ MP + K + SS +
TP

Tes Formatif Pertemuan III

20
Tes formatif dalam bentuk esai:

1. Jelaskan minimal dua definisi kurikulum yang Anda ketahui!!


2. Definisi yang manakah yang Anda paling lengkap. Jelaskan argumentasi
Anda!

Tes Formatif Pertemuan IV

Tes tertulis dalam bentuk esai.

1. Jelaskan perbedaan antara kurikulum ideal dan kurikulum aktual!


2. Jelaskan apa yang dimaksud kurikulum tersembunyi (hidden curriculum)!
Berikan contohnya.
3. Jelaskan apa yang dimaksud separated curriculum, corelated curriculum,
dan integrated curriculum. Berikan contohnya.
4. Jelaskan pengertian national curriculum, state curriculum, dan school
curriculum.

Tes Formatif Pertemuan VI

Tes tertulis dalam bentuk esai. Materi tes ini dirangkum dari tes formatif 2
sampai ke lima.

1. Instansi manakah di Departemen Pendidikan Nasional yang bertanggung


jawab dalam pengembangan kurikulum?
2. Apakah yang dimaksud pengembangan kurikulum (curriculum
development)?

Tes Formatif Pertemuan VII (UTS)

Tes tertulis dalam bentuk esai.

1. Kurikulum 1968 adalah kurikulum terintegrasi (integrated curriculum)


(B/S)
2. Kurikulum adalah apa yang diajarkan, guru adalah siapa yang
mengajarkan, dan siswa adalah siapa yang diberikan pelajaran (B/S).
3. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,
isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu (B/S)
4. Kurikulum dapat diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang akan
dipelajari oleh peserta didik (B/S)
5. Kurikulum faktual amat ditentukan oleh agen pembelajaran atau guru
(B/S)
6. Kurikulum sebelum tahun 1968 masih menganut kurikulum terpisah-
pisah (separated curriculum) (B/S)
7. Kurikulum tersembuny (hidden curriculum) adalah kurikulum yang tidak
diketahui oleh guru (B/S)
8. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (B/S)

21
9. Rencana Pelajaran 1947 merupakan kurikulum pertama di Indonesia
(B/S)
10. Rencana Pelajaran 1947 sampai dengan Kurikulum 2004 termasuk
kurikulum sekolah (B/S)
11. Rencana Pelajaran 1947 sampai dengan Kurikulum 2004 termasuk
kurikulum ideal (ideal curriculum) (B/S)
12. Rencana Pelajaran merupakan istilah lama untuk kurikulum (B/S)
13. Sebelum tahun 1968 dunia pendidikan di Indonesia telah mengenal istilah
kurikulum (B/S)
14. Secara etimologis, kurikulum berarti jarak yang harus ditempuh oleh
pelari (B/S)
15. Semua kegiatan yang dirancang oleh sekolah juga termasuk dalam
pengertian kurikulum (B/S)

Tes Formatif Pertemuan VIII

Tes tertulis dalam bentuk esai

1. Apakah yang dimaksud KTSP itu?


2. Jelaskan karakteristik pembelajaran menurut KTSP!
3. Jelaskan karakteristik penilaian menurut KTSP!
4. Apakah yang dimaksus penilaian portofolio?
5. Sebutkan landasan KTSP!
6. Sebut dan jelaskan karakteristika pengelolaan kurikulum berbasis
sekolah!
7. Jelaskan prinsip-prinsip pengembangan KTSP!
8. Sebutkan acuan operasional dalam penyusunan KTSP!
9. Sebutkan 4 Bab dalam dokumen I KTSP!
10. Siapakah yang menyusun dokumen I KTSP?

Tes Formatif Pertemuan IX

Tes tertulis dalam bentuk esai.

1. Sebutkan dua dokumen KTSP!


2. Sebutkan dua substansi dokumen II KTSP!
3. Siapakah yang menyusun dokumen II KTSP?

Tes Formatif Pertemuan X

Tes tertulis dalam bentuk esai.

1. Apakah silabus itu?


2. Siapa yang harus menyusun silabus?
3. Apa landasan penyusunan silabus?
4. Sebutkan kolom-kolom yang harus ada dalam silabus!

Tes Formatif Pertemuan XI

Tes tertulis dalam bentuk esai.

22
1. Apakah yang dimaksud RPP?
2. Apakah RPP sama dengan lesson plan, atau Rencana Pengajaran, atau
Satuan Pelajaran?
3. Bagaimana format RPP, dan jelaskan secara singkat!
4. Apakah itu PAKEM?

Tes UAS (Pertemuan XII)

UAS menggunakan tes tertulis dalam bentuk soal Betul/Salah sebagai berikut:

1. Dokumen I KTSP berisi tentang silabus dan Rencana Pelaksanaaan


Pembelajaran (B/S)
2. Dokumen II KTSP berisi tentang landasan, program, dan pengembangan
kurikulum (B/S)
3. Guru senior tidak perlu membuat RPP (B/S)
4. KTSP dapat disebut sebagai kurikulum nasional (B/S)
5. KTSP disusun oleh Pusat Kurikulum (B/S)
6. KTSP terdiri atas dokumen I dan dokumen II (B/S)
7. Kurikulum 1968 adalah kurikulum terintegrasi (integrated curriculum)
(B/S)
8. Kurikulum adalah apa yang diajarkan, guru adalah siapa yang
mengajarkan, dan siswa adalah siapa yang diberikan pelajaran (B/S).
9. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,
isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu (B/S)
10. Kurikulum dapat diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang akan
dipelajari oleh peserta didik (B/S)
11. Kurikulum faktual amat ditentukan oleh agen pembelajaran atau guru
(B/S)
12. Kurikulum sebelum tahun 1968 masih menganut kurikulum terpisah-
pisah (separated curriculum) (B/S)
13. Kurikulum tersembuny (hidden curriculum) adalah kurikulum yang tidak
diketahui oleh guru (B/S)
14. Pada masa lalu RPP dikenal dengan Rencana Pembelajaran (RP) atau
Satuan Pembelajaran (B/S)
15. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (B/S)
16. Proses penyusunan KTSP melibatkan para pemangku kepentingan
pendidikan (B/S)
17. Rencana Pelajaran 1947 merupakan kurikulum pertama di Indonesia
(B/S)
18. Rencana Pelajaran 1947 sampai dengan Kurikulum 2004 termasuk
kurikulum sekolah (B/S)
19. Rencana Pelajaran 1947 sampai dengan Kurikulum 2004 termasuk
kurikulum ideal (ideal curriculum) (B/S)
20. Rencana Pelajaran merupakan istilah lama untuk kurikulum (B/S)
21. RPP sebenarnya sama dengan rencana mengajar (B/S)
22. Sebelum tahun 1968 dunia pendidikan di Indonesia telah mengenal istilah
kurikulum (B/S)

23
23. Secara etimologis, kurikulum berarti jarak yang harus ditempuh oleh
pelari (B/S)
24. Semua kegiatan yang dirancang oleh sekolah juga termasuk dalam
pengertian kurikulum (B/S)
25. Setiap guru harus membuat silabus dan RPP (B/S)

4.4 Umpan Balik

1. Tugas mandiri dan tes yang akan dinilai adalah: (A) tugas mandiri, (B)
tes formatif, (C) UTS (ujian tengah semester), dan (D) UAS (ujian akhir
semester).
2. Bobot A = 1, B = 2, C = 3, dan D = 4
3. Nilai Akhir Semester adalah (AX1) + (BX2) + (CX3) + (DX4) : 4.
4. Dengan skala 4, nilai tersebut dapat dipadankan sebagai berikut:
Baik Sekali = 80 – 100
Baik = 70 – 79
Sedang = 60 – 69
Kurang = < 60

5 Referensi

McNeil, John. 1985. Curriculum, A Comprehensive Introduction. Boston: Little,


Brown and Company.
Oemar Hamalik. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Suparlan. 2004. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, dari Konsepsi Ke Implentasi.
Yogyakarta: Hikayat Publishing.
Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
Widiastono, Tonny D. Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku
Kompas.
Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II. 1994. Kurikulum Untuk Abad Ke-21.
Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Rochman Natawidjaja (Ed). 1979. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, Alat
Peraga, dan Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Depatemen Pendidikan dan
Kebudayaan.

6 Lampiran
6.1. Lampiran 1: Artikel Pilihan

PROGRAM INOVATIF SEKOLAH

Oleh Suparlan *)

Mereka yang berfikiran hebat membicarakan ide-ide.


Mereka yang berfikiran sedang membicarakan peristiwa-peristiwa. Mereka yang
berfikiran sempit membicarakan orang lain
(Eleanor Roosevelt, 1884 – 1962, mantan first lady AS)

Inovasi membedakan antara pemimpin dan pengekor

24
(Steve Jobs, pendiri Apple Computer)

Innovation is change that creates a new dimension of performance


(Peter Drucker: Hesselbein, 2003)

Innovation is the creation of the new or the re-arranging of the old in a new way
(Michael Vance)

Kita sekarang akan mencoba menjadi orang yang berfikiran hebat. Siapa takut? Kita
sedang membicarakan ide-ide atau gagasan-gagasan, bukan membicarakan fakta-fakta
saja, apalagi membicarakan orang lain. Gagasan apa saja itu? Tentang program
inovatif sekolah.

Benar sekali. Tapi, gagasan-gagasan yang akan ditulis ini mungkin saja memang
bukan benar-benar baru bagi sekolah tertentu. Namun sekolah yang lain mungkin
dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga. Memang, gagasan baru juga harus semua
komponennya harus baru. Gagasan baru itu bisa jadi dari gagasan yang sudah lama,
yang kemudian diperbaiki, disempurnakan dengan memperbaiki satu atau beberapa
elemennya, sehingga menjadi lebih baik dan bermanfaat. Itu pun sudah dapat disebut
sebagai apa yang dikenal dengan inovasi. Innovation is the creation of the new or the
re-arranging of the old in a new way (Michael Vance)

Tulisan ini akan mencoba membahas tentang program sekolah yang dapat dinilai
inovatif. Peter Drucker menjelaskan kepada kita bahwa inovasi sesungguhnya adalah
perubahan yang menciptakan satu dimensi baru kinerja organisasi. Dalam hal ini,
kinerja lembaga pendidikan sekolah.

Pemberdayaan Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata


Pelajaran (MGMP)

Sungguh, kita harus malu dengan peringkat ke empat di Pesta Olahraga Asia
Tenggara. Kita telah jauh ketinggalan dari negara Thailand. Bahkan juga ketinggalan
dari Vietnam. Kondisi ini juga tampak dari Human Development Index (HDI)
Indonesia yang berada di bawah Vietnam. Padalah dahulu, dalam acara olahraga yang
bergengsi ini kita selalu unggul. Boleh dikatakan bahwa negara yang lain berebut
pada urutan kedua. Boleh jadi semua itu terjadi memang karena dampak negatif dari
krisis multidimensional yang masih belum sepenuhnya usai. Namun, banyak orang
yang meneropongnya dari faktor kemunduran dunia pendidikan kita. Dengan
demikian, maka sumber masalahnya adalah lembaga pendidikan sekolah. Program
peningkatan kompetensi SDM secara terencana dan berkelanjutan memang harus
dimulai di lembaga pendidikan sekolah. Setelah lembaga pendidikan keluarga, maka
lembaga pendidikan sekolah harus menjadi tempat yang strategis untuk dapat
meningkatkan kompetensi SDM yang handal. Untuk dapat membangun SDM yang
handal, kita tidak bisa hanya melakukan yang biasa-biasa saja. Juga tidak hanya
dengan program-program yang biasa. Kita harus melakukan hal yang luar biasa.
Dengan kata lain, kita harus melakukan hal-hal yang inovatif. Lembaga pendidikan
sekolah harus merancang berbagai program yang inovatif. Pemberdayaan KKG dan
MGMP harus dapat digunakan sebagai wahana yang efektif untuk dapat
meningkatkan kompetensi guru di sekolah.

25
Program Pemberian Susu dan Makanan Tambahan

Di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Malaysia, sebagai ilustrasi, sebagaimana juga di


sekolah-sekolah lain di tanah air, para siswa harus mengikuti upacara bendera di
sekolah. Dalam beberapa kali upacara bendera, ketika pembina upacara
menyampaikan pidatonya, atau ketika bendera merah putih dinaikkan beberapa anak
jatuh pingsan. Selidik punya selidik, masalah ini terjadi karena banyak anak-anak
yang tidak sarapan pagi. Bukan hanya itu, ada kemungkinan mereka juga mengalami
kekurangan gizi dan dehidrasi.

Penemuan tentang rendahnya kebugaran jasmani, kesehatan, dan gizi anak-anak kita
perlu mendapatkan perhatian kita semua. Hal ini sama sekali berbanding terbalik
dengan keadaan peserta didik di Negeri Cina. Para siswa di sekolah yang cukup luas
di negeri tirai bambu itu diwajibkan selalu melakukan olahraga dalam cabang
olahraga yang mereka suka. Semua fasilitas olahraga telah disediakan, dan setiap
harinya mereka harus melakukan olahraga sesuai dengan hobinya. Hasilnya? Stamina
olahragawan dari negeri tirai bambu itu sangat luar biasa. Mereka yang suka
berolahraga memiliki kecerdasan fisikal atau kecerdasan ragawi atau kecerdasan
yang dikenal dengan bodily kinestetics yang tinggi. Termasuk di dalamnya adalah
senam dan menari dengan olah tubuh yang penuh dengan rima dan irama itu.

Kalau pun negeri kita pada saaat ini masih mengalami kesulitan untuk mencari
sebelas pemain sebak bola, karena selalu keok dalam arena pertandingan olah raga
yang bergengsi ini, maka masalahnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena
kecerdasan fisikal generasi muda kita yang masih rendah. Selain itu, asupan gizi
generasi muda kita masih di bawah rata-rata anak-anak di dunia. Jika negeri ini masih
juga mengalami masalah mahalnya susu untuk tumbuh kembang anak-anak kita,
negeri adidaya Amerika Serikat telah jauh memikirkan pentingnya makan siang anak-
anak sekolah melalui program makan siang anak-anak usia sekolah melalui National
School Lunch Program Act yang telah ditandatangani oleh Presiden Truman pada
tahun 1946. Bahkan pada tanggal 14 Oktober 1940, pemerintah Amerika Serikat juga
telah mengeluarkan program susu sekolah (school milk program). Rupanya, DPR kita
masih sibuk dengan urusan politik ketimbang dengan urusan makan siang anak-anak.

Nah apa yang harus diprogramkan oleh sekolah untuk mengatasi itu semua?
Pemberian bubur kacang hijau, susu, dan makanan bergizi lainnya secara rutin sudah
tentu menjadi kegiatan yang sangat berguna bagi anak-anak kita. Jangan biarkan
anak-anak kita membiasakan jajan di tepi-tepi pagar sekolah, yang dari aspek
kesehatan dan gizinya tidak dapat kita pertanggungjawabkan.

Penciptaan Lingkungan Sekolah Yang Sehat

Program ini sangat terkait dengan program sebelumnya. Pertama, program yang harus
dibenahi adalah kantin sekolah. Ciptakan kantin sekolah yang hiegenis dengan jenis
makanan yang bergizi. Kedua, citakan lingkungan sekolah yang bersih, rindang, dan
indah. Program 7K perlu digalakkan lagi, bukan hanya secara seremonial belaka,
tetapi harus menyentuh perubahan kebiasaan para penghuninya. Memasang papan
bertuliskan ”LINGKUNGAN BEBAS ROKOK” merupakan satu gebrakan yang
dapat dilakukan. Tulisan-tulisan lain, seperti ”TARUH SAMPAH PADA

26
TEMPATNYA”, atau ”CUCI TANGAN SEBELUM MAKAN”, atau ”KESEHATAN
SEBAGIAN DARI IMAN” dapat diharapkan dapat mengisi nurani anak-anak kita
yang masih putih itu. Lomba kebersihan dan keindahan kelas dapat diadakan pada
saat momen-momen tertentu, misalnya peringatan hari besar nasional dan agama, atau
peringatan hari lahir sekolah.

Talent Scouting Bibit Olahraga dan Seni

Pembinaan olahraga memang menjadi tugas utama guru olahraga dan keshatan.
Tetapi, program pembinaan olahraga secara teroganisasi di sekolah sudah barang
tentu menjadi tanggung jawab semua komponen sekolah. Di samping olahgara
rekreasi, pencatatan secara rutin rekor olahraga prestasi harus tersedia di sekolah.
Sekolah harus memiliki catatan, nama-nama siswa dengan rekor tertingginya dalam
cabang olahraga tertentu. Dengan catatan ini, jika ada kegiatan pertandingan olahraga,
maka sekolah tinggal memilih mereka untuk dapat mengikuti ajang pertandingan
olahraga yang akan diikuti. Pencatatan prestasi olahraga ini dapat dilakukan pada
awal tahun pelajaran atau pada saat usai ulangan semester pertama menjelang libur
sekolah. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi tempat pembibitan olahraga dan
seni yang pertama dan utama.

Science-Tech Club

Sama dengan talent scouting dalam bidang olahraga, sekolah juga harus
melakukannya untuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebenarnya para guru
telah memiliki pengetahuan dan keterampilan praktis dalam penelitian sederhana.
Namun banyak di antaranya kurang begitu yakin bahwa anak-anak mampu
melakukannya. Padahal obyek penelitian sederhana bagi anak-anak terbentang luas di
sekolah dan lingkungannya. Sayur apakah yang menjadi kegemaran siswa, sebagai
contoh, adalah pertanyaan penelitian sederhara yang dapat dilakukan bukan di SMP,
tetapi sudah bisa dilakukan di SD. Topik-topik lainnya misalnya: (1) rata-rata jumlah
anak dalam satu keluarga, (2) rata-rata tinggi dan berat badan anak-anak kelas 5 SD,
(3) jarak tempuh anak-anak ke sekolah, dan masih banyak yang lain.

Kebun Sekolah dan Penanaman Sejuta Pohon

Jika secara internasional isu pemanasan global telah melahirkan Bali Roadmap untuk
memecahkan isu tersebut, maka apa yang dapat dilakukan di tingkat sekolah? Tentu
saja pendidikan lingkungan hidup harus menjadi tanggung jawab sekolah. Untuk
sekolah yang tidak memiliki lahan yang luas, setiap kelas dapat diminta untuk
membikin taman di depan kelasnya masing-masing. Atau dapat meminta kepada para
siswa untuk masing-masing dapat memiliki tanaman kesayangan yang harus
dipelihara setiap hari dengan sepenuh hati. Disiram, dipupuk, dan disiangi kalau ada
rumput yang menggangunya. Jika ada sedikit lahan di depan sekolah, maka sekolah
juga dapat membuat taman sederhana untuk menanam tanaman hias atau tanaman
bunga, agar sekolah tidak terasa gersang. Jika di lingkungan sekolah ada lahan tidur
yang tidak dimanfaatkan oleh yang empunya, sekolah dapat meminjamnya untuk
dijadikan kebun sekolah tempat praktik anak-anak menanam berbagai jenis tanaman.
Selain itu, sekolah juga dapat membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan
program penanaman satu juta pohon.

27
The First Day Festival

Ide ini diusulkan oleh seorang guru di suatu sekolah di Amerika Serikat. Pada waktu
itu, pelibatan peran serta orangtua dalam penyelenggaraan pendidikan masih menjadi
sesuatu yang langka. Setelah program ini dilaksanakan, antusiasme orangtua dan
masyarakat tiba-tiba meningkat secara drastis. Sejak adanya festival hari pertama
sekolah itu, orangtua siswa dan masyarakat merasakan adanya peningkatan keakraban
dan kekeluargaan antara sekolah dan orangtua siswa secara luar biasa. Orangtua dan
masyarakat tidak lagi merasa sebagai klien, tetapi sebagai pemangku kepentingan
yang memiliki tanggung jawab yang sama besar dengan pihak kepala sekolah dan
para guru di sekolah. Program seperti ini dapat berupa program lain yang tidak kalah
inovatifnya. Acara tutup tahun sekolah, sebagai contoh, dapat menjadi media untuk
menyatupadukan sekolah dengan orangtua dan masyarakat. Dalam acara tersebut,
para siswa dapat menunjukkan kebolehannya, baik dalam bidang akademis maupun
nonakademis, di hadapan orangtua dan masyarakat. Dampaknya, orangtua dan
masyarakat menjadi lebih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap upaya sekolah
dalam meningkatkan kompetensi siswa. Dampak pengiringnya, orangtua dan
masyarakat menjadi lebih antusias dalam ikut serta memberikan dukungan dan
bantuan terhadap pelaksanaan program-program inovatif sekolah.

Akhir Kata

Masih sangat banyak program inovatif lain yang dapat dilaksanakan oleh sekolah.
Tentu saja berdasarkan kondisi sekolahnya masing-masing. Sebagai contoh, program
sekolah berwawasan imtaq, program sekolah yang aman dan nyaman, program
sekolah ramah anak, kegiatan outbond, dan masih banyak yang lainnya. Penerapan
pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dan contextual
teaching and learning (CTL) kini menjadi program inovatif di sekolah yang menjadi
primadona.

Pendek kata, dengan program inovatif, semua warga sekolah dan pemangku
kepentingan ingin mencoba sesuatu yang tidak biasa. Ingin mencoba sesuatu yang
baru, yang kalau bisa yang luar biasa. Itu semua dapat dimulai dengan program
inovatif yang sederhana, dan sudah barang tentu yang tidak memberatkan keuangan
orangtua siswa. Yang penting, semua warga sekolah ingin melakukan sesuatu yang
baru, atau sesuatu yang sebelumnya kurang mendapatkan perhatian. Tentu saja, semua
itu harus dirancang adalam rencana yang matang, yang dikenal dengan Rencana
Pengembangan Sekolah (RPS), yang disusun oleh sekolah bersama dengan pemangku
kepentingan. Dengan kata lain, RPS yang disusun hendaknya memuat program-
program inovatif, baik yang terkait dengan aspek akademis maupun nonakademis di
sekolah.

Sulitkah semua itu kita lakukan? Semua itu memang sulit untuk pertama kalinya. All
beginning is difficult. Semua permulaan itu memang sulit. Tetapi, yakinlah bahwa
semua itu dapat dilakukan jika kita memiliki kemauan. Dimana ada kemauan di situ
ada jalan. Mudah-mudahan.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: bsuparlan@yahoo.com.

Depok, 22 Desember 2007

28
Memberantas Korupsi Melalui Kurikulum
Oleh icwweb
Minggu, 17 September 2006 12:28:40 Klik: 1981

Institusi pendidikan diyakini sebagai tempat terbaik untuk menyebarkan dan


menanamkan nilai-nilai antikorupsi. Murid atau mahasiswa yang akan menjadi tulang
punggung bangsa di masa mendatang sejak dini harus diajar dan dididik untuk
membenci serta menjauhi praktek korupsi. Bahkan lebih dari itu, diharapkan dapat
turut aktif memeranginya.

Untuk itu, strategi yang umumnya dipilih dengan mengintervensi secara tidak
langsung proses belajar-mengajar melalui penerapan kurikulum antikorupsi.
Setidaknya ada tiga perguruan tinggi yang sedang mengembangkan kurikulum
tersebut, di antaranya Universitas Islam Negeri, Ciputat; Universitas Katolik
Soegipranata, Semarang; serta IAIN Arraniry, Banda Aceh.

Munculnya terobosan-terobosan baru untuk melawan praktek korupsi, seperti


membuat kurikulum antikorupsi, mesti disambut positif. Namun, apabila akan
diimplementasikan dalam lingkup luas, ada beberapa faktor yang mesti dijadikan
sebagai bahan pertimbangan. Sebab, institusi pendidikan seperti sekolah sangat
sensitif, perubahan kebijakan walau kecil, akan berpengaruh pada banyak hal.

Pertama, dari aspek teknis. Berkenaan dengan kejelasan implementasi kurikulum,


apakah akan memunculkan mata pelajaran khusus atau diintegrasikan dengan mata
pelajaran yang memiliki korelasi, seperti pendidikan agama atau kewarganegaraan.
Sebab, pilihan tersebut menimbulkan beberapa konsekuensi lanjutan, seperti
penentuan buku teks.

Apabila pilihannya dibuat khusus, akan muncul buku teks pelajaran baru mengenai
antikorupsi. Tapi, jika memilih diintegrasikan, buku teks mata pelajaran yang
dianggap relevan otomatis ditambah atau diubah dengan muatan baru mengenai
antikorupsi. Tapi apa pun pilihannya, dibutuhkan biaya besar untuk pengadaan buku-
buku tersebut.

Masalahnya, siapa yang akan membiayai. Sebab, bila dibebankan kepada orang tua
murid, malah menambah masalah. Selama ini mereka sudah direpotkan dengan
pembelian berbagai jenis buku teks yang mahal. Tapi, kalaupun kemudian ditanggung
pemerintah, jika pengaturannya tidak jelas, bukan mustahil buku teks mengenai
antikorupsi justru menjadi lahan baru untuk korupsi.

Selain itu, kurikulum tidak akan ada artinya tanpa guru. Sudah tentu, agar bisa
diimplementasikan, terlebih dulu mereka yang akan mengajarkan pelajaran

29
antikorupsi mesti mengetahui dan memahami apa yang akan diajarkan. Untuk itu,
setidaknya dibutuhkan pendidikan atau pelatihan. Belajar dari penerapan kurikulum
berbasis kompetensi, hanya untuk sosialisasi, waktu dan biaya yang dihabiskan tidak
sedikit.

Catatan kedua berkaitan dengan proses penerapan dan evaluasi. Harus ada kejelasan
apakah pelajaran antikorupsi nantinya akan ditekankan pada sisi pengetahuan
(kognitif) atau praktek (psikomotorik). Jika penekanannya hanya pada sisi
pengetahuan, proses pengajaran dan evaluasi tidak terlalu sulit. Tapi masalahnya,
pelajaran antikorupsi akan mengulangi kegagalan pelajaran pendidikan moral
Pancasila beberapa waktu lalu. Murid mampu dengan baik menjawab nilai-nilai luhur
pancasila, tapi tingkah laku jauh dari nilai-nilai tersebut.

Apabila menginginkan hingga tingkatan praktek (psikomotor), akan menemukan


kesulitan dalam proses evaluasi. Alat atau instrumen yang mampu mengukur tingkat
kemampuan murid dalam menerapkan nilai-nilai antikorupsi tidak mudah dibuat. Tes
yang dilakukan berbeda dari tes pelajaran pendidikan jasmani atau olahraga.

Selain itu, proses pengajaran antikorupsi tidak bisa dilakukan dengan cara
konvensional: guru memberi ceramah di dalam ruang kelas dan sesekali memberi tes.
Batasan ruang kelas harus dihilangkan. Pengelola sekolah mulai guru hingga kepala
sekolah mesti menjadi model bagi murid.

Namun sayang, kenyataannya tidak demikian. Institusi pendidikan seperti sekolah


justru menjadi salah satu tempat tumbuh subur praktek korupsi. Setidaknya tergambar
dari maraknya pungutan yang dibebankan kepada orang tua murid. Mulai guru, kepala
sekolah, pegawai tata usaha, malah pengawas hingga pegawai dinas pendidikan,
dengan latar belakang penyebab serta modus yang berbeda, secara kolektif ataupun
perseorangan turut menjadi pelaku.

Institusi pendidikan malah mengajarkan bagaimana cara melakukan korupsi. Kondisi


tersebut sangat ironis, setiap hari kepada murid diajarkan nilai-nilai antikorupsi, tapi
ketika keluar dari ruang kelas atau malah di dalam kelas, mereka menyaksikan
bagaimana korupsi dipraktekkan. Celakanya lagi, biasanya pelajaran yang paling
diingat oleh murid bukan hasil ceramah di ruang kelas, tapi yang dipraktekkan dalam
keseharian guru atau kepala sekolah.

Karena itu, kurikulum antikorupsi tidak akan berarti apa-apa, jika institusi pendidikan
seperti sekolah yang akan mengimplementasikan masih belum bersih dari praktek
korupsi. Upaya untuk membersihkannya jauh lebih berat dibanding menyusun
kurikulum antikorupsi. Sebab, korupsi sudah sangat sistemik, dengan beragam faktor
penyebab, dari minimnya kesejahteraan hingga ketimpangan kekuasaan.

Berharap banyak pada peranan birokrasi pendidikan pun tidak mungkin. Bukan
rahasia lagi, jika praktek korupsi di sekolah juga memiliki korelasi dengan lembaga di
atasnya, seperti dinas pendidikan. Mereka menikmati keuntungan melalui setoran-
setoran atau jasa tanda terima kasih, malah tidak sedikit yang aktif menjadi bagian
dari rantai korupsi di sekolah.

Dengan demikian, banyak sekali pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum

30
kurikulum antikorupsi diterapkan. Mulai mereformasi institusi pendidikan, sehingga
tidak lagi terjadi ketimpangan kekuasaan antara kepala sekolah, guru, dan orang tua
murid. Selain itu, terus mendorong upaya peningkatan kesejahteraan guru atau dosen.

Tentu saja, akan ada perlawanan dari orang-orang yang selama ini menikmati
keuntungan dari praktek korupsi di institusi pendidikan. Tapi tidak ada pilihan lain,
institusi pendidikan sebagai benteng terakhir tempat menyebarkan nilai-nilai
antikorupsi sudah menjadi tempat mempromosikan korupsi, karena itu harus direbut.
Kalau itu semua sudah dilakukan, tanpa menggunakan kurikulum antikorupsi pun
dengan sendirinya sekolah akan menjadi tempat mempromosikan nilai-nilai
antikorupsi, karena memang itu khitahnya.

Ade Irawan, MANAJER DIVISI MONITORING PELAYANAN PUBLIK,


INDONESIA CORRUPTION WATCH/SEKRETARIS KOALISI PENDIDIKAN

Tulisan ini disalin dari Koran tempo, 16 September 2006

31