Anda di halaman 1dari 54

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengolahan hasil pertanian didefinisikan sebagai setiap
tindakan/aktivitas pengolahan yang dapat dilaksanakan baik di lapangan
maupun perusahaan pengolahan setempat di mana petani terlibat secara aktif.
Definisi lebih khas lagi adalah mempertahankan atau meningkatkan atau
mengubah bentuk atau mengubah sifat-sifat khas hasil pertanian. Aktivitas
pengolahan bertujuan untuk melengkapi hasil yang lebih luas dari bahan
mentah hasil kebun, dengan meningkatkan jumlah hasil akhir, jenis hasil
akhir, maupun keduanya dan juga untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil
akhir tersebut.
Mesin – mesin pengolahan hasil pertanian merupakan sebagian
dari teknik peralatan, yaitu peralatan yang khusus dipergunakan untuk
mengolah hasil-hasil pertanian menjadi bentuk yang dapat dikonsumsi. Pada
praktikum alat dan mesin pertanian kali ini diperkenalkan berbagai macam
alat dan mesin-mesin pertanian seperti alat destilasi, pemarutan, perajangan,
goreng sangan, sortasi, penggilingan, extracting dan lain-lain. Di dalam
industri pangan di mana penggunaan alat dan mesin mempunyai peranan
penting pada pengolahan pangan.
Pada praktikum mesin dan peralatan ini kita juga dapat
mengetahui dan mengenal alat/mesin pertanian, cara pengoperasian dan
metode pengolahan yang tepat dalam penggunaan berbagai alat dan mesin
pertanian. Selain itu kita dapat mengerti bagaimana proses pengolahan suatu
bahan hasil pertanian sampai menjadi produk lanjutan yang dapat
dikomersialkan. Hal itu dapat dimulai dari hal yang sederhana, misalnya
menciptakan produk makanan baru dengan bahan mentah melimpah dan
bernilai ekonomi rendah menjadi makanan yang nilai ekonomis dan gizinya
lebih tinggi.

1
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum Mesin dan Peralatan ini yaitu :
1. Mengetahui konstruksi dasar mesin atau alat, bagian–bagian utama alat
serta fungsi dari bagian–bagian tersebut.
2. Mengetahui mekanisme kerja mesin atau alat.
3. Mengetahui cara–cara pengoperasian mesin atau alat berikut cara
pengaturannya sesuai prosedur yang dikehendaki.
4. Mengetahui penampilan teknis mesin, meliputi :
a. Kapasitas mesin atau alat
b. Klasifikasi kualitas produk
c. Randemen
C. Manfaat
Manfaat dari praktikum Mesin dan Peralatan ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan pengetahuan dan pemahaman (pengenalan) yang lebih
tentang alat dan mesin pertanian.
2. Dapat mengetahui setiap fungsi dan kegunaan dari alat dan mesin
pertanian.
3. Menambah pengetahuan tentang pengoperasian alat-alat dan mesin
pertanian.
D. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Mesin dan Peralatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal
30 Oktober 2010 pukul 08.00 – 15.00 WIB dan hari Minggu tanggal 31
Oktober 2010 pukul 08.00 - 15.00 WIB di Laboratorium Rekayasa Proses
Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas
Sebelas Maret Surakarta.

2
II. TINJAUAN PUSTAKA

Metode distilasi menggunakan pelarut yang bersifat tak bercampur dengan


air, mempunyai titik didih tinggi dan bobot jenis (specific gravity) lebih rendah
dari air. Metode ini digunakan di laboratorium untuk menentukan kadar air suatu
bahan yang mengandung air dalam jumlah yang kecil. Keuntungan dari metode
ini adalah volatile oil yang mungkin terkandung dalam bahan tidak ikut terukur
bersama air karena zat tersebut bercampur dengan pelarut (Hartini,1978).
Ada 4 jenis distilasi yaitu distilasi sederhana, distilasi fraksionasi, distilasi
uap, dan distilasi vakum. Pada distilasi sederhana, dasar pemisahannya adalah
perbedaan titik didih yang jauh atau dengan salah satu komponen bersifat volatil.
Fungsi distilasi fraksionasi adalah memisahkan komponen-komponen cair, dua
atau lebih, dari suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Distilasi ini
juga dapat digunakan untuk campuran dengan perbedaan titik didih kurang dari
20°C dan bekerja pada tekanan atmosfer atau dengan tekanan rendah. Distilasi
uap digunakan pada campuran senyawa-senyawa yang memiliki titik didih
mencapai 200°C atau lebih. Distilasi vakum biasanya digunakan jika senyawa
yang ingin didistilasi tidak stabil, dengan pengertian dapat terdekomposisi
sebelum atau mendekati titik didihnya atau campuran yang memiliki titik didih di
atas 150°C (Anonima,2010).
Perajangan (slicing) adalah proses pengecilan ukuran bahan dengan
menggunakan pisau untuk mendapatkan ukuran panjang potongan yang lebih
kecil dan tipis dengan arah melintang, miring, atau sejajar panjang bahan yang
dipotong. Tujuan utama dari perajangan yaitu untuk memperkecil ukuran bahan
sehingga dapat mempercepat proses pengeringan karena permukaan yang
diperbesar dan pada akhirnya penurunan kadar air lebih cepat selama masa
pengeringan. Walaupun pada dasarnya mengiris, merajang, atau memotong adalah
sama, tetapi perajangan yang dilakukan baik di atas landasan maupun tidak,
biasanya menggunakan pisau atau alat-alat lain yang sesuai dengan keperluannya.
Perajangan juga dilakukan untuk mendapatkan produk yang tipis dan beragam.
Pada dasarnya dalam perajangan diperlukan pisau pengiris yang tipis dan tajam,

3
arah perajangannya dapat ke segala arah, ukuran lebar irisan relatif besar bila
dibandingkan dengan tebalnya. Pada umumnya produk yang diperoleh diharapkan
mempunyai struktur dan bentuk yang baik serta beragam (Anonimb,2010).
Pengeringan adalah suatu metoda atau cara untuk mengeluarkan
(menghilangkan) sebagian air dari suatu bagian pangan dengan cara menguapkan
air tersebut dengan menggunakan energi panas. Dikenal ada 2 teknik pengeringan
yakni pengeringan mekanis dan pengeringan sederhana. Teknik pengeringan
sederhana umumnya masih dilaksanakan oleh masyarakat petani yang tinggal di
pedesaan yakni dengan menjemur langsung produk yang akan dikeringkan. Tentu
saja proses pengeringan berbagai jenis komoditas pertanian tersebut sangat
dipengaruhi oleh frekuensi curah hujan dan intensitas sinar matahari
(Anonimc,2010).
Beras yang disimpan terlalu lama akan mengalami kerusakan, secara fisik
terlihat hancur, secara kimia kehilangan protein dan vitamin. Untuk menghindari
kerusakan diusahakan mempersingkat waktu penyimpanan dengan cara segera
memanfaatkan beras dalam bentuk diversifikasi makanan dengan bahan dasar
tepung beras. Untuk maksud ini dibangunlah mesin penepung yang mudah dibuat.
Metoda pengerjaan mesin ini adalah dengan perinsip gaya tekan dan gaya gesek
antara stator dan rotor dimana pada rotor terdapat alur yang berguna untuk
mengangkut kembali beras yang belum tergiling halus, pada putaran rotor yang
kencang akan terjadi kemungkinan besar gaya sentripetal yang membawa beras
dan membenturkannya pada dinding stator yang dapat mengakibatkan beras akan
menjadi remuk (Anonimd,2006)
Goreng sangan merupakan cara pemasakan bahan makanan dengan radiasi
panas, dimana dengan perlakuan-perlakuan tersebut terjadi perubahan keadaan
bahan makanan, baik sifat fisik maupun kimiawinya, sehingga keadaan bahan
pangan ada yang menjadi lunakdan enak dimakan. Dengan pemanasan maka
sebagian besar mikroorganisme dan enzim mengalami kerusakan, sehingga bahan
yang telah dimasak lebih tahan lama selama beberapa hari. Untuk penggorengan
sangan, digunakan radiasi panas dimana terjadi secara pancaran dan berlangsung
tanpa media. Pancaran sinar matahari merupakan jenis perpindahan panas secara

4
radiasi. Namun bertolak dari itu, dalam goreng sangan ini sumber panas diperoleh
dari kompor gas. Proses penggorengan sangan biasanya dilakukan pada bahan
jenis biji-bijian seperti kacang tanah. Dalam hal ini alat penggorengan yang
digunakan dapat berupa otoklaf tipe vertikal maupun tipe horisontal. Pada
dasarnya penggorengan sangan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara,
yang terpenting adalah pemrosesan yang benar (Anonime. 2010).
Sortasi merupakan pemisahan beras gabah dari sekam, gabah hampa, atau
kotoran ringan lainnya yang didasarkan pada berat jenisnya. Penyusutan
kuantitatif atua penyusutan volume terjadi karena gabah banyak terbuang pada
saat panen, hilang pada waktu pengangkutan, tercecer pada saat perontokan atau
penjemuran. Sedang penyusutan kualitatif dapat disebabkan karena adanya
kerusakan kimiawi atau fisis, seperti gabah yang banyak berkecambah, gabah
banyak yang retak, biji menguning, dan lain sebagainya. Kehilangan akan lebih
banyak lagi untuk jenis padi yang rontok, seperti varietas padi yang unggul.
Betapa besarnya kehilangan hasil tanaman padi, kehilangan-kehilangan seperti ini
harus dicegah/diturunkan sampai seminimal mungkin (Affandi, 1980).
Daging merupakan bahan pangan yang penting dalam memenuhi
kebutuhan gizi. Salah satu proses untuk mengolah daging adalah penggilingan.
Alat penggiling yang umum digunakan adalah penggiling yang digerakkan secara
manual yang terbuat dari bahan besi cor. Besi cor sangat mudah mengalami korosi
dan dapat menyebabkan kerusakan lemak pada daging, sehingga perlu dilakukan
peninjauan ulang terhadap desain alat tersebut. Metode Quality Function
Deployment QFD adalah suatu metodologi pengembangan yang kuat dengan
cakupan aplikasi yang luas. Tujuan utama QFD dalam studi ini adalah untuk
menerapkan konstruksi suatu metode desain yang berorientasi kepada pelanggan
dan menguji kemampuan aplikasi QFD dalam perencanaan desain dan proses
suatu alat penggiling daging (Anonimf,2010).
Kebutuhan akan permintaan pakan ternak dengan kwalitas baik sangat
tinggi, pada umumnya daging ikan teri kering yang dibuat campuran pembuatan
pakan ternak. Agar diperoleh daging ikan teri yang lembut untuk campuran pakan
ternak yang diingginkan dilakukan penelitian dan percobaan yang bertujuan untuk

5
masalah tersebut. Sebelum merencanakan alat penggiling daging dengan
mekanisme penggilingan sepasang roll tersebut.terlebih dahulu dilakukan survey
dan pengamatan mesin penggiling daging yang sudah ada. Serta mengunakan
data-data yang diperlukan dan menggambarkan sketsa bentuk dan alat yang akan
dibuat dan kemudian dilakukan perhitungan untuk menganalisa komponen yang
akan dibuat dapat sesuai yang diinginkan . Perencanaan mesin penggiling daging
spesifikasinya menggunakan daya 1 Hp yang menghasilkan putaran 1300 rpm,
menggunakan tipe bantalan SingleRow Deep Groove Ball Bearing dengan nomer
6205,Pinion dan gear dengan bahan pokok Stell 150 Syp 50000psi dangan
clerence 1mm. Sedangkan untuk sistem trasmisi menggunakan rantai roll .
menggunakan. Poros baja krom nikel (JIS G 4102) SNC ,dan untuk menyambung
dan menjaga hubungan putaran.digunakan pasak dasar segi empat
g
(Anonim ,2010)
Pemanggangan/ oven adalah satu bentuk pemanasan yang dilakukan di
dalam oven dan asal usul proses ini adalah sama tuanya dengan sejarah yang di
rekam. Pada umumnya oven sendiri merupakan alat yang sangat dibutuhkan
dalam proses pemanggangan yang merupakan aspek yang kritis dari seluruh
kegiatan yang mengarah pada produk roti yang berkualitas tinggi. Melalui suatu
alat penghantar panas yang berasal dari sumber gas, suatu massa adonan yang
tidak polatabel diubah menjadi suatu produk yang ringan dan porus, mudah
dicerna dan sangat merangsang (Darsam, 1981)
Pencampuran dipergunakan untuk mempersiapkan kombinasi yang
seragam dari dua atau lebih bahan. Bahan yang dicampurkan dapat berbentuk cair,
padat atau gas. Hasil pencampuran dapat merupakan campuran yang homogen
seperti campuran bahan-bahan cair yang larut satu sama lain dan campuran
heterogen seperti campuran bahan padat yang kering (Nasution, 1977).
Mesin pengaduk atau mixer merupakan salah satu peralatan dapur yang
dapat digunakan untuk mencampur, mengaduk, maupun mengocok bahan atau
adonan makanan. Transmisi daya yang direncanakan pada mesin ini adalah
Transmisi Sabuk-V yang digunakan untuk menurunkan kecepatan putaran sesuai
dengan kecepatan putaran yang diinginkan, dengan menggunakan perbandingan

6
reduksi dan memodifikasi ukuran diameter pulley. Perencanaan dilakukan untuk
mengetahui besarnya tegangan geser yang diizinkan 964 (kg/mm2 ) dan tegangan
geser 964 (kg/mm2 ) yang dihasilkan pada masing-masing poros. Adapun tegangan
geser 64 (kg/mm2 ) yang dihasilkan pada masing-masing poros tidak melebihi dari
tegangan geser yang diizinkan 964 (kg/mm2 ).Perancangan mesin pengaduk ini
diharapkan dapat membantu produsen-produsen makanan yang memiliki masala
dalam proses pengadukan (Septianto, 2008).
Ubi kayu atau singkong merupakan salah satu tanamam yang mempunyai
sumber karbohidrat yang cukup tinggi. Oleh karena itu singkong dapat digunakan
sebagai sumber karbohidrat pendamping beras yang banyak digemari oleh
masyarakat luas. Dalam industri makanan seperti tape ubi kayu, kripik, opak ubi
kayu, enyek-enyek juga sangat di gemari oleh masyarakat. Dalam industri tepung
tapioka singkong merupakan bahan baku utama untuk
pembuatan tepung, dalam proses pembuatan tepung tapioka meliputi beberapa
tahap yaitu pengupasan kulit, pencucian, pemotongan, pemarutan, pemisahan,
ekstrasi pati dan pengeringan. Di kalangan masyarakat sendiri proses pembuatan
tepung terdapat dua cara yaitu dengan cara tradisional (fermentasi) dan cara
mesin industri. Dalam perancangan dan pembuatan mesin pemarut singkong
untuk pembuatan tepung tapioka ini terdiri dari dua bagian utama yaitu bagian
dinamis dan bagian statis. Untuk bagian dinamis sendiri yang meliputi drum
pemarut, saringan sentrifugal dan motor penggerak, sedangkan untuk bagian
statis yang meliputi kontruksi kerangka mesin, pembuatan hopper atas dan bawah
serta penutup saringan. Sehingga pemilihan bahan yang digunakan dalam
pembuatan kerangka mesin yaitu baja siku profil L jenis ST 37 dengan dimensi
40 x 40 x 2 mm (Wahyudi, 2008).
Pengepresan hydraulic pressing, minyak diperoleh dengan cara
memberikan tekanan kepada bahan berminyak yang dibungkus oleh kain penekan.
Keuntungannya waktu yang digunakan singkat namun tidak dapat bekerja secara
kontinu. Sedangkan expeller pressing dapat bekerja kontinu tanpa kain penekan
namun lebih banyak kotoran yang dihasilkan (Iswoyo, 1978) .

7
Bila kita menggunakan teknologi terapan vacuum fryer atau vacuum
frying akan mampu menurunkan titik didih minyak sehingga buah-buahan
berkadar air tinggi yang diolah menjadi keripik tidak mudah hangus. Hasilnya
menjadi lebih bagus, keripik tidak gosong, tetap cerah seperti warna aslinya. Atau
dengan kata lain, kecil kemungkinan untuk terjadi peristiwa oksidasi pada produk
buah olahan yang dihasilkan. Serta kandungan vitamin dari buah olahan tidak
rusak. Kelebihan lainnya adalah dengan adanya penurunan titik didih menjadikan
minyak memiliki umur pakai lebih lama (Anonimh ,2010).
Cara pengemasan yang baik juga dapat meningkatkan masa simpan sale
pisang, sekaligus dapat mempertahankan nilai gizi. Cara pengemasan yang baik
dapat dilakukan selain dengan kemasan yang baik juga dengan pengemasan
hampa (vacum). Cara ini diharapkan dapat mencegah oksidase sale pisag sehingga
meningkatkan masa simpannya. Dalam pengemasan perlu memperhatikan bahan
pengemas dan cara pengemasa. Untuk itu perlu dipelajari cara dan bahan
pengemas yang dapat digunakan untuk mengemas sale pisang. Untuk itu
penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh ketebalan plastik kemasan dan cara
pengemasan terhadap mutu sale pisang Sumedang. Penggunaan jenis kemasan dan
cara pengemasan dimaksudakan dapat memperpanjang jangka waktu
penyimpanan sale pisang Sumedang dan memperluas jangkauan pemasaran
(Anonimi,2010).
Pengabdian masyarakat dalam bentuk vucer , telah dilaksanakan di Nagara
Paninggahan kecamatan Junjung Sirih kabupaten Solok. Pembuatan alat pemecah
kemiri tipe sentrigugal yang telah teruji ini dilakukan di Bengkel Aneka Mitra
Indoguna Bandar Buat Padang dan uji teknis di bengkel Mekanisasi Pertanian
Fakultas Universitas Andalas, Limau Manis Padang pada bulan Juni sampai
Agustus 2001. Pada pembuatan alat metoda yang digunakan adalah Metoda
Rancangan Shigley dan Mitchell yang terdiri dari : identifikasi masalah,
inventarisasi ide, penyempurnaan ide, dan analisis. Dengan parameter yang
diamati meliputi : kapasitas alat, efisiensi pemisahan, presentase hasil berdasarkan
kelas mutu, serta analisis ilmu ekonomi yang meliputi biaya pokok alat. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa putaran rotor 830 rpm memberikan hasil yang

8
lebih baik di mana didapatkan kapasitas alat sebesar 303,1 kg/jam rendemen
sebesar 37,86% . Presentase hasil pada kelas mutu I sebesar sebesar 57,39%,
mutu II sebesar 30, 39% dan mutu III sebesar 12,23% sedangkan biaya pokok
pemecahan sebesar Rp50,23,00/kg inti kemiri (Husni,2001)
Di dalam alat penguapan, yang bekerja di bawah pengaruh tekanan yang
dikurangi, pompa hampa udara selalu didahului oleh sebuah kondensor untuk
memindahkan suatu jumlah uap yang besar dengan jalan memadatkannya menjadi
bahan cair. Beberapa alat pengembunan (kondensor) untuk uap, mungkin sebuah
kondensor permukaan. Kondensor permukaan pindah panas yang cukup, tempat
uap memindahkan panas laten penguapan ke air pendingin (Earle, 1969).
Komponen utama rotavapor modern adalah sebagai berikut :
1. Unit motor yang memutar termos penguapan atau botol berisi sampel
2. Saluran uap yang bertindak baik sebagai poros untuk rotasi sampel, dan
sebagai saluran vakum untuk uap yang sedang ditarik dari sampel.
3. Sistem vakum, secara substansial mengurangi tekanan dalam sistem
evaporator.
4. Bath pemanasan cairan, umumnya air, untuk memanaskan sampel yang sedang
menguap.
5. Kondensor, campuran pendingin seperti es kering dan aseton ditempatkan.
6. Labu-pengumpulan kondensat di bagian bawah kondensor, untuk tempat
pelarut penyulingan setelah kembali mengembun.
7. mekanisme mekanis atau bermotor untuk segera mengangkat termos
penguapan dari bath pemanasan ( Anonimj,2010).

9
III. ACARA PRAKTIKUM

A. DESTILASI (DISTILATION)
1. Gambar/Mesin

Gambar 1. Alat/Mesin Distilasi

2. Bagian Utama dan Fungsi


a. Kompor Listrik : memanaskan bahan yang akan didistilasi
b. Erlenmeyer : menampung bahan yang akan didistilasi
c. Pipa penghubung : menghubungkan erlenmeyer dengan
kondensor
d. Kondensor : mendinginkan cairan
e. Penampung air : menampung air dingin
f. Penampung destilan : menampung produk distilasi
3 . Prinsip Kerja Distilasi
Memisahkan air dengan minyak berdasarkan perbedaan titik didih.
4. Mekanisme Kerja
Bahan dimasukkan ke dalam penampung bahan dan ditambah pelarut,
kemudian dididihkan. Zat dengan titik didih lebih rendah menguap
melalui pipa penghubung dan didinginkan dalam kondensor kemudian
hasil distilasi berupa minyak ditampung dalam penampung distilan.

10
5. Cara Kerja
a. Bahan ditimbang dan dimasukkan ke dalam tabung distilasi
(steamer).
b. Menimbang berat bruto gas metana.
c. Menyalakan kompor gas dan mengatur besar api pemanas.
d. Mengaktifkan pompa pendingin distilasi saat air mulai mendidih.
e. Memasang gelas ukur untuk menampung uap dan produk hasil
distilasi.
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Percobaan ini dilakukan berdasarkan pada titik didihnya, yang
dilakukan dengan dua bahan yang berbeda antara lain dengan kayu
manis, dengan cara mencampurkan kayu manis kedalam tabung
penampung yang berisi air dalam jumlah volume yang ditentukan. Pada
proses distilasi ini pemisahkan larutan kayu manis menjadi air dan
minyak kayu manis dilakukan selama 4 jam.
Penyusunan alat distilasi seperti dapat dilihat pada gambar
rangkaian percobaan diatas, maka proses distilasi dapat dilakukan.
Dalam memasang alat distilasi, kita mengunakan vaselin agar mudah
dilepas. Selain itu juga bertujuan agar uap daun cengkeh murni tidak
keluar dari rangkaian alat dan tekanan uap dalam alat tidak keluar atau
stabil.
Dari hasil destilasi didapat randemen yang dihasilkan sebesar 0,12 %.
Ini didapat dengan cara:
Berat minyak yang dihasilkan
= x100%
Berat awal
1
= x100%
850
= 0,12 %
Tujuan di pasangnya pipa penghubung pada alat distilasi karena
untuk menyalurkan hasil distilat ke alat penampung air dan minyak.
Sedangkan pada percoaban ini kondensor di pasang sebagai pendingin

11
air uap minyak murni. Oleh sebab itu proses pendingin menjadi efektif.
Pada percobaan ini kondensor yang di gunakan adalah kondesor spiral,
dimana didalamnya di pasang pipa kecil yang di bentuk spiral. Bisa
dilihat pada rangkaian alat distilasi diatas, diamana ujung yang satu di
hubungkan dengan pipa penghubung sedangkan ujung yang lain di
hubungkan dengan alat penampung dan pemisah cairan distilasi. Pada
dinding dari silinder tersbut juga terdapat lubang pemasukan air
pendingin dari alat penampungan air dan lubang pengeluaran air
pendingin.
Prinsip kerja distilasi adalah dengan memasang seperangkat alat
distilasi seperi diatas. Kemudian memasukan kayu manis kedalam gelas
ukur. Setelah itu memanaskan sampai mendidih bercampur dengan air,
maka cairan akan menguap dan uap murni menuju pipa pendingin atau
kondensor. Lalu menuju tempat penampung zat hasil distilan. Waktu
dihitung pada saat air di panaskan sampai dengan proses terjadinya
distilasi. Selain mengitung volume atau bobot produk distilan yang
menetes dari awal sampai akhir proses distilasi.
7. Kesimpulan
a. Banyaknya produk dan banyaknya air akan mempengaruhi banyak
sedikitnya hasil destilan.
b. Titik didih air harus lebih tinggi dari bahan.
c. Bahan yang biasa di destilasi adalah bahan yang bersifat volatile
yaitu mudah menguap
d. Hasil destilasi berupa air dan minyak kayu manis
e. Lama proses distilasi adalah 4 jam atau 240 menit.

12
B. PERAJANGAN(SLICING)
1. Gambar/Mesin

Gambar 2. Alat/Mesin Perajangan


2. Bagian Utama dan Fungsi
a. Pisau disk : memotong produk
b. Tempat produk : menempatkan produk
c. Tuas penekan : menekan produk
d. Motor : memutar pisau disk
3. Prinsip Kerja
Produk diiris dengan pisau disk.
4. Mekanisme Kerja
Tuas ditarik ke belakang dan produk diletakkan pada tempat produk
kemudian produk ditekan lagi afar tidak lepas. Bersamaan dengan itu
motor listrik dinyalakan sehingga produk dapat terpotong.
5. Cara Kerja Kerja
e. Menyiapkan/membersihkan alat/mesin slice
f. Mmengatur posisi blade (pisau pengiris)
g. Menimbang produk yang akan dirajang
h. Mengaktifkan motor listrik
i. Memasukkan produk dalam hopper (bak perajangan)
j. Menekan produk dengan hand feeding
k. Menimbang produk hasil perajangan

13
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Tabel 1. Data Perajangan Singkong
Kel Berat Berat Waktu Kapasitas Randement
Awal (kg) Akhir (kg) (jam) (kg/jam) (%)
1 0,835 0,76 0,199 7,0168 91,018
2 0,9 0,89 0,088 10,227 98,8
3 0,92 0,825 0,1 9,2 89,673
4 0,95 0,875 0,12 7,916 92,11
5 1 1 0,103 0,9066 100
6 0,8 0,725 0,0894 8,94 90.625
7 1 0,78 0,086 12 78
8 0,9 0,91 0,0797 11,292 101,11
9 0,925 0,95 0,159 5,81 102
10 0,85 0,86 0,0927 9,169 101,2
11 0,77 0,73 0,073 10,55 94,8
12 0,73 0,760 0,064 11.40625 91,78
Sumber : Laporan Sementara
Berat awal = 0,8 kg
Berat Akhir = 0,725 kg

Pada praktikum perajangan ini bahan yang digunakan adalah singkong.


Banyak singkong yang digunakan seberat 0,8 kg dan berat singkong hasil
perajangan 0,725 kg. Waktu yang dibutuhkan selama proses perajangan selama
0,0894 jam. Kualitas produk hasil perajangan kurang bagus karena rajangan
yang dihasilkan tebal, selain itu juga ketebalannya tidak seragam. Penyebabnya
adalah kurang tepat/valid dalam pengaturan pisau disk.
Kapasitas produk didapatkan sebesar 8,94 kg/jam. Kapasitas dipengaruhi
oleh berat produk awal dan lamanya proses perajangan. Kapasitas produk
berbanding lurus dengan berat produk awal dan berbanding terbalik
dengan lamanya proses perajangan. Semakin sedikit waktu yang diperlukan
dalam proses maka kapasitas produk perajangan semakin besar, dan sebaliknya.

14
Randement hasil perajangan ini sebesar 90,625 %. Randement dipengaruhi
oleh berat produk rajangan akhir dan berat produk awal. Semakin besar berat
produk rajangan akhir yang dihasilkan maka randement akan semakin besar.
7. Kesimpulan
Dari praktikum acara Perajangan ini dapat disimpulkan sebagai
berikut:
a. Produk diiris atau dipotong dengan pisau disk.
b. Kapasitas produk yang diperoleh adalah 8,94 kg/jam.
c. Randement yang diperoleh adalah sebesar 90,625 % dengan kualitas
visual rajangan yang kurang baik.
d. Kapasitas produk berbanding lurus dengan berat produk awal dan
berbanding terbalik dengan lamanya proses perajangan.
e. Semakin sedikit waktu yang diperlukan dalam proses maka kapasitas
produk perajangan semakin besar, dan sebaliknya.
f. Semakin besar berat produk rajangan akhir yang dihasilkan maka
randement akan semakin besar.

15
C. PENGERINGAN (DRYING)
1. Gambar Alat/Mesin
a) Cabinet Dryer

Gambar 3.1 Alat/Mesin Pengering Cabinet Dryer


b) Bin Dryer

Gambar 3.2 Alat/Mesin Pengeringan Bin Dryer

16
2. Bagian Utama dan Fungsi
a) Cabinet Dryer
a. Tabung g : sumber bahan bakar
b. Termometer : sebagai penunjuk suhu
c. Termostat : sebagai pengatur suhu
d. Kait pengunci : pengunci pintu kabinet dryer
e. Kompor gas : sebagai pemanas
f. Corong : tempat keluarnya uap air pada proses
pengeringan
g. Blower : untuk menghembuskan udara
b) Bin Dryer
a. Kompor Listrik : sumber panas
b. Exhaust Penghisap : menghisap udara dan uap air
c. Ruang Pengering : tempat produk
3. Prinsip Kerja
Produk dikeringkan dengan sumber panas dari kompor listrik.
4. Mekanisme Kerja
Produk diletakkan di ruang pengering, kompor listrik dinyalakan,
panas dari kompor akan mengeringkan produk secara radiasi. Uap air
dari produk akan terhisap oleh blower. Suhu ruang pengering dapat
diukur dengan termometer.
5. Cara Kerja
a. Menimbang produk yang telah dirajang
b. Menyalakan alat pemanas
c. Menghidupkan blower setelah produk mulai kering
d. Mencatat perubahan kadsr air setiap 15 menit selama pengeringan
e. Menimbang produk yang sudah kering

17
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Tabel 2. Data Pengeringan
Kel Berat Berat Waktu Laju Pengeringan
Awal (kg) Akhir (kg) (jam) (kg/jam)
1 0,76 0,575 5 0,037
2 0,890 0,425 5 0,093
3 0,825 0,260 4,5 0,1256
7 0,78 0,65 5,25 0,0248
8 0,910 0,35 5 0,112
9 0,950 0,375 4 0,14375
12 0,67 0,5 3 0,0567
Sumber : Laporan Sementara

Dari praktikum alat pengeringan dapat kita ketahui bahwa


alat yang digunakan sudah modern, karena telah dilengkapi dengan
thermometer untuk mengetahui suhu dan blower untuk menghisap uap
air dari produk yang dikeringkan. Pengeringan adalah proses
pemindahan panas dan uap secara simultan yang memerlukan energi
panas untuk menguapkan kandungan air yang dipindahkan dari
permukaan bahan, yang dikeringkan oleh media pengering yang
biasanya berupa panas. Laju pengeringan diproleh dari mengurangkan
berat bahan awal dengan bahan akhir dibagi dengan waktu
pengeringan.
Sedangkan faktor yang mempengaruhi kerja alat tersebut adalah
faktor yang berhubungan dengan udara pengering seperti suhu,
kecepatan volumetrik, aliran udara pengering dan kelembaban udara.
Dan faktor yang berhubungan dengan sifat bahan yang dikeringkan
seperti ukuran bahan, kadar air awal dan tekanan parsial di dalam
bahan, dan banyaknya produk.

18
7. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikun acara pengeringan adalah sebagai
berikut :
a. Produk yang akan dikeringkan diletakkan dalam penangsang
kemudin dipanasi dengan kompor listrik dan udara panas diserap oleh
blower.
b. Kecepatan udara makin tinggi maka semakin cepat pula massa uap
air yang dipindahkan.
c. Faktor yang mempengaruhi pengeringan yaitu suhu, kecepatan
volumetrik, aliran udara pengering dan kelembaban udara, ukuran
bahan, kadar air awal dan tekanan parsial di dalam bahan, banyaknya
produk.

D. PENEPUNGAN (MILLING)
1. Gambar/Mesin

Gambar 4. Alat/Mesin Penepungan


2. Bagian Utama dan Fungsi
a. Ruang penepung : tempat proses penepungan
b. Belt Transmition : untuk menyalurkan tenaga dari motor
c. Inlet : sebagai tempat produk

19
d. Gigi aktif : untuk memukul produk menjadi tepung
e. Gigi pasif : untuk memukul produk menjadi tepung
f. Saringan : untuk menyaring produk
g. Outlet : sebagai tempat keluarnya produk
h. Motor Listrik : penggerak gigi aktif
3. Prinsip Kerja
Produk dihantam oleh gigi aktif dan gigi pasif.
4. Mekanisme Kerja
Motor listrik dihidupkan kemudian produk dimasukkan ke dalam inlet
kemudian masuk ke dalam ruang penepung, produk dipukul oleh gigi
akitif dan gigi pasif. Produk yang belum halus tertahan oleh saringan
kemudian dihantam lagi oleh gigi aktif dan gigi pasif, kemudian
produk keluar melalui outlet.
5. Cara Kerja
a. Menimbang dan mencatat bobot produk yang akan ditepung
b. Menyiapkan bak penampung
c. Menghidupkan motor penggerak
d. Memasukkan produk kering pada hooper penepung
e. Mencatat waktu awal dan akhir penepungan
f. Menimbang produk hasil penepungan dan memeriksa kehalusan
produk

20
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Tabel 3. Data Penepungan Beras
Kel Berat Berat Waktu Kapasitas Randement
Awal (kg) Akhir (kg) (jam) (kg/jam) (%)
1 0,25 0,249 0,1267 1,973 99,6
2 0,25 0,175 0,138 1,811 70
3 0,25 0,25 0,1544 0,619 100
4 0,25 0,2 0,16 1,5 80
5 0,25 0,24 0,145 1,724 96
6 0,25 0,3 0,103 2,427 120
7 0,25 0,2 0,16 1,5 80
8 0,25 0,24 0,1195 2,092 96
9 0,25 0,175 0,102 2,45 70
10 0,25 0,225 0,073 3,425 90
11 0,25 0,25 0,14 1,768 100
12 0,25 0,25 0,18 1,39 100
Sumber: Laporan Sementara

Bahan mentah sering berukuran lebih besar daripada kebutuhan


sehingga ukuran bahannya harus diperkecil, salah satunya dengan
penepungan. Penepungan pada prinsipnya produk masuk kemudian
dihantam oleh gigi aktif dan gigi pasif sehingga produk akan keluar
dari outlet dalam bentuk tepung.
Bahan yang dipakai dalam praktikum adalah beras seberat 0,25
kg, setelah dilakukan prosen penepungan berat akhir menjadi 0,3 kg.
Kapasitas yang diperoleh dangan waktu yang digunakan 0,103 jam
adalah 2,427 kg/jam. Rendemen yang dihasilkan sebesar 120%,
melebihi randement ideal yaitu 100%. Hal ini terjadi karena berat akhir
penepungan melebihi berat awal. Diperkirakan penambahan tersebut

21
terjadi karena ikut terhitungnya sisa hasil penepungan dari kelompok
lain yang terhitung.
Pada mesin penepungan, produk yang masih berukuran kecil
melewati saringan terlebih dahulu sehingga produk yang keluar
melalui outlet benar-benar dalam bentuk tepung. Dengan
menggunakan berat tepung dan berat produk maka dapat diketahui
besarnya randemen. Kapasitas kerja mesin penepung dipengaruhi oleh
berat bruto produk dan lama proses.
7. Kesimpulan
a. Proses penghancuran dalam penepungan dilakukan oleh gigi aktif
dan gigi pasif.
b. Pada proses penepungan produk menjai lebih kecil dan keluar
melewati saringan.
c. Besarnya randemen dipengaruhi oleh berat produk dan berat tepung.
d. Berat bruto produk dan lama proses mempengaruhi kapasitas kerja
mesin.
e. Kapasitas dan rendemen yang diperoleh sebesar 2,427 kg/jam dan
120%.

E. GORENG SANGAN (FRYING)


1. Gambar/Mesin

Gambar 5. Alat/Mesin Goreng Sangan

22
2. Bagian Utama dan Fungsi
a. Silinder luar : menyalurkan radiasi panas ke silinder dalam
b. Silinder dalam : sebagai tempat produk
c. Tuas pengunci : mengunci agar produk tidak dapat keluar
d. Tuas pemutar : memutar silinder dalam
e. Outlet : tempat keluar produk
f. Kompor gas : sebagai sumber panas
3. Prinsip Kerja
Produk dimatangkan dengan radiasi panas.
4. Mekanisme Kerja
Produk dimasukkan ke dalam silinder dalam kemudian menutup tuas
pengunci dengan mendapatkan sumber panas dari kompor gas,
kemudian diradiasikan ke silinder dalam untuk mematangkan produk.
5. Cara Kerja
a. Menimbang produk yang akan diproses
b. Menuang produk seberat 1 kg
c. Menyalakan kompor gas dan mengatur api sesuai yang disyaratkan
d. Mengukur dan mencatat kadar dan tingkat kematangan produk
setiap 5 menit sekali sampai produk matang
e. Mencatat total waktu penggorengan
f. Menimbang produk matang
g. Mengulang prosedur di atas untuk produk seberat 0,5 kg

23
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Tabel 4. Data Penggorengan Kacang Tanah 1 Kg
Goreng Sangan 1 Kg
Pengamatan/Pengukuran
Lama Proses
No Kadar Air
(menit) Tingkat Masak
(%)
1 0 15,5 +
2 10 14,5 ++
3 20 13,6 ++
4 30 13,3 +++
5 40 12,9 +++
6 50 12,7 ++++
7 60 11,7 ++++
8 70 10,9 ++++
9 80 8,5 ++++
Sumber: Laporan Sementara
Tabel 5. Data Penggorengan Kacang Tanah 0,5 Kg
Pengamatan/Pengukuran
Lama Proses
No Kadar Air
(menit) Tingkat Masak
(%)
1 0 15,3 Mentah
2 10 14,8 Mentah
3 20 13,1 Mentah
4 30 13,6 Mentah
5 40 11,9 Mentah
6 50 9,4 Mentah
7 60 8,6 Mentah
8 70 10,9 Agak matang
9 80 8,5 matang
Sumber: Laporan Sementara
Goreng sangan adalah salah satu cara penggorengan tanpa
menggunakan minyak. Bahan yang digunakan pada praktikum acara
goreng sangan ini adalah kacang tanah, seberat 0,5 kg. Hasil produk
goreng sangan dipengaruhi oleh kadar air dan lamanya waktu
penggorengan.
Praktikum ini menggunakan bahan yaitu kacang tanah dengan
berat 1 kg, bahan tersebut dimasukkan dalam mesin goreng sangan dan
diamati setiap 10 menit sekali, kemudian diukur tingkat
kematangannya. Pada 10 menit pertama diketahui bahwa kacang masih

24
mentah, pada waktu 10 menit ke 2 kacang juga masih mentah. Dan
pada pengamatan waktu 10 menit ke 3 hingga menit ke 8 yaitu selama
80 menit kacang sudah agak matang. Bahan kacang tanah seberat 1 kg
dan 1,5 kg memerlukan waktu selama 80 menit untuk mengalami
kematangan. Hal tersebut terjadi karena besarnya atau beratnya bahan
yang digunakan berbeda, serta kadar air yang dimiliki bahan juga
berbeda. Sehingga dapat diketahui bahwa pada proses goreng sangan
tingkat kematangan dipengaruhi oleh beratnya bahan yang digunakan
serta kadar air dalam bahan tersebut, karena semakin tinggi kadar
airnya maka tingkat kematangan bahan memerlukan waktu yang lama.
7. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum acara goreng sangan dapat
disimpulkan bahwa :
a. Goreng sangan merupakan proses menggoreng suatu bahan tidak
menggunakan minyak, tetapi menggunakan radiasi panas untuk
mematangkannya.
b. Mesin goreng sangan terdiri dari silinder luar, silinder dalam, tuas
pengunci, tuas pemutar, outlet, kompor gas.
c. Bahan yang digunakan pada goreng sangan ini adalah kacang tanah
sebesar 1 kg dan 1,5 kg.
d. Tingkat kematangan kacang dipengaruhi oleh beratnya bahan yang
digunakan serta besarnya kadar air pada bahan.

25
F. SORTASI (SORTASING)
1. Gambar Alat/Mesin

Gambar 6. Alat/Mesin Sortasi


2. Bagian Utama dan Fungsi
a. Blower : menghembuskan udara
b. Inlet/hopper : tempat memasukkan produk
c. Katup : mengatur besar kecilnya produk
d. Outlet : tempat keluarnya produk
3. Prinsip Kerja
Pemisahan produk berdasarkan berat jenis.
4. Mekanisme Kerja
Bahan atau produk dimasukkan ke dalam inlet, kemudian blower
dihidupkan, bersamaan dengan itu katup juga diatur agar produk dapat
keluar dengan lancar, produk keluar dari outlet.
5. Cara Kerja
a. Menyiapkan alat/ mesin sortasi.
b. Menimbang produk.
c. Mengaktifkan kipas penghembus / blower.
d. Mengatur debit air yang masuk ke dalam alat sesuai persyaratan.
e. Menuangkan produk yang akan disortasi ke dalam inlet secara
perlahan.
f. Menimbang produk bersih.

26
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Tabel 6. Data Pengamatan Sortasi Gabah
No Debit Berat Randement Lama Proses Kapasitas
Udara Bersih (%) (jam) Akhir
(kg) (kg/jam)
1 25 2 91,25 0,018 111,11
2 50 1,825 98,63 0,0094 194,15
3 75 1,8 69,44 0,0047 382,98
4 100 1,25 78 0,025 500
Sumber : Laporan Sementara
a. Debit Udara 25%

b. Debit udara 50%

c. Debit Udara 75%

27
d. Debit Udara 100%

Bahan yang dimasukkan dalam inlet akan diatur keluarnya oleh


katub dan bahan akan keluar melalui outlet yang terdiri dari 4 (empat)
lubang. Masing-masing lubang akan mengeluarkan produk sesuai berat
jenisnya. Produk yang mempunyai berat jenis paling besar akan jatuh
pada lubang pertama dan seterusnya. Kapasitas dipengaruhi oleh
waktu, oleh karena itu seharusnya kapasitas dari debit udara yang kecil
ke yang besar adalah kecil menuju besar. Semakin besar debit udara
maka berat bersih semakin sedikit sehingga rendement berkurang dari
debit udara kecil ke debit udara besar.
Pada praktikum ini diperoleh rendement dan kapasitas masing –
masing produk (gabah) yaitu : pada debit udara 25 % berat bersihnya
1,825 kg sehingga rendementnya 91,25 % selama 0.018 jam diperoleh
kapasitas sebesar 111,11 kg/jam. Pada debit udara 50% berat bersihnya
1,8 kg sehingga rendementnya 98,63 % selama 0,0094 jam, diperoleh
kapasitas sebesar 194,15 kg/jam. Pada debit udara 75 % berat
bersihnya 1,25 kg sehingga rendementnya 69,44 % selama 0,0047 jam,
diperoleh kapasitas 382,98 kg/jam. Serta pada debit udara 100% berat
bersihnya 0,975 kg sehingga rendementnya 78 % selama 0,0025 jam,
diperoleh kapasitas 500 kg/jam.
7. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum sortasi antara lain :
a. Prinsip kerja sortasi adalah pemisahan produk berdasarkan berat
jenis.

28
b. Kapasitas masing-masing secara berturut-turut adalah 111,11
kg/jam; 194,15kg/jam; 382,98 kg/jam; dan 500 kg/jam.
c. Randement masing-masing secara berturut-turut adalah 91,25 %;
98,63 %; 69,44 %; dan 78 %%.
d. Randement dipengaruhi oleh berat bersih dan berat kotor,
sedangkan kapasitas dipengaruhi oleh waktu dan berat bersih.
e. Lamanya proses sortasi dipengaruhi oleh debit udara dan
pembukaan katub bawah hopper serta jumlah/ berat produk.

G. PENGGILINGAN
1. Gambar Alat dan Mesin

Gambar 7. Alat/Mesin Penggilingan


2. Bagian Utama dan Fungsi
a. Cassing : tempat kedudukan screw roller
b. Hopper : tempat memasukkan produk
c. Outlet : tempat keluarnya produk
d. Pulley mesin : penerima tenaga dari motor
e. Screw roller : roll pengahancur produk bentuk ulir sekrup
f. Motor penggerak : sebagai sumber tenaga
g. Pisau disk : untuk memotong produk

29
3. Prinsip Kerja
Produk masuk didorong oleh pisau spiral ( screw roller ) kemudian
dipotong oleh pisau disk.
4. Mekanisme Kerja
Produk dimasukkan ke dalam hopper, kemudian turun ke ruang
penggilingan. Di ruang tersebut produk dihancurkan oleh screw roller
dan pisau disk dengan cara diputar-putar dan produk keluar melalui
outlet.
5. Cara Kerja
a. Membersihkan alat / mesin penggiling
b. Memotong dan menyiapkan bahan
c. Menghidupkan motor listrik
d. Memasukkan bahan
e. Mencatat waktu awal penggilingan
f. Mencatat lama dan tingkat kelembutan produk
g. Menimbang produkmengulangi penggilingan apabila kualitas
produk belum memenuhi persyaratan
h. Menimbang produk hasil penggilingan
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Tabel 7. Data Penggilingan Singkong
Kel Berat Berat Waktu Kapasitas Randement
Awal (kg) Akhir (kg) (jam) (kg/jam) (%)
1 0,440 0,425 0,21 20,95 95,591
2 0,5 0,465 0,0169 29,58 93
3 0,48 0,48 0,01083 44,32 100
4 0,4825 0,4825 0,03 16,08 100
5 0,49 0,53 0,16 30,62 108,16
6 0,6 0.59 0,029 20,68 98,3
7 0,48 0,5 0,025 19,2 104,16
8 0,610 0,605 0,01833 32,39 99,18
9 0,525 0,525 0,183 100
10 0,42 0,41 0,0138 30,435 97,62
11 0,515 0,515 0,0158 32,59 100
12 0,53 0,58 0,0138 38,405 109,43
Sumber: Laporan Sementara

30
Penggilingan yang dalam praktikum ini adalah menggunakan ubi
kayu/singkong bertujuan untuk menghaluskan singkong agar dapat
digunakan lebih dari yang biasa kita lakukan. Pada proses penggilingan
bahan yang dimasukkan dalam alat penggilingan akan dihaluskan oleh
screw roller dan sebelum keluar melalui outlet bahan akan dihaluskan oleh
mata pisau.
Produk yang digunakan mempunyai berat awal berat awal 0,6 kg
dan berat akhir 0,59 kg. Dengan waktu 0,029 jam diperoleh kapasitas
20,68 kg/jam dan randement sebesar 98,3%. Terdapat dua data yang
bernilai lebih dari 100%, hal ini kemungkinan terjadi karena pemambahan
berat bahan karena masih ada bahan dari praktikum sebelumnya yang
tertinggal.
Berat produk (berat bruto) sangat menentukan lamanya proses
penggilingan semakin banyak produk maka semakin lama pula waktu
yang dibutuhkan untuk penggilingan. Kapasitas alat atau mesin penggiling
dapat dihitung berdasarkan berat produk dan waktu proses penggilingan.
7. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum penggilingan ini dapat disimpulkan
antara lain sebagai berikut:
a. Prinsip penggilingan ini adalah produk masuk didorong oleh pisau
spiral ( screw roller ) kemudian dipotong oleh pisau disk.
b. Produk yang digunakan pada penggilingan adalah singkong dengan
berat awal 0,6kg dan diperoleh kapasitas sebesar 20,68 kg/jam dan
randement sebesar 98,3 %.

31
c. Semakin banyak produk yang digiling, semakin lama pula waktu yang
dibutuhkan untuk penggilingan.

H. OVEN & PENGADUKAN (OVENING & AGITATING)


a) OVEN
1. Gambar Alat/Mesin

Gambar 8.1 Alat/Mesin Oven


2. Bagian Utama dan Fungsi
a. Katup bahan bakar : mengatur besar kecil panas yang
digunakan
b. Pipa pemanas : tempat menyalakan bahan bakar
c. Ruang oven : tempat produk
d. Tabung gas : sumber bahan bakar
3. Prinsip Kerja
Produk dioven dengan pipa pemanas.
4. Mekanisme Kerja
Menempatkan produk pada rak yang ada pada ruang oven,
kemudian dibuka tutup tabung gas dan dinyalakan dengan korek
api pada pipa pemanas.

32
5. Cara Kerja
a. Memasukkan produk kedalam oven
b. Menghidupkan kompor dan mengatur besar kecilnya api
c. Mencatat waktu yang diperlukan sampai produk masak
d. Memeriksa kematangan produk
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Prinsip kerja oven adalah produk dioven dengan
menggunakan pipa pemanas bagian atas maupun pemanas bagian
bawah. Faktor yang berpengaruh pada proses pengovenan yang
paling utama adalah temperatur pemanasan. Ini dapat diatur
dengan menggunakan termometer. Pada saat pengovenan, suhu
sebaiknya jangan terlalu tinggi karena akan menyebabkan
kegosongan atau dapat juga menyebabkan produk yang dari luar
kelihatan utuh matang tetapi ternyata bagian dalam belum. Namun,
suhu sebaiknya juga tidak terlalu rendah karena produk tidak akan
cepat matang.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, besar-kecilnya
api yang mengalir melalui pipa dan suhu harus sesuai dengan
resep. Jika ingin melihat produk dari luar dapat dilakukan melalui
kaca yang berada pada bagian depan oven. Faktor yang
mempengaruhi kerja oven adalah suhu, besar kecilnya api yang
mengalir melalui pipa pemanas dan waktu.
7. Kesimpulan
Dari praktikum acara Oven dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Produk yang dioven menggunakan pipa pemanas.
b. Faktor yang berpengaruh dan paling utama adalah
temperatur/suhu, besar–kecilnya api yang mengalir melalui pipa
pemanas dan waktu.
c. Pada saat proses pengovenan suhu yang digunakan sebaiknya
tidak telalu tinggi karena dapat menyebabkan “gosong”.

33
b) PENGADUKAN
1. Gambar Alat/Mesin

Gambar 8.2 Alat/Mesin Pengadukan


2. Bagian Utama dan Fungsi :
a. Tempat adonan : sebagai tempat produk
b. Saklar (on/off) : untuk menghidupkan/mematikan mesin
c. Agigator : untuk mengecek dan mengaduk produk
d. Tuas pengunci : mengunci agar agigator bekerja dengan baik
2. Prinsip Kerja Alat
Produk dihaluskan/diaduk dengan agigator agar produk dapat
tercampur dengan baik.
3. Mekanisme Kerja Alat
Bahan dimasukkan ke dalam tempat adonan, kemudian mixer
dihidupkan dapat tercampur dan mengembang. Setelah terbentuk
adonan mixer dimatikan.
5. Cara Kerja
a. Menghidupkan mesin
b. Memasukkan bahan ke dalam wadah adonan
c. Mengaduk dengan agigator setelah mesin dimatikan
d. Mengambil produk dari tempat produk
e. Mencatat waktu dari awal sampai akhir percobaan

34
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Alat pengaduk prinsip kerjanya ialah produk dihaluskan/diaduk
dengan menggunakan agigator agar produk dapat tercampur dengan
baik. Pada proses pengadukan, faktor kecepatan pengadukan dan lama
pengadukan sangat berperan penting. Pengadukan harus dimulai
dengan kecepatan rendah kemudian baru dengan kecepatan tinggi,
sehingga diperoleh produk yang dapat tercampur dan mengambang,
lama pengadukan diatur dengan kecepatan mesin. Semakin cepat
mesin mengaduk bahan, maka waktu yang diperlukan akan semakin
singkat atau sebaliknya. Selain dua hal tersebut proses pengadukan
juga dipengaruhi oleh banyaknya adonan. Semakin banyak adonan
maka waktunya semakin lama karena bahan yang harus dicampur
semakin banyak pula.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka arah adukan
diusahakan searah dan kecepatannya tidak berubah. Di dalam acara ini
pengadukan yang dilakukan adalah untuk mencampur adonan roti yang
bahannya sudah ditentukan. Faktor yang mempengaruhi dalam proses
pencampuran bahan adalah jumlah bahan, kecepatan rotasi dan
pengocokan.
7. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum acara pengadukan ini adalah :
a. Pengadukan bertujuan agar semua bahan dapat tercampur dengan
baik.
b. Faktor kecepatan pengadukan dan lama pengadukan sangat
berperan penting, selain itu juga lama pengadukan dan banyaknya
bahan yang diaduk merupakan faktor penentu agar semua bahan
dapat tercampur dengan baik.

35
I. PEMARUTAN (SIZE REDUCTION)
1. Gambar Alat/Mesin

Gambar 9. Alat/Mesin Pemarutan


2. Bagian Utama dan Fungsi
a. Motor listrik : sumber tenaga mesin
b. Pulley mesin : kedudukan pengambilan tenaga dari
motor
c. Belt : menyalurkan tenaga
d. Silinder aktif : memarut produk
e. Silinder semi aktif : mendorong produk ke silinder aktif
f. Inlet : tempat memasukkan produk
g. Outlet : tempat keluarnya produk
h. Pulley motor : tempat kedudukan belt menyalurkan
tenaga ke silinder aktif
3. Prinsip Kerja
Produk diparut oleh silinder aktif.
4. Mekanisme Kerja
Motor listrik dinyalakan, kemudian produk dimasukkan ke dalam
inlet, kemudian silinder aktif akan memarut produk, sedangkan silinder
semi aktif akan mendorong produk. Produk hasil parutan akan keluar
melalui outlet.

36
5. Cara Kerja
a. Membersihkan alat / mesin pemarut.
b. Menimbang dan mempersiapkan produk yang akan diparut
c. Menghidupkan motor listrik
d. Mencatat waktu awal operasi
e. Memasukkan produk ke dalam mesin dengan memegangnya agar
tidak lepas
f. Mencatat waktu akhir operasi
g. Mengamati kualitas pemarutan
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Tabel 8. Hasil Pemarutan Kelapa
Berat Berat Waktu Kapasitas Randement
Kel
Awal (kg) Akhir (kg) (jam) (kg/jam) (%)
1 1.35 1.25 0.1214 11.12 92.59
2 1.57 1.26 0.09472 16.57478 80.25
3 1.45 1.35 0.14 10.36 93.1
4 1.3 1.125 0.085 15.29 86.53
5 4 2.4 6.08 0.66 60
6 1.175 1.1 0.118 9.95 93.62
7 1.3 1 0.187 6.951 77
8 1.41 1.325 0.107 13.17 93.97
9 1.375 1.262 0.116 11.85 91.78
10 1.23 1.245 0.1031 51.93 101.22
11 1.225 1.2 0.116 10.56 97.96
12 1.5 1.3 0.083 18.07 86.7
Sumber: Laporan Sementara

37
Pada praktikum pemarutan bahan yang digunakan adalah kelapa.
Produk (kelapa) yang digunakan seberat 1,175 kg, berat akhir yang
dihasilkan 1,1 kg dengan lama pemarutan 0,118 jam. Pada perhitungan ini
didapat rendement sebesar 93,62 % dan kapasitas 9,95 kg/jam.
Faktor yang mempengaruhi kapasitas pemarutan adalah jumlah
produk dan waktu, sedangkan faktor yang mempengaruhi rendement
adalah berat produk dan berat akhir hasil pemarutan.
7. Kesimpulan
Dari praktikum acara Pemarutan ini dapat disimpulkan sebagai
berikut:
a. Pemarutan adalah proses pengecilan ukuran suatu bahan.
b. Prinsip kerja alat pemarutan adalah produk diparut oleh silinder aktif.
c. Kapasitas kerja mesin yang dihasilkan sebesar 9,95 kg/jam dengan
waktu yang diperlukan selama 0,118 jam, randement sebesar 93,62 %
dan kualitas pemarutan sangat kasar.
d. Faktor yang mempengaruhi proses pemarutan adalah berat bruto, berat
netto, ketajaman pisau pemarut dan lama proses pemarutan.

38
J. PRESS (EXTRACTING)
1. Gambar Alat dan Mesin

Gambar 10. Alat/Mesin Pengepresan


2. Bagian Utama dan Fungsi
a. Tuas penutup : memutar batang pengepres
b. Plat pengepres : menekan produk
c. Silinder pengepres : sebagai tempat produk
d. Outlet : tempat keluar hasil ekstraksi
e. Pompa hidrolik : mengepres dari bawah
3. Prinsip Kerja
Produk ditekan oleh tuas pengepres sehingga didapatkan cairannya.
4. Mekanisme Kerja
Produk diiris terlebih dahulu, kemudian dimasukkan ke dalam silinder
pengepres. Ekstraksi bahan dilakukan dengan tekanan dari atas (plat
pengepres) dan juga tekanan dari bawah (pompa hidrolik). Tuas
digunakan sebagai dongkrak (memutar pompa hidrolik). Dan cairan hasil
ekstraksi ini akan keluar melalui outlet.
5. Cara Kerja
a. Membersihkan alat proses
b. Menimbang produk yang telah dibersihkan
c. Menyiapkan panci penampung

39
d. Memasukkan produk yang telah diiris- iris ke dalam tabung ekstraksi
e. Memutar handle press sehingga alat dapat memeras produk
f. Menimbang hasil ekstraksi
g. Mencatat waktu awal hingga proses ekstraksi terakhir
h. Menghitung rendemen ekstraksi.
i. Menghitung rendemen ekstraksi.
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Tabel 9. Data Pengamatan Pengepresan
Berat Berat Waktu Kapasitas Randement
Kel
Awal (kg) Akhir (kg) (jam) (kg/jam) (%)
1 1,25 0,65 0,6527 1,92 52
2 1,35 0,725 0,135 1,0 53,70
3 1,26 0,575 0,08 15,75 45,63
4 1,3 1,125 0,085 15,29 86,53
5 2,4 0,625 0,1275 18,823 26
6 1,1 0,6 0,026 42,30 54,54
7 1 0,56 0,083 12,05 56
8 1,325 0,7 0,1725 7,68 52,83
9 1,262 0,7 0,2 6,31 55,47
10 1,245 0,6 0,12 10,375 48.19
11 1,2 0,625 0,193 6,218 52,08
12 1,5 1,3 0,083 18,07 86,67
Sumber: Laporan Sementara

Proses ekstraksi parutan kelapa bertujuan untuk mengeluarkan cairan


dari parutan kelapa. Untuk mendapatkan hasil yang baik, maka
pengepresan dilakukan dari kedua sisi (atas dan bawah). Pada praktikum
ekstraksi ini menggunakan komoditas kelapa yang telah diparut seberat 1,1

40
kg. Dari hasil percobaan 1,1 kg parutan kelapa diperoleh cairan hasil
ekstraksi seberat 0,6 kg. Oleh karena itu, didapat rendemen sebesar
. Lama waktu yang diperlukan untuk proses ekstraksi selama
jam. Kemudian didapatkan nilai kapasitas alat/mesin ekstraksi
sebesar 42,30 kg/jam.
Faktor yang mempengaruhi banyaknya hasil ekstraksi atau kapasitas
kerja adalah bobot produk yang akan diekstraksi, berat cairan hasil
ekstraksi dan lama proses ekstraksi. Dalam proses ekstraksi, hasil cairan
yang diperolah juga dipengaruhi oleh faktor kuatnya
penekanan/pengepresan oleh plat pengepres dan oleh pompa hidrolik.
Apabila pengepres kuat (dibantu pompa hidrolik) maka sari buah yang
dihasilkan akan semakin banyak.
7. Kesimpulan
Dari hasil praktikum acara pengepresan/ekstraksi ini dapat
disimpulkan sebagai berikut :
a. Prinsip kerja alat pengepres/ekstraksi adalah produk ditekan oleh tuas
pengepres sehingga didapatkan cairannya.
b. Ekstraksi merupakan proses pengambilan cairan dari dalam komoditas
pangan dengan mengepresnya dan menggunakan konsep pompa
hidrolik.
c. Kapasitas yang diperoleh adalah sebesar 42,3 kg/jam.
d. Randement yang diperoleh adalah sebesar 54,54 %.
e. Faktor yang mempengaruhi banyaknya hasil ekstraksi atau kapasitas
kerja adalah bobot produk yang akan diekstraksi, berat cairan hasil
ekstraksi dan lama proses ekstraksi.
f. Dalam proses ekstraksi, hasil cairan yang diperolah juga dipengaruhi
oleh faktor kuatnya penekanan/pengepresan oleh plat pengepres dan
oleh pompa hidrolik.
g. Pengepresan yang kuat (dibantu pompa hidrolik) maka sari
buah/komoditas pangan yang dihasilkan akan semakin banyak.

41
K. PENGGORENGAN SECARA VACUUM (VACUUM FRYING)
1. Gambar Alat dan Mesin

Gambar 11. Alat/Mesin Penggorengan Secara Vacuum


2. Bagian Utama dan Fungsi
a. Bak Penampung Air : tempat menampung air
b. Tabung gas : tempat gas elpiji
c. Mesin Pompa : untuk menyedot air
d. Tabung Vacum : tabung sirkulasi air berkecepatan
tinggi
e. Selang Gas : tempat gas mengalir
f. Kotak Panel : monitor atau pengatur
g. Pegangan : untuk mengangkat tutup
h. Tutup Tabung vacum : sebagai penutup
i. Tuas Pemutar : pemutar bahan agar merata
j. Penglihat Tekanan : untuk melihat tekanan
k. Penglihat Produk : untuk melihat produk dalam tabung
l. Kompor Gas : sebagai sumber panas
3. Prinsip Kerja
Untuk menggoreng bahan yang berkadar air tinggi dalam tabung hampa
udara dengan suhu rendah dan tekanan vakum.

42
4. Mekanisme Kerja
Memasukkan air dalam bak, kemudian mesin penyedot dihidupkan,
setelah itu tempat produk diisi minyak goreng penuh kemudian air
dalam produk menguap melalui pipa uap dan produk itu keluar ke bak
penampung. Terjadi sirkulasi berkecepatan tinggi sehingga tekanan
turun sehingga suhu rendah atau titik didih rendah.
5. Cara Kerja
a. Memasukkan minyak penggoreng ke dalam tabung penggoreng
b. Menyalakan kompor gas
c. Mengamati suhu minyak penggoreng dan tekanan penggoreng
d. Memasukkan produk yang akan digoreng
e. Mengamati tingkat kematangan bahan yang digoreng
f. Mencatat lama, suhu, tekanan, dan kualitas penggorengan
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Penggorengan vakum (Vacuum frying) merupakan suatu
cara menggoreng secara vakum dengan menggunakan suhu rendah.
Prinsip kerja alat ini adalah menggoreng bahan yang berkadar air tinggi
dalam tabung hampa udara dengan suhu rendah dan tekanan vakum.
Bahan yang biasanya digoreng adalah bahan yang berkadar air tinggi
seperti nangka, nanas, dan salak.
Pada penggorengan vakum ini yang juga perlu diperhatikan
adalah minyak goreng, karena minyak goreng yang digunakan harus
baru dan seimbang dengan bahan agar kekeringan produk dapat
bersamaan. Apabila minyak yang digunakan adalah jelantah maka akan
merusak “penampilan” produk.
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam penggorengan secara
vakum adalah lama , suhu , tekanan dan kualitas penggorengan, debit
air, luas penampang pada selang, dan kecepatan sirkulasi air. Semakin
cepat sirkulasi air, maka tekanannya semakin rendah sehingga bahan
yang digoreng akan cepat matang. Karena, dengan tekanan yang
rendah, titik didih dan suhunya juga akan semakin rendah.

43
7. Kesimpulan
Dari praktikum acara Penggorengan Vakum ini, dapat disimpulkan
sebagai berikut :
a. Penggorengan secara vakum menggunakan suhu rendah.
b. Bahan yang digoreng adalah yang kadar airnya tinggi.
c. Minyak goreng yang digunakan harus baru dan seimbang dengan
bahan agar kekeringan produk dapat bersamaan, karena jika
menggunakan minyak jelantah maka akan merusak “penampilan”
produk.
d. Faktor yang berpengaruh dalam penggorengan secara vakum ialah
lama waktu, suhu, tekanan dan kualitas penggorengan, debit air,
luas penampang pada selang, dan kecepatan sirkulasi air.

L. PENGEMASAN (PACKAGING)
1. Gambar Alat/Mesin

Gambar 12. Alat/Mesin Pengemasan

44
2. Bagian Utama dan Fungsi
a. Motor : tenaga penggerak
b. Transmisi : untuk menyalurkan energi
c. Rol penutup 2 : untuk merapatkan / menutup kaleng
d. Rol penutup 1 : untuk merapikan
e. Handle : mengendalikan rol penutup 1 dan 2
f. Pemegang Kaleng: untuk meletakkan kaleng
g. Pijakan : untuk menurunkan pemegang kaleng
h. Saklar : mematikan dan menghidupkan mesin
i. Sumber listrik : sumber tenaga
j. Frame : untuk menopang bagian-bagian utama
3. Prinsip Kerja
Menutup dan merapikan serta merapatkan kaleng menggunakan rol
penutup 1 dan rol penutup 2
4. Mekanisme Kerja
Kaleng beserta tutupnya diletakkan ditempatnya, tutup dicetak dengan
menggunakan ceakan tutup atas, kemudian dirapatkan sampai merapat
dengan rol penutup 2 kemudian dirapatkan dengan rol penutup 1. kaleng
diletakkan pada tempat pegangan dan cetakan atas dengan handle,
kemudian saklar dinyalakan sehingga motor pemutar menyala dan
kaleng berputar, tekan rol penutup 2 untuk merapatkan kaleng dan rol
penutup 1 untuk merapikan kaleng.
5. Cara Kerja
a. Mengontrol semua transmisi, dan dipastika sudah terpasang dengan
baik
b. Memastikan rol pengemas, pemegang kaleng, dan cetakan atas sudah
terpasang dengan benar
c. Menghubungkan ke sumber tenaga listrik dengan mesin
d. Menyiapkan kaleng dan bahan yang akan dikemas
e. Menurunkan pemegang kaleng dengan menginjak ke bawah
f. Meletakkan kaleng berikut bahan yang dikaleng pada cetakan

45
g. Menghidupkan mesin dengan menekan tombol listrik
h. Meletakkan penutup kaleng pada kaleng yang akan dijadikan
pengemas
i. Merapatkan penutup kaleng denganrol penutup
j. Mengamati hasil pengemasan kaleng apakah hasilnya sudah baik
k. Melakukan pemutaran rol pengemas jika hasil pengemasan dirasa
kurang baik
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Pengemasan biasanya digunakan untuk mengemas bahan yang
dikaleng. Hal ini dilakukan agar bahan yang dikemas terhindar dari
kontaminan zat-zat yang dapat menyebabkan produk cepat mengalami
kerusakan sehingga diharapkan produk yang dikaleng tetap awet meskipun
disimpan dalam waktu yang lama.
Pengalengan makanan adalah suatu proses pengemasan makanan
dengan mengepak makanan tersebut di dalam wadah gelas atau kaleng
yang dapat ditutup secara hermitis sehingga kedap udara. Faktor-faktor
yang mempengaruhi pengemasan yaitu bobot produk, bahan pengemas
dan waktu dalam pengemasan.
7. Kesimpulan.
Dari praktikum acara Pengepresan ini dapat disimpulkan sebagai
berikut :
a. Pengemasan dilakukan agar bahan yang dikemas terhindar dari
kontaminan zat-zat yang dapat menyebabkan produk cepat mengalami
kerusakan sehingga diharapkan produk yang dikaleng tetap awet
meskipun disimpan dalam waktu yang lama.
b. Pengalengan makanan adalah suatu proses pengemasan makanan
dengan mengepak makanan tersebut di dalam wadah gelas atau kaleng
yang dapat ditutup secara hermitis sehingga kedap udara.
c. Faktor yang berpengaruh dalam pengemasan ialah bobot produk bahan
pengemas dan lamanya pengemasan.

46
M. PEMISAHAN CAIRAN DENGAN GAYA SENTRIFUGAL
(CENTRIFUGASING)
1. Gambar Alat dan Mesin

Gambar 13. Alat/Mesin Sentrifugal


2. Bagian Utama dan Fungsi
a. Penutup : untuk menghindari bahan berhamburan keluar
b. Sentrifuge : tempat tabung reaksi
c. Tabung reaksi : tempat bahan.
d. Indikator power : menyalakan / menghidupkan alat.
e. Pengatur rpm : untuk mengatur rpm yang dikehendaki
f. Pengatur waktu : untuk mengatur lamanya waktu yang dikehendaki
g. Steker : penghubung sumber listrik.
3. Prinsip Kerja
Memisahkan air dengan VCO berdasarkan berat jenis.
4. Mekanisme Kerja
Motor diputar sehingga timbul gaya sentrifugal dari prosen mesin. Gaya
tersebut juga akan mengenai / berlaku di dalam tabung crude oil (VCO,
yang belum dimurnikan ) karena berat jenis air lebih besar daripada
VCO, akibat gaya sentrifugal ini VCO dan air akan memisahkan
(pemisahan karena perbedaan berat jenis).

47
5. Cara Kerja
a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan disentrifuge
b. Memasukkan bahan yang akan disentrifuge ke dalam tabung reaksi
sampai penuh sesuai tanda pada tabung reaksi tersebut
c. Menghubungkan sentrifuge dengan sunber listrik
d. Memasukkan tabung-tabung reaksi yang sudah diisi bahan yang
akan disentrifuge
6. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Centrifugasing ini digunakan untuk memisahkan air dengan VCO
berdasarkan perbedaan berat jenis. Dimana bahan yang mempunyai
berat jenis lebih kecil akan berada di atas bahan dengan berat jenis yang
lebih besar. Pada santan kelapa terdapat air dan VCO, karena berat jenis
air lebih besar daripada VCO maka VCO akan berada di atas dan air di
bawah. Bahan yang berat jenisnya lebih kecil kemudian dikenai gaya
sentrifuge atau terkena putaran akan berada di atas bahan yang
mempunyai berat jenis lebih besar.
Faktor yang mempengaruhi centrifugasing ialah bahan yang
digunakan, rotasi per menit dan waktu. Walaupun hanya 1 tabung
yang berisi bahan yang akan dipisahkan VCO–nya tetapi tabung yang
lain juga harus diisi dengan air agar perputarannya dapat sempurna.
7. Kesimpulan.
Kesimpulan dari praktikum acara centrifugasing ini ialah :
a. Centrifugasing digunakan untuk memisahkan air dengan VCO
berdasarkan perbedaan berat jenis.
b. Faktor yang berpengaruh adalah waktu, bahan yang digunakan dan
rotasi per menit (rpm).

48
N. ROTARY EVAPORATOR
1. Gambar Alat/Mesin

Gambar 14. Alat/MesinRotary Evaporator


2. Bagian Utama dan Fungsi
a. Water bath : memanaskan air
b. Destilan : tempat awal bahan
c. Destilat : tempat menampung alkohol
d. Kondensor : mendinginkan cairan
e. Katup : menstabilkan tekanan
f. Sumber air untuk kondensor : berisi air dingin untuk kondensor
g. Pompa vacum : memvacumkan udara
h. Tombol on-off : menghidupkan/mematikan mesin
i. Pengatur rpm : mengatur kecepatan rpm
j. Pengatur suhu : mengatur suhu yang dikehendaki
k. Penyangga : menyangga keseluruhan bagian
l. Pengatur kemiringan : mengatur kemiringan
m. Cincin pengait : mengaitkan destilan sebagai batang
evaporator
n. Pull-up : menaik-turunkan frame

49
3. Prinsip Kerja
Pemisahan campuran dua larutan berdasarkan perbedaan titik didih
antara keduanya disertai putaran (rotasi).
4. Mekanisme Kerja
Bahan dimasukkan dalam labu bahan, kemudian water bath dinyalakan.
Mesin kemudian dihidupkan secara keseluruhan baik mesin vakum,
mesin pompa, sedemikian hingga labu bahan akan berputar. Zat dengan
titik didih lebih rendah menguap menuju kondensor dan terkondensasi
(mengembun) menuju labu distilat.
5. Cara Kerja
a. Merendam serbuk jahe dengan alkohol dengan perbandingan 1 : 3
selama 1 malam
b. Menyaring
c. Memasukkan filtrat pada labu bahan
d. Merangkai alat Rotary Evaporation
e. Mengeset suhu, RPM, serta pompa vakum
f. Menjalankan Rotary Evaporation dan mencatat waktu pengoperasian
b. Menganalisis kapasitas alat dengan mengukur ml destilat
c. Mencatat hasil
6. Pembahasan
Rotary evaporator merupakan alat yang terdiri dari kondensator,
rotary machine, tabung destilasi, tabung destilat, pompa air, speed rpm,
pompa vaccum, waterbath, pengatur tinggi rendah frame, saklar on/off
waterbath, dan saklar on/off keseluruhan. Pada alat rotary evaporator
memiliki mekanisme kerja yaitu bahan dimasukkan dalam labu bahan,
kemudian secara keseluruhan baik mesin vaccum, mesin pompa,
sehingga labu bahan akan berputar. Zat dengan titik didih lebih rendah
menguap menuju kondensor dan terkondensasi menuju ke labu destilat.
Bahan yang digunakan dalam evaporasi adalah larutan oleoresin,
merupakan hasil pencampuran dari larutan cengkeh dengan alkohol 90%
yang didiamkan selama satu malam. Oleoresin di evaporasi maka akan

50
terpisah menjadi minyak cengkeh, air dan alkohol kembali. Pada prses
evaporasi yang akan menguap adalah alkohol, karena alkohol memiliki
titik didih rendah sehingga lebuh mudah menguap dibandingkan dengan
air ataupun cengkeh. Setelah menguap, uap alkohol ditampung di labu
kondensor untuk didinginkan kembali, sehingga uap dapat berubah
menjadi cair, alcohol dapat dimanfaatkan kembali. Sedangkan air akan
tertinggal pada labu destilat yang terpisah dengan minyak cengkeh.
Dari praktikum ini dapat diketahui bahwa titik didih alkohol lebih
rendah daripada titik didih air dan minyak cengkeh. Sehingga dalam
proses evaporator dipengaruhi antara lain besar kecilnya titik didih
bahan dan suhu
7. Kesimpulan
a. Rotary evaporator digunakan untuk memisahkan cairan berdasarkan
perbedaan titik didih yang ada.
b. Alat rotary evaporator terdiri dari kondensator, rotary mechanic, tabung
destilasi, tabung destilat, pompa air, speed rpm, pompa vaccum,
waterbath, pengatur tinggi rendah frame, saklar on/off waterbath, saklar
on/off keseluruhan.
c. Bahan yang digunakan dalam potary evaporator adalah oleoresin
d. Oleoresin dipisahkan menjadi minyak cengkeh, air, dan larutan alkohol
90%
e. Hasil dari rotary evaporator adalah minyak cengkeh.
f. Titik didih alkohol lebih rendah daripada minyak cengkeh dan air.
g. Rotary evaporator dipengaruhi oleh besar kecilnya titik didih bahan dan
suhu.

51
IV. SARAN

Praktikum Mesin dan Peralatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu


tanggal 30 Oktober 2010 dan pada hari Minggu tanggal 31 Oktober 2010 di
Laboratorium Rekayasa Proses Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret ini kami rasa sudah baik, namun ada
beberapa hal yang kami harapkan dapat menjadi masukan yang membangun untuk
praktikum selanjutnya. Hal tersebut diantaranya :
1. Ada peralatan yang belum lengkap jadi perlu dilengkapi untuk kesempurnaan
praktikum selanjutnya.
2. Peralatan yang sekiranya sudah rusak atau tidak berfungsi sebagaimana
mestinya sebaiknya segera diperbaiki atau diganti dengan yang baru.
3. Perlu adanya keterangan yang jelas mengenai pelaksanaan kegiatan praktikum
sehingga tidak menimbulkan kesimpangsiuran informasi dari koordinator
praktikum yang menyebabkan miscommunication dengan para praktikan.
4. Perlu adanya kesamaan persepsi di antara Co-ass praktikum ini, agar tidak
menimbulkan kebingungan dan kesimpangsiuran informasi mengenai format
pembuatan laporan praktikum oleh praktikan yang disebabkan perbedaan
kebijakan para Co-ass mengenai pembuatan laporan praktikum.

52
DAFTAR PUSTAKA

Affandi, K. Muchtar. 1980. Petunjuk Praktek Alat/Mesin Pengolahan Hasil


Pertanian. Depdikbud. Jakarta.
Anonima.2010. Distilasi. id.wikipedia.org/wiki/distilasi. Diakses pada hari Selasa
23 November 2010 pukul 17.26 WIB
Anonimb.2010. Alat dan Mesin. billyjoeadam.blogspot.com. Diakses pada
hari Selasa 23 November 2010 pukul 19.54 WIB.
Anonimc.2010.Alat Pengering Modern dan Tradisional dalam Industri Pangan.
www.diligib.Unikom.ac.id. Diakses pada hari Selasa 23 November 2010
pukul 19.59 WIB.
Anonimd. 2010. Pembuatan Mesin Penepung Beras. student-research.umm.ac.id.
Diakses pada hari Kamis 25 November 2010 pada pukul 17.00 WIB.
Anonime.2010.Goreng Sangan. www.scribd.com. Diakses pada hari Selasa 23
November 2010 pukul 20.40 WIB
Anonimf.2010. Kegunaan Mesin Penggiling. onnyfahamsyah.blogspot.com.
Diakses pada hari Selasa 23 November 2010 pukul 20.00 WIB.
Anonimh . 2010. Membuat Keripik Buah & Sayur dgn Penggoreng Hampa.
indocitagro.co.id. Diakses pada hari Rabu tanggal 24 November 2010
pukul 12.00 WIB.
Anonimg. 2010. Rancang Bangun Mesin Penggiling Daging Teri. library.its.ac.id.
Diakses pada hari Rabu tanggal 24 November 2010 pukul 12.10 WIB.
Anonimi. Perubahan Mutu Sale Pisang Sumedang Selama Penyimpanan dengan
Teknik Pengemasan. dc181.4shared.com/download/.Diakses pada hari
Rabu tanggal 24 November 2010 pukul 12.10 WIB.
Anonimj.2010. Rotary Evaporation. en.wikipededia.com. Diakses pada hari Rabu
24 November 2010 pukul 17.00 WIB.
Darsam. Afandi. 1981. Teknik Pengolahan Hasil Pertanian. Gramedia.Jakarta
Earle, R.L. 1969. Satuan Operasi dan Pengolahan Pangan. Sastra Hudaya. Bogor
Hartini, Sri Setia.1978. Pengetahuan Alat dan Mesin Pengolahan Hasil
Pertanian.Depdikbud. Jakarta.
Husni, 2001. Aplikasi Rancang Bangun Alat Pemecah Cangkang Kemiri Tipe
Sentrifugal Energi Listrik. http://repository.unand.ac.id/4467/1/PDF.pdf.
Diakses pada hari Rabu tanggal 24 November 2010 pukul 14.10 WIB.
Iswoyo, Tri S. 1978. Pengolahan Bahan Hasil Pertanian 2. Depdikbud. Jakarta.
Nasution, Moch Zei. 1977. Pengolahan Hasil Pertanian. Depdikbud.Jakarta.

53
Septianto, Dedy.2008. Analisis Perencanaan dan Perancangan Transmisi Sabuk-
V Pada Mesin Pengaduk. library.gunadarma.ac.id/abstraction_20403199-
skripsi_fti.pdf. Diakses pada hari Kamis 25 November 2010 pukul
20.00 WIB.
Wahyudi, Nanang. 2008. Perancangan dan Pembuatan Mesin Pemarut Singkong
Untuk Pembuatan Tepung Tapioka dengan Cara Basah.www.azetsurya.com/
download.php. Diakses pada hari kamis 25 November 2010 pukul
19.00 WIB.

54