Anda di halaman 1dari 3

Keuntungan A C FTA bagi Indonesia

Indonesia harus memanfaatkan kesempatan dalam perjanjian kawasan perdagangan


bebas untuk meningkatkan perekonomian nasional dengan cara simbiosism u t u a l isme
dengan
negara-negara tetangga. Ini merupakan momen tepat untuk membuka lebih luas
perdagangan
industri dalam negeri agar semakin going global.
1. BUMN akan diuntungkan dengan adanya A S E AN -C hina Free Trade Agreement
karena akan mendapatkan bahan baku impor yang murah . Untuk ekspor pun
lebih mudah tanpa hambatan tarif dari C hina dan AS E AN.
ACFTA sesungguhnya secara agregat memiliki dampak yang positif bagi
BUMN. BUMN-BUMN konstruksi akan dengan mudah mendapatkan bahan baku
untuk kegiatan konstruksinya dengan murah seperti besi dan baja. Selain itu BUMN-
BUMN yang banyak membutuhkan mesin-mesin impor juga akan dengan mudah
mendapatkannya dengan murah. Dengan demikian Impor bagi Indonesia akan
menjadi lebih murah, sehingga harga barang-barang menjadi lebih murah pula.
Sedangkan untuk ekspor, beberapa BUMN juga akan diuntungkan dengan kemudahan
yang diperoleh dari China dan anggota ASEAN.
2. Indonesia dapat menjadi pemain utama dalam A C FTA karena berbagai
keunggulan produk yang dihasilkan dibandingkan dengan Negara A S E AN yang
lainnya.
Indonesia memiliki banyak keunggulan dibandingkan negara lain di ASEAN
sehingga komoditas yang diproduksi sangat mampu bersaing dalam era perdagangan
terbuka dan yang perlu dicari ialah win-win solution dengan China.
3.Penerapan Asean-C hina Free Trade Area (AC FTA) dalam jangka panjang
justru membawa dampak positif bagi Indonesia . Pasalnya AC FTA dapat
meningkatkan daya beli masyarakat .
ACFTA dapat meningkatkan daya beli masyarakat karena terdapat dua cara untuk
meningkatkan daya beli, yakni menaikan pendapatan dan menurunkan harga.
Dibutuhkan upaya pemerintah dalam membangun sektor infrastruktur Indonesia
dalam 5-10 tahun ke depan demi memudahkan re-industrilisasi.
4.AseanC hina Free Trade Agreement (AC FTA) lalu berpotensi menurunkan laju
inflasi atau deflasi.
Hal ini dikarenakan barang-barang impor dari Asean dan China akan lebih murah.
Salah satu contoh dari dampak positif ini adalah produk-produk impor misalnya
sandang yang sekarang sedang mengalami deflasi, nanti akan deflasi lagi karena harga
murah.
5 S ektor perkebunan Indonesia mendapatkan manfaat yang cukup besar dalam

pemberlakukan AC FTA.
Pada tahun 2004-2005, neraca perdagangan Indonesia dengan China hanya mencapi
sekitar 800 juta Dolar AS. Namun sejak perdagangan bebas itu diberlakukan, nilai
neraca perdagangan itu meningkat 300% menjadi sekitar 2,4 miliar Dolar AS. Hampir
semua nilai neraca perdagangan yang naik dari pemberlakukan perdagangan bebas itu
merupakan hasil produksi sektor perkebunan.
6. A C FTA Untungkan Perdagangan Regional
Pembentukan ACFTA akan menciptakan kawasan dengan 1,7 miliar
konsumen, suatu kawasan dengan produk domestik bruto (PDB) sekitar US$ 2,0
triliun dan total perdagangan setiap tahunnya mencapai nilai US$ 1,23 triliun.
Penghapusan rintangan perdagangan antara ASEAN dan Cina akan membantu
menurunkan biaya, meningkatkan volume perdagangan dan meningkatkan efisiensi
ekonomi. ACFTA tersebut akan menjamin stabilitas di Asia Timur dan memberikan
kesempatan baik negara anggota ASEAN maupun Cina untuk mempunyai peranan
lebih besar dalam perdagangan internasional yang memberikan keuntungan bersama.
7. A C FTA dapat memunculkan kreasi-kreasi yang inovatif, baik dari sisi produk
maupun pemasaran .
Kreasi-kreasi inovatif tersebut diharapkan berujung pada tumbuhnya jiwa
kreatif sekaligus kompetitif pada diri pengusaha Indonesia. Sehingga sumber daya
manusia yang ada di Indonesia dapat bersaing dengan negara lain. Saat ini saja di
wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah adalah salah
satu daerah di Indonesia yang sangat mampu untuk melakukan persaingan itu.
8. Indonesia akan memiliki pemasukan tambahan dari PPN produk-produk baru
yang masuk ke Indonesia .
Tambahan pemasukan itu seiring dengan makin banyaknya obyek pajak dalam
bentuk jenis dan jumlah produk yang masuk ke Indonesia. Beragamnya produk China
yang masuk ke Indonesia dinilai berpotensi besar mendatangkan pendapatan pajak
bagi pemerintah

3 .2 Dampak Positif FTA A S E AN- C hina terhadap S ektor Perkebunan


Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) optimistis
berlakunya
ASEAN-China Free Trade Agreement (AC-FTA) yang mulai berlangsung 1 Januari 2010
akan mendongkrak kinerja ekspor kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia
ke China. Menurut Sekretaris Jendral Gapki Joko Supriyono, pemberlakuan AC-FTA akan
mempermudah dan menambah volume ekspor CPO Indonesia ke China.
Sepanjang empat tahun terakhir kebutuhan impor CPO China selalu di atas angka 5
juta ton. Negara Tirai Bambu ini memerlukan minyak sawit untuk dijadikan bahan baku
pembuatan minyak goreng dan mie instan yang menjadi makanan pokok masyarakatnya.
Pada 2009 , Berdasarkan data Gapki, pasar CPO di China telah mencapai 6 juta ton
dan palm kernel oil sebanyak 500 ribu ton. Sebelumnya pada 2008, China mengimpor CPO
sebanyak 5,28 juta ton.
Pada 2008 , Gapki mencatat ekspor CPO Indonesia ke China mencapai 1,9 juta ton.
Jumlah ini diperkirakan akan meningkat pesat seiring dengan pemberlakukan FTA mulai
2010.
Pada 20 1 0 China diperkirakan mengimpor CPO di atas angka 6 juta ton, dari jumlah
itu ditargetkan Indonesia dapat mengekspor 2 juta ton CPO. Tetapi, kata Joko, permintaan
CPO ini kemungkinan dapat bertambah karena pemerintah China sedang mengembangkan
pemakaian biodiesel.
Sebelum pemberlakuan tarif AC-FTA, China memberlakukan tarif impor minyak
sawit mentah (CPO) sebesar 9%, tarif impor palm oil (excl. crude ) dan liquid fractions 9%,
tarif impor palm stearin 8%, tarif other palm oil and its fractions sebesar 9%, tarif impor
crude palm kernel oil dan fractions thereof sebesar 9%, tarif impor palm kernel oil (excl.
crude ) dan fractions thereof sebesar 9%

Di produk hilir minyak sawit, China menerapkan tarif impor industrial tall oil fatty
acids sebesar 16% , tarif industrial fatty alcohols sebesar 13%, dan tarif impor palmitic acid
5,5%. Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan menjelaskan pemberlakuan AC-FTA jelas
menguntungkan perdagangan ekspor CPO Indonesia ke China yang merupakan pasar CPO
terbesar di dunia. Selama ini, Indonesia lebih banyak mengekspor minyak sawit dalam bentuk
mentah, karena China menerapkan tarif lebih tinggi kepada produk turunan CPO Indonesia.
Pada 2009, pasar minyak nabati China mencapai 30 juta ton di mana minyak kedelai
memiliki porsi 40%, minyak sawit 24%, minyak kanola 17%, dan minyak kacang 7,5%.
Pemberlakuan tarif FTA sebesar 0% membuat produk CPO Indonesia dan turunannya
lebih kompetitif dengan Malaysia. Selain itu, produk minyak sawit Indonesia dapat
menyaingi komoditi minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak kanola, dan minyak
bunga matahari.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai perdagangan ekspor CPO
Indonesia ke China sebesar US$ 119,8 juta pada 2006, selanjutnya meningkat menjadi US$
158,2 juta pada 2007. Pada 2008, nilainya bertambah menjadi US$ 240 juta