Anda di halaman 1dari 8

AR6141

Arsitektur Budaya dan Pembangunan


Program Studi Arsitektur, Institut Teknologi Bandung

Budaya Matrilineal Masyarakat Minangkabau pada Arsitektur Rumah


Gadang

Wanda Yovita¹

agama menjadi dualisme dalam arsitektur


Abstrak— Salah satu komponen budaya yang erat Minangkabau itu sendiri.
kaitannya dengan hunian adalah tentang sistem Dapat disimpulkan bahwa budaya memiliki
kekerabatan. Sistem patriarki atau matriarki pada peranan penting dalam proses perencanaan,
kelompok masyarakat ternyata mempengaruhi bentuk perancangan hingga penggunaan lingkungan binaan
arsitektur rumah tradisional, yang salah satunya khususnya rumah tinggal tradisional. Budaya tidak
adalah pada arsitektur rumah tinggal tradisional berperan langsung terhadap lingkungan binaan, akan
Minangkabau yaitu rumah gadang. tetapi komponen budaya tersebutlah yang
Budaya matrilineal merupakan budaya terkait mempengaruhi hunian secara konkret. Kompromi
dengan gender dimana garis keturunan diturunkan yang panjang antara berbagai komponen budaya ini
melalui ibu. Suku Minangkabau memiliki arsitektur menjadi manifestasi budaya Minangkabau yang dapat
yang sangat khas demikian juga dengan kebudayaan dilihat dari hunian tradisionalnya yaitu rumah gadang.
matrilinealnya. Tidak banyak budaya Indonesia yang Kata Kunci : budaya, matrilineal, minangkabau, arsitektur, tata
menganut sistem ini, sedangkan suku Minangkabau ruang)
menganut sistem ini dan merupakan budaya
I. BUDAYA, ARSITEKTUR DAN PEMBANGUNAN
matrilineal dengan jumlah terbesar di dunia.
Penelitian ini ingin melihat apakah ada pertimbangan Lingkungan binaan merupakan salah satu
yang signifikan terhadap lingkungan binaan manifestasi peradaban dan budaya manusia. Salah
masyarakat Minangkabau khususnya Rumah Gadang. satu bentuk lingkungan binaan yang sangat terkait erat
Berdasarkan kajian terhadap berbagai literatur dengan budaya adalah rumah tinggal. Rumah tinggal
yang dilakukan dalam penelitian ini, ditemukan sebagai ruang privat untuk keluarga atau sekelompok
bahwa sistem matrilineal yang dianut oleh masyarakat keluarga yang memiliki latar belakang budaya yang
Minangkabau memiliki peran yang cukup signifikan cenderung homogen merupakan manifestasi dari
pada tata ruang. Penggunaan rumah gadang ditujukan manusia yang mendiaminya. Rumah memiliki
oleh kaum ibu dan anak perempuannya sedangkan hubungan yang sangat personal dengan penghuninya
kaum laki-laki dianggap lebih banyak beraktifitas di sehingga rumah tidak hanya didefenisikan sebagai
luar rumah sehingga tidak diberikan tempat khusus. bangunan tempat tinggal saja, akan tetapi juga sebagai
Keutamaan akan harta pusaka yang diwariskan tempat berlangsungnya proses budaya dan sosial.
melalui garis keturunan ibu menunjukkan bahwa Pada arsitektur vernakular, aturan mengenai
perempuan memiliki andil yang cukup besar dalam bangunan rumah tinggal diwariskan turun temurun.
pembentukan lingkungan binaan. Walaupun demikian Budaya dalam mendirikan dan menghuni rumah
pada rumah gadang juga ditemukan segregasi ruang tinggal dapat berasal dari alam atau kepercayaan
antara perempuan dengan laki-laki di luar keluarganya tertentu. Budaya bermukim masyarakat vernakular
walaupun segregasi ini tidak seketat yang terjadi pada memiliki latar belakang budaya yang tinggi
rumah tradisional pada masyarakat yang menganut dibandingkan dengan masyarakat yang telah
sistem patrilineal. Akan tetapi hal yang terkait erat mengalami proses modernisasi.
pada sistem budaya masyarakat Minangkabau selain Kebudayaan adalah suatu sistem yang sifatnya
sistem matrilinealnya adalah kepercayaan terhadap abstrak dan dipakai sebagai sarana interpretasi atau
agama Islam yang kuat. Beberapa hal prinsipil yang referensi dalam mewujudkan tingkah laku
cukup bertentangan antara budaya turun menurun dan manusianya. Pandey dalam Jabareen (2005)
menyatakan bahwa hubungan antara budaya dan
lingkungan binaan terkait dengan berbagai disiplin
ilmu seperti antropologi, geografi, arsitektur dan studi
¹Wanda Yovita, 25209029, wandayov@yahoo.com

1
Gambar 1. Konsep budaya oleh Rapoport
(sumber: Rapoport, 2001).

perumahan. Rapoport (2001) menunjukkan bahwa II. KONSEP GENDER DAN MATRILINEAL
budaya memiliki beberapa komponen yaitu hubungan
kekerabatan, struktur keluarga, hubungan sosial, Spain (1992) menyatakan bahwa penataan spasial
peranan,, statur, identitas, institusi dan lain-lain. geografis dan arsitektural telah memperkuat
Budaya sendiri secara langsung tidak bisa perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Ruang
yang ada pada lingkungan binaan secara tidak
berpengaruh kepada lingkungan binaan. Akan tetapi
komponen-komponen budaya inilah yang langsung terbentuk dari stratifikasi gender. Hal ini
dapat terlihat dengan jelas pada arsitektur tradisional.
mempengaruhi secara langsung atas terbentuknya
lingkungan binaan khususnya pada organisasi ruang, Gender tidak selalu berarti perempuan dan laki-laki
yang dapat dibedakan dari jenis kelamin semata, akan
waktu, makna, dan komunikasi; tata cara; lansekap
budaya dan tampilan. Konsep budaya dan tetapi gender merupakan sebuah konsep yang lahir
dari proses sosial dan telah mengalami perjalanan
manifestasinya muncul tidak hanya pada persepsi,
kepercayaan, nilai, norma, kebiasaan dan tingkah panjang. Gender menurut Monsour Fakih dalam Eddy
laku, tapi juga desain pada objek dan lingkungan fisik (2008): “walaupun merupakan suatu sifat yang
pada lingkungan binaan. melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan,
tetapi merupakan konstruksi secara sosial meupun
Rumah tinggal merupakan bentuk lingkungan
kultural. Hal ini terkait dengan sifat maskulin dan
binaan yang terkait erat dengan budaya penghuninya.
Bentuk rumah, layout internal dan layout berhuni feminin sebagai sifat, tidak hanya perbedaan secara
dalam sebuah lingkungan lokal dapat dipengaruhi, biologis.
baik didukung maupun ditolak oleh penghuninya Pada penelitian yang dilakukan oleh Yosef Jabareen
(2005) dan Ritsuko Ozaki (2002) tentang preferensi
(Bochner, Ozaki, Rapoport dalam Jabareen, 2005).
Budaya menurut Geertz dalam Ozaki (2002) rumah tinggal yang ada pada kelompok masyarakat
yang berbeda yaitu masyarakat yang ada di kota Gaza
merupakan sistem hubungan organisasi dari
pengertian bersama. Maksud dari pengertian bersama (Palestina), Bracknell (Inggris) dan Kohoku New
tergantung pada RAS, etnis, suku, jenis kelamin dan Town (Jepang). Ketiga negara ini memiliki letak
lain-lain. Perbedaan latar belakang budaya penghuni geografis dan budaya yang sangat berbeda yaitu
antara timur, timur tengah dan barat. Secara umum
pada rumah tinggal dapat membedakan preferensi dan
cara hidup oleh penghuni. Konteks hunian merupakan sistem nilai yang dianut oleh masyarakat ketiga kota
ini sangat berbeda. Dari penelitian tersebut dijelaskan
elemen lingkungan binaan yang privat, pengguna atau
masyarakat yang merupakan pemilik dari hunian yang bahwa kota Gaza memiliki agama dan kepercayaan
bersangkutan memiliki kontrol penuh akan kegiatan yang kuat terhadap agama Islam, Bracknell dari
berhuninya. Oleh karena itu budaya masyarakat dalam Inggris menganut sistem privat dan individualisme
yang tinggi sedangkan kota Kohoku meyakini ajaran
hunian dapat dilihat secara langsung melalui
intervensi secara fisik pada bentuk misalnya dengan Konfusian. Dari perbedaan cara pandang ini, dapat
disimpulkan bahwa preferensi mereka dalam memilih
pola pembagian fungsi dan penentuan hirarki ruang.
hunian cukup berbeda. Kota Gaza misalnya,
menjunjung tinggi privasi perempuan di kaumnya
sehingga ruang untuk perempuan dibuat di ruang yang

2
jauh dari ruang utama dan menghindari kontak dengan perkembangan suku-suku di Indonesia. Matrilineal
tamu asing. Pada kota ini isu gender menjadi sangat merupakan konsep gender yang menyatakan bahwa
penting sesuai dengan kepercayaan mereka untuk garis keturunan diteruskan oleh kelompok perempuan.
melindungi perempuan. Sedangkan di Bracknell, isu Keberadaan sistem matrilineal sendiri di Indonesia
gender bukan merupakan permasalahan utama tidak terlalu banyak dan suku yang paling kental
sehingga perbedaan gender tidak terlalu berpengaruh dengan budaya matrilinealnya adalah budaya
terhadap tata ruang huniannya. Berbeda dengan Minangkabau. Garis keturunan yang diturunkan oleh
masyarakat di Kohoku, pada awalnya ruang untuk ibu menjadi keunikan tersendiri masyarakat
perempuan pada hunian tradisional diletakkan di Minangkabau diantara suku lainnya. Akibat sistem
ruang yang lebih privat untuk membatasi kontak garis keturunan ini, maka harta pusaka atau harta
dengan tamu asing, akan tetapi nilai ini kemudian berupa barang juga diturunkan dari ibu kepada anak
berubah, sehingga kungkungan ruang terhadap perempuannya. Pada masyarakat ini, peran laki-laki
perempuan lebih lunak, dan perempuan berada pada peran adat dan kepengurusan akan harta
diperkenankan untuk lebih mengenal orang luar benda tersebut akan tetapi tidak memilikinya secara
melalui tata ruang huniannya. pribadi.
Spain dalam bukunya Gendered Space,
menunjukkan bahwa ada segregasi ruangan antara III. STUDI KASUS: MASYARAKAT
laki-laki dan perempuan pada beberapa kelompok MINANGKABAU, RUMAH GADANG DAN
masyarakat tertentu. Pada rumah tinggal tradisional PEREMPUAN
masyarakat yang menganut agama Islam di Iran,
terdapat perbedaan ruang yang signifikan antara Masyarakat Minangkabau tinggal di propinsi
perempuan dan laki-laki (gambar 2). Batas teritori Sumatera Barat yang secara geografis, berada di atas
tidak hanya didefenisikan melalui kesepakatan akan 4.297.300 ha tanah dan terletak diantara 0º54’ LU
tetapi menggunakan batas fisik. Ruang untuk sampai 3º30’ sehingga daerah ini dilewati oleh garis
perempuan diletakkan di tempat yang paling sulit khatulistiwa. Sumatera Barat memiliki tanah yang
dijangkau dari luar. Perempuan memiliki batas lentur dan memiliki daya dukung rendah untuk
ruangan tertentu dan tidak bebas mengakses ruangan bangunan. Lebih dari setengah wilayah Sumatera
tertentu yang ditujukan untuk laki-laki. barat merupakan tanah perbukitan. Daerah Sumatera
Barat terletak di daerah tropis yang beriklim tropis
basah. Suhu rata-rata di Pantai Barat Propinsi
Sumatera Barat berkisar antara 21°C - 38°C, pada
daerah perbukitan berkisar antara 15°C – 34°C,
sedangkan pada daerah daratan disebelah timur Bukit
Barisan mempunyai suhu antara 19°C - 34°C.
Topografi alam Sumatera Barat yang dinamis juga
mempengaruhi cara membangun masyarakat
Minangkabau seperti halnya masyarakat tradisional
lain yang lebih memperhatikan keselarasan bangunan
terhadap alam.
Masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat
yang menganut agam Islam. Dalam falsafah hidup
mereka dikenal pepatah “Adat bersandi sarak, sarak
bersandi Kitabullah”, yang artinya seluruh
ketentuan-ketentuan hidup diatur oleh ketentuan-
ketentuan yang bersumber dari Al Qur’an. Seorang
anggota keluarga dari suku Minangkabau akan
kehilangan suku Minangnya jika dia menganut agama
lain di luar Islam. Masyarakat Minangkabau juga
merupakan masyarakat tradisional yang menganut
Gambar 2. Tata ruang rumah tradisional muslin di Iran sistem matrilineal yang terbesar di dunia. Fenomena
(sumber: Spain, 1992).
ini menjadi keunikan tersendiri di tengah banyaknya
suku di Indonesia yang cenderung menganut sistem
Konsep gender pada sebuah masyarakat tidak patrilineal. Sistem kinship atau kekerabatan ini
sama dengan kelompok masyarakat lainnya. Gender memiliki pengaruh dalam lingkugan binaan
terkait erat dengan latar belakang budaya dan khususnya rumah gadang, yang merupakan rumah
merupakan salah satu komponen budaya apabila tinggal tradisional masyarakat Minangkabau.
dilihat pada sebuah masyarakat yang khas. Patrilineal Perbedaan sistem kekerabatan dalam Islam yang
dan matrilineal sebagai sistem penerus garis keturunan cederung patrilineal sedangkan adat Minangkabau
merupakan komponen gender yang cukup khas ada di

3
yang matrilineal menunjukkan bahwa ada beberapa terhadap saudara dan kemenakan perempuannya yang
kompromi antara sistem adat dan agama dalam tinggal di rumah gadang keluarganya sendiri.
masyarakat sebagai bentuk budayanya sendiri. Mamak adalah saudara laki-laki ibu atau paman
dari kemenakan perempuannya. Mamak mendapatkan
STRUKTUR KELUARGA MASYARAKAT hak atas pusaka gelar yang diberikan kepadanya.
MINANGKABAU Mamak menjadi pemimpin kaum (mamak tungganai)
Sistem matrilineal dalam keluarga menyebabkan yaitu mengurus, memperbaiki dan mengerjakan harta
perempuan mendapatkan beberapa keutamaan pada pusaka yang dimiliki oleh perempuan. Walaupun
masyarakat Minangkabau. Salah satu keutamaannya posisinya sebagai pemimpin kaum, akan tetapi mamak
adalah pembagian harta warisan atau pusaka yang tidak memiliki tempat di rumah gadang karena
menunjukkan bahwa garis keturunan dilanjutkan oleh keseluruhan kamar adalah milik anak perempuan.
pihak wanita. Oleh karena itu warisan rumah gadang
juga menjadi tanggung jawab ibu untuk diteruskan RUMAH GADANG
pada putrinya. Sejak kecil, anak perempuan sudah Budaya membangun masyarakat Minangkabau
diarahkan untuk menjadi penerus garis keturunan, diteruskan dari generasi ke generasi dengan
termasuk diajarkan pekerjaan rumah tangga, adat memperhatikan hal-hal tertentu dan selebihnya
istiadat dan sistem kekerabatan dalam masyarakat menyesuaikan dengan kebutuhan dan faktor alam.
Minangkabau. Seorang anak perempuan dalam Kebiasaan masyarakat ini menuangkan aturan-aturan
masyarakat Minangkabau, walaupun mereka adalah tersebut terdapat pada pepatah-pepatah. Budaya
anggota keluarga inti pada rumah gadang, akan tetapi bersyair menjadi ketentuan adat masyarakat. Salah
mereka juga terlibat dalam kekerabatan yang lebih satu falsafah Minangkabau yang dianut adalah “Alam
besar yaitu pada skala kampung atau dusun. Karena takambang menjadi guru” yang artinya alam telah
tanggung jawab yang besar ini maka anak perempuan diciptakan sempurna dan selaras dan didalamnya
dalam masyarakat Minangkabau harus mengikuti adat banyak contoh yang baik.
dan aturan yang ada pada lingkungannya. Bangunan adat pada arsitektur Minangkabau
Pengertian keluarga pada masyarakat sangat beragam mulai dari rumah tinggal biasa, rumah
Minangkabau tidak seperti halnya keluarga inti yang gadang, istana, lumbung, balai adat, masjid dan lain-
privat yang terdiri dari ayah ibu dan anak. Keluarga lain. Bangunan yang dibahas pada tulisan kali ini
inti pada masyarakat Minangkabau ini merupakan dibatasi pada jenis rumah gadang secara umum yang
bagian dari keluaga kaum yang dipimpin secara adat merupakan rumah adat masyarakat Minangkabau
oleh mamak. sebagai tempat tinggal keluarga. Rumah Gadang
berarti rumah besar dan merupakan perlambang
kehadiran satu kaum dalam satu Nagari, dan sebagai
Mamak Ibu Ayah pusat kehidupan dan kerukunan seperti tempat
musyawarah keluarga dan untuk melaksanakan
upacara (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Anak  Anak laki‐ 1991). Menurut tradisi, rumah gadang adalah milik
perempuan laki kaum bukan perseorangan.
Rumah gadang memiliki bentuk yang khas yang
Gambar 3. Hubungan kekerabatan dalam rumah gadang dapat terlihat dari bentuk atap bagonjongnya dan
(sumber: Pribadi, 2010). sudah terkenal luas. Dengan struktur rumah panggung,
bagian bawah rumah gadang digunakan untuk
Ibu atau anak perempuan menjadi tokoh sentral kandang sedangkan bagaian atasnya merupakan
dalam keluarga yang tinggal di rumah gadang. Ibu tempat berhuni. Secara umum, rumah gadang
berhak atas harta pusaka berupa sawah, ladang, rumah memiliki konstruksi rumah panggung. Ukuran
gadang dan harta fisik lainnya untuk kemudian panjang rumah gadang disesuaikan dengan ukuran
diwariskan kepada anak perempuan. Sedangkan peran tanah yang datar yang tersedia di alam, sehingga
ayah dalam keluarga adalah sebagai orang semenda, terdapat kesesuaian dan komposisi yang baik antara
yang dihormati dan diperlakukan seperti tamu yang alam dan bangunannya. Ukuran lebar sama dengan
tetap dan dipandang sebagai pemberi keturunan akan empat ruang memanjang yang terdiri dari lima buah
tetapi tidak memiliki kekuasaan apapun dalam rumah tiang sedangkan ukuran tinggi ditentukan dalam ‘alua
gadang istrinya kecuali saat dia berperan sebagai jo patuik, raso katinggi diparandah, rasa karandah
mamak untuk keluarga saudara perempuan dari dipatinggi’ yang maksudnya adalah ukuran tinggi
keluarganya sendiri. Oleh karena itu juga, seorang diperlakukan sepantasnya sesuai dengan proporsi
suami tidak memiliki tanggung jawab langsung untuk yang baik (AR ITB, 1979). Masyarakat Minangkabau
menafkahi anak dan istrinya akan tetapi itu adalah menggunakan ketetapan ukuran ruang secara turun
tanggung jawab mamak tungganai sebagai pemimpin temurun. Hal ini dapat dilihat dari syair sebagai
kaum. Suami tersebut justru bertanggung jawab berikut.

4
Rumah paadang sambilaan ruang (1), salanjo kuda
baalari (2), sapaa kian budak maimbau
m (3), sekuat kubinn
malayang.
m
Syair satuu diinterpretaasikan bahwaa rumah adaat
adda 9 ruang panjangnya, satu ruang adalah jarakk
anntara dua koloom menurut potongan
p memmanjang; syaiir
2 berarti seeko or kuda yang berlari
b kencanng dalam satuu
saatuan waktu yangy k; syair 3 berrarti di antara
pendek
duua ruang yanng terjauh masih
m dapat didengar
d suara
annak yang meemanggil; sed dangkan syair 4 berarti ddi
daalam ruang teerdapat seekorr burung kubiin yang masihh Gambar 5. Denah rumah h gadang
(Suumber: Pribadi, modifikasi dari berbagai sumber.
daapat terbang sekencang-ke
s ncangnya. 2010.)
Walaupunn interpretasi terhadap ukuuran ini tidakk
mutlak,
m akan tetapi hal in ni mengindikaasikan bahwa
sistem strukturr rumah gad dang memilik ki sistem gridd
yaang repetitif. Karena tidak ada satuann atau standaar
ukkuran yang pasti
p maka ukuran
u tiap rumah
r gadangg
um mumnya berrbeda. Ukurran yang diipakai dalam m
peertukangan addalah ‘eto’ atau
a hasta. Untuk
U mencarri
koomposisi yanng tepat, ukuuran eto ini ditambah
d atauu
diikurangi satu jengkal. Ukuuran untuk saatu ruang kiraa-
e adalah 0.55 meter, maka
kiira 5-7 eto, apabila satu eto
ruumah adat yaang terpendek k yang terdirii dari 5 ruangg
yaang panjang gnya 12.5 meter sedaangkan yangg
teerpanjang yaittu 17 ruang makan panjaangnya adalahh Gaambar 6. Denah rumah gadang di
d Tanjung Batanng
599.5 meter. Ukkuran lebar addalah 10 sam mpai 14 meterr. (Sumbeer: Blackwood, 1999.)
1
Tiinggi lantai 5-7 eto atauu 2.5 sampaai 3.5 meterr.
Kemiringan
K sudut atap umumnya
u 455˚ sedangkann Rummah gadang sendiri seb benarnya memiliki
tinnggi gonjong disesuaikan dengan panjaang rumah dann bentuk yang
y berbedda-beda walaaupun tidak terlalu
tinngkat sosial penghuni.
p signifikaan tergantungg karakter sukku Minang tertentu
t
yang mendiaminya.
m Umumnya denah banngunan
rumah gadang
g mengggunakan sisttem grid dann open
layout. Layout
L ruanggan pada ruumah gadangg tidak
selalu simmetri, hal ini dapat dilihat pada rumah gadang
g
di dusunn Tanjung B Batang dalam m penelitiann yang
dilakukan n oleh Eveelyn Blackw wood (1999) yang
menunjuukkan bahwa arah masukk tidak selallu dari
depan-ten ngah akan tetapi
t dapat juga dari saamping
(gambar 6).
Massyarakat Minaangkabau san ngat memperhhatikan
alam un ntuk membaangun rumahh gadang. Mereka M
mengikuuti falsafah turun temurrun dan kem mudian
Gambar 4. Ruumah Gadang
menginteerpretasikannyya sesuai dengan alam.
(Sumber: Setyyowati, 2008.) Sudirmann Is (2000) menyatakan bahwa hirarkki adat
tertinggi ada pada hhukum alam yang beradaa pada
Rumah gadang
g send
diri sebenarnnya memilikki landasann filosofis, keemudian diikuuti oleh hukuun adat
beentuk yang berbeda-bedaa walaupun tidak terlaluu oleh keseepakatan yanng terjadi antaara para tokooh adat,
signifikan terggantung karakkter suku Miinang tertentuu adat yangg berkembangg dengan senndirinya dan terakhir
yaang mendiam minya. Umuumnya denaah bangunann adalah adat,
a kebiasaan dan traadisi praktiss yang
ru
umah gadangg menggunakkan sistem grid dan openn berlangsuung di masyaarakat (gambaar 7).
la
ayout. Layout ruangan pada p rumah gadang tidakk
seelalu simetri, hal ini dapat dilihat pada rumah
r gadangg
dii dusun Tan njung Batang g dalam pen nelitian yangg
diilakukan oleeh Evelyn Blackwood
B (1999) yangg
menunjukkan
m bahwa arah masuk tidaak selalu darri
deepan-tengah akan tetapi dapat juga dari sampingg
(g
gambar 6).
ini terjadi karena satu rumah gadang adalah milik
kaum sehingga penempatan ruang pun harus dibagi
antara keluarga inti satu dan yang lainnya. Pergeseran
ruang tidur ini menunjukkan bahwa ada perbedan
hirarki untuk penempatan keluarga yang lebih tua
untuk dituakan.

Gambar 7. Hirarki adat


(Sumber: Sudirman Is, 2000.)

Berikut ini adalah pembahasan terhadap aspek lanjar


fisik yang ada di bangunan rumah gadang dan bilik
hubungannya masing-masing dengan konsep
matrilineal: lanjar labua
A. Tata ruang dan hubungannya dengan konsep
matrilineal lanjar
Rumah gadang menggunakan struktur matrilineal balai
yang ditunjukkan dengan perempuan atau ibu dan
anak perempuannya sebagai sosok sentral dan Gambar 8. Kamar penghuni bergeser dari yang paling
kanan semakin ke tengah
dominan. Rumah gadang memang ditujukan untuk (Sumber: Pribadi 2010.)
perempuan dan keturunannya yang walaupun dapat
ditinggali oleh laki-laki dengan beberapa ketentuan. Jumlah kamar yang ada tergantung pada jumlah
Umumnya dalam sebuah rumah gadang, rumah ini perempuan yang tinggal di rumah gadang tersebut.
ditinggali oleh tiga generasi perempuan, mulai dari Ukuran kamar juga tidak terlalu besar karena kamar
nenek, ibu dan anak perempuan. tersebut hanya digunakan untuk tidur atau berganti
Rumah gadang ditinggali oleh beberapa keluarga baju dan kegiatan-kegiatan yang memiliki privasi
inti yang terikat dalam suadara sedarah dari ibu yaitu tinggi. Hal ini dikarenakan kebanyakan aktifitas
kaum ibu, suami dan anak perempuannya. Anak laki- dilakukan di luar kamar tidur. Pengaturan seperti ini
laki sendiri pada awalnya memiliki hak yang sama menunjukkan bahwa privasi di rumah gadang relatif
dengan anak perempuan untuk tinggal di rumah rendah karena memang masyarakat ini tidak menganut
gadang, akan tetapi saat anak laki-laki sudah berumur sistem individualisme. Anjuang merupakan ruang
diatas tujuh tahun, maka anak laki-laki tersebut tidur tambahan yang tidak selalu ada pada setiap rumah
di surau sedangkan anak perempuan tetap tinggal di gadang. Anjuang yang ada disebelah kanan dari pintu
rumah gadang. masuk dipergunakan untuk kamar para gadis. Anjuang
Status perkawinan anak perempuan tidak kanan ini juga terkadang digunakan untuk pengantin
mengubah statusnya dalam keluarga, tetapi suaminya baru selama belum ada anggota keluarga lain yang
akan tinggal di rumah gadang tersebut. Seorang menikah.
perempuan yang menjadi pengantin maka diberikan Rumah gadang terdiri dari beberapa lanjar yaitu
tempat yang paling istimewa dalam rumah gadang ruang memanjang yang lebarnya diperoleh dari jarak
yaitu di kamar yang terletak di ujung rumah. Ukuran kolom ke kolom. Lanjar yang terletak paling
kamar ini kadang lebih besar daripada kamar-kamar belakang digunakan untuk peletakan kamar-kamar.
lainnya dan kamar ini akan ditempatinya bersama Sedangkan lanjar yang berada ditengah, digunakan
suaminya akan tetapi apabila ada anak perempuan lain oleh para pemilik kamar untuk kgiatan menunggu
yang menikah, maka kamar ini diberikan pada tamunya masing-masing dan digunakan juga sebagai
pengantin baru tersebut. Setiap pengantin baru akan ruang interaksi antar sesama anggota penghuni rumah
menggeser pasangan suami istri yang lama ke kamar gadang. Lanjar paling depan digunakan untuk
yang ada disebelahnya dan hal ini terjadi berulang kali menerima tamu salah satu anggota keluarga atau
hingga kamar yang ditempati pasangan tertua akan tamu adat hingga rapat adat. Lanjar paling depan
berada di tempat yang lebih mendekati dapur atau merupakan ruang yang paling publik di antara ruang
ruang yang lebih di tengah dibanding sebelumnya. Hal lainnya.

6
Dalam menerima tamu khususnya untuk urusan Semakin ke belakang, maka hirarki ruang
adat, maka perempuan tertua atau yang dituakan menjadi semakin privat. Privatisasi ini juga dapat
dalam rumah gadang, akan ikut terlibat dalam dilihat bahwa dari semua ruang, hanya ruangnan
musyawarah yang menunjukkan bahwa memang ada kamar yang memiliki dinding sedangkan ruangan lain
porsi perempuan dalam keputusan adat Minangkabau. hanya di beri partisi, bahkan ruang tamu tidak
Hal ini juga menunjukkan bahwa perempuan tidak memiliki partisi sama sekali atau menggunakan tata
selalu dikungkung atas ruang tertentu pada rumah ruang terbuka.
gadang.
Pada rumah gadang tidak ditemukan kamar C. Proses membangun dan hubungannya dengan
mandi atau toilet. Hal ini dikarenakan masyarakat konsep matrilineal
yang menganggap rumah gadang adalah tempat sucu Dalam proses membangun rumah gadang, kaum
sehingga tidak boleh dikotori oleh hal-hal najis yang wanita sebagai pewaris harta pusaka tidak terlibat
ada pada kamar mandi maupun toilet. Sedangkan langsung dalam proses pengambilan keputusan
dapur diletakkan pada bagian belakang rumah dan maupun ketenagakerjaan. Pengambilan keputusan
dekat dengan kamar tidur. Peletakan kamar dan dapur tetap dilakukan oleh laki-laki selaku penghulu suku.
yang kegiatannya erat dengan perempuan, keduanya Pendirian rumah adat ditetapkan oleh ketentuan adat
berada di bagian belakang rumah gadang atas mufakat para penghulu suku.
menunjukkan bahwa tempat untuk perempuan ada di Tenaga kerja dalam proses membangun rumah
bagian belakang. Faktor kepemimpinan oleh laki-laki gadang, diperoleh dari hubungan kekeluargaan.
terlihat dari peletakan ruang yang lebih di depan Hubungan yang erat antara mamak dengan
sedangkan perempuan berada pada ruang belakang. kemenakan perempuan menjadi sumbu kekerabatan.
Orang-orang yang terlibat dalam kekeluargaan ini
B. Hirarki dan hubungannya dengan konsep akan ikut membantu pendirian rumah gadang.
matrilineal
Walaupun pengutamaan terhadap tata ruang IV. KESIMPULAN
untuk perempuan di suku Minangkabau cukup
Kekuatan sistem matrilineal pada masyarakat
signifikan, akan tetapi keberadaan laki-laki sebagai
pemimpin dalam rumah Gadang juga diperhatikan. Minangkabau dapat dilihat dari pengejawantahan fisik
bangunan tradisionalnya yaitu rumah gadang. Sebagai
Laki-laki jika berkegiatan di rumah gadang maka
dia akan ditempatkan di balai yang lebih dekat ke arah tempat berkegiatan sehari-hari penghuninya,
penghunian rumah gadang sangat didominasi oleh
luar rumah gadang. Hal ini bertujuan agar laki-laki
dapat memonitor tamu yang datang dan melindungi perempuan. Pada beberapa hal tertentu terutama
terkait adat, peran laki-laki yang memiliki
kaum perempuan.
Hirarki bangunan rumah gadang menunjukkan kekerabatan atau hubungan darah dengan pemilik
bahwa semakin ke arah pinggir dari tengah rumah, rumah juga cukup signifikan, berbeda dengan laki-laki
maka ruang itu semakin privat. Walaupun ruang yang hanya memiliki hubungan kekerabatan akibat
perkawinan. Struktur keluarga pada anggota penghuni
semakin privat, akan tetapi dengan meletakkan orang
rumah gadang memiliki struktur garis utama dari ibu
yang lebih tua berada di tengah, hal ini menunjukkan
penghormatan kepadanya oleh anggota keluarga yang dan anak-anak perempuannya. Kamar yang
lain. dikhususkan bagi perempuan dan suaminya dan
Hirarki pada rumah gadang dapat dilihat dari diagram kepemilikan harta pusaka oleh perempuan akan tetapi
adanya ketetapan dan urusan adat yang dipegang oleh
berikut:
laki-laki menunjukkan bahwa hubungan perempuan
dan laki-laki pada rumah gadang sebenarnya berjalan
harmonis. Kungkungan ruang atau gendered space
tidak mengikat kelompok perempuan untuk
beraktifitas dengan orang luar.
Perempuan tertua atau yang dituakan terlibat
dalam penerimaan tamu dan rapat adat yang terjadi di
rumahnya. Peran laki-laki lebih kuat pada identitasnya
sebagai mamak atau paman dari kemenakan
perempuan dari saudara perempuannya. Keutamaan
peran mamak di sini juga sebatas pada sistem adat,
atau pusaka gelar yang perannya lebih abstrak
Gambar 9. Hirarki rumah gadang
(Sumber: Pribadi, modifikasi dari berbagai sumber.
dibandingkan hak atas harta pusaka berupa barang
2010.) seperti rumah, ladang, dan lain-lain. Akan tetapi hal
yang terkait erat pada sistem budaya masyarakat
Minangkabau selain sistem matrilinealnya adalah
kepercayaan terhadap agama Islam yang kuat. Agama

7
islam yang cenderung patrilineal memiliki beberapa menanggung saudara dan kemenakan perempuannya
pertentangan dengan sistem matrilineal ini. Perbedaan dianggap terlalu berat dan tidak logis untuk diterapkan
yang signifikan antara rumah gadang dengan hunian pada masyarakat sekarang ini. Tanggung jawab kini
tradisional lain dimana penghuninya menganut agama dilakukan oleh suami pada anak dan istrinya,
Islam adalah tentang kebebasan ruang bagi menggantikan peran mamak pada adat istiadat
perempuan. Demikian juga dengan tanggung jawab Minangkabau.
terhadap hunian yang berupa harta warisan, dimana
hukum Islam mengatur tentang hukum warisan ini REFERENSI
yang cukup berbeda dengan sistem matriarki Agus, Elfida. Kajian Topologi, Morfologi Dan Tipologi Pada Rumah
masyarakat Minangkabau. Beberapa hal prinsipil yang Gadang Minangkabau. Bung Hatta university.
Blackwood, Evelyn. (1999). Big Houses and Small Houses: Doing
cukup bertentangan antara budaya turun menurun dan Matriliny in West Sumatra. Ethnos, vol. 64:1.
agama menjadi dualisme dalam arsitektur Departemen Pendidikan dan kebudayaan. 1991. Arsitektur Tradisional
Daerah Sumatera Barat.
Minangkabau itu sendiri. Akan tetapi dapat dilihat Is, Sudirman. Application Of Space Conception In The Minangkabau
bahwa masyarakat Minangkabau yang memegang Traditional House. Bung Hatta University.
teguh agama Islam sebagai falsafah hidupnya dapat Jabareen, Yosef. 2005. Culture and Housing Preferences in a
Developing City. Environment and Behavior 37: 134.
dilihat mengalami kompromi terhadap adat turun Ozaki, Ritsuko. 2002. Housing as a Reflection of Culture: Privatised
temurun Minangkabau. Living and Privacy in England and Japan. Housing Studies,
Dapat disimpulkan bahwa budaya memiliki 17(2), 209-227.
Rapoport, Amos. 2000. Theory, Culture and Housing. Housing, Theory
peranan penting dalam proses perencanaan, and Society, 17: 4, 145 — 16
perancangan hingga penggunaan lingkungan binaan Setyowati, Ernaning. (2008). Aspek-aspek yang mempengaruhi
Arsitektur tradisional Minangkabau.
khususnya rumah tinggal tradisional. Budaya tidak ninkarch.files.wordpress.com/2008/11/ars-vern-minangkabau.pdf,
berperan langsung terhadap lingkungan binaan, akan diakses tanggal 9 Mei 2010
tetapi komponen budaya tersebutlah yang Soeroto, Myrtha. (2005). Minangkabau. Myrtle Publishing: Jakarta.
Spain, Daphne. (1992). Gendered Space. Chapel Hill and London: The
mempengaruhi hunian secara konkret. Kompromi University of North Carolina Press.
yang panjang antara berbagai komponen budaya ini Vellinga. Marcel. (2004). A Family Affair: the Construction of
menjadi manifestasi budaya Minangkabau yang dapat Vernacular Minangkabau Houses. Indonesia and the Malay
World, vol. 32, no. 92.
dilihat dari hunian tradisionalnya yaitu rumah gadang. Vellinga, Marcel. (2006). Constituting Unity and Difference: Vernacular
Architecture in a Minangkabau Village. Journal of Social Issues in
Southeast Asia, vol. 21, no. 2, pp 284-88.
V. PENUTUP Vellinga. Marcel. (2007). Review essay: Anthropology and the
Materiality of Architecture. American Ethnologist, vol. 34, no. 4,
Blackwood (1999) menemukan data bahwa hanya pp. 756–766.
tinggal 20% rumah gadang yang tersisa untuk daerah
dusun Tanjung Batang, Sumatera Barat. Hal ini
dikarenakan telah masuknya modernisasi dan mulai
menghilangnya adat istiadat terkait rumah gadang
sehingga masyarakat Minangkabau lebih memilih
rumah sederhana biasa yang menggunakan batu bata
dan plester dibandingkan struktur rumah panggung.
Saat ini kebanyakan rumah gadang tidak
ditinggali oleh masyarakat adat sebagaimana
harusnya. Pergeseran nilai budaya matrilineal dengan
segala adat istiadatnya semakin besar karena
pandangan masyarakat Minangkabau yang juga sudah
semakin berubah. Paradigma yang sudah bergeser
akan konsep matrilineal yang menunjukkan bahwa
kaum perempuan lebih memiliki kuasa atas rumah
gadang menjadikan minat masyarakat Minangkabau
saat ini terhadap adat tersebut semakin berkurang.
Demikian juga dengan kebutuhan atas privasi
terhadap keluarga intinya menjadikan keluarga inti
yang terdirii dari ayah, ibu dan anak, memisahkan diri
dari keluarga kaum yang tinggal di rumah gadang.
Keluarga ini saat ini cenderung memilih tinggal di
rumah biasa dengan keluarga intinya. Juga dengan
struktur kekeluargaan terkait keberadaan mamak
sebagai pemimpin kaum. Saat ini peran mamak tidak
terlalu besar dalam kekeluargaan, sebatas memimpin
masalah kemasyarakatan dalam kaum. Tanggung
jawab yang diberikan kepada mamak untuk

Anda mungkin juga menyukai