Anda di halaman 1dari 15

Charles A Rockwood mengklasifikasikan fraktur secara radiologist

1. Lokalisasi/letak fraktur seperti diafisis, metafisis, intra-artikular.


2. Konfigurasi/sudut patah dari fraktur :
 Fraktur transversal
 Fraktur oblik
 Fraktur spiral
 Fraktur kominutif
 Fraktur segmental
 Fraktur Impaksi/kompresi
1. Menurut ekstensi :
 Fraktur total
 Fraktur tidak total (fracture crack)
 Fraktur buckle/torus
 Fraktur garis rambut
 Fraktur greenstick
 Fraktur avulse
 Fraktur sendi

Terbuka dan tertutup

Fraktur terbuka disebut juga compound fracture. Fraktur di mana kulit dari ekstremitas yang
terlibat telah ditembus patahan tulang. Fraktur terbuka terbagi atas 3 derajat (R.Gustillo) :
1. Derajat I
 Luka <>
2. Derajat II
 Laserasi > 1 cm.
 Kerusakan jaringan lunak tidak luas.
 Fraktur kominutif sedang.
 Kontaminasi sedang.
3. Derajat III:
1. terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan
neurovaskuler, serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi atas:
 Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas
atau fraktur segmental yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat
besarnya ukuran luka.
 Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi masif.
 Luka pada pembuluh arteri atau saraf perifer.
Fraktur tertutup : disebut juga closed fracture. Tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan lingkungan luar

Komplit dan tidak komplit


1. Fraktur komplit : bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua
korteks tulang.
2. Fraktur tidak komplit : bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang
3. Hairline fracture : patah retak rambut
4. Buckle fracture/ Torus fracture : bila terjadi lipatan dari korteks dengan kompresi tulang
spongiosa di bawahnya. Biasanya pada distal radius anak-anak.
5. Greenstick fracture : fraktur tidak sempurna, korteks tulangnya sebagian masih utuh,
demikian juga periosteumnya. Sering terjadi pada anak-anak. Fraktur ini akan segera
sembuh dan segera mengalami remodelling ke bentuk fungsi normal.
• Sudut patah:
 Fraktur transversal: garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Pada
fraktur semacam ini, segmen-segmen tulang yang patah direposisi/ direduksi kembali ke
tempatnya semula.
 Farktur oblik: garis patahnya membentuk sudut. Fraktur ini tidak stabil dan sulit
diperbaiki.
 Fraktur spiral: akibat trauma rotasi. Garis patah tulang membentuk spiral. Fraktur
cenderung cepat sembuh.
Jumlah garis patah:
 Fraktur kominutif: garis patah lebih dari 1 dan saling berhubungan.
 Fraktur segmental: garis patah lebih dari 1 tetapi tidak saling berhubungan.
 Fraktur multiple: garis patah lebih dari 1 tetapi pada tulang yang berlainan.
• Trauma:
 Fraktur kompresi: 2 tulang menumbuk tulang ke-3 yang berada diantaranya.
 Fraktur avulse: trauma tarikan, suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun
ligamen.
 Fraktur spiral
Bergeser dan tidak bergeser
1. Fraktur undisplaced: garis patah komplit tetapi ke-2 fragmen tidak bergeser,
periosteumnya masih utuh.
2. Fraktur displaced: terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut lokasi
fragmen. Terbagi atas:
 Dislokasi ad longitudinal cum contractionum: pergeseran searah sumbu dan overlapping.
 Dislokasi ad axim: pergeseran yang membentuk sudut.
 Dislokasi ad latus: pergeseran di mana kedua fragmen saling menjauh.

FRAKTUR
1. DEFINISI
Terdapat beberapa pengertian mengenai fraktur, sebagaimana yang dikemukakan para
ahli melalui berbagai literature. Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya
kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse, MF dan Geissler, AC (2000)
fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Back dan Marassarin (1993) berpendapat
bahwa fraktur adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada
tulang yang berlebihan.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa fraktur merupakan suatu gangguan
integritas tulang yang ditandai dengan rusaknya atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dikarenakan tekanan yang berlebihan.
2. ETIOLOGI
Lewis (2000) berpendapat bahwa tulang bersifat relatif rapuh namun mempunyai cukup
kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan.
Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal yaitu:
A. Fraktur akibat peristiwa trauma.
Sebagian fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba / mendadak dan berlebihan
yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran atau penarikan. Bila
tekanan kekuatan secara langsung, tulang dapat patah pada tempat yang terkena dan
jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur
melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. Penghancuran kemungkinan akan
menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas.
B. Fraktur akibat tekanan berulang.
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat tekanan
berulang-ulang. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada tibia, fibula atau matatarsal
terutama pada atlet, penari atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.
C. Fraktur patologik karena kelainan tulang.
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak (misalnya
oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh (osteoporosis).
3. PATOFISIOLOGI
Menurut Black dan Matassarin (1993) serta Patrick dan Woods (1989). Ketika patah
tulang, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak.
Akibat dari hal tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya.
Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periosteum
dan jaringan tulang yang mengitari fraktur. Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan
nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukosit. Ketika terjadi kerusakan
tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap ini
menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematom yang terbentuk bisa menyebabkan
peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan
gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang
lain. Hematom menyebabkan dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler,
kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma
hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk
akan menekan ujung syaraf.
4. KLASIFIKASI FRAKTUR
Berikut ini terdapat beberapa klasifikasi Fraktur sebagaimana yang dikemukakan oleh
para ahli:
A. Menurut Depkes RI (1995), berdasarkan luas dan garis traktur meliputi:
1) Fraktur komplit adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas sehingga
tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya menyeberang dari satu sisi ke sisi
lain serta mengenai seluruh korteks.
2) Fraktur inkomplit adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah
tidak menyeberang, sehingga tidak mengenai seluruh korteks (masih ada korteks yang
utuh).
B. Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu fraktur berdasarkan hubungan dengan dunia luar,
meliputi:
1) Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih utuh, tulang tidak
keluar melewati kulit.
2) Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karena adanya hubungan
dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka potensial terjadi infeksi. Fraktur terbuka
dibagi menjadi 3 grade yaitu:
a) Grade I : Robekan kulit dengan kerusakan kulit dan otot.
b) Grade II : Seperti grade I dengan memar kulit dan otot.
c) Grade III : Luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh darah, syaraf, otot dan
kulit.
C. Long (1996) membagi fraktur berdasarkan garis patah tulang, yaitu:
1) Green Stick yaitu pada sebelah sisi dari tulang ( retak dibawah lapisan periosteum) / tidak
mengenai seluruh kortek, sering terjadi pada anak-anak dengan tulang lembek.
2) Transverse yaitu patah melintang ( yang sering terjadi ).
3) Longitudinal yaitu patah memanjang.
4) Oblique yaitu garis patah miring.
5) Spiral yaitu patah melingkar.
6) Communited yaitu patah menjadi beberapa fragmen kecil
D. Black dan Matassarin (1993) mengklasifikasi lagi fraktur berdasarkan kedudukan fragmen
yaitu:
1) Tidak ada dislokasi.
2) Adanya dislokasi, yang dibedakan menjadi:
a. Disklokasi at axim yaitu membentuk sudut.
b. Dislokasi at lotus yaitu fragmen tulang menjauh.
c. Dislokasi at longitudinal yaitu berjauhan memanjang.
d. Dislokasi at lotuscum controltinicum yaitu fragmen tulang menjauh dan over lapp
( memendek ).
5. GAMBARAN KLINIK
Lewis (2006) menyampaikan manifestasi klinik fraktur adalah sebagai berikut:
A. Nyeri
Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya spasme otot,
tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya.
B. Bengkak / edema.
Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa (protein plasma) yang terlokalisir
pada daerah fraktur dan extravasi daerah di jaringan sekitarnya.
C. Memar / ekimosis
Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasi daerah di jaringan
sekitarnya.
D. Spame otot
Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi disekitar fraktur.
E. Penurunan sensasi
Terjadi karena kerusakan syaraf, tertekannya syaraf karena edema.
F. Gangguan fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri atau spasme otot, paralysis
dapat terjadi karena kerusakan syaraf.
G. Mobilitas abnormal
Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi normalnya tidak
terjadi pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang panjang.
H. Krepitasi
Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian tulang digerakkan.
I. Deformitas
Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan pergerakan
otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, akan menyebabkan tulang
kehilangan bentuk normalnya.
J. Gambaran X-ray menentukan fraktur
Gambaran ini akan menentukan lokasi dan tipe fraktur

6. KOMPLIKASI
Komplikasi akibat fraktur yang mungkin terjadi menurut Doenges (2000) antara lain:
A. Shock Neurogenik
Pada fraktur sering terjadi nyeri yang sangat hebat terutama apabila penanganan awal
dilakukan dengan cara yang kurang benar ( cara mengangkat, pembidaian dan
pengangkutan ). Shock bisa juga terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat.
B. Infeksi
Biasanya terjadi pada fraktur akibat trauma dan berupa fraktur terbuka. Kerusakan
jaringan lunak akan memudahkan timbulnya infeksi baik pada jaringan lunak itu sendiri
maupun sampai di jaringan tulang itu sendiri ( osteomyelitis ).
C. Nekrosis divaskuler
Jaringan nekrosis bila masuk ke pembuluh darah vaskuler akan menjadi emboli dan dapat
mengganggu system peredaran darah dibawahnya.
D. Cedera vaskuler dan saraf
Cedera vaskuler dan saraf pada kondisi fraktur dapat terjadi baik secara langsung oleh
trauma bersamaan dengan terjadinya fraktur, ataupun secara tidak langsung karena tertusuk
fragmen tulang atau tertekan edem disekitar fraktur.
E. Mal union
Mal union dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain interposisi jaringan lunak,
fraktur communited, fraktur tulang dengan vaskulerisasi kurang baik, reposisi kurang baik,
immobilisasi yang salah dan infeksi.
F. Luka akibat tekanan
Luka ini biasanya timbul pada fase immobilisasi karena pasien tidur dengan posisi
menetap dalam jangka waktu yang lama.
G. Kaku sendi
Hal ini terjadi apabila sendi – sendi disekitar fraktur tidak / kurang digerakkan sehingga
terjadi perubahan synovial sendi, penyusutan kapsul, inextensibility otot, pengendapan callus
dipermukaan sendi dan timbulnya jaringan fibrous pada ligament.
7. PENATALAKSANAAN FRAKTUR
Terdapat beberapa tujuan penatalaksanaan fraktur menurut Henderson (1997), yaitu
mengembalikan atau memperbaiki bagian-bagian yang patah ke dalam bentuk semula
(anatomis), imobilisasi untuk mempertahankan bentuk dan memperbaiki fungsi bagian tulang
yang rusak.
A. Reposisi / reduksi
Jenis-jenis fracture reduction ( reposisi ) yaitu:
1. Manipulasi atau close reduction
Adalah tindakan non bedah untuk mengembalikan posisi, panjang dan bentuk. Close reduksi
dilakukan dengan local anesthesia ataupun umum.
2. Open reduction
Adalah perbaikan bentuk tulang dengan tindakan pembedahan. sering dilakukan dengan
internal fixasi menggunakan kawat, screws, pins, plate, intermedullary rods atau nail.
Kelemahan tindakan ini adalah kemungkinan infeksi dan komplikasi berhubungan dengan
anesthesia. Jika dilakukan open reduksi internal fixasi pada tulang (termasuk sendi) maka
akan ada indikasi untuk melakukan ROM.
3. Traksi
Alat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang fraktur untuk
meluruskan bentuk tulang. Ada 2 macam yaitu:
a. Skin Traksi
Skin traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan menempelkan
plester langsung pada kulit untuk mempertahankan bentuk, membantu menimbulkan
spasme otot pada bagian yang cedera, dan biasanya digunakan untuk jangka pendek
(48-72 jam).
b. Skeletal traksi
Adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera pada sendi
panjang untuk mempertahankan bentuk dengan memasukkan pins / kawat ke dalam
tulang.
4. Immobilisasi
Setelah dilakukan reposisi dan posisi fragmen tulang sudah dipastikan pada posisi
baik hendaknya di immobilisasi dan gerakkan anggota badan yang mengalami fraktur
diminimalisir untuk mencegah fragmen tulang berubah posisi.
8. PENANGANAN FISIOTERAPI PADA FRAKTUR
A. Latihan fisiologis otot
Mengikuti imobilisasi, otot disekitar bagian yang fraktur akan kehilangan volume, panjang
dan kekuatannya. Adalah penting jika program latihan yang aman ditentukan dan dievaluasi
dibawah pengawasan fisioterapi untuk mengembalikan panjang dan fisiologis otot. Dan
mencegah komplikasi sekunder yang biasanya mengikuti.
Latihan untuk menjaga fisiologis otot dilakukan sedini mungkin.
B. Mobilisasi sendi
Kekakuan sendi sering terjadi dan menjadi masalah utama ketika anggota gerak badan
tidak digerakkan dalam beberapa minggu. Focus fisioterapi adalah melatih dengan teknik
dimana dapat menambah dan mengembalikan lingkup gerak sendi yang terpengaruh ketika
fraktur sudah sembuh.
Jangan menggunakan teknik “Force Passive”, karena bisa menyebabkan Reflex
Sympathetic Diystrophy dan Heterotopic Ossification. Gunakan waktu dan gravitasi atau
berat badan pasien sendiri.
Bila di gips, mobilisasi sendi mulai diberikan secara hati – hati pada minggu kedua.
Sedangkan bila dengan internal fixasi, bisa diberikan sedini mungkin.
C. Massage
Pelepasan keketatan otot dan trigger points yang terjadi pada otot yang mengikuti
pembidaian dan penge-gips-an akan mengurangi nyeri dan mengembalikan panjang otot.
D. Pemanasan dan Terapi listrik
Sangat umum terjadi kekakuan jaringan lunak bila imobilisasi lama. Pemanasan dan
terapi listrik menunjukkan manfaat tambahan bagi terapi manual dan terapi latihan dalam
mengurangi nyeri dan mengembalikan panjang otot.
E. Edukasi jalan
Jika fraktur memerlukan penggunaan alat bantu jalan, fisioterapi dapat menunjukkan alat
yang paling sesuai dan cara jalannya untuk mendukung kesembuhan optimal dan aman.
Demi amannya, Latihan jalan dilakukan secara bertahap, yaitu :
1. Non Weight Bearing
Adalah berjalan dengan tungkai tidak diberi beban ( menggantung ). Dilakukan selama 3
minggu setelah di operasi.
2. Partial Weight Bearing
Adalah berjalan dengan tungkai diberi beban hanya dari beban tungkai itu sendiri.
Dilakukan bila callus telah mulai terbentuk ( 3 – 6 minggu ) setelah operasi.
3. Full Weight Bearing
Adalah berjalan dengan beban penuh dari tubuh. Dilakukan setelah 3 bulan pasca operasi
dimana tulang telah terjadi konsolidasi secara kuat.
Contoh Latihan untuk fraktur lengan atas
fraktureng
waktu Gips Platina
1 Minggu -gerak aktif jari-jari dan Gerak pasif sendi
pergelangan tangan siku dan bahu dalam
secara penuh untuk batas nyeri masih
mencegah bengkak bisa ditolerir
-tidak boleh latihan LGS
dan penguatan sendi siku
dan bahu.
2 Minggu -Gerak pasif pasif sendi -latihan LGS sendi
siku dan bahu dalam siku dan bahu
batas nyeri bisa ditolerir.
-latihan pendulum
-tidak boleh latihan sendi bahu
penguatan. -tidak boleh ada
beban.
4-6 Minggu -lat. Peningkatan LGS -lat. Peningkatan LGS
sendi siku dan bahu. sendi siku dan bahu.
-latihan -latihan penguatan
penguatan(isometrik dan ringan (isometrik
isotonik) dan isotonik)
-latihan beban ringan -latihan beban
-gunakan tangan untuk ringan
aktivitas sehari – hari.
8-12 Minggu -Full Weight Bearing Aktifitas penuh
-lat. Peningkatan LGS
sendi siku dan bahu.
-latihan penguatan
dengan beban
ditingkatkan.

FRAKTUR
 
A. Pengertian:
Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma. Fraktur
digolongkan sesuai jenis dan arah garis fraktur.
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
Fraktur dapat terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsi .
B. Klasifikasi fraktur :
Menurut Hardiyani (1998), fraktur dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.  Berdasarkan tempat (Fraktur humerus, tibia, clavicula, dan cruris dst).
2. Berdasarkan luas dan garis fraktur terdiri dari :
a. Fraktur komplit (garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua
korteks tulang).
b. Fraktur tidak komplit (bila garis patah tidak melalui seluruh garis penampang tulang).
3. Berdasarkan bentuk dan jumlah garis patah :
a.  Fraktur kominit (garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan).
b. Fraktur segmental (garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan).
c. Fraktur Multipel ( garis patah lebih dari satu tapi pada tulang yang berlainan
tempatnya, misalnya fraktur humerus, fraktur femur dan sebagainya).
4. Berdasarkan posisi fragmen :
a. Undisplaced (tidak bergeser) / garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak
bergeser.
b. Displaced (bergeser) / terjadi pergeseran fragmen fraktur
5. Berdasarkan hubungan fraktur dengan dunia luar :
a. Tertutup
b. Terbuka (adanya perlukaan dikulit).
6. Berdasar bentuk garis fraktur dan hubungan dengan mekanisme trauma :
a. Garis patah melintang.
b. Oblik / miring.
c. Spiral / melingkari tulang.
d. Kompresi
e. Avulsi / trauma tarikan atau insersi otot pada insersinya. Missal pada patela.
7. Berdasarkan kedudukan tulangnya :
a. Tidak adanya dislokasi.
b. Adanya dislokasi
At axim : membentuk sudut.
At lotus : fragmen tulang berjauhan.
At longitudinal : berjauhan memanjang.
At lotus cum contractiosnum : berjauhan dan memendek.
C. Etiologi:
Menurut Apley dan Salomon (1995), tulang bersifat relative rapuh namun cukup mempunyai
kekuatan gaya pegas untuk menahan tekanan.
Fraktur dapat disebabkan oleh
- Cedera dan benturan seperti pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak,
kontraksi otot ekstrim.
- Letih karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi seperti berjalan kaki terlalu jauh.
- Kelemahan tulang akibat penyakit kanker atau osteoporosis pada fraktur patologis.
 
D. Patofisiologis :
Jenis fraktur :
-Fraktur komplit adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami
pergeseran
-Fraktur inkomplit, patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.
-Fraktur tertutup (fraktur simple), tidak menyebabkan robekan kulit.
-Fraktur terbuka (fraktur komplikata/kompleks), merupakan fraktur dengan luka pada kulit
atau membrana mukosa sampai ke patahan tulang. Fraktur terbuka digradasi menjadi : Grade I
dengan luka bersih kurang dari 1 cm panjangnya dan sakit jelas, Grade II luka lebih luas tanpa
kerusakan jaringan lunak yang ekstensif dan Grade III, yang sangat terkontaminasi dan
mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensi, merupakan yang paling berat.
      Penyembuhan/perbaikan fraktur :
Bila sebuah tulang patah, maka jaringan lunak sekitarnya juga rusak, periosteum terpisah
dari tulang dan terjadi perdarahan yang cukup berat. Bekuan darah terbentuk pada daerah
tersebut. Bekuan akan membentuk jaringan granulasi, dimana sel-sel pembentuk tulang
premitif (osteogenik) berdeferensiasi menjadi kondroblas dan osteoblas. Kondroblas akan
mensekresi fosfat yang akan merangsang deposisi kalsium. Terbentuk lapisan tebal (kalus
disekitar lokasi fraktur. Lapisan ini terus menebal dan meluas, bertemu dengan lapian kalus
dari fragmen yang satunya dan menyatu. Fusi dari kedua fragmen terus berlanjut dengan
terbentuknya trabekula oleh osteoblas, yang melekat pada tulang dan meluas menyebrangi
lokasi fraktur.Persatuan (union) tulang provisional ini akan menjalani
transformasi metaplastikuntuk menjadi lebih kuat dan lebih terorganisasi. Kalus tulang akan
mengalami re-modelling dimana osteoblas akan membentuk tulang baru sementara
osteoklas akan menyingkirkan bagian yanng rusak sehingga akhirnya akan terbentuk tulang
yang menyerupai keadaan tulang aslinya
 
E. Manifestasi klinis:
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang   diimobilisasi. Spasme
otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk
meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan eksremitas.
Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas
tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi  normal otot bergantung pada integritas tulang
tempat melengketnya obat.
3. Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah  tempat fraktur.
Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5,5 cm
4. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang.
Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan perdarahan
yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah
cedera.
F. Komplikasi fraktur
-Malunion, adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang
tidak pada seharusnya, membentuk sudut atau miring
-Delayed union adalah proses penyembuhan yang berjalan terus tetapi dengan kecepatan yang
lebih lambat dari keadaan normal.
-Nonunion,  patah tulang yang tidak menyambung kembali.
-Compartment syndroma adalah suatu keadaan peningkatan takanan yang berlebihan di dalam
satu ruangan yang disebabkan perdarahan masif pada suatu tempat.
-Shock,
-Fat embalism syndroma, tetesan lemak masuk ke dalam pembuluh darah. Faktor resiko
terjadinya emboli lemakada fraktur meningkat pada laki-laki usia 20-40 tahun, usia 70 sam pai
80 fraktur tahun.
-Tromboembolic complicastion, trombo vena dalam  sering terjadi pada individu yang imobiil
dalm waktu yang lama karena trauma atau ketidak mampuan lazimnya komplikasi pada
perbedaan ekstremitas bawah atau trauma komplikasi paling fatal bila terjadi pada bedah
ortopedil
-Infeksi
-Avascular necrosis, pada umumnya berkaitan dengan aseptika atau necrosis iskemia.
-Refleks symphathethic dysthropy, hal ini disebabkan oleh hiperaktif sistem saraf simpatik
abnormal syndroma ini belum banyak dimengerti. Mungkin karena nyeri, perubahan tropik dan
vasomotor instability.
 
G. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium :
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hb, hematokrit sering rendah akibat
perdarahan, laju endap darah (LED) meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas.
Pada masa penyembuhan Ca dan P meengikat di dalam darah.
Radiologi :
X-Ray dapat dilihat gambaran fraktur, deformitas dan metalikment. Venogram/anterogram
menggambarkan arus vascularisasi. CT scan untuk mendeteksi struktur fraktur yang
kompleks. 
 
H. Penanganan fraktur
Pada prinsipnya penangganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi dan pengembalian fungsi
dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
-Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulangpada kesejajarannya dan rotasi
anatomis. Metode dalam reduksi adalah reduksi tertutup, traksi dan reduksi terbuka, yang
masing-masing di pilih bergantung sifat fraktur
-Reduksi tertutup dilakukan untuk mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujung
saling behubungan) dengan manipulasi dan traksi manual.
Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi
disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
Reduksi terbuka , dengan pendekatan pembedahan, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi
internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku atau batangan logam dapat
digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya sampai
penyembuhan tulang yang solid terjadi.
-Imobilisai fraktur, setelah fraktur di reduksi fragmen tulang harus di imobilisasi  atau di
pertahankan dalam posisi dan kesejajaranyang benar sampai terjadi penyatuan.
Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksternal atau inernal. Fiksasi eksternal
meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinui, pin dan teknik gips atau fiksator
eksternal. Fiksasi internal dapat dilakukan implan logam yang berperan sebagai bidai
inerna untuk mengimobilisasi fraktur. Pada fraktur femur imobilisasi di butuhkan sesuai
lokasi fraktur yaitu intrakapsuler 24 minggu, intra trohanterik 10-12 minggu, batang 18
minggu dan supra kondiler 12-15 minggu.
-Mempertahankan  dan mengembalikan fungsi, segala upaya  diarahkan pada
penyembuhan tulang dan jaringan lunak, yaitu ;
-Mempertahankan reduksi dan imobilisasi
-Meninggikan untuk meminimalkan pembengkakan
-Memantau status neurologi.
-Mengontrol kecemasan dan nyeri
-Latihan isometrik dan setting otot
-Berpartisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari
-Kembali keaktivitas secara bertahap.
Faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur :
-Imobilisasi fragmen tulang.
-Kontak fragmen tulang minimal.
-Asupan darah yang memadai.
-Nutrisi yang baik.
-Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang.
-Hormon-hormon pertumbuhan tiroid, kalsitonin, vitamin D, steroid anabolik.
-Potensial listrik pada patahan tulang.
 I. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul:
1.Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (fraktur)
2.Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan patah tulang
3. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler, tekanan dan disuse
4. Sindrom kurang perawatan diri berhubungan dengan hilangnya kemampuan menjalankan
aktivitas
5. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma, imunitas tubuh primer menurun, prosedur
invasive
6.Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b/d kurang paparan terhadap
informasi, terbatasnya kognitif

 
RENPRA FRAKTUR
No Diagnosa Tujuan Intervensi
1 Nyeri akut b/d Setelah dilakukan Manajemen nyeri :
agen injuri fisik,
Asuhan keperawatan 1. Kaji nyeri secara komprehensif ( lokasi,
fraktur …. jam tingkat karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan
kenyamanan klien faktor presipitasi  ).
meningkat, tingkat 2. Observasi  reaksi nonverbal dari ketidak
nyeri terkontrol dg nyamanan.
KH: 3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk
Klien melaporkan mengetahui pengalaman nyeri klien
nyeri berkurang dg sebelumnya.
scala 2-3 4. Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi
-Ekspresi wajah nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan,
tenang kebisingan.
klien dapat istirahat 5. Kurangi faktor presipitasi nyeri.
dan tidur 6. Pilih dan lakukan penanganan nyeri
v/s dbn (farmakologis/non farmakologis).
7. Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi,
distraksi dll) untuk mengetasi nyeri..
8. Kolaborasi untuk pemberian analgetik untuk
mengurangi nyeri.
9. Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol
nyeri.
10. Kolaborasi dengan dokter bila ada komplain
tentang pemberian analgetik tidak berhasil.
 
Administrasi analgetik :.
Cek program pemberian analgetik; jenis, dosis, dan
frekuensi.
Cek riwayat alergi.
Tentukan analgetik pilihan, rute pemberian dan
dosis optimal.
Monitor TV
Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri
muncul.
Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek
samping.
 
2 Resiko terhadap Setelah dilakukan Memberikan posisi yang nyaman untuk Klien:
cidera b/d askep … jam terjadi -Berikan posisi yang aman untuk pasien dengan
kerusakan peningkatan Statusmeningkatkan obsevasi pasien, beri pengaman tempat
neuromuskuler, keselamatan Injuritidur
tekanan dan fisik dgn KH : -Periksa sirkulasi perifer dan status neurologi
disuse Bebas dari cidera -Menilai ROM pasien
Mampu mencegah -Menilai integritas kulit pasien.
cidera -Libatkan banyak orang dalam memindahkan pasien,
  atur posisi pasien yang nyaman
 
3 Sindrom defisit Setelah dilakukan Bantuan perawatan diri
self care b/d akep … jam -Monitor kemampuan pasien terhadap perawatan diri
kelemahan, kebutuhan ADLs -Monitor kebutuhan akan personal hygiene,
fraktur terpenuhi dg KH: berpakaian, toileting dan makan
-Pasien dapat -Beri bantuan sampai pasien mempunyai kemapuan
-melakukan aktivitas untuk merawat diri
sehari-hari. -Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya.
-Kebersihan diri -Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-
pasien terpenuhi hari sesuai kemampuannya
  -Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin
 
4 Risiko infeksi b/d Setelah dilakukan Kontrol infeksi :
imunitas tubuh asuhan keperawatan -Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.
primer menurun, … jam tidak terdapat -Batasi pengunjung bila perlu.
prosedur faktor risiko -Intruksikan kepada pengunjung untuk mencuci
invasive, fraktur infeksi dan infeksi tangan saat berkunjung dan sesudahnya.
terdeteksi dg KH: -Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci tangan.
-Tdk ada tanda- -Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
tanda infeksi keperawatan.
-AL normal ( < -Gunakan baju, masker dan sarung tangan sebagai alat
10.000 ) pelindung.
-Suhu normal ( 36 – -Pertahankan lingkungan yang aseptik selama
37 C ) pemasangan alat.
-Lakukan perawatan luka, drainage, dresing infus dan
dan kateter sesuai kebutuhan.
-Tingkatkan intake nutrisi dan cairan
-Kolaborasi untuk pemberian antibiotik sesuai
program.
-Jelaskan tanda gejala infeksi dan anjurkan u/ segera
lapor petugas
-Monitor V/S
 
Proteksi terhadap infeksi
-Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.
-Monitor hitung granulosit dan WBC.
-Monitor kerentanan terhadap infeksi..
-Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan.
-Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase.
-Inspeksi kondisi luka, insisi bedah.
-Ambil kultur, dan laporkan bila hasil positip jika
perlu-
-Anjurkan untuk istirahat yang cukup.
-Dorong peningkatan mobilitas dan latihan sesuai
indikasi
5 Kerusakan Setelah dilakukan Terapi ambulasi
mobilitas fisik askep … jam terjadi -Kaji kemampuan pasien dalam melakukan ambulasi
berhubungan peningkatan -Kolaborasi dg fisioterapi untuk perencanaan
dengan patah Ambulasi :Tingkat ambulasi
tulang mobilisasi, -Latih pasien ROM pasif-aktif sesuai kemampuan
Perawtan diri Dg -Ajarkan pasien berpindah tempat secara bertahap
KH : -Evaluasi pasien dalam kemampuan ambulasi
-Peningkatan  
aktivitas fisik Pendidikan kesehatan
-Edukasi pada pasien dan keluarga pentingnya
ambulasi dini
-Edukasi pada pasien dan keluarga tahap ambulasi
-Berikan reinforcement positip atas usaha yang
dilakukan pasien.
 
6 Kurang Setelah dilakukan Pendidikan kesehatan : proses penyakit
pengetahuan askep …. Jam -Kaji pengetahuan klien.
tentang penyakit pengetahuan klien -Jelaskan proses terjadinya penyakit, tanda gejala
dan meningkat dg KH: serta komplikasi yang mungkin terjadi
perawatannya -Klien dapat -Berikan informasi pada keluarga tentang
b/d kurang mengungkapkan perkembangan klien.
paparan terhadap kembali yg -Berikan informasi pada klien dan keluarga tentang
informasi, dijelaskan. tindakan yang akan dilakukan.
keterbatan -Klien kooperatif -Diskusikan pilihan terapi
kognitif saat dilakukan -Berikan penjelasan tentang pentingnya ambulasi dini
tindakan -jelaskan komplikasi kronik yang mungkin akan
muncul