Anda di halaman 1dari 8

9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Deskripsi Teori

Dalam ulasan pada bagian penjabaran menunjukan ada tiga arti utama yaitu :

a. Debt to Equity

b. Debt to Total Asset

c. ROI

d. Profit Margin (ROS)

e. Kebijakan Dividen

f. Asset Growth

B. Menghitung rasio

Menghitung kondisi perusahaan biasanya dilakukan dengan menggunakan rasio-rasio

keuangan. Rasio secara garis besar di bagi dalam 5 kategori utama antara lain, yaitu :

keuntungan (profitability) , harga (price ), likuiditas (liquidity), daya ungkit (leverage), dan

efisiensi (Weston dan Copeland, 1992)

Ratio Hutang terhadap Modal sendiri/equity (DER).

Rasio-rasio ini mengukur perbandingan antara hutang perusahaan dari pihak ketiga

dengan dana yang berasal dari modal sendiri perusahaan, mengandung berbagai

implikasi. Pertama, para kreditor akan melihat modal sendiri perusahaan, atau dana

yang disediakan pemilik untuk menentukan besarnya marjin pengaman(margin of

safety). Jika pemilik hanya menyediakan sebagian kecil dari seluruh pembiayaan,

maka risiko perusahaan ditanggung terutama oleh para kreditor. Kedua, dengan
10

mencari dana yang berasal dari hutang, pemilik memperoleh manfaat

mempertahankan kendali perusahaan dengan investasi yang terbatas. Ketiga, jika

perusahaan memperoleh laba yang lebih besar dari dana yang dipinjam daripada

yang harus dibayar sebagai bunga, maka hasil pengembalian (return) kepada para

pemilik akan meningkat.

b. Total Hutang Terhadap Total Aktiva (Debt to total assets).

Rasio total hutang terhadap total aktiva biasanya disebut rasio hutang (debt ratio),

yang mengukur persentase total dana yang disediakan para kreditor. Yang termasuk

hutang adalah kewajiban lancar dan semua obligasi (hutang jangka panjang). Para

kreditor lebih menyukai rasio hutang yang moderat, oleh karena semakin rendah

rasio ini, akan ada semacam perisai sehingga kerugian yang diderita kreditor

semakin kecil, jika terjadi likuidasi. Sebaliknya pemilik lebih menyukai rasio

hutang yang tinggi, oleh karena leverage yang tinggi akan memperbesar laba bagi

pemegang saham atau oleh karena menerbitkan saham baru berarti melepaskan

sejumlah kendali perusahaan. Jika rasio hutang terlalu tinggi, maka bahaya

kurangnya tanggung jawab spekulasi, jika perusahaan berhasil maka akan

memberikan hasil pengembalian yang sangat tinggi. Jika perusahaan gagal,akan

mengalami kerugian yang kecil karena investasinya yang dangat rendah.

Total Hutang $ 1.000.000


Ratio Hutang = ------------------ = ---------------- = 50%
Total aktiva $ 2.000.000

Rata-rata Industri = 33 %
11

Rasio hutang walker-wilson adalah 50 persen yang berarti bahwa para kreditor

telah menyediakan kesetengah dari jumlah pembiayaan perusahaan. Oleh karena

rasio hutang rata-rata untukindustri tersebut adalah 33 persen, maka walker-wilson

bisa mengalami kesulitan memperoleh dana pinjaman tambahan sebelum

meningkatkan modalnya sendiri. Para kreditor akan menolak meminjamkan uang

lebih banyak dan mungkin Thompson akan dikecam para pemegang saham atau

bahaya yang tak sepantasnya jika ia meningkatkan rasio hutang dengan cara

meminjam.

Return On Asset ( ROA).

Return On Invesment ( ROI) atau yang biasa disebut juga dengan Return On Asset

(ROA) menurut Gitman (2006:68) dalam buku “(Principles of Management

Finance “ adalah “ ROA often caled the return on invesment measures the over all

effectiveness of management in gnerating profit with its available asset.”

Syamsuddin (2000:63) menyatakan bahwa “ ROI merupakan pengukuran

kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan

dengan jumlah keseluruhan di dalam perusahaan”.

Menurut Hansen & Mowen (2003) dalam bukunya yang berjudul “Management

Accounting”. Return On Invesment (ROI) is the most common measure of

performance for invesment center”.

Sedangkan menurut ghozali dan Al Mansur (2002) ROA adalah salah satu rasio

yang sangat penting untuk mengetahui seberapa besar kemampuan perusahaan


12

menghasilkan laba. ROA yang besar menunjukan tingkat return perusahaan yang

tinggi.

Selain itu juga rasio ini menunjukan seberapa jauh perasaan yang diinvestasikan

dapat dipergunakan secara efektif untuk menghasilkan laba. Apabila ROI

perusahaan tinggi, berarti perusahaan laba, sehingga kemungkinan harga saham

akan tinggi (Dharmasuti, 2004).

Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ROA merupakan

analisis keuangan yang mengukur prestasi perusahaan tidak hanya dari laba yang

dihasilkan, tetapi juga harus diperhitungkan jumlah aktiva yang diinvestasikan

untuk memperoleh laba tersebut.

c. Return on Sales (ROS)

Return On Sales (ROS) atau yang disebut juga sebagai NPM (Net Profit Margin),

Net Profit Margin adalah hasil akhir operasi suatu perusahaan untuk suatu

perusahaan untuk suatu periode dan merupakan indikator yang efektif untuk

menarik kesimpulan mengenai kemampuan manajemen perusahaan (Siamat, 2004).

Menurut Gitman (2003:64): “The net profit margin measure the percentage of

each salles dollar remaining often all costs and expenses, including in

trust,taxes,and prefarred stock dividens, have been deducted the higher the firm’s

net profit margin, the better”.

Selain itu (Winarni, 2003) mengatakan suatu persentase sisa dari setiap rupiah

penjualan setelah dikurangi seluruh biaya termasuk pajak. Semakin besar


13

persentase yang dihasilkan dari perhitungan tersebut berarti semakin besar sisa

yang diberikan oleh penjualan setelah dikurangi biaya-biaya termasuk pajak.

Besarnya net profit akan berpengaruh pada profitabillitas.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ROS merupakan salah satu

rasio profitabilitas, dimana rasio ini mengukur seberapa efektif penjualan yang

dilakukanbdapat memberikan laba bagi perusahaan.

d. Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen menentukan pembagian laba yaitu antara pembayaran kepada

pemegang saham dan investasi kembali perusahaan. Laba ditahan (retained

earning) merupakan salah satu sumber dana paling penting untuk membiayai

pertumbuhan perusahaan, tetapi dividen merupakan arus kas yang disisihkan untuk

pemegang saham. Keputusan dividen pada hakekatnya menentukan berapa banyak

bagian keuntungan yang akan dibagikan kepada para pemegang saham, dan berapa

banyak yang akan ditahan (Suad Husnan, 1985).

Sehubungan dengan adanya dua pihak yang berkepentingan dalam kebijakan

dividen, yaitu pihak pemegang saham yang mengharapkan dividen dan pihak

manajemen perusahaan yang mengharapkan adanya keuntungan yang ditahan,

maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen (Weston &

Copeland, 1992,hal.120)

e. Aset Growth

Asset Growth didefinisikan sebagai perusahaan tingkat pertumbuhan tahunan dari

aktiva total. Pertumbuhan perusahaan menggambarkan tolak ukur keberhasilan


14

perusahaan. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan perusahaan maka semakin tinggi

pula tingkat investasi yang dapat dilakukan. Tingkat pertumbuhan perusahaan yang

tinggi mencerminkan keberhasilan investasi perusahaan dimasa yang lalu. Sehingga

ada kecenderungan perusahaan untuk berinvestasi kembali di masa yang akan

datang. (Yuniningsih,2002)

Menurut Brailsford, et.al. “asset growt adalah persentase perubahan total asset”.

Suatu perusahaan yang sedang berada pada tahap pertumbuhan akan membutuhkan

dana yang besar (Husnan, 1994). Karena kebutuhan dana makin besar, maka

perusahaan lebih cenderung menahan sebagian besar pendapatannya. Semakin

besar pendapatan ditahan dalam perusahaan, berarti makin rendah dividen yang

dibayarkan kepada pemegang saham. Rendahnya pembayaran dividen akan

menjadikan perusahaan kurang menarik bagi investor. Tingkat pertumbuhan yang

makin cepat mengindikasikan bahwa perusahaan sedang mengadakan ekspansi.

Kegagalan ekspansi akan meningkatkan beban perusahaan, karena harus menutup

lagi biaya ekspansi. Makin besar resiko kegagalan perusahaan, makin kurang

prospektif perusahaan yang bersangkutan. Prospek ini nantinya akan

mempengaruhi harapan atau minat investor. Investor akan cenderung menjual

sahamnya. Semakin banyak saham yang dijual maka harganya akan cenderung

semakin melemah. Perubahan harga saham berarti perubahan keuntungan saham.

Makin besar perubahan keuntungan saham. Makin besar maka saham perusahaan

yang bersangkutan. Pertumbuhan asset dihitung dengan menggunakan rumus

sebagai berikut:

Asset Growth = (Total Assett – Total Assett-1)/Total Assett-1


15

Jadi dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan asset yaitu jumlah asset antara suatu

periode dikurangi dengan periode sebelumnya dibagi dengan total asset periode

sebelumnya.

Solvabilitas

Rentabilitas
Growth
Perusahaan

Kebijakan Dividen

C. Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah dan uraian dari landasan teori, maka ditetapkan

hipotesisi sebagai berikut :

1. Diduga tingkat solvabilitas (Debt to equity ratio dan debt to total asset)

berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan perusahaan industri

pakan ternak.

2. Diduga tingkat Rentabilitas (ROA, dan ROS) berpengaruh secara signifikan

terhadap pertumbuhan perusahaan industri pakan ternak.

3. Diduga kebijakan deviden berpengaruh secara signifikan terhadap perusahaan

ternak.
16

4. Diduga tingkat Solvabilitas (debt to equity ratio dan debt to total assets),

Rentabilitas ( ROA & ROS) serta kebijakan dividen secara bersama-sama

berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan aset perusahaan (assets

growth)..