Anda di halaman 1dari 176

BUKU PEDOMAN DOSEN

PENDIDIKAN AGAMA HINDU


( Intern )

Edit By :
Ida Made Sugita. S.Ag

UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGUL


JAKARTA - 2007

1
KATA SAMBUTAN

Om Swastyastu,
Dalam rangka meningkatkan efektifitas proses pembelajaran pendidikan Agama
Hindu, Buku Pedoman Dosen Pendidikan Agama Hindu di Perguruan Tinggi umum ini
disusun berdasarkan kurikulum dan GBPP Tahun 1994.
Dengan diterbitkannya Buku Pedoman Dosen Pendidikan Agama Hindu ini
diharapkan dapat bermanfaat dalam proses belajar mengajar, mempermudah pemahaman
materi dan standar di dalam menyampaikan materi perkuliahan Pendidikan Agama Hindu.
Apabila dapat proses pembelajarannya berjalan dengan baik maka diharapkan mampu
meningkatkan Sraddha dan Bhakti serta Budhi pekerti yang luhur, sehingga tercipta
peningkatan sumber daya manusia yang memiliki daya saing dalam menghadapi Era
Globalisasi.
Dengan demikian kami pengurus Mata Kuliah Dasar Umum menyambut baik
pencetakan buku ini dikalangan intern kampus Universitas Indonusa Esa Unggul dan kepada
pencetak kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya, semoga Sang
Hyang Widhi Wasa senantiasa melimpahkan Wara Nugrahanya kepada kita semua sehingga
dapat melaksanakan pengabdian dengan sebaik-baiknya.

Kepala PAMU
Universitas Indonusa Esa Unggul

2
DAFTAR ISI

1. Kata Sambutan ................................................................................ 2


2. Daftar Isi ............................................................................................3
3. Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Agama .............................................4
4. Sejarah Agama Hindu ..........................................................................
5. Alam Semesta.......................................................................................
6. Weda.....................................................................................................
7. Panca Sraddha Dasar Keyakinan Agama Hindu .................................
8. Catur Purusartha dan Catur Asrama ....................................................
9. Catur Marga .........................................................................................
10. Agama Hindu dan Pembangunan Nasional .........................................
11. Sosiologi Hindu dan Dharma ............................................................
12. Sad Darsana........................................................................................
13. Etika Agama Hindu ...........................................................................
14. Yahnya.................................................................................................
15. Pandita dan Pinandita .......................................................................
16. Tempat Suci ........................................................................................
17. Hari Suci Agama Hindu.....................................................................
18. Nitisastra .............................................................................................

3
1. POKOK BAHASAN : Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Agama
SUB POKOK BAHASAN : a. Pengertian Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Agama
b. Hubungan filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Agama
TUP : Mahasiswa dapat memahami pengertian tentang
filsafat, ilmu pengetahuan dan agama.
TKP : Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa
diharapkan dapat :
POKOK MATERI : a. Menjelaskan perbedaan pengertian filsafat, ilmu
pengetahuan dan agama.
b. Menunjukkan batas kebenaran bidang filsafat, ilmu
pengetahuan dan agama.
c. Menjelaskan hubungan filsafat, ilmu pengetahuan
dan agama.

PEMBAHASAN
A. Pengertian, Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Agama
Pengertian filsafat berbeda dengan ilmu pengetahuan dan berbeda pula dengan
pengertian agma. Menurut Drs. S.P. Siagian. MPA. Dalam bukunya Filsafat Administrasi
mengatakan “kata filsafat’ berasal dari bahasa Yunani, dari kata “philllos” berarti gemar,
senang atau cinta, dan kata “sophia” artinya kebijaksanaan. Karena itu filsafat berarti
cinta kepada kebijaksanan. Seseorang menjadi bijaksana karena berusaha mendalami
hakekat sesuatu. Dengan demikian filsafat berarti berusaha mengetahui tentang sesuatu
dengan sedalam-dalamnya, baik mengenai hakekat adanya sesuatu fungsi, ciri-cirinya,
kegunaannya, masalahnya serta pemecahan terhadap masalah-masalah itu (Drs. S.P
Siagian, MPA, 1980:2,3).

4
Selain itu Prof. Ir. R. Pudjawijatna, dalam bukunya Pembimbing ke arah Filsafat,
juga menegaskan arti Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab-sebab yang
sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
Disamping kedua pendapat di atas ada pula pendapat tentang definisi filsafat
sebagai berikut;
1. Plato (427-347 SM)
Filsafat adalah ilmu pengetahuan hakikat
2. Aristoteles (384-322 SM)
Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang meliputi logika, fisika,
metafisika dan pengetahuan praktis.
3. Immanuel Kant
Filsafat adalah ilmu pengetahuan pokok pangkal dari segala pengetahuan dan
perbuatan.
4. D.C Mulder
Filsafat adalah pemekaran teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan.
Ilmu filsafat itu mengabtraksikan susunan itu menjadi sasaran pemikirannya.
5. N. Driyarkara
Filsafat adalah pemekaran yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebab "ada" dan
"berbuat, perenungan tentang kenyataan (reality) yang sedalam-dalamnya sampsi ke
"mengapa" yang penghabisan
6. Hasbullah Bakry
Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu mengenai Ketuhanan, alam
semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana
sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu
7. NotoNagoro
Filsafat menelaah hal-hal yang menjadi obyeknya dari sudut intinya yang mutlak dan
yang terdalam yang tetap tidak berubah yang disebut mutlak.

5
Ilmu pengetahuan terdiri dari "ilmu" dan "pengetahuan". Segala sesuatu yang
dapat diketahui melalui indria disebut pengetahuan (know ledge). Tidak semua
pengetahuan disebut ilmu. Pengetahuan yang bisa dikatakan ilmu apabila pengetahuan itu
memenuhi beberapa persyaratan sebagai persyaratan ilmiah dengan cirinya sebagai
berikut:
- Bersistem; Pengetahuan yang dapat diuraikan dari hal-hal yang dianggap paling
mudah sampai yang paling rumit, atau mempunyai hubungan fakta yang satu dengan
fakta yang lainnnya
- Bermethode; Pengetahuan mempunyai cara-cara dalam penyajiannya, sehingga
mudah dipahami atau mempunyai cara-cara memperoleh kebenaran.
- Obyektif: Pengetahuan dapat mengukur / menilai apa adanya atau dapat mencari
persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya.
- Universal; Pengetahuan berlaku umum yaitu berlaku bagi semua orang. Siapapun
dapat menguji kebenaraannya berdasarkan norma ilmiah yang ada.
Suatu keuntungan besar bagi manusia adalah karena manusia memiliki sifat
kodrati ingin tahu. Dari apa yang ingin diketahuinya, manusia tak akan puas sampai batas
itu saja, tetapi mereka ingin lebih tahu lagi. Demikian seterusnya dan tak mempunyai
batas akhir. Mengapa demikian, karena yang paling pokok adalah apa yang diterima
sebagai suatu kenyataan alam ditanggapi sebagai dwifungsi, yaitu ditanggapi secara statis
dan dinamis. Justru inilah yang merupakan daya dorong yang paling mendasar, sehingga
manusia selalu ingin lebih tahu. Sehingga wajarlah apabila ilmu pengetahuan selalu
berkembang pesat sejalan dengan perkembangan teknologi.
Untuk memperoleh suatu pengertian yang lebih jelas maka berikut ini ada
beberapa difmisi tentang ilmu pengetahuan, antara lain;
a. Drs. Ong Hian Hoey, dalam majalah perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi, 11/2
1957 mengatakan; ilmu pengetahuan adalah jumlah pengetahuan yang teratur setelah
diabstraheer dan diobyektiver, sedang sifat kegunaannya menjadi ciri yang utama.

6
b. Mohammad Hatta, dalam bukunya Pengantar Kejalan Ilmu Pengetahuan
menyebutkan; Ilmu adalah suatu pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum
kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiat dan kedudukannya maupun
menurut bangunnya dari luar.
Dengan demikian jelaslah bahwa ilmu itu adalah pengetahuan juga, tetapi
pengetahuan yang sudah teratur, tersusun secara sistematis, metodhis, obyektif dan
universal.
Kata agama secara etimologi berasal; dari bahasa Sansekerta, dari kata "gam"
yang dalam bahasa Inggrisnya sama dengan "go" berarti pergi. Prefiks “a” dari kata gam
berarti tidak. Jadi agama berarti sesuatu yang tidak pergi, yaitu langgeng, yang kekal.
yang abadi. Yang dimaksudkan dengan semua itu adalah Tuhan.
Agama dalam bahasa Inggrisnya merupakan terjemahan "relegion" yang berarti
kedatangan kembali, maksudnya kedatangan wahyu Tuhan. Selain agama dikenal dengan
"dharma" yang berarti menjinjing, memangku, mengatur dan memelihara. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud agama adalah ajaran suci bersifat,
rohani yang menuntun, mengatur kehidupan manusia.
Agama adalah suatu kepercayaan akan adanya Tuhan serta segala sesuatu yang
bersangkut paut dengan itu. Agama adalah kayakinan yang didasarkan atas wahyu Tuhan.
Agama memberi petunjuk bagaimana cara mengadakan hubungan antara manusia dengan
manusia, manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan.

B. Kebenaran filsafat, Ilmu Pangetahuan dan agama.


Kebenaran filsafat terletak pada kemampuan berpikir yang mendalam. Segala
sesuatu yang ada dan yang mungkin akan ada. Dipikirkan sedalam-dalamnya, sampai
keakar-akarnya hinggd melewati batas kebenaran ilmu. Kebenaran filsafat sebenarnya
kebenaran ilmu juga, namun bidang pengkajiannya lebih mendalam serta tidak terbatas.
Filsafat pengkajiannya tidak membatasi diri. Seorang filosof tidak akan pernah merasa

7
puas dengan kebenaran yang sudah ada. Sama halnya dengan ilmu pengetahuan, filsafat
juga menuntut suatu kebenaran secara sadar dan bermethode, bersistem dan universal.
Tetapi sifat kebenaran yang diperoleh tanpa ada batasnya. Dengan demikian bidang
filsafat lebih luas lingkupnya dari pada ilmu pengetahuan. Filsafat menuntut daya
berpikir tinggi dalam menghadapi masalah.
Kebenaran ilmu pengetahuan lingkupnya terbatas yaitu sebatas pengalaman
indria, segala sesuatu yang dapat diketahui secara sadar bersistem, bermethode, obyektif
dan universal disebut ilmu. Kemampuan berpikir dalam mengkaji ilmu menjadi dasar
utama dalam memperoleh kebenaran ilmiah. Jika kita berpikir ilmiah maka kita harus
mempunyai pola pikir yang bercirikan ilimiah. Panca indria merupakan sarana vital
menentukan keberhasilan mengkaji kobenaran secara ilmiah, sebab Panca Indra adalah
pintu gerbangnya ilmu pengetahuan. Dengan panca indria kita dapat mengetahui segala
sesuatu yang ingin diketahui secara sadar.
Proses pengkajian ilmu diawali dengan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah
yang mendorong manusia untuk bertanya dan menyelidiki apa yang ingin diketahuinya.
Mula-mula manusia ragu-ragu terhadap kebenaran tertentu yang sedang dihadapi, maka
mulailah mengadakan hepotesa, mengumpulkan data/fakta, manganalisa berdasarkan data
yang ada, membuktikan dengan percobaan secara berulang-ulang, barulah dapat
mengambil kesimpulan tentang sesuatu kebenaran.
Proses pengkajian filsafat pun sebenarnya sama dengan proses ilmu pengetahuan,
hanya saja filsafat mengkaji lebih jauh dan tidak mandeg sampai disana, dikaji terus
sampai keakar-akarnya. Hal ini disebabkan manusia mempunyai kemampuan berpikir
serta daya nalar apa yang didengar, dialami dan diketahuinya, ia tidak puas sampai disitu.
la ingin mendapatkan keterangan yang lebih luas dan lebih dalam, sehingga dapat
menentukan bagaimana kedudukan persoalan dan mengapa demikian ? Karena manusia
berpijak ingin tahu dengan mengajukan pertanyaan untuk memperoleh jawaban yang
memuaskan.

8
Bila ruang lingkup ilmu pengetahuan hanya sampai pada obyek-obyek nyata yang
dapat ditangkap indria, maka ruang lingkup filsafat lebih luas dari pada itu, mencakup
apa yang ada dan apa yang mungkin akan ada, namun bersifat abstrak, maka ruang 1
ingkup agama sampai di luar jangkauan indria. Karena itu tidak semua masalah-masalah
agama dapat dibuktikan seperti ilmu pengetahuan, dan agama tidak memerlukan
pembuktian. Jadi kebenaran agama berbeda dengan kebenaran ilmiah.
Kebenaran agama adalah mutiak, kekal, abadi. Kebenaran agama adalah
kebenaran Tuhan yang bersifat gaib, artinya (tak terpikirkan oleh akal) namun kenyataan
hidup yang sering dihadapi manusia membuat ia tidak berdaya atas kuasa Tuhan terhadap
segalanya. .Keyakinan menjadi dasar kebenaran agama. Secara konseptual kebenaran
agama terletak pada kepercayaan kepada Tuhan. Seseorang yang mengaku dirinya
beragama harus diawali dengan terlebih dahulu tanpa ada keragu-raguan menerima
kebenaran agama. Meskipun kebenaran agama tidak perlu pengujian ilmiah, tetapi
kebenaran agama dapat disajikan dengan pendekatan secara ilmiah.
Kebenaran agama menuntun semangat hidup atau memberi motivasi hidup
terhadap manusia. Agama memberikan janji di hari depan. Agama memberi rambu-
rambu kehidupan menuju kehidupan yang lebih baik. Agama mengajarkan kepada
manusia untuk meyakini adanya wahyu Tuhan, karena didalam wahyu itu terdapat dua
ajaran pokok yaitu; tuntunan / pedoman harus dilaksanakan dari sesuatu yang harus
dihindari. Sebagai contoh air. Air dalam filsafat memandang tidak hanya sebagai
kebutuhan vital, tetapi masalah airdikaji dan diteliti secara mendalam. Apakah air itu?.
Mengapa perlu diadakan air? Dari mana air itu berasal '?. Demikian seterusnya
pertanyaan itu dilontarkan u.ntuk memperoleh jawaban.
Dari segi ilmiah/ilmu pengetahuan memandang air adalah sebagai suatu
kebutuhan vital yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Tanpa air kita tidak bisa hidup.
Air dianalisis terdiri dari dua unsur. yaitu hidrogen dan oksigen (H 2 0). Air juga
dianalisis dari segi fungsinva. sifatnya, warnanya dan sebagainya. Berbeda dengan

9
pandangan agama. air ditempatkan pada posisi yang istimewa. Air dipandang mempunyai
nilai tambah yakni nilai kepercayaan, nilai kesucian nilai religius. Air juga dipakai
sebagai sarana pemujaan seperti ; Tina amertha. dan sebagainya.
C. Hubungan Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Agama.
Filsafat, ilmu pengetahuuan dan agama, meskipun ketiganya memiliki bidang
yang berbeda, namun semuanya memiliki hubungan yang erat. Adapun hubungannya,
filsafat adalah induknya ilmu pengetahuan yang menjadi dasar pengkajian timbulnya
filsafat. Filsafat dan pengetahuan sama-sama menuntut kebenaran secara sadar
bermethode, bersistem, obyektif dan universal. Antara ilmu dan filsafat sejalan dan saling
berkaitan. Ibarat sebuah pisau belati dengan kedua belah sisinya, satu dengan yang
lainnya berbeda. namun satu fungsi. Ilmu mendukung tumbuh kembangnya filsafat dan
sebaliknya dalam filsafat sudah terkandung ilmu pengetahuan. Demikian halnya dengan
agama yang berdasarkan keyakinan, namun penyajian ajarannya tidak terlepas dengan
methode penyajian ilmiah.
Demikian methode penyajian ilmiah, ajaran agama dengan mudah dipahami.
Dengan demikian methode penyajian ilmiah mutlak diperlukan dalam bidang agama.
Selain dengan ilmu pengetahuan agama juga mempunyai hubungan erat dengan filsafat.
Bahkan agama (Hindu) mempunyai aspek filsafat sebagai salah satu bagian yang amat
penting berupa Tri Kerangka Agama Hindu yaitu aspek Tattwa, Etika dan Upacara.
Tattwa adalah filsafat yang dikemas dalam ajaran Hindu. Di India filsafat yang serupa
dengan itu dinamai Darsana. Oleh karena itu memperdalam ajaran Hindu tidak terlepas
dengan aspek Tattwa. Inilah bukti bahwa agama dan filsafat tidak bisa dipisahkan satu
sama lainnya.

10
POKOK BAHASAN : Sejarah Agama Hindu
SUB POKOK BAHASAN : a. Sejarah agama Indu di India dan Perkembangannya.
b. Sejarah agama Hindu di Indoensia dan
perkembangannya.
TUP : Mahasiswa dapat memahami sejarah perkembangan
agama Hindu di India dan di Indonesia
TKP : Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa
diharapkan dapat :
a. Mengetahui sejarah agama Hindu.
b. Menjelaskan bukti kehidupan jaman India kuno.
c. Menjelaskan fase perkembangan agama Hindu ke
Indonesia
d. Menjelaskan masuknya pengaruh agma Hindu ke
Indonesia
e. Menjelaskan mashab-mashab Hindu di Indnesia
MATERI : a. Kehidupan tata keagamaan Hindu kuno di India
b. Masuknya agama Hindu di Indonesia.
c. Perkembangan agama Hindu di Indonesia.
d. Mashab-mashab Hindu di Indoesia

PEMBAHASAN
A. SEJARAH AGAMA HINDU DI INDIA
Dalam kitab Weda bangsa Arya mempunyai peran penting sejarah agama Hindu
di kemudian hari. Bangsa Arya diperkirakan berasal dari darata Eropa. Penyebaran
bangsa Arya ke arah timur menuju dataran Asia dengan melalui pantai selatan laut hitam

11
menuju Bactria (Asia Kecil). Bangsa Arya ketika menduduki daerah Bactria disebut masa
Indo Iran. Pada saat menduduki Bactria, mereka menyebar ke dua arah yaitu ke utara
menuju Iran (Timur Tengah) dengan menghimpun kitab Avesta di Iran yang menjadi
agama Zoroaster. Ke arah selatan menuju daratan India dengan melalui celah Keyber dan
pegunungan Hindukus dengan menghimpun kitab Weda yang berbahasa Sansekerta.
Selanjutnya bangsa Arya menyebar kepedalaman dan menduduki lembah sungai
Saraswati. Lembah sungai Saraswati ini dalam Reg Weda disebut Brahmawarta (daerah
suci). Lembah sungai saraswati ini memegang peran sangat penting, dan dikemudian hari
akhirnya dianggap merupakan tempat turunnya wahyu Weda, sehingga nama Saraswati
dianggap sebagai Dewi ilmu Penetahuan.
Bangsa Drawida adalah bangsa asli India yang menduduki lembah sungai Sindhu.
Bangsa Drawida menempati dua kota besar yaitu Mohenjodaro dan Harapa. Daerah
penyebarannya meliputi perbukitan Baluchistan, Rajasthan serta Punyab. Bukti-bukti
adanya kehidupan keagamaan bangsa Drawida di lembah sungai Sindhu adalah
1. Ditemukan area Teracota yang dianggap sebagai konsepsi Dewi Kesuburan.
Pemujaan kepada Dewi Kesuburan ini kemudian berlanjut menjadi pernujaan kepada
Dewi Perthiwi yang menjadi salah satu kepercayaan dalam agama Hindu.
2. Ditemukan area Batu Dewa dengan bentuk kepala bertanduk yang terpadu dengan
pohon suci Pitaia.
3. Ditemukan materi bergambar seekor binatang yang dianggap sebagai raja binatang.
Sedangkan didepannya terdapat empat ekor binatang buas dan binatang besar lainnya
seperti gajah, lembu nandini dan badak. Raja binatang tersebut memiliki ciri-ciri
seperti, duduk beryoga, seperti seorang yogi, rambutnya dihias seperti kipas. Hiasan
rambut yang demikian menjadi bentuk senjata yang bercabang tiga (tri sula) sebagai
atribut Dewa Siwa. Penemuan tersebut membuktikan adanya konsepsi Dewa
Pasopati. Tokoh ini dipersamakan dengan tokoh Siwa Maha Dewa pada berikutnya.

12
Demikian pula gambar Lembu Nandini yang pada jaman berikutnya merupakan tokoh
sebagai wahana Dewa Siwa.
4. Ditemukan area batu seorang penari yang dianggap sebagai konsepsi pemujaan Siwa
Nataraja. SiwaNataraja melambangkan Siwe sedang menari sebagai simbol untuk
menciptakan, memelihara dan, mempralina
5. Ditemukan materi bergambar burung Elang yang sedang terbang, yang pada masing-
masing sayapnya ada seekor ular. Gambar tersebut membuktikan adanya konsepsi
burung Garuda sebagai wahana Dewa Wisnu.
6. Ditemukan materi teracota yang terdapat gambar pohon yang didekatnya berdiri
seorang manusia. Ini membuktikan adanya konsepsi pohon suci yang memberikan
perlindungan kepada umat manusia. Konsepsi ini dijaman selanjutnya menjadi
kepercayaan umat Budha menjadi pohon Badhi, sedangkan dalam agama Hindu
disebut Kalpa Wrksha / Kalpa Taru.
7. Ditemukan arca batu seorang tokoh rohaniwan dengan ciri-ciri sebagai berikut; mata
mengarah keujung hidung sebagai lambang melihat dunia spiritual, memakai ikat
kepala dari alang-alang (sirovista), memakai jubah dengan hiasan daun. Penggunaan
jubah dalam agama Budha disebut Sanghati yaitu menutup bahu kiri dan bahu kanan
tetap terbuka.
Dari data tersebut membuktikkan bahwa kehidupan keagamaan sebelum
datangnya bangsa Arya, ternyata bangsa Drawida (India kuno) memiliki tata cara
kehidupan keagamaan yang tinggi Perkembangan kehidupan keagamaan bangsa Drawida
setelah terjadi asimilasi dengan bangsa Arya dapat dikelompokan sebagai berikut
1. Jaman Weda.
Tata cara kehidupan keagamaan dijaman Weda banyak sekali mengenal nama-
nama Dewa. Dewa-dewa ini masing-masing dihubungkan dengan tenaga alam yang
menguasai dan mempengaruhi kehidupan manusia saat itu. Tenaga alam itulah
merupakan manifestasi Dewa, demikianlah maka Agni adalah dewa api, Surya adalah

13
dewa matahari, Candra adalah dewa bulan, Maruta adalah dewa badai, Indra adalah
dewa perang dan sebagainya. Walaupun pada jaman itu mereka mengenal berbagai
macam Dewa tetapi Tuhan tetaplah satu. hanya mereka orang bijaksana menyebutkan
dengan berbagai macam nama. Pada umumnya pada jaman Weda ini hubungan
manusia dengan Dewa sangat dekat sekali, dimana aspek kekuatan alam yang dipuja
melalui Dewa tertentu dengan memakai upakara tertentu. Maka peranan para pendeta
saat itu mulai dominan yang akhirnya ditandai dengan munculnya jaman Brahmana.

2. Jaman Brahmana
Jaman ini ditandai adanya kitab-kitab Brahmana yaitu bagian dari Weda yang
berisi peraturan dan kewajiban keagamaan. Di lihat dari segi filsafat, jaman
Brahmana ini merupakan pendahulu pemikir secara sistematis. Namun dasar-dasar
pemikiran filsafat ini sebenarnya telah ada pada jaman Weda, hanya saja jaman
Brahmana ini sistem filsafat diperluas lagi dalam bentuk yang lebih abstrak, dan
sintesis. Penguraian yang lebih sistematis terjadi pada jaman berikutnya yaitu jaman
Upanisad? Oleh karena kehidupan pada jaman Brahmana lebih banyak dikuasai
masalah yadnya, maka tidak heran jika banyak pemikiran keagamaan bersifat
spikulatif, dan menganggap bahwa yadnya itu memiliki daya sakti yang mistik dan
bersifat rahasia. Pada jaman ini juga mempercayai adanya hidup itu sesudah mati,
adanya pitara dan dunia Dewa/ sorga.
Sebagai kesimpulan bahwa pemikiran keagamaan pada jaman Brahmana
Sudah mengarah kepada pemikiran yang lebih logis dan rasional. Pemikiran masalah
ketuhanan pada jaman ini sudah ada dan kemudian disempurnakan pada jaman
Upanisad.

3. Jaman Upanisad.

14
Jaman upanisad ini ditandai adanya kitab-kitab Upanisad. Pemikiran
keagamaan jaman ini sudah mulai bersifat filosofis, begitu juga masalah hakekat
Tuhan digambarkan secara filsafat. Pandangan yang menonjol dalam kitab Upanisad
adalah suatu ajaran yang bersifat monitis dan absolutisms, artinya ajaran yang
mengajarkan bahwa segala sesuatu yang bermacam-macam itu dilahirkan dari satu
azas yang tertinggi. Realitas ini tidak keiihatan, bebas dari awidya, tidak tembus oleh
akal manusia tetapi menyelami segala sesuatu. Realitas itu disebut Brahman (Tuhan).

4. Jaman Wiracaritra.
Jaman ini adalah jaman yang penting dalam sejarah perkembangan agama
Hindu di India. Pada waktu itu India mengalami krisis politik, hal ini sempat
mempengaruhi kehidupan keagamaan. maka mulai banyak timbul pemikir/ahli agama
yang ingin mengadakan pembangunan dibidang agama, sebagai contoh munculnya
aliran Jainaisme dan Budhaisme.

5. Jaman Sutra-Sutra.
Jaman ini, pembaharuan dibidang agama mulai terasa. Pada jaman ini mulai
bermunculan komentar-komentar yang sederhana untuk mempelajari arti dan makna
ajaran Weda, seperti upacara, filsafat, etika dan sebagainya. Untuk upacara korban
yang diuraikan secara sistematis, maka timbulah sutra-sutra seperti Kalpa Sutra, dan
begitu juga bermunculan sutra-sutra yang lain seperti Sulwa Sutra. Dharma Sutra,
Graha Sutra. Selain pembaharuan dibidang upacara juga ada pembaharuan dibidang
filsafat seperti Nyaya, Waisesika, Samkhya. Yoga, Mimamsa dan Wedanta.

6. Jaman Skholastik.

15
Jaman ini merupakan jaman pemimpin besar sebagai kelanjutan jaman
Wiracarita seperti tokoh Ramanuja, Sankara, Madwa. Setelah masuknya pengaruh
Islam, mulailah ada gejala-gejala perkembangan baru dalam sejarah agama Hindu,
seperti Kabir (1140-1518) yang berusaha memberikan pengaruh agama Hindu dengan
agama Islam, dan mencoba untuk menjadikan agama Hindu dan agama Islam saling
mempengaruhi. Ajarannya dikemudian hari menjadi salah satu sumber-ajaran Nanak
(1469-1538) sebagai pendiri agama Sikh.
Kebangkitan agama Hindu pada abad XVIII dipelopori oleh Ram Mohan Roy
(1772-1833). la adalah seorang tokoh Hindu yang mendapat pendidikan Barat.
Disamping ia berusaha keras untuk membangun dibidang agama, juga mengusahakan
pembangunan dibidang sosial seperti mempelopori pemberantasan poligamL
menghindari Sati (pembakaran janda). Gerakannya disebut Brahma Samaj. Setelah ia
meninggal ajarannya diteruskan oleh Debendra Nathagore ayah dari Rabindra
Nathagore. Setelah Rabindra Nathagore meninggal dilanjutkan oleh Kesab Candra
Sen dan akhirnya ajarannya terpecah menjadi berbagai macam aliran.
Aliran lain yang lebih dipengaruhi oleh politik ialah Arya Samaj yang
dipelopori oleh Swami Dayananda Saraswati. Maksudnya ajaran ini adalah untuk
membangun agama Hindu dan untuk mengadakan sintesa antara yang baru dengan
yang kun'o, antara budaya Barat dengan budaya Timur. Arya Samaj ajarannya
mencakup tiga hal yaitu: Weda adalah wahyu Tuhan, Weda adalah satu-satunya
wahyu Tuhan, dan Weda adalah sumber pokok bagi ilmu agarna-agama di dunia.
Seorang pembaharu ajaran Hindu lainnya adalah Sri Kamaknsna (1834-1886).
la adalah pemimpin spiritual dari Kuil Daksinawar dekat Calcutta. Pembaharuan
agama Hindu yang besar sekali pengaruhnya adalah Mahatma Gandhi (1869-1948),
Ajarannya adalah Monisme, Satya Graha dan Ahimsa.

B. SEJARAH AGAMA HINDU DI INDONESIA.

16
Walaupun secara sederhana, pada jaman prasejarah di Indonesia juga telah
mengenal kepercayaan kepada kekuatan gaib mereka juga melakukan upacara
pemujaan/Sradha. Pada waktu orang meninggal maupun saat penguburan bahkan sesudah
selesai penguburan masih juga dilakukan upacara sradha agar hubungan mereka tidak
terputus. Hal ini juga masih dilakukan dibeberapa daerah di Indonesia.
1. Masuknya agama Hindu di Indonesia.
Data yang memuat secara rinci masuknya agama Hindu ke Indonesia belum dijumpai,
baik di Indonesia maupun diluar negeri. Oleh karena itu dipakailah sumber-sumber
tidak langsung yang berasal dari luar Indonesia.
a. Kitab Ramayana yang digubah sebelum Masehi, yang pada bagian Kiskenda
Kanda menyebutkan bahwa Sugriwa dalam usaha mencari Dewi Sita
memerintahkan para pasukan kera untuk pergi ke Jayadwipa dan Swarnadwipa.
b. Kitab Periploustest Erythastolesses yang ditulis oleh seorang nahkoda Yunani.
Bukti ini merupakan pedoman berlayar di samudra Indonesia (lautan Erythrasa).
Dalam kitab ini menyebutkan terjadinya hubungan antara India dengan wilayah
yang bernama Chryse Chora (negeri emas). Hal ini mengingatkan pada daerah
Swarnadwipa (pulau emas).
c. Kitab Geographika Hepigeses seorang Yunani Iskandariah pada abad 2
masehi, yang menyebutkan beberapa tempat seperti Agryse Chora (negeri perak),
Chryse Chora (Negeri emas), Chrsyse Chersonesus (semanjung emas) dan juga
menyebutkan tempat bernama Jabadion yang dalam bahasa Sansekrta sama
dengan Jawadwipa.
Dengan data tersebut teranglah bahwa hubungan India dengan Indonesia telah
terjadi ribuan tahun yang silam. Ada beberapa teori tentang masuknya agama Hindu
ke Indonesia. Teori tersebut adalah;
a. Mookerjee (India 1912) menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari
India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang yang besar. Setelah sampai di

17
Indonesia mereka membentuk koloni dan membangun kota kemudian
mengadakan kontak hubungan dengan India, maka terjadilah penyebaran agama
Hindu di Indonesia
b. Moens (Belanda) menyatakan bahwa peranan kaum ksatriya sangat besar
dalam proses kolonisasi. Melalui proses ini agama Hindu mulai menyebar di
Indonsia.
c. Krom (Belanda) dengan teori Wesya menyatakan bahwa diterimanya
pengaruh Hindu di Indonesia melalui penyusupan jalan damai yagn dilakukan
oleh golongan pedapang (wesya).
d. Bosh (Belanda) menyatakan bahwa dalam penyebaran agama 1 lindu ke
Indonesia, peranan kaum ksatriya sangat besar. sekalipnn unsur India merupakan
zat penyubur kebudayaan.
e. 1. B. Mantra, dengan leori gabungan menyatakan bahwa masuknya pengaruh
Hindu ke Indonesia dibawah oleh kaum brahmana, dan wesya
f. Dari data peninggalan sejarah di Indonesia disebutkan bahw Rsi Agastya
pernah menyebarkan agama Hindu di Indonesia.
Para ahli sejarah berkesimpulan bahwa masuknya agama Hindu ke Indonesia
terjadi awal tahun masehL sekalipun tak ada bukti tertulis atau benda-benda purba
kala dari kehidupan agama saat itu.

2. Agama Hindu di Indonesia.


Kehidupan keagamaan di Indonesia dapat diketahui pada abad IV masehi
dengan ditemukannya tujuh buah Yupa peninggalan kerajaan Kutai di Kalimantan
Timur. Dalam kehidupan keagamaan didapatkan keterangan pada dua buah Yupa
yang menyatakan bahwa maksud pendiriannya itu untuk memperingati yadnya yang
dilaksanakan oleh raja Mulawarman.

18
Setelah di Kutai agama Hindu ternyata berkembang di Jawa Barat pada abad
V. Hal ini dibuktikan dari tujuh buah prasasti yaitu Ciaruteun, Kebon Kopi, Jambu,
Pasiwari, Muara Cianten,Tugudan Prasasti Lebak. Prasasti tersebut memakai huruf
Pallawa dan bahasa Sansekrta. Dari prasasti tersebut dapat dipastikan bahwa raja
Purnawarman adalah raja Tarumanegara yang beragama Hindu.
Perkembangan agama Hindu selanjutnya ternyata bergeser ke arah timur yaitu
Jawa Tengah. Perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah dapat dibuktikan dengan
adanya prasasti Tukmas di lereng gunung. Merbabu. Kesaksian lain kehidupan agama
Hindu di Jawa Tengah dapat diketahui dari prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh
raja Sanjaya tahun 654 Saka dengan candra sengkala “Sruti indria rasa". Keseluruhan
prasasti itu berbentuk syair yang terdiri 12 bait, diantaranya memuat pemujaan
terhadap dewa Siwa, satu bait untuk dewa Wisnu dan satu bait lagi untuk dewa
Brahma.
Di jaman berikutnya agama Hindu berkembang di Jawa Timur, dibuktikan
dengan ditemukan prasasti Dinoyo 682 Saka dengan memakai hurup Jawa Kuno yang
bahasa Sansekrta. Isi prasasti tersebut menyatakan bahwa raja Simha dari kerajaan
Kanyuruhan mengadakan upacara besar beserta para pendeta dan penduduk negeri.
Bangunan suci peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur adalah candi Badut
di Malang. Dengan berakhirnya kerajaan Kanyuruhan maka muncullah dinansti I sana
Wamsa dengan raj any a Empu Sendok.
Perkembangan selanjutnya, agama Hindu hidup pada jaman Singosari tahun
1042-1222 masehi. Ken Arok sebagai raja pertama digelari Bhatara Guru. Hal ini
membuktikan Ken Arok adalah penganut Hindu yang setia. Peninggalan lain yang
membuktikan pada jaman Singasari adalah berdinnva candi Kidal, candi Jago dan
candi Singosari.
Pada abad XIII berakhirlah masa Singosari sehingga muncul kerajaan
Majapahit. Jaman Majapahit merupakan masa gemilang perkembangan agama Hindu.

19
Bukti kemegahan agama Hindu jaman Majapahit adalah berdirinya candi Penataran di
Blitar. Setelah Majapahit mulai suram, maka agama Hindu berkembang di Bali.
Bersamaan masuknya agama Hindu di Bali pada abad VIII, ternyata agama
Budha juga datang ke Bali. Menurut lontar-lontar yang ada di Bali, bahwa Empu
Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Beliau datang pada abad XI pada
pemerintahan Udayana. Kehidupan keagamaan dengan berbagai sekta-sekta yang
hidup pada jaman sebelumnya dan akhirnya dapat disatukan dengan melalui Sad
Kahyangan. Kahyangan Jagad, Kahyangan Tiga. Konsepsi pemujaan Dewa Tri Muni
dimasyarakatkan dengan melalui Desa Pakraman pada setiap Kahyangan Tiga.
Sebagai penghormatan kepada Empu-Kuturan dibuatlah pelinggih Menjangan
Salwang pada kebanyakan pura yang ada di Bali. Sedangkan tempat moksa beliau
didirikan pura Silayukti. Setelah mundurnva masa kerajaan di Bali, kehidupan agama
Hindu kurang mendapat perhatian. maka pembinaan agama Hindu diatur oleh desa
adat dan Griya-griya (sulinggih) secara lokal. Oleh karena muncullah organisasai
keagamaan seperti :
Suita Gama Tirtha tahun 1921 di Singaraja.
Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar.
Surya Kama tahun 1925 di Singaraja.
Perhimpunan Catur Wangsa Dirg/Gama Hindu Bah tahun 1926.
di Klungkung.
Paruman Para Pandita tahun 1949 di Singaraja.
Madjelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung.
Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar.
Yayasan Dwi Jendra tahun 1959 di Denpasar.
Dan lain-lain.
Pada tanggal 23 Pebruari 1959 beberapa organisasi keagamaan mengadakan
pentemuan membentuk Majelis Agama Hindu. Kemudian tanggal IT-23 Nopember

20
1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama Para Sulinggih di
Campuan Ubud Gianyar dengan menghasilkan Piagam Campuan Ubud yang
merupakan titik awal sebagai landasan pembinaan umat Hindu. Selanjutnya tanggal
7-10 Oktobrr 7-10) diadakan Mahasabha Hindu Bait dengan menetapkan majelis
keagamaan bernama Parisada Hindu Bah sekarang menjadi Parisada Hindu Dharma
Indonesia
2. Mashah-Mashab Hindu di Indonesia
Perkembangan agama Hindu dari India menuju seluruh pelosok dunia
termasuk Indonesia tidak lerlepas adanya mashab (sekta) yang ada. Prof. Krom
mengatakan bahwa di Jawa pernah berkembang mashab Saiwa. Mashab Saugata. dan
Mashab Rsi atau sermg disebut Mahabrahmana Sewa Sogata.
Dr. Bosh menyebutkan pada masa Pemerintahan Hayam Wuruk pernah
berkembang mashab Sora Mashab Budha.
R. Goris dalam bukunya sekta-sekta di Bali menyebutkan ada 9 mashab yang
pernah berkembang di Baii yaitu :
a. Siwa Sidhanta yaitu mashab yang lebih mengutamakan pemujaan kepada
Dewa Siwa. Semuapanditadi Bali disebut sebagai Sidhanta ciri-ciri Sidhanta
antara lain; adanya upacara agama, sikap tangan (mudra), mengucapkan doa tiga
kali sehari, persembahan air suci untuk upacara.
b. Pasupata, mashab ini sudah hilang ciri-cirinya pemujaan Lingga sebagai
lambang Siwa.
c. Bhairawa, mashab ini aliran Durga dari tangan kiri. Cirinya adanya pemujaan
pada setra, menggunakan kekuatan leak, sihir dsb.
d. Wesnawa, mashab ini mengutamakan pemujaan kepada dewa Wisnu dengan
saktinya dewi Sri sebagai dewa kesuburan.

21
e. Budha / Soghata, mashab ini masih ada di Bali Selatan yaitu daerah
Karangasem, tepatnya Desa Budha Keling masih terdapat pandita Budha yang
menggunakan tata upacara Hindu.
f. Brahma/ Smartha adalah mashab yang masih menggunakan cara-cara hidup
secara tradisi.
g. Rsi, mashab ini lebih cenderung melakukan tapa, brata, yoga, semadi di
tempat-tempat yang sunyi.
h. Sora, mashab ini mengutamakan pemujaan kepada dewa Surya.
i. Ganesha, mashab ini mengutamakan pemujaan kepada dewa Gana sebagai
dewa penghalang dari ganggilan. .
Dari kesembilan mashab yang pernah hidup di Bali akhirnya dapat disatukan
menjadi Siwa Sidhanta yaitu Hindu yang kita warisi sampai sekarang.

POKOK BAHASAN : ALAM SEMESTA


SUB POKOK BAHASAN : a. Proses terciptanya alam semesta
b. Asal mula manusia dan unsur-unsurnya.
TUP : Mahasiswa dapat memahami dan mengetahui asal mula
alam semesta dan unsur-unsur serta meyadari
kedudukanya sebgai makhluk yang merupakan bagian
dari alam semesta.
TKP : Mahasiswa diharapkan dapat :
a. Menjelaskan proses terciptanya alam semesta

22
b. Menjelaskan asal mula manusia dan unsur-unsurnya
c. Menjelaskan hakekat manusia.
d. Menjelaskan perbedaan antara manusia, binatang
dan tumbuh-tumbuhan
POKOK MATERI : a. Asal mula alam semesta
b. Asal mula manusia dan unsur-unsurnya
c. Hakekat manusia
d. Manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan
PEMBAHASAN
A. Asal Mula Alam Semesta
Telah kita ketahui bahwa Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) adalah
Maha Pencipta. Hyang Widhilah yang menciptakan alam semesta dengan segala isinya.
Sebelum Hyang Widhi mencipta, alam dengan segala isinya tiada. “Duk tan hana paran-
paran, anrawang anruwung”. Artinya ketika sebelum ada pencipta maka tidak ada apa-
apa dan semuanya tidak menentu.
Didalam Weda (Brihad Aranyaka dan Chandogya Upanisad) disebutkan sebagai
berikut ; Idam wa agra naiwa kincid asit, sad ewa saumya idam agra asit, ekam ewa
adwitya. Artinya sebelum diciptakan alam ini tidak ada apa-apa, Maha Esa dan tidak ada
duanya. Alam semesta dan segala isinya adalah ciptaan Hyang Widhi yang merupakan
pancaran kemahakuasaan-Nya, yang tercipta melalui tapanya Hyang Widhi sendiri. Tapa
adalah pemusatan tenaga pikiran yang terkeram hingga menimbulkan panas memancar.
Dengan tapa inilah Hyang Widhi menciptakan alam semesta dengan segala isinya.
Di dalam Weda (Taittriya Upanisad) disebutkan sebagai berikut: "Sa tapo tasyata
so tapas taptva. idam sarvam asjata yad idam kim ca, tat srstva tad eva anupray icat, tad
anupravicya sac ca tyao ca abhavat" Artinya; Hyang Widhi melakukan tapa, setelah
mengadakan tapa tcrciptalah semuanya yaitu segala apa yang ada di alam semesta ini.
Setelah menciptakan kedalam ciptaannya itu Hyang Widhi menjadi satu.

23
Demikianlah kemahakuasaan Hyang Widhi, disamping menciptakan alam
semesta dengan segala isinya ini juga menyatu dan meresap kedalam ciptaanNya serta
menghidupkan atau memberikan jiwa alam semesta dengan segala isinya sehingga
adanya kehidupan.
Alam semesta dengan segala isinya ini yang dahulu kala pernah tidak ada, lain
ada, kemudian tidak ada lagi dan demikian seterusnya berulang kali. Pada saat ini tercipta
disebut "Srsti” atau Brahma Diva (siang hari Brahma) dan ketika alam ini meniada
disebut "pralaya" atau Brahma Nakta (malam hari Brahma).
Demikianlah proses terciptanya alam semesta. Proses ini bcrlangsung secara
berjenjang. Dari jenjang yang teramat gaib atau halus sampai jenjang yang tampak atau
berwujud.
Penciptaan oleh Hyang Widhi melalui tapa-Nya. pada mulanya terjadi dua
kekuatan asal, yaitu Purusa dan Prakerti. Purusa adalah unsur dasar yang bersifat
kejiwaan. sedang Prakerti adalah unsur dasar yang bersifat kebendaan. Baik Purusa
maupun Prakerti kedua-duanya memiliki sifat yang tak dapat diamati dan tanpa
pernuilan, seperti dijelaskan dalam Weda (Bagawadgita, XIII. 19) sebagai, berikut:
Prakrtim purusam cai va viddhy anandi ubhavapi.
Vikarams ca gunas cai va viddhi prakrtisambhavan.
Artinya : Ketahuilah bahwa Purusa dan Prakerti kedua-duanya adalah tanpa
permulaan dan ketahuilah juga bahwa segala bentuk dan ketiga guna lahir dari Prakerti.
Purusa dan Prakerti inilah kemudian bertemu atau bekerja sama menyebabkan
adanya alam semesta ini secara bertingkat dan berjenjang. Pertemuan antara Purusa dan
Prakeni ini dilukiskan sebagai kerja sama antara yang melek tapi lumpuh dengan yang
kuat tapi buta. Dengan kerja itulah mereka baru bisa melakukan atau membuat sesuatu.
Prakerti yang merupakan azas kebendaan memiliki Tri Guna, yaitu Samttwam.
Rajas dan Tamas. Samttwam sifat dasarnya adalah tenang dan menerangi. Rajas sifat
dasarnya adalah aktif dan dinamis, dan Tamas sifat dasarnya adalah berat dan gelap,

24
Akibat adanya kerja sama Purusa dengan Prakerti ini menyebabkan kekuatan yang ada
pada Tri Guna menjadi seimbang. Pertama-tama kekuatan Sattwam yang lebih besar dari
Rajas dan Tamas melahirkan adanya Mahat. Mahat yang berarti agung. Dari mahat ini
kemudian muncullah Budhi yaitu benih kejiwaan tertinggi, Budhi ini adalah sifat yang
dimiliki oleh Satmam sehingga keputusannya bersifat bijaksana.
Selanjutnya dari Budhi ini lahirlah Ahamkara. Ahamkara herfungsi untuk
merasakan. Dari Ahamkara lahirlah Manas yaitu akal pikiran yang berfungsi untuk
berpikir. Dari Manas selanjutnya lahir Panca Tanmatra yaitu lima unsur halus
yangmeliputi Sabda tanmatra (sari suara). Sparsa tanmatra (sari rabaan). Rupa tanmatra
(sari warna). Rasa tanmatra (sari rasa), dan Ganda tanmatra (sari bau).
Perkembangan selanjutnya dari Panca Tanmatra adalah Panca Maha Bhuta yaitu
lima unsur yang kasar meliputi: Akasa (ether/ruang). Bayu (hawa/udara). Teja (api ),
Apah (air) dan Pertiwi (tanah). Panca Maha Bhuta ini kemudian menjadi alamsemesta
dengan segala isinya seperti matahari, bulan, bumi yang disebut Brahmanda. Demikian
juga gunung. sungai, pohon. binatang. manusia serta yang lainnya.
Jadi jelaslah bahwa alam semesta dengan segala isinya lahir dan mengalir dari
tubuh Hyang Widhi. pada saatnya nanti akan kembali kepada Hyang Widhi. Demikian
dinyatakan dalam Weda (Bhuwana Kosa, lp.22b) sebagai berikut ;
Mangkana pwa Bhatara Siwa irikang tattwa kabeh. riwekasan lina ring sira mwah,
nihan drtopamaya kadhyangganing wereh makweh mijilnya tunggal ya sakeng way.
Artinya : demikianlah halnya Bhatara Siwa (Tuhan) keberadaan-Nya pada
segala makluk pada akhirnya akan kembali kepada-Nya, demikian umpamanya bagaikan
buih banyak timbulnya, tunggallah itu asalnya dari air.

B. Asal mula manusia dan unsur-unsurnya.

25
Asal mula manusia dan alam ini pada hakekatpya sama yaitu dari Purusa dan
Prakerti juga. Maka itu alam semesta ini Lazim disebut Bhuwana Agung dan manusia
disebut Bhuwana Alit. Pada diri manusia unsur Purusa itu menjadi Jiwatma, sedangkan
unsur Prakerti menjadi badan kasar atau stula sarira. Suksma Sarira disebut Raga Sarira.
Suksma Sarira terdiri dari Budhi, Manas dan Ahamkara yang disebut dengan Jri Antah
Karana Sarira.
Tri Antah Karana Sarira inilah menciptakan alat badan mausia yang amat
menetukan watak seorang. Indra manusia ada 10 banyaknya sehingga disebut Dasendriya
yang terbadi menjadi dua bagian yaitu :
1. Panca Budhindriya yaitu terdiri dari Cakswindriya (indriya pada
mata). Srotendriya (indriya pada telinga), Ghranendriya (indria pada hidung),
Jihwendriya (indria pada lidah), Twakindriya (indriaya pada kulit).
2. Panca Karmendriya yaitu terdiri dari Panindriya (indriya pada
tangan). Padendriya (indirya pada kaki). Wakindriya (indriya pada mulut).
Upasthendriya (indriya pada Anus).
Manas disamping berkedudukan sebagai anggota dari Tri Antah Karana Sarira
juga berkedudukan sebagar Rajendriya, karena semua indriya itu berpusat pada pikiran
manusia. Indriya itu tak dapat di amati. Stula Sarira atau Raga sarira yang terjadi pada
Panca Tanmatra dan Panca Maha Bhuta uraiannya adalah sebagai berikut:
1. Tulang belulang, otot, daging dan segala yang pada sifatnya terjadi dari Gandha atau
Perthiwi.
2. Darah, lemak, kelenjar, empedu, air badan dan segala yang cair sifatnya terjadi dari
Rasa atau Apah.
3. Panas badan, sinar mata dan yang panas dan bercahaya sifatnya terjadi dari Rupa atau
Teja.
4. Napas dan udara dalam badan terjadi dari Sparsa atau Wayu.
5. Rongga dada, rongga mulut dan segala rongga lainnya terjadi dari Sabdha atau Akasa.

26
Dalam hubungannya dengan Sthula Sarira manusia terjadi dari unsur antara lain ;
1. Sad Rosa yaitu lapis pembungkus yang terdiri dari. Asti/tawulan (tulang). Odwad
(otot). Sumsum (sumsum). Mamsa (daging). Rudhira (darah) dan Carma (kulit).
2. Dasa Bayu atau Dasa Prana yaitu 10 macam udara dalam badan manusia yang terdiri
dari: Prana (udara pada paru-paru). Samana (udara pada pencernaan). Apana (udara
pada pantat). Udana (udara pada kerongkongan). Byana (udara yang menyebar ke
seluruh tubuh). Naga (udara pada perut yang keluar pada saat perut mengempis),
Kurrnara (udara yang keluar dari badan oleh tangan dan jari). Krkara (udara pada saat
bersin). Dewadatta (udara pada saat menguap), Dananjaya, (udara yang memberi
makan pada badan).
Sedangkan yang mempunyai hubungan dengan Suksma Sarira (badan halus)
manusia antara lain adalah Panca Kosa yaitu 5 pembungkus dari badan halus manusia
yang terdiri dari: Annamaya kosa (badan dari sari makanan). Pranamaya kosa (badan dari
sari nafas), Manomaya kosa (badan dari sari pikiran). Wijnanamaya kosa (badan dari sari
pengetahuan), Anandamaya kosa (badan dari sari kebahagiaan).

C. Hakekat Manusia
Manusia adalah makluk yang berakal. Manusia sering juga disebut Atmaja.
Anuja. Jadma, Purusa. Manusia disebut Atmaja. Anuja. Jadma, karena pada hakekatnya
ia adalah Atma atau Anu yang lahir dari Atma atau Anu yang berbadan. Disebut Purusa
karena memang berasal dari Purusa, dan semua itu adalah sama yaitu percikan yang
mengalir dari Tuhan. Dengan demikian manusia pada hakekatnya adalah penjelmaan dari
Atma. sedangkan Atma adalah berasal dari percikan Tuhan

D. Manusia, Binatang dan Tumbuh-tumbuhan.


Asal mula manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan pada hakekatnya adalah
sama, tetapi berbeda. Berbeda pada sabda, bayu dan idep. Perbedaan kelahiran

27
disebabkan dari karma wasana. Karma wasana bersumber pada perbuatan masa lalu.
Atma menjelma menjadi manusia, menjadi binatang, menjadi tumbuh-tumbuhan, yang
ditentukan oleh pertimbangan kekuatan Tri Guna. Tri Guna adalah bagian dari Prakerti.
Apabila Prakerti bertemu dengan Purusa, maka Tri Guna itu mulai aktif dan ingin saling
menguasai. Apabila kekuatan Tri Guna ini berimbang maka Atma gienjelma menjadi
manusia, Apabila kekuatan Sattwam yang paling unggul dibanding dengan Rajas dan
Tamas menyebabkan Atma akan mencapai moksa. Tetapi jika Sattwam dan Tamas sama
kuatnya menyebabkan akan mencapai surga. Jika berimbang kekuatan Sattwam, Rajas
dan Tamas, maka Atma menjelma menjadi manusia. Sedangkan jika Rajas lebih unggul
dari Sattwam dan Tamas menyebabkan Atma jatuh ke neraka. Akhirnya jika Tamas lebih
unggul dengan yang lain maka Atma menjelma sebagai binatang atau bisa pula menjadi
tumbuh-tumbuhan.
Demikianlah disebutkan dalam Weda (Wrhaspati Tattwa) sebagai berikut;
1. Yan satwika ikang citta ya henuning atma pamanggihaken kamoksa, apan ya nirmala
dumeh ya gumayaken rasa ning agama lawan wekasning guru. (Ws.Tw.20)
Artinya;
Apabila sattwa citta unggul, itulah sebabnya atma menemukan kelepasan, sebab ia
suci yang menyebabkan melaksanakan rasanya (isi) agama dan tuntunan guru.
2. Yapwan pada gong nikang satwa lawan rajah yeka matangnyan mahyun magawaya
dharma denysu kadadi pwakang dharma denya kalih, ya ta matangnyan mulih ring
swarga, apan ikang satwa mahyun ing gawe hayu ikang rajah manglakwaken. (Ws.
Tw. 21)
Artinya :
Apabila sama besarnya antara sattwam dan rajas, itulah menyebabkan ingin
mengamalkan dharma, karenanya berhasillah dharma itu. menyebabkan pulang ke
sorga. sebab sattwam adalah sifat ingin berbuat baik, si rajas itu yang
melaksanakannya.

28
3. Yan pada gongnya katelu. ikang sattwa. rajah, tamah. ya ta matangnyan pangjadma
manusa. apan pada winch kahyunya... (WsTw. 22)
Artinya:
Apabila sama besarnya ketiga guna. itulah yang menyebabkan menjelmanya manusia.
karena sama-sama memberikan kehendaknya / keinginannya
4. Yapwan cina rajah magong. krodha kewala. sakti pwa ring gawe hala ya ta hetuning
atma tibeng naraka (Ws Tw .23).
Artinya;
Apabila cina rajas yang besar, hanya marah kuat pada perbuatan jahat. itulah yang
menyebabkan atma jatuh ke neraka.....
5. Yapwan tamah magong ring cina. ya hetuning atma matemah tiryak ya tan dadi ikang
dharmasadhana denya, an pangdadi ta ya janggama (Ws.Tw.24).
Artinya:
Apabila tamah yang besar pada cina. itulah menyebabkan atma menjadi binatang. ia
tidak dapat melaksanakan dharma olehnya, yang menyebabkan menjadi tumbuh-
tumbuhan.
Dengan memperhatikan sloka di atas maka jelaslah bahwa penycbab utama dart
perbedaan kelahiran itu adalah Tri Guna. Tri Guna ini mclahirkan karma wasana.
Karma wasana inilah yang menentukan corak dan jenis kehidupan di dunia ini.

29
SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)

MATA KULIAH : Agama Hindu


SEMESTER :
TAHUN KULIAH :
SKS :
JENJANG : S1

Tujuan Kurikuler :
Mahasiswa dapat meyakini bahwa Veda sebagai kitab suci sekaligus sebagau sumber hukum
agama Hindu yang berasal dari wahyu Tuhan yang diterima oleh para Maha Rsi. Yaitu
sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia dalam mencapai kesejahteraan dan
kebahagiaan hidup di dunia dan akherat kelak.

Pokok Bahasan : Weda sebagai kitab suci sekaligus sebagai sumber


hukum Hindu
Sub Pokok Bahasan : a. Pengertian Weda
b. Bahasa dalam Weda
c. Umur kitab suci Weda
d. Sapta Rsi penerima wahyu
e. Pembagian dan isi Weda
TUP : Mahasiswa dapat meyakini bahwa Weda sebagai kitab
suci sekaligus sebagai sumber hukum agama Hindu
berasal dari wahyu Hyang Widhi dan sebagai petunjuk
hidup bagi umat manusia.
TKP : Setelah mengikuti perkuliahan mengenai pokok materi
ini, mahasiswa diharapkan dapat:

30
a. Memahami pengertian Weda
b. Mengetahui bahasa yang dipakai dalam Weda
c. Mengetahui umur kitab suci Weda
d. Mengetahui Sapta Rsi penerima wahyu
e. Mengetahui pembagian isi Weda
Pokok Materi : a. Pengertian Weda
b. Bahasa dalam Weda
c. Umur kitab suci Weda
d. Sapta Rsi penerima wahyu
e. Pembagian dan isi weda
Alokasi waktu : 2 x 50 menit
Pengalaman Belajar : Kuliah, baca buku, Dharma Tula
Sumber belajar : Buku, dosen, media masa
Media : OHP, papan tulis
Evaluasi : Lisan, tertulis

PEMBAHASAN
A. Pengertian Weda
Secara etimologi kata Veda berasal dari bahasa Sansekerta yaitu terdiri dari akar
kata Vid yang artinya mengetahui. Dari akar kata Vid berubah menjadi kata benda Veda
yang artinya pengetahuan. Kemudian secara sematik kata Veda mengandung arti
pengetahuan suci. kebenaran. kebijaksanaan. kitab suci yang mengandung kebenaran
abadi. ajaran suci atau kitab suci bag! umat Hindu.
Maharsi Sayana mengatakan bahwa Veda merupakan wahyu Tuhan yang
mengandung ajaran kebajikan untuk kesempurnaan umat manusia serta
menghindarkannya dari perbuatan jahat. Akan tetapi kata Veda ditulis dengan huruf a
panjang (a) maka kata Veda berarti kata-kata yang diucapkan dengan aturan-aturan

31
tertentu. Jadi dalam pengertian ini Veda adalah kata-kata yang diucapkan dengan aturan-
aturan tertentu. dinyanyikan atau dilagukan. Dengan dasar pengertian inilah akhinna
dipergunakan istilah mantra (G. Pudja : 1981 : 6).
Maharsi Manu dalam ajarannya sebagaimana yang ditulis oleh Bhagawan Bhrgu
memberi keterangan tentang arti kata Veda secara limitatif. Dalam Manawa
Dharmasastra Bab 11.10 disebutkan :
Srutis tu Vedo wijneyo Dharmasastram tit wai smrtih te sarwatheswam immamsye
tabbyam dharmohi nirbabhau
Artinya :
Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Veda, demikian pula yang dimaksud
Smrti adalah Dharmasastra, kedua hal ini tidak boleh diragukan dalam hal apapunjuga
karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber daripada Dharma (agama
Hindu).
Dari yang tersirat dalam Manawa Dharmasastra bab 11.10 tersebut di atas dapat
diperoleh pengertian bahwa yang dimaksud dengan Veda ialah Sruti yang merupakan
kitab suci yang tidak boleh diragukan kebenarannya. Demikian pula Dharmasastra karena
keduanya adalah sumber hukum suci, jadi Veda adalah kitab suci.
Dr. M. Winternitz dalam bukunya A History Of Indian Literature Vol 1 (1959)
menegaskan bahwa kitab suci Veda tidak terdiri dari satu buku saja melainkan terdiri dari
banyak buku. Hal ini dibenarkan pula baik oleh tradisi maupun kenyataan sebagaimana
yang diperoleh dari hasil riset para ahli Weda.

B. BAHASA DALAM VEDA


Bhagauan Panini mulai men\usuntata bahasa Sansekerta sebelum Veda mulai
diselidiki yaitu pada tahun 700 SM. dan menamakan bahasa yang dipakai di dalam Veda
dengan nama Daiwi Wak (bahasa dewata). Kemudian pada tahun 200 SM. bahasa itu
mulai dikenal dengan nama Sansekena setelah Patanjali menulis kitab Bahasa pada abad

32
11 SM. Nama Sansekerta yang untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Bhagawan
Patanjali adalah untuk menvebutkan nama bahasa yang dipakai oleh masyarakat umum
dalam pergaulan di Bharata Warsa. Kemudian bahasa itupundibedakandari bahasa Pali,
bahasa yang dipakai oleh orang-orang Magadhi di dalam penxebaran agama Budha.
Setelah Panini berhasil menyusun tata bahasa Sansekerta, kemudian dilanjutkan
oleh Bhagawan Katyayana yang lebih populer dengan nama Bhagawan Wararuci. Pada
abad V SM. Beliau menulis keterangan-keterangan tambahan atas karya Panini. Selain itu
beliau juga menulis kitab Sarasamuccaya yang kemudian di Indonesia diterjemahkan ke
dalam bahasa Jawab Luno pada zaman keemasan Hindu di Jawa.
Kemudian muncul pertanyaan pada kita yaitu bahasa apakah yang dipakai ketika
wahyu itu diturunkan dan ketika Veda itu dituliskan? Jika dibandingkan dengan berbagai
kitab suci lainnya yang cenderung mempergunakan bahasa yang dipakai pada tempat
wahyu. itu diturunkan seperti Alquran dengan bahasa Arab dan yang lainnya.
Memperhatikan hal itu maka dapat disimpulkan bahwa wah\u itu diterima menurut
bahasa yang digunakan oleh penerima wahyu. Para Rsi penerima wahyu Veda
menggunakan bahasa Sansekerta. maka seluruh wah\u Veda menegunakan bahasa
Sansekerta dan bahkan bahasa untuk seluruh susastra Hindu yang berkembang kemudian
juga menggunakan bahasa Sansekerta walaupun kemudian telah banyak diterjemahkan ke
dalam berbagai bahasa.

C. UMUR KITAB SUCI VEDA


Kapankah Veda diwahyukan atau kapan para Maha Rsi menerima wahyu Veda
dari Tuhan Yang Maha Esa ? Tidak ada jawaban yang pasti terhadap pertanyaan ini. Oleh
karena tidak ada yang mengetahui dengan pasti kapan Veda diwahyukan maka pendapat
para sarjana baik di dunia barat maupun di timur tidak ada kesamaan pandangan. Perlu
juga ditandaskan bahwa Veda pada mulanya diterima secara lisan dan kemudian
diajarkan kepada pengikutnya secara lisan pula mengingat pada saat Veda diwahyukan

33
beium dikenal adanya tulisan. Jadi bahasa lisan lebih duhulu digunakan baru kemudian
ketika tulisan ditemukan. mantra-mantra Veda kemudian dituliskan kembali dan tentang
penulisan kembali ini secara tradisional berdasarkan kitab-kitab Purana. Maharsi Wyasa
atau Krsnadvipayanalah yang menuliskan kembali ajaran Veda kedalam empat himpunan
(samhita) dibantu oleh empat orang siswanya yaitu Pulaha yang menyusun Rg Veda.
Vaisampayana yang menyusun Yajur Veda. Jaimini menyusun Athanva Veda. Kembali
tentang kapan wahyu Veda diterima dapat dilihat pendapat para ahli berikut ini:
1. Vidyaranya menyatakan sekitar 1.500 tahun sebelum masehi.
2. Lokamanya Tilak Shastri menyatakan 6.000 tahun sebelum masehi.
3. Bal Gangadhar Tilak menyatakan 4000 tahun sebelum masehi.
4. DR. Haug memperkirakan 2.400 tahun sebelum masehi.
5. Max Muller menyatakan sekitar 1.200 - 800 tahun sebelum masehi.
6. Heina Gelderen memperkirakan 1.150-1000 lahun sebelum masehi.
7. Sylvain Levy memperkirakan 1.000 tahun sebelum masehi
8. Stutterheim memperkirakan 1.000-500 tahun sebelum masehi.
Diantara pendapat para ahli seperti tersebut di atas tentu mempunyai alasan-alasan
tersendiri. Namun demikian pada dasarnya umat Hindu mempunyai keyakinan bahwa
Veda bersifat Anadi Ananta yang artinya tidak berawal dan tidak berakhir dalam
pengertian waktu. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih awal
daripada Veda. Dengan demikian berarti Veda itu telah ada sebelum pengertian waktu itu
ada. Oleh karena itu Veda telah ada saat Brahma ada, sebelum alam semesta diciptakan.
Tentang hal ini Brhadaranyaka Upanisad (II.4.10) menyatakan
Sayathardraidhagner abhyahitat prtag vinicaranti, evam va are symahato bhutasya
nihsvasitam etad yad rgvedo Yajurvedah Samavedo tharwangirasa itihasah puran
avidya Upanisadah slokah sutrany anuvyakhyani vyakhyani asyaivaitanisarwani
nihsvasitani
Artinya :

34
Seperti juga sinar api yang dihidupkan dengan minyak campur air. berbagai asap
akan keluar dan menyebar, begitu juga Rg. Veda, Yajur Veda. Sama Veda,
Atharwa Veda (Atharwangirasa). Itihasa, Purana dan ilmu pengetahuan,
Upanisad, SI oka, Sutra (aphorisms), penjelasan, komentar-komentar. Dari pada-
Nya semua dinapaskan.
Dari Sloka di atas tersirat makna bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat
terpisahkan dengan Veda ibarat hidup yang tidak dapat terpisahkan dengan napas.

D. SAPTA RSI PENERIMA WAHYU


Sapta Rsi artinya tujuh Rsi. Sapta Rsi ini tergolong vipra yang dianggap sebagai
nabi penerima wahyu yang pertama di dalam Veda (Rg. Veda). Istilah Rsi tidak sama
artinya dengan pendeta, walaupun kadang-kadang diartikan demikian seperti terdapat di
beberapa daerah.
Seorang Rsi mempunyai sifat-sifat tertentu dan jabatan tertentu. la adalah pendeta
dan juga sastrawan, ia adalah nabi. Jadi sukarlah untuk mengatakan kedudukan Rsi yang
sebenarnya, sedangkan dewasa ini Rsi adalah pendeta. Oleh karena itu untuk
membedakan arti kata Rsi sekarang dengan Rsi jaman dahulu digunakan istilah Maha
Rsi. yang artinya Rsi , yang agung dan utama melebihi dari Rsi-Rsi lainnya.
Sapta Rsi ini merupakan Rsi-Rsi yang paling banyak disebutkan namanya. baik
sebagai nabi maupun sastrawan. Ketujuh Rsi ini merupakan kelompok keluarga. Dari
beliau-beliaulah semua ayat-ayat yang terdapat di dalam Veda ini dianggap sebagai
sumbernya. sebab beliaulah yang pertama menerima melalui Dewa Brahma yang
menyampaikan ayat suci itu. Untuk mengetahui kedudukan serta peranan dari ke tujuh
Maha Rsi itu dalam rangkaian turunnya wahyu itu, berikut ini di uraikan masing-masing
sebagai berikut

35
1. GRTSMADA
Maha Rsi Grtsmada adalah Maha Rsi yang dihubungkan dengan turunnya ayat-ayat
Veda Rg. Veda, terutama mandala ke II. Namun demikian sejarah kehidupan Maha
Rsi Grtsmada tidak banyak diketahui. Dari beberapa sumber diketahui bahwa beliau
adalah keturunan dari Sunahotra dari keluarga Angira. Anehnya dari catatan lainnya
dijumpai bahwa Grtsmada lahir dari keluarga Bhrgu. Sehingga dapat dikatakan bahwa
sejarah Grtsmada tidak diketahui dengan pasti.
2. WISWAMITRA
Wiswamitra adalah Maha Rsi yang kedua yang banyak disebut-sebut. Beliau
menerima wahyu yang kemudian dihirnpun dalam Veda. Seluruh mandala III dari Rg.
Veda dihimpun oleh Maha Rsi Wisuamitra dan keluarganya
Kitab mandala III ini terdiri atas 58 sukta, yang terdiri atas beberapa pasal.
Ada pula yang mengatakan bahwa diantara pasal-pasal itu diturunkan melalui Kusika,
putra dari Maha Rsi Isiratha. Selanjutnya dikatakan Wiswamitra merupakan putra
Maha Rsi Kusika. Karena dapat diduga bahwa ayat-ayat Veda mandala III ini ada
yang diturunkan se-belum Wiswamitra yang kemudian oleh Wiswamitra digabungkan
dengan ayat-ayat yang diterimanya ke dalam satu mandala.

3. WAMADEWA
Wamadewa adalah Maha Rsi penerima wahyu Veda, khususnya ayat-ayat Rg.
Veda mandala ke IV. Sebagaimana Maha Rsi lainnya, sejarah Maha Rsi Wamadeu a
juga tidak banyak diketahui. Hampir semua mantra-mantra yang terdapat pada
Mandala IV Rg. Veda dikatakan diterima oleh beliau. Salah satu dari mantra yang
terpenting yaitu Gayatru tidak terdapat di dalam mandala IV tetapi terdapat pada
mandala III.
Beberapa pendapat menyebutkan bahwa Maha Rsi Wamadewa telah mencapai
penerangan sempurna sejak masih berada dalam kandungan ibunya. Maha Rsi

36
Wamadewa berdialog dengan malaekat Indra dan Aditi. Cerita tentang dialog ini
dihubungkan dengan kedudukan Wamadewa yang telah mencapai kesucian.

4. ATRI
Atri merupakan Maha Rsi keempat yang menerima wahyu Veda Mandala ke V.
Sejarah Atri sebagai seorang Maha Rrsi tidak banyak dikenal. Ada banyak dugaan
yang membuktikan bahwa nama Atri dan keluarganya bam ak dirangkaikan dengan
turunnya wahyu-wahyu. Nama Atri juga dihubungkan dengan keluarga Angira.
Nama-nama yang banyak disebutkan di dalam Mandala ini ialah Dharuna,
Prabhuwasu. Samwarana, Ghaurauwiti. Putra Sakti. Di dalam mandala ini, terdapat
87 sukta. Dari 87 Sukta ini 14 sukta diturunkan melalui Atri sedangkan lainnya
diturunkan melalui keluarga Atri. Dalam catatan yang ada 36 anggota keluarga Atri
dianggap ikut sebagai penerima wahyu.

5. BHARADWAJA
Bharadwaja adalah seorang Maha Rsi yang dikaitkan dengan turunnya ayat-
ayat Veda. Rg. Veda Mandala VI. Rg. Veda Mandala VI ini memuat 75 sukta.
Hampir seluruh isi dari mandala VI ini dikatakan kumpulan dari Maha Rsi
Bharadwaja. Sebagian kecil dari ayat-ayat mandala VI ini diduga ditenma oleh
keluarga Bharadwaja antara lain disebut nama Sahotrau Sarahotra. Kara. Gargarjiswa.
Dicentakan pula Bharadwaja adalah putra Brehaspati. akan tetapi kebenarannya
masih disangsikari. karena selain nama Bharadwaja terdapat pula nama Samyu yang
dianggap sebagai putra Brehaspati. Sedangkan hubungan antara Samyu dah
Bharadwaja tidak diketahui.

6. WASISTHA

37
Nama Maha Rsi Wasistha sama terkenalnya dengan Maha Rsi Wiswamitra
terutama sebagai Maha Rsi yang dijelaskan di dalam epos Mahabharata. Dijelaskan di
dalam Mahabharata bahwa Maha Rsi Wasistha bertempat tinggal di hutan Kamyaka
di tepi sungai Saraswati.
Dalam kaitannya dengan turunnya wahyu Veda, maka Rsi Wasistha disebut
sebagai penerima ayat-ayat Rg. Veda Mandala VII. Dijelaskan pula seperempat
dari .ayat-ayat Mandala VII ini diterima oleh putranya yaitu Sakti Sakti lahir dari
perkawinan Maha Rsi Wasistha dengan Arundhati saudara perempuan Dewa Rsi
Narada.

7. KANWA
Sebagaimana diceritrakan sastrawan Kalidasa. Maha Rsi Kanwa banyak disebut-sebut
dalam kisah cintanya Sakuntala. Kanwa sendiri merupakan Maha Rsi yang ketujuh
yang dinyatakan sebagai penerima wahyu Veda, khususnya ayat-ayat Rg Veda
mandala VIII. Selanjutnya dijelaskan bahwa Maha Rsi Kanwa hanya menerima
sebagiah kecil saja dari mandala VIII ini. karena selain Maha Rsi Kanwa masih
banyak nama-nama Maha Rsi yang dikaitkan dengan turunnya wahyu Veda mandala
VIII ini antara lain: Gosukti, Aswasukti. Pustigu. Bhrgu. Manu. Waiwasta. Nipatithi,
dan sebagainya.

NAMA-NAMA MAHA RSI LAINNYA


Ayat-ayat Rg. Veda mandala I merupakan kelompok mini yang diwahyukan oleh
Tuhan Yang Maha Esa melalui berbagai keluarga Maha Rsi. Di dalam Mandala I ini banyak
nama-nama keluarga. diantaranya Maha Rsi Sunahsepa yang merupakan putra angkat dari
Maha Rsi Wiswamitra, juga golongan putra Raguhana dan Nodha dari Gotama. Kaksiwan
putra dari Dhirgatama. dan yang paling banyak disebut dalam Mandala I ini adalah Maha Rsi
Agastya. Keluarga Maha Agastyapulalah yang paling banyak disebut di Indonesia.

38
Sedangkan Mandala IX dan X yang memuat dasar-dasar kefllsafatan kerohanian
terutama pada bagian Purusa sukta. Ayat-ayat Rg.Veda mandala IX dan X ini diceritrakan
diwahyukan melalui Bhagawan Narayana. Prajapati dan Hiranyagarbha putra Prajapati.

E. PEMBAGIAN DAN ISI VEDA


Secara garis besarnya Weda di bagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok Sruti
dan kelompok Smerti.
A. Sruti
Kelompok Sruti menurut Maha Rsi Manu merupakan Veda yang schcnarnya atau
Veda originair. Menurut sifat isinya Veda ini dibagi atas tiga bagian, yaitu :
1. Bagian Mantra
2. Bagian Brahmana (karma kanda)
3. Bagian Upanisad /Aranyaka (Jnana Kanda)
Bagian Mantra
Bagian mantra terdiri atas empat himpunan (samhita) yang disebut Catur Veda Samhita
yaitu:
a. Rg. Veda atau Rg. Veda Samhita.
b. Sama Veda atau Sama Veda Samhita.
c. Yajur Veda atau Yajur Veda Samhita.
d. Atharwa Veda atau Atharwa Veda Samhita
Tiga kelompok pertama dari Catur Veda itu sering disebut-sebut sehagai Mantra
yang berdiri sendiri. karena itu sering disebut dengan istilah Tri Veda atau Veda Trayi.
Pengenalan istilah Catur Veda, karena kenyataan Veda itu secara sistimatis telah
dikelompokkan atas empat Veda. Dapat dijelaskan lebih lanjut mengenai keempat
kelompok tersebut yaitu
1. Rg Veda Samhita merupakan kumpulan mantra yang memuat ajaran
umum dalam bentuk pujaan (Re atau Rcas. Arc = memuja)

39
2. Sama Veda Samhita merupakan kumpulan mantra yang memuat ajaran
umum mengenai lagu-lagu pujaan (saman)
3. Yajur Veda Samhita merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat
ajaran umum mengenai pokok-pokok Yajus (plural Yajumsi). Yajur Veda terdiri dari
dua kelompok :
a. Yajur Veda hitam (Krsna Yajur Veda) yang terdiri atas beberapa resensi yaitu :
Taitiriya Samhita dan Maitrayani Samhita
b. Yajur Veda Putih (sukla yajur Veda) yang juga disebut Wajasaneyi Samhita
4. Atharxva Veda samhita merupakan kumpulan mantra-mantra yang
memuat ajaran yang bersifat magic (atharwan).
Kitab Rg. Veda merupakan kumpulan dari ayat-ayat yang tertua. Kitab ini
dikumpulkan dalam berbagai resensi seperti resensi Sakala, Baskala. Aswalakana,
Sankhyayana dan Mahdukeya. Dari lima macam resensi ini yang masih terpelihara ialali
resensi Sakala, sedangkan resensi-resensi lainnya banyak yang tidak sempurna karena
mantra-mantranya hilang. Di dalam mempelajari ajaran-ajaran Hindu dewasa ini para
sarjana umumnya berpedoman pada resensi Sakala, untuk mengetahui seluruh ajaran
yang terdapat di dalam Rg. Veda ini. Berdasarkan resensi Sakala Rg. Veda Samhita
terdiri atas 1017 mantra atau 1028 mantra termasuk mantra Walakhitanya, atau disebut
pula terdiri atas 10580 1/2 Stanza atau 153826 kata-kata atau 432000 suku kata.
Rg. Veda terbagi atas sepuluh mandala yang tidak sama panjangnya. Selain itu
ada juga pembagian atas delapan mandala yang disebut Astaka Mandala. Mandala 2-8
merupakan himpunan ayat-ayat dari keluarga Maha Rsi yang sama. Sedangkan mandala
1.9, 10 merupakan himpunan ayat-ayat dari banyak Maha Rsi.
Sama Veda terdiri atas mantra-mantra yang berasal dari Rg. Veda. Menurut
penelitian, Sama Veda terdiri atas 1810 mantra, atau kadang-kadang ada yang
menyebutkan 1875. Sama Veda terbagi atas dua bagian yaitu bagian Arcika terdiri atas
mantra-mantra Pujaan yang bersumber dari Rg. Veda dan bagian Uttaracika yaitu

40
himpunan mantra-mantra yang bersifat tambahan. Kitab ini terdiri dari beberapa kitab
nyanyian pujaan (gana). Dari kstab-kitab yang ada yang dapat dijumpai antara lain
Ranayaniya. Kautuma dan Jaiminiya (Talawakara).
Yajur Veda terdiri atas mantra-mantra yang sebagian besar berasal dari Rg. Veda,
ditambah dengan beberapa mantra yang merupakan tambahan baru. Tambahan ini
umumnya berbentuk prosa.
Menurut Maha Rsi Patanjali, kitab ini terdiri atas 101 resensi yang sebagian besar
sudah hilang. Kitab ini terdiri atas dua aliran yaitu :
1. Yajur Veda Hitam (Krsna Yajur Veda) terdiri dari tiga resensi yaitu
a. Kathakasamhita
b. Mapisthalakathasamhita
c. Taithiriyasamhita terdiri dari dua aliran yaitu ; Apasthamba dan
Hiranyagharba
2. Yajur Veda Putih (Sukla Yajur Veda) juga dikenal dengan sebutan
Wajasaneyi Samhita, terdiri dari dua resensi yaitu
a) Kanwa
b) Madhyandina
Antara kedua resensi itu hanya terdapat sedikit perbedaan. Yajur Veda putih ini
terdiri atas 1975 mantra yang isinya menguraikan berbagai jenis yadnya besar seperti
Wejapeya, Aswamedha. Sanvamedha dan berbagai jenis yadnya lainnya. Bagian terakhir
dari Veda ini memuat ayat-ayat yang kemudian dijadikan Isopanisad.
Atharveda yang disebut Athanvangira, merupakan kumpulan mantra-mantra yang
juga banyak berasal dari Rg. Veda. Kitab ini memiliki 5967 mantra (puisi dan prosa)
kitab ini terpelihara dalam dua resensi yaitu :
1. Resensi Saunaka terditi atas 21 buku
2. Resensi Paippalada

41
BAGIAN BRAHMANA (KARMA KANDA)
Kitab Brahmana atau karma kanda merupakari bagian kedua dari kitab Sruti. Tiap-
tiap kitab mantra (Rg. Veda. Sama Veda. Yajur Veda dan Atharwa Veda) memiliki kitab
Brahmana masing-masing. Brahmana berarti doa.jadi kitab Brahmana adalah kitab yang
berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan dalam upacara Yadnya.
Kitab Rg. Veda memiliki dua kitab Brahmana yaitu Aitareya Brahmana dan Kausitaki
Brahmana (Sankhyana Brahmana). Kitab Brahmana yang pertama atas 40 Bab dan yang
kedua terdiri atas 30 Bab.
Kitab Sama Veda memiliki kitab Tandya Brahmana, yang sering juga dikenal dengan
nama Panca\vimsa, kitab ini memuat legenda (ceritra-ceritra kuno) yang dikaitkan dengan
upacara Yadnya. Selain itu ada juga Sadwimsa Brahmana. Kitab ini terbagi atas 25 buku.
Bagian terakhir yatu paling terkenal ialah kitab Adhibuta Brahmana. merupakan jenis
wedangga yang memuat mengenai ramalan-ramalan dan penjelasan mengenai berbagai
mujizat.
Yajur Veda memiliki beberapa kitab Brahmana. Yajur Veda hitam (Krsna Yajurveda)
memiliki Taitiriya Brahmana. Kitab ini merupakan lanjutan Taitiriya Samhita yang
merupakan simbolisasi Purusamedha. Yajur Veda putih memiliki Sathapatha Brahmana.
Disebut demikian karena kitab ini terdiri atas seratus adhyaya. Bagian terakhir dari kitab ini
merupakan sumber dari kitab Brhadaranyaka Upanisad.
Kitab Athanva Veda memiliki kitab Brahmana yang disebut Gopatha Brahmana.

BAGIAN UPANISAD DAN ARANYAKA (JNANA KANDA)


Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang rnembahas berbagai
teori mengenai-Ketuhanan.
Menurut DR. G. Sriniwasa murti di dalam introduksi kitab Saiwa Upanisad
mengemukakan bahwa tiap-tiap sakha (cabang ilmu) Veda merupakan satu Upanisad.
Selanjutnya disebutkan : "

42
Rg. Veda terdiri atas 21 sakha
Sama Veda terdiri atas 1000 sakha
Yajur Veda terdiri atas 109 sakha
Atharwa Veda terdiri atas 50 sakha
Namun demikian dalam Muktikopanisad disebutkan ada 108 buah buku Upanisad.
Upanisad yang tergolong Rg. Veda :
Aitareya. kausitaki. Nada Bindhu. Atmaprabodha. Mint ana. Mudgala. Aksamalika. Tripura.
Saubhagya dan Bahwrca Upanisad.
Upanisad yang tergolong jenis Sama Veda :
Kena Chandogya. Arum, Maitrayani. Maitreyi. Wajrasucika. Yogacudamani,
Wasudewa. Mahat Sanyasa. Awyakta. Kondika. Sawirei. Rudraksajabala, Darsana dan
Jabali.
Upanisad yang tergolong jenis Yajur Veda :
Yajur Veda Hitam Kathawali. Taittiriyaka. Brahma. Kaivsalya. Swetaswatara. Garba
Narayaria, Amrtabindu. Asartanada, Katagnirudra,
Kausika. Sarwasara, Sukharahasya, Tejobindu, Dhyanabindhu, Brahmavidya, Yoga
Tattwa, Duksinamurti, Skanda Sariraka, Yogasikha, Ekaksara. Aksi. Awadhuta, Katha,
Rudrahrdaya. Yoga Kundalini, Pancabrahma, Pranagnihotra. Waraka, Kalisandarana dan
Saraswatirahasya.
Yajur Veda Putih : Isawasya. Bradaranyaka. Jabala, Hamsa, Paramahamsa. Subata. Matrika,
Niralambha, Trisikhibrahmana, Mandala Brahmana, Adwanyataraka. Pingala bhiksu,
Turiyatita. Adhyatma. Tarasara. ^'aJna\^alk\a. Satyayani. dan Muktika.
Upanisad yang tergolong jenis Atharwa Veda :
Prasna Munduka. Mandukva. Athawasira, Atharwasikha, Brhajjabala. Nrsimkatapini.
Naradapariwrajaka. Sita. Sarabha, Mahanarayana. Ramarahasa, Ratnatapini. Sandilya.
Paramahamsa. Pariwrajaka, Ahnapurna. Sura. Atma, Pasupata. Parabrahmana, Tripuratapini,

43
Dewi. Bhawana. Brahma. Gamppati. Mahawakya, Gopalatapini, Krsna, Hayagriwa,
Dattatreya. dan Garuda.

B. SMERTI
Secara garis besarnya Smrti dapat digolongkan ke dalam dua kelompok yaitu:
1. Kelompok Wedangga (batang tubuh Veda)
a. Siksa (phonetika)
b. Wyakarana (Tata Bahasa)
c. Chanda (lagu)
d. Nirukta (sinonim dan antonim)
e. Jyotisa (astronomi)
f. Kalpa (ritual)
2. Kelompok Upaveda (Weda Tambahan) terdiri atas beberapa cabang ilmu :
a. Jenis Itihasa
b. Jenis Purana
c. Jenis Arthasastra
d. Jenis Ayurveda
e. Jenis Gandharwa Veda.

44
DAFTAR BACAAN

1. Anonim (Tim Penyusun) : Buku Pelajaran Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi.
Jakarta 1984
2. G. Pudja. MA. SH : Pengantar Agama Hindu (Weda III). Mayasari. Jakarta :
1981

45
POKOK BAHASAN : PANCA SHADHA DASAR KEYAKINAN AGAMA
SUB POKOK BAHASAN : a. Panca Sradha dasar keyakinan dalam agama Hindu
b. Teologi Hindu
TUP : Mahasiswa dapat meningkatkan bhakti dan meyakini
sungguh-sungguh kebenaran adanya Tuhan dengan
segala manifestasinya dan berbagai aspeknya.
TKP : Setelah mengikuti perkuliahan ini.
a. Menjelaskan pengertian Panca Sradha
b. Menyebutkan dan menjelaskan bagian dari Panca
Sradha
c. Menjelaskan pengertian Teologi Hindu
POKOK MATERI : a. Panca Sradha dasar keyakinan dalam agama Hindu
b. Theologi Hindu
PEMBAHASAN
Perlu diketahui bahwa disaat munculnya minat umat Hindu untuk mendalami agama Hindu
karena tuntutan lingkungan memang demikian dimuatlah rumusan Panca Sradha sebagai
dasar keyakinan agama Hindu dalam buku Upadesa. Secara khusus urutan Panca Sradha ini
kita dapatkan dalam buku Panca Sradha karya Drs. Ida Bagus Oka Punyatmaja. Departemen

46
Agama mengemukakan konsep keimanan yang digali dari Weda dengan sebutan Sad Sradha
(enam keyakinan). Sad Sradha dimaksud adalah
1. Satya artinya kebenaran, kesetiaan, kejujuran.
2. Rtha dan Dharma adalah hukum kebenaran dan hukum yang dibuat.
3. Diksa (inisiasi) artinya penyucian. pentasbihan.
4. Tapa artinya pengendalian diri.
5. Brahma atau pujian yaitu semacam doa yang disebut tiga mantra.
6. Yadnya artinya memuja atau memberi (menjadi suci).
Nampaknya konsepsi Sad Sradha ini merupakan unsur pendukung dari Sradha itu
sendiri sehingga antara Sad Sradha dengan Panca Sradha tidaklah ada masalah.
Panca Sradha .yang menjadi keyakinan umat Hindu unsurnya adalah Sad Sradha atau
dengan kata lain Panca Sradha nampaknya diterapkan dalam wujud nyata dalam Sad Sradha.
Contohn\a. kita \akin adan\a Tuhan yang suci untuk sampai pada yang suci kita harus
menvucikan diri. .Usaha dalam manyucikan diri salah satu bentuknya adalah pelaksanaan
yadnya dan demikian seterusnya.
1. Pengertian Panca Sradha.
Kata Panca Sradha berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti lima kayakinan.
Sradha bersifat filosofls abstrak yang mengarah pada tatrwa. yaitu tentang Itu (abstrak).
Panca Sradha terdiri dari :
- Brahma Tamva
- Atma Tattwa
- Karma Phala Tamva
- Punarbhawa Tatt\va
- Moksa Tamva
a. Brahma Tamva adalah keyakinan adanya Hyang \Vidhi. Beberapa sioka dalam Weda
menyebutkan :

47
Ekam sad wiprah bahudha vadanti. Agni Yamam Matarisvanam. Artinya hanya ada
satu hakekat dari pada Tuhan. akan tetapi para arif bijaksana menyebutkan dengan
ban\ak nama seperti Agni. Yama. Matariswa dsb.
Melihat adarna sloka tersebut di atas. maka ajaran agama Hindu adalah Monotheisme.
Namun dalam penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu dipakai gelar sesuai
dengan fungsi. sinar suci dan kekuatan Tuhan itu sendiri. Penamaan atas fungsi, sinar
suci dan kekuatan itulah disebut Deua Berasal kata Div artinya sinar suci. Dewa ada
beribu-ribu. tetapi Tuhan tetaplah tunggal.
b. Atma Tamva adalah keyakinan adanya Atma sebagai sumber makluk hidup. Atma
bersumber pada Brahman yang merupakan percikan halus yang manghidupkan
makluk hidup. Di dalam badan/sarira atman disebut Jiwatman. Sesungguhnya tiap
makluk hrdup terdiri dari unsur raga dan jiwa atau Atman. Bila Atma meninggafkan
badan itu disebut mati. Hal ini bagaikan bolalampu tidak akan menyala tanpa ada
aliran listrik. Begitu pula aliran listrik tidak terlihat dalam lampu yang nyala. Sifat
Atma adalah kekal abadi. karena merupakan unsur Brahman. Hanya badan raga yang
mengalami kematian sedang Atma lidak pernah mati. Agama Hindu yakin bahwa
setiap makluk hidup dihidupkan olch Atman yang sumbernya adalah Brahman.
c. Karma Phala Tattwa adalah ke\akinan adanya perbuatan \ang akan mcnerima hasil.
Perbuatan baik akan menghasilkan hasil \angbaik. dan perbuatan tidak baik akan
mcnerima hasil yang tidak baik. Perbuatan yang baik disebut Subha fcCarma. dan
perbuatan yang tidak baik disebut Asubha Karma. Karma Phala dibedakan menjadi
tiga;
- Sancinta Karma Phala artinya perbuatan yang terdahulu'yang belum habis
dinikmati dan sisanya dinikmati pada kehidupan sekarang ini.
- Prarabdha Karma Phala artinya'hasil dari pada perbuatan ktia masa hidup ini
dan langsung kita nikmati tanpa ada sisanya.

48
- Kryamana Karma Phala artinya bahwa hasil dari perbuatan kehidupan ini
hasilnya belum sempat dinikmati dan akan dinikmati pada kehidupan yang akan
datanu.
d. Punarbhawa Tattwa adalah percaya adanya kehidupan yang berulang-ulang, atau
percaya pada reinkarnasi. Hal ini disebabkan karena Karma seorang belum habis
dinikmati. sehingga Atma harus mengalami kelahiran kembali. Dari penjelmaan satu
ke penjelmaan berikutnya selalu berbeda. disebabkan dari Karma Wasananya. Bila
seorang lebih banyak Subha karma maka dalam penjelmaan akan lebih baik. Begitu
pula sebaliknya. Oleh karena itu kelahiran itu disebabkan oleh Karma Wasananya.
e. Moksa Tattwa adalah bebas dari reinkarnasi. bebas dari kelahiran dan ini berati
Moksa adalah apabila Atma menyatu dengan Paramatma/Tuhan.
Moksa dalam arti yang lebih luas adalah kebebasan dari ikatan duniawi, yakni apabila
kita bisa melepaskan segala nafsu duniawi. Hal ini disebut dengan Jiwan Mukti.
Orang yang dapat mencapai keadan seperti itu akan menerima wahyu langsung dari
Brahman. Demikian yang disebut Moksa Tattwa secara singkat, dan untuk jelasnya
kita ambil perumpaan dalam dalam bagan berikut ini.

Umpama
Atma TUHAN Div = Dewa = sinar
Matahari
Unsur panca H M Purna Karma Moksa
Maha bhuta I A Roh
Perthiwi D T Subha Karma Sorga-Neraka
Apah U I Asubha karma
Bayu P
Teja
Akasa Purnarbhawa
2. Theologi Hindu

49
Theologi atau Brahma Widhya adalah ilmu tentang Tuhan. Theos (bahasa
Yunani) berarti Tuhan dan Loghos berarti ilmu. Dalam ajaran Hindu, ilmu yang
mempelajari ketuhanan disebut Bhrahma Widhya atau Tattwa Jnana. Brahma artinya
Tuhan dan Widhya artinya ilmu.
Di dalam ilmu agama khusus daam bidang theologi dikenal berbagai ajaran (isme)
yang menggambarkan hubungan kepercayaan manusia terhadap hakekat Tuhan. Seperti
monotheisme, politheisme, animesme, totemisme dan sebagainya. Ditinjau dari berbagai
masalah istilah itu, agama Hindu yang paling banyak menjadi obyek pembicaraan, yang
hasilnya tidak menggambarkan kesatuan pendapat dari para indolog. Penggabaran yang
berbeda-beda itu disebabkan karena melihatnya tidak secara keseluruhan. Untuk melihat
sistem ketuhanan Hindu harus dengan melihat secara konsepsional dan menyeluruh.
Konsep ketuhanan dalam agama Hindu adalah MONOTHE1SME, hal ini dapat diketahui
dari Nasadhya Sukta dan Purusa Sukta Reg Weda.
Adapun pembahasan secara khusus mengenai theologi Hindu secara panjang lebar
terdapat dalam kitab Upanisad. Brahma sutra. Darsana. Mithologi yang terdapat dalam
kitab-kitab Purana sangat banyak mempengaruhi cara berpikir para theolog Hindu yang
kurang menyadari arti serta kedudukan kitab-kitab Purana.
Mempelajari ketuhanan sebagaimana diungkapkan dalam kitab Brahma Sutra
1.1.1 merupakan hal yang penting dan perlu karena dengan mengenai Tuhan secara tepat
dan baik dikatakan sebagai jalan mengantar manusia menuju jalan kesempurnaan yaitu
Moksa. Surga dan neraka. moksa dan samsara mempunyai ani dan hubungan yang erat
sekali.
Bebicara soal Tuhan bukan merupakan hal baru. Masalah Tuhan telah lama
menjadi bahan pembicaraan sejak ribuan tahun silam. Kitab Aranyaka dan Upanisad
banyak membahas tentang Tuhan dengan 'berbagai pengertiann\a. Demikian pula kitab-
kitab Brahmana membahas masalah ketuhanan dan kitab upanisad yang melukiskan
secara filosofis dan doktrmer. Kesemuan\a cukup membuka pokok-pokok pikiran baru

50
dalam bidang ketuhanan seperti Brahma sutra yang membicarakan masalah ketuhanan
dalam hubungann\a dengan segala ciptaamna. Kesemuanya itu membuka era baru dalam
alam ketuhanan baik segi ilmu maupun segi obyek.
Ketuhanan vang diajarkan sebagai unsur Sradha dalam agama Hindu dapat
dijumpai dalam kitab Athar\\a Weda XII.1.1 \ang merupakan unsur dalam penghayatan
agama Hindu. Oleh karena itu Tuhan merupakan topik bahasan yang terpenting diantara
para Vipra. Keinginan manusia untuk lebih ba'n\ak tahu tentang Tuhan yang serba gaib
dan mutlak mengenai gambaran sifat hakekat Tuhan. mendorong manusia untuk lebih
banyak menghabiskan. \\aktunya untuk merenung kegaiban Tuhan dengan berbagai
fenomenanya. Penggabaran tentang Tuhan secara lahiriah tidak lebih hanva membaiasi
sifat keabsolutannva.
Setiap orang akan berpikir dan berbicara lain tentang Tuhan, karena itu apa yang
lahir dari pikirannya akan lain pula, wujudnya, baik dalam kefilsafatannya maupun sastra
bahasa.

Perlunya Mempelajari Ketuhanan.


Di atas telah dikemukakan bah\sa mempelajari ketuhanan itu perlu untuk mengeni
dan memahami tentang Tuhan itu sendiri sebagai halnya dilihat dari kaca mata bahasa atau
kata dan pikiran penganutnya. Dengan demikian akan dapat dihindarkan pengertian yang
salah sejauh mungkin tcntang pengenian Tuhan yang dibedakan dari hal yang bukan Tuhan.
Demikian pula dijelaskan bahwa dalam mencari jalan menuju Tuhan. seorang
sadhaka akan dapat menentukan tujuan sembahyang kepada Tuhan secara tepat dengan
mengurangi sedikit mungkin kesalahan-kesalahan sebagai akibat penggunaan bahasa yang
berbeda. Tuhan dalam pandangan agama adalah merupakan subyek. berkuasa atas segala
ciptaannya.
Berpikir tentang Tuhan orang akan sampai kepada Tuhan. Berpikir tentang raksasa
orang akan sampai kepada raksasa. Oleh karena itu untuk sampai kepada Tuhan. orang harus

51
berpikir tentang Tuhan. berarti orang harus mengenal Tuhan. baik yang dikenal sebagai
aspek NIRGLNA BRAHMAN maupun sebagai aspek SAG UNA BRAHMAN. Kita harus
berhati-hati menggunakan istilah kata-kata yang berkaitan dengan pengenian Tuhan dan
bukan Tuhan.
Masalahnya adalah perbedaan bahasa dapat memben am lain dari \ang dimaksudkan.
walaupun maksud pikiran adalah sepem jpa >ang dimaksudkan sebenarnya. Penggunaan
yang salah dapat menimbulkan arti yang berbeda sehingga dapat pula menimbuikan image
yang salah pula. Itulah sebabnya mengapa seseorang periu mempelajari remans pengenian
Tuhan sebaik-baiknya. sehingga perbedaan bahasa tidak akan mempcngaruhi pokokdan
makna yang dimaksud sebagaimana diajarkan agama. Akhirnya bagi seorang sadhaka yang
bhakti iman. bahasa adalah simbol untuk mengemukakan hakekat yang dimaksudkan
olehnya. Oleh karena itu tanpa mempergunakan bahasa. pengenian Tuhan itupun akan dapat
dikemukakan sebagaimana kita jumpai dalam ajaran TANTRAYANA yang
menggantikannya dengan simbol-simbol atau suara yang kadang-kadang sukar dimengerti.
Agama Hindu sebagai agama paling awal dikenal manusia sudah tentu mempunyai
sumber yang cukup luas sebagai akibt pertumbuhan dan perpaduan berbagai tradisi yang
kejadiannya sangat panjgn waktunya, mempengaruhi berbagai wilayah yang luas. Berbagai
konsep dan pengertian telah berkembang sebagai akibat perbedaan cara berpikir dan cara
penapsirannya atas satu pokok keimanan yang sama tentang Tuhan.
Oleh karena itu sudah menjadi suatu keharusan yang tidak dapat dielakkan untuk
mempelajari pokok pengertian tentang ketuhanan sebagai keimanan dalam sistem
penghayatan sebagaimana kita jumpai dalam berbagai ungkapan dalam Weda. Demikianlah
yang diharapkan menurut sistem Hindu untuk benar-benar mengerti dan menghayati agama
dalam berpikir tentang Tuhan perbedaan bahasa tidak akan mempertajam perbedaan
pengertian yang pada hakekatnya tidak berbeda maksud dan tujuannya.

52
POKOK BAHASAN : Catur Purusartha dan Catur Asrama.
SUB POKOK BAHASAN : a. Pengertian Catur Purusartha dan Catur Asrama.
b. Pembagian Catur Purusartha dan Catur Asrama.
c. Hubungan Catur Purusartha dengan Catur Asrama.
TUP : Mahasiswa dapat mengerti dan memahami bahwa Catur
Purusartha dengan Catur Asrama merupakan hubungan
yagn erat sebagai tujuan dan lapangan hidup yang di
tempuh dalam kehidupan dengan mengetahui dan
memahami ajarannya secara benar.
TKP : Setelah mengikuti perkuliahan ini diharapkan
mahasiswa dapat :
a. Menjelaskan pengertian Catur Purusartha dan Catur
Asrama.

53
b. Menyebutkan pembagian Catur Purusartha dan
Catur Asrama.
c. Menunjukkan sloka yang memuat tentang
pembagian Catur Purusartha dan Catur Asrama.
d. Menjelaskan hubungan Catur Purusartha engan
Catur Asrama.
e. Menerapkan ajaran Catur Purusartha Catur Asrama.
PEMBAHASAN
A. Catur Purusartha
1. Pengertian Catur Purusartha
Secara etimologi Catur Purusartha terbentuk dari tiga kata yaitu Catur berarti empat.
Purusa berarti Hidup manusi. Sedangkan Artha berarti tujuan. Dari pengertian
tersebut maka Catur Purusartha berarti empat tujuan hidup manusia dalam upaya
mencapai jagadhita dan moksa. Penjelasan Catur Purusartha dapat kita temui dalam
kitab Brahmana Purana, Santi Par\va dan sebagainya. Ajaran Catur Purusartha adalah
bersifat Universal dan berlaku sepanjang jaman. Di dalam kitab Brahmana Purana,
228.45 ada disebutkan sebagai berikut;
"Dharmarlhakamamoksanam sariram sadhanam "
Artinya : Tubuh adalah aiat untuk mendapatkan dharma. artha kama dan moksa.
Dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan sebagai berikut:
Dharma caste ca kame ca moksa ca bharathasabda. yadihasti tadanya tra
yanne-hasti an tat kvacit.
Artinya : Anak Janamejaya segala ajaran tentang Catur Warga (dharma, artha. kama.
moksa) baik sumber maupun uraian arti dan tafsirannya ada terdapat disini.
Singkatnya segala yang terdapat disini akan terdapat dalam sastra lain, yang tidak
terdapat di sini tidak akan terdapat dalam sastra lain dari sastra ini.

54
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia harus menyadari apa
yang harus dicari dengan badan yang dimilikinya. semuanva tak lain adalah dharma.
artha. kama, moksa.’

2. Pembagian Catur Purusartha.


Catur Purusartha merupakan empat tujuan hidup manusia yang terdiri dari: Dharma.
Artha. Kama dan moksa
a. Dharma.
Kata Dharma berasal dari kata "dhr" yang berarti menjinjing, memelihara.
memangku. mengatur. Dharma juga sering diartikan dengan kata "agama". Jadi
kata dharma berarti sesuatu yang dapat mengatur atau memelihara dunia beserta
isinya. Hal ini dapat pula berarti ajaran suci yang mengatur umat manusia untuk
memperoleh kesejahteraan rohani. Dalam kitab Santi Parxsa. 109.11 disebutkan :
Daranad dharma ithyahur, dharmena widhrtah prajah" Artinya ; Dharma
dikatakan datangnya dari dharma, dengan dharma semua makhluk diatur
Santi Parwa 259.26 menyebutkan :
“Lkasamgrhasamyuktam widatrawihitam puram suksma-dharmathaniyatam
satam caritam uttamam".
Artinya; Kesentosaan umat manusia dan kesejahteraan masyarakat datang dari
dharma, laksana dan budhi pekerti yang luhur. untuk kesejahteraan itulah dharma
dikatakan utama.
Selanjutnya dalam Mahabarata 2.28 dinyatakan;
“Dharmena dharyate sanvam jagat sthawarajanggam"
Artinya; Semua alam, tumbuh-tumbuhan dan binatang diatur oleh dharma
Dengan penjelasan kutipan sloka tersebut di atas jelaslah kiranya dharma
sebagai hukum yang mengatur. memelihara dan mempralina alam semesta beserta

55
isinya serta hukum tata tertib kehidupan dan kesusilaan yang abadi. Dengan demikian
dharma menjadi salah satu tujuan hidup manusia. hal ini berarti setiap manusia dapat
menegakan eksistensi dharma dalam pribadinya. Bagi mereka yang melanggar
dharma akan mendapatkan penderitaan. hal ini ditegaskan dalam Sarasamuscaya 47:
“Yetu dharmasuyante bhuddhimohanwita janah apatha gacchatam tesam
anuyatapi pidyate".
Artinya ; Lagi pula orang yang merendahkan perbuatan dharma. karena angkuhnya
serta tetap melakukan perbuatan yang bertentangan dengan dharma dan juga yang
mengikutinya niscaya akan mendapatkan penderitaan.
Dharma disamping berarti hukum. guna mengatur perbuatan manusia agar.
terbebas dari dosa untuk mencapai kebebasan lahir batin, maka dharma juga berkaitan
erat dengan tugas dan kewajiban dimasyarakat. Dalam palaksanaannya ada dikenal
ajaran Catur Dharma yaitu ;

• Dharma Kriya.

Manusia harus berusaha. bekerja. berbuat demi perikemanusiaannya. yaitu untuk


mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga pada umumnya.

• Dharma Sentosa.

Berarti berusaha mencapai kedamaian lahir batin dan diri senndiri. kemudian baru
dalam lingkungan keluarga. masyarakat. bangsa dan negara. Tanpa adanya
kebahagiaan dan kedamaian dalam diri akan sangat sukar mewujudkan
kesentosaan dalam keluarga apalagi dalam bangsa dan negara

• Dharma Jati.

Melakukan kewajiban untuk menjamin kesejahteraan dan kedamaian keluarga


serta selalu mengutamakan kepemingan umum disamping pribadi.

• Dharma Putus.

Berarti malakukan kewajiban dengan penuh keiklasan beramal dan bertanggung


jawab demi terwujudnya keadilan masyarakat dan selalu mengutamakan

56
keutamaan budhi yang baik untuk menjauhkan diri dari noda dan dosa yang
menyebabkan moral menjadi rusak.
b. Artha.
Kata artha mempunyai makna yang luas. Dalam kaitannyaa dengan Purusartha.
bahwa "artha" berarti tujuan. Dalam kaitannya dengan Paramartha. bahwa "artha"
berarti Tuhan. Dalam naskah Silakrama. kata "artha" berarti harta benda. material,
anak. istri. ilmu pengetahuan dan kesenian. Tetapi sebagai tujuan hidup dalam
Calur Purusartha. kata "artha" berarti harta benda atau kekayaan duniawi.
Berdasarkan kegunaannya yang sesuai dengan ajaran agama. artha dapat dibagi
sebagai berikut:
- Bhoga yaitu kebutuhan primer bagi kebutuhan jasmani segala makluk
hidup. seperti makan minum.
- Upabhoga yaitu kebutuhan hidup yang perlu bagi hidup manusia
seperti pakaian. hiburan. perhiasan.
- Paribhoga yaitu kebutuhan berupa perumahan. anak istri dan
sebagainya.
Artha bertalian erat dengan dharma. sebagaimana disebutkan dalam kitab
Brahmana Purana 121.16.
"Dharmo dharmanubandharto, dharmo natmarthapidakah".
Artinya; Dharma itu bertalian erat dengan artha, dharma tidak menentang artha.

Demikian juga dalam Sarasamuscaya 263 disebutkan;


"Apan ikang artha, yan dharma Iwining karyanya, ya ika labha ngaranya.
paramartha ning amanggih suka sang tumemwaken ika, kuneng van adharma
Iwirning kary ananya kasmala ika sianggahan de sang sajjana, matangnyan
aywa anasar sakeng dharma, van tangarjana".

57
Artinya; Sebab artha itu jika dharma landasan memperolehnya. untung (laba)
nanianya. sungguh-sungguh mengalami kebahagiaan bagi orang yang memperoleh
artha. akan tetapi jika artha itu diperoteh denganjalan adharma merupakan noda/dosa.
dan dihindari oleh orang yang berbudi utama. karena itu janganlah bertindak
menyalahi dharma untuk mendapat artha.
Dengan penjelasan sloka tersebut di atas jelaslah bahwa dalam memperoleh
artha hendaknya dhanna manjadi landasamna. agar artha tersebut memberikan
mantaat. Disampingdiharapkan untuk memperoleh artha yang benar. dalam ajaran
agama Hindu diajarkan mcnggunakan artha secara benar.
c. Kama
Kama berarti nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau
kesejahteraan hidup. Kepuasan atau kenikmatan tersebut memang merupakan salah
satu tujuan atau kebutuhan manusia. karena manusia mempunyai dasendria (sepuluh
indra) yaitu :
1) Srotendriya : keinginan untuk mendengar.
2) Twagendriya : keinginan untuk mcrasakan sentuhan
3) Caksu indriya : keinginan untuk melihat.
4) Jihwenindriya : keinginan untuk mengecap
5) Ghranendriya : keinginan untuk mencium.
6) Panindriya : keinginan untuk memegang
sesuatu
7) Padendriya : keinginan untuk bergerak jalan
8) Paywindriya : keinginan untuk membuang kotoran
9) Upasthendriya : keinginan untuk kenikmatan dengan
kelamin

58
Kesepuluh indriya tersebut menyebabkan manusia berbuat sesuatu karenanya
betapa pentingnya indriya tersebut. Perasaan ingin tahu yang senantiasa menyebabkan
manusia memiliki pengetahuan adalah diakibatkan oleh adanya indriya itu juga.
Namun indriya tersebut perlu dikendalikan. karena ia sering juga dapat
menjerumuskan manusia. Indriya sering diumpamakan seperti kuda liar yang kalau
dapat dikendalikan akan merupakan kekuatan yang luar biasa.
Kama atau kesenangan/kenikmatan menururt ajaran agama tidak akan ada
artinya jika diperoleh menyimpang dari dharma. Karenanya dharma menduduki
tempat di atas dari kama dan menjadi pedoman dalam pencapaian kama.
Dalam hal ini dikemukakan suatu contoh bagaimanakah hendaknya seorang
raja dalam pencapaian kama tersebut. Dalam kakawin Ramayana adalah disebutkan :
Dewakusalasala nwang dharma. yqpahayun mas ya la pahawreddhin byaya
ring hayu ktkesan bhitkti sukahareptu dnehing bala kasukfuw dharma nrivang
ariha nmang kama la ngaran ika aninya:
Tempat-tempat suci hendaknya dipelihara. kumpulkanlah emas yang banyak
serta diabdikan untuk pekerjaan yang baik. nikmati kesenangan dengan memberi
kesempatan bersenang-senang kepada rakyatmu. itulah yang disebut dharma. anha
dan kama.
Dalam baik kakaum Ramaxana di atas telah dinsatakan bah\\a kenikmatan
(kama) hendaknya terletak dalam kemungkinan yang diberikan kepada orang lain
utnuk merasakan kenikmatan. Jadi pekerjaan sang bersifat ingin menguntungkan diri
sendiri dalam memperoleh harta dan kenikmatan tidak dilaksanakan.

d. Moksa
Moksa adalah merupakan tujuan terakhir yang tertinggi dari manusia. Moksa
berani kebebasan atau kelepasan. Maksudnya adalah suatu kebahagiaan dimana atma
dapat lepas dari pengaruh maya dan ikatan subha-asubhakarma serta bersatu kembali

59
dengan asalnya yaitu Brahman. Hal itu disamping discbut moksa juga disebut mukti
atau nirwana.
Pada hakekatnya setiap manusia mendambakan apa yang disebut kebahagiaan
yang kekal abadi (sat cit ananda). namun kebahagiaan seperti itu tak kunjung
dirasakan. Menurut ajaran agama Hindu kebahagiaan yang sejati atau kebahagiaan
yang kekal abadi hanya didapat dalam persatuan dengan Ida Sang H\ang Widhi \anv:
disebut moksa itu Manusia harus men\adari.bah\\a perialanan hidupnya pada
hakekatnya adalah perjalanan mencari Ida Sang Hyang Widhi lalu bersatu dengan
Beliau. Perjalanan seperti itu adalah perjalanan yang penuh dengan rintangan,
bagaikan mengarungi samudra yang bergelombang. Sudah dikatakan di atas bahwa
ajaran agama telah men\ iapkan sebuah perahu untuk mengarungi samudra itu, yaitu
dharma. Hanya dengan berbuat berdasarkan dharma manusia akan dapat mengarungi
dengan selamat samudra yang luas dan ganas itu.
Demikianlah pembagian dan susunan dari catur purusa artha (Catur Warga).
Dari uraian di atas terlihat betapa pentingnya kedudukan ajaran catur purusa artha
tersebut untuk dapat dimengerti dan dilaksanakan oleh setiap manusia. Tujuan hidup
adalah untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki dalam penunggalan dengan Ida Sang
Hyang Widhi atau moksa.
B. CATUR ASRAMA
1. Pengertian Catur Asrama
Secara etimologi. Catur Asrama terdiri dari dua kata yaitu Catur berarti empat
dan Asrama berarti lapangan atau tempat. Dengan demikian Catur Asrama berarti
empat lapangan (pase), kehidupan berdasarkan petunjuk kerohaniaan. Dalam Agastya
Parwa disebutkan
"Catur Asrama ngaranya: Brahmacari. Grhastha. Wanaprastha. Bhiksuka
nahan tang Catur Asrama ngaranya".
Artinya : Yang bernama Catur Asrama ialah Brahmacari. Grhastha. Wanaprastha dan
Bhiksuka

60
Dengan memahami sloka tersebut di atas bahwa Catur Asrama itu terdiri dari
empat pase kehidupan yang mesti dilalui setiap orang.

2. Pembagian Catur Asrama.


Catur Asrama merupakan pase kehidupan manusia yang terdiri dari;
Brahmacari Asrama. Grhastha asrama. Wanaprastha asrama dan Bhiksuka asrama.
- Brahmacari asrama.
Brahmacari berasal dari kata "brahma" artinya ilmu pengetahuan sedangkan
"acarya" berarti berguru atau tingkah laku menuntut ilmu. Berdasarkan makna
kata tersebut maka Brahmacari berarti pase kehidupan bagi seorang dalam
berguru. Pengertian ini akan diperjelas lagi dalam naskah Silakrama hal. 8
dikatakan sebagai berikut:
"Brahmacari ngaranya sang sedeng mmangabhyasa sanghyang Castra, mwang
sang wruh ring tingkah sanghyang aksara. sang mangkana kramanya sang
brahmacari ngaranya .
Artinya : Brahmacari namanya. bagi orang yang sedang menuntut ilmu pengetahuan
dan yang mengetahui perihal ilmu pengetahuan .
Brahmacari dalam istilah lain disebut "aguron-guron” atau "asewaka guru".
Dalam fase kehidupan Brahmacari ini. guru mendidik para siswa dengan petunjuk
kerohanian. kebajikan. amal dan pengabdian yang didasari oleh dharma (kebenaran).
Sistem Brahmacari lebih mengutamakan pada pembentukan sikap mental manusia
yang tangguh dan handal dengan berbagai disiplin ilmu dan keterampilan. Semua itu
menjadikan manusia bisa hidup mandiri dan siap untuk menempuh kehidupan
selanjutnya.
- Grhastha asrama
Grhastha asrama adalah fase kehidupan setelah melewati kehidupan
Brahmacari. Kata Grhasta berasal dari kata "Grha" artinya rumah, dan kata "stha"

61
artinya berdiri atau membina. Jadi Grhastha artinya fase kehidupan dalam rangka
membina rumah tangga. Maka Grhastha asrama memiliki tanggung jawab yang besar
seperti; tanggung jawab terhadap istri, anak, leluhur, orang tua dan masyarakat.
Dengan demikian membangun kehidupan rumah tangga hendaklah
memperhitungkan dengan seksama dan cermat mengenai kesiapan diri baik secara
lahir maupun batin. Lebih lanjut dalam Manawa Dharmasastra menyatakan bahwa
kehidupan Grhastha itu adalah sangat mama.
"Yasmatra yo pyacramino, jnawenanannena canwaham grhasthenaiwa,
dharyante tasmajjyesthacramo grahi".
Artinya :
orang-orang dari golongan lainnya, setiap harinya dibantu oleh kepala rumah tangga
dengan pemberian pengetahuan suci dan makanan. Oleh karenanya golongan kepala
rumah tangga adalah golongan yang terutama.
- Wanaprastha asrama
Wanaprastha adalah fase kehidupan untuk mengasingkan diri dan kesibukan hidup
yang bersifat duniawi dengan melalui usaha-usaha pengendalian diri untuk bisa
melepaskan keterikatan belenggu duniawi. Pada masa kehidupan Wanaprastha,
tanggung jawab terhadap keluarga dan kewajiban dimasyarakat mulai ditinggalkan.
dan diambil alih oleh anak cucunya. Mulai kapan seorang dapat memasuki tase
kehidupan Wanaprastha? Jawaban ini tersurat dalam Manama Dharmasastra 'l .2.
“Grihashastu yada pasyed walipalitamatmamnah
Aparyadyawa capatyam dataranvam sanderayed”
Artinya : Jika seorang kepala rumah tangga sudah terlihat mulai keriput dan
rambutn\a sudah putih dan sudah mempunyai cucu. pada waktu itulah ia boleh hidup
dalam tase Wanaprastha.
- Bhisuka/Sanyasin asrama.

62
Bhiksuka / Sanyasa adalah fase kehidupan yang terakhir setelah melewati
hidup wanaprastha. Pada fase ini aktivitas kehidupan sepenuhnya ditujukan untuk
mengabdikan diri pada pencapaian manunggalnya Atma dengan Paramatma dengan
mengajarkan ajaran kebenaran. Arti kata Bhiksuka sebenarnya adalah peminta-minta.
namun yang dimaksud bhiksuka adalah seorang yang berada dalam fase kehidupan ini
tidak menghendaki adanya kepemilikan untuk kepentingan dirinya sendiri. semua
adalah milik Tuhan, bahkan untuk makan ditanggung oleh murid-muridnya.
Sedangkan ani kata Sanyasin adalah meninggalkan keduniawian dan hanya
mengabdikan kepada Tuhan dengan mengajarkan atau menyebarkan ajaran kebenaran
(dharma). Manawa Dharmasastra menyebutkan :
"Ewam samnyasa karmani swakaryaparamo sprihah. Samnyasenapahatya prapnoti
paranam gatim"
Artinya; la yang dengan demikian, menghentikan petaksanaan upacara yang hanya
tekun mencapai moksa (kebebasan akhir) dan bebas dari nafsu, menghancurkan
dosanya dengan melepaskan segalanya mencapai tingkat tertinggi.

C. HUBUNGAN CATUR PURUSARTHA DENGAN CATl R ASRAMA.


Catur Purusartha dengan Catur Asrama merupakan dua disiplin hidup yang
diajarkan dalam agama Hindu. Catur Purusartha adalah tujuannya dan Catur Asrama
adalah fase kehidupannxa. Dharma adalah yang melandasinya. Fase Brahmacari
melandasi kehidupan dalam menegakkan dharma. Dharma dimaksud adalah mencari
kebenaran dengan menuntut ilmu pengetahuan. Fase Grhastha lebih menekankan pada
upaya pemenuhan untuk mendapatkan arta dan kama. Sedang fase Wanaprastha dan
Bhiksuka lebih menitik beratkan pada upaya untuk mencapai moksa.

63
POKOK BAHASAN : CATUR MARGA
SUB POKOK BAHASAN : a. Bhakti Marga
b. Karma Marga
c. Jnana Marga
TUP : Mahasiswa dapat memahami, mentaati dan
mengamalkan Catur Marga sebagai jalan hidup menuju
Tuhan.
TKP : Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa
diharapkan dapat :
a. Menjelaskan pengertian dan makna ajaran Catur
Marga.
b. Menguraikan prinsip dasar masing-masing Marga
c. Mengidentifikasi pelaksanaan masing-masing
Marga dalam kehidupan sehari-hari.
d. Menumbuhkan toleransi hidup beragama.
POKOK MATERI : a. Pengertian Catur Marga
b. Pembagian Catur Marga
c. Pelaksanaan Catur Marga dalam kehidupan sehari-
hari

64
PEMBAHASAN
A. Pengertian Catur Marga
Catur Marga terdiri dari kata Catur artinya empat dan Marga artinya jalan. Catur Marga
adalah empat jalan untuk menuju Tuhan. Secara keseluruhan Catur Marga bertujuan
untuk menyatukan diri dengan Hyang Widhi (Tuhan) dengan cara mengabdikan diri
utnuk kebaikan dan kesujudan yang tulus iklas secara terus menerus, melakukan
perbuatan mulia dengan tanpa pamrih. dengan cara mengabdikan pengetahuan yang
dimiliki serta dengan melakukan brata, yoga, tapa dan semedi.

B. Pembagian Catur Marga.


Catur Marga meliputi; Bhakti marga. Karma marga. Jnana marga dan Yoga
marga. Dalarn beberapa buku ditemukan istilah Catur Marga dan Catur Yoga. Marga
menekankan kepada jalan yang ditempuh, sedangkan Yoga menekankan kcpada
hubungan dengan Tuhan.
- Bhakti Marga.
Kata Bhakti bcrasal dari kata "bac" artinya cinta kasih. Marga artinya jalan. Bhakti
marga adalah jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan dengah cinta kasih
sebagai landasannya. Bhakti marga adalah jalan murni yang sewajarnya untuk
mencapai Tuhan dengan sungguh-sungguh yang dimulai dengan cinta. berlangsung
dengar cinta dan berakhir dengan cinta. Bhakti adalah cinta yang mendalam kepada
Tuhan. Bhakti muncul karena kehausan dan kerinduan yang mendalam akan Tuhan.
Syarat utama bhakti marga adalah hasrat yang sungguh-sungguh.
Ciri-ciri bhakti :
1) Bhakti tidak mangenal jual beli. jiwanya bhakti memberi mempersembahkan.
2) Bhakti tidak mengenal takut. dimana ada rasa takut disana tak ada cinta.
Contohina tikus tidak pernah jatuh cinta kepada kucing.
3) Cinta itu idial.

65
Bhakti marga adalah jalan umum yang dapat dilaksanakan oleh semua lapisan.
sehingga pengikutnya berjumlah besar. Bhakti tidak bisa berkembang hanya dengan
berteori tentang ketuhanan. Tunas bhakti akan tumbuh jikalau egoisme. iri hati. loba.
kebencian sudah dipudarkan. Karena itu bila bhakti mulai tumbuh patut dijaga dan
dikembangkan dengan cara Srauanam (mendengarkan perihal Tuhan), Smaranam
(mengenang.kanmia Tuhan). Kirthanam (memuji Tuhan). Pada Sewanam (melayani
Tuhan dengan melalui pelayanan kepada semua makluk). Sneham (mendekati Tuhan
bagaikan seorang kawan) Atmaniwedanam (pasrah kepada Tuhan). Arcanam
(Memuja Tuhan).
Tingkatan bhakti ada dua yaitu Apara Bhakti dan Para Bhakti. Apara bhakti
adalah tingkatan bhakti sang masih sederhana. Dalam menuju Tuhan ditandai dengan
rasa takut. Adanya petisi dengan Tuhan. melalui doa-doa dan pujian. Hal ini adalah
wajar dalam perjalanan evolusi Spiritual. Adapun media dari tingkatan Apara Bhakti
adalah: murti puja (Tuhan dalam wujud Saguna Brahma), oleh karena itu sarana
pemujaan berbentuk sesaji.
Para Bhakti adalah bhakti yang tingkatannya sudah tinggi. Ciri-cirinya adalah:
seorang bhakta mempersembahkan apa saja yang dimiliki. ia tidak meminta
imbalan/pamrih dari Tuhan. Seorang bhakta sudah cukup dengan apabila mencintai
Tuhan. Itulah kepuasan seorang bhakta yang tergolong para bhakti.
- Karma Marga.
Karma Marga berasal dari kata "kr" yang berarti berbuat. Segala karma adalah
karma. Karma Marga adalah jalan menuju Tuhan melalui perbuatan tanpa
mengharapkan hasilnya. Semua orang setiap saat berbuat karma. Secara batiniah
karma beraiti apa yang terjadi sekarang dan perbuatan masa lalu. Tetapi dalam Karma
Marga. kata karma berarti bekerja/berbuat.
Setiap orang tidak bisa tinggal diam menghindari kerja (Bhagawadgita.IIl.5).
Sejak baru bangun tidur seorang sudah melakukan kerja. Tuhan sendiri untuk

66
menjaga alam dengan tidak pernah berhenti bekerja (Bhagawadgita, Hl.23,24). Dalam
Bhagawadgita disebutkan ada tiga jenis karma yakni: Akarma. Karma dan Wikarma.
Akarma adalah karma yang membebaskan. Karma adalah perbuatan yang mengikat
pelakunya karena berhubungan dengan indria. Wikarma adalah perbuatan yang
menyimpang/salah.
Karma yang membebaskan bersifat murni. tak tercela, tidak mementingkan
diri sendiri. Ciri karma adalah sangat menekankan pada gagasan Niskama Karma
(perbuatan tidak mementingkan hasil). Pertanyaan yang muncul apakah dengan
menekankan kepada perbuatan yang tidak mementingkan diri sendiri kita akan
kehilangah hasil. bukankah kalau kita melakukah Niskama Karma akan ditipu?
Jawabnya adalah tidak. Seperti kita ketahui bahwa setiap perbuatan ada buahnya.
Selanjutnya, buah itu menghasilkan perbuatan baru. Rentetan perbuatan dan
buah, buah dan perbuatan berwujud seperti rentetan benih dan pohon. Benih dan
pohon timbul bergantian. Benih menjadi pohon dan pohon menjadi benih. Dalam
benih ada pohon, tanpa benih kita tidak mendapat pohon, tanpa pohon tidak mendapat
benih.
Peristiwa ini sangat alamiah sekali. Kendati demikian kita tidak mudah
menerima kenyataan ini. Apabila kesedihan menimpa diri kita, segera kita
menyalahkan orang lain dan berpikir dunia ini jahat hanya kita yang benar. Sementara
kita lupa akan hukum karma pala. Kita lupa bahwa Karmalah sumber baik atau buruk,
untung atau rugi, kesedihan dan kebahagiaan. Seluruh hidup kita ini berkaitan dengan
karma, karena itu kita harus mengerti akan pentingnya arti karma dan melakukan
segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Tidak benar bahwa karma itu sebagai soal
yang tidak berarti. Kita harus ingat pohon beringin yang besar itu tumbuh dari bibit
yang kecil.
- Jnana Marga.

67
Jnana Marga adalah jalan menuju persatuan dengan Tuhan melalui ilmu
pengetahuan. Marga ini dimaksudkan untuk para pencari kehidupan rohani yang
mempunyai kecenderungan intelektual yang kuat. Tujuan Jnana marga adalah untuk
membelah bidang-bidang yang sangat rahasia dengan wiweka. Yang diperlukan
adalah kemampuan untuk membedakan bagian permukaan dari diri kita yang terletak
berlapis-lapis dibagian luar dengan diri kita yang sejati atau Atman yang terletak
didalamnya.
Jalan untuk mencapai kemampuan ini terdiri dari tiga langkah: Pertama
Srawana \aitu mendengarkan ucapan orang bijaksana, kitab suci. Kedua Manana yaitu
merenungkan secara mendalam dan berkesinambungan tentang siapa Aku. Untuk
bahan renungan ini ditauarkan beberapa cara yang bisa dipilih. Misalnya
merenungkan tentang kata badanku. tanganku. Dalam kata badanku dan tanganku
selalu lerkandung antara yang dimiliki dengan yang memiliki. Siapa Aku yang
memiliki itu. Jawabnya adalah Atma. Atma tidak sama dengan badan. Badan ini
tumbuh. berkembang dan akhirma hancur. Atma yang menjadi penghuni badan tetap
abadi. Langkah ketiga adalah mempraktekan. Dalam panggung kehidupan pemeran
(Atma) menggunakan topeng (tubule) untuk mementaskan drama kehidupan. Topeng
itu memperlihatkan watak dan peran yang bersangkutan. sedangkan pribadi yang
memakai topeng itu berdiri dibelakangnya tanpa dikenal.
Pada saat orang sampai pada kesadaran Atma. saat itu lapisan-lapisan itu tidak
mengikat lagi. Dari sini kcsadaran itu meluas kedalam berbagai fenomena kehidupan
dengan suatu kesimpulan bahua Atma scmua makluk itu satu. Tat Twam Asi. bahwa
Atma dan Paramatma juga satu. Brahma Atman Akyam.
Menurut ilmu yoga kehadiran kita ini dikatakan merupakan unit yang
berlapis-lapis yang saline menembus. terpadu berupa satu kesatuan yang menyeluruh.
Lapisan itu mulai dari yang paling kasar. masuk kelapisan yang paling halus dan

68
berakhir pada lapisan yang sangat halus yang dinamakan Atma. Para Yogi membagi
tingkatan lapisan itu mejadi lima yang disebut Panca Maya Kosa \aitu :
1. Annamaya Kosa. badan jasmani. lapisan paling luar yang kasar terdiri dari
unsur makanan.
2. Pranamaya Kosa. lapisan energi vital.
3. Manamaya Kosa. lapisan bawah sadar termasuk ingatan dan refleksi.
4. \\'ijnamax a Kosa. tingkat pengetahuan khusus.
5. Ananda Mayakosa. lapisan selubung atma atau tingkat kebahagiaan.
Memandang diri sendiri sebagai orang lain mempunyai manfaat ganda.
Pertama. memisahkan identifikasi diri dengan tubuh. dan yang kedua menekankan
identifikasi diri dengan tubuh. dan yang ketiga menekankan identifikasi diri ketaraf
yang lebih dalam melalui suatu pengetahuan yang identik dengan jati diri. kemudian
menyatu dengan jati diri. Selain dirinya yang sejati tidak ada lagi pengamat.
pendengar atau pemikir atau pelaku. Maka tingkatan persatuan dalam kebinekaan
tercapailah. Inilah suatu keindahan yang mendatangkan Annanda yaitu Sukha
Tanpauali Dhuka.
- Yoga Marga.
Yoga Marga adalah jalan untuk merealisasikakan Tuhan melalui Yoga.
Orang-orang yang mempunyai kecenderungan dan disiplin diri untuk mencapai
kesatuan dengan Tuhan didukung sepenuhnya dan diberi dorongan untuk
melaksanakannya. Jalan yang ditempuh adalah jalan Yoga. Syarat untuk menempuh
jalan ini adalah harus memiliki keyakinan yang kuat bahwa Atma jauh tebih
mengagungkan dari pada yang kita sadari dan mempunyai hasrat yang kuat untuk
menjalaninya sccara langsung. Tanpa ada keyakinan dan kencenderungan seperti ini
peminat akan jatuh di tengah jalan. karena kurang sabar. Orang yang menempuh
Yoga Marga tidak dituntut untuk menerima apapun. Yang diperlukan adalah
pengendalian pikiran. Sebelum mulai dengan pengendalian pikiran perlu

69
mengendalikan tindakan yang bersifat lahiriah terlebih dahulu. Ada beberapa tahapan
yang ditempuh yang discbut Astangga Yoga, lima diantaranya merupakan latihan.
pengendalian pisik. Bagian Astangga Yoga adalah:
1. Yama. adalah pengendalian tahap pertama yang isinya berupa pantangan-
pantangan.
2. Nyama. adalah pengendalian diri lebih lanjut. yang merupakan ajaran
kesucian menuju Tuhan.
3. Asana. adalah sikap duduk. yang efisien sesuai dengan kondisi masing-
masing.
4. Pranayama. adalah pengendalian prana melalui pengaturan napas –yang
teratur.
5. Pratihara, adalah penarikan pikiran dari obyeknya di dunia luar. untuk
kemudian dikembalikan kedalam batin.
6. Darana. adalah pemusatan pikiran bagian ini sudah berwujud pengendalian
rohani.
7. Dhyana, adalah meditasi. pemusatan pikiran yang lebih intensif.
8. Semadi adalah luluhnya pikiran dengan Atma.
Kedelapan tahapan Yoga itu dapat dikelompokan empat tingkat yaitu.
a. Persiapan Etis, yaitu Yama dan Nyama.
b. Persiapan fisik. yaitu Asana dan Pranayama.
c. Perenungan. yaitu Pratihara dan Dharana.
d. d Pemusatan, yaitu Dyana dan Samadi.
Pelaksanaan Catur Marga dalam kehidupan sehari-hari. walaupun dalam
pembicaraan dipisah-pisahkan namun di dalam prakteknya ke empatnya (Bhakti,
Karma. Jnana. Yoga) merupakan satu kesatuan yang utuh Bhakti. Karma. Jnana.
Yoga marga berintikan kegiatan ego. Puncak dari Bhakti. Karma. Jnana dan Yoga
adalah penyerahan diri secara total dimana Sang Aku lebur dengan cinta.

70
POKOK BAHASAN : Agama Hindu Dan Pembangunan Nasional
SUB POKOK BAHASAN : a. Keselarasan tujuan agama Hindu dan tujuan
pembangunan Nasional
b. Dharma agama dan Dharma Negara.
c. Agama dan modernisasi.
TUP : Mahasiswa dapat memahami kedudukan agama Hindu
dalam pembangunan nasional. Mampu menterjemahkan
dan menjabarkan sumber-sumber nilai, hukum, norma-
norma yang ada dalam agama Hindu untuk
mensukseskan tujuan pembangunan nasional.
TKP : Setelah mengikuti perkuliahan mengenai materi ini
mahasiswa dapat :

71
a. Menjelaskan keselarasan tujuan agama Hindu
dengan tujuan pembangunan nasional.
b. Menjelaskan tentang hakekat dharma agama dan
dharma negara.
c. Menjelaskan tentang sikap agama Hindu terhadap
modernisasi.
POKOK MATERI : a. Tujuan agama Hindu dan tujuan pembangunan
nasional
b. Dharma agama dan dharma negara.
c. Agama Hindu dan modernisasi
PEMBAHASAN
A. Tujuan Agama Hindu dan Tujuan Pembangunan Nasional.
1. Tujuan agama Hindu
Dharma eva plavo nanyah, svargam samabhivanhatam.
Sa ca naurpvanijastatam jaladhed paramic chatatah.
Ikang dharma ngaranya, henuning mara ring swarga ika.
Kadigatining perahu an henuning banyaga nentasing tasik. Ss. 14).
Artinya :
Yang disebut dharma (agama) adalah merupakan jalan untuk pergi ke surga
bagai halnya perahu. sesungguhnya adalah merupakan alat bagi seorang pedagang
untuk mengarungi lautan.
Benotak dari sloka di atas. dapatlah diuraikan bahwa dharma agama) adalah
merupakan sarana atau alat untuk mencapai suatu tujuan. agama merupakan
pedoman. tuntunan bagi umat manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup yakni
kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan batin.
Tujuan hidup ini dapat dirinci lagi dengan sebutan "Catur Purusartha" aninya
empat tujuan hidup yang meliputi dhanna artha kama dan moksa.

72
Dharma berarti kebenaran dan kebajikan. yang menuntun umat manusia untuk
mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan. Artha adalah benda-benda yang dapat
memenuhi atau memuaskan kebutuhan hidup manusia. Kama artinya hawa nafsu.
keinginan Juga berarti kesenangan. Sedangkan moksa berarti kabahagiaan yang
tertinggi yaitu kelepasan.
Di dalam memenuhi segala nafsu atau keinginan harus didasarkan atas
kebajikan dan kebenaran yang dapat menuntun setiap manusia di dalam mencapai
kebahagiaan. Karena sering. manusia lupa akan dasar-dasar dharma dalam upaya
mamenuhi kebutuhannya. sehingga penderitaan yang di perolehrya Oleh sebab itul
dharma harus benar-benar ditegakkan sebagai pengendali guna memenuhi artha dan
kama. Seperti dijelaskan dalam kitab Sarasamuscaya 12.
Karmathau Iipsmarastu. dharmam euaditaccaret
Nahi dhammada petyanhah karma vopi kadacana
Artinya : Pada hakekatnya jika artha dan kama dituntut. maka hendaknva dharma
dilakukan terlebih dahulu. Tidak dapat disangsikan lagi. pasti akan diperoleh artha
dan karma itu nanti. Tidak akan ada artinya jika artha dan kama itu diperoleh
menyimpang dari dharma.
Jadi dhartna (agama) mempunyai kedudukan yang paling penting dalam Catur
Purusanha. karena dharmalah yang menuntun manusia untuk mendapatkan
kebahagiaan lahir batin.

2. Tujuan Pembangunan Nasional.


Pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan yang
berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat. bangsa dan negara
untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan pembangunan nasional yang
termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa dan negara
seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum. mencerdaskan

73
kehidupan bangsa. serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan. perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Adapun tujuan pembangunan nasional seperti yang tertuang dalam GBHN
Tap. II/MPR/1993 bahwa tujuan pembangunan nasional adalah untuk mewujudkan
suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah kesatuan negara Republik Indonesia yang
merdeka berdaulat bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan
bangsa yang aman. tentram tertib dan dinamis dalam lingkungan pergaulan dunia
yang merdeka. bersahabat. tertib dan damai.
Pada hakekatnya pembangunan nasional adalah pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhrnya. dengan
Pancasila sebagai dasar. tujuan dan pedoman pembangunan nasional.
Atas dasar uraian tersebut di atas maka pada dasarnya bahwa tujuan agama
Hindu dengan tujuan pembangunan nasional adalah selaras dan serasi. Keduanya
mempunyai tujuan yang sama. ingin mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan dunia
lahir dan batin. kesejahteraan dunia (jagadhita) maupun kesejahteraan batin (moksa).
ini berarti terbetuknya manusia Indonesia seutuhnya. selaras. serasi dan seimbang
lahir dan batin.

B. Dharma Agama dan Dharma Negara.


1. Dharma Agama
Dharma agama adalah menipakan tugas dan kewajiban yang patut
dilaksanakan oleh sctiap Umat untuk mencapai tujuan agama. Sebagaimana telah
diuraiakan di depan. tentang makna dharma dan tujuan agama Hindu yakni Catur
Purusartha. maka secara mutlak bahwa setiap umat Hindu berkewajiban menegakkan
dharma (agama). Dengan menghayati. mengarnalkan. menegakkan dan melestarikan

74
ajaran-ajaran dharma sesuai dengan tuntunan Weda maka akan terciptalah suatu
kondisi kedamaian.
Apabila sctiap umat Hindu benar-benar mentaati segala tuntunan dan
berpedoman dharma dalam segala gerak dan aktivitas hidup dan kehidupan. niscaya
kedamaian, kesejahteraan akan tercapai. Segala kegiatan yang terlepas dan/atau
meninggalkan dharma niscaya penderitaan yang diperolehnya. Sarasamuscaya 16
menyebutkan :
Yatahadityah samudyan vai tamah, sarvyam vyapohati cvam,
Kalyanamatirtam sar\vapapan vyapohati.
Artinya : Seperti perilakunya matahari yang terbit. melenyapkan gelapnya dunia,
demikianlah orang yang melakukan dharma adalah memusnahkan segala macam
dosa.
Dengan demikian jelaslah bahwa kewajiban utama umat manusia adalah
melaksanakan dharma agama demi tercapainya kebahagiaan. ketentraman dan
kedamaian. Dharma merupakan sumber kebajikan. sumber kebahagiaan dan sumber
kedamaian. Sarasamuscaya 18 menyebutkan :
Dharmah sada Hitah pumsam dharmachaivacrayah satam,
dharmallokastrayastata pravrttah sacaracarah.
Artinya : Dan keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber
datangnya kabahagiaan bagi yang melaksanakannya. lagi pula dharma itu merupakan
perlindungan orangyang berilmu. tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa
Triloka.

2. Dharma Negara.
Dharma negara berarti suatu kewajiban atau tugas yang harus dilaksanakan umat
terhadap negaranya kewajiban berbakti kepada negara dalam ajaran agama Hindu
telah dituangkan dalam Catur Guru Bhakti yang salah satunya adalah Bhakti kepada

75
Guru Wisesa (negara). Berbakti kepada negara berarti bahwa sebagai warga negara
yang baik akan selalu mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sebab. pemerintahlah yang melindungi segenap warga negaranya. Seperti \ang-
berkaitan dengan pelaksanaan ibadah keagamaan yangdisebutkan dalam UUD 1945
pasal 29 ayat (2) yang berbunyi sebagai berikut :
Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya.
Dengan demikian sudah selayaknya kalau sebagai umat beragama dan sebagai
warga negara yang baik berperan dalam segala gerak dan aktivitas yang dilaksanakan
oleh negara demi terwujudnya cita-cita bangsa dan negara.

C. Agama Hindu dan Modernisasi.


Agama Hindu merupakan agama yang tertua diantara agama-agama yang ada di
dunia. Agama Hindu ada sebelum adanya agama lain di dunia. Agama Hindu disebut
“tanpa permulaan” la adalah selalu ada. la adalah sanatadharma atau agama yang kekal
abadi. Jadi agama Hindu walaupun agama yang usianya paling tua. namun tetap ada dan
berkembang sesuai keadaan jaman.
Ajaran Weda tetap sesuai dan tetap diterapkan pada jaman sekarang. Dan bahkan
dengan ajaran-ajaran Weda akan mampu mengendalikan perkembangan, sehingga terjadi
keselarasan. keserasian dan keharmonisan antara jasmani dan rohani. Agama Hindu
menerima bak modernisasi secara selektif, sepanjang tidak bertentangan denean nilai-
nilai agama Hindu. Modernisasi berperan sebagai penopang atau penunjang untuk
mencapai hakekat dari pada tujuan hidup beragama.

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

76
Matakuliah : Sosiologi Hindu Dharma
Semester :
Tahun Kuliah :
SKS : 2 SKS
Jenjang : S1

1. Tujuan Kurikulum
Mahasiswa dapat mengerti memahami sosiologi Hindu Dharma, memiliki
pengetahuan sosiologi Agama Hindu dapat berfikir strategis, mengkaji struktur, mampu
mengembangkan sifat dan sikap, serta menyadari kedudukan sebagai anggota keluarga
dan masyarakat, memiliki toleransi dalam kehidupan sosial.

2. Pokok Bahasan : Pengertian dan ruang lingkup sosiologi Agama Hindu


Sub Pokok Bahasan : a. Pengertian sosiologi Agama Hindu
b. Spsiologi agama Hindu sebagai suatu ilmu.
c. Keluarga dan masyarakat dalam agama Hindu.
TPU : Mahasiswa dapat mengerti dan memahami sosiologi
agama Hindu menyadari kedudukanya sebagai anggota
keluarga dan anggota masyarakatm serta mampu
mengembangkan sifat dan sikap toleransi dalam
kehidupan sosial.
TPK : Mahasiswa mampu :
a. Pemahaman dan pengetahuan mengenai sosiologi
agama Hindu
b. Kemampuan untuk menjelaskan materi sebagai mana
tersebut pada pokok bahasan.

77
c. Mengembangkan dan mengaplikasikan pada
kehidupan di masyarakat.
3. Pokok Materi : a. Pengertian sosiologi Agama Hindu
b. Keluarga dan masyarakat dalam agama Hindu.
c. Catur Warna

SOSIOLOGI AGAMA HINDU

a. Pengertian Sosiologi Agama Hindu.


Manusia adalah sebagai mahluk dinamis yang memiliki banyak aspek dalam
kehidupan, disadari atau tidak manusia adalah mahluk daiam kesatuan sosial yang
sekaligus adalah mahluk individu. demikian pula manusia dipahami sebagai satuan
kehidupan keagamaan tertentu. tidak akan menjadi lengkap jika hanya memahami. aspek
dogmatik agama yang dijadikan tatanan masyarakat tertentu. atau sebaliknya hanya
memahami aspek sosiologi secara umum.
Penjelasan yang lebih lengkap tentang kesatuan manusia dalam suatu kehidupan
keagamaan tertentu. dapat diharapkan secara wajar dari suatu bagian studi sosiologi
agama Hindu, lebih khusus lagi sosiologi agama Hindu.
Dr. H. Goddijn dan Dr. W. Godijn (dalam Hendropuspita 1983) mengatakan
bahwa sosiologi agama adalah bagian sosiologi umum yang mempelajari suatu ilmu
sosial emperis. propan dan positif yang menuju pada pengetahuan yang bersifat universal,
tentang structural, fungsi-fungsi serta perubahan-perubahan yang dialami kelompok
keagamaan.
Difinisi sosiologi agama seperti terurai di atas masih bersifat umum. karena belum
menunjukkan pada satu kelompok keagamaan tertentu. bila dikaitkan dengan kesatuan
kehidupan keagamaan Hindu, maka sosiologi agama Hindu dapat diartikan sebagai satu
disiplin ilmu yang merupakan bagian dari sosiologi agama yang mempelajari masyarakat

78
pemeluk agama Hindu secara emperis yang bersifat Universal, perihal structural, fungsi-
fungsi serta perubahan-perubahan yang dialami masyarakat penganut agama Hindu.
Dengan demikian dapat dimengerti bahwa sosiologi agama Hindu adalah suatu ilmu,
yang merupakan bagian dari ilmu sosiologi agama, dan untuk dapat lebih menemukan
pengertian terhadap sosiologi agama hindu, maka kita menarik depinisi sebagai berikut :
Sosiologi Agama Hindu adalah suatu disiplin ilmu yang merupakan bagian dari
sosiologi agama, yang mempelajari masyarakat pemeluk agama Hindu secara emperis
yang bersifat positif, menuju pengetahuan yang bersifat universal mengenai structural,
fungsi-fungsi serta perubahan - perubahan yang di alami masyarakat penganut agama
Hindu.

b. Keluarga dan masyarakat dalam agama Hindu.


Kata keluarga berasal dari bahasa sansekerta yaitu kula dan warga artinya abdi
pelayan dan warga berarti jalinan atau ikatan. jadi kata keluarga berarti jalinan atau
ikatan pengabdian dan pelayanan. Ikatan pengabdian dan pelayanan antar bapak
dengan ibu (suami istri), ayah ibu kepada anak-anak, anak-anak kepada ayah ibu
bahkan pada leluhur.
Jelasnya bahwa seluruh anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-
anak, harus menyadari sepenuhnya bahwa apa yang diperbtiat adalah tugas dan
kewajiban, dalam agama Hindu disebut Swadharma. sehingga semua itu merupakan
suatu karma yang sepatutnya dilaksanakan agar tujuan hidup dan tujuan agama dapat
tercapai.
Tujuan hidup manusia dalam pandangan Hindu adalah tercapai Catur
Purusartha. yang terikat sebagai suatu jalinan yang harmonis dalam kehidupan yang
terdiri dari Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Tujuan hidup yang sekaligus
merupakan dasar kehidupan ini adalah hal yang sangat hakiki dan bersifat universal.
Sedangkan tujuan agama Hindu yang ingin dicapai diwujudkan dalam kehidupan

79
umat beragama Hindu, adalah Moksatham Jaeaditha vaca iti dharmah, Moksatham
adalah kebahagiaan bathin. dan Jagaditha kesejahtraan lahir dengan cara yang baik
dan benar sesuai dengan petunjuk ajaran agama. Dengan demikian tujuan Hindu
mengantarkan umat untuk mencapai kesejahtraan lahir. kebebasan bathin dengan
berdasarkan dharma. Tujuan agama melandasi tujuan hidup setiap umat Hindu, yang
merupakan dasar dan pedoman hidup dalam mencapai tujuan itu, umat Hindu
mempunyai pedoman dan pegangan yaitu kitab suci Weda yang tidak boleh diingkari.
diyakini kebenarannya. Berkaitan dengan itu, ajaran Tri Hita Karana menjelaskan
bahwa ada tiga penyebab kesejahtraan yang bersumber pada keharmonisan hubungan
antara : Manusia dengan Tuhan. manusia dengan alam sekitar (lingkungan), manusia
dengan sesama mahlukhidup. Pembentukan keluarga diawali dengan pelaksanaan
perkawinan (sauskara wiwaha ) sebagaimana tertuang dalam kitab suci Manawa
Dharmasastra IX disebutkan bahwa adadelapan jenis perkawinan \aiui
1. Brahma Wiwaha
2. Daiwa Wiwaha
3. Rsi (Arsa) Wiwaha
4. Prajapati Wiwaha
5. Asura Wiwaha
6. Gandhanva Wiwaha
7. Raksasa Wiwaha
8. Paisaca Wiwaha
Dari kedelapan jenis sistim perkawinan tersebut yang masih relevan dan dapat
dilaksanakan ada empat:
1. Prajapati Wiwaha
2. Asura Wiwaha
3. Gandharwa Wiwaha
4. Rsi (Arsa) Wiwaha

80
Selanjutnya kita meninjau bahwa manusia sebagai mahluk sosial (libido
sosialis ). maka kehidupan manusia tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat.
karena manusia individu adalah sebagai bagian dan masyarakat. Sehubungan dengan
itu ajaran agama Hindu membagi. kehidupan individu menjadi empat fase atau empat
tahapan kehidupan sang disebut catur asrama.
Sedangkankan dalam kehidupan sosial. kehidupan masyarakat juga dibagi
menjadi empat bagian sesuai dengan fungsi dan pembagian tugas masyarakat masing-
masing disebut catur warna.
c. Catur Warna.
Didalam bahasa sansekerta kata warna berasal dari urat kata Vr yang berarti
pilihan . catur warna berarti empat pilihan propesi atau fungsi sesuai dengan tugas yang
dapat dilaksanakan oleh setiap orang dalam kehidupannya dimasyarakat. Ajaran catur
warna tersurat dan tersirat dalam kitab weda mandala. sukta 90 yang terkenal dengan
nama purusa sukta, dijumpai pula didalam sama weda, Arannya samhita (IV.3)
Bhagawadgita dan Manawa Dharma sastra.
Sebagaimana ditegaskan didalam Bhagawadgita, bahwa Catur Warna berdasarkan
Guna dan Karma. Guna berarti sifat dan karma berarti kegiatan. tugas dan perbuatan.
disebut pula dalam Bab (IV.13) bahwa ada empat golongan manusia dengan bagian sifat
dan kegiatan yang berbeda. Ketahuilah bahwa aku (Tuhan ) yang menjadi asal mula,
walaupun tanpa kerja dan terjadi terus menerus.
Dari ungkapan tersebut diatas dapat kita pahami Catur Warna adalah bagian dari
empat golongan manusia sesuai dengan sifat dan kegiatan yang berbeda-beda. yang
terdiri dari :
a. Brahmana
Brahmana warna adalah mereka yang didalam kehidupan ini lebih
mengutamakan dan mengembangkan Guna Satwan, artinya mereka senantiasa
melaksanakan pengendalian diri. kesederhanaan. kebijaksanaan. oleh karena itu yang

81
dapat disebut Brahmana Warna adalah para bijaksana. rohaniawan. sanyasin atau
orang yang senantiasa menuntun dan mengembangkan sifat ketuhanan dalam
kehidupan.
b. Ksatrya
Kesatria Warna adalah mereka yang didalam kehidupan ini akan senantiasa
cendrung bersifat heroik. pemberani penuh aktivitas atau enerjik. Guna dari sifat
kesatrxa dimiliki dilaksanakan oleh pemerintah sipil maupun militer. atau orang-
orang yang bertugas bertempur membela negara. menjaga keteniban dan keamanan
Negara dan orang-orang yang benugas melaksanakan tata pemerintahan.
c. Wasya Wanna
Yakni orang \ang dalam guna karman\a mengatur tata perekonomian

masyarakat untuk mewujudkan kemakmuran negara. Mereka adalah ira pengusaha


atau wiraswasta yang melakukan perdagangan dan Ttanian.
idra Warna
jdra Warna adalah yang mempunyai fungsi dan tugas dalam kehidupan dimasyarakat
kita lihat sebagian orang mengambil kegiatan bagai pekerja pela\an seperti buruh
dipabrik-pabrik. Pembantu rumah tangga. pelayan toko dan sebagainya itulah guna
karma seorang
idra.
ip orang tidak dapat memiahkan diri dari kehidupan masyarakat. masyarakat yang
makmurdan sejahtera akan dapat diwujudkan apa bila ,p individu dalam masyarakat
dapat melaksanakan fungsi dan snya dengan baik dengan melaksanakan kewajiban
atau suadharma masing-masing. maka akan tenvujud suatu hubungan yang serasi dan
lonis antara seseorang dengan yang lain, antara individu dengan , arakat.
Para Rsi mempelajari sifat-sifat manusia secara cermat dari waktu iktu sehingga
sampai pada suatu kesimpulan bahwa setiap orang, sama kemampuannya dalam suatu

82
pekerjaan. Oleh karena itu dapat mukakan adanya prinsip-prinsip yang mendasari
sistim golongan warna Dharma. yang rnerupakan bagian fungsi dan kegiatan kerja.
masing-masing jenis tugas yang berbeda untuk golongan mental spiri-Ksatrya
mengenai bidang administrasi. politik. pemerintahan dan ahanan. Selanjutn\a Waisya
dipercaya melayani tugas onomian. untuk kemakmuran dan kesejahtraan bangsa.
sedangkan
a melakukan pekerjaan pelayanan untuk membantu kelancaran atan dari. golongan
yang lain.
Mengenai kewajiban hidup dalam masyarakat lebih detail maha lanu dan
Yajnawalkya menjelaskan bahwa ada bermacam-macam ma yang menjadi
Swadharma bagi seseorang antara lain :
Varna Dharma yakni keuajiban hidup sesuai dengan warna atau ropesi masing-
masing seperti Brahmana (Pendeta). Ksatrya Angkatan bersenjata, Politik). Waisya
(Para pedagang) dan Sudra buruh dan tani).
b. Asrama
Wama Dhanna yakni kewajiiban hidup sesuai dengan tingkat atau tahapan hidup
seseorang. misalnya sebagai Brahmacari (pelajar. Mahasisua). Cirihasta (rumah
Tangga). Wana Prasta (orang Tua yang mengurangi ikatan duniaui) dan sebagai
Sanyasm (seorang yang mempersiapkan din mencapai pelepasan).
c. Warnasrama Dharma yaitu kewajiban hidup antara profesi dan tingkatan
hidup seperti diatas.
d. Guna Dharma yaitu kewajiban seorang yang hubungan dengan sifat dan
pembawaan, misalnya seniman, dan lain-lain.
e. Nimta Dharma yaitu kewajiban seseorang yang ada hubungannya dengan hal-
hal tertentu misalnya kelahiran.

83
f. Sadharana Dharma yaitu kewajiban meliputi kewajiban umum hagi seiiap
anggota masvarakat dengan tidak mengindankan pangkat atan jabatan seseorang
dalam masyarakat.
5. Pembelajaran
a. Alokasi waktu : 2 x 50 menit
b. Pengalaman belajar : kuliah, baca buku, diskusi
c. Sumber belajar : buku, media massa, dosen
d. Media : OHP, papan tulis
e. Evaluasi : lisan dan tertulis

84
DAFTAR PUSTAKA

A. Buku Pelajaran Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi Umum,


Hanuman Sakti Jakarta. 1994.
B. Sosiologi untuk PGA
I Gede Rudia Adipura, I Nyoman Warjana 1982
C. Tuntunan Dasar Agama Hindu
Drs. A. A. Gde Oka Netra. Hanuman Sakti 1994
D. Pedoman Pembinaan Umat Hindu
Pesamuan Agung PHDI 1980
E. Sosiologi Agama Hindu – UT
F. Sosiologi Suatu Pengantar
G. Bhagawad Gita
H. Manawa Dharmasastra

85
SATUAN ACARA PERKULIAHAN
(SAP)

Matakuliah : Pendidikan Agama Hindu


Semester :
Tahun Kuliah :
SKS :
Jenjang : S1

1. Tujuan Kurikulum
Terbentuknya dan terbinanya Sarjana Hindu yang bakti kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berbudi pekerti yang luhur, berpikir yang fisiolofis dan strategis, berpandangan luas
dan memiliki wawasan yang jauh kedepan, bersikap susila rasional, dinamis dan terampil
menghargai kerjasama antar umat beragama dalam mengabdikan ilmu teknologi dan seni
untuk kepentingan nasional dan meningkatnya rasa pengabdian kepada agama, bangsa
dan negara.
1. Pokok Bahasan : Sad Darsana
Sub Pokok Bahasan : a. Pengertian Sad Darsana
b. Pokok-pokok ajaran Sad Darsana
c. Pokok-pokok ajaran Nawa Darsana
TPU (TIU) : Mahasiswa memahami pengertian dan pokok-pokok
ajaran yang terkandung dalam Sad Darsana dan Nawa
Darsana.

86
TPK (TIK) : Setelah mengikuti perkuliahan mengenai pokok materi
ini, mahasiswa diharapkan dapat:
a. Menjelaskan pengertian dan ruang lingkup Sad
Darsana.
b. Menjelaskan pokok-pokok ajaran Sad Darsana.
c. Menjelaskan pokok-pokok ajaran Nawa Darsana.
2. Pokok Materi : a. Pengertian Sad Darsana
b. Pokok-pokok ajaran Sad Darsana
c. Nawa Darsana

SAD DARSANA

I. PENGERTIAN SAD DARSANA


Kata darsana berasal dari urat kata "drs" yang artinya melihat atau
memandang. Dalam hubungan ini kata darsana artinya adalah sesuatu pandangan
yang benar terhadap apa yang harus dilakukan oleh seseorang baik moral maupun
material untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan abadi dalam kehidupan tertentu.
Nama atau istiiah lain yang memiliki ani mendekati dengan darsana adalah
a. Tattwa; kata ini berasal dari kata "tat" yang artinya itu. Dalam bahasa sehari-
hari kata tattwa berarti uraian tentang Ke-Tuhanan:
b. Mananasastra: kata. ini berarti pemikiran, perencanaan.pertimbangan atau
renungan. yangdimaksud adalah pemikiran atau renungan filsafat;
c. Wicarasastra; kata ini berarti pertimbangan, renungan. Penyelidikan dan
keragu-raguan. yang dimaksud adalah penyelidikan tentang kebenaran;
d. Tarka; kata ini berarti spikulasi yang dimaksud adalah penyelidikan tentang
kebenaran.

87
II. RUANG LINGKUP SAD DARSANA
Darsana sebagai Filsafat India memiliki pembahasan yang berbeda dengan
filsafat barat yang lebih mengarah pada pembidangan-pembidangan khusus.
Pembahasan darsana bersifat sintesis dari semua sistim dan metode secara integratif.
Dalam hal ini yang akan dibahasa adalah pembagian dari sad darsana tersebut. antara
lain adatah : Nyaya. Waisasika, Mimamsa. Samkya. yoga dan Wedanta

III.POKOK-POKOK AJARAN SAD DARSANA


ANYAYA
Nyaya disebut juga tarkawsada yaitu ilmu berdebat. munculnya akibat
perdebaian diantara akhli pikir didalam mereka bcrusaha mencari kebenaran dari
ayat-ayat suci Weda untuk dijadikan landasan melaksanakan upacara-upacara korban
Ajaran filsafat nyaya disebut, bersifat realistis, karena mengajui benda-benda
sebagai suatu kenyataan atau mengajui keberadaan dunia yang terlepas dari pikiran
dan berdiri sendiri.
A. PENGERTIAN DAN SIFAT AJARANNYA
Waisasika adalah saltu satu bagian dari filsafat India atau Sad Darsana
yang usianya lebih tua dari sistem filsafat Nyaya yang timbul pada abad 4 SM.
Dengan tokohnya adalah Maha Rsi Kanada Beliau juga dikenal dengan nama
Ulaka.
Sistem Filsafat Waisasika bersifat metaphisis dengan tujuan pokok
ajarannya adalah bersifat Dharma yaitu tentang kesejahteraan duniawi dan
kelepasan.
A. 2. SUMBER DAN POKOK-POKOK AJARANNYA
Sumber utama ajaran nyaya adalah Nyayasutra buah karya Maha Rsi Gotama.
Selain itu ada beberapa kitab komentar dan Nyayasutra diantaranya:
a. Nyayabhasya; hasil komentar Wastyayana

88
b. Nyaya Wartika: oleh Uddyotakara
c. Nyaya Wartika Tatpana Tika: oleh Wascapati
d. N\aya WartikaTatparya Parisuddhi dan Kusumanjali oleh Udayana
e. Nyaya Manjani oleh Jayanta.
Semua kitab-kitab komentar ini menjelaskan dan mengembangkan cita-cita
ajaran nyaya yang ada dalam kitab Nyaya Sutra serta mempertahankan cita-cita itu
dari serangan kritikan oleh pihak-pihak yang menentangnya.

2. Pembuktian Theologi
Pembuktian ini menyatakan bahwa didunia ini ada sesuatu tata tertib dan aturan
tertentu sehingga dunia ini menampakan sesuatu rencana yang berdasarkan pemikiran
dan tujuan tertentu, tentu ada yang mengadakan rencana dan tujuan tersebut yang
mengadakan itulah Tuhan. Tuhan menjadi sebab pertama adanya alam semesta dan
pada akhirnya Tuhanlah akan melebur dunia ini.

B. WAISESIKA
B.I. PENGERTIAN DAN SIFAT AJARANNYA
Waisesika adalah salah satu bagian dari filsafat India atau sad darsana yang
usianya lebih tua dari sistem filsafat Nyaya. yang timbul pada abad 4 SM. dengan
tokohnya adalah Maha Rsi Kanada. Beliau juga dikenal dengan nama Ulaka.
Sistem filsafat waisasika bersifat metaphisis dengan tujuan pokok ajarannya
adalah bersifat dharma yaitu tentang kesejahteraan di duniaxv i dan kelepasan.

B.2. SUMBER DAN POKOK-POKOK AJARANNYA


Sumber ajaran waisesika kitab Waisesika Sutra. Kitab ini terdiri atas 10 adhyayas
atau jilid dan setiap jilid terdiri dari dua ahnikas atau bab.

89
Isi pokok ajaran waisasika adalah menerangkan tentang dharma. yaitu apa yang
rnemberikan kesejahteraan didalam dunia ini dan yang memberikan kelepasan yang
menentukan. Yang terpenting dari ajaran Waisasika adalah ajaran tentang katagori-
katagori dan semua yang ada didunia ini. menurut waisasika ada 7 (tujuh) katagori
(padharta) yaitu:
1. Drauya (substansi)
2. Guna (kwalitas)
3. Karitia (Aktivitas)
4. Samaya (sifat umum)
5. Wisesa (keistimewaan)
6. Samaya (pelekatan)
7. Abhawa (ketidakadaan)
Demikianlah ketujuh katagori itu menjadikan segala sesuatu didalamnya sehingga
manusia menyaksikan adanya segala sesuatu yang bcraneka ragam keaneka ragaman itu
terjadi justru karena kombinasi dan ketujuh katagori yang diajarkan waisesika.

C. MIMAMSA
C. 1 PENGERTIAN DAN SIFAT AJARANNYA
Sistem filsafat mimamsa terbagi menjadi dua jenis yaitu: Purwa Mimansa dan
Utara Mimansa. Mimamsa sering juga disehut Purwa mimaniba yang artiya penyelidikan
sistimatis yang pertama, yang dimaksud bahwa sistim ini membicarakan bagian Weda
yang pertama yaitu kitab Brahmana. Sedangkan Utara Mimamsa disebut juga Wedanta
yang artinya penyelidikan sistematis yang kedua, yang dimaisud adalah sistem ini
membicarakan bagian Weda yang kedua yang kitab Upanisad.
Sifat ajaran filsafat adalah pluralistis dan realistis Disebut pluralistis karena
mengakui adanva baynak jiwa dan penggandaan asas badani yang membenahi alam

90
semesta. sedangkan disebut realistis karena mengakui bahwa obyek-obyek pengamatan
adalah nyata.

C. 2 SUMBER DAN POKOK-POKOK AJARANNYA


Yang menjadi sumber pokok ajaran Mimamsa adalah Mimam Sutra buah karna
Maha Rsi Jaimini. Dalam perkembangan selajutnya timbulah kitab komentar terhadap-
Mimamsa Sutra ditulis oleh Sabarawamin Komentar ini diterangkan dengan cara yang
herbeda oleh Kumarila Bhatta dan Prabhakara. oleh karena itu timbtillah dua aliran yaitu
pengikut Kumarila Bhatta dan pengikut Prabhakara Pokok-pokok ajaran kedua ini pada
prinsipnya sama.
Aliran dari filsafat Mimamsa yang dipimpin oleh Maha Rsi Prabhakara
mengemukakan adanya lima sumber pengetahuan (pramana) antara lain :

1. Pratyaksa : pengamatan langsung


2. Anumana : menarik suatu kesimpulan
3. Upamana : mengadakan perbandingan
4. Sabda : pembuktian melalui sumber yang dipercaya
5. Arthaparti : perumpamaan
Fungsi filsafat Mimamsa adalah membantu praktik keagamaan melalui dua cara
yaitu memberi metode interpretasi terhadap Weda dan memberi pertimbangan-
pertimbangan yang bersifat filosofis terhadap pelaksanaan upacara keagamaan.
Mengenai jiwa dalam sistim Mimamsa dipandang sebagai substansi, keadaannya
berbeda dengan tubuh. indria dan budi. Jiwa itu jumlahnya sangat banyak dan tak
terhitung. tiap tubuh ada satu jiwa. Semua jiwa memiliki kesadaran bersifat kekal berada
dimana-mana dan meliputi segala sesuatu.

D. SAMKYA

91
D. 1 PENGERTI AN DAN SIFAT AJARANNYA
Perkataan samkya terdiri dari dua kata yaitu "sam” yang artinya bersama-sama
atau dengan dan "khya" yang artinya bilangan. Jadi samkya berarti susunan yang
berukuran bilangan. Perkataan samkya juga berarti pengetahuan yang sempurna. yang
dimaksud adaiah filsafat tentang sesuatu yang memberi pelajaran untuk mengenal. diri
sendiri secara metafisik. Ajaran samkya disebut realistis. dualitis dan pluralitas. Disebut
realistis karena mengakui realitasduma ini yang bebas dari roh. Disebut dualistis karena
prinsip ajarannya ada dua realitas yang berdiri sendiri. saling bertentangan dan dapat
dipadukan. yaitu purusa dan prakerti. dan samkya disebut pluralisms karena mengajarkan
bahwa nurusa itu barnak sekali. Menurut samkya tentang kebenaran Tuhan tidak perlu
dibuktikan lagi. karena itu pula ajarannya disebut Nirisuara Samkva.

D. 2. SUMBER DAN POKOK-POKOK AJARANNYA


Sumber pokok ajaran samkya adalah Samkya Sutra atau disebut juga Samkya
Prawacana Sutra buah karya Maha Rsi Kapila. Ajaran pokok dari samkya adalah adanya
dua realitas asasi yaitu Purusa dan Pekerti atau asas kejiwaan dan asas kebendaan yang
merupakan asal mula dari segala sesuatu.
Menurut ajaran samkya ada tiga sumber pengetahuan yang benar yaitu Pratyaksa.
Anumana dan Sabda pramana. sedangkan pengamatan ada dua yaitu nirwakalpa dan
sawikalpa. Nirwikalpa adalah pengamatan yang tidak menentukan yang ada hanya
pengenalan obyek sebagai sesuatu. bukan sebagai benda yang jelas identitasnya,
sedangkan sawikalpa adalah pengamatan yang menentukan. ia merupakan hasil analisis.
sintesis dan interprestasi alam pikiran.
Dalam ajaran samkya kelepasan itu adalah penghentian yang sempurna dari
semua pendentaan. inilah tujuan akhir dari hidup kita. kemajuan ilmu pengetahuan dan
tekhnologi memperingan hidup kita, namun tidak bisa melepaskan kita dari penderitaan
yang sepenuhnya.

92
E. YOGA
E. 1. PENGERTIAN DAN SUMBER AJARANNYA
Kata Yoga berasal dari urat kata "Yuj" yang artinya berhubungan. Kata yoga
bcrarti hubungan atau berhubungan, dimana maksudnya adalah pertemuan roh individu
(atma purusa) dengan roh universal yang tidak berpribadi (mahapurusa/paramaatma).
Maha Rsi Patanjali mengartikan yoga sebagai "Cittawrttinirodha" yaitu penghentian
geraknya pikiran.
Ajaran yoga sangat popular dikalangan umat Hindu dengan tokoh pendirinya
adalah Maha Rsi Patanjali. Tulisan pertama tentang ajaran yoga adalah kitab Yoga Sutra
karya Maha Rsi Patanjali. walaupun unsur-unsur ajarannya sudah ada jauh sebelum itu.
Kemudian munculah buku-buku komentar atas ajaran beliau, seperti Yoga Bhasya
atau Wyasabhasya yang ditulis oleh Wyasa. Yoga Maniprabha ditulis oleh Bhojaraja dll.
Komentar-komentar ini menguraikan ajaran yoga karya Patanjali yang berbentuk sutra
berupa kalimat-kalimat pendek dan padat isinya.

E. 2. SIFAT DAN POKOK-POKOK AJARANNYA


Berbeda dengan Samkya, yoga mengakui adanya Tuhan. Adanya Tuhan
dipandang lebih bernilai praktis dari pada bersifat teori dan merupakan tujuan akhir
semadi yoga, dengan demikian maka yoga dikatakan bersifat teori dan praktek dalam
hubungan Tuhan. Ajaran yoga juga bersifat teistis dan mengakui kewenangan Weda.
kebenaran Tuhan dipandang sebagai suatu yang lebih tinggi dari purusa dan prakerti.
Pokok-pokok ajaran yoga ada dalam kitab Yoga Sutra Karya, Maha Rsi Patanjali
yang dibagi atas empat bagian dengan 194 Sutra, adapun keempat bagian tersebut
adalah :

93
a. Bagian Samadhi Pada, isinya ialah tentang sifat, tujuan dan bentuk
ajaran yoga, dibagian ini diterangkan tentang perubahan-perubahan pikiran dan cara
pelaksanaan ajaran yoga,
b. Bagian Sdhana Pada, isinya tentang pelaksanaan ajaran yoga seperti
cara mencapai semadhi, tentang kedudukan, karma phala.
c. Bagian Wibhuti Pada, isinya tentang segi ajaran batiniah yoga juga
tentang kekuatan gaib yang terdapat karena melakukan praktek yoga,
d. Bagian Kailwalya Pada. isinya melukiskan alam keiepasan dan
mengatasi roh yang mengatasi alam dunia.
Menurut filsafat yoga kelepasan itu dapat dicapai melalui pandangan spiritual
pada kebenaran roh sebagai suatu daya hidup yang kekai yang berbeda dengan badan dan
pikiran. Pandangan spiritual seperti tersebut diatas hanya dapat dimiliki bila pikiran itu
bersih, tenang dan tak tergoyahkan oleh sesuatu apapun juga.

E.3. TUHAN DALAM AJARAN YOGA


Menurut ajaran Yoga Tuhan itu adalah roh tertinggi yang mengatasi roh
perorangan dan bebas dari segala cacat, ia adalah ada. sempurna. kekal abadi, berada
dimana-mana. maha kuasa dan maha tahu. Tuhan adalah roh yang abadi tak tersentuh
oleh dukacita.
Tuhan adalah penguasa tertinggi dunia ini yang mempunyai pengetahuan tak
terbatas. kekuatan tak terbatas yang membedakan ia. dari prihadi lain. Bhakti kepada
Tuhan tidak hanya merupakan praktek Yoga, tapi juga merupakan sarana pemusatan
pikiran dan samadi Yoga. Tuhan akan memberikan karunia yang mulia kepada seseorang
yang bhakti kepadanya berupa kesucian dan penerangan bhatin. Tuhan melenyapkan
semua rintangan jalan orang-orang yang bhakti kepada-Nya.

F. WEDANTA

94
F. 1 PFNGERT1AN DAN SIFAT AJARANNYA
Kata Wedanta berarti akhir dari pada Weda (Wedasya antah) Ststem filsafat
Wedanta juga disebut dengan Uttara Mimamsa. Yaitu penyelidikan yang kedua yaitu
Upamsad. Mula-mula kata Wedanta berani upanisad karena Upanisad dianggap akhir
dari pada Weda.
Oleh karena Wedanta bersumher pada kitab-kitab upanisad. Brahmasutra dan
Bhagawadgita. maka sifat ajarannya adalah absolutisme dan theitisme Absolutisme
maksudnsa adalah aliran yang meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah mutlak
dan tidak berpribadi (impersonal God), sedangkan yang theisme mengajarkan bahwa
Tuhan yang berpribadi (personal God).

F.2. SIMBER DAN POKOK-POKOK AJARANNYA


Sebagai sumber sistem filsafat Wedanta adalah kitab-kitab Upanisad
mengingat kitah-kitab Upanisad sistemrna tidak sistimatis. maka Bhadaraxana atau
yang disebut juga Maharsi Wyasa menyusun kitab yang bernama Wedanta Sutra.
Kitab ini terdiri dari 4 adhyaya (bab) dan masing-masing adluaya dari
Wedanta Sutra ini membahas : Bab 1. Membahas Brahma adalah realitas tertinggi
Bab II Mengkaji ajaran yang tidak sesuai dengan Wedanta Bab III. Mengkaji ajaran
moksa Bab IV. Membahas pengetahuan tentang Brahma
Dalam perkembangan kemudian banyak muncul kitab-kitab komentar dari
Wedanta Sutra yang dikemukakan oleh komentator. Para komentator ini kemudian
mendirikan tempat-tempat belajar untuk mendalami ajaran Wedanta Sutra dan
sekaligus menjadi tokoh atau pemimpin aliran filsafat Wedanta. adapun para tokoh
aliran dalam sistem filsafat Wedanta adalah Sankara. Ramanuja. Madwa. Wallabha.
Nimbarka.
Semua aliran dari Wedanta ini mentransper ajaran Wedanta Sutra dengan cara
pandang masing-masing misalnva : Sankara menampilkan ajaran yang disebut

95
Adwaita. Ramanuja menampilkan aliran yang disebut Wasistadwaita dan Madwa
menampilkan aliran yang disebut Dwaita Dibawah ini akan dijelaskan sedikit
pandangan masing-masing aliran filsafat terebut.

F. SAWA DARSASA
Istilah Nawa Darsana sebenarnya adalah penggabungan Sad Darsana dengan
filsafat Nastika yang heterodok. yang terdiri dari Carwaka, Jaina, Budha.

F.I. C A R W A K A
Aliran filsafat Carwaka digolongkan dalam aliran materialisme. Aliran ini hanya.
bisa percaya kepada apa yang bisa dilihat oleh mata. Aliran Carwaka percaya
terhadap Catur Mahabhuta (4 unsur alam : Udara. air. api dan tanah).
Tokoh aliran Carwaka adalah Watsyayana dengan bukunva Kamasutra. Canvaka
tidak percaya kepada sorga dan neraka dan terhadap Tuhan yang menciptakan alam
semesta. karena itu aliran ini bersifat atheis.

F.2. J A I N A
Pendiri dari aliran ini adalah Seorang Mahauira yang namanya Wardkamana
(abad 6 SM). Aliran filsafat ini bersifat atheis. percaya bahwa seseorang dapat mencapai
kebebasan rohani seperti gurunya.
Ada dua golongan Jaina yaitu :
a. Digambara yakni golongan yang sangat panatik dan bahkan telanjang bulat
(berpakaian langit)
b. Swetambara yaitu golongan yang lebib moderat. menggunakan pakaian serba
putih.
Kedua golongan ini menekankan ajaran ahimsa (tidak membunuh. menyakiti
mahkluk lain). Pengikut aliran ini umumnya menggunakan masker (penutup mulut).

96
jangan sampai salah ucap atau mahkluk-mahkluk kecil masuk ke mulut atau hidung. Bila
bepergian selalu membawa sapu.

F.3. BUDDHA
Filsafat Budha didirikan oleh pengikut Sang Budha Siddhartha Gautama dan
Dinasti Sakya (600 tahun sebelum masehi) hampir bersama dengan filsafat Jaina.
Ajaran Filsafat Buddha meliputi :
a. Catur Arya Satyani
Catur Arya Satyani yaitu empat kebenaran mulia meliputi :
1. Dukha. Hidup adalah penderitaan.
2. Tresna, ada yang menyebabkan penderitaan.
3. Nireda, ada jalan untuk mengatasinya.
4. Asta Marga, jalan itu, ada delapan
b. Pratitya Samut pada
Pratitnya Samut pada adalah dua belas hal yang menyebabkan penderitaan, yaitu
1. Awidya, kebodohan
2. Samkara, kesan dimasa lalu
3. Wijnana, kesadaran awal
4. Nama, rupa, pikiran dan badan
5. Sadayatana, enam anggapan
6. Sparsa, kotak hubungan dengan obyek
7. Vedana, pengalaman yang lalu
8. Tresna, haus akan kenikmatan.
9. Upadana, perhatian yang lebih.
10. Bhaya, keinnginan supaya terjadi.
11. Jati, kelahiran.,
12. Jara Marana, umur tua dan kenikmatan.

97
c. Asta Mania adalah delapan jalan yang benar yaitu :
Asta Marga adalah delapan jalan yang benar yaitu :
1. Samya drsti, berpandangan yang benar.
2. Samyak samkalpa, pemecahan masalah dengan benar
3. Samyagyak, berbicara yang benar
4. Samyak karma, berbuat benar
5. Samyak jiwa, hidup yang benar
6. Samyak wayama, berusaha yang benar.
7. Samyak smerti, berpikir yang benar.
8. Samyak samadi, bermeditasi yang benar.
Demikianlah antara lain pokok-pokok ajaran filsatat Buddha.

Alokasi waktu : 2 x 50 menit.


Pengalaman Belajar : Kuliah, baca buku dharma tula (diskusi).
Sumber belajar : Buku, dosen, media masa
Media : OHP, papan tulis
Evaluasi : Lisan dan tertulis

JAWABLAH DENGAN JELAS DAN BENAR SOAL-SOAL DI BAWAH INI


1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Darsana ?
2. Filsafat Nyaya percaya dnegan adanya Tuhan dan Tuhan disamakan dengan Siwa.
Jelaskan bagaimana caranya Nyaya membuktikan tentang Tuhan ?

98
3. Jelaskan bagaimana pandangan Mimamsa tentang Weda !
4. Menurut Samkya ada dua pengamatan. Sebutkanlah dan jelaskan pengamatan tersebut
?
5. Jelaskan mengapa filsafat Wedanta bersifat, absolutisme dan theistisme.

SUMBER BACAAN

Rudia Adiputra, Wayan Suarjaya. I Gde Sura. Tattwa darsana III PGA. Ditjen Bimas Hindu
dan Budha.

99
Hadi Wiyono, Harun DPK. Sari Filsafat India. Gunung Mulia Jakarta 1985.

Buku Pelajaran Agama Hindu untuk perguruan Tinggi. Tim penyusun Ditjen Bimas Hindu
dan Budha. Departemen Agama RI.

SATUAN ACARA PERKULIAHAN


(S A P)
MATA KULIAH : Pendidikan Agama Hindu
SEMESTER :

100
TAHUN KULIAH :
SKS : 2 SKS
JENJANG : S1

Tujuan Kurikuler : Terbentuknya Sarjana Hindu yang memiliki sradha


bhakti kepada Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha
Esa. Berbudi pekerti luhur, berpikir yang kritis, trampil,
dan bertanggung jawab serta memiliki rasa pengabdian
yang bertanggung jawab serta memiliki rasa
pengabdian yang tinggi kepada agama bangsa dan
negara.
Pokok Bahasan : Etika Agama Hindu
Sub Pokok Bahasan : a. Pengertian Etika Hindu
b. Kedudukan Etika Hindu
c. Pokok-pokok etika Hindu
TUP : Mahasiswa dapat memahami etika agama Hindu secara
umum dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-
hari.
TKP : Setelah mengikuti perkuliahan mengenai pokok materi
ini, mahasiswa diharapkan :
a. Mampu menjelaskan pengertian etika agama Hindu
b. Dapat memahami kedudukan etika dalam agama
Hindu
c. Dapat mengamalkan pokok-pokok ajaran etika
agama Hindu.
Pokok Materi : a. Pengertian etika Hindu
b. Kedudukan etika dalam agama Hindu

101
c. Wiweka
d. Daivi dan asuri sampad
e. Pengendalian diri
Pembahasan : Etika Agama Hindu

a. Pengertian etika Hindu :


Etika adalah bentuk pengendalian diri dalam pergaulan hidup bcrsama. (I Gede
Sura. Pengendalian diri dan Etika ). Manusia sebagai mahluk sosial. perlu membina
hubungan yang seraii dan harmonis dengan orang lain, atas dasar saling menghargai dan
menghormati. Dalam kehidupan bersama orang harus mengatur dirinya bertingkah laku.
Tidak seorang pun boleh berbuat sekehendak hatinya. la harus menyesuaikan dirinya
dengan lingkungan. tunduk kepada aturan bertingkah laku yang berlaku. Dengan
demikian maka orang hanya bebas berbuat dalam ikatan aturan tingkah laku yang baik.
Peraturan untuk bertingkah laku yang baik disebut orang tata susila. Nama lainnva ialah
etika. Bila etika beretika masih dalam angan disebut budi pekerti yang baik. Dalam
tindakan disebut budi baik dan bila diwujudkan dalam tindakan disebut budi pekerti yang
baik. Tata susila. berarti peraturan tingkah laku yang baik dan mulia yang menjadi
pedoman hidup manusia (Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Tata susila Hindu Dharma)
Dengan istilah Tata susila. tampak lebih menekankan pada aturan beningkah laku
yang baik dan mulia. dan sejauh mungkin menghindari perbuatan yang tidak baik atau
dursila. Etika Hindu atau tata susila agama Hindu, adalah peraturan bertingkah laku yang
baik dan mulia menurut ajaran agama Hindu.

b. Kedudukan Etika dalam agama Hindu


Agama adalah merupakan dasar tata susila yang kokoh dan kekal, ibarat landasan
bangunan, dimana suatu bangunan harus didirikan. Maka landasan itu tidak kuat, maka
mudah benar bangunannya roboh. Demikianjuga halnya dengan tata susila; bila tidak

102
dibangun atas dasar agama, sebagai landasan yang kokoh dan kekal, maka tata susila itu
tidak mendalam dan tidak meresap dalam diri pribadi manusia. (Prof. Dr. Ida Bagus
Mantra, Tata susila Hindu Dharma).
Demikian pula sebaiknya, tata susila, atau etika merupakan wujud pengalaman
dari ajaran agama dalam perilaku yang baik dan mulia. Dalam etika maka seseorang
dinilai dari tingkah laku mana yang dapat dinilai baik dan mana yang buruk.

c. Pokok-pokok Ajaran etika agama Hindu


1. Baik dan buruk
Apa yang disebut baik dan apa yang disebut buruk, sulit dirumuskan.
Walaupun demikian manusia tahu apa yang disebut baik dan buruk itu. Membohong,
mencuri adalah buruk. Menolong, jujur adaiah baik. Kesadaran akan adanya baik dan
buruk disebut kesadaran etis. Akan tetapi apa yang baik tidak selalu benar dan apa
yang buruk itu salah. (I Cede Sura. Pengendalian diri dan Etika)
2. Benar dan Salah
Bilamanakah perbuatan itu dianggap benar dan btlamanakah perbuatan itu
dianggap salah ? Segala sesuatu \ang dapat menofong dunia ini melalui jalan yang
telah ditentukan oleh Sang Hyang Widhi Wasa adaiah benar. dan segala sesuatu yang
menghalangi jalan ini adaiah salah. (Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Tata susila Hindu
Dharma)
Keutamaan kebenaran itu dapat dijumpai dalam kitab Slokantara sebagai
berikut :
Kalinganya. tan hana dharma lewihe sangkeng kasatyan. matangyan haywa lupa ring
kasatyan ikang wang
Untuk menentukan mana perbuatan yang benar dan mana perbuatan yang
salah Agama Hindu mengajarkan agar orang berpedoman pada tri pramana. tiga
ukuran. Ada beberapa ukuran itu.

103
1. Desa. Kala. Patra.
Disamping ukuran-ukuran lain, maka desa. kala dan patra adalah juga
merupakan ukuran-ukuran untuk menentukan salah dan benar. Desa artinya
tempat. kala berarti waktu dan patra artinya keadaan. Apa yang benar pada suatu
waktu belum tentu benar pula pada waktu yang lain. Demikian pula apa yang
benar pada suatu tempat atau keadaan dapat berubah menjadi salah pada tempat
dan keadaan yang lain.
2. Prauaksa. anumana dan agama.
Dapat puia dipenimbangkan benar salahnya perbuatan kita atas dasar
pratyaksa. anumana dan agama. Pratyaksa adalah memperoleh kebenaran atas
pengamatan lansung. Anumana adaiah memperoleh kebenaran atas dasar logika
berpikir. Agama ialah memperoleh kebenaran atas dasar pertimbangan orang lain
yang dapat dipercaya.
3. Sastratah. gurutah. dan swatah.
Ada lagi dasar pertimbangan lain untuk mendapatkan kebenaran \aitu atas dasar
sastratah. gurutah dan swatah. Sastratah ialah pertimbangan atas dasar ajaran-
ajaran sastra. gurutah atas dasar pertimbangan ajaran-ajaran guru dan swatah ialah
pertimbangan atas dasar belajar sendiri dari pengalaman dan sebagainya. (I Gede
Sura. Pengendalian diri dan Etika)
3. Wiweka
Karena penentuan baik dan buruk. benar dan salahnya perbuatan itu atas dasar
pertimbangan-pertimbangan. ini berarti ada faktor kesengajaan untuk memilih yang
baik dan buruk. Manusia sebagai mahluk berpikir. secara potensial telah memiliki
kemampuan yang perlu dikembangkan. yaitu kemampuan untuk membeda-bedakan.
dan menimbang-nimbang. dan akhirnya memilih antara yang baik dan buruk. salah
dan benar dan sebagainya.

104
Kemampuan yang demikian dalam ajaran agama Hindu disebut wiweka.
Kemampuan untuk memilih ini dan atas dasar pilihan ini ia dapat meningkatkan
hidupnya dari tidak baik menjadi baik.
Ri sakweh ning sanva bhuta. iking janma wwang juga wenang gumawayaken
iking subha asubba karma, kuneng panentasakena ring subha karma juga ikang
asubha karma, phalaning dadi wwang.
Terjemahannya :
Diantara semua mahluk hidup. hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang
dapai melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk. leburlah kedalam perbuatan baik.
segala perbuatan buruk itu. demikian gunanya menjadi manusia. (Sarasamuscaya. 2. I
Nyoman Kajeng DKK)
4. Daivi dan asuri sampad
Menurut sastra-sastra agama Hindu, kecendrungan-kecendrungan perilaku orang itu
bersumber dari tri guna: yaitu tiga sifat yang dibawa sejak lahir. terdiri dari sarwam.
rajas dan tamas. Ketiga guna ini saling mempengaruhi sehingga mewarnai
kecendrungan berlaku lembut dan tenang dan ada yang mempunyai kecendrungan
keras dan kasar. Dalam Bhagawad Gita dibedakan kedua kecendrungan itu dengan
istilah
- Daivi sampad. yaitu kecendrungan kedewaan dan
- Asuri sampad. yaitu kecendrungan keraksasaan.
Dalam mengatur diri bertingkah laku. faktor dalam atau tri guna itu harus
diperhatikan. Faktor yang sifatnya garang harus dijinakkan dengan jalan yang
ditunjukan oleh sastra-sastra agama. Untuk itu orang perlu mengendalikan diri.
5. Pengendalian diri
Dengan adanya kemampuan berwiweka maka orang dapat memilih yang baik.
yang benar dan menghindar dari yang buruk dan salah.

105
Oleh karena itu dalam diri orang. kedua itu selalu berdampingan. yaitu unsur
baik dan unsur buruk. unsur raksasa dan unsur dewata. maka orang harus
mengarahkan daya pikir dan da\a-da\a lain dalam dirinva untuk menundukkan yang
tidak baik itu. Ini berarti orang harus mengendalikan diri dalam segala hal. berpikir.
berkata dan benindak sehingga segala daya menuju kepada yang baik.
Suatu daya yang terkendali menuju suatu sasarn akan menjadi tenaga yang
maha hebat, baik tenaga yang menyenangkan maupun tenaga yang menakutkan
kepentingan-kepentingan yang berlawanan pun yang teratur seperti tertib lalu lintas.
Ajaran tentang pengendalian diri banyak dijumpai dalam kitab Bhagawadita. Yoga
Satra Patanjali. Sarasamuscaya dan Slokantara. Demikianlah etika memerlukan
kemampuan untuk melaksanakan pengendalian diri.
Alokasi waktu : 2 x 50 menit satu kali pertemuan
Fungsi aman belajar : Kuliah, baca buku, diskusi
Sumbi Belajar : Dosen, buku, media masa dan masyarakat
Media : Papan tulis, media elektronika dll.
Evaluasi : Tertulis, lisan dan pengamatan

106
DAFTAR PUSTAKA

1. Bhagawad Gita
2. Pengendalian diri dan etika
3. Manawa Dharma Sastra
4. Tata Susila Hindu Dharma
5. Sarasamuscaya
6. Slokantara

107
SATUAN ACARA PERKULIAHAN
SAP

Mata Kuliah : Pendidikan Agama Hindu


Semester :
Tahun Kuliah :
SKS :
Jenjang :S1

Tujuan Kurikuler :
Terbentuknya dan terbinanya sarjana Hindu yang bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berbudi pekerti luhur, berpandangan luas dan memiliki wawasan yang jauh ke depan.
Bersikap rasional dan dinamis dan terapil menghargai kerja sama, antara umat beragama
dalam mengabdikan ilmu teknologi dan seni untuk kepentingan nasional dan meningkatkan
rasa pengabdian kepada agama. Bangsa dan negara.

1. Pokok Bahasan : YADNYA


Sub Pokok Bahasan : a. Pengertian dan dasar pelaksanaan Yadnya

108
b. Maksud dan tujuan pelaksanaan
c. Tingkatan dan jenis-jenis Yadnya
TUP : Mahasiswa dapat memahami ruang-ruang lingkup
yadnya, mengerti dan menyadari akan kedudukan dan
kewajibannya mahluk ciptaan Tuhan yang mempunyai
Rna, sujud dan bhakti kehadapannya menghormati
orang-orang suci, orang tua atau leluhur, guru dan mau
bekerja sama serta bersikap toleransi dalam kehidupan
sosial.
TKP : Setelah mengikuti perkuliahan mengenai pokok materi
ini mahasiswa diharapkan dapat :
a. Menjelaskan pengertian yadnya
b. Menjelaskan dasar pelaksanaan yadnya
c. Menjelaskan tujuan pelaksanaan yajnya
d. Menyebutkan jenis-jenis yadnya
e. Menyebutkan tingkatan yadnya
2. Pokok Materi : a. Pengertian yadnya
b. Dasar pelaksanaan yadnya
c. Tujuan pelaksanaan yadnya
d. Jenis-jenis yadnya
e. Tingkatan yadnya
Alokasi waktu : 2 x 50 menit
Pengalaman belajar : Kuliah, baca, dharma tula
Sumber belajar : Buku, dosen, media masa
Media ; OHP, papan tulis
Evaluasi : Lisan dan tertulis

109
YADNYA

A. Pengertian Yadnya
Kata yadnya adalah kata yang berasal dari bahasa sansekerta berarti memuja,
mempersembahkan. Ajaran yadnya bersumber pada pustaka suci weda, terdapat dalam
kita Reg Weda (X. 90.6). lebih lanjut secara simantik yadnya mengandung pengertian
yang sangat lurus: pengabdian, pengorbanan dan berbagai aspek kegiatan yang bertujuan
untuk kesejahteraa, kedamaian dan kelestarian alam semesta.
Dengan demikian maka jelaslah bahwa pengertian Yadnya itu tidak saja terbatas
pada upacara persembahan dalam arti secara harpiah namun juga upacara persembahan
maupun pemujaan dan pengorbanan suci dalam pengertian secara simbolis filosopis
untuk berkorban.

B. Dasar Pelaksanaan yadnya


Yadnya dalam agama Hindu merupakan bagian yang utuh dari seluruh ajaran dan
aktivitas agama. Bahkan yadnya merupakan unsur yang sangat penting, bagaikan kulit
telor yang membungkus dan melindungi bagian dalamnya yang merupakan inti dari telor
itu sendiri. Seperti itulah yadnya dengan upacara dan upakaranya merupakan kulit telor
yang nampak dan dilaksankan dalam kehidupan agama sehari-hari. Yadnya tidak hanya
menandakan identitas keagamaan tetapi lebih dari pada itu yadnya merupakan
pengajawantahan ajaran agama itu sendiri.
Dalam atharwa weda dijelaskan sebagai berikut:
Satyam brhad rtan uggram
Diksa tapo brahma yajnah prthivim dharyanti
Sano bhustaya asya patyanyurumlom
(Atharwa Veda. XII. 1.1)
Artinya :

110
Kebenaran atau satya hukum yang agung, yang kokoh dan suci (Rta0. tapa Brata, doa
dan yadnya, inilah yang menegakkan bumi. Semoga bumi ini, ibu kami sepanjang
masa memberikan tempat yang lega bagi kami.
Kitab suci Bhagavadgita juga memberikan petunjuk kepada kita sebagai berikut :
Sahajnah prajah srstva
Puro, vaca prajapatih
Anena prasavisyadham
Esa vo.stv istakhamadhuk
(Bhagavad Gita III. 10)
Artinya:
Pada jaman dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yajnya dan
bersabda dengan ini engkau akan mengembangkan dan akan menjadi kamadhuk dari
keinginanmu.
Demikianlah yadnya merupakan salah satu penyangga kehidupan didunia ini.
Tuhan telah menciptakan manusia dengan yadnya. Dengan yadnya pulalah manusia
mengembangkan dan memelihara kehidupannya
Keiklasan Jan kesucian diri adalah dasar yang utama dalam pelaksanaan suatu
yadnya. Kesucian diri dicerminkan dalam hidup yang benar memiliki kesiapan rohani
dan jasmani seperti mantapnya sradha. rasa hhakti. keimanan. Kesucian hati maupun
kehidupan yang suci. yaitu kehidupan yang sesuai dengan ketentuan moral dan
spiritual.

C. Tujuan Pelaksanaan Yadnya


1. Sebagai Pengejauantahan Weda
Weda menguraikan empat cara yang berbeda-beda untuk mengungkapkan
ajaran Weda :
Ream tvah posagaste pupusvan

111
gayatram tvo gayati savavarisu
brahma tvo vadati jatavidyam
yajnasya niatram mimita utuah
(Reg Veda. V. 71. I!)
Artinya :
Seorang bertugas mengucapkan.sloka-sloka weda seorang melakukan nyanyain-
nyanyian pujian dalam sakwari, seorang lagi yang menguasai pengetahuan weda.
mengajarkan isi weda. dan mengajarkan lain mengajar kan tata cara melaksanakan
korban suci (yadnya)
Demikianlah yadnya merupakan salah satu cara mengungkapkan ajaran weda
oleh karena itu yadja merupakan pengajawantahan ajaran weda. Yang dilukiskan
dalam bentuk Simbul-simbul (nyasa) melalui myasa dalam yadnya realisasi ajaran
agama diwujudkan untuk lebih mudah dapai dihayati. dan dilaksanakan oleh umat
kebanyakan disamping juga dapat meningkatkan kemantapan dalam pelaksanaan
kegutan keagamaan mi sendiri.
Kebesaran dari keagungan Tuhan yang dipuja. perasaan hati pemujanya,
maupun wujud persembahan semuanya dilukiskan dalam bentuk niyasa (simbul-
simbul) yang dicerminkan dalam berbagai bentuk upacara yang menyenai suatu
yadnya.
Dalam kehidupan beragama, manusia sangat memerlukan apa yang bisa
dilukiskan. dan orang bijaksana berpendapat bahwa ia harus dapat melukiskan apa
yang tak terlukiskan termasuk yang paling abstrak sekalipun. Dengan niyasa yang
diwujudkan dalam bentuk upacara menjadi lebih menyentuh dan lebih mudah
dihayati. Melalui lukisan niyasa dalam upakara. umat Hindu ingin menghadirkan
Tuhan yang akan disembah serta mempersembahkan isi dunia yang paling baik.

112
2. Sebagai Cetusan Rasa Terima Kasih
Dalam Bhagawad gita dijelaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia melalui
yadnya dengan yadnya pula manusia akan mencapai kebaikannya yang maha tinggi.
Sahayajna prajah srstva
puro vaca prajapatih
anena prasavisyavam
esa vo stv istakamadhuk.
(Bhagavad gita. Ill 10)
Artinya :
Pada jaman dahulu kala prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda :
dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu.
devam bhawayata nena
te deva bhavayantu vah
parasparam bhavay amah sreyah
param avapsyatah.
(Bhagavad gita. III. II)
Artinya :
Dengan ini kamu memelihara para dewa dan dengan ini pula para dewa memelihara
dirimu. jadi dengan saling memelihara satu sama lain, kamu akan mencapai kebaikan
yang maha tinggi.
evam pravanitamcakram
na nuvanayati ha yah
aghayur indriyaramo
mogham partha sa jivati
( BhagauadGita. 111. 16)
Artinya :

113
La yang ada didunia ini tidak ikut memutar roda (cakra) yadnya yang timbal balik ini
adalah jahat dalam alamnya. Puas dengan indriyanya dan ia. O. Arjuna hidup sia-sia.
Kehidupan didunia ini pada hakekatnsa memiliki ketergantunean dentian yang
lain. Ada tiga jenisketergantungan dalam hidup manusia yang membaua ikaian huiang
(Rna) Ketiga hutang (Tri Rna) tersebut adalah:
1. Ketergantungan manusia pada Tuhan yang telah menciptakan kehidupan
memelihara dan memberikan kebutuhan hidup membawa ikatan hutang jasa yang
dikenal dengan Dewa Rna.
2. Ketergantungan kepada leluhur yang telah melahirkan mengasuh dan
membesarkan diri kita membawa ikatan hutang jasa yang dikenal dengan nama
Pitra Rna.
3. Jasa para Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk
membebaskan hidup ini dari kebodohan menuju kesejahtraan dan kebahagiaan
hidup lahir batin membawa ikatan hutang jasa yang dikenal dengan Rsi Rna.
Agama Hindu mengajarkan untuk menampaikan rasa terima kasih atas
pengorbanan suci yadnya yang telah diterima dalam kehidupan ini melalui yadnya
pula. oleh karena itu yadnya juga dimaksudkan sebagai cetusan rasa terima kasih.
Dalam pelaksanaan suatu yadnya sarana pendukung yang tidak pernah lepas
adalah lagu nyanyian direpleksikan dalam bentuk doa pujian. kidung. maupun dalam
berbagai jenis gamelan. Dalam Regveda diuraikan sebagai berikut :
ava savanti gargaro godha pari samsxanat pingga pari
canis kadat indraya brahmodxatam
(Reu Veda. Vlll. 69. Q. A 20 92 5-6)
Artinya :
Nah geseklah gargar (rebab) dengan nyaring. kumandangkanlah suara godha (kecapi).
dengungkanlah suara musik Kepada Tuhan kami persembahkan nyanyian.

114
Inilah cara pemujaan menurut bhakti marga. Doa yang diiringi musik yang
dilahirkan dari hati manusia yang penuh cinta kasih. Doa yang sederhana dan
diucapkan langsung oleh anak maupun orang dewasa. Orang-orang suci dalam jaman
veda mcnemukan bahwa nyanyian merupakan sarana pengungkapan perasaan yang
sangat mendalam. Oleh karena itu kccintaan rnereka kepada Tuhan dilahirkan dalam
bentuk nyanyian. serta mengharapkan agar nyanyian mcrcka diterima dengan rasa
penuh cinta kasih.
Dalam bhakti marga Tuhan dipandang sebagai tamu utama yang diberi
persembahan dan dipuji dalam yadnya yang dilaksanakan.
Visoviso vi athithi
vajayantah pupupriyam
agni vo durya vacah
stuse susasya nianmabhuh
(Regveda.VlII.74.2.S)
Artinya
la adalah aditi (yang utama) diantara semua penerima sajian; la adalah atiti
(tarnu) diantara semua manusia.
Berdasarkan keyakinan tersebut. dalam pelaksanaan dewa yadnya biasa
diawali dengan upacara pemendak atau penyambutan dan dilanjutkan dengan
persembahan serta pemujaan.
Kita memberikan kepada tamu dan tidak mcngharapkan balasan apapun dari
pada Nya. Demikian pula halnya yadnya yang dipersembahkan kepada Tuhan
merupakan perwujudan cinta kasih dan rasa bakti yang suci tanpa pamrih.

3. Untuk Meningkatkan Kualitas Diri


Dari segi pcningkatan diri. yadnya pada hakekatnya merupakan pengorbanan
suci dengan maksud untuk mengurangi keakuan (ego).

115
Tiap-tiap usaha yang membawa akibat mengurangi rasa penyuburan keakuan
untuk kearah kenikmatan yang lebih tinggi dan pengurangan dorongan-dorongan
nafsu yang rendah, memerlukan pengorbananya yadnya. Tiap-tiap pengorbanan
mencari dasarnya pada keiklasan berbuat untuk tujuan yang lebih mulia. Oleh karena
itu setiap pelaksanaan suatu upacara yadnya yang pertama-tama dilaksanakan adalah
proses penyucian diri dalam artian yang luas menyangkut aspek jasmani dan rohani
untuk menuju peningkatan spiritual. Yajnya upacara itu sendiri juga dimaksudkan
untuk menciptakan usana suci dan membahagiakan.
Dalam pelaksanaan yadnya dikembangkan sikap yang paling sederhana dalam
kehidupan yaitu cinta kasih dan pengorbanan. Tuhan dalam bhakti marga dipandang
sebagai yang Maha pengasih. Maha penyayang, Maha pemurah dan sebagainya.
Orang yang memuja menginginkan kebahagiaan rohani. ia mohon perlindungan
Tuhan. mohon ampun, mohon kemurahan. cinta kasih dan sebagainya. Melalui
yadnya itu pula tersirat adanya pengakuan akan keterbatasan kekurangan dan
kepapaan hidup kita.
Hal ini terlukis dalam doa maupun upakara yang dikenal dengan nama guru
piduka dari sejenisnya.
4. Sebagai salah satu Cara Untuk Menghubungkan Diri dengan Tuhan yang
Dipuja
Upacara/Yadnya bagi umat Hindu juga merupakan pelaksanaan yuga. Tidak
saja bagi para pandita/pinandita tetapi bagi seluruh masyarakat yang
melaksanakannya. Karena pelaksanaan upacara itu sejak awal rnula merencanakan.
mempersiapkan dan lebih-lebih pada waktu melaksanakan telah diiringi sikap hatin
yang suci dengan konsentrasi yang tertuju kepada Tuhan yang dipuja, serta dilandasi
prilaku yang menampilkan susila yang tinggi.
Pengendalian diri seperti larangan kata-kata yang kotor. Berprilaku yang
menyimpang dari dharma dilaksanakan secara ketat pada saat-saat mempersiapkan

116
suatu yadnva. Dari segi jasmani, kebersihan diri sebelum melaksanakan sesuatu
pekerjaan yang berhubuagan dengan yadnya yang akan dipersembahkan juga sangat
diperhatikan. Walaupun telah mandi dengan bersih. berpakaian dengan sopan, diikuti
dengan prilaku yang baik masih ditambah dengan tirta penglukatan/pamarisudha
sebelum akan memasuki areal tempat mempersiapkan suatu yadn\a yang disucikan.
Tidak jarang dalam tingkatan yadnya yang cukup besar juga diikuti dengan
melaksanakan brata sepeni puasa dalam jangka waktu tertentu. pantang. berkata-kata
(mono brata) dan lain-lainnya. kesemuanva itu tidak lain untuk meningkatan
kosentrasi dalam menghubungkan diri dengan Hyang Widhi Wasa.

5. Untuk Menyucikan
Dalam yadnya yang tergolong dewa yadnya. bhuta yadnya. Manusia Yadnya.
Pitra Yadnya dan Rsi yadnya. hampir seluruhnya bagian-bagiannya mengandung
makna dan untuk membersihkan dan menyucikan. disamping sebagai persembahan.
Kesucian adalah landasan yang patut ditegakkan dalam melaksanakan ajaran agama.
Oleh karena itu upacara yang bermakna menyucikan, sepeni itu hampir dijumpai pada
setiap pelaksanaan suatu yadnya lebih-lebih pada tingkatan yadnya yang besar
Sradha. kebaktian, keimanan. ketulusan dan kesucian hati yang menyatu
melahirkan kualitas spiritual yang lebih tinggi pada manusia begitu pula upacara tidak
akan berani apabila orang melaksanakan belum memiliki kesiapan rohani. Untuk itu
jasmani yang suci. hati yang suci dan kehidupan yang suci. kehidupan yang sesuai
dengan moral dan spiritual patut menjadi landasan pelaksanaan yadnya.

D. Jenis Jenis Yadnya


Yadnya terdiri atas lima (lima) penghormatan yang umumnya disebut Panca yadnya.
Adapun bagian dari kelima jenis yadnya itu terdapat dalam beberapa sumber.

117
1. Panca yadnya menurut kitab Manawa Dhanna Sastra III. 69-70 sebagai
berikut
a. Brahma yadnya yaitu belajar dan mengajar Veda
b. Pitra \adnya yaitu upacara menghaturkan tarpana dan air
c. Dewa yadnya yaitu upacara mempersembahkan minyak dan susu.
d. Bhuta yadnya yaitu upacara bali banten
e. Nri yadnya yaitu menerima tamu dengan ramah.
2. Pada bagian kitab Manawa Dharma Sastra menyebutkan 5 jenis upacara yaitu
a. Ahuta - yaitu upacara yang dilakukan tanpa memper-gunakan
kesaksian api.
b. Huta - yaitu upacara dengan mempergunakan api sebagai unsur
yang penting.
c. Prahuta - yaitu upacara yang dilakukan dengan penyebaran benda-
benda upacara ditanah.
d. Brahmahuta - yaitu upacara yang ditujukan sebagai penghormatan pada
para Brahmana.
e. Prasita - yaitu upacara yang diselenggarakan dengan cara penyuguhan
jenis-jenis, kapur sirih dsb. Terutama ditujukan pada yang
meninggal.
Demikian disebutkan dalam Manawa Dharma Sastra III-73.
3. Dalam kitab Bhagawad Gita IV.28. disebutkan :
a. Dnvya yadnya yaitu yadnya dengan sarana benda-benda material,
b. Tapa yadnya yaitu yadnya dengan melakukan tapa
c. Yoga yadnya yaitu yadnya dengan melaksanakan yoga,
d. Swadaya yadnya yaitu yadnya dengan mempelajari ajaran suci
secara tekun.

118
e. Jnana yadnya yaitu yadnya dengan ilmu pengetahuan dan
kebijaksanaan.
4. Panca yajna menurut pustaka Agastya Parwa :
a. Dewa yadnya
b. Rsi yadnya
c. Pitra yadnya dan upacara Sradha
d. Bhuta yadnya
e. Manusia yadnya
Demikianlah jenis-jenis yadnya menurut beberapa sumber yang ada. Akan
tetapi secara umum dalam masyarakat yang dimakud dengan panca yadnya dalam
pengertian upacara sebagai berikut:
a. Dewa yadnya adalah upacara pemujaan atau persembahan
kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam berbagai manifestasinya
b. Bhuta yadnya adalah upacara tawur untuk keseimbangan alam.
c. Manusia yadnya adalah upacara (samkara) terhadap seseorang sejak
terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidupnya.
d. Pitra yadnya adalah penghormatan kepada leluhur.
e. Rsi yadnya adalah upacara pcnghorrnatan dan punia yang kepada
para Rsi dan Guru.

E. Tingkatan Yadnya
Perbedaan rangkaian yudnya ini disesuaikan dengan tingkat kemampuan umai
molaksanakan. Dan segi kwalitas kesembilan tmgkatan yadnya tersebut tidak ada
perbedaan. sepanjang dalam pelaksanan ya didsasari dengan rasa bhakti. ketulusan dan
kesucian hati. Dalam kenyataannya kehidupan dimasyarakat tingkat kemampuan materi
yang dimilikinya umat tidaklah sama. Oleh karena itu keharmonisan antara besar
kecilnya yadnya yang akan dilaksanakan dengan tingkat kemampuan yang bersangkutan

119
sangat diperlukan agar pelaksanaan yadnya bertujuan menuju kesejahtraan dan
kebahagiaan.

POKOK BAHASAN : PANDITA DAN PINANDITA


SUB POKOK BAHASAN : a. Pengertian Pandita dan Pinandita
b. Stauts dan wewenang Pandita serta Pinandita
c. Syarat-syarat calon Pandita dan Pinandita
TUP : Mahasiswa dapat mengerti keberadaan serta
kedudukan Pandita dan Pinandita dalam ajaran agama
Hindu
TKP : Setelah mengikuti perkuliahan materi ini, mahasiswa
diharapkan dapat :
a. Menjelaskan pengertian Pandita dan Pinandita
b. Menjelaskan status Pandita dan Pinandita
c. Menjelaskan Wewenang pandita dan Pinandita
d. Menyebutkan syarat-syarat Pandita dan Pinandita
POKOK MATERI : a. Pinandita
b. Pinandita
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pandita dan Pinandita

120
Pandita artinya terpelajar, pintar, bijaksana. Pandita adalah rohaniwan Hindu yang
tergolong Dwijati. Karena Dwijati berasal dari kata dwi artinya dua dan jati artinya lahir.
Jadi dwijati adalah lahir yang kedua kali. Lahir yang pertama adalah lahri dari kandungan
ibu sedangkan lahir yang kedua adalah lahir dari Kaki Dang Guru yang disebut Nabe.
Maka dalam peningkatan kesuciaan seorang harus menempuh upacara Diksa, yang
didalam Weda disebut dengan upacara Upanayana. Upanayana adalah penerimaan
seseorang untuk menjadi keluarga brahmana dalam mempelajari ilmu Weda. Sejak itu
seorang mulai masuk dalam fase brahmacari. Setelah seseorang melaksanakan upacara
Diksa mereka disebut sebagai Dwijati. Dalam upacara Diksa juga dilakukan Nuuun Peta
ataujuga disebut Metapak. Gelar Dwijati dalam masyarakat Hindu yang berada di Bali
terdiri dari;

• Pedanda adalah gelar seorang sulinggih yang berasal


dari keluarga Brahmana.

• Bhagawan adalah gelar seorang sulinggih yang berasal


dari keluarga Ksatriya.

• Rsi adalah gelar seorang sulinggih yang berasal dari


keluarga Wesya

• Bujangga adalah gelar seorang sulinggih yang berasal


dari keluarga Wasnawa.

• Empu adalah gelar seorang sutinggih yang berasal dari


keluarga Pande

• Dukuh Adalah gelar seorang sulinggih yang berasal


dari keluarga Pasek.
2. Pengertian Pinandita
Pinandita adalah rohaniawan Hindu yang bertugas selaku pembantu mewakili
Pandita. Hal ini ditetapkan oleh Parisada dalam Mahasaba; ke II tahun 1968 yang

121
menetapkan sebagai berikut: Selaku pembantu mewakili Pandita ditetapkan adanya
Pinandita terdiri:

• Pemangku

• Wasi

• Mangku Balian

• Mangku Dalang

• Pangemban

• Dharma Acarya.

Sebutan pemangku umumnya dikaitkan dengan adanya suatu Pura dimana ia


bertugas. Sedangkan Pemangku Dalang. Wasi. Mangku Balian. Pengemban maupun
Dang Acarya tidak selalu memiliki ikatan dengan suatu tempat suci tertentu. Oleh
karena itu mereka lebih banyak melaksanakan tugas selaku rohaniwan yang bersifat
umum. seperti melaksanakan upacara Perkawinan. manusa yadnya dsh. Selain jenis
dari Pinandita yang tersebut diatas ada lagi jenis pinandita seperti Dukuh yang berasal
dari masyarakat Hindu Tengger.

B. Status Pandita dan Pinandita.


1. Status Pandita.
Status Pandita adalah rohaniawan Hindu yang telah di Diksa dan tergolong
Dwijati. Pelaksanaan upacara Diksa ini bersifat merubah status yang bersangkutan
setelah melalui disiplin hidup yang cukup ketat. Ikatan disiplin pertama-tama yang
patut dilaksanakan dikenal dengan istilah Catur Bandana Dharma. aninya empat
ikatan disiplin kehidupan kerohanian meliputi :
a. Amari aran:
Artinya yang bersangkutan sejak diresmikan menjadi seorang Pandita
dengan melalui upacara Diksa wajib mengganti namanya dengan nama yang baru
sesuai dengan pemberian Nabe

122
b. Amari Sasana;
Artinya meninggalkan tugas dan kewajiban semula (saat sebelum mediksa) dan
mengganti dengan sasana kawikon, yaitu tugas dan kewajiban serta disiplin
kehidupan seorang Pandita. Contohnya Tan Wenang adol atuku (tak boleh jual
beli) dsb.
c. Amari Wesa:
Artinya meninggalkan dan mengganti atribut/tanda kawalakaan dengan Wesa atau
ciri/identitas Pandita. Misalnya dalam tata busana. tidak boleh bercukur.
melainkan bagi Pandita Siwa yang iaki-laki biasanya mengenakan dandanan
rambut yang disebut Aketujata memakai mahkota rambut yang diikat sedemikian
rupa atau disebut Melingga Mudra. di Bali dikenal dengan Maprucut. Bagi yang
wanita memakai dandanan rambut yang disebut Anondong. Pakaian saat memuja
memakai
- Sempet yaitu secarik kain yang dilipat pada dadanya.
- Rudraksa yaitu hiasan dari rangkaian buah ginitri yang dikenakan pada
kedua bahunya.
- Gondala yaitu anting-anting yang umumnya juga terbuat dari
rangkaian buah gmitn.
- Kantha Bharata yaitu hiasan pada leher
- Kama Bharata yaitu hiasan pada telinga.
- Guduha yaitu gelang rangkaian biji buah ginitn yang dikenakan pada
kedua pergelangan tangannya.
- Bhawa yaitu hiasan pada kepala. Yang sering disebut dengan Ketu.
Pada saat melaksanakan pemujaan juga dilengkapi dengan peralatan
penuijaan yang disebut Siuopakarana. serta gerakan tangan yang bersifat
magis(mudra).
Pakaian sehari-hari setelah menjadi Pandita antara lain

123
Bagi Pandita Iaki-laki mengenakan kain putih. kampuh kuning bertcpi putih. ikat
pinggang putih. bila keluar rumah memakai "tongkat. Boleh juga"memakai
jubah.\angdisebut Kauaca Rajeg. Pandita Istri memakai kain yang dasarma
kuning. boleh dengan motif kembang. baju uarna putih. selendang kuning. ikat
pinggang putih.
d. Umulaken Kaguru Stisrusa:
Annna melaksanakan dengan patuh dan berdisiplm ajaran Nabe. sclalu hormat
dan patuh kepada Nabe termasuk keluargaina. kesemua ciri-cin tersebut hanya
boleh dipergunakan oleh seorang \ang telah resmi menjadi Pandita. Dengan
melaksanakan disiplin yang ketat mengantarkan seorang Pandita pada status
sebagai seorang Wiku Dang Acharya Sulinggih/ Dwijati. Kedudukan Pandita
selaku Dwijati adalah kedudukan khusus yang hanya menuruti sasana serta sesuai
dengan ketentuan Parisada. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam
penguasaan ajaran kePanditaan yaitu :
- Kemahiran Pujapari Krama termasuk mudra dan Siwapan Krama.
- Kamahiran Puja Arghapatra serta penghayatannya.
- Puja Siwalingga.
2. Status Pinandita.
Status Pinandita adalah tergolong Ekajati. Seorang Pinandita juga diharuskan
mempelajari Weda untuk Ngeloka Palasaraya. Upacara pengesahan untuk menjadi
Pinandita hanya sampai pada tingkat Pewmtenan. Upacara pweintenan juga bisa
dilakukan oleh umat secara umum. yang tujuannya han\alah untuk mcnsucikan diri.
Upacara pweintenan boleh dilakukan berulangkali. Berbeda dengan upacara Diksa
yang hanya boleh dilakukan sekali (tan wenang anyusum diksa)
Seorang Pinandita boleh bercukur, berpakaian selayaknya masyarakat biasa,
masih memiliki tugas dan kewajiban dalam hubungannya dimasyarakat sebagai
seorang Walaka. Namanyapun setelah diwinten tidak diganti dengan nama baru.

124
Seorang Pinandita dalam melaksanakan tugasnva tidak diperkenankan
mempergunakan alat pemujaan seperti Pandita, dan juga tidak mempergunakan
Mudra.
Pelanggaran dalam hal ini disebut Nyumuka yaitu "anguikon awaknya dauak"
artinya menjadikan dirinya selaku Pandita. Bagi seorang Pinandita memiliki sasana
khusus yang disebut Sasana Pemangku. yaitu :
- Gagelaran/ageman-ageman pemangku melaksanakan tugasnsa disesuaikan
dengan ketentuan dalam lontar Kusuma Dewa. Sang Kulputih. Gegelaran
Pemangku.
- Bagi Pemangku Dalang, sasananya sesuai dharmaning Dalang. Panyudamalan
dan Nyapu Leger.
Ciri-ciri timum yang dipergunakan seorang Pinandita.
- Rambut panjang atau boleh bercukur.
- Pakaian dalam melakukan upacara; memakai destar putih. baju putih. kampuh putih.
- Dalam melakukan pemujaan memakai: Genta. Pasepan. Bunga, Gandaksata, tempat
tirta (Kumba).

C. Wewenang Pandita dan Pinandita


1. Wewenang Pandita.
Sesuai Keputusan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu, seorang
Pandita berwenang menyelesaikan upacara Panca Yadnya. Kewenangan seorang
Pandita tidak secara otomatis diperoleh setelah menyelesaikan upacara Diksa,
melainkan. masih memerlukan pengesahan yang bersitat memberi legalitas.
Penyesahan tersebut terkadang harus dilalui beberapa tahapan laui. Untuk
menggunakan Weda. dan menyelesaikan upacara tingkat sederhana. seorang Pandita
harus melaksanakan upacara Ngelinggihan Weda xang disaksikan oleh Nabenya.
Pada upacara ini seorang Pandita dites kembali dalam hal kemampuan pernguasaan

125
Weda. Setelah upacara Ngelinggihang Weda ini dapat dilaksanakan dengan baik.
barulah seorang Pandita memiliki kewenangan menyelesaikan upacara tingkat tenentu
yang sesuai dengan ijin Nabenya.
Untuk menxelesaikan upacara tingkat besar (upacara yang manggunakan
Sanggar Tawang Rong Tiga). seorang Pandita harus memiliki kemampuan dalam
penguasaan Weda (Apasang Lingua) yaitu tingkat tertentu dalam penguasaan Weda.
Bagi seorang Pandita yang sudah melewati tahapan ini maka tugas pokoknya adalah
Ngeloka Palas raya yaitu melaksanakan tugas selaku sandaran umat untuk memohon
bantuan dalam hal kehidupan keagamaan secara umum. Oleh karena itu Pandita juga
disebut sebagai Guru Loka atau Dang Acharya.
Tugas dan keuajiban Pandita setiap harinya adalah melaksanakan pemujaan
yang dikenal dengan Nyurya Sewana yaitu melaksanakan pemujaan untuk
manyucikan diri serta mendoakan kesejahteraan dan kebahagiaan semua makluk di
dunia (sanaprani hitang karah). Pemujaan ini biasanya dilaksanakan di Tempat Suci.
Tugas dan keuajiban Pandita sesuai Keputusan Mahasabha II Parisada Hindu
Dhatma Tahun 1968 adalah sebagai berikut:
a. Memimpin umat dalam hidupnya untuk mencapai kebahagiaan lahir
batin
b. Melakukan pemujaan penyelesaian Yadnya.
Pandita sejak mendapat ijin Ngeloka Paiasraya. hendaknya melakukan Tirta
Yatra ketempat-tempat suci. Dalam pembinaan umat. seorang Pandita diharapkan
untuk melaksanakan tugas seperti:
a. Dalam memimpin upacara Yadnya menyesuaikan dengan kitab suci.
b. Pandita hendaknya berkenan membimbing untuk meningkatkan
kesucian dan kemampuan para Pinandita.
c. Aktif mengikuti Paruman dalam rangka meningkatkan ajaran agama
dalam hubungannya dengan perkembangan jaman.

126
d. Pandita hendaknya dapat melakukan dharmawacana kepada umat.

2. Wewenang Pinandita.
Sesuai dengan Ketetapan Mahasabha II tahun 1968 bahwa Pinandita tidak
diperkenankan untuk melakukan Pewintenan kepada seorang yang ingin menjadi
Pinandita. Pinandita tidak dibolehkan untuk membuat Tirta Pangentas. Dalam
menyelesaikan upacara Dewa Yadnya dan Manusia Yadnya hanya pada tingkat
Madudus Alit.
Kewenangan seorang Pinandita Sesuai dengan Kesatuan Tafsir Agama Hindu
adalah sebagai berikut:
a. Nganteb upakara pada Kahyangan yang diamongnva
b. Boleh Ngeloka Palasraya sampai dengan Medudusan Alit atas
panugrahan Pandita.
c. Waktu melakukan tugas agar berpakaian putih.
Dalam melakukan upacara Panca Yadnya. batas kewenangan Pinandita adalah
sebagai berikut:
- Menyelesaikan upacara Pujauali'piodalan sampai tingkat piodalan pada pura yang
bersangkutan.
- Apabila Pinandita menyelesaikan upacara yang harus menggunakan tirta sulinggih.
maka Pinandita boleh menyelesaikan dengan nganteb serta menggunakan tirta
sulinggih selengkapnya.
- Pinandita dibolehkan untuk mehyelesaikan upacara rutin di dalam
- Pura dengan nganteb serta mohon tirta kehadapan Hyang Widhi atau Bhatara yang
melinggih di pura.
- Dalam menyelesaikan upacara Bhuta Yadnya/caru. Maksimal sampai tingkat
menggunakan tirta sulinggih.

127
- Dalam menyelesaikan upacara Manusia Yadnya. berwenang dari upacara bayi lahir
sampai tingkat otonan.
Dalam menyelesaikan upacara Pitra Yadnya. hanya sampai dari pada tingkat
Mendem Sawa sesuai dengan Catur Drstha.

D. Syarat-syarat Calon Pandita dan Pinandita.


1. Laki-Iaki yang sudah kaum.
2. Wanita yang sudah kawin.
3. Laki-laki yang Nyukla Brahmacari.
4. Wanita yang tidak kawin (kenya).
5. Pasangan suami istri yang sah.
6. Umur sudah dewasa.
7. Paham dalam bahasa Kawi. Indonesia. Sansekerta. Memiliki pengetahuan agama
(Hindu), memiliki pengetahuan umum.
8. Sehat lahir dan batin.
9. Mendapat tanda kesetiaan dari Pandita calon Nabenxa.

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah : Pendidikan Agama Hindu


Semester :

128
Tahun Kuliah :
SKS : 2 SKS
Jenjang :S1
Tujuan Kurikuler
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang istilah dan fungsi tempat suci. Ikut
berpartisipasi dalam usaha melestarikan kesucian tempat suci dan menyadarkan akan
pentingnya tempat suci bagi umat Hindu dimanapun berada sebagai tempat untuk
menghubungkan dan mendekatkan diri kehadapan Tuhan dengan segala manifestasinya.
Pokok Bahasan : Tempat suci
Sub Pokok Bahasan : a. Pengertian tempat suci
b. Syarat-syarat mendirikan tempat suci
TUP : Mahasiswa dapat memahami pengertian tempat suci dan
syarat-syarat mendirikan tempat suci
TKP : Setelah mengikuti perkuliahan mengenai pokok materi ini
mahasiswa diharapkan dapat :
a. Memahami pengertian tempat suci dan syarat-syarat
mendirikan tempat suci
b. Menjelaskan syarat-syarat mendirikan tempat suci
Pokok Materi : a. Arti dan fungsi tempat suci
b. Syarat-syarat mendirikan tempat suci
c. Mengenal bangunan suci Hindu
BAB I
TEMPAT SUCI

A. Pengertian Tempat suci.

129
Tempat suci adalah tempat untuk melakukan persembahyangan, tempat untuk bersujud,
berbakti, menyernbah secara lahir batin, kehadapan Hyang Widhi Wasa secara tulus
iklas.

B. Fungsi Tempat Suci


1. Tempat suci berfungsi sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi
beserta manifestasinya, tempat manusia mengabdi dan berbakti kepada Hyang Widhi.
tempat memohon pertolongan dan tuntunan dalam hidupnya. tempat manusia
menyatukan dirinva dengan Hyang Widhi dan tempat memohon ampun atas dosa
yang pernah dilakukan selama hidupnya.
Manusia disaat suka datang ke tempat suci untuk mengucapkan rasa syukur atas
segala anugrah yang dilimpahkan oleh Hyang Widhi. Demikian pula pada saat duka;
menderita. dan sebagainya. seorang datang kepura untuk memohon ketenangah Jiwa
dan memohon petunjuk kepada Hyang Widhi.
2. Pada bagian lain dari tempat suci dapat berfungsi sebagai
sarana sosial keagamaan. seperti dharma tula, sarasehan dan sebagaiina.

C. Jenis-jenis Tempat suci


1. Pura.
Istilah pura berasal dari kata Pur yang aninya Kola, benieng. Pura berarti suatu tempat
\ang khusus dipakai untuk dunia kesucian. Sebelum Pura diperkenalkan sebagai
tempat suci atau tempat pemujaan. dipergunakan Hyang atau Kahyangan dan juga I
Ion untuk tempat pemujaan umat Hindu.

2. Candi.
Candi berasal dari kata Candika Grha artinya Rumah Durga. Dan pengertian ini
akhirnya candi dijadikan tempat pemujaan untuk Deui Durga. Di India candi

130
merupakan sarana pemujaan. dan merupakan simbol gunung Mahameru. sebagai
tempat para. Dewa. Maka itu candi merupakan tempat pemujaan kepada dewa. Nama
lain candi adalah: Prasada. Sudarma. Mandira.
Dr. Sukmono mengatakan bahua fungsi candi seperti :
1. Candi berfungsi sebagai tempat pemujaan.
Candi Dieng. Candi Prambanan, Candi Penataran.
2. Candi berfungsi sebagai pemujaan roh suci seperti :
Candi KidaK Candi Jago. Candi Singosari. Candi Simpino. Candi Jaui.
3. Candi berfungsi sebagai tempat semedi seperti ;
Candi Borobudur. Candi Pauon. Candi Mendut Candi Sewu. Candi Kalasan.
Candi Sari.

3. Kuil. Mandir.
Kuil adalah tempat suci umat Hindu dari keturunan India Tamil. Fungsi Kuil
adalah tempat suci untuk memuja manifsetasi Tuhan (Dewa) yang dikagumi.
Mandir adalah tempat suci umat Hindu keturunan India Tamil. Mandir
berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasinya.

4. BALAI ANTANG
Balai Arang adalah tempat suci umat Hindu dari Kaharingan. Balai Antang ini dibuat
dari kayu yang dirangkai sehingga bentuknva mirip dengan pelangkiran di Bali.
Fungsi Balai Antang adalah sebagai tempat menstanakan roh leluhur yang sudah di
sucikan \ang bersifat sementara.

5. BALAI KAHARINGAN
Balai Kaharingan adalah tempat suci umat Hindu dari Kaharingan. Bentuknva hampir
mirip bangunan rumah, dan di ruangan diletakkan sebuah tiang yang besar sebagai

131
penyangga. Atapnya bersusun Tiga. semakin keatas semakin kecil. Fungsi Balai
Kaharingan adalah untuk menstanakan Hyang Widhi dengan berbagai manifestasinya.
Balai Kaharingan dibangun ditengah-tengah wilayah masyarakat atau pada tempat yang
mudah dijangkau oleh umat Hindu Kaharingan untuk melaksanakan persembahyangan.

6. SANDUNG
Sandung adalah tempat suci umat Hindu Kaharingan. Sandung terbuat dari kayu
dirangkai berbentuk pelinggih rong satu. bentuk atapnya segi tiga sama kaki dan
memakai satu tiang sebagai penyangga. Sandung diletakkan diluar rumah atau
dipekarangan. Fungsi Sandung adalah sebagai Stana roh leluhur yang telah ditixsahkan
(disucikan).

7. INAN KEPEMALARAN PAK BUARAN.


Adalah tempat suci umat Hindu Tanah Toraja, dengan ciri-cirinya terdapat Lingga/batu
besar. Pohon Cendana dan Pohon andong. Pak Buaran merupakan tempat sembahyang
yang digunakan dalam lingkungan satu Desa (di Bali sama dengan Pura Desa).
8. INAN KAPEMALARAN PEDATUAN.
Adalah tempat suci umat Hindu Tanah Toraja. dengan ciri-cirinya, terdapat lingga / batu
besar. pohon cendana dan pohon andong. Pedatun ini merupakan tempat sembahyang
yang digunakan dalam beberapa lingkungan keluarga (di Bali = Banjar). Pedatuan ini
biasanya terleiak dilereng Gunung.

9. INAN KAPEMALARAN PAK PESUNGAN.


Adalah tempat Sembahyang bagi umat Hindu di Tanah Toraja. yang digunakan dalam
lingkungan rumah tangga (di Bali = Merajan)

10. SANGGAR.

132
Adalah salah satu bentuk tempat persembahyangan umat Hindu di Jawa. Sanggar ini
merupakan tempat suci \ang ukuran ruangnya kecil yang berisikan satu buah Padmasana
untuk tempat persembahyangan yang bersifat umum.

11. PAJUH- PAJUHAN.


Pajuh-Pajuhan adalah tempat pc.sembahyangan umat Hindu Batak Karo. Pajuh - pajuha
terbuat dari kayu yang dirangkai berbentuk segi empat. Pajuh-Pajuhan biasanya dibangun
dekat mata air dan sifatnya umum yaitu tempat sembahyang sccara umum. Fungsinya
adalah stana roh leluhur ang telah disucikan.

12. CUBAl -CUBALAN


Adalah tempat sernbahxang umat Hindu Batak Karo Cubal-Cubalan bentuknxa scienis
Pelangkiran yang diletakkan di dalam rumah yang Uijuamua untuk mclakukan
perscmbahyangan dan xadnxa yang ditujukan pada roh leluhur dan Hyang Widhi.
D. PENGELOMPOKAN PURA.
Dan ribuan tempat suci yang tersebar di seluruh Ball dapat dikelompokkan
berdasarkan t'ungst dan karakter (ciri Khasnya). Sebagai berikut.
1. Pengelompokkan berdasarkan fungsi.
- Pura sebagai tempat suci untuk memuja Sang Hyang Widhi
- Pura sebagai tempat suci untuk mernuja Roh Leluhur.

2. Pengelompokkan berdasarkan karakter (ciri Khasnxa) antara lain :


a. Tempat suci yang bersifat UMUM
Tempat suci ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan H\ang Widhi
dengan segaia manifestasinya. Tempat suci yang tergolong umum ini merupakan
tempat pemujaan untuk semua lapisan umat Hindu secara keseluruhan.
b. Tempat suci yang bersifat teritorial.

133
Tempat suci ini mempunyai ciri kesatuan wilayah dari anggota masxarakat suatu
desa. Tempat suci yang bersifat teritorial sudah lazim berlaku di Bali karena ciri
khas suatu desa yang berdaulat pada dasarnya memiliki ? (tiga) buah tempat
ihadah disebut Tri Kahyangan Tiga.
c. Tempat suci yang bersifat Fungsional.
Tempat suci ini berkarakter fungsional dimana penanggung jawabnya adalah
memiliki ikatan kekaryaan atau mata pcncaharian yang sama seperti ;
- Petani Tanah Basah
- Petani Tanah Kering
- Nelayan
- Pedagang
1. Petani Tanah Basah.
Tempat suci untuk petani tanah basah misalnya; Pura Empelan, Pura Bedugul
yang letaknya di Pusat irigasi (pintu air) Tingkatan Hirakhinya adalah :
- Tempat suci Masceti
- Tempat suci Ulun Suwi
- Tempat suci Ulun Danu
2. Tempat suci untuk para petani Tanah Kering seperti.

• Tempat suci alas angker

• Tempat suci alas harum

• Tempat suci alas rasmini

3. Tempat suci untuk pedagang disebut tempat suci Pura Melanting


tempatnyadi sekitai lingkungan pasar.
4. Tempat suci untuk Para Nelayan di sebut Pura segara. tempatnya
disekitar pantai tempat nelayan beroperasi.
d. Tempat suci yang berdasarkan Kauitan.

134
Tempat suci mi ditentukan oleh garis keturunan (leluhur) \ang terbatas
pada keluarga sapinda (pertikal geneologis).

BAB II
SYARAT-SYARAT MENDIRIKAN TEMPAT SUCI

A. SYARAT SYARAT MENDIRIKAN TEMPAT SUCI.


Dalam mendirikan Tempat suci Hindu selalu berpedoman pada dua hal yaitu
Peraturan perundang-undangan yang berlaku dan Hukum Agama (Weda).
Peraturan tersebut adalah Surat keputusan bersama antara Menteri Dalam Negeri
dan Menteri Agama No.OI BER.mdn/mag/!969 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri
No.SK.556/DJA 1986.
Persavaratan yang terdapat dalam hukum agama (Weda). tentunya harus mengacu
kepada sastra agama Hindu seperti Lontar. Awig-awig. Bhisama. Keputusan Mahasabha
dan sebagainya.

B. PROSEDUR MENDIRIKAN TEMPAT SUCI


1. Tahap awal yang harus dipersiapkan antara lain

135
a. Menyiapkan tempat yaitu tersedianya tanah yang cocok dengan pertimbangan
kemungkinan kecilnya terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari.
Ekosistimnya menguntungkan dan sesuai dengan ketentuan agama.
b. Tanah yang tersedia tidak dalam keadaan sengketa.
c. Status tanah yang akan dipakai sudah sah dengan bukti adanya sertiftkat dari
pihak yang beruenang yang dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional (BPN).
2. Pengurusan sertifikat sebagai berikut
a. Adarna surat pengantar dari lurah Kepala Desa berupa akta jual beli tanah atau
akta serah terima tanah disertai pula surat pengantar dari PHD1 setempat
ditujukan kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN).
b. Mengisi blangko yang diberikan oleh pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN)
yang disertai lampiran akta jual beli tanah.
3. Pengurusan Ijin Mendirikan Bangunan
Hal-hal yang harus dipersiapkan adalah.
a. Surat Pengantar dari lurah kepala Desa yang berisikan persetujuan terhadap
tempat lokasi bangunan Pura.
b. Denah tempat suci (sesuai pianologi) Desa/Koia diketahui oleh Pemda
setempat.
c. Adanya sertifikat atas tanah tempat suci
d. Adanya daftar nama umat yang berdomisili disekitar tempat suci.
4. Pengukuran Bangunan
Pada saat pengukuran bangunan tempat suci disertai rentetan upacara dan upakara
seperti: Canang Genten 5 buah diletakkan disetiap sudul dan tengah. masing-masing 1
buah. Segehan Agung 1 buah yang diletakkan ditcngah-tengah halaman.
5. Waktu mendirikan bangunan:
Mengenai waktu mendirikan bangunan Tempat suci kita tidak boleh lepas dari
penentuan hari yang baik yang disesuaikan dengan Desa Kala Pntra

136
C. DENAH PURA SESUAI DENGAN TR1 MANDALA
Secara umum denah tempat suci di bagi atas 3 bagian sesuai dengan ketentuan Tri
Mandala antara lain :
1. Utama Mandala (jeroan) adalah tempat bangunan suci.
2. Madya Mandala (halaman tengah) adalah wilayah tempat mendirikan bangunan
pelengkap untuk menunjang kegiatan upacara keagamaan. ?.
3. Kanista Mandala (halaman luar) adalah wilayah yang dipergunakan untuk keperluan
yang langsung berhubungan dengan kegiatan keagamaan.
Pembagian ruana halaman pada sebuah Pura adalah berorientasi pada
makrokosmos (bhuana Agung) yaitu dibagi menjadi 3 bagian adalah lambang dari Tri
Loka yaitu : Bhur Loka (Bumi). Bhwah Loka (langit). Swah Loka (Sorga)
Pertimbangan lain jika tanah yang tersedia sangat sempit. dimungkinkan
pembagian ruang Pura terdiri dari 2 halaman /ruang yaitu lambang dari alam atas (akas)
dan alam bawah (pertiwi). Bila pura yang terdiri dari hanya satu halaman yang fungsinya
sebagai halaman utama disebut Ekabhuana yaitu, penunggalan antara pertiwi dan aksa.
Sedangkan jika tanah memungkinkan ada Tempat suci (pura) pembagian ruangannya
terdiri atas 7 halaman ruang adalah lambang dari Sapta loka yaitu Bhur, Bwah, Swah,
Maha, Jnana, Tapa, dan Satya Loka.
Antara Utama Mandala dengan Kanista mandala didirikan Candi bentar yaitu
pintu masuk pertama dari kanista mandala menuju madya mandala sekaligus batas antara
kanista mandala dengan madya mandala. Di kiri dan kanan pintu masuk candi bentar
dipajang patu Dwarapala (dua buah patung raksas) yang mempunyai fungsi sebagai
penjaga.
Pintu masuk ke Utama mandala yaitu Kori agung sehari-harinya tertutup dan baru
dibuka apabila ada upacara keagamaan di Pura seperti Pujawali hari jadi dari pura
tersebut disamping upacara keagamaan yang lain. Petugas penunggu pura dalam

137
melaksanakan tugas di Pura seperti membersihkan Pura dapat memakai jalna kecil yang
terletak di sebelah kiri dan kanan Kori Agung.
BAB III
MENGENAL BANGUNAN SUCI HINDU.

Bentuk bangunan suci Hindu motipnya berbeda sesuai dengan budaya setempat tetapi
secara hakiki semuanya sama sesuai dengan amanat Kitab Suci Agama Hindu. Adapun
bentuk-bentuk bangunan tersebut antara lain :
1. PRASADA
Bentuknya serupa tugu, terdiri dari tiga bagian yaitu Dasar. Badan dan Atap. Atap
atau kepalanya memakai gelung mahkota segi empat bertingkat semakin keatas semakin
kecil. Denah bangunan bujur sangkar, tinggi bangunannya dapat berkisar setinggi Tugu
sampai sekitar 10 meter, Bahan bangunannya dipakai batu alam, batu padas, batu karang
dan batu-batu merah.
Fungsi Prasada adalah sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi. Bangunan prasada
dapat kita saksikan di Pura Prasada desa Kapal kabupaten Badung, Candi Margarana,
Pura Maos Pahit Desa Tatasan Badung.

2. MERU.
Pada umumnya atapnya adalah dari ijuk. bagian dasar pada umumnya terbuat dari
batu alam dan badan Meru terbuat dari bahan kayu. kecuali beberapa Meru di Pura
Besakih di Kabupaten Karangasem bahwa badan meru terbuat dari batu cadas dan
ukurannya lebih besar dari pada badan Meru yang terbuat dari kayu. Fungsi Meru adalah
tempat memuja Hyang Widhi dengan segala manifestasinya.

3. GEDONG.

138
Gedong juga merupakan salah satu bangunan Tempat suci Hindu di Bah. Bentuk
Gedong pada umumnya bujur sangkar atau segi empat. Bangunan ini terdiri dari tiga
bagian yaitu : dasar. badan. dan puncak atau atap. Bagian dasar pada umumnya terbuat
dari batu bata atau padas diisi ukiran yang didukung oleh seekor empas (kura-kura)
dengan dibelit oleh seekor naga. Bagian badan ada yang terbuat dari batu bata atau batu
padas tetapi ada juga yang terbuat dari kayu. Bagian badan dilengkapi dengan relief atau
ukiran para dewa. Bagian atas selalu terbuat dari konstruksi kayu. atapnya terbuat dari
alang-alangdan bisajuga ijuk dan genteng.

4. RONGT1GA.
Bentuk bangunan Rong Tiga pada umumnya sama dengan bangunan gedong
yakni empat persegi panjang. Bangunan ini terdiri dari tiga bagian yaitu
Bagian dasar dibuat dari batu padas, disusun sesuai dengan bentuk bangunan. Bagian
badan. letaknya agak ke atas. terbuat dari kayu dengan tiga ruangan menghadap kedepan.
Bagian atas terbuat dari konstruksi kayu dengan atap alang-alang ijuk dan bisajuga
genteng. Rong Tiga merupakan salah satu bagian bangunan merajan (tempat pemujaan
keluarga). Fungsi rong tiga adalah tempat untuk memuja Hyang Widhi dalam
manifestasinya sebagai Tri Murii dan Roh Leluhur yang sudah disucikan.

5. TUGU.
Bentuk bangunan tugu hampir sama dengan bangunan prasada cuma ukurannya lebih
kecil dan fungsinya juga berbeda. Fungsi Tugu adalah untuk tempat bersemayamnya para
Bhuta agar tidak mengganggu aktifitas manusia pada saat malaksanakan upacara suci.
Bangunan tugu di letakkan di halaman luar Pura. Tidak seperti bangunan Padmasana.
Gedong dan Meru yang terletak pada bagian halaman utama Pura.
6. PADMASANA

139
Istilah Padmasana banyak kita jumpai dalam mantram-mantram untuk menstanakan
Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa. Di Jawa bentuk Padmasana digambarkan dengan
bentuk bunpa tratai sebagai simbul Stan- Hyang Widhi. sedangkan di Bali Padmasana di
perkenalkan oleh Dang Hyang Nirarta pada abad ke 16 masehi.
Jenis-jenis Padmasana
Dikalangan umat Hindu banyak yang tidak dapat membedakan yang mana disebut
Padmasana. Padmasari. Padma Capah maupun Padma Kurung. Menurut lontar Catur
Winasari disebutkan bermacam-macam Padmasana berdasarkan atas arah. rong (ruang).
pepalihan (tingkatan).
a. Berdasarkan arah (pencider ideran).
1. Padma kencana di Timur menghadap ke Barat adalah sthana
Hyang Iswara.
2. Padmasana di Selatan menghadap ke Utara adalah sthana
Dewa Brahma
3. Padmasana sari bertempat di Barat menghadap ke timur
sthana Dewa Maheswara.
4. Padmasana Lingga di Utara menghadap ke Selalan adalah
siana Dewa Wisnu.
5. Padma Saji di Timur laut menghadap ke Barat daya adalah
stana Dewa Sambhu.
6. Padma Asia sedana bertempat di Tenggara menghadap ke
Barat Laut adalah stana Dewa Mahesora.
7. Padmanoja di Barat Daya menghadap ke Timur Laut adalah
stana Dewa Mahadewa.
8. Padmokaro di Barat laut menghadap ke Tenggara adalah stana
Sangkara.

140
9. Padma Kurung di Tengah berruang tiga menghadap kearah
depan adalah stana Trimurti.
b. Beradasarkan Ruang dan tingkatannya dapat dibedakan atas :
1. Padmasana anglayang, berruang tiga mempergunakan
Bedawang Nala dengan Palih Tujuh.
2. Padma agung, berruang tiga dan mempergunakan Bedawang
Nala dengan Palih Lima
3. Padmasana. berruang satu mempergunakan Bedawang Nala
dengan palih lima.
4. Padmasari. Bangunan Padmasari menyerupai Padmasana.
Perbedaannya adalah sebagai berikut:
Bangunan padmasana menggunakan dasar Bedawang Nala yang dililit oleh naga
sedangkan Padmasari tidak menggunakan Bedawang Nala dan naga. Padmasari
berruang satu dengan Pali Tiga yaitu Pali Taman (bawah), Palih Sancak (tengah)
dan Palihsari (atas).
5. Padma Capah. bangunan ini mirip Padmasari tetapi lebih rendah, tidak memakai
Palih (tingkatan) biasanya tidak lebih tinggi dari mata manusia berdiri. Padma
Capah adalah berruang satu dengan Palih Dua yaitu Pali Taman (bawah) dan Palih
Capah (atas) tidak mempergunakan Bedawang Nala. Padma Capah adalah stana
mahluk alus atau mahluk yang derajatnya lebih rendah dari manusia.

BAB IV
PENGESAHAN TEMPAT SUCI SECARA AGAMA

141
Menurut ajaran Agama Hindu sahnya suatu bangunan tempat suci ditandai dengan
adanya pemhersihan secara spiritual (Pcmelaspas adalah upacara penyucian atau sakralisasi
suatu bangunan menurul ajaran Agama Hindu. Tuiuan pemelaspas adalah selain
menyakralisasi bangunan iuga mohon keselamatan kehadapan Hyang Widhi \\asa sehingga
umat yang melaksanakan ihadah dianugrahi ketenangan lahir batin.
Unuik upacara Pemelaspas bangunan dikenal beberapa tingkatan yang disesuaikan
dengan keadaan bangunan. kemampuan umat ketentuan-ketentuan lain yang ada yang
kaitannva dengan upacara pemelaspas Tingkatan pemelaspas bagi umat Hindu di Bali adalah
sebagai berikut:
A. Tingkat Pemelaspas Alit (sederhana).
Pemelaspas alit dilaksanakan apabila bangunan sudah dianggap rampung 90 %
dan rencana semestinya. Tujuannya adalah supaya bangunan yang sudah ada dapat
dipergunakan sesuai dengan Upakaranya :
1. Disanggarpesaksi/Surya
- Daksina
- Peras
- Ajuman
- Pembersihan
2. Didepan bangunan yang baru selesai.
- Banten Pemelaspas
- Ayaban tumpeng pitu (7)
3. Ditanam panca datu terdiri dari sekeping emas.tembaga. perak. besi dan permata
- Pada bagian puncak bangunan diisi berapa buah arti (rangkaian daun lontar berbentuk
segi empat).
a. Hari Raya yang berdasarkan Sasih atau Bulan dan Vahun Caka. yaitu hari raya
Nyepi. Purnama Tilem dan Sivva Ratri

142
b. Hari raya yang berdasarkan Pawukon, yaitu hari raya Galungan, Kuningan
dan Saraswati.
4. Dihalaman tempat suci
- Byakala
- Prayascita
- Durmanggala
- Segehan agung
- Caru ayam brumbun (bulunya warna warni)
5. Di depan pemimpin upacara
- Prayascita
- Peras
- Lis
- Cecepan
- Penastan
- Nira, arak, grem
- Dua/pasepan
- Ajuman
- Daksina
- Rayunan
- Tipat kelanan
- Sesari sesuai kemampuan
Pemelaspas alit boleh dipimpin oleh Pinandita

B. Tingkat
Pemelaspas agung dilaksanakan apabila bangunan sudah selesai secara tuntas seratus
persen. Pada pemelaspas agung biasaya disertai dengan upacara Panca Kelud. Pada
pemelaspas Agung dilanjutkan dengan upacara Ngenteg linggih yang sekaligus

143
merupakan puja wali/ hari jadi tempat ibadah yang bersangkutan. Hari jadi tempat ibadah
ada berdasarkan wuku dan ada pula yang berdasarkan sasih.

DAFTAR PUSTAKA

Buku Pelajaran Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi Umum.


Hanuman Sakti. Jakarta. Tahun 1994

144
Himpunan keputusan Seminar kesatuan Tafsir terhadap asfek-asfek agama Hindu
Parisada Hindu Dharama Pusat. Tahun 1982-1983

Oka Netra A. A. Gde Drs. Tuntunan Dasar Agama Hindu. Hanuman sakti tahun 1994.

Pedoman Pembina umat Hindu Dharma Pesamuan agung Parisada Hindu Dharma Indonesia
Denpasar tahun 1980.
IGA Mas Putra. Panca Yadnya. Yayasan Dharma Sarathi tt.

Asta Kosala Kosali


Ida Pedanda Made Kemenuh. Fungsi Pura

Ketut Soebadi. Pura Kawitan. Pedarman dan Penyungsungan Jagad. Gunung Agung.

PHDI Kabupaten Bandung. Keputusan Pelinggih dan Welaka sekabupaten Bandung di


Psraman Uluwatu. Tahun 1986.

ACARA PERKULIAHAN
(SAP)

Mata Kuliah : Pendidikan Agama Hindu


Semester :
Tahun Kuliah :
Jenjang :

145
Tujuan kurikuler
Mahasiswa memahami dan mengerti hari raya Agama Hindu dan mampu
mewujudkanmnya serta mengerti tentang makna yang terkandung dalam setaip hari raya
Agama Hindu yang dirayakan. Sehingga mereka sadar terhadap dirinya sebagai warga negara
dan bertanggung jawab dan taat kepada Pancasila dan UUD 1945, yang dilandasi dengan
semangat dari nilai-nilai yang terkandung di dalam hari raya Agama Hindu.
Pokok Bahasan : Pengertian dan ruang lingkup hari raya suci Agama
Hindu
Sub Pokok Bahasan : a. Pengertian hari raya suci Agama Hindu
b. Ruang lingkup hari raya suci Agama Hindu
TUP : Mahasiswa memahami pengertian dan makna serta
tuntunan pelaksanaan hari raya suci Agama Hindu.
TKP : Setelah mengikuti perkuliahan mengenai pokok materi
ini, mahasiswa diharapkan dapat :
a. Mengerti dan memahami hari raya suci Agama
Hindu
b. Memahami dan dapat menjelaskan makna yang
terkandung dalam hari raya suci agama Hindu
c. Menjelaskan tuntunan pelaksanaan hari raya suci
Agama Hindu
Pokok Materi : a. Pengertian dan makna serta runtutan pelaksanaan
hari raya nyepi
b. Pengertian dan makna serta runtutan pelaksanaan
hari raya Siwalatri
c. Pengertian dan makna serta runtutan pelaksanaan
hari raya Saraswati

146
d. Pengertian dan makna serta runtutan pelaksanaan
hari raya Galungan.
e. Pengertian dan makna serta runtutan pelaksanaan
hari raya Kuningan
f. Pengertian dan makna serta runtutan pelaksanaan
hari raya Purnama dan Tilem.
Alokasi Waktu : 2 x 50 menit
Pengalaman belajar : Kuliah, baca buku, dharma tula diskusi
Sumber belajar : Buku, dosen, media masa
Evaluasi : Lisan dan tertulis

HARI RAYA SUCI AGAMA HINDU

Hari raya suci agama Hindu merupakan tonggak pensucian diri dan mengingatkan
umat Hindu untuk mengungkapkan rasa bakti kepada-Nya. Rasa bhakti itu diwujudkan dalam
bentuk persembahan sesajen yang diiringi dengan doa-doa tertentu. Pada umumnya doa-doa
itu mengandung dua (2) hal yaitu :
a. Unsur pujian, yang berarti memuja, memuji, mengungkapkan kebesaran
Tuhan yang kuasa atas segalanya.
b. Unsur permohonan, yaitu memohon diberikan keselamatan, kesejahteraan,
panjang umur dijauhkan dari mara bahaya.
Pada hari raya suci Agama Hindu umat Hindu merayakannya dengan penuh hikmat dengan
hati yang suci.
Nama – nama hari raya suci Agama Hindu

147
a. Hari raya yang berdasarkan Sasih atau Bulan Tahun Caka,
yaitu hari raya Nyepi Purnama Tilem dan Siwa Ratri
b. Hari raya yang berdasarkan Pawukon, yaitu hari raya
Galungan, Kuningan dan Saraswati

1. NYEPI
Pengertian dan Makna Nyepi
Pengertian Nyepi berasal dari kata sepi, sipeng atau hening. Sedangkan hari
raya Nyepi adalah hari raya suci Agama Hindu yang berdasarkan sasih atau bulan dan
tahun masehi yang dirayakan dengan penuh keheningan dengan menghentikan segala
aktifitas yang bersifat duniawi maupun dalam bentuk keinginan dan ha\va nafsu.
Berusaha mengendalikan diri agar dapat tenang don drrmai lahir batin dengan
menjalankan catur-brata penyepian.
Makna Nyepi adalah perdamaian lahir batin dengan jalan.saling maaf-
memaafkan dan kunjung mengunjungi atau dipusatkan pelaksanaannya dengan
melaksanakan Dhannasanti pada suatu tempat tertentu. Hal ini dapat diatur sesuai
dengan keperluan. Dasar pemikirannya adalah balma hari raya Nyepi dikenal sebagai
tahun baru saka. Kenapa disebut tahun baru saka Untuk itu dapat kita simak dalam
sejarah lahinna tahun saka.
Tahun sakajuga disebut saka Warsa. Warsa artinya tahun sedangkan saka
adalah nama keluarga raja yang terkenal di India yang menciptakan kedamaian
diantara rakyat. Centarna demikian : Pada tahun 78 Masehi di India dinobatkan
seorang raja bernama Kaniska. Raja Kaniska sangat terkenal dibidang pembinaan
Agama dan kebuduyaan. Beliaulah yang membuat tahun saka pertama kali dan
berkembang sampai ke Indonesia. Pada kepemimpinan beliau berkemhangan Agama
dan kebudayaan sangatlah baik yang menyebabkan para pemeluk Agama merasa
damai. Dengan adanya kerukunan diantara umat beragama yang sebelumnya sering

148
terjadi peperangan merebut kekuasaan dan pengaruh. Dari cerita ini dapat diambil
hikmahnva bahwa perdamaian sangatlah penting diantara kita sebagai umat yang
mempunyai nilai moral yang sangat tinggi. Untuk itu dituntut belajar saling maaf-
memaafkan agar kerukunan tetap terjaga.
Hari raya Nyepi adalah cukup penting. malah satu-satunva hari raya Hindu
yang pertama kali mendapat pengakuan hukum dari pemerintah negara republik
Indonesia, berdasarka KEPRES. No.3, Tanggal 9 Januari 1983 menjadi hari libur
Nasional.

Runtulan Pelaksanaan Hari raya Nyepi.


a. Melis/mekiyis/Melasti.
Upacara ini bertujuan untuk memohon kehadapan Hyang Widhi Wasa
manipestasi Beliau yang beristana dilaut sebagai sumber air membersihkan semua
alam beserta isinya yang telah setahun lamanya berada dalam arena dunia manusia
dengan berbagai noda dan gangguan hingga kotor. Disamping itu juga mengambil
tirta amerta untuk sarana penyucian alam semesta beserta isinya.
b. Pecaruan / Bhutayajna.
Upacara ini dilaksanakan dari masing-masing perumahan. banjar. desa,
kecamatan, kabupaten dan Propinsi. dengan mengambil tempat melalui tabuh (depan
pintu masuk pekarangan) perempatan jalan. alun-alun/ lapangan.
Adapun tujuannya adalah memohon pada Hyang Widhi Wasa/ manifestasi
beliau sebagai Dewa nawasanga (Penguasa penjuru mata angin) dialam raya ini agar
menciptakan dan mengharmoniskan kembali alam semesta beserta segala isinya
menjadi bersuasana baru. Selain itu juga meredakan gangguan dari kekuatan
bhutakala yang tidak baik.
c. Pelaksanaan Nyepi.

149
Menurut sunari gama, Nyepi dimulai jam 12 malam setelah ngrupuk sampai
jam 12 malam besoknya, jadi berhimpit pada akhir dan awal tahun saka. Selama itu
dipenuhi dengan yoga atau brata pralina untuk mengakhiri segala karma terdahulu
agar pada tahun-tahun berikutnya kita benar-benar hidup baru yang bersih.
Pelaksanaan Nyepi dilakukan melalui catur brata penyepian untuk dapat sepi,
sipeng lahir dan batin.
Keempat Brata tersebut antara lain :
1. Amati Gni.
Maksudnya adalah untuk tidak menyalakan api secara lahir, sedangkan secara batin
dimaksudkan untuk meredakan nafsu yang mengarah pada hal-hal bersifat negatif
seperti: Sadripu. Sad Atatayi. Sapta timira dan lain sejenisnya.
2. Amati Karya.
Maksudnya tidak bekerja secara lahir, sedangkan secara batin berusaha untuk
menghentikan kegiatan jasmani dengan merenung dan menghitung-hitung perbuatan
dimasa lampau, seberapa yang masih perlu diperbaiki karena kesempatan hidup yang
diperoleh itu justru patut dipergunakan untuk menolong diri dengan jalan berbuat
baik.
3. Amati Lelungan.
Maksudnya tidak pergi yaitu menyediakan waktu untuk memusatkan pikiran
melaksanakan tapa, brata, yoga dan semadhi serta mawasdiri.
4. Amati Lelangunan.
Maksudnya menekan atau meredakan tuntutan hawa nafsu kesenangan terhadap
Sadripu, Sad Atatayi. Sapta Timira
d. Ngembak Gni.
Setelah perayaan berakhir, dilanjutkan dengan upacara ngembak Gni yang
dilakukan setelah lewat jam 12 malam termasuk sudah pergantian hari, sasih kesanga
berakhir tahun saka, disasih kedasa yang menurut wariga adalah sasih yang terbaik.

150
Dilanjutkan dengan pelaksanaan Dharmasanti, yang bermakna saling maaf-
memaafkan dengan saling kunjung mengunjungi atau dipusatkan pelaksanaannya
pada suatu tempat tertentu.
Ngembak Gni maksudnya menghidupkan dan mengobarkan api kehidupan
yang baru penuh gairah dan suci. Demikianlah pelaksanaan hari raya Nyepi yang
terdiri dari empat fase sebagai hari raya tahun baru saka
2. SIWALATRI
Pengertian dan Makna Siwalatri.
Siwalatri berasal dari kata Siwa dan Latri. Siwa adalah manifestasi Tuhan
dalam fungsinya sebagai pengembali ke alam peredarannya yang semula.
Sedangkan ratri berarti malam. Jadi Siwalatri adalah malam Siwa dan dirayakan
berdasarkan sasih atau bulan dan tahun saka. Ini merupakan yang sangat utama
menurut ajaran Agama Hindu, sebab pada saat ini Sang Hyang Siwa
melaksanakan yoganya untuk membasmi ikatan karma setiap umatnya yang
sungguh-.sungguh bakti kepadanya.
Makna hari raya Siwalatri adalah sebagai malam peleburan dosa. Menurut
ajaran Agama Hindu dosa itu dapat dibasmi atau dilebur dengan kata lain atma
itu bisa terlepas dari segala ikatan karma (perbuatan).
Manusia yang lahir kedunia ini di ikat atau dipengaruhi oleh suatu
kekuatan maya. Karena pengaruh maya manusia menjadi lupa, disebut dengan
"Awidya" yang juga berarti bodoh, gelap dan sebagainya.
Dalam hubungannya dengan ajaran susila ditunjukkan ada tujuh macam
kegelapan jiwa manusia yang disebut sapta timira (bandingkanlah dengan tilem
sasih kepitu, Tilem atau bulan mati /gelap, dan pitu sama dengan tujuh).
Kegelapan dan kebodohan inilah cendrung mendorong manusia berbual dosa.
Segala perbuatan itu akan tercatat serta mewarnai sukma manusia bagaikan tali
belenggu jiwatman sehingga sang atman tidak bebas. Itulah disebut ikatan maya,

151
ikatan karma atau ikatan dosa yang luar biasa kuatnya, namun menurut ajaran
Agama Hindu dapat dilebur.
Secara filosopis Siwalatri juga mempunyai makna yaitu malam renungan
suci. Kenapa dikatakan demikian? ini dapat kita lihat pada pustaka Padma Purana
yang menceritakan tentang sang Lubdaka. Dari cerita ini kita dapat ambil
hikmahnya sebagai contoh. Ceritranya demikian;
Sang Lubdaka sebagai seorang pemburu yang tujuannya untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Begitu juga kita ini juga selalu berburu agar bisa memenuhi
kebutuhan. Dalam cerita dikatakan Lubdaka berburu sampai malam belum dapat
seekorbinatang. Kemalaman yangdimaksud disini kegelapan pikiran kita. Karena
pikiran itu disimboliskan dengan pohon itu sendiri. Pohon atau Kayu artinya
kayun, Kayun adalah pikiran. Disinilah dituntut kita untuk menyadari apa yang
kita lakukan dalam perjuangan hidup mungkin ada kekeliruan yang kita perbuat
tanpa disadari. Dalam cerita dikatakan Lubdaka memetik daun satu persatu untuk
menghilangkan rasa kantuknya satu persatu.
Ini artinya kita merenungkan perbuatan kita yang sudah-sudah satu
persatu. Dari hasil perbuatan yang pernah kita lakukan agar dipakai sebagai guru
dalam melangkah lebih lanjut, yaitu yang baik kita ambil sebagai contoh dan
yang buruk kita buang jangan lagi sampai terulang lagi. Karena pada malam
Siwalatri ini sangat baik untuk memohon ampun kepada Tuhan atas dosa kita
yang telah kita perbuat.
Hari raya Siwaratri merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan
setiap tahun sekali, perayaannya dilaksanakan pada hari panglong ping pat belas,
sehari sebelum Tilem sasih kepitu, pada umumnya jatuh pada bulan pebruari
tahun masehi. Menurut lontar sunari gama dan Siwa ratri kalpa, Sang Hyang
Siwa beryoga tiap-tiap tileming sasih kepitu yakni malam yang tergelap setiap
umat terutama yang betul-betul mencari kesucian dan kebebasan diajarkan

152
menyambut Siwalatri dengan satya brata, berdasarkan bakti yang setulus-
tulusnya pada Tuhan yang juga disebut Sang Hyang Siwa sehubungan dengan
itu, Pelaksanaan Siwalatri ini tidak banyak berbentuk upacara-upakara,
melainkan lebih ditekankan pada brata yaitu latihan ketahanan mental spiritual
latihan kebatinan.

Runtutan Pelaksanaan hari raya Siwalatri.


Pelaksanaan upacara Siwalatri dilakukan pada hari panglong ping pat
belas dan diwajibkan melaksanakan brata antara lain :
1. Mono brata artinya tidak berbicara atau berkata-
kata.
2. Upawasa tidak makan dan tidak minum.
3. Jagra tidak tidur dari pagi hingga malam sampai
pagi kembali.
Pada pokonya Ada tiga tingkat brata Siwalatri sebagai berikut
a. Yang paling ringan ( nista ).
Hahya berusaha tidak tidur, tidak terlena selama 24 jam yaitu setelah
membersihkan diri dan bersembahyang pada pagi panglong ping 14 sampai
petang panglong ping 15 sasih kepitu. Tingkat brata ini soring disebut
Sambang semadhi.
b. Tingkat madya.
Sama dengan cara diatas ditambah dengan tidak makan dan tidak minum
selama 24 jam yaitu dari pagi panglong ping 14 sampai pagi panglong ping 15
sasih kapitu itu. Brata ini sering disebut Masesirih.
c. Tingkat Utama.

153
Disamping kedua cara diatas ditambah lagi dengan mono brata yaitu
tidak berbicara dan melaksanakan yoga samadhi sampai petang panglong ping
15 sasih itu.
Selama melaksanakan brata Siwalatri yaitu selama dua kali siang dan
satu malam, sembahyang dilaksanakan sebanyak tujuh kali yakni : pagi, siang,
sore, tengah malam, pagi, siang dan sore.
Jadi melaksanakan Trisandya ditambah sembahyang tengah malam
satu kali. Brata yang paling ditekankan atau brata pokok siwalatri adalah
berusaha tidak tidur selama 36 jam.
3. SARASWATI
Pengertian dan makna Saraswati.
Sebelum membahas Saraswati dalam Weda terlebih dahulu dijelaskan
tinjauan Etimologis Saraswati sebagai berikut: Kata Saraswati berasal dari akar
kata " Sr" yang artinya mengalir. Kata Saraswati berani yang mengalir, yang
dimaksud adalah sungai atau Dewi sungai sumber kehidupan. Disamping
Saraswati berani sungai didalam Weda disebut sebagai Dewi llmu pengetahuan
atau kecerdasan. Selanjutnya daiam Itihasa dan Purana Dewi Sarasuati adalah
GavatrL Maheswari, BharatL Bralimi, Putkari, Sarada, Wagiswari, dan lain-lain.
Dari Saraswati sebagai nama sungai merupakan salah satu cabang dari
hulu sungai Sindhu. Disamping sungai Saraswati disebtitkan juga nama sungai
Dri Sadwati dan diantara sungai itu, terdapat lembah yang subur yang merupakan
tempat tinggal Bangsa Arya. Dari penjelasan diatas dapat pula diketahui bahwa
Saraswati adalah nama Sungai yang diyakini suci. Tentang sungai Saraswati
adalah selalu disebutkan dalam puja para pendeta ketika memohon tirta amerta
melalui pujangga satwa yang didalam puja disebut diungkapkan nama-nama
sungai yang dipandang suci diantaranya : Gangga, sindhu, Saraswati, Yamuna,
Gadawari, Narmada, Kaweri dan lain-lain.

154
Setiap 210 hari sekali, yakni setiap hari sabtu umanis. wuku watugunung,
hari terakhir dari wuku terakhir umat Hindu di Indonesia selalu melaksanakan
Saraswati Puja, yakni memuja Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa
sebagai Hyang Hyangning Pangeweruh, sumber pengetahuan disebutkan dalam
berbagai kitab Upanisad, diantaranya : "Satyam - jananam anantam - anandam
brahma ( sarwa upanitsatsara. 21) yang artinya : Tuhan Yang Maha Esa adalah
Kebenaran, Pengetahuan, Kebahagiaan dan tidak terbatas.
Makna hari raya Saraswati adalah memperingati turunnya ilmu
pengetahuan. Sepcrti kila ketahui Ilmu pengetahuan sangatlah penting. Sebab jika
Ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan tidak ada, mungkinkah akan ada
kemakmuran dan kebahagiaan dalam bidang materiil dan moril? Tanpa
kebijaksanaan, manusia tidak akan bisa bahagia, dan tanpa kebahagiaan. manusia
menjadi lemah dalam kehidupan ini yang penuh dengan perjuangan ini.
Digambarkan bahwa Dewi Saraswati adalah wanita ayu, bertangan empat
yang masing-masing membawa wina (Gitar, keropak, Genitri dan yang satunya
bersikap mendamaikan, serta mengendarai burung merak, atau berdiri diatas
bunga teratai.
Dari simbolis ini dapat kita ambil hikmahnya antara lain bahwa ilmu
pengetahuan memang betul-betul berarti antara lain :
a. Wanita ayu simbol keindahan dan ilmu pengetahuan memang indah dan
iuhur.
b. Wina (gitar) melambangkan kehalusan rasa (aesthetica)
c. Keropak adalah tempat disimpannya lontar-lontar (simbul ilmu
pengetahuan).
d. Genitri adalah simbul lingkaran yang tiada akhirnya, yang melambangkan
bahwa ilmu pengetahuan itu tidak akan habis-habisnya kita pelajari.
Ada pepatah Bali mengatakan "Wiadin ririh enu liu peplajahan"

155
Walaupun pandai tapi masih banyak lagi yang harus kita pelajari.
e. Burung merak adalah lambang kewibawaan yang bisa dibawakan oleh ilmu
pengetahuan itu.
f. Bunga teratai adalah lambang kesucian

Rangkaian Pelaksanaan Hari raya Saraswati.


1. Upacara pemujaan Saraswati dilaksanakan pagi hari atau sebelum tengah
hari
2. Sebelum upacara Saraswati dan sebelum lewat tengah hari dianjurkan tidak
membaca atau menulis mantra dan kesusastraan.
3. Bagi umat Hindu yang melaksanakan Brata Saraswati secara penuh jidak
diperkenankan mambaca dan menulis selama 24 jam.
Upacara Saraswati puja tidaklah berdiri se'ndiri melainkan merupakan
rangkaian pemujaan Dewi-Dewi Trimurti lainnya. Upacara Saraswati puja
dilaksanakan pada hari Sabtu Umanis wuku watugunung dan redite paing sinte
(banyu pinaruh). Hari soma pon sinta disebut soma ribek ditujukan kepada Dewi Sri
Laksmi (dewaning sarwa mule/pandang) dan hari Budha kliwon sinta disebut
pagerwesi ditujukan kepada Sang Hyang Pramesti Guru (Siwa).
Mengapa hari Saraswati jatuh pada wuku umanis watugunung hal ini perlu
dikaji Iebih jauh.-Di India pelaksanaan Saraswati dilakukan tiap-tiap tahun sekali
scdang di Indonesia setahun dua kali. Di Indonesia tafiun a>!i rupan\a umurnya 210
hari. Ketika diterimanya hari raya Hindu hari-hari itu dimasukkan dalam sistim
kalender Indoesia Asli. Inilah kiranya melatar belakangi mengapa Saraswati jatuh
pada hari terakhir dari wuku terakhir dan berbeda dengan perayaan di India.

4. GALUNGAN
Pengertian dan Makna Galungan.

156
Hari raya Galungan merupakan hari suci Agama Hindu berdasarkan Pawukon
dan diperingati setiap 210 hari (6 bulan) sekali yaitu pada hari rabu kliwon, Wuku
dungulan. Hari raya Galungan sudah ada di Indonesia sejak abad ke XI, hal
infdidasarkan atas kidung Panji Malat Rasmi dan Pararaton kerajaan Majapahit.
Perayaan semacam ini di India dinamakan hari raya Sradha Wijaya Dasami.
Makna hari raya Galungan adalah memperingati hari kemenangan Dhama
melawan Adharma. Disini dapat anda simak dalam cerita Raja Mayadanawa yang
begitu sakti tapi mereka melarang orang yang melakukan persembahyangan. Sebab
dia tidak percaya.dengan adanya Tuhan. Tindakannya selalu sewenang-wenang
membunuh orang yang tanpa dosa. Akhirnya Tuhan turun untuk membunuh Raja
yang lalim itu.
Disini ditekankan bagaimanapun saktinya manusia, tidak akan bisa
melampaui kekuasaan Tuhan. Dari cerita ini dapat kita petik nilai filosofisnya agar
selalu menghorrnati Dharma dan melaksanakan Dharma agar kebahagiaan selalu
dipihak kita dan dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Runtutan Pelaksanaan Hari raya Galungan.
Perayaan Galungan diawali dengan :
a. Tumpek Warige.
Yaitu 25 hari sebelum Galungan yang jatuh pada hari sabtu Kliwon wuku
wariga. Tumpek ini juga disebut dengan nama tumpek pengatag, Pengarah,
Bubuh dan uduh, yang intinya memohonkan keselamatan kepada semua jenis
tumbuhan agar dapat memberikan hasil untuk bekal merayakan Galungan.
b. Hari Sugihan Jawa.
Dirayakan setiap 210 hari atau 6 Bulan sekali pada hari Kamis Wage Uku
Sungsang yaitu 6 hari sebelum hari raya Galungan. Perayaan ini bertujuan
memohonkan kesucian terhadap BJjuana Agung (alam semesta).
c. Hari Raya Sugihan Bali

157
Dirayakan setiap 210 hari sekali atau 6 bulan sekali pada hari Jumat Kliwon
Wuku Sungsang yaitu 5 hari sebelum hari raya Galungan. Perayaan saat ini
bermakna memohonkan kesucian terhadap diri pribadi (Bhuana Alit).
d. Hari Raya Penyekeban.
Jatuh pada hari Minggu/Redite Paing Wuku Dungulan yaitu 3 hari sebelum
Galungan. Hari Raya ini merupakan awal Wuku Dungulan yang bermakna
patut waspada karena parU Bhuta Kala (Sang Tiga Wisesa) mulai turun
mengoda kemampuan dan keyakinan manusia dalam vvujud Bhuta Galungan.
Penyekeban bermakna anyekung jnana sudha nirmala agar terhindar dari
godaan-godaannya.
e. Hari Penyajaan Galungan.
Jatuh pada hari Senin Pon Wuku Dungulan, 2 hari sebelum hari raya
Galungan. Hari raya ini dipergunakan sebagai persiapan membuat jajan. Juga
dimaksudkan sebagai hari-hari yang patiit diwaspadai terhadap godaan
sangkala tiga wisesa dalam wujud. Bhuta Dungulan. Hari Penyajaan bermakna
sebagai hari kesungguhan hati untuk menyambut dan merayakan Galungan.
f. Hari Penampahan Galungan.
Hari raya ini jatuh pada hari Selasa Wage Wuku Dungulan yaitu sehari
sebelum hari raya Galungan. Pada hari ini dilaksanakan untuk memotong
hewan, membuat sate dan lawar untuk perlengkapan sesajen. Pada hari ini
juga patut diwaspadai karena merupakan hari yang terakhir bagi Sang Kala
Tiga dalam wujud sebagai Bhuta Amangkurat untuk mengganggu manusia.
Hindarkan diri dari pertengkaran agar terhindar dari godaannya.
g. Hari Raya Galungan.
Jatuh setiap Rabu Kliwon Wuku Dungulan, merupakan puneak upacara
peringatan terhadap hari kemenangan Dharma melawan Adharma sebagai hari

158
paodalan jagat dengan mempersembahkan upacara sesajen pada setiap tempat-
tempat suci dilanjutkan dengan pelaksanaan persembahyangan.
h. Pemaridan Guru
Jatuh setiap hari Sabtu Pon Wuku Dungulan hari akhir Wuku Dungulan. Pada
hari ini dipergunakan sebagai hari penyucian diri dilanjutkan dengan
memohon keselamatan ditandai dengan memakan sisa yadnya berupa
tumpeng Guru secara bersama-sama sekeluarga.

5. HARI RAYA KUNINGAN


Pengertian dan makna hari Raya Kuningan.
Hari raya Kuningan adalah hari raya Agama Hindu yang berdasarkan tahun
pawukun yang jatuh pada hari Sabtu Kliwon Wuku Kuningan. Hari raya ini disebut
juga tumpek Kuningan. Pada saat ini ShangHyang Widhiturun keduniadiikuti oleh
para Dewa/Bhatara dan Pitra untuk melimpahkan karunianya kepada manusia berupa
kebutuhan-kebutuhan pokok.
Makna merupakan hari pahlawan. Kenapa dikatakan hari pahlawan? ini dapat
kita lihat dari pelaksanaan Hari Raya Kuningan yaitu setelah hari raya Galungan yang
bermakna perang Dharma melawan Adharma. Dalam mencapai dharma banyak
pengorbanan oleh penegak dharma itu sehingga kita dapat menikmati hasilnya.

Rangkaian Pelaksanaan hari raya kuningan


Pada hari raya Kuningan biasanya dipersembahkan nasi benvarna kuning
sebagai lambang kemakmuran. Demikian pula pada saat ini dihaturkan sesajen-
sesajen sebagai tanda terima kasih.
Pada hari ini para Dewa/Bhatara hanya sebentar beliau ada di dunia sehingga
setiap umat yang mengaturkan sesajen dilakukan sebelum surya tepat ditengah-
tengah atau tengah hari (jam 12 siang Pada hari ra\a ini setiap rumah dan

159
Pemerajan dihias dengan endongan, tamiang kolem. Pemasangan pada tempat-
tempat yang tidak penting tidak perlu disertai dengan kolem dan endongan. akan
tetapi pemasangan tamiang pada Padmasana, Merajan, Penjor dan lain-lain tempat
suci perlu dihiasi dengan endongan dan kolem. Artinya :
a. Tamiang untuk menangkis dari serangan
b. Endongan tempat makanan, oleh karena berisi buah-buahan tebu tumpeng
serta lauk-pauk.
c. Kolem berarti tidur atau istirahat.
Jadi tamiang endongan dan kolem ini merupakan suatu alat untuk melindungi
hal-hal yang tidak diinginkan.

6. PURNAMA DAN TILEM


Pengertian dan Makna Purnama dan Tilem.
Purnama adalah saat bulan bersinar penuh, dan Tilem adaiah saat bulan tidak
memberikan sinarnya sama sekali (bulan mati). Purnama dan Tilem merupakan hari
pembersihan bagi umat Hindu. Karena itu pada hari Purnama bervogalah Sang Hyang
candra yaitu kekuatan atau sinar suci Tuhan sebagai pembersih dunia karena kalau
ditilik dari arti kata maka candra berarti bulan atau soma yang berarti air.
Pengertian Sanghyang candra yang beryoga pada bulan Purnama. merupakan
kekuatan Tuhan yang berada didalam air yang bertujuan untuk membersihkan bumi
dan pada bulan Purnama ini air laut menjadi pasang atau naik sehingga pada bulan ini
kesempatan yang baik untuk mandi kelaut sebagai tanda pelebur dosa. Bulan Tilem
(bulan mati) jatuh 14 hari atau 15 hari dari bulan Purnama. Pada bulan Tilem, ini
beryogalah Bhatara Siwa yang merupakan manifestasi dari Tuhan/kekuatan Tuhan
untuk mengatur air didunia, sehingga pada Tilem ini air laut naik setinggi-tingginya
karena merupakan dua kekuatan (bulan dan matahari sama-sama menarik airdibumi).

160
Maknanya adalah pembersihan diri secara lahir dan batin, sehingga dianjurkan
untuk mandi agar jiwa menjadi bersih maka muncuiiah pemikiran yang bersih.
Rangkaian Pelaksanaan Purnama dan Tilem.
Pada hari Purnama (bulan penuh) Tilem (bulan mati) dan kliwon merupakan
hari yang sangat baik untuk penyucian lahir batin.
Pemujaan ini dilakukan dengan menghaturkan persembahan kehadapan Ida
Sang Hyang Widhi, para Dewa. Leluhur, serta menyampaikan rasa tertma kasih
kepada unsur kekuatan alam yang di anggap telah membantu kehidupannya.
Pelaksanaannya dapat dengan jalan melakukan yoga samadhi. tapa brata yaitu
melaksanakan pantangan-pantangan. Persembahyangan yang dilakukan dengan
menghaturkan sesajen yang disebut canang genten. canang burat wangi, canang sari
dan sejenisftya.

161
DAFTAR PUSTAKA

1. Saraswati tahun 1989 : Dr. Tjok Rai Sudharta, MA dan M. Titib


2. Acara Agama II Tahun 1983 : I. G. Badjera Yasa BA dan I Gst. G. Goda BA
3. Buku Pelajaran Agama Hindu : GD Sura BA Wayan Reneng, BA D
SMP Kelas I Tahun 1982 : Drs. Ketut N. Natih
4. Buku Pelajaran Agama Hindu : Tim Penyusun
Untuk Perguruan Tinggi : Ditjen Humas Hindu dan Budha
Tahun 1994

162
LATIHAN SOAL

1. Coba anda jelaskan pengertian hari raya Nyeri ?


2. Makna apa yang terkandung dalam hari raya Nyepi serta apa dasar
pemikirannya kita merayakannya hari raya Nyepi ?
3. Apa tujuan Melasti ?
4. Makna apa yang terkandung pada saat melaksanakan ngembak Gni ?
5. Coba anda jelaskan pengertian Siwaltri ?
6. Secara fisolofis, siwalatri yang mempunyai makna malam renungan suci.
Kenapa dikatakan demikian coba anda jelaskan secara singkat ?
7. Jelaskan pengertian Siwalatri ?
8. Apa makna hari raya Purnama dan Tilem ?
9. Apa makna dari hari raya Galungan ?

163
SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah : Pendidikan Agama Hindu


Semester :
Tahun kuliah : 2 SKS
Jenjang :S1
Tujuan Kurikuler
Mahasiswa dapat mengerti dan memahami kedudukan Nitisastra dalam ajaran Hindu, mampu
menerangkan norma dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran. Niti Sastra sebagai jalan
kehidupan.
Pokok bahasan : Pengertian dan ruang lingkup Nitisastra
Sub pokok bahasan : a. Catur Pariksa
b. Panca Stiti Dharmaning Prabu
c. Asta Bratha
d. Panca Dasa Paramiteng Prabu
e. Nawa Natya
TUP : Mahasiswa dapat memiliki pemahaman mengenai Nitisastra
dan aplikasinya dalam kehidupan
TKP : Mahasiswa dapat memiliki :
a. Pemahaman mengenai Nitisastra
b. Kemampuan untuk menjelaskan materi sebagaimana
termuat dalam pokok bahasan.
c. Mengembangkan dan mengaplikasikan dalam kehidupan
di masyarakat
Pokok Materi : a. Catur Pariksa
b. Panca Stiti Dharmaning Prabhu
c. Asta Brata
d. Panca Dasa Pramiteng Prabhu
e. Nawa Natya

164
NITI SASTRA

Pengertian
Menurut kamus sansekerta susunan AA Macdonel! Niti berarti kebijaksanaan duniawi
(wordly wisdom) etika sosial politik. niti juga bcrarti menuntun. Sastra diartikan doajuga
berarti pujaan (praise). Daiam kamusjawa kuna susunan mordi warsito. Niti berarti kelakuan.
pedoman hidup, kesopanan siasat negara (kebijakan) politik, ilmu tata negara, sedangkan
sastra berarti kitab peiajaran atau iimu pengetahuan. Pandangan DR. Rajendra Mishra
pengetahuan Niti Sastra adalah didaktik poem atau upadesa karya. yaitu karya sastra yang
bersifat mendidik. memimpin atau membimbing. Nitisastra berasal dari kata Niti dan Sastra.
Niti berasal dari kata ni .+ ktin menjadi nitih. Niyate anaya iti nitih. berarti dibimbing.
dipimpin. dituntun sedangkan sastra berarti ilmu pengetahuan. Artinya dengan ilmu
pengetahuan orang dibimbing. dipimpin. dituntun kearah kebijaksanaan dunia. kejalan benar
dituntun kearah cinta bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Berdasarkan pengertian etimologis diatas maka pengertian Niti Sastra dapat diperluas
lagi ilmu yang bertujuan untuk membangun suatu negara baik dari segi tata negaranya, tata
pemerintahan dan tata kemasyarakatan (dhanna negara). Bahwa Niti Sastra juga mengandung
ajaran kepemimpinan juga bersitat umum dan praktis bcrlandaskan ajaran agama Hindu.
Perlu dijelaskan Niti Sastra ini bukanlah ilmu pengetahuan yang ham a untuk kalangan
negarawon atau politisi saja tetapi juga untuk setiaporang dalam rangka memantapkan
pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.
Nitisastra mengajarkan kesadaran. warga negaram a kepada hukum. kekuasaan dan
kebijaksanaan negara, mengajarkan pula jiwa patriotisme. kesadaran untuk membela bangsa
dan negara. Penulis Niti Sara adalah seorang Brahmana bernama Canakya, juga dikonal
'Jenuan nama Visnugupta atau Kautiliya. Beliau adalah seorang brahmana yang hebat
mempunyai pemikiran yang suci. dapat menghancurkan kekuatan raja Nanda. Berdasarkan
keterangan inilah didapat bahwa Visnugupta atau Canakya sama dengan Kautiliya.

165
Mengingat ruang lingkup Niti Sastra demikian luasnyamakapadauraianberikut kami batasi
padakonyep ajaran kepemimpinan Hindu seperti : Catur Pariksa. Panca Stiti Dharmaneng
Prabhu. Astha Bratha, Panca Dasa Paramiteng Prabhu dan Nawaa Natya.

A. CATUR PARIKSA
Catur Pariksa sering discbut dengan nama Catur Upaya Naya Sandhi. Dalam Niti
Sastra Sarjinh 11.3 : dalam bentuk ke kawin: Dhana wisesa ring catur upaya Lene-kene
kaheh rinji sama bheda danda trayaningdhana tnhhana karna sang maharcp musuh catur
upaya juga kena-kena byakta kasoraning ripu. balanta maealak ring ayun. Artinya : Dari
keempat macam "alat Uang yang paling utama. jika tiada uang akan sia-sia penyelesaian
perselisihan dengan damai (sama), maupun usaha memecah belah bheda) atau dengan
kekerasan (perkosa). Mereka yang akan pergi perang harus mengunakan keempat alat itu
juga (dhana. sama. bheda dan dandha) pasti musuh dapat ditundukkan oleh bala tentara,
jika mereka maju dengan gagah berani.
1. Dhana berarti uang,dapat pulaborarti pembcrian. bernurali hati. Seorang pemimpin
harus rela memberikan dhana bantuan menolong sesama dengan ikhlas.
Mengusahakan sandang, pangan. papan/perumahan untuk dapat memenuhi dan
meningkatkan kesejahteraan rakyat.
2. Sama adalah seorang pemimpin harus berbuat adil. bcrbuat dan memandang sama
kepada seluruh anggota/bawahannya. Setiap orang adalah insan hamba Tuhan. oleh
karenanya diberikan kesempatan dan hak yang sama untuk maju dan berkembang.
3. Bheda adalah seorang pemimpin dapat mengatur/memelihara tata tertib. disiplin.
pengendali pemerintahan termasuk agama yang berbeda-beda. anak buah yang tekun
dan raj in dapat imbalan yang seimbang. anak buah yang malas dan membangkang
dapat diberi hukuman.
4. Danda adalah seorang pemimpin harus tegas, berani mengambil tindakan bila perlu,
hukuman bagi yang mtlakukan pelanggaran. Ketegasan, keberanian mengambil

166
tindakan/keputusan adalah sikap seorang pemimpin walaupun penuh resiko
memberikan hukuman bagi siapapun yang berbuat salah dengan penuh rasa keadilan

B. PANCA STITI DHARMANING PRABHU


Panca Stiti" Dharmaning Prabhu ini merupakan wejangan ajaran dari Arjuna
Sastra Bahu, bahwa seorang pemimpin harus melakukan tindakan/melaksanakan tugas
sebagai berikut:
1. Ing Arsa Asung Tulada, yang artinya didepan anak buah selalu
memberi suri teladan/contoh untuk melakukan perbuatan yang baik dan memberikan
semangat pengabdian yang luhur untuk kepentingan nusa dan bangsa.
2. Ing Madya Mangun Karsa, bila berada ditengah-tengah anak
buah memberikan penerangan/penjelasan dan membangkitkan semangat mereka dan
membangun kemauan untuk maju berprestasi lebih baik Tut Wuri Andayani, berarti
melepas anak buah dan mengikuti dan belakang sambil melihat kemajuannya juga
memberikan arahan apabila ada penyimpangan dari tugas dan kewajiban yang harus
dilakukan.
3. Maju Tanpa Bala, relakan mereka maju sendiri.
mengembangkan diri dengan penuh inisiatif.
4. Sakti Tanpa Aji, artinya setelah berhasil melaksanakan tugas
janganlah terlalu rnengharapkan balas jasa atau tanpa pamrih
Pada kepemimpinan Pancasila sekarang ini hanya diambil dan nomor 1 s/d 3
sedangkan nomor 4 dan 5 tidak dipakai oleh tokoh pendidikan Nasional yaitu Ki Hajar
Dewantoro.

C. ASTABRATHA

167
Didalam Manawa Dharma Sastra atau Weda Smrti (atha sapta mo dhayah) buku
VII, 4 : Indra Yanmarkanam agnisca warunasyaca, candra wittesa yuscaiwa matra nirhtya
saswatih.
Artinya : Untuk memenuhi maksud tujuan itu Raja/pemimpin harus memiliki sifat-sifat
pertikal yang kekal dari pada Dewa Indra, Wayu, Yama, Surya, Agni, Candra, Kuwera.
Sebagai pembanding didalam kekawin Ramayana Sargah XXIV sloka 52 yang
mengandung ajaran astabratha sebagai berikut : Hyang Indra, Yama, Surya, Candra,
Anila, Kuwera, Baruna, Agm nakan wwalu, sirata waka angga sang Bupati, matang nira
inisti asta bratha. Artinya : Brata dewa Indra, Yama, Surya. Candra, Kuwera, Nila, yang
seharusnya dihayati oleh seorang pemimpin agar meresap dalam jiwa raganya.
Selanjutnya marilah kita simak apa yang tersirat dalam Manawa Dharmasastra
Bab IX sloka 303 sebagai berikut:
Indrasyarkasya pritiwyasca
yamasya warunasya ca
candrasyagneh pritiwyasca
tejowritam nripascaret.
Artinya : Hendaknya Raja berbuat seperti perilaku yang sama dengan Dewa Indra, Surya,
Wayu, Yama Waruna, Candra, Agni dan Prithiwi. Sloka 304:
Warsikamscaturo nasanyalha
Indro bhiprawarsati,
tathabhiwarsetsmam rastra
kamair indrawratam caran.
Artinya: Laksana Indra yang mengirimkan hujan yang berlimpah selama empat bulan
di musim hujan, demikianlah raja menempati kedudukan indra dengan menghujankan
keuntungan bagi kerajaannya. Sloka 305 :
Astau masyanyathadityastoyam
hariti rasmibhih,

168
tatha haretkaram rastran
nityamarka wratam hitat.
Artinya : Laksana Surya, selama delapan bulan menyerap air melalui sinar-sinarnya
dengan tidak terlihat demikianlah hendaknya ia dengan perlahan-lahan menarik pajak
dari kerajaannya, karena inilah kedudukan yang menyerupai matahari. Sloka: 306
Prtawisya sarwabhautani yatha
carati-marutah,
tatha caraih prawestawyam
wratametaddi marutam.
Artinya : Laksana wayu bergerak kemana-kemana masuk merupakan nafas bagi
seluruh mahluk hidup, demikianlah hendaknya ia melalui mata-matanya masuk
kemana-mana kedudukannya menyerupai angin. Sloka: 307
Yatha yamah priya dwesyau
prapte kaleniyacchati,
tatha rajna nyantawyah
prajastaddhi yamawratam
Artinya : Laksana Yama pada saatnya berkuasa baik kepada teman-temannya maupun
kepada lawan-lawannya demikianlah hendaknya semua rakyatnya dikuasai oleh raja,
demikianlah kedudukannya menyerupai Dewa Yama. Sloka: 308
Warunena yatha pasair
badha ewabhiddreyate,
tatha papannigrihniyad
wrtametaddl warunam.
Artinya : Laksana orang-orang berdosa tampak terikat tali oleh waruna, demikianlah
hendaknya ia menghukum orang-orang jahat itu, itulah kedudukannya yang
menyerupai Waruna. Sloka : 309
Paripurnam yatha candram

169
drasfwa hrsyanti manawah,
tatha prakritayo yasminsa
candrawratiko, nripah.
Artinya : la adalah raja yang menduduki tempatnya Dewi Candra, yang rakyat
menyambut kehadirannya dengan penuh senang hati laksana orang-orang bersenang-
senang melihat bulan purnama. Sloka : 310
Pratapa yuktasstejaswi nityam
syat papa karmasu
dustasamantahimsrasca
tadagneyam wratam smritam.
Artinya : Bila ia bersemangat menumpas penjahat dan memiliki kekuatan-kekuatan
cemerlang serta menghancurkan penguasa-penguasa daerah yang jahat. maka sifatnya
dikatakan sama dengan agni. Sloka :311
Yatha sarvvani bhutani dhara
dharayata samam,
yatha sarwani bhutani bibratah
parthiwam wratam.
Artinya : Laksana bumi menunjang semua mahluk hidup sama rata, demikianlah
hendaknya raja terhadap rakyatnya, dalam menduduki tempatnya dewi pertiwi. Sloka:
312
Etairupayairanyaisca
yukto nityamatandri tah,
stenan raja nigrihniyat
swarastre para ewa ca.
Artinya : Dengan mempergunakan cara-cara dan sifat-sifat ini, raja tanpa jemu-
jemunya akan mengendalikan pencuri-pencuri baik dinegerinya sendiri maupun
dinegeri orang lain.

170
D. PANCA DASA PARAMITENG PRABHU
Ajaran ini bersumber dari ajaran kepemimpinan Maha Wira Gajah Mada yakni
ketika kerajaan Majapahit mencapai kejayaannya. Ajaran kepemimpinan Gajah Mada ini
terdiri dari lima belas ajaran yang disebut dibawah.
1. Widnya
Adalah ajaran yang mengajarkan bahwa seorang pemimpin. baik pemimpin negara
maupun pemimpin agama atau pun pemimpin dibidang lainnya agar senantiasa
bersikap tenang dan bijaksana dalam menghadapi suatu permasalahan atau dalam
melaksanakan tugas kewajibannya. Pemimpin harus bertindak benar, sebab kebenaran
dapat memberikan kekuatan penerangan dan semangat hidup. Pemimpin yang arif
bijaksana adalah pemimpin yang dapat melihat semua bawahannya sama sebagai
insan ciptaan Tuhan. Dalam hal ini seorang pemimpin harus mempraktekkan ajaran
tat twam asi. Mereka yang tidak memiliki kepercayaan pada ilmu pengetahuan dan
budi pekerti ini tidak mencapai aku. Wahai parantapa, kembali kejalan dunia
inkarnasi.(Bg. Gita, IX.3)

2. Mantriwira
Mantriwira merupakan ajaran untuk memupuk jiwa yang teguh untuk berani membela
kebenaran dalam keadaan bagaimanapun juga. Karena kebenaran adalah sumber dari
kekuatan dan cahaya terang dalam hidup. Ketahuilah bahwa semua dosa dan
kejahatan adalah bersumber dari, kelemahan oleh karenanya jangan biarkan
kelemahan itu menjangkiti tubuh maka segala tugas dan kewajiban akan mencapai
kebahagiaan.
Sri Kresna berkata kepada Arjuna: "Tugas dan kewajiban akan mencapai tujuan
kebahagiaan jangan biarkan kelemahan itu oh partha sebab itu tidak sesuai bagimu,
enyahkanlah rasa lemah dan kecut itu. bangkitlah oh pahlawan Jaya.

171
3. Wicaksanen naya
Berlaku bijaksana didalam segala tindakkan. Kebijaksanaan inilah yang
menempatkan Patih Gajah Mada selalu tepat dalam pergaulan baik dalam kalangan
pejabat maupun di tengah rakyat. Dengan kebijaksanaan ini pula, Patih Gajah Mada
menempatkan Majapahit bukan sebagai penakluk, tetapi sebagai pengayom negara-
negara lain dikawasan Nusantara.

4. Natangwan
Dapat dipercaya. Pribadi patih Gajah Mada yang patut dijadikan teladan adalah
karena ia tidak pernah mengabaikan kepercayaan rakyat yang telah dilimpahkan
kepadanya. Karena rasa tanggung jawabnya yang besar. kepercayaan itu tak pernah
tergoyahkan.

5. Satya Bhakti Aprabu


Sifat setia dengan hati yang tulus dan iklhlas kepada negara dan pemerintahan. Lebih
kurang setengah abad lamanya (1319- 1364) patih Gajah Mada selalu penuh
pengabdian dan kesetiaan.

6. Wagmi Wak
Fash mengutarakan pendapat, khususnya dalam mempertahankan argumentasi
berdasarkan kebenaran yang ada dan keahlian

7. Sajarwopasana
Tingkah laku yang memperlihatkan kerendahan hati, berwajah cerah, tulus ikhlas,
jujur dan sabar. Sifat ini memang hams dimiliki bila seseorang menjadi politikus yang

172
berderajat tinggi. Seorang diplomat sejati melatih diri agar menguasai dan menghayati
sifat-sifat tersebut.

8. Dirotsaha
Selalu bekerja rajin dan tekun dilandasi keteguhan hati. Didalam hati yang teguh
kelihatan pula keberanian dan kesetiaan.

9. Tan lalana
Berketepatan hati, tahan uji dan tak mudah terombangambing oleh keadaan sekitar.
Dengan ketabahan dan ketawakalan ini menyebabkan patih Gajah Mada dikenal
sebagai tokoh negarawan yang ulet dan berhati baja.

10. Diviyacita
Selalu berhati terbuka dalam hubungan dengan orang lain, selalu siap mendengarkan
pendapat dan pikiran orang lain meskipun terhadap pendapat yang bertentanean
dengan pendapat pribadinya.

11. Tan Satrsna


Tidak menonjolkan ambisi. Dengan sifat ini, Patih Gajah Mada tidak ingin di Dewa-
dewakan. apabila menikmati kesenangan duniawi secara berlebih-lebihan tanpa
memperhatikan norma-norma yang berlaku.

12. Asihi Samastabhuwana


Mencintai dunia dengan seluruh isinya. Sifat ini berpangkal tolak dari keyakinan
filsafat bahwa segala yang ada didunia ini hanyalah bersifat fana dan sementara, Patih
Gajah Mada mencintai dunia karena menyadari keterbatasan. disamping meyakini

173
bahwa dengan mencintai dunia dan isinya berarti pula mencintai Maha Pencipta yang
menjadikan dunia beserta segenap isinya.

13. Gineng Pratidina


Selalu mendahulukan yang baik dan menyingkirkan yang buruk, sifat ini nampaknya
timbul dari keyakinan Karmaphala yang mengajarkan bahwa siapapun yang menanam
kebaikan ia akan memetik buah yang baik pula. dan sebaliknya siapa yang bersalah.
kelak akan menerima balasan sesuai dengan perbuatannya.
14. Sumantri
Sifat untuk menjadi petugas Negara yang sempurna didasari itikad yang baik. Tanpa
memperhitungkan posisinya. Gajah Mada selalu berbuat yang terbaik. Hal ini yang
mengakibatkan keberhasilannya sejak ia menjadi magang. melalui mekal hingga
menjabat patih.

15. Hanayaken Musuh


Selalu bertindak tegas menghadapi lawan. Bila perlu lawan yang membahayakan
harus dimusnahkan. Sebaiknya untuk mereka yang menunjukkan kesetiaan kapada
negara. Patih Gajah Mada selalu memberikan penghargaan dan bimbingan.
Demikian uraian tentang Panca Dasa Paramitheng Prabhu dari kepemimpinan Maha
Patih Gajah Mada pada masa jaman keemasan kerajaan Majapahit.

E. NAWA NATYA
Dalam lontar berbahasa jawa kuno yang berjudul Nawa Natya diperoleh penjelasan,
bahwa seseorang Raja/Pemimpin itu dalam memilih para pembantu-pembantunya (para
Menteri). Raja atau pemimpin itu harus memiliki suatu kebijaksanaan. Kebijaksanaan ini
diibaratkan memilih segunung bibit bunga yang harum baunya, indah warnanya, yang
tidak cepat layu serta mempunyai manfaat yang utama. memberikan kepuasan bagi yang

174
melihat maupun yang menggunakannya. Demikian seseorang raja (pemimpin) dalam
memilih pembantu-pembantunya seperti memilih segunung bibit bunga itu. Adapun
orang-orang yang patut dipilih sebagai pemimpin menurut lontar Nawa Natya adalah
sebagai berikut:
1. Pradnya Widaghda : sikap bijaksana dan mahir dalam
berbagai cabang ilmu dan memiliki pendirian yang teguh.
2. Wira sarwa yudha : memiliki sifat pemberani. pantang
menyerah dalam pertempuran.
3. Paramartha: mempunyai sifat mulia dan luhur.
4. Dhirotsaha: tekun dan ulet dalam mensukseskan setiap usaha.
5. Pragivakya: Pandai berbicara dan mempunyai kemampuan
mempengaruhi orang masyarakat.
6. Sama upaya : selalu setia kepada janji atau sumpah.
7. Lagha vangartha : tidak pamrih terhadap harta benda.
8. Wruh ring sarwa bhasata : tahu mengatasi permusuhan.
9. Viveka : mampu membedakan antara yang salah dan benar,
baik dan buruk.
Demikianlah selintas tentang ajaran Niti Sastra, khusus yang menyangkut kepemimpinan
Hindu yang menekankan moral/etika sebagai landasan melaksanakan kepemimpinan
untuk mencapai jagat kita.

175
DAFTAR PUSTAKA

1. Pudja MA dan Tjokcorda Rai Sudharta MA. Manawa Dharma Sastra atau Weda
Smerti. Departemen Agama RI 1976/1977
2. Dharmayasa, Canakya Niti Sastra, Dep. Agama RI 1972
3. Parisada Hindu Dharma Pusat, Niti Sastra dalam bentuk kekawin 1982/1983
4. Tim Penyusun, Hanuman Sakti, Buku Pelajaran Agama Hindu untuk perguruan
Tinggi, Jakarta 1994.
5. Drs. Wayan Mertha Sutedja BA, Dasar – dasar kepemimpinan Tradisional Di Bali,
CV, Sumber Mas bali 1978
6. Drs.G.K.Adia Wiratmaja, Leadership : Kepemimpinan Hindu.
7. Ketut Pasek, Ketut Wiana, Ida bagus Made jaya Semara. Niti Sastra Proyek
Pembinaan Mutu Pendidikan Agama Hindu dan Budha Dep. Agama RI. Cetakan
I/1982.
8. Prof.Dr.Tjokcorda Rai Sudharta MA. Asta Brata dalam Pembangunan. Penerbit
Prasasti Jakarta 1992.
9. Drs. I Nengah Wadrana. Konsepsi Penerapan Kepemimpinan Asta Brata dalam
peningkatan pelaksanaan Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha, Kantor Wilayah
Departemen Agama Propinsi Jabar Skripsi/ 1985.
10. Tim Penyusun, Buku Pedoman Dosen Agama Hindu, Hasil Rumusan Penyusunan
Pedoman Pendidikan Agama Hindu Diperguruan Tinggi Umum 1995/1996, Dep.
Agama RI, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha, Jakarta
1998/1999.

176