Anda di halaman 1dari 3

1

Letkol Arm Ade Jaya Prayitno (Suspimjemen angk III)

Buku kebijakan pengelolaan terpadu wilayah perbatasan yang telah disusun


oleh Widyaiswara Kabadiklat sangat-sangat aspiratif sekali dalam menuangkan
gagasan sebagai bahan masukan yang dibahas secara rinci, tegas, runtut dan
jelas. Mengingat pentingnya batas-batas Negara yang berdaulat untuk dapat
pengakuan bukan hanya oleh Negara tetangga dekat saja tetapi juga dunia
internasional, dengan diakuinya batas-batas wilayah Negara sudah barang tentu
harus mendapatkan perhatian oleh pemerintah dan bangsa ini untuk memantau,
membangun, mengembangkan dan memajukan keadaan wilayah tersebut,
terhadap keadaan sepanjang garis wilayah perbatasan yang memisahkan
Negara satu dengan Negara lainnya dengan memulai penentuan batas dan
pemasangan patok batas secara legal yang disepakati oleh Negara yang
memiliki perbatasan kemudian melanjutkan dengan membangun sarana dan
prasarana berupa jalan , bangunan gedung sebagai alat pemantau masuk
keluarnya masyarakat diantara Negara yang berbatasan, membangun
masyarakat hingga tertanam dalam dirinya jiwa kebangsaan selaku warga
Negara Indonesia. Mengelolaan keadaan alam yang terkandung disepanjang
garis wilayah perbatasan bagi kesejahteraan bangsa dan Negara serta
menjadikan wilayah perbatasan sebagai serambi terdepan yang aman dan
sejahtera.

Terdapatnya pernyataan kontraversi pada hal 6 baris ke-3 dari bawah berbunyi”1
pulau Berhala yang menjadi sengketa antara Prov. Kepulauan Riau dan Prov.
Jambi” sebaiknya dihilangkan saja karena hal ini menyangkut intern Indonesia
dan bukan permasalah dengan batas Negara tetangga dan tidak terkait dengan
Negara tetangga atau dunia internasional.

Perlu penambahan pada pasal 9 “Ancaman” yaitu permasalahan masih adanya


beberapa wilayah perbatasan yang dihuni oleh bukan warga Negara Indonesia
baik diperbatasan Kalimantan maupun Papua, dimana warga Negara Malaysia
mendiami wilayah Indonesia dan melakukan/mengolah lahan pertanian yang
2

hingga saat ini belum terselesaikan bila tidak mendapat perhatian akan
merugikan kekayaan alam Indonesia di perbatasan tersebut.

Perbatasan di wilayah Indonesia dengan PNG tepat di Warasmol dibawah kaki


penggunungan bintang (Kab. Peg. Bintang) terdapat sekitar 900 jiwa lebih warga
Negara PNG yang mendiam wilayah Indonesia dan bertempat tinggal
diperkampungan tersebut, pekerjaan mereka adalah mengelola pertambangan
perkampungan Warasmol secera perorangan/keluarga, pertambangan yang ada
di wilayah Warasmol tersebut adalah tambang emas yang kadarnya tidak kalah
dengan tambah emas yang ada di Mimika (PT. Free Port). Hal ini terjadi karena
mereka tinggal di tempat tersebut dibenarkan oleh hukum adat yang berlaku (hak
Ulayat) bahwa wilayah tersebut merupakan hak ulayatnya mereka disisi lain
pemerintah daerah pun tidak merasa keberatan dengan hak ulayat mereka
berada di dalam wilayah Indonesia.

Permasalah lain yang ada diperbatasan Indonesia dengan PNG di Kab. Boven
Digoel terdapat lebih dari 1000 orang yang berkeinginan menjadi waga Negara
Indonesia yang hingga saat ini masih belum mendapatkan perhatian secara
khusus namun data ini sudah terpantau oleh pemerintah daerah, kondisi ini
sebelum diterima menjadi warga Negara Indonesia terlebih dahulu
permasalahan warga PNG yang berada di Warasmol harus selesai, dalam
pengertian mereka keluar dari wilayah Indonesia bila mereka tidak berkeinginan
menjadi warga Negara Indonesia dan kembali kewilayah PNG.

Untuk permasalahan lain perbatasan Indonesia dengan Malaysia yang terletak di


Kalimantan yang berkaitan dengan social budaya yaitu pendidikan dimana
sebelah utara perkampungan Tanjung Datu (Indonesia), Malaysia telah
membangun sekolah yang istimewa/bagus dengan gedung yang bertingkat yang
mulai dilirik oleh warga Negara Indonesia yang ada diperbatasan bahkan
berkembangan issue bila kita (warga setempat) tidak mendapat perhatian
mereka akan menyebrang ke Malaysia (harus diwaspadai wilayah perbatasan
3

kita yang lepas di Kalimantan sebagai dampak perang social budaya) tentunya
kita tidak menghendaki ada wilayah seperti ligitan dan sipadan terulang.

Permasalahan perbatasan Indonesia dengan singapura yaitu perbatasan pulau


terluar P. Nipa yang hingga kini Singapura masih mengulur-ulur kesepakat batas
wilayah laut yang belum ditanda tangani oleh Negara Singapura sebagai bentuk
kesengajaan dimana Negara Singapura secara terus menerus masih melakukan
perluasan wilayah daratan dengan penimbunan laut (Preparations) yang dapat
menggeser batas laut dan menjadi luas daratannya yang berdampak
berkurangnya wilayah laut Indonesia.