Anda di halaman 1dari 3

PENGENDALIAN DIRI

Suatu hari, ada seorang laki-laki yang mencaci-maki Abu Bakar


ash-Shiddiq RA, sahabat dan mertua Rasulullah SAW. Saat itu
Rasulullah SAW. sedang duduk berada di sisinya. Melihat cacian
tersebut, Rasulullah SAW. heran dan diam saja. Tak tahan oleh
cacian itu, Abu Bakar RA segera membalasnya. Melihat hal itu,
Rasulullah SAW. menjadi marah dan berdiri menghadapi Abu Bakar
RA. Abu Bakar RA membela diri, “Wahai Rasulullah, dia mencaci-
maki diriku, sementara Anda duduk di sampingku, mengapa Anda
marah dan menghadapiku saat aku handak membalas caci-
makinya”. Rasulullah SAW. menjawab,”Sesungguhnya ada satu
malaikat yang hendak membalasnya. Namun, ketika kamu hendak
membalas cacimakinya, ada syetan yang datang. Aku sekali-kali
tidak akan pernah duduk bersama syetan” (Ibnu Hamzah al-
Husayni, t.t. : I: 259-260).
A. Dorongan Nafsu dan Akal
Semua makhluk hidup –termasuk manusia- dilengkapi nafsu oleh Allah
SWT. Berkembang-biak, mempertahankan diri dan keluarganya, serta menjaga
kelangsungan hidup adalah beberapa ciri mahkluk hidup yang didorong oleh
nafsu. Dalam diri manusia, ada hasrat seksual, hasrat marah, hasrat dipuja, dan
hasrat hidup lebih lama. Nafsu adalah diri. Mementingkan diri merupakan
kewajaran, namun terlalu mementingkan diri disebut egois. Orang yang egois
selalu mengikuti nafsunya. Tanpa kontrol dan pengendalian, nafsu bisa
menjerumuskan seseorang kepada kerusakan dan kejahatan. Nafsu tidak akan
pernah merasa puas. Orang yang egois pun tidak memperdulikan orang lain,
pembawaannya suka marah, makannya berlebihan, gejolak seksualnya liar, tidak
pernah memikirkan kematian, sukar diajak kebaikan, bahkan selalu dalam
kemaksiatan. Nafsu demikian ini dikatakan al-Qur’an (surat Yusuf ayat 53)
sebagai nafsu ammaroh. Musuh sejati manusia (syetan) mendorong dengan kuat
ke arah nafsu ammaroh melalui kenikmatan-kenikmatan duniawi. Karena
manusia juga dilengkapi dengan akal, maka setiap manusia pasti mengetahui
nafsu ammaroh termasuk dorongan kejahatan. Tidak sedikit manusia yang telah
terjerumus kejahatan dan kemaksiatan menyadari kesalahannya. Nafsu yang
menyesal ini disebut al-Qur’an (surat al-Qiyamah ayat 2) dengan nafsu
lawwamah. Ketika manusia disadarkan oleh kesalahannya, ia masih didorong
syetan lagi menuju nafsu jahat (ammaroh). Namun, manusia yang masih
menggunakan akalnya pasti selalu mengendalikan nafsunya. Nafsu yang
terkendali ini dinamakan al-Qur’an (surat al-Fajr ayat 27) dengan nafsu
muthmainnah. Inilah ayat-ayat tentang nafsu tersebut.

1. Nafsu Ammaroh (diri yang tak terkendali).

“Dan aku (Nabi Yusuf AS) tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena
Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi
rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha
Penyanyang” (surat Yusuf ayat 53).

2. Nafsu Lawwamah (penyesalan diri).


“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)” (surat al-
Qiyamah ayat 2).

3. Nafsu Muthmainnah (diri yang terkendali).

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridhai-Nya. Maka, masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke
dalam syurga-Ku” (surat al-Fajr ayat 27-30).
Nafsu menjadi tenang bila mengikuti akal. Identitas manusia terletak pada
akalnya. Dengan akal, manusia bisa hidup lebih baik dan lebih berkualitas. Tidak
sekedar membuat makanan, akal manusia bisa membuat makanan yang lezat dan
bergizi. Binatang yang buas dan kuat bisa ditundukkan manusia dengan akalnya.
Alam lingkungan pun bisa dikuasai manusia. Akal juga mengarahkan manusia
kepada kebaikan, bahkan menunjukkan kebenaran. Pekerjaan akal adalah
berpikir: membedakan perkara yang benar dan salah. Akal mempu menjangkau
sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh indera. Akal juga mampu merenungkan
masa lalu, masa kini, dan meramalkan masa mendatang (al-Mawardi, 1995: 10-
11). Namun demikian, tidak semua kebaikan dan kebenaran terjangkau oleh akal.
Dalam hal ini, agama yang mampu menjangkaunya. Agama Islam tidak
bertentangan dengan akal, bahkan tidak sedikit ajarannya yang tidak terjangkau
oleh akal, seperti kejadian di Hari Kiamat, suasana sorga dan neraka, alam kubur,
dan sebagainya. Islam mendorong manusia untuk mendayagunakan akalnya, agar
menempati derajat yang mulia. Membaca al-Qur’an pun hars melibatkan akalnya
untuk merenungi (tadabbur) ayat-ayatnya. Karenanya, manusia yang mengikuti
akalnya –ia menjadi manusia sejati- lebih unggul dibanding makhluk yang lain.
Sebaliknya, manusia yang tidak menggunakan akalnya –cenderung pada
nafsunya- bisa disamakan dengan binatang, bahkan lebih rendah darinya. Allah
WT berfirman,
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam)
kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati (akal), tetapi
tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-
tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-
orang yang lalai” (surat al-A’raf ayat 179).
B. Cara Pengendalian Diri
Nafsu dan akal saling mempengaruhi hati manusia. Al-Qur’an menyebut
hati dengan al-qalb (berbolak-balik) yang sering kita ucapkan dengan istilah
kalbu. Hati atau kalbu ini yang menentukan sikap dan tindakan manusia,
termasuk mempengaruhi kesehatan tubuh manusia. “Ingatlah, sesungguhnya
dalam tubuh terdapat sepotong daging. Manakala ia baik, seluruh tubuhnya
menjadi baik. Manakala ia rusak, seluruh tubuhnya menjadi rusak. Ingatlah,
sepotong daging itu adalah hati”, sabda Nabi SAW (H.R. Imam Muslim, 1988: I:
47; nomor 1599). Untuk mengendalikan diri, hati harus cenderung mengikuti
akalnya daripada nafsunya. Ada orang yang rela membantu orang lain tanpa
pamrih. Hati orang ini tidak berpihak kepada nafsu yang mementingkan diri
sendiri, melainkan cenderung kepada akal yang mengarahkannya kepada
kebaikan. Pada dasarnya, semua ibadah dalam Islam –shalat, puasa, zakat, haji,
membaca dan merenungkan isi al-Qur’an, dan sebagainya- memperkuat akal dan
mendidik nafsu. Penting dicatat bahwa nafsu tidak boleh dihilangkan sama sekali,
tetapi hanya dikendalikan atau dididik (tahdzibun nafsi). Jadi, tidak dibenarkan
hidup dengan menyakiti diri, seperti hidup tanpa menikah, membiarkan perut
dalam kelaparan, tidak bermasyarakat, enggan mandi, dan seterusnya.
Mengendalikan nafsu berarti tidak membiarkannya berkeliaran dan juga tidak
membunuhnya, melainkan mengikatnya sesuai dengan kehendak akal.
Makanan nafsu adalah kesenangan jasmani, sedangkan makanan akal
adalah ilmu. Kesenangan jasmani ini meliputi banyak makan, banyak tidur,
terlalu berurusan dengan harta, dan sering membuang waktu untuk hal yang tidak
bermanfaat. Nabi SAW bersabda, “Termasuk kesempurnaan iman seseorang
adalah meninggalkan hal-hal yang tidak memberikannya manfaat” (H.R. al-
Turmudzi). Pendek kata, kegiatan apapun yang tidak membuat akal bekerja akan
mudah dimasuki oleh nafsu. Selama seseorang berpikir secara positif, selama itu
pula ia tidak dipengaruhi nafsu. Inilah manfaat dari kegiatan yang baik serta
bergaul dengan orang-orang yang baik. Demikian ini juga merupakan kerja dari
orang yang selalu memperhatikan ilmu. Masyarakat yang dikenal budaya
membacanya akan membangun peradaban yang maju, seperti beberapa negara
maju saat ini. Masyarakat suka hura-hura sulit bergaul dengan masyarakat senang
membaca. Orang yang lebih mencintai harta sulit menjadi teman akrab bagi orang
yang mencintai ilmu. Harta di tangan ilmuwan bisa bermanfaat, karena langsung
digunakan bukan untuk diri sendiri saja, melainkan untuk hal-hal yang
bermanfaat. Jadi, cara yang paling baik untuk mengendalikan nafsu adalah
bergaul dengan orang-orang memberikan manfaat ketenagan jiwa, mempelajari
ilmu yang bermanfaat, lalu membuahkan perbuatan yang bermanfaat.