Anda di halaman 1dari 3

TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Pemimpin dalam artian umum adalah seorang yang memulai dan memberi contoh
agar orang lain bisa menirunya dan mengikutinya. Sedangkan definisi tanggung jawab dari
buku Crosed oleh Darius adalah sesuatu yang harus kita lakukan agar terpenuhi hak-haknya
kepada yang bersangkutan, dan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan karena
tanggung menyangkut orang lain dan terlebih diri kita sendiri. Besar dan beratnya tanggung
jawab itu tergantung dengan besarnya cita-cita dan tujuan yang ingin dicapai.
Seorang pemimpin negara bertanggung jawab atas perilaku dirinya, keluarganya,
saudara-saudaranya, masyarakatnya dan rakyatnya. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-
Nya: “Wahai orang-orang mukmin, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS
At-Tahrim: 6).
Tanggung jawab pemimpin ini bisa dijelaskan dalam 2 hal yaitu:
1. Tanggung jawab dan pertanggung jawaban di dunia
Artinya, tiap-tiap pemimpin mempunyai amanah yang harus dipenuhi terhadap
apa yang dipimpinnya. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh HR
Bukhari,"Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di
pimpinnya, Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung
jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia
bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harta tuannya dan
dia bertanggung jawab atasnya”. Secara garis besar bisa dipahami bahwa tanggung
jawab seorang berkaitan erat dengan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Semakin
tinggi kedudukannya di masyarakat maka semakin tinggi pula tanggung jawabnya.
Adapun aspek-aspek tentang tanggung jawabnya berdasarkan penjelasan dari
Dr. Yakob Tamala seorang pelatih di Leadership Training antara lain menerima
kepercayaan yang diamanahkan, bertekad kuat mengamalkan tanggung jawab dalam
mengelola sikap(attitude) serta perilaku (behaviour) yang berkualitas dan yang
terfokus kepada sasaran berhasil melalui upaya memimpin secara berkualitas.
Bahkan dalam sebuah kajian menyebutkan bahwa salah dua tanggung jawab
seorang pemimpin yaitu melayani (khadim) dan memandu (muwajjih). Melayani
adalah melakukan semua yang terbaik untuk pengikutnya, contohnya memenuhi hak-
hak mereka, menafkahkan lebih banyak, berpikir lebih keras dan mendalam daripada
pengikutnya seperti yang selalu dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Memandu
adalah memberi arahan pada pengikutnya untuk menunjukkan jalan yang terbaik agar
selamat sampai dengan tujuan. Contohnya orang tua yang mempunyai tanggung
jawab atas anaknya dengan memandu dan mengajarkan yang baik agar si anak tidak
terjerumus dalam kenistaan yang mengakibatkan pada keselamatan baginya sendiri.
"Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wayukan kepada mereka mengerjakan
kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka
selalu menyembah.”(Q.S Al Anbiyaa’ 21:73).
2. Tanggung jawab dan pertanggung jawaban di akhirat
Tanggung jawab akhirat adalah agama. Seorang pemimpin islam contohnya
punya tanggung jawab untuk berpegang teguh dengan mengabil dan menetapkan
hukum Allah dalam seluruh aspek kepemimpinannya. "Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi
pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang
lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim"(Al Maidah:51) dan “Wahai
orang-orang mukmin, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At-
Tahrim: 6).
Selain tanggung jawab secara dunia, setiap pemimpin nantinya juga akan
dimintai pertanggung jawaban di akherat. Dalam riwayat lain Umar bin Khatab r.a.
mengungkapkan besarnya tanggung jawab seorang pemimpin di akhirat nanti:
“Seandainya seekor keledai terperosok di kota Baghdad, niscaya Umar akan dimintai
pertanggungjawabannya, seraya ditanya: Mengapa tidak meratakan jalan untuknya?”.
Menunjukkan bahwa begitu berat tanggung jawabnya dan besar pertanggung
jawabannya.
Hanya saja pemimpin itu tidak akan sepenuhnya mempertanggung jawabkan
apa-apa yang sudah diputuskan sendiri oleh pengikutnya yang dalam hal ini tidak ada
hubungannya dengan pemimpin itu sendiri. Contohnya adalah agama, tidak bisa
seorang pemimpin itu dimintai pertanggung jawaban atas agama yang diyakini
mereka, karena itu adalah pilihan dari si penganut tersebut. Pada prinsip dasarnya,
pertanggung jawaban dalam Islam itu berdasarkan atas perbuatan setiap individu
sebagaimana ditegaskan dalam beberapa ayat seperti ayat 164 Surat Al-An’am : “Dan
tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada
dirinya sendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”
Demikian pula dalam Surat Al Mudatstsir ayat 38 dinyatakan : “Tiap-tiap diri
bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”
Jadi pada hakikatnya, bukan hanya pemimpin yang akan dimintai pertanggung
jawabannya tapi juga rakyatnya ketika memilih seorang pemimpin. Apakah pemimpin itu
dipertimbangkan bisa mengemban amanah dengan penuh tanggung jawab atau malah
menjerumuskan ke dalam jurang kedurhakaan. Hal itu juga menjadi tanggung jawab
rakyatnya. Oleh karena itu, seorang mukmin yang cerdas tidak akan menerima
kepemimpinan itu kecuali dengan ekstra hati-hati dan senantiasa akan memperbaiki dirinya,
keluarganya dan semua yang menjadi tanggungannya.