Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

ELEKTRONIKA II

Percobaan 01
PENGUAT COMMON EMITOR dan COMMON COLLECTOR

Oleh :

Nama : SUKESI
NIM : J1D106018
Kelompok : III (tiga)
Asisten : ADAM INDRA WIJAYA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI S-1 FISIKA
BANJARBARU

2008
Laporan Elektronika II

Nama : Sukesi
NIM : J1D106018
Kelompok : 3 (tiga)
Judul Percobaan : Penguat Common Emitor dan Common Collector
Tanggal Percobaan : 22 April 2008
Fakultas : MIPA
Program Studi : FISIKA
Asisten : Adam Indra Wijaya

Nilai
Banjarbaru, Maret 2008
Asisten,

( Adam Indra Wijaya )


PERCOBAAN 01
PENGUAT COMMON EMITOR dan COMMON COLLECTOR

I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari praktikum ini adalah
1. Mengerti cara kerja rangkaian common emitor dan common colector.

2. Membuat penguat common emitor dan common colector.

II. DASAR TEORI

Pada rangkaian elektronika sering kali sinyal yang diproses harus diperbesar level dayanya
sampai mencapai suatu besar tertentu. Untuk melakukan hal ini diperlukan rangkaian penguat
(amplifier) yang di dalamnya terdapat suatu komponen tertentu yang mampu melakukan hal ini.
Komponen itu dinamakan komponen aktif, contohnya transistor bipolar, transistor efek medan
(FET). Secara skematis proses penguatan digambarkan di bawah ini

Gambar. 1

Sinyal keluaran memiliki daya yang lebih besar dari sinyal masukan, sehingga dikatakan
adanya penguatan. Supaya hal ini mungkin terjadi, haruslah ada daya lain yang masuk ke dalam
rangkaian penguat ini, yang akan ‘mengangkat’ level daya sinyal keluaran ke atas. Daya ini
diambil dari sinyal DC yang digunakan untuk meletakkan titik kerja dari transistor tersebut di
titik yang optimal, sehingga terjadi penguatan ini.
Penguat pada rangkaian elektronika komunikasi sering diklasifikasikan sebagai penguat
sinyal kecil. Pada penguat sinyal kecil, sinyal masukan dan sinyal keluarannya cukup kecil/lemah
sehingga karakteristik dari penguat ini bisa digambarkan secara linier.
Untuk memperkenalkan karakteristik dari transistor bipolar dipergunakan rangkaian
emitter bersama (common-emitter), yang mana kaki emitter dimiliki oleh gerbang input dan
gerbang output. Gerbang be (basis-emitter) adalah gerbang masukan (input port) dan gerbang ce
(collector-emitter) adalah gerbang keluaran (output port).

Jika kita berikan suatu tegangan tertentu pada gerbang be, maka akan mengalir arus

, yang mempunyai karakteristik seperti pada komponen dioda (karena memang transistor
bipolar bisa dianggap sebagai komponen yang mengandung dua dioda/ karena dua pn-junction

yang dimilikinya). yang mengalir sebagai fungsi dari tegangan dikatakan sebagai
karakteristik masukan dari transistor.
Secara perhitungan kuantitatif sangatlah sulit dengan hanya menggunakan kurva karakteristik.
Oleh sebab itu transistor yang dipergunakan di atas, dengan bantuan kurva karakteristik,
digantikan dengan rangkaian yang ekuivalen dengannya. Rangkaian ini dinamakan rangkaian
pengganti, yang di bawah ini akan kita lihat lebih mendalam.

Rangkaian pengganti sebuah transistor bipolar:

Gambar. 2

Resistor mempunyai besar 10 Ω .. 50 Ω, resistor ini menggambarkan kerugian dari


semikonduktor yang menyusun struktur kaki basis dari transistor

Resistor

dengan : Gain arus transistor basis ke kolektor

: Arus DC pembias pada kolektor


: Muatan elektron
k: Konstanta Boltzmann
T: Temperatur
Pada temperatur T = 290 K, Volt

Resistor adalah resistor kolektor ke emitter (besarnya sekitar 50kΩ )

Resistor adalah resistor kolektor ke basis (besarnya beberapa MΩ )

adalah transkonduktansi dari transistor

pada T = 290 K

Rangkaian di atas bisa disederhanakan dengan mengabaikan besaran (short, karena dianggap

kecil) dan dengan menganggap sangat besar (open), sehingga didapat rangkaian sederhana
pengganti berikut ini, yang digambarkan dengan tiga besaran.

Ketiga besaran di atas juga bisa ditentukan dari karakteristik masukan dan keluaran dari

transistor yang diamati. bisa ditentukan dari kemiringan karakteristik masukan pada titik A,

dengan , sedangkan yang kedua lainnya dengan bantuan karakteristik keluaran

dan dengan bantuan penguatan arus dan


Penguat dengan basis bersama terlihat di samping ini, yang mana kaki basis dipergunakan secara
bersama oleh gerbang masukan dan keluaran.

Gambar. 3

Rangkaian pengganti dari gambar tersebut diperlihatkan di atas. Penguatan tegangan dari
rangkaian penguat basis bersama:

dengan

Penguatan arus dari rangkaian penguat basis bersama

Impendasi masukan:
dan impedansi keluaran

Gambar. 4

Gambar. 5
Penguatan tegangan:

Penguatan arus:

Impedansi masukan:

Impedansi keluaran:

(http://telecom.mercubuana.ac.id/mudrik/elka/_03PenguatSinyalKecil.htm)

Penguat Common Base juga dikenal dengan penguat dengan basis ditanahkan. Penguat ini
dapat menghasilkan penguatan tegangan antara sinyal masukan dan keluaran, tetapi tidak
penguatan arus. Karakteristiknya adalah impedansi masukan kecil dan impedansi keluaran seperti
pada penguat Common Emitter. Karena arus masukan dan keluaran mempunyai nilai yang
hampir sama, kapasitor stray dari transistor tidak terlalu berpengaruh dibandingkan pada penguat
common emiter. Penguat common basis sering digunakan pada frekuensi tinggi yang
menghasilkan penguatan tegangan lebih besar daripada rangkaian dengan 1 transistor lainnya.
Penguat Common Base ditunjukkan dalam Gambar 1.1. Diatas frekuensi corner kapasitor
antara basis dan ground pada rangkaian menghasilkan pentanahan sinyal AC yang efektif pada
basis transistor.
Gambar 6. Penguat Common Base

Penguat Common Emitter sering dirancang dengan sebuah resistor emiter (RE) seperti
ditunjukkan dalam Gambar 1.5. Resistor tersebut menghasilkan bentuk dari umpan balik negatif
yang dapat digunakan untuk menstabilkan titik operasi DC dan penguatan AC.

Gambar 7. Penguat Common Emitter dengan RE


(http://www.elka.brawijaya.ac.id/praktikum/analog/analog.php?page=1)
Rangkaian dasar penguat common-emitter terlihat pada gambar 8.
– Tegangan masukan total vI (bias + sinyal) dipasang di antara base dan emitter
(ground)
– Tegangan keluaran total vO (bias + sinyal) diambil di antara collector dan emitter
(ground)
– Resistor RC mempunyai 2 fungsi:
• Untuk menentukan bias yang diinginkan pada collector
• Mengubah arus collector, iC, menjadi tegangan keluaran vOC atau vO
– Tegangan catu VCC diperlukan untuk memberi bias pada BJT dan untuk mencatu
daya yang diperlukan untuk kerja penguat.

Karakteristik transfer tegangan dari rangkaian CE

vO = vCE = VCC – RCiC……………………………..(1)

vI = vBE < 0,5 V → transistor cutoff.


0 < vI < 0,5 V, iC kecil sekali, dan vO akan sama dengan tegangan catu VCC (segmen XY pada
kurva)

• vI > 0,5 V → transistor mulai aktif, iC naik, vO turun.


• Nilai awal vO tinggi, BJT bekerja pada mode aktif yang menyebabkan penurunan yang
tajam pada kurva karakteristik transfer tegangan (segmen YZ), Pada segmen ini:

iC ≅ I S e v EB VT

= I S e vI VT

vO = VCC − RC I S e vI VT
VCC −VCEsat
I Csat =
RC

Mode aktif berakhir ketika vO = vCE turun sampai 0,4 V di bawah tegangan base (vBE
atau vI) → CBJ ‘on’ dan transistor memasuki mode jenuh (lihat titik Z pada kurva).
Pada daerah jenuh kenaikan vBE menyebabkan vCE turun sedikit saja. vCE = VCEsat berkisar
antara 0,1 – 0,2 V. ICsat juga konstan pada harga:

VCC −VCEsat
I Csat =
RC

Pada daerah jenuh, BJT menunjukkan resistansi yang rendah, RCEsat antara collector dan
emitter. Jadi ada jalur yang mempunyai resistansi rendah antara collector dan ground, sehingga
dapat dianggap sebagai saklar tertutup. Sedangkan ketika BJT dalam keadaan cut off, arus sangat
kecil (idealnya nol), jadi beraksi seperti saklar terbuka, memutus hubungan antara collector dan
ground. Jadi keadaan saklar ditentukan oleh harga tegangan kendali vBE.
Penguat audio (amplifier) secara harfiah diartikan dengan memperbesar dan menguatkan
sinyal input. Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah, sinyal input di-replika (copied) dan
kemudian di reka kembali (re-produced) menjadi sinyal yang lebih besar dan lebih kuat. Dari
sinilah muncul istilah fidelitas (fidelity) yang berarti seberapa mirip bentuk sinyal keluaran hasil
replika terhadap sinyal masukan. Ada kalanya sinyal input dalam prosesnya kemudian terdistorsi
karena berbagai sebab, sehingga bentuk sinyal keluarannya menjadi cacat. Sistem penguat
dikatakan memiliki fidelitas yang tinggi (high fidelity), jika sistem tersebut mampu menghasilkan
sinyal keluaran yang bentuknya persis sama dengan sinyal input. Hanya level tegangan atau
amplituda saja yang telah diperbesar dan dikuatkan. Di sisi lain, efisiensi juga mesti diperhatikan.
Efisiensi yang dimaksud adalah efisiensi dari penguat itu yang dinyatakan dengan besaran
persentasi dari power output dibandingkan dengan power input. Sistem penguat dikatakan
memiliki tingkat efisiensi tinggi (100 %) jika tidak ada rugi-rugi pada proses penguatannya yang
terbuang menjadi panas.

PA kelas A
Contoh dari penguat class A adalah adalah rangkaian dasar common emiter (CE) transistor.
Penguat tipe kelas A dibuat dengan mengatur arus bias yang sesuai di titik tertentu yang ada pada
garis bebannya. Sedemikian rupa sehingga titik Q ini berada tepat di tengah garis beban kurva
VCE-IC dari rangkaian penguat tersebut dan sebut saja titik ini titik A. Gambar berikut adalah
contoh rangkaian common emitor dengan transistor NPN Q1.

gambar 9 : rangkaian dasar kelas A

Garis beban pada penguat ini ditentukan oleh resistor Rc dan Re dari rumus VCC = VCE +
IcRc + IeRe. Jika Ie = Ic maka dapat disederhanakan menjadi VCC = VCE + Ic (Rc+Re). Selanjutnya
pembaca dapat menggambar garis beban rangkaian ini dari rumus tersebut. Sedangkan resistor Ra
dan Rb dipasang untuk menentukan arus bias. Pembaca dapat menentukan sendiri besar resistor-
resistor pada rangkaian tersebut dengan pertama menetapkan berapa besar arus Ib yang memotong
titik Q.

gambar 10 : Garis beban dan titik Q kelas A


Besar arus Ib biasanya tercantum pada datasheet transistor yang digunakan. Besar
penguatan sinyal AC dapat dihitung dengan teori analisa rangkaian sinyal AC. Analisa rangkaian
AC adalah dengan menghubung singkat setiap komponen kapasitor C dan secara imajiner
menyambungkan VCC ke ground. Dengan cara ini rangkaian gambar-1dapat dirangkai menjadi
seperti gambar-3. Resistor Ra dan Rc dihubungkan ke ground dan semua kapasitor dihubung
singkat.

gambar 11 : rangkaian imajimer analisa ac kelas A

Dengan adanya kapasitor Ce, nilai Re pada analisa sinyal AC menjadi tidak berarti.
Pembaca dapat mencari lebih lanjut literatur yang membahas penguatan transistor untuk
mengetahui bagaimana perhitungan nilai penguatan transistor secara detail. Penguatan
didefenisikan dengan Vout/Vin = rc / re`, dimana rc adalah resistansi Rc paralel dengan beban RL
(pada penguat akhir, RL adalah speaker 8 Ohm) dan re` adalah resistansi penguatan transitor.
Nilai re` dapat dihitung dari rumus re` = hfe/hie yang datanya juga ada di datasheet transistor.
Gambar-4 menunjukkan ilustrasi penguatan sinyal input serta proyeksinya menjadi sinyal output
terhadap garis kurva x-y rumus penguatan vout = (rc/re) Vin.
gambar 12 : kurva penguatan kelas A

Ciri khas dari penguat kelas A, seluruh sinyal keluarannya bekerja pada daerah aktif.
Penguat tipe class A disebut sebagai penguat yang memiliki tingkat fidelitas yang tinggi. Asalkan
sinyal masih bekerja di daerah aktif, bentuk sinyal keluarannya akan sama persis dengan sinyal
input. Namun penguat kelas A ini memiliki efisiensi yang rendah kira-kira hanya 25% - 50%. Ini
tidak lain karena titik Q yang ada pada titik A, sehingga walaupun tidak ada sinyal input (atau
ketika sinyal input = 0 Vac) transistor tetap bekerja pada daerah aktif dengan arus bias konstan.
Transistor selalu aktif (ON) sehingga sebagian besar dari sumber catu daya terbuang menjadi
panas. Karena ini juga transistor penguat kelas A perlu ditambah dengan pendingin ekstra seperti
heatsink yang lebih besar.

III.ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


Adapun alat dan bahan yang dipergunakan pada percobaan kali ini adalah
1. resistor, kapasitor, berfungsi sebagai hambatan dan
2. Power supply sebagai sumber tegangan.
3. Project board berfungsi untuk tempat meletakkan komponen-komponen listrik.
4. Transistor,
5.
6. Osiloskop untuk melihat bentuk-bentuk gelombang keluaran yang dihasilkan.
7. Frekuensi Generator, berfungsi untuk mengatur jumlah frekunsi yang digunakan

IV. PROSEDUR PERCOBAAN


a. Penguat Common Emitor
1. Menyusun rangkaian (frekunsi yang digunakan 1KHz)
2. Mengamati dan menggambar sinyal input dan output
3. Menghitunh besar sinyal output dari hasil pengamatan pada osiloskop
4. Mengubah nilai Rc = 2,7 KΏ dan RE = 1 KΏ dan RL = 1,5 KΏ
5. Mengulangi langkah 2 dan 3
b. Penguat Common Colector
1. Menyusun rangkaian (frekunsi yang digunakan 1KHz)
2. Mengamati dan menggambar sinyal input dan output
3. Menghitunh besar sinyal output dari hasil pengamatan pada osiloskop