Anda di halaman 1dari 13

PANDANGAN KRITIS TERHADAP PERATURAN KAPOLRI NO.POL.

: 16 TAHUN
2006 TENTANG PEDOMAN PENGENDALIAN MASSA

I. PENDAHULUAN

1. Latar Beakang Masalah

Penyampaian pendapat di muka umum merupakan hak setiap warga Negara untuk
menyampaikan pikiran dengan lisan dan atau tulisan secara bebas dan bertanggung
jawab dimana hal tersebut diatur dalam UU No. 9 tahun 1999. Terlebih lagi saat ini
pada masa reformasi, masyarakat dalam menanggapi setiap kebijakan publik yang
muncul dari pemerintah apabila hal tersebut dirasa merugikan tentunya menggunakan
saluran unjuk rasa untuk menyampaikan pendapatnya.

Akan tetapi disayangkan dalam pelaksanaannya, unjuk rasa tersebut terkadang


menimbulkan efek samping yang merugikan masyarakat yaitu unjuk rasa yang
cenderung anarkis bahkan sampai terjadi keadaan chaos sehingga situasi kamtibmas
menjadi tidak menentu. Kita masih ingat beberapa kasus unjuk rasa yang apabila
tidak tertangani dengan baik maka akan menjadi kekacauan yang mengakibatkan
kerugian yang tidak sedikit yaitu korban jiwa dan korban harta benda bahkan aktivitas
transportasi dan ekonomi menjadi terhambat dikarenakan unjuk rasa yang bersifat
anarkis tersebut.

Namun tentunya pihak Kepolisian Negara RI tidak tinggal diam dalam


mengantisipasi keadaan tersebut. Semenjak dulu Polri telah melakukan upaya-upaya
baik dalam tataran pembenahan instrument maupun dalam tataran operasional untuk
meredam keganasan unjuk rasa yang bersifat anarkis tersebut. Hingga terakhir yaitu
Tahun 2006 Polri mengeluarkan peraturan tentang pengendalian Unjuk Rasa yaitu
Peraturan Kapolri No. Pol. : 16 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengendalian Massa.

Peraturan Kapolri tersebut tentunya telah berjalan selama 2 (dua) tahun sehingga
dalam pelaksanaannya pastilah masih terdapat kekurangan disana sini, walaupun
diakui secara substansial peraturan kapolri tentang pedoman pengendalian massa
1
tersebut merupakan produk / instrument yang paling terbaru dan sudah banyak
mengatur bagaimana setiap satuan fungsional Polri untuk bertindak dalam meredam
unjuk rasa.

Oleh karena itu dalam kesempatan pembuatan makalah ini penulis mencoba
mengangkat permasalahan tersebut dengan harapan hal ini menjadi masukan bagi
Polri dalam menyusun peraturan serupa dikemudian hari. Adapun judul makalah ini
adalah : “PANDANGAN KRITIS TERHADAP PERATURAN KAPOLRI NO.
POL. : 16 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENGENDALIAN MASSA”.

2. Maksud dan Tujuan


a. Maksud
Maksud penulisan makalah ini adalah disamping untuk melaksanakan
penugasan pembuatan makalah yang materinya menyangkut Masalah Pedoman
Pengendalian Massa dari Dosen Mata Kuliah Manajemen Samapta, makalah ini
pula bertujuan memberikan masukan atau direktif kepada pihak yang
berkompeten dalam hal ini Direktorat Samapta Babinkam Polri dalam hal
pengendalian unjuk rasa kemudian sebagai sarana untuk belajar dalam
menuangkan pemikiran saya tentang Mata Kuliah Manajemen Samapta yang
diterima dengan ditunjang dengan beberapa referensi – referensi yang relevan
dengan permasalahan ini serta disertai dari pengalaman-pengalaman yang ada di
lapangan .

b. Tujuan
Dengan penulisan makalah ini, kami mengharapkan agar makalah ini
dapat dijadikan sebagai referensi dan tambahan wawasan / pengetahuan bagi
pembaca pada umumnya dan pihak yang berkompeten dalam hal ini Direktorat
Samapta Babinkam Polri pada khususnya mengenai hal-hal yang berkenaan
dengan pengendalian unjuk rasa sehingga berguna dalam penyusunan instrument
yang sama di kemudian hari.
3. Permasalahan

2
Terjadinya unjuk rasa yang selama ini semakin marakdan mengalami banyak
perkembangan terutama dalam modus dan proses terjadinya unjuk rasa membuat
peraturan kepolisian yang berhubungan dengan pengedalian dalmas memerlukan cara
yang Up to Date untuk mengantisipasinya. Terlebih lagi pengunjuk rasa dalam
bertindak, mereka sudah merencanakan apa yang akan dilakukannya. Terlebih lagi
unjuk rasa tersebut bertambah rawan sehubungan dengan kehadiran pihak ke tiga atau
provokator. Yang tentunya apabila Polri dalam bertindak meredam unjuk rasa tersebut
memerlukan pedoman taktik dan strategi yang jitu untuk menghindari polri terjebak
dalam tindakannya terlebih lagi dalam melakukan upaya represif.

Melihat kenyataan dan akibat yang ditimbulkan diatas dapat diambil beberapa
pokok permasalahan yang akan penulis coba bahas yaitu :
Ketentuan-ketentuan apa saja yang perlu dimodifikasi dan ditambahkan dalam
Perkap No. Pol. : 16 Tahun 2006 tentang Pengendalian Unjuk Rasa tersebut ?

II. PEMBAHASAN

1. Bagian Pembukaan Perkap No. Pol. : 16 Tahun 2006

Pada bagian “ Menimbang “ di dasar hukum Peraturan Kapolri sebaiknya


dimasukkan beberapa peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan
Perlindungan Hak Asasi Manusia ( UU Nomor 39 Tahun 1999 ), Peraturan –
peraturan tentang proses penegakan hukum / KUHAP ( UU No. 8 Tahun 1981 ),
peraturan per-UU-an yang berhubungan dengan Kemerdekaan Mengemukakan
Pendapat di Muka Umum ( UU Nomor 9 Tahun 1998 ) dan memasukkan peraturan –
peraturan yang berhubungan dengan etika profesi Polri yaitu Perkap Kapolri No. 7
Tahun 2006 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian RI.

Adapun tujuan memasukkan beberapa perundang-undangan dan peraturan tentang


etika polri tersebut adalah :

3
a. Sebagai landasan hukum yang mengikat pada Peraturan Kapolri tentang
Pedoman Pengendalian Unjuk Rasa tersebut, karena pada prinsipnya dalam
bertindak Polisi mengacu pada UU yang berkaitan diatas.

b. Dengan memasukkan peraturan tentang etika profesi polri menegaskan bahwa


dalam meredamkan unjuk rasa tersebut haruslah tetap berpedoman dengan
etika profesi polri yang berlaku sehingga mengingatkan anggota dilapangan
agar mencegah tindakan-tindakan yang dapat menurunkan martabat profesi
kepolisian.

2. Bagian Bab I : Ketentuan Umum

Sebelum melangkah ke pengertian-pengertian yang berhubungan dengan pedoman


pengendalian massa sebaiknya dimasukkan beberapa prinsip-prinsip dasar yang
harus dilakukan dalam mengendalikan unjuk rasa seperti persamaan dimuka hukum
( Equality Before The Law ) , prinsip penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia
( Respect to Human Rights ), Prinsip penggunaan kekuatan yang seimbang
( Balancing of Power ) dan prinsip kerja sama antar lini atau lintas sektoral ( Work
as a Team and Cooperation Working ) serta prinsip menghormati aturan lokal
( Common Law ) yang berlaku baik tertulis dan tidak tertulis .

Adapun tujuan memasukkan prinsip-prinsip diatas yaitu sebagai landasan utama


petugas di lapangan dalam melakukan tindakan kepolisian untuk mengendalikan
massa pengunjuk rasa yang semata-mata tidak hanya menegakkan hukum dan
menjaga ketertiban tetapi juga sebagai bentuk pengakuan perlindungan terhadap
kepentingan masyarakat yang tidak dan yang melakukan unjuk rasa. Karena dalam
menegakkan hukum Polisi haruslah mematuhi prinsip-prinsip lainnya agar terhindar
dari kesalahan prosedur dan kesalahan tindakan kepolisian menurut aturan yang
mengikat lainnya. Hal ini perlu dipahami / disadari oleh Polri pada saat ini unjuk
rasa yang terjadi tidak lagi murni menyuarakan hati rakyat tetapi sudah banyak
ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu yang apabila polisi salah bertindak akan
mengakibatkan kesulitan – kesulitan tersendiri bagi institusi Polri.

4
3. Pasal 1 : “Pengertian-Pengertian”

Beberapa hal penting yang perlu dimasukkan dalam bagian pengertian-pengertian


Perkap ini antara lain :

a. Perlu dimasukkan pengertian tentang : Situasi Tertib/ Hijau , Situasi Tidak


Tertib/Kuning dan Situasi Melanggar Hukum / Merah . Apabila perlu
dimasukkan indikator apa saja yang termasuk dalam situasi-situasi tersebut.

b. Perlunya diperluas kembali pengertian “Negosiator”. Diharapkan negosiator


bukan hanya melakukan perundingan dengan pengunjuk rasa saja tetapi pula
menegosiasikan hal-hal keinginan pengunjuk rasa dengan pihak – pihak yang
berkepentingan.

c. Perlunya dimasukkan pengertian “Unjuk Rasa Damai ”, “Unjuk Rasa Anarkis”


hal ini dimaksudkan untuk persamaan persepsi petugas di lapangan dan lebih
menajamkan serta membedakan arti kegiatan tersebut diatas.

d. Perlunya dimasukkan pengertian “ Dokumentasi Unjuk Rasa ”, hal ini perlu


dalam pelaksanaan pengendalian massa sekaligus sebagai dokumen penting
dalam menggambarkan situasi unjuk rasa dan sebagai sarana balancing media
bila sewaktu-waktu dibutuhkan olehmasinstitusi.

4. Pasal 2 Tentang Pertanggungjawaban Atas Dalmas

Satuan kewilayahan yang bertanggung jawab atas Dalmas mulai tingkat


Polsek/Polsekta/Polsek Metro, Polres/Polresta/Polres Metro/Poltabes ,
Polwil/Polwitabes dan Polda sebaiknya diberikan langsung kepada Kepala Satuan
Kewilayahan bukan Satuan Samaptanya. Hal ini untuk mempertegas siapa yang
bertanggung jawab dalam mengendalikan kegiatan pengendalian massa yang terjadi
di wilayahnya. Kemudian untuk memperlancar kegiatan Dalmas di lapangan, Kepala
Satuan Kewilayahan menyerahkan pertanggung jawaban tugas tehnis Dalmas

5
kepada Kepala Satuan Fungsi Samapta yang ada di Polsek/Polsekta/Polsek Metro,
Polres/Polresta/Polres Metro/Poltabes , Polwil / Polwitabes dan Polda.

5. Pasal 5, Pasal 12, Pasal 19 : Tentang Tahap Persiapan Dalmas

Selain persiapan-persiapan yang ada dalam Pasal 5 ayat 2, Pasal 12 ayat 2 dan Pasal
19 ayat 2 perlu pula ditambahkan persiapan- persiapan sebagai berikut :

a. Menyiapkan koordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti pihak TNI, pihak


pemda, pihak pemadam kebakaran, pihak rumah sakit / ambulance dan pihak-
pihak lainnya yang berkompeten dalam unjuk rasa tersebut.

b. Menyiapkan personil dan peralatan fungsi tehnis kepolisian lainnya selain


personil yang tergabung dalam pasukan Dalmas seperti Personil Intel, Lantas,
dan Reserse.

c. Menentukan penempatan personil ( Plotting) pasukan dalmas dan pasukan PHH


/ Brimob serta personil fungsi tehnis lainnya yang tidak tergabung dalam
pasukan dalmas seperti intel, serse dan lalu lintas.

d. Menentukan jalur evakuasi terhadap VIP/pejabat penting dan menyiapkan


petugas yang mengawalnya.

6. Pasal 7, Pasal 14 dan Pasal 21 : Tentang Larangan-larangan bagi Petugas


Dalmas.

Beberapa hal yang hal perlu ditambah dalam pasal-pasal ini terutama yang beupa
larangan – larangan bagi petugas dalmas dalam bertugas mengendalikan massa
antara lain :
a. Larangan untuk membalas lemparan yang dilakukan oleh pengunjuk rasa
b. Larangan merusak fasilitas umum dan milik orang lain
c. Larangan melakukan penyiksaan/pemukulan bagi pelaku pengunjuk rasa anarkis
yang telah tertangkap.
6
7. Pasal 8, Pasal 15 dan Pasal 22 : Tentang Pelaksanaan Dalmas Dalam Situasi
Damai

Dalam pelaksanaan pengendalian massa yang diatur dalam pasal Perkap ini ada
beberapa hal yang perlu di modifikasi antara lain :

a. Sebelum pengunjuk rasa bergerak petugas polisi dalam hal ini anggota intelkam /
petugas yang tidak berseragam memantau perkembangan situasi yang ada di
lokasi dimana massa pengunjuk rasa berkumpul sebelum mereka memulai
kegiatannya dan melaporkan perkembangan yang ada kepada Kepala Satuan
Fungsinya atau Kepala Satuan Kewilayahan dalam hal ini Kapolres dan atau
Kapolsek. Hal ini penting sebagai informasi awal dalam menerapkan strategi
pengendalian massa nantinya.

b. Apabila memungkinkan petugas negositor atau petugas polisi lainnya dapat


berkoordinasi kepada Korlap di tempat / lokasi para Pengunjuk Rasa/massa
berkumpul sebelum melakukan kegiatannya dan dapat mengarahkan hal-hal
berikut :
1) Meminta agar pelaksanaannya dilaksanakan dengan tertib jangan sampai
mengganggu kepentingan orang lain yang melaksanakan aktivitas lain.
2) Mengingatkan mereka agar jangan bertindak anarkis atau merusak fasilitas
umum.
3) Mengingatkan agar mereka waspada jangan sampai ada pihak atau orang
lain yang berusaha menyusup untuk memanaskan suasana unjuk rasa
nantinya
4) Menyampaikan kepada mereka bahwa Polisi mengamankan unjuk rasa demi
menjaga ketertiban dan keamanan dalam pelaksanaan unjuk rasa dan
melindungi mereka selama berunjuk rasa serta bukanlah menjadi lawan /
musuh mereka

7
8. Pasal 9, Pasal 16 dan Pasal 23 : Tentang Pelaksanaan Dalmas Dalam Situasi
Kuning

Dalam pelaksanaan pengendalian massa yang diatur dalam beberapa pasal Perkap ini
ada beberapa hal yang perlu dimodifikasi antara lain :
a. Pada situasi kuning dimana pengunjuk rasa sudah mulai melakukan tindakan
anarkis seperti melempar petugas dengan benda keras dsb. Dalam hal
penembakan Gas Air Mata agar personil dalmas yang melakukannya
memperhatikan kondisi angin jangan sampai asap gas air mata mengarah ke
personil dalmas. Hal ini penting mencegah kondisi senjata makan tuan apabila
memang tidak memungkinkan karena kondisi angin tersebut maka penembakan
gas air mata tidak perlu dilakukan cukup menggunakan Rantis pengurai massa.

b. Personil yang mengambil gambar dokumentasi ( yang memegang handycam )


agar mengarahkan pengambilan gambar terhadap perbuatan-perbuatan
pengunjuk rasa dan obyek-obyek gambar penting yang menonjol.

c. Personil yang mengambl gambar dokumentasi tersebut agar dapat ditemani oleh
seorang petugas lainnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan

d. Bila terdapat sesuatu hal ( orang/barang ) yang disandera oleh pengunjuk rasa
seperti mobil, truk, dan lain sebagainya sebelumnya dilakukan upaya negosiasi
kepada pihak pengunjuk rasa namun upaya negosiasi tersebut gagal maka
Peleton Samapta Penindak melakukan upaya evakuasi untuk menyelamatkan
orang / barang yang disandera oleh pengunjuk rasa tersebut.

e. Apabila waktu akan menunjukkan pukul 18.00 dimana batas waktu untuk unjuk
rasa selesai maka pimpinan dalmas menyampaikan / mengingatkan hal tersebut
kepada Korlap Pengunjuk rasa sebanyak 3 kali namun bila hal tersebut tidak
diindahkan maka Pasukan Dalmas melakukan upaya penguraian massa sampai
massa benar-benar membubarkan diri.

8
Beberapa hal yang perlu dimasukkan dalam pelaksanaan tugas pengendalian massa
dalam Perkap ini antara lain :
a. Agar dimasukkan pula Cara Bertindak (CB) personil fungsi lainnya seperti
fungsi intel, lantas, dan reserse.

b. Pada pelaksanaan Dalmas di Jalan raya agar diuraikan cara pergantian petugas
Dalmas Awal kepada Petugas Dalmas Lanjut dan Petugas Dalmas Lanjut
dengan Pasukan PHH Brimob. Dan diuraikan urut-urutan kegiatan apa saja
yang dilakukan oleh Petugas Dalmas setelah pergantian

c. Agar perlu dimasukkan pula bagaimana cara penangkapan terhadap pelaku


pengunjuk rasa yang anarkis hal ini penting untuk mencegah terjadinya
kesalahan prosedur dalam proses penangkapan.

d. Perlu dimasukkan pula proses pengisian air untuk Mobil Rantis Pengurai Massa
untuk mengantisipasi bila air di dalam mobil rantis habis.

e. Perlu dimasukkan cara bertindak petugas dalmas bila gas air mata yang telah
ditembakkan ternyata dilemparkan kembali oleh pengunjuk rasa ke barisan
dalmas.

f. Perlunya dirumuskan langkah apa yang dapat dilakukan petugas dalmas apabila
ada pengunjuk rasa yang melemparkan Bom Molotov kearah barisan dalmas

g. Perlu dimasukkan kegiatan apa yang dilakukan oleh petugas medis (ambulance)
apabila telah jatuh korban dari pihak pasukan dalmas ataupun dari pihak
pengunjuk rasa
9. Paragraf Ketiga : Tentang Tahap Pengakhiran

Beberapa hal yang perlu dimasukkan sebagai hal baru dalam tahap pengakhiran ini
adalah apabila unjuk rasa tersebut sampai terjadi pada situasi merah dan
menimbulkan korban baik pihak polisi ataupun pengunjuk rasa Kepala Satuan
Kewilayahan/Humas Polri dapat mengundang wartawan media cetak / media

9
elektronik untuk melakukan jumpa pers sebagai upaya pembentukan opini awal
publik.

10. Bab IV : Tentang Persyaratan Satuan Dalmas

Ada hal yang perlu ditambahkan berhubungan dengan persyaratan Satuan Dalmas
yaitu persyaratan seorang Negosiator antara lain seorang negosiator memiliki
persyaratan lulus test psikologi dan pernah mengikuti pelatihan tentang negosiator

11. Bab V : Tentang Kaji Ulang

Ada terdapat hal yang perlu ditambah dalam pelaksanaan kaji ulang tersebut yaitu
Pimpinan Satuan Dalmas dalam melaksanakan kaji ulang agar dapat memutar hasil
rekaman pelaksanaan Dalmas dari handycam untuk menganalisa dan mengevaluasi
kegiatan Dalmas yang telah dilakukan.

12. Bab VII Tentang Koordinasi dan Pengendalian

Beberapa hal yang perlu ditambahkan dalam pengendalian massa di Perkap ini
adalah agar diperjelas kembali bentuk koordinasi yang dilakukan dengan Satuan
Kepolisian terdekat, Unsur Muspida, Ketua DPR dan Instansi terkait lainnya baik itu
dalam tahap persiapan dan tahap pelaksanaan dalmas ( situasi hijau,situasi kuning
dan situasi merah) dan tahap pengakhiran.

III. PENUTUP

13. Kesimpulan

Era Reformasi memberikan keterbukaan bagi warga negara untuk mengemukakan


pendapat di muka umum dimana hal tersebut merupakan hak yang dimiliki oleh
setiap warga negara yang tercantum dalam aturan perundang-undangan. Akan tetapi
kondisi tersebut terkadang dalam kenyataannya berjalan sesuai dengan kenyataan.
10
Banyak pengalaman dan kejadian selama ini dalam mengemukakan pendapat dalam
bentuk unjuk rasa, masyarakat ataupun beberapa elemen masyarakat melanggar
hak-hak masyarakat lainnya seperti mulai dari terjadinya kemacetan yang
menggangu arus lalu lintas sampai dengan terjadinya pengerusakan bahkan
jatuhnya korban yang mengakibatkan kegiatan masyarakat menjadi terhambat.

Kondisi tersebut membuat pihak kepolisian mau-tidak mau bergerak untuk


mengendalikan kegiatan unjuk rasa tersebut untuk mencegah terjadinya hal-hal
yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Peraturan Kapolri
No. 16 Tahun 2006 tentang Pengendalian Massa tentunya menjadi pedoman dasar
bagi petugas polisi dilapangan untuk mengantisipasi hal tersebut. Namun seiring
dengan perjalanan waktu dan penerapannya di lapangan Perkap tersebut masih
terdapat beberapa kekurangan sehingga membutuhkan rekonstruksi kembali dan
beberapa penyesuaian agar pelaksanannya lebih baik lagi.

14. S a r a n

Agar lebih baiknya pelaksanaan pengendalian massa tersebut, penulis memberikan


beberapa saran untuk menyempurnakan dan memperbaiki kelemahan dari Perkap
ini antara lain :
a. Kondisi dan situasi yang berkembang dimasyarakat pada setiap daerah berbeda-
beda yang tentunya dalam setiap penanganan pengendalian massa memerlukan
penanganan yang berbeda pula untuk itu penulis menyarankan apabila tidak
terdapat beberapa perubahan yang signifikan dalam Perkap tersebut ada baiknya
masing-masing Polda ataupun Polres membuat Petunjuk Pelaksanaan yang lebih
menyesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada di kesatuan tersebut ataupun
situasi kemasyarakatan yang timbul di wilayah tersebut. Apabila perlu dalam
perkap tersebut ditambahkan sebuah BAB ataupun pasal yang dapat
memberikan kewenangan Kepala Satuan Wilayah untuk membuat peraturan
atau petunjuk pelaksanaan yang lebih mengembangkan Perkap Pengendalian
Massa tersebut.

11
b. Perlunya diusulkan kepada Mabes Polri untuk membuat kajian tentang UU No
39 Tahun 1999 agar pelaksanaan penyampaian pendapat dimuka umum
dilaksanakan lebih tertib lagi sebagai contoh dalam melaksanakan Unjuk Rasa
perlu adanya Surat ijin dari pihak kepolisian bukan hanya pemberitahuan saja,
perlunya membuat terobosan yang berkaitan dengan tempat pelaksanaan unjuk
rasa dimana setiap pemerintah daerah atau instansi terkait untuk menyiapkan
sebuah lokasi dimana masyarakat dapat melaksanakan unjuk rasa hal ini dirasa
perlu agar pelaksanaan unjuk rasa tidak mengganggu aktivitas masyarakat
lainnya.

c. Kajian tentang hal yang disampaikan dalam point b diatas dapat juga
disampaikan kepada Pemerintah Pusat melalui mekanisme pembuatan Peraturan
Pemerintah ataupun kepada Pemerintah Daerah melalui pembuatan Peraturan
Daerah ( Perda ) apabila perubahan melalui UU tidak dapat dilakukan.

d. Ketersediaan peralatan untuk pengendalian unjuk rasa seperti Water Canon,


Mobil Rantis dan peralatan berat lainnya agar sebaiknya tidak hanya dipusatkan
pada kesatuan di kota-kota besar tetapi juga mengkondisikan peralatan tersebut
dapat dimiliki oleh polres-polres lainnya. Apabila kondisi keuangan Polri belum
cukup untuk dapat mengadakan peralatan tersebut dapat melakukan strategi
pemusatan sarana dan prasarana di suatu wilayah tertentu yang dapat dengan
cepat dijangkau oleh setiap polres terdekat lainnya apabila membutuhkan.
e. Kebijakan Publik yang dikeluarkan oleh pemerintah terkadang membawa
dampak yang cukup besar dalam penerapannya di masyarakat, untuk itu ada
baiknya setiap Kepala Kesatuan dari tingkat Mabes sampai dengan Polres dapat
mememinta kepada lembaga eksekutif dan legislatif agar dilibatkan dalam
proses pembuatan kebijakan publik tersebut. Hal ini penting untuk memberikan
masukan kepada pemerintah dalam rangka memperkecil dampak yang mungkin
akan timbul.

Demikian makalah saya yang berkenaan dengan proses penyempurnaan Perkap


pengendalian massa ini dalam rangka memenuhi tugas yang dberikan oleh Dosen Mata

12
Kuliah Manajemen Samapta, penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna maka
penulis meminta koreksi, saran dan kritik yang membangun dari para dosen dan pembaca
demi lebih baiknya makalah ini dikemudian hari.

Jakarta, Juni 2008


PENULIS

DOLLY GUMARA
No. Mhsw. 6496

13