Anda di halaman 1dari 10

MENELUSURI JEJAK WE TENRIABENG

Oleh: Ashari Thamrin

Salah seorang pemeran utama wanita dalam Epos Lagaligo yang kurang terlihat peranannya dalam
pemerintahan Kedatuan Luwu adalah We Tenriabeng (Tandiabe), saudari kembar Sawerigading.
Permaisuri dari Remmang ri Langi alias Hulontalangi (Raja pertama Gorontalo) alias Tamboro Langi
(Tokoh sejarah suku Toraja) ini, sesungguhnya pernah tampil sebagai Datu di Luwu, mengisi
kekosongan kekuasaan Pasca Batara Lattu. Kekosongan kekuasaan terjadi karena Tana Luwu ditinggal
pergi oleh Sawerigading, yang bersumpah tidak akan kembali lagi ke Tana Luwu.

La Galigo di Gorontalo
Legenda Sawerigading dan kembarnya, Rawe, adalah berkait rapat dengan pembangunan beberapa
negeri di kawasan ini. Mengikut legenda dari kawasan ini, Sarigade, putera Raja Luwu' dari negeri
Bugis melawat kembarnya yang ...telah hidup berasingan dengan orangtuanya. Sarigade datang dengan
beberapa armada dan melabuh di Tanjung Bayolamilate yang terletak di negeri Padengo. Sarigade
mendapat tahu bahwa kembarnya telah menikah dengan raja negeri itu yaitu Hulontalangi. Karena itu
bersama-sama dengan kakak iparnya, ia setuju untuk menyerang beberapa negeri sekitar Teluk Tomini
dan membagi-bagikan kawasan-kawasan itu. Serigade memimpin pasukan berkeris sementara
Hulontalangi memimpin pasukan yang menggunakan kelewang. Setelah itu, Sarigade berangkat ke
Tiongkok untuk mencari seorang gadis yang cantik dikatakan mirip dengan saudara kembarnya.
Setelah berjumpa, ia langsung menikahinya.

Terdapat juga kisah lain yang menceritakan tentang pertemuan Sawerigading dengan Rawe. Suatu hari,
Raja Matoladula melihat seorang gadis asing di rumah Wadibuhu, pemerintah Padengo. Matoladula
kemudian menikahi gadis itu dan akhirnya menyadari bahwa gadis itu adalah Rawe dari kerajaan Bugis
Luwu'. Rawe kemudiannya menggelar Matoladula dengan gelar Lasandenpapang.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sureq_Galigo

Menurut masyarakat Gorontalo, nenek moyang mereka bernama Hulontalangi, artinya ‘pengembara
yang turun dari langit’. Tokoh ini berdiam di Gunung Tilongkabila. Kemudian dia menikah dengan
salah seorang perempuan pendatang yang bernama Tilopudelo yang singgah dengan perahu ke tempat
itu. Perahu tersebut berpenumpang delapan orang. Mereka inilah yang kemudian menurunkan orang
Gorontalo, tepatnya yang menjadi cikal bakal masyarakat keturunan Gorontalo saat ini. Sejarawan
Gorontalo pun cenderung sepakat tentang pendapat ini karena hingga saat ini ada kata bahasa
Gorontalo, yakni 'Hulondalo' yang bermakna 'masyarakat, bahasa, atau wilayah Gorontalo'. Sebutan
Hulontalangi kemudian berubah menjadi Hulontalo dan akhirnya menjadi Gorontalo.

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache%3ANr0dHvPZO30J%3Awww.gorontalo-
info.20megsfree.com%2Fasb.html+hulontalangi+tilong+kabila&cd=4&hl=id&ct=clnk&gl=id

Nama-Nama Raja Luwu yang yang terdapat dalam Silsilah Melayu dan Bugis pada masa Galigo
menurut Buku Andi Djemma Datu Luwu

1. SITI MALANGKE (Datue ri Malangke’?) ratu di tanah Bugis Silayang,


2. DATU PALINGI’I (Datu Palinge’ ?) : buku Galigo : Mutia Unru’ Datu Palinge ri Senrijawa,
permaisuri La Patiganna Aji’ Sangkuru Wira, Patoto’-e).
3. PATUTUI’ (Galigo : Patotoe, suami Mutia Unru’ Datu Palinge’, jadi bukan anaknya Datu Palinge,
nama asli La Patiganna).
4. BETARA GURU (Galigo : La Toge’langi bergelar Batara Guru, Raja Pertama Luwu’).
5. BETARA LATTO’ ( Galigo : La Tiuleng, bergelar Batara Lattu’, Raja Luwu II).
6. TATA (Galigo: La Tenritatta’, Pajung Masagalae ri Luwu’, Raja Luwu III dan terakhir pada periode
Galigo).
7. SAUNG RI WARA’ LATTALAKA (Saung ri ware’?) naskah GALIGO: SIMPURUSIANG, anak We
Tenri Abeng, saudara kembar Sawerigading, dan Remmang ri Langi’: raja pertama periode
Lontara’Sejarah)
8. SIAJANGE KURINNA (Lontara’ : ANAKAJI yang kawin dengan We Tappacina, anak Datue ri
MACCAPAI (MAJAPAHIT) : Datu Luwu II).

SOMBA OPU PERTAMA

SAWERIGADING (Galigo: La Maddukelleng To Appanyompa bergelar Sawerigading, Opunna Ware’


-tidak pernah menjadi Raja Luwu’. Ia adalah suami We Cudai Daeng Ri Sompa, Datunna Tana Ugi’
(Ratu Bugis II). LA GALIGO (Galigo: La Galigo To Padammani, Datunna Tana Ugi’ III pun tidak
pernah menjadi Raja Luwu’).
Meski tidak tercatat sebagai Raja di Luwu, nama Sawerigading justru tercatat sebagai Raja di Kerajaan
Gowa. Menurut Forum Award Clasical Studies Britannica Internet Guide Award. Sawerigading tercatat
sebagai Raja ke-3 Kerajaan Gowa. Catatan ini dapat menjadi indicator kuat bahwa yang menjadi
Somba Opu pertama adalah Sawerigading. Somba Opu dapat bermakna: Raja di Kerajaan Gowa namun
tidak pernah memerintah (jadi Raja) di Kerajaan Luwu. Berikut Silsilah Raja Gowa menurut sumber
tersebut.
First Dynasty :
# Batara Guru I
# Batara Lettu
# Saweri Gading………………………………..fl. c. 1000 ?
# Letta Pareppa
# Simpuru Siyang
# Anekaji
# Punyangkuli
# La Malolo
Second Dynasty :
# Ratu Sapu Marantaiya………………………….fl. c. 1100 ?
# Karaeng Katangka I
# Ka-Karaeng-an Bate Salapang :
1. Karaeng Garassi
2. Karaeng Katengang
3. Karaeng Parigi
4. Karaeng Siang………………………………..fl. c. 1200 ?
5. Karaeng Sidangraye
6. Karaeng Lebangan
7. Karaeng Panaikang
8. Karaeng Madulo
9. Karaeng Jampaga
Sumber: http://my.raex.com/~obsidian/seasiaisl.html

JEJAK WE TENRIABENG

Dari Buku Ritumpanna Walenrengnge, yang mengutip sumber silsilah dari Fredericy, diketahui bahwa
ketika kekosongan kekuasaan Kerajaan Luwu pasca Batara Lattu, menyusul kepergian Sawerigading
meninggalkan Luwu dan kemudian penolakan Lagaligo menjadi Raja Luwu, maka tampuk kekuasaan
Kerajaan Luwu diserahkan kepada We Tenriabeng, saudari kembar Sawerigading.
Penolakan Lagaligo bin Sawerigading menjadi Datu di Luwu memperpanjang masa kekuasaan We
Tenriabeng. Bahkan Letta Pareppa, anak We Tenriabeng buah perkawinannya dengan Remmang ri
Langi pun sempat tampil memerintah di Luwu, sebelum kekuasaan tersebut diserahkan kepada La
Tenri Tatta bin Lagaligo, sebagai orang yang berhak mewarisi Kedatuan Luwu. Usai prosesi
penyerahan kekuasaan kepada La Tenri Tatta bin Lagaligo, giliran pasutri We Tenriabeng dan
Remmang ri Langi yang meninggalkan Tana Luwu. Ke mana rimbanya? W Allahu a’lam bisshawab.
Namun tak lama setelah prosesi tersebut, lahirlah Kerajaan Siang di Pangkep. Bersamaan dengan hal
tersebut, Letta Pareppa bin Remmang ri Langi justru tampil sebagai Raja ke-4 di Kerajaan Gowa
menggantikan Sawerigading. Dan tradisi Datu di Kerajaan Tanete Barru yang merupakan penerus dari
Kerajaan Sawwammegga yang selalu di pegang dari Kaum Ibu, menjadi indikator kuat bahwa jejak
langkah We Tenriabeng sesungguhnya tercium di pesisir barat Sulawesi Selatan. Tak diragukan lagi
beliaulah yang diberi gelar Karaeng Kodingareng, pendiri Kerajaan Siang pada tahun 1112 Masehi,
sebagaimana yang dituliskan AZ. Abidin dalam buku "The Emergency of Early Kingdom in South
Sulawesi” halaman 458:
Tome Pires asserted that there were more than fifty rajahs in Sulawesi, which was abundant in food,
and that the inhabitatants of Makassar (South Sulawesi) were the greatest pirates in the world and
were much respected. M. Gordinho de Eredia, a halfcaste Portuguese, whose mother was a Bugis
noblewoman of Suppa’, gives us information that Siang is older than Gowa, and was faounded by
Godinaro (Karaeng Kodingareng?) in 1112 during the reign of Dom Alfonso, the first king of Portugal
and Pope Pascal II [Pelras 1973, unpublished lecturer]. Haji Kulle, who has read the Lontara’ Siang,
told us that the fisrt ruler of Siang called Karaeng Kodingareng was a daughter of a king of Luwu’,
eventhough he was not able to disclose the governance of Siang, except that the queen was assisted by
a council of tribal chiefs.

Usai mendirikan Kerajaan Siang dan menyerahkannya kepada anak cucunya beliau pindah ke Tenggara
dan mendirikan kerajaan di sana. Tak heran jika nama Tenriabeng di Sulawesi Tenggara pun dikenal
sebagai Tandiabe. Lagaligo di Sulawesi Tenggara menyebutkan hal tersebut. Wilayah kekuasaan pasutri
ini (Remmang ri Langi dan We Tenriabeng) sungguh sangat luas. Karena Remmang ri Langi alias
Hulontalangi adalah orang yang mendirikan Kerajaan Hulontalo (Gorontalo). Daerah kekuasan pasutri
ini memanjang dari Gorontalo hingga ke Bima. Di Bima ada dikenal sebuah Gunung bernama Gunung
Tamboro yang dapat diduga diambil dari nama Tamboro Langi alias Remmang ri Langi alias
Hulontalangi. We Tenriabeng di Gorontalo bergelar Tilo Pudelo. Hasil wawancara dengan seorang
Kepala Desa di Bone Bolango Propinsi Gorontalo, tak ada makna untuk Tilo Pudelo. Yang ada
maknanya adalah Pilo Pudelo, yang berarti “orang yang ditempati menitipkan sesuatu”. Boleh jadi
makna dari Tilo Pudelo adalah “orang yang dititipkan”. Dan We Tenriabeng sejatinya memang pernah
dititipkan ke Hulontalangi ketika Sawerigading hendak mempersunting saudara kembarnya tersebut.
Buah pernikahan Pasutri Remmang ri Langi dan We Tenriabeng melahirkan Letta Pareppa kemudian
menikah dengan Simpurutoja, saudara seibu sebapak La Galigo, alias seorang putri hasil perkawinan
Sawerigading dan We Cudai. Dari hasil perkawinan ini melahirkan Simpurusiyang, yang kemudian
menikah dengan Pati Anjala, Putri kandung dari Lagaligo. Perkawinan Simpurusiyang dan Pati Anjala
melahirkan Anakaji, yang mempersunting putri Majapahit.

AZ. Abidin dalam buku "The Emergency of Early Kingdom in South Sulawesi” halaman 463,
menuliskan dengan keterangan yang agak berbeda, sebagai berikut:
According to LSW, those vassals of Luwu’ were given as a wedding present by the Second Datu Luwu’,
Anakaji of the King of Mancapai’ (Majapahit?) We estimate that Anakaji ruled the end of the thirteenth
century. According to a Lontara’ Luwu’ kept by Andi Sumange’rukka, Datu Pattojo in Soppeng,
Lontara’ Cod Or 5449 and NB 208 of the university of Leiden and a genealogy of Andi’ Paramata in
Sengkang, his father was Simpurusiang, the first To Manurung during the Lontara’ period. Some
Lontara’ depict him as the youngest son of Sawerigading.
Perbedaan data ini boleh jadi lantaran perbedaan interpretasi akan makna kata Youngest Son of
Sawerigading. Ada yang memaknainya sebagai anak, ada yang memaknainya sebagai cucu, atau
bahkan ada yang memaknainya secara luas sebagai keturunan Sawerigading. Nah, kalau sudah
dimaknai sebagai keturunan, maka hingga berapa turunan (generasi) pun pemaknaan tersebut
tidak dapat dipersalahkan.

SEBUAH HIKMAH
Sawerigading dan Lagaligo memang tidak pernah menjadi Datu di Luwu. Namun La Tenri Tatta, anak
kandung Lagaligo, akhirnya menjadi Datu di Luwu, memenuhi keinginan leluhurnya Batara Guru dan
Batara Lattu serta segenap rakyat Luwu pada masa itu. Bahkan sumber data lain meyakininya menjadi
Payung Luwu pertama.
Datu di Luwu belum tentu seorang Payung. Tapi Payung Luwu sudah jelas seorang Datu. Ada ekstra
kompetensi yang harus dipenuhi seorang Datu jika ingin menjadi Payung. Mereka harus menempuh
ujian di “Tanah Bangkala” selama tujuh hari tujuh malam. Dan La Tenri Tatta berhasil melewati ujian
tersebut hingga dilantik menjadi Payung Luwu yang pertama.
Sejatinya, apa yang terjadi antara La Tenri Tatta bin Lagaligo dengan Letta Pareppa bin Remmang ri
Langi hanyalah pertukaran wilayah kekuasaan. Hikmah penting yang dapat dipetik dari peristiwa ini
adalah “pemenuhan amanah kepada yang berhak.” Sawerigading melalui keturunannya kembali
mendapatkan haknya, sementara We Tenriabeng melalui Letta Pareppa juga memperoleh haknya
melalui “TANAH YANG DIJANJIKAN” oleh Batara Lattu di Gowa (dulu Somba Opu).
Inilah pelajaran penting dari leluhur yang telah lama terabaikan saat ini, hingga negeri kita saat ini
terpenuhi dengan watak koruptor. Pelajaran penting lain yang dicontohkan oleh We Tenriabeng dan
Remmang ri Langi adalah kebesaran Jiwa (Karayaan/Karaengang) melepas yang bukan haknya untuk
diberikan kepada yang berhak.
Masya Allah...., leluhur orang Sulawesi rupanya telah ribuan tahun mempraktekkannya, pada saat para
generasinya ribuan tahun kemudian hanya pandai memperbincangkannya. Torang so kerja, ngana baru
bicara. Hahahaha...., bakaca ngana. (just kidding).

DAFTAR RAJA RAJA LUWU


(Sumber : Towarani 1407 Dikutip dari: Blog Gitalara)
--------------------------------------------------------------
1. Batara Guru (Londong Mawale) raja pertama
2. Batara Lattu (Putera Batara Guru)
3. Simpurusiang (Putera We Tenriabeng yang bersaudara kembar dengan Sawerigading, cucu dari
Batara Lattu) 1300
4. Anakaji (Putera Simpurusiang. Inilah yang kawin dengan putra Majapahit bernama We Tappacina)
5. Tanpa Balusu (Putera Anakaji)
6. Tanra Balusu (Putera Tanpa Balusu)
7. Toappanange (Putera Tanra Balusu)
8. Batara Guru II (Putera Toappanange)
9. Lamariawa (Putera Tanpa Balusu)
10. Datu Risaung Le’bi (Putera Batara Guru II)
11. ManinggoE ri Bajo (Putera Datu Risaung Le'bi'i)
12. Tosangkawana (Kemanakan ManinggoE ri Bajo)
13. Datu Maoge (Kemanakan Tosangkawana)
14. We Tenriawe (Sepupu sekali Datu Maoge)
15. Patiarase' 1580-1615 (Putera We Tenriawe, Raja Luwu pertama yang masuk Islam)
16. Pati Passaung Sultan Abdullah MatinroE ri Patimang Putera Patiarase'. Kawin dengan Karaeng
Balla Bugisi dari Gowa 1615 - 1637
17. Petta MatinroE ri Gowa (Putera Pati Passaung)
18. Settiaraja (MatinroE ri Tompo' tika' (Putera Petta Mattiroe ri Gowa
19. MatinroE ri Pilka (Sepupu sekali Settiaraja)
20. Settiaraja (Kedua kali jadi raja)
21. To Palaguna MatinroE ri Langkanana Putera Settiaraja. Raja inilah yang kawin dengan We
Patteketana Daeng Tanisanga (Datu Tanete XIII)
22. Batari Tungke Sultanat Fatimah MattinroE ri Patturu putri To Palaguna)
23. Batari Toja Sultanat Sitti Sainab MatinroE ri Timpuluna sepupu sekali Batari Tungke. la juga
menjadi Mangkau di Bone dan Dati di Soppeng, Istri La Patau Matanna Tikka, Raja Bone)
24. We Tenrileleang (Puteri Batari Tungke')
25. La Kaseng MatinroE ri Kaluku BodoE (Sepupu We Tenrileleang)
26. We Tenrileleang kedua kalinya menjadi Datu Luwu)
27. La Tenripeppang (Putera La Kaseng)
28. We Tenriawaru Puteri Latenri Peppang. Kawin dengan Mappoleonro, Datu Soppeng ke 28. (1765-
1820)
29. Laoddampero (Putera We Tenriawaru)
30. Patipatau Toappanyompa (Putera Laoddarnpero), MatinroE ri Tomalullu (Putera We Tenriawaru)
32. Iskandar Opu Daeng Pali (Kemanakan MatinroE ri Tomalullu).
33. Andi Kambo Opu Daeng Risompa MatinroE ri Bintara (Putera Patipatau To Appa-nyompa)
34. Andi Djemma (Putera Andi Kambo)
35. Andi Jelling (Paman Andi Djemma)
36. Andi Djemma (Untuk kedua kalinya, setelah Republik Indonesia).
---------------------------------------------------------------------------------

MENELUSURI PERIODESASI KEDATUAN LUWU

Masih banyak yang menjadi misteri akan susunan di atas. Periode Raja-raja atau Datu tersebut masih
jarang dicantumkan. Nama Dewaraja pun tidak tercantum dalam daftar. Demikian juga Putra
penggantinya yang bernama Sanggaria, pun tidak tercantum. Padahal nama kedua Raja ini dikenal
dalam berbagai Lontara Sulawesi Selatan hingga di Kerajaan-kerajaan Melayu. Jawaban atas misteri ini
dapat diduga, bahwa baik Dewaraja maupun Sanggaria adalah nama asli kedua Raja tersebut. Kedua
Raja Luwu ini tetap tercantum dalam daftar dari sumber di atas dalam bentuk gelar mereka masing-
masing. Lalu manakah gelar dari kedua Raja ini? Mari kita telusuri bersama.

PERIODESASI KERAJAAN SIANG


Dalam buku "The Emergency of Early Kingdom in South Sulawesi” halaman 458, AZ. Abidin
menuliskan:
Tome Pires asserted that there were more than fifty rajahs in Sulawesi, which was abundant in food,
and that the inhabitatants of Makassar (South Sulawesi) were the greatest pirates in the world and
were much respected. M. Gordinho de Eredia, a halfcaste Portuguese, whose mother was a Bugis
noblewoman of Suppa’, gives us information that Siang is older than Gowa, and was faounded by
Godinaro (Karaeng Kodingareng?) in 1112 during the reign of Dom Alfonso, the first king of Portugal
and Pope Pascal II [Pelras 1973, unpublished lecturer]. Haji Kulle, who has read the Lontara’ Siang,
told us that the fisrt ruler of Siang called Karaeng Kodingareng was a daughter of a king of Luwu’,
eventhough he was not able to disclose the governance of Siang, except that the queen was assisted by
a council of tribal chiefs.
AZ. Abidin dalam buku "The Emergency of Early Kingdom in South Sulawesi” halaman 463,
menuliskan dengan keterangan yang agak berbeda, sebagai berikut:
According to LSW, those vassals of Luwu’ were given as a wedding present by the Second Datu Luwu’,
Anakaji of the King of Mancapai’ (Majapahit?) We estimate that Anakaji ruled the end of the thirteenth
century. According to a Lontara’ Luwu’ kept by Andi Sumange’rukka, Datu Pattojo in Soppeng,
Lontara’ Cod Or 5449 and NB 208 of the university of Leiden and a genealogy of Andi’ Paramata in
Sengkang, his father was Simpurusiang, the first To Manurung during the Lontara’ period. Some
Lontara’ depict him as the youngest son of Sawerigading.
Sumber di atas cukup membantu menyebutkan berdirinya Kerajaan Siang pada tahun 1112 Masehi
serta periode Anakaji, Datu kedua Luwu periode Lontara’ yang ditaksir berada pada akhir abad ke-13,
atau akhir tahun 1200-an yang sangat dibutuhkan menelusuri periode Datu-datu Luwu. Hal ini relevan
dengan periode yang dicantumkan Daftar Raja Gowa yang dikeluarkan oleh Inggris di atas, yang
mencantumkan periode Simpurusiyang pada tahun 1200 Masehi, yang juga telah memberi data
periodesasi Sawerigading pada 1000 Masehi, yang relevan dengan periode We Tenriabeng pada saat
yang sama.

DEWA RAJA DATU KELALI’


Untuk menelusuri siapakah Dewaraja maupun Sanggaria, petunjuk terdekat yang dapat dipedomani
adalah PATIARASE yang berperiode 1580 – 1615. Petunjuk lain adalah periodesasi Dewaraja sendiri.
Masalah yang ditemui pada periodesasi Dewaraja adalah setidaknya ada 2 sumber berbeda yang
menuliskan periodesasi beliau. AZ Abidin dalam The Emergency of Early Kingdom in South Sulawesi
halaman 463 menuliskan:

Since Lontara’s Luwu do not mention the dates and the lengths of the king’s reigns, we have to consult
Lontara’s of Wajo’ and Bone, and the diaries of Gowa and Tallo’ (Lontara Bilang of Gowa). For
example, LSW provides us with data concerning the eleventh king of Luwu’, To Sangereng, titled
Dewaraja Datu Kelali’ (li. The King with a cockscomb), while living in (a place in Bone), he made a
treaty with the second Arung Matoa Wajo’, La O’bi’ Settiriware’. By using Noorduyn’s method (1965:
145-146) (i.e. counting backward chronologycally starting from time when Islam was adopted in Wajo’
in 1609), we are able to determine the reigns of Settiware’ and the first Arung Matoa. Thus, the reign of
Settiware’ is assigned to about 1482 to 1487. To Sangereng Dewaraja concluded a second treaty of
friendship with the fourth Arung Matoa Wajo’ La Tadampare’ Puang ri Ma’galatung (1491-1521) to
attack Sidenreng. This treaty is called Singkeru’ Patolae ri Topaccedo’, the treaty of Topaccedo’. After
Sidenreng was defeated by Luwu’ and Wajo’, the Datu Luwu’ attacked Bone, but was defeated and had
to conclude a treaty with La Tenrisukki’, the fifith king of Bone. During the last phase of the reign of
Arung Matoa Wajo’ La Tadampare’, Wage, Tampangeng Singkang (Modern Sengkang) and Tempe and
all vassals of Luwu’ were annexed by Wajo’.
SUMBER LAIN DARI MELAYU:
Kemangkatan Dewaraja, pemerintah Luwuk, menyebabkan berlakunya perbalahan dinasti. Daeng
Mantare membantu Bone menawan Luwuk di mana ketika itu pemerintahan Luwuk dituntut oleh
Sanggaria. Pada sekitar tahun 1535, Sanggaria kemudiannya mendapatkan perlindungan di Wajo'.
Kesempatan ini direbut oleh Bone dan Goa di mana Luwuk kemudiannya terpaksa menandatangani
perjanjian mengakui kekalahannya dan akan menyertai Goa, Bone dan Soppeng menentang Wajo' atas
tindakan Wajo' yang bersifat neutral ketika peperangan berlaku. Ini menyebabkan Wajo' terpaksa
menukar ikrar setia dari Luwuk kepada Goa. Sanggaria kemudiannya dibenarkan menjadi raja Luwuk
tanpa kuasa.
Sumber: http://www.sabahforum.com/forum/post157272.html

Dari kedua sumber di atas, data tentang periodesasi Sanggaria yang berada pada tahun 1535 makin
mendekatkan kita pada periode Patiarase yang dimulai tahun 1580. Bantuan yang cukup berarti
diperoleh dari tulisan ANDI ODDANG yang berjudul KERAJAAN BELAWA, NEGERI DI BATAS
PERSIMPANGAN SEJARAH. Berikut kutipannya:
Sebagaimana tersebut pada Lontara Sukkuna Wajo (LSW), bahwa pada penghujung abad XV terjadi
peristiwa Rumpa'na Sidenreng, yakni perang berkepanjangan antara Kerajaan Luwu dan Kerajaan
Sidenreng yang melibatkan kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya. Kemurkaan Pajung Luwu XVI yang
bernama La Dewaraja To Sengereng Daeng Kelalik Petta MatinroE ri Bajo pada La Pateddungi
Addaowang Addatuang Sidenreng IV mencetuskan peperangan diantara kedua negeri besar yang
berpengaruh itu. Sementara itu, Sidenreng sebagai pihak "bertahan" mendapat dukungan dari 4
kerajaan tetangganya, yaitu : Belawa, Rappeng, Bulu Cenrana dan Otting sehingga mampu bertahan
dari gempuran pasukan Luwu yang sebenarnya lebih besar. Hal inilah yang memaksa Pajung Luwu
sendiri melakukan muhibah ke Wajo untuk meminta bantuan Arung Matoa Wajo yang kala itu sedang
dijabat oleh La Tadampare' Puang ri Maggalatung. Ketika perjalanan rombongan baginda tiba di
Topaceddo', dikirimlah utusan kepada Arung Matoa sambil membawa hadiah (oleh-oleh ?) berupa : 3
orang Ata (budak), 3 pasang sampu (sarung sutera) dan 3 pasang gelang emas sebagai pembuka kata
penyampaian permohonan kiranya Arung Matoa berkenan ke Topaceddo' untuk menemui PajungngE.

Kata kunci yang sangat membantu kita menemukan siapa Dewaraja dalam Daftar susunan Raja Luwu
melalui tulisan Andi Oddang di atas adalah PETTA MATINROE ri BAJO, yang relevan dengan kata
MANINGGO E ri BAJO dalam daftar susunan di atas. Angka 1530 pada Dewaraja adalah tahun tutup
usianya. Adapun tahun kelahiran beliau belum diketahui, namun dapat ditaksir dengan melihat periode
the second Arung Matoa Wajo’, La O’bi’ Settiriware’. 1482 to 1487 atau La Taddampare’ Puang ri
Ma’galatung dari Wajo tahun 1491 – 1521 Masehi, dalam catatan AZ Abidin di atas.

KONVERSI DATA
Dengan memadukan berbagai sumber data berbeda tentang daftar Raja-raja Luwu ini, maka akan
didapatkan susunan daftar Raja-raja (Datu) Luwu sebagai berikut:
1. SITI MALANGKE
2. DATU PALINGI’I
3. PATUTUI’
4. BETARA GURU
5. BETARA LATTO’
6. WE TENRIABENG ……………………………………………1000 Masehi
7. LETTA PAREPPA …………………………………………..1110 Masehi
6. LA TENRI TATA … ………………………………………....1100 Masehi
7. SIMPURUSIANG … ………………………………………...1200 Masehi
8. ANAKAJI …………… ……………………………….Akhir 1200 Masehi
9. Tanpa Balusu (Putera Anakaji)………………… Awal 1300 Masehi
10. Tanra Balusu (Putera Tanpa Balusu)
11. To Appanange (Putera Tanra Balusu)
12. Batara Guru II (Putera Toappanange)
13. Lamariawa (Putera Tanpa Balusu)
14. Datu Risaung Le’bi (Putera Batara Guru II)
15. Dewaraja/Datu Kelali’ ManinggoE ri Bajo . Akhir 1400 – 1530 Masehi
16. Tosangkawana (Kemanakan ManinggoE ri Bajo) 1530 – 1535 Masehi
17. Sanggaria/Datu Maoge (Kemanakan Tosangkawana) 1535 – 1550 Masehi?
18. We Tenriawe (Sepupu sekali Datu Maoge)..…….1550 – 1580 Masehi
19. Patiarase' ……………………………………………….….1580 - 1615 Masehi
20. Pati Passaung Putera Patiarase'…………………..1615 – 1637 Masehi
21. Petta MatinroE ri Gowa (Putera Pati Passaung)1637 - …… Masehi
22. Settiaraja
23. MatinroE ri Pilka (Sepupu sekali Settiaraja)
24. Settiaraja (Kedua kali jadi raja)
25. To Palaguna MatinroE ri Langkanana
26. Batari Tungke
27. Batari Toja
25. We Tenrileleang (Puteri Batari Tungke')
26. La Kaseng MatinroE ri Kaluku BodoE (Sepupu We Tenrileleang)
27. We Tenrileleang kedua kalinya menjadi Datu Luwu)
28. La Tenripeppang (Putera La Kaseng) ..…………… …... – 1765 Masehi
29. We Tenriawaru Puteri Latenri Peppang...………… 1765 - 1820 Masehi
30. La Oddampero (Putera We Tenriawaru) ..………… 1820 - ….. Masehi
31. Patipatau ToAppanyompa (Putera La Oddarnpero),
32. MatinroE ri Tomalullu (Putera We Tenriawaru)
33. Iskandar Opu Daeng Pali (Kemanakan MatinroE ri Tomalullu).
34. Andi Kambo Opu Daeng Risompa (Putera Patipatau Toappanyompa)
35. Andi Djemma (Putera Andi Kambo)
36. Andi Jelling (Paman Andi Djemma)
37. Andi Djemma (Untuk kedua kalinya, setelah Republik Indonesia).

Masih banyak dari susunan Datu dari daftar di atas yang bersifat misteri karena belum teridentifikasi
periodenya. Butuh bantuan dari saudara (i) dalam forum ini untuk melengkapinya. Dan dari 37 orang
Datu yang tertulis dalam daftar ini, minimal ada 3 Raja yang dituliskan sebanyak dua kali dalam daftar
karena dua kali tampil menjadi Raja Luwu, yakni; SETTIARAJA, WE TENRI LELEANG dan ANDI
DJEMMA. Jadi sesungguhnya, jumlah Raja atau Datu yang pernah memerintah di Kedatuan Luwu
hanya ada 34 orang.

LUWU DAN GADJAH MADA


Yang sangat menantang untuk ditelusuri adalah periode antara Tanpa Balusu (Putera Anakaji) yang
berada pada awal 1300 Masehi hingga sebelum Dewaraja/Datu Kelali’ pada akhir 1400 – 1530 Masehi.
Sangat menantang, karena dalam periode inilah bersinggungan dengan periode Gadjah Mada yang
terkenal dengan Sumpah PALAPA (sebagaian lagi orang Jawa menyebutnya Sumpah PALOPO).
Periode Gadjah Mada adalah 1299-1364 Masehi. Mungkin benar Gadjah Mada tidak terlahir di Luwu
atau di Sulawesi, tapi beberapa pihak justru meyakininya sebagai orang Sulawesi, sama seperti
keyakinan beberapa sejarawan Lokal dan nasional bahwa kata PALAPA atau PALOPO ini erat
kaitannya dengan SUMPAH PALAPA (PALOPO) yang diucapkan GADJAH MADA.
Hipotesa yang penulis kembangkan adalah Gadjah Mada yang gagal mempersunting DYAH
PITALOKA karena sang putri bunuh diri, akhirnya berlabuh ke Palopo dan menanggalkan SUMPAH
PALAPA di PALOPO? Boleh jadi salah satu dari nama-nama berikut ini, yakni; Tanra Balusu (Putera
Tanpa Balusu), To Appanange (Putera Tanra Balusu), Batara Guru II (Putera Toappanange), Lamariawa
(Putera Tanpa Balusu), Datu Risaung Le’bi (Putera Batara Guru II), yang belum teridentifikasi
periodenya adalah nama lain atau gelar Sang Gadjah Mada di Kerajaan Luwu? Who was to know?
Tak ada ada salahnya berhipotesa, apalagi jika hipotesa tersebut sangat didukung oleh beberapa
keterangan-keterangan yang menguatkan hipotesa tersebut ke arah fakta. Sejarah bukanlah Agama yang
harus diyakini 100 persen. Karena “TAK ADA KEBENARAN TUNGGAL DALAM SEJARAH”.

Referensi : Dirangkum dari berbagai sumber


Wassalam..............

<Photo 4>