Anda di halaman 1dari 12

KEBUTUHAN INVESTASI DALAM PERTUMBUHAN EKONOMI

DI PROPINSI SUMATERA SELATAN

Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang amat
penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang
terjadi pada suatu negara. Pertumbuhan ekonomi akan menghasilkan
tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu, karena
pada dasarnya aktivitas perekonomian adalah suatu proses penggunaan
faktor-faktor produksi untuk menghasilkan output, maka proses ini pada
gilirannya akan menghasilkan suatu aliran balas jasa terhadap faktor
produksi yang dimiliki oleh masyarakat. Dengan adanya pertumbuhan
ekonomi maka diharapkan pendapatan masyarakat sebagai pemilik faktor
produksi juga akan turut meningkat (Susanti, dkk, 2000:23).
Selanjutnya Todaro (2000:137) menjelaskan bahwa salah satu
komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi adalah akumulasi modal
(capital accumulation), yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru
yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik, dan modal atau sumberdaya
manusia. Akumulasi modal terjadi apabila sebagian pendapatan ditabung
dan diinvestasikan kembali dengan tujuan memperbesar output dan
pendapatan dikemudian hari. Pengadaan pabrik baru, mesin-mesin,
peralatan dan bahan baku meningkatkan stok modal (capital stock) secara
fisik suatu negara dan hal itu jelas memungkinkan akan terjadinya
peningkatan output di masa-masa mendatang.
Kondisi perekonomian Propinsi Sumatera Selatan menunjukkan
perkembangan yang positif. Pada tahun 2003 Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) tanpa migas sebesar 54,748 triliun menjadi 61,119 triliun
pada tahun 2004, yaitu terjadi kenaikan sebesar 11,64 persen. Begitu juga
PDRB dengan migas telah meningkat sebesar 11,68 persen, yaitu dari
41,119 triliun pada tahun 2003 menjadi 45,925 triliun pada tahun 2004.
Perkembangan PDRB Propinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada table
1.1 di bawah ini.
Tabel 1.1
Produk Domestik Regional Bruto Propinsi Sumatera Selatan
Tahun 2000 – 2004 (Juta Rupiah)

Tahun Harga Berlaku Harga Konstan


Dengan Migas Tanpa Migas Dengan Migas Tanpa Migas
2000 39.364.118 28.174.581 12.046.769 9.910.820
2001 44.181.665 32.354.570 12.312.419 10.208.483
2002 49.807.877 37.255.863 12.785.726 10.683.893
2003 54.748.216 41.199.163 13.352.812 11.142.877
2004 61.119.726 45.925.574 14.062.247 11.766.439
Sumber : Produk Domestik Regional Bruto 2000 - 2004, BPS Sumatera Selatan,
2005.

1
Pada Tabel 1.2 dapat dilihat pertumbuhan ekonomi Propinsi
Sumatera Selatan juga mengalami pertumbuhan yang positif. Pada
tahun 2003 sebesar 5,10 persen menjadi 5,60 persen pada tahun 2004
untuk pertumbuhan ekonomi tanpa migas. Pertumbuhan ekonomi 5,60
persen tersebut didukung oleh pertumbuhan sector perdagangan, hotel dan
restoran sebesar 22,59 persen, sector gas dan air bersih sebesar 4,60
persen, sector pengangkutan dan komunikasi 28,55 persen, sector
keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 19,34 persen, serta sector jasa
14,60 persen. Terlihat bahwa struktur pertumbuhan ekonomi tahun 2004 itu
didukung oleh sector tersier. Sedangkan sector pertanian dan industri
pengolahan yang sebelumnya mendominasi struktur ekonomi, masing-
masing tumbuh sebesar 1,80 persen dan 2,25 persen. Namun demikian ,
apabila dilihat dari kontribusi masing-masing sector, struktur ekonomi
Sumatera Selatan masih didominasi oleh tiga sector utama yang selama ini
mendominasi ekonomi Sumatera Selatan, yaitu sector industri pengolahan,
hotel dan restoran 23,53 persen dan sector pertanian sebesar 16,84 persen.
Secara umum pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan dapat dilihat pada
table 1.2 di bawah ini.
Tabel 1.2
Pertumbuhan Ekonomi Propinsi Sumatera Selatan
Tahun 2000 – 2004 (%)

Tahun Dengan Migas Tanpa Migas


2000 3,52 4,50
2001 2,21 3,20
2002 3,72 4,33
2003 4,52 5,10
2004 5,31 5,60
Sumber : Produk Domestik Regional Bruto 2000 - 2004, BPS Sumatera Selatan,
2005.

Sejalan dengan upaya meningkatkan pembangunan ekonomi, maka


Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan telah menetapkan untuk terus
meningkatkan pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya. Dengan melakukan
percepatan pertumbuhan ekonomi daerah ini diharapkan akan memberi
landasan yang kuat bagi pelaksanaan pembangunan di Propinsi Sumatera
Selatan.
Dalam rangka merealisasikan program pembangunan ekonomi
Propinsi Sumatera Selatan tentunya diperlukan tambahan modal (investasi)
yang cukup untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang telah ditargetkan,
Investasi ini berdasarkan sumbernya berasal dari investasi pemerintah dan
swasta. Investasi pemerintah tercantum dalam APBD belanja pembangunan
baik yang bersumber dari APBD II, APBD I, DAU, DAK dan dari penerimaan
lainnya, investasi ini banyak digunakan untuk membangun sarana dan
prasarana umum. Investasi swasta langsung digunakan pada kegiatan
ekonomi produktif, investasi swasta dalam bentuk PMA, PMDN serta
investasi dari masyarakat lainnya.

2
Teori pertumbuhan ekonomi
Menurut Kuznets dalam Todaro (2000:144) pertumbuhan ekonomi
adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang
bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada
penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau dimungkinkan
oleh adanya kemajuan atau penyesuaian-penyesuaian teknologi, institusi
dan ideologis terhadap berbagai keadaan yang ada.
Selanjutnya ditambahkan oleh Susanti, dkk (2000:23-24) Indikator
yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi adalah tingkat
pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Ada beberapa alasan yang
mendasari pemilihan pertumbuhan ekonomi menggunakan Produk Domestik
Bruto (PDB) bukan indikator lainnya yaitu:
1. PDB merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh
seluruh aktivitas produksi didalam perekonomian. Hal ini berarti
peningkatan PDB juga mencerminkan peningkatan balas jasa kepada
faktor-faktor produksi yang digunakan dalam aktivitas produksi tersebut.
2. PDB dihitung atas dasar konsep aliran (Flow concept). Artinya
perhitungan PDB hanya mencakup nilai produk yang dihasilkan pada
suatu periode tertentu.
3. Batas wilayah perhitungan PDB adalah negara (perekonomian
domestik).
Menurut Todaro (2000:137) ada tiga faktor komponen utama dalam
pertumbuhan ekonomi dari setiap bangsa, yaitu :
1. akumulasi modal, yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi
yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik dan modal atau sumber
daya manusia;
2. pertumbuhan penduduk, yang beberapa tahun selanjutnya akan
memperbanyak angkatan kerja;
3. kemajuan teknologi.
Perhitungan pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumatera Selatan
dengan menggunakan PDRB harga konstan tahun dasar 1993, di mana
pertumbuhan PDRB dihitung setiap tahun, kemudian dicari rata-rata
pertumbuhan dengan cara menjumlahkan pertumbuhan PDRB selama
penelitian dibagi dengan tahun penelitian. Perhitungan proyeksi PDRB
menggunakan metode bunga majemuk (compounding interest factor).

Teori investasi
Investasi merupakan penambahan pembentukan modal yang
mengakibatkan terjadinya pertambahan kekayaan, investasi juga
merupakan permintaan terhadap barang dan jasa untuk menambah
kapasitas produksi sehingga meningkatkan pendapatan dimasa datang. Ada
dua tujuan utama dalam investasi yaitu untuk mengganti bagian dari
penyediaan modal yang rusak dan sebagai tambahan penyediaan modal
yang ada, pengertian investasi secara statistik dalam perhitungan
pendapatan nasional adalah seluruh nilai pembelian para pengusaha atas
barang-barang modal dan pembelanjaan untuk mendirikan industri dan

3
penambahan dalam nilai stok barang perusahaan yang berupa bahan
mentah, bahan setengah jadi dan barang jadi.
Menurut Jhingan (1999:338) bahwa investasi dalam peralatan modal
tidak saja meningkatkan produksi tetapi juga kesempatan kerja.
Pembentukan modal menghasilkan kemajuan teknik yang menunjang
tercapainya ekonomi produksi skala luas dan meningkatkan spesialisasi,
pembentukan modal menciptakan perluasan pasar dan juga akan
mengurangi kebutuhan akan modal asing, pembentukan modal pada
kenyataannya akan membantu tercapainya swasembada suatu negara dan
mengurangi beban hutang luar negeri.
Menurut Suparmoko dan Irawan (2002:262-264) ada beberapa cara
untuk meningkatkan investasi dapat dilakukan dengan jalan : (1)
meningkatkan tabungan dengan mengurangi konsumsi, cara ini dapat
dilakukan dengan cara paksa (involuntary) yaitu dengan menaikan tingkat
pajak (tax rate) tetapi ini menyebabkan tabungan sukarela (voluntary saving)
menurun karena masyarakat tetap mempertahankan konsumsinya;(2)
pemerintah menjual obligasi dengan bunga menarik sehingga masyarakat
tertarik untuk membelinya; (3) pembatasan impor barang-barang konsumsi
dan bila memungkinkan juga membatasi impor barang kapital agar ada
inovasi di dalam negeri; (4) dengan mengadakan pinjaman luar negeri; (5)
memperluas sektor perdagangan luar negeri dengan menaikkan “terms of
trade” misal bila barang-barang ekspor naik, maka kenaikan pendapatan
dari ekspor diinvestasikan kembali di dalam negeri.

Konsep rasio modal-output


Konsep rasio modal output menunjukkan hubungan antara nilai
investasi modal dan nilai output. Ia menunjukkan jumlah modal yang
diperlukan untuk memproduksi suatu unit output. Bila rasio modal-output
dalam ekonomi dikatakan 5:1, ini berarti diperlukan modal sebesar Rp5,-
untuk menghasilkan output senilai Rp1,-. Jadi ia dapat didefinisikan sebagai
suatu hubungan yang ada antara investasi yang dilakukan dan pendapatan
tahunan yang dihasilkan dari investasi tersebut. Rasio modal output ada dua
macam yaitu rasio modal output rata-rata dan rasio modal output marginal
atau inkremental. Rasio modal-output rata-rata menunjukan hubungan
antara persediaan modal yang ada dan arus output lancar yang dihasilkan.
Rasio modal-output inkremental (ICOR) menunjukkan hubungan antara
jumlah kenaikan output (∆Y) yang dihasilkan dari kenaikan tertentu pada
persediaan modal (∆K). Ini dapat digambarkan sebagai ∆Y/∆K. Dengan kata
lain rasio modal output rata-rata (ACOR) menunjukkan segala sesuatu yang
telah diinvestasikan pada masa lalu dan pada seluruh pendapatan,
sedangkan rasio marginal menunjukan segala sesuatu yang saat ini
ditambahkan pada modal atau pendapatan (Jhingan, 1999:613).
Konsep rasio modal-output dapat diterapkan tidak hanya pada
perekonomian secara keseluruhan, tetapi juga pada berbagai sektor
perekonomian. Masing-masing tergantung pada teknik (padat modal atau
padat karya) yang dipergunakan. Pada sektor yang memakai teknik rasio

4
modal-outputnya menjadi lebih tinggi jika dibandingkan dengan teknik padat
karya.
Dalam perhitungan ICOR Propinsi Sumatera Selatan menggunakan
time lag satu tahun mengingat struktur perekonomian masih didominasi oleh
sektor pertanian. Penggunaan Time lag satu tahun ini diharapkan investasi
yang ditanamkan pada suatu tahun akan menghasilkan output pada tahun
berikutnya.

Alat Analisis
Alat analisis yang digunakan dalam menghitung kebutuhan investasi
dan pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumatera Selatan ini adalah dengan
menggunakan ICOR di mana sebelum pada tahapan penghitungan
kebutuhan investasi dilakukan tahapan sebagai berikut .

Proyeksi PDRB
Untuk menghitung proyeksi PDRB, maka terlebih dahulu dilakukan
penghitungan tingkat pertumbuhan rata-rata dengan menggunakan metode
Susanti, dkk (2000:25) dengan formulasi sebagai berikut :
r (t − t − 1) + r (t 2 − t1) + .... + r (tn − tn − 1)
r=
n
di mana :
r adalah tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata setiap tahun (riil)
t1-n adalah tahun pengamatan
Selanjutnya menghitung tingkat proyeksi PDRB dengan menggunakan
formula Widodo (1990:38)
PDRBt = PDRB0 (1+r)n
di mana :
PDRBt adalah PDRB atas dasar harga konstan pada akhir periode
PDRB0 adalah PDRB atas dasar harga konstan pada awal periode
n adalah waktu pengamatan (PDRB0 ke PDRBt)
r adalah tingkat pertumbuhan riil ekonomi rata-rata setiap tahun.

Perhitungan ICOR
Dengan memperhatikan proyeksi pertumbuhan yang ingin dicapai
pada tahun-tahun mendatang maka diperlukan besaran ICOR guna
memperkirakan kebutuhan investasi. ICOR menunjukkan hubungan antara
jumlah kenaikan output (∆Y) yang disebabkan oleh kenaikan tertentu pada
stok modal (∆K), penghitungan investasi menggunakan arus barang
(commodity flow approach) atau metode tidak langsung, investasi dianggap
sama dengan pembentukan modal tetap Domestik Bruto ditambah
pembentukan stock, data ini dengan menggunakan hasil perhitungan PDRB
atas dasar harga konstan 1993, formula yang digunakan untuk menghitung
ICOR dengan menggunakan rumus Arsyad (1999:236) sebagai berikut :
∆K It
ICOR = =
∆Y PDRBt − PDRBt − 1

5
untuk perhitungan selama 5 tahun maka ICOR rata-rata dapat dihitung
dengan cara :
∑ ICORt
ICOR =
n
di mana :
∑ ICOR adalah jumlah ICOR selama periode n
n adalah jumlah tahun pengamatan
nilai ICOR tidak terlepas dari time lag yaitu suatu jarak waktu di mana
investasi yang ditanamkan baru menghasilkan output yang diinginkan, bila
investasi yang ditanamkan pada tahun yang sama diharapkan dapat
menghasilkan output, maka nilai ICOR mempergunakan rumus :
1 n It
ICORlag 0 = ∑
n j − 1 (Yt − Yt − 1)
Pada kenyataannya, investasi yang ditanamkan biasanya membutuhkan
time lag untuk menghasilkan output, maka rumus di atas dimodifikasi
menjadi :
1 n It
ICORlagS = ∑
n j − 1 (Yt + s − Yt + s − 1)
di mana :
S = 1,2,3,4,5,… merupakan time lag yang dibutuhkan investasi
untuk menghasilkan output
Maksud rumus di atas adalah investasi yang ditanamkan pada tahun t, baru
akan menghasilkan output pada tahun ke (t+s), bertambahnya output pada
tahun (t+s) merupakan hasil dari penanaman modal (investasi) pada tahun t.
Pemilihan time lag disesuaikan dengan sektor ekonomi yang dominan pada
daerah tersebut.

Perhitungan kebutuhan investasi


Investasi yang dibutuhkan dihitung dengan menggunakan rumus
Widodo (1990:24) yaitu :
I = k x g x Y x IHI
di mana :
I adalah Investasi yang dibutuhkan
k adalah ICOR
g adalah tingkat pertumbuhan riil ekonomi
Y adalah PDRB atas dasar harga konstan 1993
IHI adalah Indek harga implisit yang dihitung dengan cara sebagai
PDRBhb
berikut : IHI = X 100%
PDRBhk
di mana :
IHI adalah Indek harga implisit
PDRBhb adalah PDRB berdasarkan harga berlaku
PDRBhk adalah PDRB berdasarkan harga konstan 1993.

6
Teori pertumbuhan ekonomi
Menurut Kuznets dalam Todaro (2000:144) pertumbuhan ekonomi
adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang
bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada
penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau dimungkinkan
oleh adanya kemajuan atau penyesuaian-penyesuaian teknologi, institusi
dan ideologis terhadap berbagai keadaan yang ada.
Selanjutnya ditambahkan oleh Susanti, dkk (2000:23-24) Indikator
yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi adalah tingkat
pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Ada beberapa alasan yang
mendasari pemilihan pertumbuhan ekonomi menggunakan Produk Domestik
Bruto (PDB) bukan indikator lainnya yaitu:
4. PDB merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh
seluruh aktivitas produksi didalam perekonomian. Hal ini berarti
peningkatan PDB juga mencerminkan peningkatan balas jasa kepada
faktor-faktor produksi yang digunakan dalam aktivitas produksi tersebut.
5. PDB dihitung atas dasar konsep aliran (Flow concept). Artinya
perhitungan PDB hanya mencakup nilai produk yang dihasilkan pada
suatu periode tertentu.
6. Batas wilayah perhitungan PDB adalah negara (perekonomian
domestik).
Menurut Todaro (2000:137) ada tiga faktor komponen utama dalam
pertumbuhan ekonomi dari setiap bangsa, yaitu :
4. akumulasi modal, yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi
yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik dan modal atau sumber
daya manusia;
5. pertumbuhan penduduk, yang beberapa tahun selanjutnya akan
memperbanyak angkatan kerja;
6. kemajuan teknologi.
Perhitungan pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumatera Selatan
dengan menggunakan PDRB harga konstan tahun dasar 1993, di mana
pertumbuhan PDRB dihitung setiap tahun, kemudian dicari rata-rata
pertumbuhan dengan cara menjumlahkan pertumbuhan PDRB selama
penelitian dibagi dengan tahun penelitian. Perhitungan proyeksi PDRB
menggunakan metode bunga majemuk (compounding interest factor).

Teori investasi
Investasi merupakan penambahan pembentukan modal yang
mengakibatkan terjadinya pertambahan kekayaan, investasi juga
merupakan permintaan terhadap barang dan jasa untuk menambah
kapasitas produksi sehingga meningkatkan pendapatan dimasa datang. Ada
dua tujuan utama dalam investasi yaitu untuk mengganti bagian dari
penyediaan modal yang rusak dan sebagai tambahan penyediaan modal
yang ada, pengertian investasi secara statistik dalam perhitungan
pendapatan nasional adalah seluruh nilai pembelian para pengusaha atas
barang-barang modal dan pembelanjaan untuk mendirikan industri dan

7
penambahan dalam nilai stok barang perusahaan yang berupa bahan
mentah, bahan setengah jadi dan barang jadi.
Menurut Jhingan (1999:338) bahwa investasi dalam peralatan modal
tidak saja meningkatkan produksi tetapi juga kesempatan kerja.
Pembentukan modal menghasilkan kemajuan teknik yang menunjang
tercapainya ekonomi produksi skala luas dan meningkatkan spesialisasi,
pembentukan modal menciptakan perluasan pasar dan juga akan
mengurangi kebutuhan akan modal asing, pembentukan modal pada
kenyataannya akan membantu tercapainya swasembada suatu negara dan
mengurangi beban hutang luar negeri.
Menurut Suparmoko dan Irawan (2002:262-264) ada beberapa cara
untuk meningkatkan investasi dapat dilakukan dengan jalan : (1)
meningkatkan tabungan dengan mengurangi konsumsi, cara ini dapat
dilakukan dengan cara paksa (involuntary) yaitu dengan menaikan tingkat
pajak (tax rate) tetapi ini menyebabkan tabungan sukarela (voluntary saving)
menurun karena masyarakat tetap mempertahankan konsumsinya;(2)
pemerintah menjual obligasi dengan bunga menarik sehingga masyarakat
tertarik untuk membelinya; (3) pembatasan impor barang-barang konsumsi
dan bila memungkinkan juga membatasi impor barang kapital agar ada
inovasi di dalam negeri; (4) dengan mengadakan pinjaman luar negeri; (5)
memperluas sektor perdagangan luar negeri dengan menaikkan “terms of
trade” misal bila barang-barang ekspor naik, maka kenaikan pendapatan
dari ekspor diinvestasikan kembali di dalam negeri.

Konsep rasio modal-output


Konsep rasio modal output menunjukkan hubungan antara nilai
investasi modal dan nilai output. Ia menunjukkan jumlah modal yang
diperlukan untuk memproduksi suatu unit output. Bila rasio modal-output
dalam ekonomi dikatakan 5:1, ini berarti diperlukan modal sebesar Rp5,-
untuk menghasilkan output senilai Rp1,-. Jadi ia dapat didefinisikan sebagai
suatu hubungan yang ada antara investasi yang dilakukan dan pendapatan
tahunan yang dihasilkan dari investasi tersebut. Rasio modal output ada dua
macam yaitu rasio modal output rata-rata dan rasio modal output marginal
atau inkremental. Rasio modal-output rata-rata menunjukan hubungan
antara persediaan modal yang ada dan arus output lancar yang dihasilkan.
Rasio modal-output inkremental (ICOR) menunjukkan hubungan antara
jumlah kenaikan output (∆Y) yang dihasilkan dari kenaikan tertentu pada
persediaan modal (∆K). Ini dapat digambarkan sebagai ∆Y/∆K. Dengan kata
lain rasio modal output rata-rata (ACOR) menunjukkan segala sesuatu yang
telah diinvestasikan pada masa lalu dan pada seluruh pendapatan,
sedangkan rasio marginal menunjukan segala sesuatu yang saat ini
ditambahkan pada modal atau pendapatan (Jhingan, 1999:613).
Konsep rasio modal-output dapat diterapkan tidak hanya pada
perekonomian secara keseluruhan, tetapi juga pada berbagai sektor
perekonomian. Masing-masing tergantung pada teknik (padat modal atau
padat karya) yang dipergunakan. Pada sektor yang memakai teknik rasio

8
modal-outputnya menjadi lebih tinggi jika dibandingkan dengan teknik padat
karya.
Dalam perhitungan ICOR Propinsi Sumatera Selatan menggunakan
time lag satu tahun mengingat struktur perekonomian masih didominasi oleh
sektor pertanian. Penggunaan Time lag satu tahun ini diharapkan investasi
yang ditanamkan pada suatu tahun akan menghasilkan output pada tahun
berikutnya.

Alat Analisis
Alat analisis yang digunakan dalam menghitung kebutuhan investasi
dan pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumatera Selatan ini adalah dengan
menggunakan ICOR di mana sebelum pada tahapan penghitungan
kebutuhan investasi dilakukan tahapan sebagai berikut .

Proyeksi PDRB
Untuk menghitung proyeksi PDRB, maka terlebih dahulu dilakukan
penghitungan tingkat pertumbuhan rata-rata dengan menggunakan metode
Susanti, dkk (2000:25) dengan formulasi sebagai berikut :
r (t − t − 1) + r (t 2 − t1) + .... + r (tn − tn − 1)
r=
n
di mana :
r adalah tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata setiap tahun (riil)
t1-n adalah tahun pengamatan
Selanjutnya menghitung tingkat proyeksi PDRB dengan menggunakan
formula Widodo (1990:38)
PDRBt = PDRB0 (1+r)n
di mana :
PDRBt adalah PDRB atas dasar harga konstan pada akhir periode
PDRB0 adalah PDRB atas dasar harga konstan pada awal periode
n adalah waktu pengamatan (PDRB0 ke PDRBt)
r adalah tingkat pertumbuhan riil ekonomi rata-rata setiap tahun.

Perhitungan ICOR
Dengan memperhatikan proyeksi pertumbuhan yang ingin dicapai
pada tahun-tahun mendatang maka diperlukan besaran ICOR guna
memperkirakan kebutuhan investasi. ICOR menunjukkan hubungan antara
jumlah kenaikan output (∆Y) yang disebabkan oleh kenaikan tertentu pada
stok modal (∆K), penghitungan investasi menggunakan arus barang
(commodity flow approach) atau metode tidak langsung, investasi dianggap
sama dengan pembentukan modal tetap Domestik Bruto ditambah
pembentukan stock, data ini dengan menggunakan hasil perhitungan PDRB
atas dasar harga konstan 1993, formula yang digunakan untuk menghitung
ICOR dengan menggunakan rumus Arsyad (1999:236) sebagai berikut :
∆K It
ICOR = =
∆Y PDRBt − PDRBt − 1

9
untuk perhitungan selama 5 tahun maka ICOR rata-rata dapat dihitung
dengan cara :
∑ ICORt
ICOR =
n
di mana :
∑ ICOR adalah jumlah ICOR selama periode n
n adalah jumlah tahun pengamatan
nilai ICOR tidak terlepas dari time lag yaitu suatu jarak waktu di mana
investasi yang ditanamkan baru menghasilkan output yang diinginkan, bila
investasi yang ditanamkan pada tahun yang sama diharapkan dapat
menghasilkan output, maka nilai ICOR mempergunakan rumus :
1 n It
ICORlag 0 = ∑
n j − 1 (Yt − Yt − 1)
Pada kenyataannya, investasi yang ditanamkan biasanya membutuhkan
time lag untuk menghasilkan output, maka rumus di atas dimodifikasi
menjadi :
1 n It
ICORlagS = ∑
n j − 1 (Yt + s − Yt + s − 1)
di mana :
S = 1,2,3,4,5,… merupakan time lag yang dibutuhkan investasi
untuk menghasilkan output
Maksud rumus di atas adalah investasi yang ditanamkan pada tahun t, baru
akan menghasilkan output pada tahun ke (t+s), bertambahnya output pada
tahun (t+s) merupakan hasil dari penanaman modal (investasi) pada tahun t.
Pemilihan time lag disesuaikan dengan sektor ekonomi yang dominan pada
daerah tersebut.

Perhitungan kebutuhan investasi


Investasi yang dibutuhkan dihitung dengan menggunakan rumus
Widodo (1990:24) yaitu :
I = k x g x Y x IHI
di mana :
I adalah Investasi yang dibutuhkan
k adalah ICOR
g adalah tingkat pertumbuhan riil ekonomi
Y adalah PDRB atas dasar harga konstan 1993
IHI adalah Indek harga implisit yang dihitung dengan cara sebagai
PDRBhb
berikut : IHI = X 100%
PDRBhk
di mana :
IHI adalah Indek harga implisit
PDRBhb adalah PDRB berdasarkan harga berlaku
PDRBhk adalah PDRB berdasarkan harga konstan 1993.

10
Kesimpulan

Berdasarkan analisis sebelumnya maka dapat diambil beberapa


kesimpulan sebagai berikut .
1. Besaran rata-rata ICOR Propinsi Sumatera Selatan periode tahun 2000
sampai dengan tahun 2004 dengan menggunakan time lag satu tahun
adalah sebesar 4,55. Angka ICOR ini lebih besar jika dibandingkan
hasil penelitian di Kabupaten Sumba Timur, Propinsi Riau, Kota
Padang Panjang, tetapi lebih kecil dari Propinsi Kalimantan Timur.
Relatif besarnya ICOR Propinsi Sumatera Selatan ini antara lain
disebabkan oleh masih kurangnya sarana dan prasarana yang
tersedia, sehingga untuk menanamkan investasi di Propinsi Sumatera
Selatan perlu membangun sarana dan prasarana (Social Orverhead
capital) terlebih dahulu yang membutuhkan biaya yang tinggi.
2. Berdasarkan proyeksi pertumbuhan PDRB berdasarkan harga konstan
1993 dengan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen dan asumsi
ICOR tetap, maka kebutuhan investasi riil Propinsi Sumatera Selatan
untuk tahun 2008 adalah sebesar Rp247,377 milyar, tahun 2009
sebesar Rp276,863 milyar dan pada tahun 2010 sebesar Rp309,266
milyar. Untuk skenario pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen,
proyeksi PDRB diketahui, ICOR diasumsikan tetap, maka kebutuhan
total investasi riil baik yang berasal dari pemerintah maupun
swasta/masyarakat Propinsi Sumatera Selatan berturut-turut sebagai
berikut : untuk tahun 2008 sebesar Rp170,154 milyar, tahun 2009
sebesar Rp186,876 milyar dan pada tahun 2010 sebesar Rp204,845
milyar.

Sumber Pustaka

Arsyad, Lincolin, 1999, Pengantar Perencanaan dan Pembangunan


Ekonomi Daerah, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta.

Boediono, 1999, Teori Pertumbuhan Ekonomi, Edisi Pertama, BPFE,


Yogyakarta.

Jhingan, M.L, 1999, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, (terjemahan


oleh D. Guritno), PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Suparmoko, M dan Irawan, 2002, Ekonomika Pembangunan, Edisi keenam,


BPFE Yogyakarta.

Susanti, H., Moh. Iksan dan Widyanti, 2000, Indikator-indikator Makro


Ekonomi, Edisi Kedua, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, Jakarta.

11
Todaro, M.,P., 2000, Pembangunan Ekonomi (terjemahan oleh Haris
Munandar), Penerbit Erlangga, jakarta.

Widodo, Triyanto Suseno, 1990, Indikator Ekonomi, Dasar Perhitungan


Perekonomian Indonesia, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

12

Anda mungkin juga menyukai