Anda di halaman 1dari 8

DISTRIBUSI SPASIAL UKM

PENDAHULUAN
Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian
penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah, tidak
terkecuali di Indonesia. Sebagai gambaran, kendati sumbangannya
dalam output nasional (PDRB) hanya 56,7 persen dan dalam ekspor
nonmigas hanya 15 persen, namun UKM memberi kontribusi sekitar 99
persen dalam jumlah badan usaha di Indonesia serta mempunyai andil
99,6 persen dalam penyerapan tenaga kerja (Kompas, 14/12/2001).
Setidaknya terdapat tiga alasan yang mendasari negara
berkembang memandang penting keberadaan UKM (Berry, dkk,
2001). Alasan pertama adalah karena kinerja UKM cenderung lebih
baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produktif. Kedua,
sebagai bagian dari dinamikanya, UKM sering mencapai peningkatan
produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi. Ketiga
adalah karena sering diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam
hal fleksibilitas ketimbang usaha besar. Kuncoro (2000a) juga
menyebutkan bahwa usaha kecil dan usaha rumah tangga di Indonesia
telah memainkan peran penting dalam menyerap tenaga kerja,
meningkatkan jumlah unit usaha dan mendukung pendapatan rumah
tangga.
Alasan yang ketiga yang dikemukakan Berry dkk di atas sangat
relevan dalam konteks Indonesia pada saat mengalami krisis ekonomi.
Aspek fleksibilitas tersebut menarik pula dihubungkan dengan hasil
studi Akatiga berdasarkan survei di Jawa Barat, Jawa Tengah,
Yogyakarta, Sulawesi Utara dan Sumatra Utara. Temuan Akatiga
tersebut seperti dikutip Berry dkk (2001) adalah bahwa usaha kecil di
Jawa lebih menderita akibat krisis daripada luar Jawa, begitu pula yang
di perkotaan bila dibandingkan dengan yang di pedesaan.
Sementara itu, berdasarkan data PDRB, krisis ekonomi telah
menyebabkan propinsi-propinsi di Jawa mengalami kontraksi ekonomi
yang lebih besar ketimbang daerah-daerah lain di Indonesia. Lima
propinsi di Jawa seluruhnya adalah lima besar propinsi di Indonesia
yang mengalami kemorosotan ekonomi terparah. Pada tahun 1998,
saat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi terparah, hanya Papua
saja yang pertumbuhan ekonominya masih positif sedangkan propinsi-
propinsi lainnya mengalami kontraksi.
Dalam konteks UKM, salah satu pertanyaan yang menarik untuk
dimunculkan adalah apakah krisis ekonomi betul-betul membawa
pengaruh pada dinamika spasial UKM? Tulisan ini hanya mengamati
salah satu aspek saja dari dinamika spasial UKM, yakni distribusi
spasialnya. Dapat dikemukakan bahwa selama ini sejumlah studi
sudah dilakukan untuk mengamati distribusi spasial industri
manufaktur, khususnya yang berskala besar dan menengah, misalnya
Azis (1994), Hill (1996), Kuncoro (2000a), Sjöberg dan Sjöholm (2002).
Namun, pengamatan serupa terhadap UKM tampaknya masih belum
banyak dilakukan (Kuncoro, 2000b).

BERTAHAN DENGAN UKM


Krisis ekonomi telah menyulitkan masyarakat dalam
kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini bukanlah hal yang
mengejutkan kalau pengangguran, hilangnya penghasilan serta
kesulitan memenuhi kebutuhan pokok merupakan persoalan-persoalan
sosial yang sangat dirasakan masyarakat sebagai akibat dari krisis
ekonomi. Hasil survei yang dilakukan Bank Dunia bekerjasama
dengan Ford Foundation dan Badan Pusat Statistik (September-
Oktober 1998) menegaskan bahwa ketiga persoalan itu oleh
masyarakat ditempatkan sebagai persoalan prioritas atau harus
segera mendapatkan penyelesaian (Watterberg dkk, 1999). Dengan
kata lain, ketiga hal itu merupakan persoalan sangat pelik yang
dihadapi masyarakat pada umumnya.
Kondisi ketenagakerjaan pada masa krisis kiranya dapat
memberikan gambaran dampak sosial dari krisis ekonomi (Tabel 1).
Tingkat pengangguran mengalami kenaikan dari 4,9 persen pada
tahun 1996 menjadi 6,1 persen pada tahun 2000. Krisis ekonomi juga
telah membalikkan tren formalisasi ekonomi sebagaimana tampak dari
berkurangnya pangsa pekerja sektor formal menjadi 35,1. Dengan
kata lain, peran sektor informal menjadi terasa penting dalam periode
krisis ekonomi. sektor informal sendiri merupakan sektor dimana
sebagian besar tenaga kerja Indonesia berada.

Sementara itu, banyak diungkapkan bahwa UKM memiliki peran


penting bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi. Dengan memupuk
UKM diyakini pula akan dapat dicapai pemulihan ekonomi (Kompas.
14/12/2001). Hal serupa juga berlaku bagi sektor informal. Usaha kecil
sendiri pada dasarnya sebagian besar bersifat informal dan karena itu
relatif mudah untuk dimasuki oleh pelaku-pelaku usaha yang baru.
UKM boleh dikatakan merupakan salah satu solusi masyarakat
untuk tetap bertahan dalam menghadapi krisis yakni dengan
melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil terutama yang
berkarakteristik informal. Dengan hal ini maka persoalan
pengangguran sedikit banyak dapat tertolong dan implikasinya adalah
juga dalam hal pendapatan. Bagaimana dengan anjloknya pendapatan
masyarakat yang tentu saja mengurangi daya beli masyarakat
terhadap produk-produk yang sebelumnya banyak disuplai oleh usaha
berskala besar? Bukan tidak mungkin produk-produk UKM justru
menjadi substitusi bagi produk-produk usaha besar yang mengalami
kebangkrutan atau setidaknya masa-masa sulit akibat krisis ekonomi.
Jika demikian halnya maka kecenderungan tersebut sekaligus juga
merupakan respon terhadap merosotnya daya beli masyarakat.

Gambar di atas—disusun berdasarkan Hasil Survei Usaha


Terintegrasi yang dilakukan BPS dapat berguna untuk memberikan
gambaran bagaimana peranan UKM bagi masyarakat di masa krisis.
Survei tersebut terbatas hanya pada UKM yang tidak berbadan hukum
sehingga hasilnya dapat juga merefleksikan sektor informal. Seluruh
sector ekonomi dicakup oleh survei tersebut, kecuali sektor pertanian.
Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian, maka hasil survei
tersebut akan lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat
sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Hal ini
menjadi penting karena Watterberg dkk (1999) juga menyimpulkan
bahwa dampak sosial dari krisis ekonomi lebih terkonsentrasi di
wilayah perkotaan.
Data-data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa UKM
memiliki kemampuan untuk menjadi pilar penting bagi perekonomian
masyarakat dalam menghadapi terpaan krisis ekonomi. Hal ini tidak
lepas dari kemampuan UKM untuk merespon krisis ekonomi secara
cepat dan fleksibel dibandingkan kemampuan usaha besar (Berry dkk,
2001). Namun demikian, ada pendapat bahwa sektor informal tidaklah
memberikan perbaikan secara berarti terhadap taraf hidup para
pekerjanya. Hidup di sektor informal hanyalah hidup secara subsisten
(Basri, 2002).

DISTRIBUSI SPASIAL UKM


Seperti juga industri manufaktur besar dan menengah, distribusi
spasial UKM dalam kurun waktu 1996-2000 juga terpusat di Pulau
Jawa. Pada tahun 1996, sekitar 66 persen UKM Indonesia berada di
Jawa (Tabel 2). Sejak terjadi krisis ekonomi, UKM justru makin
memusat di Jawa, yakni menjadi sekitar 68 persen dari seluruh unit
usaha UKM yang ada di Indonesia. Dari lima propinsi di Jawa, hanya
DKI Jakarta saja yang cenderung mengalami penurunan andil,
sedangkan Jawa Tengah mengalami peningkatan secara sinambung.
Selain propinsi-propinsi Jawa, hanya Sumatera Utara dan Sulawesi
Selatan saja yang andilnya dalam jumlah UKM cukup tinggi.
Selain dari jumlah unit usaha, distribusi spasial tersebut tentu
perlu pula dilihat dari sisi tenaga kerja. Tabel 2 juga menunjukkan
bahwa krisis ekonomi mulanya menurunkan pangsa pulau Jawa,
namun mulai tahun 1998 pangsa Jawa kembali meningkat sampai
menjadi 66 persen pada tahun 2000. Sedangkan Sumatera justru
sebaliknya, yakni meningkat pada tahun 1998 namun kemudian terus
menurun sampai menjadi kurang dari 16 persen pada tahun 2000.
Untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih kuat, perkembangan
penyebaran regional dari UKM dapat dilihat dari konsentrasi
spasialnya. Konsentrasi spasial di sini menunjuk kepada
terkonsentrasinya UKM pada beberapa daerah saja. Sebagai contoh,
dalam studinya yang mengukur trend konsentrasi spasial indutri di
Indonesia 1976-1995, Kuncoro menggunakan Indeks Entropi Theil
(Kuncoro, 2000a). Sedangkan untuk kasus industri manufaktur
Indonesia 1980 dan 1996, Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan
indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser.
Kuncoro menemukan bahwa sampai sebelum tahun 1988,
konsentrasi spasial industri memiliki pola menurun, namun sejak
memasuki periode deregulasi, konsentrasi spasial tersebut justru
mengalami peningkatan. Dicatat pula bahwa peningkatan konsentrasi
spasial jauh lebih mencolok di Jawa daripada Sumatera maupun pulau-
pulau lainnya di Indonesia. Masih menurut Kuncoro (2002b), dalam
kasus Indonesia, deregulasi perdagangan bersama dengan
serangkaian deregulasi yang diterapkan justru memperkuat
konsentrasi spasial industri manufaktur.
Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan
1996, Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan
indeks Ellison-Glaeser terhadap data tenaga kerja maupun nilai
tambah yang dihasilkan industri manufaktur. Kesimpulan yang
diperoleh tidak jauh berbeda dengan temuan Kuncoro. Dari
analisisnya, Sjöberg dan Sjöholm memukan bahwa tingkat konsentrasi
spasial industri manufaktur dalam kurun waktu 1980-1996 tidaklah
berkurang. Ditambahkan pula bahwa liberalisasi perdagangan yang
dimulai tahun 1983 telah gagal menurunkan tingkat konsentrasi
industri manufaktur.
Kendati ukuran konsentrasi spasial yang digunakan berbeda,
kedua studi tersebut di atas memperoleh kesimpulan yang relatif
serupa. Dalam tulisan ini ukuran konsentrasi spasial yang digunakan
adalah indeks Herfindahl yang diterapkan baik terhadap data unit
usaha maupun jumlah pekerja UKM. Hasil perhitungan indeks
Herfindahl tersebut disajikan dalam Gambar 3.

Sebelum krisis, tingkat konsentrasi spasial unit usaha UKM


adalah 0,126. Sebagai perbandingan, indeks Herfindahl industri
manufaktur Indonesia tahun 1996 adalah 0,190 (Sjöberg dan Sjöholm,
2002). Hal ini tidak berubah banyak pada satu tahun setelah terjadi
krisis ekonomi. Namun pada tahun 1999 konsentrasi spasial unit usaha
UKM mengalami peningkatan cukup tinggi dan belum menurun secara
berarti pada tahun 2000. Namun jika dilihat dari tenaga kerja, setelah
krisis justru terjadi penurunan tingkat konsentrasi spasial kendati
relatif kecil. Tahun 1999 dan 2000, indeks Herfindahl pekerja UKM
meningkat menjadi lebih dari 0,12. Hal ini memberikan indikasi bahwa
sejak terjadi krisis ekonomi, ada kecenderungan menguatnya
konsentrasi spasial UKM di Indonesia. Kendati demikian, peningkatan
konsentrasi spasial tersebut sebetulnya relatif tidak terlalu besar.

Sumber Pustaka

Akita, T dan A. Alisjahbana, 2002, “Regional Income Inequality in


Indonesia and the Initial Impact of the Economic Crisis”. Bulletin
of Indonesian Economic Studies 38 (2): 201-222.
Basri, M. C., 2002, “Wajah Murung Ketenagakerjaan Kita”. Kompas, 25
November.
Berry, A., E. Rodriquez, dan H. Sandeem, 2001, “Small and Medium
Enterprises Dynamics in Indonesia.” Bulletin of Indonesian
Economic Studies 37 (3): 363-384.
Hill, H., 1996, Transformasi Ekonomi Indonesia Sejak 1966: Sebuah
Studi Kritis dan Komprehensif. Yogyakarta, PAU-UGM dan Tiara
Wacana.
Kompas, 2001, “Memupuk UKM, Menuai Pemulihan Ekonomi”. 14
Desember 2001.
Kuncoro, M., 2002a, Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi
dan Kluster Industri Indonesia. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Kuncoro, M., 2002b, “A Quest for Industrial Districts: An Empirical
Study of Manufacturing Industries in Java.” Makalah disajikan
dalam lokakarya Economic Growth and Institutional Change in
Indonesia during the 19th and 20th Centuries, Amsterdam 25-26
Februari.
Sjöberg, Ö dan F. Sjöholm, 2002, “Trade Liberalization and the
Geography of Production: Agglomeration, Concentration and
Dispersal in Indonesia’s
Watterberg, A., S. Sumarto, L. Prittchett. 1999. “A National Snapshot
of the Social Impact of Indonesia’s Crisis”. Bulletin of Indonesian
Economic Studies Vol 35 No 3, 145-152.