Anda di halaman 1dari 12

1

PENDEKATAN KESEIMBANGAN EKSPEKTASI RASIONAL

Pendekatan Keseimbangan Ekspektasi Rasional membahas tentang


markets clear dan tidak ada yang dapat dilakukan dengan kebijakan
moneter untuk mempengaruhi hasil produksi dan pengangguran.
Pendekatan Keseimbangan Ekspektasi Rasional dalam ekonomi makro
digambarkan dengan model pasar kerja neoklasik yang friksional
melalui teori Robert Lucas.

Unsur dalam Pendekatan Keseimbangan Ekspektasi Rasional :


Pertama, Keseimbangan Ekspektasi Rasional menekankan pada
peranan ekspektasi. Pelaku ekonomi tidak mengetahui masa depan
sehingga harus punya rencana dan keputusan untuk menentukan
harga berdasarkan prediksi atau ekspektasi secara rasional, artinya
menggunakan semua informasi semaksimal mungkin untuk
menghasilkan prediksi yang paling memungkinkan.
Kedua, model ini menekankan pada keseimbangan ; dengan asumsi
markets clear. Informasi sempurna tentang penganggur yang
berusaha mendapatkan pekerjaan dan biaya akibat perubahan harga
tidak berpengaruh.

Modelnya ekstrim karena modelnya didesain setepatnya untuk


memprediksikan yang akan terjadi pada masa depan bila tidak ada
friksi dan informasinya efisien.

Kurva penawaran tenaga kerja, NS, menunjukkan jumlah tenaga kerja


yang ditawarkan meningkat dengan upah riil. Sepanjang kurva
permintaan tenaga kerja,ND, penurunan upah riil menyebabkan
peningkatan permintaan jumlah tenaga kerja. Kondisi keseimbangan
pasar kerja pada titik E, dimana upah riil pada (W/P)* dan jumlah
tenaga kerja pada N*.

9.1. MODEL FRIKSIONAL NEOKLASIK PADA PASAR TENAGA


KERJA

Kurva permintaan tenaga kerja yang berslope negatif (ke bawah)


menunjukkan bahwa perusahaan akan menambah jumlah tenaga kerja
jika upah riil turun = semakin besar jumlah tenaga kerja yang diminta
maka semakin rendah upah riil.
Kurva penawaran tenaga kerja yang berslope positif (ke atas)
menunjukkan bahwa semakin besar jumlah tenaga kerja yang
ditawarkan maka semakin tinggi upah riil.

Perusahaan diasumsikan kompetitif dan mau membayar upah riil


sesuai VMPL. Dalam jangka pendek, modal tetap, maka MPL
diasumsikan akan menurun jika tenaga kerja ditambah terus.
Perusahaan menggunakan tenaga kerja sampai batas MPL seimbang
dengan upah riil, maka jumlah tenaga kerja akan ditambah jika upah
riil lebih rendah dari MPL (sehingga kurva permintaan tenaga kerja
berslope negatif/ke bawah).

Kurva penawaran tenaga kerja akan berslope negatif ( ke bawah) jika


tenaga kerja mau menambah jam kerja akibat upah riil naik, juga
karena kenaikan upah menyebabkan banyak orang masuk ke pasar
kerja. Akan tetapi kurva penawaran tenaga kerja akan berbentuk
vertikal (inelastis sempurna) jika jumlah tenaga kerja yang ditawarkan
tidak sensitif terhadap upah riil.

Kurva penawaran dan permintaan berpotongan di titik E dari kombinasi


antara jumlah tenaga kerja N* dan tingkat upah ( W/P)* dan
diasumsikan N* adalah fullemployment.
Artinya setiap pekerja bekerja dengan jam kerja sesuai upah riilnya di
titik E. Perusahaan menggunakan tenaga kerja sesuai keinginannya
dengan upah riil ( W/P)* di titik E. Menurut kaum Neoklasik kondisi
tenaga kerja selalu full employment N* sama dengan kondisi full
employment pada tingkat/jumlah output yang diproduksi dengan
menggunakan faktor produksi lain (modal, tanah, bahan baku) dan
tenaga kerja yang
Full employment N*.

Dalam model Friksional Neoklasik keseimbangan tingkat output tidak


tergantung tingkat harga, sehingga kurva aggregate supply berbentuk
vertikal. Pada gambar di atas menunjukkan apa yang terjadi di pasar
kerja jika ada perubahan harga. Pada harga awal berlaku full
employment N* dengan upah Wo. Ketika harga berubah dari Po ke
P1
maka upah meningkat dengan proporsi yang sama /fleksibel sehingga
upah riil tetap, dan output juga tetap.

Tentang pengangguran, teori Neoklasik menegaskan pengangguran


selalu berada pada tingkat yang natural full employment, tidak ada
pengangguran friksional murni.

9.2. PENDEKATAN MARKET-CLEARING : KURVA PENAWARAN


LUCAS

Asumsi model Neoklasik bahwa penawaran tenaga kerja tergantung


pada upah riil. Jika perusahaan dan tenaga kerja mempunyai informasi
yang lengkap, upah riil akan menyesuaikan ke tingkat (W/P)*, dimana
full employment pada N*, dan output pada Y*. Asumsi selanjutnya
bahwa pekerja dan perusahaan tidak mempunyai informasi yang sama
mengenai aggregat tingkat harga riil pada saat akan memutuskan
berapa banyak pekerjaan yang akan dilaksanakan. Perkiraan
sebelumnya bahwa perusahaan dan pekerja mengharapkan tingkat
harga menjadi Pe.
Kurva penawaran tenaga kerja NS* menunjukkan ketika pekerja
berpikir tingkat harga riil Pe. Kurva permintaan tenaga kerja ND*
menunjukkan ketika perusahaan percaya tingkat harga riil Pe juga.
Jika keduanya benar, maka jumlah tenaga kerja menjadi N*, pada
tingkat upah W*, keseimbangan upah riil (W/P)* = W*/Pe.

Selanjutnya diasumsikan bahwa perusahaan mengetahui harga aktual


P, sedangkan pekerja tidak mengetahuinya dan hanya tahu Pe.
Asumsi juga bahwa P > Pe ; upah nominal tetap. Kemudian
perusahaan menambah tenaga kerja karena upah riil lebih rendah
dari harga aktual P > Pe ; Wo/P < Wo/Pe.

Karena informasi yang tidak sempurna tersebut maka kenaikan tingkat


harga menunjukkan kenaikan jumlah tenaga kerja dadn output.
Dengan cara yang sama dapat diperkirakan jika harga aktual dibawah
tingkat harga yang diharapkan, kurva permintaan tenaga kerja akan
bergeser ke kiri , upah nominal , output dan tenaga kerja akan turun .

Model kurva Aggregat Supply yang dipengaruhi informasi tidak


sempurna menurut Robert Lucas : Y = P/Pe
dimana peningkatan output dengan P/Pe melalui mekanisme yang
berlaku, perusahaan mau membayar peningkatan supply sebagai rasio
dari peningkatan ekspektasi harga.

The Lucas Supply Curve


underpredicted Correctly overpredict
predicted ed
P/P* > 1 = 1 <
1
W/P/ < 1 = 1 >
(W/P)* 1
Y/Y* > 1 = 1 <
1

Tabel tersebut menunjukkan bagaimana upah riil aktual, jumlah


tenaga kerja , dan output berhubungan dengan P/Pe . Contohnya jika
prediksi harga terlalu tinggi sehingga harga aktual di bawah tingkat
harga ekspektasi (kolom 3) , maka upah riil aktual akan terlalu tinggi
untuk dibayarkan pada full employment dan tingkat output akan di
bawah tingkat full employment.
Penambahan pada Sisi Permintaan

Persamaan untuk tingkat harga keseimbangan sepanjang kurva


permintaan :

P = (βM ) / (Y γA)

Dalam pendekatan ini dipakai aspek Ekspektasi Rasional untuk


mengetahui bagaimana perusahaan dan pekerja membentuk
ekspektasi terhadap tingkat harga. Pendekatan Ekspektasi Rasional
berasumsi bahwa orang menggunakan semua informasi yang relevan
dalam membentuk ekspektasi terhadap variabel-variabel ekonomi.

Rumah tangga dan perusahaan mengharapkan full employment akan


berlaku. Untuk menentukan tingkat output , mereka mengetahui
tingkat harga ekspektasi. Pada tingkat harga ekspektasi :
+ tidak terdapat kesalahan ekspektasi , P = Pe , dan output pada full
employment, Y*.
+ tingkat harga selalu menyeimbangkan Aggregat Demand =
Aggregat Supply.
Implikasi dari pendekatan ekspektasi rasional adalah orang mungkin
tidak memprediksi dengan benar , tetapi mereka mengantisipasinya
dengan kesalahan sistematik.
Prediksi tingkat harga, Pe , berdasarkan ekspektasi rasional adalah :
Pe = (β.Me) / (Y* γA)

Implikasi pendekatan kurva penawaran L u c a s terhadap perbedaan


antara perubahan
yang diharapkan dengan perubahan yang tidak diharapkan pada
penawaran uang.

Gambar di atas memperlihatkan kurva penawaran dan permintaan


aggregat. Posisi kurva penawaran aggregat tergantung pada tingkat
harga ekspektasi. Pada tingkat harga awal yang diharapkan, Po, jika
penawaran uang naik maka penawaran uang yang diharapkan juga
akan meningkat. Kurva permintaan aggregat akan bergeser ke atas
sebanding persediaan uang. Tetapi tingkat output , Y*, dan kurva
penawaran aggregat, Pe naik dengan proporsi yang sama dengan
kenaikan ekspektasi pada persediaan uang.

Berdasarkan tingkat keseimbangan yang baru, E, dengan tingkat harga


,P, sama dengan Pe 1, berhubung persediaan uang banyak, tidak akan
mengubah output. Pada pasar kerja, perusahaan dan pekerja yang
mengetahui persediaan uang dan permintaan aggregat akan
meningkat dalam proporsi Pe/P∂, dan sesuai peningkatan upah
nominal.

Selanjutnya dari sisi uang yang tidak diharapkan; karena tidak ada
perubahan tingkat harga maka kenaikan persediaan uang
menyebabkan kurva permintaan aggregat bergerak ke AD’. Tetapi
karena pekerja tidak mengharapkan kenaikan harga, maka kurva
penawaran aggregat AS tidak bergeser, sehingga terjadi
keseimbangan baru E’.
6

Kebijakan Penyimpangan

Pada awalnya model L u c a s dan model Klasik meramalkan bahwa


bukan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal yang mempengaruhi
keseimbangan tingkat pendapatan pada jangka panjang. Model Lucas
lebih sedikit penyimpangannya terhadap tidak adanya pengangguran.
Tetapi dalam kondisi full employment ini terjadi penyimpangan akibat
kesalahan harapan/ekspektasi.

Pendekatan Keseimbangan Ekspektasi Rasional : Suatu


Evaluasi

Implikasi model penawaran dan permintaan aggregat pada perubahan


yang tidak di antisipasi dalam kebijakan keuangan akan
mempengaruhi output. Tetapi model Lucas bertentangan, karena :
pertama, sudut pandang metodologis model makroekonomi harus
dikembangkan dari ekonomi mikro ; kedua, ekspektasi adalah penting
dan individu harus diasumsikan membentuk harapan secara rasional.

Kebijakan pemerintah menciptakan inflasi yang tidak di antisipasi,


tidak dapat mengelabuhi perusahaan dan pekerja untuk menghasilkan
lebih banyak dari kondisi full employment. Kebijakan inflasi tidak
dapat meningkatkan produksi untuk jangka panjang.

9.3. SUATU ALTERNATIF BARU DARI KEYNESIAN

Dengan asumsi bahwa perusahaan dan pekerja menetapkan tingkat


upah yang diharapkan akan menghasilkan keseimbangan dalam pasar
tenaga kerja.
Jadi mereka menetapkan upah nominal, Wn, yang diharapkan sesuai
dengan upah riil, (W/P)*, dengan keseimbangan upah riil , Pe, adalah
tingkat harga yang diharapkan. Kemudian perusahaan dan pekerja
setuju menetapkan tingkat upah harapan untuk upah riil sesuai
dengan (W/P)*, berarti :
(Wn/Pe) = (W/P)*
dengan asumsi bahwa (W/P)* adalah seimbang dengan beberapa v* ,
kemudian upah nominal itu diatur menjadi :
Wn = v*. Pe

Setelah itu perusahaan akan berproduksi untuk pasar diambil dari


ongkos tenaga kerja. Karena diasumsikan akan mengurangi marginal
produktifitas tenaga kerja, maka perusahaan akan meningkatkan
output lebih rendah dari upah riil, atau karena upah nominal telah
ditetapkan , lebih tinggi dari tingkat harga.

Kurva penawaran aggregat dengan slope positif untuk jangka


pendek :
Y = ƒ (P / Wn)
= ƒ (P/ v*.Pe)

9.4. SIKLUS BISNIS RIIL

Pendekatan Keseimbangan Ekspektasi Rasional mengembangkan teori


keseimbangan siklus bisnis, yang menyatakan bahwa fluktuasi
terhadap output dan ketenagakerjaan merupakan hasil dari berbagai
goncangan riil dalam ekonomi, dengan pasar yang menyesuaikan
secara cepat dan berusaha agar selalu seimbang.

Perubahan output dipengaruhi oleh perubahan persediaan uang yang


tidak di antisipasi, tetapi ada juga bukti lain yang mempengaruhi,
walaupun tidak konsisten. Kolrelasi tersebut adalah hasil dari
perubahan dalam uang yang mengakomodasi perubahan output,
bukan penyebab perubahan output. Alasannya, ketika output
meningkat, sistem keuangan perbankan yang digunakan untuk
membiayai konsumsi lebih tinggi. Jadi, perubahan jumlah uang tidak
menyebabkan siklus bisnis, walaupun berhubungan.

Masalah dalam siklus bisnis riil ; Pertama, untuk menjelaskan


goncangan atau gangguan dalam perekonomian, menjadi penyebab
fluktuasi. Kedua, untuk menjelaskan mekanisme pengembangan
(propagation mechanisms).

Propagation Mechanisms (Mekanisme Pengembangan)


Mekanisme pengembangan merupakan suatu mekanisme tentang
penyebaran gangguan dalam ekonomi, dimana gangguan itu
mempengaruhi output dalam beberapa tahun.
Hal ini dapat menjelaskan mengapa orang bekerja melebihi orang lain,
selama pekerjaan mudah didapatkan dan orang yang menganggur
lebih sedikit.

Asumsi bahwa sebagian orang akan bekerja karena gaji yang relatif
lebih tinggi. Sehingga supply tenaga kerja akan lebih banyak. Tetapi
fakta bahwa upah riil tidak jauh berbeda dari siklus bisnis, maka orang
bekerja bukan karena gaji yang lebih tinggi.

Dalam teori Keynesian, perubahan ketenagakerjaan disebabkan oleh


pergeseran permintaan aggregat selagi upah riil konstan terhadap
kenaikan harga. Pengangguran terjadi karena tidak mudah
mendapatkan pekerjaan. Tetapi pendekatan keseimbangan berasumsi
bahwa perubahan output yang besar dan perubahan upah yang kecil
adalah sebagai elastisitas supply tenaga kerja yang tinggi terhadap
perubahan upah sementara.

Gangguan

Inventori, investasi dan subtitusi antar waktu dari mekanisme leisure


adalah pengembangan siklus bisnis yang diatur dengan terjadinya
gangguan keseimbangan ketenagakerjaan dan output dalam
perekonomian secara keseluruhan.

Gangguan paling utama di isolasi dengan teori keseimbangan siklus


bisnis yaitu gangguan ke dalam produktifitas, atau gangguan supply,
dan gangguan belanja pemerintah. Contoh gangguan dalam
produktifitas, perubahan output akibat input yang diberikan,
perubahan metode produksi baru. Maka orang akan bekerja lebih giat
untuk mendapat keuntungan dari meningkatnya output. Mereka juga
akan menambah investasi.
Gangguan terhadap belanja pemerintah terjadi ketika kelebihan pada
supply barang untuk kebutuhan pemerintah, individu akan bekerja
lebih giat jika upah riil naik dan akan menambah tabungan, dan juga
menambah sedikit konsumsi jika setelah inflasi tingkat bunga naik.
RINGKASAN :

1. Dengan upah dan harga yang fleksibel, menentukan


keseimbangan tingkat ketenagakerjaan dalam pasar kerja. Pasar
kerja secara terus menerus dalam keseimbangan pada tingkat
employment yang full employment. Penawaran agregat adalah
jumlah output yang dihasilkan oleh sejumlah tenaga kerja. Selama
pasar kerja dalam keseimbangan, agregat supply adalah vertikal
pada tingkat full employment dari output.

2. Satu peningkatan di dalam harga meninggalkan keseimbangan


di dalam pasar tenaga kerja yang tanpa perubahan: perusahaan
mau meningkatkan upah yang mereka membayar pada full
employment tingkat ketenaga-kerjaan sebanding dengan
peningkatan harga. Para pekerja memerlukan satu peningkatan di
dalam upah sebanding pada harga untuk menyediakan satu yang
tanpa perubahan tingkat usaha. Karenanya upah keseimbangan
naik sebanding dengan harga, dan ketenaga-kerjaan dan karenanya
ouput bersifat tanpa perubahan.

3. Pendekatan keseimbangan harapan-harapan yang masuk akal


berdasar pada informasi tidak sempurna. dengan informasi yang
tidak sempurna ada ruang untuk membuat error, tetapi tidak ada
alasan untuk membuat error bertahan atau sistematis

4. Fitur market-clearing dari pendekatan keseimbangan harapan-


harapan yang rasional dari model klasik; upah dan harga secara
penuh fleksibel. Sebagai hasilnya, pasar tenaga kerja dan pasar
produk selalu clear.
5. Model dasar pendekatan keseimbangan rational expectations
terhadap upah tertuju kepada dasar expected prices, menggunakan
semua informasi tersedia untuk meramalkan harga. Jika harga
actualy bersifat lebih tinggi dibanding yang diharapkan, perusahaan
mencari yang menguntungkan untuk mengadakan lebih banyak
pekerja dan output. Tetapi situasi-situasi ini tidak bisa bertahan
karena para pekerja akan menggunakan informasi yang baru untuk
meninjau kembali harga mereka yang naik dan meminta kenaikan
upah mereka.

6. Pendekatan keseimbangan rasional ekspektasi tidak berhasil di


dalam testing empiris. Secara rinci, uang yang diantisipasi tidak
memberikan efek pada employment yang kontradiksi dengan
hipotesis dasar.

7. Meskipun pendekatan rasional ekspektasi tidak sukses dalam


terminologi empiris, tapi menjadi bagian penting dalam makro
ekonomi. Ada tiga alasan utama. Pertama, ini merupakan suatu
konstruksi sangat rapi. Kedua, gagasan rasional ekspektasi
menarik. Mengapa agen-agen ekonomi tidak membuat ramalan
terbaik; mengapa mereka tidak menggunakan informasi secara
efisien? Ketiga, pendekatan itu dibangun atas dasar mikroekomi
yang simpel dan sederhana.

8. Pendekatan rational expectations sudah memperjelas di mana


makroekonomi harus mencari penjelasan-penjelasan pengangguran
yang persisten dan efek yang riil dari kebijakan moneter. Arah
keberhasilan paling penuh untuk melihat terhadap pasar tenaga
kerja adalah dalam pengaturan-pengaturan kelembagaan yang
mempunyai alasan-alasan ekonomi (seperti peningkatan
produktivitas.

9. Pendekatan New Keynesian membangun efek transitory dari


perubahan supply uang di gagasan di mana kontrak-kontrak
menetapkan sebelumnya upah. Sebagai hasilnya, ketika uang
meningkat yang tidak diantisipasi tetapi upah tidak bergerak, hal itu
menjadi suatu ekspansi riil paling tidak sementara.

10

10. Teori keseimbangan siklus bisnis riil menyangkal penyebab


perputaran uang di dalam siklus bisnis. Siklus itu dilihat sebagai
hasil goncangan-goncangan riil atau gangguan karena kerugian
ekonomi dan kemudian yang disebarkan pada pasar-pasar lain dan
melalui waktu. Hal yang utama dari mekanisme penyebaran adalah
subtitusi-subtitusi antar waktu dari leisure. Goncangan-goncangan
riil utama pada produktivitas dan belanja pemerintah.

11. Catatan tambahan menunjukkan bagaimana untuk


memperoleh kurva permintaan tenaga kerja dari suatu fungsi
produksi. Strategi ketenaga-kerjaan optimal perusahaan adalah
menambah tenaga kerja bila MPL sama dengan upah riil.