Anda di halaman 1dari 6

Perkembangan Perekonomian Indonesia

(Krisis Ekonomi 1997)

Pada tahun 1930, dua tahun setelah Sumpah Pemuda, 51,1 juta

penduduk pribumi (Indonesia) yang merupakan 97,4% dari seluruh

penduduk yang berjumlah 60,7 juta hanya menerima 3,6 juta gulden

(0,54%) dari pendapatan “nasional” Hindia Belanda, penduduk Asia

lain yang berjumlah 1,3 juta (2,2%) menerima 0,4 juta gulden (0,06%)

sedangkan 241.000 orang Eropa (kebanyakan Belanda) menerima 665

juta gulden (99,4%). Ketidakseimbangan pembagian pendapatan

nasional inilah yang sulit diterima para pejuang perintis kemerdekaan

Indonesia yang bersumpah tahun 1928 di Jakarta. Kemerdekaan harus

dicapai karena akan membuka jalan ke arah perbaikan nasib rakyat

dan bangsa Indonesia.

Kini setelah Indonesia merdeka 62 tahun, ketimpangan ekonomi

tidak separah ketika jaman penjajahan, tetapi konglomerasi (1987-

1994) yang menciptakan ketimpangan ekonomi luar biasa, sungguh-

sungguh merupakan ancaman berbahaya yang kemudian meledak

sebagai krisis moneter 1997.

Sebelum terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997, Indonesia

merupakan salah satu keajaiban ekonomi di Asia Tenggara dengan

keberhasilan dalam memadukan pertumbuhan ekonomi yang tinggi

dengan distribusi pendapatan yang merata. Keberhasilan ini dicapai

melalui revolusi hijau, khususnya untuk tanaman padi di pertengahan

dekade 1970-an, diikuti dengan ekspansi industri padat karya yang


sangat cepat pada pertengahan dekade 1980-an dan kemudian

dengan semakin kokohnya industri pengolahan yang berbasis ekspor

pada dekade 1990-an (UNDP Indonesia, 2001)

Memasuki pertengahan tahun 1997, kondisi perekonomian

Indonesia mengalami proses kemerosotan yang tidak pernah

diperkirakan sebelumnya atau krisis ekonomi yang disebut sebagai

titik balik pertumbuhan ekonomi menjadi merosot (Gie, 1999:9). Bank

Dunia, dalam penilaian tahunannya tentang perekonomian Indonesia

pada tahun 1998 menyatakan bahwa “Indonesia sedang dalam

keadaan krisis yang parah. Sebuah negara yang mencapai dekade-

dekade pertumbuhan cepat, stabilitas dan pengurangan kemiskinan,

sekarang mendekati kehancuran ekonomi… Tidak ada negara dalam

sejarah sekarang ini, kecuali Indonesia, yang mengalami

pemutarbalikan nasib dramatis sedemikian rupa” (Hill, 2001:337).

Semakin berkurangnya aliran modal asing ke Indonesia menjadi

satu hal yang sangat dikuatirkan akibat krisis yang terjadi. Masuknya

modal asing dipengaruhi oleh persepsi tentang bagaimana kesehatan

ekonomi Indonesia, terutama dunia usahanya. Indonesia, dalam hal

country risk, tahun 1998 pernah mendapatkan peringkat C dari

Economic Intelligent Unit dari majalah The Economist. Peringkat

tersebut lebih rendah dibandingkan dengan Thailand atau Malaysia

yang berperingkat B pada periode yang sama. Faktor-faktor yang

diperhitungkan dalam pemberian peringkat tersebut adalah politik,


fundamental ekonomi, gejolak mata uang serta dampaknya dan

ketenteraman dalam berinvestasi (Gie, 1998:180-186).

Akibat yang timbul dari hal-hal tersebut di atas terhadap

investasi adalah banyaknya investor asing yang lebih memilih untuk

menutup pabriknya di Indonesia dan memindahkannya ke luar negeri

(Malaysia, Vietnam, China) yang dianggap lebih aman untuk

berinvestasi.

Perkembangan arus penanaman modal dalam negeri dan modal

asing ke Indonesia dapat dilihat dari tabel berikut ini :

Tabel
Proyek-proyek PMA dan PMDN yang disetujui Pemerintah di Indonesia,
1995-2002
Tahun Investasi Pertumbuhan
PMA PMDN PMA+PMDN Investasi
(milyar Rp) (milyar Rp) (milyar Rp) (%)
1995 92.123,13 69.853,00 161.976,13 53.56
1996 71.326,53 100.715,20 172.041,73 6.21
1997 157.321,12 119.872,90 277.194,02 61.12
1998 108.843,88 60.749,30 169.593,18 (38.82)
1999 77.323,26 53.550,00 130.873,26 (22.83)
2000 58.404,76 17.496,50 75.901,26 (42.00)
2001 156.581,36 58.816,00 215.397,36 183.79
2002 87.514,55 25.307,60 112.822,15 (47.16)

Sumber : BPS, Statistik Indonesia, berbagai edisi

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa investasi yang dilakukan baik

oleh investor asing maupun lokal pada tahun 1998 mengalami

penurunan yang sangat tajam. Pada tahun


1997 Penanaman Modal Asing (PMA) yang disetujui sebesar

Rp157.321,12 milyar sedang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)

sebesar Rp119.872,9 milyar. Angka ini pada tahun 1998 merosot

menjadi sebesar Rp108.843,88 milyar (turun 59,9%) dan PMDN

sebesar Rp60.749,3 milyar (turun 49,32%). Pertumbuhan investasi ini

terus negatif hingga tahun 2000, selanjutnya meningkat pada tahun

2001 untuk kemudian turun lagi pada tahun 2002.

Dampak lain yang timbul dari krisis tersebut adalah

meningkatnya pengangguran sebagai akibat dari lumpuhnya sektor

formal di perkotaan (Astuti, 2002). Pertumbuhan ekonomi yang negatif

akibat dari krisis moneter yang berkepanjangan, yaitu menurut

perkiraan BPS, tahun 1998 pertumbuhan antara –13,6% s/d –15% dan

tahun 1999 pertumbuhan antara –2% s/d –5,1%, akan membuat

industri yang ada tidak mampu menciptakan kesempatan kerja yang

baru untuk menampung tambahan angkatan kerja. Penyebabnya

adalah (Darjanto, 2001), pertama, naiknya suku bunga pinjaman

membuat investor menunda untuk melakukan investasi baru. Kedua,

krisis keuangan dan ketidakstabilan politik membuat kepercayaan

investor terhadap industri perbankan mencapai titik terendah sehingga

terjadi capital flight. Ketiga, meskipun turunnya nilai tukar rupiah

terhadap mata uang lainnya mampu meningkatkan daya saing produk

nasional di pasar internasional, namun kenyataannya nilai ekspor

Indonesia tidak mengalami peningkatan yang tajam. Akibatnya capital


formation tidak terbentuk dan penciptaan lapangan kerja tidak terjadi,

bahkan yang terjadi adalah meningkatnya pengangguran, mengingat

banyak perusahaan yang mengurangi aktivitas produksinya atau

bahkan menutup usahanya.

Dalam bidang lain, harian Kompas edisi 4 September 1998

halaman 5 memberitakan bahwa krisis ekonomi menyebabkan

melonjaknya angka penduduk miskin, yang pada akhir Pelita VI bisa

ditekan hingga 11%, dan kini kembali melonjak menjadi 40%.

Akibatnya, kemampuan orang tua murid menyekolahkan anaknya

menurun. Pada tahun 1996/1997, partisipasi rata-rata anak-anak usia

7-15 tahun yang menempuh pendidikan dasar sekitar 77,26%. Akibat

krisis ekonomi, partisipasi itu turun menjadi 54% atau sama dengan

keadaan lima tahun lalu.

Berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, maka krisis yang

terjadi mengakibatkan pertumbuhan ekonomi di tahun 1998

mengalami kontraksi 13,13%. Inflasi melambung tinggi, tercatat 10,3%

pada tahun 1997 dan mencapai 77,6% pada tahun 1998. Jumlah

penduduk miskin meningkat dari 22,5 juta orang pada tahun 1996

menjadi 38 juta orang pada pertengahan 1999 (Bappenas, 1999).

DAFTAR RUJUKAN
Badan Pusat Statistik, berbagai tahun, Statistik Indonesia, BPS,
Jakarta.

Bappenas, 2000, Program Pembangunan Nasional (Propenas)


2001-2005, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta.

Darjanto, Agus, 2001, Analisis Struktural Kesempatan Kerja di


Indonesia : Sebelum dan Setelah Krisis Moneter, didownload dari
http://hayati-ipb.com

Gie, Kwik Kian, 1998, Gonjang-Ganjing Ekonomi Indonesia :


Badai Belum Akan Segera Berlalu, PT. Gramedia, Jakarta.

Gie, Kwik Kian, 1999, Ekonomi Indonesia : Dalam Krisis dan


Transformasi Politik, PT. Gramedia, Jakarta.

Hill, Hal, 2000, Ekonomi Indonesia, (Tri Wibowo BS & Hadi Susilo,
trans. Ed. Kedua), PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

UNDP Indonesia, 2001, Indonesia, Laporan Pembangunan


Manusia 2001, didownload dari http://www.undp.or.id .