Anda di halaman 1dari 5

2008 : Tahun Edukasi Ekonomi Syariah

Oleh : Agustianto
Data membuktikan, bahwa market share perbankan syariah saat ini masih sekitar 1,7 %
(Rp 31 triliun) persen dari total asset perbankan secara nasional. Angka ini menunjukkan
konstribusi perbankan syariah terhadap perekonomian Indonesia masih kecil. Bank
Indonesia melalui blue print perbankan syariah telah menargetkan share bank syariah
sebesar 5.2 persen pada desember 2008. Bertenggernya market share perbankan syariah
sejak belasan tahun di atas satu koma, karena program sosialisasi yang dilakukan masih
sangat minim (belum optimal). Artinya, sosialisasi perbankan syariah masih sangat
kurang. Masyarakat luas di berbagai segmen masih terlalu banyak belum mengerti
sistem, konsep, filosofi, produk, keuntungan dan keunggulan bank syariah.
Minimnya program edukasi perbankan syariah diakui oleh Bank Indonesia. Menurut
buku “Outlook Perbankan Syariah 2008” yang disampaikan oleh Bank Indonesia pada
acara seminar akhir tahun perbankan syariah di Bank Indonesia, bahwa kurangnya
pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang kelembagaan maupun ragam produk
dan jasa yang ditawarkan perbankan syariah dikarenakan kurang intensifnya kegiatan
edukasi (sosialisasi) yang dilakukan. Selain kurangnya sosialisasi itu, metode sosialisasi
yang ada belum tepat dan belum baik, sehingga hasilnya masih jauh dari apa yang
diharapkan.
Minimnya gerakan sosialisasi tersebut terlihat dari upaya yang dilakukan oleh Bank
Indonesia. Menurut laporan akhir tahun Bank Indonesia 2006, kegiatan sosialisasi oleh
Bank Indonesia sepanjang tahun 2006 hanyalah 51 kali. Hal itu tidak jauh berbeda
dengan tahun 2007. Sebuah upaya yang sangat minim mengingat besarnya jumlah
penduduk Indonesia. Idealnya dalam setahun bisa dilakukan minimal 5 juta kali
sosialisasi dalam setahun, bukan 51 kali. Oleh karena, program sosialisasi perlu
dilaksanakan lebih ekstra di tahun 2008, baik oleh bank Indonesia, bank-bank syariah,
akademisi dan masyarakat ekonomi syariah secara umum.
Bentuk sosialisasi perbankan syariah sangat beragam dan luas, seperti melalui media
massa cetak atau elektronik, kegiatan pameran, buletin, majalah, buku, lembaga
pendidikan, dan sebagainya. Tulisan ini, ingin menyuguhkan sebuah strategi jitu dan
paling ampuh dalam mencapai target market share perbankan syariah 5%, 10% bahkan 40
%.
Prof.Dr.M.A.Mannan, pakar ekonomi Islam, dalam buku Ekonomi Islam, sejak tahun
1970 telah mengingatkan pentingnya upaya edukasi masyarakat tentang keunggulan
sistem syariah dan keburukan dampak sistem ribawi. Dalam hal ini keseriusan Bank
Indonesia perlu dipertanyakan, karena selama ini Bank Indonesia tidak memberikan
perhatian yang berarti bagi upaya sosialisasi bank syariah, karena hanya sosilisasi
sebanyak 51 kali dalam setahun. Betul, Bank Indonesia telah mendorong secara
signifikan dari aspek regulasi seperti office channeling dan peraturan lainnya yang
mendukung berkembangnya perbankan syariah. Namun dari segi edukasi yang meluas,
masih jauh panggang dari api.
Harus diakui bahwa hampir satu juta masjid dan mushalla di Indonesia, sepi dari dakwah
ekonomi syariah, padahal di situ berkumpul puluhan bahkan seratusan juta umat Islam,
khususnya pada momentum khutbah jumat. Kesalahan besar Bank Indonesia atau juga
bank-bank syariah ialah mereka mengatakan bahwa pasar tersebut bersifat segmented
dan sudah jenuh, sehingga market share masih 1.7 % (baca Outlook Perbabkan suyariah
2008, hal, 15). Justru ceruk pasar jamaah masjid itulah yang masih terbuka luas yang
belum digarap bank-bank syariah dan belum diperhatikan Bank Indonesia. Pasar inilah
yang harus menjadi perioritas.
Di masjid berkumpul para pengusaha, hartawan, para presiden direktur, pejabat penting,
tokoh masyarakat dan sebagainya. Jangan dianggap jamaah yang shalat jumat di masjid-
masjid adalah masyarakat biasa atau tukang ojek. Tidak. Sekali-kali tidak. Ceruk pasar
lainnya adalah masjid ta’lim, kelompok bimbingan jamaah haji, pesantren dan
sebagainya.
5 juta kali sosialisasi
Sebagaimana disebut di atas, bahwa idealnya sosialisasi perbankan syariah dilakukan
sebanyak 5 juta kali dalam setahun. Asumsinya, jumlah masjid di Indonesia sekitar
600.000 buah. Jika dalam setahun hanya 1 kali sosialisasi di tiap masjid, maka
dibutuhkan 600.000 kali sosialisasi. Ingat di masjid-masid tidak cukup hanya sekali
sosialisasi., minal 3 atau 4 kali sosialisasi, agar pemahaman jamaah benar-benar
mendalam, bukan sekedar kulit. Maka jika di setiap masjid hanya dilakukan 4 kali
sosialisasi, maka dibutuhkan 2,4 juta kali sosialisasi. Belum termasuk sosialisasi terhadap
600.000 ustaz/ulamanya sebagai guru ekonomi syariah yang akan menyampaikan dakwah
ekonomi Islam. Untuk mentraining para ulama minimal dibutuhkan 6.000 kali
sosialisasi, dengan asumsi setiap sosialiasi dihadiri 100 peserta dan setiap sosialisasi
memakan waktu 3 hari.
Sosialisasi juga mutlak dilakukan berkali-kali dalam setahun kepada majlis ta’lim ibu-ibu
yang tersebar di seluruh Indonesia. Ingat, hampir di setiap desa dan kelurahan terdapat
majlis ta’lim ibu-ibu, jumlahnya ratusan ribu majlis ta’lim ibu-ibu. Jika sosialisasi keada
majlis ta’lim ibu dilakukan hanya 4 kali, maka paling tidak dibutuhkan 3.000.000 kali
sosialisasi dengan asumsi di Indonesia ada 750 ribu kelompok majlis ta’lim.
Belum lagi sosialisasi terhadap pesantren yang jumlahnya mencapai 15.000. buah yang
tersebar di Indonesia. Jika dalam setahun hanya dilakukan 1 kali kegiatan sosialisasi,
maka dibutuhkan 15.000 kali sosialisasi. Sosialisasi juga harus dilakukan kepada seluruh
seluruh Perguruan Tinggi, tidak saja kepada fakultas ekonomi dan fakultas syariah tetapi
juga ke seluruh civitas akademika, biro rektor dan sebagainya. Jumlahnya secara
keseluruhan juga tidak kurang dari 15.000.-.. Sekolah SMU juga perlu mendapat
perhatian untuk sosialisasi yang jumlahnya lebih dari 70.000 sekolah. Demikian pula
kepada seluruh sekolah Madrasah Aliyah (MAN/MAS), Tsnawiyah, . Jumlahnya lebih
dari 40.000 sekolah. Demikian pula kepada aparat pemerintah di setiap kecamatan,
kabupaten kota, para pegawai di dinas-dinas pemerintah, DPRD, instansi departemen di
tingkat propinsi dan kabupaten kota. Belum lagi kelompok KBIH (Kelompok Bimbingan
Ibadah Haji). Bahkan tidak mustahil sosialisasi kepada sekolah SD dan TK, agar bank
syariah lebih dkenal sejak awal.
Berdasarkan kebutuhan akan sosialisassi tersebut, maka tidak aneh jika saat ini
dibutuhkan 5 juta kali sosialisasi oleh para ahli dan atau ustaz yang terlatih. Iklan di
televisi, radio memang dibutuhkan, namun sosialisasinya melahirkan market yang
mengambang (floating), tidak mendalam dan siginifikan mencerdaskan umat Islam yang
mendengarnya. Maka di samping iklan media massa seperti itu, sangat diperlukan pula
edukasi langsung kepada masyarakat dengan metode dan materi yang tepat. Perlu
menjadi catatan, bahwa Bank Indonenia tidak boleh merasa bahwa sosialisasi yang
dilakukannya sudah terlalu banyak. Ini kesalahan yang sangat fatal. Sosialisasi yang
dilakukan Bank Indonesia bagaikan setetes air di tengah sungai yang besar, hampir tidak
berpengaruh bagi masyarakat secara signifikan, maka tidak aneh jika sejak beberapa
tahun terakhir market share bank shariah masih kecil. Indonesia adalah bangsa yang
besar dan negara yang luas. Penduduknya lebih dari 200 juta. Maka edukasi bank syariah
mustahil dilakukan sendirian oleh Bank Indonesia dan PKES yang dibentuknya,
ditambah promosi bank-bank syariah.
Upaya-upaya promosi dan sosialisasi itu masih sangat kecil dan terbatas. Ratusan juta
(sebagian besar) umat Islam Indonesia belum mengerti tentang sistem perbankan syariah.
Puluhan ribu ulama yang berkhutbah di mesjid belum menyampaikan materi ekonomi
syariah secara rasional, ilmiah, bernash agama dan meyakinkan umat. Hal ini karena para
ulama/ ustas belum mengerti ilmu perbankan syariah. Ratusan ribu mesjid masih sepi dari
topik ekonomi ekonomi syariah, karena para ustaznya tidak mengerti (bahkan tidak
yakin) pada keunggulan bank syariah. Malah masih terlalu banyak ulama yang
berpandangan dangkal bahkan miring tentang perbankan syariah. Seandainya para
ustaz/ulama telah dicerdaskan dengan ilmu muamalah yang ilmiah (’aqliyah) dalam
bidang perbankan, niscaya market share perbankan syariah tidak seperti saat ini, bahkan
akan tercipta customer yang rasional, bermoral dan loyal. Jika sosialisasi sudah tepat dan
benar dilakukan, hampir dipastikan tak ada jamaah masjid yang mendukung bank-bank
konvesional yang memakai bunga. Jamaah masjid di Indonesia lebih dari 100 juta umat.
Kini nasabah bank syariah masih 2 jutaan. Itu berarti hampir seluruh jamaah masjid yang
berhubungan dengan perbankan masih menggunakan bank-bank ribawi.
DPP IAEI siap dan benar-benar sanggup untuk melakukan perubahan paradigma ulama
tentang perbankan serta mentraining ulama berdasarkan pendekatan integratif, ilmu-ilmu
syariah dan ekonomi. Ilmu-ilmu syariah dakam hal ini bukan hanya fiqh muamalah,
tetapi perangkat ilmu-ilmu alat yang sering menjadi andalan para ulama, seperti ilmu
tafsir, hadits, ushul fiqh, qawaid fiqh, falsafah tasyri’, falsafah hukum Islam. Kesemuanya
digabungkan dengan ilmu-ilmu modern, ilmu ekonomi moneter, perbankan dan ilmu
ekonomi makro.
Pendekatan Komprehensif
Selama ini pendekatan sosialisasi belum utuh dan integratif, masih parsial dan tidak
tuntas, sehingga virus keraguan para ulama dan masyarakat tentang perbankan syariah
tidak hilang. Senjata sosialisasi yang ada selama ini belum ampuh menaklukkan ilmu
para ulama, akademisi dan tokoh agama. Maka diperlukan modul dan materi yang telah
terbukti ampuh berhasil merubah paradigma ulama dan myakinkan mereka secara
rasional, ilmiah, tajam dan disertai pendekatan ilmu-ilmu syariah itu sendiri.
Jika personil Bank Indonesia atau pun bank syariah yang berasal dari pendidikan umum
memberikan sosialisasi kepada para ulama pesantren, maka ulama bisa saja menolak
berdasarkan ilmu ushul fiqh atau disiplin ilmu syariah lainnya. Para ulama menggangap
bahwa para bankir dari Bank Indonesia dan bank syariah tidak ahli dalam tafsir ayat-ayat
al-quran, hadits, ilmu ushul fiqh, tarikh tastri’ dan sebagainya. Karena itu, pendekatan
kepada ulama haruslah melalui pendekatan ilmu-ilmu syariah sendiri ditambah ilmu-ilmu
moneter dan perbankan secara utuh.
Sebaliknya jika ulama pesantren yang melakukan sosialisasi, juga tidak cukup karena
pendekatannya sering dengan ideom halal haram, penggunaan dalil naqli an sich dan
kering dari teori-teori rasional yang ilmiah atau tidak ada informasi ilmiah yang
dilekatkan kepada syariah.

Sosialisasi kepada umat, bukan melulu pendekatan religius normatif (emosional) dan
karena lebel syariah, tetapi lebih dari itu, sebuah materi yang berwawasan ilmiah,
rasional dan obyektif. Jadi, gerakan edukasi dan pencerdasan secara rasional tentang
perbankan syariah sangat dibutuhkan, bukan hanya mengandalkan kepatuhan (loyal) pada
syariah. Masyarakat yang loyal syariah terbatas paling sekitar 10-15 %. Masyarakat harus
dididik, bahwa menabung di bank syariah, bukan saja karena berlabel syariah, tetapi lebih
dari itu, sistem ini dipastikan akan membawa rahmat dan keadilan bagi ekonomi
masyarakat, negara dan dunia, tentunya juga secara individu menguntungkan. Dalam
edukasi, masyarakat betul-betul dicerdaskan, masyarakat diajak agar tidak berpikir
sempit, tetapi rasional, obyektif, berpikir untuk kepentingan jangka panjang.
Karena informasi keilmuan yang terbatas, masyarakat masih banyak yang menyamakan
bank syariah dan bank konvensional secara mikro dan sempit. Masyarakat (publik) masih
banyak yang belum mengerti betapa sistem bunga, membawa dampak yang sangat
mengerikan bagi keterpurukan ekonomi dunia dan negara-negara bangsa. Karena itu
sistem syariah harus dibangun secara bertahap, terprogram dan terukur dengan target-
target yang realistis.
Jika masyarakat masih menganggap sama bank syariah dengan bank konvensional, itu
berarti, masyarakat belum faham tentang ilmu moneter syariah, dan ekonomi makro
syariah tentang interest, dampak bunga terhadap inflasi, produktitas, unemployment,
juga belum faham tentang prinsip, filosofi, konsep dan operasional bank syari’ah.
Menggunakan pendekatan rasional sempit melalui iklan yang floating (mengambang)
hanya menciptakan custumer yang rapuh dan mudah berpindah-pindah. Maka perlu
menggunakan pendekatan rasional komprehensif, yaitu pendekatan yang menggabungkan
antara pendekatan rasional, moral dan spiritual.
Pendekatan rasional adalah meliputi pelayanan yang memuaskan, tingkat bagi hasil dan
margin yang bersaing, kemudahan akses dan fasilitas. Pendekatan moral adalah
penjelasan rasional tentang dampak sistem ribawi bagi ekonomi negara, bangsa dan
masyarakat secara agregat, bahkan ekonomi dunia. Maka secara moral, tanpa
memandang agama, semua orang akan terpanggil untuk meninggalkan sistem riba.
Pendekatan spiritual adalah pendekatan emosional keagaaman karena sistem dan label
syariah. Pendekatan ini cocok bagi mereka yang taat menjalankan agama, atau
masyarakat yang loyal kepada aplikasi syariah. Upaya membangun pasar spiritual yang
loyal masih perlu dilakukan, agar sharenya terus meningkat. Semakin gencar sosialisasi
membangun pasar spiritual, maka semakin tumbuh dan meningkat asset bank-bank
syariah.
Jika Bank Indonesia dan bank-bank syariah bekerjasama dengan IAEI (Ikatan Ahli
Ekonomi Islam) dan para akademisi serta ulama secara serius dalam mengedukasi
masyarakat, maka akan terjadi kemajuan yang luar biasa, tidak saja loncatan hebat dalam
market share bank syariah, tetapi juga terbangun kecerdasan umat dalam memilih
lembaga perbankan secara ilmiah dan istiqamah.
Penutup
Mengingatnya minimnya gerakan sosialisasi bank syariah dan kecilnya market sharenya
(1, 7%), maka tahun 2008 hendaknya dijadikan sebagai tahun edukasi ekonomi syariah.
Jika gerakan edukasi dan sosialisasi dilakukan secara optimal dan tepat, maka market
share bank syariah 5,2 persen, bisa dicapai dengan cepat dengan basis nasabah yang
istiqamah, bermoral dan rasional, tidak mudah berpindah-pindah ke bank konvensional
karena kenaikan suku bunga perbankan konvensional. Upaya Bank Indonesia mendesak
bank-bank konvensional yang membuka office channeling agar menempelkan logo
(spanduk) adanya layanan syariah di kantor bank konvensional, sangat bagus, namun
masyarakat harus dicerdaskan mengapa harus memilih bank syariah. Kita tidak ingin
terjadinya pemilihan ke bank syariah karena ikut-ikutan, tanpa dasar ilmu pengetahuan,
atau karena emosional saja. Nasabah seperti ini mudah kecewa dan menyebarkan
kekecewaaannya kepada orang lain, sehingga menimbulkan citra buruk bagi bank-bank
syariah. Padahal kekecewaaanya tersebut seringkali karena salah faham atau kurang
mengerti tentang perbankan syariah. Insya Allah kita sangat siap membantu pencerdasan
masyarakat tentang perbankan syariah tersebut, dan di beberapa daerah telah telah
dibuktikan secara faktual keberhasilannya.
(Penulis adalah Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia, Dosen Pascasarjana
Ekonomi dan Keuangan Islam UI, Pascasarjana Islamic Economics and Finance
Universitas Trisakti, Pascasarjana Bisnis dan Keuangan Islam Universitas Paramadina
dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Konsentrasi Perbankan Syariah).)