Anda di halaman 1dari 2

BPD Sumsel Syariah Terapkan Office Channelling

JAKARTA - Republika : Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sumsel Syariah berencana


membuka layanan syariah di sekitar 36 kantor cabang (KC) dan kantor cabang pembantu
(KCS) bank induk konvensionalnya office channelling, (OC) April mendatang.

Penerapan OC bertujuan untuk mendorong penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) bank
syariah yang baru berusia satu tahun itu. ”Rencananya, kami akan menerapkan office
channelling April mendatang,” kata Kepala Divisi Syariah BPD Sumsel, Saekan Noor,
Sabtu, (3/3).

Saekan menyebutkan, penerapan OC dilakukan berdasarkan hasil pengkajian BPD


Sumsel Syariah beberapa waktu lalu yang memperoleh kesimpulan provinsi Sumatera
Selatan berpotensi mengembangkan bisnis perbankan syariah cukup besar. Karena itu,
BPD Sumsel Syariah memutuskan menerapkan OC pada April mendatang.

Menurut Saekan, penerapan OC telah masuk dalam rencana bisnis perbankan BPD
Sumsel Syariah tahun ini. Rencananya, BPD Sumsel Syariah akan mengajukan
permohonan izin penerapan OC kepada BI dalam waktu dekat. Ia meyakini penerapan
OC dapat mendorong perkembangan bisnis perbankan syariah di Provinsi Sumsel.

Hingga Desember 2006, BPD Sumsel Syariah telah melakukan penghimpunan dana
pihak (DPK) sebesar Rp 12 miliar. Sedangkan, penyaluran pembiayaan BPD Sumsel
Syariah hingga Desember 2006 lalu tercatat sebesar Rp 48 miliar. Sementara, aset BPD
Sumsel per Desember 2006 tercatat sebesar Rp 60 miliar dengan modal disetor sebesar
Rp 7 miliar.

Saekan menyebutkan, rasio pembiayaan terhadap DPK atau financing to deposit ratio
(FDR) per Desember 2006 tercatat berada pada level level 100 persen lebih dengan rasio
pembiayaan bermasalah atau non performing financing, (NPF) BPD Sumsel Syariah
tercatat nol persen. Sedangkan, hingga Desember tahun lalu, BPD Sumsel mencetak laba
sebesar Rp 200 juta.

BPD Sumsel Syariah resmi beroperasi sejak Januari 2006 berdasarkan persetujuan Bank
Indonesia (BI) No. 7/158/DPIP/Prz/Pg tertanggal 7 Desember 2005. Mengenai bank
induk konvensionalnya, BPD Sumsel telah lama mendapatkan sertifikat manajemen mutu
ISO 9001:2000 pada November 2005 lalu.

Perlu sosialisasi
Menanggapi rencana penerapan OC oleh BPD Sumsel, Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi
Islam (IAEI), Agustianto berpendapat efektifitas OC sangat bergantung pada optimal
tidaknya sosialisasi dan edukasi layanan tersebut bagi masyarakat. Bila sosialisasi tidak
berjalan optimal, maka ia meyakini OC tidak akan memberikan kontibusi signifikan bagi
perkembangan BPD Sumsel Syariah. ”Jadi, OC bisa berdampak positif jika disertai
sosialisasi dan edukasi pada masyarakat,” katanya.
Agustianto menilai penerbitan PBI NO/8/3/2006 tentang OC sebetulnya lebih didorong
oleh keinginan regulator dan praktisi untuk mengembangkan perbankan syariah. Karena
itu, perkembangan DPK perbankan syariah hingga kini masih biasa saja. ”Saya kira
industri perbankan syariah termasuk BI kurang memperhatikan dari cara pandang
masyarakat. Menurut saya, seharusnya sebelum OC diterbitkan, sosialisasi harus optimal
dilakukan sehingga banyak masyarakat yang menyimpan dananya di bank syariah,”
katanya.

Berdasarkan data publikasi BI, DPK perbankan syariah per Januari lalu tercatat
meningkat menjadi Rp 20,514 triliun dari DPK per Januari 2005 Rp 15,135 triliun.
Sedangkan, pembiayaan per Januari lalu tercatat meningkat menjadi Rp 20,219 triliun
dari pembiayaan per Januari 2005 Rp 15,135 triliun. Sementara, aset perbankan syariah
per Januari lalu tercatat meningkat menjadi Rp 26,949 triliun dari aset per Januari 2005
Rp 20,585 triliun.

Data publikasi BI juga menyebutkan, dari total DPK per Januari lalu, simpanan deposito
mudarabah (bagi hasil) masih mengkomposisi sebesar 51,98 persen atau Rp 10,663
triliun. Sedangkan, tabungan mudarabah mengkomposisi 32,05 persen atau Rp 6,574
triliun. Sementara, giro wadiah mengkomposisi sebesar 15,98 persen dari total DPK bank
syariah.n aru
DIPOSTING OLEH Agustianto | April 25, 2008