Anda di halaman 1dari 4

Dampak Riba terhadap BBM

Oleh : Agustianto
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada masa yang lalu, sebesar rata-rata 125
% yang dilakukan pemerintah benar-benar menjadi pukulan telak bagi rakyat banyak dan
bangsa Indonesia Kenaikan BBM sebesar itu, telah menimbulkan inflasi secara luar
biasa, lebih dari 15 %. Sedangkan harga-harga kebutuhan pokok jauh melebihi angka
inflasi tersebut. Dengan menaikkan minyak, pemerintah tidak hanya memaksa rakyat
untuk memikul dampak kenaikan harga BBM terhadap peningkatan harga-harga
kebutuhan pokok, tetapi juga memaksa 42 juta usaha kecil menengah menggantungkan
kelangsungan usaha mereka pada harga minyak.
Menurut keterangan pemerintah sebagaimana terungkap dalam iklan besar di berbagai
media, bahwa keputusan pahit itu terpaksa diambil pemerintah untuk menyelamatkan
APBN dari tekanan peningkatan subsidi BBM yang antara lain dipicu oleh kenaikan
harga minyak mentah di pasar internasional dan ditambah kenaikan nilai tukar dollar
terhadap rupiah.
Sepintas lalu, penjelasan pemerintah itu memang tampak masuk akal. Namun bila bila
dianalisa secara akurat, seksama dan mendalam, ternyata argumentasi tersebut masih
lemah, sangat tidak masuk akal dan tidak adil. Akal pemerintah tertutup oleh kebenaran.
Padahal ada solusi ampuh agar minyak tidak naik, sekalipun di dunia internasional
harganya melangit. Sebagai negara produsen minyak yang Maret lalu baru saja
menaikkan harga BBM sebesar rata-rata 30 %, kenaikan harga minyak di pasar dunia
semestinya tidak secara langsung berpengaruh terhadap beban APBN dari sisi
pengeluaran (belanja) negara, karena ia pasti diimbangi oleh pengningkatan penerimaan
negara dari sisi pendapatan negara.
Alasan pemerintah mengurangi subsidi BBM (menaikkan BBM), karena untuk
mengurangi APBN benar-benar aneh. Ingat, kenaikan BBM sebesar 130 %, hanya
mengemat APBN Rp 24 triliun, yaitu menekan subsidi BBM dari Rp 113 triliun menjadi
Rp 89 triliun. Namun dengan asumsi bahwa sekurang-kurangnya setengah dari seluruh
konsumsi BBM nasional berasal dari eksplorasi di dalam negeri, nilai tunai penghematan
subsisdi BBM sesungguhnya tidak lebih dari Rp 12 triliun.
Sekarang coba bandingkan nilai penghematan subsidi BBM terhadap APBN dengan
subsisdi APBN untuk para konglomerat pemilik bank raksasa dan bank-bank ribawi
lainnya. Jumlah subsidi untuk bank-bank papan atas yang dimiliki orang-orang kaya di
negeri ini ditambah bank-bank rekap lainnya, sangat besar, jauh melebihi penghemastan
subsidi BBM atas APBN.
Untuk mensubsisi orang kaya tersebut, pemerintah menguras anggaran sebesar RP 72
triliun. Mengapa harus ada subsidi untuk orang-ortang kaya pemilik bank-bank raksasa.?
. Ini perlu dijelaskan dalam tulisan ini, agar rakyat menjadi cerdas dan mengerti masalah
dan akar naiknya harga BBM yang sesungguhnya.
Mengapa APBN mensubsidi orang kaya ?
Bahwa krisis moneter yang menghantam Indonesia pada tahun 1997, telah
menggoncangkan lembaga perbankan di Indonesia. Nilai rupiah yang pada mulanya
setara dengan Rp 2.445, meningkat secara tajam menjadi Rp 17.000-an. Dalam masa
yang panjang, nilai rupiah ini bertenggger di atas Rp 10.000.-. Kondisi ini membuat
lembaga perbankan terpaksa menaikkan suku bunga secara tajam pula, yaitu mencapai 70
%. Akibatnya lembaga perbankan konvensional kesulitan mengembalikan bunga
tabungan/deposito nasabah, sementara pendapatannya lebih kecil dari kewajibannya
untuk membayar bunga, ditambah lagi kredit macet akibat krisis moneter. Inilah yang
disebut dengan negative spread yang berarti lembaga perbankan terus-menerus merugi
dan modalnya semakin terkuras yang pada gilirannya berakibat pada likuidasi sejumlah
bank.
Bank-bank raksasa yang memiliki nasabah jutaan orang, yang kekurangan modal,
terpaksa direkap (disuntik modal) oleh pemerintah melalui Bank Indonesia dengan BLBI
(Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) sejumlah sekitar Rp 400 triliun. Kalau tidak
dibantu, pastilah bank-bank rekap itu mati/tutup karena CARnya di bawah standart yang
ditetapkan pemerintah (8 %).

Karena pemerintah tidak memiliki uang cash/riil, maka pemerintah membantu modal
bank konvensional itu dalam bentuk obligasi. Kalau namanya obligasi, pastilah memiliki
bunga. Bunga ini selanjutnya kembali menjadi beban pemerintah yang tak lain adalah
dana APBN. Dana APBN adalah milik rakyat dan bangsa Indonesia, bukan milik para
konglomerat pemilik bank. Membantu modal bank ribawi itu, berarti membantu para
kapitalis (pemilik dana).
Besarnya kewajiban pemerintah membayar bunga obligasi kepada bank-bank rekap
sangat luar biasa. Pada tahun 2001 saja, bunga obligasi yang harus dibayar APBN sebesar
Rp 61,2 Triliyun . Dan ini berlanjut terus setiap tahun sampai sekarang, walaupun
cenderung semakin mengecil. Oleh karena beban membayar bunga itu, tidak
mengherankan jika APBN kita defisit terus menerus. Pada tahun 2002 APBN defisit Rp
54 triliun. Pada tahun 2003 defisit Rp 45 triliun, pada tahun 2004 difisit Rp 35 triliun.
Masih defisitnya APBN tahun 2004 yang lalu, karena dana APBN masih dikuras bunga
bank sebesar Rp 68 Trilyun. Pada tahun 2005 APBN kita dikuras sebesar Rp 72 triliun
untuk perbankan ribawi.
Membayar Bunga SBI
Selain kewajiban membayar bunga obligasi, pemerintah juga berkewajiban untuk
membayar bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia) kepada lembaga-lembaga perbankan
yang menempatkan dana rakyat di Bank Indonesia. Pada tahun 2002 besar bunga SBI 17
%. Kini telah berada di atas 12.25 %. Penempatan dana tersebut dilakukan oleh bank-
bank pemerintah maupun bank-bank swasta. Dana masyarakat yang ditabung di lembaga
perbankan ternyata lebih banyak disimpan di Bank Indoenesia, sehingga fungsi
intermediasi perbankan saat itu lumpuh
Hal itu terlihat dengan jelas pada LDR lembaga perbankan konvensional yang masih
sangat rendah. Pada tahun 2001-2003, LDR bank konvensional berkisar, sekitar 30 – 40
%. Ini berarti bahwa hanya 30-40 % saja tabungan masyarakat yang disalurkan, padahal
sektor riel mengharapkan bantuan modal. Sisanya 60 – 70 % terperangkap pada kegiatan
riba yang jelas menjadi beban pemerintah yang pada gilirannya menjadi beban rakyat.
Lembaga perbankan yang menempatkan uangnya di Bank Indonesia, akan mendapatkan
bunga SBI. Pada tahun 2001-2002, bunganya mencapai 17 % . Bayangkan, pada saat itu
dana bank konvensional yang disimpan di SBI mencapai Rp 500 Trilyun. Dengan
demikian, pemerintah berkewajiban membayar bunga SBI sebesar 17 % x Rp 500 triliun,
yaitu Rp 85 Trilyun, untuk satu tahun. Uang sebesar ini jelas menjadi beban APBN. Oleh
karena itu tak mengherankan jika APBN dari tahun ke tahun terus mengalami defisit.
Kondisi ini berlangsung selama hampir tiga tahun. Untunglah sejak tahun 2003 bunga
SBI mengalami penurunan secara bertahap. Pada awal tahun 2004 bunganya berkisar 8-9
%. Meskipun demikian, angka ini ini tetap menggerogoti uang negara. Apalagi bunga
SBI menaik di atas 12 % sekarang ini.
Beban APBN
Yang perlu dicatat dan menjadi keprihatinan besar di sini adalah, bahwa pembayaran
bunga obligasi dan bunga SBI dibebankan kepada rakyat. Dana APBN yang seharusnya
digunakan untuk kesejahteraan rakyat, malah digunakan untuk membantu bank-bank
raksasa.
Lebih dari itu, kewajiban membayar bunga obligasi dan bunga SBI telah membuat
APBN defisit. Untuk mengatasi defisit APBN pemerintah terpaksa berhutang ke
lembaga-lembaga ribawi internasional. Padahal hutang Indonesia telah mencapai titik
yang membahayakan ketika itu. Apabila pada tahun 2002 saja, hutang Indonesia total Rp
1401 Trilyun, (hutang luar negeri Rp 742 Trilyun, hutang dalam negeri sebesar Rp 659
Trilyun, maka pada tahun 2003, hutang Indonesia telah mencapai Rp 2000 Trilyun. Jika
kita hanya mampu membayar hutang tersebut Rp 2 Trilyun setahun, berarti hutang luar
negeri itu baru lunas lebih dari seribu tahun, itupun kalau tidak ditambah hutang baru.
Hutang ini, jelas menjadi beban cucu dan cicit kita di masa depan, yang diprediksikan 20
turunan generasi ke depan masih menanggung hutang dan bunga ini
Pada tahun 2004, Indonesia menambah hutang baru lebih dari 3 milyar dolar AS. Setiap
tahun bangsa Indonesia harus menambah hutang, untuk menutupi defisit APBN. Hutang
ini jelas menjadi beban yang berat bagi generasi Indonesia mendatang.

Selain meninggalkan beban hutang yang besar bagi generasi mendatang, pemerintah juga
terpaksa menaikkan harga barang-barang strategis seperti harga BBM yang berkali-kali
dinaikkan sepanjang tahun 2001-2003, bahkan di tahun 2005 ini. Hal ini dimaksudkan
untuk menambah in come negara dalam rangka memenuhi APBN yang defisit. Tarif dasar
listrik dan telephone juga ketika itu terpaksa dinaikkan untuk menambah income negara
mengatasi defisit APBN. Inilah akibat berantai dari sistem ribawi dalam sistem
perekonomian Indonesia.
Pajak juga dinaikkan, tetapi banyak dikuras oleh pembayaran bunga. Kasihan rakyat,
mereka dizalimi hanya untuk menyumbang bank-bank rekap. Ironisnya lagi, tanpa
berbuat apa-apa, bank rekap bergembira ria menerima riba sebesar Rp 61, 2 Trilyun dari
pemerintah pada tahun 2001 dan ini berlangsung terus, meskipun mengalami penurunan
sampai tahun 2003.

Dari data dan fakta tersebut, maka tak seorang pun bisa membantah, bahwa bunga bank
memainkan peran penting dalam merusak perekonomian bangsa Indonesia yang telah
semakin memerosokkan Indonesia ke dalam jeratan hutang yang membahayakan.. Bunga
juga telah membuat harga BBM, TDL dan telephon naik. Bahkan lebih dari itu, Indonesia
terpaksa menjual beberapa asset negara strategis, seperti Indosat, BCA dan perkebunan
demi untuk menutupi defisit APBN. Pajak rakyat yang seharusnya digunakan untuk
pembangunan, ternyata sangat banyak disumbangkan kepada bank-bank rekap dalam
bentuk bunga obligasi dan bunga SBI. Berdasarkan kenyataan ini, maka benarlah apa
yang dikatakan oleh Anwar Nasution (kompas, 25 Febr 2002), mantan Deputi Senior
Gubernur BI, bahwa bank-bank rekap tersebut, adalah parasit bagi perekonomian
Indonesia. Hal yang sama juga sering diungkapkan oleh pakar-pakar dan praktisi
perbankan nasional lainnya, seperti Dr. Drajat Wibowo, direktur INDEF, Hilmi,
( pengawas bank dari Bank Indonesia), dsb. Dari fakta di atas jelaslah bahwa bunga
membawa petaka kehancuran ekonomi Indonesia.
DIPOSTING OLEH Agustianto | May 10, 2008