Anda di halaman 1dari 5

Dampak Riba terhadap Keterpurukan Ekonomi Indonesia (3)

Instrumen Pengganti Bunga : Sistem Bagi Hasil


Sebagai dimaklumi bahwa dalam ekonomi kapitalisme, bunga bank (interest rate)
merupakan nadi dari sistem perekonomian. Hampir tak ada sisi dari perekonomian, yang
luput dari mekanisme kredit bunga bank (credit system). Mulai dari transaksi lokal pada
semua struktur ekonomi negara, hingga perdagangan internasional.
Salah satu sebab ketertarikan pasar terhadap bunga bank adalah kepastian hasil.
Sedangkan setiap usaha tidak bisa dipastikan harus berhasil sejumlah sekian, karena pada
kenyataannya, setiap usaha pasti berhadapan dengan resiko yang mengandung
kemungkinan rugi, untung, dan pulang modal. Keuntungan pun bisa besar, sedang dan
kecil. Namun, selama berabad-abad, ekonomi dunia telah didominasi sistem bunga,
sehingga telah mengkristal dalam setiap aktivitas bisnis masyarakat dunia.
Karena mengkristalnya sistem bunga tersebut, terbentuklah dinamika yang khas dalam
perekonomian konvensional, terutama pada sektor moneternya. Bahkan kini pasar
moneter konvensional tidak lagi terbatas pada pasar modal, uang dan obligasi, tapi
bertambah dengan munculnya pasar derivatif, yang merupakan turunan dari ketiga pasar
tersebut. Kesemuanya tetap menggunakan bunga bank sebagai harga dari produk-
produknya. Maka tak heran jika perkembangan di pasar moneter konvensional begitu
spektakuler. Menurut data dari sebuah NGO asal Amerika Serikat, volume transaksi yang
terjadi di pasar uang (currency speculation dan derivative market) dunia berjumlah US$
1,5 triliun hanya dalam sehari, sedangkan volume transaksi yang terjadi dalam
perdagangan dunia di sektor riil US$ 6 triliun setiap tahun. Bayangkan dengan empat hari
transaksi di pasar uang, nilainya sudah menyamai transaksi di sektor riil selama setahun.
Dampak perkembangan yang begitu besar pada sektor moneter jelas menghambat
perkembangan sektor riil. Jika diasumsikan money supply (uang beredar) tetap, maka
sistem kredit dengan bunganya yang ada pada pasar-pasar moneter akan menyedot uang
beredar. Sehingga bukan hanya ketidakstabilan moneter yang terjadi, tetapi juga
kemerosotan sektor riil. Secara global kemerosotan ini akan berpengaruh pada returns
yang diperebutkan pada sektor moneter. Sehingga jika ini terus yang menjadi
kecenderungannya, maka wajar sebagian pakar memprediksi terjadinya krisis ekonomi
yang besar, tidak hanya di negara-negara dunia ketiga, tetapi juga negara-negara maju
(negara pemilik modal).
Syari’ah Islam dengan tegas meyakini bahwa bunga bank yang bersifat pre-determined
akan mengeksploitasi perekonomian, cenderung terjadi misalokasi sumber daya dan
penumpukan kekayaan dan kekuasaan pada segelintir orang. Hal ini akan membawa pada
ketidakadilan, ketidakefisienan, dan ketidakstabilan perekonomian. Seperti dikemukakan
Umer Chapra (1996), bungalah yang telah menyebabkan semakin jauh jarak antara
pembangunan dan tujuan yang akan dicapai. Bunga juga merusak tujuan-tujuan yang
ingin didapat, pertumbuhan ekonomi, produktivitas dan stabilitas ekonomi.Bahkan Roy
Davies dan Glyn Davies, dalam bukunya A History of Money from Ancient Times to the
Present Day (1996) mengatakan bahwa bunga telah memberi andil besar dalam lebih dari
20 krisis yang terjadi sepanjang abad 20.
Dalam ekonomi syari’ah, dikotomi sektor moneter dan riil tidak dikenal. Sektor moneter
dalam definisi ekonomi Islam adalah mekanisme pembiayaan transaksi atau produksi di
pasar riil, sehingga jika menggunakan istilah konvensional, maka karakteristik
perekonomian Islam adalah perekonomian riil, khususnya perdagangan. Inilah yang
dianjurkan Islam,”Allah menghalalkan jual beli (perdagangan) dan mengharamkan
riba”.(QS.2:275). Jual beli atau perdagangan adalah kegiatan bisnis sektor riel.
Dalam ekonomi syari’ah sistem bagi hasillah (profit and loss sharing) yang kemudian
menjadi jantung dari sektor ‘moneter’ Islam, bukan bunga. Karena sesungguhnya, bagi
hasil sebenarnya sesuai dengan iklim usaha yang memiliki kefitrahan untung atau rugi.
Tidak seperti karakteristik bunga yang memaksa agar hasil usaha selalu positif. Jadi
penerapan sistem bagi hasil pada hakikatnya menjaga prinsip keadilan tetap berjalan
dalam perekonomian. Karena memang kestabilan ekonomi bersumber dari prinsip
keadilan yang dipraktikkan dalam perekonomian.
Jadi, solusi ekonomi Islam terhadap bunga (riba) dalam sistim pinjam meminjam dana
yang digunakan untuk berbisnis adalah “Sistim Bagi Hasil” (Profit-Loss Sharing), baik
melalui skim mudharabah atau musyarakah. Dalam kasus pertanian bisa dalam bentuk
muzara’ah. Selain dalam bentuk bagi hasil, solusi Islam untuk menggantikan bunga juga
dapat memakai produk jual beli (bai’), seperti ba’i murabahah, salam dan istishna’.
Secara umum, sistim bagi hasil ini ada yang disebut dengan mudharabah, yaitu bentuk
usaha bisnis yang dilakukan oleh dua pihak dimana dalam menjalankan usaha bisnis ini
satu pihak bertindak sebagai pemodal dan pihak lainnya bertindak sebagai pelaksana
bisnis (enterpreneur).
Sementara itu, musyarakah dimaksudkan sebagai suatu bentuk usaha bisnis/syarikat yang
modalnya di biayai oleh semua partai yang terlibat dalam bisnis tersebut. Kedua bentuk
bisnis ini, jauh lebih berkeadilan dibandingkan dengan bentuk bisnis dalam ekonomi
konvensional, sebab apapun keuntungan atau resiko yang terjadi terhadap bisnis ini, ke
semua partai yang terlibat dalam bisnis ini memiliki hak yang sama terhadap hasil usaha
yang diperoleh.
Bila bisnis merekaberhasil, maka semua pihak akan menerima keuntungan dan
sebaliknya, bila bisnis mereka bankrut maka kerugianpun harus ditanggung bersama.
Jumlah pembagian keuntungan yang akan diperoleh mereka dalam mudharabah adalah
berdasarkan penjanjian bersama, katakanlah 60% untuk pembagi modal dan sisanya, 40%
untuk mereka yang memenej bisnis.
Namun, bila usaha mudharabah mengalami kerugian, maka pelaksana tidak bertanggung
jawab atas kehilangan modal yang diberikan pemodalnya. Ini tidak berarti para pelaksana
tidak mengalami kerugian apapun, sebab ianya juga dirugikan atas jasa dan jerih
payahnya yang disumbangkan untuk memajukan bisnis mereka. Dengan kata lain,
pemodal rugi atas modalnya, dan pelaksana rugi atas usaha dan jerih payahnya.
Bila kita melihat dalam sistim ekonomi ribawi (bunga), peminjam sudah ditentukan
besarnya jumlah bunga yang harus dibayarkan ke bank dengan tidak mempertimbangkan
apakah dana yang dipinjam itu berhasil dibisniskan atau tidak. Dengan kata lain, berhasil
atau tidak bisnis para peminjam modal, peminjam harus membayar pinjaman plus
bunganya. Sedangkan dalam ekonomi Islam baik dalam bentuk usaha mudharabah
mahupun musyarakah, jumlah pembagian hasil yang diterima belumlah diketahui secara
pasti sebelum usaha itu berhasil atau gagal.
Mereka hanya tahu persentase pembagian hasil, tetapi mereka tidak pernah tahu berapa
jumlah pembagian hasil sebenarnya yang akan mareka terima sebelum usaha itu berhasil
atau tidak. Dalam sistim ini, keuntungan dan kerugian adalah menjadi tanggung jawab
bersama. Perbedaan pembagian hasil yang pre-determined (ex-ante) dalam sistim
ekonomi ribawi inilah yang menyebabkan terjadinya ketidakadilan dalam ekonomi umat
sehingga ia dilarang oleh Islam dibandingkan dengan sistim ekonomi Islam yang
pembagian hasilnya berdasarkan post-determined (ex-post) yang jauh lebih adil dan
mensejahterakan umat
Selain sistem bagi hasil, Islam mensyaratkan mekanisme zakat dalam perekonomian,
serta dukungan dari istrumen sejenisnya seperti infaq, shadaqah dan wakaf. Mekanisme
zakat memastikan aktivitas ekonomi dapat berjalan pada tingkat yang minimal, yaitu
pada tingkat pemenuhan kebutuhan primer. Sedangkan infaq, shadaqah dan instrumen
sejenis lainnya mendorong permintaan secara agregat, karena fungsinya yang membantu
umat untuk mencapai taraf hidup di atas tingkat minimum. Selanjutnya oleh negara,
infaq-shadaqah dan instrumen sejenisnya, serta pendapatan negara lainnya digunakan
untuk mengentaskan kemiskinan melalui program-programpembangunan.
Sebagai dua ketentuan orisinil dalam sistem ekonomi Islam, mekanisme zakat dan
pelarangan riba memiliki fungsi saling mengokohkan sistem perekonomian. Di satu sisi
zakat menjaga agar aktivitas ekonomi tetap berjalan dengan tujuan pemenuhan kebutuhan
hidup seluruh masyarakat negara, di sisi lain pelarangan riba – diganti mekanisme bagi
hasil – menjaga keseimbangan, keadilan dan kestabilan segala aktivitas ekonomi di
dalamnya. Dengan karakter khasnya, ekonomi Islam diperkirakan akan lebih stabil
dibandingkan sistem konvensional..
Bagi perekonomian Indonesia, landasan konvensional sudah terbukti tidak memberikan
“pelayanan” yang baik. Jadi sudah waktunya pemerintah memikirkan untuk beralih pada
perekonomian Islam dengan segala perangkatnya, dan menjadikannya sebagai sebuah
kebijakan yang sistematis di semua sisi pembangunan ekonomi. Bukan menjadikan
ekonomi Islam sekadar kebijakan yang merespon pasar seperti yang dilakukan pada
dunia perbankan.
Ekonomi Islam bukan saja menjanjikan kestabilan “moneter” tetapi juga pembangunan
sektor riil yang lebih kokoh. Krisis moneter yang telah menjelma menjadi krisis multi
dimensi di Indonesia ini, tak dapat diobati dengan varibel yang menjadi sumber krisis
sebelumnya, yaitu sistem bunga dan utang, tetapi harus oleh variabel yang jauh dari
karakteristik itu. Dalam hal ini oleh ekonomi Islam dengan sistem bagi hasilnya dalam
dunia perbankan dan lembaga finansial lainnya
Penutup
Tak bisa dibantah, bahwa bunga (interest) telah menimbulkan dampak buruk bagi
perekonomian banyak negara dan fakta itu terjadi di mana-mana. Bunga memainkan
peranan penting dalam mengakibatkan timbul¬nya krisis. Sistim ekonomi ribawi telah
menimbulkan ketidakadilan dalam masyarakat terutama bagi para pemilik modal yang
pasti menerima keuntungan tanpa menangung resiko.
Keburukan bunga juga disebabkan karena bunga menambah biaya produksi bagi para
businessman yang menggunakan modal pinjaman. Biaya produksi yang tinggi tentu akan
memaksa perusahaan untuk menjual produknya dengan harga yang lebih tinggi pula.
Melambungnya tingkat harga, pada gilirannya, akan mengundang terjadinya inflasi akibat
semakin lemahnya daya beli konsumen. Semua dampak negatif sistim ekonomi ribawi ini
secara gradual, tapi pasti, akan mengkeroposkan sendi-sendi ekonomi umat. Krisis
ekonomi tentunya tidak terlepas dari pengadopsian sistim ekonomi ribawi seperti
disebutkan di atas.
Sistem ekonomi ribawi juga menjadi penyebab utama tidak stabilnya nilai uang
(currency) sebuah negara. Karena uang senantiasa akan berpindah dari negara yang
tingkat bunga riel yang rendah ke negara yang tingkat bunga riel yang lebih tinggi akibat
para spekulator ingin memperoleh keuntungan besar dengan menyimpan uangnya dimana
tingkat bunga riel relatif tinggi.
Di Indonesia, bunga bank memainkan peran penting dalam merusak perekonomian
bangsa Indonesia. Bunga telah menguras dana APBN dalam jumlah besar. Bunga
semakin memerosokkan Indonesia ke dalam jeratan hutang yang membahayakan. Bunga
juga telah membuat harga BBM, TDL dan telephon naik. Bunga juga secara tidak
langsung telah memaksa negara menjual asset-asset negara strategis. Bunga telah
menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan rakyat Indonesia secara luas dan
berkepanjangan. Oleh karena iktu tepatlah Allah dalam Al-Quran mengatakan bahwa
pelaku riba pasti masuk neraka yang mereka kekal di dalamnya selama-lamanya (2:275).
Dari kenyataan dampak bunga yang demikian hebat, tepatlah sabda Nabi Muhammad
Saw yang menyatakan bahwa riba adalah dosa besar yang kadarnya lebih dari 33 kali
berzina atau menzinai ibu kandung sendiri. Sebagai solusi dari sistem ekonomi ribawi
adalah ekonomi syari’ah yang membawa keadilan dan kesejahteraan bersama dunia dan
akhirat.
DAFTAR PUSTAKA
A. M. Sadeq. “Factor Pricing and Income Distribution from An Islamic Perspective”
yang dipublikasikan dalam Journal of Islamic Economics, 198
Adiwarman Karim, Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer, Jakarta, Gema Insani
Press, 2001
Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, terjemahan Soeroyo dan Nastangin,
Yogyakarta, Dana Bhakti Waqaf, Jilid 2, 1996
————————-, Muhammad A Trader, London, The Muslim Schools Trust, 1982,
Edisi Indonesia Muhammad sebagai Pedagang, Jakarta, Swarna Bumi, 1997
Anwar Iqbal Quraisy, Islam and the Theory of Intrest, (Lahore:Sheikh Muhammad
Ashraf, 1946).
——————————, Economic and Social System of Islam, (Lahore : Islamic Book
Service, 1979)
Irfan Mahmud Ra’na, Economic Sistem Under Umar the Great, Pakistan, M.Asraf, 1977
Karnaen Perwata Atmaja dan M.Syafi’I Antonio, Apa dan Bagaimana Bank Islam,
Yogyakarta, Dana Bhakti Waqaf, 1992.
Muhammad Ali Ash-Shobuni, Jarimah ar-Riba, Akhtar al-Jaraim ad-Diniyyat wa al-
Ijtima’iyat, Kairo, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1997
M.Abdul Mannan, Islamic Economiys, Theory and Practice, terj. M.Nastangin, Teori dan
Praktek Ekonomi Islam, Yogyakarta, Dana Bakti Waqaf, 1997
Masudul Alam Al-Khudury, Money in Islam, London and New York, USA, Rotledge,
1997
Monzer Kahf, The Islamic Economy, Analytical of The Functioning of The Islamic
Economic System, Edisi Indonesia, Ekonomi Islam, Pustaka pelajar, 1995
Ash-Shiddiqy, Kemitraan Usaha dan Bagi Hasil dalam Hukum Islam, Jogyakarta, Dana
Bhakti Primayasa,
Umer Chapra, Toward A Justr Monetary System, terjemahan Lukman hakim, Al-Quran
menuju sistem Moneter yang Adil, Yogyakarta, Dana Bkhati Waqaf, 1997
Watt, Montgomery W, Muhammad A Prophet and The State Man , London, 1982

DIPOSTING OLEH Agustianto | April 19, 2008