Anda di halaman 1dari 2

Islam dan Perbankan

Pendahuluan
Islam sebagai ad-din mengandung ajaran yang komprehensif dan sempurna ( syumul).
Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tidak saja aspek ibadah, tetapi juga
aspek muamalah, khususnya ekonomi Islam. Al- Qur’an secara tegas menyatakan
kesempurnaan Islam tersebut dalam banyak ayat, antara lain, ( QS. 5:3, 6:38, 16:89).
Kesempurnaan Islam itu tidak saja diakui oleh intelektual muslim, tetapi juga para
orientalist barat, di antaranya H.A.R Gibb yang mengatakan, “ Islam is much more than a
system of theology it’s a complete civilization.”
Di antara ajaran Islam yang mengatur kehidupan manusia adalah aspek ekonomi
(mua’malah, iqtishodiyah ). Ajaran Islam tentang ekonomi cukup banyak, baik dalam Al-
quran, Sunnah, ijtihad para ulama maupun praktik-praktik bisnis dalam sejarah. Hal ini
menunjukkan bahwa perhatian Islam dalam masalah ekonomi sangat besar. Ayat yang
terpanjang dalam Al-Quran justru berisi tentang masalah perekonomian, bukan masalah
ibadah (mahdhah) atau aqidah. Ayat yang terpanjang itu ialah ayat 282 dalam surah
Albaqarah, yang menurut Ibnu Arabi ayat ini mengandung 52 hukum/malasah ekonomi).
Salah satu bentuk kegiatan ekonomi dan keuangan yang berkembang saat ini adalah
perbankan. Perbankan adalah suatu lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama yaitu
menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan jasa pengiriman uang. Di dalam
sejarah perekonomian kaum muslimin. Fungsi-fungsi bank telah dikenal sejak jaman
Rasulullah SAW, fungsi-fungsi tersebut adalah menerima titipan harta, meminjamkan
uang untuk keperluan konsumsi (qardh) dan menginvestasikan uang untuk keperluan
bisnis (melalui mudharabah dan musyarakah), serta melakukan pengiriman uang dan
tukar menukar menukar uang (al-sharf)
Dalam sirah nabawiyah, Rasulullah SAW yang dikenal julukan al Amin, dipercaya oleh
masyarakat Mekah menerima simpanan harta (wadi’ah) , sehingga pada saat terakhir
sebelum Rasul hijrah ke Madinah, beliau meminta Sayyidina Ali ra untuk
mengembalikan semua titipan itu kepada yang memilikinya1.
Seorang sahabat Rasulullah, Zubair bin al Awwam, memilih tidak menerima titipan harta.
Beliau lebih suka memberikan pembiayaan secara mudharabah. Sahabat lain, Ibnu Abbas
tercatat melakukan pengiriman uang ke Kufah. Juga tercatat Abdullah bin Zubair di
Mekah juga melakukan pengiriman uang ke adiknya Misab bin Zubair yang tinggal di
Irak3.
Penukaran mata uang juga telah berlansgung sejak masa Nabi, sahabat, Ummayyah dan
Abbasiah. Di masa Abbasiyah, kegiatan penukaran mata uang (money changer) ini
dilakukan oleh lembaga yang disebut Jihbiz. Kata ‘Jihbiz’ berasal dari bahasa Persia yang
berarti penagih pajak. Istilah jihbiz mulai dikenal di jaman Mu’awiyah, yang ketika itu
fungsinya sebagai penagih pajak dan penghitung pajak atas barang dan tanah.
Pergeseran fungsi Jihbiz menjadi lembaga money changer karena didorong oleh
pencetakan uang fulus oleh pemerintah. Sebelumnya uang yang digunakan adalah dinar
(terbuat dari emas) dan dirham (terbuat dari perak). Dengan munculnya fulus, timbul
kecenderungan di kalangan para gubernur untuk mencetak fulusnya masing-masing,
sehingga beredar banyak jenis fulus dengan nilai yang berbeda-beda. Keadaan inilah
yang mendorong munculnya profesi baru yaitu penukaran uang.
Akan tetapi di masa Bani Abbasiyah, fungsi jihbiz semakin meluas dimana jihbiz tidak
saja melakukan penukaran uang namun juga menerima titipan dana, meminjamkan uang,
dan jasa pengiriman uang. Bila di jaman Rasulullah SAW satu fungsi perbankan
dilaksanakan oleh satu individu, maka di masa Bani Abbasiyah ketiga fungsi utama
perbankan dilakukan oleh satu lembaga jihbiz
Penggunaan cek juga telah dikenal luas sejalan dengan meningkatnya perdagangan antara
negeri Syam dengan Yaman, yang paling tidak berlangsung dua kali setahun. Bahkan di
zaman Umar bin Khattab ra, beliau menggunakan cek untukmembayar tunjangan kepada
mereka yang berhak. Dengan cek ini kemudian mereka mengambil gandum di Baitul Mal
yang ketika itu diimpor dari Mesir4.
Pemberian modal untuk modal kerja berbasis bagi hasil, seperti mudharabah,
musyarakah, muzara ah, musaqah, telah dikenal sejak awal diantara kaum Muhajirin dan
kaum Anshar5.
Jelaslah bahwa ada individu-individu yang telah melaksanakan fungsi perbankan di
zaman Rasulullah SAW, meskipun individu tersebut tidak melaksanakan seluruh fungsi
perbankan. Ada yang melaksanakan fungsi menerima titipan harta, ada sahabat yang
melaksanakan fungsi mentijarahkan harta dalam bentuk mudharabah/qiradh, ada yang
melaksanakan fungsi pengiriman uang dan penukaran uang.
Beberapa istilah perbankan modern bahkan berasal dari khazanah ilmu fiqih, seperti
istilah kredit (English: credit; Romawi : credo) yang diambil dari istilah qard. Credit
dalam bahasa inggris berarti meminjamkan uang; credo berarti kepercayaan; sedangkan
qard dalam fiqih berarti meminjamkan uang atas dasar kepercayaan. Begitu pula istilah
cek (English: check; France : Cheque) yang diambil dari istilah shak (jamaknya shukuk),
yang berarti surat berharga. Adapula yang mengatakan bahwa cek berasal dari kata saq
(suq). Suq dalam bahasa Arab berarti pasar, sedangkan cek adalah alat bayar yang biasa
digunakan di pasar. Pendapat pertama jauh lebih kuat daripada pendapat yang kedua.
Karena pendapat yang kedua terlalu jauh dari makna cek itu sendiri.
Fungsi-fungsi jihbiz yang ditemukan dalam sejarah Islam, mirip dengan fungsi
perbankan. Namun perbankan yang berasal dari Barat, banyak mengandung praktek yang
dilarang syariah, seperti riba, gharar, maysir, mungkin juga haram dan bathil. Semua itu
harus dihilangkan dari sistem perbankan syariah.
DIPOSTING OLEH Agustianto | April 25, 2008