Anda di halaman 1dari 3

Kebebasan dan Tanggung Jawab sebagai Prinsip Ekonomi Islam

Oleh : Agustianto
Prinsip kebebasan dan tanggung jawab dalam ekonomi Islam pertama kali dirumuskan
oleh An-Naqvi menjadi aksioma etika ekonomi Islam dalam bukunya Ethics and
Economics : An Islamic Synthesis (1981). Rumusan Ab-Naqvi ini selanjutnya banyak
dikutip oleh para penulis kontemporer, khususnya dari Indonesia. . Jika An-Naqvi dan
para penulis lain memisahkan kedua prinsip tersebut, sehingga masing-masing prinsip itu
berdiri sendiri, tetapi dalam buku (tulisan) ini, kedua prinsip tersebut digabungkan
menjadi satu. Penyatuan ini dilakukan karena kedua prinsip itu memiliki keterkaitan yang
sangat kuat dan seharusnya tidak boleh dipisahkan, karena dalam konsep teologi Islam,
kebebasan yang diberikan kepada manusia meniscayakan pertangung jawaban di akhirat.
Dimasukkannya prinsip kebebasan sebagai prinsip ekonomi Islam oleh para pakar
hanyalah untuk menjaga kelogisan adanya tanggung jawab (masuliyah) di akhirat
(ma’ad) sebagai konsekuensi logis dari kebebasan yang melekat pada diri manusia.
Penyatuan ini juga dimaksudkan agar pembaca dengan cepat menangkap pengertian
kebebasan dalam kajian ini, sehingga tidak muncul tanda tanya dan kerancuan dalam
pikiran tentang makna kebebasan dalam perspektif Islam .
Pengertian kebebasan dalam perekonomian Islam difahami dari dua perspektif, pertama
perspektif teologi dan kedua perspektif ushul fiqh / falsafah tasyri’.
Pengertian kebebasan dalam perspektif pertama berarti bahwa manusia bebas
menentukan pilihan antara yang baik dan yang buruk dalam mengelola sumberdaya alam.
Kebebasan untuk menentukan pilihan itu melekat pada diri manusia, karena manusia
telah dianugerahi akal untuk memikirkan mana yang baik dan yang buruk, mana yang
maslahah dan mafsadah mana yang manfaat dan mudharat. Karena kekebasan itu, maka
adalah logis (wajar) bila manusia harus bertanggung jawab atas segala perilaku
ekonominya di muka bumi ini atas pilihanya sendiri. Manusia dengan potensi akalnya
mengetahi bahwa penebangan hutan secara liar akan menimbulkan dampak banjir dan
longsor. Manusia juga tahu bahwa membuang limbah ke sungai yang airnya dibutuhkan
masyarakat untuk mencuci dan mandi adalah suatu perbuatan salah yang mengandung
mafsadah dan mudharat. Melakukan riba adalah suatu kezaliman besar. Namun ia
melakukannya juga, karena ia harus mempertangung jawabkan perbuatannya itu di
hadapan Allah, karena perbuatan itu dilakukannya atas pilihan bebasnya.
Seandainya manusia berkeyakinan bahwa ia melakukan perbuatan itu karena dikehendaki
Allah secara jabari, maka tidak logis ia diminta pertanggung jawaban atas penyimpangan
perilakunya.
Dengan demikian, makna kebebasan dalam kacamata teologi Islam ialah manusia
memiliki kebebasan dalam memilih. Adanya pemberikan reward and punisment
merupakan suatu indikasi bahwa manusia itu bebas melakukan pilihan-pilihan. Semua
keputusannya dalam melakukan pilihan-pilihan tersebut akan ditunjukkan kepadanya
pada hari kiamat nanti untuk dipertanggung jawabakan di mahkamah (pengadilan) ilahi.
Allah berfirman dalam QS. 99 : 7-8 :

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat
(balasan) nya.
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan
melihat (balasan) nya pula.
Hal ini berarti bahwa dalam pandangan Islam, manusia bebas untuk memilih, bebas untuk
menentukan, karena pada akhirnya dia yang harus bertanggungjawab terhadap semua
perbuatannya ; karena itulah maka ada reward atau punishment dari Allah Swt.
Dengan demikian, makna kebebasan dalam konteks ini bukanlah kebebasan sebagaimana
dalam faham liberalisme yang tidak dikaitkan dengan masuliyah di akhirat. Kebebasan
dalam Islam bukan kebebasan mutlak , karena kekebasan seperti itu hanya akan
mengarah kepada paradigma kapitalis mengenai laisssez faire dan kebebasan nilai (value
free). Kebebasan dalam pengertian Islam adalah kekebasan yang terkendali (al-hurriyah
al-muqayyadah).
Dengan demikian, konsep ekonomi pasar bebas, tidak sepenuhnya begitu saja diterima
dalam ekonomi Islam. Alokasi dan distribusi sumber daya yang adil dan efisien, tidak
secara otomatis terwujud dengan sendirinya berdasarkan kekuatan pasar. Harus ada
lembaga pengawas dari otoritas pemerintah -yang dalam Islam- disebut lembaga hisbah.
Kebebasan dalam konteks kajian prinsip ekonomi Islam dimaksudkan sebagai antitesis
dari faham jabariyah (determenisme). Faham ini mengajarkan bahwa manusia bertindak
dan berperilaku bukan atas dasar kebebasannya (pilihannya) sendiri, tetapi karena
kehandak Tuhan (dipaksa Tuhan). Dalam faham ini manusia ibarat wayang yang
digerakkan oleh dalang.
Determinisme seperti itu, tidak hanya merendahkan harkat manusia, tetapi juga
menafikan tanggung jawab manusia. Karena adalah tidak logis manusia diminta tanggung
jawabnya, sementara ia melakukannya secara ijbari (terpaksa).
Pengertian kebebasan dalam perspektif ushul fiqh berarti bahwa dalam muamalah, Islam
membuka pintu seluas-luasnya di mana manusia bebas melakukan apa saja sepanjang
tidak ada nash yang melarangnya. Aksioma ini didasarkan pada kaedah populer, ”Pada
dasarnya dalam muamalah segala sesuatu dibolehkan sepanjang tidak ada dalil yanaga
melarangnya”. Jika kita terjemahkan arti kebebasan bertanggung jawab ini ke dalam
dunia binsis, khususnya perusahaan, maka kita akan mendapatkan bahwa Islam benar-
benar memacu umatnya untuk melakukan inovasi apa saja, termasuk pengembangan
teknologi dan diversifikasi produk.
Pertanggung-jawaban (mas-uliyah) yang harus dihadapi manusia di akhirat juga
merupakan konsukensi fungsi kekhalifahan manusia sebagai khalifah. Dalam
kapasitasnya sebagai khalifah, manusia merupakan pemegang amanah (trustee), karena
itu setiap pemegang amanah harus bertanggung jawab atas amanah yang dipercayakan
untuknya. Pertanggung jawaban, accountability atau masuliyah ditekankan dengan
perintah dari Allah melalui istilah hisab atau perhitungan di hari pembalasan. Istilah hisab
ditemukan 109 kali dalam Al-quran dari akar kata hisab (perhitungan), muhasib
(penghitungan/akuntan) dan muhasabah sebagai pertanggung jawaban yang merupakan
manifestasi dari perilaku kehidupan di dunia ini.
Kepercayaan pada hari kiamat memiliki peranan penting dalam kehidupan seorang
muslim yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Konsp pertanggung
jawaban sudah ditetapkan oleh sunnatullah yang sangat ditekankan dalam Islam, bukan
merupakan norma etika umum atau perundang-undangan negara. Konsep ini tertanam di
masing-amsing individu muslim dan digambarkan dalam kehidupan masyarakat, tidak
hanya terbatas pada para profesional, akademisi atau pengusaha saja.
Harus pula dipahami bahwa pertangggung-jawaban tidak hanya terbatas dalam konsep
eskatologis (di akhirat), tetapi juga mencakup proses praktis di dunia ini, yakni berupa
kemampuan analisis dan sajian ilmiah dalam akuntansi, misalnya apa yang diperintahkan
Allah dalam Al-quran 2;282, ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
bermuamalah tidak secara tunai untuk yang ditentukan, hendaklah kamu menulsikannya.
Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menulisnya dengan benar” (QS. 2;282).

DIPOSTING OLEH Agustianto | April 28, 2008