Anda di halaman 1dari 5

Kewajiban Umat Islam Mempelajari Fiqh Muamalah

Oleh : Drs.Agustianto.MA
Sekjend Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) dan
Dosen Fikih Muamalah Ekonomi Pascasarjana Universitas Indonesia
Islam adalah agama yang sempurna (komprehensif) yang mengatur seluruh aspek
kehidupan manusia, baik aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Salah satu ajaran
yang sangat penting adalah bidang muamalah/ iqtishadiyah (Ekonomi Islam). Kitab-
kitab Islam tentang muamalah (ekonomi Islam) sangat banyak dan berlimpah, Jumlahnya
lebih dari seribuan judul buku. Para ulama tidak pernah mengabaikan kajian muamalah
dalam kitab-kitab fikih mereka dan dalam halaqah (pengajian-pengajian) keislaman
mereka. Seluruh Kitab Fiqh membahas fiqh ekonomi. Bahkan cukup banyak para ulama
yang secara khusus membahas ekonomi Islam, seperti kitab Al-Amwal oleh Abu Ubaid,
Kitab Al-Kharaj karangan Abu Yusuf, Al-Iktisab fi Rizqi al-Mustathab oleh Hasan Asy-
Syaibani, Al-Hisbah oleh Ibnu Taymiyah, dan banyak lagi yang tersebar di buku-buku
Ibnu Khaldun, Al-Maqrizi, Al-Ghazali, dan sebagainya.
Namun dalam waktu yang panjang, materi muamalah (ekonomi Islam) cenderung
diabaikan kaum muslimin, padahal ajaran muamalah bagian penting dari ajaran Islam,
akibatnya, terjadilah kajian Islam parsial (sepotong-sepotong). Padahal orang-orang
beriman diperintahkan untuk memasuki Islam secara kaffah (menyeluruh).
َ َ
ِ ‫شيْطَا‬
‫ن‬ َّ ‫ت ال‬ِ ‫خطُوَا‬ ً َّ‫سلْم ِ كَآف‬
ُ ‫ة وَل َ تَتَّبِعُوا‬ ِّ ‫خلُوا فِي ال‬
ُ ْ ‫منُوا اد‬ َ ‫يَاأيُّهَا ال ّذِي‬
َ ‫ن ءَا‬
ُّ ٌّ‫م عَدُو‬
ُُ ‫مبِي‬
‫ن‬ ْ ُ ‫ه لَك‬
ُ َّ ‫إِن‬
”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh
(kaffah) . Jangan ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata
bagimu. (QS.Al-Baqarah 208).
Akibat lainnya, ialah ummat Islam tertinggal dalam ekonomi dan banyak kaum muslimin
yang melanggar prinsip ekonomi Islam dalam mencari nafkah hidupnya, seperti riba,
maysir, gharar, haram, batil, dsb.
Ajaran muamalah adalah bagian paling penting (dharuriyat) dalam
ajaran Islam. Dalam kitab Al-Mu’amalah fil Islam, Dr. Abdul Sattar
Fathullah Sa’id mengatakan :
‫ومن ضرورات هذا الجتماع النسان وجود معاملت ما بين أفراده و جماعته‬
‫ولذالك جاءت الشريعة اللهية لتنظيم هذه المعاملت وتحقيق مقصودها والفصل بينهم‬
Artinya :
Di antara unsur dharurat (masalah paling penting) dalam masyarakat
manusia adalah “Muamalah”, yang mengatur hubungan antara
individu dan masyarakat dalam kegaiatan ekonomi. Karena itu syariah
ilahiyah datang untuk mengatur muamalah di antara manusia dalam rangka mewujudkan
tujuan syariah dan menjelaskan hukumnya kepada mereka
Menurut ulama Abdul Sattar di atas, para ulama sepakat tentang mutlaknya ummat Islam
memahami dan mengetahui hukum muamalah maliyah (ekonomi syariah)
‫قد أتفق العلماء على أن المعاملت نفسها ضرورة بشرية‬
Artinya :
Ulama sepakat bahwa muamalat itu sendiri adalah masalah kemanusiaan yang maha
penting (dharuriyah basyariyah)
Fardhu ‘Ain
Husein Shahhathah (Al-Ustaz Universitas Al-Azhar Cairo) dalam buku Al-Iltizam bi
Dhawabith asy-Syar’iyah fil Muamalat Maliyah (2002) mengatakan, “Fiqh muamalah
ekonomi, menduduki posisi yang sangat penting dalam Islam. Tidak ada manusia yang
tidak terlibat dalam aktivitas muamalah, karena itu hukum mempelajarinya wajib ‘ain
(fardhu) bagi setiap muslim.
Husein Shahhatah, selanjutnya menulis, “Dalam bidang muamalah maliyah ini, seorang
muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada
syari’ah Allah. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini, maka ia akan terperosok
kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat, tanpa ia sadari. Seorang Muslim yang
bertaqwa dan takut kepada Allah swt, Harus berupaya keras menjadikan muamalahnya
sebagai amal shaleh dan ikhlas untuk Allah semata” Memahami/mengetahui hukum
muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim, namun untuk menjadi expert (ahli) dalam
bidang ini hukumnya fardhu kifayah
Oleh karena itu, Khalifah Umar bin Khattab berkeliling pasar dan
berkata :
‫ل يبع في سوقنا ال من قد تفقه في الدين‬
“Tidak boleh berjual-beli di pasar kita, kecuali orang yang benar-benar
telah mengerti fiqh (muamalah) dalam agama Islam” (H.R.Tarmizi)

Berdasarkan ucapan Umar di atas, maka dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa umat Islam
: Tidak boleh beraktifitas bisnis, kecuali faham tentang fikih muamalah
Tidak boleh beraktivitas perbankan, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas asuransi, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas pasar modal, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas koperasi, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas pegadaian, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas reksadana, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas bisnis MLM,kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas jual-beli, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh bergiatan ekonomi apapun, kecuali faham fiqh muamalah
Sehubungan dengan itulah Dr.Abdul Sattar menyimpulkan :
‫ومن هنا يتضح أن المعاملت هي من لب مقاصد الدينية لصلح الحياة البشرية ولذالك دعا‬
‫اليها الرسل من قديم باعتيارها دينا ملزما لخيار لحد فيه‬.

Artinya : Dari sini jelaslah bahwa “Muamalat” adalah inti terdalam dari
tujuan agama Islam untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan
manusia. Karena itu para Rasul terdahulu mengajak umat (berdakwah) untuk
mengamalkan muamalah, karena memandangnya sebagai ajaran agama yang mesti
dilaksanakan, Tidak ada pilihan bagi seseorang untuk tidak mengamalkannya.(Hlm.16)
Dalam konteks ini Allah berfirman :
َ ‫مكْيَا‬
‫ل‬ ِ ْ ‫صوا ال‬
ُ ُ‫ن إِلَهِ غَيُْره ُ وَلَتَنق‬ ِّ ‫مالَكُم‬
ْ ‫م‬ َ ‫ه‬ َ ‫ل يَاقَوْم ِ اعْبُدُوا الل‬ َ ‫شعَيْبًا قَا‬ ُ ‫م‬ ْ ُ‫خاه‬ َ َ‫ن أ‬ َ َ ‫مدْي‬ َ ‫ى‬َ ‫وَإِل‬
َ
‫} وَيَاقَوْم ِ أوْفُوا‬84{ ‫ط‬ ُ ُ َ َ ُ َ ْ
ٍ ‫حي‬ ِ ‫م‬ ّ ‫ب يَوْم‬َ ‫م عَذ َا‬ ْ ‫ف ع َليْك‬ُ ‫خا‬َ ‫خيْرٍ وَإِنِّي أ‬ َ ِ ‫ن إِنِّي أَراكم ب‬ َ ‫ميَزا‬ ِ ‫وَال‬
‫ن‬ ‫ي‬ِ ‫د‬ ‫س‬
ِ ‫ف‬
ْ ‫م‬ ‫ض‬ ‫ر‬َ ‫شيَآءَهُم ٍولَتَعْث َوا فِي اْل‬ ْ َ ‫خسوا النَاس أ‬
ّ َ ‫ب‬َ َ
‫ت‬ ‫ل‬‫و‬ ‫ط‬
ِ ‫س‬ ‫ق‬
ِ ْ ‫ال‬ ‫ب‬ ‫ن‬ ‫زا‬ ‫مي‬
ِ ْ ‫ال‬ ‫و‬ ‫ل‬َ ‫ا‬َ ِ ْ ‫ال‬
‫ي‬ْ ‫مك‬
َ ُ ِ ْ ْ َ ْ َ ُ ْ َ ْ ِ َ َ َ
Artinya :
‘Dan kepada penduduk Madyan, Kami utus saudara mereka,ν Syu’aib. Ia berkata, “Hai
Kaumku sembahlah Allah, sekali-kali Tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan Janganlah
kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan
yang baik. Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan
(kiamat)”.
Dan Syu’aib berkata,”Hai kaumkuν sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.
Janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu
membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Hud : 84,85)
Dua ayat di atas mengisahkan perdebatan kaum Nabi Syu’aib dengan umatnya yang
mengingkari agama yang dibawanya. Nabi Syu’aib mengajarkan I’tiqad dan iqtishad
(aqidah dan ekonomi). Nabi Syu’aib mengingatkan mereka tentang kekacauan transaksi
muamalah (ekonomi) yang mereka lakukan selama ini.
Al-Quran lebih lanjut mengisahkan ungkapan umatnya yang merasa keberatan diatur
transaksi ekonominya.
َ َّ ‫شاؤ ُا إِن‬ َ َ َ‫مايَعْبُد ُ ءَابَآؤُنَآ أَوْ أَن نَّفْع‬ َ ‫ك أَن نَّتُْر‬ ْ َ ‫شعيب أ َصلَوات‬
‫ك‬ َ َ ‫مان‬
َ ‫موَالِنَا‬
ْ ‫ل فِي أ‬ َ ‫ك‬ َ ‫مُر‬
ُ ‫ك تَأ‬ُ َ َ ُ ْ َ ُ ‫قَالُوا يَا‬
ُ‫شيد‬ ِ ‫م الَّر‬ َ ْ ‫ت ال‬ َ
ُ ‫حلِي‬ َ ‫لن‬
Artinya :
Mereka berkata, “Hai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kamu
meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyangmu atau melarang kami
memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah
orang-orang yang penyantun lagi cerdas”.

Ayat ini berisi dua peringatan penting, yaitu aqidah dan muamalahν
Ayatν ini juga menjelaskan bahwa pencarian dan pengelolaan rezeki (harta) tidak boleh
sekehendak hati, melainkan mesti sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah, yang
disebut dengan syari’ah.
Aturan Allah tentang ekonomi disebut dengan ekonomi syariah. Umat manusia tidak
boleh sekehendak hati mengelola hartanya, tanpa aturan syari’ah. Syariah misalnya
secara tegas mengharamkan bunga bank.
Muamalah adalah Sunnah Para Nabi
Berdasarkan ayat-ayat di atas, Syekh Abdul Sattar menyimpulkan bahwa
hukum muamalah adalah sunnah para Nabi sepanjang sejarah.

‫وهذه سنة مطردة في النبياء عليهم السلم كما قال تعالى‬

Artinya : Muamalah ini adalah sunnah yang terus-menerus dilaksanakan para Nabi AS,
(hlm.16), sebagaimana firman Allah
َ َ
‫ط‬
ِ ‫س‬ ِ ْ ‫س بِال‬
ْ ‫ق‬ ُ ‫م النَّا‬
َ ‫ن لِيَقُو‬ ِ ْ ‫ب وَال‬
َ ‫ميَزا‬ َ ‫م الْكِتَا‬ َ ‫ت وَأنَزلْنَا‬
ُ ُ‫معَه‬ ِ ‫سلَنَا بِالْبَيِّنَا‬
ُ ‫سلْنَا ُر‬
َ ‫لَقَد ْ أْر‬
Artinya :
Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata
dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca keadilan supaya manusia
dapat menegakkan keadilan itu.
Ketika muamalah menjadi sunnah para Nabi dan Rasul serta menjadi ajaran Islam yang
sangat penting, MENGAPA KITA JAMAAH MASJID MENGABAIKANNYA, TIDAK
MENGKAJI DAN MEMPELAJARINYA ?, Sehingga kita bisa mengamalkannya dalam
kehidupan dalam rangka ketaatan kepada agama Allah.
Pengertian Muamalah
Pengertian muamalah pada mulanya memiliki cakupan yang luas, sebagaimana
dirumuskan oleh Muhammad Yusuf Musa, yaitu Peraturan-peraturan Allah yang harus
diikuti dan dita’ati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia”.
Namun belakangan ini pengertian muamalah lebih banyak dipahami sebagai“Aturan-
aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam memperoleh dan
mengembangkan harta benda”atau lebih tepatnya “aturan Islam tentang kegiatan
ekonomi manusia”
Ruang Lingkup Muamalah
1. Harta, Hak Milik, Fungsi Uang dan ’Uqud )akad-akad)
2. Buyu’ (tentang jual beli)
3. Ar-Rahn (tentang pegadaian)
4. Hiwalah (pengalihan hutang)
5. Ash-Shulhu (perdamaian bisnis)
6. Adh-Dhaman (jaminan, asuransi)
7. Syirkah (tentang perkongsian)
8. Wakalah (tentang perwakilan)
9. Wadi’ah (tentang penitipan)
10. ‘Ariyah (tentang peminjaman)
11. Ghasab (perampasan harta orang lain dengan tidak shah)
12. Syuf’ah (hak diutamakan dalam syirkah atau sepadan tanah)
13. Mudharabah (syirkah modal dan tenaga)
14. Musaqat (syirkah dalam pengairan kebun)
15. Muzara’ah (kerjasama pertanian)
16. Kafalah (penjaminan)
17. Taflis (jatuh bangkrut)
18. Al-Hajru (batasan bertindak,kepailitan)
19. Ji’alah (sayembara, pemberian fee)
20. Qaradh (pejaman)
21. Ba’i Murabahah
22. Bai’ Salam
23. Bai Istishna’
24. Ba’i Muajjal dan Ba’i Taqsith
25. Ba’i Sharf dan transaksi valas
26. ’Urbun (panjar/DP)
27. Ijarah (sewa-menyewa, upah buruh)
28. Riba, konsep uang dan kebijakan moneter
29. Shukuk (surat utang atau obligasi)
30. Faraidh (warisan)
31. Luqthah (barang tercecer)
32. Waqaf
33. Hibah
34. Washiat
35. Iqrar (pengakuan)
36. Qismul
َُ fa’i wal ghanimah (pembagian fa’i dan ghanimah)
37. َQismَ ash-Shadaqat (tentang pembagian zakat)
38. Ibrak (pembebasan hutang)
39. Muqasah (Discount)
40. Kharaj, Jizyah, Dharibah,Ushur
41. Baitul Mal dan Jihbiz
42. Kebijakan fiskal Islam
43. Prinsip dan perilaku konsumen
44. Prinsip dan perilaku produsen
45. Keadilan Distribusi
46. Perburuhan (hubungan buruh dan majikan,)
47. Jual beli gharar, bai’ najasy, bai’ al-‘inah, Bai wafa, mu’athah, fudhuli, dll.
48. Ihtikar dan monopoli
49. Pasar modal Islami dan Reksadana
50. Asuransi Islam, Bank Islam, Pegadaian, MLM, dan lain-lain
Penutup
Dari berbagai kutipan di atas disimpulkan bahwa kajian muamalah mutlak dilaksanakan
dan wajib diadakan oleh umat Islam dalam pengajian-pengajian keagamaan, baik di
mesjid maupun di mushalla. Hal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Para nazir mesjid wajib
melaksanakannya, sehingga ada keseimbangan antara kajian aqidah, ibadah dengan
kajian muamalah. Dengan demikian, kajian fiqh muamalah tidak hanya di Program S1,
S2 dan S3 di Perguruan Tinggi, tetapi juga di kalangan masyarakat Islam lainnya,
khususnya di majlis ta’lim dan pengajian Islam di mesjid-mesjid. Mudah-mudahan
tulisan ini menyadarkan kita untuk mendalami syariah Allah di masa-masa yang akan
datang demi pengamalan Islam yang holistik dan kebangkitan ekonomi umat.
Sekian.Alhamdulillah.
Alamat : Jl.Salemba Raya No 4 Gedung IASTH Lt.4 HP 08126081709
Email agusmingka66@yahoo.com. Website http/ www.iaei-pusat.net
DIPOSTING OLEH Agustianto | April 11, 2008