Anda di halaman 1dari 4

Optimalisasi Office Channeling Bank Syariah

Dalam rangka akselerasi pencapaian market share bank syariah, Bank Indonesia sejak
setahun lalu mengeluarkan kebijakan baru bagi industri perbankan syariah, yaitu PBI No
8/3/PBI/2006. Materi paling penting pada peraturan tersebut adalah penerapan office
channeling bagi bank-bank syari’ah. Kebijakan ini merupakan inovasi dan terobosan baru
yang bisa dibilang spektakuler bagi pengembangan industri perbankan syariah di
Indenesia.Kebijakan office channeling juga dimaksudkan untuk meningkatkan akses
masyarakat kepada jasa perbankan syariah. Dengan sistem baru ini bank syariah tidak
perlu lagi membuka cabang UUS di banyak tempat dalam memberikan pelayanan
perbankan syariah. Sehingga biaya ekspansi jauh lebih efisien. Kebijakan office
channeling ini juga dimaksudkan untuk mengarahkan aktivitas perbankan agar mampu
menunjang pertumbuhan ekonomi nasional melalui kegiatan perbankan
syariah.Penerapan office channeling, akan semakin memudahkan masyarakat melakukan
transaksi syariah. Dengan kata lain, akses terhadap lokasi bank syariah yang selama ini
menjadi kendala akan dapat teratasi, karena selama ini masyarakat yang mau bertransaksi
dengan bank syariah mengalami kesulitan karena belum banyak bank syariah yang
beroperasi di Indonesi. Dengan office channneling kendala tersebut bisa
teratasi.Berdasarkan realita di atas, maka pelayanan office channelling ini, seyogianya
berpengaruh positif terhadap perkembangan industri bank syariah di masa depan. Dengan
semakin mudahnya masyarakat mendapatkan akses layanan perbankan syariah,
diperkirakan pertumbuhan bank syariah akan semakin besar secara signifikan. Sehingga
market share perbankan syariah terhadap perbankan nasional. bisa meningkat pula. Saat
ini market share (pangsa pasar) perbankan syariah baru sekitar 1,7 persen dari total asset
perbankan secara nasional. Dengan office channeling, target yang dipasang Bank
Indonesia dalam blueprint, akan seharusnya terlampaui pada tahun 2011.Tetapi sejak
tahun office channeling diluncurkan, tanda-tanda quantum growing (loncatan
pertumbuhan) perbankan syariah belum terlihat. Sampai semester pertama tahun 2007,
market share perbankan syariah seakan masih jalan di tempat, berkisar antara 1,6 – 1,7
persen. Bagimana mungkin dalam 18 bulan lagi bisa mencapai 5,2 % ?.
Edukasi dan Sosialisasi
Kebijakan office channneling tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap
pertumbuhan industri perbankan syariah, tanpa diawali dan dibarengi dengan upaya
edukasi masyarakat tentang konsep operasional bank syariah dan keunggulannya.
Prof.Dr.M.A.Mannan, pakar ekonomi Islam, dalam buku Ekonomi Islam, sejak tahun
1970 telah mengingatkan pentingnya upaya edukasi masyarakat tentang keunggulan
sistem syariah dan keburukan dampak sistem ribawi. Dalam hal ini keseriusan Bank
Indonesia perlu dipertanyakan, karena selama ini Bank Indonesia tidak memberikan
perhatian yang berarti bagi upaya sosialisasi bank syariah.
Fakta membuktikan, bahwa market share perbankan syariah masih sekitar 1,7 persen,
karena itu perlu gerakan edukasi dan pencerdasan secara rasional tentang perbankan
syariah, bukan hanya mengandalkan kepatuhan (loyal) pada syariah. Masyarakat yang
loyal syariah terbatas paling sekitar 10-15 %. Masyarakat harus dididik, bahwa
menabung di bank syariah, bukan saja karena berlabel syariah, tetapi lebih dari itu, sistem
ini dipastikan akan membawa rahmat dan keadilan bagi ekonomi masyarakat, negara dan
dunia, tentunya juga secara individu menguntungkan.
Karena informasi keilmuan yang terbatas, masyarakat masih banyak yang menyamakan
bank syariah dan bank konvensional secara mikro dan sempit. Masyarakat (publik) masih
banyak yang belum mengerti betapa sistem bunga, membawa dampak yang sangat
mengerikan bagi keterpurukan ekonomi dunia dan negara-negara bangsa. Karena itu
sistem syariah harus dibangun secara bertahap. Jadi, syarat utama, keberhasilan office
channelling bank-bank syariah adalah edukasi dan sosialisasi.Jika masyarakat masih
menganggap sama bank syariah dengan bank konvensional, itu berarti, masyarakat belum
faham tentang ilmu moneter syariah, dan ekonomi makro syariah tentang interest,
dampaknya terhadap inflasi, produkti, unemployment, juga belum faham tentang prinsip,
filosofi, konsep dan operasional bank syari’ah. Menggunakan pendekatan rasional sempit
melalui iklan yang floating (mengambang) hanya menciptakan custumer yang rapuh dan
mudah berpindah-pindah. Maka perlu menggunakan pendekatan rasional komprehensif,
yaitu pendekatan yang menggabungkan antara pendekatan rasional, moral dan
spiritual.Pendekatan rasional adalah meliputi pelayanan yang memuaskan, tingkat bagi
hasil dan margin yang bersaing, kemudahan akses dan fasilitas. Pendekatan moral adalah
penjelasan rasional tentang dampak sistem ribawi bagi ekonomi negara, bangsa dan
masyarakat secara agregat, bahkan ekonomi dunia. Maka secara moral, tanpa
memandang agama, semua orang akan terpanggil untuk meninggalkan sistem
riba.Pendekatan spiritual adalah pendekatan emosional keagaaman karena sistem dan
label syariah. Pendekatan ini cocok bagi mereka yang taat menjalankan agama, atau
masyarakat yang loyal kepada aplikasi syariah. Upaya membangun pasar spiritual yang
loyal masih perlu dilakukan, agar sharenya terus meningkat. Semakin gencar sosialissi
membangun pasar spiritual, maka semakin tumbuh dan meningkat asset bank-bank
syariah.Selain persoalan edukasi dan sosialisasi, masalah yang harus diperhatikan pelaku
perbankan adalah masalah keterampilan SDM di bank konvensional yang membuka
office channeling. Coorporate culture bank syariah juga harus menjadi perhatian praktisi
perbankan yang membuka sistem office channeling ini.
Efektifitas Sosialisasi Bank Indonesia
Kembali kepada urgensi gerakan edukasi dan sosialisasi bank syariah, jika dilihat dari
gerakan dan program sosialisasi yang dilakukann oleh Bank Indonesia, ternyata program
sosialisasi masih sangat minim. Menurut laporan akhir tahun Bank Indonesia 2006,
kegiatan sosialisasi oleh Bank Indonesia sepanjang tahun 2006 hanyalah 51 kali. Sebuah
upaya yang sangat minim mengingat besarnya jumlah penduduk Indonesia. Idealnya
dalam setahun bisa dilakukan minimal 5 juta kali sosialisasi dalam setahun, bukan 51
kali. Asumsinya, jumlah masjid di Indonesia sekitar 600.000 buah. Jika dalam setahun
hanya 1 kali sosialisasi di tiap masjid, maka dibutuhkan 600.000 kali sosialisasi. Ingat di
masjid-masid tidak cukup hanya sekali sosialisasi., minal 3 atau 4 kali sosialisasi,agar
pemahaman jamaah benar-benar mendalam, bukan sekedar kulit. Belum termasuk
sosialisasi terhadap 600.000 ustaz/ulamanya. Untuk mentraining para ulama minimal
dibutuhkan 6.000 kali sosialisasi, dengan asumsi setiap sosialiasi dihadiri 100 peserta.
Setiap sosilisasi memakan waktu 3 hari. Belum lagi sosialisasi terhadap pesantren yang
jumlahnya mencapai 15.000. buah yang tersebar di Indonesia. Jika dalam setahun hanya
dilakukan 1 kali kegiatan sosialisasi, maka dibutuhkan 15.000 kali sosialisasi. Sosialisasi
juga harus dilakukan kepada seluruh seluruh Perguruan Tinggi, tidak saja kepada fakultas
ekonomi dan fakultas syariah tetapi juga ke seluruh civitas akademika, biro rektor dan
sebagainya. Jumlah secara keseluruhan juga tidak kurang dari 15.000.-. Demikian pula
kepada seluruh sekolah Madrasah Aliyah, Tsnawiyah, MAN, dan SMU. Jumlahnya lebih
dari 50.000 sekolah. Demikian pula kepada aparat pemerintah di setiap kecamatan,
kabupaten kota, para pegawai di dinas-dinas pemerintah, DPRD, instansi departemen di
tingkat propinsi dan kabupaten kota. Sosialisasi juga mutlak dilakukan berkali-kali dalam
setahun kepada majlis talim ibu-ibu yang tersebar di seluruh Indonesia. Ingat hampir di
setiap desa dan kelurahan terdapat majlis ta’lim ibu-ibu, Jumlahnya ratusan ribu majlis
ta’lim ibu-ibu. Belum lagi kelompok KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). Bahkan
tidak mustahil sosialisasi kepada sekolah SD dan TK, agar bank syariah lebih dkenal
sejak awal. Berdasarkan kebutuhan akan sosialisassi tersebut, maka tidak aneh jika saat
ini dibutuhkan 5 juta kali sosialisasi oleh para ahli dan atau ustaz yang terlatih. Iklan di
televisi, radio memang dibutuhkan, numun sosialisasinya tidak mendalam dan siginifikan
mencerdaskan umat Islam yang mendengarnya. Maka di samping iklan media massa,
diperlukan edukasi langsung kepada masyarakat.
Perlu menjadi catatan, bahwa Bank Indonenia tidak boleh merasa bahwa sosialisasi yang
dilakukannya sudah terlalu banyak. Ini kesalahan yang sangat fatal. Sosialisasi yang
dilakukan Bank Indonesia bagaikan setetes air di tengah sungai yang besar, hampir tidak
berpengaruh bagi masyarakat secara signifikan, maka tidak aneh jika sejak beberapa
tahun terakhir market share bank shariah masih kecil. Indonesia adalah bangsa yang besar
dan negara yang luas. Penduduknya lebih dari 200 juta. Maka edukasi bank syariah
mustahil dilakukan sendirian oleh Bank Indonesia dan PKES yang dibentuknya,
ditambah promosi bank-bank syariah. Upaya-upaya promosi dan sosialisasi itu masih
sangat kecil dan terbatas. Ratusan juta (sebagian besar) umat Islam Indonesia belum
mengerti tentang sistem perbankan syariah. Puluhan ribu ulama yang berkhutbah di
mesjid belum menyampaikan materi ekonomi syariah secara rasional, ilmiah, bernash
agama dan meyakinkan umat. Ratusan ribu mesjid masih sepi dari topik ekonomi
ekonomi syariah, karena para ustasnya tidak mengerti (bahkan tidak aykin) pada
keunggulan bank syariah. Malah masih terlalu banyak ulama yang berpandangan dangkal
bahkan miring tentang perbankan syariah. Demi Allah, kita dari DPP IAEI siap dan
benar-benar sanggup untuk melakukan perubahan paradigma ulama tentang perbankan
serta mentraining ulama berdasarkan pendekatan integratif, ilmu-ilmu syariah dan
ekonomi. Ilmu-ilmu syariah dakam hal ini bukan hanya fiqh muamalah, tetapi perangkat
ilmu-ilmu alat yang sering menjadi andalan para ulama, seperti ilmu tafsir, hadits, ushul
fiqh, qawaid fiqh, falsafah tasyri’, falsafah hukum Islam. Kesemuanya digabungkan
dengan ilmu-ilmu modern, ilmu ekonomi moneter, perbankan dan ilmu ekonomi makro.
Selama ini pendekatan sosialisasi belum utuh dan integratif, masih parsial dan tidak
tuntas, sehingga virus keraguan para ulama dan masyarakat tidak hilang. Senjata sosilissi
belum ampuh menaklukkan ilmu para ulama, akademisi dan tokoh agama. Maka
diperlukan modul dan materi yang telah terbukti ampuh berhasil merubah paradigma
ulama dan myakinkan mereka secara rasional, ilmiah, tajam dan disertai pendekatan
ilmu-ilmu syariah itu sendiri. Jika orang Bank Indonesia memberikan sosialisasi kepada
para ulama pesantren, maka ulama bisa saja menolak berdasarkan ilmu ushul fiqh atau
disiplin ilmu syariah lainnya. Sebaliknya jika ulama pesantren yang sosilisasi, juga tidak
cukup karena tidak ada informasi ilmiah yang dilekatkan kepada syariah. Para ulama
menggangap bahwa para bankir dari Bank Indonesia tidak ahli dalam tafsir ayat-ayat al-
quran, hadits, ilmu ushul fiqh, tarikh tastri’ dan sebagainya. Karena itu, pendekatan
kepada ulama haruslah melalui pendekatan ilmu-ilmu syariah sendiri ditambah ilmu-ilmu
moneter dan perbankan secara utuh.
Jika Bank Indonesia dan bank-bank syariah bekerjasama dengan IAEI (Ikatan Ahli
Ekonomi Islam) dan para akademisi serta ulama secara serius dalam mengedukasi
masyarakat, maka akan terjadi kemajuan yang luar biasa, tidak saja loncatan hebat dalam
market share bank syariah, tetapi juga terbangun kecerdasan umat dalam memilih
lembaga perbankan secara ilmiah dan istiqamah.
Penutup
Jika gerakan edukasi dan sosialisasi dilakukan secara optimal, barulah penerapan office
channeling akan mendongkrak pertumbuhan industri perbankan syariah secara
signifikan dan jelas, target market share 5,2 persen akan terlampaui.
DIPOSTING OLEH Agustianto | March 11, 2008