Anda di halaman 1dari 3

Pemberdayaan Dewan Pengawas Syari’ah

Dewan Pengawas Syariah (DPS) memiliki fungsi yang sangat penting di dalam lembaga-
lembaga keuangan syari’ah. Setidaknya ada empat tugas dan wewenang DPS, yaitu (1)
Melakukan pengawasan secara periodik pada lembaga keuangan syariah, (2) Mengajukan
usul-usul pengembangan lembaga keuangan syariah kepada pimpinan lembaga yang
bersangkutan dan kepada DSN; (3) Melaporkan perkembangan produk dan operasional
lembaga keuangan syariah yang diawasinya kepada DSN sekurang-kurangnya dua kali
dalam satu tahun anggaran; (4) Merumuskan permasalahan yang memerlukan
pembahasan dengan DSN. Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, seorang DPS harus
memenuhi kualifikasi sebagai DPS, agar fungsi-fungsi pengawasannya dapat berjalan
dengan optimal. Syarat utama yang harus dimiliki anggota DPS adalah penguasaan fiqh
muamalah terapan dan penguasaan ilmu ekonomi dan keuangan. Dengan demikian dua
disiplin ilmu tersebut harus dimiliki seorang DPS. Abdallah dari Sudan (1994)
menyatakan bahwa anggota Department of Fatwa and Research (DFR) dan Higher Sharia
Supervisory Board (HSSB) adalah orang-orang yang mempunyai keahlian di bidang
Syariah (Islamic Jurisprudence), hukum, ekonomi dan akuntansi. Untuk memenuhi
kualifikasi tersebut, pihak perbankan syariah dan Bank Indonesia mengalami kesulitan,
karena langkanya ulama ahli fiqh yang memahami ilmu ekonomi keuangan, khusunya
perbankan. Selama ini, kita mudah mencari ulama yang ahli fiqh, tetapi tidak menguasai
ilmu ekonomi, keuangan dan perbankan. Juga mudah mencari orang yang memahami
ilmu ekonomi dan perbankan tetapi tidak menguasai aspek syariah, khususnya fiqh
muamalah dan ushul fiqh/qawa’if fiqh.Oleh karena itu, tidak aneh, jika masih banyak
anggota Dewan Pengawas Syariah yang belum memiliki ilmu yang memadai tentang
ilmu ekonomi dan perbankan. Masih banyak DPS bank syariah yang tidak bisa
membedakan 7 perbedaan penting antara bunga dan margin murabahah berdasarkan
perspektif teori ekonomi. sehingga tidak sedikit yang memandang bunga dan margin
murabahah itu sama saja. Ketidaktahuan membedakan bunga dan margin murabahah,
misalnya disebabkan karena mereka tidak memiliki ilmu alat teori ekonomi modern.
Mereka memandangnya dari pendekatan fiqh belaka. Mereka tidak membahas teori
ekonomi Islam yang meniscayakan keterkaitan sektor moneter dan riil, kaitan sektor riil
dalam bai murabahah dengan produksi, juga kaitannya dengan percepatan arus barang,
penghindaran spekulasi, kajian dari perspektif fungsi uang, dsb. Jadi, perbedaan bunga
dan margin murabahah bukan saja terletak pada kepastian harga dalam murabahah yang
tidak bisa berubah, tetapi lebih jauh dari dari itu. Bahkan masih saja ada DPS bank
syariah yang tidak bisa membedakan paling tidak 21 perbedaan bank konvensional dan
bank syariah. Lebih jauh lagi masih banyak anggota DPS yang belum memahami secara
memadai dan mendalam tentang mekanisme operasional bank syariah, bagaimana
aplikasi dan teknik menghitung bagi hasil pembiayaan, dsb.Seharusnya DPS memahami
secara mendalam tentang mekanisme operasional bank syariah, memahami keunggulan-
keunggulan bank syariah, memahami perbedaan bank syariah dan konvensional,
memahami sejarah dan perkembangan terkini perbankan syariah, produk-produk bank
syariah, memahami perbedaan bunga dan margin murabahah, perbedaan bunga dan bagi
hasil, bisa membaca dan memahami laporan keuangan, dsb. Lebih dari itu DPS
seharusnya memahami ilmu ekonomi moneter dan ilmu ekonokmi makro agar bisa secara
rasional melihat keharaman bunga bank secara haqqul yakin, dan karena itu DPS lah
seharusnya orang yang sangat meyakini kezaliman bunga terhadap perekonomian.
Haqqul yakin tentang keharaman bunga bank sulit terwujud manakala, para DPS tidak
memiliki ilmu alat untuk memahaminya. Karena itu tidak aneh jika masih banyak
anggota DPS yang tidak haqqul yakin tentang keharaman bunga bank, disebabkan
mereka tanpa ilmu alat berupa teori-teori ilmu ekonomi makro dan ilmu moneter. Jadi
harus diakui bahwa masih banyak anggota DPS bank syariah yang tidak memiliki
pengetahuan tentang ilmu ekonomi makro, sehingga tidak bisa memahami apalagi
menjelaskan secara ilmiah dan meyakinkan tentang dampak buruk bunga terhadap
investasi, dampak bunga terhadap produksi, dampak bunga terhadap unemployment
(pengangguran), dampak bunga terhadap inflasi, dampak bunga terhadap kegiatan
spekulasi, dan volatilitas mata uang, dampak bunga terhadap krisis, dampak bunga
terhadap inflasi, dsb. Masih banyak DPS yang belum memahami bahwa dalam perspektif
ilmu ekonomi, bunga (riba) adalah punca dari segala kerusakan di muka bumi (Ar-Rum :
39-41).Dalam kasus Indonesia, banyak DPS yang belum memahami secara ilmiah dan
faktual dampak bunga terhadap krisis hebat Indonesia yang berkepanjangan, dampak
bunga terhadap kenaikan harga BBM, listrik, telephon dan penggerogotan APBN ratusan
triliun melalui BLBI dan SBI. Dengan analisa ilmu ekonomi makro tersebut dipastikan,
tak seorang pun akan berpendapat bolehnya bunga bank. Oleh karena dampak bunga
yang demikian zalim dan kejam bagi perekonomian bangsa, negara dan umat manusia,
sehingga Al-Quran menyamakannya dengan pembunuhan (4:29) dan pelakunya kekal
dalam neraka abadi selamanya (2:275). Dalam hadits-hadits disebutkan dosa pelaku riba
lebih berat dari menzinai ibu kandung sendiri. Sabda Nabi lagi, ”Satu dirham yang
diambil seorang muslim, lebih dahsyat dosanya dari 33 kali berzina”.Tidak mungkin Al-
Quran menyebut pelaku bunga sebagai pembunuhan dan mengancam pelakunya masuk
neraka kekal abadi selamanya, jika bunga itu dosanya kecil. Bunga (interest) adalah dosa
terbesar dalam Islam, setelah syirik. Dosa riba yang demikian dahsyat, tidak bisa
dijelaskan kecuali dengan ilmu ekonomi makro. Sementara para DPS masih banyak yang
tidak mengetahui ilmu ekonomi makro tersebut dan membaca kurva-kurva yang
menjelaskan dampak buruk sistem bungaMasih banyak DPS yang belum mengetahui
bahwa ulama yang pakar ekonomi Islam telah ijma’ tentang keharaman bunga bank.
(Baca tulisan Prof.Dr. Umer Chapra, Prof.Dr. M.Akram Khan, Yusuf Qardhawi dan
M.Ali Ash-Shobuni !). Mereka meneliti pendapat para pakar ekonomi Islam sedunia dan
menyimpulkan bahwa ulama telah ijmak tentang keharaman bunga bank.Demikianlah
segudang problem DPS bank syariah kita saat ini. Jika demikian problemnya, maka DPS
tersebut sebenarnya tidak produktif dan hanya menjadi beban biaya sebuah bank syariah.
Kritikan ini sedikitpun tidak bermaksud ingin menghapus DPS dalam struktur bank
syariah. Keberadaan DPS wajib dipertahankan di struktur bank syariah. Cuma yang perlu
diperhatikan adalah bahwa menjadi anggota DPS tidak cukup hanya bermodalkan ilmu
fikih dan qawaid fiqh saja dan tidak cukup hanya mengawasi aspek syariah dan
mengeluarkan fatwa saja. Kualifikasinya yang harus dimiliki seorang DPS harus
komprehensif, agar perannya bisa berjalan lebih optimal. Sekaitan dengan ini, maka Bank
Indonesia, DSN dan IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam) harus bertanggung jawab dan
bertugas dalam mengatasi masalah ini. Ketiga lembaga tersebut harus bekerjasama dalam
memberdayakan dan meningkatkan kualitas keilmuan para DPS dengan training-training
intensif dan on the job training . Kemudian para Doktor Ekonomi Islam atau kandidat
Doktor Ekonomi Islam yang menguasai dua disiplin ilmu, yaitu ilmu syariah (fiqh
mualah, ushul fiqh) dan ilmu ekonomi dan keuangan, harus diutamakan menjadi DPS
walaupun mereka masih relatif muda dibanding ulama senior yang kurang memahami
ilmu ekonoi dan perbankan modern. Kekeliruan perbankan syari’ah saat ini adalah
mengangkat DPS karena kharismanya dan kepopulerannya di tengah masyarakat, bukan
karena keilmuannya di bidang ekonomi dan perbankan syari’ah serta ilmu fiqh
muamalah. Sehingga fiqur DPS terkesan hanya sebagai pajangan yang kurang berfungsi
dalam menjalankan pengawasan. Akibatnya, fungsi mereka sebagai DPS tidak berjalan
optimal. Di masa depan, pihak bank syariah, DSN dan Bank Indonesia, harus secara
selektif memilih anggota DPS. Calon anggota DPS harus diuji secara lisan dan tulisan.
Mudah-mudahan wacana ini berguna sebagai masukan bagi DSN, perbankan syariah dan
LKS lainnya serta Bank Indonesia dalam rangka memajukan lembaga keuangan syariah
di Indonesia.
DIPOSTING OLEH Agustianto | April 2, 2008