Anda di halaman 1dari 12

c 



Pengembangan perkebunan karet memberikan peranan penting bagi perekonomian

nasional, yaitu sebagai sumber devisa, sumber bahan baku industri, sumber pendapatan dan

kesejahteraan masyarakat serta sebagai pengembangan pusat-pusat pertumbuhan

perekonomian di daerah dan sekaligus berperan dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Komoditas ini membuka lapangan kerja bagi sekitar 1,4 juta orang serta memberikan

kontribusi yang signifikan sebagai salah satu sumber devisa non-migas. Di samping

itu perusahaan besar yang bergerak di bidang karet telah memberikan sumbangan

pendapatan kepada negara dalam bentuk berbagai jenis pajak dan pungutan

perusahaan.

Perkebunan karet di Indonesia juga telah diakui menjadi sumber keragaman

hayati yang bermanfaat dalam pelestarian lingkungan sumber penyerapan CO2 dan

penghasil O2, serta memberi fungsi orologis bagi wilayah di sekitarnya. Selain itu

tanaman karet ke depan akan merupakan sumber kayu potensial yang dapat

menstubsitusi kebutuhan kayu yang selama ini mengandalkan hutan alam.

Indonesia mempunyai potensi sumberdaya yang sangat memadai untuk

meningkatkan produksi dan produktivitas, baik melalui pengembangan areal baru

maupun melalui peremajaan areal tanaman karet tua dengan menggunakan klon

unggul latekskayu. Prospek pengembangan karet di Indonesia masih terbuka lebar,

karena produksi karet dunia sebesar 10,6 juta ton pada tahun 2010 sedangkan defisit

pasokan sebesar 300.000 ton. Kondisi ini akan memicu kenaikan harga karet alam
dunia, sehingga dapat diperoleh keuntungan yang besar dari pengembangan

komoditas karet.

Hasil utama dari pohon karet adalah lateks yang dapat dijual atau

diperdagangkan di masyarakat berupa lateks segar, slab atau koagulasi, ataupun sit

asap maupun sit angin. Tanaman karet siap sadap bila sudah matang sadap pohon.

Matang sadap pohon tercapai apabila sudah mampu diambil lateksnya tanpa

menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Lateks

diperoleh dengan cara melukai batang pohon karet pada lapisan laticifer. Tanaman

karet dapat mengeluarkan lateks sepanjang usianya, namun idealnya tanaman karet

diambil getahnya pada usia 5 tahun atau telah memiliki lilit batang 50 cm agar hasil

lateks dapat diambil secara berkelanjutan. Semakin bertambah umur tanaman

produksi lateksnya semakin meningkat.


cc 
  

p. Bahan

Tanaman karet usia 5 tahun dengan lilit batang 50 cm.

B. plat

1. Meteran

2. Pisau sadap atas

3. Pisau sadap bawah

4. Mal sadap

5. Pisau mal

6. Mangkuk

7. Cincin magkuk

8. Tali cincin

9. Talang sadap


ccc    

1. Penyadapan dilakukan pada usia sadap kebun, setelah 60% tanaman siap disadap,

dihitung jumlah pohon yang siap sadap.

2. Kulit pohon dibersihkan dan dibuat sketsa penyadapan.

3. Kulit pohon diiris dengan tebal irisan 1,5-2,0 mm dan kedalaman irisan 1,0-1,5

mm dari kambium.

4. Penyadapan dilakukan pada ketinggian 130 cm dari kaki gajah.

5. Lateks ditampung dengan mangkuk sadap.

6. Hasil lateks dikumpulkan di Tempat Pengumpulan Hasil (TPH)

 
c c  

p. Persiapan buka sadap:

1. persiapan alat-alat

2. menggambar sketsa sadap

3. menghitung pohon

B. Kriteria sadap:

1. ketebalan kulit 7 mm

2. lilit batang 50 cm

3. usia tanaman 5 tahun

4. bidang sadapan digambar dengan bentuk spiral dari kiri atas ke kanan

bawah membentuk sudut 40° terhadap garis horizontal.

Penyadapan yang dilakukan setiap 3 hari sekali dengan irisan miring sepanjang

½ spiral (½S d/3). Satu tanaman dibagi menjadi empat panel sadap: p01 dan p02

(atas) serta B01 dan B02 (bawah). Setiap panelnya dilakukan penyadapan selama 5

tahun. Dengan cara berikut dapat dilakukan penyadapan selama 25-30 tahun.

 
 


Pemungutan hasil tanaman karet disebut penyadapan karet. Penyadapan adalah

pelukaan buatan yang diberikan pada kulit batang atau cabang tanaman karet (?  

 ) secara berkala untuk jangka waktu yang lama sehingga lateks menetes

ke luar dari pembuluhnya menuju mangkuk. Penyadapan merupakan salah satu

kegiatan pokok dari pengusahaan tanaman karet. Tujuan dari penyadapan karet ini

adalah membuka pembuluh lateks pada kulit pohon agar lateks cepat mengalir.

Lateks merupakan getah dari tanaman karet yang membeku ketika terkena

udara. Lateks merupakan emulsi kompleks yang mengandung protein, alkaloid, pati,

gula, minyak, tanin, resin, dan gom. Lateks mengandung beragam jenis protein

katena lateks adalah cairan sitiplasma, protein ini termasuk enzim-enzim yang

berperan dalam sintesis molekul karet. Sebagian protein hilang sewaktu pemekatan

lateks yaitu karena pengendapan dan karena terbuang dalam lateks skim. Protein yang

tersisa dalam lateks pekat kurang lebih adalah 1% terhadap berat lateks dan

terdistribusi pada permukaan karet (60%) dan sisanya sebesar 40% terlarut dalam

serum lateks pekat tersebut (Pendle, 1992).

p. Menentukan matang sadap

Menentukan matang sadap dibagi menjadi matang sadap kebun dan

matang sadap pohon. Tanaman karet siap sadap bila sudah matang sadap

pohon. Matang sadap pohon tercapai apabila sudah mampu diambil lateksnya

tanpa menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan dan kesehatan tanaman.


Kesanggupan tanaman untuk disadap dapat ditentukan berdasarkan umur dan

lilit batang. Tanaman karet yang telah berumur 4,5-6 tahun dikatakan sudah

layak sadap (tergantung jenis klon), atau memiliki lilit batang 45-50 cm pada

ketinggian 130 cm di atas pertautan okulasi. Tanaman karet yang telah

berumur 5 tahun dikatakan sudah layak sadap, atau memiliki lilit batang 45-50

cm pada ketinggian 130 cm di atas pertautan okulasi.

Sedangkan matang sadap kebun terjadi jika jumlah tanaman matang

sadap sudah mencapai 60%. Misalkan, jarak tanam: 6x3 m (555 pohon/ha),

maka pohon matang sadapnya sudah mencapai 333 pohon/ha. Hal ini

didasarkan pada produksi yang dihasilkan secara ekonomis cukup

menguntungkan untuk memproduksi sejumlah pohon tersebut.

B. Persiapan buka sadap

plat alat yang disiapkan untuk membuka sadap antara lain meteran,

pisau sadap atas pisau sadap bawah, mal sadap, pisau mal, mangkuk, cincin

magkuk, tali cincin dan talang sadap. Meteran digunakan untuk mengukur lilit

batang dan menentukan ketinggian pengukuran lilit batang. Selanjutnya pohon

digambar sketsa sadap menggunakan mal sadap. Sketsa sadapan berguna

sebagai pola rencana penyadapan untuk jangka waktu tertentu (biasanya 6

bulan). plat untuk menoreh kulit batang karet saat akan membuat sketsa sadap

adalah pisau mal.


Talang sadap terbuat dari pipa atau pun kulit kayu dengan panjang 8 cm

dan lebar 2,5 cm dan digunakan untuk mengalirkan lateks ke mangkuk sadap.

Talang sadap dipaku ke pohon tepat pada bagian lateks mengalir dan

mengarah ke mangkuk. Mangkuk dipasang 10 cm di bawah talang dan

berfungsi sebagai penampung lateks yang mengalir dari bidang irisan melalui

talang. Mangkuk sadap diletakkan pada cincin, biasanya cincin ini

digantungkan atau dicantolkan pada tali cincin. Diameter cincin dibuat sedikit

lebih besar dari ukuran mangkok sadap agar mangkok bisa masuk ke dalam

cincin.

Pisau sadap ada 2 macam, yaitu pisau untuk sadap atas dan pisau untuk

sadap bawah. Pisau sadap atas bertangkai panjang untuk menyadap kulit karet

pada bidang sadap atas dengan ketinggian di atas 130 cm (Nazaruddin, 1998).

Pisau sadap harus mempunya ketajaman yang tinggi, karena berpengaruh pada

kecepatan menyadap dan kerapihan sadapan.. Pisau sadap mempunyai tangkai

yang panjang untuk mempermudah penyadapan. Pisau sadap bawah

digunakan untuk menyadap kulit karet pada bidang sadap bawah, ketinggian

mulai 130 cm ke arah bawah (Siregar, 1995).

Membuka sadapan dapat dilakukan baik dengan sistem sadapan ke

bawah atau Y  


      (DTS) maupun sistem sadap ke atas

atau  
      (UTS). Secara umum, permulaan sadapan

dimulai dengan sudut kemiringan irisan sadapan sebesar 40° dari garis

horizontal. Pada sistem sadapan bawah, digunakan panjang irisaan ½ spiral


(½ S), besar sudut irisan akan semakin mengecil hingga 30° bila mendekati

kaki gajah. Pada sistem sadapan ke atas, panjang irisan yang dibuat ¼ spiral

(¼ S) dan sudut irisan akan semakin membesar bila semakin ke atas.

C. Pelaksanaan penyadapan

1. Waktu penyadapan

Semakin siang penyadapan dilakukan, semakin rendah produksi per

pohon yang diperoleh. Prinsip ini didasarkan atas mekanisme fisiologi internal

tanaman. Karena tanaman menanggapi perubahan lingkungan dengan

mengendalikan transpirasi. Ini berarti, pada saat suhu dan intensitas matahari

tinggi, tanaman menekan transpirasi serendah mungkin untuk mencegah

kehilangan air di jaringannya. Sama halnya yang terjadi pada sel, terdapat

perubahan turgor yang memberi dampak pelambatan aliran cairan sel.

Bersamaan dengan itu, stomata pun menutup sehingga air dapat dihemat

pelepasannya, mekanisme ini berlangsung pada siang hari. Penyadapan yang

semakin siang akan sedikit sekali mengalirkan lateks oleh sebab terjadinya

penurunan turgor. Namun sejalan dengan turunnya suhu serta rendahnya

intensitas matahari, sel-sel membesar kembali dan membentuk turgor yang

tinggi. Penyadapan dianjurkan mulai jam 5.00 pagi dan selesai tidak lebih dari

jam 10.00 pagi.

2. Frekuensi penyadapan
Frekuensi penyadapan adalah jumlah penyadapan yang dilakukan dalam

jangka waktu tertentu. Penentuan frekuensi penyadapan berkaitan dengan

panjang irisan dan intensitas penyadapan. Dengan panjang irisan ½spiral (½ s),

frekuensi penyadapan adalah 1 kali dalam 3 hari (d/3) untuk 2 tahun pertama

penyadapan, dan kemudian diubah menjadi 1 kali dalam 2 hari (d/2) untuk tahun

selanjutnya.

3. Kedalaman dan ketebalan irisan sadap

Kedalaman irisan sadap dianjurkan berkisar 1-1,5 mm dari kambium agar

penyadapan dapat dilakukan selama 25 ± 30 tahun. Diusahakan jangan sampai

terjadi kerusakan kambium agar kulit pulihan dapat terbentuk dengan baik.

Ketebalan irisan sadap yang dianjurkan adalah berkisar antara 1,5 mm ± 2 mm setiap

penyadapan, agar keseimbangan produksi jangka panjang tetap terjaga serta

penyadapan dapat dilakukan selama kurang lebih 25 ± 30 tahun.

 
c c 

Kegiatan untuk mengumpulkan hasil getah karet disebut penyadapan.

Penyadapan adalah pelukaan buatan pada kulit batang atau cabang tanaman karet.

Tanaman karet yang disadap harus memenuhi syarat agar produktivitas tanaman

terjaga, yaitu usia 4,5-6 tahun dan lilit batang 45-50 pada ketinggian 130 cm di atas

pertautan okulasi. Frekuensi penyadapan dapat dilakukan setiap hari (d/1), dua hari

sekali (d/2) atau tiga hari sekali (d/3). Penyadapan dapat dilakukan selama 25-30

tahun tergantung konsumsi kulit tiap sadap, pemeliharaan tanaman, dan adanya

penyakit.

 
   




pnwar, C. 2009. Managemen Kebun Karet PT Rimba Karet. (On-line).
http://jiputro.net/manajemen/management-kebun-karet. Diakses 13 Januari
2011.

Badan Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2005. Ê  


  
 Ê        . Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Departemen Pertanian

Maryadi. 2005.          . Gadjah Mada University Press.


Yogyakarta.

Nazaruddin dan F.B. Paimin. 1998.  . Penebar Swadaya. Jakarta.

Pendle. P.D. 1992. The Production, Composition, and Chemistry of Natural Latex
Concentrates in Sensitivity to Latex in Medical Device (FDp Ed.). Program
and Proceedings of International Latex Conference, Baltimore, November 5-
7,13.

Siregar, T.H.S., Lukman., Junaidi, U., Kuswanhadi., Sutardi. 1997. Sistem


Penyadapan yang Efisien di Perkebunan Karet    
        Ê     Ê
     Ê      .
Puslit Karet. S.Putih.p.35 ± 58.

Siregar, T.H.S. 1995.    Ê 


    . Kanisius, Yogyakarta.

Suhendry, I. 2002. Kajian Finansial Penggunaan Klon Karet Unggul Generasi IV.
 Ê Ê    . 21 : 1- 3.