Anda di halaman 1dari 64

BAB I

PENDAHULUAN

A. DASAR KEBIJAKAN

1. Kebijakan ekspor didasarkan pada Program Perencanaan Nasional (Propenas) dan Rencana
Jangka panjang dan Menengah (RJPM) yang pelaksanaannya dituangkan dalam bentuk peraturan
perundang-undangan, peraturan Presiden dan peraturan Menteri;

2. Penetapan kebijakan ekspor dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat mengingat bahwa kebijakan
tersebut terkait dengan perjanjian internasional, jangkauan operasional bersifat nasional yang
memerlukan koordinasi antar instansi terkait tingkat nasional maupun lembaga internasional;

3. Kebijakan ekspor disusun dalam rangka peningkatan daya saing, menjamin kepastian usaha dan
kesinambungan bahan baku industri di dalam negeri, mendukung tetap terpeliharanya kelestarian
lingkunganjsumber daya alam dan yang menyangkut Kesehatan, Keamanan, Keselamatan,
Lingkungan dan Moral Bangsa (K3LM) serta adanya perjanjian internasional;

4. Kebijakan ekspor ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini Menteri Perdagangan.

B. PENGERTIAN

1. Ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dari daerah Pabean;

2. Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah daratan, perairan dan
ruang udara diatasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zone Ekonomi Eksklusif dan Landasan
Kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang
Kepabeanan;

3. Pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan disekitarnya dengan batas-batas
tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintah dan kegiatan ekonomi yang digunakan sebagai
tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan atau bongkar muat barang yang
dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta
sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi;

4. Eksportir adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha baik yang berbentuk badan hukum
maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan
(ekspor) dalam wilayah hukum NKRI, baik sendiri maupun secara bersama-sama melalui
perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam bidang ekonomi;

5. Eksportir Terdaftar adalah perusahaan atau perorangan yang telah mendapat pengakuan dari
Menteri Perdagangan untuk mengekspor barang tertentu sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

6. Barang yang diatur ekspornya adalah barang yang ekspornya hanya dapat dilakukan oleh
Eksportir Terdaftar;

7. Barang yang diawasi ekspornya adalah barang yang ekspornya hanya dapat dilakukan dengan
persetujuan Menteri Perdagangan atau Pejabat yang ditunjuk setelah mendapat rekomendasi
dari instansi terkait;

8. Barang yang dilarang ekspornya adalah barang yang tidak dapat diekspor;

9. Barang yang bebas ekspornya adalah barang yang tidak termasuk pada butir 6,7 dan 8;

10. Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode
yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-
syarat K3LM, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman,
perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-
besarnya;

11. Verifikasi atau penelusuran teknis adalah penelitian dan pemeriksaan yang dilakukan surveyor
sebelum muat barang;
12. Surveyor adalah perusahaan survey yang mendapat otorisasi dari dan ditetapkan oleh Menteri
Perdagangan untuk melakukan verifikasi atau penelusuran teknis atas ekspor dan impor;

13. Prekursor adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia tertentu yang dapat digunakan sebagai
bahan bakufpenolong untuk keperluan proses produksi industri apabila disimpangkan dapat
digunakan dalam memproses pembuatan narkotika danfatau psikotropika;

14. Rekomendasi adalah surat yang diterbitkan oleh instansi terkait yang memuat penjelasan secara
teknis dan bukan merupakan izin persetujuan ekspor;

15. Pre-Export Notification (PEN) adalah pemberitahuan persetujuan ekspor yang disampaikan
kepada instansifbadanflembaga yang berwenang di negara tujuan ekspor.
BAB II
KETENTUAN UMUM

A. KETENTUAN DAN PERSYARATAN EKSPOR

Berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 558/MPP/Kep/12/1998


tanggal 4 Desember 1998 tentang Ketentuan Umum Dibidang Ekspor sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 01/M-
DAG/PER/1/2007 tanggal 22 Januari 2007, ekspor dapat dilakukan oleh setiap perusahaan atau
perorangan yang telah memiliki :

1. Tanda Daftar Usaha Perdagangan (TDUP)/Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP);

2. Ijin Usaha dari Departemen Teknis/Lembaga Pemerintah non Departemen berdasarkan


peraturan perundang-undangan yang berlaku;
3. Tanda Daftar Perusahaan (TOP).

B. PENGELOMPOKAN BARANG EKSPOR


1. BARANG YANG DIATUR EKSPORNYA

a. Latar Belakang
Pengaturan ekspor dilakukan sejalan dengan ketentuan perjanjian intemasional, bilateral,
regional maupun multilateral dalam rangka:
1) Menjamin tersedianya bahan baku bagi industri dalam negeri;
2) Melindungi lingkungan dan kelestarian alam;
3) Meningkatkan nilai tambah;
4) Memelihara prinsip-prinsip K3LM;
5) Meningkatkan daya saing dan posisi tawar.

b. persyaratan
1) Memenuhi persyaratan umum sebagai eksportir;
2) Memenuhi persyaratan khusus sesuai dengan barang yang diatur;
3) Mendapat pengakuan sebagai Eksportir Terdaftar dari Menteri Perdagangan dalam
hal ini Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri.
c. Komoditi yang diatur Tata Niaga Ekspornya
1) Produk perkebunan
Kopi
Latar Belakang
Sejak diberlakukan kuota International Coffee Organization (lCO) pada bulan Juli
1989, perdagangan kopi dunia diserahkan pada mekanisme pasar didasarkan pada
International Coffee Agreement 1983 (ICA-1983) yang diperpanjang sampai dengan
30 September 1994. Dalam ICA-1994 ini tidak lagi memuat ketentuan ekonomi
perdagangan kopi namun peraturan yang sifatnya untuk kepentingan organisasi dan
pelayanan kepada negara-negara anggota ICO. Indonesia telah meratifikasi ICA-2001
dengan Keppres Nomor 32 tahun 2002 tanggal 20 Mei 2002 dan telah menyampaikan
instrument of accession ke Sekretariat Jenderal PBB pada tanggal 30 Mei 2002.
Sejak tahun 2001 banyak kebijakan reformasi yang dilakukan ICO dengan menghapus
system kuota, price control dan intervensi pasar dan menggantinya dengan Resolusi
407 ICO yang mengatur tingkat FECTS dan kandungan dalam biji Aspai dan Amerika
Serikat langsung memberikan pendapat agar standar kualitas ini tidak bersifat
obligatory namun bersifat voluntary karena tidak berkaitan dengan food safety dan
healthy. Diharapkan Resolusi 407 ICO ini akan menjadi pre requisite untuk
kembalinya Amerika Serikat menjadi anggota ICO. Sehubungan dengan hal diatas,
maka ketentuan ekspor kopi di dalam negeri disesuaikan dengan ketentuan dalam lCA-
1994 dan kebutuhan dana untuk membayar iuran kepada Assocation of Coffee
Producing Countries (ACPC) dan lCD, namun dengan bubarnya ACPC pada tahun
2001 maka dana yang semula untuk membayar iuran ACPC dialihkan untuk
membayar iuran ICO. Jenis kopi yang di ekspor adalah Robusta dan Arabika yang
termasuk dalam Pos Tarip HS 09.01 dan 21.01. Jenis kopi yang dipergunakan sebagai
dasar penentuan berat adalah kopi biji segar tanpa kulit sebelum digoreng (green
coffee). Berat equivalent dari jenis kopi lainnya terhadap biji kopi segar tanpa kulit.
Secara garis besar pengaturan pelaksanaan ekspor kopi, selama ICO tidak menerapkan
sistem kuota, para eksportir dibebaskan dari pembatasan jumlah kopi yang dapat di
ekspor dan Surat Persetujuan Ekspor Kopi (SPEK) dapat dikeluarkan langsung oleh
Dinas yang bertanggung jawab di bidang Perdagangan di Provinsi/Kabupaten/Kota
sesuai dengan jumlah permintaan eksportir yang bersangkutan.
Dasar Hukum
a) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 558/MPP/Kep/12/1998
tanggal 4 Desember 1998 tentang Ketentuan Umum Dibidang Ekspor
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri
Perdagangan Nomor 01/MDAG/PER/1/2007 tanggal 22 Januari 2007;

b) Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 26/MDAG/PER/12/2005 tanggal 2


Desember 2005 tentang Ketentuan Ekspor Kopi.

Ketentuan Ekspor
a) Kopi yang termasuk diatur ekspornya adalah pos Tarif Nomor HS. 09.01 dan
21.01 yang hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang telah diakui sebagai
Eksportir Terdaftar Kopi (ETK) oleh Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri;

b) Untuk diakui sebagai ETK, perusahaan mengajukan permohonan kepada Direktur


Jenderal Perdagangan Luar Negeri dengan melampirkan :
• Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atau Tanda Daftar Usaha Perdagangan
(TOUP) atau Surat Izin Usaha dari Departemen Teknis/Lembaga Pemerintah
Non Departemen;
• Tanda Daftar perusahaan (TOP);
• Nomor pokok Wajib Pajak (NPWP);
• Rekomendasi dari Dinas yang bertanggung jawab di bidang Perdagangan di
Provinsi/ Kabupaten/Kota.

c) Pengakuan sebagai ETK berlaku tanpa batas waktu selama perusahaan yang
bersangkutan melaksanakan kegiatan usahanya, sesuai dengan ketentuan yang
berlaku;

d) Apabila ETK tidak melaksanakan kegiatan ekspor selama 1 (satu) tahun maka
pengakuan sebagai ETK dinyatakan tidak berlaku;

e) Kopi yang diekspor harus sesuai dengan standar mutuyang ditetapkan oleh
Menteri Perdagangan.

Tata cara pelaksanaan


a) Memperoleh Surat pelaksanaan Ekspor Kopi (SPEK) dari Dinas yang
bertanggung jawab di bidang Perdagangan di Provinsi/Kabupaten/Kota yang
ditunjuk oleh Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Departemen
Perdagangan sebagai instansi penerbit SPEK, setelah Eksportir Kopi telah
membayar iuran kepada Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI);

b) SPEK diterbitkan selambat-Iambatnya dalam waktu3 (tiga) hari terhitung sejak


diterimanya permohonan yang telah dilengkapi oleh Eksportir Kopi;

c) SPEK hanya berlaku 30 (tiga puluh) hari sejak diterbitkan dan hanya dapat
diperpanjang 1 (satu) kali;

d) Masa berlaku SPEK sampai dengan akhir tahun kopi atau sampai tanggal 30
September, tidak dapat diperpanjang lagi;

e) SPEK dapat digunakan untuk pengapalan dari seluruh Indonesia;


f) Melampirkan Surat Keterangan.AsaI (SKA) form ICO yang dikeluarkan oleh
Dinas yang bertanggung jawab di bidang Perdagangan di
provinsi/Kabupaten/Kota dan instansi yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal
Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan dalam penerbitan SKA
formulir ICO.

Sanksi
ETK yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dan persyaratan ekspor kopi
dikenakan sanksi berupa pembekuan atau pencabutan pengakuan sebagai ETK
dan/atau sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2) Produk Kehutanan

Rotan
Latar Belakang
Dalam rangka membuka kesernpatan ekspor secara terkendali bagi produk rotan
setengah jadi yang bahan bakunya berasal dari rotan hutan alam dengan tetap
mempertimbangkan kepentingan dan kebutuhan industri dalam negeri, dengan sasaran
kebijakan :
a) Untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat petani/pengumpul rotan di
Provinsi-Provinsi penghasil rotan untuk memperoleh manfaat dari hasil sumber
daya alam daerah mereka sendiri. Sebagaimana diketahui, manfaat sumber daya
alam daerah belum sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat/pengumpul rotan
setempat karena berlakunya pelarangan ekspor beberapa jenis rotan;

b) Untuk mempertahankan kelangsungan pasokan bahan baku rotan yang diperlukan


oleh industri barang jadi rotan di dalam negeri dengan cara menetapkan suatu batas
maksimum rotan yang dapat diekspor;

c) Untuk tetap menjaga kelestarian tanaman rotan agardapat mempertahankan


kesinambungan pasokan rotan serta kelestarian alam di daerah-daerah penghasil
rotan.
Dasar Hukum
a) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 58/MPP/Kep/12/1998
tanggal 4 Desember 1998 tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor
sebagaimana telah Beberapa Kali Diubah Terakhir Dengan Peraturan Menteri
Perdagangan RI Nomor 01/M-DAG/Per/1/2007 tanggal 22 Januari 2007;

b) Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 18/MDAG/PER/3/2006 tanggal 29


Maret 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor
12/M-DAG/PER/6/2005 tanggal 30 Juni 2005 tentang Ketentuan Ekspor Rotan;

c) Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 12/MDAG/PER/6/2005 tanggal 30 Juni


2005 tentang Ketentuan Ekspor Rotan;

d) Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 29/MDAG/PER/7/2007 tanggal 4 Juli


2007 tentang Perubahan Atas Lampiran Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor
12/M-DAG/PER/6/2005 tentang Ketentuan Ekspor Rotan;

e) Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Nomor


01/DAGLU/PER/7/2005 tanggal 15 Juli 2005 tentang petunjuk Pelaksanaan
Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 12/M-DAG/PER/6/2005 tanggal 30
Juni 2005 tentang Ketentuan Ekspor Rotan;

Ketentuan Ekspor
Rotan yang termasuk diatur tata niaga ekspornya adalah:
a) Rotan Asalan jenis Taman/Sega (Calamus caesius) dan lrit (Calamus
trachycoleus) dalam bentuk asalan, dirunti atau tidak, dicuci atau tidak,
diasap/dibelerang atau tidak, dengan diameter 4 sId 16 mm, yang termasuk dalam
Pos Tarif/HS 1401.20.00.00 dan rotan asalan selain dari jenis tersebut dilarang
untuk diekspor;
b) Rotan Setengah Jadi dalam bentuk kulit dan hati
rotan yang diolah dari jenis Taman/Sega dan lrit serta dalam bentuk rotan poles,
hati dan kulit rotan yang diolah bukan dari jenis Taman/Sega dan Irit Produk,
yang termasuk dalam Pos Tarif/HS 1401.20.00.00.

Untuk dapat mengekspor rotan tersebut hanya dapat dilakukan oleh perusahaan atau
perorangan yang telah mendapat pengakuan sebagai Eksportir Terdaftar Rotan (ETR)
oleh Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri. Permohonan untuk diakui sebagai
ETR ditujukan kepada Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, dengan
melampirkan :
a) Photo copy Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);
b) Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
c) Photo copy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);

d) Photo copy Izin Usaha Industri (IUI) yang telah dilegalisir oleh pejabat yang
berwenang menerbitkan IUI untuk- eksportir Rotan Setengah Jadi dan Surat Izin
Pengumpul Rotan (SIPR) yang dilegalisir oleh pejabat yang berwenang
menerbitkan SIPR untuk eksportir Rotan Asalan;

e) Photo copy bukti dan atau izin pemilikan/penguasaan gudang (untuk eksportir
Rotan Asalan).

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri menerbitkan persetujuan atau penolakan


permohonan selambatlambatnya dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja terhitung dari
sejak permohonan diterima.

Jumlah Alokasi Ekspor


a) Jumlah Rotan Asalan dan Rotan Setengah Jadi yang dapat diekspor secara
nasional harus memperhatikan kelestarian tumbuhan rotan dan kebutuhan bahan
baku bagi industri rotan dalam negeri;

b) Jumlah Rotan Asalan dan Rotan Setengah Jadi yang dapat diekspor setiap
tahunnya ditetapkan oleh Menteri Perdagangan dengan mempertimbangkan
masukan dari instansi/lembaga terkait;

c) Besamya volume Rotan Asalan dan Rotan Setengah Jadi untuk periode 2 Juli
2007 sampai dengan 30 Juni 2008 adalah untuk Rotan Asalan Jenis taman/sega
dan irit (25.000 ton); Rotan Setengah Jadi dalam bentuk hati dan kulit rotan yang
diolah dari jenis taman/ sega dan irit (16.000 ton); dan Rotan Setengah Jadi dalam
bentuk rotan poles, hati dan kulit rotan yang diolah dari jenis bukan taman/ sega
dan irit (36.000 ton).
Tata Cara Mendapatkan Alokasi Volume Ekspor Rotan
Untuk mendapatkan alokasi volume ekspor rotan, ETR harus mengajukan permohonan
kepada Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri cq. Direktur Ekspor Produk
Pertanian dan Kehutanan.

a) Alokasi Volume Ekspor Rotan Asalan Jenis Taman/Sega dan lrit


1) pengajuan permohonan untuk mendapatkan alokasi volume ekspor rotan asalan
ini untuk periode 3 (tiga) bulan pertama harus melampirkan:

• Bukti realisasi ekspor dan rencana ekspor dalam 1 (satu) tahun yang
dibagi per tiga bulan bagi ETR yang sudah pemah ekspor;

• Bukti stok rotan asalan dan rencana ekspor dalam 1 (satu) tahun yang
dibagi per tiga bulan bagi ETR yang belum pernah ekspor.

2) Penetapan alokasi volume ekspor rotan asalan ini dilakukan dengan


mempertimbangkan realisasi ekspor dan atau rencana ekspor.
b) Alokasi Volume Ekspor Rotan Setengah Jadi Dalam Bentuk Kulit dan Hati
Rotan yang Diolah Dari Jenis Taman/Sega dan Irit
1) Pengajuan permohonan untuk mendapatkan alokasi volume ekspor rotan
setengah jadi ini untuk periode 3 (tiga) bulan pertama harus melampirkan :
• Bukti realisasi ekspor dan rencana ekspor dalam 1 (satu) tahun yang
dibagi per tiga bulan bagi ETR yang sudah pernah ekspor;
• Kapasitas/realisasi produksi dan rencana ekspor dalam 1 (satu) tahun yang
dibagi per tiga bulan bagi ETR yang belum pernah ekspor.

2) Penetapan alokasi volume ekspor rotan setengah jadi ini dilakukan dengan
mempertimbangkan rencana dan realisasi ekspor dan atau kapasitas/realisasi
produksi.
c) Alokasi Volume Ekspor Rotan Asalan Jenis Taman/Sega dan Irit dan Rotan
Setengah Jadi Dalam Bentuk Kulit dan Hati Rotan yang Diolah Dari Jenis
Taman/Sega dan Irit
1) Untuk mendapatkan alokasi volume ekspor rotan dari jenis a) dan b) ini untuk
periode tiga bulan kedua dan selanjutnya, ETR pemohon harus melampirkan :
• Rencana ekspor dan rencana penjualan dalam negeri 3 (tiga) bulan
berikutnya;

• Realisasi ekspor periode sebelumnya yang dibuktikan dengan copy


Laporan Surveyor (LS).

2) Penetapan alokasi ekspor rotan jenis a) dan b) ini untuk periode kedua (tiga
bulan berikutnya) dan periode selanjutnya dilakukan dengan
mempertimbangkan realisasi ekspor.
d) Alokasi Volume Ekspor Rotan Setengah Jadi Dalam Bentuk Rotan Poles, Hati
dan Kulit Rotan yang Diolah Bukan Dari Jenis Taman/Sega dan Irit
1) ETR mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Perdagangan Luar
Negeri cq. Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, untuk periode 3
(tiga) bulan pertama harus melampirkan:
• Rencana ekspor selama 1 tahun dibagi per tiga bulan;
• Rencana penjualan dalam negeri dalam 1 (satu) tahun yang dibagi per tiga
bulan;
• Photo copy Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH) yang telah
dilegalisir oleh Instansi penerbit bukti penjualan rotan setengah jadi kepada
industri mebel dalam negeri dan atau kepada perusahaan distributor
(terminal) rotan yang diakui.

2) Penetapan alokasi volume ekspor rotan setengah jadi ini untuk peri ode tiga
bulan pertama, dilakukan dengan mempertimbangkan kapasitas/ realisasi
produksi dan volume penjualan dalam negeri selama 1 (satu) tahun terakhir;

3) Untuk mendapatkan alokasi volume ekspor rotan setengah jadi ini untuk periode
tiga bulan kedua dan selanjutnya, ETR pemohon harus melampirkan:

• Rencana ekspor dan rencana penjualan dalam negeri 3 (tiga) bulan


berikutnya;
• Realisasi ekspor periode sebelumnya yang dibuktikan dengan copy
Laporan Surveyor (LS);

• Realisasi penjualan dalam negeri periode sebelumnya yang dibuktikan


dengan copy Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH) yang telah
dilegalisir oleh Instansi Penerbit;
4) Penetapan alokasi volume ekspor rotan setengah jadi ini untuk periode kedua
(tiga bulan berikutnya) dan periode selanjutnya dilakukan dengan
mempertimbangkan realisasi ekspor dan realisasi penjualan dalam negeri.

Pengajuan permohonan untuk mendapatkan alokasi volume ekspor rotan butir a),
b), c) dan d) diatas untuk periode kedua (tiga bulan berikutnya) dan periode
selanjutnya disampaikan 1 (satu) minggu sebelum berakhirnya periode tiga bulan
berjalan dan pengalokasian volume ekspornya ditetapkan selambat-lambatnya 2
(dua) minggu setelah berakhimya periode tiga bulan sebelumnya.
Alokasi volume ekspor rotan tersebut yang tidak direalisasikan sampai tanggal
berakhimya masa berlaku Surat Persetujuan Ekspor dapat dialokasikan kembali
pada periode tiga bulan berikutnya.

Verifikasi/Penelusuran Teknis Ekspor

a) Setiap pelaksanaan ekspor rotan oleh ETR, wajib dilakukan


verifikasi/penelusuran teknis;

b) Pelaksanaan VerifikasijPenelusuran Teknis Ekspor rotan dilakukan oleh


surveyor independen berpengalaman yang ditunjuk oleh Menteri Perdagangan;

c) Hasil pelaksanaan Verifikasi/Penelusuran Teknis Ekspor rotan oleh surveyor


dalam bentuk laporan Survey (LS) yang merupakan kelengkapan dokumen
ekspor.
Biaya jasa pelayanan kegiatan Verifikasi/Penelusuran Teknis Ekspor rotan
dibebankan kepada Pemerintah.

Produk Industri Kehutanan


Latar Belakang
Produk Industri Kehutanan merupakan salah satu komoditas penghasil devisa
negara non migas maka untuk melancarkan kegiatan ekspornya perlu adanya
pengaturan yang jelas mengenai ketentuan ekspor produk industri kehutanan.

Dasar Hukum
a) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
558/MPP/Kep/12/1998 tanggal 4 Desember 1998 tentang Ketentuan Umum
Dibidang Ekspor sebagaimana telah beberapa kali diubah dan terakhir dengan
Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 01/M-DAG/PER/1/2007 tanggal 22
Januari 2007;
b) Peraturan Bersama Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan dan Menteri
Kehutanan Nomor 08/MIND/PER/2/2006, Nomor 01/M-DAG/PER/2/2006 dan
Nomor P.08/Menhut-VI/2006 tanggal1 Pebruari 2006 tentang pencabutan
Keputusan Bersama Menteri Kehutanan dan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan Nomor 350/Menhut-VI/2004 dan Nomor 598/MPP/Kep/9/2004
tanggal 24 September 2004 tentang Larangan Ekspor Bantalan Rel Kereta Api
dari Kayu dan Kayu Gergajian;

c) Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 09/MDAG/PER/2/2007 tanggal 14


Pebruari 2007 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan;

d) Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 101.2/MDAG/KEP/4/2007 tanggal 16


April 2007 tentang Pelimpahan Wewenang Penetapan Produk Industri
Kehutanan Yang Dikecualikan Dari Ketentuan Kriteria Teknis;

e) Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Nomor


01/DAGLU/PER/2/2007 tanggal14 Pebruari 2007 tentang Tata Cara
pelaksanaan Endorsement Oleh Badan Revitalisasi Industri Kehutanan (BRIK);

f) Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Nomor


02/DAGLU/PER/2/2007 tanggal 14 Pebruari 2007 tentang Ketentuan dan Tata
Cara Verifikasi/Penelusuran Teknis Ekspor Produk Industri Kehutanan Tertentu
Oleh Surveyor.

Ketentuan Ekspor
1. Bantalan rel kereta api dari kayu (yang termasuk HS. 4406) dan kayu gergajian
(yang termasuk HS. 4407) dilarang ekspomya di seluruh wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia;
2. Produk Industri Kehutanan yang diatur tata niaga ekspornya adalah:
1) Serpih Kayu (HS. Ex. 4401 dan Ex. 4404);

2) Kayu gergajian yang telah diolah lebih lanjut dengan meratakan keempat
sisinya sehingga permukaannya menjadi rata dan halus dengan ketebalan
melebihi 6 mm (S4S/HS. Ex. 4407);

3) Kayu olahan yang diperoleh dengan menyambung kayu gergajian yang


telah dikeringkan dan diketam keempat sisinya setelah proses end-jointed
dengan ketebalan melebihi 6 mm (HS. Ex. 4407);

4) Lembaran kayu veneer (disambung maupun tidak) dan kayu lainnya


digergaji membujur, dibelah atau dikuliti baik diketam, diampelas atau
end jointed maupun tidak dengan ketebalan tidak melebihi 6 mm (HS.
4408);

5) Kayu (termasuk jalur dan potongan untuk lantai papan, tidak dipasang)
dibentuk tidak terputus (diberi lidah, diberi alur, tepinya dikorok, diberi
lereng, diberi lidah dan alur, tepinya miring, berbentuk V, beaded, diberi
pole bentukan, dibundarkan atau semacam itu), sepanjang tepi atau
permukaannya, diketam maupun tidak diampelas atau finger jointed (HS.
4409);

6) Papan partikel dan papan semacam itu dari kayu atau bahan mengandung
lignin lainnya, diaglomerasi dengan resin atau bahan perekat organik
lainnya maupun tidak (HS. 4410);

7) Papan terbuat dari serat kayu ata'u bahan mengandung lignin lainnya,
direkatkan dengan resin, bahan organik lainnya maupun tidak (HS. 4411);

8) Kayu lapis, panel lapisan kayu dan kayu berlapis semacam itu (HS. 4412);

9) Kayu dipadatkan berbentuk block, pelat, jalur atau profil (HS.


4413.00.00.00);

10) Bingkai kayu untuk lukisan, foto, cermin atau barang semacam itu
(HS.4414.00.00.00);

11) Peti, kotak, krat, drum dan pengemas semacam itu dari kayu, gelondong
kabel dari kayu, palet kotak dan papan untuk muatan lainnya dari kayu,
termasuk papan lengkung untuk tahang (HS4415);

12) Tahang, tong, bejana, pasu dan produk lainnya dari pembuat tong/pasu
dan bagiannya dari kayu, termasuk papan lengkung untuk tahang (HS.
4416);

13) Perkakas, badan perkakas, pegangan perkakas, badan sapu atau sikat dan
pegangannya, dari kayu; acuan dan kelebut sepatu bot atau sepatu, dari
kayu (HS. 4417);

14) Perabot dan bahan pembangun rumah dari kayu, termasuk panil kayu
selular, rakitan panel penutup lantai, atau sirap dan "shake" (HS.4418);
15) Perangkat makan dan perangkat dapur dari kayu (HS. 4419.00.00.00);
16) Batang kayu korek api (HS. 4421.90.20.00);
17) Paving Blok dari kayu (HS. 4421.90.99.00);
18) Kayu Cendana dan produk kayu cendana;

19) Lam pit dan Tirai dari rotan (HS. 4601.22.00.00);

20) Keranjang dan anyaman dari rotan (HS. 4602.12.00.00);

21) Tempat duduk dari rotan (HS 9401.51.00.10);

22) Tempat duduk lainnya dengan rangka dari kayu, diberi lapisan penutup
(HS.9401.61.00.00);

23) Lain-lain (tempat duduk lainnya dengan rangka dari kayu tidak diberi
lapisan penutup (HS. 9401.69.00.00);

24) Perabotan kayu dari jenis yang digunakan di kantor (HS. 9403.30.00.00);

25) Perabotan kayu dari jenis yang digunakan di dapur (HS. 9403.40.00.00);

26) Perabotan kayu dari jenis yang digunakan di kamar tidur


(HS.9403.50.00.00);
27) Perabotan kayu lainnya (HS. 9403.60.00.00);

28) Perangkat kamar tidur, ruang makan atau ruang keluarga dari rotan

(HS. 9403.81.00.10);
29) Bagian Perabotan dari kayu (HS.9403.90.00.00);

30) Bangunan Prefabrikasi dari kayu (HS.9406.00.92.00). .


3. Ekspor produk industri kehutanan tersebut pada butir 2) hanya dapat
dilaksanakan oleh Perusahaan Industri Kehutanan yang telah diakui sebagai
Eksportir Terdaftar Produk Industri Kehutanan (ETPIK) oleh Direktur Jenderal
Perdagangan Luar Negeri.

4. Untuk mendapatkan pengakuan sebagai ETPIK, Perusahaan Industri Kehutanan


mengajukan permohonan tertulis kepada Direktur Jenderal Perdagangan Luar
Negeri, Departemen Perdagangan.

Permohonan sebagaimana dimaksud diatas harus dilengkapi dokumen sebagai


berikut :
a. Berita Acara Pemeriksaan Fisik Industri dan Rekomendasi dari instansi
teknis di daerah yang membina industri kehutanan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku;
b. Photo copy Izin Usaha Industri;
c. Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
d. Photo copy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);

e. Photo copy Akte Notaris Pendirian Perusahaan beserta perubahannya sesuai


peraturan yang berlaku.

persetujuan atau penolakan permohonan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja


terhitung sejak permohonan diterima.

5. Ekspor Produk Industri Kehutanan yang termasuk dalam HS. 4408, HS. 4410
dan HS. Ex. 4412 (khusus kayu lapis) dilaksanakan atas dasar Cost and Freight
(C&F), Cost Insurance and Freight (CIF) serta pembayarannya dilakukan
melalui lembaga perbankan.

Endorsement
a) Ekspor Produk Industri Kehutanan yang termasukdalam HS. 4407, HS. 4408,
HS. 4409, HS. 4410, HS. 4411, HS. 4412, HS. 4413, HS. 4415, HS. 4418,
Ex.HS. 4421.90.99.00 (khusus paving block dari kayu), HS. 9406.00.92.00
wajib disahkan (endorsement) dari Badan Revitalisasi Industri Kehutanan
(BRIK).

b) Dokumen endorsement digunakan sebagai dokumen pelengkap pabean yang


diwajibkan untuk pendaftaran Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) atau
Pemberitahuan Pabean Single Administrative Document (PP SAD) bagi kantor
pelayanan Bea dan Cukai yang sudah menerapkannya.

Verifikasi
a) Verifikasi ETPIK
• Terhadap perusahaan yang telah mendapatkan pengakuan sebagai ETPIK
dilakukan verifikasi atas keabsahan dokumen, keberadaan perusahaan,
aktivitas ekspor dan produksi;
• Verifikasi dilakukan oleh pejabat dari Direktorat Jenderal Perdagangan
Luar Negeri Departemen Perdagangan, Direktorat Jenderal Industri Agro
dan Kimia Departemen Perindustrian dan Direktorat Jenderal Bina
Produksi Kehutanan Departemen Kehutanan.

b) Verifikasi Produk
• Ekspor Produk Industri Kehutanan yang termasuk dalam kelompok HS.
4407, Ex. HS. 4412 (khusus laminated wood), HS. 4415, HS. 4418 dan
Ex. HS. 9406 (khusus bangunan prefabrikasi dari kayu) wajib dilakukan
verifikasi/penelusuran teknis;
• Verifikasi/penelusuran teknis dilakukan oleh Surveyor independent yang
ditetapkan oleh Menteri Perdagangan dan biaya yang ditimbulkan
dibebankan kepada pemerintah;
• Hasil Verifikasi/penelusuran teknis digunakan sebagai dokumen
pelengkap pabean yang diwajibkan untuk pendaftaran Pemberitahuan
Ekspor Barang (PEB) atau Pemberitahuan Pabean Single Administrative
Document (PP SAD) bagi kantor pelayanan Bea dan Cukai yang sudah
menerapkannya.

Produk Industri Kehutanan tertentu hanya dapat diekspor apabila memenuhi


kriteria teknis sebagai berikut :
Ukuran dan tingkat olahan
a) Kayu olahan dalam bentuk S4S (yang termasuk HS.4407) :
Harus berupa produk kayu olahan yang dihasilkan dari kayu gergajian yang
telah dikeringkan dan diratakan keempat sisinya sehingga permukaannya
menjadi rata dan halus dengan luas penampang tidak lebih dari 4.000 mm2

b) Kayu olahan turunan dari S4S dalam bentuk E2E, E3E dan E4E (yang
termasuk HS.4409) :

Luas penampang tidak lebih dari 4.000 mm2

c) Finger Jointed (yang termasuk HS.4407) :

Harus berupa kayu olahan yang diperoleh dengan menyambung kayu


gergajian yang telah dikeringkan dan diketam keempat sisinya setelah
proses finger-jointed dengan ketentuan ukuran setiap keping yang
disambungkan panjangnya tidak lebih dari 1.000 mm, dengan luas
penampang setiap keping yang disambungkan tidak lebih dari 15.000 mm2

d) Laminated Board (Jointed Board): (yang termasuk HS. 4412):

Kayu olahan yang dihasilkan dari penggabungan kepingan kayu kearah


penampang lebar dengan cara dikempa (di pres) menggunakan perekat,
dengan ketentuan sebagai berikut:
• Lebar masing-masing keping tidak lebih dari 80 mm;

• Tebal masing-masing keping tidak lebih dari 40 mm;

• Panjang masing-masing keping tidak lebih dari 1.000 mm.


e) Laminated Block (yang termasuk HS. 4412) :
Kayu olahan yang dihasilkan dari penggabungan kepingan kayu kearah
penampang tebal dengan cara dikempa (di pres) menggunakan perekat,
dengan ketentuan sebagai berikut:
• Lebar masing-masing keping tidak lebih dari 150 mm;
• Tebal masing-masing keping tidak lebih dari40mm.

f) Decorative Profile (yang termasuk HS.4409):

Kayu olahan yang diperoleh dengan membentuk kayu gergajian dengan


mesin moulder, sedemikian sehingga menampilkan fungsi keindahan (fungsi
decorative) dan langsung dapat digunakan tanpa merubah bentuk, kecuali
memotongnya sesuai ukuran panjang yang diperlukan, dengan ketentuan
sebagai berikut:

Ukuran
Lebar tidak lebih dari 170 mm;
Tebal tidak lebih dari 75 mm.
1) Untuk Decorative Profile Muka lebar:
• Decorative sekurang-kurangnya setengah (1/2) muka lebar pada satu
sisi;
• Tebal tidak lebih dari 25 mm, kedalaman decorative sekurang-
kurangnya 3 mm;

• Tebal lebih dari 25 mm s/d 50 mm, kedalaman decorative sekurang


kurangnya 6 mm;

• Tebal lebih dari 50 mm s/d 75 mm, kedalaman decorative sekurang-


kurangnya 10 mm.

2) Untuk Decorative Profile Muka tebal:

• Decorative sekurang-kurangnya setengah (1/2) muka tebal pada satu


sisi;

• Lebar tidak lebih dari 50 mm, kedalaman decorative sekurang-


kurangnya 3 mm;

• Lebar lebih dari 50 mm s/d 80 mm, kedalaman decorative sekurang


kurangnya 6 mm;

• Lebar lebih dari 80 mm s/d 100 mm, kedalaman decorative sekurang


kurangnya 15 mm;

• Lebar lebih dari 100 mm s/d 170 mm, kedalaman decorative


sekurang kurangnya 20 mm.

3) Untuk Decorative Profile dengan ukuran luas penampang kurang dari


1.000 mm2, tidak terkena ketentuan ukuran dan kedalaman
decorativenya.
4) Kayu Profile untuk kusen pintu (Door Jamb) atau kusen jendela
(Window Jamb) yang termasuk HS. 4409:
Tebal tidak lebih dari 60 mm dan lebar tidak lebih dari 120 mm.

5) Kayu Profile untuk rangka pintu (Door Frame) atau rangka jendela
(window frame) yang termasuk HS. 4409:
Tebal tidak lebih dari 30 mm dan lebar tidak lebih dari 200 mm.
6) Decking (yang termasuk 4409):
Mempunyai ukuran tebal tidak lebih dari 35mm dan lebar tidak lebih
dari 200 mm dengan ketentuan sebagai berikut:
• Tebal kurang dari 20 mm mempunyai dalam alur sekurang-
kurangnya 2 mm;

• Tebal 20 mm s/d 35 mm mempunyai dalam alur sekurang-


kurangnya 4 mm;

• Sekurang-kurangnya setengah permukaan lebar harus diberi alur


sepanjang kayunya.

7) Wall Panel, Aooring (yang termasuk 4409):

Mempunyai ukuran lebar tidak lebih dari 150 mm dan tebal tidak lebih
dari 25 mm dalam bentuk lidah dan alur, dengan ketentuan sebagai
berikut:

• Lebar kurang dari 50 mm mempunyai dalam alur dan tinggi lidah


sekurang-kurangnya 2 mm;

• Lebar 50 mm s/d 100 mm mempunyai dalam alur dan tinggi lidah


sekurang-kurangnya 3 mm;

• Lebar lebih dari 100 mm s/d 150 mm mempunyai dalam alur dan
tinggi lidah sekurang-kurangnya 5 mm.

8) Flooring untuk truck, container, ship deck, wagon (yang termasuk HS.
4409): Harus menggunakan shiplap atau menggunakan lidah dan alur,
dilengkapi dengan gambar spesifikasi teknis dengan ketentuan sebagai
berikut:
Dalam ketentuan lidah dan alur:
• Lebar tidak lebih dari 220 mm;
• Tebal tidak lebih dari 50 mm;

• Tinggi lidah dan dalam alur sekurang kurangnya 5 mm

Dalam bentuk shiplap:

• Lebar tidak lebih dari 120 mm;

• Tebal tidak lebih dari 50 mm;

• Kedalaman masing-masing shiplap sekurang-kurangnya 5 mm.

Khusus pole, main sill, cross sill dan truck body harus disertai
dengan gambar yang memuat spesifikasi teknis secara lengkap dan
harus diekspor bersamaan dengan flooringnya.

9) Palet kotak dan palet papan (yang termasuk HS 4415):


Harus dalam bentuk terpasang.

10) Elemen bangunan dari kayu (yang termasuk HS 4418) yang merupakan
unit kesatuan dari bangunan:
Harus dalam bentuk set elemen bangunan disertai gambar yang memuat
spesifikasi teknis secara lengkap tanpa merubah bentuk dan
memotongnya.

11) Bangunan prefabrikasi dari kayu (yang termasuk HS 9406):

Harus dalam bentuk set bangunan prefabrikasi disertai dengan gambar


yang memuat spesifikasi teknis secara lengkap tanpa merubah bentuk
dan memotongnya.

12) Toleransi ukuran dan kecacatan serta kadar air:


• Semua ukuran kayu olahan yang diekspor diberikan toleransi ukuran
sebagai berikut:
- Tebal tidak lebih dari 0,5 mm;
- Lebar tidak lebih dari 1 mm;
- Panjang tidak lebih dari 50 mm

• Cacat karena pengerjaan mesin (Machine-defect) diperkenankan


tidak lebih dari jumlah volume yang diekspor.

• Produk kayu olahan sebagaimana diatur pada point 1 kadar air tidak
lebih dari 16% kecuali untuk decking, truck flooring, ship deck,
wagon dan pallet tidak dikenakan kadar air.

Pengecualian dari ketentuan yang diatur tersebut diatas ditetapkan oleh Menteri
Perdagangan setelah mendapat pertimbangan dari Tim yang ditetapkan oleh
Menteri Perdagangan dengan melimpahkan wewenang tersebut kepada Direktur
Jenderal Perdagangan luar Negeri yang dilakukan dengan memperhatikan
prinsip tata kelola pemerintahan dan tertib administrasi yang baik serta mengacu
pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kewajiban ETPIK
Perusahaan Industri Kehutanan yang telah diakui sebagai ETPIK wajib
melaporkan kepada Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Departemen
Perdagangan dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Industri Agro dan
Kimia, Departemen Perindustrian; Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan,
Departemen Kehutanan dan BRIK tentang:
a) Rencana produksi tahunan;
b) Rencana produksi per-semester;
c) Rencana ekspor tahunan;
d) Rencana ekspor per-semester.

Sanksi
a. Pengakuan sebagai ETPIK dibekukan, apabila perusahaan industri
pemegang ETPIK dan/atau Pengurus/Direksi perusahaan industri pemegang
ETPIK memenuhi ketentuan :
1) Tidak melakukan kegiatan produksi dan ekspor dalam jangka waktu 1
(satu) tahun;

2) Tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada kewajiban


ETPIK dalam jangka waktu 1 (satu) tahun;

3) Tidak melaksanakan kewajiban menyampaikan setiap perubahan data


kelengkapan dokumen pada salah satu atau lebih dari persyaratan atas
pengakuan sebagai ETPIK;
4) Sedang diperiksa oleh penyidik yang berwenang karena diduga
melakukan tindak pidana yang berkaitan dengan penyalahgunaan
ETPIK.
b. Pengakuan sebagai ETPIK yang telah dibekukan dapat diaktifkan apabila :
1) Kembali melakukan kegiatan produksi dan akan melaksanakan ekspor;

2) Dalam waktu kurang dari 30 hari (tiga puluh) hari sejak tanggal
pembekuan telah melaksanakan kewajiban melaporkan rencana produksi
dan ekspor tahunan serta realisasi produksi dan ekspor persemester;

3) Telah dikeluarkan perintah penyelidikan oleh penyidik, atau


4) Dinyatakan tidak bersalah/dibebaskan dari segala tuntutan hukum
berdasarkan Keputusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum
tetap.

c. Pengakuan sebagai ETPIK dicabut, apabila perusahaan industri pemegang


ETPIK dan/atau Pengurus/Direksi perusahaan pemegang ETPIK memenuhi
ketentuan :
1 Atas permohonan sendiri menghentikan kegiatan produksi maupun
ekspor;

2 Mengalami pembekuan ETPIK sebanyak 2 (dua) kali dan memenuhi


alasan untuk pembekuan kembali;

3 Dinyatakan bersalah oleh pengadilan atas tindak pidana yang


berkaitan dengan penyalahgunaan ETPIK dan/atau pelanggaran
ketentuan dibidang ekspor oleh Keputusan Pengadilan yang
mempunyai kekuatan hukum tetap;

4 Dari hasil verifikasi terbukti tidak sesuai dengan perizinan yang


dimilikinya.

Pengecualian Dari Ketentuan


Terhadap ekspor produk industri kehutanan yang merupakan barang contoh,
bahan penelitian dan barang keperluan pameran ke luar negeri dapat
dilakukan tanpa ETPIK setelah mendapat persetujuan Direktur Jenderal
Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan.
3. Produk Industri
Prekursor
Latar Belakang
Untuk pengawasan dimana Prekursor selain bermanfaat dibidang farmasi
dan non farmasi juga dapat disalahgunakan sebagai bahan baku/penolong
pembuatan Narkotika dan Psikotropika secara gelap;
Keikutsertaan Indonesia memberantas peredaran gelap Narkotika dan
Psikotropika Internasional.

Dasar Hukum
a. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
558/MPP/Kep/12/1998 tanggal 4 Desember 1998 tentang Ketentuan
Umum Dibidang Ekspor sebagaimana telah beberapa kali diubah dan
terakhir dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 01/M-
DAG/PER/1/2007 tanggal 22 Januari 2007;

b. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 05/MDAG/PER/1/2007 tanggal


22 Januari 2007 tentang Ketentuan Ekspor Prekursor.

Ketentuan Ekspor
a. Ekspor dilakukan oleh Eksportir Terdaftar Prekursor (ET-Prekursor);

b. Persyaratan diakui sebagai ET-Prekursor, mengajukan permohonan


kepada Dirjen Daglu dengan melampirkan:
• Izin Usaha Industri (IUI) dari Departemen Teknis berdasarkan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;
• Fotokopi Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
• Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWNP); dan
• Rekomendasi dari Dirjen IAK.

c. Persetujuan atau penolakan pengakuan sebagai ET-Prekursor paling


lambat 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak permohonan diterima;

d. Pengakuan sebagai Ef-Prekursor berlaku selama 3 (tiga) tahun dan dapat


diperpanjang;

e. Setiap pelaksanaan ekspor Prekursor wajib mendapat persetujuan dari


Dirjen Daglu, setelah mempertimbangkan rekomendasi dari Ketua BNN
dan Kabareskrim POLRI;

f. Permohonan persetujuan ekspor Prekursor kepada Dirjen Daglu dengan


melampirkan :

• Copy surat persetujuan impor Prekursor dari instansi penerbit


persetujuan impor di negara tujuan ekspor;

• Jumlah dan jenis Prekursor yang akan diekspor;

• Nama dan alamat importir di negara tujuan ekspor.

g. Persetujuan ekspor Prekursor berlaku paling lama 180 (seratus delapan


puluh) hari sejak tanggal persetujuan ekspor diterbitkan dan tidak dapat
diperpanjang.

h. ET-Prekursor wajib memberitahukan setiap kali pengapalan kepada


BNN yang mencakupi pelabuhan muat, tanggal keberangkatan kapal
serta pelabuhan dan negara tujuan ekspor;

i. BNN wajib menyampaikan PEN kepada instansi/badan/lembaga yang


berwenang di negara tujuan ekspor;

j. Instansi/badan/lembaga yang berwenang di negara tujuan ekspor


menyampaikan konfirmasi paling lambat 5 (lima) hari kerja sejak
tanggal penyampaian PEN;

k. ET-Prekursor dapat melaksanakan setiap kali pengapalan ekspor setelah


BNN menyampaikan konfirmasi PEN.

Verifikasi
a. Setiap pelaksanaan ekspor Prekursor wajib dilakukan
verifikasi/penelusuran teknis sebelum muat barang oleh surveyor yang
ditetapkan oleh Menteri;
b. Verifikasi/penelusuran teknis oleh surveyor meliputi penelitian dan
pemeriksaan terhadap data atau keterangan paling sedikit mengenai :
• Negara tujuan ekspor;
• Klasifikasi dan nomor HS;
• Jenis dan spesifikasi teknis;
• Komposisi kimia Prekursor;
• Jumlah Prekursor yang akan diekspor.

c. Hasil verifikasi/penelusuran teknis digunakan sebagai dokumen


pelengkap Pabean yang diwajibkan untuk pendaftaran Pemberitahuan
Ekspor Barang (PEB) atau Pemberitahuan Pabean Single Administrative
Document (PPSAD) untuk Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang sudah
menerapkan;

d. Biaya yang dikeluarkan atas pelaksanaan verifikasi/penelusuran teknis


ekspor Prekursor yang dilakukan oleh Surveyor dibebankan kepada
eksportir.

Sanksi
a. ET-Prekursor dibekukan apabila perusahaan dan/atau pengurus/direksi
perusahaan tidak melaporkan realisasi ekspor sebanyak 2 (dua) kali
dalam jangka waktu 1 (satu) tahun;

b. ET-Prekursor yang telah dibekukan dapat diaktipkan kembali apabila


perusahaan danjatau pengurus/direksi perusahaan telah melaporkan
realisasi ekspornya;

c. ET-Prekursor dicabut apabila perusahaan dan/atau pengurus/direksi


perusahaan :

• Melakukan ekspor Prekursor yang jenis atau jumlahnya tidak sesuai


dengan persetujuan ekspornya;

• Terbukti menyampaikan informasi atau data yang tidak benar pada


saat pengajuan permohonan pengakuan ET-Prekursor;

• Dalam penyidikan atas dugaan tindak pidana yang berkaitan dengan


penyalahgunaan pengakuan ET-Prekursor dan/atau persetujuan
ekspor Prekursor;

• Melakukan ekspor Prekursor dengan menggunakan surat persetujuan


ekspor yang masa berlakunya telah habis; atau

• Dinyatakan bersalah oleh pengadilan atas pelanggaran dan tindak


pidana yang berkaitan dengan penyalahgunaan pengakuan ET-
Prekursor berdasarkan putusan pengadilan yang mempunyai
kekuatan hukum tetap.

4. Produk Pertambangan Intan


Latar Belakang
a. Untuk meningkatkan daya jual intan Indonesia di pasaran Internasional
karena penjualan intan di pasaran Internasional harus mengikuti
Kimberly Process Certificate Scheme (KPCS) yang penerapannya
didukung oleh PBB melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor
55/56 tanggal 1 Desember 2000, sebagaimana diadopsi juga oleh
negara-negara produsen intan lainnya;

b. Untuk mendukung kepentingan perekonomian Indonesia khususnya


berkaitan dengan pembinaan dan pengembangan industri dan
perdagangan intan Nasional, maka Indonesia ikut sebagai anggota
KPCS, dimana sejak tanggal 1 Januari 2003 telah disepakati mekanisme
ekspor impor intan kasar (rough diamonds) dalam bentuk skema
sertifikasi intan melalui KPCS.

Dasar Hukum
a. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
558/MPP/KEP/12/1998 tanggal 4 Desember 1998 tentang Ketentuan
Umum Dibidang Ekspor sebagaimana telah beberapa kali diubah dan
terakhir dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 01/M-
DAG/PER/1/2007 tanggal 22 Januari 2007;

b. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 10/M-DAG/PER/6/2005


Tentang Ekspor dan Impor Intan Kasar;

c. Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 225/M-DAG/KEP/7/2005


Tentang Penunjukan Surveyor Sebagai Pelaksana Verifikasi dan
Sertifikasi Intan Kasar Untuk Tujuan Ekspor dan Impor.

Ketentuan Ekspor

a. Persyaratan Ekspor
Intan yang diatur tata niaga ekspornya adalah intan kasar yang termasuk
dalam klasifikasi Pos Tarif/ HS 7102.10.00.00; 7102.21.00.00;
7102.29.00.00; 7102.31.00.00 dan 7102.39.00.00, dengan persyaratan
sebagai berikut:
1. Pengiriman (shipment) hanya ditujukan ke peserta Kimberley
Process Certification Scheme (KPCS);

2. Setiap pengiriman (shipment) wajib disertai dengan Sertifikat Intan


Kasar yang diterbitkan oleh Surveyor yang menerbitkan Sertifikasi
Intan Kasar;

3. Intan Kasar dibungkus dan ditempatkan dalam wadah (container)


yang tahan terhadap gangguan (tamper resistant) serta diberi
pengamanan secukupnya;

4. Sertifikat Intan Kasar disertakan bersama dan tidak boleh dipisahkan


dari wadah (container) Intan Kasar; dan

5. Intan Kasar harus berasal dari sumber tambang Intan Kasar yang sah
secara hukum (legal) yang dibuktikan dengan surat perizinan dari
instansi yang berwenang di bidang pertambangan atau bukti lainnya
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

b. Eksportir Terdaftar Intan Kasar (ET-Intan)


1. Intan Kasar hanya dapat diekspor oleh perusahaan yang telah diakui
sebagai Eksportir Terdaftar Intan Kasar (ET-Intan) di Departemen
Perdagangan;

2. Untuk dapat diakui sebagai ET-Intan, perusahaan yang bersangkutan


harus mengajukan permohonan tertulis kepada DIRJEN DAGLU
melalui Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan
Departemen Perdagangan dengan melampirkan :

• Photo copy Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atau surat izin
usaha pertambangan dari instansi di bidang pertambangan atau
surat izin usaha setara lainnya yang dikeluarkan oleh instansi
berwenang;

• Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP);


• Photo copy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);

• Rekomendasi dari Direktur Jenderal Mineral, Batubara dan


Panas Bumi pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
mengenai dukungan kelayakan ekspor Intan Kasar.

3. Atas permohonan tertulis tersebut, selambat-lambatnya dalam jangka


waktu 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak permohonan diterima,
DIRJEN DAGLU menerbitkan Surat Pengakuan sebagai ET-Intan
apabila permohonan memenuhi persyaratan atau mengeluarkan surat
penolakan pengakuan disertai alasanalasannya apabila permohonan
tidak memenuhi persyaratan;

4. Masa berlaku Surat Pengakuan ET-Intan adalah selama 3 (tiga)


tahun dan dapat diperpanjang kembali;

c. Surat persetujuan Ekspor (SPE) Intan Kasar


1. Setiap pelaksanaan eksportasi Intan Kasar wajib mendapat Surat
persetujuan Ekspor (SPE) Intan Kasar terlebih dahulu dari DIRJEN
DAGLU cq. Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan
Departemen Perdagangan.

2. Untuk memperoleh SPE Intan Kasar, ET-Intan yang bersangkutan


harus mengajukan permohonan tertulis kepada DIRJEN DAGLU cq.
Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Departemen
Perdagangan yang dilengkapi keterangan mengenai identitas
perusahaan, jumlah dan ukuran serta spesifikasi Intan Kasar yang
akan diekspor, pelabuhan muat, rencana waktu eksportasi, negara
tujuan dan nama dan ala mat perusahaan penerima (importir) di
negara tujuan dengan melampirkan copy Surat Pengakuan sebagai
ET-Intan serta copy dokumen yang menerangkan sumber tambang
Intan Kasar.

3. ET-Intan yang telah mendapat SPE Intan Kasar, harus


menyampaikan tembusan SPE Intan Kasar tersebut dan dokumen
terkait lainnya yang diperlukan dalam rangka eksportasi Intan Kasar
kepada Surveyor yang telah ditetapkan oleh Menteri;
4. Atas dasar SPE Intan Kasar tersebut, Surveyor melakukan penelitian
dan pemeriksaan atas Intan Kasar untuk kemudian menerbitkan
Sertifikat Intan Kasar.

Verifikasi dan Sertifikasi Intan Kasar

a. ET-Intan wajib menyampaikan hasil pemeriksaan dan tindasan asli


(original copy) Sertifikat Intan Kasar yang diterbitkan oleh Surveyor,
SPE Intan Kasar dan dokumen terkait lainnnya yang diperlukan
dalam rangka eksportasi Intan Kasar kepada Kantor Pelayanan Sea
dan Cukai setempat di pelabuhan muat ekspor Intan Kasar untuk
dilakukan pemeriksaan kepabeanan sebelum waktu pelaksanaan
ekspor.

b. Pejabat berwenang pada Kantor Pelayanan Sea dan Cukai


memberikan persetujuan untuk pengeluaran ekspor (customs
clearance) Intan Kasar setelah mendapat kepastian dan kebenaran
pemeriksaan data/informasi sesuai dengan yang dimuat dalam SPE
Intan kasar dan Sertifikat Intan Kasar.

c. Penerbitan Sertifikat Intan Kasar harus didasarkan pada dataj


informasi yang diperoleh dari hasil penelitian dokumentasi terkait
dan pemeriksaan fisik atas Intan Kasar yang akan diekspor.

d. Sertifikat Intan Kasar harus dicetak di atas kertas yang aman dari
pemalsuan dan dibuat dalam 2 (dua) bahasa, yaitu bahasa Indonesia
dan bahasa Inggris, dengan mencantumkan datajinformasi minimal
sebagai berikut:
1. Judul Sertifikat yang berbunyi:
"Sertifikat Proses Kimberley";
2. Nomor Sertifikat;
3. Nama dan alamat eksportir;
4. Nama dan alamat importir;

5. Negara asal dengan kode alfa 2 (ISO 3166-1);

6. Negara tujuan dengan kode alfa 2 (ISO 3166-1);


7. Nomor Pos Tarif/Kode HS;
8. Karat Intan Kasar;

9. Nilai Intan Kasar dalam dolar Amerika Serikat (US$);


10. Jumlah paket Intan Kasar;

11. Tanggal dikeluarkan dan tanggal kadaluarsa Sertifikat;

12. Pernyataan dalam Sertifikat yang berbunyi: "Pengiriman Intan


Kasar ini telah sesuai dengan ketentuan dalam skema proses
sertifikasi Kimberley untuk penanganan Intan Kasar";

13. Nama dan alamat Surveyor sebagai badan yang diberi otoritas
oleh Menteri Perdagangan untuk menerbitkan Sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 butir 7 serta tandatangan
petugas/pejabat Surveyor yang berwenang.
e. Intan Kasar Yang Diekspor Kembali (Reexported)
Dalam hal Intan Kasar yang diekspor adalah merupakan Intan Kasar
yang diekspor kembali (re-exported), maka pengeksporan kembali
tersebut harus mengikuti ketentuan dan persyaratan sebagai berikut:
1. Ekspor kembali dilaksanakan oleh Importir Terdaftar (IT-Intan)
bersangkutan yang memasukan Intan Kasar ke Indonesia atau
oleh perusahaan lain yang telah diakui sebagai ET-Intan;

2. Ekspor kembali hanya ditujukan ke Peserta KPCS;

3. Ekspor kembali harus mendapat persetujuan ekspor dari DIRJEN


DAGLU melalui permohonan tertulis yang disampaikan oleh IT-
Intan atau perusahaan lain sebagaimana dimaksud dalam huruf a.
dilampiri dengan dokumen terkait dan Sertifikat Intan Kasar dari
badan/instansi penerbit di negara Peserta KPCS yang disertakan
pada waktu Intan Kasar tersebut dimasukkan ke Indonesia;
4. Intan Kasar yang akan diekspor kembali tersebut harus dilakukan
pemeriksaan oleh Suveyor tanpa menerbitkan Sertifikat Intan
Kasar melainkan cukup membubuhkan tanda telah dilakukan
pemeriksaan ulang pada Sertifikat Intan Kasar dari
badan/instansi penerbit di negara Peserta KPCS yang disertakan
pada waktu Intan Kasar tersebut dimasukkan ke Indonesia;
5. Persetujuan untuk pengeluaran ekspor kembali (customs
clearance) Intan Kasar hanya dapat diberikan setelah pejabat
berwenang pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai di tempat
pengeluaran ekspor melakukan pemeriksaan kepabeanan dan
mendapat kepastian bahwa data/informasi atas ekspor kembali
Intan Kasar tersebut adalah benar dan ekspor kembali ditujukan
untuk Peserta KPCS lain.
f. Pelaporan Ekspor
1. Setiap 6 (enam) bulan sekali, ET-Intan wajib menyampaikan
laporan tertulis kegiatan eksportasi Intan Kasar kepada DIRJEN
DAGLU dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Mineral,
Batubara dan Panas Bumi;

2. ET-Intan yang telah mendapat SPE Intan Kasar wajib


menyampaikan laporan realisasi ekspor Intan Kasar kepada
DIRJEN DAGLU dengan tembusan kepada Direktur Ekspor
Produk Industri dan Pertambangan Departemen Perdagangan
paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal
pelaksanaan ekspor.

g. Sanksi

1. Menteri melalui DIRJEN DAGLU berhak menjatuhkan sanksi


berupa:
• Pembekuan Surat Pengakuan sebagai ET-Intan terhadap setiap
pelanggaran kewajiban pelaporan laporan eksportasi Intan
Kasar sampai batas waktu 1 (satu) bulan setelah peristiwa
pelanggaran itu terjadi; atau
• Pencabutan Surat Pengakuan sebagai ET-Intan apabila batas
waktu tersebut terlampaui atau apabila terdapat bukti kuat
telah terjadi pelanggaran ketentuanketentuan lainnya atas
ketentuan ekspor Intan Kasar.

2. Sanksi pembekuan Surat Pengakuan sebagai ET-Intan, dicairkan


kembali oleh Menteri melalui DIRJEN DAGLU apabila ET-
Intan telah melaksanakan kembali kewajibannya sebelum batas
waktu 1 (satu) bulan masa pembekuan Surat Pengakuan sebagai
ET-Intan berakhir;

3. Orang atau Perusahaan yang melakukan kegiatan perdagangan


ekspor intan kasar yang tidak sesuai dengan ketentuan yang
ditetapkan, dinyatakan telah melakukan pelanggaran dan
dikenakan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan yang berlaku.

Timah Batangan
Latar Belakang
a. Meminimalisasi kerusakan lingkungan yang terjadi akibat kegiatan
penambangan bijih timah dan kegiatan Smelter Timah yang tidak
terkendali;

b. Mendukung kepentingan perekonomian Indonesia khususnya yang


berkaitan dengan pembinaan dan pengembangan usaha pertambangan,
pengolahan dan pemurnian bijih timah serta perdagangan timah
batangan.

Dasar Hukum
a. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
558/MPP/KEP /12/1998 tanggal 4 Desember 1998 tentang Ketentuan
Umum Dibidang Ekspor sebagaimana telah beberapa kali diubah dan
terakhir dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 01/M-
DAG/PER/1/2007 tanggal 22 Januari 2007;

b. Peraturan Mendag No. 04/M-DAG/PER/1 /2007 tentang Ketentuan


Ekspor Timah Batangan.
Ketentuan Ekspor
a) Ekspor Timah Batangan (pos Tarif/HS 8001.10.00.00 dan
8001.20.00.00) dilakukan oleh Eksportir Terdaftar Timah (ET-Timah);

b) Persyaratan diakui sebagai ET-Timah, mengajukan permohonan kepada


Dirjen Daglu dengan melampirkan :
1) Bagi Pemegang Kuasa Pertambangan (KP) Pengolahan dan
Pemurnian :
• Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
• Photo copy Nomor Pokok Wajib (NPWP)

• Photo copy KP Pengolahan dan Pemurnian;


• Photo copy Eksploitasi atau Surat Perjanjian Kerjasama; dan
• Rekomendasi dari Gubernur Provinsi Pengekspor Timah
Batangan.

2) Bagi pemegang Kontrak Karya (KK):

• Photo copy- Tanda Daftar Perusahaan (TDP);

• Photo copy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);

• Photo copy KK; dan

• Rekomendasi Dirjen Minerbapabum.

c) Ekspor Timah Batangan oleh ET-Timah harus memenuhi ketentuan :


1) Bijih timah yang digunakan berasal dari KP Eksploitasi pemegang
KP Pengolahan dan Pemurnian atau KK atau KP Eksploitasi
pemegang Surat Perjanjian Kerjasama;

2) Memiliki bukti pelunasan royalti untuk Timah Batangan yang akan


diekspor;

3) Memiliki kadar logam timah minimal sebesar 99,85%.

d) Ekspor Timah Batangan oleh ET-Timah wajib dilakukan


verifikasi/penelusuran teknis oleh surveyor yang ditetapkan oleh
Menteri;

e) Verifikasi/penelusuran teknis meliputi dan pemeriksaan terhadap data


atau keterangan paling sedikit mengenai :
1) Asal bahan baku (biji timah);

2) Spesifikasi barang yang mencakup Nomor HS;


3) Jumlah dan jenis barang;
4) Waktu pengapalan;
5) Pelabuhan muat;
6) Kadar logam Timah Batangan; dan

7) Bukti pembayaran royalti yang dikaitkan dengan jumlah Timah


Batangan yang diekspor.

f) Hasil verifikasi/penelusuran teknis digunakan sebagai dokumen


pelengkap Pabean yang diwajibkan untuk pendaftaran Pemberitahuan
Ekspor Barang (PEB) atau Pemberitahuan Pabean Single Administrative
Document (PPSAD) untuk Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang sudah
menerapkan;

g) Biaya yang dikeluarkan atas pelaksanaan verifikasi/penelusuran teknis


ekspor Timah Batangan yang dilakukan oleh Surveyor dibebankan
kepada eksportir;

h) ET-Timah wajib menyampaikan laporan realisasi ekspor secara tertulis


kepada Dirjen Daglu dengan tembusan kepada Dirjen Minerbapapum
dan Gubernur setempat setiap 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal
diterbitkannya pengakuan sebagai ET-Timah.

Sanksi
a) ET-Timah dibekukan apabila perusahaan dan/atau pengurus/direksi
perusahaan tidak melaporkan realisasi ekspor sebanyak 2 (dua) kali
dalam jangka waktu 1 (satu) tahun;
b) Dalam penyidikan atas dugaan tindak pidana yang berkaitan dengan
penyalahgunaan pengakuan sebagai ET-Timah;

c) ET-Timah yang telah dibekukan dapat diaktipkan kembali apabila :

1) Perusahaan dan/atau pengurus/ direksi perusahaan telah melaporkan


realisasi ekspornya;

2) Telah dikeluarkan perintah penghentian penyidikan oleh


penyidik;

3) Dinyatakan tidak bersalah/dibebaskan dari segala tuntutan hukum


berdasarkan Putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum
tetap.
d) ET-Timah dicabut apabila perusahaan dan/atau pengurus/direksi
perusahaan:

1) Tidak menyampaikan laporan realisasi ekspor dalam jangka waktu


60 (enam puluh) hari kerja sejak tanggal pembekuan;

2) Terbukti menyampaikan informasi atau data yang tidak benar pada


saat pada saat pengajuan permohonan pengakuan Er-Timah;

3) Dinyatakan bersalah oleh pengadilan atas pelanggaran dan tindak


pidana yang berkaitan dengan penyalahgunaan pengakuan Er-Timah
berdasarkan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum
tetap;

4) Telah mengalami pembekuan sebagai ET-Timah sebanyak 2 (dua)


kali dan memenuhi alasan pembekuan kembali.
2. Barang Yang Diawasi Ekspornya

a. Latar Belakang
Penetapan terhadap barang yang diawasi ekspornya lebih disebabkan
karena barang-barang tersebut sangat dibutuhkan di dalam negeri, hal ini
dilakukan guna :
1) Menjaga stabilitas pengadaan, dan konsumsi dalam negeri;
2) Menjaga kelestarian alam;

3) Memenuhi kebutuhan dan mendorong pengembangan industri di


dalam negeri.

b. Dasar Hukum
Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
558/MPP/KEP/12/1998 jo Peraturan Menteri Perdagangan Nomor
01/M-DAG/PER/1/2007 Tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor.

c. Persyaratan
Eksportir yang akan mengekspor barang yang diawasi ekspornya, harus :
1) Memenuhi persyaratan umum sebagai eksportir;

2) Memenuhi persyaratan khusus, yaitu telah mendapat rekomendasi


dari Direktur Pembina Teknis yang bersangkutan dan/atau
Instansi/Departemen lain yang terkait;

3) Mendapat persetujuan ekspor dari Menteri Perdagangan atau pejabat


yang ditunjuk.
d. Komoditi Yang Diawasi Ekspornya

1) Produk Peternakan :

a) Sapi dan Kerbau


1) Harus terlebih dahulu mendapat persetujuan ekspor dari
Menteri Perdagangan dalam hal ini Direktur Ekspor Produk
Pertanian dan Kehutanan;

2) Untuk mendapat persetujuan ekspor, perusahaan yang


bersangkutan harus mengajukan permohonan tertulis kepada
Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan
Departemen Perdagangan dengan melampirkan :

• Rekomendasi dari Direktur Jenderal Peternakan


Departemen Pertanian;

• Photo ropy Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);

• Photo copy Ijin Usaha dari Departemen Teknis/Lembaga


Pemerintah Non Departemen berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;

• Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

b) Kulit Buaya Dalam Bentuk Wet Blue


1) Harus terlebih dahulu mendapat persetujuan ekspor dari
Menteri Perdagangan dalam hal ini Direktur Ekspor Produk
Pertanian dan Kehutanan;

2) Untuk mendapat persetujuan ekspor, perusahaan yang


bersangkutan harus mengajukan permohonan tertulis kepada
Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan
Departemen Perdagangan dengan melampirkan :

• Rekomendasi dari Direktur Jenderal Peternakan


Departemen Pertanian;

• Photo copy Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);

• Photo copy Ijin Usaha dari Departemen Teknis/Lembaga


Pemerintah Non Departemen berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;

• Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP).


c) Binatang Liar dan Tumbuhan Alam (APP II CITES)
1) Harus terlebih dahulu mendapat persetujuan ekspor dari
Menteri Perdagangan dalam hal ini Direktur Ekspor Produk
Pertanian dan Kehutanan;
2) Untuk mendapat persetujuan ekspor, perusahaan yang
bersangkutan harus mengajukan permohonan tertulis kepada
Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan
Departemen Perdagangan dengan melampirkan :
• Rekomendasi dari Direktur Jenderal Perlindungan
Hutan Departemen Kehutanan;
• Photo copy Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);
• Photo copy Ijin Usaha dari Departeme Teknis/Lembaga
Pemerintah Non Departemen berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
• Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

2) Produk Perikanan :
Anak Ikan Napoleon, Ikan Napoleon dan Benih Ikan Bandeng
a) Harus terlebih dahulu mendapat persetujuan ekspor dari Menteri
Perdagangan dalam hal ini Direktur Ekspor Produk Pertanian dan
Kehutanan;

b) Untuk mendapat persetujuan ekspor, perusahaan yang


bersangkutan harus mengajukan permohonan tertulis kepada
Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Departemen
Perdagangan dengan melampirkan :
• Rekomendasi dari Departemen Kelautan dan Perikanan;
• Photo copy Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);
• Photo copy Ijin Usaha dari Departemen Teknis/Lembaga
Pemerintah Non Departemen berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
• Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

3) Produk Perkebunan
Inti Kelapa Sawit
a) Ekspor Inti Kelapa Sawit harus terlebih dahulu mendapat
persetujuan ekspor dari Menteri Perdagangan dalam hal ini
Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan;

b) Untuk mendapat persetujuan ekspor, perusahaan yang


bersangkutan harus mengajukan permohonan tertulis kepada
Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Departemen
Perdagangan dengan melampirkan :
• Rekomendasi dari Direktur Jenderal Perkebunan Departemen
Pertanian;
• Photo copy Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);
• Photo copy Ijin Usaha dari Departemen Teknis/ Lembaga
Pemerintah Non Departemen berdasarkan peraturan
perundang - undangan yang berlaku;
• Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

4) Produk Pertambangan
a) Minyak dan Gas Bumi
1) Harus terlebih dahulu mendapat persetujuan ekspor dari
Menteri Perdagangan dalam hal ini Direktur Ekspor Produk
Industri dan Pertambangan;

2) Untuk mendapat persetujuan ekspor, perusahaan yang


bersangkutan harus mengajukan permohonan tertulis kepada
Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan
Departemen Perdagangan dengan melampirkan :
• Rekomendasi dari Direktur Jenderal Energi dan Sumber
Daya Mineral Departemen Pertambangan;

• Photo copy Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);

• Photo copy Ijin Usaha dari DepartemenTeknis/Lembaga


Pemerintah Non Departemen berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;

• Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

b) Emas Murni/Perak
1) Harus terlebih dahulu mendapat persetujuan ekspor dari Menteri
Perdagangan dalam hal ini Direktur Ekspor Produk Industri dan
Pertambangan;

2) Untuk mendapat persetujuan ekspor, perusahaan yang bersangkutan


harus mengajukan permohonan tertulis kepada Direktur Ekspor
Produk Industri dan Pertambangan Departemen Perdagangan dengan
melampirkan :
• Rekomendasi dari Direktur Industri Logam Departemen Industri
dan/atau Direktur Jenderal Energi dan Sumber Daya Mineral
Departemen Pertambangan;
• Photo copy Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);
• Photo copy Ijin Usaha dari Departemen Teknis/Lembaga
Pemerintah Non Departemen berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
• Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

5) Produk Industri
a) Pupuk Urea
1) Harus terlebih dahulu mendapat persetujuan ekspor dari
Menteri Perdagangan dalam hal ini Direktur Ekspor Produk
Industri dan Pertambangan;

2) Untuk mendapat persetujuan ekspor, perusahaan yang


bersangkutan harus mengajukan permohonan tertulis kepada
Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan
Departemen Perdagangan dengan melampirkan :

• Rekomendasi dari Direktur Jenderal Industri Kimia, Agro


dan Hasil Hutan (IKAHH) Departemen Perindustrian
dan/atau dari Departemen Pertanian;

• Photo copy Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);

• Photo copy Ijin Usaha dari Departemen Teknis/Lembaga


Pemerintah Non Departemen berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;

• Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

b) Skrap Besi/Baja (Khusus Yang Berasal dari Wilayah Pulau


Batam)
1) Harus terlebih dahutu mendapat persetujuan ekspor dari
Menteri Perdagangan dalam hal ini Direktur Ekspor Produk
Industri dan Pertambangan;

2) Untuk mendapat persetujuan ekspor, perusahaan yang


bersangkutan harus mengajukan permohonan tertulis kepada
Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan
Departemen Perdagangan dengan metampirkan :
• Rekomendasi dari Direktur Industri Logam, Ditjen Industri
Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen
Perindustrian;
• Photo copy Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);
• Photo copy Ijin Usaha dari Departemen Teknis/Lembaga
Pemerintah Non Departemen berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
• Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
c) Skrap Dari Stainless, Tembaga, Kuningan dan Aluminium
1) Harus terlebih dahutu mendapat persetujuan ekspor dari
Menteri Perdagangan datam hat ini Direktur Ekspor Produk
Industri dan Pertambangan;
2) Untuk mendapat persetujuan ekspor perusahaan yang
bersangkutan harus mengajukan permohonan tertulis kepada
Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan
Departemen Perdagangan dengan melampirkan :
• Rekomendasi dari Direktur Industri Logam, Ditjen Industri
Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen
Perindustrian;
• Photo copy Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP); atau
• Photo copy Ijin Usaha dari Departemen Teknis/Lembaga
Pemerintah Non Departemen berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku; dan
• Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

3. BARANG YANG DILARANG EKSPORNYA


a. Latar Belakang
Penetapan ketentuan terhadap barang yang dilarang ekspornya
dikarenakan :
1) Untuk menjaga kelestarian atam;
2) Tidak memenuhi standar mutu;

3) Untuk menjamin kebutuhan bahan baku bagi industri kecil


/pengrajin;
4) Peningkatan nilai tambah;
5) Merupakan barang bernilai sejarah dan budaya.
b. Dasar Hukum
1) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
558/MPP/Kep/12/1998 tanggal 4 Desember 1998 tentang
Ketentuan Umum Dibidang Ekspor sebagaimana telah beberapa
kali diubah dan terakhir dengan Peraturan Menteri Perdagangan
Nomor 01/M-DAG/PER/1/2007 tanggal 22 Januari 2007;

2) Peraturan Bersama Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan


dan Menteri Kehutanan Nomor 08/MIND/PER/2/2006, Nomor
01/M-DAG/PER/2/2006 dan Nomor P.08/Menhut-VI/2006 tanggal
1 Pebruari 2006 tentang Pencabutan Keputusan Bersama Menteri
Kehutanan dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
350/Menhut-VI/2004 dan Nomor 598/MPP/Kep/9/20O4 tanggal 24
September 2004 tentang Larangan Ekspor Bantalan Rel Kereta Api
dari Kayu dan Kayu Gergajian;

3) Keputusan Bersama Menteri Kehutanan dan Menteri Perindustrian


dan Perdagangan Nomor 1132/KPTS11/2001 dan Nomor
292/MPP/Kep/10/2001 tanggal 8 Oktober 2001 tentang
Penghentian Ekspor Kayu Bulat dan Bahan Baku Serpih;

4) Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 02/MDAG/PER/1/2007


tanggal 22 Januari 2007 tentang Larangan Ekspor Pasir, Tanah Dan
Top Soil (Termasuk Tanah Pucuk Atau Humus).

c. Komoditi Yang Dilarang Ekspornya :

1) Produk Perikanan
Anak ikan dan ikan Arowana, Benih ikan Sidat, Ikan hias jenis
Botia, Udang galah dan Udang Penaedae.

2) Produk Kehutanan
a) Kayu bulat, Bahan baku serpih, Bantalan kereta api atau trem
dari kayu dan kayu gergajian;

b) Rotan asalan dari hutan alam (manau, rotan batang, rotan


lambang, rotan pulut, rotan tohiti, rotan semambu dan jenis
lainnya sudah dirunti, belum dicuci, diasap atau di belerang)
dan rotan setengah jadi yang bahan bakunya dari rotan asalan
dari hutan alam (hati dan kulit rotan).

3) Produk Pertambangan
a) Pasir alam; pasir silika dan pasir kwarsa; pasir laut;

b) Tanah liat; tanah diatomea; dan top soil (termasuk tanah pucuk
atau humus);

c) Bijih timah dan konsentratnya, Abu dan residu yang


mengandung arsenik, logam atau senyawanya dan lain-lain
terutama mengandung timah;
d) Batu mulia.

4) Produk Perkebunan

Karet bongkah, Bahan remailing & Rumah asap.

5) Produk Peternakan

a) Kulit mentah, Pickled & Wet blue dari binatang


melata/reptil;

b) Binatang liar & tumbuhan alam yang dilindungi


(termasuk dalam Appendix I & III CITES).

6) Produk Industri

a) Skrap besi/baja, kecuali yang berasal dari Pulau


Batam;
b) Skrap dari ingot hasil peleburan kembali skrap.

7) Barang Budaya
Barang kuno yang bernilai kebudayaan.

4. BARANG YANG BEBAS EKSPORNYA

a. Latar Belakang
1) Untuk diversifikasi produk dan diversifikasi pasar;
2) Untuk peningkatan daya saing.

b. Dasar Hukum
1) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
558/MPP/Kep/12/1998 tanggal4 Desember 1998 tentang
Ketentuan Umum Dibidang Ekspor sebagaimana telah beberapa
kali diubah dan terakhir dengan Peraturan Menteri Perdagangan
Nomor 01/M-DAG/PER/1/2007 tanggal 22 Januari 2007;
2) Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 04/M/Kep/12/2004
tentang ketentuan Ekspor Tekstil dan Produksi Tekstil (TPT).

c. Ketentuan Ekspor
Pelaksanaan ekspor komoditi yang bebas ekspornya dapat dilakukan
oleh setiap perusahaan atau perorangan yang telah memiliki :
1) Photo copy Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);

2) Photo copy Ijin Usaha dari Departemen Teknis/Lembaga


Pemerintah Non Departemen berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
3) Photo copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

Khusus Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), maka melalui Agreement


on Textile and Clothng (ATC) World Trade Organization (WTO),
kuota ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) berakhir pada tanggal
31 Desember 2004 dan sejak tanggal 1 Januari 2005 perdagangan
TPT dunia mengikuti ketentuan umum WTO, maka TPT termasuk
kelompok barang yang bebas ekspornya dengan ketentuan :

1) TPT dapat dilaksanakan oleh perusahaan yang telah memiliki


persyaratan umum diatas;

2) Ekspor Tekstil dan Produksi Tekstil (TPT) tanpa dibatasi baik


Jumlah dan negara tujuan ekspor;

3) Ekspor TPT ke Amerika Serikat, Kanada, Uni Eropa dan Turki


wajib disertai dengan Surat Keterangan Asal (SKA);

4) Setiap penerbitan SKA oleh Instansi Penerbitan SKA dalam


rangka ekspor TPT ke negara seperti pada butir c), wajib
dilampiri tindasan asli (original copy) Master B/L atau copy
AWB serta dokumen lainnya yang dipersyaratkan sesuai
ketentuan yang berlaku.

C. VERIFIKASI/PENELUSURAN TEKNIS EKSPOR BAHAN GALIAN


GOLONGAN C SELAIN PASIR, TANAH DAN TOP SOIL (TERMASUK
TANAH PUCUK ATAU HUMUS)

1. Latar Belakang
a) Kegiatan penambangan Bahan Galian Golongan C yang tidak terkendali
sebagai akibat maraknya ekspor Bahan Galian Golongan C;
b) Mengatasi terjadinya ekspor Bahan Galian Golongan C secara ilegal
sehingga terjadi kerusakan lingkungan maka untuk meminimalisasi
kerusakan lingkungan tersebut dilakukan verifikasi/penelusuran teknis
ekspor sebelum muat barang.

2. Dasar Hukum
Peraturan Mendag No. 03/M-DAG/PER/1/2007 tanggal 22 Januari 2007.
tentang Verifikasi atau Penelusuran Teknis Ekspor Bahan Galian Golongan
C Selain Pasir, Tanah dan Top Soil (Termasuk Tanah Pucuk atau Humus).
3. Ketentuan Ekspor

a) Setiap kegiatan pelaksanaan ekspor Bahan Galian Golongan C Selain


Pasir, Tanah dan Top Soil (Termasuk Tanah Pucuk atau Humus) wajib
di verifikasi/penelusuran teknis sebelum muat barang oleh surveyor
yang ditetapkan oleh Menteri;

b) Verifikasi/penelusuran teknis oleh surveyor meliputi penelitian dan


pemeriksaan terhadap data atau keterangan paling sedikit mengenai :
1) Keabsahan administrasi sumber barang;

2) Spesifikasi barang yang mencakup Nomor Pas Tarif/HS; dan


3) Jumlah dan jenis barang serta waktu pengapalan.

c) Hasil verifikasi/penelusuran teknis berupa Laporan Surveyor (LS)


digunakan sebagai dokumen pelengkap Pabean yang diwajibkan untuk
pendaftaran Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) atau Pemberitahuan
Pabean Single Administrative Document (PPSAD) untuk Kantor
Pelayanan Bea dan Cukai yang sudah menerapkannya;

d) Biaya pelaksanaan verifikasi/penelusuran teknis ekspor Bahan Galian


Golongan C Selain Pasir, Tanah dan Top Soil (Termasuk Tanah Pucuk
atau Humus) dibebankan kepada eksportir;
e) Kewajiban verifikasi/penelusuran teknis tidak diberlakukan terhadap :
1) Barang keperluan penelitian dan pengembangan teknologi;
2) Barang contoh;
3) Barang promosi.
D. PENGECUALlAN DILUAR KETENTUAN UMUM DI BIDANG
EKSPOR

1. Latar Belakang
Dalam rangka penyederhanaan prosedur dan untuk peningkatan kelancaran
pengeluaran barang-barang tertentu ke luar negeri.

2. Dasar Hukum
a) Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 225/KP/X/1995 tanggal 11 Oktober
1995 tentang Pengeluaran Barang-barang ke Luar Negeri di luar Ketentuan
Umum di Bidang Ekspor;

b) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor


317/MPP/Kep/9/1997 tanggal10 September 1997 tentang Perubahan
Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 225/KP/X/1995 tanggal Oktober
1995 tentang Pengeluaran Barang-barang ke Luar Negeri di luar Ketentuan
Umum di Bidang Ekspor.

3. Ketentuan Pengeluaran Barang Ke Luar Negeri


a) Pengeluaran barang-barang ke luar negeri atas barang pindahan, barang
penumpang, barang pelintas batas, barang diplomatik, barang keperluan
misi, barang untuk diperbaiki, barang asal impor berdasarkan pasal 23
Ordonansi Bea, barang pameran, barang contoh, barang cinderamata/hadiah,
barang kiriman, barang kerajinan dan barang lainnya tidak diberlakukan
ketentuan umum di bidang ekspor dan tidak diperlukan persetujuan
pengeluaran barang ke luar negeri dari Departemen Perdagangan;

b) Pengeluaran ke luar negeri barang-barang yang diawasi atau dikenakan


ketenyuan tata niaga ekspor sebagai barang contoh, pameran dan kiriman
yang tidak diatur dalam ketentuan pengeluaran barang-barang ke luar negeri
di luar ketentuan umum di bidang ekspor dikenakan ketentuan tata niaga
ekspor barang-barang yang bersangkutan.

4. Persyaratan Pengeluaran Barang Ke Luar Negeri


a) Barang Pindahan

Adalah barang perabot atau alat rumah tangga yang dipergunakan oleh
orang asing yang berdomisili di Indonesia sebagai kelengkapan rumah
tangga yang dibawa pindah keluar daerah pabean Indonesia.

Persyaratan

1) Paspor dan visa kepindahan;

2) Keterangan pindah dari perusahaan atau instansi yang bersangkutan;


3) Daftar barang (packing list).
b) Barang Penumpang

Adalah barang penumpang kapal laut, kapal udara atau penumpang


angkutan darat yang dibawa oleh penumpang bersangkutan pada saat
keberangkatannya keluar daerah pabean Indonesia.

Peryaratan
1) Paspor bagi yang bersangkutan;
2) Tiket.
c) Barang Pelintas Batas

Adalah barang yang dibawa penduduk yang berdiam atau bertempat tinggal
dalam wilayah perbatasan negara yang memiliki kartu identitas yang
dikeluarkan oleh instansi yang berwenang, yang melakukan perjalanan lintas
batas di daerah perbatasan melalui pos pengawas lintas batas.

Persyaratan
1) Kartu Pas Pelintas Batas;

2) Nilai tidak melebihi dari ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian


perbatasan.

d) Barang Diplomatik
Adalah barang keperluan pribadi anggota Diplomatik dan Konsuler
termasuk anggota keluarganya, barang keperluan resmi serta barang lainnya
untuk keperluan kantor perwakilan diplomatik dan konsuler yang dibawa
keluar daerah pabean Indonesia.

Persyaratan
1) Surat Keterangan dari Kedutaan atau Konsulat Asing yang
bersangkutan/Departemen Luar Negeri RI;
2) Paspor dan tiket.

e) Barang Keperluan Misi


Barang keperluan misi terdiri dari :
1) Barang kebutuhan Misi Agama adalah barang yang dibawa ke luar
daerah pabean Indonesia untuk keperluan misi agama yang mendapat
rekomendasi dari Departemen Agama;

2) Barang Keperluan Misi Olah Raga adalah barang yang dibawa keluar
daerah pabean Indonesia untuk keperluan misi olah raga yang mendapat
rekomendasi dari induk organisasi olah raga bersangkutan atau instansi
yang berwenang;

3) Barang Keperluan Misi Kesenian adalah barang dibawa ke luar daerah


pabean Indonesia untuk keperluan misi kesenian yang mendapat
rekomendasi dari Departemen Pendidikan Nasional;

4) Barang Keperluan Misi Kebudayaan adalah barang yang dibawa ke luar


daerah pabean Indonesia untuk keperluan misi kebudayaan dalam
rangka meningkatkan pengetahuan/memperkenalkan kebudayaan yang
mendapat rekomendasi dari Departemen Pendidikan Nasional;

5) Barang Keperluan Penelitian adalah barang yang dibawa ke luar daerah


pabean Indonesia untuk keperluan penelitian yang mendapat
rekomendasi dari instansi yang berwenang;

6) Barang Keperluan Misi Kemanusiaan adalah barang yang dikirim ke


luar daerah pabean Indonesia dalam rangka bantuan kemanusiaan yang
mendapat rekomendasi dari Departemen Sosial atau Palang Merah
Indonesia.
Persyaratan

Surat Keterangan dari Departemen/ Instansi/ Lembaga yang berkepentingan.


f) Barang untuk Diperbaiki
Adalah barang yang dikirim keluar dari daerah pabean Indonesia untuk
keperluan perbaikan tanpa merubah sifat hakikinya.
Persyaratan
Surat Pernyataan dari pemilik atau kontrak dengan salah satu klausul
layanan purna jual untuk perbaikan kerusakan.
g) Barang Asal Impor
Barang yang berdasarkan pasal 23 Ordonansi Bea, adalah barang asal impor
untuk penggunaan sementara yang dikirim kembali ke luar daerah pabean
Indonesia setelah digunakan di dalam daerah pabean Indonesia.
Persyaratan
1) Kontrak jual beli yang mencantumkan klausul kewajiban
mengembalikan kemasan (tempat) setelah barang digunakan, kewajiban
mengembalikan barang yang tidak sesuai dengan kontrak;

2) Membayar bea masuk sesuai dengan ketentuan apabila barang tersebut


tidak dire-ekspor kembali.
h) Barang Kiriman
Adalah barang dagangan atau bukan barang dagangan yang dikirim ke luar
daerah pabean Indonesia melalui pos, kapal laut, kapal udara, atau angkutan
darat melalui perusahaan jasa titipan atau angkutan.
Persyaratan
Nilai tidak melebihi Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah).
i) Barang Pameran
Adalah barang yang dikirim ke luar daerah pabean Indonesia untuk
keperluan pameran dagang atau pameran lainnya.
Persyaratan
1) Undangan mengikuti pameran;
2) Bukti keikutsertaan pameran;
3) Bukti penyelenggaraan.

j) Barang Contoh
Adalah barang yang dikirim ke luar daerah pabean Indonesia untuk
keperluan contoh, dalam jumlah yang wajar dan tidak untuk
diperdagangkan.

Persyaratan
Surat pernyataan dari perusahaan yang memuat keperluan dilakukannya
pekerjaan tersebut.
k) Barang Cindera Mata/Hadiah
Adalah barang yang dihadiahkan kepada perseorangan/organisasi/lembaga
di luar negeri.

Persyaratan
Mencantumkan maksud pemberian, nama dan alamat perorangan
penerima/organisasi, jenis dan jumlah barang.

I) Barang Kerajinan Rakyat Indonesia


Adalah barang-barang kerajinan yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal
Perdagangan Luar Negeri.

Persyaratan
Sepanjang barang tersebut bukan merupakan barang dagangan.

m) Barang Lain yang Dikirim ke Luar Negeri untuk Dimasukkan Kembali


ke Daerah Pabean Indonesia
Adalah barang lainnya yang tidak termasuk dalam pengertian butir 1 s.d. 12
yang dikirim ke luar daerah pabean Indonesia dan akan dimasukkan kembali
ke dalam daerah pabean Indonesia.

Persyaratan
Dibuktikan dengan surat pernyataan dari pemilik atau kontrak yang salah
satu klausulnya menyatakan layanan purna jual untuk perbaikan atas
kerusakan barang.
BAB III
LAIN-LAIN

A. SURAT KETERANGAN ASAL (SKA)


1. Latar Belakang

• Dalam rangka mengoptimalkan upaya pencegahan penyalahgunaan pemakaian


Surat Keterangan Asal (SKA) seiring penggunaan SKA untuk barang ekspor
Indonesia semakin meningkat dan berkembang;

• Dalam rangka penyesuaian dengan perkembangan perjanjian internasional serta


perkembangan teknologi yang ada, baik secara manual maupun melalui sistem
otomasi.

Dasar Hukum
a. Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 43/M-DAG/PER/l0/2007 tanggal 8
Oktober 2007 tentang Penerbitan Surat Keterangan Asal (Certificate of Origin)
Untuk Barang Ekspor Indonesia;

b. Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Nomor


09/DAGLU/PER/10/2007 tanggal 22 Oktober 2007 tentang Ketentuan
Pelaksanaan Pemberlakuan Dan Penerbitan Surat Keterangan Asal (Certificate
of Origin) Untuk Barang Ekspor Indonesia;

c. Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Nomor


10/DAGLU/PER/10/2007 tanggal 22 Oktober 2007 tentang Instansi Penerbit
Surat Keterangan Asal Dan Pejabat Penandatangan Surat Keterangan Asal;

d. Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Nomor


ll/DAGLU/PER/10/2007 tanggal 22 Oktober 2007 tentang Barang Tertentu
Yang Ekspornya Wajib Disertai Surat Keterangan Asal (Certificate of Origin).
2. Pengertian
a. Surat Keterangan Asal (Certificate of Origin), selanjutnya disingkat SKA,
adalah dokumen yang disertakan pada waktu barang ekspor Indonesia
memasuki wilayah negara tertentu yang membuktikan bahwa barang tersebut
berasal, dihasilkan dan atau diolah di Indonesia;
b. Cara manual adalah cara yang digunakan dalam proses penyampaian dan
pengisian formulir, pengolahan data, penyimpanan dan pengadministrasian
SKA serta kegiatan lainnya yang terkait dalam penerbitan SKA tanpa
menggunakan teknologi informasi;

c. Sistem otomasi adalah sistem yang digunakan dalam proses penyampaian dan
pengisian formulir, pengolahan data, penyimpanan dan pengadministrasian
SKA serta kegiatan lainnya yang terkait dalam penerbitan SKA dengan
menggunakan sarana dan prasarana teknologi informasi;

d. Verifikasi SKA adalah proses penyelidikan mengenai keabsahan dokumen dan


atau kebenaran data dan informasi yang terdapat dalam SKA yang dilakukan
atas permintaan pemerintah negara tujuan ekspor.
3. Jenis-Jenis SKA
a. SKA Preferensi

Diterbitkan untuk digunakan dalam rangka memenuhi ketentuan yang


ditetapkan oleh suatu negara atau sekelompok negara terhadap ekspor barang-
barang tertentu yang berasal dari suatu negara lain berdasarkan perjanjian
intemasional atau penetapan unilateral.
b. SKA Non Preferensi.

Diterbitkan untuk digunakan dalam rangka memperoleh fasilitas pengurangan


atau pembebasan tarif bea masuk yang diberikan oleh suatu negara atau
sekelompok negara terhadap ekspor produk-produk tertentu yang berasal dari
suatu negara lain yang memenuhi syarat sesuai ketentuan perjanjian
internasional atau penetapan unilateral.

4. Prosedur Penerbitan SKA

• Penerbitan SKA dilakukan atas permintaan eksportir dengan:


¾ mengajukan surat permohonan penerbitan SKA; dan
¾ mengisi formulir SKA yang sesuai dengan jenis dan peruntukannya dan
menyampaikannya kepada Instansi Penerbit SKA.

• Surat permohonan penerbitan SKA dan formulir SKA dapat diperoleh di


Instansi Penerbit SKA atau situs website pelayanan penerbitan SKA Online;
• Surat permohonan penerbitan SKA baik dengan cara manual maupun dengan
sistem otomasi harus dilengkapi dengan dokumen pendukung :

¾ fotokopi Pemberitahuan Ekspor Sarang (PES) yang telah difiatmuat oleh


petugas Kantor Pelayanan Bea dan Cukai di pelabuhan muat atau lembar
cetak (print out) PES yang dibuat secara Pertukaran Data Elektronik (PDE)
dengan dilampiri Persetujuan Ekspor (PE);

¾ tindasan asli (original copy) Bill of Lading (S/L) atau copy Air Way Bill
(AWB), atau copy Cargo Receipt jika pelaksanaan ekspornya melalui
pelabuhan darat; dan

¾ invoice;

¾ packing list; dan atau

¾ dokumen lain sesuai dengan jenis SKA berdasarkan peruntukannya.

Dokumen pendukung tersebut dapat disampaikan pada saat pengajuan surat


permohonan atau sebelum SKA ditandatangani oleh Pejabat Penandatangan
SKA.

• Penyampaian surat permohonan penerbitan SKA dan formulir SKA yang telah
diisi dapat dilakukan dengan cara manual dan otomasi;

• Pengajuan permohonan penerbitan SKA yang dilakukan dengan sistem otomasi


dapat dilakukan 3 cara, yaitu :

¾ menyampaikan surat permohonan penerbitan SKA dan formulir SKA yang


telah diisi, yang telah disimpan dalam media penyimpanan data elektronik
seperti disket/flashdisk/CD;

¾ menyampaikan surat permohonan penerbitan SKA dan formulir SKA yang


telah diisi melalui e-mail; atau

¾ mengisi dan menyampaikan surat permohonan penerbitan SKA dan formulir


SKA melalui situs web (website) pelayanan penerbitan SKA Online.
• Dalam keadaan kahar berupa :

a. bencana alam berupa banjir, gempa bumi, longsor, dan bencana-bencana


lainnya yang terjadi secara alami;
b. kebakaran, pemadaman listrik, dan pencurian peralatan; dan/atau

c. kerusakan dan disfungsi sarana dan prasarana pendukung sistem otomasi,


sehingga mengakibatkan penerbitan SKA dengan sistem otomasi tidak dapat
dilaksanakan maka dapat dilakukan dengan menggunakan sistem non
otomasi yang bersifat sementara dan berlangsung sampai keadaan kahar
dapat diatasi.

• Terhadap permohonan penerbitan SKA untuk barang ekspor di luar ketentuan


umum di bidang ekspor harus disertai dokumen pendukung :

¾ kwitansi pembelian bagi barang yang dimintakan SKA nya; dan

¾ fotokopi KTP (Kartu Tanda Penduduk) bagi penduduk Indonesia atau


Paspor bagi penduduk warganegara asing/wisatawan atau Surat Kuasa dari
pemilik barang apabila pelaksanaannya menggunakan Perusahaan Jasa
Titipan.

• Dalam waktu selambat-Iambatnya 1 (satu) hari kerja terhitung sejak tanggal


diterima permohonan dari eksportir, Instansi Penerbit SKA harus memberikan
tanggapan atas permohonan dimaksud berupa :
¾ penerbitan SKA; atau
¾ pemberitahuan tertulis mengenai penolakan penerbitan SKA dengan disertai
alasan penolakan tersebut.
5. Instansi Penerbit SKA

Eksportir dapat memilih tempat untuk mengajukan permohonan penerbitan SKA


pada Instansi Penerbit SKA berdasarkan lokasi atau wilayah kerja, yaitu :

1) Instansi Penerbit SKA yang wilayah kerjanya mencakup tempat barang


diproduksi;

2) Instansi Penerbit SKA yang wilayah kerjanya mencakup tempat Bank Devisa
sebagai korespondensi bank dari eksportir;

3) Instansi Penerbit SKA yang wilayah kerjanya mencakup tempat Kantor


Pelayanan Bea dan Cukai yang mengeluarkan PEB atau tempat PEB mendapat
persetujuan ekspor dari pejabat Kantor Pelayanan Bea dan Cukai di pelabuhan
ekspor;
4) Instansi Penerbit SKA yang wilayah kerjanya mencakup tempat pembelian
barang;

5) Instansi Penerbit SKA yang wilayah kerjanya mencakup tempat


pemberangkatan/pengiriman barang; atau
6) Instansi Penerbit SKA yang terdekat.

6. Instansi Penerbit SKA Untuk Ekspor Barang Tertentu :

1) Tekstil dan Produk Tekstil Untuk Tujuan Ekspor Amerika Serikat dan
Uni Eropa

Dinas yang menangani perdagangan di :

a) Provinsi Sumatera Utara;


b) Provinsi Riau;
c) Provinsi DKI Jakarta;
d) Provinsi Jawa Barat;
e) Provinsi Jawa Timur;
f) Provinsi Jawa Tengah;
g) Provinsi Bali;
h) Provinsi D.I. Yogyakarta;
i) Kota Surakarta;
j) Kabupaten Kepulauan Riau.

Badan/Lembaga Non Dinas :


a) Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam;
b) Kawasan Berikat Nusantara Unit Usaha Cakung;
c) Kawasan Berikat Nusantara Unit Usaha Tj. Priok;
d) Kawasan Berikat Nusantara Unit Usaha Marunda.

2) Udang

Dinas yang menangani perdagangan di :

a) Provinsi Sumatera Utara;


b) Provinsi Sumatera Selatan;
c) Provinsi Lampung;
d) Provinsi DKI Jakarta;
e) Provinsi Jawa Barat;
f) Provinsi Jawa Timur;
g) Provinsi Jawa Tengah;
h) Provinsi Sulawesi Selatan;
i) Provinsi Kalimantan Selatan;
j) Provinsi Kalimantan Timur;
k) Kota Tarakan;
l) Provinsi Sulawesi Tenggara;
m) Kabupaten Cirebon;
n) Provinsi Bali;
o) Provinsi Kalimantan Barat;
p) Kabupaten Sarong.

3) Alas Kaki

Dinas yang menanganiperdagangan di .

a) Provinsi Sumatera Utara; .


b) Provinsi Jawa Barat;
c) Provinsi Jawa Timur;
d) Provinsi Jawa Tengah;
e) Provinsi Bali;
f) Provinsi D.I. Yogyakarta;
g) Provinsi Sulawesi Selatan;
h) Kabupaten Tangerang;
i) Kabupaten Bogor;
j) Kabupaten Bekasi;
k) Kabupaten Cirebon;
I) Kotamadya Jakarta Barat;
m) Kotamadya Jakarta pusat;
n) Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam;
o) Kawasan Berikat Nusantara Unit Usaha Cakung.
7. Kewenangan dan Tanggung jawab dalam Penerbitan SKA

Pejabat yang diberi wewenang dan tanggung jawab dalam penandatangan SKA
adalah pejabat yang menangani perdagangan luar negeri di Instansi Penerbit SKA
terdiri dari :

a) Pejabat Penandatangan SKA;


b) Pejabat Penandatangan Pengganti I; dan
c) Pejabat Penandatangan Pengganti II.
8. Verifikasi SKA

Instansi Penerbit SKA wajib menanggapi dan melakukan penyelesaian atas setiap
permintaan verifikasi SKA dari pemerintah/instansi di negara tujuan ekspor dan
bagi eksportir yang terkait verifikasi wajib memberikan informasi dan data yang
diperlukan.

B. PENGAWASAN DAN PENGENDAUAN MUTU BARANG EKSPOR


1. Latar Belakang

Pengawasan dan pengendalian mutu barang ekspor diterapkan pada barang-barang


ekspor adalah untuk mencegah ekspor produk-produk Indonesia dibawah mutu
standar serta untuk mempertahankan mutu produk ekspor.

2. Dasar Hukum

(1) Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor


164/MPP/Kep/6/1996 tanggal 21 Juni 1996 tentang Pengawasan Mutu Secara
Wajib untuk Produk Ekspor tertentu;

(2) Keputusan Sekretaris Jenderal Depperindag Nomor 470/SJ/SK/VII/1996 tentang


Ketentuan dan Tatacara pengawasan Mutu Secara Wajib untuk Produk Ekspor
tertentu.

3. Pelaksanaan pengawasan dan Pengendalian Mutu

a. pengawasan mutu barang ekspor dilaksanakan melalui sistem Sertifitikasi dalam


bentuk Sertifikat Kesesuaian Mutu (SM) yang dikeluarkan oleh labotarium
penguji mutu ataupun Sertifikat Produk penggunaan Tanda SNI (SPPT-SNI)
yang diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi Produk. Yang dimaksud dengan
tanda SNI adalah tanda sertifikasi produk yang barang tersebut memenuhi
persyaratan SNI;

b. Setiap ekspor komoditi jenis prekursor wajib mengajukan surat permohonan


ekspor kepada Badan pengawasan Obat dan Makanan;

c. Produk ekspor yang ditetapkan dalam pengawasan mutunya secara wajib


sebanyak 23 produk ekspor, yaitu :
1) SIR (Standard Indonesia Rubber),
2) Karet Konvensional,
3) Gaplek,
4) Minyak Sereh,
5) Minyak Nilam,
6) Minyak Kenanga,
7) Minyak Akar Wangi,
8) Lada Putih,
9) Lada Hitam,
10) Pala,
11) Fuli,
12) Cassia Vera,
13) Kopi,
14) Teh,
15) Minyak Kayu Putih,
16) Minyak Daun Cengkeh,
17) Minyak Pala,
18) Minyak Fuli,
19) Minyak Cendana,
20) Vanili,
21) Kayu Lapis penggunaan umum,
22) Biji Kakao,
23) Biji Pinang bukan untuk obat.
C. PUNGUTAN EKSPOR (PE) DAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE)
1. Latar Belakang

Pengenaan Pajak Ekspor (PE) untuk barang-barang tertentu adalah dalam rangka :
a. menjaga kesinambungan persediaan bahan baku sehingga terjaminnya
pemenuhan kebutuhan dalam negeri;
b. terlindunginya kelestarian sumber daya alam;
c. terjaminnya stabilitas harga barang tertentu di dalam negeri;
d. meningkatkan daya saing ekspor tertentu; dan

e. mengantisipasi pengaruh kenaikan harga yang cukup drastis dari barang ekspor
tertentu di pasar internasional.

2. Dasar Hukum
a. Peraturan Pemerintah RI Nomor 35 Tahun 2005 tanggal 10 September 2005
tentang pungutan Ekspor Atas Barang Ekspor Tertentu;

b. Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 92/PMK.02/2005 tanggal 10 Oktober


2005 tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu dan Besaran Tarif
Pungutan Ekspor;

c. Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 20/M-DAG/PER/5/2007 tanggal 8


Mei 2007 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) Atas Barang Ekspor
Tertentu.

3. Mekanisme Pungutan Ekspor (PE)


a. Barang yang terkena PE dan Tarif PE ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah
mendapat pertimbangan dari Menteri Teknis terkait;

b. Perhitungan pungutan ekspor didasarkan pada Harga Patokan Ekspor (HPE)


yang ditetapkan setiap bulan oleh Menteri Perdagangan berdasarkan harga rata-
rata internasional;

c. Pungutan Ekspor (PE) dihitung berdasarkan rumus : Tarif PE x HPE x Jumlah


Satuan Barang x Nilai Kurs;

d. Besarnya HPE ditetapkan oleh Menteri Perdagangan setelah mendapat


pertimbangan dari Menteri teknis dan Asosiasi terkait:
e. Penetapan HPE berpedoman pada harga rata-rata internasional dan atau harga
rata-rata FOB di beberapa pelabuhan Indonesia;
f. Dalam hal masa berlaku HPE sudah habis dan HPE baru belum ditetapkan,
maka HPE lama tetap berlaku sampai dengan HPE baru ditetapkan.

g. Tarif pajak ekspor yang digunakan sebagai dasar perhitungan pajak ekspor
adalah tarif pajak ekspor yang berlaku pada saat Pemberitahuan Ekspor Barang
(PEB) didaftarkan pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai;

h. HPE yang digunakan sebagai dasar perhitungan PE adalah HPE yang berlaku
pada saat PEB didaftarkan pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai.

4. Komoditi-komoditi yang terkena Pungutan Ekspor

a. Rotan
1) Rotan Asalan sudah dirunti, dicuci, diasap dan dibelerangi dari segala jenis;
2) Rotan Sudah dipoles halus;
3) Hati Rotan;
4) Kulit Rotan.

b. Kayu
1) Veneer;
2) Bahan Baku Serpih;
3) Kayu Olahan.

c. Kelapa Sawit, CPO, dan Produk Turunannya

1) Kelapa Sawit/Tandan Buah Segar dan Inti (Biji) Kelapa


Sawit;

2) Crude Palm Oil/CPO (Crude Olein/CRD Olein; Refined Bleached


Deoderized Palm Oil/RBD PO; Refined Bleached Deoderized Palm
Olein/RBD Olein.

d. Kulit

1) Jangat dan Kulit Mentah/Pickied dari hewan sapi/Kerbau dan Biri-Biri.

2) Kulit disamak/Wet Blue dari hewan sapi/Kerbau, Biri-Biri dan Kambing.


D. IMBAL DAGANG

1. Latar Belakang
a. Kelangkaan devisa;
b. Tidak seimbangnya volume perdagangan kedua negara;
c. Melindungi perdagangan terhadap fIuktuasi mata uang;

d. Meningkatkan hubungan perdagangan antar dua negara terkait.


2. Dasar Hukum

a. PP NO.1 Tahun 1982 tentang pengkaitan pembelian pemerintah dengan ekspor


non migas;

b. Surat Meneg/Sekkab No.R 079/TPPBPP/ I/82 Tgi 21 Januari 1982 tentang


kewajiban Imbal Beli dengan nilai pembelian lebih dari Rp. 5 ratus juta;

c. Surat Edaran Mendag No. 175/M/ V/89 tgl 2 Mei 1989 tentang kebijakan
perdagangan Imbal Beli;

d. SK Bersama Menkeu dan Meneg PPN/Ketua Bappenas No. Kep


27/MK/3/8/1994 dan No. Kep/166/ Ket/8/1994 tentang petunjuk teknis
pelaksanaan Kepres No. 16 tahun 1994 dimana dinyatakan bahwa pengadaan
diatas Rp. 500 juta dengan dana APBN dan di atas Rp.l0 milyar dari Kredit
Ekspor disyaratkan untuk melakukan ekspor non migas;

e. Surat Edaran Dirjen Daglu No. 92/DJPLN/V/1999 tgl 10 Mei 1999 tentang
pelaksanaan ekspor dalam rangka pemenuhan kewajiban Imbal Beli;

f. Inpres No.5 Tahun 2003 tentang Paket Kebijakan Ekonomi Menjelang dan
Sesudah Berakhirnya Program Kerjasama Dengan International Monetary Fund
(IMF).
3. Pengertian

Imbal Dagang atau "counter trade" adalah suatu Skema perdagangan atau praktek
perdagangan dimana pemasok barang/jasa menyetujui suatu kondisi dalam
perjanjian jual beli untuk membahas (Reciprocity) dan menyanggupi suatu
persyaratan khusus tertentu sebagai kompensasi dan manfaat bagi jual beli,
sehingga pemasok barangjjasa wajib menerima barang atau memberi kompensasi
lain kepada pembeli sebagai balasan atau pembayaran sebagian atau seluruh
barang/jasa yang dijual atau ditukarnya.
4. Jenis Imbal Dagang
a. Imbal Beli

Suatu perjanjian dagang dimana supplier barang menerima sebagian atau


seluruh pembayaran dalam bentuk barang.
b. Offset

Supplier melakukan investasi, kerjasama produksi dan alih teknologi untuk


pembangunan industri baru dengan tujuan ekspor.
c. Barter

Pertukaran barang dengan barang secara langsung dengan nilai yang dianggap
sama atau sebanding tanpa alat pembayaran.
d. Buyback

Supplier barang menerima sebagian atau seluruh pembayaran dalam bentuk


hasil produk yang dihasilkan barang/industri yang dipasoknya.
5. Manfaat Imbal Dagang

a. Merupakan instrumen untuk mengatasi hambatan dan kendala ekspor diluar


negeri, memperluas wilayah pasar dan memasarkan produk baru;
b. Memberikan on top/ additional export;

c. Penghematan devisa serta mengatasi kesulitan impor karena keterbatasan


devisa;
d. Mempercepat transfer teknologi dan pengetahuan;
e. Meningkatkan produksi dan memperluas kesempatan kerja.
6. Prosedur Imbal Beli
a. Supplier asing mengikuti tender;
b. Membuat Letter of Undertaking (LU) sebagai dokumen tender;
c. Approval LU oleh Dirjen Daglu;

d. Laporan pemenang tender dan info tentang proyek serta nilai Imbal Beli oleh
instansi pelaksana tender;

e. Supplier asing menyerahkan proposal Imbal Beli disebut Annex A kpd Dirjen
Daglu untuk approval;
f. Supplier asing jika tidak melaksanakan langsung imbal beli, dapat menunjuk
pihak ketiga sebagai Assignee dengan menyerahkan Assignment Agreement
kepada Dirjen Daglu untuk approval;

g. Supplier asing atau Assignee dalam waktu paling lambat 6 bulan setelah
penandatanganan Annex A diwajibkan melakukan ekspor;

h. Setelah melakukan kewajiban ekspor, Assignee wajib membuat laporan (Annex


B) kepada Ditjen Daglu dengan melampirkan bukti ekspor (PEB);

i. Berdasarkan Annex B, setelah dilakukan verifikasi PEB, Ditjen Daglu


menerbitkan Confirmation Letter yang juga dikirim kepada pelaksana tender,
foreign supplier dan instansi terkait lainnya;

j. Kewajiban ekspor termen terakhir dalam annex B harus diserahkan ke Ditjen


Daglu selambat lambatnya 6 bulan sebelum berakhirnya imbal beli;

k. Jika Assignee tidak dapat menyelesaikan kewajibannya, maka Dirjen Daglu


membuat surat yang menyatakan bahwa kewajiban tidak dipenuhi sepenuhnya
dan menetapkan nilai penalty sesuai peljanjian dengan supplier atau Assignee.

7. MOU Imbal Beli

Pemerintah RI sudah menandatangani sebanyak 11 MOU dengan negara mitra


dagang yaitu; Vietnam, Thailand, Libya, Korea Selatan, Korea Utara, China, Rusia,
India, Kamboja, Philipina dan Bangladesh.