Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

Filsafat dalam bahsa Indonesia memiliki padanan kata


falsafah ( Arab ), philoshopy ( Inggris ), Philosophie ( Jerman,
belanda, Prancis ). Semua itu bersumber pada istilah Yunani
Philoshopia. Yang secara garis besar diartikan sebagai “cinta
akan kearifan ( kebijaksanaan )”.

Filsafat merupakan usaha untuk memperoleh


pandangan yang menyeluruh

Filsafat mencoba menggabungkan kesimpulan –


kesimpulan dari berbagai ilmu dan pengamlan manusia menjadi
suatu pandangan dunia yang konsisten. Para filsuf memakai
pandangan yang menyeluruh terhadap kehidupan sebagai
totalitas. Menurut para ahli filsafat spekulatif ( yang dibedakan
dengan filsafat kritis ), dengan tokohnya C. D. Broad, tujuan
filsafat adalah mengambil alih hasil – hasil pengalaman manusia
dalam bidang keagamaan, etika dan ilmu pengetahuan,
kemudian hasil – hasil tersebut direnungkan secara menyeluruh.
Dengan cara ini diharapkan dapat diperoleh beberapa
keismpulan umum tentang sifat – sifat dasar alam semesta,
kedudukan manusia di dalamnya serta pandangan – pandangan
ke depan.

Hakikat nilai – nilai pancasila

Nilai adalah seperti halnya ide manusia yang merupakan


fungsi pokok human being. Nilai tidaklah nampak dalam dunia
pengalaman. Dia nyata dalam jiwa manusia. Dalam ungakpan
lain ditegaskan oleh Sidney B. Simon ( 1986 ) bahwa
sesungguhnya yang dimaksudkan dengan nilai adalah jawaban
yang jujur tapi benar dari pernyataan “what you are really,
really, really, want.”
Bangsa Indonesia sejak awal mendirikan negara,
berkosesus untuk memegang dan menganut Pancasila sebagai
sumber inspirasi, nilai dan moral bangsa. Konsesus bahwa
Pancasila sebagai anutan untuk pengembang nilai dan moral
bangsa ini secara ilmiah filosofis merupakan pemufakatan yang
normatif.
Nilai – nilai yang bersumber dari hakikat Tuhan, manusia,
satu rakyat dan adil dijabarkan menjadi konsep Etika Pancasila,
bahwa hakikat manusia Indonesia adalah untuk memiliki sifat
dan keadaan yang berperi Ketuhanan Yang Maha Esa, berperi
Kemanusiaan, Kebangsaan dan Kerakyatan yang keadilan sosial.
• Ciri atau karakteristik berpikir filsafat adalah :
1. Sistematis
2. Medalam
3. Mendasar
4. Analitik
5. Kompherensif
6. Spekulatif
7. Reprentatif, dan
8. Evaluatif

• Cabang – cabang filsafat


meliputi :
1. Epistemologi
2. Etika ( filsafat moral )
3. Estetika ( filsafat seni )
4. Matefisika
5. Filsafat Agama
6. Filsafat ilmu
7. Filsafat pendidikan
8. Filsafat hukum
9. Filsafat sejarah
10.Kosmologi

• Pancasila Sebagai Paradigma Kehidupan


Paradigma adalah suatu asumsi-asumsi, dasar-dasar
teoritis yg umum (merupakan suatu sumber nilai), sehingga
merupakan suatu sumber hukum, metode, serta penerapan
dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri,
serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri.
Sumber Nilai
Paradigma Terminologis Kerangka Pikir
Orientasi Dasar
Sumber serta arah & tujuan dari
perkembangan dalam
suatu bidang
tertentu

Pengertian : Kerangka Berfiki sumber nilai


Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan :
 Pembangunan Mendasarkan pada Nilai2 Pancasila
 Nilai-Nilai Pancasila Mendasarkan pada dasar ontologis
(hakikat hidup)
Manusia Sebagai subjek pendukung
 Dasar Hakikat Manusia adalah Monopluralis :
 Rohani dan raga
 Makhluk individu dan makhluk sosial
 Makhluk pribadi yang berdiri sendiri dan makhluk
tuhan

BAB II

IDENTITAS NASIONAL

1. Latar Belakang dan Pengertian Identitas Nasional.

Situasi dan kondisi masyarakat kita dewasa ini


menghadapkan kita pada suatu keprihatinan dan sekaligus
juga mengundang kita untuk ikut bertanggung jawab atas
mosaik Indonesia yang retak bukan sebagai ukiran melainkan
membelah dan meretas jahitan busana tanah air, tercabik-
cabik dalam kerusakan yang menghilangkan keindahannya.
Untaian kata-kata dalam pengantar sebagaimana tersebut
merupakan tamsilan bahwasannya Bangsa Indonesia yang
dahulu dikenal sebagai “het zachste volk ter aarde” dalam
pergaulan antar bangsa, kini sedang mengalami tidak saja
krisis identitas melainkan juga krisis dalam berbagai dimensi
kehidupan yang melahirkan instabilitas yang berkepanjangan
semenjak reformasi digulirkan pada tahun 1998. (Koento W,
2005)
Krisis moneter yang kemudian disusul krisis ekonomi
dan politik yang akar-akarnya tertanam dalam krisis moral
dan menjalar ke dalam krisis budaya, menjadikan masyarakat
kita kehilangan orientasi nilai, hancur dan kasar, gersang
dalam kemiskinan budaya dan kekeringan spritual. “Societal
terorism” muncul dan berkembang di sana sini dalam
fenomena pergolakan fisik, pembakaran dan penjarahan
disertasi pembunuhan sebagaimana terjadi di Poso, Ambon,
dan bom bunuh diri di berbagai tempat yang disiarkan secara
luas baik oleh media massa di dalam maupun di luar negeri.
Semenjak peristiwa pergolakan antar etnis di Kalimantan
Barat, bangsa Indonesia di forum internasional dilecehkan
sebagai bangsa yang telah kehilangan peradabannya.
Kehalusan budi, sopan santun dalam sikap dan
perbuatan, kerukunan, toleransi dan solidaritas sosial,
idealisme dan sebagainya telah hilang hanyut dilanda oleh
derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang penuh
paradoks. Berbagai lembaga kocar-kacir semuanya dalam
malfungsi dan disfungsi. Trust atau kepercayaan antar
sesama baik vertikal maupun horisontal telah lenyap dalam
kehidupan bermasyarakat. Identitas nasional kita dilecehkan
dan dipertanyakan eksistensinya.
Krisis multidimensi yang sedang melanda masyarakat
kita menyadarkan kita semua bahwa pelestarian budaya
sebagai upaya untuk mengembangkan Identitas Nasional kita
telah ditegaskan sebagai komitmen konstitusional
sebagaimana dirumuskan oleh para pendiri negara kita dalam
Pembukaan UUD 1945 yang intinya adalah memajukan
kebudayaan Indonesia.Dengan demikian secara konstitusional
pengembangan kebudayaan untuk membina dan
mengembangkan Identitas Nasional kita telah diberi dasar
dan arahnya.

b. Identitas Nasional
Kata identitas berasal dari bahasa Inggris Identity yang
memiliki pengertian harafiah ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri
yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang
membedakannya dengan yang lain. Dalam term antropologi
identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai
dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri,
kelompok sendiri, komunitas sendiri, atau negara sendiri.
Mengacu pada pengertian ini identitas tidak terbatas pada
individu semata tetapi berlaku pula pada suatu kelompok.
Sedangkan kata nasional merupakan identitas yang melekat
pada kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh
kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama, dan
bahasa maupun non fisik seperti keinginan, cita-cita dan
tujuan. Himpunan kelompok-kelompok inilah yang kemudian
disebut dengan istilah identitas bangsa atau identitas nasional
yang pada akhirnya melahirkan tindakan kelompok (colective
action) yang diwujudkan dalam bentuk organisasi atau
pergerakan-pergerakan yang diberi atribut-atribut nasional.
Kata nasional sendiri tidak bisa dipisahkan dari kemunculan
konsep nasionalisme.
Bila dilihat dalam konteks Indonesia maka Identitas
Nasional itu merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang
tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan
dari ratusan suku yang “dihimpun” dalam satu kesatuan
Indonesia menjadi kebudayaan nasional dengan acuan
Pancasila dan roh “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai dasar dan
arah pengembangannya. Dengan kata lain dapat dikatakan
bahwa hakikat Identitas Nasional kita sebagai bangsa di
dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah
Pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam penataan
kehidupan kita dalam arti luas, misalnya dalam aturan
perundang-undangan atau hukum, sistem pemerintahan yang
diharapkan, nilai-nilai etik dan moral yang secara normatif
diterapkan di dalam pergaulan baik dalam tataran nasional
maupun internasional dan lain sebagainya. Nilai-nilai budaya
yang tercermin di dalam Identitas Nasional tersebut bukanlah
barang jadi yang sudah selesai dalam kebekuan normatif dan
dogmatis, melainkan sesuatu yang “terbuka” yang cenderung
terus-menerus bersemi karena hasrat menuju kemajuan yang
dimilki oleh masyarakat pendukungnya. Konsekuensi dan
implikasinya adalah bahwa Identitas Nasional adalah sesuatu
yang terbuka untuk ditafsir dengan diberi makna baru agar
tetap relevan dan fungsional dalam kondisi aktual yang
berkembang dalam masyarakat.

2. Muatan dan Unsur-Unsur Identitas Nasional

a. Muatan Unsur-Unsur Identitas Nasional


Berbicara mengenai muatan Identitas Nasional maka dapat
digambarkan sebagai berikut:

• Pandangan Hidup Bangsa


• Kepribadian Bangsa
• Filsafat Pancasila
• Ideologi Negara

Dasar Negara

Norma Peraturan

Rule of Law
 Hak dan Kewajiban WN
 Demokrasi dan HAM

Etika Politik

 Geopolitik Indonesia
 Geostrategi Ketahanan Nasional

Dari gambaran tersebut diatas bisa dikatakan bahwa


Identitas Nasional adalah merupakan Pandangan Hidup
Bangsa, Kepribadian Bangsa, Filsafat Pancasila dan juga
sebagai Ideologi Negara sehingga mempunyai kedudukan
paling tinggi dalam tatanan kehidupan berbangsa dan
bernegara termasuk disini adalah tatanan hukum yang
berlaku di Indonesia, dalam arti lain juga sebagai dasar
negara yang merupakan norma peraturan yang harus
dijunjung tinggi oleh semua warganegara tanpa kecuali “Rule
of Law”, yang mengatur mengenai hak dan kewajiban
warganegara, demokrasi serta hak asasi manusia yang
berkembang semakin dinamis di Indonesia. Hal inilah
akhirnya menjadi etika Politik yang kemudian dikembangkan
menjadi konsep geopolitik dan geostrategi Ketahanan
Nasional di Indonesia.

b. Unsur-Unsur Identitas Nasional


Identitas Nasional Indonesia merujuk pada suatu
bangsa yang majemuk. Kemajemukan itu merupakan
gabungan dari unsur-unsur pembentuk identitas yaitu suku
bangsa, agama, kebudayaan dan bahasa.
1) Suku Bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang
bersifat askriptif (ada sejak lahir), yang sama coraknya
dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia
terdapat banyak sekali suku bangsa atau kelompok etnis
dengan tidak kurang 300 dialek bahasa.
2) Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat
yang agamis. Agama-agama yang tumbuh dan
berkembang di nusantara adalah agama Islam, Kristen,
Katholik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Agama Kong Hu
Cu pada masa Orde Baru tidak diakui sebagai agama
resmi negara namun sejak pemerintahan Presiden
Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara
dihapuskan.
3) Kebudayaan, adalah pengetahuan manusia sebagai
makhluk sosial yang isinya adalah perangkat-perangkat
atau model-model pengetahuan yang secara kolektif
digunakan oleh pendukung-pendukungnya untuk
menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi
dan digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk
bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda
kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.
4) Bahasa: merupakan unsur pendukung identitas nasional
yang lain. Bahasa dipahami sebagai sistem perlambang
yang secara arbiter dibentuk atas unsur-unsur bunyi
ucapan manusia dan yang digunakan sebagai sarana
berinteraksi antar manusia.

Dari unsur-unsur Identitas Nasional tersebut diatas dapat


dirumuskan pembagiannya menjadi 3 bagian sebagai berikut
:
1). Identitas Fundamental; yaitu Pancasila yang
merupakan Falsafah Bangsa, Dasar Negara, dan Ideologi
Negara.
2) Identitas Instrumental yang berisi UUD 1945 dan Tata
Perundangannya, Bahasa Indonesia, Lambang Negara,
Bendera Negara, Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”.
3) Identitas Alamiah yang meliputi Negara Kepulauan
(archipelago) dan pluralisme dalam suku, bahasa, budaya
dan agama serta kepercayaan (agama).

3. Keterkaitan Globalisasi dengan Identitas Nasional

a. Globalisasi
Adanya Era Globalisasi dapat berpengaruh terhadap
nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Era Globalisasi tersebut
mau tidak mau, suka atau tidak suka telah datang dan
menggeser nilai-nilai yang telah ada. Nilai-nilai tersebut baik
yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Ini semua
merupakan ancaman, tantangan dan sekaligus sebagai
peluang bagi bangsa Indonesia untuk berkreasi, dan
berinovasi di segala aspek kehidupan.
Di Era Globalisasi pergaulan antar bangsa semakin
ketat. Batas antar negara hampir tidak ada artinya, batas
wilayah tidak lagi menjadi penghalang. Di dalam pergaulan
antar bangsa yang semakin kental itu akan terjadi proses
alkulturasi, saling meniru dan saling mempengaruhi antara
budaya masing-masing. Yang perlu kita cermati dari proses
akulturasi tersebut apakah dapat melunturkan tata nilai yang
merupakan jati diri bangsa Indoensia. Lunturnya tata nilai
tersebut biasanya ditandai oleh dua faktor yaitu :
1) Semakin
menonjolnya
sikap
individualistis
yaitu
mengutamaka
n kepentingan
pribadi diatas
kepentingan
umum, hal ini
bertentangan
dengan azas
gotong-
royong.
2) Semakin
menonjolnya
sikap
materialistis
yang berarti
harkat dan
martabat
kemanusiaan
hanya diukur
dari hasil atau
keberhasilan
seseorang
dalam
memperoleh
kekayaan. Hal
ini bisa
berakibat
bagaimana
cara
memperolehn
ya menjadi
tidak
dipersoalkan
lagi. Bila hal
ini terjadi
berarti etika
dan moral
telah
dikesampingk
an.
Arus informasi yang semakin pesat mengakibatkan
akses masyarakat terhadap nilai-nilai asing yang negatif
semakin besar. Apabila proses ini tidak segera dibendung
akan berakibat lebih serius dimana pada puncaknya mereka
tidak bangga kepada bangsa dan negaranya.
Pengaruh negatif akibat proses akulturasi tersebut
dapat merongrong nilai-nilai yang telah ada di dalam
masyarakat kita. Jika semua ini tidak dapat dibendung maka
akan mengganggu ketahanan di segala aspek bahkan
mengarah kepada kredibilitas sebuah ideologi. Untuk
membendung arus globalisasi yang sangat deras tersebut kita
harus berupaya untuk menciptakan suatu kondisi (konsepsi)
agar ketahanan nasional dapat terjaga. Dengan cara
membangun sebuah konsep nasionalisme kebangsaan yang
mengarah kepada konsep Identitas Nasional

b. Keterkaitan Globalisasi dengan Identitas


Nasional.
Dengan adanya globalisasi, intensitas hubungan
masyarakat antara satu negara dengan negara yang lain
menjadi semakin tinggi. Dengan demikian kecenderungan
munculnya kejahatan yang bersifat transnasional menjadi
semakin sering terjadi. Kejahatan-kejahatan tersebut antara
lain terkait dengan masalah narkotika, pencucian uang
(money laundering), peredaran dokumen keimigrasian palsu
dan terorisme. Masalah-masalah tersebut berpengaruh
terhadap nilai-nilai budaya bangsa yang selama ini dijunjung
tinggi mulai memudar. Hal ini ditunjukkan dengan semakin
merajalelanya peredaran narkotika dan psikotropika sehingga
sangat merusak kepribadian dan moral bangsa khususnya
bagi generasi penerus bangsa. Jika hal tersebut tidak dapat
dibendung maka akan mengganggu terhadap ketahanan
nasional di segala aspek kehidupan bahkan akan
menyebabkan lunturnya nilai-nilai identitas nasional.

4. Keterkaitan Integrasi Nasional Indonesia dan


Identitas Nasional
Masalah integrasi nasional di Indonesia sangat kompleks
dan multidimensional. Untuk mewujudkannya diperlukan
keadilan, kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah dengan
tidak membedakan ras, suku, agama, bahasa dan sebagainya.
Sebenarnya upaya membangun keadilan, kesatuan dan
persatuan bangsa merupakan bagian dari upaya membangun
dan membina stabilitas politik disamping upaya lain seperti
banyaknya keterlibatan pemerintah dalam menentukan
komposisi dan mekanisme parlemen.
Dengan demikian upaya integrasi nasional dengan
strategi yang mantap perlu terus dilakukan agar terwujud
integrasi bangsa Indonesia yang diinginkan. Upaya
pembangunan dan pembinaan integrasi nasional ini perlu
karena pada hakekatnya integrasi nasional tidak lain
menunjukkan tingkat kuatnya persatuan dan kesatuan bangsa
yang diinginkan. Pada akhirnya persatuan dan kesatuan
bangsa inilah yang dapat lebih menjamin terwujudnya negara
yang makmur, aman dan tentram. Jika melihat konflik yang
terjadi di Aceh, Ambon, Kalimantan Barat dan Papua
merupakan cermin dan belum terwujudnya Integrasi Nasional
yang diharapkan. Sedangkan kaitannya dengan Identitas
Nasional adalah bahwa adanya integrasi nasional dapat
menguatkan akar dari Identitas Nasional yang sedang
dibangun.

5. Paham Nasionalisme Kebangsaan


a. Paham Nasionalisme Kebangsaan
Dalam perkembangan peradaban manusia, interaksi
sesama manusia berubah menjadi bentuk yang lebih
kompleks dan rumit. Dimulai dari tumbuhnya kesadaran untuk
menentukan nasib sendiri. Di kalangan bangsa-bangsa yang
tertindas kolonialisme dunia, seperti Indonesia salah satunya,
hingga melahirkan semangat untuk mandiri dan bebas untuk
menentukan masa depannya sendiri. Dalam situasi
perjuangan perebutan kemerdekaan, dibutuhkan suatu
konsep sebagai dasar pembenaran rasional dari tuntutan
terhadap penentuan nasib sendiri yang dapat mengikat
keikutsertaan semua orang atas nama sebuah bangsa. Dasar
pembenaran tersebut, selanjutnya mengkristal dalam konsep
paham ideologi kebangsaan yang biasa disebut dengan
nasionalisme. Dari sanalah kemudian lahir konsep-konsep
turunannya seperti bangsa (nation), negara (state), dan
gabungan keduanya yang menjadi konsep negara-bangsa
(nation-state) sebagai komponen-komponen yang membentuk
Identitas Nasional atau Kebangsaan. Sehingga dapat
dikatakan bahwa Paham Nasionalisme atau Paham
Kebangsaan adalah sebuah situasi kejiwaan dimana kesetiaan
seseorang secara total diabdikan langsung kepada negara
bangsa atas nama sebuah bangsa. Munculnya nasionalisme
terbukti sangat efektif sebagai alat perjuangan bersama
merebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial. Semangat
nasionalisme diharapkan secara efektif oleh para
penganutnya dan dipakai sebagai metode perlawanan dan
alat identifikasi untuk mengetahui siapa lawan dan kawan.
Secara garis besar terdapat tiga pemikiran besar tentang
nasionalisme di Indonesia yang terjadi pada masa sebelum
kemerdekaan yaitu paham ke-Islaman, Marxisme dan
Nasionalisme Indonesia. Sejalan dengan naiknya pamor
Soekarno dengan menjadi Presiden Pertama RI, kecurigaan
diantara para tokoh pergerakan yang telah tumbuh di saat-
saat menjelang kemerdekaan berkembang menjadi pola
ketegangan politik yang lebih permanen antara negara
melalui figur nasionalis Soekarno di satu sisi dengan para
tokoh yang mewakili pemikiran Islam (sebagai agama
terbesar pemeluknya di Indonesia) dan Marxisme di sisi yang
lain

b. Paham Nasionalisme Kebangsaan sebagai paham


yang mengantarkan pada konsep Identitas Nasional
Paham Nasionalisme atau paham Kebangsaan terbukti
sangat efektif sebagai alat perjuangan bersama merebut
kemerdekaan dari cengkeraman kolonial. Semangat
nasionalisme dihadapkan secara efektif oleh para
penganutnya dan dipakai sebagai metode perlawanan,
seperti yang disampaikan oleh Larry Diamond dan Marc F
Plattner, para penganut nasionalisme dunia ketiga secara
khas menggunakan retorika anti kolonialisme dan anti
imperalisme. Para pengikut nasionalisme tersebut
berkeyakinan bahwa persamaan cita-cita yang mereka miliki
dapat diwujudkan dalam sebuah identitas politik atau
kepentingan bersama dalam bentuk sebuah wadah yang
disebut bangsa (nation). Dengan demikian bangsa atau
nation merupakan suatu badan wadah yang di dalamnya
terhimpun orang-orang yang mempunyai persamaan
keyakinan dan persamaan lain yang mereka miliki seperti
ras, etnis, agama, bahasa, dan budaya. Unsur persamaan
tersebut dapat dijadikan sebagai identitas politik bersama
atau untuk menentukan tujuan organisasi politik yang
dibangun berdasarkan geopolitik yang terdiri atas populasi,
geografis dan pemerintahan yang permanen yang disebut
negara atau state.
Nation-state atau negara - bangsa merupakan sebuah
bangsa yang memiliki bangunan politik (political building)
seperti ketentuan-ketentuan perbatasan teritorial,
pemerintahan yang sah, pengakuan luar negeri dan
sebagainya. Munculnya paham nasionalisme atau paham
kebangsaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari situasi
soisal politik dekade pertama abad ke-20. Pada waktu itu
semangat menentang kolonialisme Belanda mulai
bermunculan di kalangan pribumi. Cita-cita bersama untuk
merebut kemerdekaan menjadi semangat umum di kalangan
tokoh-tokoh pergerakan nasional untuk memformulasikan
bentuk nasionalisme yang sesuai dengan kondisi
masyarakat Indonesia.
Paham Nasionalisme di Indonesia yang disampaikan
oleh Soekarno yang disuarakan adalah bukan nasionalisme
yang berwatak sempit, tiruan dari Barat, atau berwatak
chauvinism. Nasionalisme yang dikembangkan Soekarno
bersifat toleran, bercorak ketimuran, dan tidak agresif
sebagaimana nasionalisme yang dikembangkan di Eropa.
Selain mengungkapkan keyakinan watak nasionalisme yang
penuh nilai-nilai kemanusiaan, juga meyakinkan pihak-pihak
yang berseberangan pandangan bahwa kelompok nasional
dapat bekerja sama dengan kelompok manapun baik
golongan Islam maupun Marxis. Sekalipun Soekarno seorang
muslim tetapi tidak sekedar mendasarkan pada perjuangan
Islam, menurutnya kebijakan ini merupakan pilihan terbaik
bagi kemerdekaan maupun bagi masa depan seluruh bangsa
Indonesia. Semangat nasionalisme Soekarno tersebut
mendapat respon dan dukungan luas dari kalangan
intelektual muda didikan barat semisal Syahrir dan
Mohammad Hatta yang kemudian semakin berkembang
paradigmanya sampai sekarang dengan munculnya konsep
Identitas Nasional, sehingga bisa dikatakan bahwa Paham
Nasionalisme atau Kebangsaan disini adalah merupakan
refleksi dari Identitas Nasional.
Yang diprihatinkan disini adalah adanya perdebatan
panjang tentang paham nasionalisme kebangsaan dimana
mereka mempunyai kesepakatan perlunya paham
nasionalisme kebangsaan namun dalam konteks yang
berbeda mengenai masalah nilai atau watak nasionalisme
Indonesia.

BAB IV
NEGARA DAN KONSTITUSI

A. Pengertian Negara
Untuk memahami secara detail mengenai negara,
maka terlebih dahulu akan diawali dengan penelusuran kata
negara tersebut. Secara literal istilah negara merupakan
terjemahan dari kata kata asing, yakni state (bahasa Inggris),
staat (bahasa Belanda) yang berarti keadaan yang tegak dan
tetap atau sesuatu yang memiliki sifat-sifat yang tegak dan
tetap. Pada hakikatnya negara adalah: organisasi kekuasaan
karena di dalam negara terdapat pusat-pusat kekuasaan. Ada
banyak pendapat tentang pengertian negara, antara lain:
1. Miriam Budiarjo: Organisasi dalam suatu wilayah dapat
memaksakan kekuasaannya secara sah terhadap semua
golongan kekuasaan lainnya dan dapat menetapkan
tujuan-tujuan dari kehidupan bersama
2. Mac Iver: Persetambatan (asosiasi yagn bertindak
berdasarkan hukum dan direalisasikan oleh suatu
pemerintahan) untuk keperluan ini negara dilengkapi
dengan kekuasaan
3. Max Weber: suatu masyarakat yang mempunyai
monopoli dalam menggunakan kekerasan fisik secara sah
dalam suatu wilayah.

Secara umum negara dapat didefinisikan sebagai suatu


organisasi dari sekelompok atau beberapa kelompok manusia
yagn bersama-sama mendiami satu wilayah tertentu dan
mengakui adanya suatu pemerintahan yagn mengurus tata
tertib serta keselamatan kelompok atau beberapa kelompok
masyarakat tersebut.

B. Sejarah terbentuknya negara


Beberapa teori tentang terbentuknya negara
1. Teori Kontrak sosial
Teori kontrak sosial atau teori perjanjian masyarakat
beranggapan bahwa negara dibentuk berdasarkan
perjanjian-perjanjian masyarakat. Teori iniadalah salah
satu teoriyang terpenting mengenai asal-usul negara.
Disamping tertua, teori ini juga relatif bersifat universal,
karena teori perjajian masyarakat adalah teori yang
termudah dicapai, dan negara tidak merupakan negara
tirani.
Penganut teori kontrak sosial ini mencakup para pakar dari
paham kenegaraan yang absolutis sampai ke pengantur
paham kenegaraan yang terbatas. Untuk menjelaskan teori
asal mula negara yang didasarkan atas kontrak sosial ini,
dapt dilihat dari beberapa pakar yagn memiliki pengaruh
dalam pemikiran politik tentang negara yaitu: Thomas
Hobbes, John Locke dan JJ. Rousseau.

a. Thomas Hobbes
Hobbes mengemukakan bahwa kehidupan manusia
terpisah dalam dua zaman, yakni keadaan selama
belum ada negara dan keadaan setelah ada negara.
Bagi hobbes, keadaan alamiah sama sekali bukan
keadaan yang aman sentosa, adil dan makmur. Tetapi
sebaliknya, keadaan alamiah itu merupakan suatu
keadaan sosial yang kacau suatu inferno di dunia ini
tanpa hukum yang dibuat oleh manusia secara sukarela
dan tanpa pemerintah, tanpa ikatan-ikatan sosial antar
individu itu.

Dalam keadaan demikian, hukum dibuat oleh mereka


yang fisiknya terkuat sebagaimana keadan di hutang
belantara. Manusia seakan-akan merupakan binatang
dan menjadi mangsa dari manusia yang fisik lebih kuat
dari padanya. Keadaan ini dilukiskan dalam peribahasa
latinhomo homini lupus. Manusia saling bermusuhan,
saling berperang satu melawan yang lain, keadaan ini
dikenal sebagai “bellum omnium contra omnes” (Perang
antara semua melawan semua). Bukan perang dalam
arti keadaan bermusuhan yang terus menerus antara
individu dan individu lainnya.

Keadaan serupa itu tidak dapat dibiarkan berlangsung


terus. Manusia dengan akalnya mengerti dan menyadari
bahwa demi kelanjutan hidup mereka sendiri, keadaan
alamiah itu harus diakhiri. Hal ini dilakukan dengan
mengadakan perjanjian bersama individu-individu yang
tadinya hidup dalam keadaan alamiah berjanji akan
menyerahkan hak-hak kodratnya yang dimilikinya
kepada seseorang atau sebua badan. Teknik perjanjina
masyarakat yang disebut Hobbes sebagai berikut setiap
individu kekuasaan dan menyerahkan hak memerintah
kepada orang ini atau kepada orang-orang yagn ada di
dalam dewan ini dengna syarat bahwa saya
memberikan hak kepadanya dan memberikan
keabsahan seluruh tindakan dalam suatu cara tertentu.
Dengan kata-kata seperti itu, terbentuklah negara yang
dianggap dapat mengakhiri anarkhi yang menimpa
individu dalam keadaan alamiah itu. Dengan perjanjian
seperti itu terbentuklah Leviathan besar atau Tuhan
Yang Tidak Abadi (Moral God).

Bagi Hobbes hanya terdapat satu macam perjanjian,


yakni pactum subjectionis atau perjanjian pemerintahan
dengan cara segenap individu yagn berjanji
menyrahkan semua hak-hak kodrat mereka yang
dimiliki ketika hidup dalam keadaan alamiah kepada
seseorang atau sekekompok orang yang ditunjuk itu
harus dibeirkan pula kekuasaan. Negara harus berkuasa
penuh sebagaimana halnya dengan binatang buas
leviathan yang dapat menaklukan segenap binatang
buas lainya. Negara harus dibeirkan kekuasaan yang
mutlak sehingga kekuasaan negara tidak dapat
ditandingi dan disaingi oleh kekuasaan apapun. Di dunia
ini tiada kekuasaan yang dapat menandingi dan
menyaningi kekuasaan negara.

Dengan perjanjina seperti itu, tidaklah mengherankan


bahwa hobbes meletakkan dasar-dasar falsafah dari
negara yang mutlak, teristimewa negara kerajaan yang
absolut. Hobbes adalah seorang royalis yagn
berpendirian bahw hanya negara yang berbentuk
negara krajaan yang mutlaklah dapat menjalankan
pemerintahan yang baik.

b. John Locke
Bagi Locke, keadaan alamiah ditafsirkan sebagai suatu
keadaan dimana manusia hidup bebas dan sederajat,
menurut kehendak hatinya sendiri. Keadaan alamiah ini
sudah bersifat sosial, karena manusia hidup rukun dan
tentram sesuai dengan hukum akal Law of reason) yang
mengajarkan bahwa manusia tidak boleh mengganggu
hidup, kesehatan, kebebasan dan milik dari sesamanya.

Dalam konsep tentang keadaan alamiah (state of


nature), Locke dan Hobbes memiliki perbedaan. Bila
hobbes melihat keadaan alamiah seagai suatu keadaan
anarkhi, locke sebalikya melihat keadaa itu sebagia
suatu keadaan of peace, goodwill, mutual assistance
and preservation. Sekalipun keadaan itu suatu keadaan
idela, namun Locke juga merasakan bahw keadaan itu
potensial dapat menibmulkan anarkhi, karena manusia
hidup tanpa organisasi dan pimpinan ygn dapat
mengatur kehidupan mereka. Dalam keadaan alamiah
setiap individu sederajat baik mengenai kekuasaan
maupun hak-haklainnya, sehingga penyelenggaraan
kekuasaan dan yurisdiksi dilakukan oleh individu
sendiri-sendiri, berdasarkan asas timbal balik
(reciprocity) setiap individu adalah hakim dari
perbuatan dan tindakannya. Keadaan alamiah,
karenaitu, dalam dirinya sendiri mengandugn potensi
untuk menimbulkan kegaduhan dan kekacauan. Oleh
karenaitu, manusia membentuk negara dengna suatu
perjanjian bersaman.

Dasar kontraktual dari negara dikemukakan Locke


sebagai peringatan bahwa kekuasaan pengausa tidak
penah mutlak tetapi selalu terbatas, sebab dalam
mengadakna perjanjian dengan seorang atau
sekelompok orang, individu-individu tiadak
menyerahkan seluruh hak-hak alamiah mereka. Ada
hak-hak alamiah yagn merupakan hak-hak asasi yang
tidak dapat dilepaskan, juga tidak oleh indiidu itu
sendiri. Penguasa ygn diserahi tugas mengatur hidup
individu dalam ikatan kenegaraan harus menghormati
hak-hak asasi itu sendiir. Juga dalam konsturksi
perjanjian itu terdapat perbedaan fndamental anara
locke dan hobbes.

Jika Hobbes hanya mengkonstruksi satu jenis perjanjina


masyarakat saja, yaitu pactum subjectionis, locke
mengajukan kontrak itu dalam fungsinya yagn rangkap.
Pertama, individu dengan individu lainya mengadakan
suatu perjanjian masyarakat untuk membnetuk suatu
masyarakat politik atau negara. Pembentukan negara
adalah fase pertama dan dilakukan dengan suatu
factum unioneis.
Locke sekaligus menaytakna bahwa suatu pemufakatan
yagn dibut berdasarkan suara terbanyak dapat
dianggap sebagai tindakan seluruh masyarakat itu,
karena persetujuan individu-individu untuk membentuk
negara, mewajibkan individu-individu lain untuk menaati
negaa yang dibentuk dengna suara terbanyak itu. Neara
yagn dibentuk dengan suara terbanyak itu tidak dapat
menambil hak-hak milik manusia dan hak-hak lainya
yang tidak dapat dilepaskan.

c. Jean Jacques Rousseau


Rousseau merupakan tokoh yang pertama kali
menggunakan istilah kontrak sosial dengan makna dan
orisinalisat yang tersendiri. Ia merupakan sarjana
terakhir yagn mempertahankan teori yang sudah tua
dan usang itu ia juga memisahkan suasana kehidupan
manusia dalam dua zaman, zmana para negara dan
zaman berneara. Keadaan alamiah itu diumpamakanya
sebagai keadaan sebelum manusia melakukan dosa,
suatu keadaan yagn aman dan bahagia. Dalam keadaan
alamiah, hidup individu bebas dan sederajat, semuanya
dihasilkan sendiri oleh individu dan individu itu puas.

Karena keadaan alamiah itu tidak dapat dipertahankan


seterusnya, maka manusia itu dengan penuh kesadaran
mengakhiri keadaan itu dengan suatu kontrak sosial.
Dengan ketentuan-ketentuan perjanjina masyarakat
seperti itu berlangsunglah peralihan dari keadaan
alamiah ke keadaan bernegara. Manusia terbelenggu
dimana-mana man is born free and every where he is in
chains. Demikian kata Rousseua.

Jika Hobbes hanya mengenal pactum subjections dan


Locke mengkonstruksi dua jenis perjanjina masyarakat,
maka Rousseau hanya mengenal satu jenis perjanjian
saja yait hanya pactum unionis, prjanjian masyarakat
yang sebenarnya. Rousseau tidak mengenal pactum
subjectionis yagn membentuk pemerintah yang ditaati.
Pemerintah tidak mempunyai dasar kontraktual. Hanya
organisasi politiklah yang dibentuk dengan kontrak
pemerintah sebagai pimpinan organisasi itu dibentuk
dan ditentukan oleh yang berdaulat dan merupakan
wakil-wakilnya. Yang berdaulat adalah rakyat
seluruhnya melalui kemauan uumnya.

2. Teori Ketuhanan
Teori ketuhanan ini dikenal juga dengan dokrin teokratis
dalam teori asal mula negara. Teori ini pun bersifat
universal dan ditemukan biak di dunia timur maupun di
dunia Barat, baik di dalam teori maupun dalam praktik.
Dokrin ketuhanan in memperoleh bentuknya yang
sempurna dalam tulisan-tulisan para sarjana Eropa pada
Abad Pertengahan yang menggunakan teori itu untuk
membenarkan kekuasaan raja-raja yang mutlak. Dokrin ini
mengemukakan hak-hak raja yang berasal dari tuhan
untuk memerintah dan bertahta sebagai raja. Dokrin
ketuhana lahir sebagai resultante kontroversial dari
kekuasaan politik dalam abad pertengahan . kaum
Monarchomach (penentang raja) berpendapat bahwa raja
yagn berkuasa secara tirani dapat diturnkan dari
mahkotanya, bahkan dapat dibunuh. Mereka beranggapan
bahwa sumber kekausaan adalah rakyat, sedangkan raja-
raja pada waktu itu beranggapan kekuasaan mereka
diperoleh dari tuhan.

Negara dibentuk oleh Tuhan dan pemimpin-pemimpin


negara ditunjuk oleh Tuhan. Raja dan pemimpin-pemimpin
negara hanya bertanggung jawab pada Tuhan dan tidak
pada siapaun. teori teokratis seperti ini memang sudah
amat tua dan didasarkan atas sabda Paulus. Thomas
Aqunas mengikuti ajaran Paulus dan menganggap Tuhan
sebagai principium dari semua kekuasaan, tetapi
memasukkan unsur-unsur sekuler dalam ajarannya itu,
yaitu bahwa sekalipun Tuhan memberikan principium itu
kepada penguasa, namun rakyat menentukan modus atau
bentuknya yang tetap dan bahwa rakyat pula yang
memberikan kepada seseorang atau segolongan orang
exercitum dari pada kekuasaan itu. Karenanya, teori
Thomas Aguinas ini bersiat Monarcho – demokratis, yaitu
bahwa di dalam ajaran itu terdapat unsur-unsur yang
monarchistic di samping unsur-unsur yang demokratis.

Jika dokrin ketuhana itu dalam abad pertengahan masih


bersiat monarcho demokratis, dalam abad-abad ke 16 dan
ke 17 dokrin itu bersifat monarchistic semata. Denan
dokrin seperti itu diusahakan agar kekuasaan raja
mendapatkan sifatnya yang suci, sehingga pelanggaran
terhadap kekuasaan raja merupakan pelanggaran terhaap
tuhan. Raja dianggap sebagai wakil tuhan, bayangan tuhan
didunia.

3. Teori Historis
Teori historis atau teori evolusionistis merupakan teori
yang menyatakan bahwa lembaga-lembaga sosial tidak
dibuat, tetapi tumbuh secara evolusioner sesuai dengna
kebutuhan kebutuhan mnusia. Sebagai lembaga sosial
yagn diperuntukan guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan
manusia, maka lembaga-lembaga itu tidak luput dari
pengaruh tempat, waktu dan tuntutan-tuntutan zaman.
Teori historis diperkuat dan telah dibenarkan oleh
penyelidik-penyelidik historis dan ethonolig –
antrhorpologis dari lembaga-lembaga sosial bangsa-
bangsa primitif di benua asia, afrika, australia dan amerika.
Perlu ditambahkan bahwa pada saat ini, teori historis yagn
umum diterima oleh sarjana-sarjana ilmu politik sebagai
teori yang palng mendekati kebenaran tentang asal mula
negara.

Sekalipun teori historis pada umumnya mencapai


persesuaian faham mengenai pertumbuhan evolusionistis
dari neara, namun dalam beberapa hal masih juga terdapat
perbedaan pendapat, misalnya, apakah yang mendahului
negara itu keluarga dan suku yang didasarkan sistem
kebapakan ataukah yang didasarkan atas sistem keibuan?
Serta bagaimanakah peran faktor-faktor kekeluargaan,
agama, dan lain-lain dalam pembentkan negara? Dalam
konteks seperti ini teori historis menemukan kesesuaian
belum paham.

C. Unsur, sifat, fungsi, klasifikasi, dan elemen kekuatan


negara
1. Unsur-unsur Negara
Terbentuknya negara dapat terjadi karena adanya
beberapa unsur. Unsur-unsur pembentuk negara tersebut
adalah :

a. Penduduk
Penduduk adalah semua orang yang berdomisili serta
menyatakan kesepakatan diri ingin bersatu. Yang
dimaksud dengan semua orang adalah penduduk
Indonesia dan negara lain (asing) yang sedang berada di
Indonesia untuk wisata, bisnis, dan liannya. Menurut data
Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia
pada tahun 2003 lebih kurang 210 juta jiwa denan
komposisi 50 % adalah berasal dari suku bangsa etnis
Jawa. Sisanya suku Makasar-Bugis 3,68%, Batak 2,04%,
Bali 1,88%, Lombok 1,5%, Aceh 1,4 % dan suku-suku
lainnya. Sedangkan suku Tionghoa berjumlah 2,8%.
Berdasarkan tingkat pendidikan, sebanyak 32 % tamat
sekolah dasar (SD) da sekolah namun tidak tamat SD 30
%, SMP 13 %, SLTA 16%, diploma 2% dan universitas 2 %.

b. Wilayah
Negara memiliki batas/teritorial yang jelas atas darat,
laut, dan udara di atasnya. Wilayah Indonesia terletak di
antara dua bena yaitu benua Asia dan Australia, dan dua
samudra yaitu samudera India dan Pasifik. Letak ini
membuaat Indonesia berada pada posisi strategis yang
menjadi jalur lalu lintas transportasi dunia. Posisi ini
menguntungkan Indonesia karena terletak di wilayah
bisnis (perdagangan) dunia.

c. Pemerintah
Sistem pemerintahan yang dianut oleh Indonesia adalah
sistem pemerintahan presidensial. Dalam sistem ini,
presiden memiliki hak prerogatif untuk memilih dan
mengangkat serta memberhentikan para menteri
sebagai pembantunya. Dalam implementasinya, sistem
pemerintahan Indonesia menerapkan sistem
desentralisasi yagn berintikan pada pemberian otonomi
daerah kepada Kepala Daerah Tingkat I dan
Kabupaten/Kota untuk mengelola dan mengeksplorasi
sumber daya alam maupun manusia yang ada di daerah
untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat di
daerahnya secara optimal. Otonomi ini termasuk juga
menyelenggarakan pemilihan kepala darah (PILKADA) di
daerahnya masing-masing. Sekarang ini pemerintahan
pusat hanya memiliki kekuasaan pada bidang politik luar
negeri, pertahanan, keamanan, yustisi (Hukum) moneter
dan fiskal nasional, serta agama. Kepala pemerintahan
Indonesia dipilih secara langsung oleh rakyat melalui
pemilihan umum langsung presiden dan wakil presiden.

2. Sifat Organisasi Negara


Setiap organisasi negara berbeda dengan organisasi
lainnya, yakni:
a. Sifat memaksa
setiap negara dapat memaksakan kehendak dan
kekuasaanya baik melalui jalur hukum maupun jalur
kekuasaan atau paksaan
b. sifat monopoli
setiap negara menguasai hal-hal tertentu demi tujuan
negara tanpa ada saingan
c. sifat totalitas
semua hal tanpa kecuali mencakup kewenangan
negara, misalnya semua orang haru membayar pajak,
semua orang wajib membela negara, semua orang
sama di hadapan hukum/ berdasarkan hukum dan
sebagainya.
Negara merupakan wadah yang memungkinkan
seseorang dapt mengembangkan bakat dan potensi
negara dapat memungkinkan rakytnya maju
berkembang serta dalam menyelenggarakan daya cipta
ata kreativitasnya dengan bebas, bahkan negara
melakukan pembinaan

3. Fungsi Negara
Secara umum setiap negara memiliki empat fungsi utama
bagi bangsanya yaitu:
1. Fungsi Pertanahan dan Keamanan
Negara melindungi rakyat, wilaya dan pemeritnahan
dari ancaman tantangan, hambatan dan gangguan, baik
dari dalam maupun dari luar yang dapat mengganggu
pertahaan dan keamanan negara Kesatuan RI.
2. Fungsi pengaturan dan ketertiban
Negara menciptakan UU dan Peraturan Pemerintah
serta menjalankannya demi mewujdukan tatanan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
3. Fungsi kesejahteraan dan Kemakmuran
Negara melakukan upaya eksplorasi sumber daya ala
(SDA) maupun sumber daya manusia (SDM) untuk
meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga
terwujud kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh
rakyat.
4. Fungsi keadilan menurut Hak dan Kewajiban
Negara menciptakan dan menegakkan hukum secara
tegas dan tanpa pilih kasih menurut hak dan kewajiban
yang telah dikotribusikan kepada bangsa dan negara.

4. Klasifikasi Negara
Klasifikasi negara dapat dilihat berdasarkan beberapa
indikator seperti jumlah orang yang berkuasa, bentuk
negara, dan asas pemerintahan
a. Jumlah orang yang berkuasa dan orientasi kekuasaan
Jumlah orang yang berkuasa dapat berjumla satu orang,
sekelompok orang, atau banyak orang. Orientasi
kekuasaan juga ada dua yaitu bila penyelenggaraanya
berorientasi kepada kepentingan pihak yang berkuasa
disebut bentuk negatif, dan apabila berorientasi kepada
kepentingan umum disebut bentuk positif.
Berdasarkan jumlah orang yang berkuasa dan orientasi
kekuasaan terdapat enam bentuk klasifikasi negara
Jumlah orang Bentuk Positif Bentuk
Negatif
Satu orang Monarki Tirani
Sekelompok orang Aristokrasi Oligarki
Banyak orang Demokrasi Mobokrasi

Oligarki adalah sistem pemerintahan yang dijalanjan


oleh segelintir orang untuk kepentingan orang banyak.
Partisipasi rakyat dalam pemerntahan dibatasi atau bahkan
ditiadakan dengan dihapusnya lembaga perwakilan rakyat
dan keputusannnya tertinggi ada pada tangan segelintir
orang tersebut,
Anarki adalah pemerintahan yang kekuasaannya
tidak jelas, tidak ada peraturan yang benar-benar dapat
dipatuhi. Setiap individu bebas menentukan kehendaknya
sendiri-sendiri tanpa aturan yang jelas.
Mobokrasi adalah pemerintahan yang dikuasai oleh
kelompok orang untuk kepentingan kelompok yang
berkuasa, bukan untuk kepentingan rakyat. Biasanya
mobokrasi dipimpin oleh sekelompok orang yang
mempunyai motivasi yang sama.
Diktator ialah kekuasaan yang terpusat pada
seseorang yang berkuasa mutlak (otoriter)
b. Bentuk negara ditinjau dari sisi konsep dan teori modern
terbagi menjadi dua, yaitu
1. Negara Kesatuan
Negara kesatuan adalah negara yagn merdeka dan
berdaulat, dengan satu pemerintahan pusat yang
berkuasa dan mengatur seluruh daerah. Dalam
pelaksananya, negara kesatuan terbagi dua, yaitu:

- Negara kesatuan dengan sistem sentralisasi:


Negara dengan sistem dimana seluruh persoalan
yang berkaitan dengan negara langsung diatur
dan diurus oleh pemerintah pusat, sedangkan
daerah-daerah tinggal melaksanakanya.

- Negara kesatuan dengan sistem desentralisasi:


Negara denan sistem dimana kepala daerah
diberikan kesempatan dan kekuasaan untuk
mengurus rumah tanggannya sendiri atau dikenal
dengna otonomi daerah atau swatantra

2. Negara Serikat (Federasi)


Negara serikat adalah bentuk negara yang
merupakan gabungan dari beberapa negara bagian
dari negara serikat. Kekuasaan asli dalam negara
federasi merupakan negara bagian, karena ia
berhubungan langsung denan rakyatnya. Sementara
negara federasi bertugas untuk menjalankan
hubungan luar negeri, pertahanan negara, keuangan
dan urusan pos.

5. Elemen Kekuatan Negara


Kekuatan suatu negara tertangung pada beberapa elemen
seperti Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam,
kekuatan militer, dan teritorial negara tersebut.

a. Sumber Daya Manusia (SDM)


Kekuatan negara tergantung pada jumlah penduduk,
tingkat pendidikan warga, nilai budaya masyarakat, dan
kondisi kesehatan masyarakat. Semakin banyak jumlah
penduduk, semakin berkualitas SDM, dan semakin tinggi
tingkat kesehatan, maka negara akan semakin maju dan
kuat

b. Sumber Daya Alam (SDA)


Kekuatan negara tergantung pda kondisi alam atau
material buminya, berupa kandunga minteral, kesuburan,
kekayaan laut, dan hutan. Semakin tinggi kekayaan alam,
maka negara tersebut semakin kuat, negara yang kaya
akan minyak, agroindustri, dan manufaktur akan menjadi
negara yagn tangguh.

c. Kekuatan Militer
Kekuatan militer dan mobilitasnya sanat menentukan
kekuatan negara. Negara yang mempunyai jumlah
anggota militer, dan kualitas personel dan peralatan yagn
baik akan meningkatkan kemampuan militer dalam
mempertahankan kedaultan negara.

d. Teritorial Negara
Kekuatan negara juga tergantung seberapa luas wilayah
negara tetangga. Semakin luas dan strategis, maka
negara tersebut akan semakin kuat.
Segala faktor yagn mendukung kedaulatan negara, berupa
kepribadian dan kepemimpinan, efisiensi birokrasi,
persatuan bangsa, dukungan internasional, reputasi
bangsa (nasionalisme), dan sebagainya.

D. Sistem pemerintahan negara


Secara umum ada tiga macam system pemerintahan yang
dianut oleh Negara-negara di Dunia, yakni:
a. Presidensial, sistem pemerintahan presidential memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
- Kepala Negara dan kepala pemerintahan dipegang
oleh presiden
- Presiden dan parlemen dipilih langsung oleh rakyat
- Presiden tidak bertanggung jawab kepada parlemen
- Presiden dan parlemen tidak bisa saling menjatuhkan
- Menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh
presiden
- Menteri-menteri bertanggung jawab kepada presiden
- Jika presiden/wakil presiden dalam masa jabatannya
melakukan perbuatan melanggar hukum, dapat
diberhentikan melalui mekanisme yang diatur dalam
UUD/Konstitusi
Sistem ini disebut juga sistem pemisahan kekuasaan.
Dalam sistem pemerintahan ini parlemen/legislative dan
pemerintah/eksekutif memiliki kedudukan yang sama dan
saling mengawasi (check and balances system). Dalam
sistem ini masa/periode kabinet sudah pasti (4 tahun, 5
tahun atau 6 tahun) sesuai aturan konstitusi suatu negara
dan tidak bisa diganggu gugat oleh parlemen (fixed term
atau fixed executive).
b. Parlementer, sistem pemerintahan parlementer memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
- Kepala negara dipegang oleh
presiden/raja/ratu/kaisar, hanya berperan sebagai
simbol negara.
- Kepala pemerintahan dipegang oleh perdana
menteri.
- Pemili hanya untuk memilih anggota
parlemen/legislative
- Perdana menteri dan menteri-menteri ditunjuk dan
diangkat oleh parlemen
- Perdana menteri dan menteri-menteri bertanggung
jawab kepada parlemen
- Perdana menteri mengepalai kabinet yang terdiri
atas meneri-menteri
- Parlemen bisa menjatuhkan kabinet dengan mosi
tidak percaya.
Dalam system ini kedudukan parlemen/legislative lebih
tinggi dibandingkan kedudukan eksekutif/pemerintah.
Dalam system ini masa periode kabinet tidak pasti.
Sewaktu waktu kabinet bisa dibubarkan oleh parlemen
dengan mosi tidka percyaa. Contoh Indonesia pada masa
UUDS 1950l, Inggris dan Jepang.

c. Sistem Pemerintahan dengan system referendum


Merupakan system pemerintahan dengna pengawasan
langsung dari rakyat, contoh Swiss.

Hubungan Negara Dan Agama


Negara dan agama merupakan persoalan yang banyak
menimbulkan perdebatan (discourse) yang terus
berkelanjutan di kelangan para ahli. Hal ini disebabkan oleh
perbedaaan pandangan dalam menerjemahkan agama
sebagai bagian dari negara atau negara merupakan bagian
dari dogma agama. Pada hakekatnya, negara sendiri secara
umum diartikan sebagai suatu persekutuan hidup bersama
sebagai penjelmaan sifat kodrati manusia sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial. Oleh karena itu, sifat dasar
kodrat manusia secara horizontal dalam hubungan manusia
dengan manusia lain untuk mencapai tujuan bersma. Dengan
demikian, negara memiliki sebab akibat langsung dengan
manusia karena manusia adalah pendiri negara itu sendiri.
Dalam memahami hubungan agama dan negara ini, akan
dijelaskan beberapa konsep hubungan agama dan negara
menurut beberapa aliran, antara lain paham teokrasi, paham
sekuler dan paham komunis.

1. Hubungan Agama dan Negara Menurut Paham Teokrasi


Dalam paham teokrasi, hubungan agama dan negara
digambarkan sebagai sua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Negara menyatu denan agama, karena pemerintahan
menurut paham ini dijalankan berdasarkan firman-firman
tugah, segala tata kehidupan dalam masyarakat, bangsa,
dan negara dilakukan atas titah tuhan. Degan demikian,
urusan kenegaraan atau politik, dalam paham teokrasi juga
diyakini sebagai manifestasi firman Tuhan.

Dalam perkembangannya, paham teokrasi terbagi ke


dalam dua bagian, yakni paham teokrasi langsng dan
paham teokrrasi tidak langsung. Menurut paham teokrasi
langsung, pemerintahan diyakini sebagai otoritas Tuhan
secara langsng pula. Adanya negara di dunia ini adalah
atas kehendak tuhan, dan oleh karena itu yang
memerintah adalah tuhan pula. Sementara menurut sistem
pemerintahan teokrasi tidak langsng yagn memerintah
bukanlah tuhan sendiri, melainkan yang memerintah
adalah raja atau kepala negara yagn memiliki otoritas atas
nama Tuhan. Kepala Negara atau raja diyakini memerintah
atas kehendak tuhan.

Kerajaan Beladna dpat dijadikan conoth untuk model ini.


Dalam sejarah, raja di negara Belanda diyakini sebagai
pengemban tugas suci yaitu kekuasaan yang merupakan
amanat suci dari Tuhan ntuk memakmurkan rakyatnya.
Politik seperti inilah yang diterapkan oleh pemerintah
Belanda ketiga menjajah Indonesia. Mereka meyakini
bahwa raja mendapat amanat suci dari tuhan untuk
bertindka sebagai wali dariwilayah jajahannya itu. Dalam
sejarah, politik Belanda seperti ini disebut politik etis.

Dalam Pemerintahan teokrasi tidak langsung, sistem dan


norma norma dalam negara dirumuskan berdasarkan
firman-firmna tuhan. Dengan demikian, negara meyatu
dengan agama. Agama dan negara tidak dapat dipisahkan.

2. Hubungan Agama dan Negara menurut Paham Sekuler.


Paham sekuler memisahkan dan membedakan antara
agama dan negara dalam negara sekuler, tidak ada
hubungan antara sistem kenegaraan dengan agama.
Dalam paham ini, negara adalah urusan hubungan
manusia dengan manusia lain, atau urusan dunia.
Sedangkan agama adalah hubungan manusia dengan
tuhan. Dua hal ini, menurut paham sekuler tidak dapat
disatukan.

Dalam negara sekuler, sistem dan norma hukum positif


dispisahkan dengna nilai dan norma agama. Norma hukum
ditentukan atas kesepakatan manusia dan tidak
berdasarkan agama atau firman-firman tuhan, meskipun
mungkin norma-norma tersebut bertentangan dengan
norma-orma agama. Sekalipun paham ini memisahkan
antara agama dan negara, akan tetapi pada lazimnya
negara sekuler membebaskan warga negaranya untuk
memeluk agama apa saja yagn mereka yakini dan negara
tidak intervensi dalam urusan agama.

3. Hubungan agama dan negara menurut paham Komunisme


Paham komunisme memandang hakikat hubungna negara
dan agama brdasarkan pada filosifi materialisme dialektis
dan materialisme historis. Paham ini menimbulkan paham
atheis. Paham yang dipelopori oleh Karl Marx ini,
memandang agama sebagai candu masyarakat (marx,
dalam Louis Leahy) menurutnya manusia ditentukan oleh
dirinya sendiri. Sementara agama dalam paham ini,
dianggap sebagai suatu kesadaran diri bagi manusia
sebelum menemukan dirinya sendiri.

Kehidupan manusia adalah dunia manusia itu sendiri yang


kemudian menghasilkan masyarakat negara. Sedangkan
agama dipandang sebagia realisasi fantastis makhluk
manusia dan agama merupakan keluhan mahluk tertindas.
Oleh karena itu, agama harus ditekan, bahkan dilarang.
Nilai yagn tertinggi dalam negara adalah materi, karena
manusia sendiir pada hakekatnya adalah materi.

E. Pengertian konstitusi
Istilah konstitusi berasal dari bahasa Prancis (constituer) yang
berarti membentuk. Pemakaian istilah konsitusi yang
dimaksud ialah pembentukan suatu negara atau menyusun
dan menyatakan aturan suatu negara. Sedangkan istilah
Undang-undang dasar (UUD) merupakan terjemahan istilah
dari bahasa Belanda Grondwet. Perkataan wet diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia Undang-undang dasar, dan grond
berarti tanah atau dasar.

Di negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris dipakai


istilah constittion yang bahasa Indonesianya konsitusi.
Pengertian konstitusi dalam praktik dapat diartikan lebih luas
dari pada pengertian Undnag-undang dasar. Dalam ilmu
politik, constitution merupakan suatu yang lebih luas, yaitu
keseluruhan dari peraturan-peraturan baik yang tertulis
maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat cara-
cara bagaimana sesuatu pemerintahan diselenggarakan dlam
sutu masyarakat.

Dalam bahasa latin, kata konstitusi merupakan gabungan dari


dua kata, yaitu cume dan statuere. Cume adalah sebuah
presposisi yang berarti “bersama-sama dengan …,”
sedangkan statuere mempunyai arti berdiri. Atas dasar itu,
kata statuere mempunyai arti “membuat sesuatu agar berdiri
atau mendirikan/menetapkan.dengan demikian bentuk
tunggal dari konstitusi adalah menetapka sesuatu secara
bersama-sama dan bentuk jamak dari konstitusi berarti segala
yang ditetapkan.

Dalam perkembangannya, ada beberapa pendapat yang


membedakan antara konstitusi dengan undang-undang dasar.
Seperti yang dikemukakan oleh Herman Heler. Ia mengatakan
bahwa konstitusi lebih luas dari pada Undang-undang dasar.
Konstitusi tidak hanya bersifat yuridis melainkan juga bersifat
sosiologis dan politis. Sedangkan undang-undang dasar hanya
merupakan sebagian dari pengertian konstitusi, yakni die
geschreiben verfassung atau konstitusi yang tertulis .
Pendapat yang sama dikemukanan oleh F. Lassale yang
dikutip oleh abu daud busroh dan abubakar busro. Ia
membagi pegertian konstitusi ke dalam dua pengertian, yaitu:
1. Pengertian sosiologis dan politis, yaitu sebagai faktor
kekuatan yagn nyata dalam masyarakat. Jadi konstitusi
menggambarkan hubungan antara kekuasaan yang
terdapat dengan nyata dalam suatu negara.
2. pengertian yuridis yaiut suatu naskah yagn memuat semua
bangunan negara dan sendi-sendi pemerintahan.

Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa


konstitusi meliputi peraturan tertulis dan tidak tertulis.
Undang-undnag dasar merupakan konstitusi yang tertulis.
Dengan demikian konstitusi dapat diartikan sebagai berikut :
a. Suatu kumpulan kaidah yang memberikan pembatasan-
pembatasan kekuasaan kepada para penguasa
b. Suatu dokumen tentang pembagian tugas dan sekaligus
petugasnya dari suatu sistem politik
c. Sutu gambaran dari lembaga-lembaga negara
d. Suatu gambaran yagn menyangkut masalah hak-hak asasi
manusia.

F. Hakikat dan fungsi konstitusi


1. Hakikat Isi Konstitusi (UUD)
Pada hakikatnya konstitusi (UUD) itu berisi tiga hal pokok,
yaitu :
a. adanya jaminan tehadap hak asasi manusia dan warga
negaranya
b. ditetapkan susunan ketatanearaan suatu egara yang
bersifat fundamental
c. adanya pembagian dan pembatasan tugas
ketatanegaraan yagn juga bersifat fundamental.

2. Fungsi Konstitusi
Konstitusi (UUD) dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara menjadi memiliki arti dan makna
yang sangat penting. Artinya bahwa konstitusi menjadi
“tali” pengikat setiap warga negara dan lembaga negara
dalam kehidupan negara. Dalam kerangka kehidupan
negara, konstitusi secara umum memiliki fungsi sebagai:
a. tata aturan dalam pendirian lembaga-lembaga yang
permanen (lembaga suprastutktur dan infastuktur
politik)
b. tata aturan dalam hubugnan negara dengan warga
negara serta dengan negara lainya
c. sumber hukum dasar yang tertinggi. Artiya bahwa
seluruh peraturan dan perudnang-undangan yagn
berlaku harus mengcu pada konstitusi.

3. Tujuan Konstitusi
Konstitusi sebagai disebutkan merupaka aturan-
aturandasar yang dibentuk dalam mengatur hubungan
antar negara dan warga negara. Konstitusi juga dapat
dipahami sebagai bagian dari kontrak sosial yang memuat
aturan main dalam berbngsa dan bernegara. Lebih jelas,
Sovernin Lohman menjelaskan bahwa dalam konstitusi
harus memuat unsur-unsur sebagai berikut:
1. Konstitusi dipandang sebagai perwujudan perjanjian
masyarakat. Artinya bahwa konstitusi merupakan
konklusi dari kesepakatan masyarakat untuk membina
neara dan pemerintahan yang akan mengatur mereka.
2. Konstitusi sebagai paigam yang menjamin hak-hak asasi
manusia dan warga negara sekaligus penentuan batas-
batas hak dan kewajiban warga negara dan alat-alat
pemerintahannya.

Pada prinsipnya, adanya konstitusi memiliki tujuan untuk


membatasi kewenangan pemerintah dalam menjamin hak-
hak yang diperintah dan merumuskan pelaksanaan
kekuasaan yang berdaulat. Tujuan-tujuan adanya
konstitusi tersebut, secara singkat dapat diklasifikasikan
menjadi tiga tujuan, yaitu:
1. Konstitusi bertujuan untuk memberikan pembatasan
sekaligus pengawasan terhadap kekuasaan politik
2. Konstitusi bertujuan untuk melepaskan kontrol
kekuasaan dari penguasa sendiri
3. konstitusi bertujuan memberikan batasan-batasan
ketetapan bagi para penguasa dalam menjalankan
kekuasaanya.

G. Institusi dan mekanisme pembuatan konstitusi


1. Institusi pembuat konstitusi
Institusi (lembaga) yang bertugas untuk membuat
konsitutusi adalah MPR
2. Mekanisme pembuatan/perubahan Konstitusi
Tidak ada aturan yang jelas mengenai bagaimana tata cara
pembuatan atau perubahan konsitutusi. Dalam pasal 3
ayat 2 dinyatakan MPR berwenang untuk mengubah dan
menetapkan UUD.

Prosedur untuk mengubah UUD terdapat dalam Pasal 37 UUD


1945 yang menyebutkan:
(1)Untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3
daripada jumlah anggota MPR harus hadir
(2)Putusan diambil denan persetujuan sekurang-
kurangnya 2/3 jumlah anggota yang hadir.

Pasal 37 tersebut mengandung tiga norma, yaitu :


1) Bahwa yang berwenang untuk mengubah UUD ada pada
MPR sebagai lembaga tertinggi negara
2) Bahwa untuk mengubah UUD, kuorum yang harus dipenuhi
sekurang-kurangnya adalah 2/3 dari seluruh jumah
anggota MPR
3) Bahwa putusan tentang perubahan UUD adalah sah apabila
disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari anggota MPR
yagn hadir.

Dalam pelaksanaan amandemen konstutusi (UUD 1945) MPR


mengunakna mekanisme sebagai berikut:
1) MPR menagakan rapat konsultasi dengan seluruh badan
kelengkapan MPR dan anggotanya yaitu DPR dan DPD
2) MPR membnetuk panitia perumus badan Pekerja (BP MPR
yagn bergugas menyusun RUUD 1945 dri pipinan MPR.
Dalam pembahasan panitia perumus mengdakan rapat
dengan pendapat dengan elemen-elemen yang meliputi
unsur pemerintah, profesional, pengusaha, partai politik,
LSM, ormas, OKP, tokoh masyarakat, dan unsur-unsur lain
yang terkait.
3) Hasil perumusan Panitia Badan Pekerja MPR menyerahkan
hasil perumusan RUU kepada pimpinan MPR.
4) Pimpinan MPR menyelenggarakan sidang umum MPR
tahunan untuk mendengarkan pandangan umum fraksi-
fraksi yang ada di MPR guna menetapkan RUUD 1945
amandemen menjadi UUD 1945 Amandemen
Menurut Ketetapan MPR RI Nomor III/MPR/2000, tentang
sumber hukum dan tata urutan peratutan perundang-undang
Negara RI adalah :
1) Undang-undang Dasar 1945
2) Ketetapan MPR RI
3) Undang-undang
4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
5) Peraturan Pemerintah
6) Kepres
7) Peraturan daerah

Sedangkan menurut UU No. 10/2004, tata urutan peraturan


perundang-undangna Indonesia adalah:
1) Undang-undang Dasar 1945
2) Undang-undang /Perpu
3) Peraturan Pemerintah
4) Perpres
5) Peraturan daerah

Dengan telah terbentuknya UU No. 10/2004 yang didalamnya


diatur tentang tata urutan peraturan perundang-undangan,
maka ketetapan MPR RI Nomor III/MPR/2000 tidak berlaku
lagi. Namun demikian Pasal 7 ayat (4) UU No. 10/2004 dan
penjelasannya, menyatakan bahwa peraturan yang
dikeluarkan oleh MPR (sebagaimana yang ditetapkan dalam
TAP MPR No. I/MPR/2003) masih diakui keberadaanya dan
mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.
BAB V
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA
Deskripsi Singkat
Dalam bab ini kita akan mempelajari pengertian warga
negara dan kewarganegaraan, mengenai hak dan kewajiban
warga negara, asas dan unsur kewarganegaraan. Kemudian akan
dipelajari juga mengenai masalah-masalah status
kewarganegaraan bagaimana memperolehnya dan hak serta
kewajiban warga negara. Akhirnya akan dibahas mengenai
bagaimana membangun karakter warga negara yang
bertanggungjawab

PENGERTIAN WARGA NEGARA DAN KEWARGANEGARAAN


Warga Negara
• Warga Negara adalah penduduk sebuah negara atau
bangsa berdasarkan keturunan, tempat kelahiran, dan
sebagainya, yang mempunyai kewajiban dan hak penuh
sebagai warga negara itu. (Kamus Besar Bahasa Indonesia,
2002).
• Warga negara adalah penduduk suatu negara, tetapi
penduduk belum tentu warga negara, karena mungkin
seorang asing.
Warga negara adalah anggota suatu negara yang
mempunyai kedudukan khusus terhadap negaranya yaitu
hubungan hak dan kewajiban yang bersifat timbal-balik terhadap
negara.
• Setiap warga negara mempunyai kewajiban terhadap
negara dan mempunyai hak untuk dilindungi oleh negara.
Penduduk
• Penduduk, adalah orang yang memiliki domisili atau
tempat tinggal tetap di wilayah negara itu, yang dapat
dibedakan menjadi warga negara asli dan warga negara
asing (WNA).
• Penduduk menurut pasal 26 ayat (2) UUD 1945 adalah
warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
tinggal di Indonesia.
• Bukan Penduduk, adalah orang-orang asing yang tinggal
dalam negara bersifat sementara sesuai dengan visa yang
diberikan negara melalui kantor imigrasi.
Kewarganegaraan
• Istilah Kewarganegaraan (citizenship) memilikii arti
keanggotaan yang menunjukkan hubungan atau ikatan
antara negara dengan warga negara.
• Pengertian kewarganegaraan dapat dibedakan menjadi:
• Kewarganegaraan dalam arti Yuridis dan Sosiologis.
• Kewarganegaraan dalam arti Formil dan Materiil.
• Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan
adanya ikatan hukum antara orang-orang dengan negara.
Tanda adanya ikatan hukum, misalnya: akte
kelahiran,surat pernyataan, bukti kewarganegaraan, dll.
• Kewarganegaraan dalam arti sosiologis, tidak ditandai
dengan ikatan hukum, melainkan ikatan emosional, yang
lahir dari penghayatan warga negara yang bersangkutan.
Misalnya: ikatan perasaan, ikatan keturunan, ikatan nasib,
ikatan sejarah, ikatan tanah air.
• Kewarganegaraan dalam arti formil menunjuk pada tempat
kewarganegaraan. Dalam sistematika hukum, masalah
kewarganegaraan berada pada hukum publik.
• Kewarganegaraan dalam arti materiil menunjuk pada
akibat dari status kewarganegaraan, yaitu adanya hak dan
kewajiban warga negara.

UNSUR-UNSUR KEWARGANEGARAAN

• Ada beberapa unsur yang menentukan status


kewarganegaraan, yaitu:
• Unsur darah atau keturunan (ius sanguinis)
• Unsur daerah tempat lahir (ius soli)
• Unsur kewarganegaraan (naturalisasi)
Naturalisasi adalah status kewarganegaraan yang
diperoleh atas hak opsi yaitu untuk memilih dan mengajukan
kehendak menjadi warga negara dari suatu negara (=hak
kewarganegaraan aktif) atau sebaliknya adalah hak repudiasi
yaitu hak menolak pemberian kewarganegaraan dari suatu
negara.

STATUS KEWARGANEGARAAN

• Apatride (tanpa kewarganegaraan)


adalah seseorang yang tidak memiliki status
kewarganegaraan. Hal ini timbul menurut peraturan
kewarganegaraan suatu negara, seseorang tidak diakui sebagai
warganegara dari negara manapun.
• Bipatride (dwi kewarganegaraan)
adalah kewarganegaraan ganda yang timbul apabila
peraturan dari dua negara terkait seseorang dianggap sebagai
warganegara kedua negara tersebut. Misal Tukiyo dan Tukiyem
suami isteri berstatus warganegara A yang menganut asas ius-
sanguinis dan berdomisili di negara B yang menganut asas ius-
soli. Anaknya, Tukijan lahir di negara B, maka Tukijan
mempunyai status kewarganegaraan ganda.
• Multipatride
adalah seseorang yang memiliki lebih dari dua status
kewarganegaraan, yaitu seseorang (penduduk) yang tinggal di
perbatasan dua negara.

Hak dan Kewajiban Negara

• Dalam rangka terpeliharanya hak dan kewajiban


warga negara, negara memiliki tugas dan
tanggungjawab sebagai berikut:
1. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk memeluk agamanya (pas 29 ayat 2)
2. Negara atau pemerintah wajib membiayai
pendidikan khususnya pendidikan dasar (pasal
31 ayat 2)
3. Pemerintah berkewajiban mengusahakan dan
menyeleng-garakan satu sistem pendidikan
nasional (pasal 31 ayat 3)
4. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan
sekurang-kurangnya 20% dari anggaran
belanja negara dan belanja daerah (pasal 31
ayat 4)
5. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan
teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai
agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan
peradaban serta kesejahteraan umat manusia
(pasal 31 ayat 5)
6. Negara memajukan kebudayaan manusia
ditengah peradaban dunia dengan menjamin
kebebasan masyarakat dengan memelihara
dana mengembangkan nilai-nilai budayanya.
(pasal 32 ayat 1)
7. Negara menghormati dan memelihara bahasa
daerah sebagai kekayaan kebudayaan
nasional. (pasal 32 ayat 2)
8. Negara menguasai cabang-cabang produksi
terpenting bagi negara danmenguasai hidup
orang banyak (pasal 33 ayat 2)
9. Negara menguasai bumi, air dan kekayaan
alam demi kemakmuran rakyat (pasal 33 ayat
3)
10.Negara berkewajiban memelihara fakir miskin
dan anak-anak terlantar (pasal 34 ayat 1)
11.Negara mengembangkan sistem jaminan sosial
bagi seluruh rakyat dan memberdayakan
masyarakat yang lemah dan tidak mampu
sesuai dengan martabat kemanusiaan (pasal
34 ayat 2)
12.Negara bertanggungjawab atas persediaan
fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak (pasal 34 ayat 3)

Beberapa Hal Prinsip Dari Uu No. 12 Tahun 2006 Tentang


Kewarganegaraan RI

1. Pengertian warga negara Indonesia adalah setiap orang


yang berdasarkan peraturan perundang-undangan
dan/atau berdasarkan perjanjian pemerintah RI dengan
negara lain sebelum UU ini berlaku sudah menjadi warga
negara Indonesia.
2. Yang menjadi warga negara Indonesia adalah:
1) Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari
seorang ayah dan ibunya WNI.
2) Anak lahir dari perkawinan yang sah dari seorang
ayah WNI dan ibunya WNA.
3) Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari ibu
WNI, tetapi ayahnya tidak mempunyai
kewarganegaraan atau hukum negara asal ayahnya
tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak
tersebut.
4) Anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 hari
setelah ayahnya meninggal dunia dari perkawinan
yang sah dan ayahnya WNI.
5) Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari
seorang ibu WNI.
6) Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari
seorang ibu WNA yang diakui oleh seorang ayah WNI
sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan
sebelum anak tersebut berusia 18 tahun atau
sebelum kawin.
7) Anak yang lahir di wilayah RI yang pada waktu lahir
tidak jelas status kewarganegaraan ayah-ibunya.,
8) Dll.
BAB VI
DEMOKRASI DAN PENDIDIKAN DEMOKRASI

Arti dan makna demokrasi

Demokarasi berasal dari kata Yunani demos dan kratos.


Demos artinya rakyat, kratos berarti pemerintahan. Jadi,
demokrasi artinya pemertintah rakyat, yaitu pemerintahan yang
rakyatnya memegang peranan yang sangat menentukan.
Demokrasi dibagi menjadi dua yaitu, demokrasi langsung
dan demokrasi tidak langsung. Demokrasi langsung adalah
demokrasi yang dilaksanakan secara musyawarah, dimana
rakyat dikumpulakan menjadi satu pada suatu tempat
pertemuan dan mereka dapat memilihnya secara langsung,
demokrasi tidak langsung adalah demokrasi yang dilaksanakan
atas perwakilan rakyat dari masing – masing daerah, dan
perwakilan rakyat tersebut yang akan menampung aspirasi
rakyat untuk dijalankan dipemerintahan.
Bagi negara – negara modern, demokrasi langsung tidak
dapat dilaksanakan, karana :
1. Penduduk yang selau bertambah, sehingga suatu
musyawarah tidak dapat dilaksanakan pada suatu tempat.
2. Masalah yang dihadapi oleh suatu pemerintah semakin
rumit, tidak seperti di pedesaan.
3. Setiap warga negara mempunyai kesibukan masing –
masing di dalam kehidupannya, sehingga cukup diwakilkan
oleh perwakilan rakyat dari tiap daerah.

Demokrasi yang pernah dijalankan di Indonesia diantaranya :


1. Demokrasi Liberal
Dimulai pada tahun 1945 – 1949, dan diganti pada tahun
1959. Demokrasi ini runtuh karna tidak tercapainya stabilitas
politik dan timbulnya perbedaan pendapat yang sangat
mendasar diantara partai politik yang ada saat itu.

2. Demokrasi Terpimpin
Dimulai dengan runtuhnya demokrasi Liberal dan
dikeluarkannya Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, oleh Presiden
Soekarno. Namun demokrasi ini mengalami kegagalan karna
pembangunan yang tidak merata di berbagai daerah,
terjadinya KKN, dan manipulasi politik. Akhirnya demokrasi ini
pun runtuh pada 1998, yang disebut Reformasi.

3. Demokrasi pancasila
Dimulai dengan tumbangnya demokrasi terpimpin, dan
digantikan dengan Era Orde Baru yang memakai demokrasi
Pancasila. Dan tetap dilakasanakan sampai saat ini karna
masih dianggap cocok dengan keadaan Indonesia kini.
BAB VII
HAM DAN RULE OF LAW