Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM LINGKUNGAN
PERCOBAAN X
ZAT ORGANIK

OLEH :

NAMA : MUHAMMAD SADIQUL IMAN


NIM : H1E108059
KELOMPOK : V (LIMA)
ASISTEN : M. FAHMI ARIF

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

DESEMBER, 2010
PERCOBAAN X
ZAT ORGANIK

I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui kandungan zat
organik pada suatu perairan.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Air adalah kebutuhan dasar bagi kehidupan di muka bumi, tak terkecuali
bagi manusia. Setiap penggunaan air untuk suatu kebutuhan, diperlukan
syarat-syarat kualitas air sesuai peruntukannya. Salah satu syarat yang penting
adalah ukuran banyaknya zat organik yang terdapat dalam air. Oleh karena itu
penentuan zat organik dalam air menjadi salah satu parameter penting dalam
penentuan kualitas air. Banyaknya zat organik dalam air menjadi salah satu
ukuran seberapa jauh tingkat pencemaran pada suatu perairan (Febrian, 2008).
Penentuan kandungan zat organik dalam air biasanya dilakukan dengan
mengukur kebutuhan oksigen dalam air untuk mendegradasi zat organik, baik
dengan bantuan mikroorganisme, zat kimia dan cara lainnya. Saat ini telah ada
dua metode standar dalam pengukuran kebutuhan oksigen di air, yaitu
biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD).
Kedua metode tersebut berhubungan dengan kebutuhan oksigen untuk
mendegradasi zat organik yang ada pada contoh air. Pada metoda BOD
digunakan proses oksidasi melalui bantuan mikroorganisme. Sedangkan pada
metoda COD, proses oksidasi zat organik dalam sampel menggunakan
pereaksi kimia, seperti dikromat, sebagai oksidatornya (Febrian, 2008).
Zat organik adalah zat yang pada umumnya merupakan bagian dari
binatang atau tumbuh tumbuhan dengan komponen utamanya adalah karbon,
protein, dan lemak lipid. Zat organik ini mudah sekali mengalami pembusukan
oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut (SMK Negeri 3 Kimia
Madiun, 2008).
Limbah organik adalah sisa atau buangan dari berbagai aktifitas manusia
seperti rumah tangga, industri, pemukiman, peternakan, pertanian dan
perikanan yang berupa bahan organik; yang biasanya tersusun oleh karbon,
hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya (Polprasert,
1989 dalam SMK Negeri 3 Kimia Madiun, 2008).
Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam bentuk padatan
yang terendap, koloid, tersuspensi dan terlarut. Pada umumnya, yang dalam
bentuk padatan akan langsung mengendap menuju dasar perairan; sedangkan
bentuk lainnya berada di badan air, baik di bagian yang aerob maupun
anaerob. Dimanapun limbah organik berada, jika tidak dimanfaatkan oleh
fauna perairan lain, seperti ikan, kepiting, bentos dan lainnya; maka akan
segera dimanfaatkan oleh mikroba; baik mikroba aerobik (mikroba yang
hidupnya memerlukan oksigen); mikroba anaerobik (mikroba yang hidupnya
tidak memerlukan oksigen) dan mikroba fakultatif (mikroba yang dapat hidup
pada perairan aerobik dan anaerobik) (Halim, 2007).
Makin banyak limbah organik yang masuk dan tinggal pada lapisan
aerobik akan makin besar pula kebutuhan oksigen bagi mikroba yang
mendekomposisi, bahkan jika keperluan oksigen bagi mikroba yang ada
melebihi konsentrasi oksigen terlarut maka oksigen terlarut bisa menjadi nol
dan mikroba aerobpun akan musnah digantikan oleh mikroba anaerob dan
fakultatif yang untuk aktifitas hidupnya tidak memerlukan oksigen (SMK
Negeri 3 Kimia Madiun, 2008).
Adanya zat organik dalam air menunjukan bahwa air tersebut telah
tercemar oleh kotoran manusia, hewan atau oleh sumber lain. Zat organik
merupakan bahan makanan bakteri atau mikroorganisme lainnya. Makin
tinggi kandungan zat organik didalam air, maka semakin jelas bahwa air
tersebut telah tercemar (Kurniawan, 2009).
Zat organik adalah zat yang pada umumnya merupakan bagian dari
binatang atau tumbuh tumbuhan dengan komponen utamanya adalah karbon,
protein, dan lemak lipid. Zat organik ini mudah sekali mengalami pembusukan
oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut. Di dalam sistem air tanah
yang belum terkontaminasi senyawa organic yang dominan adalah senyawa
humus (humic substances). Senyawa tersebut merupakan hasil dekomposisi
tumbuhan dan hewan secara biologis dan tidak memiliki struktur yang baku
(Halim, 2007).
Oleh karena itulah mengapa pengidentifikasiannya memerlukan
serangkaian proses yang cukup panjang. Ada tiga kelompok senyawa humus ,
yaitu:
1. Asam fulvik ( fulvic acid ), merupakan senyawa yang terlarut di dalam air
2. Asam humik (humic acid), senyawa yang tidak larut di dalam air pada pH
rendah
3. Humin, tidak larut di dalam air pada semua pH (Krisma, 2008).
Permanganometri merupakan metode titrasi dengan menggunakan
kalium permanganat, yang merupakan oksidator kuat sebagai titran. Titrasi ini
didasarkan atas titrasi reduksi dan oksidasi atau redoks. Kalium permanganat
telah digunakan sebagai pengoksida secara meluas lebih dari 100 tahun.
Reagensia ini mudah diperoleh, murah dan tidak memerlukan indikator
kecuali bila digunakan larutan yang sangat encer. Permanganat beraksi secara
beraneka, karena mangan dapat memiliki keadaan oksidasi +2, +3, +4, +6, dan
+7 (Day & Underwood, 1999).
Asam sulfat adalah asam yang paling sesuai, karena tidak bereaksi
terhadap permanganat dalam larutan encer. Dengan asam klorida dan sedikit
permanganat dapat terpakai dalam pembentukan klor, ada kemungkinan
terjadi reaksi :
2 MnO−¿¿
4 + 10 Cl−¿¿ + 16H+ → 2Mn2+ + 5Cl2 + 8H2O
Reaksi ini terutama berkemungkinan akan terjadi dengan garam-garam
besi, kecuali jika tindakan-tindakan pencegahan yang khusus diambil. Dengan
asam bebas yang sedikit berlebih, larutan yang sangat encer, temperatur yang
rendah, dan titrasi yang lambat sambil mengocok terus-menerus, bahaya dari
penyebab ini telah dikurangi sampai minimal. Pereaksi kalium permanganat
bukan merupakan larutan baku primer dan karenanya perlu dibakukan terlebih
dahulu. Pada percobaan ini untuk membakukan kalium permanganat ini dapat
digunakan natrium oksalat yang merupakan standar primer yang baik untuk
permanganat dalam larutan asam (Basset, 1994).
Kalium permanganat (KMnO4) telah lama dipakai sebagai oksidator
pada penentuan konsumsi oksigen untuk mengoksidasi bahan organik, yang
dikenal sebagai parameter nilai permanganat atau sering disebut sebagai
kandungan bahan organik total atau TOM (Total Organik Matter). Akan
tetapi, kemampuan oksidasi oleh permanganat sangat bervariasi, tergantung
pada senyawa-senyawa yang terkandung dalam air. Penentuan nilai oksigen
yang dikonsumsi dengan metode permanganat selalu memberikan hasil yang
lebih kecil dari nilai BOD (biological oxygen demand). Kondisi ini
menunjukkan bahwa permanganat tidak cukup mengoksidasi bahan organik
secara sempurna (Effendi, 2003).
Untuk mengatasi kelemahan permanganat ini, digunakan oksidator yang
lain, misalnya kalium dikromat dan kalium iodat. Ternyata kalium dikromat
dianggap sebagai oksidator yang paling baik untuk digunakan pada penentuan
nilai COD (chemical oxygen demand), karena dapat mengoksidasi berbagai
jenis bahan organik (Effendi, 2003).
Berdasarkan kesempurnaan proses oksidasi bahan organik, pada
penentuan nilai permanganat atau kandungan bahan organik total (TOM),
BOD dan COD, berturut-turut persentase bahan organik yang dioksidasi
adalah 25%, 70% dan 98%. Berdasarkan kemampuan oksidasi ini, penentuan
nilai COD dianggap paling baik dalam menggambarkan keberadaan bahan
organik, baik yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegradable)
maupun yang sukar didekomposisi secara biologis (non biodegradable)
(Effendi, 2003).
Nilai permanganat adalah jumlah miligram kalium permanganat yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi organik dalam 1000 mL air pada kondisi
mendidih, larutan induk kalium permanganat, KMnO4 adalah larutan yang
mempunyai normalitas kalium permanganat, KMnO4 0,1 N yang digunakan
untuk membuat larutan baku dengan kadar yang lebih rendah sedangkan
larutan baku kalium permanganat, KMnO4 adalah larutan induk kalium
permanganat, KMnO4 0,1 N yang diencerkan dengan air suling sampai
normalitas 0,01 N (SNI 06-6989.22-2004, 2004). Penentuan zat organik
dengan cara oksidasi dapat dilakukan dalam suasana asam atau basa.
a. Metode asam untuk air yang mengandung ion Cl < 300 ppm.
b. Metode basa untuk air yang mengandung ion Cl > 300 ppm (Sodik, 2009)
III.ALAT DAN BAHAN
A. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah gelas ukur, pipet
tetes, gelas beaker, buret, labu erlenmeyer, dan hot plate.
B. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan asam
oksalat (H2C2O4.2H2O), KMnO4, H2SO4, air kran dan sampel air sumur
landasan ulin.

IV. PROSEDUR KERJA


A. Pembebasan Labu Erlenmeyer dari Zat Organik
1. Mengambil 50 ml air kran dan memasukkan ke dalam labu
erlenmeyer.
2. Menambahkan 2,5 ml H2SO4 4 N.
3. Menambahkan tetes demi tetes KMnO4 0,01 N hingga cairan berwarna
merah muda.
4. Memanaskan di atas hot plate dan membiarkan mendidih
5. Menambahkan larutan KMnO4 0,01 N, jika selama pendidihan warna
merah muda hilang sampai tidak hilang lagi.
6. Membuang cairan dalam erlenmeyer
B. Pemeriksaan Zat Organik
1. Mengambil 50 ml sampel air dan memasukkan ke dalam labu
erlenmeyer yang sudah dibebaskan dari zat organik pada prosedur
sebelumnya.
2. Menambahkan 2,5 ml H2SO4 4 N.
3. Menambahkan tetes demi tetes KMnO4 0,01 N hingga cairan berwarna
merah muda.
4. Memanaskan di atas hot plate sampai hampir mendidih
5. Menambahkan 5 ml KMnO4 0,01 N dan membiarkan memdidih selama
5 menit tepat.
6. Menambahkan 15 ml asam oksalat 0,01 N setelah selesai pemanasan.
7. Mentitrasi dengan KMnO4 0,01 N sampai larutan berubah warna merah
muda dan mencatat banyaknya larutan KMnO4 0,01 N yang digunakan.
C. Penentuan Faktor Ketelitian KMnO4 Zat Organik
1. Mengisikan 5 ml larutan asam oksalat pada labu Erlenmeyer.
2. Mentitrasi dengan larutan KMnO4 0,01 N sampai larutan berubah
warna merah muda dan mencatat banyaknya larutan KMnO 4 0,01 N
yang digunakan.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
1. Hasil Pengamatan
a. Pembebasan Labu Erlenmeyer dari Zat Organik
Tabel 1. Hasil pengamatan pembebasan labu erlenmeyer dari zat
organik
No Percobaan Pengamatan
.
1. 50 ml air kran diambil.
2. Ditambahkan 2,5 ml H2SO4 4 N.
3. Ditambahkan tetes demi tetes KMnO4 1 tetes KMnO4 0,01 N
0,01 N, hingga berubah warna merah Warna = merah muda
muda.

4. Dipanaskan di atas hot plate. t = 19 menit


Warna = bening

5. Ditambahkan kembali tetes demi tetes 1 tetes KMnO4 0,01 N


KMnO4 0,01 N, hingga berubah warna Warna = merah muda
merah muda kembali.

6. Dibuang cairan dalam labu


erlenmeyer.

b. Pemeriksaan Zat Organik


Tabel 2. Hasil pengamatan pemeriksaan zat organik
No Percobaan Pengamatan
.
1. 50 ml sampel air sumur landasan ulin
diambil.
2. Ditambahkan 2,5 ml H2SO4 4 N.
3. Ditambahkan tetes demi tetes KMnO4 1 tetes
0,01 N, hingga berubah warna merah Warna = merah muda
muda.

4. Dipanaskan di atas hot plate. Warna = bening

5. Dipanaskan kembali + ditambah 5 ml t = 20, 19 menit


KMnO4 0,01 N warna = ungu pekat
6. Ditambahkan larutan asam oksalat V = 15 ml
Warna = bening
7. Dititrasi larutan KMnO4 0,01 N, V awal = 36,5 ml
hingga berubah warna dan dicatat V akhir = 39 ml
larutan NaOH yang digunakan. V KMnO4 = 2,5 ml
Warna = orange

c. Penentuan Faktor Ketelitian KMnO4 Zat Organik


Tabel 3. Hasil pengamatan penentuan faktor ketelitian KMnO 4 zat
organik
No Percobaan Pengamatan
.
1. 5 ml larutan asam oksalat diambil. Warna = bening

2. Dititrasi dengan larutan KMnO4 0,01 V awal = 14,3 ml


N dan dicatat larutan NaOH yang V akhir = 18,8 ml
digunakan. V KMnO4 = 4,5 ml

2. Perhitungan
a. Penentuan Faktor Ketelitian KMnO4 Zat Organik
Diketahui : Volume KMnO4 = 4,5 ml
Ditanya : Faktor Ketelitian …?
Jawab :
V asamoksalat
Faktor Ketelitian =
V KMnO
4

5 ml
=
4,5 ml
= 1,11
b. Pemeriksaan Zat Organik
Diketahui : Volume KMnO4 = 5 ml
Volume titrasi KMnO4 (a) = 2,5 ml
Volume sampel air = 50 ml
Normalitas KMnO4 = 0,01 N
Berat ekivalen KMnO4 = 31,6
Faktor Ketelitian (F) = 1,11
Ditanya : Kandungan Zat Organik…?
Jawab :
Kandungan Zat Organik
1000
= x V [ + a ) x F }−V KMnO x N KMnO x BE KMnO
]
V sampel {( KMnO 4 4 4 4

1000
= x [ { (5+ 2,5 ) x 1,11 } −5 ] x 0,01 x 31,6
50
= 20 x [3,325] x 0,01 x 31,6
= 21,014 mg/l KMnO4
B. Pembahasan
1. Pembebasan Labu Erlenmeyer dari Zat Organik
Alat laboratorium dalam hal ini labu erlenmeyer, tentu tidak lepas
dari keberadaan adanya zat organik yang menempel pada permukaan
dinding labu erlenmeyer. Supaya percobaan mengenai perhitungan zat
organik pada sampel air sumur mendapatkan hasil yang akurat dan valid,
sebelumnya harus dilakukan pembebasan labu erlenmeyer dari zat organik
menggunakan air kran sebagai media bahan, dikarenakan air kran dapat
melarutkan keberadaan zat organik yang berada dalam labu erlenmeyer
dimana setelah dilakukan pemanasan dengan oven, penambahan 2,5 ml
asam sulfat dan 1 tetes KMnO4 maka akan membuat labu erlenmeyer
terbebas dari kandungan zat organik dan dapat dilakukan untuk
pemeriksaan selanjutnya yaitu zat organik pada sampel air sumur landasan
ulin. Penambahan asam sulfat sebenarnya adalah sebagai pereaksi
terhadap KMnO4 dimana prinsip dari metode asam pada pengukuran
permanganat. Berikut ini reaksi yang terjadi ketika pembebasan
erlenmayer dari zat organic.
Zat Organik + KMnO4 berlebih → CO2 + H2O
2. Pemeriksaan Zat Organik
Tahapan setelah pembebasan labu erlenmeyer dari zat organik,
selanjutnya adalah pemeriksaan zat organik dengan menggunakan metode
ttitrasi permanganometri. Memasukkan sampel air sumur sebesar 50 ml ke
dalam labu erlenmeyer yang telah terbebas dari zat organik. Penentuan zat
organik dengan cara oksidasi dapat dilakukan dalam suasana asam atau
basa. Diketahui bahwa air yang digunakan mengandung ion Cl < 300 ppm
sehingga menggunakan metode asam. Pada prinsipnya untuk penentuan
zat organik menggunakan metode asam, zat organik didalam sampel
dioksidasi oleh KMnO4 berlebih dalam keadaan asam dan panas. Sisa
KMnO4 direduksi dengan larutan asam oksalat berlebih sebanyak 15 ml
hingga larutan berubah warna menjadi bening dari yang awalnya berwarna
ungu pekat. Kelebihan asam oksalat dititrasi kembali dengan KMnO 4 atau
kalium permanganat sebanyak 2,5 ml dan menjadi warna orange dengan
reaksi :
2 KMnO4 + 5H2C2O4 + 3H2SO4 → 2MnSO4 + 10CO2 + K2SO4
Kalium permanganat merupakan zat pengoksidasi yang sangat kuat.
Pereaksi ini dapat dipakai tanpa penambahan indikator, karena mampu
bertindak sebagai indikator. Oleh karena itu pada larutan ini tidak
ditambahkan indikator apapun dan langsung ditambahkan dengan larutan
asam oksalat yang merupakan standar yang baik untuk standarisasi
permanganat dalam suasana asam. Larutan ini mudah diperoleh dengan
derajat kemurnian yang tinggi. Reaksi ini berjalan lambat pada temperatur
kamar dan biasanya diperlukan pemanasan hingga 60OC. bahkan bila pada
temperatur yang lebih tinggi reaksi akan berjalan makin lambat dan
bertambah cepat setelah terbentuknya ion mangan (II).
Hasil perhitungan untuk kandungan zat organik pada sampel air
sumur landasan ulin didapatkan sebesar 21,014 mg/l KMnO 4. Artinya
yang dihitung adalah banyaknya tiap nilai kandungan zat organik dalam
mg/l KMnO4 yang dibutuhkan untuk mengoksidasi senyawa organik
dalam 1 liter air. Menurut peraturan menteri kesehatan (Permenkes)
Nomor: 416/MenKes/Per/IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan
kualitas air menyatakan bahwa untuk parameter zat organik (KMnO 4)
kadar maksimum yang diperbolehkan yaitu 10 mg/l. Dari sini dapat
diketahui bahwa ternyata kandungan zat organik pada sampel air sumur
landasan ulin sangatlah tinggi, karena kandungan zat organiknya jauh
diatas standar baku mutu yang diperbolehkan. Hal ini kemungkinan
disebabkan oleh kondisi lingkungan dimana sampel air yang diambil.
3. Penentuan Faktor Ketelitian KMnO4 Zat Organik
Faktor ketelitian KMnO4 zat organik diperlukan agar hasil
perhitungan yang didapat dalam mencari kandungan zat organik pada
sampel air sumur landasan ulin menjadi akurat. Dimana volume titrasi
KMnO4 yang dibutuhkan sebanyak 4,5 ml untuk mereaksikan larutan asam
oksalat 5 ml menjadi berwarna merah muda. Dari volume KMnO4 yang
didapatkan, maka diperoleh hasil perhitungan untuk faktor ketelitian
KMnO4 zat organik sebesar 1,11.

VI. KESIMPULAN
Kesimpulan dari percobaan ini adalah :
1. Pengujian kandungan zat organik menggunakan metode titrasi
permanganometri dengan prinsip metode asam.
2. Hasil perhitungan faktor ketelitian KMnO4 zat organik sebesar 1,11 .
3. Hasil perhitungan untuk kandungan zat organik pada sampel air sumur
landasan ulin didapatkan sebesar 21,014 mg/l KMnO4.

DAFTAR PUSTAKA
Basset. J. etc. 1994. Buku Ajar Vogel, Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.
Erlangga, Jakarta.

Day, R.A.Jr & A.L. Underwood. 1999. Kimia Analisis Kuantitatif. Erlangga,
Jakarta.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Penerbit Kanius, Yogyakarta.

Febrian, M. B. 2008. Pengembangan Sensor Chemical.


http://www.google.co.id/url?
sa=t&source=web&cd=9&ved=0CEYQFjAI&url=http%3A%2F
%2Fwww.digilib.ui.ac.id%2Ffile%3Ffile%3Ddigital%2F122626-
KIM.006-08-Pengembangan%2520sensor_Pendahuluan.pdf
Diakses tanggal 8 Desember 2010.

Halim. 2007. Bahan Organik.


http://kmit.faperta.ugm.ac.id/artikel%20-%20organik.html
Diakses tanggal 8 Desember 2010.

Krisma, A. 2008. Penyisihan Besi dan Zat Organik dari Air Tanah Menggunakan
Ozon (AOP).
http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/632/jbptitbpp-gdl-anitakrism-31579-2-
2008ts-1.pdf
Diakses tanggal 8 Desember 2010.

Kuniawan, A. 2009. Penetapan Kadar Zat Organik (Bilangan Permanganat).


http://sodiycxacun.blogspot.com/2009/10/penetapan-kadar-zatorganik-
bilangan_09.html
Diakses tanggal 8 Desember 2010.

SMK Negeri 3 Kimia Madiun. 2008. Dekomposisi Zat Organik.


http://smk3ae.wordpress.com/2008/11/12/dekomposisi-zat-organik/
Diakses tanggal 8 Desember 2010.

SNI 06-6989.22-2004, 2004. Air dan Air Limbah - Bagian 22: Cara Uji Nilai
Permanganat Secara Titrimetri.
http://xa.yimg.com/kq/groups/9534928/152236470/name/SNI+06-
6989.22-2004.pdf
Diakses tanggal 8 Desember 2010.

Sodik. 2009. Penetapan Kadar Zat Organik (Bilangan Permanganat).


http://sodiycxacun.blogspot.com/2009/10/penetapan-kadar-zat-organik-
bilangan_09.html
Diakses tanggal 9 Desember 2010.
PERTANYAAN
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan bahan organik?
2. Jelaskan bagaimana memeriksa kandungan bahan organik pada suatu sampel!
JAWABAN
1. Zat organik adalah zat yang pada umumnya merupakan bagian dari binatang
atau tumbuh tumbuhan dengan komponen utamanya adalah karbon, protein,
dan lemak lipid. Zat organik ini mudah sekali mengalami pembusukan oleh
bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut
2. Memeriksa kandungan bahan organik pada suatu sampel dengan metode
permanganometri. Permanganometri merupakan metode titrasi dengan
menggunakan kalium permanganat, yang merupakan oksidator kuat sebagai
titran. Titrasi ini didasarkan atas titrasi reduksi dan oksidasi atau redoks.
Kalium permanganat telah digunakan sebagai pengoksida secara meluas lebih
dari 100 tahun. Reagensia ini mudah diperoleh, murah dan tidak memerlukan
indikator kecuali bila digunakan larutan yang sangat encer. Permanganat
beraksi secara beraneka, karena mangan dapat memiliki keadaan oksidasi +2,
+3, +4, +6, dan +7

Anda mungkin juga menyukai