Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH TERMODINAMIKA TERAPAN

POMPA PADA IRIGASI DAN PENGENDALIAN BANJIR

Dosen Pembimbing :
M S. ALIM

Disusun Oleh :

HARYATI HIE108017
EKA SUCI WULANDARI HIE108035
ADELIA FAULINA SARI HIE108060

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2010

KATA PENGANTAR

1
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa atas segala rahmat dan karunai-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah Termodinamika ini.
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah Termodinamika. Penyusunan laporan ini berdasarkan format yang telah
diberikan. Namun demikian, penulis menyadari keterbatasan yang dimiliki dalam
penyusunan makalah ini sehingga makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah
ini menjadi lebih baik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak M.S. Alim selaku dosen
pengajar dan pembimbing dalam penyusunan makalah ini. penulis mengharapkan
agar makalah ini dapat digunakan sebagaimana mestinya dan juga dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Banjarbaru, 18 Mei 2010

P
enulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
BAB II ISI……………………................................................................................3
BAB III PEMBAHASAN……..............................................................................17
BAB IV PENUTUP………………………………..………………………….…23
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................24

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Air merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan dibutuhkan dala
m kehidupan mahluk hidup. Selain untuk kebutuhan perkembangan fisiologis
mahluk hidup, air juga menjadi input bagi beragam upaya atau kegiatan mahluk
hidup dalam rangka mempertahankan dan atau menghasilkan sesuatu untuk
kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, air harus tersedia kapanpun
dan dimanapun dalam jumlah, waktu, dan mutu yang memadai. Dengan jumlah
air yang tersedia relatif tetap, sementara kebutuhan air semakin
meningkat, maka air dari sisi ketersediaan dan permintaannya perlu dikelola
atau diatur sedemikan rupa, sehingga air dapat disimpan jika berlebihan dan
selanjutnya dimanfaatkan dan didistribusikan jika pada waktunya diperlukan.
Munculnya permasalahan menyangkut air yang disebabkan oleh peningkatan
beragam kebutuhan dan kepentingan kehidupan mahluk hidup, pada
gilirannya berdampak terhadap terganggunya kon‐disi permintaan dan penyediaan
air. Peningkatan jumlah penduduk yang harus dibarengi oleh peningkatan
kebutuhan permukiman dan pangan (pertanian), pembangunan industri serta
sarana dan prasarana sosial ekonomi lainnya menyebabkan permintaan akan
air semakin tinggi. Untuk memenuhi permintaan tersebut, beragam teknologi
pemanfaatan air telah banyak dikembangkan sehingga kebutuhan air dapat
terpenuhi dalam jumlah yang memadai. Penggunaan pompa air yang digerakkan
dengan tenaga listrik menjadi pilihan utama saat ini. suatu model teknologi
irigasi yang menggunakan pompa air yang lebih tepat guna, efisien, dan
ekonomis sehingga dalam pengelolaannya tidak tergantung pada tenaga
listrik ataubahan bakar lainnya, membutuhkan biaya operasi dan peme‐
liharaan (OP) yang lebih sedikit.

Dewasa ini pengendalian banjir, drainase tanah, dan irigasi didasarkan


pada data-data ilmu yang akurat. Sebagai hasilnya adalah mungkin
memperkirakan ketepatan jumlah air yang diperlukan dan dengan demikian kita

4
dapat memilih jenis dan kelas pompa terbaik yang sesuai untuk persyaratan yang
telah ditetapkan. Salah satu penyebab terjadinya penurunan kualitas lingkungan
hidup, adalah terjadinya banjir dan genangan air pada musim hujan. Permasalahan
banjir sampai saat ini belum bisa diselesaikan secara menyeluruh, bahkan
cenderung semakin kompleks permasalahannya. Perubahan fungsi lahan, yang
semula merupakan lahan terbuka berubah menjadi pemukiman, bisa memperbesar
kemungkinan terjadinya banjir. Pengendalian banjir selama ini dilaksanakan
dengan pembuatan dan pemeliharaan saluran drainase. Paradigma lama yang
mengkaitkan banjir dengan drainase ternyata tidak bisa menyelesaikan masalah
secara menyeluruh. Paradigma baru dalam pengendalian banjir selain pembuatan /
pemeliharaan saluran drainase adalah dengan pengelolaan air hujan. Air hujan
yang jatuh ke tanah dikelola dengan teknik tertentu sehingga tidak menyebabkan
terjadinya banjir, tetapi diresapkan ke dalam tanah sehingga menjadi air tanah..
Untuk melindungi kawasan ini dari banjir, rekomendasi yang diharapkan mampu
mengatasi masalah ini adalah dengan pembuatan tanggul sungai dan pemasangan
pompa air. Tanggul sungai dimaksudkan untuk melindungi lokasi dari luapan
banjir, sedangkan pompa air diperlukan untuk membuang ganangan air hujan dari
lokasi studi sehingga penggunaan pompa dalam kehidupan sehari – hari sangat
penting yaitu untuk memindahkan fluida kerja dari satu tempat ke tempat lain.

1.2 . Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui jenis pompa dan
penggunaanya pada proses perpompaan dalam irigasi dan pengendalian banjir
serta untuk mengetahui hubungan pompa pada Termodinamika.

1.3.Metode Penulisan

Dalam pembuatan makalah ini, metode yang digunakan adalah metode


kepustakaan, yaitu dengan mengumpulkan data-data dari literatur-literatur
bersangkutan dengan pengunaan pompa pada irigasi dan drainase untuk
pengendalian banjir. Selain itu pengumpulan data juga di dapat dari pencariam
informasi-informasi dari internet.

5
BAB II
ISI

2.1. Pengertian Pompa


Pompa adalah suatu alat atau mesin yang digunakan untuk memindahkan
cairan dari suatu tempat ke tempat yang lain melalui suatu media perpipaan
dengan cara menambahkan energi pada cairan yang dipindahkan dan berlangsung
secara terus menerus. Pompa secara sederhana didefinisikan sebagai alat
transportasi fluida cair. Jadi, jika fluidanya tidak cair, maka belum tentu pompa
bisa melakukannya.

Pompa beroperasi dengan prinsip membuat perbedaan tekanan antara


bagian masuk (suction) dengan bagian keluar (discharge). Dengan kata lain,
pompa berfungsi mengubah tenaga mekanis dari suatu sumber tenaga (penggerak)
menjadi tenaga kinetis (kecepatan), dimana tenaga ini berguna untuk mengalirkan
cairan dan mengatasi hambatan yang ada sepanjang pengaliran.

Gambar .1. Pompa

Pompa memiliki dua kegunaan utama:


1) Memindahkan cairan dari satu tempat ke tempat lainnya (misalnya air dari
aquifer bawah tanah ke tangki penyimpan air)

6
2) Mensirkulasikan cairan sekitar sistim (misalnya air pendingin atau
pelumas yang melewati mesin-mesin dan peralatan)

Salah satu jenis pompa pemindah non positip adalah pompa sentrifugal
yang prinsip kerjanya mengubah energi kinetis (kecepatan) cairan menjadi energi
potensial (dinamis) melalui suatu impeller yang berputar dalam casing.
Sesuai dengan data-data yang didapat, pompa reboiler debutanizer di
Hidrokracking Unibon menggunakan pompa sentrifugal single - stage double
suction.

Keunggulan Pompa Sentrifugal


 Prinsip kerjanya sederhana
 Mempunyai banyak jenis
 Konstruksinya kuat dan perawatannya mudah
 Tersedia berbagai jenis pilihan kapasitas output debit air
 Poros motor penggerak dapat langsung disambung ke pompa

Bagian-bagian Utama Pompa Sentrifugal


Secara umum bagian-bagian utama pompa sentrifugal dapat dilihat sepert gambar
berikut :

Gambar. 2. Rumah Pompa Sentrifugal

7
A.Stuffing Box
Stuffing Box berfungsi untuk mencegah kebocoran pada daerah dimana poros
pompa menembus casing.

B. Packing
Digunakan untuk mencegah dan mengurangi bocoran cairan dari casing pompa
melalui poros. Biasanya terbuat dari asbes atau teflon.

C. Shaft (poros)
Poros berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari penggerak selama
beroperasi dan tempat kedudukan impeller dan bagian-bagian berputar lainnya.

D. Shaft sleeve
Shaft sleeve berfungsi untuk melindungi poros dari erosi, korosi dan keausan pada
stuffing box. Pada pompa multi stage dapat sebagai leakage joint, internal bearing
dan interstage atau distance sleever.

E. Vane
Sudu dari impeller sebagai tempat berlalunya cairan pada impeller.

F. Casing
Merupakan bagian paling luar dari pompa yang berfungsi sebagai pelindung
elemen yang berputar, tempat kedudukan diffusor (guide vane), inlet dan outlet
nozel serta tempat memberikan arah aliran dari impeller dan mengkonversikan
energi kecepatan cairan menjadi energi dinamis (single stage).

G. Eye of Impeller
Bagian sisi masuk pada arah isap impeller.

H. Impeller
Impeller berfungsi untuk mengubah energi mekanis dari pompa menjadi energi
kecepatan pada cairan yang dipompakan secara kontinyu, sehingga cairan pada
sisi isap secara terus menerus akan masuk mengisi kekosongan akibat
perpindahan dari cairan yang masuk sebelumnya.

8
I. Wearing Ring
Wearing ring berfungsi untuk memperkecil kebocoran cairan yang melewati
bagian depan impeller maupun bagian belakang impeller, dengan cara
memperkecil celah antara casing dengan impeller.

J. Bearing
Beraing (bantalan) berfungsi untuk menumpu dan menahan beban dari poros agar
dapat berputar, baik berupa beban radial maupun beban axial. Bearing juga
memungkinkan poros untuk dapat berputar dengan lancar dan tetap pada
tempatnya, sehingga kerugian gesek menjadi kecil.

K. Casing
Merupakan bagian paling luar dari pompa yang berfungsi sebagai pelindung
elemen yang berputar, tempat kedudukan diffusor (guide vane), inlet dan outlet
nozel serta tempat memberikan arah aliran dari impeller dan mengkonversikan
energi kecepatan cairan menjadi energi dinamis (single stage).

2.1. Pompa Untuk Irigasi


A. Jenis Irigasi

Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan


pertaniannya. Dalam dunia modern saat ini sudah banyak model irigasi yang
dapat dilakukan manusia. Pada zaman dahulu jika persediaan air melimpah karena
tempat yang dekat dengan sungai atau sumber mata air, maka irigasi dilakukan
dengan mangalirkan air tersebut ke lahan pertanian. Namun demikian irigasi juga
biasa dilakukan dengan membawa air dengan menggunakan wadah kemudian
menuangkan pada tanaman satu-persatu. Untuk irigasi dengan model seperti ini di
Indonesia biasa disebut menyiram. Sebagaimana telah diungkapkan, dalam dunia
modern ini sudah banyak cara yang dapat dilakukan untuk melakukan irigasi dan
ini sudah berlangsung sejak Mesir Kuno.

Jenis- jenis irigasi di antaranya adalah:

Irigasi Permukaan

9
Irigasi Permukaan merupakan sistem irigasi yang menyadap air langsung di
sungai melalui bangunan bendung maupun melalui bangunan pengambilan bebas
(free intake) kemudian air irigasi dialirkan secara gravitasi melalui saluran sampai
ke lahan pertanian. Di sini dikenal saluran primer, sekunder dan tersier.
Pengaturan air ini dilakukan dengan pintu air. Prosesnya adalah gravitasi, tanah
yang tinggi akan mendapat air lebih dulu.

Irigasi Lokal

Sistem ini air distribusikan dengan cara pipanisasi. Di sini juga berlaku gravitasi,
di mana lahan yang tinggi mendapat air lebih dahulu. Namun air yang disebar
hanya terbatas sekali atau secara lokal.

Irigasi dengan Penyemprotan

Penyemprotan biasanya dipakai penyemprot air atau sprinkle. Air yang disemprot
akan seperti kabut, sehingga tanaman mendapat air dari atas, daun akan basah
lebih dahulu, kemudian menetes ke akar.

Irigasi Tradisional dengan Ember

Di sini diperlukan tenaga kerja secara perorangan yang banyak sekali. Di samping
itu juga pemborosan tenaga kerja yang harus menenteng ember.

Irigasi Pompa Air

Air diambil dari sumur dalam dan dinaikkan melalui pompa air, kemudia dialirkan
dengan berbagai cara, misalnya dengan pipa atau saluran. Pada musim kemarau
irigasi ini dapat terus mengairi sawah.

Irigasi Tanah Kering dengan Terasisasi

Di Afrika yang kering dipakai sustem ini, terasisasi dipakai untuk distribusi air.

Empat jenis sistem irigasi yang umum digunakan saat ini adalah:
1. Kolam

10
2. pengatur
3. alur
4. penyiraman
Dengan berpatokan pada pompa ini, tiga sistem yang pertama
mensyaratkan jumlah daya yang akan dikembangkan pada saat air disedot dari
bawah tanah atau suplai air permukaan. Sistem terakhir, yaitu penyiraman, bisa
mensyaratkan daya besar yang cukup baik keran kehilangan air dalam pemipaan
antara pompa dan penyiram serta daya tekanan yang diperlukan pada bagian
dalam penyiram sangat kecil. Tekanan nosel minimum yang diperlukan untuk
penyiram ini cukup bervariasi yakni sekitar 20 hingga 100 psi, sedangkan nosel
besar menggunakan tekanan yang lebih besar. Daya yang akan dikembangkan
pompa dalam pelayanan irigasi ini mungkin tinggi apabila air yang digunakan
diperoleh dari sumur yang dalam. Akan tetapi, dengan pasokan air permukaan
atau sumur dangkal, maka pada umumnya daya yang diperlukan akan rendah.

B. Jenis – jenis pompa


Sejumlah pompa sentrifugal dengan jenis berbeda-beda digunakan untuk
kepentingan irigasi. Jenis pompa ini bervariasi mulai unit penggerak-traktor
portabel kecil hingga pompa propeler besar dan pompa aliran campuran. Kesemua
faktor ini akan bergantung pada jenis irigasi yanng dikerjakan, sumber suplai air,
kondisi cuaca, dan lain sebagainya.
Pompa portabel dengan daya pompa itu sendiri yang digunakan untuk
kepentingan irigasi. Pada umumnya, pompa ini dirakit agar dapat bekerja secara
otomatis. Sedangkan pompa sejenis tetapi tanpa mesin dirakit sebagai
perlengkapan temporer untuk menggerakkan poros traktor. Kapasitas yang
diperlukan pompa portabel untuk layanan irigasi kira-kira diatas 6.000 gpm.
Sedangkan untuk irigasi jenis penyiram, kita acap menggunakan pompa
penggerak-mesin jenis rumah keong dua tingkat.
Penggunaan pompa turbin untuk kepentingan irigasi di Amerika Serikat
sangat luas. Barangkali pompa turbin yang paling sering diaplikasikan untuk
pelayanan sumur dalam-pipa buangnya disalurkan dengan arah yang tepat ke
suatu lapangan yang akan dialiri. Pompa turbin gandeng-tertutup vertikal acap

11
digunakan sebagai penguat (boster) untuk irigasi tanah apabila air yang dialirkan
ke field temperaturnya sangat rendah. Untuk daerah-daerah yangn jauh dari jalur
raya, maka pompa yang akan digunakan adalah pompa-mesin diesel atau
bensin.Pada umumnya pompa turbin vertikal tadi bisa kita pilih, tergantung pada
aliran yang diperlukan rendah atau menengah sedangkan daya yang akan
dikembangkan tinggi. Ini merupakan karakteristik yang lazim untuk pelayanan
sumur dalam.
Pompa penggerak motor gandeng tertutup mendapatkan berapa
penggunaan untuk irigasi, baik sebagai unit permanen yang ditanahkan, maupun
sebagai unit temporer yanng ditanahkan pada kemiringan gelincir dari tempat
penampungan ke sungai atau danau. Dengan menyusun kedua pompa ini
sedemikian rupa, maka pipa buang fleksibel dapat kita gunakan diantara pompa
dan pipa untuk mengalirkan air ke medan. Ini memungkinkan pompa tersebut
bergerak turun-naik pada gelincir sesuai dengan perubahan permukaan air.
Pompa di bawah permukaan air mengaplikasikan beberapa penggunaan
untuk suplai air irigasi. Pompa propeler di bawah permukaan air ini banyak
digunakan untuk dok galian yang bukan pengairan yang juga digunakan untuk
beberapa proyek irigasi yang lebih besar. Bila kita menggunakan pompa propeler
24 inci yang dioperasikan di bawah permukaan air, maka kita akan dapat
mengalirkan air kira-kira 40.000 gpm dengan daya 40 lt, sedangkan pompa
propeler berukuran 16 inci dengan desain yang sama bisa mengalirkan air sekitar
8.000 gpm pada daya 50 lt.
Pompa propeler aneka tingkat dan satu tingkat standar serta pompa aliran
aksial banyak digunakan untuk lift rendah hingga menengah pada kapasitas yang
besar. Sebagaimana diperlihatkan dalam ilustrasi ini, pompa jenis propeler tadi
biasanya disusun sedemikian rupa agar dapat menyangga kuda-kuda di bawah
motor, kolom yang ditanam secara tegak lurus ke dalam air. Jarak di antara
belokan (elbow) saluran dengan motor bisa saja berbeda, apabila diperlukan. Ini
memungkinkan kita menempatkan motor penggerak di atas permukaan air yang
tinggi. Desain pompa pelumas-air atau pelumas-minyak bisa saja digunakan untuk
pelayanan tersebut. Pada umumnya, pompa kuningan merupakan pompa yang

12
sangat memenuhi untuk kepentingan irigasi. Sebagian besar pompa jenis ini dapat
dengan mudah disangga pada kerangka baja struktur yang relatif ringan.
Pompa parit merupakan pompa propeler rancangan standar dengan harga
ekonomis yang tentu saja dapat terjangkau yang dirakit untuk penggunaan daya di
atas 20 ft dan kapasitas kira-kira 10.000 gpm. Pompa tanggul-lereng merupakan
unit jenis propeler yang dirancang sedemikian rupa agar dapat menyangga
permukaan air yang miring pada suatu tanggul. Biasanya pompa-pompa tadi
dipasang di dalam tabung protektif-misalnya. Pompa 20 inci dimasukkan ke
dalam tabung 34 inci; tabung 16 inci dimasukkan ke dalam 28 inci; dan tabung 14
inci dimasukkan ke dalam tabung 24 inci. Tabung-tabung ini bisa dipasang pada
kereta luncur kayu sederhana guna memudahkan dan menjamin pergerakkan
pompa masuk atau keluar air. Peluncur dengan biaya rendah tidak jarang dirakit
melebihi ujung atas pompa tersebut agar memungkinkan motor terproteksi. Biaya
yang diperlukan untuk instalasi pompa tanggul ini sangat ekonomis.
Pompa air buangan merupakan unit pompa turbin vertikal satu tingkat
yang dirancang untuk pemanfaatan ulang air selokan dalam pelayanan irigasi.
Salah satu produsen merakit unit tadi dalam empat rancangan standar yaitu 2; 3;
5; dan 7 daya kuda (hp) yang masing-masing unit tersedia dalam tiga ukuran
yakni 6; 8; dan 12 ft. Pompa ini dirancang sedemikian rupa agar dapat kita
operasikan dalam penampungan air lalu air yang mengalir akan dipompakan
kembali ke suatu lereng yang tinggi untuk penggunaan ulang, konservasi suplai
air dan memungkinkan lebih banyak air untuk kepentingan irigasi. Kapasitas
pompa tersebut sekitar 1.000 gpm dengan daya kira-kira 15 hingga 30 ft. Untuk
daya yang lebih rendah dalam kapasitas yang sama, kita menggunakan pompa
selokan.

C. Pemilihan Pompa
Kapasitas: Kapasitas yang diperlukan berbeda-beda tergantung pada
jumlah uap dalam tanah, kondisi cuaca, dan lain-lain. Tanah gersang memerlukan
11.000 hingga 1.600.000 galon air per akre setiap tahunnya. Untuk mendapatkan
sejumlah air untuk kepentingan irigasi, kita dapat mencarinya dengan mengurangi
total air yang diperlukan untuk panen, uap air dalam tanah, dan curah hujan.

13
Perhitungan dasar unit dalam irigasi adalah akre-inci = 27.154 galon = 112,2 gpm
per 12 jam/hari pemompaan = 0,25 detik-ft = 0,2479 akre-ft. Dengan perhitungan
ini, kita dengan mudah mendapatkan perhitungan lainnya. Panen seperti gula-bit,
kentang, rumput untuk makanan sapi, jagung, terigu, gandum, ragi, kacang, dan
buncis, memerlukan air kira-kira 1,0 sampai 3,5 akre-ft per akre/tahun.
Kehilangan air dalam pelayanan irigasi untuk jenis penyiraman pada musim hujan
atau musim kemarau berkisar antara 20 hingga 40 persen. Kehilangan air yang
cukup memprihatinkan ini perlu ditanggulangi dengan cara pemasokkan air
tambahan ke field. Perhitungan jumlah daya penyemprot dengan aliran perdaya
untuk mendapatkan aliran total sangat kita perlukan yakni dengan menambah 2
persen aliran untuk menutupi kebocoran yang mungkin timbul. Penyemprot ini
membuang 1 hingga 25 gpm, bergantung pada ukuran pipa, tekanan internal, dan
lain-lain.
Daya: Untuk irigasi horisontal yang kemiringan tanahnya mempengaruhi
aliran air, pompa dimaksud hanya perlu mengembangkan daya yang cukup untuk
menaikkan air ke titik distribusi. Ini memungkinkan pemusatan areal dalam
instalasi yang lebih kecil. Pada pertanian besar, air dipompakan ke daya-luar lalu
air tadi akan mengalir ke tempat pemanenan. Kehilangan pemipaan dan perkakas,
daya pada ketel, dan lift isap selanjutnya perlu dihitung dengan menjalankannya
sebagai rangkaian indeks. Penyiram menyaratkan tekanan internal 25 hingga100
psi, sedangkan nosel yang lebih besar memerlukan tekanan yang lebih besar pula
karena pipa pembuangannya lebih besar. Pompa ini perlu dikembangkan hingga
mendapatkan daya yang cukup agar dapat menggerakkan lift isap, dan gesekkan
dalam pemipaan, perkakas, dan daya internal (sekitar 20 psi) serta pengaliran air
ke nosel pada tekanan-internal yang diperlukan. Pada sistem penyiram yang
berlaku, suatu pompa penguat (boster) mungkin diperlukan jika pompa yang
tersedia tidak dapat mengembangkan tekanan yang cukup. Ini acap kali dilakukan
pada pompa turbin gandeng vertikal jenis gandeng-tertutup untuk perhitungan
dayanya.
Bahan-bahan: Pompa kuningan sangat sesuai untuk sebagian besar air
ringan, walaupun sebagian konstruksi pompa baja dan pompa besi juga dapat kita
gunakan.

14
Penggerak : penggerak yang biasa digunakan adalah motor, mesin diesel
dan bensin, turbin uap, tetapi penggerak yang paling banyak digunakan adalah
mesin diesel dan bensin. NPSH: Cobalah melengkapi npsh sebanyak-banyaknya,
khususnya jenis pompa horisontal.
Pengendali: Kontrol mulai dan berhenti tidak dapat dipisahkan karena
akurasi yang ekstrem untuk regulasi aliran tidak diperlukan.
Pemipaan: dengan pompa portabel, penggenangan lapangan harus cukup
dalam agar dapat merendam penyaring-isap dan katup pedal. Penyaring silindris
dan model kura-kura perlu dilengkapi dengan pipa isap pompa. Sedangkan untuk
penyiram, ukuran jalur utama 10 psi atau kurang. Selanjutnya, gunakan pipa yang
lebih besar jika jumlah pipa yang tersedia tetap, biaya pemompaan per jam, dan
biaya pompa itu sendiri melebihi biaya tambahan ukuran pipa berikutnya.
Perusahaan pompa Johnston menyarankan pipa berukuran 3 inci untuk kapasitas
50 sampai 100 gpm, pipa 4 inci untuk kapasitas 100 hingga 200 gpm, pipa 5 inci
untuk kapasitas 200 sampai 350 gpm, dan untuk kapasitas 350 hingga 600 gpm
diperlukan pipa berukuran 6 inci. Jalur suplai portabel tidak sesuai untuk kapasitas
di atas 600 gpm.
Biaya pemompaan: Total biaya yang diberlakukan antara sekitar 3 dolar
dan 42 dolar per akre-ft tiap musimnya untuk pompa-pompa yang digerakkan oleh
motor.

2.2. Pengendalian Banjir dan Drainase

Drainase adalah sistem saluran pembuangan air hujan yang menampung


dan mengalirkan air hujan dan air buangan yang berasal dari daerah terbuka
maupun dari daerah terbangun. Bila dilihat dari fungsinya, drainase ini untuk
menampung, mengalirkan, dan memindahkan air hujan secepat mungkin dari
daerah tangkapan ke badan penerima. Drainase penting untuk mengatur suplai air
demi pencegahan banjir.

15
Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air
tanah dalam kaitannya dengan salinitas. Sehingga, drainase tidak hanya
menyangkut air permukaan tapi juga air tanah.

Kegunaan drainase antara lain adalah:

a) Mengeringkan daerah becek dan genangan air;


b) Mengendalikan akumulasi limpasan air hujan yang berlebihan dan
memanfaatkan sebesar-besarnya untuk imbuhan air tanah;
c) Mengendalikan erosi, kerusakan jalan dan bangunan-bangunan;
d) Pengelolaan kualitas air.

Klasifikasi sistem drainase dapat beberapa kelompok antara lain:


a) Sistem drainase makro, seperti sungai atau kanal

b) Sistem drainase mikro yang berupa:


• sistem saluran drainase primer, yang menerima buangan air hujan baik
dari saluran sekunder maupun saluran lainnya dan mengalirkan air hujan
langsung kebadan penerima.
• Sistem saluran drainase sekunder yang mengalirkan buangan air hujan
langsung ke saluran drainase primer
• sistem saluran drainase tersier adalah cabang dari sistem sekunder yang
menerima buangan air hujan yang berasal dari persil bangunan atau
saluran lokal.

A. Pompa Drainase
Pemulihan lahan dengan merencanakan drainase merupakan fase yang
penting dari penyediaan luas ukuran tanah yang lebih bagi suatu pertanian.
Pelayanan drainase mirip dengan irigasi dalam banyak hal-kapasitas yangn
dikehendaki bagi daya angkat dari dasar sampai menengah biasanya besar.
Baling-baling vertikal, pompa tak tersumbat, dan pompa aliran aksial-campuran
banyak digunakan untuk pelayanan ini sebagaimana digunakan untuk unit-unit
horisontal. Pada tahun-tahun terakhir ini, pompa-pompa vertikal tampil untuk
menggantikan pompa yang lebih populer dalam beberapa areal karena pompa tadi

16
menggunakan ruang yang lebih kecil, memiliki efisiensi tinggi, dan relatif mudah
dipasang. Pompa aliran-campuran acap digunakan apabila daya angkatnya 30
hingga 60 ft.

B. Pengendalian Banjir
Fungsi pengendalian banjir dan drainase acap digabungkan dalam suatu
stasiun pada saat kedua pengendalian tersebut diperlukan. Pengendalian ini juga
memasok air untuk tujuan irigasi. Pompa yang telah distandarkan digunakan unuk
stasiun kecil dan menengah, tetapi dalam stasiun besar pompa ini dirancang secara
khusus untuk lokasi tertentu, instalasi, dan kondisi alirannya. Pompa poros
tambahan mendapatkan banyak apikasi dalam drainase yang lebih
kecil,pengendalian banjir, dan stasiun irigasi.

C. Pemilihan Pompa
Kapasitas: Dengan sistem drainase sub permukaan, pengaliran air melalui
pompa perlu ditangani kira-kira 7 gpm per akre; untuk drainase selokan atau
permukaan rata dan panen lapangan memerlukan kira-kira 10 gpm/akre; untuk
panen sayur-sayuran diperlukan sekitar 15 gpm/akre. Kapasitas untuk setiap
instalasi drainase atau pengendalian banjir perlu mencakup pengaliran air dari
gravitasi ditambah perembesan. Catatan dari data yang diperlukan untuk
menentukan kapasitas pompa dapat kita peroleh dari Geological Survey, Weather
Bureau, Soil Conservation Service, dan Army Corps of Engineers Amerika
Serikat. Secara umum, produsen pompa ini perlu mendapat masukkan data
mengenai kapasitas pompa yang akan dirakit. Data-data tadi harus mencakup
tingkat banjir baik yang rendah maupun yang tinggi, daerah yang akan dialiri,
koefesien drainase, rembesan air, jenis tanah, dan daya pemompaan pada tingkat
banjir yang berbeda.
Daya: Daya ini berbeda dengan instalasi pompa yang kita temui pada
bahasan sebelumnya. Akan tetapi, pada umumnya pompa pengendalian banjir dan
drainase dioperasikan pada daya yang rendah yaitu diatas 60 ft. Oleh karena itu,
pastikan menghitung daya untuk kondisi permukaan air yang minimum. Bahan-
bahan: Pompa berlapis kuningan sangat memuaskan kecuali untuk cairan kesat

17
yang sangat keras yang memerlukan penggunaan bahan tertentu. Penggerak:
Penggerak yang digunakan meliputi motor listrik, mesin dengan bahan bakar
internal, atau juga turbin uap. NPSH: Tergantung pada daya minimum yang
diperlukan. Pengendalian: Pengendalian yang umum digunakan merupakan
kecepatan variabeldan apungan on-off (hidup-mati). Beberapa pompa
menggunakan katup impeler yang dapat disesuaikan baik terhadap daya maupun
kapasitas. Ini memberikan efisiensi tinggi melebihi gugus yang ditetapkan.
Pengepakan: Paking karet sederhana sangat banyak digunakan untuk pompa
dengan daya yang rendah.
Jumlah Pompa: Jika anda menemukan perbedaan kecil pada lift, misalnya
tidak lebih dari 10 ft, anda boleh menggunakan suatu pompa kecuali tidak
mencukupi kapasitas. Selanjutnya, unit tambahan perlu digunakan agar dapat
memperoleh kapasitas yang diinginkan. Akan tetapi, bila anda menemukan
perbedaan dalam lift yang lebih besar, misalnya 25 ft atau lebih, maka anda perlu
menggunakan dua pompa atau lebih. Pilihlah salah satunya untuk pengoperasian
kondisi lft-rendah sedangkan yang satunya lagi untuk kondisi lift-menengah, dan
kemungkinan yang ketiga untuk kondisi lift-tinggi. Unit lift-tinggi ini acap berupa
pompa aliran-campuran, sedangkan untuk lift-menengahdan lift-rendah pada
umumnya menggunakan jenis propeler. Ini memungkinkan pengoperasian
masing-masing pompa tadi dalam gugus daya efisiensi yang maksimum. Suatu
skema alternatif menggunakan pompa tanggul dengan penggerak kecepatan-
variabel. Yang terakhir ini lebih disukai oleh para insinyur. Pemipaan: Proteksi
erosi diberikan untuk saluran isap dan saluran buang. Gerbang dan pintu curah
dapat anda gunakan untuk mengatasi aliran gravitasi pada saat permukaan air
meluap yang diikuti dengan penghentian pompa.

2.3. DRAINASE AIR BADAI


Pengendalian banjir sepenuhnya otoritas negara bagian atau pemerintah
Federal karena wilayahnya relatif luas, yang pada umumnya memungkinkan
keterlibatan satu atau lebih negara bagian. Akan tetapi, drainase jalan dan jalan
lingkar dalam perkotaan menjadi otoritas pemerintah lokal, khusunya untuk
kawasan yang curah hujannya sangat besar. Aliran gravitasi memberikan arti

18
pengaliran air hujan dalam banyak daerah. Pengaliran ini akan berhasil jika
saluran utama dan lateral cukup besar untuk menangani aliran tersebut.
Demikian juga, aliran tadi harus diperluas pada selang waktu tertentu agar
dapat menampung banjir sesuai dengan pertumbuhan kota sekalipun demikian,
beberapa kota berada dalam kawasan yang air hujannya tidak dialirkan secara
gravitasi. Ini bisa terjadi apabila tanah didrainase di bawah permukaan air yang
berdekatan dengan sungai, danau, atau teluk. Dua kota pada kasus kita ini adalah
New Orleans, Los Angeles, dan Detroit, Michigan.
Untuk pelayanan ini, acap digunakan pompa aliran-campuran vertikal atau
pompa propeler jenis difuser aliran-aksial. Guna mendapatkan keamanan
maksimal, saluran pipa masuk air hujan disalurkan ke suatu tempat air dalam yang
besar yang kita kenal sebagai perigi, kemudian pompa tadi akan menyedotnya dari
perigi tersebut. Saluran ini dipipakan ke pipa buang yang berdekatan dengan
sungai, danau, atau teluk atau bahkan ke suatu saluran yang akan menyalurkannya
ke titik pembuangan sedemikian rupa. Daya yang diperlukan adalah sedang, tidak
lebih dari 50 ft, tetapi bila anda memerlukan kapasitas lebih, kapasitas tadi dapat
ditingkatkan menjadi 500 ft kubik/detik untuk pompa yang umum digunakan.
Dalam pelayanan ini, kita menggunakan pompa aliran-campuran yang pada
umumnya berputar pada kecepatan rendah yaitu antara 200 hingga 225 rpm.

19
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Termodinamika
Termodinamika merupakan salah satu bidang terpenting dalam ilmu
pengetahuan kerekayasaan. Cara kerja kebanyakan sistem dapat dijelaskan dengan
termodinamika, demikian pula mengapa pelbagai sistem tertentu tidak bisa
bekerja seperti yang diinginkan, serta mengapa sistem lainnya sama sekali tidak
mungkin bekerja
Terdapat empat Hukum Dasar yang berlaku di dalam system
termodinamika, yaitu
• Hukum Awal (Zeroth Law) Termodinamika
Hukum ini menyatakan bahwa dua sistem dalam keadaan setimbang dengan
sistem ketiga, maka ketiganya dalam saling setimbang satu dengan lainnya.
• Hukum Pertama Termodinamika
Hukum ini terkait dengan kekekalan energi. Hukum ini menyatakan perubahan
energi dalam dari suatu sistem termodinamika tertutup sama dengan total dari
jumlah energi kalor yang disuplai ke dalam sistem dan Kerja yang dilakukan
terhadap sistem.
• Hukum kedua Termodinamika
Hukum kedua termodinamika terkait dengan entropi. Hukum ini menyatakan
bahwa total entropi dari suatu sistem termodinamika terisolasi cenderung untuk
meningkat seiring dengan meningkatnya waktu, mendekati nilai maksimumnya.
• Hukum ketiga Termodinamika
Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol absolut. Hukum ini
menyatakan bahwa pada saat suatu sistem mencapai temperatur nol absolut,
semua proses akan berhenti dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum.
Hukum ini juga menyatakan bahwa entropi benda berstruktur kristal sempurna
pada temperatur nol absolut bernilai nol.

20
3.2. Termodinamika Pada Pompa

Pada pompa terjadi perubahan energy, yaitu dari energy listrik menjadi
energy fluida. Prosesnya yaitu energi listrik akan diubah menjadi energi mekanik
pada motor listrik, energi mekanik tersebut adalah putaran poros motor listrik
yang akan diteruskan ke poros pompa. Pada pompa terjadi perubahan energi
mekanik menjadi energi fluida, fluida yang keluar dari pompa mempunyai energi
yang lebih tinggi dibanding sebelum masuk pompa.

Gambar .3. Konversi energi pada pompa atau kompresor

Hal menunjukkan bahwa energi selalu kekal, meskipun terjadi perubahan


bentuk energy sesuai dengan hukum Termodinamika 1 yang menyatakan Energi
tidak dapat diciptakan atau dilenyapkan, energi hanya dapat diubah dari bentuk
satu kebentuk lainnya.

3.3. Siklus Rankine


Pada Siklus Rankine terjadi siklus termodinamika yang mengubah
panas menjadi kerja, hal ini kerja pompa berhubungan dengan turbin.
Panas disuplai secara eksternal pada aliran tertutup, yang biasanya
menggunakan air sebagai fluida yang bergerak.

21
Siklus Rankine terkadang diaplikasikan sebagai siklus Carnot,
terutama dalam menghitung efisiensi. Perbedaannya hanyalah siklus ini
menggunakan fluida yang bertekanan, bukan gas. Efisiensi siklus Rankine
biasanya dibatasi oleh fluidanya.

Fluida pada Siklus Rankine mengikuti aliran tertutup dan


digunakan secara konstan. Berbagai jenis fluida dapat digunakan pada
siklus ini, namun air dipilih karena berbagai karakteristik fisika dan kimia,
seperti tidak beracun, terdapat dalam jumlah besar, dan murah.

Gambar.4. Bagian dari siklus Rankine

Proses termodinamika dari siklus Rankine tersebut adalah sebagai


berikut:

1-2 Proses kompresi adiabatis berlangsung pada pomp

2-3 Proses pemasukan panas pada tekanan konstan terjadi boiler

3-4 Proses ekspansi adiabatis berlangsung pada turbin

4-1 Prose pengeluaran panas pada tekanan konstan

22
Secara umum terdapat 4 proses dalam siklus Rankine, setiap siklus
mengubah keadaan fluida (tekanan dan/atau wujud).

• Proses 1: Fluida dipompa dari bertekanan rendah ke tekanan tinggi dalam


bentuk cair. Proses ini membutuhkan sedikit input energi.
• Proses 2: Fluida cair bertekanan tinggi masuk ke boiler di mana fluida
dipanaskan hingga menjad uap pada tekanan konstan menjadi uap jenuh.
• Proses 3: Uap jenuh bergerak menuju turbin, menghasilkan energi listrik.
Hal ini mengurangi temperatur dan tekanan uap, dan mungkin sedikit
kondensasi juga terjadi.
• Proses 4: Uap basah memasuki kondenser di mana uap diembunkan dalam
tekanan dan temperatur tetap hingga menjadi cairan jenuh.

3.4. NPSH (Net Positive Suction Head)

NPSH didefinisikan sebagai head yang menyebabkan zat cair


mengalir melalui pipa suction dan akhirnya masuk ke pompa. NPSH dibagi
dalam dua macam :
1. NPSH yang diperlukan (NPSH - R)
- Merupakan fungsi dari desain pompa, bervariasi terhadap
pemakaian pompa, kapasitas dan putaran pompa.
- Digunakan untuk mengatasi headloss internal dalam pompa.
- Terdapat pada brosur pompa dan diberikan oleh pembuat pompa.
2. NPSH yang tersedia (NPSH – A)
- Adalah suction head (tekanan atmosfer yang bekerja pada
permukaan zat cair suction ditambah atau dikurangi static suction head
dikurangi headloss di sepnjang pipa suction)
- yang dimiliki zat cair pada sisi suction pompa dikurangi dengan
tekanan uap jenuh zat cair pada temperatur pemompaan.

23
Pa

hf
Pv
Vs2/2g

hs

pompa

Gambar .5. Sistem dengan statis suction head untuk perhitungan NPSH-A

Pa Pv
NPSH − A = + hs − hf −
ρg ρg

dimana :
NPSH-A = NPSH yang tersedia (m)
Pa = tekanan atmosfer (N/m2)
hs = static suction head (m)
hf = friction losses (m)
Pv = tekanan uap jenuh zat cair (kg/ m2)
ρ = massa jenis zat cair (kg/ m3)

pompa

hf

Pa
24
hs
Pv

Vs2/2g
Gambar 6. Sistem dengan statis suction lift untuk perhitungan NPSH-A

NPSH mempunyai efek dalam pemilihan pompa, karena


menentikan besarnya head 25ystem dan pompa. Head yang menyebabkan
zat cair mengalirmelalui pipa suction dan akhirnya masuk ke pompa.
Hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan pompa adalah
(Moelyowati,I., 1992) :
1. NPSH-A (yang tersedia) harus lebih besar atau sama dengan NPSH-R
(yang diperlukan) oleh pompa.
2. Sistem yang menghisap zat (suction) atau yang memiliki suction lift,
karena NPSH 25ystem hanya berasal dari tekanan atmosfer saja.

BAB IV

25
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Pompa adalah suatu alat atau mesin yang digunakan untuk
memindahkan cairan dari suatu tempat ke tempat yang lain melalui suatu
media perpipaan dengan cara menambahkan energi pada cairan yang
dipindahkan dan berlangsung secara terus menerus. Pompa secara
sederhana didefinisikan sebagai alat transportasi fluida cair.
Pompa beroperasi dengan prinsip membuat perbedaan tekanan
antara bagian masuk (suction) dengan bagian keluar (discharge). Dengan
kata lain, pompa berfungsi mengubah tenaga mekanis dari suatu sumber
tenaga (penggerak) menjadi tenaga kinetis (kecepatan).
Dalam irigasi dan drainase banyak jenis pompa yang dapat
digunakan, namun perlu dilakukan pemilihan pompa dengan
memperhatikan kapasitas, daya, bahan, pemipaan, penggerak, pengendali
dan biaya pemompaan.
Pada pompa terjadi perubahan energy, yaitu dari energy listrik
menjadi energy fluida. Hal menunjukkan bahwa energi selalu kekal,
meskipun terjadi perubahan bentuk energy sesuai dengan hukum pertama
Termodinamika.
Pada pompa juga terjadi Siklus Rankine yang merupakan siklus
termodinamika yaitu mengubah panas menjadi kerja, hal ini kerja pompa
berhubungan dengan turbin.

4.2. Saran
Penulis menyarankan agar pompa dapat digunakan semaksimal
mungkin untuk irigasi maupun drainase sehingga dapat mencegah terjadi
banjir.

TINJAUAN PUSTAKA

26
Anonim1.2009. Pedoman Teknispengembangan Irigasi Pompa Hidram

(http://pla.deptan.go.id/pdf/09_PEDUM_HIDRAM_2009.pdf)

Di Akses tanggal 11 Mei 2010

Mukhori. 2007. Pengendalian Banjir Kota Studi Kasus Pada Perumahan Bluru
Permai Sidoardjo

http://seadefenceconsultants.com/id/komponen/pengendalian-banjir-dan-
drainase-perkotaan/..

Di Akses tanggal 11 Mei 2010

Anonim2.2010. Irigasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Irigasi
Di Akses tanggal 11 Mei 2010

Hernalom.2009. prinsip-kerja-pompa-sentrifugal
http://baiuanggara.wordpress.com/2009/01/04/prinsip-kerja-pompa-
sentrifugal/
Di Akses tanggal 11 Mei 2010

Cahyo Hardo.2009. Cara Mengkaji Piping & Instrumentation Diagram


http://www.migas-indonesia.com/files/article/Cara_mengkaji_P&ID-
Pompa.pdf
Di Akses tanggal 11 Mei 2010

Basyirun,dkk.2008. Mesin Konversi Energi


http://ocw.unnes.ac.id/ocw/teknik-mesin/pendidikan-teknik-mesin-
s1/ptm307-mesin-konversi-energi/Buku.pdf
Di Akses tanggal 11 Mei 2010

27