Anda di halaman 1dari 16

Sistem Persinyalan LEN

Sistem persinyalan kereta api saat ini menjadi salah satu lini bisnis utama yang digeluti PT.
LEN Industri (Persero), bahkan tahun 2009 bisnis ini berhasil menyumbangkan 40% dari
total pendapatan PT. LEN pada tahun tersebut. Sistem persinyalan kereta api mungkin
bukan sesuatu yang terdengar asing di telinga karyawan PT. LEN, tapi apakah semua
karyawan PT. LEN tahu apa itu sistem persinyalan kereta api, kalau soal yang satu ini
mungkin saya sendiri tidak bisa menjawab dengan pasti karena memang belum pernah ada
survey yang meneliti masalah tersebut. Sistem persinyalan kereta api memang merupakan
suatu sistem yang sangat kompleks dan multi disiplin, tapi di sini saya tidak akan membahas
betapa kompleksnya sistem persinyalan kereta api, saya hanya akan menyajikan dari
perspektif yang lebih sederhana yang mudah-mudahan bisa memberikan sedikit gambaran
bagi karyawan PT. LEN khususnya yang berada di luar Unit Bisnis Sistem Transportasi.

!! Untuk sementara artikel ini diperuntukkan untuk konsumsi internal PT. LEN Industri !!...

Gambar 1 : Layout Stasiun

Gambar 2 : Petak Blok

S
ecara sederhana sistem persinyalan Tidak seperti mobil yang dilengkapi
kereta api bisa diartikan sebagai dengan stir sehingga bisa bergerak bebas
sistem yang mengatur pergerakan ke kiri dan kanan, kereta api hanya bisa
kereta api baik ketika berada di area bergerak dengan arah sesuai dengan
stasiun maupun di petak jalan yang diapit tumpuan rodanya terhadap rel. Sebagai
oleh dua stasiun. gantinya maka perangkat yang mengatur
posisi wesel ini bisa dianggap sebagai stir
Elemen jalan yang terdapat pada suatu
yang mengatur pergerakan kereta pada
stasiun yaitu rel biasa dan wesel. Wesel,
percabangan (wesel) apakah akan
yang juga biasa disebut point, switch
diarahkan lurus atau belok.
ataupun turnout, memiliki bagian dasar
seperti rel tetapi dilengkapi dengan jalur Selain pengatur arah posisi wesel,
khusus sehingga menjadi titik temu suatu diperlukan juga perangkat yang bisa
percabangan rel (lihat W11 dan W13 pada memberi isyarat untuk bergerak maupun
gb. 1). Wesel ini juga dilengkapi dengan berhenti kepada masinis yang akan
lidah wesel yang dapat diatur posisinya masuk maupun keluar stasiun. Perangkat
dengan perangkat tambahan penggerak inilah yang kita sebut sinyal.
wesel sehingga bisa memberikan arah
Berdasarkan arah pergerakan kereta
percabangan sesuai dengan kebutuhan.
terhadap stasiun maka sinyal terdiri dari
sinyal masuk (home signal) dan sinyal
1
keluar/sinyal berangkat (starter signal). keberadaan kereta pada suatu jalur, tetapi
Disamping itu ada pula sinyal tambahan cukup melihatnya pada panel indikator.
sebagai sinyal bantu sebelum masinis
Untuk memudahkan pendeteksian
melihat sinyal masuk yaitu sinyal muka
kereta, maka petak-petak jalan rel dibagi
(distant signal).
menjadi beberapa petak pendeteksian
Sinyal masuk memberi isyarat masinis yang lebih kecil (track section). Seperti
yang akan memasuki area stasiun (lihat terlihat pada gambar 1, track section untuk
sinyal J10 dan J14 pada gb. 1). Sinyal Stasiun A diantaranya 10AT, 10BT, 11,
berangkat memberi isyarat pada masinis 12, 22,13,14AT dan 14BT.
yang akan memberangkatkan kereta
Ketika kereta bergerak memasuki
menuju stasiun lain sesuai dengan
stasiun atau bergerak secara lokal di area
jalurnya (lihat sinyal J12A,J12B,J22A dan
stasiun, petugas pengatur pergerakan
J22B pada gb. 1). Sedangkan sinyal muka
kereta (PPKA = Pemimpin Perjalanan KA)
memberi isyarat pendahuluan kepada
di stasiun tersebut memiliki otonomi penuh
masinis apakah akan berhenti di depan
terhadap wilayah stasiun.
sinyal masuk atau jalan terus melewati
sinyal masuk (lihat sinyal MJ10 dan MJ14 Berbeda halnya apabila PPKA hendak
pada gb. 1). memberangkatkan kereta, maka dia harus
terlebih dahulu meminta ijin ke stasiun
Selain ketiga sinyal di atas, ada juga
tujuan. Hal ini dikarenakan pergerakan
sinyal yang digunakan untuk keperluan
kereta akan melewati petak jalan/petak
pergerakan kereta secara lokal.
blok yang menjadi “wilayah kekuasaan”
Pergerakan kereta secara lokal yang
bersama antara dua stasiun yang
dimaksud diantaranya untuk keperluan
mengapitnya.
perpindahan jalur kereta, perpindahan
posisi lokomotif atau penyusunan suatu Permintaan ijin ini dilakukan agar
rangkaian kereta. Sinyal tersebut stasiun tujuan tidak memberangkatkan
dinamakan sinyal langsir (shunt signal). kereta secara bersamaan (khusus untuk
Sinyal langsir tersebut bisa berdiri sendiri jalur KA tunggal/single line) yang akan
ataupun menjadi bagian dari kelengkapan mengakibatkan tabrakan. Maka selain
sinyal berangkat. meminta ijin secara lisan, operasi sinyal
berangkat pada kedua stasiun tersebut
Ketika indikasi pada sinyal memberi
yang mengarah pada jalur yang sama,
isyarat masinis untuk menggerakan
harus saling mengunci (interlock).
kereta, haruslah dipastikan bahwa wesel
telah mengarahkan kereta ke jalur yang Sistem penguncian antara dua stasiun
kosong (tidak terdapat kereta lain di tersebut disebut sistem blok (block
atasnya). system). Ada dua jenis sistem blok yang
sering digunakan yaitu sistem blok
Maka sebelum isyarat sinyal yang
permisif dan sistem blok terbuka.
memerintahkan untuk bergerak diaktifkan,
petugas pengatur perjalanan kereta yang Sistem blok permisif mutlak
berada di stasiun harus memastikan posisi membutuhkan persetujuan langsung dari
wesel dan memastikan secara visual petugas di stasiun tujuan dengan
bahwa pada jalur tujuan tidak terdapat melakukan tindakan tertentu.
kereta lain. Pada gb. 2 diperlihatkan suatu petak
Memastikan bahwa jalur yang akan blok antara Stasiun A dengan Stasiun B.
dituju/dilalui kereta dalam keadaan kosong Bila Stasiun A hendak memberangkatkan
adalah sesuatu yang mutlak. Namun kereta ke Stasiun B maka terlebih dahulu
memastikan langsung secara visual PPKA di Stasiun A meminta ijin
tidaklah efisien dan akan memperlambat memberangkatkan kereta ke Stasiun B
waktu perjalanan kereta. dengan menekan tombol atau memutar
perangkat elekto-mekanik pada perangkat
Maka sistem persinyalan modern juga
sistem blok.
dilengkapi dengan perangkat pendeteksi
kereta, sehingga petugas pengatur tidak Apabila tidak ada kondisi yg dianggap
perlu melihat langsung secara visual membahayakan maka petugas PPKA di

2
Stasiun B akan memberikan ijin dengan Berdasarkan populasi pada sistem
cara menekan tombol atau memutar perkeretaapian di Indonesia, ada
perangkat elektro-mekanik pada beberapa jenis sistem persinyalan yang
pereangkat sistem blok. berdasarkan basis teknologinya dibagi
menjadi :
Pemberian ijin ini akan langsung
melepas penguncian sinyal berangkat di • Sistem Persinyalan Mekanik
Stasiun A, sehingga sinyal bisa
dioperasikan dan kereta bisa berangkat • Sistem Persinyalan Elektrik
menuju Stasiun B dengan aman. • Sistem Persinyalan Elektro-Mekanik
Berbeda dengan sistem blok permisif,
dimana pada kondisi normal semua sinyal
berangkat terkunci dan baru bisa Sistem Persinyalan Mekanik
dioperasikan setelah penguncian dilepas
oleh stasiun tujuan secara remote, maka
pada sistem blok terbuka ijin dari petugas
PPKA stasiun tujuan tidak lagi diperlukan.
Pada sistem blok terbuka hubungan
antara sistem blok stasiun asal dan
stasiun tujuan terhubung secara otomatis.
Pada kondisi ketika petak blok kosong
maka stasiun asal bisa langsung
mengoperasikan sinyal berangkat dan
memberangkatkan kereta ke stasiun
tujuan. Pengoperasian sinyal berangkat ini
juga secara remote juga akan mengunci
sinyal berangkat stasiun tujuan yang
mengarahkan kereta pada petak blok
yang sama. Gambar 3 : Diagram Sistem
Persinyalan Mekanik
-------------------------------

Sistem persinyalan mekanik sampai

S
istem persinyalan harus menjamin saat ini merupakan sistem persinyalan
semua pergerakan kereta baik di dengan populasi terbanyak di Indonesia.
area stasiun maupun pada petak Sekitar 70% lintas dan stasiun kereta api
blok bisa berlangsung secara aman. di Indonesia masih dilengkapi dengan
Untuk itu persyaratan failsafe mutlak sistem persinyalan jenis ini.
diperlukan baik secara terintegrasi pada
Sistem ini tersebar diantaranya di
sistem persinyalan maupun secara
wilayah regional Sumatera Utara,
individu pada tiap perangkat penyusun
Sumatera Barat, Sumatera Selatan. Selain
sistem persinyalan.
itu di Pulau Jawa juga terdapat stasiun
Oleh karena itu produk yang digunakan yang masih dilengkapi persinyalan
untuk sistem persinyalan haruslah mekanik diantaranya pada lintas Bogor –
berkinerja baik dan teruji tingkat Cianjur - Padalarang (jalur selatan),
keselamatannya (safety level) serta Gedebage - Tasikmalaya, Solo – Madiun -
memenuhi aturan yang berlaku secara Kertosono, Solo – Semarang, Semarang –
umum di dunia persinyalan ataupun Surabaya (jalur utara), Kertosono – Blitar
aturan khusus yang ditetapkan otoritas – Malang dan semua stasiun pada lintas
perkeretaapian setempat. Surabaya – Banyuwangi.
Hal ini mutlak diperlukan mengingat
kesalahan yang terjadi pada sistem
persinyalan bisa mengakibatkan dampak
yang sangat serius baik secara korban
jiwa maupun materi.

3
Secara garis besar sistem persinyalan
mekanik terdiri dari :
1. Perangkat persinyalan dalam
ruangan (indoor) yang terdiri dari :
a. Meja/lemari mistar.
b. Perangkat sistem blok.
2. Perangkat persinyalan luar
ruangan (outdoor) yang terdiri dari:
a. Perangkat sinyal mekanik.
b. Pemindah wesel mekanik.
Meja mistar merupakan otak dari
sistem persinyalan mekanik. Bagian ini
berfungsi sebagai sistem interloking yang
menjamin semua operasi sinyal yang
mengarahkan kereta untuk memasuki jalur
Gambar 4 : Interloking Mekanik
yang sama tetap dalam kondisi saling
mengunci (interlock).
Pada sistem persinyalan mekanik,
Sebagai gambaran, dengan sistem
sistem blok yang biasa digunakan adalah
interloking mekanik ini tidak akan
sistem blok permisif, maka perangkat
dimungkinkan tuas penggerak sinyal
sistem blok harus terhubung dengan
masuk dari kedua arah yang berlawanan
penguncian tuas penggerak sinyal
digerakan secara bersamaan.
berangkat dan berada dalam posisi
Mistar yang terhubung dengan terkunci pada kondisi normal.
penguncian tuas dilengkapi dengan kait
Dari data lapangan hanya sistem
mekanik khusus yang tersusun menurut
persinyalan mekanik S&H yang bisa
aturan yang dipersyaratkan interlocking
dilengkapi dengan perangkat blok.
table (tabel pengucilan) mekanik yang
Sedangkan pada sistem persinyalan
disesuaikan dengan layout stasiun.
mekanik Alkmaar operasi blok hanya
Di Indonesia meja mistar mekanik dilakukan melalui komunikasi suara antar
hanya digunakan pada sistem interloking PPKA (warta KA).
mekanik Siemens & Halske (S&H).
Perangkat sistem blok suatu stasiun
Sedangkan sistem yang lebih tua yang
terhubung dengan sistem blok stasiun
diproduksi oleh Alkmaar jauh lebih
sebelahnya secara elektro-mekanik,
sederhana karena hanya dilengkapi
maupun elektronik melalui kawat udara
dengan tuas penggerak sinyal, sedangkan
terbuka, kabel tanah tertutup maupun
perangkat pemindah posisi wesel harus
jaringan kabel optik dengan penambahan
dioperasikan secara langsung pada wesel
antarmuka (interface) tertentu.
yang bersangkutan (terlayan setempat).
Perangkat blok asli sistem persinyalan
Sedangkan pada sistem S&H
mekanik S&H menggunakan sistem
perangkat pemindah posisi wesel dapat
elektro-mekanik. Permintaan maupun
digerakkan oleh tuas yang terdapat pada
pemberian ijin dilakukan dengan cara
meja/lemari mistar (terlayan pusat).
memutar induktor sehingga menghasilkan
Pada gambar 4 terlihat meja mistar listrik yang dialirkan ke perangkat blok
mekanik dengan perangkat sistem blok stasiun sebelahnya melalui media kawat
elektromekanik di atasnya dan tuas udara.
penggerak sinyal serta tuas penggerak
Di stasiun tujuan, sinyal listrik yang
perangkat pemindah posisi wesel di
diterima tersebut digunakan untuk
bawahnya.
menggerakkan perangkat solenoid yang
terhubung dengan pasak pengunci tuas
penggerak sinyal berangkat.

4
Masalah sering muncul karena media
penghantar kawat udara terbuka sangat
rentan terhadap gangguan. Karena sistem
blok ini dirancang dengan filosofi failsafe,
maka gangguan yang timbul tidak akan
membahayakan perjalanan kereta.
Tetapi meskipun demikian hal tersebut
bisa mengganggu operasi dan berpotensi
menyebabkan keterlambatan, karena bila
sistem blok terganggu maka pelayanan
operasi blok hanya dapat dilakukan
melalui percakapan langsung antara
PPKA stasiun asal dan PPKA stasiun Gambar 5 : Perangkat Blok TBI
tujuan (warta KA).
Untuk permasalahan di atas PT. LEN Perangkat ini berisi modul elektronik
Industri sudah memiliki solusi dengan berbasis sistem logika dengan generator
produknya yang disebut MOBIS. Dengan frekuensi sederhana untuk menyalurkan
MOBIS ini sinyal listrik yang dihasilkan informasi antar stasiun melalui kabel
induktor diubah menjadi sinyal digital tembaga terpilin seperti yang digunakan
melalui perangkat PLC (Programmable untuk kabel telepon. Pada gambar 5
Logic Controller). terlihat panel sistem blok TBI yang
dilengkapi indikator terpasang di atas
Sehingga media penghantarnya bisa meja mistar mekanik.
menggunakan kabel optik yang tahan
terhadap gangguan. Di stasiun tujuan Sistem blok TBI di atas sudah tidak
sinyal ini diubah kembali menjadi listrik digunakan lagi mengingat banyak
untuk menggerakkan solenoid. komponennya yang rusak dan sudah tidak
diproduksi lagi, juga karena maraknya
Sistem MOBIS juga digunakan sebagai pencurian kabel tembaga yang
solusi untuk mengatasi permasalahan membentang di udara. Sekarang sistem
interfacing antara stasiun yang dilengkapi TBI buatan PT. LEN berbasis PLC sudah
sistem persinyalan elektrik dengan stasiun berdiri kokoh menggantikan sistem TBI
tetangganya yang masih dilengkapi sistem lama.
persinyalan mekanik tipe S&H.
Sistem TBI baru memanfaatkan
Untuk pertamakalinya, solusi ini telah perangkat PLC (Programmable Logic
berhasil diterapkan di Stasiun Gundih. Controller). Komunikasi blok TBI antar
Suatu kebanggaan dimana vendor sistem stasiun memanfaatkan media komunikasi
persinyalan elektrik asing sekalipun serat optik berbasis sistem SDH
biasanya mengalami kesulitan bila harus (Synchronous Digital Hierarchy).
menyandingkan sistem buatannya dengan
sistem persinyalan mekanik di stasiun TBI baru yang terpasang mencakup 36
sebelahnya. stasiun. Selain TBI dan sistem
telekomunikasi serat optik, tiap stasiun
Sistem blok berbeda yang diterapkan juga dilengkapi dengan sistem catu daya
pada sistem persinyalan mekanik S&H yang memiliki back-up UPS dan genset.
bisa dijumpai di Sumatera Utara. Induktor
listrik tidak lagi digunakan, sebagai Untuk 34 lokasi stasiun, perangkat
gantinya operasi blok dilakukan dengan sistem catudaya dan telekomunikasi serat
cara menekan tombol dan kunci khusus optik terpasang dalam PMER (Portable
melalui perangkat yang disebut TBI Modular Equipment Room) berbasis
(Tokenless Block Instrument). kontainer hasil desain asli PT. LEN dan
terbukti bisa menghemat waktu instalasi di
lapangan.
Untuk sistem persinyalan mekanik,
perangkat sinyal luar berupa lengan
mekanik yang terhubung dengan tuas

5
penggeraknya yang terdapat pada meja 2. Perangkat Persinyalan Outdoor
mistar, melalui rantai dan kawat logam.
a. Sinyal warna cahaya
Posisi lengan mendatar (horizontal) b. Penggerak wesel elektrik
mengisyaratkan kereta harus berhenti, c. Perangkat pendeteksi KA
sedangkan posisi lengan sinyal
mendongak ke atas sekitar 60 derajat
mengisyaratkan kereta boleh jalan. Pada
gambar 6 terlihat sinyal mekanik dengan 3
buah lengan yang diperuntukan untuk
masing - masing kereta yang berada pada
3 jalur berbeda
Sama halnya dengan perangkat sinyal,
perangkat pemindah posisi wesel mekanik
juga dihubungkan dengan tuas
penggeraknya melalui rantai dan kawat
logam.

Gambar 7 : Diagram Sistem


Persinyalan Elektrik

Berdasarkan basis teknologinya,


sistem interloking pada sistem
persinyalan elektrik dibagi menjadi :
• Interloking Relay
• Interloking Hibrid (relay-elektronik)
• Interloking Elektronik
Gambar 6 : Lengan Sinyal Mekanik
Sistem persinyalan elektrik mulai
masuk ke Indonesia baru pada sekitar 40
tahun yang lalu. Sistem persinyalan
elektrik pertama yang masuk ke Indonesia
Sistem Persinyalan Elektrik
berjenis interloking relay DrS dari
Berdasarkan penempatan perangkat, Siemens. Bagian vital maupun non-vital
sistem persinyalan elektrik dibagi menjadi prosesornya berupa relay individual yang
dua bagian yaitu bagian dalam ruangan harus di-wiring satu-persatu sehingga
(indoor) dan bagian luar ruangan membentuk fungsi interloking yang utuh.
(outdoor).
Sinyal elektrik dengan interloking relay
1. Perangkat Persinyalan Indoor tipe awal ini dipasang di 2 stasiun utama
a. Sistem Interloking Vital saat itu yaitu Stasiun Bandung dan
b. Sistem Interloking Non-Vital Stasiun Solo Balapan. Sampai saat ini
c. Maintenance Terminal kedua sistem persinyalan tersebut masih
d. Axle Counter Evaluation Unit berfungsi.

6
Untuk sistem DrS PT. LEN juga pernah menggunakan sinyal warna cahaya tipe
melakukan modifikasi di Stasiun Solo bola lampu pijar (kecuali Stasiun Madiun
Balapan terkait pengaktifan jalur ganda yang menggunakan sinyal tipe LED
Yogya – Solo. produksi PT. LEN), penggerak wesel
dengan motor listrik dan pendeteksi KA
Sistem persinyalan dengan interloking
tipe track circuit.
relay berikutnya, sedikit lebih maju dari
pendahulunya, yaitu tipe MIS (Modular Tipe sistem persinyalan elektrik
Interlocking System). Berbeda dari tipe berikutnya adalah yang dilengkapi dengan
DrS, relay pada sistem ini sudah dirakit sistem interloking hibrid. Sistem ini lebih
dalam bentuk modul yang mewakili suatu maju dari interloking relay. Bila mengacu
fungsi tertentu dalam sistem interloking. pada gambar 7, pada sistem ini bagian
non-vital tidak lagi menggunakan relay
Sistem yang lebih baru ini awalnya
tapi sudah menggunakan prosesor
dipasang di Stasiun Cikampek, Cirebon,
elektronik.
Tugu Yogya, dan Pasar Turi Surabaya.
Namun pada tahun 2005 sistem yang Populasi sistem persinyalan elektrik
terpasang di Stasiun Cikampek diganti dengan sistem interloking tipe ini yaitu
dengan sistem interloking elektronik VPI pada lintas Kertosono – Wonokromo di
dari alstom terkait proyek jalur ganda Jawa Timur yang menggunakan sistem
Cikampek-Cirebon. persinyalan buatan Ansaldo dan Stasiun
Medan yang menggunakan sistem
Untuk selanjutnya pada tahun yang
interloking hibrid buatan GRS.
sama PT. LEN berhasil memfungsikan
kembali sistem persinyalan MIS eks LCP digunakan sebagai operation
Stasiun Cikampek di Stasiun Madiun. panel dan digunakan pula perangkat luar
berjenis sama, seperti yang digunakan
Selain itu PT. LEN juga telah berhasil
pada sistem persinyalan elektrik, yang
melakukan modifikasi pada sistem ini di
dilengkapi interloking relay.
Stasiun Cirebon. Kemudian di stasiun
Cikampek (sebelum dibongkar) terkait Untuk lintas Kertosono – Wonokromo,
dengan pengaktifan tahap pertama PT. LEN telah berhasil melakukan up-
(temporary) jalur ganda Cikampek – grading dengan penambahan sistem axle
Cirebon. counter sebagai pendeteksi KA pada
petak blok, sekaligus memanfaatkannya
Prestasi terbaru PT. LEN dalam
sebagai interface informasi blok, yang
modifikasi sistem ini adalah ketika kita
terhubung dengan jaringan komunikasi
dipercaya oleh Westinghouse Australia
fiber optik berbasis SDH, yang juga
untuk melakukan modifikasi MIS stasiun
dikerjakan oleh PT. LEN.
Yogya dan membuat sistem interfacing
dengan Stasiun sebelahnya yang Khusus untuk Stasiun Medan, PT. LEN
dilengkapi sistem interloking elektronik juga berhasil melakukan modifikasi dan
Westrace dari Westinghouse, terkait penggantian sistem non-vital processor
proyek jalur ganda Kutoarjo – Yogya. GL1 buatan GRS dengan PLC. Selain itu
juga dilakukan penggantian LCP lama
Keberhasilan modifikasi MIS ini sempat
dengan LCP baru buatan PT. LEN.
dipublikasikan pada jurnal perkeretaapian
internasional oleh Westinghouse, Tipe persinyalan elektrik generasi yang
walaupun tidak disebutkan secara eksplisit lebih baru dari sistem persinyalan yang
bahwa PT. LEN yang mengerjakannya. dilengkapi sistem interloking hibrid adalah
sistem persinyalan yang dilengkapi sistem
Persamaan kedua sistem persinyalan
interloking elektronik, dimana prosesor
dengan interloking relay ini adalah sama-
elektronik digunakan baik pada bagian
sama menggunakan panel mosaik yang
vital maupun non-vitalnya.
dilengkapi dengan tombol dan indikator
sebagai Operation Terminal-nya (lihat Vendor yang digunakan perkeretaapian
bagan pada gambar 7). Tipe panel ini di Indonesia untuk sistem ini terbilang cukup
lazim disebut LCP (Local Control Panel). banyak, sebut saja VPI dari Alstom
Persamaan lain yaitu pada sisi perangkat (dengan beberapa versi terdahulu dari ASI
luar (outdoor equipment) yang & GRS), Westrace versi 1 dan 2 dari

7
Westinghouse, SSI dari Westinghouse & LEN dalam perkembangan bisnisnya di
Alstom, PLC Based Interlocking dari Vialis bidang sistem persinyalan kereta api.
(d/h Alkmaar) dan yang terakhir adalah
Sebut saja keberhasilan proyek-proyek
PLC Based Interloking buatan PT. LEN
terkait program jalur ganda misalnya
yaitu SIL-02 (Sistem Interloking LEN –
modifikasi VPI 6 stasiun pada lintas
Versi 2).
Cikampek – Cirebon yang legendaris.
Sistem VPI tersebar pada lintas Proyek modifikasi SSI Tanah Abang
Serpong – Merak, Cikampek – Cirebon – Serpong, proyek modifikasi VPI Serpong –
Semarang dan Cikampek – Bandung. Maja tahap pertama, proyek modifikasi
Sistem Westrace versi 1 menghuni lintas VPI Tegal – Pekalongan dan yang terakhir
Tasik – Banjar – Kroya –Kutoarjo dan proyek modifikasi Westrace Cirebon –
Cirebon – Kroya, sedangkan versi ke-2 Kroya fase pertama.
nya telah menggantikan versi pertamanya
Semua pekerjaan modifikasi di atas
pada lintas Kutoarjo – Yogya,
berhasil diselesaikan dalam waktu yang
berbarengan dengan pengoperasian jalur
sangat “fantastis”, yang menjadikan PT.
ganda Kutoarjo – Yogya.
LEN “secara kemampuan teknis” hampir
Sementara itu sistem SSI bisa dibilang boleh disejajarkan dengan perusahaan
menguasai seluruh lintas ibu kota sampai signalling multinasional.
dengan Stasiun Serpong untuk batas
Kembali ke masalah sistem persinyalan
barat, Cikampek untuk batas timur dan
elektrik, bagian operation terminal dari
Bogor untuk batas selatan, dan di
sistem interloking jenis ini juga sebagian
Bandung menguasai lintas Padalarang –
besar masih menggunakan tipe LCP,
Gedebage.
hanya sebagain saja yang menggunakan
Sistem interloking berbasis PLC dari teknologi jenis VDU (Video Display Unit)
Vialis sampai saat ini hanya terpasang di berbasis PC yaitu sistem SSI dari Alstom,
Depo KRL Depok. Sedangkan SIL-02 sedangkan sistem SSI dari Westinghouse
produksi PT. LEN sudah menempati masih menggunakan LCP.
beberapa titik utama yaitu di Stasiun Slawi
dan Gundih di Jawa Tengah, Stasiun
Bangil di Jawa Timur, Stasiun Tanjung
Priok, Cibinong dan Nambo di
Jabodetabek, Stasiun Prabumulih Baru di
Sumatera Selatan dan Stasiun Tebing
Tinggi di Sumatera Utara.
PT. LEN industri sebagai agen ToT
(Transfer of Technology) mewakili
pemerintah, tidak pernah absen mengikuti
proses pengimplementasian sistem
persinyalan elektronik ini sejak pertama
masuk ke Indonesia. Mulai dari
mempelajari sistem produk vendor asing
tersebut, sampai sekarang sudah mampu Gambar 8 : Local Control Panel (LCP)
merancang dan memproduksi sistem Stasiun Slawi
interloking sendiri.
Saat ini PT. LEN juga telah memiliki Sama seperti sistem yang lain, sisi
kemampuan untuk melakukan modifikasi perangkat luar dari sistem persinyalan
pada semua sistem interloking produksi yang dilengkapi dengan sistem interloking
vendor asing yang disebutkan di atas. jenis elektronik ini masih menggunakan
Beberapa pekerjaan modifikasi mampu sinyal warna cahaya, penggerak wesel
diselesaikan secara fenomenal, bahkan yang dilengkapi motor listrik (electric point
menjadi tonggak penting dalam membuka machine), juga pendeteksi kereta yang
mata pemerintah tentang kemampuan menggunakan sistem track circuit dan axle
lokal bidang persinyalan kereta api, juga counter.
menjadi tonggak penting juga bagi PT.

8
Sinyal yang digunakan sebagian besar posisi belok pada wesel yang akan
berupa sinyal warna cahaya berteknologi dilaluinya, dan padam bila akan melewati
lampu pijar (incandescent lamp) dengan posisi lurus pada wesel yang akan
dua filamen, sebagai filamen utama dan dilaluinya. Dengan kata lain ada dua
filamen cadangan. Bila filamen utama kemungkinan posisi wesel yang akan
putus, otomatis fungsinya akan digantikan dilalui kereta. Oleh arena itu, maka
filamen cadangan dengan memanfaatkan variable speed indicator ini biasanya
rangkaian relay khusus. dipasang pada posisi sinyal masuk.
Hanya sebagian kecil saja terutama Sedangkan fixed speed indicator
untuk stasiun yang dilengkapi sistem berupa rambu dari pelat logam, dengan
interloking buatan PT. LEN yaitu SIL-02 tulisan angka 3 dan ditempatkan pada
yang dilengkapi sinyal berteknologi LED bagian atas head sinyal. Rambu/marka ini
(Light Emitting Diode) yang juga buatan mengisyaratkan bahwa kereta pasti akan
PT. LEN. melewati wesel dengan posisi belok.
Biasanya marka ini dipasangan pada
sinyal berangkat yang berada di jalur
samping (siding). Sedangkan untuk sinyal
pada jalur utama biasanya tidak perlu
dipasang, karena bila kereta akan
berangkat keluar maka mengharuskan
wesel dikondisikan pada posisi lurus.
Terlihat pada gambar 1 sinyal J22A
dan J22B dilengkapi fixed speed indicator
sedangkan sinyal J12A dan J12B tidak
dilengkapi marka tersebut. Lihat pula beda
simbol speed indicator pada sinyal masuk
J10 dan J14 dengan speed indicator pada
sinyal berangkat J22A dan J22B!
Gambar 9 : Sinyal LED produk LEN
pertama di Stasiun Slawi Selain itu, sinyal berangkat dan sinyal
masuk biasanya dilengkapi sinyal darurat
(emergency signal), berupa indikator
Maksud dari isyarat yang diberikan lampu berwarna putih berbentuk segitiga.
oleh sinyal tersebut akan tergantung dari
warna cahaya yang menyala pada saat Sinyal ini berfungsi untuk
itu. Warna merah mengisyaratkan kereta memberangkatkan kereta pada kondisi
harus berhenti, sedangkan warna hijau darurat, dimana sinyal utama warna hijau
mengisyaratkan kereta boleh jalan. atau kuning tidak bisa menyala karena
ada gangguan dan petugas sudah
Adapun warna kuning mengisyaratkan mengecek bahwa gangguan tersebut tidak
kereta boleh jalan dengan kecepatan membahayakan perjalanan kereta. Kereta
terbatas karena akan berhenti di sinyal yang berjalan dengan sinyal ini harus
berikutnya. Selain itu untuk kereta yang berjalan dengan sangat pelan.
diarahkan ke posisi belok pada wesel
yang akan dilaluinya, diberi sinyal Bila gangguan sampai menyebabkan
tambahan yaitu speed indicator. sinyal daruratpun tidak bisa menyala,
maka kereta diberangkatkan dengan
Speed indicator ini bila aktif akan prosedur MS (melanggar sinyal). Masinis
mensyaratkan kecepatan kereta yang pada kondisi ini bisa membawa kereta
lebih rendah, yaitu dibawah 30km/jam. melewati sinyal merah dengan membawa
Speed indicator terbagi menjadi dua jenis surat ijin tertulis dari PPKA setempat,
yaitu variable speed indicator dan fixed yang mana sebelumnya PPKA harus
speed indicator. memastikan jalur yang akan dilalui pada
Variable speed indicator berupa lampu kondisi aman, dan kereta harus berjalan
yang disusun membentuk angka “3” yang dengan pelan.
akan menyala bila kereta akan melalui

9
Jenis sinyal lain yang juga sering Sebaliknya, bergeraknya lidah wesel
digunakan yaitu sinyal langsir, sinyal ini dapat menggerakan stang deteksi
digunakan untuk mengatur pergerakan (detection rod), sehingga limit switch yang
kereta secara lokal seperti yang telah terhubung dengan stang tersebut dapat
dijelaskan pada bahasan sebelumnya. memberi umpan balik informasi kepada
sistem interloking, mengenai posisi lurus
Sinyal langsir yang lazim digunakan
atau beloknya sebuah wesel.
terdiri dari dua tipe. Tipe sinyal langsir
yang digabung dengan sinyal utama
(biasanya sinyal berangkat), dan tipe
sinyal langsir yang berdiri sendiri. Sinyal
langsir yang berdiri sendiri bisa dibagi lagi
menurut posisi penempatannya, yaitu
sinyal langsir yang dipasang pada posisi
rendah sejajar rel (ground based), dan
sinyal langsir yang menempel pada tiang
tersendiri (pole based).
Dua sinyal lampu putih yang
ditempatkan secara diagonal
mengisyaratkan kereta boleh jalan.
Sedangkan sebuah sinyal lampu berwarna Gambar 11 : Ilustrasi wesel pada posisi
merah dengan ukuran yang sama, dan lurus (point mesin mendorong lidah wesel)
berada pada posisi sudut siku bawah dari
kedua sinyal tadi, mengisyaratkan kereta
harus berhenti.
Pada sinyal langsir yang digabung
dengan sinyal berangkat, fungsi sinyal
lampu warna merah tersebut digantikan
oleh sinyal merah utama dari sinyal
berangkat.
Teknologi penggerak wesel (point
machine) yang digunakan pada sistem
persinyalan elektrik di Indonesia umumnya
adalah yang berpenggerak motor listrik (di Gambar 12 : Ilustrasi wesel pada posisi
luar lazim juga digunakan yang belok (point machine menarik lidah wesel)
berpenggerak sistem hidrolik).
Untuk sistem pendeteksi kereta, ada
dua metode yang umum digunakan di
Indonesia yaitu track circuit dan axle
counter.
Pada sistem track circuit yang
menggunakan rangkaian DC, kedua rel
yang berada pada batas suatu wilayah
deteksi (track section) akan dipotong
sehingga menyisakan celah. Celah ini
Gambar 10 : Point Machine Seri BSG 9 kemudian disisipi bahan isolasi dan rel di
dari Siemens sekitar celah juga dijepit/disambung
kembali dengan batang isolator, kedua
perangkat isolator rel ini dikenal dengan
Mendorong dan menariknya stang istilah IRJ (Insulated Rail Joint).
penggerak (driving rod), yang digerakkan
oleh mekanisme motor listrik, dapat Kedua rel pada salah satu ujung dari
mengubah posisi lidah wesel membuka track section tersebut dihubungkan
atau menutup (mengarahkan kereta ke dengan sumber arus/track feeder DC
jalur lurus atau belok). (satu rel dihubungkan ke kutub posistif

10
sedang rel yang lain dihubungkan ke Ketika dua rel tersebut terhubung oleh
kutub negatif). roda kereta maka sesuai hukum ohm
sebagian besar arus akan memilih
Sedangkan pada ujung track section
melewati roda kereta tersebut ketimbang
yang lain dihubungkan dengan koil relay
melewati koil relay yang diserikan dengan
DC, sesuai polaritas sumber yang
resistor untuk menyeberang dari kutub
terhubung pada ujung track section yang
positif ke negatif.
pertama.
Maka ketika koil relay tidak mendapat
Perlu diketahui bahwa roda kereta
arus yang cukup, koil tersebut menjadi
terbuat dari logam, begitu juga poros
tidak aktif dan kontak NO dari relay
penyambung roda kiri dan kanan juga
tersebut menjadi terbuka. Terbukanya
terbuat dari logam.
kontak NO ini dibaca oleh interloking
Maka ketika tidak ada kereta di atas sebagai lojik “0” dan interloking
suatu track section, koil relay pada salah mengartikannya sebagai terdudukinya
satu ujung section tersebut akan aktif, section tersebut oleh kereta.
karena mendapat catuan listrik dari ujung
Mungkin ada pertanyaan, mengapa kita
section yang lain.
memilih kontak NO bukan kontak NC
Kemudian kontak NO (normally open) (Normally Close). Hal ini dikaitkan dengan
dari relay tersebut akan menutup ketika masalah filosofi failsafe. Bila terjadi
relay aktif. Menutupnya kontak NO kerusakan pada relay deteksi atau kabel ,
tersebut akan dibaca oleh sistem maka interloking akan membaca kondisi
interloking sebagai lojik “1” atau aktif, dan ini sama dengan keadaan section yang
sistem interloking akan mengartikan terduduki (occupied).
bahwa tidak ada kereta yang menduduki
Artinya tidak boleh ada kereta yang
section tersebut.
bergerak memasuki section tersebut
Bila ada kereta di atas section tersebut dengan sinyal normal, maka PPKA harus
(section occupied), dan karena roda juga memastikan langsung secara visual bila
penghubungnya berasal dari logam, maka hendak memasukkan kereta ke track
secara langsung roda tersebut akan section yang mengalami gangguan
menghubungkan kutub positif dan negatif tersebut dengan operasi darurat.
(hubung singkat tidak akan terjadi karena
Ini salah satu contoh saja dari prinsip
track feeder dan relay masing-masing
failsafe, yang diterapkan pada salah satu
diserikan dengan resistor).
perangkat sistem persinyalan kereta api.
Perangkat pendeteksi kereta jenis lain
adalah axle counter, sesuai namanya
perangkat ini menggunakan metode
menghitung gandar. Perangkat ini terdiri
dari dua bagian yaitu wheel detector yang
dipasang di rel, dan evaluator (evaluation
unit/evaluating computer) yang terpasang
di ruang peralatan/Equipment Room (ER).
Gambar 13 : Ilustrasi track section saat
kondisi “clear”

Gambar 15 : Ilustrasi instalasi wheel


Gambar 14 : Ilustrasi track section saat detector pada rel
kondisi “occupied”

11
Wheel detector dipasang pada titik rel sistem interloking elektronik, saya coba
yang menjadi batas suatu track section mundur sedikit untuk menjawab rasa
(pemotongan rel & pemasangan IRJ penasaran sebagian kawan saya yang
seterti pada sistem track circuit tidak menanyakan maksud angka “02” pada
diperlukan). Komponen ini berfungsi produk “Sistem Interloking LEN (SIL)”.
sebagai sensor yang membaca dan
Adanya angka “02” tentunya diawali
mendeteksi roda kereta dan arah
dengan angka “01”. Memang benar
pergerakannya dengan metode elektro-
sebelum ada SIL-02 terlebih dahulu ada
magnetik.
SIL-01. SIL-01 ini sendiri bukanlah nama
Sinyal pendeteksian kemudian yang populer, nama “SIL” sendiri muncul
dikirimkan ke bagian evaluator. Evaluator pada saat peresmian persinyalan Stasiun
yang terhubung dengan semua wheel Slawi, dan SIL-01 lebih populer dengan
detector yang menjadi batas suatu track sebutan EMI (Electro-Mechanical
section kemudian akan menghitung Interlocking) dan SIL-02 saat itu populer
jumlah roda dan menentukan apakah roda dengan nama SISKA (Sistem Interloking
tersebut masuk atau keluar section Sinyal Kereta Api), sejalan dengan nama
tersebut. semua produk PT. LEN saat itu yang
berbau feminin (sebut saja Selly, Lacuba,
Misal ada rangkaian kereta dengan
Lestari, Beti dll.)
jumlah total 12 roda. Ketika roda pertama
masuk maka evaluator melakukan Sekitar 9 tahun yang lalu sebelum
perhitungan naik (counting up), dengan produk SIL-02 diluncurkan, produk EMI
demikian jumlah angka pada section yang pertama yang didanai oleh PT. KAI
tersebut berubah dari nol menjadi satu. diresmikan di Stasiun Tagog Apu.
Menyusul kemudian Stasiun Cipatat dan
Angka lebih besar dari nol dari suatu
Stasiun Purwoasri pada 3 dan 5 tahun
section sudah cukup alasan bagi evaluator
berikutnya.
untuk mengartikan bahwa ada kereta di
atas section tersebut. Selanjutnya
evaluator akan menginformasikan ke
sistem interloking melalui interface relay
bahwa section tersebut terduduki kereta.
Ketika roda berikutnya masuk evaluator
akan terus menghitung naik sampai roda
terakhir. Sama halnya ketika kereta
masuk, ketika kereta keluar sensor juga
akan membacanya, tetapi evaluator tidak
lagi melakukan perhitungan naik
melainkan perhitungan turun terhadap
angka yang sudah terasosiasi dengan
track section tersebut.
Dan ketika jumlah yang masuk section
sama dengan yang keluar maka angka
tersebut akan bernilai “0”, kemudian
evaluator akan menginformasikan sistem
interloking melalui suatu interface relay
bahwa section tersebut sudah clear
kembali.

Gambar 16 : Diagram Sistem


Sistem Persinyalan Elektro-Mekanik SIL-01
Setelah menelusuri sistem persinyalan
dari mulai sistem persinyalan mekanik Awalnya sistem ini dibangun untuk
sampai yang terbaru yaitu sistem menjawab kebutuhan pengoperasian
persinyalan elektrik yang dilengkapi sinyal elektrik tanpa mengubah pola

12
operasi pelayanan pada stasiun yang jajaran direksi PT. KA pada peresmian
dilengkapi sistem persinyalan mekanik persinyalan EMI tagogapu medio 2001.
tipe S&H, dengan biaya yang minimal.
Peresmian sistem persinyalan EMI
Konsep awalnya cukup sederhana Tagogapu ini sendiri merupakan tonggak
yaitu memfungsikan tuas penggerak awal berkibarnya produk - produk solusi
sebagai switch, dan dengan tambahan sistem PT. LEN Industri (Persero) pada
interface relay digunakan untuk sistem perkeretaapian nusantara.
menyalakan lampu sinyal dan
menggerakkan point machine.
Sistem Persinyalan Modern
Jadi praktis kendala operasi yang
ditemui PPKA akibat beratnya beban tuas Negara – negara maju yang memimpin
(hendel) tidak ditemui lagi karena tuas percaturan perkeretaapian dunia telah
tidak lagi dibebani lengan sinyal dan mengembangkan dan menerapkan sistem
penggerak wesel yang cukup berat dan persinyalan modern terutama pada lintas
makin berat dengan bertambahnya jarak. yang dilalui kereta berkecepatan sangat
tinggi.
Tujuan mengurangi kendala operasi
memang tercapai, tapi kendala lain Untuk kereta dengan kecepatan sangat
muncul mengingat perbedaan prinsip tinggi tersebut tidaklah memungkinkan
antara sistem persinyalan elektrik dan untuk menggunakan sinyal luar (wayside
sistem persinyalan mekanik. Akhirnya signalling) seperti pada sistem persinyalan
untuk menjembatani diperlukan interface konvensional.
relay yang sangat banyak dan digunakan Maka sebagai solusi digunakanlah
PLC untuk menyajikan indikasi dan fungsi sistem persinyalan pada kabin masinis
operasi darurat yang diperlukan sistem, yang biasa disebut (onboard signalling).
mirip LCP yang digunakan pada sistem Teknologi ini berkembang sedemikian
persinyalan elektrik. pesatnya bahkan tidak diperlukan lagi
Akhirnya tujuan untuk menghemat masinis untuk mengoperasikan kereta.
biaya tidaklah tercapai dengan Komunikasi antara sistem di kereta
memuaskan, mengingat sistem menjadi dengan pusat kendali pengaturan
gemuk dan biaya menjadi membengkak, perjalanan kereta dilakukan melalui
dengan selisih yang tidak signifikan teknologi radio memanfaatkan teknologi
apabila diganti total dengan sistem GSM Railway (GSM-R), yang terjamin
persinyalan SIL-02. Akhirnya sampai saat tingkat keamanannya.
ini populasi SIL-01 di Indonesia hanya
terbatas sampai 3 stasiun itu saja. Konsep blok konvensional yang tetap,
berganti menjadi konsep blok bergerak
(moving block). Batasan kecepatan antara
dua kereta di petak jalan lebih banyak
ditentukan oleh kecepatan aktual
dibandingkan dengan jarak antara kedua
kereta tersebut (headway).
Teknologi ini masih jauh untuk bisa
diimplementasikan pada sistem
perkeretaapian di Indonesia saat ini ,
mengingat tingkat vandalisme yang masih
sangat tinggi.
Yang paling mungkin menerapkan
Gambar 17 : RAIL ONE sistem ini di Indonesia adalah bila ada
jaringan kereta api baru, dimana lintasnya
Pada gambar di atas tampak kereta yang steril dari jangkauan masyarakat
VVIP Rail One (yang namanya mungkin umum baik berupa elevated rail maupaun
diilhami “Air Force One” dan sering jalur baah tanah (subway).
diplesetkan “relawan”) hadir membawa -------------------------------

13
R
ekam jejak kiprah PT. LEN Industri Maka PT LEN sudah merintis sistem
dalam bidang perkeretaapian, interloking generasi ke-3 berbasis
sengaja sedikit disinggung dalam teknologi CBI (Computer based
pemaparan sebelumnya. Hal ini tidak lain Interlocking).
untuk menumbuhkan semangat dan daya
Diharapkan dalam satu atau dua tahun
juang di tengah semakin beratnya
ke depan sistem ini sudah bisa mendapat
tantangan yang harus dihadapi ke depan.
pengakuan memiliki tingkat keselamatan
Satu hal yang menjadi penunjang Safety Integrated Level 4 dan dapat
semakin eksisnnya PT. LEN Industri dioperasikan di lapangan menggantikan
dalam kancah perkeretaapian nasional generasi pendahulunya.
adalah faktor daya juang yang tinggi yang
Perbedaan antara sistem berbasis CBI
tentunya diwariskan dari para senior dan
dengan sistem berbasis PLC hanya pada
pendiri PT. LEN.
bagian prosesor vitalnya saja, untuk
Keterbatasan wawasan pada awal bagian lain hampir tidak mengalami
merintis bisnis persinyalan tidaklah perubahan.
menjadi hambatan, hampir semua ilmu
Pada SIL-02 prosesor vital
persinyalan dipelajari secara otodidak.
menggunakan produk standar industri
Keterbatasan sarana dan anggaran pun
yaitu PLC. Tentu saja PLC ini tidak bisa
dianggap bagian dari perjuangan.
diigunakan langsung menggantikan
Tapi tentu saja hal yang kita alami prosesor interloking vital standar.
pada masa perintisan tersebut tidak bisa
Usaha yang dilakukan adalah dengan
dijadikan acuan dalam menghadapi
menggunakan PLC sehingga di dapat
tantangan ke depan. Pembenahan mutlak
kombinasi 2 kanal. Sehingga secara
diperlukan di semua lini.
desain safety level-nya didapat dari
Saya pribadi menyoroti setidaknya 3 konfigurasi sistem.
aspek yang mendesak untuk dibenahi
Tapi sayangnya meskipun produk ini
yaitu masalah :
handal di lapangan tapi secara regulasi
- Pengembangan produk internasional belum ada standar yang
- Pengembangan kemampuan personel mengatur tentang safety level dari sistem
- Pembenahan sistem kerja prosesor interloking vital yang di dapat
dari hasil konfigurasi sistem menggunakan
Mengenai pengembangan produk
prosesor spesifikasi industri. Sehingga
persinyalan sendiri sebetulnya bukanlah
masalah safety dari produk SIL-02 ini
hal yang baru, hal ini sejalan juga dengan
masih menjadi perdebatan sampai saat
visi PT. LEN untuk menjadi perusahaan
ini.
kelas dunia terutama di bidang
manufaktur. Standar yang dikeluarkan CENELEC
hanya mengatur safety level dari sistem
Memang belum semua produk sistem
prosesor interloking vital yang memang
persinyalan bisa kita produksi sendiri,
dirancang dan didedikasikan khusus untuk
tetapi paling tidak kita bisa memenuhi
persinyalan kereta api (inherently failsafe).
kebutuhan untuk sistem interloking baik
Vital maupun non-vital lewat produk Selain itu penggunaan CBI yang
interloking berbasis PLC kita yaitu SIL-02. menganut inherently failsafe, tentunya
akan mengurangi penggunaan interface
Tidak cukup sampai disitu, mengingat
relay seperti yang digunakan pada produk
penerapan persyaratan keselamatan
SIL-02. Relay yang digunakan dapat
sistem perkereataapian yang semakin
berkurang setengahnya dan dapat
ketat dimana semua produk Prosesor Vital
mengurangi biaya produksi.
harus memenuhi persyaratan SIL 4
(Safety Integrated Level 4) sesuai standar Meskipun CBI menjadi solusi, tetapi
keselamatan prosesor interloking dari masih ada sedikit permasalahan yang
CENELEC (bedakan dengan istilah SIL menghadang yaitu menyangkut sertifikasi
untuk Sistem Interloking LEN). prosesor interloking vital yang memiliki
Safety Integrated Level 4.

14
Di Indonesia saat ini belum ada biro dilakukan manajemen diantaranya
sertifikasi yang punya lisesnsi dari melakukan sertifikasi personel secara
CENELEC untuk mensertifikasi produk bertahap melalui IRSE (Institution for
prosesor interloking vital. Sedangkan Railway Signalling Engineer).
menggunakan lembaga sertifikasi asing
Keberhasilan mendapatkan lisensi dari
yang berlisensi tentunya bukanlah sesuatu
organisasi praktisi signalling internasional
yang murah. Hal ini perlu menjadi bahan
ini menjadikan para personel kita bisa
pemikiran bersama.
mendapat pengakuan secara
Bila kita lihat lagi bagan sistem internasional.
persinyalan elektrik maka untuk peralatan
Modal awal sudah kita dapatkan
indoor sudah kita kuasai.
dengan keberhasilan proyek persinyalan
Permasalahannya untuk sistem outdoor
pertama kita diluar negeri. Hasil pekerjaan
baru produk sinyal yang bisa kita hasilkan,
desain dan instalasi PT. LEN di Stasiun
sedangkan produk penggerak wesel
Bishan Singapore mendapat apresiasi
masih kita lakukan import barang jadi.
yang luar biasa dari praktisi persinyalan
Produk pendeteksi kereta jenis track berkelas dunia.
circuit sudah kita kuasai secara sistem,
Tentunya kita bisa melangkah lebih
namun sayangnya ada komponen yang
tegak lagi ketika memasuki percaturan
memiliki porsi harga lebih dari 60% dari
sistem persinyalan global bila kita bisa
keseluruhan total harga sistem ini yang
memadukan kemampuan teknis yang baik
masih kita import dengan harga yang
dan juga lisensi internasional yang dimiliki.
tidaklah murah.
Tentunya program pengembangan
Produk tersebut adalah IInsulated Rail
personel melalui training persinyalan
Joint (IRJ), hampir mustahil prduk ini bisa
berskala lokal, nasional, regional maupun
kita produksi sendiri mengingat produk ini
internasional perlu dilakukan secara
memanfaatkan teknik material yang tinggi
berkesinambungan.
yang bukan merupakan core bisnis kita.
Masalah pembenahan sistem kerja
Solusi yang mungkin adalah dengan
mutlak diperlukan mengingat keterbatasan
memanfaatkan seoptimal mungkin
dari sisi resources, yang mana proyek-
teknologi pendeteksi lain yaitu teknologi
proyek yang berjalan mendapat hambatan
axle counter. Hal ini dikarenakan axle
dari terbatasnya personel pelaksana,
counter yang berbasis teknologi elektronik
waktu pengerjaan yang sangat pendek
lebih mungkin menjadi produk PT. LEN
dan keterbatasan anggaran.
ketimbang IRJ yang berbasis teknologi
material. Menghadapai beban kerja yang
semakain meningkat kedepan
Jadi secara praktis dua produk inilah
pembenahan dilakukan pada sistem kerja
(point machine dan axle counter)
di semua lini baik desain sistem, produksi,
yangakan melengkapi eksistensi kita di
manajemen proyek juga logistik.
persinyalan sehingga hal ini menjadi fokus
utama Divisi Pengembangan dalam Sistem kerja pada bagian yang
rangka mendukung bisnis persinyalan. menyangkut desain aplikasi sistem dan
Tetapi hal ini tidak akan berhasil tanpa implementasi proyek perlu dibenahi untuk
dukungan semua pihak. memenuhi standar perusahaan signalling
profesional.
Tidaklah terlalu butuh keberanian lebih
untuk berinvestasi di pengembangan Pemisahan antara bagian desain
kedua produk ini karena pasarnya yang sistem dan implementasi proyek, adanya
sudah pasti, permintaan tiap tahun yang fungsi checker dan tester yang
terus meningkat, nilai investasi yang tidak independen merupakan syarat minimal
terlalu besar dan yang pasti bisa secara yang harus dipenuhi. Bahkan di beberapa
signifikan meningkatkan efisiensi proyek. aturan internasional sangat
mengharamkan bagian desain apalagi
Pengembangan SDM di bidang
checker dan tester diintervensi oleh
persinyalan juga harus menjadi perhatian
kepentingan non-teknis.
serius. Langkah yang bagus telah

15
Selain standarisasi personel, efektif April tahun ini membuka lebar
sebenarnya standarisasi perusahaan peluang bisnis perkeretaapian. Otonomi
supaya mendapat akreditasi sebagai daerah bidang perkeretaapian membuka
perusahaan signalling profesional juga peluang dibukanya jalur-jalur baru jaringan
diperlukan untuk mendapat pengakuan kereta api. Peluang ini tentu saja harus
internasional. diantisipasi bila kita tidak ingin hanya jadi
penonton saja. (Rtd-Jan’10)
Tentu hal terakhir ini sangatlah berat
karena tidak cukup satu unit saja yang
akan diaudit, tetapi keseluruhan PT. Len
-------o0o-------
harus tunduk pada aturan perusahaan
signalling profesional.
Hal ini tidaklah mungkin mengingat
bisnis PT. LEN bukan cuma sistem
persinyalan. Hal ini barulah mungkin
dilakukan kalau ada wadah khusus berupa
anak perusahaan yang khusus mengelola
sistem persinyalan.
Sebelum mengarah menjadi anak
perusahaan yang bergerak di bidang
persinyalan profesional, pembenahan
yang terkait dengan efisiensi personel
sudah mulai dicanangkan tahun ini, yaitu
dengan membentuk desain house khusus
untuk sistem persinyalan SIL-02.
Proyek terkait SIL-02 yang harus
diselesaikan saat ini jauh lebih banyak.
Untuk itu sistem yang dianut tahun
kemarin dimana satu project satu principle
engineer tidaklah efektif karena seorang
principle engineer untuk proyek SIL harus
memikirkan semua aspek desain utama
untuk 1 atau 2 proyek, dari hulu sampai
hilir.
Sementara enjinir SIL di lokasi yang
lain juga memikirkan hal yang sama untuk
implementasi yang berbeda sesuai layout
stasiun yang ditanganinya. Matrik
pekerjaan yang semula berdasar konsep
semua untuk satu akan diubah menjadi
satu untuk semua, dimana enjinir akan
lebih fokus karena hanya memikirkan satu
hal yang spesifik untuk implementasi
keseluruhan proyek SIL.
Tentunya hal ini juga mengandung
konsekuensi berupa perlunya
pembenahan di sisi manajemen proyek
terutama faktor project engineer yang ke
depan akan berperan lebih banyak untuk
segi teknis pada proses implementasi
sistem di lapangan.
Terlepas dari itu semua, Penerapan
Undang - Undang no 23 Tahun 2007
tentang perkeretaapian yang berlaku

16