Anda di halaman 1dari 12

S S

Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang
pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan.
Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Bentuk jamak dari aqidah adalah aqa-id.
(Lihat kamus bahasa: Lisaanul µArab, al-Qaamuusul Muhiith dan al-Mu'jamul Wasiith: (bab: µAqada).

Jadi kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah; baik itu
benar ataupun salah.


S   
    

Yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi
suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.

Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang
menyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya; yang tidak menerima keraguan atau prasangka.
Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah.
Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut.

S     

Maknanya adalah keimanan yang pasti teguh dengan Rububiyyah Allah Ta'ala, Uluhiyyah-Nya, para
Rasul-Nya, hari Kiamat, takdir baik maupun buruk, semua yang terdapat dalam masalah yang ghaib,
pokok-pokok agama dan apa yang sudah disepakati oleh Salafush Shalih dengan ketundukkan yang
bulat kepada Allah Ta'ala baik dalam perintah-Nya, hukum-Nya maupun ketaatan kepada-Nya serta
meneladani Rasulullah SAW.

S     

Jika disebutkan secara mutlak, maka yang dimaksud adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, karena
itulah pemahaman Islam yang telah diridhai oleh Allah sebagai agama bagi hamba-Nya. Aqidah
Islamiyyh adalah aqidah tiga generasi pertama yang dimuliakan yaitu generasi sahabat, Tabi'in dan orang
yang mengikuti mereka dengan baik.

   S     

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah, sinonimnya aqidah Islamiyyah mempunyai nama lain, di antaranya,
at-Tauhid, as-Sunnah, Ushuluddiin, al-Fiqbul Akbar, Asy-Syari'iah dan al-Iman.

Nama-nama itulah yang terkenal menurut Ahli Sunnah dalam ilmu µaqidah.

1

Aqidah secara bahasa berarti sesuatu yang mengikat. Pada keyakinan manusia adalah suatu keyakinan
yang mengikat hatinya dari segala keraguan. Aqidah menurut terminologi syara' (agama) yaitu keimanan
kepada Allah, Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, Para Rasul, Hari Akherat, dan keimanan kepada takdir Allah
baik dan buruknya. Ini disebut Rukun Iman.

Dalam syariat Islam terdiri dua pangkal utama. Pertama : Aqidah yaitu keyakinan pada rukun iman itu,
letaknya di hati dan tidak ada kaitannya dengan cara-cara perbuatan (ibadah). Bagian ini disebut pokok
atau asas. Kedua : Perbuatan yaitu cara-cara amal atau ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan seluruh
bentuk ibadah disebut sebagai cabang. Nilai perbuatan ini baik buruknya atau diterima atau tidaknya
bergantung yang pertama. Makanya syarat diterimanya ibadah itu ada dua, pertama : Ikhlas karena Allah
SWT yaitu berdasarkan aqidah islamiyah yang benar. Kedua : Mengerjakan ibadahnya sesuai dengan
petunjuk Rasulullah SAW. Ini disebut amal sholeh. Ibadah yang memenuhi satu syarat saja, umpamanya
ikhlas saja tidak mengikuti petunjuk Rasulullah SAW tertolak atau mengikuti Rasulullah SAW saja tapi
tidak ikhlas, karena faktor manusia, umpamanya, maka amal tersebut tertolak. Sampai benar-benar
memenuhi dua kriteria itu. Inilah makna yang terkandung dalam Al-Qur'an surah Al-Kahfi 110 yang
artinya : D 
 
 
  
 

  
 
  


  
  
 
 D

        S  

Penyimpangan pada aqidah yang dialami oleh seseorang berakibat fatal dalam seluruh kehidupannya,
bukan saja di dunia tetapi berlanjut sebagai kesengsaraan yang tidak berkesudahan di akherat kelak. Dia
akan berjalan tanpa arah yang jelas dan penuh dengan keraguan dan menjadi pribadi yang sakit
personaliti. Biasanya penyimpangan itu disebabkan oleh sejumlah faktor diantaranya : 

1. Tidak menguasainya pemahaman aqidah yang benar karena kurangnya pengertian dan
perhatian. Akibatnya berpaling dan tidak jarang menyalahi bahkan menentang aqidah yang
benar.

è. Fanatik kepada peninggalan adat dan keturunan. Karena itu dia menolak aqidah yang benar.
Seperti firman Allah SWT tentang ummat terdahulu yang keberatan menerima aqidah yang
dibawa oleh para Nabi dalam Surat Al-Baqarah 170 yang artinya : D  



 D     
      D


  D 

  
 
  
 

  D


 
      

 

   

    
 

  D

è

r. Taklid buta kepada perkataan tokoh-tokoh yang dihormati tanpa melalui seleksi yang tepat sesuai
dengan argumen Al-Qur'an dan Sunnah. Sehingga apabila tokoh panutannya sesat, maka ia ikut
tersesat.

4. Berlebihan (ekstrim) dalam mencintai dan mengangkat para wali dan orang sholeh yang sudah
meninggal dunia, sehingga menempatkan mereka setara dengan Tuhan, atau dapat berbuat
seperti perbuatan Tuhan. Hal itu karena menganggap mereka sebagai penengah/arbiter antara
dia dengan Allah. Kuburan-kuburan mereka dijadikan tempat meminta, bernadzar dan berbagai
ibadah yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah. Demikian itu pernah dilakukan oleh
kaumnya Nabi Nuh AS ketika mereka mengagungkan kuburan para sholihin. Lihat Surah Nuh èr
yang artinya : D  
 


   
 ! "# #" $%D

5. Lengah dan acuh tak acuh dalam mengkaji ajara Islam disebabkan silau terhadap peradaban
Barat yang materialistik itu. Tak jarang mengagungkan para pemikir dan ilmuwan Barat serta
hasil teknologi yang telah dicapainya sekaligus menerima tingkah laku dan kebudayaan mereka.

6. Pendidikan di dalam rumah tangga, banyak yang tidak berdasar ajaran Islam, sehingga anak
tumbuh tidak mengenal aqidah Islam. Pada hal Nabi Muhammad SAW telah memperingatkan
yang artinya : D!
  
  
 &    
     

 
  
 D (HR: Bukhari).

Apabila anak terlepas dari bimbingan orang tua, maka anak akan dipengaruhi oleh acara /
program televisi yang menyimpang, lingkungannya, dan lain sebagainya.

7. Peranan pendidikan resmi tidak memberikan porsi yang cukup dalam pembinaan keagamaan
seseorang. Bayangkan, apa yang bisa diperoleh dari è jam seminggu dalam pelajaran agama,
itupun dengan informasi yang kering. Ditambah lagi mass media baik cetak maupun elektronik
banyak tidak mendidik kearah aqidah bahkan mendistorsinya secara besar-besaran.

Tidak ada jalan lain untuk menghindar bahkan menyingkirkan pengaruh negatif dari hal-hal yang disebut
diatas adalah mendalami, memahami dan mengaplikasikan Aqidah Islamiyah yang shahih agar hidup kita
yang sekali dapat berjalan sesuai kehendak Sang Khalik demi kebahagiaan dunia dan akherat kita, Allah
SWT berfirman dalam Surah An-Nisa' 69 yang artinya : D  
"   
' %

    
   
    
  "     
%   $         
 

   


D

Dan juga dalam Surah An-Nahl 97 yang artinya : D 



   

    

    
 
   
      
 


     
      
  


 
   

 
 


 D

r

Ñ    S     

Karena Aqidah Islamiyah bersumber dari Allah yang mutlak, maka kesempurnaannya tidak diragukan
lagi. Berbeda dengan filsafat yang merupakan karya manusia, tentu banyak kelemahannya. Makanya
seorang mu'min harus yakin kebenaran Aqidah Islamiyah sebagai poros dari segala pola laku dan
tindakannya yang akan menjamin kebahagiannya dunia akherat. Dan merupakan keserasian antara ruh
dan jasad, antara siang dan malam, antara bumi dan langit dan antara ibadah dan adat serta antara
dunia dan akherat. Faedah yang akan diperoleh orang yang menguasai Aqidah Islamiyah adalah :

1. Membebaskan dirinya dari ubudiyah / penghambaan kepada selain Allah, baik bentuknya
kekuasaan, harta, pimpinan maupun lainnya.

è. Membentuk pribadi yang seimbang yaitu selalu kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun
duka.

r. Dia merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas. Takut kepada kurang rizki,
terhadap jiwa, harta, keluarga, jin dan seluruh manusia termasuk takut mati. Sehingga dia penuh
tawakkal kepad Allah (outer focus of control).

4. Aqidah memberikan kekuatan kepada jiwa , sekokoh gunung. Dia hanya berharap kepada Allah
dan ridho terhadap segala ketentuan Allah.

5. Aqidah Islamiyah adalah asas persaudaraan / ukhuwah dan persamaan. Tidak beda antara
miskin dan kaya, antara pinter dan bodoh, antar pejabat dan rakyat jelata, antara kulit putih dan
hitam dan antara Arab dan bukan, kecuali takwanya disisi Allah SWT.

4

£  
  


Kalimat syahadatain adalah kalimat yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Kita senantiasa menyebutnya
setiap hari, misalnya ketika shalat dan azan. Kalimat syahadatain sering diucapkan oleh umat Islam
dalam pelbagai keadaan. Kita menghafal kalimat syahadah dan dapat menyebutnya dengan fasih.
Namun, demikian sejauh manakah makna kalimat ini dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-
hari kaum Islam?

Pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan realitas yang ada. Tingkah laku umat Islam yang terpengaruh
dengan budaya jahiliyah atau cara hidup Barat, memberi gambaran bahwa syahadah tidak cukup
memberi pengaruh. Terbukti tidak sedikit dari umat Islam yang masih melakukan perkara-perkara yang
dilarang Allah dan meninggalkan perintah-Nya, memberi kesetiaan bukan kepada kaum muslimin, atau
tidak mensyukuri sesuatu yang diberikan kepada mereka. Itu adalah contoh dari wujud seseorang yang
tidak memahami syahadah yang dibacanya dan tidak mengerti makna yang sebenarnya dari syahadah.

Kalimat syahadah merupakan asas utama dan landasan penting bagi rukun Islam. Tanpa syahadah,
rukun Islam lainnya akan runtuh. Begitu juga dengan rukun iman. Tegaknya syahadah dalam kehidupan
individu akan menegakkan ibadah dan dien dalam hidup kita. Dengan syahadatain terwujudlah sikap
ruhani yang akan memberikan motivasi kepada tingkah laku jasmaniah dan akal pikiran, serta
memotivasi kita untuk melaksanakan rukun Islam lainnya.

Tegaknya Islam mesti didahului oleh tegaknya rukun Islam; dan tegaknya rukun Islam mesti didahului
oleh tegaknya syahadah. Rasulullah saw. mengisyaratkan bahwa Islam itu bagaikan sebuah bangunan.
Untuk berdirinya bangunan Islam itu harus ditopang oleh 5 (lima) tiang pokok, yaitu syahadatain, shalat,
saum, zakat, dan haji ke Baitulllah.

Di zaman Nabi saw., kalangan masyarakat Arab memahami betul makna syahadatain ini. Terbukti dalam
suatu peristiwa dimana Nabi saw. mengumpulkan para pemimpin Quraisy dari kalangan Bani Hasyim,
Nabi saw. bersabda, ³Wahai saudara-saudara, maukah kalian aku beri satu kalimat, dimana dengan
kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab?´ Kemudian Abu Jahal menjawab,
³Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat berikan kepadaku.´ Kemudian Nabi saw. bersabda,
³Ucapkanlah      dan Muhammad Rasulullah.´ Abu Jahal pun menjawab, ³Kalau itu yang
engkau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan
Arab.´

Penolakan Abu Jahal kepada kalimat ini bukan karena dia tidak paham akan makna dari kalimat itu.
Justru sebaliknya. Dia tidak mau menerima sikap yang mesti tunduk, taat, dan patuh kepada Allah swt.
saja Dia sadar betul jika ia bersikap seperti itu, maka semua orang akan tidak tunduk lagi kepadanya.
Abu Jahal ingin mendapatkan loyalitas dari kaum dan bangsanya. Penerimaan syahadah bermakna
menerima semua aturan dan segala akibatnya. Penerimaan inilah yang sulit bagi kaum jahiliyah untuk
mengaplikasikan syahadah.

5

Sebenarnya, apabila mereka memahami bahwa loyalitas kepada Allah itu juga akan menambah kekuatan
bagi diri mereka. Mereka yang beriman semakin dihormati dan semakin dihargai. Mereka yang memiliki
kemampuan dan ilmu akan mendapatkan kedudukan yang sama apabila ia sebagai muslim (Abu Jahal
adalah tokoh di kalangan Arab jahiliyah dan ia memiliki banyak potensi, diantaranya ia sebagai Abu Amr
(ahli hukum). Setiap individu yang bersyahadah, maka ia menjadi  &  & 

Kalimat syahadah mesti dipahami dengan benar karena di dalamnya terdapat makna yang sangat tinggi.
Dengan syahadah, kehidupan kita akan dijamin bahagia di dunia ataupun di akhirat. Syahadah sebagai
kunci kehidupan dan tiang dien (agama Islam). Oleh karena itu, marilah kita bersama memahami
syahadatain ini.

  
    
  !!   

Sahnya iman seseorang adalah dengan menyebutkan syahadatain. Kesempurnaan iman seseorang
bergantung kepada pemahaman dan pengamalan syahadatain. Syahadatain membedakan manusia
kepada muslim dan kafir. Pada dasarnya setiap manusia telah bersyahadah Rububiyah di alam arwah,
tetapi ini saja belum cukup. Untuk menjadi muslim, mereka harus bersyahadah Uluhiyah dan syahadah
Risalah di dunia.

Ϣ˴ Ϡ͉γ
˴ ϭ˴ Ϫ˶ ˸ϴϠ˴ϋ
˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϰ͉Ϡλ
˴ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ ϝ
˵ Ϯ˵γέ˴ ϝ
˴ Ύ˴ϗ ˸ϢϬ˵ ϋ
˵ ˸ΩΎ˴ϓ ˸ϢϬ˵ Θ˴ ˸ΌΟ
˶ ΍˴ΫΈ˶ ϓ˴ Ώ
˳ Ύ˴Θϛ˶ Ϟ
˴ ˸ϫ΃˴ Ύ˱ϣ˸Ϯϗ˴ ϲ˶Η˸΄Θ˴ γ
˴ Ϛ
˴ ϧ͉·˶ Ϧ
˶ Ϥ˴ ϴ˴ ˸ϟ΍ ϰ˴ϟ·˶ Ϫ˵ Μ˴ό˴ Α˴ Ϧ
˴ ϴ˶Σ Ϟ
˳ Β˴ Ο
˴ Ϧ
˶ ˸Α Ϋ˶ Ύ˴όϤ˵ ϟ˶ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ Ύ͉ϟ·˶ Ϫ˴ ϟ˴·˶ Ύ˴ϟ ˸ϥ˴΃ ΍ϭ˵ΪϬ˴ ˸θϳ˴ ˸ϥ΃˴ ϰ˴ϟ·˶
˸Χ΄˴ ϓ˴ Ϛ
˴ ϟ˶ά˴ Α˶ Ϛ
˴ ϟ˴ ΍Ϯ˵ϋΎ˴σ΃˴ ˸Ϣϫ˵ ˸ϥΈ˶ ϓ˴ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ ˵ϝϮ˵γέ˴ ΍˱ΪϤ͉ Τ
˴ ϣ˵ ϥ
͉ ΃˴ϭ˴ Ϛ
˴ ϟ˶ά˴ Α˶ Ϛ
˴ ϟ˴ ΍Ϯ˵ϋΎ˴σ΃˴ ˸Ϣϫ˵ ˸ϥΈ˶ ϓ˴ Δ˳ Ϡ˴˸ϴϟ˴ϭ˴ ϡ˳ ˸Ϯϳ˴ Ϟ
͋ ϛ˵ ϲ˶ϓ Ε
˳ ΍˴ϮϠ˴λ
˴ β
˴ ˸ϤΧ
˴ ˸ϢϬ˶ ˸ϴϠ˴ϋ
˴ ν
˴ ή˴ ϓ˴ ˸Ϊϗ˴ Ϫ˴ Ϡ͉ϟ΍ ϥ
͉ ΃˴ ˸Ϣϫ˵ ˸ήΒ˶ ϥ
͉ ΃˴ Ϣ˸ ϫ˵ ˸ήΒ˶˸Χ΄˴ ϓ˴
˸ϥΈ˶ ϓ˴ ˸ϢϬ˶ ΋˶ ΍˴ήϘ˴ ϓ˵ ϰ˴Ϡϋ
˴ Ω͊ ή˴ Θ˵ϓ˴ ˸ϢϬ˶ ΋˶Ύ˴ϴϨ˶ ˸Ϗ΃˴ ˸Ϧϣ˶ ά˵ Χ
˴ ˸ΆΗ˵ Δ˱ ϗ˴ Ϊ˴ λ
˴ ˸ϢϬ˶ ˸ϴϠ˴ϋ
˴ ν
˴ ή˴ ϓ˴ ˸Ϊϗ˴ Ϫ˴ Ϡ͉ϟ΍ ϭ˴ Ϫ˵ Ϩ˴ ˸ϴΑ˴ β
˴ ˸ϴϟ˴ Ϫ˵ ϧ͉Έ˶ ϓ˴ ϡ˶ Ϯ˵Ϡ˸ψϤ˴ ˸ϟ΍ Γ˴ Ϯ˴ ˸ϋ˴Ω ϖ
˶ Η͉΍˴ϭ ˸ϢϬ˶ ϟ˶΍˴Ϯ˸ϣ΃˴ Ϣ˴ ΋˶ ΍˴ήϛ˴ ϭ˴ ϙ
˴ Ύ͉ϳΈ˶ ϓ˴ Ϛ
˴ ϟ˶˴άΑ˶ Ϛ
˴ ϟ˴ ΍Ϯ˵ϋΎ˴σ΃˴ ˸Ϣϫ˵ Ϧ
˴ ˸ϴΑ˴
˲ΏΎ˴ΠΣ
˶ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍

Rasulullah bersabda kepada Muadz bin Jabal saat mengutusnya ke penduduk Yaman, ³Kamu akan
datang kepada kaum ahli kitab. Jika kamu telah sampai kepada mereka, ajaklah mereka agar bersaksi
bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu,
beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat setiap siang dan
malam. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan
sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-
orang miskin. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, hati-hatilah kamu terhadap kemuliaan harta mereka
dan waspadalah terhadap doanya orang yang dizalimi, sebab antaranya dan Allah tidak ada dinding
pembatas.´ (HR. Bukhari dan Muslim).

Berikut ini pernyataan Rasulullah saw. tentang misi     dan kewajiban manusia untuk
menerimanya.

Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Ϥ˵ ϴ˶Ϙϳ˵ϭ˴ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ ϝ
˵ Ϯ˵γέ˴ ΍˱ΪϤ͉ Τ
˴ ϣ˵ ϥ
͉ ΃˴ϭ˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ Ύ͉ϟ·˶ Ϫ˴ ϟ˴·˶ Ύ˴ϟ ˸ϥ΃˴ ΍ϭ˵ΪϬ˴ ˸θϳ˴ ϰ͉ΘΣ
˴ α
˴ Ύ͉Ϩϟ΍ Ϟ
˴ Η˶ Ύ˴ϗ΃˵ ˸ϥ΃˴ Ε
˵ ˸ήϣ˶ ΃˵ΰ͉ ϟ΍ ΍Ϯ˵Η˸Άϳ˵ϭ˴ Γ˴ Ύ˴Ϡμ
͉ ϟ΍ ΍Ϯ Ύ͉ϟ·˶ ˸ϢϬ˵ ϟ˴΍˴Ϯ˸ϣ΃˴ϭ˴ ˸Ϣϫ˵ ˯˴ Ύ˴ϣΩ˶ ϲ͋Ϩϣ˶ ΍Ϯ˵Ϥμ
˴ ϋ
˴ ΍Ϯ˵Ϡό˴ ˴ϓ ΍˴ΫΈ˶ ϓ˴ Γ˴ Ύ˴ϛ
Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ ϰ˴Ϡϋ
˴ ˸ϢϬ˵ Α˵Ύ˴δΣ
˶ ϭ˴ Ύ˴ϬϘ͋ Τ
˴ Α˶

6

³Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah
dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan
hal itu, terperiharalah darah dan harta benda mereka kecuali dengan haknya, sedangkan hisab mereka
kepada Allah.´ (HR. Bukhari dan Muslim).

Pentingnya mengerti, memahami, dan melaksanakan syahadatain. Manusia berdosa akibat melalaikan
pemahaman dan pelaksanaan syahadatain.

³Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah
ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah
mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.´ [QS. Muhammad (47): 19].

Kalimat *                 


 ( menunjukan bahwa ketidakkonsistenan sikap seseorang dengan pernyataan tauhidnya (
   ) adalah perbuatan dosa. Karena pernyataan tersebut pada hakikatnya adalah pernyataan
ikrar kecintaan, ketaatan, dan rasa takut hanya kepada Allah semata. Maka, bila seseorang muslim tidak
menunaikan shalat, tidak menutup aurat, dan atau terlibat dalam pergaulan bebas antar lawan jenis, hal
itu merupakan sikap tidak konsisten dengan pernyataan   . Karena dengan sikap seperti
itu, cinta, taat, dan rasa takutnya tidak diarahkan kepada Allah, tetapi kepada hawa nafsunya sendiri.

Manusia menjadi kafir karena menyombongkan diri terhadap     dan tidak mau
mengesakan Allah.

³Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ³  ´ (tiada Tuhan yang
berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri.´ [QS. As-Shaffat (r7): r5].

Yang dimaksud menyombongkan diri ketika diperdengarkan kalimat ´    ´ tidak semata-
mata karena tidak mau mengucapkan atau mendengarkannya, tetapi yang yang dimaksud adalah
substansinya, yaitu hanya taat, takut dan cinta kepada Allah. Karena itu kesombongan diri dalam ayat ini
maksudnya adalah sikap tidak mau taat dan tunduk kepada perintah Allah, seperti tidak mau
mengerjakan shalat, tidak menutup aurat, tidak menjauhi pergaulan bebas, berkhalwat dengan yang
bukan mahramnya, dan sebagainya.

Yang dapat bersyahadat dalam arti sebenarnya adalah hanya Allah, para malaikat, dan orang-orang
yang berilmu, yaitu para nabi dan orang yang beriman kepada mereka.

³Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang
menegakkan keadilan; para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian
itu): tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.´
[QS. Ali Imran (r): 18].

Manusia bersyahadah di alam arwah sehingga fitrah manusia mengakui keesaan Allah. Ini perlu
disempurnakan dengan syahadatain sesuai ajaran Islam.

7

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ³Bukankah Aku ini Tuhanmu?´ mMereka
menjawab, ³Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.´ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan, ³Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan).´ [QS. Al-A¶raf (7): 17è].

  
   " !  S  

Pemahaman muslim terhadap Islam bergantung kepada pemahamannya terhadap syahadatain. Sebab,
seluruh ajaran Islam terdapat dalam dua kalimat yang sederhana ini.

S #     




S$ Pernyataan     merupakan penerimaan penghambaan atau ibadah kepada Allah saja.
Melaksanakan    (&&
yang ditetapkan Allah) merupakan ibadah kepada-Nya.

$ Menyebut Muhammad Rasulullah merupakan dasar penerimaan cara penghambaan itu dari
Muhammad saw. Dan Rasulullah adalah tauladan dalam mengikuti Manhaj Allah.

%$ Penghambaan kepada Allah meliputi seluruh aspek kehidupan. Ia mengatur hubungan manusia
dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan masyarakatnya.

Makna Laa ilaha illa Allah adalah penghambaan kepada Allah [QS. Al-Anbiya' (è1): è5], dan Rasul diutus
dengan membawa ajaran tauhid.

³Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar
kamu bertakwa.´ [QS. Al-Baqarah (è): è1].

Manusia diciptakan untuk menghambakan dirinya kepada Allah semata.

³Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.´ [QS. Az-
Dzariyat (51): 56].

Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya,
³Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.´
[QS. Al-Anbiya¶ (è1): è5].

Muhammad saw. adalah tauladan dalam setiap aspek kehidupan [QS. Ali Imran (r): r1], dan aktifitas
hidup orang yang beriman kepada Allah, hendaknya mengikuti ajaran Muhammad saw.

³Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.´ [QS. Al-Ahzab
(rr): è1].

Meneladani Rasulullah menjadi parameter keimanan dan kecintaan seseorang kepada Allah. Bukti cinta
kepada Allah adalah dengan mengikuti ajaran Rasulullah saw.

8

Katakanlah, ³Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu.´ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.´ [QS. Ali Imran (r): r1].

Seluruh aktivitas hidup manusia secara individu, masyarakat dan negara mesti ditujukan kepada
mengabdi Allah swt. saja.

³Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan
semesta alam.´ (Al-An¶am: 16è).

Islam adalah satu-satunya syariat yang diridhai Allah dan tidak dapat dicampur dengan syariat lainnya.

³Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang
telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang
ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah
sangat cepat hisab-Nya.´ [QS. Ali Imran (r): 19].

³Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)
daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.´ [QS. Ali Imran (r): 85].

³Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka
ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.´ [QS. Al-
Jatsiyah (45): 18].

³Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah
kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalannya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.´ [QS. Al-An¶am (6): 15r].

  
     &  &  

Syahadatain mampu mengubah manusia dalam aspek keyakinan, pemikiran, maupun jalan hidupnya.
Perubahan itu juga meliputi berbagai aspek kehidupan manusia secara individu atau masyarakat.

Ada perbedaan penerimaan syahadatain pada generasi pertama umat Muhammad dengan generasi
sekarang. Perbedaan tersebut disebabkan perbedaan derajat kepahaman terhadap makna syahadatain
secara bahasa dan pengertian, dan sikap konsisten terhadap syahadah tersebut dalam pelaksanaan
ketika menerima maupun menolak.

Umat terdahulu langsung berubah ketika menerima syahadatain. Sehingga mereka yang tadinya bodoh
menjadi pandai, yang kufur menjadi beriman, yang bergelimang dalam maksiat menjadi takwa dan abid,
yang sesat mendapat hidayah. Masyarakat yang tadinya bermusuhan menjadi bersaudara di jalan Allah.

Syahadatain dapat merubah masyarakat dahulu, maka syahadatain pun dapat mengubah umat sekarang
menjadi baik.

Penggambaran Allah tentang perubahan yang terjadi pada para sahabat Nabi, yang dahulunya berada
dalam kegelapan jahiliyah kemudian berada dalam cahaya Islam yang gemilang.

9

³Dan apakah orang yang sudah mati (maksudnya ialah orang yang telah mati hatinya yakni orang-orang
kafir) kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan
cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang
keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah
kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.´ [QS. Al-An¶am (6):
1èè].

Perubahan individu contohnya terjadi pada Mush¶ab bin Umair yang sebelum mengikuti dakwah Rasul
merupakan pemuda yang paling terkenal dengan kehidupan yang glamour di kota Mekkah. Tetapi
setelah menerima Islam, ia menjadi pemuda sederhana yang dai, duta Rasul untuk kota Madinah,
kemudian menjadi syuhada Uhud. Saat syahidnya, Rasulullah membacakan ayat ini.

³Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan
kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-
nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).´ [QS. Al-Ahzab (rr): èr].

Reaksi masyarakat Quraisy terhadap kalimat tauhid [QS. Al-Buruuj (85): 6-10], reaksi musuh terhadap
keimanan kaum mukminin kepada Allah [QS. Al-Kahfi (18): è], musuh memerangi mereka yang konsisten
dengan pernyataan Tauhid [QS. Al-Anfal (8): è0].

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka:   (Tiada Tuhan yang
berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata, ³Apakah kami
harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?´ Sebenarnya dia
(Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya). [QS. As-
Shaffat (r7): r5-r7].

³Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap
orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena
orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai
kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang
yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian
mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang
membakar.´ [QS. Al-Buruj (85): 6-10].

³Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan
memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shalih, bahwa
mereka akan mendapat pembalasan yang baik.´ [QS. Al-Kahfi (18): è].

³Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap
dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah
menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.´ [QS. Al-Anfal (8): r0].

  
    ! !
 !'  "  

10

Setiap rasul, semenjak Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad saw., membawa misi dakwah yang satu,
yaitu syahadah. Apa yang diwahyukan kepada Rasulullah sama dengan apa yang diwahyukan kepada
nabi-nabi sebelumnya. Allah berfirman,

³Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami telah memberikan wahyu
kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim,
Isma¶il, Ishak, Ya¶qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kami berikan
Zabur kepada Daud.´ [QS. An-Nisa¶(4): 16r].

Mereka semua mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah semata dan hanya menyembah kepada-
Nya. Seperti yang diserukan Nuh a.s. kepada kaumnya.

Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, ³Wahai kaumku, sembahlah
Allah. Sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah
Allah), Aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).´ [QS. Al-A¶raf (7): 59].

Nabi Ibrahim berdakwah kepada masyarakat untuk membawa mereka menuju kepada pengabdian Allah
saja serta membebasakan diri dari kesyirikan.

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama
dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ³Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu
dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami
dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.
Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, ³Sesungguhnya Aku akan memohonkan ampunan bagi
kamu dan Aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah´. (Ibrahim berkata), ³Ya Tuhan
kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat, dan
hanya kepada Engkaulah kami kembali.´ [QS. Al-Mumtahanah (60): 4].

(Catatan: Nabi Ibrahim pernah memintakan ampunan bagi bapaknya yang musyrik kepada Allah: Ini tidak
boleh ditiru, karena Allah tidak membenarkan orang mukmin memintakan ampunan untuk orang-orang
kafir. Lihat surat An-Nisa ayat 48).

Para nabi membawa dakwah bahwa ilah yang satu yaitu Allah saja.

Katakanlah, ³Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa
sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.´ Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan
Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan
seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.´ [QS. Al-Kahfi (18): 110].

  
   £  
 (  ) 

Banyak ganjaran yang diberikan oleh Allah dan dijanjikan oleh Nabi Muhammad saw. Di antaranya
seseorang akan dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan dari neraka seperti sabda Rasulullah saw.

11

˸Ϩϋ
˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϲ
˴ο
˶ έ˴ Γ˴ Ω˴ Ύ˴Βϋ
˵ ˸Ϧϋ
˴ ϟ˴ Ϛ
˴ ϳ˶ήη
˴ Ύ˴ϟ ϩ˵ ˴Ϊ˸Σϭ˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ Ύ͉ϟ·˶ Ϫ˴ ϟ˴·˶ Ύ˴ϟ ˸ϥ΃˴ Ϊ˴ Ϭ˶ η
˴ ˸Ϧϣ˴ ϝ
˴ Ύ˴ϗ Ϣ˴ Ϡ͉γ
˴ ϭ˴ Ϫ˶ ˸ϴϠ˴ϋ
˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϰ͉Ϡλ
˴ ϲ
͋ Β˶ Ϩ͉ϟ΍ ˸Ϧϋ
˴ Ϫ˵ ˶ϪϠ͉ϟ΍ Ϊ˵ ˸Βϋ
˴ ϰ˴δϴ˶ϋ ϥ
͉ ΃˴ϭ˴ Ϫ˵ ϟ˵Ϯ˵γέ˴ ϭ˴ ϩ˵ Ϊ˵ ˸Βϋ
˴ ΍˱ΪϤ͉ Τ
˴ ϣ˵ ϥ
͉ ΃˴ϭ˴ Ϫ˵
˲Ρϭ˵έϭ˴ Ϣ˴ ϳ˴ ˸ήϣ˴ ϰ˴ϟ·˶ Ύ˴ϫΎ˴Ϙ˸ϟ΃˴ Ϫ˵ Θ˵Ϥ˴ Ϡ˶ϛ˴ ϭ˴ Ϫ˵ ϟ˵Ϯ˵γέ˴ ϭ˴ Ϟ
˶ Ϥ˴ ό˴ ˸ϟ΍ ˸Ϧϣ˶ ϥ
˴ Ύ˴ϛ Ύ˴ϣ ϰ˴Ϡϋ
˴ Δ˴ Ϩ͉Π
˴ ˸ϟ΍ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ Ϫ˵ Ϡ˴Χ
˴ ˸Ω΃˴ ϖ
͇Σ
˴ έ˵ Ύ͉Ϩϟ΍˴ϭ ϖ
͇Σ
˴ Δ˵ Ϩ͉Π
˴ ˸ϟ΍˴ϭ Ϫ˵ ˸Ϩϣ˶

Ubadah bin Shamit meriwayatkan dari Nabi saw., beliau bersabda, ³Barangsiapa mengatakan tiada ilah
selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya dan Rasul-Nya, bahwa
Isa adalah hamba dan utusan-Nya, kalimat-Nya yang dicampakkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya,
dan bahwa surga adalah hak serta neraka itu hak. Allah akan memasukkannya ke surga, apapun amal
perbuatannya.´ (Bukhari).

Ϡ͉ϟ΍ Ύ͉ϟ·˶ Ϫ˴ ϟ˴·˶ Ύ˴ϟ ϝ


˴ Ύ˴ϗ ˸Ϧϣ˴ έ˶ Ύ͉Ϩϟ΍ ˸Ϧϣ˶ Ν
˵ ή˵ ˸Ψϳ˴ ϝ
˴ Ύ˴ϗ Ϣ˴ Ϡ͉γ
˴ ϭ˴ Ϫ˶ ˸ϴϠ˴ϋ
˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϰ͉Ϡλ
˴ ϲ
͋ Β˶ Ϩ͉ϟ΍ ˸Ϧϋ
˴ β
˳ ϧ˴ ΃˴ ˸Ϧϋ
˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ Ύ͉ϟ·˶ Ϫ˴ ϟ˴·˶ Ύ˴ϟ ϝ
˴ Ύ˴ϗ ˸Ϧϣ˴ έ˶ Ύ͉Ϩϟ΍ ˸Ϧϣ˶ Ν
˵ ή˵ ˸Ψϳ˴ ϭ˴ ή˳ ˸ϴΧ
˴ ˸Ϧϣ˶ Γ˳ ή˴ ϴ˶όη
˴ ϥ
˵ ˸ίϭ˴ Ϫ˶ Β˶ ˸Ϡϗ˴ ϲ˶ϓϭ˴ Ϫ˵
˸ίϭ˴ Ϫ˶ Β˶ ˸Ϡϗ˴ ϲ˶ϓϭ˴ ή˳ ˸ϴΧ
˴ ˸Ϧϣ˶ Γ˳ έ͉ Ϋ˴ ϥ
˵ ˸ίϭ˴ Ϫ˶ Β˶˸Ϡϗ˴ ϲ˶ϓϭ˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ Ύ͉ϟ·˶ Ϫ˴ ϟ˴·˶ Ύ˴ϟ ϝ
˴ Ύ˴ϗ ˸Ϧϣ˴ έ˶ Ύ͉Ϩϟ΍ ˸Ϧϣ˶ Ν
˵ ή˵ ˸Ψϳ˴ ϭ˴ ή˳ ˸ϴΧ
˴ ˸Ϧϣ˶ Γ˳ ή͉ Α˵ ϥ
˵

Dari Anas, Nabi saw. bersabda, ³Keluar dari neraka orang yang mengucapkan     dan di
hatinya ada seberat rambut kebaikan. Keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah
sedang di hatinya ada seberat gandum kebaikan. Dan keluar dari neraka orang yang mengatakan  
 sedang di hatinya ada seberat zarrah kebaikan.´ (Bukhari).

Orang yang mengikrarkan syahadat akan mendapatkan syafaat Rasulullah di hari Kiamat. Seperti sabda
beliau,

ϝ
˴ Ύ˴ϗ Δ˶ ϣ˴ Ύ˴ϴϘ˶ ˸ϟ΍ ϡ˴ ˸Ϯϳ˴ Ϛ
˴ Θ˶ ϋ
˴ Ύ˴ϔθ
˴ Α˶ α
˶ Ύ͉Ϩϟ΍ Ϊ˵ ό˴ ˸γ΃˴ ˸Ϧϣ˴ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ ϝ
˴ Ϯ˵γέ˴ Ύ˴ϳ Ϟ
˴ ϴ˶ϗ ϝ
˴ Ύ˴ϗ Ϫ˵ ϧ͉΃˴ ˴Γή˴ ˸ϳή˴ ϫ˵ ϲ˶Α΃˴ ˸Ϧϋ
˴ϝ
˵ Ϯ˵γέ˴ ϲ˶Ϩϟ˵΄˴˸δϳ˴ Ύ˴ϟ ˸ϥ΃˴ ˴Γή˴ ˸ϳή˴ ϫ˵ Ύ˴Α΃˴ Ύ˴ϳ Ζ
˵ ˸ϨϨ˴ χ
˴ ˸ΪϘ˴ ϟ˴ Ϣ˴ Ϡ͉γ
˴ ϭ˴ Ϫ˶ ˸ϴϠ˴ϋ
˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϰ͉Ϡλ
˴ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍
˸Ϯϳ˴ ϲ˶Θϋ
˴ Ύ˴ϔθ
˴ Α˶ α
˶ Ύ͉Ϩϟ΍ Ϊ˵ ό˴ ˸γ΃˴ Κ
˶ ϳ˶ΪΤ
˴ ˸ϟ΍ ϰ˴Ϡϋ
˴ Ϛ
˴λ
˶ ˸ήΣ
˶ ˸Ϧϣ˶ Ζ
˵ ˸ϳ΃˴έ˴ Ύ˴Ϥϟ˶ Ϛ
˴ ˸Ϩϣ˶ ϝ
˵ ϭ͉ ΃˴ ˲ΪΣ
˴ ΃˴ Κ
˶ ϳ˶ΪΤ
˴ ˸ϟ΍ ΍˴άϫ˴ ˸Ϧϋ
˴ ϟ˴ ϝ
˴ Ύ˴ϗ ˸Ϧϣ˴ Δ˶ ϣ˴ Ύ˴ϴϘ˶ ˸ϟ΍ ϡ˴ ˶Ϫδ
˶ ˸ϔϧ˴ ˸ϭ΃˴ Ϫ˶ Β˶ ˸Ϡϗ˴ ˸Ϧϣ˶ Ύ˱μϟ˶Ύ˴Χ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ Ύ͉ϟ·˶ Ϫ˴ ϟ˴·˶ Ύ

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. ditanya, ³Siapakah orang yang paling berbahagia dengan
syafaatmu di hari Kiamat?´ Rasulullah saw. bersabda, ³Aku telah mengira, ya Abu Hurairah, bahwa tidak
ada seorang pun yang tanya tentang hadits ini yang lebih dahulu daripada kamu, karena aku melihatmu
sangat antusias terhadap hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari Kiamat adalah
yang mengatakan   secara ikhlas dari hatinya atau jiwanya.´ (Bukhari).

1è