Anda di halaman 1dari 2

Kekuatan Pikiran

Oleh: Hasan Aspahani

ADA sebuah tulisan semacam cerita yang tak bersumber. Beredar dari mulut ke mulut. Dari orang ke orang.
Saya kemudian mendapatkannya lagi dalam sebuah buku. Mungkin Anda sudah membacanya. Tapi, saya
ingin sekali membagikannya untuk Anda. Ceritanya begini:

Aku adalah pendamping setiamu. Akulah penolong terbesarmu atau beban terberatmu. Aku akan
mendorongmu maju atau menyeretmu gagal. Aku sepenuhnya takluk pada perintahmu. Separuh hal yang
engkau perbuat sebaiknya engkau serahkan saja kepadaku maka aku akan dapat melaksanakannya dengan
cepat dan tepat. Aku mudah diatur – yang penting engkau tegas terhadapku. Tunjukkanlah kepadaku
bagaimana engkau mau sesuatu itu dilaksanakan maka setelah beberapa pelajaran akan kulaksanakan itu
dengan otomatis.

Akulah hamba semua orang besar; dan sayangnya juga hamba semua pecundang. Mereka-mereka yang
besar, telah kujadikan besar. Mereka-mereka yang pecundang, juga telah kujadikan pecundang. Aku
bukanlah mesin, walaupun aku bekerja dengan tingkat presisi mesin ditambah dengan intelejensi manusia.
Engkau bisa memanfaatkan aku demi keuntungan atau demi kehancuran – tidak ada bedanya bagiku.
Ambillah aku, latihlah aku, tegaslah terhadapku, maka dunia akan kuletakkan di bawah kakimu. Bersikap
toleranlah. Terhadapku maka aku akan menghancurkanmu.

Siapakah aku? Aku adalah kebiasaan!

Bila tak cukup sekali baca, ulanglah. Saya membacanya berulang-ulang juga. Saya merasa beruntung dan
menyesal. Beruntung karena ada sejumlah kebiasaan yang sudah lama saya biasakan dan itu kini sangat
menguntungkan saya. Menyesal karena ada beberapa hal lain yang hingga saat ini masih saja saya latih
untuk menjadi kebiasaan saya, dan itu nyaris terlambat.

Semuanya mungkin bisa dilihat sebagai sebuah kebiasaan. Saya dulu pernah merokok. Saya kira sekarang
itu hanya kebiasaan saja, bukan sebuah kecanduan. Maka tanpa kesulitan saya bisa menghentikan
kebiasaan itu. Sekarang saya tidak merokok lagi.

Saya suka membaca. Dan itu secara tak sadar menjadi kebiasaan yang menolong saya, mendorong saya,
dan ah semoga saja nanti kesukaan membaca itu akan meletakkan dunia di bawah kaki saya. Saya percaya
itu. Yang menggembirakan lagi, kebiasaan membaca itu saya lihat ditiru oleh Shiela anak sulung saya. Dia
juga sudah punya kebiasaan membaca yang luar biasa.

***

Cerita tentang “Si Kebiasaan” itu saya baca dari John C Maxwell. Dalam bahasa Indonesia judul buku itu
diterjemahkan sebagai “Berpikir Lain dari yang Biasanya”. Maxwell, penulis yang akhir-akhir ini amat saya
sukai buku-bukunya, dengan mengutip cerita itu ingin mengantarkan sebuah pembahasan penting dalam
bukunya. Yaitu tentang pentingnya berpikir dengan benar. Sebab pikiran, dan berpikir yang benar adalah
kekuatan.

Maxwell menyimpulkan – ah bukan kesimpulan, saya belum sampai membaca ke lembar akhir bukunya, tapi
mungkin ini salah satu mutiara yang saya pungut, mutiara yang memang banyak sekali ditebarkannya di
sepanjang halaman-halaman buku itu, begini:

1. Semakin Anda sering berpikir baik, semakin banyaklah pikiran baik yang akan muncul.

2. Sukses datang kepada mereka-mereka yang secara kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak dilakukan
orang-orang yang tidak sukses.

3. Prestasi datang dari kebiasaan berpikir baik.

4. Semakin sering Anda berpikir baik, semakin banyaklah pemikiran-pemikiran baik yang muncul di benak
Anda.

Jadi soalnya adalah membiasakan berpikir baik. Tiap orang dibekali otak. Dibekali akal. Akal, kata Sayidina
Ali, ada harta yang paling berharga. Yang berbeda dari tiap orang adalah apakah otak dan akalnya ia pakai
untuk berpikir? Terlebih lagi apakah otak dan akalnya dipakai untuk memikirkan hal-hal yang baik?

Saya jadi melihat-lihat lagi jejak perjalanan saya selama ini. Saya kira saya kurang mendapat pengajaran
bagaimana cara berpikir dengan benar. Saya kira, saya hanya sering mendengar otak dan akal sebagai
bahan untuk memaki. “Kamu tak ada otak, ya?” atau “Pakai akalmu, dong!” Di sekolah kebanyakan
pelajaran hanya memasukkan pengetahuan baru di kepala, untuk kemudian dikeluarkan di saat ujian. Itu
saja.

Sepertinya kita memang tidak dilatih untuk menjadi pemikir. Kita sering mendengar, ayolah jangan terlalu
banyak berpikir, bertindaklah. Kita mungkin terlatih untuk menghargai tindakan daripada pikiran. Kita menjadi
orang-orang yang kurang menghargai hasil pemikiran.

Ilustrasi cerita di buku Maxwell tadi mungkin dengan pas menggambarkan alam pikir kita. Ini mungkin bukan
kisah nyata, kisah tentang Presiden Direktur seorang perusahaan yang sedang mengantarkan seorang
eksekutif yunior yang baru direkrut. Si eksekutif yunior yang mungkin ingin mengesankan sang presiden
direktur bertanya heran ketika melihat seorang wanita berada di ruangan besar. Ia duduk di kursi yang
nyaman, memandang keluar jendela. Di kantor itu tak ada meja tulis, tak ada komputer, tak ada lemari arsip.
Terjadilah percakapan berikut ini:

Si yunior bertanya, “Kenapa ruang kantor itu tidak dimanfaatkan?”

“Siapa bilang?”

“Oh, ya. Itu kantor kosong, dan siapa itu wanita yang duduk di kursi? Dia tak mengerjakan apa-apa
kelihatannya?”

“Dia salah seorang wakil presiden direktur di perusahaan ini. Dia sedang bekerja itu kantornya.”

“Saya tak melihat apa yang ia kerjakan…”

“Dia sedang berpikir. Itulah tugasnya. Itu yang ia kerjakan buat perusahaan ini.”

“Dia dibayar hanya untuk berpikir? Maksud Anda dia tidak harus menghasilkan apapun? Wah, mau juga
mempunyai jabatan seperti itu.”

“Kau tahu, ide terakhir yang ia berikan pada kami menghasilkan 20 dolar juta bagi perusahaan ini. Kalau
Anda mampu melakukan itu secara konsisten, mungkin saja suatu hari kelak Anda sendiri mendapatkan
jabatan seperti itu.”

***

Membaca petikan kisah tadi, saya langsung teringat seorang kawan di Jakarta. Dia bekerja sebagai direktur
kreatif di sebuah biro iklan. Kabar terakhir mereka baru saja sukses menggarap iklan traktor. Persoalan
traktor tersebut adalah petani tak kenal apa mereknya karena banyak sekali tipe yang mereka produksi.
Padahal mereka menguasai pangsa pasar sampai 80 persen.

“Itu masalah mereka bertahun-tahun,” kata kawan saya yang saya kagumi itu. Sudah menjadi tugas kawan
saya itu untuk memikirkan bagaimana jalan keluarnya, tentu dengan kampanye iklan.

Alhasil, “masalah tahunan itu selesai dalam dua minggu iklan di televisi. Iklannya cukup dengan
memperkenalkan bagaimana cara mengucapkan merek tersebut.”

“Sebentar, coba saya tebak. Ini pasti iklan traktor yang bintangnya Butet itu kan?”

“Betul!”

Ah. Sungguh sebuah hasil dari kekuatan berpikir. Teman saya malah mengajarkan satu hal pada saya. Yang
diperlukan bukan hanya berpikir dengan baik, tapi dengan kreatif! Saya percaya dia memang orangnya, jika
tidak, takkanlah dia menjadi pemenang lomba kritik film di FFI beberapa tahun lalu.

Selamat berpikir