Anda di halaman 1dari 3

Rabu, 18 Januari 2006 00:26

Di Balik Mahalnya Bahan Baku Obat


Oleh : Yudi Hardi Susilo SSi Apt

Perkembangan terakhir kasus flu burung di Indonesia mencapai


tahap yang cukup menggembirakan. Hal ini terlihat pada kesungguhan pemerintah untuk
memproduksi obat yang direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia WHO sebagai obat antiflu
burung, yaitu Tamiflu dan mempercayakan Kimia Farma sebagai produsen di Indonesia.

Pemerintah bahkan mengemukakan, Tamiflu yang mempunyai zat berkhasiat Oseltamivir


Phosphate ternyata berasal dari tanaman yang banyak terdapat di Indonesia yaitu Kembang
Lawang atau dikenal juga sebagai adas manis yang biasa digunakan untuk bumbu masak.
Rencananya, pemerintah mengekspor tanaman ini ke Korea untuk mendapatkan bahan baku
berkhasiat dan selanjutnya mengimpornya kembali untuk diproduksi oleh Kimia Farma di
Indonesia. (Cakrawala, antv, 28 November 2005).

Sekilas terlihat, pemerintah bersungguh-sungguh mengupayakan tersedianya obat antiflu burung


ini di Indonesia. Tetapi terlihat pula di sini, kemampuan bangsa ini sangat terbatas terutama
untuk memperoleh bahan baku obat sehingga terpaksa harus diperoleh dengan jalan mengimpor
dari negara lain yang mampu membuat bahan baku obat meskipun tanaman asalnya dari negeri
Indonesia sendiri.

Sebagai gambaran tentang bahan baku obat, barangkali dapat diungkapkan di sini. Obat yang
umum dikonsumsi masyarakat terdiri atas berbagai macam sediaan. Antara lain: cair (sirup),
padat (tablet/kapsul), semipadat (salep), tetes, steril (injeksi) dan lainnya. Untuk sediaan
berbentuk kapsul, seperti halnya Tamiflu ini, dibuat dengan berbagai macam komponen bahan.
Antara lain bahan baku obat (zat aktif) dan bahan tambahan. (Formulasi Teknologi Sediaan
Padat, 1994)

Bahan baku obat ini yang merupakan zat berkhasiat untuk menyembuhkan, mengurangi ataupun
menghilangkan suatu penyakit. Ukuran bahan baku obat sangat kecil sehingga harus diberi
zat/bahan tambahan seperti amilum, talk, bahan pengikat, dll yang tidak mempengaruhi khasiat
zat tersebut. Selanjutnya dicampur dan diproduksi dengan mesin pabrik, sehingga layak untuk
dikonsumsi masyarakat. Hampir seluruh pabrik farmasi di Indonesia hanya melakukan proses
pecampuran dan pembuatan sediaan obatnya, sedangkan bahan baku atau zat aktif obatnya
diperoleh dengan cara membeli dari luar negeri.

Bagaimana dengan biayanya? Menurut sebuah sumber online di internet, harga satu blister (isi
10 kapsul) Tamiflu paling murah sekitar 99 dolar AS, atau sekitar 100 ribu rupiah per kapsul.
Harga ini tentu jauh lebih mahal dibandingkan apabila produksinya dilakukan di Indonesia sendiri.

Martin Karpf, dalam sebuah Siegfried Symposium 2004, menjelaskan tentang pembuatan bahan
baku obat Tamiflu (Oseltamivir Phosphate) dari tanaman adas manis. Tiga belas gram adas akan
menghasilkan 1,3 gram shikimic acid dan terakhir menjadi 1,0 gram oseltamivir phosphate, yang
selanjutnya diproses menjadi sepuluh kapsul Tamiflu. Sedangkan harga adas untuk
menghasilkan zat aktif berkualitas tinggi berkisar 200 - 250 dolar AS per kilogramnya dan bisa
melesat hingga 50 dolar per gramnya. (CyberHealth, 12 November 2005).

Dengan demikian kebijakan pemerintah untuk memproduksi sendiri obat ini sangat tepat.
Mengingat, tingkat kemanfaatan dan kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan obat ini
sangat tinggi. Namun begitu, pemerintah masih harus membayar bahan baku obat tersebut
dengan harga yang tidak sepadan dengan harga tanaman asal obat yang diekspor ke negara
pembuat zat aktif obat tersebut.

Kasus pembuatan Tamiflu di atas sebenarnya merupakan salah satu gambaran mengapa harga
obat paten di Indonesia menjadi sangat tinggi, padahal Indonesia kaya sumberdaya alam yang
tanahnya menumbuhkan ribuan jenis tumbuhan obat yang mengandung zat aktif sangat
berkhasiat dan manjur. Namun selama ini Indonesia belum mampu menyediakan biaya yang
sangat tinggi untuk alat produksi zat berkhasiat tersebut. Bahkan untuk membuat zat aktif
paracetamol yang telah dikenal masyarakat luas sebagai obat analgetik-antipiretik (pengurang
rasa sakit-antipanas), pabrik obat harus melewati delapan tahap proses ekstraksi yang secara
ekonomis biayanya jauh lebih tinggi dibanding apabila membeli bahan baku tersebut dari luar
negeri dan mengolahnya di sini sebagai bentuk sediaan jadi. Apalagi dengan Tamiflu, yang
konon Menkes sendiri mengatakan, untuk memperoleh zat berkhasiat oseltamivir phosphate ini
harus melalui 12 tahap ektraksi dan proses biokimiawi lainnya.

Mahalnya harga sebuah bahan baku obat ini menjadi permasalahan tersendiri dalam dunia
farmasi. Tidak dapat dipungkiri, masyarakat banyak yang merasa berat di tengah penaikan harga
BBM ini tentu ongkos produksi obat pun akan meningkat. Ini berarti, tidak mustahil harga jual
obat ke konsumen naik juga. Kondisi ini menuntut komitmen pemerintah terhadap masalah obat-
obatan. Paling tidak, kasus flu burung dan Tamiflu seharusnya membuka mata bangsa ini.
Bahwa, ternyata tanaman adas yang ada di sekitar halaman sendirilah jalan keluar permasalahan
yang selama ini menghantui dan menakutkan masyarakat. Sayang memang, keahlian ahli
farmasi dalam sintesa (membuat) obat dan insinyur teknik dalam membuat mesin produksi tidak
didukung dana yang memadai.

Produksi Tamiflu di dalam negeri ini memang menunjukkan komitmen pemerintah dalam bidang
kesehatan. Namun demikian, seharusnya pemerintah memiliki visi dan rencana jangka panjang
juga. Mengingat, SDA dan SDM yang belum dimanfaatkan maksimal. Sepuluh tahun lalu
Indonesia mengimpor bahan baku obat, sekarang juga masih mengimpor. Ini berarti belum ada
kemajuan berarti dalam ilmu dan pengetahuan yang dimiliki SDM negeri sendiri. Atau barangkali
memang pemerintah selama ini tidak pernah memikirkan untuk memiliki alat produksi bahan baku
sendiri, guna menghasilkan ratusan bahkan mungkin ribuan zat obat berkhasiat dari lebih 13 ribu
pulau di seluruh Indonesia.

Obat paten Tamiflu bisa jadi masih mahal. Tetapi bagi masyarakat awam bisa membuat sendiri
obat tradisional dengan bahan yang sama. Mengenal terlebih dahulu tanaman obatnya,
selanjutnya belajar cara mengolah jamunya untuk dikonsumsi sendiri. Secara sederhana,
Kembang Lawang merupakan pohon obat yang dikenal sejak 2.700 tahun sebelum masehi.

Tanaman ini satu famili dengan C zeylanicum (kayumanis), kulitnya menghasilkan bumbu kayu
manis. Bila buah Kembang Lawang matang, akan terlihat mirip tanaman cengkeh, meskipun
wanginya khas. Pada umumnya di negara Cina, kulit dan batang keringnya dipakai sebagai obat.
Terutama apabila dicampur dengan tumbuhan obat-obatan lain untuk mengobati kanker, tekanan
darah tinggi, penyakit perut.

Farmakope Cina menyebut kegunaan obat itu antara lain: Tangkai yang muda dapat dipakai
sebagai obat batuk (untuk mempermudah sekresi lendir); mengobati nyeri anggota badan dan
haid. Kulit akar berguna untuk mengobati sakit pada masa haid, mencret dan kaget. Kulitnya
sebagai tonikum, obat batuk dan penyakit dada. Ekstrak C cassia berkhasiat sebagai
anticendawan dan antikuman. Minyaknya memiliki efek antivirus, mampu menurunkan tekanan
darah dan mengobati pembuluh darah ke jantung. Bahan lainnya adalah cinnamik aldehid,
cinnamylacetat, fenylpropyl acetat, tannin dan saffrol (yang terdapat pada kayunya).

Cinnamik aldehid memiliki efek membius pada tikus, serta merendahkan suhu tubuh dan demam.
Jenis lainnya yang masih satu famili yaitu C Burmannii, juga ditemukan di Indonesia dan
mengandung lebih dari 50 persen cinnamik aldehid. (asiamaya.com)

Uraian di atas baru satu jenis dari ribuan tanaman yang ada di negeri ini. Contoh lain, beberapa
bulan lalu, peneliti dari UGM Dr AH Bambang Setiaji mengungkapkan, sari kelapa segar terbukti
memperlemah dan menghancurkan HIV-AIDS, selain mampu mengobati segala jenis penyakit
lain. Namun beritanya berhenti sampai di situ.

Begitu pula dengan banyak penelitian lain yang selama ini hanya merupakan goresan tinta di
kertas yang tidak pernah ditingkatkan kinerjanya. Potensi SDM negeri sendiri masih bisa
diharapkan untuk membuat negeri ini makmur dan sejahtera, asalkan berani menginvestasikan
devisa negara pada tujuan jangka panjang. Tentunya dilandasi moral yang kritis, jujur, adil dan
percaya diri. Susah memang untuk memulai langkah pertama, namun jika telah melangkah tentu
akan cepat larinya.

* Wakil ketua umum BPD ISFI Kalsel,


tinggal di Banjarmasin
e-mail: yudihardis@yahoo.com

Copyright © 2003 Banjarmasin Post