Anda di halaman 1dari 13

STRATEGI DALAM MENGATASI MASALAH

KETENAGAKERJAAN

Makalah
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Ekonomi SDM, SDA, dan Lingkungan

Dosen Pengampu :
Ngadiyono, S.Pd

Oleh :
SEPTIAN ENDRO LAKSONO
08404241008
Pendidikan Ekonomi ( A )

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010
0
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah


Ketenagakerjaan merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tenaga
kerja baik sebelum, selama kerja, dan sampai masa kerja berakhir. Melihat hal itu
berarti ada perlakuan yang berkesinambungan terhadap tenaga kerja. Maksudnya adalah
tenaga kerja layak mendapat haknya dan melaksanakan kewajiban dari sebelum bekerja
sampai masa kerjanya selesai. Namun, terkadang perlakuan yang didapat oleh tenaga
kerja tidak sesuai yang diharapkan, terutama mereka yang bekerja di luar wilayah
Indonesia.
Masalah muncul sebagai akibat adanya kesenjangan dengan kenyataan yang ada
di lapangan, kesenjangan itu berupa kekurangan akan sumber daya yang dimiliki, baik
oleh tenaga kerja maupun oleh pengusahanya sendiri. Banyak masalah yang dapat
diselesaikan dengan mudah, namun ada pula masalah yang melibatkan tenaga kerja
dengan pengusaha sulit dipecahkan dan menimbulkan dampak yang negatif bagi
lingkungan tempat kerja.
Tulisan ini berusaha sedikit menjelaskan dan menanggapi masalah umum yang
terkait dengan tenaga kerja dan pengusaha di negara Indonesia. Mengapa demikian?
Jawabnya adalah bahwa di negara berkembang seperti Indonesia ini, masih banyak
persoalan yang menyangkut pemanfaaatan sumber daya termasuk sumber daya manusia
yang salah pemanfaatannya. Faktor-faktor penyebab terjadinya masalah
ketenagakerjaan juga perlu dipelajari agar masalah ini tidak berkelanjutan atau
diminimalisir keburukannya tiap waktu.
Indonesia dengan jumlah penduduk yang sangat banyak seharusnya bisa
memaksimalkan potensi itu untuk membangun negara, meningkatkan pertumbuhan
ekonominya, namun ada saja masalah yang menghambat hal itu. Memang, negara
berkembang selayaknya selalu belajar dari masalah-masalah dalam negerinya sendiri.

B. Rumusan masalah
Berangkat dari latar belakang, disusun beberapa rumusan masalah antara lain :
1. Sektor yang mampu menyerap tenaga kerja di Indonesia dalam jumlah besar.
2. Peran dan tanggungjawab pemerintah yang kurang terhadap tenaga kerja
3. Masalah dan solusi untuk memperbaiki sektor ketenagakerjaan di Indonesia.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Ketenagakerjaan di Indonesia
Berdasarkan Undang-Undang Buruh, bahwa ketenagakerjaan diartikan sebagai
segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan
sesudah masa kerja. Kemudian, tenaga kerja adalah setiap orang laki-laki atau wanita
yang sedang dalam dan/atau akan melakukan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar
hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat. Sedangkan pekerja adalah tenaga kerja yang bekerja di dalam hubungan
kerja pada pengusaha dengan menerima upah.
Adanya definisi di atas menunjukkan bahwa memang di Indonesia sudah ada
peraturan resmi yang mengikat orang-orang dalam dunia ketenagakerjaan tersebut.
Berarti pula ada rambu-rambu sebagai pedoman tenaga kerja dan pengusaha
melaksanakan hak dan kewajibannya. Kenyataan menunjukkan bahwa, peraturan
hanyalah sebuah tulisan yang mempunyai makna subyektif, di mana orang belum tentu
mau melaksanakannya sehingga keadaan ketenagakerjaan di Indonesia belum sesuai
seperti yang diharapkan. Masalah klasik seperti tenaga kerja yang tidak mempunyai
mutu tinggi serta pemberian upah yang dinilai terlalu sedikit, memunculkan masalah
lain yang lebih parah lagi, misalnya saja pemogokan, demo buruh, sampai aksi anarkis
para pekerja terhadap tempat di mana mereka bekerja.
Sebenarnya secara sadar, seharusnya mereka bisa mengatasi masalah-masalah
yang terjadi dengan mudah, apabila didasari kesadaran akan kedudukan mereka
masing-masing yang sebenarnya saling membutuhkan sama lain. Konsep Hubungan
Industrial Pancasila (HIP) selayaknya dipelajari dan dipahami karena di dalamnya
banyak makna dan nilai-nilai luhur yang dapat membina hubungan baik antara tenaga
kerja, pegusaha, dan semua pihak yang terlibat dalam proses produksi.
Kembali kepada keadaan tenaga kerja di Indonesia yang boleh dikatakan
memprihatinkan, kualitas yang rendah, jenis pekerjaan yang kurang sesuai, lokasi
tempat kerja, sampai pemberian upah yang dirasa masih minim, menjadi masalah yang
sulit dipecahkan sampai saat ini. Belum lagi masalah yang lebih rumit, semisal adanya
tenaga kerja dibawah umur, keselamatan kerja, jaminan sosial yang kurang sampai
dengan hak-hak tenaga kerja yang lain. Pemerintah yang diharap bisa menyelesaikan
masalah-masalah itu, nyatanya belum mampu menunjukkan komitmennya. Entah siapa

2
yang salah, pemerintah yang lamban mengatasi ataukah masyarakat dalam hal ini
tenaga kerja yang bekerja tidak sesuai tempat dan persyaratannya.
Indonesia memang negara yang kompleks, dari budayanya saja sudah beragam
dengan berbagai kharakteristiknya. Demikian juga dengan ketenagakerjaan ini, berbagai
kharakteristik dari tenaga kerja dan pihak yang terkait dalam proses produksi,
sepantasnya berusaha untuk mengerti satu sama lain sehingga kesatuan akan semakin
kuat. Pada akhirnya kesatuan antara tenaga kerja, pengusaha, dan pihak yang terkait
dalam proses produksi akan menjamin kelancaran produksi dalam negeri yang akan
berdampak pada kemajuan ekonomi Indonesia sesuai yang diharapkan.

B. Masalah dan solusi ketenagakerjaan yang muncul


1. Pembagian jam kerja
Jam kerja yang sederhana diartikan sebagai waktu di mana tenaga kerja
berproses produksi. Selebihnya adalah waktu pribadi tenaga kerja itu. Jam kerja
yang sesuai dengan Undang –undang di Indonesia adalah 40 jam/minggu, untuk jam
kerja lebih dari itu, perusahaan wajib membayarkan upah lembur. Apabila
perusahaan tidak memberikan upah lembur, pekerja bisa menuntut via manajemen
sumber daya manusia di perusahaan tersebut ataupun berkonsultasi dengan serikat
buruh dan perusahaan pun bisa terkena sanksi pidana/administrative (Undang-
Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja).
Di Indonesia sendiri masalah yang muncul adalah ketentuan mengenai
pembagian jam kerja yang belum maksimal diterapkan, dengan asumsi bahwa
waktu kerja adalah 40 jam seminggu, terkadang ada pengusaha yang
memperpanjang jam kerja, tetapi tidak memberikan imbalan yang lebih atas hal itu.
Sebagian lagi ada pengusaha yang tidak berdasar atas pembagian jam kerja, tenaga
kerja bebas masuk-keluar selama jam kerja sehingga hasil produksi jauh dari
standar yang ditetapkan oleh pengusaha.
Untuk mengatasi hal-hal yang terjadi akibat pembagian jam kerja yang tidak
sesuai atau tidak tepat sasarannya, maka dapat dilakukan beberapa hal, antara lain :
a. Pengusaha yang ingin agar tenaga kerjanya bekerja lebih dari standar harus
meminta persetujuan terlebih dahulu terhadap tenaga kerjanya.

3
b. Membuat aturan misalnya waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling
banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu)
minggu
c. Membuat kesepakatan ketika pekerja melamar pekerjaan, sehingga ketentuan
yang berkaitan tidak akan diganggu gugat.
d. Pemberian upah sesuai jam kerja yang mampu dilakukan pekerja.
e. Pembagian waktu yang seimbang, antara jam kerja, waktu istirahat, dan
toleransi ketidakhadiran atau keterlambatan.

2. Upah kerja dan sistem pengupahan


Upah merupakan tujuan utama dari pekerja mau melakukan perintah
pengusaha. Oleh karena itu, isu-isu tentang upah sangat mungkin memancing
instabilitas dalam lingkungan kerja. Memang sulit dipertemukan antara keinginan
pekerja dengan pengusaha. Di satu sisi pekerja menghendaki pemberian upah yang
tidak hanya bisa mencukupi kebutuhan dasar saja tetapi lebih di atasnya, di sisi lain
pengusaha juga ingin mempertahankan jumlah upahnya dalam jumlah tertentu agar
assetnya bertambah atau minimal menghindari kerugian di masa yang akan datang.
Konsep upah dan sistem pengupahan sebenarnya sudah dikenal di Indonesia, tetapi
pelaksanaannya berbeda antar daerah sehingga sulit membuat kesimpulan. Pada
dasarnya jumlah upah yang diterima pekerja di dasarkan pada upah minimum yang
ditentukan masing-masing wilayah kerja.
Upah minimum adalah suatu standar minimum yang digunakan oleh para
pengusaha atau pelaku industri untuk memberikan upah kepada pekerja di dalam
lingkungan usaha atau kerjanya. Karena pemenuhan kebutuhan yang layak di setiap
propinsi berbeda-beda, maka disebut Upah Minimum Propinsi. Pasal 89 Undang-
Undang Nomor 13 menyatakan bahwa penentuan upah minimum diarahkan kepada
pemenuhan kebutuhan kehidupan yang layak. Upah minimum ditentukan oleh
Gubernur setelah mempertimbangkan rekomendasi dari Dewan Pengupahan
Provinsi dan/atau Bupati/Walikota.
Masalah utama berkaitan dengan upah pekerja adalah upah yang diberikan
dirasa masih kurang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan pekerja masih
menganggap bahwa pengusaha tidak mau rugi dengan menaikkan upah pekerja.
Untuk mengatasi masalah-masalah seperti itu dapat dilakukan hal antara lain :

4
a. Pemberian informasi secara detail tentang upah dan sistem pengupahannya.
b. Transparansi jumlah keuntungan perusahaan yang digunakan untuk membayar
upah.
c. Untuk hal-hal tertentu, pemberian upah dilakukan secara sederhana tidak
melalui prosedur yang berbelit-belit.
d. Upah disesuaikan dengan kebutuhan minimal pekerja (harus lebih tinggi) dan
upah lembur harus diberikan sesuai dengan hak para pekerja.
e. Koordinasi pemerintah daerah, pengusaha, dan serikat pekerja untuk
menentukan jumlah upah minimum yang sesuai dengan keadaan pekerja.
f. Diberikan tunjangan apabila pekerja telah memenuhi kriteria tertentu atau
sebagai tambahan upah setelah pekerja berhasil melewati standar kerja yang
ditetapkan.

3. Jaminan sosial dan hak pekerja ketika sakit


Berbagai pertanyaan mengenai jaminan sosial sering diajukan oleh pekerja
di Indonesia, karena kurangnya sosialisasi dari badan-badan penyelenggara jaminan
sosial di Indonesia. Bahkan banyak dari pekerja yang tidak terekspos mengenai
sistem jaminan sosial yang diselenggarakan di Indonesia. Menurut Undang-undang
no. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, jaminan sosial adalah
salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat
memenuhi kebutuhan dasar hidup dan pekerjaan yang layak. Jaminan sosial dalam
hal ini berhubungan dengan kompensasi dan program kesejahteraan yang
diselenggarakan pemerintah untuk rakyatnya. Dalam ketenagakerjaan sendiri
terdapat jamsostek. Jamsostek adalah salah satu badan penyelenggara jaminan sosial
yang mengembangkan program jaminan sosial berdasarkan funded social security,
jaminan sosial yang didanai oleh peserta dan masih terbatas pada masyarakat
pekerja di sektor formal. Pekerja sektor formal disini maksudnya adalah para
karyawan perusahaan-perusahaan swasta dan tidak termasuk pekerja sektor informal
seperti pekerja rumah tangga, buruh industri kecil, dan lain-lain Dengan kata lain,
Jamsostek merupakan asuransi sosial bagi pekerja (yang mempunyai hubungan
industrial). Skema Jamsostek meliputi program-program yang terkait dengan risiko,
seperti jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan pemeliharaan
kesehatan, dan jaminan hari tua.

5
Dengan adanya JAMSOSTEK ini diharapkan dapat membantu pekerja dan
pengusaha dalam menanggulangi resiko-resiko kerja yang mungkin terjadi. Namun,
ada pula masalah yang muncul diantaranya kesadaran pekerja akan jaminan sosial
ini yang masih kurang. Pekerja menganggap terlalu ribet dalam mengurusinya dan
akan menanggung biaya premi asuransinya di kemudian hari. Di sisi lain,
pengusaha enggan terlalu mengurusi masalah ini karena dianggap akan membebani
anggaran. Tetapi sekarang ini JAMSOSTEK sudah mulai dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan dengan resiko keselamatan pekerja yang cukup tinggi.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menyadarkan pentingnya jaminan sosial
ini antara lain :
a. Pemberian informasi mendasar tentang jaminan sosial dan meyakinkan pekerja
bahwa hal itu juga merupakan hak pekerja selama bekerja dalam perusahaan.
b. Prosedur keikutsertaan JAMSOSTEK yang sederhana, dan mudah dilakukan
oleh pekerja dengan kualitas rendah sekalipun.
c. Pengawasan pemerintah terhadap pengusaha untuk mendaftarkan pekerjanya
untuk memperoleh jaminan sosial.
d. Keringanan beban setelah mengikuti program jaminan sosial.
e. Cakupan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) meliputi: biaya pengangkutan, biaya
pemeriksaan, pengobatan, perawatan, biaya rehabilitasi, serta santunan uang
bagi pekerja yang tidak mampu bekerja, dan cacat.
f. Apabila pekerja meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja, mereka atau
keluarganya berhak atas Jaminan Kematian (JK) berupa biaya pemakaman dan
santunan berupa uang.

4. Keselamatan dan kesehatan kerja


Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan
yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi
masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut. Keselamatan
dan kesehatan kerja juga merupakan suatu usaha untuk mencegah setiap perbuatan
atau kondisi tidak selamat, yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) sendiri adalah komponen yang menjadi bagian dari
JAMSOSTEK. Dalam hal ini, K3 yang bisa disediakan perusahaan misalnya alat
keselamatan kerja seperti helm, rompi, sepatu, dsb. Sedangkan JAMSOSTEK

6
merupakan program yang ditujukan untuk mendukung pelaksanaan sistem K3
dalam setiap perusahaan, yang tidak bisa langsung disediakan perusahaan. Seperti
Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Tabungan Hari Tua, dan Jaminan Kematian (JK).
Dalam Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Undang-
Undang ini menyatakan bahwa secara khusus perusahaan berkewajiban
memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik pekerja yang
baru maupun yang akan dipindahkan ke tempat kerja baru, sesuai dengan sifat-sifat
pekerjaan yang diberikan kepada pekerja, serta pemeriksaan kesehatan secara
berkala. Sebaliknya para pekerja juga berkewajiban memakai alat pelindung diri
(APD) dengan tepat dan benar serta mematuhi semua syarat keselamatan dan
kesehatan kerja yang diwajibkan. Undang-undang nomor 23 tahun 1992, pasal 23
Tentang Kesehatan Kerja juga menekankan pentingnya kesehatan kerja agar setiap
pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat
sekelilingnya hingga diperoleh produktifitas kerja yang optimal. Karena itu,
kesehatan kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit akibat
kerja dan syarat kesehatan kerja
Bagaimana jika terjadi pelanggaran terhadap UU Keselamatan dan
Kesehatan Kerja misalnya pengusaha tidak menyediakan alat keselamatan kerja
atau perusahaan tidak memeriksakan kesehatan dan kemampuan fisik pekerja?
Undang-undang ini memuat ancaman pidana kurungan paling lama 1 tahun atau
pidana denda paling banyak Rp. 15.000.000. (lima belas juta rupiah) bagi yang tidak
menjalankan ketentuan undang-undang tersebut.

5. Perlakuan yang adil ketika bekerja


Keadilan di tempat kerja memang sangat diperlukan agar tidak ada
diskriminasi antar sesama pekerja, semua bisa dapat perlakuan, kesempatan dan
penghargaan yang sama.Sakit hati rasanya kalau anda tidak dipromosikan menjadi
pimpinan hanya karena anda seorang wanita atau dikala pembagian gaji tidak sama
dengan rekan kerja. Keadilan di tempat kerja memang sangat diperlukan agar tidak
ada diskriminasi antar sesama pekerja, semua bisa dapat perlakuan, kesempatan dan
penghargaan yang sama.
Kondisi adil dalam lingkungan kerja adalah kondisi dimana pekerja
mendapat kesempatan dan perlakuan yang sama dalam melaksanakan pekerjaannya.

7
Seperti yang tertulis pada pasal 5 dan 6 Undang – Undang no 13 tahun 2003
mengenai tenaga kerja, pemerintah menjamin pekerja untuk mendapat hak dan
perlakuan yang sama tanpa adanya diskrimasi dalam bentuk apapun sesuai dalam
perusahaan tempat bekerjanya. Apabila masih ditemui masalah, maka hal-hal yang
dapat diusahakan antara lain :
a. Pembagian kerja yang sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawab pekerja
sehingga kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan dapat diminimalisir.
b. Pembagian gaji sesuai dengan pembagian kerja, pangkat, dan hal-hal lain yang
telah ditetapkan sebelumnya.
c. Jenjang karir dan kesempatan mengembangkan pengetahuan harus diperhatikan
oleh pengusaha.
d. Diskriminasi gender harus dihilangkan, agar pekerja baik pria maupun wanita
dapat bekerja dengan tenang.
e. Sarana pengembangan kemampuan harus diusahakan oleh pengusaha seperti
pelatihan, workshop, dan lainnya.

6. Kerja paksa
Kerja paksa atau wajib kerja tertentu merupakan pelanggaran terhadap hak-
hak manusia. Berbagai bentuk Kerja paksa ditemukan dalam sejarah, Indonesia dulu
pernah mengalaminya di jaman penjajahan Belanda dan Jepang. Tapi apa Indonesia
sudah lepas dari kerja paksa? Masih ditemukan adanya unsur perbudakan modern,
perdagangan manusia dan tenaga kerja yang terikat karena hutang dalam ketenaga
kerjaan kita.
Kerja Paksa atau Wajib Kerja adalah semua pekerjaan atau jasa yang
dipaksakan pada setiap orang dengan ancaman hukuman apapun, dikarenakan orang
tersebut tidak menyediakan diri secara sukarela. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk
menghindari kerja paksa antara lain :
a. Sebelum melakukan kontrak kerja, terlebih dahulu mencari tahu segala sesuatu
berkaitan dengan track record perusahaan itu.
b. Mempertimbangkan lokasi kerja, apabila tempatnya sangat sepi dan jauh dari
keramaian maka para pekerja harus waspada.
c. Meminta perlindungan kepada pihak keamanan.
d. Membentuk serikat pekerja yang diakui oleh pemerintah.

8
e. Melaporkan kepada pihak keamanan atau yang lain apabila telah terjadi
pemaksaan dalam pekerjaan yang mengakibatkan terganggunya jiwa maupun
fisik pekerja.
f. Pemerintah memantapkan peraturan tentang perlindungan tenaga kerja.

7. Pekerja di bawah umur


Pasal 68 Undang-undang no. 13 tahun 2003 menyebutkan bahwa pengusaha
dilarang mempekerjakan anak dan dalam ketentuan undang-undang tersebut, anak
adalah setiap orang yang berumur dibawah 18 tahun. Berarti 18 tahun adalah usia
minimal yang diperbolehkan pemerintah untuk bekerja.
Jenis-jenis pekerjaaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan, atau
moral anak ditetapkan dengan Keputusan Menteri No: KEP. 235 /MEN/2003, yaitu
pekerjaan yang berhubungan dengan mesin, pesawat, instalasi, pekerjaan yang
mengandung bahaya fisik, pekerjaan yang mengandung Bahaya Kimia, pekerjaan
yang mengandung Bahaya Biologis, dan pekerjaan yang mengandung sifat dan
keadaan berbahaya tertentu seperti konstruksi bangunan, pengolahan kayu,
pekerjaan yang dilakukan antara pukul 18.00 s/d 06.00.
Selain itu dijelaskan juga jenis-jenis pekerjaan yang membahayakan moral anak
seperti pekerjaan pada usaha bar, diskotik, karaoke, bola sodok, bioskop, panti pijat
atau lokasi yang dapat dijadikan tempat prostitusi, bahkan pekerjaan sebagai model
untuk promosi minuman keras, obat perangsang seksualitas dan atau rokok
Pengusaha yang mempekerjakan anak pada pekerjaan ringan harus
memenuhi persyaratan :
a. Izin tertulis dari orang tua atau wali
b. Perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali.
c. Waktu kerja maksimum 3 (tiga) jam.
d. Dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah.
e. Menjamin keselamatan dan kesehatan kerja.
f. Adanya hubungan kerja yang jelas, dan
g. Menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

9
8. Kerjasama dan pembentukkan serikat pekerja
Berdasarkan ketentuan umum pasal 1 Undang-undang Tenaga Kerja tahun
2003 no 17, serikat pekerja merupakan organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan
untuk pekerja baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas,
terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan,
membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja serta meningkatkan
kesejahteraan pekerja dan keluarganya.
Sesuai dengan pasal 102 UU Tenaga Kerja tahun 2003, dalam melaksanakan
hubungan industrial, pekerja dan serikat pekerja mempunyai fungsi menjalankan
pekerjaan sesuai dengan kewajibannya, menjaga ketertiban demi kelangsungan
produksi, menyalurkan aspirasi secara demokratis, mengembangkan keterampilan,
dan keahliannya serta ikut memajukan perusahaan dan memperjuangkan
kesejahteraan anggota beserta keluarganya.
Banyak sekali keuntungan menjadi anggota serikat pekerja, terlebih jika
serikat pekerja perusahaan anda sudah berafiliasi ke federasi serikat pekerja dan
konfederasi serikat pekerja. Sebagai contoh, anggota serikat pekerja akan
mendapatkan program-program training peningkatan kemampuan kerja dan diri
seperti training negotiation skill, training pembuatan perjanjian kerja bersama, dll.
Selain itu, anggota serikat pekerja juga akan mendapat bantuan hukum saat tertimpa
masalah dengan perusahaan yang berkaitan dengan hukum dan pemenuhan hak-hak
sebagai karyawan.
Agar serikat pekerja dapat berjalan sesuai dengan tujuan pembentukannya
maka perlu diperhatikan beberapa hal antara lain :
a. Serikat pekerja dibentuk atas dasar kebutuhan bersama dan harus mampu
mewakili aspirasi pekerja.
b. Serikat pekerja diisi pemimpin yang berkompeten, pintar diplomasi, jujur, dan
berani.
c. Serikat kerja harus mempunyai posisi yang kuat menyangkut ke dalam maupun
ke luar perusahaan.
d. Serikat pekerja harus mampu mengimbangi dengan kepentingan pemilik
perusahaan agar keduanya bisa mencapai kesepakatan yang hasilnya sesuai
harapan.

10
Berbagai penjelasan di atas hanya merupakan sebagian kecil dari permasalahan
dalam ketenagakerjaan. Bahkan solusi yang ditawarkan di atas hanya dipandang
sebagai saran belaka yang tingkat keberhasilannya masih minim. Harapan kita adalah
negara Indonesia secepatnya keluar dari masalah-masalah dalam setiap aspek
kehidupannya, sehingga usaha untuk mempercepat pertumbuhan dan kesejahteraan
dapat segera dilakukan.

11
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Negara Indonesia mempunyai berbagai macam cara untuk melindungi hak-hak
tenaga kerja maupun pengusaha, namun sayangnya masih banyak masalah yang timbul
terkait dengan ketenagakerjaan ini.
Beberapa perlindungan yang diberikan pemerintah kepada pihak yang terlibat
dalam ketenagakerjaan antara lain :
 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja.
 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Buruh
 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1997 tentang
Ketenagakerjaan
 Dan peraturan lain tentang ketenagakerjaan
Masalah mendasar dalam ketenagakerjaan di Indonesia antara lain tentang :
 Pembagian jam kerja
 Upah kerja dan sistem pengupahan
 Jaminan sosial dan hak pekerja ketika sakit
 Keselamatan dan kesehatan kerja
 Perlakuan yang adil ketika bekerja
 Kerja paksa
 Pekerja di bawah umur
 Kerjasama dan pembentukkan serikat pekerja

Daftar Pustaka

http://www.gajimu.com/main/pekerjaan-yanglayak

http://www.indonesia.go.id/id/index.php?

option=com_content&task=view&id=253&Itemid=757

http://www.nakertrans.go.id/?

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja.

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Buruh

12