Anda di halaman 1dari 38

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

FAKULTAS ILMU SOSIAL

PROPOSAL SKRIPSI

NAMA : LUTHFI NOOR

NIM : 3501406007

JURUSAN : SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI

A. JUDUL

PERANAN ORGANISASI IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA-

IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA (IPNU-IPPNU)

DALAM MENGEMBANGKAN SIKAP KEPEMIMPINAN SISWA DI

MA WALISONGO KECAMATAN PECANGAAN KABUPATEN

JEPARA

B. LATAR BELAKANG

Jepara merupakan salah satu Kabupaten/Kota yang terletak di Provinsi

Jawa Tengah dengan luas wilayah 1.004,13 Km2 yang terbagi menjadi 14

Kecamatan. Kabupaten Jepara berbatasan langsung dengan Laut Jawa di

sebelah utara dan barat, Kabupaten Demak di sebelah selatan, Kabupaten

Kudus dan Pati di sebelah timur. Jepara termasuk kabupaten yang maju di Jawa

Tengah. Hal ini dapat dilihat dari segi ekonomi, agama, dan pendidikan.

1
Dalam bidang ekonomi, sebagian besar masyarakat bekerja di bidang

pertanian yaitu sebagai petani, selain itu masyarakat bekerja sebagai nelayan,

buruh, pegawai negeri, peternak dan lain sebagainya. Sedangkan di bidang

industri, masyarakat bekerja sebagai buruh, karyawan, pekerja dan pemilik

pabrik. Bidang industri merupakan bidang yang paling mendorong

perekonomian masyarakat Jepara. Saat ini pertumbuhan industri Jepara

berkembang pesat, seperti indutri meubel, ukir, monel, dan gerabah.

Dalam bidang agama, mayoritas masyarakat Jepara beragama Islam.

Agama Islam memiliki pengaruh yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Hal

ini ditandai dengan banyaknya lembaga maupun organisasi yang bergerak

dalam bidang keagamaan seperti lembaga pendidikan, lembaga hukum, dan

lembaga perbankan. Salah satu organisasi Islam terbesar yang terdapat di

Jepara yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Nahdlatul Ulama (NU) adalah Jam’iah

Diniyah Islamiyah (Organisasi Sosial Keagamaan Islam) yang berdiri pada

tanggal 31 Januari 1926 atau bertepatan pada tanggal 16 rajab 1344 H oleh

para ulama yang berhaluan Ahlusunnah Wal Jama’ah yang sering di singkat

dengan Aswaja. Tokoh pendirinya antara lain K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H

Abdul Wahab Hasbullah. Pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU) tidak

lepas dari adanya kekhawatiran akan hilangnya tradisi dan ajaran Islam yang

telah kuat mengakar di tengah masyarakat muslim Indonesia, sebagai akibat

dari munculnya gerakan yang mengatasnamakan dirinya sebagai gerakan

pemurnian dan pembaruan Islam (Zubaidi dkk. 2003:1).

Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai pengaruh yang besar dalam


bidang pendidikan di kota Jepara, terbukti dengan berdirinya sekolah-sekolah

dibawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif

NU), mulai dari sekolah tingkat dasar hingga sekolah menengah atas seperti

SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Sekolah-sekolah yang berada dibawah

naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU)

dalam kurikulumnya menyertakan mata pelajaran Ke-NU-an (Ahlussunnah

Wal Jama’ah) dan dalam kegiatan ekstra kurikulernya terdapat organisasi

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama

(IPNU-IPPNU). Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri

Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) adalah badan otonom Nahdlatul Ulama yang

berfungsi membantu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama (NU) pada

segmen pelajar, santri, pemuda dan mahasiswa yang berusia 12-20 tahun.

Sebagai organisasi massa (ormas), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan

Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) secara institusional maupun

organisasional bekerja dalam bidang kemasyarakatan dan keagamaan yang

berada pada jenjang pendidikan.

MA Walisongo merupakan Salah satu contoh sekolah yang berada di

bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif

NU). Satu hal yang menarik dari MA Walisongo adalah sekolah ini berada

dibawah naungan yayasan Walisongo yang juga membawahi MTs, SMP, MA,

SMA, dan MAK. Kegiatan ekstrakurikuler yang diwajibkan di MA Walisongo

yaitu Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama

(IPNU-IPPNU). Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri

3
Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) MA Walisongo merupakan komisariat

tersendiri dan terpisah dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar

Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Pimpinan Anak Cabang (PAC)

Pecangaan. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul

Ulama (IPNU-IPPNU) komisariat MA Walisongo seharusnya berada di bawah

Ranting Pecangaan Kulon, karena di dalam sebuah lembaga pendidikan,

akhirnya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul

Ulama (IPNU-IPPNU) langsung berada di bawah Pimpinan Anak Cabang

(PAC) Pecangaan. Kedudukan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan

Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) MA Walisongo seolah-olah

berada di bawah Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Padahal tidak

demikian, kedudukan IPNU-IPPNU baik dengan OSIS maupun organisasi lain

di sekolah bersifat koordinatif.

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul

Ulama (IPNU-IPPNU) yang telah kembali menjadi organisasi pelajar, ternyata

belum sepenuhnya bisa berkembang secara riil di lingkungan sekolah.

Keberadaan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul

Ulama (IPNU-IPPNU) di MA Walisongo kurang maksimal dalam mengaktuali

sasikan peran dan jati diri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar

Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) pada dunia pelajar. Pimpinan

Komisariat MA Walisongo dalam menjalankan aktifitasnya masih terbentur

dengan keberadaan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) maupun birokrasi

sekolah.
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul

Ulama (IPNU-IPPNU) merupakan wadah pejuang pelajar Nahdlatul Ulama

untuk mensosialisasikan komitmen atau nilai-nilai keislaman, keilmuan,

kekaderan dan penggalian dari pembinaan potensi pelajar. Ikatan Pelajar

Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU)

merupakan organisasi kemasyarakatan dengan tujuan internal yaitu

terbentuknya kader pelajar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar

Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) yang beriman, bertaqwa kepada Allah

SWT, berakhlak mulia dan berwawasan kebangsaan dan bertanggung jawab

atas tegak dan terlaksananya ajaran Islam ala Ahlussunnah Wal Jama’ah

ditengah-tengah masyarakat. Melihat sekilas tujuan Ikatan Pelajar Nahdlatul

Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) maka jelas

bahwa Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul

Ulama (IPNU-IPPNU) merupakan wadah untuk mengkader atau

mempersiapkan kader-kader Nahdlatul Ulama (NU) yang akan menjadi

pejuang dan akan berjuang di masyarakat dan ikut menguatkan atau

memperkuat nuansa spiritual pemuda dikalangan masyarakat dan kemantapan

beragama sehingga membentuk kesalehan sosial (kebaikan secara menyeluruh

dikalangan generasi muda khususnya pelajar dan santri).

Sekarang ini kader muda yang memiliki loyalitas tinggi sangat jarang

ditemukan, sehingga kader muda saat ini menjadi sangat penting untuk dirawat

dan dimaksimalkan potensinya guna regenerasi kepemimpinan di masa yang

akan datang. Menurut Thoha (2004:264) Kepemimpinan adalah kegiatan untuk

5
mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku orang

lain, atau seni mempengaruhi manusia baik perorangan maupun kelompok.

Pemuda atau Pelajar sebagai generasi penerus bangsa yang akan menjadi

pemimpin dan motor penggerak pembangunan seharusnya memiliki sikap,

kompetensi dan nilai-nilai yang luhur berdasarkan Pancasila dan dibekali

dengan keagamaan yang kuat. Tetapi pada kenyataannya pelajar kurang bisa

mencermati dan merespon keadaan sekitar (lingkungan sekolah), bersikap

korektif dan proaktif dalam melihat posisi dirinya secara kritis di tengah-tengah

masyarakat (lingkungan masyarakat) yang senantiasa mengalami perubahan.

Sehingga pemuda atau pelajar terjebak dalam perubahan dan cenderung

meninggalkan nilai-nilai agama dan budaya (Ahlussunnah Wal Jama’ah). Oleh

karena itu dibutuhkan wadah pengakaderan yang baik bagi pelajar atau siswa.

Salah satunya adalah organisasi IPNU-IPPNU Komisariat MA Walisongo.

Pengkaderan di IPNU-IPPNU akan menuai hasilnya di masa yang

akan datang. Seorang pelajar yang mengikuti organisasi IPNU-IPPNU tentunya

akan berbeda dengan pelajar yang tidak mengikuti organisasi IPNU-IPPNU.

Seorang pelajar yang mengikuti organisasi IPNU-IPPNU akan memiliki

kelebihan-kelebihan tertentu.

Pengetahuan tentang ke-IPNU-IPPNU-an yang dimiliki oleh pelajar

MA Walisongo sangat menentukan bagaimana sudut pandang pelajar tentang

sikap kepemimpinan siswa di sekolah. Pengkaderan yang baik akan

mempengaruhi juga perilaku atau sikap kepemimpinan pelajar MA Walisongo.

Sikap kepemimpinan ini akan dimanifestasikan dalam pola perilaku keseharian


baik sebagai siswa maupun sebagai pemimpin suatu organisasi di sekolah.

Dari uraian-uraian fakta serta keingintahuan penulis diatas dapat

dimunculkan permasalahan yang mendasar yaitu: bagaimanakah peranan

organisasi IPNU-IPPNU dalam mengembangkan sikap kepemimpinan siswa di

MA Walisongo Pecangaan dan bagaimana bentuk pengkaderan (pelatihan

kepemimpinan) IPNU-IPNU yang diberikan kepada siswa MA Walisongo

pecangaan? Permasalahan tersebut menurut penulis akan dapat ditemukan

jawabanya melalui penelitian dalam skripsi ini dengan judul: ”PERANAN

ORGANISASI IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA-IKATAN

PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA (IPNU-IPPNU) DALAM

MENGEMBANGKAN SIKAP KEPEMIMPINAN SISWA DI MA

WALISONGO KECAMATAN PECANGAAN KABUPATEN JEPARA’’.

C. IDENTIFIKASI MASALAH.

Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, maka

pertanyaan yang muncul dalam penelitian ini antara lain :

1. Bagaimanakah sejarah perkembangan IPNU-IPPNU?

2. Latar belakang siswa mengikuti organisasi IPNU-IPPNU?

3. Apa saja faktor pendorong dan faktor penghambat pengkaderan IPNU-

IPPNU di MA Walisongo Pecangaan ?

4. Bagaimanakah peranan organisasi IPNU-IPPNU dalam mengembangkan

sikap kepemimpinan siswa MA Walisongo Pecangaan?

5. Bagaimana bentuk pengkaderan (pelatihan kepemimpinan) IPNU-IPPNU

7
yang diberikan kepada siswa MA Walisongo Pecangaan?

D. PEMBATASAN MASALAH

Berdasarkan identifikasi di atas, fokus utama dalam penelitian ini

adalah pengembangan sikap kepemimpinan siswa MA Walisongo Pecangaan.

Supaya nantinya permasalahan yang dikaji tidak meluas, maka penulis hanya

meneliti tentang :

1. Peranan organisasi IPNU-IPPNU dalam mengembangkan sikap

kepemipinan siswa MA Walisongo Pecangaan.

2. Bentuk pengkaderan (pelatihan kepemimpinan) IPNU-IPPNU yang

diberikan kepada siswa MA Walisongo Pecangaan.

E. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka yang menjadi

permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah peranan organisasi IPNU-IPPNU dalam

mengembangkan sikap kepemimpinan siswa di MA Walisongo

Pecangaan?

2. Bagaimanakah bentuk pengkaderan (pelatihan kepemimpinan) IPNU-

IPPNU yang diberikan kepada siswa MA Walisongo Pecangaan?

F. TUJUAN PENELITIAN

Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan, maka penelitian


ini bertujuan :

1. Mengetahui peranan organisasi IPNU-IPPNU dalam mengembangkan

sikap kepemimpinan siswa di MA Walisongo Pecangaan.

2. Mengetahui bentuk pengkaderan (pelatihan kepemimpinan) IPNU-IPPNU

yang diberikan kepada siswa MA Walisongo Pecangaan.

G. KEGUNAAN PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara

teoritis maupun praktis.

1. Secara teoritis

a. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca tentang sikap

kepemimpinan siswa.

b. Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu

pengetahuan social khususnya Sosiologi dan Antropologi.

2. Secara Praktis

a. Sebagai bahan pengembangan wawasan bagi para peneliti tentang

kepemimpinan, konsep-konsep kepemimpinan dan sikap kepemimpinan

siswa.

b. Sebagai bahan masukan bagi Lembaga Pendidikan Ma’arif NU dan

IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara dalam menentukan langkah-langkah

pembinaan terhadap siswa dalam upaya mengembangkan sikap

kepemipinan.

c. Bagi Pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan dan Departemen Agama,

9
beserta instansi yang terkait dapat memanfaatkan penelitian ini sebagai

referensi dan masukan di dalam melakukan pola pengkaderan atau

pengembangan kepemimpinan bagi pelajar atau siswa.

H. BATASAN ISTILAH

Dalam penelitian ini perlu diberikan batasan istilah mengenai hal-hal

yang diteliti untuk mempermudah pemahaman dan menghindari kesalahpaha

man dalam mengartikan atau menafsirkan serta untuk membatasi permasa

lahan yang ada.

1. Peranan

Peran dapat diartikan sebagai perangkat tingkah yang diharapkan

dimiliki oleh seseorang yang berkedudukan dimasyarakat (Alwi, 2002:854)

Soekanto (2006:213) menyebutkan bahwa suatu peranan paling

sedikit mencakup tiga hal :

1). Peranan meliputi norma-norma yang berhubungan dengan posisi atau

tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan

rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam

kehidupan masyarakat.

2). Peran adalah sebuah konsep perihal apa yang dapat dilakukan individu

dalam masyarakat sebagai organisasi.

3). Peran dapat juga diartikan sebagai perikelakuan individu yang penting

bagi struktur social masyarakat.

Menurut Hendropuspito (dalam Narwoko, 2004:160) Peranan social


yang ada dalam masyarakat dapat diklasifikasikan menurut bermacam-

macam cara sesuai dengan banyaknya sudut pandang. Berbagai macam

peranan dapat disebutkan sebagai berikut.

Berdasarkan pelaksanaanya peranan social dapat dibedakan menjadi

dua, yaitu :

1. Peranan yang diharapkan (expected roles) yaitu cara ideal dalam

pelaksanaan peranan menurut penilaian masyarakat.

2. Peranan yang disesuaikan (actual roles) yaitu cara bagaimana sebenarnya

peranan itu dijalankan.

Berdasarkan cara memperolehnya, peranan dibedakan menjadi :

1. Peranan bawaan (ascribed roles), yaitu peranan yang diperoleh secara

otomatis, bukan karena usaha.

2. Peranan pilihan (achived roles) yaitu peranan yang diperoleh atas dasar

keputusannya sendiri.

Peranan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perikelakuan

individu atau kelompok (organisasi IPNU-IPPNU) dalam menjalankan tugas

dan fungsinya bagi masyarakat (siswa MA Walisongo).

2. Organisasi

Organisasi berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang

berarti alat. Schein (dalam Muhammad, 2007:23) organisasi adalah suatu

koordinasi rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai beberapa

tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan fungsi melalui hierarki

otoritas dan tanggung jawab. Schein juga mengatakan bahwa organisasi

11
mempunyai karakteristik tertentu yang mempunyai struktur, tujuan, saling

berhubungan satu bagian dengan bagian yang lain dan tergantung pada

komunikasi manusia untuk mengkoordinasikan aktivitas dalam organisasi

tersebut. Sifat tergantung antara satu bagian dengan bagian lain menandakan

bahwa organisasi yang dimaksudkan Schein ini adalah merupakan sistem.

Thompson (1969) menyatakan bahwa sebuah organisasi adalah

intergrasi impersonal dan sangat rasional atas sejumlah spesialis yang

bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Sedangkan

Bakke mengatakan suatu organisasi adalah suatu sitem yang berkelanjutan

atas kegiatan manusia yang bermacam-macam dan terkoordinasi berupa

pemanfaatan, perubahan dan penyatuan segenap sumber-sumber manusia,

materi, modal, gagasan dan sumber alam untuk memenuhi kebutuhan

manusia tertentu dalam interaksinya dengan sistem-sistem kegiatan manusia

dan sumber-sumbernya yang lain, dalam sutau lingkungan tertentu (Liliweri,

1997:23)

Dari beberapa pengertian organisasi di atas, dapat disimpulkan bahwa

setiap organisasi harus memiliki tiga unsur dasar, yaitu :

a. Orang-orang (sekumpulan orang),

b. Kerjasama,

c. Tujuan yang ingin dicapai,

Organisasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sarana untuk

melakukan kerja sama antara orang-orang dalam rangka mencapai tujuan

bersama, dengan mendayagunakan sumber daya yang dimiliki.


3. IPNU-IPPNU

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul

Ulama (IPNU-IPPNU) adalah organisasi badan otonom dibawah naungan

Nahdlatul Ulama, sekaligus sebagai organisasi kemasyarakatan pemuda di

Indonesia dengan ciri khas di bidang keagamaan, kemasyarakatan,

kepelajaran dan kepemudaan. Sebagai badan otonom NU, IPNU-IPPNU

dituntut untuk senantiasa mensukseskan program-program NU di kalangan

santri, pelajar, dan remaja, baik sebagai wadah penempatan kader maupun

interaksi sosial kejuangan dengan nilai-nilai keagamaan, Ahlusunnah Wal

Jama’ah. Sedang sebagai organisasi sosial kemasyarakatan pemuda, IPNU-

IPPNU diharapkan berperan aktif mensukseskan program-program

pemerintah dibidang pelayanan, khususnya kepada pelajar, pada seluruh

aspek kehidupan. Karenanya pengembangan organisasi IPNU-IPPNU harus

senantiasa memenuhi kebutuhan anggota dan masyarakat di satu sisi, dan

kepentingan berbangsa dan bernegara di sisi yang lain. Di samping sebagai

banom dan ormas, keberadaan IPNU-IPPNU menempati posisi yang

strategis, dimana didalamnya mempunyai cita-cita mulia yakni menciptakan

kader-kader bangsa yang bertakwa kepada Allah Swt, berilmu, berakhlak

mulia, berwawasan kebangsaan dan bertanggungjawab atas tegak dan

terlaksananya faham Ahlussunnah wal Jama’ah dalam kehidupan

masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

4. Sikap

Sikap adalah perasaan seseorang tentang obyek, aktivitas, peristiwa

13
dan orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yang merepresentasikan suka

atau tidak sukanya (positif, negatif, atau netral) seseorang pada sesuatu.

Gerungan (dalam Walgito,1999:110) pengertian attitude itu dapat kita

terjemahkan dengan kata sikap terhadap objek tertentu, yang dapat

merupakan sikap pandangan atau sikap perasaan, tetapi sikap mana disertai

oleh kecenderungan bertindak sesuai dengan sikap terhadap objek tadi. Jadi

attitude lebih tepat diterjemahkan sebagai sikap dan kesediaan bereaksi

terhadap sesuatu hal.

Sikap yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keyakinan seseorang

mengenai objek atau situasi yang relative ajeg, yang disertai adanya

perasaan tertentu, dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk

membuat respon atau berperilaku dalam cara yang tertentu yang dipilihnya.

5. Kepemimpinan

Kepemimpinan dan pemimpin merupakan suatu keatuan kata yang

tidak dapat dipisahkan baik secara structural maupun fungsional. Menurut

Fairchild (dalam Sugiyarta, 2009:88) pemimpin dapat diartikan secara luas

dan secara terbatas. Dalam pengertian yang luas pemimpin diartikan sebagai

orang yang memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku social

dengan cara mengatur, menunjukkan, mengorganisir atau mengendalikan

upaya yang dilakukan orang lain baik melalui prestise, kekuasaan maupun

posisinya. Dalam pengertian terbatas pemimpin diartikan sebagai orang

yang memberikan bantuan dengan kualitas persuasive yang dimilikinya

sehingga dapat diterima oleh pengikutnya secara sukarela.


Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi

orang-orang yang diarahakan terhadap pencapaian tujuan organisasi.

Sutisna(1993) merumuskan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi

kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan

dalam situasi tertentu. Sementara Soepardi (1988) mendefinisikan

kepemimpinan sebagai kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi,

memotivasi, mengajak, mangarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh,

memerintah, melarang, dan bahkan menghukum (kalau perlu), serta

membina dengan maksud agar manusia sbagai media manajemen mau

bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan

efesien. Hal tersebut menunujukkan bahwa kepemimpinan sedikitnya

mencakup tiga hal yang saling berhubungan , yaitu adanya pemimpin dan

karakteristiknya, adanya pengikut, serta adanya situasi kelompok, tempat

pemimpin dan pengikut berinteraksi (Mulyasa, 2005:107).

Menurut Prof. Dr. Mr. Prajudi Atmosudirjo dalam bukunya Beberapa

Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan memberikan

pengertian kepemimpinan sebagai berikut :

1.Kepemimpinan ialah kepribadian seseorang yang menyebabkan

sekelompok orang lain mencontoh atau mengikutinya. Kepemimpinan

ialah kepribadian yang memancarkan pengaruh, wibawa, sedemikian

rupa sehingga sekelompok orang mau melakukan apa yang dikehendaki

nya.

2. Kepemimpinan adalah seni, kesanggupan atau teknik untuk membuat

15
sekelompok orang mengikuti atau mentaati apa yang dikehendakinya,

membuat mereka antusias atau bersemangat untuk mengikutinya, atau

bahkan sanggup berkorban.

3. Kepemimpinan merupakan penyebab kegiatan, proses atau kesediaan

untuk mengubah pandangan atau sikap sekelompok orang, baik dalam

organisasi formal maupun informal.

4. Kepemimpinan memproduksi dan memancarkan pengaruh terhadap

sekelompok orang sehingga kelompok itu bersedia untuk mengubah

pikiran, sikap, kepercayaan, dan sebagainya. Kepemimpinan dalam

organisasi formal merupakan suatu proses yang terus menerus, yang

membuat semua anggota organisasi giat dan berusaha memahami dan

mencapai tujuan-tujuan yang dikehendaki oleh pemimpin.

5. Kepemimpinan ialah suatu bentuk persuasi, suatu seni membina

sekelompok orang melalui human relation dan motivasi yang tepat,

sehingga tanpa rasa takut mereka mau bekerja sama, memahami, dan

mencapai tujuan organisasi.

6. Kepemimpinan ialah suatu sarana , alat, atau instrumen untuk membuat

sekelompok orang mau bekerja sama, berdaya upaya, menaati segala

sesuatu untuk mencapai tujuan yang ditentukan (Gunawan, 2000:127)

Kepemimpinan menurut Soekanto (2006:250) adalah kemampuan

seseorang (pemimpin atau leader) untuk memengaruhi orang lain (yang

dipimpin atau pengikiut-pengikutnya) sehingga orang lain tersebut

bertingkah laku sesuai dengan kehendak pemimpin tersebut. Pengertian


pemimpin lebih terfokus kepada orang atau kelompok orang yang

memimpin, sedangkan pengertian kepemimpinan lebih terfokus kepada

usaha atau sifat dalam memimpin.

Menurut Wahjosumidjo, (1985:25) kepemimpinan adalah proses

dalam mempengaruhi kegiatan-kegiatan seseorang atau kelompok dalam

usaha mencapai tujuan di dalam situasi tertentu.

Kepemimpinan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bersikap dan

bertingkah laku sesuai dengan yang dikehendakinya yang berkaitan dengan

hak dan kewajibannya sebagai suatu warga masyarakat di lingkungannya.

I. KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

1. Kajian Pustaka

a. IPNU-IPPNU

Agus Yahya 2004 dalam judul artikel Mencari Identitas IPNU

sebagai Organisasi Pelajar mengemukakan bahwa pada Kongres XIV

IPNU di Surabaya tanggal 18-24 Juni 2003 telah berhasil mengembalikan

IPNU sebagai organisasi pelajar. IPNU ingin mengembalikan prototype

intelektualisme-religius sebagai jati dirinya yaitu dengan pengembangan

nilai, penerapan nilai, dan pendukung nilai dengan cara mempertahankan

learning society nilai ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah. Visi yang

dikedepankan IPNU adalah membangun (masyarakat belajar) di kalangan

pelajar. IPNU merupakan wahana tumbuhnya kesadaran tanggung jawab

17
moral akan pengembang nilai-nilai Aswaja dan agen perubahan, baik

kultur, tradisi, maupun struktur yang mendudukkan NU sebagai

kepentingan bersama. Hal ini menuntut tiga syarat, pertama, orientasi

diarahkan nalar pengembangan intelektual yang obyektif dan rasional.

Kedua, pendalaman wawasan keislaman dan NU. Ketiga, respon terhadap

persoalan lingkungan terutama pada fokus kepentingan pelajar (Rusydie

2004:3)

M. Saifuddin Alia 2004 dalam judul artikel Membangun

Peradaban Bangsa Bersama IPNU mengemukakan bahwa sebagai

organisasi social keagamaan dan kepemudaan, IPNU dituntut senantiasa

mengaktualisasikan tiga visi besar. Pertama, visi keislaman. Dengan visi

ini kader IPNU dituntut untuk dapat membumikan nilai-nilai keislaman ala

Ahlussunnah Wal Jamaah pada semua aspek kehidupan umat. Kedua, visi

keilmuan. Sebagai generasi muda NU, kader IPNU dipersiapkan untuk

menjadi kader bangsa yang berwawasan dan berintelektualisme tinggi.

Ketiga, visi kekaderan. Visi ini mengharuskan pada kader IPNU untuk

menempatkan organisasi sebagai wadah membina anggota dan berlatih

agar menjadi kader-kader yang memiliki komitmen terhadap perjuangan

organisasi, bertanggung jawab dalam menegmbangkan dan membentengi

organisasi serta diharapkan dapat membentuk pribadi yang berakhlak

karimah dan menghayati serta mengamalkan ajaran Ahlussunnah Wal

Jamaah. (Rusydie 2004:93)

Penelitian yang dilakukan oleh Hairus Salim HS dan Muhammad


Ridwan 1999 dalam jurnal yang berjudul Kultur Hibrida : Anak Muda NU

di Jalur Kultural mengemukakan bahwa pemuda NU telah memberikan

peranan yang besar terhadap pembangunan bangsa antara lain peran dalam

revolusi kemerdekaan 1945, penumbangan rezim Sukarno tahun 1966 dan

rezim Soeharto Mei 1988. Perkembangan kaum muda NU dapat

digambarkan di jalur kultural. Kegiatan ini lebih berorientasi pada

pengembangan dan pembangunan masyarakat sipil secara gradual, dengan

perhatian pada penumbuhan sikap pluralisme, penghormatan pada hak

asasi, dan peningkatan kemakmuran dan keadilan social. Ada beberapa

factor yang dapat mendorong dan melahirkan sosok pemuda NU antara

lain, akses pada pendidikan tinggi, keyakinan tradisi intelektual,

marginalisasi ekonomi-politik, dan peran Gus Dur (Salim HS dan Ridwan,

1999:1-16)

b. Kepemimpinan

Kepemimpinan (Leadership) merupakan suatu kegiatan untuk

mempengaruhi orang lain karena kepemimpinan merupakan motor

penggerak bagi sumber-sumber dan alat-alat manusia dalam suatu

organisasi. Oleh karena itu pentingya peranan kepemimpinan dalam usaha

mencapai suatu tujuan organisasi sehingga dapat dikatakan bahwa

kesuksesan atau kegagalan yang dialami sebagian besar ditentukan kualitas

kepemimpinan yang dimiliki oleh orang-orang yang diserahi tugas

memimpin dalam organisasi itu.

Penelitian yang dilakukan oleh Audith M. Turmudhi 2006

19
STIMIK-AMIKOM Yogyakarta, dengan judul jurnal : Peran Kepemim

pinan Dalam Perubahan Organisasional Perubahan memerlukan

kepemimpinan yang kuat dari segi otoritas yang dimiliki maupun dari segi

kepribadian dan komitmen karena memimpin perubahan dengan segala

kompleksitas permasalahan dan hambatannya memerlukan power,

keyakinan, kepercayaan diri, dan keterlibatan diri yang ekstra. Seperti

yang disebutkan oleh Zaleznik (1986), seorang pemimpin tidak boleh

bersikap impersonal, apalagi pasif terhadap tujuan-tujuan organisasi,

melainkan harus mengambil sikap pribadi dan aktif. Dengan begitu ia tidak

akan mudah patah oleh hambatan dan perlawanan. Ia justru akan bergairah

menghadapi tantangan perubahan yang dipandangnya sebagai batu ujian

kepemimpinannya (Maxwell, 1995). Pemimpin perubahan juga harus

visioner karena ia harus sanggup melihat cukup jauh ke depan ke arah

mana kapal organisasi harus bergerak. Kotter (1990) menyebutkan bahwa

memimpin perubahan harus dimulai dengan menetapkan arah setelah

mengembangkan suatu visi tentang masa depan, dan kemudian

menyatukan langkah orang-orang dengan mengomunikasikan penglihatan

nya dan mengilhami mereka untuk mengatasi rintangan-rintangan. Semua

itu dilakukan tanpa harus bersikap otoriter.

Wawan Susetya 2007, dalam buku Kepemimpinan Jawa

mengemukakan bahawa ada rambu-rambu bagi seorang pemimpin dan

bisa dikontekstualkan pula kepada guru atau posisi sebagai orang tua yaitu:

1. Mulat (artinya mengetahui). Bagi seorang pemimpin hendaknya (mulat)


mengetahui keberadaan atau keadaan rakyaknya dari dekat. Terlebih

dalam situasi banyak musibah bencana alam.

2. Milolo (artinya bombing, mem-bombong, membesarkan hati, atau

memuji). Bagi seorang pemimpin yang melihat rakyatnya terkena

musibah, ia harus membesrkan hati, memberinya semangat supaya

bangkit dari duka nestapa agar tidak larut dalam kesedihan yang

dihadapinya.

3. Miluta (artinya bimbang, membimbing, mengarahkan, atau

menunjukkan kesalahannya). Seorang pemimpin sangat ditunggu

nasihat baiknya oleh rakyat, sehingga berada pada rel yang lurus.

4. Palidarma (artinya memberikan teladan atau contoh). Rambu-rambu

palidarma sudah sangat popular, yaitu sebagai pemimpin bisa

memberikan teladan sebagaimana falsafah kepemimpinan Ki hadjar

Dewantoro “Ing ngarsa sung tuladha”.

5. Palimarma (artinya memberikan maaf atau memaafkan. Seorang

pemimpin yang bijak diharapkan dapat memaafkan kesalahan rakyatnya

Hadari Nawawi 1993, dalam buku Kepemimpinan Menurut Islam

mengemukakan bahwa kepemimpinan selalu berhubungan dengan dua

belah pihak. Pihak yang pertama disebut pemimpin dan pihak lainnya

adalah orang-orang yang dipimpin. Jumlah pemimpin selalu lebih sedikit

daripada jumlah orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan merupakan

gejala social, yang berlangsung sebagai interaksi antar manusia di dalam

kelompoknya, baik berupa kelompok besar yang melibatkan orang dengan

21
jumlah yang banyak, maupun kelompok kecil dengan jumlah orang yang

sedikit. Kepemimpinan sebagai perihal memimpin berisi kegiatan

menuntun, membimbing, memandu, menunjukkan jalan, mengepalai dan

melatih, agar orang-orang yang dipimpin dapat mengerjakan sendiri.

Dilihat dari segi ajaran Islam berarti kepemimpinan merupakan

kegiatan menuntun, membimbing, memandu dan menunjukkan jalan yang

diridhai Allah SWT. Kegiatan itu bermaksud untuk menumbuhkembang

kan kemampuan mengerjakannya sendiri di lingkungan orang-orang yang

dipimpin, dalam usahanya mencapai ridha Allah SWT selama kehidupan

nya di dunia dan di akhirat.

Husein Umar (2004:31-32), dalam buku Riset sumber Daya

Manusia Dalam Organisasi mengemukakan bahwa kepemimpinan yang

efektif tergantung dari landasan manajerial yang kokoh. Menurut Chapman

yang dikutip Dale Timple, lima landasan kepemimpinan yang kokoh adalah

1) Cara berkomunikasi, 2) Pemberian motivasi, 3) Kemampuan memimpin,

4) Pengambilan keputusan, 5) kekuasaan yang positif. Selanjutnya seorang

pemimpin dapat diketahui melalui ciri-cirinya. Untuk ciri umum menurut

Rodger D. Colons seperti yang dikutip Dale Timpe antara lain, kelancaran

berbahasa, kemampuan untuk memecahkan masalah, kesadaran akan

kebutuhan, keluwesan, kecerdasan, kesediaan menerima tanggung jawab,

keterampilan social, kesadaran akan diri dan lingkungan.

Untuk menjalankan peran-peran seperti yang diuraikan diatas,

seorang pemimpin harus mempunyai sarana, 1) Kewenangan formal, 2)


Pengetahuan dan pengalaman yang dapat ditambah, 3) Ganjaran dan hukum

an untuk karyawan bawahannya, 4) Komunikasi dan bawahannya, 5)

Perintah untuk bawahannya

Sugiyarta (2009:99), dalam buku Dinamika Kelompok dan

Kepemimpinan mengemukakan bahwa Fungsi Kepemimpinan, menurut

Cattel (1957) adalah sebagai berikut 1) Tugas memelihara kelompok, 2)

Menjunjung tinggi kepuasan peranan dan status, 3) Memilih dan

menjelaskan tujuan, 4) Menemukan dan menjelaskan cara-cara mencapai

tujuan. Sedangkan syarat-syarat pemimpin menurut R. Soewardi Prodjosa

Poetro (1979) yaitu : mampu memberikan penjelasan-penjelasan kepada

bawahannya tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas yang

dihadapi bersama, memahami watak dari orang-orang yang ada dalam

pengawasannya, selalu menjaga agar (Corps Disiplinair) dari kelompoknya

tetap terjamin, berani mempertanggungjawabkan semua hasil-hasil

pekerjaan di bawah wewenang dan tanggung jawab, bijaksana, dan

mempunyai perspektif masa depan. Sedangkan menurut Ki Hajar

Dewantoro, syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin

mengacu kepada pepatah Jawa yaitu “Ing ngarso sung tuladha, Ing madya

mangun karsa, Tut wuri handayani”

2. Kerangka Teori

Teori merupakan unsur penelitian yang besar peranannya dalam

menjelaskan fenomena sosial atau fenomena alami yang menjadi pusat

penelitian. Kerlinger menyatakan bahwa teori merupakan serangkaian

23
asumsi, konsep, konstrak, definisi dan proporsi untuk menerangkan suatu

fenomena sosial secara sistematik dengan cara merumuskan hubungan antar

konsep (Singarimbun. S, 1992).

Peneliti akan menggunakan dua teori untuk menjawab

permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini. Permasalahan pertama

yaitu peranan organisasi IPNU-IPPNU dalam mengembangkan sikap

kepemimpinan siswa di MA Walisongo Kecamatan Pecangaan Kabupaten

Jepara akan dianalisis menggunakan teori fungsionalisme struktural dari

Robert Merton. Permasalahan kedua yaitu bentuk pengkaderan (pelatihan

kepemimpinan) yang diberikan IPNU-IPPNU kepada siswa MA Walisongo

Pecangaan, akan dianalisis menggunakan teori orang-orang terkemuka

(Great man theories).

1. Teori Fungsionalisme Struktural

Fungsionalisme struktural sering menggunakan konsep sistem

ketika membahas struktur atau lembaga sosial. Sistem adalah organisasi dari

keseluruhan bagian-bagian yang saling tergantung. Sistem sosial ialah

struktur atau bagian yang saling berhubungan atau posisi-posisi yang saling

dihubungkan oleh peranan timbal balik yang diharapkan. Pengaruh Weber

dapat juga dilihat dalam batasan Merton tentang birokrasi. Merton (dalam

Ritzer, 2004) mengamati beberapa hal berikut di dalam organisasi birokrasi

modern antara lain, birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisasi

secara rasional dan formal, birokrasi meliputi suatu pola kegiatan yang

memiliki batas-batas yang jelas, kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal


berhubungan dengan tujuan-tujuan organisasi, jabatan-jabatan dalam

organisasi diintegrasikan ke dalam keseluruhan struktur birokrasi, status-

status dalam birokrasi tersusun ke dalam susunan yang bersifat hirarkis,

berbagai kewajiban serta hak-hak di dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-

aturan yang terbatas secara terperinci, Otoritas pada jabatan, bukan pada

orang, dan hubungan-hubungan antara orang-orang dibatasi secara formal.

Organisasi-organisasi yang berskala besar memberikan ilustrasi tentang

model birokrasi yang di uraikan oleh Weber dan Merton.

Menurut Talcott Parsons bahwa fungsionalisme struktural dimulai

dengan empat fungsi penting untuk semua sistem “tindakan”, terkenal

dengan skema AGIL. Parson yakin bahwa ada empat fungsi penting

diperlukan semua sistem adaptasi (A), goal attainment (G) ( pencapaian

tujuan), integration (I) (integrasi), dan latensi (L) (pemeliharaan pola.

Skema AGIL digunakan untuk semua tingkat dalam system teoritis. Parsons

mempunyai gagasan yang jelas mengenai “tingkatan” analisis social

maupun mengenai hubungan antara berbagai tingkatan. Susunan hierarkis

dan tingkat integrasi menurut sistem Parsons terjadi dalam dua cara yaitu

masing-masing tingkat yang lebih rendah menyediakan kondisi atau

kekuatan yang diperlukan untuk tingkat yang lebih tinggi dan tingkat yang

lebih tinggi mengendalikan tingkat yang berada dibawahnya.

Parsons memperhatikan komponen sistem sosial ada persyaratan

fungsionalnya yaitu sistem sosial harus terstruktur (ditata) sedemikian rupa

sehingga bisa beroperasi dalam hubungan yang harmonis dengan sistem

25
yang lainnya, untuk menjaga kelangsungan hidupnya sistem sosial harus

mendapat dukungan yang diperlukan dari sistem yang lain, sistem sosial

harus mampu memenuhi kebutuhan para aktornya dalam proporsi yang

signifikan, sistem harus mampu melahirkan partisipasi yang memadai dari

para anggotanya, sistem sosial harus mampu mengendalikan perilaku yang

berpotensi mengganggu, bila konflik akan menimbulkan kekacauan harus

dikendalikan dan untuk kelangsungan hidupnya sistem sosial memerlukan

bahasa.

Struktur dimaknai sebagai sebuah perangkat yang diharapkan dan

dapat dinikmati oleh individu selaku aktor atau suatu lembaga yang

berkedudukan di dalam masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, maka

kaitannya dengan lembaga organisasi IPNU-IPPNU, harapan yang

dimaksud adalah harapan dari siswa atau pelajar untuk dapat

mengembangkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan paham

Ahlussunnah Wal Jamaah (Nahdlatul Ulama). Melihat sikap dan perilaku

generasi muda saat ini yang kurang peduli terhadap lingkungan pendidikan

terutama pendidikan keagamaan, maka diperlukan suatu peranan dari semua

pihak yang nantinya dapat merubah kondisi pelajar atau siswa menjadi lebih

baik. Salah satu dari struktur tersebut yang dapat menjadi harapan bagi

siswa untuk dapat mengembangkan sikap kepemimpinannya adalah melalui

organisasi IPNU-IPPNU di sekolah.

IPNU-IPPNU sebagai Badan Otonom Nahdlatul Ulama’ yang

merupakan wadah kaderisasi pelajar NU sekaligus menjadi ujung tombak


bagi perjuangan NU. IPNU-IPPNU dituntut untuk senantiasa meningkatkan

dan mengembangkan peran dan fungsinya sebagai pelaksana kebijakan dan

program NU, yang berkaitan dengan kelompok, masyarakat, pelajar, santri,

mahasiswa sebagai basis keanggotaan IPNU-IPPNU.

Sebagai lembaga organisasi masyarakat (ormas), IPNU-IPPNU

memiliki peran dan fungsi bagi masyarakat khususnya siswa. Sesuai dengan

yang diungkapakan Goffman yang melihat lembaga dari berbagai

perspektif. Goffman melihat lembaga dari sudut efisiensi, tututannya, dan

status, nilai-nilai moral, dan perannya (Ritzer,2004). Fungsi IPNU-IPPNU

yaitu 1) Wadah perjuangan para pelajar NU dalam pendidikan dan

kepelajaran.2). Wadah pengkaderan pelajar NU untuk mempersiapkan

keder-kader bangsa dan kepemimpinan Nahdlatul Ulama’. 3) Wadah

penguatan pelajar NU dalam melaksanakan dan mengembangkan Islam ala

Ahlussunnah wal jama’ah untuk melanjutkan semangat, jiwa dan nilai-nilai

nahdliyah. 4) Wadah komunikasi pelajar NU untuk memperkokoh ukhuwah

nahdliyah, islamiyah, insaniyah, dan wathoniyah. Terkait dengan hal

tersebut, sebagai organisasi pelajar IPNU-IPPNU sangat berperan dalam

proses pengembangan sikap kepemimpinan di kalangan siswa.

2. Teori orang-orang terkemuka (Great man theories)

Kelompok teori orang-orang terkemuka disusun berdasarkan

cara induktif dengan mempelajari sifat-sifat yang menonjol dari pimpinan

atas keberhasilan tugas yang dijalankan terutama kemampuan untuk

memimpin. Diasumsikan bahwa pemimpin-pemimpin yang berhasil

27
MadrasahOSIS
Aliyah Walisongo Perilaku
Sikap Kepemimpinan
NU Komisariat Kegiatan Ekstra Kurikuler MA Walisongo
MA Walisongo Kedisiplinan
PRAMUKA
Tanggung Jawab
PMR

memainkan peranan dengan memiliki sifat-sitat unik dan kualitasnya adalah

superior. Teori ini juga disebut teori serba sifat (Sugiyarta, 2009:107)

C. Kerangka Berpikir

Kerangka teoritis adalah kerangka berfikir yang bersifat teoritis atau

konseptual mengenai masalah yang kita teliti. Kerangka berpikir tersebut

menggambarkan hubungan antara konsep-konsep atau variable-variable yang

akan diteliti. Skema kerangka berfikir pada penelitian ini adalah :

Dari kerangka berfikir diatas dapat dijelaskaan bahwa keberadaan

Organisasi IPNU-IPPNU di MA Walisongo Pecangaan mempunyai peranan

dalam pengembangan sikap kepemimpinan siswa. Hal ini dapat dilihat dari

siswa yang mengikuti kegiatan organisasi IPNU-IPPNU yang menjadi kegiatan


ekstrakurikuler wajib terutama bagi kelas X, akan menjadi titik awal proses

pengkaderan di sekolah. Sehingga nantinya siswa mempunyai bekal dalam

mengikuti kegiatan-kegiatan keorganisasian lainnya . Penulis dalam hal ini

ingin menganalisis bagaimana peranan organisasi IPNU-IPPNU dalam

mengembangkan sikap kepemimpinan siswa di MA Walisongo Pecangaan.

K. METODE PENELITIAN

1. Dasar Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian

kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2006:4)

mengemukakan bahwa metode kualitatif ini digunakan sebagai prosedur

penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau

lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penggunaan metode

penelitian ini disesuaikan dengan tujuan pokok penelitian, yaitu untuk

mendeskripsikan peranan organisasi IPNU-IPPNU dalam mengembangkan

sikap kepemimpinan siswa.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi adalah tempat dimana berlangsungnya fenomena yang akan

diteliti. Pada penelitian ini lokasi yang dipilih sebagai tempat penelitian

adalah MA Walisongo Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara. Tempat ini

dipilih karena MA Walisongo merupakan sekolah yang berada di bawah

Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) yang

memasukkan IPNU-IPPNU sebagai ekstra kurikuler wajib.

29
3. Fokus Penelitian

Menurut Moleong (2006:116) tidak ada satupun penelitian yang

dapat dilakukan tanpa adanya fokus yang diteliti. Penelitian ini difokuskan

pada peranan organisasi IPNU-IPPNU dalam mengembangkan sikap

kepemimpinan siswa MA Walisongo dan bagaimana bentuk pengkaderan

atau pelatihan kepemimpinan yang diberikan kepada siswa MA Walisongo.

4. Subjek Penelitian

Menurut Moleong (dalam Basrowi dkk, 2008:188) mengemukakan

bahwa subjek penelitian merupakan orang dalam latar penelitian. Dalam hal

ini subjek penelitiannya adalah siswa MA Walisongo Pecangaan, khususnya

siswa yang mengikuti kegiatan organisasi IPNU-IPPNU.

5. Sumber Data

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung

melalui pengamatan dan wawancara (Sugiyono, 2008:51). Disini peneliti

akan melakukan wawancara dengan informan untuk menggali keterangan

tentang peranan organisasi IPNU-IPPNU dalam mengembangkan sikap

kepemimpinan siswa.

Informan adalah individu-individu tertentu yang

diwawancarai untuk keperluan informasi. Informan adalah orang yang

dapat memberikan informasi atau keterangan atau data yang diperlukan

oleh peneliti. Informan ini dipilih dari beberapa orang yang betul-betul

dapat dipercaya dan mengetahui objek yang diteliti (Koentjaraningrat,


1993:130).

Sebagai informan kunci dalam penelitian ini adalah siswa

MA Walisongo Pecangaan, sedangkan informan lainnya dalam penelitian

ini adalah wakasek kesiswaan, guru MA Walisongo dan Pembina

organisasi IPNU-IPPNU Komisariatt MA Walisongo Pecangaan.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data tambahan yang berupa informasi

untuk melengkapi data primer. Data sekunder dalam penelitian ini berupa

sumber tertulis, foto, dan arsip atau dokumen.

Selain dari informan, data dalam penelitian ini juga

diperoleh dari sumber tertulis yaitu dari buku-buku atau literatur yang

berkaitan dengan judul dan tema dari penelitian ini.

Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa gambar foto.

Foto banyak digunakan sebagai alat untuk keperluan penelitian kualitatif

karena dapat dipakai dalam berbagai keperluan. Foto yang dimanfaatkan

dalam penelitian kualitatif ada dua kategori yaitu foto yang dihasilkan oleh

orang lain atau foto yang dihasilkan oleh peneliti sendiri. Foto banyak

digunakan bersama-sama dengan pengamatan serta saat-saat suatu

peristiwa yang bernilai sejarah, sosial, ritual dan kultural.

Foto yang digunakan dalam penelitian ini adalah foto pribadi yang

dihasilkan oleh peneliti sendiri pada saat proses observasi dan kegiatan

penelitian atau saat wawancara berlangsung. Foto-foto yang diambil

merupakan dokumen pribadi. Dokumentasi pribadi adalah catatan atau

31
karangan seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman dan

kepercayaannya (Moleong, 2006 : 217). Dalam penelitian ini, pengambilan

foto dilakukan pada saat observasi dan wawancara. Obyek yang diambil

antara lain suasana atau kondisi lingkungan MA Walisongo dan kegiatan

IPNU-IPPNU di MA Walisongo.

6. Teknik Pengumpulan data

a. Wawancara

Metode wawancara atau metode interview, mencakup cara

yang dipergunakan kalau seseorang, untuk tujuan suatu tugas tertentu,

mencoba mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seorang

reponden, dengan bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang itu

(Koentjaraningrat, 1993:129)

Menurut Faisal (2005:52) wawancara yaitu metode

pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara lisan. Dalam

wawancara alat pengumpul datanya disebut pedoman wawancara. Suatu

pedoman wawancara harus benar-benar dimengerti oleh pengumpul data.

Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan

wawancara secara terbuka dan wawancara secara tertutup untuk

memperoleh data yang valid dalam penelitian.

b. Observasi

Metode observasi yang digunakan dalam penelitian ini

yaitu observasi langsung, dimana peneliti mengadakan pengamatan secara

langsung terhadap subyek yang diteliti dalam kurun waktu yang cukup
lama. Observasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman,

pendengaran, peraba, dan pengecap. Observasi menurut Arikunto (2006 :

156) disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan

perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera.

Peneliti akan terjun langsung ke lokasi penelitian untuk

melakukan pengamatan dan pencatatan data secara sistematik pada objek

penelitian dengan melihat instrumen sebagai pedoman pengamatan yang

ditujukan kepada siswa dan guru MA Walisongo. Selain itu juga peneliti

menggunakan metode observasi non-partisipasi, dimana peneliti tidak

terlibat secara langsung dalam kegiatan yang IPNU-IPPNU MA

Walisongo Pecangaan.

Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan observasi

secara mendalam tentang peran organisasi IPNU-IPPNU dalam

mengembangkan sikap kepemimpinan siswa di MA Walisongo. Dan yang

menjadi indicator dalam penelitian ini yaitu peran organisasi IPNU-IPPNU

dan sikap kepemimpinan.

c. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal

atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,

agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2006:236).

Dalam penelitian ini, peneliti akan mengambil atau

mengutip dokumen yang berhubungan dengan dengan organisasi IPNU-

IPPNU, sehingga data tersebut dapat digunakan untuk mendukung

33
kelengkapan data yang ada pada peneliti.

7. Metode Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyususn secara

sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan di lapangan,

dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori,

menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam

pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat

kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain

(Sugiyono, 2008:88).

Menurut Miles dan Huberman (1992:20) tahap analisis data

adalah sebagai berikut :

1. Pengumpulan data

Peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya

sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan.

2. Reduksi Data

Reduksi data yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan

fokus peneliti. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang

menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan

mengorganisasikan data-data yang direduksi memberikan gambaran

yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan mempermudah peneliti

untuk mencari sewaktu-waktu diperlukan.

3. Penyajian Data

Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang


Koleksi data Reduksi data Display data

memberikan kemungkinan adanyapenarikan kesimpulan dan

pengambilan tindakan. Penyajiandata merupakan analisis dalam

bentuk matrik, network, cart atau grafis sehingga peneliti dapat

menguasai data.

4. Pengambilan kesimpulan atau verifikasi

Peneliti berusaha mencari pola, model, tema, hubungan,

persamaan, hal-hal yang sering muncul, hipotesis dan sebagainya. Jadi

dari data tersebut peneliti mencoba mengambil kesimpulan. Verifikasi

dapat dilakukan dengan keputusan, didasarkan pada reduksi data dan

penyajian data yang merupakan jawaban atas masalah yang diangkat

dalam penelitian.

Keempatnya dapat digambarkan dalam bagan berikut:

35
Pemaparan

kesimpulan

Analisis Data Model interaktif dari Miles dan Huberman (dalam Basrowi

dkk, 2008:210)

Keempat komponen tersebut saling interaktif yakni saling

mempengaruhi dan terkait. Peneliti memulai kegiatan penelitian dengan

mengumpulkan atau mengoleksi data dari lapangan. Kegiatan selanjutnya

setelah mengoleksi data yang banyak adalah diadakan reduksi data, selain

itu untuk pengumpulan digunakan juga waktu untuk menyajikan data.

Kegiatan mengambil kesimpulan akan dilakukan apabila ketiga komponen

sebelumnya sudah dilaksanakan.

8. Validitas Data

Validitas sangat mendukung dalam menentukan hasil akhir

penelitian, oleh karena itu diperlukan beberapa teknik untuk memeriksa

keabsahan data yaitu dengan menggunakan teknik triangulasi. Menurut

Sugiyono (2008:88) triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari

berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan

demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan

data, dan waktu.

L. SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI

Penulisan skripsi ini terdiri dari 3 (tiga) bagian yang mencakup 5 (lima)
Bab yang disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut:

A. Bagian Pendahuluan Skripsi

Bagian pendahuluan skripsi ini terdiri dari Judul, Abstrak, Pengesahan,

Motto dan Persembahan, Kata Pengantar, Daftar Isi, Daftar Tabel (bila

ada) dan Daftar Lampiran (bila ada).

B. Bagian Isi Skripsi

1. Bab I Pendahuluan

Bab pendahuluan ini terdiri dari sub bab, yang

dimulai dengan latar belakang penelitian, identifikasi dan

pembatasan masalah, maksud dan tujuan penelitian, manfaat

penelitian, serta sistematika penulisan.

2. Bab II Kerangka Teoritik atau Telaah Pustaka

Dalam bab ini akan diuraikan mengenai teori-teori

yang diharapkan mampu menjembatani atau mempermudah dalam

memperoleh hasil penelitian.

3. Bab III Metode Penelitian

Dalam bab ini peneliti akan menjelaskan tentang

metode yang digunakan meliputi metode pendekatan penelitian,

metode pengolahan data, dan metode analisis data

4. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Berisi tentang hasil penelitian yang meliputi

gambaran umum IPNU-IPPNU Komisariat MA Walisongo dan

pembahasan mengenai Peran Organisasi IPNU-IPPNU dalam

37
Mengembangkan Sikap Kepemimpinan Siswa.

5. Bab V Penutup

Bab penutup ini berisikan tentang kesimpulan dan

saran, peneliti akan mencoba menarik sebuah benang merah terhadap

permasalahan yang diangkat.

C. Bagian Akhir Skripsi

Bagian akhir skripsi terdiri dari Daftar Pustaka dan

lampiran-lampiran.

Anda mungkin juga menyukai