Anda di halaman 1dari 128

SISTEM PEMANTAU GETARAN GEMPA DENGAN

APLIKASI DATALOGGER BERBASIS BORLAND DELPHIE


 
(Earthquake Scanner With Datalogger Applications Base On Borland Delphie)

SKRIPSI 

 
 
Disusun  Oleh : 
 
Netwin Lukas Lethulur
 
No.Mhs : 06042311p
Program Studi  :  Teknik Elektronika 
Jurusan    :  Teknik Elektro 
Jenjang    :  S‐1 
Fakultas    :  Teknologi Industri 
 
 
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND 
YOGYAKARTA 
April 2009 
SKRIPSI 

i
SISTEM PEMANTAU GETARAN GEMPA
DENGAN APLIKASI DATALOGGER
BERBASIS BORLAND DELPHIE
EARTHQUAKE SCANNER WITH DATALOGGER APPLICATIONS 
BASE ON BORLAND DELPHIE 
 
 
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Akhir Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Program S-1 Pada Program Studi Teknik Elektronika Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Teknologi Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

 
 
Diajukan Oleh : 
 
 
Netwin Lukas Lethulur

No.Mhs    :  06042311p 
Program Studi  :  Teknik Elektronika 
Jurusan    :  Teknik Elektro 
Jenjang    :  S‐1 
Fakultas    :  Teknologi Industri 
 
 
 
 
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND 
YOGYAKARTA 
April 2009 

HALAMAN PENGESAHAN

SISTEM PEMANTAU GETARAN GEMPA DENGAN


APLIKASI DATALOGGER BERBASIS BORLAND DELPHIE

(Earthquake Scanner With datalogger Applications Base On Borland Delphie)

ii
Yang dipersiapkan dan disusun oleh :

Netwin Lukas Lethulur


06.04.2311p

Telah diujikan didepan Dewan Penguji pada tanggal: 08 April 2009 dan dinyatakan
telah lulus memenuhi syarat.

Susunan Tim Penguji

Tandatangan
Dosen Pembimbing I

( Mujiman, S.T., M.T. ) (…………………)

Dosen Pembimbing II

( Slamet Hani, S.T., M.T. ) (…………………)

Anggota Tim Penguji

( Ir Gatot Santoso MT ) (…………………)

Yogyakarta ... April 2009


Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Elektro

( Ir Gatot Santoso MT )

iii
Motto :

“Bukan Karena Sesuatu Itu Sulit Sehingga Kita Tidak


Berani Untuk Melakukannya, Melainkan Karena Kita Tidak
Berani Maka Sesuatu Itu Menjadi Sulit”

iv
HALAMAN PERSEMBAHAN

Hanya kedalam tangan Tuhan Yesus Kkristus

kupasrahkan serta kupersembahkan

seluruh tubuh, roh dan jiwaku

Kupersembahkan semua yang telah kutuliskan ini Kepada :

Bapa, Mama dan Kakaku Helen tersayang beserta

seluruh Keluarga yang kukasihi, Terimakasih atas

segala Doa dan Dukungannya yang selalu mengiringi

Setiap jalanku

Terima kasih Buat kekasihku tercinta Anita Funay

Yang selalu setia dan senantiasa membantu dan

menemaniku didalam suka maupun duka hingga

terselesaikannya skripsi ini. GBU.

v
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan

rahmat dan petunjuk-Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan laporan

skripsi ini dengan judul: “SISTEM PEMANTAU GETARAN GEMPA

DENGAN APLIKASI DATALOGGER BERBASIS BORLAND DELPHIE”.

Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis mendapat bantuan serta

dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin

menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Ir. Sudarsono, M.T. Selaku Rektor Institut Sains & Teknologi Akprind

Yogyakarta.

2. Bapak Muhammad Sholeh, S.T., M.T. Selaku Dekan Fakultas Teknologi

Industri Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta.

3. Bapak Ir. Gatot Santoso, M.T. Selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro Institut

Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta.

4. Bapak Mujiman, S.T.,MT. Selaku Dosen Pembimbing I.

5. Bapak Slamet Hani, S.T., M.T. Selaku Dosen Pembimbing II.

6. Bapak Ir. Gatot Santoso., MT. Selaku Dosen Penguji pada ujian pertanggung

jawaban Skripsi.

7. Bapak Safriyudin., S.T., M.T. Selaku Dosen Pembimbing KP II Saya

8. Kepada Bapa dan Mama serta Kakak tercinta Helen yang selalu memberikan

Doa, dorongan dan motifasi dari awal pembuatan skripsi sampai terselesainya

skripsi ini.

vi
9. Kepada Bu Boy, Usi Nona, Adit, dan Eno terima kasih atas dukungan serta

bantuannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

10. Kepada Bapak Agus Daryanto. Yang telah membantu penulis dalam

administrasi maupun mengurusi pendaftaran skripsi penulis sampai pada

selesainya skripsi ini.

11. Kepada Kekasih Tercinta, Nita Funay yang selalu senantiasa menemani dan

memberikan dorongan kepada penulis hingga terselesaikannya skripsi ini.

12. Kepada Ponaanku Tersayang DEDY S, yang setia meminjamkan uang pada

penulis dalam proses pembuatan skripsi ini, meskipun kadang-kadang ia

marah-marah, tapi sampai pada akhinya juga dikasi pinjam. Hehehehe....

13. Kepada Om Buce Luturmas, terima kasih atas bantuan, masukan dan

dorongannya sampai penulis menyelesaikan skripsi ini..... Su tau Om Toooo.

Itu Sudah.... Hadisk....hadisk....AAAAAaaaaaaaaaa.......

14. Buat Teman-teman Komunity Anak Timur: Andre Koten, Samuel, Rian Seran

Ari, Lerry, Ricmon, Tedi, Robert dan Yono beserta teman-teman lain yang tak

sempat penulis tuliskan satu persatu. Terima kasih atas dukungan serta

Doanya.

15. Buat anak-anak Blok O, Om Boss dan Kak’s Bocha, Terima kasi atas

dukungannya ya. Dik’s akan ingat kak’s dorang selalu.

16. Anak-anak SLA_Q Crew dan Seluruh pihak yang telah membantu penulis

selama ini sehingga terselesaikannya laporan skripsi ini.

17. Buata teman-teman PS Crew. Habislah gelap terbiltlah terang. Sekali PS tetap

PS.

vii
18. Kepada teman-temen Elektro terutama Om Joao Bosco De Jesus, dan teman-

teman lain yang tidak sempat penulis ucapkan satu persatu, trimakasih atas

bantuan dan dukungannya serta motifasinya sampai terselesaikannya skripsi

ini. SUKSES BUAT KITA SEMUA YA.

19. Kepada anak-anak PMK Galilea, Terima Kasih atas Doa dan dukungannya ya.

TUHAN MEMBERKATI KITA SEMUA... Amin.

Penulis menyadari penyusunan laporan skripsi ini tidak lepas dari

kesalahan dan kekurangan yang dikarenakan keterbatasan kemampuan dan

pengetahuan penulis. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang

sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan skripsi ini. Akhir kata, semoga

keberadaan laporan skripsi ini mampu memberikan manfaat serta menambah

wawasan dalam khasanah Ilmu Pengetahuan dalam bidang Elektro khususnya

pada bidang elektronika.

Yogyakarta , April 2009

Penulis

viii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN DEPAN .................................................................................... i

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ iii

MOTTO ......................................................................................................... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... v

KATA PENGANTAR ................................................................................... vi

DAFTAR ISI .................................................................................................. ix

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xiv

DAFTAR TABEL ......................................................................................... xvi

INTISARI ...................................................................................................... xvii

ABSTRACT ................................................................................................... xviii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Pokok Permasalahan ............................................................ 1

1.2 Rumusan masalah ................................................................ 2

1.3 Batasan Masalah .................................................................. 2

1.4 Tujuan Dan Manfaat ............................................................ 3

1.5 Metodologi Pembuatan Alat ................................................ 3

1.6 Sistematika Penulisan .......................................................... 4

ix
BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka ................................................................. 6

2.2 Gempa .................................................................................. 7

2.3 Skala Gempa Bumi .............................................................. 11

2.3.1 Skala Richter ............................................................ 12

2.3.2 Skala Mercalli .......................................................... 13

2.3.3 Skala Kekuatan Moment piezoelectric...................... 15

2.4 Piezoelectric ......................................................................... 15

2.4.1 Spesifikasi Piezoelectrisitas ..................................... 17

2.4.2 Penggunaan Piezoelectrik ........................................ 17

2.5 Analog To Digital Converter ............................................... 18

2.6 Mikrokontroler AT89C51 .................................................... 20

2.6.1 Fungsi Pin ................................................................ 21

2.6.2 Organisasi Memori .................................................. 24

2.6.3 Register Fungsi Khusus ........................................... 27

2.6.4 Timer/Conter ............................................................ 28

2.6.5 Interupsi ................................................................... 29

2.6.6 Antarmuka Serial ..................................................... 31

2.6.7 Baud Rate ................................................................. 31

2.6.8 Rangkaian Reset ....................................................... 33

2.7 Perangkat Lunak Mirokontroler AT89C51 .......................... 34

2.7.1 Instruksi Transfer Data ............................................. 34

2.7.2 Aritmatic Logical Unit (ALU) ................................. 35

x
2.7.3 Instruksi Aritmatic ................................................... 35

2.7.4 Instruksi Logika ....................................................... 36

2.7.5 Instruksi Transfer Kendali ....................................... 37

2.8 Serial Interface MAX232 ..................................................... 40

2.8.1 Dual Charge-Pump Voltage ..................................... 40

2.8.2 Drivers RS-232. ........................................................ 41

2.8.3 RS-232 Receiver ...................................................... 42

2.8.4 Receiver And Enable Control Input ......................... 43

2.9 Operating Amplifier ............................................................. 44

2.9.1 Inverting Amplifier (Penguat Pembalik) .................. 47

2.9.2 Non-Inverting Amplifier (Penguat Tak Membalik).. 47

2.9.3 Voltage Follower (Penyangga) ................................ 48

BAB III PEMBUATAN DAN PENGUJIAN ALAT

3.1 Perencanaan .......................................................................... 50

3.2 Deskripsi Umum .................................................................. 50

3.3 Perancangan Perangkat Keras .............................................. 51

3.3.1 Bagian Vibration Sensor Dan Sgnal Amplifiel ......... 51

3.3.2 Bagian Signal Conditioner ........................................ 52

3.3.3 Bagian Analog To Digital Converter ........................ 53

3.3.4 Bagian Microcontroller ............................................. 56

3.3.5 Bagian Interface RS232 ............................................ 57

3.3.6 Bagian Catudaya ....................................................... 59

xi
3.4 Cara Kerja Alat .................................................................... 60

3.4.1 Perancangan PCB ...................................................... 60

3.4.2 Proses Desain Jalur ................................................... 61

3.4.3 Proses Cetak Dan Sablon .......................................... 62

3.4.4 Proses Pelarutan PCB ................................................ 63

3.4.5 Proses Pengeboran .................................................... 64

3.4.6 Proses Pemasangan komponen ................................. 64

3.5 Perancangan Perangkat Lunak ............................................. 66

3.5.1 Diagram Alir earth.Asm .......................................... 66

3.5.2 Algoritma earth.Asm ................................................ 67

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Tujuan Pengambilan Data .................................................. 70

4.2 Tempat Pengambilan Data ................................................. 71

4.3 Pengujian Perbagian ........................................................... 71

4.3.1 Bagian Vibration Sensor Dan Signal Amplifier ........ 71

4.3.2 Bagian Signal Conditioner ........................................ 73

4.3.3 Pengujian Bagian Analog To Digital Converter ....... 74

4.3.4 Pengujian Bagian Microcontroler ............................. 76

4.3.5 Pengujian Rangkaian Interface RS232 ...................... 79

4.3.6 Pengujian Bagian Catudaya ...................................... 80

4.4 Pengujian Sistem Lengkap ................................................. 82

xii
BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan ......................................................................... 83

5.2 Saran .................................................................................. 84

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 85

LAMPIRAN ................................................................................................... 86

xiii
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Lapisan Bumi .............................................................................. 7

Gambar 2.2 Peta Lempeng Tektonik ............................................................. 8

Gambar 2.3 Arah Pergerakan Lempeng Tektonik ......................................... 9

Gambar 2.4 Peta Lingkaran Api .................................................................... 10

Gambar 2.5 Seismogram Gelombang P Dan S .............................................. 12

Gambar 2.6 Tabel Skala Richter .................................................................... 13

Gambar 2.7 Penampang Muatan Listrik Dari Piezoelectric .......................... 16

Gambar 2.8 Bentuk Fisik Piezoelectric ......................................................... 17

Gambar 2.9 Bentuk Fisik Dan Deskripsi Pin ADC0804 ............................... 19

Gambar 2.10 Aplikasi Umum Penggunaan ADC0804 .................................... 20

Gambar 2.11 Struktur Pin AT89C51 ............................................................... 20

Gambar 2.12 Peta Memori RAM Dan Special Fungsi register ....................... 25

Gambar 2.13 Rangkaian Power On Reset ........................................................ 33

Gambar 2.14 Struktur Pin Dan Tipical Part MAX232 .................................... 40

Gambar 2.15 Blok Internal MAX232 .............................................................. 42

Gambar 2.16 Bentuk Fisik Dan Deskripsi Pin LM393 .................................... 44

Gambar 2.17 Skematik Dasar Rangkaian Inverting Amplifier ........................ 47

Gambar 2.18 Skematik Dasar Rangkaian Non-Inverting Amplifier ................ 48

Gambar 2.19 Skematik Dasar Rangkaian Voltage Follower Amplifier .......... 49

Gambar 3.1 Blok Diagram Sistem ................................................................. 51

Gambar 3.2 Skematik Bagian Vbration Sensor Dan Signal Amplifier .......... 52

xiv
Gambar 3.3 Skematik Bagian Conditioner .................................................... 53

Gambar 3.4 Skematik Bagian Analog To Digital .......................................... 54

Gambar 3.5 Skema Bagian Microcontroler ................................................... 56

Gambar 3.6 Skematik Bagian Interface RS232 ............................................. 58

Gambar 3.7 Skematik Bagian Catudaya ......................................................... 59

Gambar 3.8 Ploting PCB ................................................................................ 62

Gambar 3.9 Diagram Alir earth.Asm ............................................................. 67

Gambar 4.1 Tes Point Bagian Vibration Sensor Dan Signal Amplifier ........ 71

Gambar 4.2 Perbandingan Sinyal In/Out Signal Amplifier ........................... 72

Gambar 4.3 Tes Point Bagian Signal Conditioner ......................................... 73

Gambar 4.4 Tes Point Bagian Analog To Digital Converter ......................... 74

Gambar 4.5 Sinyal Clok ADC ....................................................................... 75

Gambar 4.6 Tes Poin Bagian Mikrocontroler ................................................ 76

Gambar 4.7 Frekuensi Sinyal Pin Xtall ......................................................... 78

Gambar 4.8 Frekuensi Sinyal Xtal2 ............................................................... 78

Gambar 4.9 Tes Poin Bagian Interface RS232 .............................................. 79

Gambar 4.10 Titik Pengujian Bagian Catudaya ............................................... 80

Gambar 4.11 Conto Capture Grafik 1 .............................................................. 82

Gambar 4.12 Conto Capture Grafik 2 .............................................................. 83

xv
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Diskripsi Funsi Pin-pin ADC0804 .............................................. 19

Tabel 2.2 Fungsi-fungsi Khusus Pin-pin Port 3 .......................................... 22

Tabel 2.3 Penentuan Mode Kerja Port Serial .............................................. 31

Tabel 2.4 PCON-Power Control Register ................................................... 32

Tabel 2.5 Baut Rate Yang Dihasilkan Timer 1 ............................................ 32

Tabel 2.6 Ringkasan BaudRate Untuk Timer 1 Sebagai Generator Baud

Rate ............................................................................................... 33

Tabel 2.7 Fungsional Pin LM393 ................................................................ 45

Tabel 3.1 Nilai D-out Untuk Data Input ...................................................... 55

Tabel 3.2 Inisialisasi Pemakaian Port U1 ..................................................... 57

Tabel 3.3 Peralatan Dan Bahan .................................................................... 61

Tabel 3.4 Daftar Komponen ......................................................................... 65

Tabel 4.1 Hasil Pengujian Bagian Vibration Sensor Dan Signal Amplifier . 72

Tabel 4.2 Tes Poin Bagian Signal Conditioner ............................................ 73

Tabel 4.3 Hasil Pengujian Bagian Analog ................................................... 74

Tabel 4.4 Hasil Pengujian Microcontroler (Saluran Xtal 1dan Xtal2) ......... 77

Tabel 4.5 Hasil Pengujian Bagian Interface ................................................. 79

Tabel 4.6 Pengujian Bagian Catudaya ......................................................... 80

Tabel 4.7 Hasil Data Pengujian Regulator ................................................... 81

xvi
Intisari
Sistem merupakan bentuk aplikasi pendeteksi getaran gempa yang
dikendalikan menggunakan sistem kontrol adaptif berbasis mikrokontroler dengan
datalogger berbasis PC.
Secara prinsip sistem akan membaca sinyal getaran gempa melalui sensor
piezoelectric dan menguatkan level sinyalnya agar dapat diolah menggunakan
rangkaian analog to digital converter dan mikrokontroler. Pada saat program PC
mengirimkan perintah pengambilan data sinyal getaran ke bagian mikrokontroler,
bagian ini akan merespon perintah tersebut dengan mengirimkan data hasil
konversi analog to digital converter ke PC melalui saluran serial. Proses ini akan
terus dijalankan oleh program PC dan data report dari mikrokontroler inilah yang
diproses ulang kedalam bentuk grafik sinyal getaran gempa (yang terdeteksi
secara realtime).

Kata Kunci: piezoelectric, datalogger, mikrokontroler, analog to digita converter

xvii
Abstract
System is form of the application of earthquake jitter detector controlled
applies control systems adaptif to base on mikrokontroler with datalogger to base
on PC.
In system principle will read earthquake jitter signal through censor piezoelectric
and strengthens level its(the signal that be changeable applies digital to analog
circuit of converter and mikrokontroler. At the time of program PC sends
retrieval comand of jitter signal data to part of mikrokontroler, part of this the
comand response will by sending data result of digital to analogue conversion of
converter to PC through serial passage. This process would continuously be
implemented by program PC and data report from this mikrokontroler
reprocessed kedalam form of earthquake jitter signal graph ( what detected in
realtime).

Keyword: piezoelectric, datalogger, mikrokontroler, analogue to digita converter

xviii
xix
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pokok Permasalahan

Sistem pendeteksian getaran gempa bumi secara umum mengandalkan

piranti seismograf yang telah digabungkan dengan pengkawatan sistem sensor

getaran secara khusus. Desain fisik sensor getaran dapat berupa mekanis penuh,

mekanis dan fluida, maupun gabungan dari desain mekanis dan rangkaian

elektronik.

Pemasangan sistem sensor getaran untuk seismograf ini memerlukan

konstruksi bangunan yang didesain secara khusus dan hanya efektif dipasang di

area pegunungan atau daerah dengan kepadatan lalu lintas kendaraan yang

minimal. Permasalahan inilah menyebabkan sistem pendeteksian gempa bumi

tidak dipasang di area perumahan maupun di dalam gedung-gedung.

Seperti kita ketahui, desain sistem sensor getaran merupakan bagian

terpenting dari suatu sistem peringatan dini karena sangat menentukan faktor

kehandalan dari sistem tersebut. Proses pengidentifikasian terjadinya getaran

gempa bumi sebaiknya dapat diketahui sedini mungkin dan seharusnya piranti

pendeteksi dapat dipasang di sembarang posisi baik didalam maupun diluar

bangunan. Selain itu piranti pendeteksi harus bersifat sederhana, mudah

dioperasikan, memiliki validitas sinyal yang akurat dan dapat mengidentifikasi

terjadinya gempa bumi dengan arah rambatan gelombang horisontal maupun

gelombang vertikal.

1
2

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah untuk

perancangan alat ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana cara menerapkan proses pendeteksian gempa secara cepat dan

akurat menggunakan sensor piezoelectric?

2. Variabel apa saja yang mempengaruhi otomatisasi sistem pendeteksian

gempa tersebut?

3. Bagaimana metode pengaturan yang digunakan agar informasi gempa

yang terdeteksi dapat dimasukkan dalam datalogger?

4. Bagaimana metode pengaturan yang digunakan agar mode operasPi alat

dapat digabungkan dengan sistem datalogger berbasis PC?.

5. Bagaimana metode sistem transmisi data kontrol yang digunakan dalam

datalogger agar dapat ditampilkan dalam bentuk grafik dan data report?.

1.3 Batasan Masalah

Batasan masalah yang diambil dalam penelitian ini dimaksudkan supaya

proses perancangan sistem dapat lebih disederhanakan dan mengarahkan proses

penelitian agar tidak menyimpang dari apa yang diteliti. Batasan-batasan disini

antara lain:

1. Dalam penelitian difokuskan pada perancangan aplikasi sistem pemantau

gempa berbasis piezoelectric dengan aplikasi datalogger berbasis Borland

Delphie.
3

2. Penyusun membatasi jangkah ketepatan pembacaan sensor piezoelectric

dengan maksud meminimalkan pengaruh gangguan lingkungan pengujian.

3. Konstruksi sensor piezoelectric dirancang agar dapat memanfaatkan gaya

pegas sehingga tingkat keakuratannya harus dikalibrasi terlebih dahulu.

4. Perancangan dilakukan dengan cara sesederhana dan seefiesien mungkin

dengan tujuan meminimalkan biaya pembuatan alat.

1.4 Tujuan Dan Manfaat

Dengan dibuatnya sistem alat dan skripsi ini diharapkan bermafaat bagi:

1. Pembangunan Negara

Meningkatkan kualitas sumbar daya manusia Indonesia dalam berkarya

dibidang teknologi khususnya pendidikan teknik elektro.

2. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Memberikan nilai tambah pada suatu sistem elektronik dan diharapkan

dengan pembuatan alat ini dapat mempermudah desain sistem sensor

getaran berbasis piezoelectric yang handal.

3. Mahasiswa

Memberikan kesempatan dan menguji mahasiswa untuk mengsinkronkan

secara langsung antara teori dan praktek di lapangan.

1.5 Metodologi Pembuatan Alat

Pembuatan aplikasi sistem pendeteksian gempa berbasis piezoelectric

dengan aktuator mikrokontroler dan PC dilakukan melalui beberapa tahap :


4

1. Metode kepustakaan, yaitu penulis melakukan studi literatur tentang

permasalahan yang ada melalui perpustakaan, dan internet.

2. Metode percobaan, yaitu penulis melakukan berbagai percobaan yang

berkaitan dengan peralatan yang penulis buat di laboratorium.

3. Metode perencanaan dan perancangan alat, penulis membuat alat dengan

menggabungkan berbagai data dan rangkaian yang penulis dapatkan.

4. Metode konsultasi, yaitu dalam masa perencanaan dan pembuatan alat

penulis juga berkonsultasi dengan dosen pembimbing dan sumber-sumber

lain yang penulis jadikan acuan dan perbandingan terhadap alat yang

penulis buat sehingga permasalahan yang timbul sewaktu pembuatan alat

dapat teratasi.

1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari halaman judul, lembar

pengesahan dosen pembimbing, lembar pengesahan dosen penguji, halaman

persembahan, halaman motto, kata pengantar, abstraksi, daftar isi, daftar tabel,

dan daftar gambar. Sedangkan untuk bagian isi laporan terdiri dari :

BAB I Pendahuluan

Berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan

masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II Landasan Teori

Bab ini memuat teori-teori yang berhubungan dengan dan juga berisikan

tentang teori-teori yang berhubungan dengan penulisan dan pembuatan alat.


5

BAB III Perancangan Sistem

Bagian ini menjelaskan metode-metode perancangan yang digunakan, dan

cara mengimplementasikan rancangan tersebut.

BAB IV Pengujian, Analisis dan Pembahasan

Bab membahas tentang hasil pengujian sistem yang telah dibuat serta

mengamati batasan dan hambatan yang ditemui selama proses pengujian.

BAB V Penutup

Bab ini memuat kesimpulan dan saran-saran dari proses perancangan, dan

juga hasil pengujian dari sistem.


BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Untuk bahasan borland delphie, penulis menggunakan buku acuan ”Teknik

Pemrograman Interface Berbasis Borland Delphie 7” yang dipublikasikan oleh

PT Elek Media Computindo. Dalam buku ini disebutkan bahwa Borland Delphie

memerlukan add-on komponen khusus agar dapat mengakses port serial maupun

USB dalam sistem OS Windows XP. (Teguh Supriyana,2007).

Untuk bahasan sensor, penulis menggunakan buku acuan ”Design Alarm

Berbasis Sensor Getaran” yang dipublikasikan oleh PT Elek Media Computindo.

Dalam buku ini disebutkan bahwa pegas dapat digunakan sebagai bagian dari

sensor getaran yang cukup akurat selama bagian penguat sinyalnya memiliki

faktor penguatan yang cukup dan harus mampu mereduksi sinyal secara interaktif

(Benedictus B.S,2005).

Untuk bahasan sistem interface, penulis menggunakan acuan skripsi

”Perancangan Sistem Interface RS232 Berbasis Mikrokontroler AT89C2051”.

Dalam skripsi ini disebutkan bahwa sistem interface RS232 yang handal memiliki

kecepatan transfer data yang cukup tinggi dan dapat disetting ulang secara mudah.

(F. Romanson,2006)

Sedangkan penggunaan piezoelectric sebagai sensor getaran menggunakan

acuan desain sistem sensor getaran (2003, Budi Susanto) yang dipublikasikan

melalui website http:///www.ilkom.edu/vibration_sensor/. Dalan desain sistem

6
7

sensor getaran ini disebutkan bahwa bentuk fisik piezoelectric harus dimodifikasi

ulang agar dapat digunakan sebagai sensor getaran karena kontruksi plat dan

membran aslinya bersifat statis.

2.2 Gempa

Gempa adalah pergeseran tiba-tiba dari lapisan tanah di bawah permukaan

bumi. Ketika pergeseran ini terjadi, timbul getaran yang disebut gelombang

seismik4. Gelombang ini menjalar menjauhi fokus gempa ke segala arah di dalam

bumi. Ketika gelombang ini mencapai permukaan bumi, getarannya bisa merusak

atau tidak tergantung pada kekuatan sumber dan jarak fokus, disamping itu juga

mutu bangunan dan mutu tanah dimana bangungan berdiri.

Gambar 2.1 Lapisan Bumi


Sumber :
http://www.tfe.umu.se/courses/elektro/elmat1/v35_00_da/Hemuppgifter/quakesK
JohansWLundgrMNorb.html

Gempa terjadi di lapisan litosfir bumi karena lapisan ini terdiri atas lempeng-

lempeng tektonik yang kaku dan terapung di atas batuan yang relatif tidak kaku.

Daerah pertemuan dua lempeng atau lebih kita sebut sebagai plate margin atau

batas lempeng, disebut juga sesar. Gempa dapat terjadi dimanapun di bumi ini,
8

tetapi umumnya gempa terjadi di sekitar batas lempeng dan banyak didapat sesar

aktif disekitar batas lempeng. Titik tertentu di sepanjang sesar tempat dimulainya

gempa disebut fokus atau hyposenter dan titik di permukaan bumi yang tepat di

atasnya disebut episenter.

Gambar 2.2 Peta Lempeng Tektonik


Sumber :
http://www.tfe.umu.se/courses/elektro/elmat1/v35_00_da/Hemuppgifter/quakesK
JohansWLundgrMNorb.html

Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir merupakan batuan yang relatif dingin dan

bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini

terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel. Lapisan ini

sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga

dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai

aliran konveksi. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan

terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya.Ada tiga kemungkinan
9

pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila

kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati (collision) dan

saling geser (transform).

Gambar 2.3 Arah Pergerakan Lempeng Tektonik


Sumber :
http://www.tfe.umu.se/courses/elektro/elmat1/v35_00_da/Hemuppgifter/quakesK
JohansWLundgrMNorb.html

Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling

menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini

berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur

sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling

mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai

pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan

gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai

gempa bumi.

Gempa dapat terjadi kapan saja, tanpa mengenal musim. Meskipun

demikian, konsentrasi gempa cenderung terjadi di tempat-tempat tertentu saja,

seperti pada batas Plat Pasifik. Tempat ini dikenal dengan Lingkaran Api karena

banyaknya gunung berapi.


10

Gambar 2.4 Peta Lingkaran Api


Sumber :
http://www.tfe.umu.se/courses/elektro/elmat1/v35_00_da/Hemuppgifter/quakesK
JohansWLundgrMNorb.html

Ilmuwan yang mempelajari sesar dan gempa disebut sebagai Seismologist.

Para ilmuwan tersebut menggunakan peralatan yang disebut seismograf untuk

mencatat gerakan tanah dan mengukur besarnya suatu gempa. Seismograf

memantau gerakan-gerakan bumi mencatatnya dalam seismogram. Gelombang

seismik, atau getaran, yang terjadi selama gempa tergambar sebagai garis

bergelombang pada seismogram. Seismologist mengukur garis-garis ini dan

menghitung besaran gempa. Seismologist menggunakan skala Richter untuk

menggambarkan besaran gempa, dan skala Mercalli untuk menunjukkan intensitas

gempa, atau pengaruh gempa terhadap tanah, gedung dan manusia.


11

2.3 Skala Gempa Bumi

2.3.1 Skala Richter

Skala Richter atau SR didefinisikan sebagai logaritma (basis 10) dari

amplitudo maksimum, yang diukur dalam satuan mikrometer, dari rekaman

gempa oleh instrumen pengukur gempa (seismometer) Wood-Anderson, pada

jarak 100 km dari pusat gempanya. Sebagai contoh, misalnya kita mempunyai

rekaman gempa bumi (seismogram) dari seismometer yang terpasang sejauh 100

km dari pusat gempanya, amplitudo maksimumnya sebesar 1 mm, maka kekuatan

gempa tersebut adalah log (10 pangkat 3 mikrometer) sama dengan 3,0 skala

Richter. Skala ini diusulkan oleh fisikawan Charles Richter.

Untuk memudahkan orang dalam menentukan skala Richter ini, tanpa

melakukan perhitungan matematis yang rumit, dibuatlah tabel sederhana seperti

gambar di samping ini. Parameter yang harus diketahui adalah amplitudo

maksimum yang terekam oleh seismometer (dalam milimeter) dan beda waktu

tempuh antara gelombang-P dan gelombang-S (dalam detik) atau jarak antara

seismometer dengan pusat gempa (dalam kilometer). Dalam gambar 2.5

dicontohkan sebuah seismogram mempunyai amplitudo maksimum sebesar 23

milimeter dan selisih antara gelombang P dan gelombang S adalah 24 detik maka

dengan menarik garis dari titik 24 dt di sebelah kiri ke titik 23 mm di sebelah

kanan maka garis tersebut akan memotong skala 5,0. Jadi skala gempa tersebut

sebesar 5,0 skala Richter.


12

Gambar 2.5 Seismogram Gelombang P dan S


Sumber :
http://www.tfe.umu.se/courses/elektro/elmat1/v35_00_da/Hemuppgifter/quakesK
JohansWLundgrMNorb.html

Skala Richter pada mulanya hanya dibuat untuk gempa-gempa yang terjadi

di daerah Kalifornia Selatan saja. Namun dalam perkembangannya skala ini

banyak diadopsi untuk gempa-gempa yang terjadi di tempat lainnya.

Skala Richter ini hanya cocok dipakai untuk gempa-gempa dekat dengan

magnitudo gempa di bawah 6,0. Di atas magnitudo itu, perhitungan dengan teknik

Richter ini menjadi tidak representatif lagi.

Perlu diingat bahwa perhitungan magnitudo gempa tidak hanya memakai

teknik Richter seperti ini. Kadang-kadang terjadi kesalahpahaman dalam

pemberitaan di media tentang magnitudo gempa ini karena metode yang dipakai

kadang tidak disebutkan dalam pemberitaan di media, sehingga bisa jadi antara
13

instansi yang satu dengan instansi yang lainnya mengeluarkan besar magnitudo

yang tidak sama.

Gambar 2.6 Tabel Skala Richter


Sumber :
http://www.tfe.umu.se/courses/elektro/elmat1/v35_00_da/Hemuppgifter/quakesK
JohansWLundgrMNorb.html

2.3.2 Skala Mercalli

Skala Mercalli adalah satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi.

Satuan ini diciptakan oleh seorang vulkanologis dari Italia yang bernama

Giuseppe Mercalli pada tahun 1902. Skala Mercalli terbagi menjadi 12 pecahan

berdasarkan informasi dari orang-orang yang selamat dari gempa tersebut dan
14

juga dengan melihat dan membandingkan tingkat kerusakan akibat gempa bumi

tersebut. Oleh karena itu skala Mercalli adalah sangat subjektif dan kurang tepat

dibanding dengan perhitungan magnitudo gempa yang lain. Pada saat ini

penggunaan skala Richter lebih luas digunakan untuk untuk mengukur kekuatan

gempa bumi. Tetapi skala Mercalli yang dimodifikasi, pada tahun 1931 oleh ahli

seismologi Harry Wood dan Frank Neumann masih sering digunakan terutama

apabila tidak terdapat peralatan seismometer yang dapat mengukur kekuatan

gempa bumi di tempat kejadian.

Skala Modifikasi Intensitas Mercalli mengukur kekuatan gempa bumi

melalui tahap kerusakan yang disebabkan oleh gempa bumi itu. Satuan ukuran

skala Modifikasi Intensitas Mercalli adalah seperti di bawah:

1. Tidak terasa

2. Terasa oleh orang yang berada di bangunan tinggi

3. Getaran dirasakan seperti ada kereta yang berat melintas.

4. Getaran dirasakan seperti ada benda berat yang menabrak dinding rumah,

benda tergantung bergoyang.

5. Dapat dirasakan di luar rumah, hiasan dinding bergerak, benda kecil di

atas rak mampu jatuh.

6. Terasa oleh hampir semua orang, dinding rumah rusak.

7. Dinding pagar yang tidak kuat pecah, orang tidak dapat berjalan/berdiri.

8. Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerusakan.

9. Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerusakan tekuk.

10. Jambatan dan tangga rusak, terjadi tanah longsor.


15

11. Rel kereta api rusak.

12. Seluruh bangunan hancur dan hancur lebur.

2.3.3 Skala Kekuatan Moment

Skala kekuatan moment diperkenalkan pada 1979 oleh Tom Hanks dan

Hiroo Kanamori sebagai pengganti skala Richter dan digunakan oleh seismologis

untuk membandingkan energi yang dilepas oleh sebuah gempa bumi. Kekuatan

moment Mw adalah sebuah angka tanpa dimensi yang didenifinisikan sebagai

berikut:

2⎛ M0 ⎞ 2⎛ M0 ⎞
MW = ⎜ log10 − 9.1⎟ = ⎜⎜ log10 − 16.1⎟⎟ ..................................... (2.1)
3⎝ N .m ⎠ 3⎝ dyn.cm ⎠

M0 adalah Moment seismik (menggunakan satu newton metre [N·m] sebagai

moment).

Sebuah peningkatan satu tahap dalam skala logaritmik ini berarti sebuah

peningkatan 101,5 = 31,6 kali dari jumlah energi yang dilepas, dan sebuah

peningkatan 2 tahap berarti sebuah peningkatan 103 = 1000 kali kekuatan awal.

2.4 Piezoelectric

Prinsip kerja piezoelektrisitas adalah kemampuan dari suatu benda (pada

umumnya kristal dan keramik) untuk menghasilkan potensial listrik sebagai

response terhadap tekanan mekanik yang diberikan. Efek piezoelektrik adalah

suatu efek yang reversible, dimana terdapat efek piezoelektrik langsung (direct

piezoelectric effect) dan efek piezoelektrik balikan (converse piezoelectric effect).

Efek piezoelektrik langsung adalah produksi potensial listrik akibat adanya


16

tekanan mekanik. Sedangkan efek balikan piezoelektrik adalah produksi tekanan

akibat pemberian tegangan listrik, contohnya adalah kristal lead zirconate titanate

yang akan mengalami perubahan dimensi sampai maksimal 0.1 % jika diberi

tegangan listrik.

Pada sebuah kristal piezoelektrik, muatan listrik positif dan muatan listrik

negatif adalah terpisah, namun tersebar secara simetris sehingga secara

keseluruhan kristal bersifat netral.

Gambar 2.7. Penampang Muatan Listrik Dari Kristal Piezoelektrik.


Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Dielectric.png

Masing-masing sisi dari piezoelektrik membentuk kutub listrik dan ketika

suatu tekanan mekanik diterima oleh kristal piezoelektrik, bentuk simetris dari

tiap-tiap muatan listrik tersebut berubah menjadi tidak simetris dan akan

menghasilkan tegangan listrik. Sebagai contoh, 1 cm kubik kristal quartz dengan

tekanan mekanik sebesar 2000 Newton akan menghasilkan tegangan listrik

sebesar 12500 Volt. Bentuk fisik piezoelectric secara umum dapat dilihat pada

gambar 2.8
17

Gambar 2.8 Bentuk Fisik Piezoelectric


Sumber:
http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Piezoelectric&redirect=no

2.4.1 Spesifikasi piezoelektrisitas

Spesifikasi piezoelektrisitas cenderung merupakan efek gabungan dari

sifat elektris bahan yaitu Fluks listrik, Permitivitas listrik, Medan listrik dan

Hukum Hooke. Oleh karena itu penggolongannya dapat dibedakan menjadi:

1. Berdasarkan arah datangnya tekanan, terdapat tiga operasi yang dapat

dideteksi menggunakan piezoelektrik yaitu transverse effect,

longitudinal effect, dan shear effect.

2. Berdasarkan teknologi piezoelektrik, besaran fisika untuk tekanan dan

kecepatan dapat diukur.

2.4.2 Penggunaan piezoelektrik

Piezoelektrik sensor secara umum digunakan dalam pendeteksian jenis-

jenis tekanan dalam bentuk suara (bentuk dasar dari aplikasi sensor) misalnya,

piezoelektrik mikropon (gelombang suara akan membengkokkan materi

piezoelektrik, kemudian membuat perubahan tegangan listrik) dan piezoelektrik

pickup yang digunakan pada Gitar Listrik. Piezo sensor yang diletakan pada

bagian intrumen yang dikenal sebagai kontak mikropon.


18

Piezoelektrik sensor secara khusus juga digunakan pada frekuensi suara

tinggi pada Ultrasonic tranducer pencitraan medis dan juga pada test industri

nondestruktif (NDT). Untuk beberapa teknik sensor, piezoelektrik sensor dapat

bertindak murni sebagai sensor dan juga sebagai aktuator, oleh karena itu

seringkali istilah transducer lebih disukai ketika alat itu memiliki dua

kemampuan. Selain aplikasi yang disebutkan di atas, jenis aplikasi sensor

piezoelektrik lainnya adalah:

1. Piezoelektrik elemen juga digunakan untuk mendeteksi dan pembangkit

gelombang sonar.

2. Piezoelektrik mikrobalance digunakan sebagai sensor bilolog dan kimia

yang sangat sensitif.

3. Piezoelektrik terkadang digunakan pada meteran tegangan.

4. Sistem manajemen mesin pada otomotif juga menggunakan piezoelektrik

tranducers untuk mendeteksi adanya letupan, dengan men-sampling

getaran blok mesin.

5. Piezoelektrik tranducers juga digunakan pada unit drum elektrik untuk

mendeteksi sentuhan stik drum.

2.5 Analog To Digital Converter

ADC0804 adalah konverter sinyal analog ke sinyal digital 8 bit dengan

spesifikasi mempunyai faktor kesalahan ± 1 LSB, waktu konversi 100 µS pada

frekuensi clock 640 kHz dan kompatibel dengan segala jenis mikroprosesor atau
19

mikrokontroler. Bentuk fisik dan diskripsi pin ADC 0804 dapat dilihat pada

gambar 2.26 dibawah ini:

Gambar 2.9 Bentuk Fisik Dan Diskripsi Pin ADC0804


Sumber :
National Semiconductor, Datasheet ADC0804

Tabel 2.1 Diskripsi fungsi pin-pin ADC0804:


Pin Fungsi
DB0 – DB7 Output biner 8 bit hasil konversi
CS (Chip Select) Input aktif 0, berfungsi untuk mengaktifkan ADC
WR (Write) Input aktif 0, berfungsi untuk memulai konversi (start
of conversion)
INTR (Interrupt) Output aktif 0, berfungsi sebagai tanda konversi data
telah selesai.
RD (Read) Input aktif 0, berfungsi untuk mengeluarkan data hasil
konversi ke pin DB0 – DB7.
VIN(+) dan VIN(-) Berfungsi sebagai input tegangan analog.
CLK R dan CLK IN Berfungsi untuk mengatur frekuensi clock internal
dengan menambahkan sebuah resistor dan kapasitor
A GND dan D GND Berfungsi sebagai saluran pentanahan sinyal analog dan
pntanahan sinyal digital
VREF/2 Berfungsi sebagai pengatur penguatan tegangan input
analog. Besaran nominalnya ditentukan sebesar
±2,5Vdc untuk faktor kesalahan ± 1 LSB
VCC Berfungsi sebagai input tegangan penyuplai (maksimal
6,5 Volt).

Jangkauan tegangan input dari ADC0804 mulai dari 0 Volt sampai dengan 5V

atau setara dengan 00H sampai 0FFH. Aplikasi umum penggunaan ADC0804

diperlihatkan pada gambar 2.10


20

Gambar 2.10 Aplikasi Umum Penggunaan ADC0804


Sumber :
National Semiconductor, Datasheet ADC0804

2.6 Mikrokontroler AT89C1

Mikrokontroler AT89C51 merupakan suatu chip mikroprosesor yang

dilengkapi sebuah CPU 8 bit, Memori (RAM dan ROM), 32 saluaran I/O dan

mempunyai 4Kb Flash PEROM. Dengan kata lain mikrokontroler dapat disebut

sebagai suatu mikrokomputer yang dapat bekerja hanya menggunakan single chip

serta dibantu dengan sedikit komponen luar.

Gambar 2.11 Struktur Pin AT89C51


Sumber:
Atmel Semiconductor, Datasheet AT89C51
21

Kelemahan utama dari mikrokontroler dibanding komputer adalah bahwa

mikrokontroler hanya memiliki memori flash PEROM atau memori eksternal

untuk penyimpanan data permanennya sedangkan komputer menggunakan

harddisk yang mampu menampung data jauh lebih besar.

Mikrokontroler AT89C51 mempunyai 40 pin, 32 diantaranya adalah untuk

keperluan port paralel 8 bit. Satu port paralel terdiri dari 8 pin, dengan demikian

32 pin tersebut membentuk 4 port paralel. port paralel tersebut dikenal dengan

Port 0, Port 1, Port 2, dan Port 3. Nomor dari masing-masing pin mulai dari 0

sampai 7. Sebagai contoh pin pertama Port 0 disebut P0.0. dan pin terakhir untuk

Port 0 adalah P0.7.

2.6.1 Fungsi Pin (Pin)

Pin 1 sampai 8 (Port 1) merupakan Port I/O dua arah (bidirectional) yang

dilengkapi dengan pull up internal terletak pada alamat 90H. Penyangga keluaran

Port 1 mampu memberikan atau menyerap arus empat masukan TTL (sekitar 1,6

mA). Jika nilai logika ‘1’ dituliskan ke pin Port 1, maka masing-masing pin akan

di- pulled high dengan pull up internal sehingga dapat digunakan sebagai

masukan. Jika pin Port 1 dihubungkan ke ground (di-pulled low), maka masing-

masing pin akan memberikan arus (source) karena di-pulled high secara internal.

Port 1 juga menerima alamat bagian rendah (low byte) selama pemrograman dan

verifikasi flash.

Pin 9 Reset (RST). Akses terhadap pin Reset dapat dilakukan secara

manual maupun otomatis saat power diaktifkan. Reset terjadi dengan adanya
22

logika 1 selama minimal 2 cycle. Setelah kondisi pin RST kembali Low,

mikrokontroler akan kembali menjalankan program dari alamat 0000H. kondisi

pada internal RAM tidak terjadi perubahan selama reset.

Pin 10 sampai 17 (Port 3) merupakan Port I/O dua arah (bidirectional)

dengan dilengkapi pull-up internal terletak pada alamat B0H. Penyangga keluaran

Port 3 mampu memberikan atau menyerap arus senilai empat masukan TTL

(sekitar 1,6 mA). Jika logika ‘1’dituliskan ke pin Port 3, maka masing-masing pin

akan di- pulled high dengan resistor pull-up internal sehingga dapat digunakan

sebagai masukan. Hal penting yang harus diperhatikan adalah pada saat pin Port 3

dihubungkan ke ground (di-pulled low), maka masing-masing pin akan

memberikan arus (source) karena di-pulled high secara internal. Port 3 juga

memiliki fungsi khusus selain I/O, yaitu sebagai port fungsi alternatif seperti

ditunjukan pada tabel 2.3, diantaranya menerima sinyal-sinyal kontrol (P3.6 dan

P3.7), bersama-sama dengan Port 2 (P2.6 dan P2.7) selama pemrograman dan

verifikasi flash sedang berlangsung.

Tabel 2.2 Fungsi-Fungsi Khusus Pin-Pin Port 3


Port Fungsi
P3.0 RXD, merupakan port masukan serial data
P3.1 TXD, merupakan port keluaran serial data
P3.2 INT0, merupakan port interupsi 0 eksternal
P3.3 INT1, merupakan port interupsi 1 eksternal
P3.4 T0, merupakan port timer 0 eksternal
P3.5 T1, merupakan port timer 1 eksternal
P3.6 WR, merupakan port write strobe memori data eksternal
P3.7 RD, merupakan port read strobe memori data eksternal
Sumber: WWW.Atmel.Com, Datasheet AT89C51

Pin 18 (XTAL2) merupakan keluaran dari penguat osilator. Sedangkan pin

19 (XTAL1) merupakan masukan ke penguat osilator membalik.


23

Pin 20 GND merupakan pin Ground atau pentanahan. Pin 21 sampai 28

(port 2) merupakan port I/O dua arah (bidirectional) dengan dilengkapi pull up

internal terletak pada alamat A0H. Penyangga keluaran Port 2 mampu

memberikan atau menyerap arus empat masukan TTL (sekitar 1,6 mA). Jika

logika “1”dituliskan ke pin Port 2, maka masing-masing pin akan di- pulled high

dengan pull up internal sehingga dapat digunakan sebagai masukan. Sebagai

masukan, jika pin Port 2 dihubungkan ke ground (pulled low), maka masing-

masing pin akan memberikan arus (source) karena di-pulled high secara internal.

Port 2 akan memberikan byte alamat bagian tinggi (high byte) selama

pengambilan instruksi dari memori program eksternal dan selama pengaksesan

memori data eksternal yang menggunakan perintah dengan alamat 16-bit. Port 2

juga menerima alamat bagian tinggi selama pemrograman dan verifikasi flash.

Pin 29 (PSEN=Program Strobe Enable) merupakan sinyal baca untuk

memori program eksternal. Saat mikrokontroler menjalankan program dari

memori eksternal, PSEN akan diaktifkan dua kali persiklus mesin, kecuali dua

aktivasi PSEN dilompati (diabaikan) saat mengakses memori data eksternal.

Pin 30 (ALE/PROG). Akses keluaran pinAddress Latch Enable (ALE)

menghasilkan pulsa-pulsa untuk mengunci byte rendah (low byte) alamat selama

mengakses eksternal memori. Pin ini juga berfungsi untuk masukan program (the

program pulse input) atau PROG selama pemrograman flash. Pada operasi normal

ALE akan berpulsa dengan laju 1/6 dari frekuensi kristal dan dapat digunakan

sebagai pewaktuan atau clock rangkaian eksternal. Jika dikehendaki operasi ALE

dapat dimatikan dengan cara mengatur bit 0 dari SFR pada lokasi 8Eh. Jika isinya
24

logika “1”, ALE hanya akan aktif selama dijumpai instruksi MOVX atau MOVC.

Selain proses tersebut diatas, Pin ALE akan di pulled high sehingga tidak akan

memberikan efek selama pengaksesan secara eksternal.

Pin 31 (EA/VPP=Eksternal Access Enable) harus selalu dihubungkan ke

ground, jika mikrokontroler ingin mengeksekusi program dari luar. Selain dari itu

EA harus selalu dihubungkan ke VCC, agar mikrokontroler mengakses program

secara internal dan beralamat dari 0000H sampai FFFFH.

Pin EA/Vpp juga berfungsi menerima tegangan 12VDC saat pemrograman

flash. Pada kondisi low maka pin ini akan berfungsi sebagai EA (External Acces

Enable), yaitu mikrokontroler akan menjalankan program yang ada pada memori

eksternal setelah system direset. Apabila berkondisi high maka pin ini akan

berfungsi untuk menjalankan program yang ada pada memori internal.

Pin 32 sampai 39 (port 0) dapat berfungsi sebagai I/O biasa, low order

multiplex addres/data ataupun menerima kode byte pada saat flash programming.

Sebagai fungsi I/O biasa port ini dapat memberikan output sink ke delapan buah

TTL input atau dapat diubah sebagai input dengan memberikan logika 1 pada port

tersebut. Pada saat flash programming dan verifikasi program, saluran ini

memerlukan resistor external pull-up. Sedangkan Pin 40 (VCC) merupakan

saluran supply tegangan ke IC.

2.6.2 Organisasi Memori

Di dalam sebuah mikrokontroler terdapat suatau memori yang berfungsi

menyimpan data atau program. RAM adalah memori yang dapat dibaca atau
25

ditulis umumnya beralamat 30H hingga 7FH. Data dalam RAM akan terhapus

(bersifat volatile) bila catu daya dihilangkan. Karena sifat RAM yang volatile ini,

maka program mikrokontroler tidak disimpan dalam RAM. RAM digunakan

untuk menyimpan data sementara, yaitu data yang tidak begitu vital bila hilang

akibat aliran daya terputus. RAM pada IC ini mempunyai kapasitas sebesar 128

byte x 8 bit.

Gambar 2.12 Peta Memori RAM dan Special Fungsi Register

Dari gambar peta SFR terlihat bahwa address (alamat) memori yang dapat diisi

adalah alamat yang tidak berisi register (kolom yang kosong). Pemisahan memori
26

program dan data, memperbolehkan memori data untuk diakses oleh alamat 8 bit.

Sekalipun demikian alamat data memori 16 bit dapat dihasilkan melalui register

Data Pointer Register (DPTR).

RAM internal 128 byte mempunyai alamat yang sama dengan 128 byte

SFR (Spesial Function Register = Pemetaan address memory pada chip).

Register-register yang digunakan untuk pengolahan program dan pengaturan

komponen-komponen peripheral internal tergabung dalam SFR, menempati

segment 80H hngga FFH pada RAM internal

Dalam mikrokontroler memori program aplikasi hanya dapat dibaca saja.

Sedangkan untuk mengakses program memori eksternal dapat dilakukan melalui

sinyal Program Strobe Enable (PSEN). Memori data menempati suatu ruang

alamat yang terpisah dari memori program sehingga memori eksternal dapat

diakses secara langsung hingga 64 Kbyte dalam ruang memori data eksternal.

Untuk mengakses hal tersebut, bagian CPU akan memberikan sinyal baca dan

tulis (RD dan WR) selama pengaksesan data eksternal.

Memori data internal dan memori program eksternal dapat dikombinasikan

dengan cara menggabungkan sinyal, RD dan PSEN melalui gerbang AND dan

keluarannya sebagai tanda baca ke memori data/program eksternal.

Pada gambar peta memori ditunjukkan bagaimana bagian RAM 128 byte

bawah dipetakan. 32 byte bawah dikelompokan menjasi 4 bank dan 8 register (R0

hingga R7). Dua bit pada PSW (Program Status World) digunakan untuk memilih

kelompok register mana yang digunakan. 16 byte berikutnya, diatas bank-bank

register membentuk suatu blok ruang memori yang bisa teralamati per-bit (bit
27

addressable). Alamat-alamat bit ini adalah 00h hingga 7Fh. Semua byte yang

berada didalam 128 bagian bawah dapat diakses baik secara langsung maupun tak

langsung. Bagian 128 atas dari RAM hanya ada didalam piranti yang memiliki

RAM berukuran 256 byte.

2.6.3 Register Fungsi Khusus (Special Fungsi Register)

Special Fungsi Register (SFR) adalah register-register yang mempunyai

fungsi khusus, diantaranya digunakan untuk mengatur input-output data dari

mikrokontroler, dan menempati alamat 80H hingga FFH. Misalnya register P0,

P1, P2, dan P3 digunakan sebagai register untuk menampung data input-uotput.

Selain itu, beberapa dari register ini mampu dialamati dengan pengalamatan bit,

sehingga dapat dioperasikan seperti yang ada pada RAM.

Pada SFR terdapat beberapa alamat yang bisa dialamati secara bit dan ada

yang tidak bisa dialamati secara bit. Pada SFR yang bisa dialamati secara bit,

adalah alamat yang pada digit keduanya adalah digit 0 atau 8, missal 80H,

88H,90H,98H, dan F8H. Special Fungsi Register Akumulator adalah yang sering

dipakai untuk dialamati secara bit dan mempunyai alamat E0H, misalnya A.0,

A.1, A.2, A.3, A.4, A.5, A.6, dan A.7. Berikut adalah penjelasan secara singkat

tentang Special Fungsi Register beserta fungsinya :

Akumulator (ACC) merupakan register aritmatika menempati lokasi E0H.

yang berfungsi menyimpan data sementara sebelum atau sesudah program

diproses. Sebagian besar instruksi pemrosesan pada AT89C51 menggunakan


28

akumulator sebagai operand sumber atau operand tujuan pengiriman data dari dan

ke port I/0.

Register B berlokasi di F0H digunakan selama operasi perkalian atau

pembagian 8 bit dan dapat juga digunakan sebagai register operand sumber atau

operand tujuan.

Register Program Status Word (PSW) berlokasi di D0H berisikan

informasi status program yang mana masing-masing bit menunjukkan kondisi

Central Processing Unit setelah opersasi dijalankan.

Stack Pointer (SP) merupakan register 8 bit yang berfungsi sebagai tempat

penyimpanan alamat data saat terjadi interrupt dan terletak di alamat 81H.

Register data pointer atau DPTR merupakan register 16 bit yang terdiri

dari Data Pointer High byte (DPH) dan Data Pointer Low byte (DPL) yang

masing-masing berlokasi di 83H dan 82H.

Serial data Buffer terletak pada lokasi 99H yang dibagi menjadi dua

register yang terpisah, yaitu register penyangga penggirim (transmit buffer) dan

penyangga penerima (receive buffer). Pada saat data di salin ke SBUF, maka data

sesungguhnya dikirim ke penyangga pengirimdan sekaligus mengawali transmisi

data serial. Dan sedangkan saat data disalin dari SBUF, maka sebenarnya data

tersebut berasal dari penyangga penerima.

2.6.4 Timer/counter

Dalam struktur mikrokontroler AT89C51 sama dengan AT89C51, yaitu

terdapat dua buah timer/counter 16 bit (timer/counter 0 dan timer/counter 1), yang
29

dapat diatur melalui perangkat lunak. Timer 0 dibentuk oleh register TH0 dan

TH1 pada alamat 8AH dan 8CH. Timer 1 dibentuk oleh register TH1 dan TL1

pada alamat 8Bh dan 8DH. Apabila timer/counter diaktifkan pada frekuensi kerja

mikrokontroler 12 MHz, timer/counter akan melakukan perhitungan waktu sekali

setiap 1 mikro detik secara independen. Bila dimisalkan suatu urutan instruksi

telah selesai dilaksanakan dalam waktu 5 mikro detik, pada saat itu pula timer/

counter telah menunjukkan perioda waktu 5 mikro detik. Apabila perioda waktu

tertentu dilampaui, timer/counter segera mengiterupsi mikrokontroler untuk

memberitahukan bahwa perhitungan perioda telah selesai dilaksanakan. Perioda

waktu timer/counter secara umum ditentukan oleh persamaan berikut :

Sebagai timer/counter 8 bit

T = (255 – Tlx)* 1µs ............................................................................ (2.2)

dimana Tlx adalah register TL0 dan TL1

Sebagai timer/counter 16 bit

T = (65535 – THx.TLx)* 1µs .............................................................. (2.3)

THx = isi register TH0 atau TH1

TLx = isi register TL0 atau TL1

2.6.5 Interupsi

Interupsi adalah suatu kejadian atau peristiwa yang menyebabkan

mikrokontroler berhenti sejenak untuk melayani interupsi tersebut. Program yang

dijalankan pada saat melayani interupsi disebut Interrupt Service Routin (Rutin

Layanan Interupsi). Mikrokontroler AT89C51 mempunyai 5 interupsi yaitu 2


30

eksternal interupsi (INT0 dan INT1), interupsi port serial, interupsi T0 dan

interupsi T1. Dalam suatu kondisi dapat juga dibutuhkan suatu program yang

sedang berjalan tidak boleh diinterupsi, untuk itu AT89C51mempunyai 5 buah

iterrupt yang masing-masing dapat ditetapkan enable atau disable satu persatu.

Pengaturan ini dilakukan oleh Interrupt Enable Register (Register Pengaktif

Interupsi) yang terletak pada alamat A8H.

EA : Berfungsi mengaktifkan dan nonaktifkan semua interupsi

jika bit ini di clear. Jika bit ini clear maka apapun kondisi bit

lain dalam register ini, semua interupsi tdak akan di layani

ES : Berfungsi mengaktifkan dan nonaktifkan interupsi port

serial, set = aktif, clear = nonaktif

ET1 : Berfungsi mengaktifkan dan nonaktifkan interupsi timer 1

set = aktif, clear = nonaktif. Jika interupsi ini enable,

interupsi akan terjadi pada saat Timer 1 overflow

EX1 : Berfungsi mengaktifkan dan nonaktifkan interupsi External

1, set = aktif, clear = nonaktif. Jika interupsi ini enable,

interupsi akan terjadi pada saat terjadi logika 0 pada INT1

ET0 : Berfungsi mengaktifkan dan nonaktifkan interupsi timer 0

set = aktif, clear = nonaktif. Jika interupsi ini enable,

interupsi akan terjadi pada saat Timer 0 overflow

EX0 : Berfungsi mengaktifkan dan nonaktifkan interupsi External

0, set = aktif, clear = nonaktif. Jika interupsi ini enable,

interupsi akan terjadi pada saat terjadi logika 0 pada INT1


31

2.6.6 Antarmuka Serial

Port serial pada AT89C51 bersifat dupleks-penuh atau full-duplex, artinya

port serial dapat menerima dan mengirim data secara bersamaan. Selain itu juga

memiliki penyenggara penerima, artinya port serial mulai bias menerima byte

yang kedua sebelum byte yang pertama dibaca oleh register penerima (jika sampai

byte yang kedua selesai diterima sedangkan byte pertama belum juga dibaca,

maka salah satu byte akan hilang). Penerimaan dan pengiriman data port serial

melalui register SBUF. Penulisan ke SBUF berarti mengisi register pengiriman

SBUF sedangkan pembacaan dari SBUF berarti membaca register penerimaan

SBUF yang memangkan terpisah secara fisik (secara perangkat lunak namanya

menjadi satu yaitu SBUF). Bit SM0 dan SM1 (bit 8 dan 7 pada register SCON)

dipakai untuk menentukan mode kerja port serial. Setelah reset kedua bit ini

bernilai ‘0’ dan penentuan mode kerja port serial mengikuti Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Penentuan Mode Kerja Port Serial

SM0 SM1 Mode Keterangan Baud Rate


0 0 0 Register geser tetap (fosc/12)
0 1 1 UART 8-bit bisa diubah-ubah (dengan Timer)
1 0 2 UART 9-bit tetap (fose/64 atau fose/32)
1 1 3 UART 9-bit bisa diubah-ubah (dengan Timer)

2.6.7 Baud Rate

Baud rate untuk mode 0 nilainya hanya ditentukan berdasar frekuensi

kristal/12 dan tidak dapat diubah (bersifat tetap). Persamaan untuk mode 0 adalah

sebagai berikut :

FrekuensiKristal
Baudrate = ............................................................. (2.4)
12
32

Baud rate untuk mode 2 bergantung pada nilai bit SMOD pada register PCOM

jika SMOD = 0, baud rute-nya 1/64 frekuensi kristal, jika SMOD=1 maka baud

rate-nya 1/32 frekuensi kristal atau baud rate mode 2 ini mengikuti persamaan :

2 s mod × FrekuensiKristal
Baudrate = ................................................. (2.5)
64

Tabel 2.4 PCON – Power Control Register


Bit number
7 6 5 4 3 2 1 0
Register SMOD - - P0F GF1 GF0 PD IDL
Reset 0 0 0 0 0 0 0 0

Pada saat Timer 1 digunakan sebagai generator baudrate, maka nilai

baudrate yang dihasilkan dapat diklasifikasikan sesuai tabel 2.4 dibawah ini

Tabel 2.4 Baud Rate Yang Dihasilkan Timer 1.

Timer 1 Nilai
Baud Rate Kristal SMOD C/~T
Mode isi-ulang
Mode 0 Max: 1Mhz 12Mhz X X X X
Mode 2 Max: 375K 12Mhz 1 X X X
Mode 1 & 3: 62,5K 12Mhz 1 0 2 FFH
192000 11,059Mhz 1 0 2 FDH
9600 11,059Mhz 0 0 2 FDH
4800 11,059Mhz 0 0 2 FAH
2400 11,059Mhz 0 0 2 F4H
1200 11,059Mhz 0 0 2 E8H
137,5 11,059Mhz 0 0 2 1DH
110 6 Mhz 0 0 2 72H
110 12Mhz 0 0 1 FEEBH

Secara umum ralat 5 % dapat ditolerir dalam komunikasi tak-sinkron

(asynchronous) berbasis mikrokontroler. Tetapi jika menginginkan nilai baudrate

yang tepat sebaiknya menggunakan kristal dengan frekuensi 11,0592 Mhz.


33

Tabel 2.5 Ringkasan Baud Rate untuk Timer 1


Sebagai Generator Baud Rate.
Nilai isi Baud Rate
BaudRate Kristal SMOD Ralat
ulang TH1 Aktual
9600 12,000 Mhz 1 F9H 8923 7%
2400 12,000 Mhz 0 F3D 2404 0.16%
1200 12,000 Mhz 0 F6H 1202 0.16%
19200 11,059 Mhz 1 FDH 19200 0
9600 11,059 Mhz 0 FDH 9600 0
2400 11,059 Mhz 0 F4H 2400 0
1200 11,059 Mhz 0 E8H 1200 0

2.6.8 Rangkaian Reset

Pemasangan rangkaian reset mikrokontroler bertujuan agar mikrokontroler

menjalankan proses mulai dari awal register 00h. Konfigurasi standar rangkaian

reset dapat dilihat pada gambar 2.13 dibawah ini:

Gambar 2.13 Rangkaian Power On Reset

Rangkaian reset untuk mikrokontroler dirancang agar mempunyai

kemampuan power on reset yaitu reset yang terjadi pada saat sistem dinyalakan

untuk pertama kalinya. Reset juga dapat dilakukan secara manual dengan

menyediakan tombol reset yang berupa switch dan dipasang dalam posisi bypass

terhadap kondensator reset. Tegangan reset yang diperlukan pin mikrokontroler

yaitu sebesar 3,5 volt. Perancangan rangkaian reset dalam hal ini terdiri atas
34

sebuah kapasitor dan sebuah resistor. Dengan menggunakan model rangkaian

diatas dapat dilihat bahwa sistem reset yang dibentuk pada dasarnya memanfatkan

prinsip pengisian dan pengosongan kondensator. Persamaan yang digunakan

adalah sebagai berikut:

Vc = Vcc(1 − e − t / RC ) .............................................................................. (2.6)

Dengan R = resistor dalam Ω, C = Kondensator dalam µF

2.7 Perangkat Lunak Mikrokontroler AT89C51

Perangkat lunak adalah seperangkat instruksi yang disusun menjadi sebuah

program untuk memerintahkan komputer melakukan suatu pekerjaan. Sebuah

instruksi selalu berisi kode pengoperasian (Op-Code). Kode pengoperasian inilah

yang disebut dengan bahasa mesin yang dapat dimengerti oleh mikrokontroler.

Instruksi-instruksi yang digunakan dalam memprogram suatu program

yang diisikan pada IC AT89C51 adalah instruksi bahasa pemograman assembler

atau sama dengan instruksi pemrograman pada IC mikrokontroler keluarga MCSI.

2.7.1 Instruksi Transfer Data (perintah pemindahan data)

Instruksi transfer data adalah instruksi pemindahan atau pertukaran data

antara operand sumber dengan operand tujuan. Operandnya dapat berupa register,

memori atau lokasi suatu memori. Instruksi transfer data terbagi menjadi dua

kelas operasi yaitu transfer data utama (General Purpose Trasfer) dan transfer

spesifik akumulator (Accumulator Specific Transfer). Deskripsi instruksi tranfer

data tersebut dijelaskan di bawah ini :


35

MOV : Transfer bit atau byte dari operand sumber ke operand

tujuan.

PUSH : Transfer byte dari operand sumber ke suatu lokasi dalam

stack yang ditunjuk oleh register penunjuk (Stack Pointer)

POP : Transfer byte dalam stack ke operand tujuan

XCH : Pertukaran data antara operand akumulator dengan

operand sumber

XCHD : Pertukaran nibble orde rendah antara RAM internal dengan

akumulator (lokasinya ditunjukkan oleh R0 dan R1)

2.7.2 Arithmetic Logical Unit (ALU)

ALU adalah suatu unit yang melaksanakan proses aritmatika dan logika

seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian, AND, OR, X-OR, rotasi, clear,

dan komplemen operasi percabangan.

2.7.3 Instruksi Aritmatik (instruksi perhitungan)

Operasi dasar aritmatik seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan

pembagian dimiliki oleh AT89C51 dengan mnemonic : INC, ADD, ADDC, DA,

SUBB, DEC, MUL, dan DIV. Deskripsi operasi mnemonic tersebut dijelaskan

sebagai berikut.:

INC : Increment (INC) yaitu mnemonic menambah satu isi

sumber operand dan menyimpan hasilnya ke operand

tersebut
36

ADD : Penjumlahan antara akumulator dengan sumber operand

dan hasilnya disimpan di akumulator

ADDC : Hasil dari instruksi ADD beserta carry flagnya dan

hasilnya disimpan di operand tersebut

SUBB : Pengurangan akumulator dengan sumber operand, lalu

dikurangi satu bila carry flagnya (CY) diset, dan hasilnya

disimpan dalam operand tersebut

DEC : Decrement (DEC) yaitu mnemonic mengurangi sumber

operand dengan 1 dan hasilnya disimpan dalam operand

tersebut

MUL : Multiply (MUL) yaitu mnemonic perkalian antara

akumulator dengan register B

DIV : Divide (DIV) yaitu mnemonic pembagian antara

akumulator dengan register B dan hasilnya disimpan dalam

akumulator, sisanya di register B.

2.7.4 Instruksi Logika

Mikrokontroler AT89C51 dapat melakukan operasi logika bit maupun

operasi logika byte. Operasi logika dibagi atas dua bagian yaitu ;

ƒ Opersi logika operand tunggal, yang terdiri dari CLR, SETR, CPL, RL,

RLC, RR,RRC, dan SWAB.

ƒ Operasi logika dua operand seperti : ANL, ORL, dan XRL.

Operasi yang dilakukan oleh AT89C51 dengan pembacaan instruksi logika

tersebut dijelaskan sebagai berikut :


37

CRL : Menghapus bit atau byte menjadi nol (Low).

SETB : Menset bit atau byte menjadi satu (High).

CPL : Mengkomplenkan akumulator

RL : Rotasi akumulator 1 bit ke kiri dan bit 1 digeser melalui

carry flag

RR : Rotasi akumulator 1 bit ke kanan

RRL : Rotasi akumulator 1 bit ke kanan dan 7 bit digeser melalui

carry flag

SWAB : Pertukaran nibble orde rendah dengan nibble orde tinggi

ANL : Operasi logika AND dan hasilnya disimpan dalam operand

pertama

ORL : Operasi logika OR dan hasilnya disimpan dalam operand

pertama

XRL : Operasi logika XOR dan hasilnya disimpan dalam operand

pertama

2.7.5 Instruksi Transfer Kendali

Instruksi trasfer kendali terdiri dari tiga kelas operasi, yaitu lompatan tidak

bersyarat (Unconditional Jump), lompatan bersyarat (Conditional Jump), dan

interupsi. Deskripsi instruksi transfer kendali dijelaskan sebagai berikut :

CALL : Intruksi pemanggilan subroutine, artinya mikrokontroler

sementara meninggalkan aliran program utama untuk

mengerjakan intruksi-intruksi dalam subroutine dan akan


38

kemabli ke rogram utama setelah selesai dengan

menggunakan intruksi RET

ACALL : Instruksi pemanggilan subroutine bila alamat subroutine

tidak lebih dari 2 Kbyte

LCALL : Pemanggilan subroutine yang mempunyai alamat antara 2

Kbyte sampai 64 Kbyte

AJMP : Lompatan untuk percabangan maksimum 2 Kbyte. Intruksi

ini mempunyai 2 byte, byte pertama merupakan kode untuk

intruksi AJMP pada lokasi memori program bit 8 sampai

bit 10 dan byte kedua dipakai untuk menyatakan lokasi bit

0 sampai bit lokasi 7.

SJMP : Lokasi memori program dalam intruksi ini tidak dinyatakn

dengan lokasi sesugguhnya, tapi dinyatakan dengan

pergeseran relatif’ terhadap nilai Program Counter saat

intruksi.. namun intruksi tersebut tetap bisa dipakai asalkan

jarak antara intruksi tidak lebih dari 127 byte atau berada

pada -128 sampai +127

LJMP Lompatan untuk percabangan maksimum 64 Kbyte. Kode

untuk intruksi ini adalah 02H.

JNB Percabangan jika bit tidak diset (Jump On Not Bit Set ),

jika data bit 0 maka program akan melompat ke soubrutin

yang ditunjuk dan jika data bit brnilai 1maka program akan

menjalankan intruksi dibawahnya


39

JB Intruksi ini melakukan pengujian bit pada alamat bityang

ditunjuk. Jika data bit = 1 maka program tersebut akan

melompat ke subroutine yang ditunjuk.

JZ Percabangan akan dilakukan jika isi akumulator adalah nol

(Jump if Zero).

JNZ Percabangan akan dilakukan jika isi akumulator tidak nol

(Jump if Not Zero).

JC Percabangan terjadi jika Carry Flag (CY) diset “1”

CJNE Operasi perbandingan operand pertama dengan operand

kedua, jika tidak sama akan dilakukan percabangan

(Compare And jump if Not Equal).

DJNZ Mengurangi isi operand sumber dan percabangan akan

dilakukan apabila isi operand tersebut tidak nol (

Decrement Jump if Not Zero).

RET Kembali ke subroutine pemanggil

RETI Instruksi kembali ke program interupsi utama

Sebagai operand dari perlengkapan instruksi dijelaskan sebagai berikut :

Rn : Register R0 – R7 yang dipilih dari tumpukan register

Data : Lokasi alamat data internal 8 bit, yang dikolasikan pada

data RAM internal (0 – 127) SFR pada 128 – 255 (I/O port,

register pengontrol, register status).

@R1 : Data RAM internal lokasi 0 – 255 delapan bit, yang


40

dialamati secara tidak langsung melalui R0 dan register R1

#Data : Yang diisikan ke dalam instruksi adalah 8 bit

#Data 16 : Yang diisikan ke dalam instruksi adalah 16 bit

Addr 16 Untuk tujuan alamat 16 bit. digunakan pada operasi

ACALL dan LJMP yang dapat dilakukan dimana saja

dalam 64 Kbyte daerah alamat program memori

Addr 11 11 bit alamat tujuan dipakai oleh operasi ACAAL dan

AJMP. Percabangan dapat dilakukan dimana saja dalam 2

Kbyte daerah program

2.8 Serial interface MAX232

MAX232 berisi empat bagian yaitu: dual charge-pump DC-DC voltage

converters, RS-232 drivers, RS-232 receivers, serta receiver and transmitter

enable control inputs. Bentuk fisik dan persamaan rangkaian internalnya dapat

dilihat pada gambar 2.14 dibawah ini.

Gambar 2.14 Struktur Pin Dan Typical Part MAX232


Sumber : Datasheet MAX232 www.maxim-ic.com/packages., 2001
41

2.8.1 Dual Charge-Pump Voltage Converter

MAX220-MAX249 mempunyai dua Internal Charge-pumps untuk

mengkonversi tegangan + 5V menjadi ± 10V yang menjadi persyaratan operasi

pengarah RS-232. Convertor yang pertama menggunakan kapasitor C1 untuk

menggandakan tegangan + 5V masukan menjadi tegangan + 10V pada C3 di

keluaran V+. Konvertor yang kedua menggunakan kapasitor C2 untuk

membalikkan tegangan + 10V menjadi tegangan - 10V pada C4 di keluaran V-.

Saluran keluaran + 10V (V+) dan - 10V (V-) dapat digunakan untuk

menggerakkan suatu untaian eksternal berkonsumsi daya rendah (lihat Typical

Operating Characteristics Section), kecuali pada untuk MAX225 dan MAX245-

MAX247, karena pin ini tidak tersedia. Saluran V+ dan V- tidak diatur secara

spesifik, sehingga penurunan-voltase keluaran dengan terus meningkat sesuai

besaran arus beban. Hal penting yang harus diperhatikan dalam pengunaan saluran

ini adalah pengguna tidak boleh memberikan beban terhadap saluran V+ dan V-

sampai batas minimum ± 5V EIA/TIA-232E. Ketika menggunakan fasilitas

shutdown menonjolkan dalam MAX222, MAX225, MAX230, MAX235,

MAX236, MAX240, MAX241, dan MAX245-MAX249, pengguna harus

menghindari penggunaan V+ dan Vto untuk menggerakkan untaian eksternal. Hal

ini disebabkan karena pada saat komponen ini shutdown, saluran tegangan V-

akan jatuh ke 0 V, dan saluran tegangan V+ akan jatuh ke +5 V. Untuk aplikasi

yang memerlukan tegangan +10 V eksternal ke saluran V+, berlaku ketentuan

sebagai berikut : kapasitor C1 tidak boleh dipasang dan pin SHDN harus
42

disambungkan ke VCC. Hal ini disebabkan karena saluran tegangan V+ secara

internal dihubungkan ke VCC dalam mode Shutdown.

Gambar 2.15 Blok Internal MAX232


Sumber : Datasheet MAX232 www.maxim-ic.com/packages., 2001

2.8.2 Drivers RS-232

Saluran driver RS-232 bagian penerima (RS-232 input) memiliki ayunan

tegangan keluaran pengarah sebesar ± 8 V dan ayunan tegangan keluaran

minimum ± 5 V untuk kasus yang terburuk. Saluran tersebut diatur menggunakan

resistor 5 KΩ pull down ke pentanahan. Kondisi pengaturan saluran ini dijamin

memenuhi standart spesifikasi EIA/TIA- 232E dan V.28.

Saluran masukan pengarah bagian pemancar (RS-232 output) yang tidak

terpakai dapat dibiarkan tanpa koneksi dan terlepas satu dengan yang lainnya

karena sudah dilengkapi dengan resistor pull-up sebesar 400 KΩ ke VCC (kecuali

MAX220). Pemasangan resistor pull-up tersebut akan memaksa keluaran


43

pengarah yang tidak terpakai ke logika rendah karena semua pengarah merupakan

tipe membalikkan (inverting). Sedangkan resistor pull-up disaluran masukan

secara khas akan memberikan arus sumber sebesar 12 µA, kecuali dalam mode

shutdown karena resistor pull-up tersebut akan ditanggalkan.

Pada saat saluran keluaran pengarah dikondisikan mati, maka saluran

tersebut akan memiliki status high-impedance dengan arus bocoran sebesar 25

µA. Kondisi ini juga terjadi pada saat mode shutdown digunakan, dalam mode

three-state, dan ketika catu daya komponen ditanggalkan.

2.8.3 RS-232 Receivers

Spesifikasi EIA/TIA-232E menyatakan bahwa suatu tegangan yang lebih

besar dari 3V akan dianggap sebagai logika 0. Tegangan input thresholds

ditetapkan pada 0,8V dan 2,4V, dengan demikian bagian penerima akan bereaksi

terhadap TTL level input maupun CMOS level input.

Masukan penerima secara histeresis ditentukan sebesar 0,5V untuk

menghasilkan sinyal keluaran yang bersih dengan transisi slow-moving terhadap

isyarat masukan. Adapun propagation delay bagian penerima ditentukan sebesar

600ns dan tidak terikat pada arah ayunan masukan.

2.8.4 Receiver and Transmitter Enable Control Inputs

Bagian penerima mempunyai tiga mode operasi yaitu: kecepatan penuh

menerima (normal active)‚ three-state (disabled)‚ dan low power receive

(penerima dimungkinkan untuk melanjut fungsi pada data dengan nilai yang lebih
44

rendah). Penerima memungkinkan bagian masukan untuk mengendalikan

kecepatan penuh proses penerimaan dan mode three-state. Bagian pemancar

mempunyai dua mode operasi yaitu: kecepatan penuh memancarkan (normal

active) dan three-state (disabled). Pemancar memungkinkan bagian masukan

untuk mengendalikan mode shutdown.

2.9 Operating Amplifier

Penguat Operasional (Op-Amp) merupakan kumpulan puluhan transistor

dan resistor dalam bentuk satu chip IC. Op Amp merupakan komponen aktif

linear yang merupakan penguat gandeng langsung (direct coupling), dengan

penguatan lintasan terbuka (Open Gain) yang sangat besar dan dapat dipakai

untuk menjumlahkan, mengalikan, membagi, mendifferensialkan, serta

mengintegralkan tegangan listrik. IC Op-Amp sering dipakai untuk perhitungan-

perhitungan analog, instrumentasi, maupun berbagai macam aplikasi kontrol.

Bentuk fisik dan diskripsi pin LM393 dapat dilihat pada gambar 2.16

Gambar 2.16 Bentuk Fisik Dan Diskripsi Pin LM393


Sumber : Haris Semiconductor, Data Sheet LM393

IC Op-amp jenis ini memiliki keunggulan cukup mencolok dalam

pemakaian daya yang lebih rendah, kemampuan penggunaan saluran input yang
45

berkorelasi dengan saluran pentanahan maupun VEE, dapat dicatu menggunakan

mode catudaya tunggal maupun catudaya ganda. Spesifikasi teknik dan fungsional

dari masing-masing pin dapat dilihat pada tabel 2.5 dibawah:

Tabel 2.5 Fungsional Pin LM393


Pin Fungsi
1 Ground
2 Masukan menjungkir (Input inverting)
3 Masukan Tak menjungkir (Input non-inverting)
4 Dihubungkan dengan terminal negatif pencatu daya (V-)
5 Balance Offset Null
6 Balance Strobe
7 Output
8 Dihubungkan dengan terminal positif pencatu daya (V+)
Sumber : Haris Semiconductor, Data Sheet LM393

Pada saat Op-Amp dalam rangkaian terbuka dihubungkan dengan catudaya,

secara otomatis akan menghasilkan penguatan tegangan tak terhingga atau Open

Loop Gain (AOL). Op-Amp memiliki lebar pita tak terhingga untuk semua

frekuensi. Suatu Op-Amp ideal seharusnya memiliki respon yang sama untuk

semua frekuensi masukan. Tetapi secara praktis hal; ini tidak akan terjadi dalam

praktek karena Op-Amp hanya akan merespon hingga batas frekuensi tertentu

saja. Op-Amp memiliki fasilitas pengaturan Input Offset Voltage. Pengaturan ini

perlu dilakukan jika dalam aplikasi tertentu saluran keluaran Op-Amp dituntut

harus mampu menghasilkan nilai tegangan keluaran 0 Vdc pada saat nilai

tegangan disaluran masukannya bernilai sama. Disamping itu Op-Amp memiliki

karakteristik internal yang tidak akan berubah menurut suhu ruangan.

Karakteristik internal hanya akan berubah jika suhu ruangan melampaui batas
46

toleransi kemasan atau pada saat Op-Amp mengalami over gain akibat pemakaian

tegangan catudaya yang berlebihan.

Perolehan daya (power gain) dalam suatu rangkaian penguat secara umum

didefinisikan sebagai :

dayakeluaran
Gain = .......................................................................... (2.7)
dayamasukan

Gain adalah suatu faktor yang tidak memiliki satuan, namun gain diukur dalam

suatu unit logaritmis yang tidak memiliki dimensi (bells). Gain dalam bells adalah

dayakeluaran
Gain(bells) = log10 ....................................................... (2.8)
dayamasukan

pada penggunaan praktis, decibel dianggap terlalu besar sehingga yang umum

digunakan adalah satuan 0,1bells atau desibel (dB), atau dinyatakan sebagai :

dayakeluaran
Gain(dB ) = 10 × log10 ................................................... (2.9)
dayamasukan

Daya sebanding dengan V2 atau I2, sehingga persamaan diatas dapat juga

dituliskan sebagai :

dayakeluaran
Gain(dB ) = 20 × log10 ..................................................(2.10)
dayamasukan

atau:

aruskeluaran
Gain(dB) = 20 × log10 .................................................. (2.11)
arusmasukan

jika dalam suatu sistem terdiri dari beberapa penguat, maka perolehan dalam

penguatan atau gain dalam desibel dinyatakan sebagai :

Gaintotal = G1 + G2 + G3 + .....Gn ......................................................... (2.12)


47

2.9.1 Inverting Amplifier (Penguat Pembalik)

Penguat inverting pada dasarnya disusun menggunakan komponen

eksternal berupa dua buah resistor yang dihubungkan seperti pada gambar 2.17

dibawah ini:

Gambar 2.17 Skematik Dasar Rangkaian Inverting Amplifier


Sumber : Vademekum, Warsito

Pada operasinya, saat sinyal masukan berubah menjadi positif nilainya, maka

saluran keluaran akan menjadi negatif dan sebaliknya. Selain itu jumlah

perubahan tegangan di saluran keluaran secara relatif tergantung terhadap

tegangan masukan dengan nilai perbandingan yang ditentukan oleh nilai resistor

eksternal. Dengan demikian nilai penguatan model amplifier diatas adalah:

Vo R R
= − A dengan nilai A (penguatan) = A …………………....... (2.13)
Vi RB RB

2.9.2 Non-Inverting Amplifier (Penguat Tak Membalik)

Penguat non-inverting pada dasarnya disusun menggunakan komponen

eksternal berupa dua buah resistor yang dihubungkan seperti pada gambar 2.18

dibawah ini:
48

Gambar 2.18 Skematik Dasar Rangkaian Non-Inverting Amplifier


Sumber : Vademekum, Warsito

Pada operasinya, impedansi masukan seperti diperlihatkan oleh sinyal akan

menjadi lebih besar karena masukannya akan mengikuti sinyal yang diberikan dan

tidak dijaga untuk tetap konstan oleh arus umpan balik (feedback). Kondisi ini

menyebabkan pada saat sinyal dimasukan mulai bergerak, secara otomatis sinyal

dikeluaran akan mengikuti fasenya sehingga masukan inverting akan dijaga nilai

tegangannya pada taraf yang sama. Gain atau perolehan tegangan pada model ini

akan selalu lebih dari 1, dengan demikian nilai penguatan dari model amplifier

diatas adalah:

Vo R
= 1 + A dengan nilai A (penguatan) >1 ...................................... (2.14)
Vi RB

2.9.3 Voltage Follower (Penyangga)

Penguat penyangga atau buffer pada dasarnya merupakan penguat dengan

faktor penguatan 1 yang menyediakan masukan dengan impedansi tinggi, dan

keluaran berimpedansi rendah yang disusun tanpa menggunakan komponen

eksternal seperti pada gambar 2.19 dibawah ini:


49

Gambar 2.19 Skematik Dasar Rangkaian Voltage Follower Amplifier


Sumber : Vademekum, Warsito

Dalam operasinya, pada saat tegangan disaluran masukan berubah, tegangan

disaluran keluaran dan inverting juga akan berubah dengan nilai yang sama.

Dengan demikian nilai penguatan model amplifier diatas adalah:

Vo = Vi dengan nilai A (penguatan) =1.............................................. (2.15)


BAB III

PERANCANGAN ALAT

3.1 Perencanaan

Proses perencanaan sangat diperlukan sekali dalam pembuatan suatu alat,

khususnya perancangan elektronika. Proses perencanaan alat sangat penting untuk

memulai suatu pekerjaan dengan tujuan berikut:

1. Agar alat yang dihasilkan nantinya sesuai dengan yang diharapkan

2. Untuk memilih komponen-komponen elektronika yang paling tepat.

3. Untuk menekan error dalam proses pembuatan

4. Menekan biaya pembuatan alat

Perancangan dalam hal ini meliputi perancangan rangkaian, perancangan

pemasangan tata letak komponen yang telah dirangkai pada kotak praktis.

Perancangan awal memerlukan suatu kejelian dan ketelitian, karena perancangan

awal akan sangat menentukan hasil akhir dari suat proses pembuatan alat. Apabila

perancangan awal salah maka proses selanjutnya akan mengalami suatu

kesalahan, sehingga selain ketelitian dan kejelian juga diperlukan ketepatan dalam

proses pembelian komponen di pasaran.

3.2 Deskripsi Umum

Sistem yang dirancang dalam gambar 3.1 merupakan bentuk desain

earthquake scanner with datalogger applications base on borland delphie yang

dilengkapi dengan mikrokontroler dan PC sebagai aktuatornya.

50
51

ADC
Control

Vref ADC
Adjustment Analog to Digital Data
Converter Comm
ADC0804 Data
Level TTL
Adjustable amplified RS232 Interface
vibration signal MAX232
Gain
Adjustment Signal
Microcontroller
Conditioner Comm
AT89C51
LM393 Data
Level RS232
Medium vibration
level signal

Signal Amplifier
BC547

Low vibration
level signal

Vibration Sensor Reset


Piezoelectric
PC

Gambar 3.1 Blok Diagram Sistem

Dalam diagram perancangan alat di atas dapat dilihat bahwa desain alat

terdiri dari vibration sensor, signal amplifier, signal conditioner, analog to digital

converter, microcontroller, interface RS232, dan aplikasi program PC

3.3 Perancangan Perangkat Keras

3.3.1 Bagian Vibration Sensor dan Signal Amplifier

Bagian vibration sensor disusun menggunakan R5 dan piezoelectric PZ1.

Bagian ini secara spesifik berfungsi menerima sinyal getaran gempa dan

mengkonversi sinyal hasil penerimaannya menjadi sinyal listrik dengan level AC

yang sangat rendah. Skematik vibration sensor dan signal amplifier dapat dilihat

pada gambar 3.2


52

Gambar 3.2 Skematik Bagian Vibration Sensor Dan Signal Amplifier

Dalam gambar 3.2 dapat dilihat bahwa sinyal keluaran PZ1 yang disalurkan

melalui C9 cenderung memiliki level sinyal AC yang sangat rendah dan tidak

dapat diumpankan secara langsung ke rangkaian signal conditioner. Oleh karena

itu, sinyal tersebut harus dikuatkan terlebih dahulu menggunakan rangkaian signal

amplifier yang merupakan penguat transistor Q1.

Untuk bekerja secara benar dalam mode common emitor, transistor Q1

harus diberi tegangan bias melalui R7 dan R6. Dengan pengaturan ini, sinyal

masukan di saluran basis Q1 akan dikuatkan level sinyal AC-nya dan disalurkan

ke rangkaian signal conditioner melalui kondensator C10 yang terpasang disaluran

kolektor.

3.3.2 Bagian Signal Conditioner

Bagian signal conditioner disusun menggunakan U4A, R8-R12, C12-C13, dan

D1-D2. Bagian ini secara spesifik berfungsi menguatkan kembali sinyal AC

keluaran rangkaian signal amplifier dan mengatur akusisi sinyalnya ke level DC

dalam taraf tertentu agar dapat diumpankan kembali ke rangkaian analog to

digital converter. Skematik bagian signal conditiner dapat dilihat pada gambar 3.3
53

Gambar 3.3 Skematik Bagian Signal Conditioner

Dalam gambar 3.3 dapat dilihat bahwa sinyal AC yang dikirimkan oleh signal

amplifier disalurkan ke pin 3 (non-inverting U4A) melalui C12 dan variabel resistor

R8 (gain adjusment). Tegangan sinyal tersebut kemudian dibandingkan dengan

tegangan referensi yang diatur melalui R10. Proses pengaturan tersebut akan

mengakibatkan saluran keluaran U4A mengeluarkan sinyal AC dengan level

tertentu dan siap untuk disearahkan menjadi sinyal dengan level tegangan DC

menggunakan rangkaian D1, D2, R11, R12 dan kapasitor C13.

3.3.3 Bagian Analog to Digital Converter

Bagian analog to digital converter disusun menggunakan U3, R2-R4, dan

C8. Bagian ini berfungsi mengkonversi sinyal getaran dalam level tegangan DC

menjadi data getaran dengan format digital 8 bit biner. Untuk bekerja secara

benar, U3 memerlukan 2 rangkaian eksternal yaitu rangkaian penentu tegangan

referensi (Vref Adj) yang dibentuk menggunakan R2 dan R3, serta rangkaian R4

dan C8 yang berfungsi sebagai rangkaian RC pembentuk clock. Skematik bagian

analog to digital converter dapat dilihat pada gambar 3.4


54

Gambar 3.4 Skematik Bagian Analog to Digital Converter

Dengan menggunakan nilai komponen seperti yang ditunjukkan dalam gambar

3.4, nilai frekuensi clock ADC U3 dapat dihitung menggunakan persamaan

sebagai berikut:

1
f CLK ≅
1.1RC
1
f CLK ≅
1.1(10 KΩ × 150 pF )
1

f CLK
(( ) ( ))
1.1 10 × 10 × 150 × 10 −12
3

f CLK ≅ 606060,61Hz = 606,61KHz

Hal penting yang harus diperhatikan dalam pemakaian rangkaian ini terletak pada

ketepatan nilai Vref yang ditentukan oleh R2 dan R3, karena jika nilainya tidak

sama dengan ½ Vcc dapat mengakibatkan terjadinya kesalahan nilai konversi.

Pada saat ADC dijalankan dalam mode skala penuh dengan Vcc = 5V dan Vref =

5V, maka nilai keluaran data untuk 1 LSB (step size) akan setara dengan:

1 LSB = Vref : Full scale


1 LSB = 5V : 256
1 LSB = 0,01953125V ≈ 20mV

Jika ADC dijalankan dalam mode skala penuh dengan Vcc = 5V dan Vref = 2,5V,

maka nilai keluaran data untuk 1 LSB (step size) akan setara dengan:
55

1 LSB = Vref : Full scale

1 LSB = 2,5V : 256

1 LSB = 0,009765625V ≈ 10mV

Contoh kalkulasi data:

Dengan adanya penyesuaian antara relevansi tegangan keluaran rangkaian signal

conditioner dan Vref ADC ke ½ Vcc=2,5V, maka pada saat saluran keluaran

rangkaian signal conditioner menghasilkan tegangan sebesar 350mV = 0,35V=

nilai Vin ADC = 350mV, nilai data logika integer N adalah:

N = (Vin : Vref) x 256

N = (0,35V : 2,5V) x 256

N = 35,84

Karena node N diambil posisi center atau ½ Vcc, maka transisinya adalah:

Vin = Vref x (N : 256)

Vin = 2,5V x (35,84 : 256)

Vin = 0,35V = 350mV (konversi ADC terbukti berjalan sempurna)

Dengan demikian nilai data Dout dari ADC merupakan hasil konversi nilai data N

yang masih berupa bilangan desimal ke bilangan biner.

Tabel 3.1 Nilai Dout ADC Untuk Data Input 350mV


27 26 25 24 23 22 21 20 format
0 0 1 0 0 0 1 1 biner
0 0 32 0 0 0 2 1 desimal

Hasil konversi menunjukkan nilai 32+2+1 =35 karena nilai dibelakang tanda

koma secara otomatis akan diabaikan pada saat konversi.


56

3.3.4 Bagian Microcontroller

Bagian mikrokontroler (microcontroller) disusun menggunakan U2

AT89C51 dan dicatu menggunakan tegangan VCC +5V. Bagian ini berfungsi

mengatur proses kerja alat berdasar data acuan dari ADC dan PC. Skematik

rangkaian mikrokontroler secara lengkap dapat dilihat pada gambar 3.5

Gambar 3.5 Skematik Bagian Mikrokontroler

Dalam rangkaian mikrokontroler U2 dapat dilihat bahwa pin EA/VPP

dihubungkan secara langsung dengan VCC +5V. Hal ini berarti rangkaian

mikrokontroler U2 dikonfigurasikan untuk bekerja dalam mode single chip dan

tidak memerlukan pemasangan memori eksternal. Untuk dapat bekerja dengan

benar, rangkaian mikrokontroler U2 memerlukan 2 rangkaian pendukung eksternal

yang harus dipasang secara tepat. Rangkaian pertama merupakan pembangkit

frekuensi clock yang dibentuk menggunakan kristal Y1, kapasitor C6 dan C7.
57

Sedangkan rangkaian kedua berupa rangkaian reset yang dibentuk menggunakan

kondenstor C5 dan R1.

Bagian mikrokontroler U2 merupakan otak dari sistem rangkaian alat,

karena semua data input dan output harus diproses dan dikontrol melalui U2.

Dalam gambar 3.5 dapat dilihat bahwa, tidak semua kaki pada U2 AT89C51 ini

digunakan untuk proses data dan hanya pin-pin tertentu saja yang dipergunakan

dalam proses tersebut diatas. Inisialisasi pemakaian port mikrokontroler dapat

dilihat pada tabel 3.2

Tabel 3.2 Inisialisasi Pemakaian Port U1

No Port Keterangan No Port Keterangan


1 P0.0 Data In ADC DB0 17 P2.0 Control Write ADC
2 P0.1 Data In ADC DB1 18 P2.1 Control Interupt ADC
3 P0.2 Data In ADC DB2 19 P2.2 Control Read ADC
4 P0.3 Data In ADC DB3 20 P2.3 Control Start ADC
5 P0.4 Data In ADC DB4 21 P2.4 Nu
6 P0.5 Data In ADC DB5 22 P2.5 Nu
7 P0.6 Data In ADC DB6 23 P2.6 Nu
8 P0.7 Data In ADC DB7 24 P2.7 Nu
9 P1.0 Control LED D0 25 P3.0 Rx Serial
10 P1.1 Control LED D1 26 P3.1 Tx Serial
11 P1.2 Control LED D2 27 P3.2 Nu
12 P1.3 Control LED D3 28 P3.3 Nu
13 P1.4 Control LED D4 29 P3.4 Nu
14 P1.5 Control LED D5 30 P3.5 Nu
15 P1.6 Control LED D6 31 P3.6 Nu
16 P1.7 Control LED D7 32 P3.7 Nu

3.3.5 Bagian Interface RS232

Bagian interface RS232 disusun menggunakan komponen inti U1

MAX232 yang dicatu menggunakan tegangan +5V. Bagian ini berfungsi

menjembatani proses komunikasi secara serial antara PC dengan mikrokontroler


58

dalam taraf logika TTL ke RS232 dan sebaliknya. Untuk PC atau laptop, data

taraf logika high akan setara dengan +10 sampai +12V, sedangkan data taraf

logika low akan setara dengan -10 sampai -12V (level RS232). Untuk

mikrokontroler U2, data taraf logika high akan setara dengan +5V, sedangkan data

taraf logika low akan setara dengan 0V (level TTL). Bentuk skematik bagian

interface RS232 dapat dilihat pada gambar 3.6

Gambar 3.6 Skematik Bagian Interface RS232

Seperti telah dijelaskan di bab 2, U1 memiliki rangkaian voltage pump-up dan

voltage inverter internal. Rangkaian tersebut memerlukan kondensator C1-C4

yang harus dipasang dengan polaritas yang benar sesuai gambar 3.6.

Pada saat proses transfer data dari PC ke mikrokontroler U2 dijalankan, pin

8 R2IN U1 akan berfungsi sebagai saluran penerima data dari PC, sedangkan pin 9

R2OUT U1 akan berfungsi sebagai saluran keluaran data yang disalurkan ke

mikrokontroler U2. Pada saat proses transfer data dari mikrokontroler U2 ke PC

dijalankan, pin 10 T2IN U1 akan berfungsi sebagai saluran penerima data dari

mikrokontroler U2, sedangkan pin 7 T2OUT U1 akan berfungsi sebagai saluran

keluaran data yang disalurkan ke PC.


59

Kedua proses transfer data tersebut diatas dapat dilakukan secara

bersamaan menggunakan baudrate yang sama karena saluran RS232 data serial

PC maupun mikrokontroler dapat bekerja secara bidirectional, selain itu proses

komunikasi ini dapat dijalankan menggunakan kabel DB9 yang mendukung

format data 8 bit, tanpa parity, 1 stop bit dengan flowcontrol hardware (setting

baudrate berlaku untuk mikrokontroler dan PC).

3.3.6 Bagian Catudaya

Bagian catudaya disusun menggunakan transformator T1, penyearah D3-

D4, regulator +5V U5 tipe 78HT05 serta kondensator C14, dan C15. Skematik

bagian ini dapat dilihat pada gambar 3.7

Gambar 3.7 Skematik Bagian Catudaya

Dalam awal uraian telah disebutkan bahwa rangkaian alat secara spesifik hanya

menggunakan tegangan catuan sebesar +5Vdc dan +12Vdc. Untuk mencapai hal

tersebut, tegangan AC keluaran transformator T1 akan disearahkan oleh D3 dan D4

menjadi tegangan DC kasar (VSS) yang difilter menggunakan C14. Tegangan VSS

inilah yang digunakan sebagai tegangan sumber rangkaian driver motor dan

regulator U5 pin 1.

Proses penyaluran tegangan VSS ke regulator U5 pin 1 akan menyebabkan

saluran keluaran regulator U5 pin 3 akan menghasilkan tegangan +5Vdc. Tetapi


60

untuk menjaga agar tegangan keluaran regulator U5 tetap stabil pada saat

pembebanan diperlukan pemfilteran menggunakan kondensator C15.

3.4 Cara Kerja Alat

Sistem merupakan bentuk aplikasi pendeteksi getaran gempa yang

dikendalikan menggunakan sistem kontrol adaptif berbasis mikrokontroler dengan

datalogger berbasis PC.

Secara prinsip sistem akan membaca sinyal getaran gempa melalui sensor

piezoelectric dan menguatkan level sinyalnya agar dapat diolah menggunakan

rangkaian ADC dan mikrokontroler. Pada saat program PC mengirimkan perintah

pengambilan data sinyal getaran ke bagian mikrokontroler, bagian ini akan

merespon perintah tersebut dengan mengirimkan data hasil konversi ADC ke PC

melalui saluran serial. Proses ini akan terus dijalankan oleh program PC dan data

report dari mikrokontroler inilah yang diproses ulang kedalam bentuk grafik

sinyal getaran gempa (yang terdeteksi secara realtime).

3.5 Perancangan PCB

Setelah kita melakukan perencanaan, langkah selanjutnya adalah membuat

papan rangkaian tercetak. Semua komponen dipasang pada papan ini kecuali

sensor dan transformator dipasang dalam kotak untuk memudahkan

pemasangannya. Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan papan

rangkaian tercetak adalah sebagai berikut :


61

Tabel 3.3 Peralatan dan Bahan


No Peralatan Dan Bahan
1 Bor PCB
2 Mata bor berukuran 0,8mm, 1mm dan 3mm.
3 Tang pengupas
4 Solder
5 Bahan PCB/ Papan Rangkaian Tercetak (PRT)
6 Ferri Chloride (FeCl3).
7 Lemat solder (lotfet).
8 Tinner dan kuas
9 Mur baut.
10 Timah / tenol.
11 Peralatan Sablon

3.5.1 Proses Desain Jalur

Metode pembuatan jalur PCB terdapat berbagai macam cara, salah satunya

dengan menggunakan program komputer PCB Designer Ver 1.0. Adapun langkah

pembuatannya sebagai berikut:

1. Menyalakan komputer dan buka program PCB Designer.

2. Menggambar jalur rangkaian PCB dengan ketebalan garis 0.5 mm untuk

jalur standart, 0,8mm untuk pointer drill dan blok screen untuk bottom

layer menggunakan kerapatan 0,8mm.

3. Setelah desain gambar selesai, kemudian gambar dicetak di plastik film

menggunakan printer laser.


62

Gambar 3.8 Plotting PCB

3.5.2 Proses Cetak Dan Sablon

1. Hasil cetakan bottom preview dijadikan film master screen sablon.


63

2. Siapkan peralatan sablon dan cetak gambar plotting PCB di screen sablon.

3. Setelah gambar tercetak di screen sablon dan sudah kering, bersihkan sisa

jalur yang tidak terpakai dan diperiksa ulang hasilnya.

4. Cetak gambar plotting ke PCB menggunakan cat sablon permanen.

5. Tunggu sampai cat sablon kering dan PCB siap untuk dilarutkan

3.5.3 Proses Pelarutan PCB

Setelah gambar hasil sablon menempel dipermukaan tembaga PCB,

langkah selanjutnya adalah proses pelarutan. Urutan langkah dalam proses

pelarutan ini adalah sebagai berikut:

1. Masukkan larutan FeCl3 ke dalam air hangat yang ditempatkan dalam

ember atau baki plastik.

2. Masukkan PCB kedalam larutan FeCl3 tersebut.

3. Aduk pelan-pelan secara merata agar permukaan tembaga yang tidak

tertutup gambar jalur dapat larut dalam cairan tersebut.

4. Jika proses pelarutan sudah selesai, angkat PCB sudah terbentuk jalur-jalur

rangkaiannya.

5. Cuci PCB dengan air sabun dan amplas permukaan yang tertutup gambar

dengan serabut baja sehingga tinggal jalur-jalur logam sesuai gambar jalur

rangkaian.

6. Keringkan PCB, dan PCB siap untuk digunakan

3.5.4 Proses Pengeboran


64

Untuk mendapatkan hasil yang baik, pengeboran posisi pin komponen

harus dilakukan dengan hati–hati agar tidak merusak jalur pada rangkaian

tercetak. Proses-proses pengeboran dilakukan sebagai berikut :

1. Memberikan titik pada suatu papan tercetak untuk memudahkan proses

pengeboran dengan ukuran yang telah ada.

2. Kemudian lakukan dengan pengeboran pada titik yang telah ada dengan

alat bor PCB dengan putaran yang stabil.

3. Sesuaikan ukuran mata bor yang digunakan dengan keperluan lobang

komponen

4. Setelah selesai lakukan pembersihan pada sisi-sisi lubang PCB dari

kotoran sekaligus meratakan PCB dengan amplas secara hati-hati.

3.5.5 Proses Pemasangan Komponen

Pemasangan komponen dilakukan dengan menempatkan komponen-

komponen yang dibutuhkan pada bagian-bagian yang telah ditentukan. Pada

waktu pemasangan komponen yang perlu diperhatikan adalah pemasangan

komponen dioda dan kapasitor agar tidak terbalik polaritasnya. Untuk

pemasangan komponen yaitu dengan melakukan langkah sebagai berikut:

1. Memasangkan komponen-komponen pada PCB, komponen pasif dipasang

terlebih dahulu untuk menghindari kerusakan komponen aktif.

2. Menyolder agar komponen menyatu dengan jalur pada PCB.


65

3. Menguji apakah titik penyambungan tersebut sudah disolder secara baik

dan mengadakan pengecekan kembali alur jalur PCB dengan gambar

skematik dan komponen sesuai tabel komponen.

4. Rangkaian alat siap untuk digunakan bersama program aplikasi

Gambar skematik lengkap rangkaian alat dapat dilihat dihalaman lampiran,

sedangkan daftar komponen rangkaian dapat dilihat pada tabel 3.4

Tabel 3.4 Daftar Komponen


Item Quantity Reference Part
1 6 C1,C2,C3,C4,C5,C10 10uF
2 2 C6,C7 30pF
3 1 C8 150pF
4 2 C13,C9 100nF
5 1 C11 100uF
6 1 C12 1uF
7 1 C14 2200uF
8 1 C15 1000uF
9 1 D1 LDT-A51R
10 2 D2,D1 1N914
11 2 D4,D3 1N4007
12 1 PZ1 PIEZO BUZZER
13 1 P1 DB9 Female
14 1 Q1 2SC885
15 1 RN1 R-PACK
16 1 R1 8k2
17 2 R2,R3 2k
18 5 R4,R5,R7,R9,R11 10k
19 1 R6 100k
20 1 R8 50k
21 1 R10 5k-multi turn
22 1 R12 470
23 1 T1 TRANSFORMER CT
24 1 U1 MAX232
25 1 U2 AT89C51
26 1 U3 ADC0804
27 1 U4 LM393
28 1 U5 7805
29 1 V1 220VAC
30 1 Y2 11.059Mhz
66

3.6 Perancangan Perangkat Lunak

Dalam cara kerja alat telah dijelaskan bahwa sistem yang dirancang

bekerja menggunakan program earth.asm yang dibuat dalam bahasa assembler

dan diketik menggunakan teks editor (program notepad.exe). File program

aplikasi mikrokontroler ini kemudian disimpan dengan ekstensi *.asm dan di-

compile menggunakan program ASM51 dengan perintah sebagai berikut:

C:\>ASM51.EXE [program file. ASM]

Setelah proses kompilasi program earth.asm selesai, program ASM51

akan menghasilkan file baru dengan ekstensi “*.lst” dan “*.hex”. File berekstensi

lst digunakan untuk memeriksa kesalahan program hasil kompilasi. Sedangkan

file berekstensi “*.hex” merupakan file yang akan ditransfer ke dalam memori

mikrokontroler. Dalam proses pengisian program earth.asm kedalam AT89C51

digunakan kabel serial (DB9) untuk berkomunikasi dengan antara mikrokontroler

dengan PC. Adapun proses pengisian program ke dalam Flash PEROM AT89C51

menggunakan program MPU_loader.exe. Listing program lengkap dapat dilihat di

halaman lampiran.

3.6.1 Diagram Alir earth.Asm

Penentuan diagram alir beserta algoritma program earth.asm ditentukan

berdasarkan inisialisasi data kontrol. Diagram alir program earth.asm dapat dilihat

pada gambar 3.9


67

Mulai

Inisialisasi prot
dan register

Inisialisasi interupt
serial

Jalankan kontrol
ADC

Jalankan reset
data parameter

tidak

Ada interupsi?

ya

ya Konversi data di
Simpan data serial
Acc=”a”? Aktifkan ADC acc ke huruf ASCII
ke akumulator
besar

tidak

ya Ambil data ADC


Acc=”b”? dan konversi Ambil data ratusan
nilainya

tidak

Normal ya Ambil data ADC Tambah data


Ambil data
looping Acc=”c”? dan konversi dengan 30h untuk
puluhan
nilainya konversi ke ASCII

tidak

ya Ambil data ADC


Acc=”d”? dan konversi Ambil data satuan
nilainya

tidak

Kirim kembali ke
PC

Selesai

Gambar 3.9 Diagram Alir earth.Asm

3.6.2 Algoritma earth.Asm

Untuk mempermudah pemahaman diagram alir program earth.asm dapat

digunakan algoritma sebagai berikut:

Step 1. Jalankan prosedur inisialisasi register dan pemakaian port

mikrokontroler
68

Step 2. Jalankan inisialisasi interupt serial

Step 3. Jalankan kontrol ADC

Step 4. Jalankan reset data parameter

Step 5. Ada interupsi? Jika tidak kembali ke langkah 4. Jika ya lanjutkan

ke langkah 6

Step 6. Masukkan data serial ke akumulator

Step 7. Acc = ”a”? Jika tidak lanjutkan ke langkah 10. Jika ya lanjutkan ke

langkah 8

Step 8. Aktifkan rangkaian ADC

Step 9. Lanjutkan ke langkah 23

Step 10. Acc = ”b”? Jika tidak lanjutkan ke langkah 14. Jika ya lanjutkan ke

langkah 11

Step 11. Ambil data ADC dan konversi nilainya

Step 12. Ambil data ratusan hasil konversi

Step 13. Lanjutkan ke langkah 21

Step 14. Acc = ”c”? Jika tidak lanjutkan ke langkah 18. Jika ya lanjutkan ke

langkah 15

Step 15. Ambil data ADC dan konversi nilainya

Step 16. Ambil data puluhan hasil konversi

Step 17. Lanjutkan ke langkah 21

Step 18. Acc = ”d”? Jika tidak lanjutkan ke langkah 24. Jika ya lanjutkan ke

langkah 19

Step 19. Ambil data ADC dan konversi nilainya


69

Step 20. Ambil data satuan hasil konversi

Step 21. Tambah data dengan 30h untuk konversi bilangan ASCII

Step 22. Lanjutkan ke langkah 24

Step 23. Konversi data di acc ke huruf ASCII besar

Step 24. Kirim kembali ke PC

Step 25. Kembali ke langkah 4 untuk rutin pengulangan proses atau ke

langkah 26 untuk mengakhiri proses

Step 26. Selesai


BAB IV

ANALISIS DAN PENGUJIAN

4.1 Tujuan Pengambilan Data

Tujuan pengambilan data adalah untuk mengetahui kebenaran sistem

rangkaian dan kondisi komponen yang akan diuji. Pengujian yang dilakukan

meliputi pengujian perbagian sesuai blok diagram dan pengujian kinerja dari

keseluruhan dari ”Earthquake Scanner With Datalogger Applications Base On

Borland Delphie”. Dengan adanya pengujian-pengujian tersebut diatas,

diharapkan kemungkinan terjadinya kesalahan atau kelemahan yang masih

terdapat pada tiap-tiap bagian rangkaian dapat diketahui lebih pasti. Sedangkan

pengambilan data secara keseluruhan bertujuan untuk membandingkan hasil

perhitungan dan hasil pengukuran dengan standar kerja komponen yang terdapat

pada datasheet.

4.2 Tempat Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan di rumah dan di laboratorium, pada bulan

Maret 2009. Alat yang dipergunakan dalam pengambilan data meliputi:

1. Multimeter analog SANWA YX-360TRD

2. Multimeter digital SANWA GE830B yang digunakan untuk mengukur

besaran listrik.

3. Osiloskop digital UT2025B + kabel USB yang digunakan untuk mengukur

bentuk gelombang.

70
71

4. Downloader Sunrom untuk digunakan dalam proses pengisian program ke IC

AT89C51 tujuan.

5. Kabel penghubung DB9, yang digunakan sebagai penghubung antara PC

dengan Downloader dan PC dengan perangkat alat.

6. Perangkat alat lengkap dengan sensor getaran

4.3 Pengujian Perbagian

Dalam perancangan ini pengujian perbagian dilakukan agar proses

pengecekan, kalibrasi dan analisa sistem rangkaian alat dapat dilakukan secara

lebih cermat.

4.3.1 Bagian Vibration Sensor dan Signal Amplifier

Pengujian bagian vibration sensor digunakan untuk mengetahui tegangan

kerja dan bentuk sinyal hasil pengolahan penguat transistor Q1. Hasil pengujian

bagian ini ditabulasikan dalam tabel 4.1 dengan titik ukur dicantumkan dalam

gambar 4.1.

Gambar 4.1 Test Point Bagian Vibration Sensor Dan Signal Amplifier
72

Tabel 4.1 Hasil Pengujian Bagian Vibration Sensor Dan Signal Amplifier
No Test Point Tegangan Keterangan
(V)
1 Basis Q1 0,7 CRO probe 1
2 Kolektor Q1 3 CRO probe 2

Untuk menunjukkan penguatan sinyal pada bagian ini, pembangkitan sinyal uji

getaran dilakukan dengan melakukan ketukan halus secara manual kebagian

sensor. Sinyal getaran yang dibangkitkan kemudian dipantau bentuk sinyalnya

dan dibandingkan dengan sinyal yang telah diperkuat. Hasil pengujian bagian ini

ditunjukkan pada gambar 4.2

Gambar 4.2 Perbandingan Sinyal In/Out Signal Amplifier

Dari gambar 4.2 dapat dilihat bahwa sinyal getaran yang diterima oleh PZ1

memiliki level sebesar 1,25Vpp/div, sedangkan sinyal hasil penguatan memiliki

level sebesar 3Vpp/div. Dengan hasil ini dapat diambil kesimpulan bahwa sinyal

dari PZ1 akan dikuatkan sekitar 2,4x dari sinyal aslinya dan mengalami

pembalikan fasa sebesar 1800.


73

4.3.2 Bagian Signal Conditioner

Pengujian bagian signal conditioner digunakan untuk mengetahui setting

R8 dan R10 yang paling tepat agar U4A dapat menghasilkan sinyal dengan level

tegangan AC yang dapat disearahkan oleh D1-D2. Hasil pengujian bagian ini

ditabulasikan dalam tabel 4.2 dengan titik ukur dicantumkan dalam gambar 4.3

Gambar 4.3 Test Point Bagian Signal Conditioner

Tabel 4.2 Hasil Pengujian Bagian Signal Conditioner


No Test Point Tegangan Keterangan
(V)
1 Inverting U4A 0 - 3,75 Multimeter
2 Non-Inverting U4A 3,6 Multimeter
3 Keluaran D1 0 - 4,76 Multimeter

Dari hasil pengujian tabel 4.2 dapat dilihat bahwa pengaturan R8 secara tidak

langsung mempengaruhi faktor penguatan U4A. Proses pengaturan ini juga

mempengaruhi level tegangan DC yang dihasilkan oleh penyearah D1-D2 (yang

terpasang disaluran keluaran U4A).


74

4.3.3 Pengujian Bagian Analog to Digital Converter

Pengujian bagian analog to digital converter digunakan untuk mengetahui

kinerja bagian ini pada saat digunakan untuk mendeteksi level tegangan DC

keluaran bagian signal conditioner. Hasil pengujian bagian ini ditabulasikan

dalam tabel 4.3 dengan titik ukur dicantumkan dalam gambar 4.5

Gambar 4.4 Test Point Bagian Analog To Digital Converter

Tabel 4.3 Hasil Pengujian Bagian


Analog To Digital Converter

Tegangan
No Test Point Keterangan
(V)
1 Pin 6 U3 0–5 Tegangan analog
2 Pin 4 U3 L= 0,8 – H= 2,4 Frekuensi clock rangkaian ADC
3 Pin 9 U3 ± 2,5 Vref Adj
4 Pin 1-3, 5 U3 L= 0,8 – H= 2,4 Pulsa ADC start
5 Pin 18-11 U3 L= 0,8 – H= 2,4 Data ADC out DB0-DB7

Berdasar hasil pengujian diatas dapat diketahui bahwa frekuensi clock ADC

dipengaruhi oleh komponen eksternal R4 dan C8 dengan nilai frekuensi terhitung

seperti tercantum di bab 3. Pola pembentukan frekuensinya merupakan prinsip

dasar pengisian dan pengosongan kondensator. Dengan pengertian ini titik ukur

tidak dapat dibebani secara langsung menggunakan multimeter analog dan hanya
75

boleh dibebani menggunakan multimeter digital berimpedansi tinggi atau

menggunakan osiloskop.

Gambar 4.5 Sinyal Clock ADC

Tegangan terukur pada pin 9 U3 merupakan hasil dari rangkaian pembagi

tegangan R2 dan R3. Nilai tegangan ini sangat penting karena menentukan

ketepatan nilai konversi tegangan analog menjadi data digital. Dengan

menggunakan nilai setting standar 2,5 volt, maka ketepatan nilai konversi ADC

U3 akan setara dengan 10mV/1 LSB.

Pin 1-3, 5 U3 berfungsi sebagai pin pengatur proses start konversi

rangkaian ADC. Karena pin ini dikendalikan secara langsung menggunakan P2.0-

P2.3 U2, maka peraturan standar logikanya harus mengikuti aturan mikrokontroler

U2. Dengan pengertian ini, proses komunikasi data yang terjadi berupa transfer

data dari U3 ke U2 dan kontrol data dari U2 ke U3 dengan standarisasi VOL dan

VOH mikrokontroler U2.


76

Pin 18-11 U3 berfungsi sebagai pin pengatur data keluaran ADC dalam

format 8 bit (4 bit MSB, 4 bit LSB). Karena pin ini secara langsung dihubungkan

dengan P0.0 – P03.7 U2, maka peraturan standar logikanya juga mengikuti aturan

U2. Dengan menggunakan pengertian ini, proses komunikasi data yang terjadi dari

U3 ke U2 menggunakan standarisasi VIL dan VIH mikrokontroler U2.

4.3.4 Pengujian Bagian Microcontroller

Pengujian bagian microcontroller digunakan untuk mengetahui sinyal

dibagian osilator dan tegangan saluran reset. Hasil pengujian bagian ini

ditabulasikan dalam tabel 4.4 dengan titik ukur dicantumkan dalam gambar 4.7

Gambar 4.6 Test Point Bagian Mikrokontroler


77

Tabel 4.4 Hasil Pengujian Bagian Mikrokontroler


(Saluran Xtal1 dan Xtal2)
Tegangan
No Test Point Keterangan
(V)
1 XTAL1 0,6 V Osilator in
2 XTAL2 2,8 V Osilator out

Berdasar hasil pengujian diatas diketahui bahwa tegangan standar logika input

port U2 memiliki aturan VIL dan VIH, sedangkan tegangan output port U2 memiliki

VOL dan VOH. Ketentuan ini hanya berlaku untuk saluran XTAL1, dan 32 bit

saluran I/O (port 0 sampai dengan port 3). Sedangkan untuk saluran reset dan

XTAL2 berlaku ketentuan yang berbeda dengan nilai VOH=VIH= 3,5 V.

Saluran reset U2 dipengaruhi oleh karakteristik pengisian dan pengosongan

kondensator C5 yang terpasang secara seri dengan resistor R1. Dengan

menggunakan nilai komponen pada gambar pengujian 4.7, nilai waktu transisi

pengisian dan pengosongan kondensator C5 adalah:

Vc = Vcc(1 − e − t / RC )

+3
×10 −6
3,5 = 5(1 − e − t / 8, 2 )

3,5 = 5(1 − e −0,082t )

3,5 = 5 − 5e −0,082t

5e −0,082t = 1,5

e −0,082t = 0,3

− 0,082t = ln 0,3

− 0,082t = −1,20397

t = 14,68ms
78

Saluran XTAL1 merupakan input penguat operasi internal yang bertanggung

jawab dalam proses pembentukan sinyal clock acuan proses kerja U2. Sedangkan

saluran XTAL2 merupakan output penguat operasi internal. Dengan pengertian ini

saluran XTAL2 dapat digunakan untuk keperluan eksternal yang memerlukan

sistem pewaktuan dengan nilai frekuensi yang sama. Nilai frekuensi terukur pada

pin-pin ini harus sama dengan nilai frekuensi kristal yang digunakan dan tidak

boleh cacat sinyal. Bentuk gelombang pada pin XTAL1 dan XTAL2 dapat dilihat

pada gambar 4.8 dan 4.9.

Gambar 4.7 Frekuensi Sinyal Pin Xtal1

Gambar 4.8 Frekuensi Sinyal Pin Xtal2


79

4.3.5 Pengujian Rangkaian Interface RS232

Pengujian bagian Interface RS232 digunakan untuk mengetahui kinerja

dari U1 dalam menghasilkan tegangan catuan V+ dan V- yang diperlukan dalam

proses konversi level sinyal data serial dari DB9 PC dapat disetarakan dengan

level sinyal saluran dalam rangkaian alat. Hasil pengujian bagian ini ditabulasikan

dalam tabel 4.5 dengan titik ukur dicantumkan dalam gambar 4.10

Gambar 4.9 Test Point Bagian Interface RS232

Dalam pengujian ini, tegangan V= dan V- yang diukur (terletak di pin 2 dan pin 6)

merupakan keluaran dari bagian rangkaian internal voltage doubler +5V to +10V

dan rangkaian internal voltage inverter +10V to -10V. Hasil pengujian bagian ini

ditabulasikan dalam tabel 4.1.

Tabel 4.5 Hasil Pengujian Bagian Interface RS232


No Test Point Tegangan Keterangan
1 +10V Kondisi statis
Pin 2
2 +10V Kondisi transfer data
3 -10V Kondisi statis
Pin 6
4 -10V Kondisi transfer data
80

Dari hasil pengujian diatas dapat dilihat bahwa rangkaian internal voltage doubler

+5V to +10V dan rangkaian internal voltage inverter +10V to -10V terbukti dapat

menghasilkan tegangan V= dan V- yang stabil pada saat U1 berada dalam kondisi

statis maupun pada saat digunakan dalam kondisi transfer data.

4.3.6 Pengujian Bagian Catudaya

Pengujian bagian catudaya digunakan untuk mengetahui kemampuan

tegangan dan arus keluarannya pada saat rangkaian tanpa beban maupun pada saat

beban aktif. Titik pengujian bagian catudaya dapat dilihat pada gambar 4.11

sedangkan hasil pengujiannya dapat dilihat dalam tabel 4.6

Gambar 4.10 Titik Pengujian Bagian Catudaya

Tabel 4.6 Hasil Pengujian Bagian Catudaya


No VSS VCC Keterangan
1 14,5 V 5 V Tanpa beban
2 12 V 5 V Dengan beban

Dalam gambar pengujian 4.11, dapat dilihat bahwa rangkaian penyearah

gelombang penuh dicatu menggunakan tegangan keluaran transformator T1 untuk

mensuplai beban maksimal sebesar 1 A. Untuk menentukan nilai kapasitor yang

diperlukan sehingga rangkaian ini memiliki tegangan ripple tidak lebih dari 0,75

Vpp, maka kita harus mengunakan persamaan sebagai berikut:


81

C = I.T/Vr = (1) (0,01)/0,75 = 13.333uF.

Ukuran kapasitor yang sebesar tersebut diatasi cenderung mahal dan sulit

ditemukan dipasaran. Oleh karena itu penulis hanya menggunakan ukuran 2200uF

(C14) dengan resiko faktor ripple dari rangkaian akan naik menjadi:

C = I.T/Vr ⇒ Vr = I.T/C
Vr = (1) (0,01) / 2200uF = 4,54V

Dengan tegangan ripple yang cukup tinggi tersebut, tegangan dan arus keluaran

rangkaian cenderung kurang stabil, sehingga tegangan keluaran penyearah pada

saat tanpa beban adalah :

Vdc = VM + Vr/2

Vdc = 12 + (4,54/2)

Vdc = 14,27V

Sedangkan tegangan keluaran penyearah pada saat beban penuh adalah :

Vdc = VM - Vr/2

Vdc = 12 – (4,54/2)

Vdc = 9,73 V

Perubahan kondisi beban inilah yang mengakibatkan nilai terukur tegangan

catudaya berubah seperti ditunjukkan dalam tabel 4.1. Untuk mencegah fluktuatif

tegangan keluaran penyearah berpengaruh terhadap kinerja alat, penulis telah

menambahkan regulator 7805 U5 dan C15 sebagai penstabil tegangan catuan VCC

alat. Hasil pengujian pada bagian regulator dapat dilihat dalam tabel 4.6

Tabel 4.6 Data Pengujian Regulator U5


No Regulator U5 Keterangan
1 Pin 1 =12V Tegangan masukan
2 Pin 3= 5V Tegangan keluaran
82

4.4 Pengujian Sistem Lengkap

Pengujian sistem secara lengkap digunakan untuk mengetahui kemampuan

aplikasi pada saat digunakan dalam keadaan sebenarnya dengan menggunakan PC

sebagai bagian dari sistem. Dalam pengujian ini, bagian sensor PZ1 akan diketuk

secara perlahan dan berulang-ulang agar dapat menghasilkan sinyal seperti halnya

pada saat terjadi gempa. Hasil capture grafik pengujian ini dicantumkan dalam

gambar 4.12

Gambar 4.11 Capture Grafik

Gambar 4.12 Capture Grafik


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian dalam landasan teori dan tinjauan pustaka yang

digunakan dan hasil pengujian sistem secara parsial maupun pengujian secara

lengkap, dapat diambil kesimpulan bahwa:

Proses pendeteksian sinyal getaran gempa terbukti dapat dideteks

menggunakan piezoelectric berukuran diameter 2cm yang dimodifikasi

membrannya dengan penambahan per halus sepanjang 2cm. Bagian sensor

tersebut kemudian dipasang ke dalam pipa besi dengan panjang 1 meter dan

ditanam dalam tanah.

Variabel yang mempengaruhi proses otomatisasi pendeteksian gempa

meliputi kemampuan getar dari per halus di bagian piezoelectric, nilai setting gain

adjusment, ketepatan nilai Vref ADC dan waktu proses yang diperlukan oleh

mikrokontroler dan PC dalam mengkalkulasi data

Data informasi gempa yang terdeteksi dapat dimasukkan ke datalogger

dibagian program PC dengan menggunakan metode transfer data serial dengan

kabel DB9

Transmisi data kontrol dalam datalogger harus mengikuti format data 8

bit, tanpa parity, 1 stop bit dengan flowcontrol hardware dan setting nilai

baudrate yang sama berlaku untuk mikrokontroler dan PC.

83
84

5.2 Saran

Pengembangan sistem alat dapat dilakukan dalam beberapa tahapan

dengan klasifikasi sebagai berikut:

Bagian sensor dapat diekspansi jumlahnya menjadi 8 buah sehingga dapat

membentuk jaringan sensor getaran yang terintegrasi kedalam sistem

Penambahan jumlah sensor harus diikuti dengan penggantian jenis ADC dari 1

kanal menjadi 8 kanal

Jika diinginkan bentuk gelombang pengamatan yang lebih terperinci dan

datail, sebaiknya sistem diatas diintegrasikan dengan soundcard yang terpasang di

PC
DAFTAR PUSTAKA

Brink, O.G and Flink, R.J. 1983. Dasar-dasar Instrumentasi. Jakarta : Binacipta
Benedictus B.S,2005.”Design Alarm Berbasis Sensor Getaran”.
Budi Susanto 2003. “piezoelectric “http:///www.ilkom.edu/vibration_sensor/

http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Piezoelectric&redirect=no

F. Romanson,2006. ”Perancangan Sistem Interface RS232 Berbasis


Mikrokontroler AT89C2051”

Malvino, A.P dan Barmawi, M. 1987. Prinsip-prinsip Elektronika. Edisi Ketiga.


Jakarta : Erlangga.
Moh. Ibnu Malik dan Aristradi. 1997. “Bereksperimen dengan Mikrokontroler
8051”. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.
Nalwan, Paulus Andi. 2003. “Teknik Antarmuka LCD 8 bit dan Pemrograman
Mikrokontroler AT89C51”. Edisi Pertama. Jakarta : PT. Elex Media
Komputindo.
Plant, Malcom and Stuart Jan, Dr. 1985. “Pengantar Ilmu Teknik Instrumentasi”.
Edisi Pertama. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
PT Elek Media Computindo.”Teknik Pemrograman Interface Berbasis Borland
Delphie 7”
PT Elek Media Computindo.”Design Alarm Berbasis Sensor Getaran”

• Hanks TC, Kanamori H (1979). "A moment magnitude scale". Journal of


Geophysical Research 84 (B5): 2348-50.
• Choy GL, Boatwright JL (1995). "Global patterns of radiated seismic
energy and apparent stress". Journal of Geophysical Research 100 (B9):
18205-28.
• Utsu,T., 2002, Relationships between magnitude scales, in: Lee, W.H.K,
Kanamori, H., Jennings, P.C., and Kisslinger, C., editors, International
Handbook of Earthquake and Engineering Seismology: Academic Press, a
division of Elsevier, two volumes, International Geophysics, vol. 81-A,
pages 733-746.. "{{{title}}}".

. Teguh Supriyana,2007.Teknik “Pemrograman Interface Berbasis Borland


Delphie 7”.
APPENDIX
1. Magnitudo – banyaknya energi yang dilepas pada suatu gempa yang
tergambar dalam besarnya gelombang seismik di episenter. Besarnya
gelombang ini tercermin dalam besarnya garis bergelombang pada
seismogram.
2. Episenter – titik di permukaan bumi tepat di atas fokus atau sumber
gempa, dinyatakan dalam lintang dan bujur,
3. Hyposenter – parameter sumber gempa bumi yang dinyatakan dalam
waktu terjadinya gempa, lintang, bujur dan kedalaman sumber
4. Fokus – sumber gempa di dalam bumi, tempat batuan pertama patah.
5. Gelombang seismik – getaran gempa yang menjalar di dalam dan
dipermukaan bumi dengan cara longitudinal dan transfersal.
6. Intensitas – besarnya goncangan dan jenis kerusakan ditempat
pengamatan akibat gempa. Intensitas tergantung dari jarak tempat tersebut
dari hyposenter.
7. Kerak bumi – lapisan atas bumi yang terdiri dari batuan padat. Baik tanah
di daratan maupun di dasar laut termasuk kerak bumi.
8. Litosfir – lapisan paling atas bumi yang hampir seluruhnya terdiri dari
batuan padat. Lapisan ini termasuk kerak bumi dan (sebagian) mantel atas
9. Mantel – Lapisan di bawah kerak bumi yang tediri dari mantel atas dan
mantel bawah.
10. Lempeng Tektonik - bagian dari litosfir bumi yang padat atau rigid.
Lempeng-lempeng tektonik ini senantiasa bergerak dengan lambat,
terapung diatas mantel.
11. Seismograf – peralatan yang menggambarkan gelombang gempa yang
datang di stasiun pengamat.
12. Seismogram – catatan tertulis dari getaran bumi yang dihasilkan oleh
seismograf.
13. Seismologist – ilmuwan yang mempelajari gempa
14. Skala Mercalli – suatu ukuran subyektif kekuatan gempa dikaitkan
dengan intensitas-nya
15. Skala Richter – suatu ukuran obyektif kekuatan gempa dikaitan dengan
magnitudo-nya
16. Sesar – patahan atau pemisahan batuan, umumnya di antara dua atau lebih
plat tektonik

Saduran dan modifikasi dari SqiQuest


Courtesy DR. Pariatmono (BPPT)
Bill Of Materials March 13,2009 14:27:34 Page1

Item Quantity Reference Part


1 6 C1,C2,C3,C4,C5,C10 10uF
2 2 C6,C7 30pF
3 1 C8 150pF
4 2 C13,C9 100nF
5 1 C11 100uF
6 1 C12 1uF
7 1 C14 2200uF
8 1 C15 1000uF
9 1 D1 LDT-A51R
10 2 D2,D1 1N914
11 2 D4,D3 1N4007
12 1 PZ1 PIEZO BUZZER
13 1 P1 DB9 Female
14 1 Q1 2SC885
15 1 RN1 R-PACK
16 1 R1 8k2
17 2 R2,R3 2k
18 5 R4,R5,R7,R9,R11 10k
19 1 R6 100k
20 1 R8 50k
21 1 R10 5k-multi turn
22 1 R12 470
23 1 T1 TRANSFORMER CT
24 1 U1 MAX232
25 1 U2 AT89C51
26 1 U3 ADC0804
27 1 U4 LM393
28 1 U5 7805
29 1 V1 220VAC
30 1 Y2 11.059Mhz
Tampilan Program

Gambar 1 Tampilan Menu Utama

Gambar 2 Tampilan About

Gambar 3 Tampilan Help


Gambar 4 Tampilan Menu Control
Dengan Contoh Parameter Setting Com Dan Turn Off

Gambar 5 Tampilan Menu Control


Dengan Contoh Open Com Port Dan Turn On
Gambar 6 Tampilan Menu Control
Dengan Contoh Start Capture Data
Fungsi Tombol

1. Help
Digunakan untuk menampilkan menu help dalam format html.
Dalam menu ini dijelaskan tujuan pembuatan program, limitasi
penggunaan aplikasi dan fungsi dari tombol-tombol yang terdapat
didalam program aplikasi PC
2. About
Digunakan untuk menampilkan menu about dalam format html.
Dalam menu ini diinformasikan judul perangkat asli dan identitas
dari penulis
3. Exit
Digunakan untuk keluar dari program aplikasi
4. Passcode
Digunakan untuk mengaktifkan menu inisialisasi hardware code
Yang berfungsi sebagai menu entry passcode
5. Com
Digunakan untuk memilih nomor kode dari saluran komunikasi
yang akan digunakan oleh PC dalam berkomunikasi dengan alat
6. Baudrate
Digunakan untuk memilih kecepatan data transfer dari PC ke alat
dan sebaliknya. Setting terpilih harus disesuaikan dengan setting
program dalam mikrokontroler
7. Databit
Digunakan untuk mengatur format data bit
8. Stopbit
Digunakan untuk mengatur format stop bit
9. Parity
Digunakan untk mengatur format parity bit
10. Reload Com Parameter
Digunakan untuk memanggil kembali setting com, baudrate, databit,
stopbit dan paritybit sebelum port yang digunakan dibuka untuk proses
komunikasi data dari PC ke alat maupun sebaliknya
11. DTR
Digunakan untuk mengatur spesifikasi flow control data transmit ready
12. RTS
Digunakan untuk mengatur spesifikasi flow control ring terminal
13. XON
Digunakan untuk mengatur spesifikasi flow control hardware XON/XOFF
14. Break
Digunakan untuk mengatur spesifikasi flow control break point
15. Add Automatic Linefeed
Digunakan untuk mengatur spesifikasi flow control automatic line feed
16. Open Port
Digunakan untuk mengatur eksekusi buka port komunikasi
17. Close Port
Digunakan untuk mengatur eksekusi tutup port komunikasi
18. Clear
Digunakan untuk menghapus semua tampilan data text
19. Transmit
Digunakan untuk mengatur proses transmit data dari PC ke alat secara
manual. Data yang akan di transmisikan di entry melalui kolom data
transmit, sedangkan reportnya akan ditampilkan melalui kolom data
receive.
20. COM Event
Digunakan untuk mencatat semua transmisi data yang melalui saluran
serial RS232, termasuk pengaturan program dan alat
21. Data Transmited
Digunakan untuk menampilkan string yang akan dikirim dari PC ke alat
22. Data Received
Digunakan untuk menampilkan string yang diterima dari alat ke PC
23. Data Exported
Digunakan untuk mengkonversi data string ke data numerik agar dapat
dimasukkan dalam grafik dan log
24. Turn On
Digunakan untuk mengatur proses penyalaan sistem hardware
25. Turn Off
Digunakan untuk mengatur proses mematikan sistem hardware
26. Start Capture
Digunakan untuk mengambil data dari alat dan menampilkannya
ke grafik dengan jangkah pengambilan data per 500mS
27. Stop Capture
Digunakan untuk menghentikan proses pengambilan data dari alat
dan melakukan proses penyimpanan gambar grafik dalam format bmp
unit Main;

interface

uses
Windows, Messages, SysUtils, Variants, Classes, Graphics, Controls, Forms,
Dialogs, StdCtrls, XPMan, ExtCtrls, ComCtrls, About, Help, Control;

type
TForm1 = class(TForm)
GroupBox1: TGroupBox;
ExitBtn: TButton;
HelpBtn: TButton;
AboutBtn: TButton;
Panel1: TPanel;
InitBtn: TButton;
XPManifest1: TXPManifest;
InitBox: TGroupBox;
ProgressBar1: TProgressBar;
PrgTimer: TTimer;
Image1: TImage;
Bevel1: TBevel;
MsgProg: TEdit;
Label1: TLabel;
HwrdData: TEdit;
procedure AboutBtnClick(Sender: TObject);
procedure ExitBtnClick(Sender: TObject);
procedure FormCreate(Sender: TObject);
procedure HelpBtnClick(Sender: TObject);
procedure InitBtnClick(Sender: TObject);
procedure PrgTimerTimer(Sender: TObject);
procedure HwrdDataKeyPress(Sender: TObject; var Key: Char);
private
{ Private declarations }
public
{ Public declarations }
end;

var
Form1: TForm1;
i : integer;
implementation

{$R *.dfm}

procedure TForm1.AboutBtnClick(Sender: TObject);

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 1


var
Flags: OLEVariant;
URLnya : string;

begin
Flags := 0;
URLnya := ExtractFilePath(Application.ExeName)+ 'about\about.html';
AboutFrm.WebBrowser1.Navigate(WideString(URLnya), Flags, Flags, Flags,
Flags);
AboutFrm.Visible :=true;

end;

procedure TForm1.ExitBtnClick(Sender: TObject);


begin
Application.Terminate;
end;

procedure TForm1.FormCreate(Sender: TObject);


begin
InitBox.Enabled :=false;
PrgTimer.Enabled :=false;
InitBtn.Enabled :=true;
end;

procedure TForm1.HelpBtnClick(Sender: TObject);


var
Flags: OLEVariant;
URLnya : string;

begin
Flags := 0;
URLnya := ExtractFilePath(Application.ExeName)+ 'help\help.html';
HelpFrm.WebBrowser1.Navigate(WideString(URLnya), Flags, Flags, Flags,
Flags);
HelpFrm.Visible :=true;
end;

procedure TForm1.InitBtnClick(Sender: TObject);


begin
if InitBtn.Caption = 'PassCode' then
begin
InitBtn.Caption := 'Processing';
i := 0;
PrgTimer.Enabled :=false;
ProgressBar1.Position := 0;

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 2


MsgProg.Text := '';
end
else
begin
InitBtn.Caption := 'PassCode';
ProgressBar1.Position := 0;
MsgProg.Text := '';
PrgTimer.Enabled :=false;
HwrdData.Enabled :=false;
Form1.Enabled :=false;
Form1.Visible :=false;
end;
end;

procedure TForm1.PrgTimerTimer(Sender: TObject);


begin
if i < ProgressBar1.Max then
begin
if ProgressBar1.Position = 0 then
MsgProg.Text := 'Initializing PC Connection.................';
if ProgressBar1.Position = 25 then
MsgProg.Text := 'Building Application And Connection Code';
if ProgressBar1.Position = 50 then
MsgProg.Text := 'Trying Application And Connection Access';
if ProgressBar1.Position = 90 then
begin
if HwrdData.Text <> 'nedwien' then
begin
MsgProg.Text := 'Error Code or Connection Failed';
ControlFrm.Visible :=false;
Application.Terminate;
end
else
begin
MsgProg.Text := 'PC Application And Connection Ready To Used';
ControlFrm.Visible :=true;
InitBtn.Enabled :=false;
AboutBtn.Enabled :=false;
HelpBtn.Enabled :=false;
end;
end;
ProgressBar1.Position := i;
inc(i);
end
else
InitBtnClick(InitBtn);

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 3


end;

procedure TForm1.HwrdDataKeyPress(Sender: TObject; var Key: Char);


begin
if key = #13 then
begin
PrgTimer.Enabled := true;
HwrdData.Enabled := false;
end;
end;
end.

unit About;

interface

uses
Windows, Messages, SysUtils, Variants, Classes, Graphics, Controls, Forms,
Dialogs, XPMan, StdCtrls, ExtCtrls, OleCtrls, SHDocVw;

type
TAboutFrm = class(TForm)
WebBrowser1: TWebBrowser;
private
{ Private declarations }
public
{ Public declarations }
end;

var
AboutFrm: TAboutFrm;

implementation

{$R *.dfm}

end.

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 4


unit Help;

interface

uses
Windows, Messages, SysUtils, Variants, Classes, Graphics, Controls, Forms,
Dialogs, OleCtrls, SHDocVw;

type
THelpFrm = class(TForm)
WebBrowser1: TWebBrowser;
private
{ Private declarations }
public
{ Public declarations }
end;

var
HelpFrm: THelpFrm;

implementation

{$R *.dfm}

end.

unit Control;

interface

uses
Windows, Messages, SysUtils, Variants, Classes, Graphics, Controls, Forms,
Dialogs, StdCtrls, VaClasses, VaComm, ComCtrls, ExtCtrls, TeEngine,
TeeFunci, Series, TeeProcs, Chart, jpeg;

type
TControlFrm = class(TForm)
StatusBox: TGroupBox;
OpenBtn: TButton;
CloseBtn: TButton;
ResetBtn: TButton;
TransBtn: TButton;
RptBtn: TButton;
VaComm1: TVaComm;

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 5


CTTimer: TTimer;
ParameterBox: TGroupBox;
Label1: TLabel;
LabelBaudrate: TLabel;
LabelDataBits: TLabel;
LabelStopbits: TLabel;
LabelParity: TLabel;
ComboPortNum: TComboBox;
ComboBaudrate: TComboBox;
ComboDatabits: TComboBox;
ComboStopbits: TComboBox;
ComboParity: TComboBox;
ReloadBtn: TButton;
EventBox: TGroupBox;
Memo1: TMemo;
RcvrBox: TGroupBox;
Memo2: TMemo;
TrnasBox: TGroupBox;
EditTransmit: TEdit;
ExportBox: TGroupBox;
EditReceive: TEdit;
FlowBox: TGroupBox;
CheckBoxXON: TCheckBox;
CheckBoxBREAK: TCheckBox;
CheckBoxDTR: TCheckBox;
CheckBoxRTS: TCheckBox;
CheckBoxAddLinefeed: TCheckBox;
Label2: TLabel;
Label3: TLabel;
ApplicationBox: TGroupBox;
ExitBtn: TButton;
ApplBtn: TButton;
TChart: TChart;
Series1: TLineSeries;
TGraphBtn: TButton;
TSGraphBtn: TButton;
Label4: TLabel;
procedure ComboPortNumChange(Sender: TObject);
procedure ComboBaudrateChange(Sender: TObject);
procedure ComboDatabitsChange(Sender: TObject);
procedure ComboStopbitsChange(Sender: TObject);
procedure ComboParityChange(Sender: TObject);
procedure ReloadBtnClick(Sender: TObject);
procedure CheckBoxDTRClick(Sender: TObject);
procedure CheckBoxRTSClick(Sender: TObject);
procedure CheckBoxXONClick(Sender: TObject);

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 6


procedure CheckBoxBREAKClick(Sender: TObject);
procedure OpenBtnClick(Sender: TObject);
procedure CloseBtnClick(Sender: TObject);
procedure ResetBtnClick(Sender: TObject);
procedure TransBtnClick(Sender: TObject);
procedure RptBtnClick(Sender: TObject);
procedure ExitBtnClick(Sender: TObject);
procedure FormCreate(Sender: TObject);
procedure VaComm1RxChar(Sender: TObject; Count: Integer);
procedure TGraphBtnClick(Sender: TObject);
procedure CTTimerTimer(Sender: TObject);
procedure TSGraphBtnClick(Sender: TObject);
procedure ApplBtnClick(Sender: TObject);
procedure StopChartClick(Sender: TObject);

private
{ Private declarations }
public
{ Public declarations }
end;

var
ControlFrm: TControlFrm;
i: integer;
z: integer;
RdADC: Byte;
RdADC2: integer;
S: string;
Ok: Boolean;
OKvbr: Boolean;
OKCap: Boolean;
OkOn: Boolean;
OkOff: Boolean;
implementation

uses DateUtils, Main;

{$R *.dfm}

procedure TControlFrm.ComboPortNumChange(Sender: TObject);


begin
try
VaComm1.PortNum := ComboPortNum.ItemIndex + 1;
except
ComboPortNum.ItemIndex := VaComm1.PortNum - 1;

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 7


raise;
end;
end;

procedure TControlFrm.ComboBaudrateChange(Sender: TObject);


begin
//ComboBaudrate.ItemIndex + 1
//Make sure we skip the brUser flag in TVaBaudRate
VaComm1.BaudRate := TVaBaudrate(ComboBaudrate.ItemIndex + 1);
Memo1.Lines.add('Baudrate: ' + ComboBaudrate.Text);
end;

procedure TControlFrm.ComboDatabitsChange(Sender: TObject);


begin
VaComm1.Databits := TVaDataBits(ComboDatabits.ItemIndex);
Memo1.Lines.add('Databits: ' + ComboDatabits.Text);
end;

procedure TControlFrm.ComboStopbitsChange(Sender: TObject);


begin
VaComm1.StopBits := TVaStopBits(ComboStopbits.ItemIndex);
Memo1.Lines.add('StopBits: ' + ComboStopbits.Text);
end;

procedure TControlFrm.ComboParityChange(Sender: TObject);


begin
VaComm1.Parity := TVaParity(ComboParity.ItemIndex);
Memo1.Lines.add('Parity: ' + ComboParity.Text);
end;

procedure TControlFrm.ReloadBtnClick(Sender: TObject);


begin
if MessageDlg('This options will reload COM parameter, continue process?',
mtConfirmation, [mbOk, mbCancel], 0) <> mrOk then exit;
EventBox.Enabled :=true;
StatusBox.Enabled :=true;
ApplicationBox.Enabled :=true;
EventBox.Enabled :=true;
TrnasBox.Enabled :=true;
RcvrBox.Enabled :=true;
ExportBox.Enabled :=true;
VaComm1.ResetPortParameters;
Memo1.Lines.Add('Reload Com Parameter');
ParameterBox.Enabled :=false;
FlowBox.Enabled :=false;
CloseBtn.Enabled :=false;

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 8


ExitBtn.Enabled :=false;
TSGraphBtn.Enabled :=false;
end;

procedure TControlFrm.CheckBoxDTRClick(Sender: TObject);


begin
VaComm1.SetDTR(CheckBoxDTR.Checked);
end;

procedure TControlFrm.CheckBoxRTSClick(Sender: TObject);


begin
VaComm1.SetRTS(CheckBoxRTS.Checked);
end;

procedure TControlFrm.CheckBoxXONClick(Sender: TObject);


begin
VaComm1.SetXOn(CheckBoxXON.Checked);
end;

procedure TControlFrm.CheckBoxBREAKClick(Sender: TObject);


begin
VaComm1.SetBREAK(CheckBoxBREAK.Checked);
end;

procedure TControlFrm.OpenBtnClick(Sender: TObject);


begin
if MessageDlg('This options will open PC-COM port, continue process?',
mtConfirmation, [mbOk, mbCancel], 0) <> mrOk then exit;
OpenBtn.Enabled :=false;
CloseBtn.Enabled :=true;
ResetBtn.Enabled :=true;
TransBtn.Enabled :=true;
RptBtn.Enabled :=true;
ApplBtn.Enabled :=true;
ExitBtn.Enabled :=false;
TSGraphBtn.Enabled :=false;
VaComm1.Open;
Memo1.Lines.Add('Com Port Open');
end;

procedure TControlFrm.CloseBtnClick(Sender: TObject);


begin
if MessageDlg('This options will close PC-COM port, continue process?',
mtConfirmation, [mbOk, mbCancel], 0) <> mrOk then exit;
VaComm1.Close;
Memo1.Lines.Add('Com Port Closed');

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 9


OpenBtn.Enabled :=true;
CloseBtn.Enabled :=false;
CTTimer.Enabled:=false;
TChart.Visible:=false;
TChart.Enabled:=false;
VaComm1.ResetPortParameters;
VaComm1.Close;
Self.Close;
Form1.Enabled :=true;
Form1.Visible :=true;
end;

procedure TControlFrm.ResetBtnClick(Sender: TObject);


begin
Memo1.Lines.Clear;
Memo2.Lines.Clear;
EditTransmit.Clear;
EditReceive.Clear;
end;

procedure TControlFrm.TransBtnClick(Sender: TObject);


begin
CTTimer.Enabled :=false;
TChart.Visible :=false;
S := EditTransmit.Text;
if CheckBoxAddLinefeed.Checked then
S := S + #13#10;
Ok := VaComm1.WriteText(S);
if not Ok then
Memo1.Lines.Add('Error writing to: ' + Format('Port %d',
[VaComm1.PortNum]))
else Memo1.Lines.Add(Format('Writing %d characters', [Length(S)]));
end;

procedure TControlFrm.RptBtnClick(Sender: TObject);


var
I: Integer;
S: string;
begin
if MessageDlg('This options will sent all string at transmited box a 3 times,
continue process?',
mtConfirmation, [mbOk, mbCancel], 0) <> mrOk then exit;
CTTimer.Enabled :=false;
TChart.Visible :=false;
S := EditTransmit.Text;
if CheckBoxAddLinefeed.Checked then

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 10


S := S + #13#10;
for I := 1 to 3 do
begin
VaComm1.WriteText(S);
Application.ProcessMessages;
end;
end;

procedure TControlFrm.ExitBtnClick(Sender: TObject);


begin
CTTimer.Enabled :=false;
TChart.Visible :=false;
TChart.Enabled :=false;
StatusBox.Enabled :=false;
ApplBtn.Enabled :=true;
ExitBtn.Enabled :=false;
EditTransmit.Clear;
Series1.Clear;
OKvbr:=false;
OkOn:=false;
OkOff:=true;
EditTransmit.Text := ('f');
S := EditTransmit.Text;
if CheckBoxAddLinefeed.Checked then
S := S + #13#10;
OkOff := VaComm1.WriteText(S);
if not OkOff then
Memo1.Lines.Add('Error writing to: ' + Format('Port %d',
[VaComm1.PortNum]))
else
Memo1.Lines.Add(Format('Writing %d characters', [Length(S)]));
StatusBox.Enabled :=true;
CloseBtn.Enabled :=true;
end;

procedure TControlFrm.FormCreate(Sender: TObject);


begin
with ComboPortNum do
ItemIndex := Items.IndexOf('none');
with ComboBaudrate do
ItemIndex := Items.IndexOf('none');
with ComboDataBits do
ItemIndex := Items.IndexOf('none');
with ComboParity do
ItemIndex := Items.IndexOf('none');
with ComboStopbits do

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 11


ItemIndex := Items.IndexOf('none');

//ComboBaudrate.ItemIndex + 1
//Make sure we skip the brUser flag in TVaBaudRate
VaComm1.BaudRate := TVaBaudrate(ComboBaudrate.ItemIndex+1);
VaComm1.Databits := TVaDataBits(ComboDatabits.ItemIndex);
VaComm1.Parity := TVaParity(ComboParity.ItemIndex);
VaComm1.StopBits := TVaStopBits(ComboStopbits.ItemIndex);
//All Read command disable
OKvbr:=false;
TChart.Visible :=false;
ParameterBox.Visible :=true;
FlowBox.Visible :=true;
EventBox.Visible :=true;
StatusBox.Visible :=true;
ApplicationBox.Visible :=true;
EventBox.Visible :=true;
TrnasBox.Visible :=true;
RcvrBox.Visible :=true;
ExportBox.Visible :=true;
EventBox.Enabled :=false;
StatusBox.Enabled :=false;
ApplicationBox.Enabled :=false;
EventBox.Enabled :=false;
TrnasBox.Enabled :=false;
RcvrBox.Enabled :=false;
ExportBox.Enabled :=false;
FlowBox.Enabled :=false;
CloseBtn.Enabled :=false;
ExitBtn.Enabled :=false;
TSGraphBtn.Enabled :=false;
end;

procedure TControlFrm.VaComm1RxChar(Sender: TObject; Count: Integer);


var
kar : char;
idx : integer;
val : string;
begin
Memo2.Clear;
Memo1.Lines.Add('Reading Command ' + IntToStr(Count) + ' bytes');
Memo2.Lines.Text := Memo2.Lines.Text + VaComm1.ReadText;
if OKvbr then
Memo2.Lines.Add('Capture Vibration Signal')
else
if OKOn then

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 12


Memo2.Lines.Add('Enable Hardware Control')
else
if OKOff then
Memo2.Lines.Add('Disable Hardware Control')
else
if OKcap then
begin
//untuk mengatasi masalah pembacaan data yang bukan 0-255
val := '';
for idx:=1 to length(Memo2.Text) do
begin
kar := Memo2.Text[idx];
if not (kar in ['0'..'9',#8]) then kar:= '0'; //reset value
val := val + kar;
end;
Memo2.Text := val;
RdADC:= StrToInt(Memo2.Text); //convert for series data
EditReceive.Text:=IntToStr(RdADC); //export to series
end;
end;

procedure TControlFrm.TGraphBtnClick(Sender: TObject);


begin
EditTransmit.Clear;
TGraphBtn.Enabled :=false;
TSGraphBtn.Enabled :=true;
TChart.Visible :=true;
TChart.Enabled :=true;
Series1.Clear;
OKvbr:=true;
OkOn:=false;
OkOff:=false;
EditTransmit.Text := ('e');
S := EditTransmit.Text;
if CheckBoxAddLinefeed.Checked then
S := S + #13#10;
OKvbr := VaComm1.WriteText(S);
if not OKvbr then
Memo1.Lines.Add('Error writing to: ' + Format('Port %d',
[VaComm1.PortNum]))
else
Memo1.Lines.Add(Format('Writing %d characters', [Length(S)]));
i:=0;
CTTimer.Enabled :=true;
end;

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 13


procedure TControlFrm.CTTimerTimer(Sender: TObject);
begin
if i<=60 then
begin
OKvbr:=false;
OKCap:=true;
Memo2.Clear;
EditTransmit.Text := ('bcd');
S := EditTransmit.Text;
if CheckBoxAddLinefeed.Checked then
S := S + #13#10;
Okcap := VaComm1.WriteText(S);
if not Okcap then
Memo1.Lines.Add('Error writing to: ' + Format('Port %d',
[VaComm1.PortNum]))
else
Memo1.Lines.Add(Format('Writing %d characters', [Length(S)]));
with TChart do
with Series1 do
AddXY(i,RdADC,'',clred);
inc(i);
end
end;

procedure TControlFrm.TSGraphBtnClick(Sender: TObject);


begin
OkCap:=false;
OKvbr:=false;
OkOn:=false;
OkOff:=false;
EditTransmit.Clear;
TSGraphBtn.Enabled :=false;
TGraphBtn.Enabled :=true;
TimeSeparator := ' ';
CTTimer.Enabled:=false;
TChart.SaveToBitmapFile(ExtractFilePath(Application.ExeName)+ '\Vibration
Report\VbrGraph_' + TimeToStr(time) + '.bmp');
TChart.Visible:=false;
TChart.Enabled:=false;
end;

procedure TControlFrm.ApplBtnClick(Sender: TObject);


begin
CTTimer.Enabled :=false;
ApplBtn.Enabled :=false;
ExitBtn.Enabled :=true;

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 14


EditTransmit.Clear;
TChart.Visible :=false;
TChart.Enabled :=false;
Series1.Clear;
OKvbr:=false;
OkOn:=true;
OkOff:=false;
EditTransmit.Text := ('a');
S := EditTransmit.Text;
if CheckBoxAddLinefeed.Checked then
S := S + #13#10;
OkOn := VaComm1.WriteText(S);
if not OkOn then
Memo1.Lines.Add('Error writing to: ' + Format('Port %d',
[VaComm1.PortNum]))
else
Memo1.Lines.Add(Format('Writing %d characters', [Length(S)]));
end;

procedure TControlFrm.StopChartClick(Sender: TObject);


begin
EditTransmit.Clear;
EditReceive.Clear;
EditTransmit.Clear;
Memo1.Clear;
Memo2.Clear;
StatusBox.Enabled :=true;
CloseBtn.Enabled :=false;
OpenBtn.Enabled :=true;
ExitBtn.Enabled :=true;
VaComm1.Close;
OKvbr:=false;
OKCap:=false;
CTTimer.Enabled:=false;
TChart.Visible:=false;
TChart.Enabled:=false;
end;

end.

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 15


Listing program Seismograph.exe…………………………………………...… 16