Anda di halaman 1dari 17

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN

INKLUSIF

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu usaha untuk mengembangkan potensi manusia adalah melalui pendidikan.
Tanggung jawab dalam bidang pendidikan seharusnya didukung bersama antara pemerintah,
masyarakat, dan para orang tua peserta didik. Kenyataannya, sampai saat ini yang lebih
berperan adalah pemerintah dan para orang tua peserta didik.

Peran pemerintah sudah banyak seperti menyelenggarakan sarana dan prasarana,


ketenagaan, dan kurikulum. Peranserta orang tua peserta didik selama ini masih terbatas
pada pemberian sumbangan dana (iuran BP3/Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan).
Sedangkan masyarakat selama ini belum optimal berperanserta.

Perubahan paradigma pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi menghendaki


peranserta masyarakat untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi
daerah termasuk dalam bidang pendidikan. Hal ini tercantum dalam tujuan otonomi daerah
yaitu memberdayakan masyarakat, meningkatkan peranserta masyarakat, termasuk dalam
meningkatkan sumber dana dan dalam penyelenggaraan pendidikan termasuk dalam
pendidikan inklusif (Inclusive Education).

Masyarakat sebagai salah satu penanggung jawab pendidikan termasuk pendidikan inklusif
dapat berperanserta sebagai: (1) pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan
pelaksanaan kebijakan pendidikan di sekolah; (2) pendukung (supporiting agency), baik yang
berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di
sekolah; (3) pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas
penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di sekolah; dan (4) mediator antara pemerintah
(eksekutif) dengan masyarakat di sekolah. Peran serta masyarakat (community based
participation) dalam pendidikan inklusif dapat dilakukan secara perseorangan; kelompok; atau
kelembagaan seperti yayasan, organisasi masyarakat, dan pihak swasta. Agar peran serta
masyarakat luas terhadap pendidikan inklusif lebih berhasil dan tepat guna maka diperlukan
suatu pedoman. Untuk itu perlu disusun Buku Pemberdayaan Masyarakat Dalam
Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif.

B. Tujuan Penulisan Buku


Setelah membaca buku Pemberdayaan Masyarakat, pembaca (terutama para Pembina dan
Pelaksana pendidikan di lapangan) diharapkan mampu memberdayakan masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan inklusif.

II. DESENTRALISASI PENDIDIKAN

A. Arah Perubahan Paradigma Pendidikan


Reformasi pemerintahan yang terjadi di Indonesia telah mengakibatkan terjadinya pergeseran
pemerintahan dengan pemberian otonomi yang luas dan nyata kepada daerah. Maksud
pemberian otonomi ini adalah untuk lebih memandirikan daerah dan memberdayakan
masyarakatnya sehingga lebih leluasa dalam mengatur dan melaksanakan kewenangan atas
prakarsa sendiri.

Pemberian otonomi yang luas dan bertanggung jawab dilaksanakan berdasarkan prinsip-
prinsip demokrasi, peranserta masyarakat, pemerataan, berkeadilan, dan memperhatikan
potensi serta keanekaragaman daerah. Hal yang lebih esensial dari otonomi adalah semakin
besarnya tanggung jawab daerah untuk mengurus tuntas segala permasalahan yang
tercakup di dalam pembangunan masyarakat di daerahnya, termasuk dalam bidang
pendidikan.

Salah satu tujuan Undang-Undang No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah adalah untuk
memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan
peranserta masyarakat, termasuk dalam meningkatkan sumber dana dan dalam
penyelenggaraan pendidikan. Peran serta masyarakat dalam pendidikan dapat dilakukan
oleh perseorangan, kelompok, ataupun lembaga seperti yayasan, organisasi masyarakat atau
pihak swasta. Peran serta perseorangan, kelompok, dan swasta dalam pendidikan akan lebih
efektif karena hasil peranserta masyarakat dapat secara langsung dinikmati oleh masyarakat
itu sendiri.

Berkenaan dengan hal tersebut, arah perubahan paradigma pendidikan dari paradigma lama
ke paradigma baru meliputi berbagai aspek mendasar di bawah ini.

PARADIGMA LAMA PARADIGMA BARU


1. Sentralistik 1. Desentralistik
2. Kebijakan yang top down 2. Kebijakan yang bottom up
3. Orientasi pengembangan parsial: 3. Orientasi pengembangan holistic:
pendidikan untuk pertumbuhan pendidikan untuk pengembangan
ekonomi, stabilitas politik, dan kesadaran ,untuk bersatu dalam
teknologi perakitan kemajemukan budaya, menjunjung
tinggi nilai moral, kemanusiaan dan
agama, kesadaran kreatif, produktif,
kesadaran hukum
4. Peran pemerintah sangat dominan 4. Meningkatkan peranserta
masyarakat secara kualitatif dan
kuantitatif;
5. Lemahnya peran institusi 5. Pemberdayaan institusi masyarakat:
nonsekolah keluarga, LSM, pesantren, dan dunia
usaha.

B. Partisipasi Masyarakat
Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan atau peranserta seseorang dalam suatu
aktivitas tertentu atau obyek tertentu. Dengan demikian partisipasi masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan inklusif adalah ikutsertaan atau peranserta masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan inklusif.

Partisipasi seseorang atau suatu kelompok masyarakat terhadap penyelenggaraan


pendidikan inklusif tergantung pada pengetahuan tentang pendidikan inklusif sehingga terlihat
pada (1) pengambilan keputusan terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusif, (2) reaksi
terhadap pendidikan inklusif, (3) sikap terhadap pendidikan inklusif yaitu perasaan terhadap
penyelenggaraan pendidikan inklusi; tingkah laku yakni apa yang hendak dilakukannya
terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusif; dan keyakinan-keyakinan yang ada tentang
penyelenggaraan pendidikan inklusif tersebut; dan (4) kebutuhan terhadap penyelenggaraan
pendidikan inklusif. Sedangkan tingkat partisipasi baik perseorangan maupun kelompok
terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusif dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu: (1)
derajat keterlibatan, mulai dari yang sekedar mengetahui adanya suatu usaha sampai
dengan ikut aktif menyumbangkan pikiran, tenaga, maupun materi; (2) prakarsa keterlibatan,
yang dapat dibedakan antara keterlibatan spontan, dengan persuasi, atau melalui paksaan;
(3) organisasi keterlibatan, yang dapat dibedakan menjadi keterlibatan secara perseorangan
atau secara kelompok; dan (4) sikap dalam keterlibatan, mulai dengan yang mendukung,
setuju, sampai yang menentang.

C. Pendayagunaan Partisipasi Masyarakat


Sampai saat ini terdapat sejumlah industri telah menaruh perhatian positif terhadap
pendidikan. Perhatian itu diwujudkan dalam bentuk seperti pemberian beasiswa dan menjadi
orang tua asuh.

Partisipasi masyarakat industri ini dapat didayagunakan lebih optimal dengan memberikan
insentif seperti kemudahan perizinan dan pemberian penghargaan kepada dunia
usaha/industri yang berperan aktif membantu dalam pendidikan. Bantuan dari dunia industri
ini dapat berupa penyediaan jumlah tertentu dari anggaran pengeluarannya untuk bidang
pendidikan seperti dana khusus untuk pendidikan dan atau pemberian kesempatan kepada
siswa/sekolah untuk menggunakan fasilitas industri untuk kepentingan praktik.

Selain itu pondok-pondok pesantren, tempat-tempat ibadah, keluarga, lembaga adat, bahkan
partai politik perlu menyadari potensi peran dan tanggung jawabnya dalam melakukan
pendidikan bagi anak-anak bangsa. Apabila lebih banyak masyarakat peduli terhadap
pendidikan maka pendidikan akan lebih mampu menjangkau berbagai kelompok sasaran
termasuk kepada anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus (anak luar biasa).

Strategi pendayagunaan bersama sumber daya pendidikan perlu dikembangkan menjadi


hubungan simbiotik antara pemerintah, politisi, penyelenggara pendidikan, pemerhati
pendidikan, LSM, dan yayasan-yayasan. Hubungan simbiotik ini diharapkan mampu
mendorong perkembangan pendidikan. Sementara itu, di kalangan stakeholders pendidikan
hendaknya dikembangkan kesadaran untuk tidak mengambil keuntungan finansial semata
dari pendidikan. Penyelenggara pendidikan yang mendapatkan dana dari penyelenggaraan
pendidikannya perlu didorong menggunakan semua dana untuk investasi bagi peningkatan
mutu pendidikan.

Hubungan simbiotik tersebut perlu difasilitasi melalui strategi sebagai berikut:

Pertama, dikembangkan wadah yang memungkinkan banyak pihak saling bertemu,


berdiskusi, dan membangun komitmen bersama. Wadah tersebut berfungsi melembagakan
hubungan simbiotik tersebut sehingga hubungan itu tidak hanya terjadi secara insidental,
melainkan secara sinambung.

Kedua, dilakukan regulasi yang mempunyai kekuatan hukum, mengatur kewenangan dan
kekuasaan pemerintah, masyarakat, dan orang tua siswa yang antara lain mengatur sanksi
atas pelanggaran dan penyimpangan dalam penyelenggaran dan pelaksanaan pendidikan.
Dalam hal ini, pemerintah tetap memainkan peranan yang strategis dalam penyelenggaraan
pendidikan pada era otonomi daerah.

Ketiga, dikembangkan upaya-upaya untuk memotivasi orang tua, masyarakat, dan


penyelenggara pendidikan untuk menjalin hubungan sinergis dan saling menguntungkan
dengan pemerintah. Bentuk wadah bersama tersebut dapat berupa organisasi formal-
struktural atau organisasi informal yang lebih bersifat fungsional, misalnya untuk lingkup
Propinsi atau Kabupaten/Kota berbentuk Dewan Pendidikan, sedangkan untuk lingkup
sekolah berbentuk Komite Sekolah.

III. STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

A. Bentuk Partisipasi Masyarakat


Permasalahan dalam pendidikan tidak mungkin diatasi hanya oleh pemerintah dan atau
lembaga persekolahan. Peran serta aktif dari masyarakat (orang tua, keluarga/wali,
masyarakat luas) diperlukan dalam mengatasi persoalan pendidikan inklusif dan pelaksanaan
program-program pendidikan inklisif. Partisipasi masyarakat hendaknya tidak hanya dalam
pendanaan, tetapi juga dalam bentuk sumbangan pemikiran dan ketenagaan.

Bentuk peranserta masyarakat dalam pendidikan nasional tercantum dalam Peraturan


Pemerintah No. 39/1992 pasal 4 dan dikaitkan dengan penyelenggaraan pendidikan inklusif
yaitu:

(1) Pendirian dan penyelenggaraan satuan pendidikan pada jalur pendidikan


sekolah atau jalur pendidikan luar sekolah, pada semua jenis pendidikan
kecuali pendidikan kedinasan, dan pada semua jenjang pendidikan di
jalur pendidikan sekolah.

mplikasi dari ayat 1 ini adalah diharapkan baik sekolah-sekolah negeri


dan swasta dapat menyelenggarakan pendidikan iklusif.

(2) Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga kependidikan untuk


melaksanakan atau membantu pelaksanaan pengajaran, pembimbingan,
dan/atau pelatihan peserta didik.

Dalam ayat ke 2 ini dapat dikatakan bahwa bagi orang tua yang
kebetulan memiliki keahlian (profesi) dan waktu luang sebagai tenaga
pengajar, diharapkan dapat membantu sebagai tenaga pengajar di kelas
inklusif, baik sebagai Guru Kelas, Guru Bidang Studi, maupun guru
Pembimbing Khusus.

(3) Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga ahli untuk membantu


pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar dan/atau penelitian dan
pengembangan.

Dalam ayat ini dapat dikatakan bagi orang tua yang berprofesi sebagai
Dokter, Psikolog, Orthopedagog, Therapis, dan profesi lain yang relevan
dengan anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus, diharapkan dapat
membantu untuk mengidentifikasi, melakukan asesmen, dan atau
memberikan pembelajaran dan atau pelatihan bagi anak-anak yang
memiliki kebutuhan khusus.

(4) Pengadaan dan atau penyelenggaraan program pendidikan yang belum


diadakan dan/atau diselenggarakan oleh pemerintah untuk menunjang
pendidikan nasional.

Dalam hal ini, masyarakat diharapkan dapat menyelenggarakan antara


lain Pusat-Pusat Sumber (Resources Centres), Pusat-Pusat Rehabilitasi,
dan sejenisnya, yang dapat memberikan pelayanan/bimbingan bagi anak-
anak yang memiliki kebutuhan khusus.

(5) Pengadaan dana dan pemberian bantuan yang dapat berupa wakaf, hibah,
sumbangan, pinjaman, beasiswa, dan bentuk lain yang sejenis.

Dalam ayat ini dapat berarti bahwa masyarakat diharapkan dapat


memberikan bantuan baik berupa dana, wakaf, hibah, sumbangan,
pinjaman, beasiswa, dan bentuk lain yang sejenis, untuk kepentingan
pendidikan inklusif bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus
yang memerlukan

(6) Pengadaan dana dan pemberian bantuan ruangan, gedung, dan tanah
untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.

Dalam hal ini, masyarakat diharapkan dapat memberikan bantuan, baik


berupa dana dan atau prasarana pendidikan untuk melaksanakan kegiatan
belajar-mengajar di sekolah-sekolah inklusif

(7) Pengadaan dana dan pemberian bantuan buku pelajaran dan peralatan
pendidikan untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.

Disini dapat berarti bahwa masyarakat diharapkan dapat memberikan


bantuan, baik berupa dana dan atau bantuan buku-buku pelajaran yang
dibutuhkan serta sarana pendidikan untuk melaksanakan kegiatan
belajar-mengajar sekolah-sekolah inklusif

(8) Pemberian kesempatan untuk magang dan/atau latihan kerja.

Dalam hal ini, para Pengusaha dan atau masyarakat Industri diharapkan
dapat memberikan kesempatan kepada anak-anak yang memiliki
kebutuhan khusus dapat magang dan atau latihan kerja di instansinya.

(9) Pemberian bantuan manajemen bagi penyelenggaraan satuan pendidikan


dan pengembangan pendidikan nasional

Dapat diartikan bahwa masyarakat dapat melibatkan diri dalam:


membantu (1) merencanakan (planning), (2) mengorganisasikan
(organizing), (3) mengarahkan (directing), (4) mengkoordinasikan
(coordinating), (5) mengawasi (controlling), dan (6) mengevaluasi
(evaluation), penyelenggaraan sekolah-sekolah inklusif

(10) Pemberian pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan penentuan


kebijaksanaan dan/atau penyelenggaraan pengembangan pendidikan
nasional

Dalam ayat ini dapat diartikan bahwa masyarakat diharapkan dapat


memberikan sumbangan pemikiran dan atau pertimbangan berkenaan
dengan penentuan kebijaksanaan dan atau penyelenggaraan dan
pengembangan pendidikan inklusif.

(11) Pemberian bantuan dan kerja sama dalam kegiatan penelitian dan
pengembangan

Dalam hal ini, masyarakat diharapkan dapat memberikan bantuan


dan/atau kerja sama dalam kegiatan penelitian dan pengembangan
pendidikan inklusif.

(12) Keikutsertaan dalam program pendidikan dan atau penelitian yang


diselenggarakan oleh pemerintah di dalam dan/atau di luar negeri.

Kaitannya dengan pendidikan inklusif adalah masyarakat diharapkan


dapat terlibat dalam penyelenggaraan program pendidikan inklusif dan
atau penelitian dalam antara lain pengembangan pendidikan inklusif
yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun pihak asing di dalam dan
atau di luar negeri.

B. Menstimulasi Partisipasi Masyarakat


Kualitas sumber daya manusia (SDM) pada suatu daerah, tidak hanya bergantung pada
upaya-upaya yang dilakukan sekolah, namun juga tergantung pada tingkat partisipasi
masyarakat terhadap pendidikan. Semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat terhadap
pendidikan di suatu daerah, semakin maju SDM pada daerah tersebut dan sebaliknya,
semakin rendah tingkat partisipasi masyarakat terhadap pendidikan di suatu daerah, semakin
mundur pula SDM pada daerah tersebut.

Oleh karena itu, masyarakat hendaknya selalu dilibatkan dalam pembangunan pendidikan di
daerahnya. “Rasa ikut memiliki” sekolah inklusif hendaknya ditumbuhkan pada masyarakat di
daerah sekitarnya, sehingga kualitas sekolah inklusif juga merupakan tanggungjawab
bersama masyarakat setempat, bukan hanya tanggung jawab Pemerintah, Kepala Sekolah,
dan Dewan Guru.

Pemberdayakan masyarakat (perseorangan, dan kelompok seperti organisasi, yayasan,


dunia usaha, dan dunia industri) dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, perlu dilakukan
berbagai upaya, antara lain:

1. Sosialisasi tentang konsep, penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan inklusif


kepada para pembina dan pelaksana pendidikan di lapangan (baik sekolah negeri
maupun sekolah swasta), agar mereka memiliki persepsi yang sama. Materi yang
disosialisasikan adalah Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Inklusf, yang terdiri
atas 8 (delapan) buku, yaitu:
a. Mengenal Pendidikan Inklusi;
b. Identifikasi Anak Luar Biasa;
c. Pengembangan Kurikulum;
d. Pengadaan dan Pembinaan Tenaga Kependidikan;
e. Pengadaan dan Pengelolaan Sarana-Prasarana;
f. Kegiatan Belajar Mengajar;
g. Manajemen Sekolah;
h. Pemberdayaan Peranserta Masyarakat.
2. Pemerintah memfasilitasi berbagai kegiatan sekolah yang terkait dengan
penyelenggaraan pendidikan inklusi, antara lain:
a. Pengidentifikasian siswa yang memiliki kebutuhan khusus;
b. Pengembangan kurikulum dan bahan ajar;
c. Pengadaan dan pembinaan tenaga kependidikan. Tenaga kependidikan yang
terlibat dalam pelaksanaan pendidikan inklusif perlu diberi insentif seperti tambahan
penghasilan dan penghargaan lainnya (sertifikat, kemudahan naik pangkat, dan
sebagainya);
d. Pengadaan dan pengelolaan sarana-prasarana;
e. Manajemen sekolah;
f. Kegiatan belajar-mengajar; dan
g. Pemberdayaan masyarakat.
3. Pemerintah bersama Sekolah mensosialisasikan kepada masyarakat (perseorangan,
organisasi, yayasan, dunia usaha, dan dunia industri) baik secara lisan maupun
dengan bahan tertulis (brosur dan sejenisnya), mengenai:
a. Konsep dan perlunya penyelenggaraan pendidikan inklusif, sehingga masyarakat
memiliki persepsi yang sama mengenai pendidikan inklusif;
b. Program-program Pemerintah/Sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan
inklusif, baik program yang telah dilaksanakan, yang sedang dilaksanakan, maupun
yang akan dilaksanakan sehingga masyarakat mendapat gambaran yang jelas.

C. Wadah Partisipasi Masyarakat


Partisipasi masyarakat perlu diwadahi agar dapat dikelola dan dikoordinasikan dengan baik
dan lebih bermakna bagi sekolah, terutama dalam meningkatkan mutu dan efektivitas dalam
penyelenggaraan pendidikan inklusif. Oleh karena itu sesuai dengan UU nomor 25 tahun
2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004 untuk lingkup sekolah
inklusif wadah yang perlu dibentuk adalah Komite Sekolah, dan untuk lingkup Propinsi
dan/atau Kabupaten/Kota wadah berbentuk Dewan Pendidikan.
1. Komite Sekolah

Komite sekolah inklusif ditetapkan untuk pertama kali dengan Surat Keputusan kepala satuan
pendidikan, dan selanjutnya diatur dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah
Tangga (ART). Untuk kekuatan hukum maka Komite Sekolah inklusif dapat dikukuhkan oleh
pejabat pemerintah setempat seperti Kepala Dinas Kabupaten, bupati atau walikota.

a. Keanggotaan Komite Sekolah inklusif terdiri atas:

1. Unsur masyarakat, yang dapat meliputi:


a) Orang tua/wali siswa;
b) Tokoh masyarakat;
c) Tokoh pendidikan;
d) Dunia usaha/industri;
e) Organisasi profesi tenaga kependidikan;
f) Wakil alumni;
g) Wakil siswa.
2. Unsur dewan guru, dan yayasan/lembaga penyelenggara pendidikan. Selain itu
Badan Pertimbangan Desa dapat dilibatkan pula sebagai anggota Komite Sekolah
inklusif.

b. Peran Komite Sekolah inklusif sebagai:

1. Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan pelaksanaan kebijakan


pendidikan di sekolah;
2. Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun
tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah;
3. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas
penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di sekolah;
4. Mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di sekolah.

c. Fungsi Komite Sekolah inklusif adalah:

1. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap


penyelenggaraan pendidikan inklusif yang bermutu;
2. Melakukan kerja sama dengan masyarakat (perorangan/ organisasi/dunia
usaha/dunia industri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan
pendidikan inklusif yang bermutu;
3. Menampung dan menganalisis asspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan
pendidikan inklusif yang diajukan oleh masyarakat;
4. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada sekolah mengenai:
a) Kebijakan dan program pendidikan inklusif;
b) Rencana Angaran Pendidikan inklusif dan Belanja Sekolah (RAPBS);
c) Kriteria kinerja sekolah inklusif;
d) Kriteria tenaga kependidikan pada sekolah inklusif;
e) Kriteria fasilitas pendidikan inklusif, dan;
f) Hal lain yang terkait dengan pendidikan inklusif.
5. Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan inklusif guna
mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan;
6. Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan
pendidikan sekolah inklusif;
7. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program,
penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan sekolah inklusif.

2. Dewan Pendidikan

Dewan Pendidikan adalah suatu badan yang bersifat mandiri dan otonom yang menganut
azas kebersamaan yang diatur oleh AD dan ART.
a. Keanggotaan Dewan Pendidikan terdiri atas:

1. Unsur masyarakat, yang dapat meliputi:


a) Lembaga Swadaya Masyarakat;
b) Tokoh masyarakat (ulama, budayawan, pemuka adat, dll.);
c) Anggota masyarakat yang mempunyai perhatian pada peningkatan mutu
pendidikan termasuk pendidikan inklusif atau yang dijadikan unggulan di daerahnya;
d) Tokoh dan pakar pendidikan yang mempunyai perhatian pada peningkatan mutu
pendidikan termasuk pendidikan inklusif;
e) Yayasan penyelenggara pendidikan (sekolah, luar sekolah, madrasah, pesantren);
f) Dunia usaha/industri/asosiasi profesi (pengusaha industri, jasa, asosiasi, dll);
g) Organisasi profesi tenaga kependidikan (PGRI, ISPI, dll);
h) Perwakilan dari Komite Sekolah yang disepakati.
2. Unsur birokrasi sebagai unsur tambahan seperti unsur Dinas Pendidikan setempat
dan dari unsur Legislatif yang membidangi pendidikan, dapat dilibatkan sebagai
anggota Dewan Pendidikan maksimal 4-5 orang.

b. Peran Dewan Pendidikan sebagai:

1. Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan pelaksanaan kebijakan


pendidikan termasuk pelaksanaan kebijakan pendidikan inklusif;
2. Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun
tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan termasuk pendidikan inklusif;
3. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas
penyelenggaraan dan keluaran pendidikan termasuk keluaran sekolah inklusif; dan
4. Mediator antara pemerintah (eksekutif) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(legislative) dengan masyarakat.

c. Fungsi Dewan Pendidikan adalah:

1. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap


penyelenggaraan pendidikan termasuk pendidikan inklusif yang bermutu;
2. Melakukan kerja sama dengan masyarakat (perorangan/ organisasi/dunia
usaha/dunia industri) pemerintah, dan DPRD berkenaan dengan penyelenggaraan
pendidikan termasuk pendidikan inklusif yang bermutu;
3. Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan
pendidikan termasuk kebutuhan pendidikan inklusif yang diajukan oleh masyarakat;
4. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada pemerintah
daerah/DPRD mengenai:
a) Kebijakan dan program pendidikan termasuk program pendidikan inklusif;
b) Kriteria kinerja daerah dalam bidang pendidikan termasuk bidang pendidikan
inklusif;
c) Kriteria tenaga kependidikan termasuk tenaga kependidikan untuk sekolah-sekolah
inklusif, khususnya guru/tutor dan kepala satuan pendidikan;
d) Kriteria fasilitas pendidikan termasuk fasilitas pendidikan inklusif; dan
e) Hal lain yang terkait dengan pendidikan termasuk pendidikan inklusif.
5. Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan termasuk
pendidikan inklusif;
6. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program,
penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan termasuk keluaran pendidikan inklusif.

http://www.ditplb.or.id/profile.php?id=58 17/01/2011 10:54:01

Selasa, 02 November 2010


Strategi Pengembangan Perguruan Tinggi Swasta
Penulis: Dra. Ipong Dekawati, M.Pd. (dosen tetap STKIP Subang di Subang)

Abstrak: Pengembangan organisasi merupakan bagian penting dalam sistem


pendidikan di PTS. Hal ini karena mempunyai pengaruh yang kuat terhadap
keberhasilan pencapaian tujuan perguruan tinggi, khususnya pengembangan
organisasi yang menyangkut persepektif keuangan, costumer, proses bisnis/jasa
pendidikan, dan pembelajaran dan pertumbuhan. Balanced Scorcard (BSC) sebagai
alternatif pengembangan organisasi. Di dalam rangka pengembangan organisasi, PTS
hendaknya mengoptimalkan layanan pendidikan dengan potensi sumber daya yang
ada sesuai dengan tuntutan lingkungan internal dan eksternal.

Kata Kunci: Balanced Scorecard, BSC, mutu perguruan tinggi.

A. Pendahuluan

Pendidikan tinggi adalah pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dari pendidikan
menengah di jalur pendidikan sekolah. Sedangkan perguruan tinggi adalah satuan
pendidikan yag menyelenggarakan pendidikan tinggi (PP No. 30/1990). Dalam PP
tersebut dikemukakan bahwa pendidikan tinggi:

1. menyiapkan peserrta didik menjadi anggora masyarakat yang memiliki akademik


dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan atau menciptakan
ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau kesenian.

2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan atau


kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan
masyarakat dan memerkaya kebudayan nasional.

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 pasal (19)


menyebutkan bahwa pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah
pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana,
magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi. Dan
pada pasal 24 ayat (2) berbunyi bahwa perguruan tinggi memiliki otonomi untuk
mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi,
penelitian ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat. Berkenaan dengan pendanaan,
ayat (3) berbunyi perguruan tinggi dapat memperoleh sumber dana dari masyarakat
yang pengelolaannya dilakukan berdasarkan prinsip akuntabilitas publik.

Pendidikan tinggi, seperti halnya pendidikan dasar dan menengah, menurut UU


Sisdiknas, bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah,
orang tua dan masyarakat. Ini artinya, masyarakat memiliki hak untuk mendirikan dan
mengelola peguruan tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Penyelenggaraan perguruan tinggi yang dilakukan masyarakat, dilaksanakan melalui


badan yang sifatnya layanan sosial atau yayasan yang telah mendapatkan pengakuan
dari pemerintah. Kran dan peluang ini dimafaatkan betul oleh masyarakat sehingga
perguruan tinggi swasta menjamur di mana-mana. Persoalannya, seiring dengan
kebebasan perguruan tinggi negeri membuka berbagai jurusan dan program studi,
keberadaan perguruan tinggi swasta semakin terancam. Tak sedikit, perguruan tinggi
swasta yang gulung tikar karena tidak mampu bersaing memperebutkan mahasiswa.

Banyak faktor yang memengaruhi ketidakberdayaan perguruan tinggi swasta ini,


diantaranya strategi pengembangan organisasi PTS yang kurang baik. Oleh karena itu,
upaya mengoptimalkan mutu layanan PTS sesuai dengan tuntutan internal dan
eskternal perlu dilakukan. Pengembangan organisasi PTS harus mengalami
pergeseran pada mutu layanan, dikelola dengan baik dan transparan, dikembangkan
berlandaskan visi dan misi yang jelas, dan diikuti serta dilaksanakan oleh setiap
individu yang terlibat dalam pengelolaan PTS tersebut.

Roberts S. Kaplan dan David P. Norton (2000:8) menawarkan sebuah konsep


Balanced Scorcard (BSC) sebagai alternatif pengembangan organisasi, yaitu dengan
memperluas kinerja eksekutif/personel ke empat persepektif: finansial,
customer/pelanggan, proses bisnis internal, dan pembelajaran dan pertumbuhan.
Konsep ini sangat tepat bila diterapkan dalam pengembangan organisasi PTS yang
telah mengalami kemunduran ini.

Sejalan dengan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka perumusan
masalah dalam pembahasan ini adalah bagaimana strategi pengembangan organisasi
Perguruan Tinggi Swasta. Lebih rinci diuraikan dalam bentuk rumusan pertanyaan
berikut ini:

1. Bagaimana merumuskaan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang


dihadapi dalam pengembangan organisasi PTS dan bagaimana cara mengatasi dan
memanfaatkannya?

2. Bagaimana penerapan visi, misi, dan strategi telah dilaksanakan sesuai dengan
analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki?

B. Konsep Strategi Pengembangan Organisasi

Pengembangan organisasi merupakan upaya meningkatkan kemampuan organisasi


berdasarkan persepektif waktu jangka panjang yang terdiri dari serangkaian
penahapan dengan penekanan pada hubungan antar individu, kelompok dan organisasi
sebagai keseluruhan. Pengembanga organisasi dapat juga dikatakan aplikasi
pendekatan kesisteman terhadap hubungan fungsional, struktural, teknikal, dan
personal dalam organisasi.

Pengembangan organisasi merupakan suatu perubahan organisasi, oleh karena itu


Sondang P Siagian (1995:21) mengatakan bahwa persepsi tentang perlunya perubahan
harus dirasakan karena hanya dalam kondisi demikianlah para anggota organisasi
dapat diyakinkan bahwa dalam upaya mencapai tujuan dan berbagai sasaran
organisasi, diperlukan cara kerja baru, metode kerja baru, dan bahkan mungkin
strategi dan visi yang baru.

Salah satu ciri umum pengembangan organisasi adalah bahwa pengembangan


organisasi merupakan suatu proses yang terus menerus dan dinamis. Pelaksana harus
mampu mengubah strategi selama proses sedang berlangsung sebagai akibat masalah-
masalah yang timbul dan kejadian-kejadian organisasi. Moekijat (1993:8) mengutip
pendapat Gary Dessler mengatakan bahwa ciri umum pengembangan organisasi
adalah suatu strategi pendidikan yang dimaksudkan untuk menimbulkan perubahan
organisasi yang telah direncanakan.

Ada empat tipe pengembangan organisasi, yakni pengembangan teknologi,


pengembangan produk, administratif dan pengembangan sumber daya manusia.
Pengembangan teknologi berkenaan dengan proses pendidikan disesuaikan dengan
kebutuhan layanan yang strategis, dan tekologi pendidikan yang dapat menunjang
PBM. Sedangkan pengembangan produk adalah berkenaan dengan hasil atau layanan
keluaran organisasi dalam proses pendidikan. Lain halnya dengan pengembangan
administrasi yakni berkenaan organisasi pendidikan, mencakup struktur, tujuan,
kebijakan, insentif, sistem informasi dan anggaran. Dan yang dimaksud dengan
pengembangan sumber daya manusia adalah pengembangan sikap, keterampilan,
pengharapan, kepercayaan, perilaku para pegawai termasuk pimpinan.

Dale S. Beach (1975:426) dalam bukunya yang berjudul Personel: The Management
of people at Work mengatakan bahwa organization developement is a complex
educational strategy designed to increase organizational effectiveness and health
through planned intervention by a consultant using theory and techniques of applied
behavioral science. Sedangkan Harold Koontz, Cyril O’Donnell, dan Heinz
Weichrich (1980:592) mengatakan organizational develompement, typically
shortened to “OD”, is a systematic, integrated, and planned approach to improve the
effectiveness of an enterprise.

Lain halnya dengan Sondang P. Siagian mengatakan bahwa pengembangan organisasi


merupakan upaya peningkatan kemampuan organisasi berdasarkan persefektif waktu
jangka panjang yang terdiri dari serangkaian penahapan dengan penekanan pada
hubungan antar individu, kelompok, dan organisasi sebagai keseluruhan. Dan
Manajemen Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen dalam buku kamus
istilahnya (1983:124) mengatakan bahwa pengembangan organisasi adalah
peningkatan kemampuan organisasi untuk mencapai tujuannya dengan memanfaatkan
potensi manusia secara lebih efektif dan mengevaluasi setiap perubahan dan
mengarahkannya secara konstruktif.

Sementara itu, strategi adalah cara untuk mencapai tujuan dengan daya dan sarana
yang dapat dihimpun (Soekarton (1993:35). Sedangkan Siagian (1985:21)
menyebutkan bahwa strategi merupakan cara-cara yang sifatnya mendasar dan
fundamental yang akan dipergunakan oleh suatu organisasi untuk mencapai tujuan
dan berbagai sasarannya.

Hakikat strategi adalah cara berpikir manusia secara sistematis. Kenneth Primozic
(1991:7) menggolongkan berpikir manusia yakni “secara mekanik, institusi dan
strategik”. Ketiga cara berpikir tersebut menurutnya bahwa cara strategik lebih kreatif
dan dinamis selaras dengan permasalahan yang ditemukan.

Agustinus SW (1996:4) mengemukakan bahwa karakteristik masalah strategik


menyangkut orientasi ke masa depan; berhubungan dengan unit-unit kegiatan yang
kompleks; perhatian manajemen puncak; pegaruh jangka panjang; alokasi sumber-
sumber daya. Berkenaan dengan banyak pilihan sebagai alternatif pemecahan
masalah, semakin kecil tingkat kesalahan yang timbul di masa depan.
Sedangkan strategi menurut Hax dan Majlur (dalam Salusu, 1996:100):

1. ialah suatu pola keputusan yang konsisten, menyatu dan integral;

2. menentukan dan menampilkan tujuan organisasi dalam artian sasaran jangka


panjang, program bertindak dan prioritas alokasi sumber daya;

3. menyeleksi bidang yang akan digeluti organisasi;

4. mencoba mendapatkan keuntungan yang mampu bertahan lama, dengan


memberikan respon yang tepat terhadap peluang dan ancaman dari lingkungan
eksternal organisasi dan kekuatan serta kelemahannya;

5. melibatkan semua tingkat hirarki dari organisasi.

Strategi merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan organisasi, untuk itu Wahyudi
(1996:17) mengemukakan sifat-sifat dari suatu strategi adalah sebagai berikut:

1. menyatu (unified), yaitu menyatukan seluruh bagian-bagian dalam organisasi;

2. menyeluruh (comprehensive), yaitu mencakup seluruh aspek dalam organisasi;

3. integral (integrate), yaitu seluruh strategi akan cocok/sesuai dari seluruh tingkatan
(corporate business and functional).

Dan kaitan strategi dengan pengembangan organisasi, Steiner dan Meiner (1988:18)
menjelaskan bahwa penerapan misi perusahaan, penetapan sasaran organisasi dengan
mengingat kekuatan eksternal dan internal, perumusan kebijakan dan strategi tertentu
untuk mencapai sasaran dan mematikan implementasinya secara tepat, sehingga
tujuan dan sasaran utama organisasi akan tercapai.

Selain strategi yang harus dimiliki lembaga pendidikan, visi dan misi juga harus
dimiliki. Visi adalah bagaimana rupa yang seharusnya dari suatu organisasi kalau ia
berjalan dengan baik (Lonnie Helgeson dalam Salusu, 1996:12). Lebih lanjut Salusu
menjelaskan bahwa visi keberhasilan dapat dijelaskan sebagai suatu deskripsi tentang
bagaimana seharusnya rupa dari suatu organisasi pada saat ia berhasil dengan sukses
melaksanakan strateginya dan menemukan dirinya yang penuh potensi yang
mengagumkan.

Visi suatu organisasi juga merupakan suatu imajinasi/wawasan ke depan dari


organisasi tersebut yang menerobos dimensi waktu didasarkan atas argumen rasional.
Visi tertulis disebut dengan “Mission Statement” atau pernyataan misi. Suatu
pernyataan misi yang baik adalah bagian penting untuk membuat, mengaplikasikan
dan mengevaluasi strategi. Mengembangkan dan mengomunikasikan pernyataan misi,
merupakan tahapan yang terpenting di dalam manajemen strategik.

Sedangkan misi adalah maksud dan kegiatan utama yang membuat organisasi tersebut
mempunyai jati diri yang khas yang membedakannya dari organisasi lain yang
bergerak dalam bidang usaha sejenis. Dalam melaksanakan misi tersebut dibutuhkan
sumber daya manusia yang memadai baik dalam jenis, jumlah dan mutu sumber daya
manusia tersebut.

Pernyataan misi dapat bervariasi bentuk, panjang, isi dan spesifikasinya. Menurut
Agustinus (1996:40) pernyataan yang dapat menjawab salah satu atau lebih
karakteristik sebagai berikut:

1. pelanggan

2. produk atau jasa

3. pasar dan saingan

4. teknologi yang digunakan

5. komitmen terhadap pertumbuhan, stabilitas

6. konsep organisasi

7. komitmen terhadap image masyarakat

8. komitmen terhadap karyawan.

Penyusunan misi organisasi dipengaruhi oleh beberapa elemen yang harus


dipertimbangkan oleh pembuat atau perencana strategi agar misi tersebut dapat benar-
benar mencerminkan apa yang ingin dilakukan oleh organisasi. Elemen tersebut
adalah aspek sejarah organisasi, keinginan pimpinan puncak, perubahan lingkungan,
keterbatasan sumber daya, keunggulan yang dimiliki untuk bersaing.

Di dalam manajemen strategik, peran Balanced Scorcard, menurut Mulyadi (2001:59)


menempati posisi strategik dalam sistem manajamen strategik. Tahap perencanaan
dalam sistem manajemen strategik (dikenal pula dengan sebutan total business
planning) terdiri dari empat tahap, yakni:

1. perumusan strategi

2. perencanaan strategi

3. penyusunan program, dan

4. penyusunan anggaran.

Balanced Scorcard (selanjutnya disebut BSC) berdampak siginifkan terhadap


perencanaan staregik, penyusunan program, dan penyusunan anggaran. Tahap
impelemntasi rencana dalam sistem manajemen strategi terdiri dari dua tahap yakni
impelemntasi dan pemantauan.

BSC berperan dalam memperluas ukuran kinerja personel dalam tahap implementasi
dan tahap pemantauan. Berikut ini akan dijelaskan hubungan antara BSC dengan
perumusan strategi, hubungan BSC dengan penyusunan program, peyusunan
anggaran, implementasi dan pemantauan.

Peran BSC dalam tahap perumusan strategi dilakukan terhadap trend perubahan
lingkungan makro dan lingkungan industri. Hasil pengamatan trend ini digabungkan
dengan hasil analisis intern (analisis strenghts, weaknesses, opportunities, dan
threats atau SWOT analysis) digunakan sebagai dasar untuk merumuskan misi, visi,
keyakinan dasar, dan nilai dasar organisasi.

BSC memperluas persepektif yang dicakup dalam penafsiran akibat dampak trend
perubahan lingkungan makro dan lingkungan industri. Disamping itu, BCS juga
memperluas persepektif dalam SWOT analysis. Trend perubahan kedua lingkungan
tersebut ditafsirkan dampaknya terhadap organisasi melalui empat persepektif, yakni
keuangan, customer, proses bisnis/intern, dan pembelajaran dan pertumbuhan. Dalam
SWOT analysis juga mencakup keempat persepektif tersebut.

Peran BSC dalam tahap perencanaan strategik melalui strategi yang telah ditetapkan
(misalnya strategi yang dipilih: differentiation strategy dan low cost strategy), tujuan
(goals) kemudian diterjemahkan menjadi sasaran-sasaran strategik ke dalam empat
persepektif: keuangan, customer, proses bisnis internal, pembelajaran dan
pertumbuhan. Pada tahap perencanaan strategik ini, untuk setiap sasaran strategik
kemudian ditetapkan berbagai inisiatif strategik untuk mewujudkan sasaran tersebut.

BSC berperan menjadikan komprehensif dan koheren sasaran dan inisiatif strategik
yang ditetapkan dalam tahap perencanaan strategik. Kekomprehensivan dan
kekoherenan sasaran dan inisiatif strategik ini menjanjikan peliatgandaan kinerja
keuangan dalam jangka panjang.

Peran BSC dalam tahap penyusunan program adalah inisiatif strategik yang
komprehensif kemudian dijabarkan ke dalam program-program jangka panjang
disertai taksiran sumber daya yang diperlukan untuk atau diperoleh dari pelaksanaan
program tersebut. Oleh karena merupakan penjabaran inisiatif strategik yang
komprehensif, maka program-program yang dihasilkan dalam tahap penyusunan
program juga mencakup persepektif yang komprehensif.

Peran BSC dalam tahap penyusunan anggaran (rencana jangka pedek), program-
program yang komprehensif tersebut kemudian dijabarkan ke dalam rencana kegiatan
jangka pendek, disertai dengan taksiran sumber daya yang diperlukan untuk dan
diperoleh dari kegiatan tersebut. Oleh karena merupakan penjabaran program-
program yang komprehensif, maka rencana kegiatan jangka pendek dihasilkan dalam
tahap penyusunan anggaran juga mencakup persepektif yang komprehensif.

Sedangkan peran BSC dalam tahap implementasi dan tahap pemantauan, rencana
kegiatan yang tercantum dalam dokumen anggaran dilaksanakan. Pada tahap
implementasi, BSC digunakan untuk mengukur kinerja personel di keempat
persepektif. Pada tahap pemantauan, hasil pengukuran kinerja personel di keempat
persepektif BSC tersebut dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam anggaran
dan target yang ditetapkan dalam perencanaan strategik. Hasil pembandinangan antara
hasil pengukuran kinerja dengan target anggaran digunakan untuk mengevaluasi
kinerja jangka pendek personel; sedangkan hasil pembandingan antara hasil
pengukuran kinerja dengan target yang ditetapkan dalam perencanaan strategik
digunakan untuk mengevaluasi jangka panjang personel.

Pengembangan organisasi merupakan bagian penting dalam sistem pendidikan di


PTS. Hal ini karena mempunyai pengaruh yang kuat terhadap keberhasilan
pencapaian tujuan perguruan tinggi, khususnya pengembangan organisasi yang
menyangkut persepektif keuangan, costumer, proses bisnis/jasa pendidikan, dan
pembelajaran dan pertumbuhan.

Di dalam rangka pengembangan organisasi, PTS hendaknya mengoptimalkan layanan


pendidikan dengan potensi sumber daya yang ada sesuai dengan tuntutan lingkungan
internal dan eksternal. PTS juga harus memperkuat komitmen personil yang dapat
mendorong untuk mencapai tujuan organisasi melalui visi organisasi. Dan yang tak
kalah pentingnya, meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam penyelenggaraan
pendidikan tinggi. Semoga dengan adanya perubahan strategi pengembangan
organisasi PTS, pada akhirnya PTS tetap eksis dan dapat membantu peningkatan
kualitas SDM bangsa ini.

Daftar Pustaka

Agustinus S. Wahyudi, 1996, Manajemen Strategik, Pengantar Proses berpikir


strategik, Jakarta: Binarupa Aksara

Dale S. Beach, 1975, Personel: The Management of People at Work, Third Edition,
New York: MacMillan Publishing Co. Inc.

Edward Sallis, 2006. Total Quality Management in Education, Jogyakarta:IRCiSoD

Koontz, Harlod, Donnell Cynlo, Weinrich Heinz, 1995, Manajemen, Jakarta:


Erlangga

Moekijat, 1993, Pengembangan Organisasi, Bandung: Remaja Rosdakarya

Mulyadi, 2001, Balanced Scorcard; Alat Manajemen Kontemporer untuk


Pelipatganda Kinerja Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT Salemba Emban Patria

Peraturan Pemerintah No. 30/1990/ tentang perguruan tinggi;

UU Sisdiknas no 20 tahun 2003;

Robert S. Kaplan & David P. Norton, (2000), Balanced Scorcard, Menerapkan


Strategi Menjadi Aksi, Jakarta: Erlangga;

Siagian, P. Sondang, 1995, Manajemen Strategik, Jakarta: Bumi Aksara;

Soekarton, 1992, Dasar-dasar Organisasi, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press

Salusu J., 1996, Pengambilan keputusan strategik untuk organisasi publik dan
organisasi nonprofit, Jakarta: PT Gramedia
http://educare.e-fkipunla.net/