Anda di halaman 1dari 101

Surah IbrahT

Surah Ibrahim ini terdiri dari 52 ayat.


Dinamakan surah IBRAHIM,
karena surah ini mengandung doa
Nabi Ibrahim as. yaitu pada
ayat 35 sampai 4 1 .
Surah Ibrahim

Surah Ibrahim yang terdiri dari 52 ayat adalah surah ke-14 dari segi perurutan
penulisannya dalam mushaf a h Q u r ' a n , sedang dari segi perurutan t u r u n n y a
ia adalah surah k e - 7 0 yang turun sesudah surah asy-Syura dan sebelum surah
ah A r i t n y a .
Sekian banyak surah y a n g dimulai dengan huruf-huruf Alif, Lani, Ra\
Untuk membedakannya, d inamailah surah-surah itu dengan nama nabi-nabi
tertentu y a n g disebut kisahnya atau tempat di m a n a nabi itu diutus, seperti
al-Hijr. Surah ini, k a r e n a d i m u l a i d e n g a n k e t i g a h u r u f tersebut dan
membicarakan kisah Nabi Ibrahim as., dinamailah surah ini dengan surah
I b r a h i m — w a l a u p u n uraian tentang Nabi Ibrahim as. terdapat di beberapa
surah y a n g lain.
Mayoritas u l a m a menilai ayat-ayat surah ini secara keseluruhan turun
sebelum Nabi M u h a m m a d saw. berhijrah ke M a d i n a h . Sebagian kecil u l a m a
mengecualikan ayat 2 8 dan 2 9 ; ada juga yang m e n a m b a h k a n lagi ayat 30
karena mereka menilainya berbicara tentang peristiwa perang Badr yang terjadi
setelah Nabi saw. berhijrah ke M a d i n a h pada tahun II Hijrah.
T e m a u t a m a uraian surah ini a d a l a h T a u h i d serta uraian tentang
kesempurnaan kitab suci al-Qur'an yang m a m p u mengantar ke hadirat Ilahi
melalui penjelasan-Nya tentang ash-shirath, yakni jalan luas dan lebar y a n g
mengantar ke sana. Hal ini d i p a h a m i oleh al-Biqa'i dari penamaan surah ini

303
304 Surah Ibrahim [14]

dengan n a m a Nabi Ibrahim as. Bahwa tema surah ini m e r u p a k a n uraian


tentang kitab a b Q u r ' a n dipahami oleh al-Biqa'i dari salah satu doa Nabi
Ibrahim as. yaitu, "Tuhan kami! Utuslah untuk mereka seorang rasul dari
kalangan mereka yang terus membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan
terus mengajarkan kepada mereka al-Kitah dan al-Hikmah serta menyucikan
mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana"
(QS. a l - B a q a r a h [ 2 ] : 1 2 9 ) .
Adapun tema Tauhid dalam kaitannya dengan Nabi Ibrahim as., menurut
abBiqa'i "cukup jelas"'.
Agaknya, yang dimaksud olehnya dengan "cukup jelas" adalah kedudukan
Nabi Ibrahim as. vang dinilai oleh para pakar sebagai Pengumandang Tauhid.
M e l a l u i pengalaman ruhaninya (baca Q S . a h A n ' a m \6]: 7 4 - 7 9 ) , beliau
m e n e m u k a n Tuhan Yang M a h a Esa dan m e y a k i n i - N y a bahwa Dia bukan
tuhan suku atau tuhan masa tertentu, tetapi Tuhan seru sekalian alam.
Bukankah dengan demikian beliau wajar menyandang gelar Pengumandang
Ketuhanan Yang M a h a Esa? Sebelum masa beliau, para nabi—sesuai dengan
perkembangan akal m a s y a r a k a t n y a — m e m p e r k e n a l k a n Allah swt. sebagai
Tuhan mereka, yang mereka p a h a m i sebagai Tuhan suku atau kelompok
tertentu. Nabi Ibrahim as. datang m e m p e r k e n a l k a n - N y a sebagai Tuhan
seluruh m a k h l u k y a n g menyertai m e r e k a d a l a m keadaan m e r e k a sadar
m a u p u n tidur, menyertai mereka bukan h a n y a dalam k e h i d u p a n d u n i a ini
tapi berlanjut hingga hari Kemudian.

B a n y a k ulama berpendapat bahwa tema surah ini m e m a n g berkaitan


dengan N a b i Ibrahim as. Sayyid Q u t h u b , misalnya, menulis bahwa terlihat
suasana uraian surah Ini berkaitan dengan namanya "Ibrahim" sebagai "Bapak
para nabi" seorang y a n g diberkahi, y a n g pandai bersyukur, belas kasih dan
selalu kembali kepada AJlah. Surah ini mencakup sekian banyak hakikat pokok
dari akidah, tetapi dua hakikat yang sangat besar senantiasa menaungi suasana
surah secara keseluruhan, y a n g k e d u a n y a m e r u p a k a n d u a hakikat y a n g
berkaitan dengan bayang-bayang Nabi Ibrahim as. Pertama, hakikat kesatuan
risalah dan para rasul, kesatuan dakwah, yaitu Tauhid, dan sikap mereka sebagai
satu umat menghadapi Jahiliah yang mendustakan agama, di berbagai tempat
dan waktu. Dan kedua, hakikat nikmat Allah swt. y a n g d i a n u g e r a h k a n - N y a
Surah Ibrahim [14] 305

kepada manusia, serta p e n a m b a h a n n y a jika disyukuri, dan bahwa b a n y a k


manusia y a n g mengingkari dan mengkufuri nikmat itu. D e m i k i a n S a y y i d
Quthub.
1
Thabathaba ! menjelaskan bahwa surah ini menyifati al-Qur'an sebagai
bukti kebenaran risalah Nabi M u h a m m a d saw. Ia dimulai dengan penjelasan
tentang tujuan risalah kenabian dan kitab suci y a n g dilukiskan oleh firman-
Nya:

"Supaya engkau mengeluarkan manusia dari aneka gelap gulita menuju cahaya
terang benderang" {QS. Ibrahim [ 1 4 ] : 1J dan ia pun ditutup dengan firman-
Nya:

J^J Ali] yb j^JjJj LlJ-J^ilj

"'Al-Qur'an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia dan supaya
y-iereka diberi peringatan dengannya dan supaya mereka mengetahui bahwa
Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar Ulul Aib ah (orang-orang yang
oemkal) mengambil pelajaran" ( Q S . Ibrahim [ 1 4 ] : 5 2 ) . Di tempat lain,
T h a b a r h a b a i menjelaskan bahwa uraian terbanyak dari ayat-ayat surah ini
berkisar pada tiga sifat Allah yang disebut pada awal ayat dan akhir ayat surah
."u yaitu Keesaan dan Keperkasaan-Nya serta Keterpujian segala perbuatan-
Nva.
Surah ini berhubungan secara sangat serasi dengan surah sebelumnya,
- m i ar-Ra'd. Pada akhir surah yang lalu, ditegaskan bahwa tidak ada kesaksian
— rlebihi kesaksian siapa y a n g m e m i l i k i i l m u al-Kitab. Ini berarti bahwa al-
v
l : : a b — d a l a m hal ini a l - Q u r ' a n — a d a l a h saksi kebenaran y a n g amat kukuh
-.t lalui kem ukj izatan-kem ukj izatannya, baik dari segi redaksinya yang sangat
~ tmesona m a u p u n k a n d u n g a n n y a y a n g m e n g h i d a n g k a n aneka informasi
- i r i pengetahuan. Nah, pada awal ayat surah ini, kitab y a n g dimaksud
: r;carakan oleh ayatnya y a n g pertama, dan berbeda dengan surah-surah
ciumnya yang menggunakan bentuk difmite/ma'rifah yaitu al-kitdb ketika
~ r "unjuk kitab itu. Di s i n i — p a d a surah Ibrahim—-kitab tersebut ditunjuk
irr.^an menggunakan redaksi yang berbentuk indifinite/nakirah yaitu kitab—
306 Surah Ibrahim [14]

tanpa al-—untuk mengisyaratkan keagungan dan kebesarannya. Yakni, ia


adalah kitab yang sangat agung tidak terjangkau oleh nalar, selain dengan
menyebutnya sebagaimana bentuk dan kata k u . Demikian aUBiqa'i.
KELOMPOK 1

AYAT 1 -5

307
308 Surah Ibrahim [14]
Kelompok I Ayat 1 Surah Ibrahim [14] 309

AYAT 1

"Alif, L&m, Ra\ Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya engkau
mengeluarkan manusia dari aneka gelap gulita menuju cahaya terang
benderang dengan izin Tuhan mereka, yaitu jalan Tuhan Yang Mahamulia
lagi Maha Terpuji. "

Kitab yang siapa pun memahami secara baik kandungannya dapat menjadi
saksi kebenaran Nabi M u h a m m a d saw. C u k u p l a h ia bersama Allah menjadi
saksi, w a l a u semua orang menolak kerasulanmu, w a h a i M u h a m m a d ! Alif
Lam, Ra adalah huruf-huruf y a n g merangkai kata-kata kitab tersebut.
Cobalah buat semacamnya jika k a m u ragu. Tetapi, pasti tidak seorang pun
yang mampu. Itulah Kitab yang sangat agungyaug Kimi, dengan perantaraan
m a l a i k a t Jibril, turunkan kepadamu, w a h a i Nabi M u h a m m a d , dengan
berbahasa Arab supaya engkau melalui tuntunan-tuntunannya mengeluarkan
manusia seluruhnya dari aneka gelap gulita apa pun bentuk dan jenisnya
menuju satu cahaya terang benderang dengan izin Tuhan y a n g selalu berbuat
baik kepada mereka, yaitu jalan yang sangat lebar dan luas yang mengantar
menuju Allah, Tuhan Yang Mahamulia lagi A faha Terpuji.

Alif Lam, Ra', dan huruf-huruf y a n g serupa dengannya telah dijelaskan


secara panjang lebar pada surah al-Baqarah dan surah-surah sesudahnya yang
dimulai dengan huruf-huruf serupa.
Pada ayat pertama al-A'raf, kata diturunkan berbentuk pasif, sedang di
sini digunakan bentuk aktif dengan menyebut pelaku y a n g menurunkannya
yaitu Allah swt. "Kami turunkan" hal ini agaknva disebabkan di sini y a n g
akan ditonjolkan adalah anugerah Allah melalui apa y a n g diturunkan itu,
yakni mengeluarkan manusia dari aneka gelap gulita menuju cahaya terang
benderang, sedang ayat al-A'raf itu bertujuan m e n g h i b u r Nabi saw. dan
menyabarkan beliau menghadapi penolakan k a u m n y a .
Ayat diaras—sebagaimana kebiasaan a l - Q u i ' a n — m e n g g u n a k a n bentuk
jamak u n t u k kata ( o U l k J i ) azh-zhulumat/aneka gelap, sedang kata ( )
an-nur berbentuk tunggal. Ini u n t u k mengisyaratkan bahwa kegelapan
310 Surah Ibrahim [14] Kelompok I Ayat 1

bermacam-macam serta beraneka ragam dan sumbernya pun banyak. Setiap


benda pasti m e m p u n y a i bayangan dan b a y a n g a n itu adalah gelap sehingga
gelap menjadi banyak, berbeda dengan cahaya. Demikian tulis banyak ulama
tafsir.
Dapat juga dikatakan bahwa sumber kegelapan ruhani dan penyebabnya
banyak, sedang terang hanya, satu karena s u m b e r n y a h a n y a dari Yang M a h a
Esa d a l a m firman-Nya:

"Barang siapa yang tidak mendapat nur dari Allah, maka tidaklah dia
memeroleh cahaya sedikit pun" ( Q S . a n - N u r [ 2 4 ] : 4 0 ) .
Ayat di atas m e n d a h u l u k a n penyebutan kata ( o u i & i ) azh-zhulumdt/
aneka gelap atas kata ( J J U \ ) an-nurI terang, bukan saja—seperti pendapat
sementara u l a m a — k a r e n a gelap lebih d a h u l u w u j u d dari terang, tetapi
agaknya juga untuk mengisyaratkan bahwa manusia hendaknya selalu menuju
ke arah positif/terang. Dan perlu diingat bahwa di atas cahaya ada cahaya
yang melebihinya. Selanjutnya, pada saat Anda disinari oleh terang, katakanlah
dengan kekuatan 4 0 Watt, terang yang dipancarkannya relatif menjadi gelap,
bila k e k u a t a n n y a meningkat menjadi 6 0 Watt. D e m i k i a n ayat ini dan y a n g
semacamnya mengantar manusia u n t u k selalu mengarah kepada terang dan
meninggalkan kegelapan w a l a u y a n g sifatnya relatif.

Ketika menafsirkan surah al-Fatihah, penulis antara lain m e n g e m u k a ­


kan bahwa kata ( h\j-e>) shirat terambil dari kata ( J s ^ ) saratha dan, karena
huruf ( ) sin d a l a m kata ini bergandengan dengan h u r u f ( j ) ra', huruf
( _u ) sin terucapkan ( —e ) shad ( ^j~e ) shirat atau ( j ) zai ( Jcijj ) zirath.
Asal katanya sendiri bermakna menelan, j a l a n y a n g lebar dinamai shirdth
karena sedemikian lebarnya sehingga ia bagaikan menelan si pejalan. Shirdth
b a g a i k a n jalan tol. A n d a tidak d a p a t lagi k e l u a r a t a u tersesat setelah
memasukinya. Bila memasukinya, Anda telah ditelan olehnya dan tidak dapat
keluar kecuali setelah tiba pada akhir tujuan perjalanan.
Kata itu ditemukan dalam al-Qur'an sebanyak 45 kali. Kesemuanya dalam
b e n t u k tunggal, 32 kali diantaranya d i r a n g k a i k a n dengan kata mustaqmi,
selebihnya dirangkaikan dengan berbagai kata seperti as-Sawy Sawd', dan ah
Kelompok I Ayat 1 Surah Ibrahim [14] 311

Jahim. Selanjurnya, \T\Wshirath dinisbahkan kepada sesuatu, penisbahannya


adalah kepada Allah swt. seperti kata shirdthaka (jalan-Mu) atau shirathi
{jalan-Ku) atau shirdth al-'Aziz al-Hamid (jalan Tuhan YangMahaperkasa
lagi Maha Terpuji), dan juga kepada orang-orang m u k m i n yang mendapat
anugerah nikmat Ilah i seperti dalam ayat al-Fati hah shirdtha alhzdzina an amta
'alaihim.
Kata shirdth berbeda dengan kata ( J™- ) sahil y a n g j u g a sering kali
diterjemahkan dengan jalan. Kata sabil y a n g berbentuk j a m a k seperti
subul as-salam (jalan-jalan k e d a m a i a n ) ada pula yang tunggal, dan ini ada
yang dinisbahkan kepada Allah, seperti sabilillah, atau kepada orang bertakwa,
seperti sahil al-muttaqin, dan ada juga y a n g dinisbahkan kepada setan dan
tirani, seperti sabil ath-thdghut, atau jalan orang-orang berdosa sahil ah
mujrimin.

Penggunaan di atas m e n u n j u k k a n bahwa shirdth hanya satu dan selalu


bersifat benar dan hak. Berbeda dengan sabilyang bisa benar dan bisa salah,
bisa merupakan jalan orang-orang bertakwa dan bisa juga jalan otang-orang
durhaka.
! Shirdth adalah jalan y a n g luas, semua orang dapat melaluinya, tanpa
j berdesak-desakan. Berbeda dengan sabil, ia banvak n a m u n merupakan jalan
kecil atau lorong-lorong. Tak mengapa A n d a menelusuri sabil asal pada
akhirnya A n d a m e n e m u k a n jalan tol itu, yakni jalan y a n g luas lagi lurus.
Apa yang d i k e m u k a k a n ini mengantar seorang muslim untuk berlapang
i dada m e n g h a d a p i perbedaan sabil atau pendapat dan pandangan selama
pandangan itu dapat mengantar ke ash-shirdth al-'Aziz al-Hamid. Dengan
demikian, seorang m u s l i m tidak akan berpandangan picik dan menganggap
bahwa hanya satu jalan, yakni sahih atau beranggapan bahwa mazhab/jalannya
saja yang benar dan jalan yang lain salah. Bukankah banyak sahil y a n g dapat
>
mengantar menuju ash-shirdth al-mustaqini .

Kata ( jijt) al-aziz terambil dari kata ( ) 'azza y a n g m e n g a n d u n g


malui a suatu kondisi vang menjadikan penyandangnya tidak terkalahkan dan
tidak dapat dicapai. Kata ini juga merupakan a n t o n i m dari dzillah, yakni
kehinaan.
312 Surah Ibrahim [14] Kelompok I Ayat 1

T h a b a t h a b a ' i menulis b a h w a jalan y a n g diajak oleh a l - Q u r ' a n agar


ditempuh adalah jalannya Allah y a n g Aziz dan Hamid, yakni y a n g selalu
m e n a n g dan tidak terkalahkan, Yang M a h a k a y a dan tidak butuh kepada apa
dan siapa pun serta selalu indah d a l a m p e r b u a t a n - N y a dan m e l i m p a h
anugetah-Nya. Nah, kalau y a n g m e l i m p a h k a n anugerah itu selalu menang.
M a h a k a y a , dan Terpuji perbuatan-perbuatan-Nya m a k a menjadi kewajiban
yang dianugerahi nikmat untuk memperkenankan ajakan-Nya dan memenuhi
undangan-Nya agar mereka dapat berbahagia dengan limpahan nikmat serta
mereka pun harus takut menghadapi murka dan siksa-Nya yang pedih karena
Dia Mahakuat, tidak membutuhkan sesuatu pun. Dia—kalau berkehendak—
dapat membiarkan mereka pergi atau membinasakan m e r e k a dan
m e n g g a n t i n y a dengan y a n g lain sebagaimana y a n g telah d i l a k u k a n - N y a
terhadap orang-orang yang mengkufuri nikmat-nikmat-Nya dari umat-umat
y a n g lalu. S u n g g u h bukti-bukti y a n g terhampar di langit dan di bumi
kesemuanya membuktikan bahwa segala nikmat hanya bersumber dari-Nya.
dan Dia adalah Tuhan Pemilik k e m u l i a a n dan Pemilik pujian, tiada tuhan
selain-Nya. Demikian lebih kurang Thabathaba'i.

B a n y a k u l a m a m e m b a h a s m e n g a p a a y a t di atas mendahulukan
penyebutan sifat 'Aziz atas Hamid. Pakar tafsir, A b u H a y y a n , misalnya
berpendapat bahwa karena sebelum menyebut kedua sifat itu telah diuraikan
bahwa Allah menurunkan kitab al-Qur'an untuk mengeluarkan manusia dari
kegelapan menuju terang benderang seizin Tuhan mereka, s u n g g u h tepat
menyebut sifat-Nya selaku Mahaperkasa yang mengandung makna kekuasaan
dan k e m e n a n g a n d a l a m penganugerahan kitab tersebut y a n g merupakan
mukjizat yang tidak terkalahkan lagi tidak m a m p u dilakukan oleh siapa pun
selain-Nya. Setelah menyebut makna itu, disusul-Nya dengan menyebut sifat-
N y a y a n g terpuji. Betapa tidak, padahal Dia menganugerahkan t u n t u n a n
terbesar yang mengantar manusia keluar dari aneka kegelapan menuju terang
benderang.

Pakar tafsir, Fakhruddin ar-Razi, menguraikan bahwa pengetahuan tentang


Tuhan y a n g pertama sekali adalah bahwa Dia Mahakuasa, setelah itu bahwa
Dia M a h a M e n g e t a h u i , lalu Dia M a h a k a y a , tidak m e m b u t u h k a n sesuatu
apa pun. Nah, al-'Aziz adalah Yang Mahakuasa, sedang al-Hamid adalah Yang
Kelompok i Ayat 2 Surah Ibrahim [14] 313

M a h a Mengetahui lagi M a h a k a y a , dan, karena pengetahuan bahwa Dia


M a h a k u a s a m e n d a h u l u i pengetahuan tentang k e - M a h a t a h u a n - N y a serta
ketidakbutuhan-Nya kepada apa pun, tentu saja yang lebih wajar didahulukan
adalah sifat yang lebih dahulu diketahui makhluk yaitu sifat al-'Aziz. Demikian
lebih kurang ar-Razi. Sangat disayangkan ulama y a n g pakar teologi ini tidak
m e n g e m u k a k a n alasan tentang pendapatnya di atas, baik alasan kebahasaan
u n t u k m a k n a kedua sifat itu-—sebagaimana d i u r a i k a n n y a m a u p u n alasan
tentang terdahulunya pengetahuan tentang Kuasa-Nya atas pengetahuan
tentang i l m u - N y a . Karena itu, pendapat ini sulit didukung.
Dapat juga dikatakan bahwa penyifatan jalan Allah dengan m e n y e b u t
dua sifat-Nya y a i t u al-Aziz y a n g antara lain bermakna perkasa dan mulia
serta al-H_amidlterpuji mengisyaratkan bahwa y a n g m e n e m p u h n y a akan
meraih kemuliaan dan keperkasaan serta akan selalu terpuji di d u n i a dan di
akhirat.

AYAT 2

Allah yang milik-Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi dan kecelikaan
bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih."

Setelah avat y a n g lalu mengisyaratkan perolehan kemuliaan dan pujian


untuk orang-orang yang mengikuti t u n t u n a n Allah Yang M a h a m u l i a lagi
M a h a Terpuji, kini ditegaskannya bahwa.Allah Yang M a h a m u l i a lagi Terpuji
itu yang milik-Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi, akan
menganugerahkan kebahagiaan kepada yang mengikuti tuntunan-tuntunan-
N y a dan kecelakaan bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih
vang tidak dapat dielakkan oleh siapa y a n g m e n g a l a m i n y a .
Kata ( OJJJL. ) ^WzV terambil dari kata ( j _ i ) . y W ^ yang berarti mengikat
dengan kukuh. Dari m a k n a ini, kata tersebut dipahami j u g a dalam arti
kumpulan sesuatu yang sulit dipisahkan karena kukuhnya ikatan. Siksa y a n g
disifati dengan kata tersebut mengesankan kerasnya siksa sekaligus sulitnya
untuk dilepas dan dielakkan.
314 Surah Ibrahim [14] Kelompok I Ayat 3

Kata ( JJJ ) wayl d i g u n a k a n dalam arti kecelakaan atau apa saja y a n g


mengandung maknanya. Sementara ulama m e m a h a m i n y a dalam arti "jurang
y a n g dalam di api neraka".

AYAT 3

'''(Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada akhirat


dan menghalang-halangi dari jalan Allah dan menginginkannya menjadi
bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. "

M e r e k a y a n g mengalami siksa y a n g pedih itu y a i t u orang-orang yang


s u n g g u h - s u n g g u h serta p e n u h antusias lebih menyukai kehidupan dunia
daripada kehidupan akhirat, y a k n i memperturutkan nafsu mereka sehingga
mengorbankan kepentingan akhirat u n t u k meraih d u n i a dan senantiasa
menghalang-halangi manusia dari jalan Allah yang lurus dan
menginginkannya, y a k n i m e n g i n g i n k a n agar jalan lurus itu menjadi bengkok
dengan jalan m e l a k u k a n tipu daya dan kebohongan u n t u k m e m p e r b u r u k
citranya. Mereka itu, dengan kekufuran dan upaya tipu daya itu, berada
dalam j u r a n g w a d a h kesesatan yang jauh sehingga sangat sulit kembali ke
jalan y a n g benar dan, dengan demikian, sulit pula memeroleh keselamatan.

Firman-Nya: ( ^ ± a L ^ Oj^tuw ) yastahibbuna al-haydt ad-


dunyd 'ala al-dkhirah/lebih menyukai kehidupan dunia daripada akhirat
adalah memilih aneka kenikmatan hidup duniawi sambil mengabaikan secara
penuh t u n t u n a n beramal untuk metaih kenikmatan hidup ukhrawi. Yang
mestinya dilakukan adalah menjadikan kenikmatan hidup ukhrawi sebagai
sasaran dan tujuan akhir dari segala aktivitas duniawi. Dengan demikian,
ayat ini bukan kecaman bagi mereka y a n g memerhatikan dunianya—selama
perhatian itu dimaksudkan untuk dijadikan sarana memeroleh kebahagiaan
ukhrawi. Ini karena tidak ada jalan untuk meraih kebahagiaan ukhrawi kecuali
melalui amal duniawi.
Kelompok I Ayat 4 Surah Ibrahim [14] 315

"Dan carilah melalui apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu


(kebahagiaan) negeri akhirat, dan jangan lah kamu melupakan bagianmu dari
(kenikmatan) duniawi. " D e m i k i a n nasihat yang ditujukan kepada Q a r u n
dan yang disetujui dan diabadikan oleh a l - Q u r ' a n ( Q S . al-Qashash [ 2 8 ] :
7 7 ) . Karena itu pula s u n g g u h keliru m e r e k a y a n g m e n g a r a h k a n segala
aktivitasnya dalam b e n t u k amal-amal ibadah mahdhah ( m u r n i ) , bukan saja
karena ini memincangkan kegiatannya, tetapi j u g a merugikannya. Bukankah
' a m a l - a m a l duniawi"—-kalau istilah ini benar—justru j a u h lebih produktif
dan m e n g u n t u n g k a n guna meraih kebahagiaan ukhrawi daripada kegiatan
y a n g d i n a m a i sementara orang "amal ukhrawi"?
Allah swt. telah menciptakan manusia sebagai makhluk dwidimensi yang
diciptakan dari tanah dan ruh. Unsur t a n a h n y a melahirkan kecenderungan
kepada kenikmatan duniawi sedang unsur jiwanya mengundang untuk meraih
kenikmatan ukhrawi. M a n u s i a harus m a m p u memenuhi kedua
kecenderungan itu secara proporsional. Sebagian m a n u s i a mengabaikan
tuntutan unsur ruhaniahnya. Ini serupa juga dengan membelokkan hidupnya
ke arah jalan yang berbeda dengan jalan yang dikehendaki Allah dan, dengan
d e m i k i a n , dia p u n dapat dinilai menghalang-halangi dirinya, yakni fitrah
kemanusiaannya dan atau menghalangi orang lain dari jalan yang dikehendaki
Allah u n t u k ditelusuri oleh umat manusia dan menginginkannya menjadi
bengkok sehingga tidak sesuai dengan fitrah y a n g Allah ciptakan manusia
atasnya y a i t u m e n g g a b u n g secara serasi dan dalam kadar-kadar y a n g sesuai
antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. D e m i k i a n m a k n a lain dari firman-
Nya: ( brj*- t i ^ v j ) wa yahghunaha 'iwajanldan menginginkannya menjadi
bengkok.

AYAT 4

"Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun kecuali dengan bahasa
kaumnya supaya dia dapat menjelaskan kepada mereka. Maka Allah
menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dari memberi petunjuk siapa yang Dia
kehendaki dan Dia-lah Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. "
316 Surah Ibrahim [14] Kelompok I Ayat 4

Kesesatan mereka sama sekali bukan karena tidak jelasnya tuntunan atau
k u r a n g n y a informasi y a n g mereka rerima. Betapa runtunan Kami kurang
atau tidak jelas padahal berkali-kali dan beraneka ragam p e n y a m p a i a n
t u n t u n a n itu dan di samping itu tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun,
sejak yang pertama hingga y a n g terakhit, kecuali dengan bahasa lisan dan
pikiran sehat kaumnya supaya dia, yakni rasul itu, dapat menjelaskan dengan
gamblang melalui bahasa lisan dan keteladanannya kepada mereka tuntunan-
t u n t u n a n Kami itu. Maka, ada di antara k a u m y a n g mendengar penjelasan
rasul itu y a n g m e m b u k a m a t a hati d a n p i k i r a n n y a s e h i n g g a diberi
k e m a m p u a n oleh Allah melaksanakan petunjuk-Nya dan ada juga yang
m e n u t u p mata hatinya sehingga sesat. M e m a n g , Allah menyesatkan siapa
yang Dia kehendaki u n t u k Dia sesatkan bila yang bersangkutan memilih
kesesatan dan memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki bila yang
bersangkutan ingin memeroleh petunjuk dan DiaAah Tuhan Yang
Mahaperkasa yang tidak dapat dielakkan ketetapan-Nya lagi Mahabijaksana
dalam segala perbuatan-Nya.

Ayat ini bukan berarti bahwa Rasul saw. hanya diutus untuk k a u m yang
berbahasa Arab. Ayat ini a g a k n y a turun u n t u k menjawab dalih sementara
k a u m musyrikin M e k k a h yang mempertanyakan mengapa al-Qur'an dalam
bahasa Arab padahal kitab-kitab suci y a n g lain tidak berbahasa Arab. Di sisi
lain, sangar wajar sedap rasul menjelaskan tuntunan Ilahi dalam bahasa sasaran
d a k w a h n y a karena u m a t d i t u n t u t u n t u k m e m a h a m i ajaran Ilahi, bukan
m e n e r i m a n y a tanpa p e m a h a m a n . Sekali lagi, walau Nabi M u h a m m a d saw.
diutus u n t u k semua manusia, karena m a n u s i a tidak memiliki bahasa yang
sama, sangat wajar jika bahasa yang digunakan adalah bahasa di mana ajaran
itu p e r t a m a k a l i m u n c u l . S e j a r a h k e m a n u s i a a n h i n g g a d e w a s a ini
m e m b u k t i k a n b a h w a tidak d i t e m u i satu ajaran y a n g bersilat universal,
sekalipun y a n g sejak awal lahirnya langsung m e n g g u n a k a n bahasa di luar
bahasa masyarakat y a n g d i t e m u i n y a pertama kali. Selanjutnya, rujuklah ke
ayat 2 surah Yusuf u n t u k m e m a h a m i mengapa a l - Q u r ' a n berbahasa Arab.'''

" Lih.it ufsir QS. Yusuf [12): 2 pada halaman <-).


Kelompok i Ayat 4 Surah Ibrahim [14] 317

Di atas, penulis jelaskan makna ( AJ>^ JLJJ V' ) tlld bi lisdni qaumibi
dengan "kecuali dengan bahasa lisan dan pikiran sehat kaumnya. "Ini karena
bahasa, di samping m e r u p a k a n alat komunikasi, j u g a sebagai cerminan dari
pikiran dan pandangan pengguna bahasa itu. Bahasa dapat menggambarkan
w a t a k dan p a n d a n g a n masyarakat p e n g g u n a bahasa itu. Ketika bahasa
Indonesia menggunakan kata perempuan untuk menunjuk jenis manusia mitra
lelaki, itu mengisyaratkan bahwa, d a l a m pandangan penggunaan kata ini,
perempuan adalah manusia-manusia yang harus di-ernpu dalam arti dihormati
dan dimuliakan atau mereka harus mengempu, yaknt membimbing dan
mendidik. M e n u r u t filosof Mesir kontemporer, Zaki Najib Mahmud,
Sebagian filosof masa kini, antara lain Russel, menyatakan bahwa susunan
bahasa menggambarkan keyakinan metafisika serta unsur-unsur kejadian alam
y a n g dianut oleh bangsa-bangsa yang menggunakannya."
Di sisi lain, a l - Q u r ' a n p u n sering kali m e n g g u n a k a n kata ( J i i ) qdlal
berkata d a l a m arti meyakini, misalnya:

"Mereka berkata Allah mempunyai anak, Mahasuci Allah" ( Q S . al-Baqarah


[ 2 ] : 1 1 6 ) . Firman Allah memuji sifat h a m b a - h a m b a - N y a yang digelar-Nya
sebagai 'I badar-Rahman antara lain dalam firman-Nya:

"Mereka yang berkata: "Tuhan kami, jauhkanlah siksa neraka Jahanam dari
kami, sesungguhnya siksanya adalah kebinasaan yang kekal" f Q S . al-Furqan
[ 2 5 ] : 6 5 ) . Tentu saja, apa y a n g dilukiskan ini bukan sekadar ucapan mereka
dengan lisan karena, jika d e m i k i a n , apalah keistimewaannya. S e m u a orang
dapat m e n g u c a p k a n n y a dan bermohon demikian, j i k a demikian, itu adalah
sikap keyakinan dan perasaan mereka. Itulah yang dicerminkan oleh bahasa
lisan itu. Atas dasar semua yang penulis uraikan di atas, agaknya tidak berlebih
jika dikatakan bahwa Allah m e n g u t u s setiap rasul dengan bahasa k a u m n y a ,
yakni bahasa lisan mereka serta tuntunan-tuntunan yang sesuai dengan tingkat
p e m a h a m a n dan pemikiran kaum berakal y a n g hidup pada masa rasul itu
diutus karena, seandainya tidak sesuai dengan pikiran sehat mereka, tentu
318 Surah Ibrahim [14] Kelompok I Ayal 3

saja ajaran y a n g disampaikan oleh sang rasul cidak akan berkenan di hati dan
pikiran mereka. Itu pula sebabnya sehingga setiap rasul m e m b a w a bukti
kebenaran vang sejalan dengan kemahiran kaum yang dihadapinya dan karena
itu pula sehingga ajaran Ilahi y a n g m e r e k a s a m p a i k a n sejalan dengan
perkembangan setiap masyarakat, dan dari sini juga dapat dimengerti mengapa
terjadi pembatalan atau perubahan perincian syariat satu tasul oleh syariat
rasul sesudahnya.

AYAT 5

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan ayat-ayat Kami:


Keluarkanlah kaummu dari aneka gelap gulita kepada cahaya terang benderang
dan ingatkanlah mereka tentang hari-hari Allah.' Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda-tanda bagi setiap penyabar dan yang banyak
bersyukur. "

S e b e l u m ayat ini, telah d i k e m u k a k a n tentang diutusnya sekian banyak


rasul dengan bahasa kaumnya. Salah seorang rasul yang paling banyak dikenal
oleh masyarakat Jazirah Arab dan sekitarnya adalah Nabi M u s a as. Dari sini
dikemukakan sekelumit kisah beliau agar dapat ditarik pelajaran dari kisahnya
dan agar Nabi M u h a m m a d saw. m e n e l a d a n i beliau d a l a m sikap dan
kesabarannya menghadapi Bani Isra ih Ayat ini menyatakan dan sesungguhnya
Kami telah mengutus Musa dengan m e m b a w a ayat-ayat Kami dan Kami
p e r i n t a h k a n k e p a d a n y a : Keluarkanlah kaummu, yakni sampaikanlah
tuntunan Allah dan bimbinglah mereka agar dapat keluar dari aneka gelap
gulita, seperti kesesatan akidah, kebodohan, khurafat, kebejatan akhlak, dan
lain-lain, menuju kepada cahaya Ilahi dan tuntunan-tuntunan-Nya yang terang
benderang; dan ingatkanlah mereka tentang hari-hari Allah, yakni peristiwa-
peristiwa y a n g dialami oleh u m a t - u m a t y a n g lalu baik y a n g positif m a u p u n
y a n g negatif. Sesungguhnya pada yang demikian itu, yakni di dalam wadah
peringatan tentang hari-hari itu yang mencakup banyak hal, suka dan duka.
d e m i k i a n j u g a dalam upaya mengeluarkan manusia dari aneka kegelapan
Kelompok I Ayat 5 Surah Ibrahim [14] 319

menuju terang benderang, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap


orang y a n g penyabar dan yang banyak bersyukur.
Kata (diii ) ayydm Allah/hari-hari Allah adalah hari-hari di m a n a
d i t a m p a k k a n kekuasaan Allah swt. dalam membinasakan satu kaum atau
m e n y e l a m a t k a n n y a dari bencana. Yang d i m a k s u d oleh ayat ini antara lain
adalah hari-hari keselamatan Bani Isra'jl dari gangguan dan penyiksaan Firaun
serta aneka anugerah Allah yang mereka peroleh.
Ayat di atas menyebut dua sifat yaitu sabar dan syukur karena ayydm
Allah dapat mencakup kebahagiaan dan ini perlu disyukuri dan dapat juga
petaka dan cobaan dan ini perlu dihadapi dengan kesabaran.
Kata ( jLw?) shabbdr adalah orang yang sangat banyak bersabar. Sementara
k a u m sufi m e m p e r k e n a l k a n tiga istilah y a i t u Mutashabbir, Shdbir, dan
Shabbdr. Yang pertama adalah y a n g bersabar filldh, yaitu y a n g sekali sabar
dan sekali bersedih. Yang kedua adalah y a n g bersabar filldh dan lilldh, y a i t u
vang tidak bersedih, tetapi boleh jadi muncul darinya keluhan. Sedang, yang
ketigaymg merupakan istilah ayat ini, adalah dia yang disabarkan oleh Allah
filldh, lilldh, dan billdh. Yang dinamai shabbdrh'dz seandainya d i t i m p a oleh
aneka musibah, dia tidak akan bersedih dan tidak pula bergeming atau
bergumam mengeluh.

Ada juga yang berpendapat bahwa kesabaran orang kebanyakan (awam)


adalah lilldh dalam arti mengharapkan ganjaran-Nya dan menghindari murka-
Nva; kesabaran para p e m u l a di jalan tasawuf (murid) adalah billdh, y a k n i
aengan kekuatan dan pertolongan Allah. Mereka sadar bahwa kalau terpulang
kepada diri mereka, sesungguhnya mereka tidak memiliki kemampuan untuk
•abar. Di atas peringkat ini adalah ash-shabr ala Allah, y a k n i sabar m e m i k u l
.-:ctetapan-ketetapan-N}M y a n g b e r l a k u a t a s n y a , apa p u n akibatnya
r-.enyenangkan atau tidak. Ibn aI-Qayyim menggarisbawahi bahwa as-shabr
i'..ah peringkatnya lebih unggi daripada ash-shabr billdh karena ash-shabr

ih berkaitan dengan sifat uluhivah-'NyA (Ketuhanan Allah ) sedang ash-


.•'.ibr billdh berkaitan d e n g a n rububiyah-Nya, yakni pendidikan dan
7 r " i e l i h a r a a n - N y a . Sifat uluhiyah lebih agung daripada sifat rububiyah. Juga
.-:^rena ash-shabr tahu adalah ibadah sedang ash-shabr bibi adalah permohonan
320 Surah Ibrahim [14] Kelompok I Ayat 5

pertolongan; Ibadah adalah tujuan sedang permohonan pertolongan adalah


sarana, dan tentu saja tujuan lebih utama daripada sarana.
Ada lagi yang membagi sabar pada empat m a c a m kesabaran. Pertama,
peringkat tertinggi yaitu ash-shabr lilldh da)i billdh dalam arti dia bersabar
demi karena Allah—bukan karena takut dicela atau dianggap lemah—-sekaligus
menyadari bahwa dia tidak memiliki k e m a m p u a n dari dirinya sendiri tetapi
semua bersumber dari Allah swt. {ash-shabr billdh). Kedua adalah y a n g luput
dari kedua hal di atas, tidak memiliki ash-shabr lilldh dan tidak j u g a billdh.
Ini adalah peringkat terburuk. Siapa yang demikian keadaannya m a k a dia
adalah m a k h l u k y a n g celaka. Ketiga, memiliki ash-shabr billdh saja, y a n g
d e n g a n n y a dia m e m o h o n pertolongan Allah dan berserah diri kepada-Nya,
tetapi dia t i d a k m e m i l i k i ash-shabr lilldh karena k e s a b a r a n n y a b u k a n
m e n y a n g k u t apa y a n g direstui Allah dalam soal agama. Ini akan memeroleh
apa yang didambakannya, tetapi boleh jadi dia mengalami kesudahan buruk.
Kesabaran semacam ini bisa diperankan oleh orang-orang kafir dan mereka
y a n g terpengaruh oleh setan. Keempat adalah seseorang y a n g m e m i l i k i ash-
shabr lilldh tetapi dia lemah dalam hal ash-shabr billdh serta bertawakal kepada-
Nya. Yang ini kesudahannya baik, tetapi tidak selalu sukses dalam banyak
d a m b a a n n y a karena k e l e m a h a n n y a dalam beribadah k e p a d a - N y a serta
m e m o h o n bantuan-Nya. Ini adalah sikap seorang m u k m i n yang lemah.

Kata ( jjSLi ) syakur adalah orang y a n g banyak bersyukur. A h m a d Ibn


Faris dalam b u k u n y a Maqdyis al-Lughah m e n g e m u k a k a n empat m a k n a dari
kata ini. Pertama adalah pujian karena adanya kebaikan y a n g diperoleh,
hakikatnya adalah rasa tidha dan puas dengan y a n g sedikit sekalipun. Karena
itu, bahasa m e n g g u n a k a n kata ini u n t u k "kuda y a n g g e m u k n a m u n hanya
makan sedikit rumput". Kedua adalah kepenuhan dan kelebatan. Ketiga
adalah sesuatu y a n g t u m b u h d i tangkai pohon (parasit), dan keempat adalah
pernikahan atau alat kelamin.
M a k n a ketiga sejalan dengan m a k n a pertama yang m e n g g a m b a r k a n
kepuasan dengan yang sedikit sekalipun, sedang makna keempat sejalan dengan
makna kedua karena dengan pernikahan akan lahir anak-anak yang banyak.
Makna-makna dasar ini dapat j uga diartikan sebagai penyebab dan dampaknya
sehingga kata syukur mengisyaratkan: "Siapa y a n g merasa puas dengan
Kelompok I Ayat 5 Surah Ibrahim [14] 321

perolehan yang sedikit setelah usaha maksimal, m a k a dia akan memeroleh


banyak, lebat dan subur".
Pakar bahasa, ar-Raghib al-Ashfahani, menulis dalam Mufraddtnya bahwa
kata syukur m e n g a n d u n g arti "gambaran dalam benak tentang nikmat dan
m e n a m p a k k a n n y a ke permukaan." Kata i n i — t u l i s n y a — m e n u r u t sementara
ulama berasal dari kata ( £j± ) syakara vang berarti membuka sehingga ia
merupakan lawan dari kata ( yS" ) kafara y a n g berani menutup yang juga
berarri m e lu p a k a n n i k m a t Ali ah d a n m c n u t u p - n u t upi n y a / t i d a k
mensyukurinya.
Hakikat svukur adalah menampakkan nikmat antara lain
menggunakannya pada tempatnya serta sesuai dengan yang dikehendaki oleh
pemberinya; juga menyebut-nyebut pemberinya dengan baik.
Dari penjelasan di atas, dapat d i p a h a m i b a h w a s y u k u r menunrui
pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lidah, dan pengamalan dengan
anggota tubuh. Kegiatan m e l a k u k a n n y a — w a l a u sekali—dilukiskan dengan
kata ( ) yasykur, bila hal itu sering dilakukan seseorang maka dia dinamai
( jS"Ui) synkir dan bila telah m e m b u d a y a dan mendarah d a g i n g d a l a m
kepribadiannya maka dia dinamai { ^SJ* ) syakur. Allah swt. berfirman:

>£"'^ 's S' , * 's

jiJy^J 1 c%U: Jr* J - ^ J

"Dan sedikit di antara bamba-/>amba-Ku yang syakur (berterima kasih) " ( Q S .


Saba' [ 3 4 ] : 13). j i k a A n d a tidak dapat termasuk dalam kelompok y a n g
sedikit, usahakan menjadi orang yang banyak/sering bersyukur {syakir) dan
jangan sama sekali termasuk orang kebanyakan y a n g oleh Allah dinyatakan:

"Kebanyakan manusia tidak bersyukur" (QS. Yiisul [ 1 2 ] : 3 8 ) .


KELOMPOK 2

AYAT 6-18

323
324 Surah Ibrahim [14]
Surah Ibrahim [14] 325

l ^ ^ ^ ^ l i 09 - X ^ J O U - J <£11LA U-^>J 2Ji>>


326 Surah Ibrahim [14] Kelompok II Ayat 6

AYAT 6

Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Ingatlah nikmat Allah atas kamu
ketika Dia menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikut Fir'aun, mereka
menimpakan kepada kamu siksa yang seberat-beratnya, dan menyembelih anak-
anak lelaki kamu dan membiarkan hidup perempuan-perempuan kamu, dan
pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhan kamu. "

Ayat ini merupakan salah satu bentuk pelaksanaan perintah Allah kepada
Nabi M u s a as., mengingatkan u m a t n y a tentang "hari-hari Allah." Karena
tujuan pemaparan uraian ini adalah u n t u k menyabarkan Nabi M u h a m m a d
saw. serta menghiburnya, kepada beliau diperintahkan bahwa: Jelaskanlah
kepada m a n u s i a apa y a n g d i t u r u n k a n k e p a d a m u dan ingatkanlah mereka
tentang "hari-hari Allah" sebagaimana M u s a m e l a k u k a n n y a dan ingat serta
ingatkanlah u m a t m u b a h w a apa y a n g dialami oleh Bani Isra il j a u h lebih
berat daripada a p a y a n g umat Islam alami. Ingat dan ingatkanlah ketikaMusd
berkata kepada kaumnya m e n g i n g a t k a n mereka tentang hari-hari Allah
bahwa: "Ingatlah nikmat Allah atas kamu ketika Dia menyelamatkan kamu
dari gangguan dan penyiksaan pengikut-pengikut Fir'aun atas perintah hir'aun,
mereka menimpakan kepada kamu siksa yang seberat-beratnya, dan tctutama
y a n g wajar diingat dan disebut adalah mereka berulang-ulang menyembelih
anak-anak lelaki kamu dan membiarkan hidup hina anak-anak perempuan-
perempuan kamu, dan pada yang demikian itu terdapat cobaan, y a k n i ujian,
yang besar dari Tuhan kamu. "

Kata ( ^i"bil) anjdkumlmenyelamatkan kamu terambil dari kata ( )


an-najdh y a i t u tempat yang tinggi. Ini karena siapa y a n g berada di tempat
y a n g tinggi, tidak m u d a h terjangkau oleh musuh atau dengan kata lain dia
dapat selamat dan terhindar dari bahaya.
Ayat ini m e n g g u n a k a n kata ( ) anjdkum, di tempat lain seperti
d a l a m Q S . al-Baqarah [ 2 ] : 4 9 redaksi y a n g d i g u n a k a n adalah ( ^ U J s i )
najjaindkum. Keduanya dapat diterjemahkan dengan Kami menyelamatkan
kamu.
Kelompok II Ayat 6 Surah Ibrahim [14] 327

R e d a k s i y a n g d i g u n a k a n a y a t al-Baqarah itu m e n g a n d u n g makna


pemberian keselamatan saat t u r u n n y a siksa sehingga mereka terhindar dari
siksa, sedangkan yang digunakan di sini dan dalam Q S . al-A'raf [7]: 141 adalah
p e m b e r i a n keselamatan d e n g a n cara m e n j a u h k a n siksa tersebut secara
keseluruhan. Dengan demikian, ada dua anugerah Allah kepada Bani Isra'il
dalam konteks penyelamatan. Yang pertama m e n g h i n d a r k a n mereka, y a k n i
sebagian mereka dari siksa. Ini mengisyaratkan bahwa ada di antara mereka
y a n g t i d a k tersiksa. K o n o n , Fir'aun s e l a m a s e t a h u n memerintahkan
m e m b u n u h semua anak lelaki y a n g lahir pada tahun itu dan m e m b i a r k a n
hidup yang lahir pada tahun berikutnya, demikian silih berganti. Nabi H a r u n
as. lahir pada tahun penyelamatan a n a k lelaki, sedang N a b i Musa. as. lahir
pada tahun p e m b u n u h a n anak lelaki.
Adapun anugerah-Nya yang kedua dalam konteks penyelamatan adalah
kematian Fir'aun dan keruntuhan rezimnya sehingga terhenti penindasan yang
mereka lakukan terhadap Bani Isra'il.
Kata ( Jle.) di m e n u r u t banyak u l a m a berasal dari kata ( J * l ) ahl, y a k n i
keluarga, dan y a n g d i m a k s u d di sini adalah keluarga, pengikut, dan rezim
F i r ' a u n . A l - B i q a i b e r p e n d a p a t b a h w a k a t a di p a d a m u l a n y a berarti
f a t a m o r g a n a . Ia m e n a m p a k k a n sesuatu y a n g t i d a k a d a s e h i n g g a b i l a
fatamorgana itu tidak ada, tidak j u g a tampak sesuatu itu. Dengan demikian,
ketika ayat ini menyatakan di Fir'aun, ini mengisyaratkan b a h w a apa y a n g
dilakukan oleh keluarga dan pengikut pengikut Fir'aun itu m e n a m p a k k a n
kepribadian Fir'aun. Ketika Bani Isra'il mendapatkan siksa, ketika itu y a n g
t a m p a k di pelupuk mata mereka adalah Fir'aun dengan segala keadaan dan
k e b u r u k a n n y a sehingga, w a l a u p u n dia tidak hadir dalam penyiksaan, dia
bagaikan dilihat oleh y a n g disiksa.

Ketika menafsirkan ayat ini, al-Biqa i m e n g u r a i k a n juga b a h w a kata di


dapat berarti keluarga seseorang dan dapat juga orang itu sendiri. Dengan
d e m i k i a n , ayat ini dapat berarti b a h w a Fir'aun y a n g mereka lihat dan j u g a
pengikut-pengikutnya.
D a l a m bebetapa kitab tafsir d i k e m u k a k a n bahwa Fir'aun b e r m i m p i
bahwa kekuasaannya akan diruntuhkan oleh salah seorang putra Bani Isra'il.
M i m p i i n i — k a l a u b e n a r — m a k a itu dapat d i d u g a lahir dari apa y a n g
328 Surah Ibrahim [14] Kelompo-: ~ T

menguasai pikiran Fir'aun ketika itu sehingga m u n c u l ketika dia tidur


bentuk mimpi seperti itu. Ada j u g a vang berkata bahwa para pemuka -
Mesir kuno memfitnah bahwa Bani Isra'il merencanakan makar terr.i.; —
kekuasaan Fir'aun. Ini disebabkan mereka e n g g a n m e l i h a t Bani .
menganut ajaran agama vang berbeda dengan ajaran agama mereka.
Kata ( ) wa yudzabbihuual dan mereka menyembelih pack. i- .-
ini m e n g g u n a k a n kata p e n g h u b u n g ( j ) wauw/dan, sedang al-Baqarar. i
49 tidak menggunakan kata penghubung. Kata penghubung itu menjac: -n-
penyebutan penyembelihan sebagai sesuatu yang ditekankan, scakan-ak." .
tidak termasuk dalam kelompok menimpakan siksaan yang pedih. Ini beri^-i,
dengan al-Baqarah yang menjadikan penyembelihan anak lelaki merupa-:i-
penjelasan salah satu bentuk siksaan y a n g pedih. Selanjutnya, mur:,
pertanyaan m e n g a p a di sini p e n y e m b e l i h a n d i t e k a n k a n , y a k n i d e n e i "
menyebut kata dan di sana pada abBaqarah tidak. Asy-Sya'rawi m e n g i n g a t -
b a h w a kedua ayat itu berbeda dari segi pengucap nya. Ayat a l - B a q a : : r
menjelaskan bahwa penyelamatan itu langsung dinyatakan oleh Allah ( ^i-*
uajjainakuml'Kami menyelamatkan kamu. sedang ayat surah Ibrahim :~
adalah ucapan Nabi M u s a as. ( ^ i f i } anjakum! Dia (Allah) menyelamat?://
kamu. Di sini, karena Nabi Musa as. yang mengucapkannya, beliau menyeb_:
satu persatu dan dengan terperinci anugerah Allah, baik yang besar mampu::
y a n g kecil, apalagi beliau diperintahkan untuk menyebut hari-hari Allar.
sehingga beliau perlu menyebut perincian dan menekankan mana yang aguni;
Akan tetapi, pada surah al-Baqarah, karena y a n g m e n y a m p a i k a n n y a adai a.-.
Allah swt. Yang Mahaagung, menyebutnya secara terperinci tidak diperluka::
tetapi cukup secara umum. Demikian lebih kurang uraian asy-Sya'rawi, sejala::
dengan pandangan Abu Yahva al-Anshari dalam b u k u n y a Fathar Rahman.

Kata ( jj-a««d ) yastahyuniniembiarkan hidup terambil dari kata ( a t i - i


al'hayhtlhidup. Penyebutannya secara khusus di sini d i m a k s u d k a n untuk
mengisyaratkan bahwa membiarkan h i d u p itu bukanlah karena kasih sayang
mereka terhadap para w a n i t a , tetapi itu pun u n t u k tujuan penyiksaan dan
pelecehan seksual terhadap kehormatan para wanita itu.
Ada juga ulama y a n g m e m a h a m i kata { jj-s-ss-j ) yastahyuna terambL
dari kata (s,\J-\) ahhaya, yakni malu (kemaluan) dalam arti mempermalukan
Kelompok II Ayat 7 Surah Ibrahim [14] 329

mereka atau memeriksa kemaluan mereka untuk mengetahui apakah mereka


mengandung. Pendapat terakhir ini dinilai banvak pakar sebagai pendapat
yang lemah.
Bahwa "Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari
Tuhan / C ^ T W w" karena, bila penindasan itu berlanjut, ia dapat m e m u n a h k a n
k e t u r u n a n . P e n y e l a m a t a n itu j u g a m e r u p a k a n u j i a n a p a k a h m e r e k a
mensyukurinya atau tidak.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa ujian bukan hanya terbatas dalam bentuk
hal-hal yang merugikan atau yang dinilai negatif oleh seseorang, tetapi dapat
juga berupa nikmat. Kalau y a n g pertama m e n u n t u t sabar, y a n g k e d u a
m e n u n t u t syukur. Biasanya, y a n g m e n u n t u t syukur lebih berat dipikul
dibandingkan dengan y a n g m e n u n t u t kesabaran karena petaka sering kali
berpotensi m e n g a n t a r seseorang m e n g i n g a t A l l a h , s e b a l i k n y a n i k m a t
berpotensi mengantar manusia lupa diri dan lupa l u h a n .

AYAT 7

"Dan tatkala Tuhan kamu memaklumkan: 'Sesungguhnya demi, jika kamu


bersyukur pasti Aku tambah kepada kamu dam jika kamu kufur sesungguhnya
siksa-Ku amat pedih."'

Nabi M u h a m m a d saw. lebih j a u h diperintahkan agar mengingat juga


ucapan lain y a n g disampaikan Nabi M u s a as. kepada umatnya-—agar beliau
pun m e n y a m p a i k a n n y a kepada u m a t Islam. Nabi M u s a as. berkata kepada
kaumnya: "Dan ingat jugalah nikmat Allah kepada kamu semua tatkala Tuhan
Pemelihara dan Penganugerah aneka kebajikan kepada kamu memaklumkan:
"Sesungguhnya Aku, y a k n i Allah, bersumpah demi kekuasaan-Ku, jika kamu
bersyukur pasti Aku tambah nikmat-nikmat-Ku kepada kamu karena sungguh
amat m e l i m p a h nikmat-Ku. Karena itu, berharaplah yang banyak dari-Ku
dengan m e n s y u k u r i n y a dan jika kamu kufur, yakni mengingkari nikmat-
n i k m a t y a n g telah A k u a n u g e r a h k a n dengan tidak m e n g g u n a k a n dan
memanfaatkannya sebagaimana Aku kehendaki m a k a akan Aicu kurangi
330 Surah Ibrahim [14] Kelompok II Ayat 7

n i k m a t itu bahkan k a m u terancam mendapat siksa-Ku sesungguhnya siksa-


Ku dengan berkurang atau h i l a n g n y a n i k m a t itu atau j a t u h n y a petaka atas
k a m u akan k a m u rasakan amat pedih. "
Sementara u l a m a tidak menilai ayat ini sebagai lanjutan ucapan Nabi
M u s a as., tetapi ini adalah pernyataan langsung dari Allah swt. sebagai salah
satu anugerah-Nya. Ia merupakan anugerah karena mengetahui hakikat yang
dijelaskan ayat ini m e n i m b u l k a n optimisme dan mendorong u n t u k giat
beramal g u n a memeroleh n i k m a t lebih b a n y a k lagi.
Ayat di atas secara tegas m e n y a t a k a n b a h w a j i k a bersyukur m a k a pasti
n i k m a t A l l a h akan d i t a m b a h n y a , tetapi k e t i k a berbicara tentang kufur
nikmat, tidak ada penegasan bahwa pasti siksa-Nya akan jatuh. Ayat ini hanya
menegaskan b a h w a siksa Allah pedih. J i k a demikian, penggalan akhir ayat
ini dapat d i p a h a m i sekadar sebagai a n c a m a n . Di sisi lain, tidak tertutup
kemungkinan keterhindaran dari siksa duniawi bagi yang mengkufuri nikmat
Allah, b a h k a n boleh jadi n i k m a t tersebut d i t a m b a h - N y a d a l a m rangka
m e n g u l u r kedurhakaan. D a l a m konteks ini, Allah mengingatkan:

<sgH'P& 0 oi£tf i X « 4**£2£ l $ £ ' S i >

"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan


menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara
yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka.
Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh" ( Q S . al-A'raf [ 7 ] : 1 8 2 - 1 8 3 ) .
Kata ( blb) tdadzdzana terambil dari kata yang seakar dengan kata ( o i i l )
adzdn y a i t u p e n y a m p a i a n sesuatu dengan suara keras. Patron kata y a n g
digunakan ayat ini m e n g a n d u n g penekanan.
Ibn A s y u r dan sebelumnya—al-Biqa i—menunjuk apa yang disampaikan
Nabi M u s a as. ini adalah apa y a n g termaktub d a l a m Perjanjian L a m a Kitab
Keluaran DOC, XX, dan XXIII.
H a k i k a t y a n g d i u r a i k a n ayat di atas terbukti k e b e n a r a n n y a d a l a m
kehidupan nyata. Ketika menjelaskan makna syukur pada ayat 5 di atas, penulis
mengemukakan bahwa syukur antara lain berarti membuka dan menampakkan
Kelompok II Ayat 8 Surah Ibrahim [I4J 331

dan l a w a n n y a adalah kufur, yakni menutup dan menyembunyikan. Hakikat


syukur adalah m e n a m p a k k a n n i k m a t antara lain m e n g g u n a k a n n y a pada
t e m p a t n y a dan sesuai d e n g a n y a n g d i k e h e n d a k i oleh p e m b e r i n y a j u g a
menyebut-nyebut pemberinya dengan baik. Ini berarti setiap n i k m a t y a n g
d i a n u g e r a h k a n AJlah m e n u n t u t perenungan u n t u k apa ia dianugerah-kan-
Nya, lalu menggunakan n i k m a t tersebut sesuai dengan tujuan
penganugerahannya. Ambillah sebagai contoh laut. Allah menciptakan laut
dan m e n u n d u k k a n n y a u n t u k digunakan manusia dengan tujuan:

"Aqar kamu dapat memakan darinya daging (ikan) yang segar dan agar kamu
mengeluarkan darinya perhiasan ( mutiara )yang kamu pakai dan agar kamu
membuat bahtera-bahtera sehingga dapat melihat bahtera berlayar padanya
dan supaya kamu mencari karunia-Nya" {QS. an-Nahl [1 6 j : 14).
Jika ini dipahami, mensyukuri nikmat laut menuntut kerja keras sehingga
apa yang disebut di atas akan dapat diraih. Dan perlu diingat bahwa semakin
giat seseorang bekerja, dan semakin bersahabat dia dengan l i n g k u n g a n n y a ,
semakin banyak pula yang dapat dinikmatinya. Demikian syukur menambali
nikmat.
Di sisi lain, di alam raya, termasuk di perut bumi, terdapat sekian banyak
nikmat Allah y a n g terpendam, la harus disyukuri dalam arti "digali" dan
d i t a m p a k k a n . M e n u t u p i n y a atau dengan kata lain mengkufurmya dapat
m e n g u n d a n g kekurangan y a n g melahirkan kemiskinan, penyakit, rasa lapar,
cemas, dan takut.

AYAT 8

Dan Musa berkata: "Jika kamu kufur, kamu dan siapa pun yang ada di bumi
semuanya, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji "
332 Surah Ibrahim [14] Kelompok II Ayat 8

Ayat y a n g lalu m e n y a m p a i k a n keharusan bersyukur dan menghindar


dari kekufuran. Itu sebagian dari peringatan Nabi M u s a as. Akan tetapi, harus
diingat bahwa pelaksanaan perintah itu sama sekali bukan untuk kepentingan
Allah. Karena, ayat ini melanjutkan bahwa: Dan Musa berkata: jika kamu
kufur, kamu dan siapa pun yang ada di bumi semuanya, maka ketahuilah
bahwa itu tidak merugikan Allah sedikit pun sesungguhnya Allah Mahakaya
lagi Maha Terpuji. Dia T i d a k m e m e r l u k a n k a m u dan siapa pun y a n g ada di
seluruh persada dan perut bumi, tidak juga m e m e r l u k a n kesyukuran kamu
dan mereka, dan Dia selalu Terpuji walau menyiksa kamu karena penyiksaan-
N y a sungguh pada tempatnya.

Di tempat lain, secara tegas al-Qur'an menyatakan bahwa manfaat syukur


kembali kepada y a n g bersyukur itu sendiri:

"Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk
diriknya sendiri"(QS. an-Naml [ 2 7 ] : 4 0 ) . N a m u n demikian, kendati Allah
tidak memeroleh sedikit manfaat pun dari kesyukuran m a k h l u k - m a k h l u k -
N y a , Dia menamai dirinya ( ^ L i ) Sydkirun 'Alim (QS. al-Baqarah [ 2 ] :
158), yakni melimpahkan banyak anugerah bahkan menambahnya bagi yang
bersyukur sebagaimana ditegaskan antara lain oleh ayat yang sedang ditafsirkan
ini.
Kata ( ^ ) ghaniyy yang biasa diterjemahkan kaya, jika menunjuk kepada
Allah, berarti "Dia yang tidak punya hubungan dengan selain-Nya, tidak dalam
Zat-Nya tidak pula dalam, sifat-Nya, bahkan Dia Mahasuci dalam segala
macam hubungan ketergantungan. "
D e m i k i a n terlihat bahwa " kekayaan" Allah yang dimaksud dalam sifat-
Nya ini bukan melimpahnya materi, tetapi ketidakhutuhan-Nya kepada selain-
Nya. D a l a m firman-Nya:

"Hai sekalian manusia, kamulah yang rniskin/butuh k"pada Allah; sedang


Allah, Dia-lah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji"
(QS.Fath.ir [ 3 5 ] : 1 5 ) .
Kelompok II Ayat 8 Surah Ibrahim [14] 333

Yang sebenar-benarnya kaya adalah yang tidak b u t u h kepada sesuatu.


Allah menyatakan dirinya dalam dua ayat, seperti:

s s s P 'l ~",J
-i '
JV.iij.Jl ^ 4All <jU

"Maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak butuh) dari semesta alam"Q$.
C
AH 'Imran [3]: 9 7 dan QS. al-Ankabut [2 >]: 6. Manusia, betapapun kayanya,
dia retap butuh, paling tidak kebutuhan kepada yang memberinya kekayaan.
Yang memberi kekayaan adalah .Allah swt.
Kata Ghauiyv, yang merupakan sifat Allah, pada u m u m n y a dirangkaikan
dengan kata Hamid. Perangkaian sifat Ghamyy dengan Hamid menunjukkan
bahwa dalam k e k a y a a n - N y a Dia amat terpuji, bukan saja pada sifat-Nya,
tetapi juga jenis dan kadar bantuan/anugerah kekayaan-Nya itu.
Kata ( «u>i-i ) ahhamid terambil dari akar kara y a n g terdiri dari huruf-
h u r u f / V , mim, dan dai, y a n g m a k n a n y a menunjuk kepada antonim tercela.
Dari sini, nabi terakhir d i n a m a i M u h a m m a d karena tidak ada sifat tercela
yang beliau sandang.
I'akhruddin ar-Razi membedakan antara syukur dan hamdlpujian. Syukur
digunakan untuk memuji nikmat yang Anda peroleh, sedang/w? W digunakan
baik u n t u k nikmat yang Anda peroleh m a u p u n yang diperoleh selain Anda.
J i k a demikian, saat Anda berkata Allah al-HamidIMaha Terpuji, ini adalah
pujian kepada-Nya, baik A n d a m e n e r i m a nikmat m a u p u n pihak lain y a n g
menerimanya, sedang bila Anda mensyukuri-Nya, itu karena Anda merasakan
adanya anugerah yang A n d a peroleh.
Ada tiga unsur dalam perbuatan yang harus dipenuhi oleh pelaku sehingga
dia mendapat pujian, yaitu: 1) indah (baik), 2) dilakukan secara sadar, dan 5)
tidak terpaksa/d i paksa. Kata al-Hamid yang menjadi sifat Allah mengandung
arti bahwa Allah dalam segala perbuatan-Nya telah m e m e n u h i ketiga unsur
pujian yang disebutkan di atas.
.Allah ahHauudbcmvti Dia vang menciptakan segala sesuatu dan segalanya
dieiptakan dengan baik serta atas dasar ikhtiar dan k e h e n d a k - N y a tanpa
paksaan. Kalau demikian, segala perbuatan-Nya terpuji dan segala yang terpuji
merupakan perbuatan-Nva jua sehingga wajar Dia m e n y a n d a n g sifat al-
Hamid.
334 Surah Ibrahim [14] Kelompok II Ayat 9

Sifat Allah al-Hamid, menurut I m a m al-Ghazali, adalah "Allah y a n g


terpuji oleh diri-Nya sejak azal dan terpuji pula oleh m a k h l u k - m a k h l u k n y a
terus-menerus."
Dati penjelasan di atas, terlihat bahwa Allah di samping dipuji oleh
m a k h l u k - N y a juga memuji diri-Nya. M e m a n g , dari tinjauan kebahasaan
patron kata semacam al-Hamid dapat berarti subjek dan objek. Di sisi lain,
d i t e m u k a n dalam a l - Q u r ' a n firman-Nya y a n g m e n g a n d u n g pujian atas
dirinya. Perhatikan surah al-Fatihah, y a n g diawali setelah Basmalah dengan
al-Hamdulillah. Pujian Allah terhadap diri-Nya adalah bagian dari pengajaran-
N y a kepada m a k h l u k .
Dalam al-Qur'an, kata al-Hamid terulang sebanyak 17 kali. H a n y a sekali
y a n g tidak menjadi silat Allah tetapi sifat jalan Allah {shirdth al-Hamid).
Perangkaian sifat Hamid dengan Ghaniyy mengisyatatkan bahwa pujian
kepada Allah sama sekali tidak dibutuhkan oleh-Nya, pujian tidak menambah
keagungan dan kesempurnaan-Nya, cercaan dan kedurhakaan pun tidak
mengurangi keperkasaan dan kemutlakan-Nya. Karena itu, ditegaskan-Nya
bahwa:

"Barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur
untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka
sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji" (QS. L u q m a n [ 3 1 ] : 12).

AYAT 9

"Belumkah sampai kepada kamu berita orang-orang sebelum kamu, yaitu kaum
Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang
mengetahui mereka selain Allah. Tehih datangkepada mereka para rasulmereka
dengan bukti-bukti, lalu mereka berulang-ulang meletakkan tangan mereka
ke mulut mereka dan mereka berkata: 'Sesungguhnya kami mengkufuri apa
yang kamu diutus untuknya dan sesungguhnya kami benar-benar dalam
Kelompok II Ayat 9 Surah Ibrahim [14] 335

keragu-raguan menyangkut apa yang kamu ajak kami kepadanya lagi


menggelisahkan."'

Setelah ancaman yang tersirat pada ayat yang lalu, kini mereka diingatkan
t e n t a n g "hari-hari A l l a h " y a n g m e n i m p a u m a t - u m a t y a n g laiu u n t u k
m e m b u k t i k a n bahwa a n c a m a n Allah amat m u d a h Dia j a t u h k a n . Di sini,
disebut tiga k a u m y a n g mereka kenal sangat kuat j a s m a n i n y a lagi m e m i l i k i
k e m a m p u a n melebihi k e m a m p u a n mereka. Ayat ini m e n y a t a k a n : "Jangan
d u g a k a m u tidak dapat disentuh musibah yang akan m e m b i n a s a k a n kamu!
Belumkah sampai kepada kamu, wahai Bani Isra'il atau wahai k a u m musyrikin
M e k k a h , berita kebinasaan orang-orang sebelum kamu, yaitu kaum Nuh yang
dibinasakan dengan topan dan banjir besar, k a u m H u d y a i t u 'Ad yang
dibinasakan dengan angin ribut yang sangat dingin, dan k a u m Shalih yaitu
Tsamudyang dibinasakan dengan g e m p a y a n g menggelegar dan d e m i k i a n
juga dengan berita kehancuran orang-orang sesudah mereka, seperti p e n d u d u k
M a d y a n k a u m S y u ' a i b , k a u m T u b b a , dan l a i n - l a i n . Tidak ada yang
mengetahui mereka secara terperinci karena sangat b a n y a k j u m l a h n y a selain
Allah'T

M a u k a h kalian tahu apa sebabnya mereka dibinasakan? Telah datang


kepada mereka para rasul yang diutus untuk mereka dengan m e m b a w a bukti-
bukti y a n g sangat jelas, baik berupa mukjizat indriawi sesuai permintaan
mereka m a u p u n penjelasan-penjelasan y a n g sangat terperinci dan m u d a h
mereka pahami lagi sangat logis, lalu tanpa berpikir panjang dan dengan
sangat segera—sebagaimana dipahami dari kata (/#71 alu)—mereka berulang-
ulang meletakkan tangan mereka ke mulut mereka- sebagal tanda penolakan
dan kebencian serta perintah kepada para rasul mereka agar diam tidak
melanjutkan dakwahnya dan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mengkufkri,
yakni m e n u t u p mata hati dan telinga kami, serta mengingkari apa yang kamu
diutus untuknya karena tidak ada y a n g dapat k a m i y a k i n i dari uraian k a m u ,
dan sesungguhnya k a l a u p u n seandainya k a m i belum sampai pada tingkat
keyakinan akan kebohongan kamu-—wahai para r a s u l — m a k a paling sedikit
kami benar-benar dalam- wadah keragu-raguan y a n g besar menyangkut apa
yang kamu ajak kami kepadanya lagi menggelisahkan hati kami.
336 Surah Ibrahim [14] Kelompok II Ayat 9

Ayat di atas ada y a n g m e m a h a m i n y a sebagai lanjutan dari peringatan


N a b i M u s a as. dan ada j u g a y a n g berpendapat bahwa ia tidak berhubungan
langsung dengan Nabi M u s a as. tetapi uraian baru y a n g ditujukan kepada
kaum musyrikin Mekkah.
Firman-Nya: ( J»^J3' J >*-&s^) i j i y ) faraddu aidiyahum fl afwahihim
y a n g diterjemahkan dengan berulang-ulang (meletakkan) tangan mereka ke
mulut mereka. Kata (\ p J ) faraddu terambil dari kata (3_j) raelda yang berarti
mengembalikan. Ini mengisyaratkan bahwa tangan mereka berbolak-balik
ke m u l u t mereka. T h a h i r Ibn 'Asyur menilai k a l i m a t itu adalah satu istilah
baru yang diperkenalkan al-Qur'an karena ia tidak ditemukan dalam literatur
bahasa Arab. Oleh sebab itu pula banyak m a k n a y a n g d i k e m u k a k a n para
pakar. S e l a i n y a n g d i s e b u t d a l a m p e n j e l a s a n di atas, ada j u g a y a n g
m e m a h a m i n y a dalam arti meletakkan tangannya guna tidak m e n a m p a k k a n
kegelian dan tawa mendengar uraian para rasul atau karena kemarahan dan
kedengkian mereka. Ada lagi y a n g m e m a h a m i kata ( ^ J j i ) aidiyahum)
tangan-tangan mereka bukan dalam arti hakiki, yakni anggota badan manusia,
tetapi dalam arti majazi, y a k n i n i k m a t - n i k m a t Ailah. D a l a m arti, mereka
menolak apa y a n g ditawarkan Allah yang, seandainya mereka terima, hal
tersebut menjadi n i k m a t buat mereka. Agaknya, pendapat y a n g penulis
k e m u k a k a n dalam penjelasan ayat di atas m e r u p a k a n pendapat y a n g paling
tepat apalagi m e m a n g sering kali kita meletakkan tangan di m u l u t sebagai
isyarat u n t u k diam dan m e n u t u p mulut.

Firman-Nya melukiskan ucapan orang-orang kafir ( iJ_i ^ Ulj) wa innd


lafi syakkinlkami benar-benar dalam keragu-raguan, setelah sebelumnya telah
m e n y a t a k a n kekufuran mereka, dipahami oleh beberapa u l a m a sebagai
melukiskan dua kelompok, ada y a n g kafir ada juga yang ragu. Pendapat lain
membedakan objek kekufuran dan objek keraguan, yakni mereka meragukan
keesaan Allah swt. dan mengingkari mukjizat y a n g d i t a m p i l k a n para rasul
mereka. Atau, kekufuran mereka m e n y a n g k u t k e d u d u k a n para rastil itu
sebagai utusan Allah, yakni mereka tidak memercayai mereka sebagai rasul,
sedang keraguan mereka menyangkut sebagian ajaran yang mereka sampaikan.
Yakni, ada ajaran para rasul itu y a n g mereka sedang pikirkan dan belum
memeroleh pembenaran atau penolakan tegas dari mereka. N a m u n demikian.
Kelompok II Ayat 10 Surah Ibrahim [14] 337

mereka mengisyaratkan bahwa keraguan lebih kuat dari pembenaran mereka


karena ajaran tersebut ( J^Li J ) fisyakkin, yakni berada dalam wadah keragu-
raguan y a n g besar.

AYAT 10

Berkata para rasul mereka: "Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta
langit dan bumi ? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepada kamu
dari sebagian dosa-dosa kamu dan menangguhkan kamu sampai masa yang
ditentukan. "Mereka berkata: "Kamu tidak lain hanya manusia seperti kami.
Kamu bermaksud menghalang-halangi kami dari apa yang selalu disembah
oleh nenek moyang kami, maka datangkanlah kepada kami bukti yang memiliki
kekuasaan yang nyata."

M e n d e n g a r jawaban k a u m para rasul yang diuraikan oleh ayat yang lalu,


di sini dijelaskan tanggapan para rasul atas ucapan dan sikap u m a t - u m a t itu.
Berkata para rasul mereka itu: Apakah ada keraguan dari siapa pun y a n g
berakal atau m e n u r u t i fitrahnya terhadap keesaan Allah, Pencipta langit dan
bumi dengan penciptaan y a n g sedemikian serasi.' Dia menyeru kamu agar
mengesakan dan beribadah k e p a d a - N y a semata. Seruan itu b u k a n u n t u k
k e p e n t i n g a n - N y a tetapi u n t u k kepentingan k a m u sendiri. Dia m e n y e r u
k a m u — m e l a l u i k a m i — u n t u k memberi ampunan kepada kamu dari sebagian
dosa-dosa kamu dan Dia j u g a tidak bersegera menjatuhkan sanksi kepada
k a m u tetapi menangguhkan j a t u h n y a sanksi itu atas kamu agar memberi
k a m u peluang u n t u k berpikir dan berintrospeksi. Penangguhan itu sampai
masa yang ditentukan oleh-Nya, misalnya sampai tibanya ajal k a m u masing-
masing."

M e n d e n g a r j a w a b a n para rasul itu mereka dengan keras kepala berkata:


"Kamu, w a h a i para rasul, tidak lain hanya manusia biasa seperti kami ]\xga.
K a m u tidak memiliki keistimewaan apa pun y a n g menjadikan k a m u dipilih
Tuhan untuk membimbing kami. Kamu bermaksud dengan pengakuan k a m u
sebagai para rasul Allah untuk menghaking-halangi, yakni membelokkan kami
338 Surah Ibrahim [14] Kelompok II Ayat 10

dari apa yang selalu disembah oleh nenek moyang kami agar, dengan demikian,
kamu dapat menjadikan kami pengikut-pengikut k a m u . Karena kami tidak
percaya kerasulan k a m u itu, maka datangkanlah kepada kami bukti tentang
kebenaran apa y a n g kamu sampaikan, yakni bukti yang memiliki kekuasaan
yang nyata sehingga k a m i tidak dapat m e n g e l a k karena bukti itu telah
menguasai kami.
Kata ( ^ l i ) fdthir terambil dari kata ( ^Jai) fathara vang berarti membelah.
Yang dimaksud adalah mencipta langit dan b u m i dalam bentuk vang sangat
serasi dan tanpa contoh sebelumnya. Allah swt. seakan-akan membelah
kegelapan, yakni ketiadaan, dan memunculkan dari dalam ketiadaan itu langit
dan bumi dalam bentuk yang sangat hebat dan serasi.
J a w a b a n p a r a r a s u l s e p e r t i t e r b a c a di atas m e n g a n d u n g bukti
ketidakwajaran adanya keraguan menyangkut keesaan Allah swt. Betapa tidak,
segala y a n g w u j u d ini m e n g a l a m i perubahan. S e m u a m a k h l u k pernah
mengalami ketiadaan, sebagian lainnya telah tiada, sedang yang masih ada
segera akan tiada pula. Ini menunjukkan bahwa wujud makhluk bergantung
kepada selain dirinya karena sesuatu tidak m u n g k i n mewujudkan dirinva
sendiri. Di sisi lain, apa y a n g wujud, baik yang di langit m a u p u n yang di
bumi, m e n a m p a k k a n keserasian dan keharmonisan. Hal ini membuktikan
bahwa ada w u j u d yang mengatur keharmonisan itu. W u j u d itu adalah sang
Pencipta, yakni Allah swt., vang ditunjuk oleh ayat ini dengan kata Fdthir.
Dia pasti Esa karena kalau tidak, pasti akan terjadi disharmoni, kekacauan
d a l a m a l a m raya, karena d u a p e n g u a s a d a l a m satu kapal saja dapat
mengacaukan pelayaran apalagi pada ratusan juta gugusan bintang dan benda-
benda vang beredar di angkasa raya.

Allah Yang M a h a Pencipta itu mengatur juga keharmonisan hidup


manusia dan ketenteraman jiwanya secara pribadi dan kolektif. Manusia tidak
dapat luput dari kesalahan dan dosa. Ini karena di samping kesucian fitrah
yang dianugerahkan .Allah swt., manusia juga berpotensi terjerumus ke dalair.
godaan nafsu dari seran sehingga dia dapat keliru dan berdosa. Untu.-.
mengurangi sedapat m u n g k i n kekeliruan dan dosanya, Allah mengutus pan:
nabi dan rasul guna m e m b i m b i n g manusia dan memberi mereka tuntunan
agar h i d u p n y a secara pribadi dan kolektif selalu diliputi oleh keserasian dar.
Kelompok II Ayat 10 Surah Ibrahim [14] 339

keharmonisan. Di sisi lain, karena kekeliruan dan dosa dapat melahirkan


keresahan, g u n a m e m e l i h a r a k e t e n t e r a m a n j i w a m a n u s i a serta u n t u k
mewujudkan keharmonisan antara seseorang dan dirinya sendiri serta dengan
orang lain, dia harus merasa terbebaskan dari dosa dan itulah yang ditegaskan
oleh para rasul itu ketika berkata: "Dia menyeru kamu untuk memberi
ampunan kepada kamu . Seruan itu disampaikan-Nya tidak secara langsung
tetapi melalui m a n u s i a - m a n u s i a y a n g dipilih-Nya. Dia memberi manusia-
m a n u s i a itu m u k j i z a t — a t a u katakanlah sutat m a n d a t y a n g ditandatangani
dan dicap o l e h - N y a — u n t u k m e m b u k t i k a n bahwa mereka—yakni para nabi
dan rasul itu—benar-benar adalah utusan-utusan Allah swt.

Dengan penjelasan di atas, kiranya dapat kita katakan bahwa jawaban


para rasul itu m e n g a n d u n g dalil y a n g sangat k u k u h y a n g m e m b a t a l k a n
penolakan k a u m musyrikin itu terhadap keesaan Allah dan kehadiran para
rasul u n t u k m e m b i m b i n g masyarakat.
Ayat di atas m e n y a t a k a n ( ^ ^ i a J ) liyaghfira lakum min
dzunilbikumlmemberi ampunan kepada kamu dari sebagian dosa-dosa kamu,
y a k n i y a n g dijanjikan u n t u k d i a m p u n i h a n y a sebagian. Ada ayat lain
menyatakan ( ^ ) liyaghfira lakum dzunubikum tanpa
m e n g g u n a k a n kata ( j » ) min/sebagian (baca Q S . ash-Shaff [ 6 1 ] : 12) dan ini
berarti semua dosa-dosa diampuni. Apakah ini berani kedua ayat bertentangan?
Asy-Sya'rawi berpendapat b a h w a ayat y a n g menyatakan sebagian itu
tertuju kepada k a u m musyrikin, sedang yang tanpa kata mini sebagian tertuju
kepada k a u m muslimin. Yang dimaksud sebagian—menurut a s y - S y a ' r a w i —
hanya dosa-dosa besar karena dosa kecil diampuni Allah dengan pelaksanaan
kewajiban, sedang hal tersebut tidak dilakukan oleh k a u m musyrikin sehingga
dosa-dosa kecil mereka tidak d i a m p u n i berbeda dengan k a u m m u s l i m i n .
Ayat y a n g tidak m e n g g u n a k a n kata min m e m a n g ditujukan kepada orang-
orang beriman. Di sisi lain, diremukan sekian ayat y a n g berbicara tentang
orang-orang kafir y a n g m e n g g u n a k a n kata min/sebagian. N a m u n demikian,
pendapat asy-Sya'rawi itu sulit diterima karena kalau dosa y a n g besar saja
telah d i a m p u n i Allah, tentu lebih-lebih y a n g kecil. Di sisi lain, keislaman
seorang musyrik menghapus seluruh dosa-dosanya, baik dosa yang berkaitan
dengan manusia lebih-lebih y a n g berkaitan dengan Allah swt., baik y a n g
340 Surah Ibrahim [14] Kelompok II Ayat 10

kecil m a u p u n y a n g besar. Ada j u g a yang berpendapat b a h w a kata min pada


ayat di atas b u k a n berarti sebagian, tetapi ia adalah sisipan y a n g tidak
m e n g a n d u n g arti kecuali untuk m e n g u k u h k a n pengampunan dosa-dosa.
Thabathaba'i berpendapat lain. Setelah menjelaskan kebutuhan manusia
kepada bimbingan Allah swt. melalui para nabi demi kebahagiaan hidupnya
secara pribadi dan kolektif, dunia dan akhirat, serta setelah m e n g h u b u n g k a n
antara k e d u r h a k a a n , dosa, serta p e n g a n i a y a a n dengan kebinasaan dan
k e h a n c u r a n m a s y a r a k a t , u l a m a itu b e r k e s i m p u l a n b a h w a k e b a h a g i a a n
ukhrawi diraih dengan mengikuti ajakan Ilahi arau dengan kata lain beriman
dan bertakwa sehingga jiwa terhias dengan hiasan yang sesuai lagi bersih dari
noda dan d o s a — m e l a l u i a m p u n a n Ilahi setingkat dengan kadar k e i m a n a n
d a n k e t a k w a a n n y a . A d a p u n k e b a h a g i a a n d u n i a w i , ini d i r a i h d e n g a n
keterhindaran dari sanksi dan bencana yang membinasakan. Dengan demikian,
ulama ini berkesimpulan bahwa firman-Nya: "Memberi ampunan kepada
kamu dari sebagian dosa-dosa merupakan isyarat kepada tujuan ajakan

.Allah y a n g disampaikan para rasul itu u n t u k kehidupan akhirat, sedang


"Menangguhkan kamu sampai masa yang ditentukan" adalah untuk tujuan
kehidupan duniawi. Allah mendahulukan penyebutan kehidupan akhirat atas
kehidupan duniawi karena akhirat adalah tujuan utama yang sebenarnya dan
ia adalah negeri abadi. Bahwa yang disebut hanya sebagian dosa u n t u k
mengisyaratkan pengampunan Ilahi akan disesuaikan dengan kadar ketaatan
dan juga mengisyaratkan bahwa masyarakat manusia tidak dapat luput sama
sekali dari k e d u r h a k a a n yang mengakibatkan j a t u h n y a sanksi dan, dengan
demikian, y a n g diampuni hanya sebagian dati dosa-dosa masyarakat bukan
semuanya. Demikian lebih k u r a n g T h a b a t h a b a ' i . Ini berarti ulama beraliran
Syi'ah itu memahami pengampunan yang dimaksud bukan berkaitan dengan
pribadi demi pribadi, tetapi p e n g a m p u n a n kolektif bagi seluruh masyarakat.
B u k a n k a h seperti y a n g d i k a t a k a n n y a bahwa kedurhakaan y a n g dilakukan
oleh masyarakat dapat m e n g h a n c u r k a n masyarakat itu? Dari sini terlihat
perbedaan antara pendapat mayoritas ulama dan pendapat Thabathaba'i. Yang
lain m e n g a n g g a p p e n g a m p u n a n itu bagi pribadi demi pribadi, sedang
Thabathaba'i menilainya u n t u k masyarakat sebagai satu kesatuan.
Kelompok II Ayatl 1-12 Surah Ibrahim [14] 341

AYAT 11-12

Berkata kepada mereka rasul-rasid mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia
seperti kamu, tetapi Allah memberi karunia kepada siapayan^ Dia kehendaki
dari hamba-hamba-Nya. Dan tidaklah dapat wujud dari kami mendatangkan
sua n/, bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada
Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal. Betapa kami tidak
bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjuki kami jalan-jalan kami,
dan kami sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu
lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang bertawakal
(berserah diri). "

Pandangan orang-orang kafir icu sungguh keliru, logika mereka tidak


lurus, karena itu rasul-rasul mengakui satu sisi dari ucapan orang-orang kafir
itu dalam rangka m e n g g u g u r k a n logika dan pendapat mereka. Ayat ini
menyatakan: Berkata kepada mereka rasul-rasul mereka: " M e m a n g benar kami
tidak lain hanyalah manusia seperti kamu dari segi kemanusiaan. M e m a n g
benar, kami pun memiliki naluri seperti k a m u semua, fisik kita dan fungsinya
pun sama, tetapi dari segi sifat, potensi, dan kecenderungan manusia berbeda-
beda, seperti perbedaan dalam kecantikan dan ketampanan, kecerdasan dan
keluhuran budi mereka. Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia
kehendaki u n t u k diberi-Nya karunia dan kelebihan dari hamba-hamba-Nya
sebagai rahmat dari-Nya, dan para rasul termasuk yang diberi-Nya kelebihan
itu, antara lain berupa w a h y u yang merupakan tuntunan yang harus mereka
sampaikan kepada masyarakat mereka."

Setelah m e m b u k t i k a n k e k e l i r u a n l o g i k a m e r e k a , para rasul itu


melanjutkan dengan berkata: "Dan tidaklah dapat wujud dari kami, yakni
sama sekali k a m i tidak m e m i l i k i potensi u n t u k dapat mendatangkan suatu
bukti kepada kamu yang memiliki kekuasaan m e m b u n g k a m k a m u melainkan
dengan izin Allah karena mukjizat h a n y a bersumber dari-Nya. Karena itu,
kami m e n y e r a h k a n sepenuhnya hal tersebut kepada Allah, bahkan dalam
segala hal pun kami berserah diri kepada-Nya dan m e m a n g hanya kepada
342 Surah Ibrahim [14] Kelompok II Ayat 11-12

Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal, yakni berserah diri


setelah melakukan apa yang dapat dilakukannya dan sebatas kemampuannya."
Selanjutnya, para rasul menjelaskan mengapa mereka dan orang-orang
m u k m i n harus berserah diri kepada Allah. Mereka menegaskan dengan redaksi
y a n g berbentuk pertanyaan g u n a lebih m e n g u k u h k a n penegasan mereka:
"Betapa kami tidak bertawakal kepada Allah Yang M a h a M e n g e t a h u i dan
M a h a k u a s a itu padahal Dia telah menunjuki kami jalan-jalan kami, y a k n i
jalan-jalan kebenaran dan kebahagiaan y a n g harus kami t e m p u h serta apa
y a n g harus k a m i l a k u k a n dan k a m i tinggalkan dan karena itu pula kami
akan melaksanakannya sebaik m u n g k i n apa pun yang terjadi dan j i k a kalian
akan mengganggu k a m i maka ketahuilah bahwa kami sungguh akan bersabar
terhadap gangguan-gangguan yang kamu akan lakukan sebagaimana d a h u l u
k a m u telah lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang
bertawakal berserah diri."

Redaksi ayat ini menyatakan: ( ^ ) qdlatlahum rusulu-huml


berkata kepada mereka rasul-rasul mereka, sedang ayat sebelumnya hanya
menyatakan: ( c J l i ) qalat rusuluhumlberkata rasid-rasul mereka (tanpa
kata kepada mereka). Agaknya, hal tersebut demikian karena persoalan keesaan
Allah adalah persoalan yang ditujukan kepada semua p i h a k b u k a n hanya
kepada k a u m n y a yang membantah itu, sedang persoalan ayat yang ditafsirkan
ini yang menggunakan kata kepada mereka merupakan jawaban dan bantahan
y a n g ditujukan kepada para p e m b a n g k a n g itu karena merekalah y a n g
m e n g u c a p k a n d a l i h p e n o l a k a n k e r a s u l a n serta m e m i n t a b u k t i y a n g
m e m b u n g k a m . Di sisi lain, persoalan keesaan Allah merupakan persoalan
y a n g m e m e r l u k a n b u k t i y a n g bersifat argumentatif, berbeda dengan
pengutusan rasul. Keniscayaan datangnya rasul adalah suatu hal y a n g mudah
u n t u k dibuktikan. Karena itu, ia ditujukan langsung kepada mereka, seakan-
akan dikatakan kepada mereka: "Yang m e n o l a k kehadiran rasul tidak lain
kecuali orang-orang bodoh dan karena itu ia hanya ditujukan kepada mereka.
Demikian lebih kurang pendapat Ibn Arafah y a n g dikutip oleh Ibn 'Asyur.

j a w a b a n para rasul: («.Lio y> ^Js- j£ «ul) Allah yamunnu 'ala' manyasyau,
Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa menyatakan
kami telah dianugerahi karunia oleh Allah m e n u n j u k k a n kerendahan hati
Kelompok II Ayat 11-12 Surah Ibrahim [14] 343

mereka, sekaligus tidak m e n u t u p k e m u n g k i n a n adanya karunia Allah y a n g


Dia anugerahkan kepada selain mereka.
J a w a b a n para rasul ketika k a u m kafirin m e m i n t a mukjizat dengan
m e n y a t a k a n : ( M J i b *i\ j b a L ^ o\ ui 0£*b°j ) wa md kdna land an
ndtiyakitm bisulthdnin illd bi'idzni Allah/dan tidaklah dapat wujud dari kami
mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah
menunjukkan b a h w a dalam hal mukjizat mereka tidak memiliki
keistimewaan pribadi yang menjadikan mereka m a m p u melalaikannya tanpa
izin Allah. Di atas, penulis ibaratkan mukjizat setupa dengan surat mandat.
Para rasul tidak m e m p u n y a i campur tangan sedikit pun tentang mukjizat—
atau surat mandat itu. A p a isinya, sampai di mana w e w e n a n g y a n g diberi
kepada setiap orang, sampai kapan berlakunya, dan lain-lain semua itu kembali
kepada Pemberi mandat dalam hal ini Allah swt. Dia vang mendatangi mandat
itu dan si Penerima h a n y a m e n u n j u k k a n n y a kepada siapa yang meragukan
fungsinya sebagai utusan.

Ucapan mereka itu bukan berarti penolakan dan kemustahilan hadirnya


mukjizat sesuai u s u l — k a r e n a sekian b a n y a k usul k a u m musyrikin masa lalu
y a n g telah d i k a b u l k a n Allah, l a w a b a n para rasul itu h a n y a m e n g e m b a l i k a n
datang tidaknya mukjizat kepada Allah swt. Yang Mahakuasa itu sendirilah
yang menentukan apakah usul mereka dikabulkan atau tidak. M e m a n g , pada
masa Nabi M u h a m m a d saw.—bukan pada masa rasul-rasul yang dibicarakan
ayat ini—usul-usul semacam itu secara tegas ditolak Allah karena seperti yang
dinyatakan-Nya;

"Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan bukti-
bukti (mukjizat indriawi) melainkan karena itu telah didustakan oleh orang-
orang terdahulu'(QS. al-Isra" [ 1 7 ] : 5 9 ) .
Kata ( ji5*ta) md kdna yang diterjemahkan di atas dengan tidak dapat
wujud sering kali juga diterjemahkan dengan tidak patut. Tetapi, terjemahan
tersebut belum menggambarkan secara tepat kandungan kata itu. J i k a A n d a
berkata tidak patut, ini m e n g a n d u n g kesan bahwa itu dapat d i l a k u k a n
seseorang, h a n y a saja karena a d a n y a pertimbangan moral maka itu tidak
344 Surah Ibrahim [14] Kelompok II Ayat 13-U

dilakukannya. Tetapi, bila Anda berkata tidak dapat wujud, itu menunjukkan
kemustahilan wujudnva sama sekali, walaupun seandainya yang bersangkutan
m e n g h e n d a k i dan berusaha u n t u k m e w u j u d k a n n y a . N a h , itulah yang
d i m a k s u d oleh kata md kdna pada ayat ini.
Penggalan ayat ( uL-. a i j ) wa qad haddnd subulandlpadahal Dia
telah menunjuki kami jalan-jalan kami m e m b u k t i k a n sekali lagi kewajaran
berserah diri kepada Allah swt. Para rasul itu seakan-akan berkata: "Allah
telah menganugerahi k a m i petunjuk-Nya y a n g mengantar k a m i menuju
kebahagiaan sehingga, jika demikian, kami tidak akan ragu sedikit pun untuk
menyerahkan urusan-urusan kami yang lain kepada-Nya karena telah terbuka
bagi kami betapa besar anugerah-Nya dan betapa wajar Dia diandalkan."
Ucapan para Rasul ('o^ jli ji" jsJj &\ ^ L P J ) dia Allah falyata-wakkai:
al-mum'munldan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin
bertawakal, mengandung makna penyerahan segala urusan kepada Allah swt.
karena d e m i k i a n l a h sifat orang-orang m u k m i n — a p a l a g i para p e m b i m b i n g
mereka yang para rasuk Jika demikian, penyerahan persoalan mukjizat kepada
Allah bukanlah sesuatu y a n g aneh atau wajar dipertanyakan.
Firman-Nya: ( j j& J.i ji*j=Ji &\ Js-) ) toa dia Allah falyatawakkali. al-
mutawakkilunldan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang
benawakal berserah diri merupakan ucapan yang tertuju kepada semua pihak,
baik y a n g percaya kepada Tuhan Yang M a h a Esa m a u p u n tidak. Yakni, bila
ada di antara manusia n o n - m u s l i m y a n g bermaksud berserah diri dan
mengandalkan sesuatu, mengingat semua manusia memiliki keterbatasan dan
sering kali pasrah, satu-satunya y a n g wajar diandalkan u n t u k diserahkan
k e p a d a - N y a segala urusan h a n y a A l l a h swt. Karena, h a n y a Dia Yang
M a h a k u a s a lagi M a h a M e n g e t a h u i . Karena itu pula tidaklah wajar seorang
m u k m i n dikecam jika dia bertawakal hanya kepada Allah semata-mata.

AYAT 13-14

Orang-orang kafir berkata kepada para rasul mereka: "Demi, kami sungguh
akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali masuk ke agama
Kelompok li Ayat 13-14 Surah Ibrahim [14] 345

kami. "Maka, Tuhan mereka mewahyukan kepada mereka: "Kamipasti akan


membinasakan orang-orang yang zalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan
kamu di negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu adalah untuk orang-
orang yang takut maqam-Ku dan takut ancaman-Ku. "

Ayat ini dan ayat-ayat berikut menguraikan dialog lain yang terjadi antara
rasul dan para p e m b a n g k a n g k a u m n y a . Orang-orang kafir dengan p e n u h
a n g k u h berkata kepada para rasul mereka: "Demi tuhan-tuhan y a n g k a m i
sembah, kami sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu
kembali masuk ke agama kami, " y a k n i k a m u kembali sebagaimana keadaan
k a m u semula, y a i t u d i a m dan m e m b i a r k a n kami m e l a k u k a n apa y a n g k a m i
i n g i n k a n serta tidak menilai k a m i sesat dalam m e n y e m b a h berhala dan
mempersekutukan Allah. Tetapi, para rasul tidak m e n g h i r a u k a n ancaman
mereka dan terus melaksanakan misinya. Maka, Tuhan mereka, Allah swt.
y a n g selalu m e m b i m b i n g dan berbuat baik kepada para rasul itu dan y a n g
k e p a d a - N y a m e r e k a b e r t a w a k a l , mewahyukan kepada mereka, yakni
m e n c a m p a k k a n ke dalam diri mereka secara rahasia pesan bahwa, "Jangan
risau! Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim ituyang telah
membudaya kezaliman dalam jiwa mereka dan Kami pasti akan menempatkan
kamu di negeri itu dan menjadikan kamu menguasainya sesudah mereka Kami
binasakan. Yang demikian itu, yakni membinasakan mereka dan
menempatkan k a m u di tempat mereka, adalah anugerah untuk orang-orang
yang takut maqam-Ku dan takut ancaman-KuT

A y a t di atas m e n g g u n a k a n kata ( O i ^ j d ) la ta'udunna/kamu harus


kembali masuk agama kami. Redaksi ini menjadi bahasan para ulama karena
siapa y a n g kembali berarti dia pernah berada pada satu posisi k e m u d i a n
m e n i n g g a l k a n n y a lalu berada lagi di posisi y a n g ditinggalkan itu. Dengan
demikian, sepintas dapat terduga bahwa para rasul itu pernah menganut agama
k a u m kafirin, yakni mempersekutukan Allah, lalu beriman kepada Allah
dan kini oleh k a u m kafirin d i t u n t u t u n t u k kembali ke a g a m a semula.
Pemahaman semacam ini sama sekali tidak benar—jika yang dimaksud adalah
para rasul m u l i a itu karena para nabi dan rasul tidak pernah ternodai oleh
kemusyrikan. Itu sebabnya, dalam penjelasan di atas, penulis k e m u k a k a n
346 Surah Ibrahim [14] Kelompok II Ayat 13-1 i

bahwa kembali y a n g dimaksud adalah "kembali kepada keadaan semula",


yaitu d i a m dan membiarkan mereka m e l a k u k a n apa y a n g mereka inginkan,
bukan dalam arti kembali m e m e l u k a g a m a mereka. Atau, k a l a u p u n yang
d i m a k s u d dengan kembali adalah "kembali ke a g a m a mereka semula", ini
tertuju kepada pengikut-pengikut para rasul itu y a n g kini telah beriman dan
yang boleh jadi sebelumnya menganut agama masyarakatnya dan menyembah
berhala.

Ada juga u l a m a y a n g m e m a h a m i kata ( na> ) udnd bukan dalam arti


kembali, tetapi dalam arti beralih menjadi, baik y a n g bersangkutan pernah
berada di posisi tersebut sebelum beralih m a u p u n tidak. D a l a m konteks ini.
jika yang dimaksud adalah para rasul itu, m a k n a kata tersebut adalah beralih.
dalam arti k a u m m u s y r i k i n itu m e n u n t u t para rasulnya u n t u k beralih dari
a g a m a Allah dan m e n g a n u t a g a m a k a u m kafirin.

Dapat juga dikatakan bahwa pernyataan k a u m kafirin itu adalah berdasar


pada asumsi mereka semata-mata bukan pada suatu kenyataan. Asumsi itu
lahir karena para rasul itu merupakan k a u m mereka atau bertempat tinggal
bersama mereka sehingga mereka menduga—secara k e l i r u — b a h w a mereka
juga menganut agama yang mereka anut. Padahal, hakikatnya tidak demikian.
Para rasul m e m i s a h k a n diri dan menjauh dari masyarakat karena enggan
menyembah berhala, tetapi kejauhan mereka tidak disadari oleh kaum kafirin
itu.

Ayat di atas menjanjikan kebinasaan bagi { ^lUiJi) azh-zhalimin, yakni


y a n g telah mendarah daging kezalimannya. A d a p u n y a n g zalim tapi belum
mendarah daging kezalimannya, yakni ( ) alladzma zhalamu, boleh
jadi mereka akan m e m e n u h i ajakan para rasul itu sehingga d i a m p u n i Allah
dan selamat d u n i a dan akhirat.
Kata ( ) maejami dari segi bahasa terambil dari kata ( ^ ) qama.
L
yakni berdiri, sehingga maqdm adalah tempat berdiri. Dari sini, al-Biqa i
m e m a h a m i kata ini dalam arti tempat di m a n a manusia akan dituntut
pertanggungjawabannya oleh Allah swt. Ada j u g a yang berpendapat bahwa
kata tersebut merupakan sisipan y a n g berfungsi m e n g u k u h k a n . Agaknya,
pendapat ini lahir karena keengganan mengesankan adanya tempatbagi Allah.
Kelompok II Ayat 15-17 Surah Ibrahim [14] 347

Thabathaba'i memahami kata tersebut di sini sebagai gambaran kekuasaan


dan penanganan Allah swt. atas segala sesuatu secara mutlak dan sempurna.
Siapa y a n g takut pada maqam-Nya, m e n u r u t ulama itu, berarti bertakwa
kepada-Nya dalam kedudukan Allah sebagai yang menangani secara sempurna
semua persoalan hamba-hamba-Nya dan takut ancaman-Nya berarti bertakwa
kepada-Nya karena Dia telah memperingatkan h a m b a - h a m b a - N y a melalui
para rasul agar j a n g a n melanggar perintah-Nya sehingga, dengan demikian,
k e d u a kata tersebut merupakan kata lain dari bertakwa kepada Allah swt.
A p a pun m a k n a n y a , y a n g jelas para ulama sepakat menyatakan bahwa
kata maattmi lebih kuat penekanannya daripada bila rasa takut kepada Allah
itu dilukiskan tanpa kata itu.
Thahir Ibn 'Asyur memahami ayat ini tidak lagi berbicara tentang orang-
orang kafir y a n g dihadapi oleh para rasul sebelum Nabi M u h a m m a d saw.,
tetapi i n i — m e n u r u t n y a — b e r b i c a r a tentang orang-orang kafir pada masa
N a b i M u h a m m a d saw. Itu s e b a b n y a — t u l i s Ibn ' A s y u r — a w a l a y a t ini
m e n g u b a h redaksinya dari kata (ljJi$j ) wa qaluldan mereka berkata menjadi
( I j y i T j j J J t J lis j ) wa qala alladzina kafariti dan orang-orang kafir berkata,
karena orang-orang kafir yang dimaksud di sini bukan lagi orang-orang kafir
y a n g dimaksud oleh ayat-ayat yang lalu. M e m a n g , ayat di atas m e n g g u n a k a n
b e n t u k j a m a k ( J—>j ) rusuh'rasul-rasul tetapi sekian b a n y a k a y a t y a n g
m e n g g u n a k a n bentuk jamak yang dimaksud tunggal. Apalagi, menurutnya,
ayat ini menyatakan bahwa: ( ^ Jefi\ J^S-US^-JJ ) wa

lanuskinannakumu al-ardha min ba'dihimIKami pasti akan menempatkan


kamu di negeri itu sesudah mereka. Sedang, tidak seorang rasul p u n dari
rasul-rasul yang lalu yang menguasai wilayah yang pernah dikuasai oleh kaum
m u s y r i k i n , kecuali Nabi M u h a m m a d saw.

AYAT 15-17

"Dan mereka memohon kemenangan, dan celakalah semua yang berlaku


sewenang-wenang lagi keras kepala. Di belakangnya ada Jahanam dan dia
diberi minuman dari air nanah. Dia meneguknya dan hampir dia tidak dapat
348 Surah Ibrahim [14] Kelompok II Ayat 15-1.

menelannya dan datang kepadanya maut dari segenap penjuru, tetapi dia
tidak juga mati; dan di belakangnya azab yang berat. "

Ayat y a n g lalu m e n y a t a k a n bahwa Tuhan mereka (Allah) mewahyukan


kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu'.
karena itu para rasul menyambut berita itu dan mereka memohon kemenangan
atas musuh-musuh mereka dan celakalah serta binasa pula semua yang berlaku
sewenang-wenang lagi keras kepala. Kecelakaan mereka itu antara lain karena
di belakangnya, yang di belakang setiap tirani dan y a n g keras kepala, ada
Jahanam y a n g akan menjadi tempatnya dan di sana dia diberi minuman dar:
air nanah. Dia meneguknya dari saat ke saat dengan terpaksa dan hampir dia
tidak dapat menelannya karena panas dan b u r u k n y a air nanah itu dan datang
juga kepadanya bahaya maut dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati:
sehingga dia terus-menerus m e n g a l a m i siksa y a n g tak henti-henti dan d;
belakangnya, yakni setelah m i n u m a n itu, tanpa dia sadari dan ketahui masih
disiapkan lagi u n t u k n y a azab yang berat.
Kata ( i jPtzu~>\) istaftahu dapat juga dipahami dalam arti orang-orang
kafir itu memohon pertolongan dan k e m e n a n g a n menghadapi rasul-rasu!
mereka, tetapi mereka tidak berhasil dan akhirnya celakalah mereka.
Dari segi bahasa, kata y a n g terdiri dari ketiga h u r u f jim, bd \ dan rd
m e n g a n d u n g m a k n a keagungan, ketinggian, dan istiqdmahlkonsisten.
Demikian Ibn Faris dalam b u k u n y a al-Maqdyis. N a m a ( ) Jabbdrh&ny^
disandang oleh Allah swt. Ia tidak wajar disandang oleh makhluk, siapa pun
dia. Allah sebagai Jabbdr dipahami dalam arti Dia Yang Mahatinggi sehingga
memaksa y a n g rendah untuk t u n d u k kepada apa y a n g dikehendaki-Nya.
Dia tidak dapat dijangkau oleh siapa pun, ketundukan dan
ketidakterjangkauan yang t a m p a k secara amat jelas. Kalaupun ada yang
berusaha m e n j a n g k a u k e t i n g g i a n - N y a , Dia akan m e m a k s a n y a t u n d u k
sehingga semua bertekuk di hadapan-Nya. M a k h l u k yang dinilai jabbdr adalah
yang sangat angkuh dan merasa memiliki kelebihan sehingga mendorongnya
berlaku sewenang-wenang dan memaksakan kehendaknya. Dengan kata lain.
jabbdr adalah tiran.
Kelompok II Ayat 18 Surah Ibrahim [14] 349

Sedang ( ) anidherarti keras kepala lagi enggan menerima kebenaran.


Ini adalah d a m p a k lahiriah dari sifat sangat angkuh itu.
Kata ( AJIJJ ) ward'ihi terambil dari kata ( « j i j ) warna, yakni tertutup
atau tersembunyi. Kata ini biasa diartikan di belakang dan juga di hadapan. Ia
sering kali digunakan m e n y a n g k u t sesuatu y a n g berkaitan dengan w a k t u .
Sesuatu yang berada di belakang seseorang, tidak dilihatnya, dan sesuatu yang
di d e p a n n y a d a l a m arti belum tiba masanya, juga tidak diketahui. Kata
tersebut di sini ada y a n g m e m a h a m i n y a dalam arti di hadapan dan ada j u g a
di belakang. Keduanya dapat dibenarkan, dan apa pun makna y a n g dipilih ia
mengesankan sesuatu y a n g tersembunyi, tidak diketahui atau disadari.
Kata ( OJJ_^ ) shadidadalah cairan yang meleleh pada bisul yang bernanah.
Penambahan kata md'/air pada. ayat ini u n t u k m e n g g a m b a r k a n bahwa j i k a
penghuni neraka itu m e m i n t a air m a k a mereka diberi shadidl nanah atau
cairan itu.
Kata ( ) yatojamiuhu terambil dari kata (ls>y? )jurah, yakni teguk/
meneguk. S e t e g u k m i n u m a n d i n a m a i ( AS-yr ) jur'ah s e m e n t a r a sesuap
makanan dinamai ( a ^ i j ) luqmahlsuap. Bentuk kata kerja mudhanlmasa kini
menunjukkan bahwa hal tersebut senantiasa dilakukannya dan penambahan
huruf mengisyaratkan bahwa itu d i l a k u k a n n y a dengan terpaksa.

AYAT 18

"Keadaanyang aneh dari orang-orang kafir kepada Tuhan mereka adalah bahwa
amal-amal mereka seperti abu yang ditiup dengan keras oleh angin pada. suatu
hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa sedikit pun dari apa yang
telah mereka usahakan. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. "

Setelah menjelaskan apa y a n g akan m e n i m p a orang-orang kafir, boleh


jadi ada y a n g berkata: " B u k a n k a h mereka telah m e l a k u k a n amal-amal yang
baik?" Bukankah ada di antara orang-orang kafir itu yang telah berjasa kepada
banyak orang, bahkan boleh jadi kepada kemanusiaan? Apakah mereka juga
harus disiksa?" Ayat ini menjelaskan keadaan amal-amal mereka itu dengan
350 Surah Ibrahim [14] Kelompok II Ayat 18

satu p e r u m p a m a a n , y a i t u keadaan yang aneh dari orang-orang yang kafir


kepada Tuhan mereka adalah bahwa amal-amal mereka, y a n g mereka lalaikan
di dunia dan y a n g k a m u dan mereka anggap baik, adalah seperti abu yang
ditiup dengan keras oleh angin. J i k a d e m i k i a n keadaannya, pastilah abu akan
dengan sangat m u d a h diterbangkan oleh angin. Jangan duga akan ada abu
y a n g tersisa! Angin itu y a n g m e n i u p terjadi pada suatu hari yang berangin
kencang sehingga m e n e r b a n g k a n segala sesuatu—apalagi a b u — k e segala
penjuru. Demikianlah keadaan amal-amal baik mereka sehingga mereka tidak
kuasa, y a k n i tidak dapat m e n g a m b i l manfaat sedikit pun dari apa yang telah
mereka usahakan itu. Ini disebabkan amal-amal mereka tidak berlandaskan
sesuatu y a n g k u k u h karena tidak dibarengi oleh iman. Yang demikian itu,
yakni keadaan mereka itu, adalah kesesatan yang jauh.

D a l a m k e h i d u p a n d u n i a ini, ada hal-hal y a n g dapat bertahan l a m a ada


juga yang cepat tusak, punah, atau kedaluwarsa. Masing-masing sesuai dengan
kualitas pembuatan atau produksinya. Sesuatu yang diawetkan pun bermacam-
macam. Orang-orang Mesir k u n o m a m p u mengawetkan badan manusia atau
binatang ribuan tahun; bangunan p y r a m i d dengan k e m e g a h a n n y a masih
bertahan dan utuh hingga kini; warna-warni sekian b a n y a k perhiasan yang
terbuat dari aneka bahan p u n b a n y a k sekali y a n g bertahan. Bandingkanlah
hal-hal tersebut dengan sekian banyak produksi umat manusia abad ini. Ada
bahan pakaian yang warnanya luntur sekali cuci; ada bangunan y a n g hancur
berantakan hanya dengan guncangan yang tidak terlalu keras. Ini karena kualitas
pembuatannya tidak memenuhi standar yang menjadikannya dapat bertahan
lama. Nah, demikian juga dengan amal-amal manusia. Jika kualitasnya tidak
sempurna, atau jika standar y a n g ditetapkan bagi langgengnya amal tidak
terpenuhi, ia akan hancur berantakan bagaikan debu beterbangan. Bahan
pengawet amal, standar kualitas y a n g m u t l a k dipenuhi u n t u k langgengnya
suatu amal hingga hari Kemudian adalah keikhlasan kepada Allah swt. Tanpa
hal ini, secara lahiriah amal dapat terlihat berpenampilan sangat baik, tetapi
la keropos, kualitasnya buruk, walau k e m a s a n n y a indah.

Jangan duga syarat itu berlaku khusus u n t u k orang-orang-orang kafir


saja! Tidak, ia juga berlaku u n t u k orang-orang m u s l i m y a n g munafik.
C a m k a n l a h firman Allah y a n g menyatakan:
Kelompok II Ayat 18 Surah Ibrahim [14] 351

"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu membatalkan (pahala) sedekah


kamu dengan tnenyebut-nyebutnya dan mengganggu (perasaan si penerima),
seperti orang yang menafkahkan hartanya karena nya kepada manusia dan
dia tidak beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Maka, keadaan orang
itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, lalu batu itu ditimpa hujan
lebat, maka menjadilah ia bersih (tidak bertanah!berdebu). Mereka tidak
menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir" (QS. al-Baqarah [ 2 ] : 2 6 4 ) .
N a m u n demikian, jangan juga duga hasil produksi yang tidak memenuhi
s y a r a t o t o m a t i s m e n j a d i s i a - s i a . B i s a saja a d a y a n g m e m b e l i atau
m e n g g u n a k a n n y a , tetapi katakanlah produksi itu untuk konsumsi pasar
dalam negeri, bukan untuk diekspor ke luar negeri. U n t u k amal-amal y a n g
d i p a n d a n g baik tetapi tidak m e m e n u h i syarat keimanan dan keikhlasan
kepada Allah, ia hanya dapat digunakan di dunia ini. Keuntungan vang diraih
produsennya sedikit sekali dan h a n y a sementara. M e m a n g , Allah tidak
menyia-nyiakan amal mereka, apalagi sudah ada yang memeroleh manfaatnya.
N a m a baik atau penghormatan y a n g mereka peroleh dalam hidup duniawi
merupakan ganjaran mereka.

Memang, amal ditentukan oleh niat tulus pelakunya. ( C J ^ J L J U * ^ 1 UJJ)

innama al-a 'malu bi an-niyydtlsesungguhnya amal-amal ditentukan oleh niat-


niat (pelakunya). "Setiap orang akan memeroleh sesuai niatnya. Siapa y a n g
berhijrah demi karena Allah dan R a s u h N y a , hijrahnya kepada Allah dan
Rasul-Nya; dan siapa y a n g hijrahnya u n t u k dunia atau u n t u k menikahi
wanita, hijrahnya sesuai tujuannya." Demikian sabda Nabi saw. sebagaimana
L
diriwayatkan oleh Bukhari dan M u s l i m melalui Umar Ibn Khaththab ra.
KELOMPOK 3

AYAT 19-27

353
354 Surah Ibrahim [14]
Kelompok III Ayat 19-20 Surah Ibrahim [14] 355

AYAT 19- 20

"Tidakkah engkau melihat bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit


dan bumi dengan haq? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan
kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu sekali-
kali tidak terhalangi bagi Allah.''

J a n g a n duga Allah tidak kuasa melaksanakan a n c a m a n - a n c a m a n yang


diuraikan dalam ayat-ayat yang lalu. Dia kuasa membinasakan para tiran dan
yang keras kepala. Amal-amal yang kelihatannya seperti baik pun dapat menjadi
debu y a n g beterbangan. Tidakkah engkau, wahai setiap orang yang dapat
melihat, y a k n i y a n g dapat m e m e r h a t i k a n sehingga m e n g e t a h u i bahwa
sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan haq, y a k n i
berdasar sesuatu yang benar lagi langgeng menuju satu tujuan yang benar?
J i k a d e m i k i a n , apakah mereka duga bahwa amal-amal mereka y a n g tidak
"haq" (batil) tidak akan sia-sia, padahal segalanya harus "haq"? Jangankan di
hari Kemudian, dan jangankan pula amal-amal mereka, jika Dia, yakni Allah
swt. menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu, baik dengan kematian
normal maupun melalui petaka menyeluruh, dan mendatangkan sebagai ganti
k a m u makhluk yang hant, baik manusia seperti k a m u m a u p u n m a k h l u k
lain yang k a m u tidak ketahui. Dan yang demikian itu, y a k n i pembinasaan
dan penggantian itu, sekali-kali tidak terhalangi bagi Allah oleh siapa dan apa
pun. Itu adalah tidak sukar b a g i - N y a .
Kata ( J ? - ) haqq adalah sesuatu y a n g langgeng, mantap sehingga tidak
berubah. Kelanggengan dan kemantapan atau dengan kata lain sesuatu yang
nak bertingkat-tingkat sehingga dapat bersifat relatif. Haq m u t l a k adalah
.Allah swt. Lawan haq adalah ( Ji>b ) bdthil, yakni tidak langgeng, sehingga
.enyap. Amal kegiatan yang haq adalah yang pelakunya memiliki tujuan yang
Denar dan dilakukan u n t u k tujuan itu, bukan selainnya. Kita melihat sekian
? a n y a k hal di langit dan b u m i mengarah ke arah tertentu y a n g ditujunya, ia
:idak menyimpang sebelum sampai ke tujuannya, lihatlah matahari dan bumi
356 Surah Ibrahim [14] Kelompok III Ayat 19-2C

misalnya. Hal-hal y a n g kecil pun demikian. Boleh jadi tujuan kehadirannya


adalah untuk dimanfaatkan oleh yang lain dalam rangka yang lain itu mencapai
tujuannya. Kehadiran t u m b u h - t u m b u h a n — m i s a l n y a — u n t u k dimanfaatkan
binatang. Kehadiran binatang u n t u k dimakan dan digunakan manusia.
Demikian juga kehadiran alam raya. Kehadiran manusia u n t u k mengabdi
kepada A l l a h . Kalau satu kegiatan t i d a k m e m i l i k i tujuan, itulah y a n g
diistilahkan oleh al-Qur'an dengan (^_«*J) la'ib/permainan seperti bayi yang
melakukan gerak-gerik tanpa tujuan dan tanpa pikir ketika melakukannya.

Allah menciptakan langit dan b u m i serta segala isinya u n t u k tujuan


tertentu y a n g sifatnya haq, yakni langgeng dan mantap, seperti bunyi ayat
ini. Di tempat, lain ditegaskan-Nya bahwa:

"Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya
dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan
haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui" (QS. ad-Dukhan [44]:
3 8 - 3 9 ) . J u g a d i n y a t a k a n - N y a bahwa:

"Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya
dengan batil. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka
celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka"'(QS. Shad
[38]: 27).
Nah, amal-amal "baik" mereka yang tidak beriman atau tidak tulus demi
karena Allah nilainya batil. Karena itu, ia tidak langgeng hingga hari Kemudian
dan tidak juga berdampak positif ketika itu. Tetapi, j i k a amal dikaitkan
dengan Allah Yang M a h a Esa—dalam bentuk ketulusan k e p a d a - N y a —
niscaya A l l a h m e n j a d i k a n n y a haq, langgeng, sehingga akan d i t e m u k a n
ganjarannya di hari Kemudian.
Kelompok II! Ayat 21 Surah Ibrahim [14] 357

AYAT 2 1

Dan mereka tampil menghadap ke hadirat Allah, semua, lalu berkatalah orang-
orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: "Sesungguhnya kami
dahulu adalah pengikut-pengikut kamu, maka apakah kamu dapat
menghindarkan kami dari azab Allah {walau) sedikit?" Mereka menjawab:
"Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat
memberi petunjuk kamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah
bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat pelarian. "

A p a p u n yang terjadi, yang pasti semua akan mati dan di hari Kemudian
nanti di padang Mahsyar, mereka, yakni orang-orang kalir, tampil tanpa dapat
bersembunyi untuk menghadap ke hadirat Allah, semua tanpa seorang pun
terkecuali. Ketika itu, putus segala m a c a m hubungan, persahabatan, dan
persaudaraan y a n g tidak berdasar ketakwaan, lalu berkatalah orang-orang yang
lemah y a n g selama ini menjadi pengikut-pengikut para pendurhaka; mereka
berkata kepada orang-orang yang sombong dan yang ketika di dunia menjadi
p e m i m p i n - p e m i m p i n mereka "Sesungguhnya kami dahidu adalah pengikut-
pengikut kamu d a l a m m e n d u s t a k a n para rasul serta m e n d u k u n g kamu
memerangi mereka, maka apakah kini kam.u dapat menghindarkan kami
dari azab Allah walau sedikit saja?" Mereka menjawab: "Seandainya Allah
memberi petunjuk kepada, kami ke jalan kebenaran dan keselamatan, niscaya
kami dapat memberi petunjuk dan m e m b i m b i n g kamu ke arah itu. Tetapi,
kami tersesat. M a k a , karena kalian mengikuti kami, kalian p u n ikut tersesat.
Sekarang sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-
kali kita tidak mempunyai tempat pelarian dari siksa Allah."

Kata ( i j j y ) barazu berarti keluar d a l a m keadaan y a n g sebenarnya ke


satu arah terbuka sehingga dapat dilihat oleh semua pihak. Ini dirasakan dan
disadari oleh yang keluar itu tetapi dia tidak dapat m e n y e m b u n y i k a n sesuatu.
Tentu saja, hal ini ditinjau dari sisi y a n g keluar, bukan dari sisi Allah swt.
Karena bagi Allah, sekarang dan kapan p u n segala sesuatu terbuka lagi
diketahui oleh-Nya secara terperinci. Tidak sedikit pun tersembunyi. Bagi
358 Surah Ibrahim [14] Kelompok III Ayat 2'

m a n u s i a , di p a d a n g M a h s y a r n a n t i s e g a l a n y a t e r b u k a dan k e t i k a dia
sepenuhnya sadar b a h w a tidak ada lagi y a n g dapat dirahasiakan, bahkan
manusia akan tampil tanpa busana sehingga benar-benar dia tampi,
sebagaimana apa adanya.
Kata (^j)y.) barazu berbentuk kata kerja masa l a m p a u , w a l a u p u n
peristiwa y a n g diinformasikan ini belum terjadi. Pemilihan bentuk tersebut
u n t u k m e n y a t a k a n bahwa ia pasti terjadi—sedemikian pasti—sehingga ia
seakan-akan telah terjadi dan karena itu ia dilukiskan dengan kata kerja masa
lampau.
Ada juga yang m e m a h a m i penggalan awal ayat ini dalam arti konsentrasi
dalam melakukan perhitungan terhadap makhluk dan bahwa ketika itu tidak
ada lagi upaya y a n g dapat d i l a k u k a n karena masa pemberian balasan dan
ganjaran telah tiba. Ini serupa dengan firman-Nya:

"Kami akan berkonsentrasi kepada kamu hai manusia dan jin'(QS. ar-Rahman
[55]: 31).
P e r t a n y a a n y a n g d i a j u k a n p a r a p e n g i k u t : Apakah kamu dapat
menghindarkan kami dari azab Allah (walau) sedikit? bukan dalam arti
pertanyaan y a n g sebenarnya tetapi semacam kecaman terhadap mereka. Ini
dipahami demikian karena situasi ketika Itu sedemikian jelas, kekuasaan dan
m u r k a Allah terasa oleh para pendurhaka. Bahkan, putusan Adlah telah
diketahui oleh setiap orang sebagaimana diisyaratkan oleh Q S . Mu'min [ 4 0 ] :
47-48.

Dan ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang


lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: "Sesungguhnya
kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan
dari kami sebagian azab api neraka?" Orang-orang yang menyombongkan diri
Kelompok III Ayat 22 Surah Ibrahim [14] 359

menjawab: "Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena


sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-
(Nya). "
Thabathaba'i memahami ucapan mereka ( ^ J J ^ *oii U U * ) lau had/ind
Allah lahadindkumlseandainya Allah memberi petunjuk kepada kami dan
seterusnya dalam arti " S e a n d a i n y a Allah memberi petunjuk kepada k a m i
untuk dapat mengelak dari siksa ini, niscaya kami pun akan m e m b a n t u k a m u
u n t u k mengelak". N a m u n banyak u l a m a yang tidak m e n d u k u n g m a k n a ini.

Kata { jC^£ ) mahish terambil dari kata ( ) hdsha y a i t u m e n g h i n d a r


g u n a mencapai keselamatan. Patron kata ini dapat berarti tempat dapat j u g a
berarti waktu, y a k n i tempat atau peluang u n t u k menghindar.

AYAT 2 2

Dan berkatalah setan tatkala perkara telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah


telah menjanjikan kepada kamu janji yang benar, dan aku pun telah
menjanjikan kepada kamu, tetapi aku menyalahinya. Dan sekali-kali tidak
ada sedikit pun kekuasaan bagiku terhadap kamu, tetapi aku sekadar menyeru
kamu, lalu kamu mematuhi semanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu
menyesali aku, akan tetapi sesahlah diri kamu sendiri. Aku sekali-kali tidak
dapat menolong kamu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku.
Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kamu mempersekutukan
aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang zalim mendapat
siksa yang pedih. "

Setelah m e n g u t a i k a n para pendurhaka, kini diuraikan dalih pelaku dan


penyebab u t a m a kedurhakaan dan penjerumus ke j u r a n g kesesatan, yaitu
setan, d a l a m hal ini iblis.
Dan berkatalah setan tatkala perkara perhitungan telah diselesaikan dan
telah ditetapkan oleh Allah siapa penghuni surga dan siapa pula penghuni
neraka: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu janji yang benar,
y a i t u janji y a n g disampaikan oleh pata nabi, antara lain bahwa Kiamar pasti
360 Surah ibrahfm [14] Kelompok III Ayat 22

datang dan bahwa surga d i h u n i oleh h a m b a - h a m b a - N y a y a n g taat, sedang


neraka dihuni oleh yang durhaka, dan bahwa ada kebahagiaan dan kesengsaraan
dan aku pun telah menjanjikan kepada kamu b e r m a c a m - m a c a m janji, tetapi
kini aku mengaku telah me?iyalahinya, yakni aku tidak memenuhinya. Tuhan
juga telah menyampaikan pada kalian bahwa janji dan harapan-harapan yang
aku sampaikan itu adalah bohong. "

Dan sebenarnya, ketika itu, aku tidak dapat memaksa kalian karena sekali-
kali tidak ada sedikit pun kekuasaan bagiku terhadap kamu. Aku tidak
mempunyai k e m a m p u a n untuk memaksa dan aku pun tidak memiliki bukti
atas apa y a n g aku janjikan; tetapi aku sekadar menyeru kamu dengan berbagai
cara godaan yang halus lalu kamu segera lagi bersungguh-sungguh mematuhi
semanku sehingga kamu mengikuti syahwat kamu dan meninggalkan setuan
Allah. Oleh sebab itu, janganlah kamu menyesali dan menyalahkan aku, akan
tetapi sesahlah dan salahkanlah diri kamu sendiri masing-masing karena
sebenarnya jika kamu mau, k a m u dapat m e n g h i n d a r dan tidak mengikuti
ajakanku. Aku sekali-kali tidak dapat menolong u n t u k menyelamatkan kamu
dari siksa vang ditetapkan Allah atas kamu akibat kedurhakaan kamu kepada-
N y a dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku untuk meringankan
siksa y a n g k u t e r i m a . Sesungguhnya hati kecil aku tidak membenarkan
perbuatan kamu mempersekutukan aku dengan Allah sejak dahulu. Tetapi,
k a m u kuajak dan kubiarkan karena aku ingin ada y a n g akan bersama aku di
neraka setelah aku d i k u t u k Allah. A k u m e m a n g sejak dahulu menyadari
bahwa hal tersebut adalah kezaliman dan menyadari pula bahwa sesungguhnya
orang-orang-orang zalim mendapat siksa yang pedih.

A p a y a n g diucapkan setan bahwa ia tidak memiliki kekuasaan sungguh


benar karena manusia yang terpedava olehnya adalah manusia y a n g tidak
m e m i l i k i kekebalan. Setan tak ubahnya seperti k u m a n y a n g tidak akan
m a m p u memberi d a m p a k buruk terhadap t u b u h manusia jika tubuh itu
sehat serta memiliki kekebalan. M a n u s i a yang memiliki kekebalan iman pun
tidak akan dipengaruhi oleh rayuan setan dan dengan m u d a h akan m a m p u
m e n a m p i k n y a . Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah demikian
( Q S . an-Nisa' [ 4 ] : 7 6 ) . Ketahuilah bahwa setan tidak memiliki k e m a m p u a n
Kelompok II! Ayat 22 Surah Ibrahim [14] 361

u n t u k m e n j e r u m u s k a n A n d a w a l a u p u n ia m a m p u m e n e m b u s angkasa,
mencuri-curi pendengaran, serta m e m i l i k i aneka potensi untuk menggoda.

"Sesungguhnya setan tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman


dan bertawakal kepada Tuhannya" ( Q S . an-Nahl [ 1 6 ] : 9 9 ) . Berulang-ulang
a l - Q u r ' a n m e n g i n g a t k a n hal ini, b a h k a n di hati K e m u d i a n iblis p u n
mengakuinya—seperti terbaca di atas.
Kata ( ) mushrikhiyy terambil dari kata ( £fj~0 ) shurakh, yakni
teriakan, maksudnya memberi pertolongan karena yang meminta pertolongan
b i a s a n y a berteriak. A s y - S y a ' r a w i m e m a h a m i n y a d a l a m arti y a n g
menghilangkan teriakan dan ini pun berarti m e n o l o n g karena dengan
menolong teriakan akan terhenti.
Kata ( o y £ ) kafartu y a n g penulis terjemahkan tidak membenarkan
adalah d a l a m bentuk kata kerja masa l a m p a u . Ada y a n g m e m a h a m i n y a
sebagaimana pengertian hakikinya, y a k n i sejak d a h u l u ketika di d u n i a aku
tidak membenarkan perbuatan kamu mempersekutukan aku dengan Allah.
Yang m e m a h a m i n y a demikian, ada y a n g beranggapan bahwa kali ini p u n
iblis masih berbohong. H e m a t penulis, pendapat ini kurang tepat karena di
Padang M a h s y a r nanti tidak ada lagi yang dapat d i s e m b u n y i k a n . Penulis
cenderung m e m a h a m i n y a seperti uraian penulis dalam penjelasan m a k n a di
atas, yakni ucapannya itu benar-benar menggambarkan isi hatinya. M e m a n g ,
iblis tahu benar b a h w a Allah M a h a Esa. Bukankah ia d a h u l u sangat taat
kepada Allah? Kalau bukan karena k e a n g k u h a n dan k e d e n g k i a n n y a kepada
A d a m as., ia tidak akan sesat dan menyesatkan.

Ada j u g a y a n g m e m a h a m i kata ( o j£ ) kafartu dalam arti "Sejak


kebangkitan sampai sekarang aku tidak membenarkan." Ucapan ini
m e n u n j u k k a n penyesalannya, tetapi pada w a k t u penyesalan tidak berguna
lagi.
Persekutuan dengan Allah y a n g d i m a k s u d oleh iblis di atas ada yang
m e m a h a m i n y a bukan dalam arti m e m p e r s e k u t u k a n n y a dalam beribadah
tetapi persekutuan d a l a m ketaatan m e n g i k u t i seruannya. Pendapat ini
d i k u a t k a n oleh Thabathaba'i dengan firman Allah swt.:
362 Surah Ibrahim [14] Kelompok III Ayat 22

"Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kamu hai Bani Adam supaya
kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang
nyata bagi kamu" ( Q S . Yasin [ 3 6 ] : 6 0 ) .
Persekutuan dimaksud dapat juga dipahami dalam arti yang lebih umum,
y a k n i benar-benar m e n y e m b a h setan. Ini antara lain dapat d i p a h a m i dari
beberapa ayat al-Qur'an seperti firman-Nya y a n g menjelaskan bahwa:

'> 'A »i * 1 < :f ' . > s*,-,' "

Di hari Kemudian Allah akan menghimpun mereka semua (orang-orang


musyrik) dan Allah berfirman kepada malaikat: Apakah mereka menyembah
kalian?" Malaikat-maiaikat itu menjawab: "Mahasuci Engkau. Engkaulah
pelindung kami, bukan mereka bahkan mereka telah menyembah jin:
kebanyakan mereka beriman kepadajin itu"(QS. S aba' [ 3 4 ] : 4 0 - 4 1 ) . Hal itu
dipahami j u g a dari kenyataan bahwa sejarah kemanusiaan tidak pernah sepi
10
dari k e l o m p o k penyembah dan pemuja s e t a n .

W a l a u p u n mereka b e r m a c a m - m a c a m , pada dasarnya dapat disatukan


d a l a m kepercayaan tentang a d a n y a kekuatan y a n g aktif selain kekuatan dan
kekuasaan Tuhan Yang M a h a Esa. Sebagian mereka berkeyakinan bahwa ada
pertarungan antara apa y a n g mereka n a m a k a n kekuatan langit (maksudnya
Tuhan) dan kekuatan bumi (setan). Pertempuran antara keduanya berlangsung
seru, sekali ini y a n g m e n a n g dan sekali itu y a n g menang; ada j u g a yang

'Abbas al-'Aqqad dalam bukunya yang berjudul Iblis, ketika membahas tentang
U!

menyembah setan, menyebutkan bahwa mereka terdiri dari tiga kelompok besar:
a. Catharisme yangdipraktikkan oleh sekelompok masyarakat di Jerman. Nama ini terambil
dari kata latin cathary&nv berarti suci. Mereka pada mulanya mempraktikkan kehidupan
zuhud, meninggalkan gemerlapan duniawi, tetapi sedikit demi sedikit mereka menyimpang
dan pada akhirnya bercampur kepercayaan mereka dengan paganisme.
b. Bogomilismeya.n.g berarti "kekasih tuhan" kelompok ini terdapat di daerah Balkan.
c. Albigenses, di Perancis Selatan.
Kelompok III Ayat 23 Surah Ibrahim [14] 363

berkeyakinan bahwa perlu ada saling pengertian antara kekuatan baik dan
buruk dalam urusan-urusan keduniaan, bahkan dalam segala persoalan, karena
tuhan kebaikan, walaupun bijaksana dan memiliki kekuatan, dia telah berlepas
tangan dari d u n i a manusia setelah melihat kebejatan dan dosa-dosa mereka,
y a n g lahir bukan akibat tipu daya setan terhadap mereka, tetapi karena
kebejatan mereka sendiri.
Sampai kini, m e n u r u t a l - A q q a d , kelompok penyembah setan masih
ada di m a n a - m a n a , antara lain kelompok vang dinamai al-Yazidiyah, vakni
sekelompok suku Kurdi yang bermukim di Irak Utara. Mereka percaya adanya
tujuh tuhan y a n g tercipta dari cahaya Tuhan Yang Esa.
Secara panjang lebar, penulis m e n g u r a i k a n persoalan pemujaan setan
dalam karya penulis YangTersembunyi. Rujuklah ke sana jika anda berminat
mengetahui.

AYAT 2 3

Dan dimasukkanlah oran^-orang vang beriman dan beramal saleh ke surga-


surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya
dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka di sana ialah
'salam'.

Penyesalan yang tidak berguna dialami oleh para pendurhaka. Janji Allah
atas mereka juga terlaksana, M e r e k a dimasukkan ke neraka. Nah, bagaimana
dengan orang-orang vang beriman? Avat ini menjelaskan: Dan dimasukkanlah
orang-orang yang beriman dan y a n g membuktikan keimanan mereka dengan
beramal saleh ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itu semua adalah dengan seizin
dan restu Tuhan Pemelihara mereka. Ucapan penghormatan mereka di sana,
yakni dalam surga itu, ialah "salam". Rujuklah ke QS.Yunus [ 1 0 ] : 10, u n t u k
memeroleh informasi lebih jauh tentang k a n d u n g a n m a k n a dan pesan ayat
ini."

11
Lihat tafsir QS. Yunus [10]: 10 pada volume 5 halaman 345.
364 Surah Ibrahim [14] Kelompok III Ayat 24-26

Ayat ini menggambarkan keadaan y a n g bertolak belakang y a n g dialami


oleh orang-orang beriman. Kalau orang kafir masuk ke neraka dan saling
bertengkar, orang-orang beriman masuk ke surga dan h u b u n g a n mereka
sungguh harmonis dan serasi lagi diliputi oleh kedamaian dan kesejahteraan
y a n g dilukiskan oleh ayat ini dengan kata salam.
Kata dasar ( ) salam berarti luput dari kekurangan, kerusakan, dan
aib. Dari sini, kata selamat d i u c a p k a n — m i s a l n y a — b i l a terjadi sesuatu y a n g
tidak diinginkan, n a m u n tidak mengakibatkan kekurangan atau kecelakaan.
Akan tetapi, ini adalah salam!da?nai y a n g pasif. Kata selamat juga diucapkan
kepada seseorang y a n g meraih keuntungan atau k e d u d u k a n terhormat. Ini
adalah salamiWarnai y a n g positif.
Damai y a n g d i d a m b a k a n termasuk keterhindaran hati dari segala aib
dan kekurangan, dengki dan hasut, serta segala m a c a m k e h e n d a k buruk
terhadap pihak lain. Siapa y a n g selamat h a t i n y a dari hal-hal tersebut m a k a
akan selamat pula anggota b a d a n n y a dari segala kejahatan dan, dengan
demikian, dia akan datang menghadap Allah dengan hati y a n g salimlselamat
seperti dilukiskan oleh Q S . asy-Syu'ara' [ 2 6 ] : 8 9 , serta d e m i k i a n jugalah
keadaan dan hati penghuni surga y a n g sikap, ucapan, serta kegiatan mereka
adalah salam.

AYAT 2 4 - 2 6

"Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah telah membuat perumpamaan


kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya ke
langit, la memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.
Allah membuatperumpamaan-perumpamaan untuk manusia supaya mereka
selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk,
yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat
tetap (tegak) sedikit pun. "

Setelah ayat yang lalu memberi perumpamaan tentang amal-amal orang


kafir, y a k n i seperti debu y a n g d i t i u p a n g i n y a n g keras, kini diberikan
Kelompok III Ayat 24-26 Surah Ibrahim [14] 365

p e r u m p a m a a n tentang orang-orang m u k m i n . Atau dapat j u g a dikatakan


bahwa surga yang diraih oleh yang taat dan dampak buruk yang dialami oleh
yang durhaka digambarkan oleh ayat ini dengan suatu perumpamaan. Untuk
itu ayat ini mengajak siapa p u n y a n g dapat melihat y a k n i merenung dan
m e m e r h a t i k a n , d e n g a n m e n y a t a k a n : Tidakkah kamu melihat, yakni
memerhatikan, bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang
baik? Kalimat itu seperti pohon yang baik, akarnya teguh m e n g h u n j a m ke
bawah sehingga tidak dapat dirobohkan oleh angin dan cabangnya tinggi
menjulang ke langit, yakni ke atas. Ia memberikan buahnya pada setiap waktu,
yakni musim, dengan seizin Tuhannya sehingga tidak ada satu kekuatan y a n g
dapat menghalangi pertumbuhan dan hasilnya yang memuaskan.
D e m i k i a n l a h Allah membuat perumpamaan-perumparnaan, yakni
memberi contoh dan permisalan untuk manusia supaya dengan demikian
m a k n a - m a k n a abstrak dapat ditangkap melalui hal-hal konkret sehingga
mereka selalu ingat. Setelah memberi p e r u m p a m a a n tentang kalimat y a n g
baik, d i l a n j u t k a n n y a dengan memberi p e r u m p a m a a n kalimat y a n g buruk,
y a i t u Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang
telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap
tegak sedikit pun. Dem iklanlah keadaan kali mat yang buruk, walau kelihatan
ada w u j u d n y a tetapi itu hanya sementara lagi tidak akan menghasilkan buah.
Sementara u l a m a m e m b a h a s p o h o n apakah y a n g dimaksud sebagai
perumpamaan kalimat y a n g baik itu. Ada yang berpendapat bahwa ia adalah
pohon k u r m a . Berdasar satu riwayat y a n g menyatakan ( A b d u l l a h ) putra
' U m a r ra. berkata b a h w a suatu ketika k a m i berada di sekeliling Rasul saw.
lalu beliau bersabda: "Beritahulah aku tentang sebuah pohon y a n g serupa
dengan seorang m u s l i m , m e m b e r i k a n buahnya pada setiap musim!" Putra
' U m a r berkata: ''Terlintas d a l a m benakku bahwa pohon itu adalah pohon
k u r m a , tetapi aku lihat A b u Bakar dan ' U m a r tidak berbicara m a k a aku
segan berbicara." Dan seketika Rasul saw. tidak mendengar j a w a b a n dari
hadirin, beliau bersabda: "Pohon itu adalah pohon k u r m a . " Setelah selesai
pertemuan dengan Rasul saw. itu, aku berkata kepada (ayahku) 'Umar:
" W a h a i Ayahku! Demi Allah telah terlintas dalam benakku b a h w a y a n g
d i m a k s u d adalah pohon k u r m a . " Beliau berkata: " M e n g a p a engkau tidak
366 Surah Ibrahim [14] Kelompok III Ayat 24-26

m e n y a m p a i k a n n y a ? " A k u m e n j a w a b : "Aku t i d a k m e l i h a t seorang pun


berbicara m a k a aku p u n segan berbicara." ' U m a r ra. berkata: "Seandainya
engkau m e n y a m p a i k a n n y a m a k a sungguh itu lebih kusukai dari ini dan itu."
H R . Bukhari, M u s l i m , at-Tirmidzi, dan lain-lain.
Pohon k u r m a manfaatnya banyak, kalorinya tinggi, b u a h n y a rindang,
m u d a h dipetik, d i m a k a n dalam keadaan mentah atau matang, serta dapat
dijadikan m i n u m a n y a n g lezat. A k a r n y a terhunjam ke bawah dan langsung
menyerap air dari bumi, dan hujan pun menyiraminya dari langit. Demikian
pendapat sementara ulama. Ada lagi y a n g berpendapat bahwa pohon yang
d i m a k s u d adalah pohon kelapa. Pelepah, sabut, tempurung, isi, dan airnya
pun bermanfaat, dan demikianlah keadaan seorang beriman.

Menurut Thabathaba'i, upaya menentukan jenis pohon tersebut tidaklah


banyak g u n a n y a . Di sisi lain, hemat penulis, H R . Bukhari y a n g dikutip di
atas sudah cukup kuat dan beralasan untuk dijadikan pegangan bila bermaksud
m e n e n t u k a n pohon y a n g dimaksud. Karena itu, kita tidak perlu mencari-
cari lagi.

Ulama j uga berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kalimat
yang baik. Ada yang berpendapat bahwa ia adalah kalimat Tauhid, atau iman,
bahkan ada yang m e m a h a m i n y a menunjuk kepada pribadi seorang m u k m i n .
Iman terhunjam ke d a l a m h a t i n y a , seperti t e r h u n j a m n y a akar pohon,
cabangnya menjulang ke atas, yakni a m a l - a m a l n y a diterima oleh Allah,
buahnya y a k i i ganjaran Ilahi, pun bertambah setiap saat. T h a h i r Ibn 'Asyur
memahaminya dalam arti al-Qur'an dan petunjukpetunjiumya. Thabathaba i
m e m a h a m i n y a dalam arti kepercayaan y a n g haq. M a k n a - m a k n a di atas
s e m u a n y a dapat bertemu. A g a k n y a , secara singkat kita dapat m e n y a t a k a n
bahwa ia adalah Kalimat Tauhid.

Kalimat Tauhid adalah pusat y a n g berkeliling di sekitarnya kesatuan-


kesatuan y a n g tidak boleh dilepaskan dari pusat itu, seperti planet-planet
tata surya y a n g berkeliling di sekitar tata surya. Kesatuan-kesatuan itu, antara
lain kesatuan alam raya, kesatuan dunia dan akhirat, kesatuan natural dan
supranatural, kesatuan ilmu, kesatuan sumber agama-agama samawi, kesatuan
kemanusiaan, kesatuan umat, kesatuan kepribadian manusia, dan lain-lain.
Kelompok III Ayat 27 Surah Ibrahim [14] 367

Kalimat yang buruk pun diperselisihkan seperti apa ia, y a n g jelas ini
adalah contoh bagi k e y a k i n a n orang-orang kafir. Ia tidak m e m i l i k i pijakan
yang kuat, sangat mudah dirobohkan, amal-amalnya tidak berbuah. Alhasil,
kebalikan dari orang-orang beriman.

AYAT 2 7

"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di


dunia dan di akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang zalim dan Allah
berbuat apa yang Dia kehendaki. "

Ayat yang lalu menyatakan bahwa Kalimah Thayyib ahI kalimatyang baik
s e r u p a d e n g a n p o h o n y a n g b a i k y a n g t e r h u n j a m a k a r n y a ke b u m i .
S e b a g a i m a n a t e g u h n y a akar pohon itu, Allah j u g a meneguhkan hati orang-
orang yang beriman dengan ucapan yang teguh, yakni kalimah thayyibah, itu
ke d a l a m hati mereka sehingga mereka selalu konsisten menghadapi segala
ujian dan cobaan di dunia dan di akhirat. Dan sebaliknya, Allah menyesatkan
orang-orang zalim karena mereka memilih pegangan y a n g bagaikan pohon
yang buruk sehingga selalu terombang ambing tidak tahan menghadapi godaan
dan cobaan dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
Firman-Nya: meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh dipahami oleh Ibn 'Asyur dalam arti Allah mempermudah bagi mereka
pemahaman ucapan-ucapan kebenaran yang bersumber dari Allah swt. sehingga
hati mereka menjadi tenang, tidak disentuh oleh keraguan dan, dengan
d e m i k i a n , i m a n mereka p u n menjadi m a n t a p tidak goyah dan mereka
melaksanakan t u n t u n a n Allah dengan konsisten.
Salah satu hasil p e m a n t a p a n itu adalah apa yang diinformasikan oleh
Rasul saw. bahwa di dalam kubur, apabila seorang m u s l i m ditanya, dia akan
bersyahadatlbersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan M u h a m m a d adalah
Rasul Allah. Itulah m a k n a firman Allah: "Allah meneguhkan orang-orang
yang beriman dengan ucapan yang teguh di dunia dan di akhirat" HR. Bukhari
1
dan at-Tirmidzi melalui al- Bara Ibn 'Azib.
368 Surah Ibrahim [14] Kelompok III Ayat 27

T h a b a t h a b a ' i m e m a h a m i n y a d a l a m arti orang-orang y a n g beriman


apabila bertahan m e m a n t a p k a n iman mereka dan konsisten Allah akan
memantapkan mereka atas dasar keimanan itu di dunia dan di akhirat. Tanpa
pemantapan dari Allah, kemantapan y a n g bersumber dari diri manusia saja
tidak akan bermanfaat dan mereka tidak akan memeroleh sedikit faedah
pun. Ini demikian karena segala persoalan kembali kepada Allah jua. Dengan
demikian, penggalan ayat ini sejajar dengan firman-Nya:

"Ketika mereka sesat Allah pun menyesatkan hati mereka" ( Q S . ash-Shaff


[ 6 1 ] : 5 ) . H a n y a saja—lanjut T h a b a t h a b a ' i — d a l a m hal kesesatan, manusia
y a n g betmula, k e m u d i a n barulah Allah y a n g m e n g u k u h k a n sesuai dengan
keinginan siapa y a n g sesat. Sedang, dalam hal petunjuk, Allah yang bermula,
k e m u d i a n sang h a m b a m e m p e r t a h a n k a n n y a lalu Allah lebih m e n g u k u h k a n
lagi. Allah swt. menciptakan manusia dalam kesucian fitrah. Dia menancapkan
naluri Ketuhanan d a l a m j i w a n y a dan m e n g i l h a m i n y a kedurhakaan dan
ketakwaan. Ini adalah hidayah fitrah, y a n g k e m u d i a n d i d u k u n g oleh ajakan
a g a m a y a n g d i s a m p a i k a n oleh para nabi d a n rasul-Nya. M a n u s i a j i k a
mengikuti fitrah kesuciannya dan cenderung untuk mencapai makrifat serta
beramal saleh, niscaya Allah swt. m e n g a n u g e r a h i n y a h i d a y a h dan, dengan
demikian, dia memeroleh dari Allah hidayah kepada keimanan setelah kesucian
fitrah itu. Sebaliknya, kalau dia menyimpang dari tuntunan fitrahnya, terbawa
oleh dunia dan hawa nafsunya, serta membelakangi kebenaran, dia dalam
keadaan sesat, tetapi kesesatan ini bukan bermula dari Allah swt. H a n y a saja,
ini m e n g u n d a n g penyesatannya dari jalan y a n g lurus dan p e m a n t a p a n n y a
d a l a m keadaan sesat itu karena, ketika itu, Allah tidak lagi m e l i m p a h k a n
rahmat hldayah-Nya serta mencabut taufik Ilahi kepadanya. Ini terjadi setelah
dia sebelumnya telah memilih kesesatan. Karena itu, redaksi ayat yang berbicara
tentang kesesatan menetapkan terlebih dahulu kesesatan mereka dengan
m e n y a t a k a n : "Ketika mereka sesat Allah pun menyesatkan hati mereka" ( Q S .
ash-Shaff [61]: 5 ) . A n d a lihat y a n g disebut terlebih dahulu kesesatan mereka
baru dinyatakan bahwa Allah menyesatkan, sedang pada ayat ini dinyatakan:
Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh, yakni
Kelompok III Ayat 27 Surah Ibrahim [14] 369

y a n g dibicarakan adalah orang-orang y a n g b e r i m a n — a t a u dengan kata lain


"mereka y a n g telah memiliki k e i m a n a n " — m e r e k a itulah y a n g diteguhkan
oleh Allah swt. Iman terlebih dahulu telah ada d a l a m hati mereka, baru
kemudian Allah m e n e g u h k a n n y a . Tetapi, perlu diingat bahwa iman awal itu
pun pada hakikatnya bermula dari Allah. Karena Dia-lah yang menciptakan
manusia memiliki fitrah keimanan. Itulah y a n g disusul oleh kecenderungan
hatinya, lalu datang lagi Allah swt.—-untuk k e d u a k a l i n y a — m e n g u k u h k a n
kecenderungan dan pilihan manusia beriman itu. Pemantapan iman ini, kalau
d i h u b u n g k a n dengan pohon y a n g baik, adalah pemantapan akar pohon itu
sehingga terhunjam ke kedalaman tanah. Nah, kalau akar pohon telah
terhunjam m a k a ia akan t u m b u h berkembang dan berbuah pada setiap saat.
Setiap saat dimaksud adalah di dunia dan di akhirat. Demikian lebih kurang
Thabathaba'i.
Apa yang Dia kehendaki pada penutup avat di atas memberi kesan adanya
sekian banyak alternatif setta tingkat pemantapan dan penyesatan yang Allah
dapat lakukan. Peringkat hidayah dan pemantapan itu tidak dapat dijangkau
oleh nalar, apalagi Allah telah menegaskan bahwa:

"Allah menambah hidayah bagi orang-orang yang telah mendapat hidayah"


(QS. M a r y a m [ 1 9 ] : 7 6 ) . Di sisi lain Allah juga m e n y a t a k a n bahwa ada
kesesatan yang sangat jauh yang dapat menimpa orang-orang yang sesat (antara
l a i n Q S . an-Nisa' [ 4 ] : 1 1 6 ) .
KELOMPOK 4

AYAT 28-34

1
t*-* "{''C f 1
y
\ ^ t*-i <;

371
372 Surah Ibrahim [14]
Kelompok IV Ayat 28-29 Surah Ibrahim [14] 373

AYAT 2 8 - 2 9

"lidahkah kamu melihat orang-orang yang telah menukar nikmat Allah


dengan kekafiran dan menjatuhkan kaum mereka ke lembah kebinasaan?,
yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk
tempat kediaman. "

Tangan duga bahwa penyesatan vang dilakukan Allah itu atau kehendak-
Nva yang disebut pada ayat yang lalu sewenang-wenang, sebenarnya hal
tersebut adalah akibat ulah mereka Tidakkah kamu melihat dengan mata
kepala atau m e m e r h a t i k a n orang-orang yang telah menukar kesyukuran
terhadap nikmat Allah dan a n u g e r a h - N y a di alam raya ini dengan kekafiran
sehingga tidak m e n s y u k u r i n y a dan, lebih dari itu, mereka mengajak kepada
kedurhakaan sehingga menjatuhkan kaum mereka ke lembah kebinasaan?
yaitu neraka jahanam; kelak di hari K e m u d i a n mereka masuk ke dalamnya
terbakar oleh kobaran apinya dan tersiksa dengan berbagai alat siksaan.
S u n g g u h buruk apa vang m e n i m p a mereka dan k a u m mereka; dan itulah
seburuk-buruk tempat kediaman.

Kata ( j> ) tara pada avat ini dapat berarti melihat, ini dikuatkan dengan
adanya kata ( J , l ) ilalkepada. Apalagi bagi y a n g berpendapat bahwa ayat ini
berbicara tentang tokoh-tokoh k a u m m u s y r i k i n pada masa Nabi saw.
Bila ayat ini d i p a h a m i sebagai berbicara tentang tokoh-tokoh k a u m
m u s y r i k i n M e k k a h , penukaran n i k m a t Allah yang dimaksud antata lain
adalah keberadaan mereka di wilayah Masjid al-Haram, yang dijadikan Allah
tempat yang aman, tetapi anugerah itu mereka tidak syukuri. Mereka jadikan
Masjid al-Haram sebagai pusat kekufuran dan tidak memberi rasa a m a n bagi
orang-orang yang bermaksud beribadah kepada vMlah swt. Tuhan Yang Maha
Esa. D e m i k i a n pendapat T h a h i r Ibn 'Asyur.
Sayyid Q u t h u b juga memahami ayat ini sebagai ditujukan kepada tokoh-
tokoh k a u m musyrikin pada masa Nabi M u h a m m a d saw., sedang makna
( &\ h>M) ni'mah Allahlnikmat Allah di sini—menurutnya—-adalah kehadiran
Rasul saw., ajakan kepada iman, tuntunan kepada p e n g a m p u n a n dan surga.
374 Surah Ibrahim [14] Kelompok IV Ayat 3

A d a j u g a y a n g berpendapat bahwa ayat ini berbicara secara u m u m


m e n c a k u p semua tokoh kedurhakaan kapan dan di m a n a saja dan, dengar,
demikian, mitra bicara j uga bersifat u m u m , mencakup siapa saja y a n g dapa:
melihat. Kata nikmat tidak hatus ditentukan jenisnya. Yang pasti adalah
tokoh-tokoh yang berpengaruh di d a l a m satu m a s y a r a k a t y a n g tidak
mensyukuri nikmat Ilahi, antara lain dalam kedudukan mereka sebagai tokoh
panutan, pastilah mengantar masyarakatnya menuju kebinasaan.
Kata ( j l j J l ) ai-bawdr berarti kerugian dan kerusakan yang mencapa:
puncaknya. Pada m u l a n y a , kata ini digunakan u n t u k menyifati lahan yang
gersang dan tidak dapat ditumbuhi oleh t u m b u h a n . Ddr al-bawar adalah
tempat kebinasaan. Yakni, para tokoh itu mengakibatkan k a u m n y a menderita
kebinasaan di akhirat dengan neraka dan di dunia dengan penderitaan berupa
pembunuhan, penawanan, atau bencana dan krisis.

AYAT 30

Dan mereka telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah sehingga akhirnya


mereka menyesatkan dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah karena
sesungguhnya tempat kembali kamu ialah neraka. "

Memang, mereka tidak menggunakan akal mereka sehingga


menempatkan diri dan k a u m mereka dalam tempat y a n g buruk, dan bahkan
ada y a n g lebih b u r u k y a n g mereka lakukan y a i t u mereka telah menjadikan
sekutu-sekutu berupa berhala-berhala atau sembahan apa pun bagi Allah Tuhan
Yang M a h a Esa. Mereka memberi contoh vang buruk, bahkan mengajak
o r a n g lain u n t u k m e m p e r s e k u t u k a n - N y a sehingga akhirnya mereka
menyesatkan diri mereka dan orang lain darijalan-Nya y a n g lurus dan y a n g
mengantar menuju kebahagiaan. Katakanlah, Wahai Nabi M u h a m m a d ,
kepada mereka bahwa: "anugerah Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu
merupakan "istidrdj" (uluran kesenangan y a n g m e m b a w a bencana), karena
itu bersenang-senanglah sekuat k e m a m p u a n k a m u m e m e n u h i syahwat h a w a
nafsu k a m u karena sesungguhnya tidak l a m a lagi tempat kembali kamu ialah
neraka akibat dosa-dosa k a m u serta kesenangan mengikuti hawa nafsu."
Kelompok IV Ayat 31 Surah Ibrahim LH] 375

Sayyid Q u t h u b memeroleh kesan dari firman-Nya mereka menjadikan


bagi Allah sekutu-sekutu bahwa para tokoh-tokoh itu sengaja menyesatkan
k a u m n y a dari jalan Allah dan mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah karena
akidah tauhid berbahaya bagi para cirani. Serta m e n g a n c a m kemaslahatan
mereka, di setiap waktu, bukan pada Jahiliah masa lalu saja tetapi pada setiap
masa di mana Jahiliah berada serta dalam bentuk apa pun dari bentuk-bentuk
penyimpangan. Demikian lebih kurang Sayyid Q u t h u b .

AYAT 3 1

Katakanlah kepada hamba-hamba~Ku yang telah beriman: "Hendaklah


mereka melaksanakan shalat, menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan
kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan sebelum datang
hari (Kiamat), yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. "

Sayyid Q u t h u b menghubungkan ayat ini dengan ayat-ayat yang lalu yang


mengecam orang-orang kafir yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Nah, di
sini hamba-hamba-Allah yang taat diperintahkan untuk mensyukuri nikmat-
Nya dengan jalan melaksanakan shalat dan menunaikan zakat. Shalat adalah
penvujudan yang paling jelas dalam mensyukuri nikmat Allah swt.
Dapat juga dikatakan bahwa, setelah ayat y a n g lalu mengajarkan apa
yang wajar diucapkan kepada para pendurhaka, kini diajarkan apa yang
hendaknya disampaikan kepada orang-orang y a n g taat. Ayat ini berpesan
kepada Nabi M u h a m m a d saw. Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang
telah beriman, baik yang sempurna ketaatannya m a u p u n y a n g bergelimang
d a l a m dosa, t e t a p i m e n y a d a r i d o s a n y a b a h w a : "Hendaklah mereka
melaksanakan shalat secara bersinambung sambil m e m e n u h i syarat, rukun,
dan sunnah-sunnahnya, menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan
kepada mereka, baik berupa zakat maupun sedekah, secara sembunyi-sembunyi
sehingga tidak diketahui kecuali penerima atau segelintir orang apalagi sedekah
vang bersilat anjuran dan boleh juga secara terang-terangan selama ikhlas,
khususnya bila zakat wajib. Hendaklah mereka m e l a k u k a n t u n t u n a n ini
376 Surah Ibrahim [14] Kelompok IV Ayat 32-33

sebelum datang hari y a n g sangat besar dan m e n c e k a m yaitu Hari Kiamat,


yang tidak lama lagi datangnya dan yang pada hari itu tidak ada jual beli atau
tebus menebus dan tidak ada j u g a persahabatan y a n g dapat m e n g u n d a n g
pembelaan atau syafaat terhadap siapa yang durhaka."
Kata ( iLp ) 'ibadadalah b e n t u k j a m a k d a r i kata ( xs,) 'abdihamba. Ada
dua bentuk j a m a k dari kara ini. Pertama ( XyS-) 'abidyang biasa digunakan
al-Qur'an u n t u k menunjuk h a m b a - h a m b a Allah y a n g bergelimang dalam
dosa tanpa menyadari dan m a u bertaubat, sedang bentuk kedua adalah yang
digunakan ayat ini y a i t u 'ibady&ng digunakan al-Qur'an menunjuk hamba-
h a m b a Allah yang taat kepada-Nya atau kalaupun dia berdosa, n a m u n
menyadari dosanya dan menyesalinya.
Perintah melaksanakan shalat edan m e n u n a i k a n zakat p a d a ayat ini
merupakan simbol yang sangat nyata dan jalan Allah y a n g disebut pada ayat
y a n g lalu. Kedua hal itu j u g a m u t l a k a d a n y a guna menjalin hubungan
harmonis dengan Allah swt. serta dengan sesama manusia. Dan keduanya
merupakan bukti kesyukuran kepada Allah swt.
Penggunaan bentuk kata kerja masa kini/mudhhT'pada kedua kata yang
m e n u n j u k pada kegiatan shalat dan zakat itu m e n g a n d u n g m a k n a perintah
untuk meningkatkan pelaksanaan shalat dan zakat serta terus memeliharanya.
Ini d i p a h a m i demikian karena perintah k u ditujukan kepada orang-orang
yang beriman, y a n g tentu saja seharusnya telah melaksanakan shalat dan
berinfak.
Kata ( //>) min pada firman-Nya: { J J j» ) min qabl!sebelum dipahami
dalam arti sedikit atau singkat. Dari sini, sementara ulama memahami bahwa
Kiamat tidak lama lagi jika d i b a n d i n g k a n dengan masa y a n g telah berlalu.
M e m a n g demikian itulah halnya lagi lebih-lebih jika kita menyadari bahwa
setiap hari berlalu semakin dekat pula kehadiran masa datang.

AYAT 3 2 - 3 3

'Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan dari langit
air, kemudian Dia mengeluarkan dengannya berbagai buah-buahan sebaga:
Kelompok IV Ayat 32-33 Surah Ibrahim [14] 377

rezeki untuk kamu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagi kamu supaya
ia berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan
(pula) bagi kamu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagi
kamu matahari dan bidan yang terus-menerus beredar dan telah menundukkan
bagi kamu malam dan siang. "

Setelah menafikan jual beli dan persahabatan pada Hari Kiamat itti,
seakan-akan ada yang bertanya: j i k a demikian, apa dan siapa vang berkuasa
k e t i k a i t u . P e r t a n y a a n itu d i j a w a b oleh a y a t ini. D e m i k i a n a l - B i q a ' i
menjelaskan hubungannya. Dapat juga dikatakan bahwa ini adalah beberapa
perincian dari nikmat anugerah Allah y a n g tidak disvukun oleh banvak
manusia serta m e n g u b a h n y a dengan kekufuran (ayat 28 yang lalu). Allah
yang telah menciptakan langit dan bumi setta mengatur peredarannya dengan
sangat teliti dan teratur dan Allah juga vang menurunkan dan langit air hujan,
dengan menciptakan h u k u m - h u k u m alam yang mengatut turunnya kemudian
Dia mengeluarkan, yakni m e n u m b u h k a n dengannya, yakni air hujan itu,
berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu manfaatkan untuk diri kamu
m a u p u n untuk binatang-binatang k a m u , dan di samping itu Dia telah
menundukkan bahtera bagi kamu supaya ia, y a k n i bahtera itu, dapat berlayar
dengan tenang di lautan lepas dengan kehendak-Nya untuk mengangkut
k a m u dan barang d a g a n g a n k a m u . J i k a Dia b e r k e h e n d a k , Dia dapat
menjadikan laut berombak dan angin mengganas sehingga bahtera tenggelam,
dan bukan hanya laut y a n g Dia t u n d u k k a n , Dia j u g a telah menundukkan
pula bagi kamu semua sungai-sungai untuk mengairi sawah ladang k a m u dan
untuk kepentingan kamu lainnya. Anugerah-anugerah itu kamu lihat dengan
jelas di b u m i . Dan masih ada anugerah-Nya di langit yaitu antara lain Dia
telah menundukkan pula bagi kamu matahari dan bidan yang terus-menerus
•>:-'-edar dalam orbitnya u n t u k m e m a n c a r k a n cahaya, memberi kehangatan
- J i n banyak manfaat u n t u k m a k h l u k hidup dan telah menundukkan bagi
-'.."•UH malam sehingga kamu dapat beristirahat dan siang supaya k a m u dapat
^-.^erja dengan giat.

Kata ( ) sakhkhara digunakan dalam arti menundukkan sesuatu a^ar


" :\'.dah digunakan oleh pihak lain. Sesuatu y a n g d i t u n d u k k a n Allah tidak
378 Surah Ibrahim [14] Kelompok IV Ayat 32-3

lagi memiliki pilihan dan, dengan demikian, manusia yang mempelajari dan
mengetahui sifat-sifat sesuatu itu akan merasa tenang menghadapinya karena
yang ditundukkan tidak akan membangkang. Dari sini, diperoleh " kepastian
h u k u m - h u k u m alam.
Penundukan bahtera adalah kemampuan manusia membuatnya sehingga
dapat digunakan untuk berlayar dan mengangkut barang-barang menuju arah
yang mereka kehendaki. Dan, sebelum itu, Allah menciptakan bahan-bahan
mentah pembuatannya—-seperti kayu dan besi—sungai dan laut untuk
dilayarinya serta angin yang memengaruhi pelayarannya. Demikian sebagian
m a k n a penundukan bahtera.

S e m e n t a r a u l a m a m e m p e r t a n y a k a n m e n g a p a ayat ini m e n y a t a k a n
menundukkan bahtera bagi kamu supaya ia berlayar di laut Tidak menyatakan
menundukkan laut agar bahtera dapat berlayar y a n g juga dijawab bahwa
agaknya hal tersebut demikian karena konteks ayat ini adalah menyebut-
nyebut nikmat Allah sedang alat-alat transportasi laut merupakan salah satu
nikmat kelautan yang paling jelas, walaupun nikmat laut sendiri merupakan
nikmat yang lebih besar.

Kata ( j w b ) da 'ibaini adalah bentuk dual dari kata ( C J J ) da'b. Kata ini
m e n g a n d u n g makna berlanjutnya satu aktivitas tertentu secara teratur dan
terus-menerus. Seseorang yang tekun bekerja d a l a m satu kegiatan tertentu
dan secara rutin dilakukannya dilukiskan dengan kata itu. Peredaran matahari
dan bulan yang berjalan secara rutin dilukiskan pula dengannya.
Perurutan penyebutan anugerah-anugerah Allah di atas sungguh sangat
serasi. Setelah menyebut penciptaan langit dan bumi disusul dengan air yang
turun dari langit-—vang merupakan salah satu sumber pokok kehidupan.
Air tersebut menghidupkan makhluk hidup, termasuk 11 imbuhan yang disebut
secara khusus, sekaligus sebagai bukti kuasa Allah m e m b a n g k i t k a n kembali
manusia yang telah mati dan terkubur. Air vang turun dari langit itu berasal
dari bumi di m a n a kapal-kapal berlayar. Pelayarannya terlaksana di laut dan
sungai. Laut dan sungai dipengaruhi oleh matahari dan bulan, dan dari
peredaran matahari dan bulan bersama peredaran bumi lahir malam dan siang.
Kelompok IV Ayat 34 Surah Ibrahim [14] 379

AYAT 3 4

"Dan Dia telah menganugerahkan kepada kamu dan segala apa yang kamu
mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah
dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia, sangat zalim dan
sangat kafir."

Banyak sudah anugerah Allah y a n g disebut di atas, tetapi itu baru sedikit
dari a n u g e r a h - N y a y a n g telah m e l i m p a h . U n t u k m e n y e b u t n y a diperlukan
sederetan u n g k a p a n , sedang u n t u k m e n g h i t u n g n y a merupakan hal y a n g
m u s t a h i l . M a k a , secara s i n g k a t a y a t ini m e n y a t a k a n : Dan Dia telah
menganugerahkan kepada kamu segala keperluan h i d u p k a m u dari segala
apa yang kamu mohonkan kepada-Nya, baik permohonan secara lisan m a u p u n
sekadar dengan melihat kebutuhan k a m u w a l a u tanpa p e r m o h o n a n lisan.
Dan jika kamu, wahai seluruh makhluk, bermaksud menghitung nikmat Allah
y a n g telah d i a n u g e r a h k a n - N y a kepada k a m u , niscaya tidaklah dapat kamu
menghinggakannya. S u n g g u h banyak n i k m a t itu n a m u n b a n y a k manusia
y a n g tidak m e n s y u k u r i n y a . Sesungguhnya manusia y a n g tidak m e n s y u k u r i
itu sangat zalim dan sangat kafir, y a k n i sangat m e n g i n g k a r i dan tidak
m e n s y u k u r i n i k m a t Allah itu.

Firman-Nya: ( aj*slLj U J s " ry ) tua dtdkum min kulli md


sa'altumuhuldan Dia telah menganugerahkan kepada kamu dari segala apa
yang kamu mohonkan kepada-Nya d a l a m arti segala kebutuhan manusia telah
disiapkan oleh Allah swt. Ini, menurut Thabathaba i, disiapkan Allah u n t u k
jenis manusia w a l a u p u n boleh jadi secara individu ada y a n g tidak dipenuhi
permintaannya. Di balik tidak terpenuhinya permintaan itu, pasti ada hikmah,
b a h k a n b o l e h j a d i b i l a h i k m a h itu d i k e t a h u i s e b e l u m n y a oleh y a n g
m e m i n t a n y a m a k a dia tidak akan m e m i n t a n y a . Dengan d e m i k i a n , pada
akhirnya dapat j u g a dikatakan bahwa Allah memberikan kepada setiap orang
apa yang dimintanya.
D a p a t j u g a ayat ini dipahami d a l a m arti Allah swt. telah m e n y i a p k a n
dan memberikan kepada setiap orang apa y a n g d i m i n t a n y a . Baik melalui
380 Surah Ibrahim [14] Kelompok IV Ayat 34

usahanya yang disukseskan Allah maupun melalui perintali-Nya kepada yang


m e m i l i k i k e l e b i h a n u n t u k m e m b e r i k a n sebagian dari k e l e b i h a n y a n «
d i m i l i k i n y a kepada y a n g butuh. M e m a n g , apabila semua yang memiliki
kelebihan bersedia mengeluarkan zakat dan sedekah yang diperintahkan Allah,
niscaya akan terpenuhi semua permintaan h a m b a - h a m b a - N y a . Di sisi lain,
y a n g boleh jadi k e k u r a n g a n y a n g d i a l a m i a t a u d i r a s a k a n seseorang,
penyebabnya adalah yang diisyaratkan oleh penutup ayat ini, y a i t u zhalitm
dan kajfar. Kata ( *y% ) zhalurnisangat berbuat zalim antara lain berarti
menzalimi dan menghalangi orang lain memeroleh haknya, atau mengambil
melebihi dari yang seharusnya dia ambil, atau bersilat mubazir, menyia-nyiakan
sesuatu dan tidak m e n g g u n a k a n n y a pada tempat y a n g semestinya. Segelas
air cukup untuk menghilangkan dahaga, tetapi bila mengambilnya lebih dari
segelas, sisanya yang tidak d i m i n u m dan dibuang dapat menjadikan manusia
atau binatang yang m e m b u t u h k a n n y a akan kehausan. Bayangkanlah berapa
banyak sisa makanan orang-orang kaya yang terbuang di bak sampah, padahal
sekian banyak pula manusia yang kelaparan. Tanyakanlah berapa persen dari
anggaran negara maju yang digunakan untuk memproduksi senjata, padahal
jika hal tersebut digunakan u n t u k m e m b a n t u negara miskin niscaya sekian
banyak penderitaan dan kemiskinan dapat tertanggulangi. Demikian sebagian
dari makna zhaliim. Di sisi lain, berapa b a n y a k n i k m a t Allah y a n g masih
terpendam di perut bumi, bahkan di alam raya, yang perlu digali dan
d i t a m p a k k a n . Bacalah kembali m a k n a ayat 7 surah ini! Atas dasar itu pula
ungkapan yang menyatakan bahwa "Sumber Daya Alam terbatas", bukanlah
ungkapan y a n g sepenuhnya benar kecuali jika seluruh potensi manusiawi
telah digunakan untuk menggalinya serta setiap keping lahan dan jengkal
t a n a h — p a l i n g tidak di b u m i — t e l a h habis digarapnya.

Kata ( UysJL ) tuhshitha terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-
h u r u f ha, shad, d a n ya', dan m e n g a n d u n g tiga m a k n a asal, y a i t u : a:
menghalangi/melarang, b) menghitung (dengan teliti) dan mampu, dari sini
lahir m a k n a mengetahui dan mencatat dan memelihara, c) sesuatu yang
merupakan bagian dari tanah, dari sini lahir kata ( ) hasha vang bermakna
batu.
Kelompok IV Ayat 34 Surah Ibrahim [141 381

M a n u s i a d a h u l u m e n g g u n a k a n batu untuk menghitung. Atau,


k a t a k a n l a h b i l a j u m l a h y a n g telah m e n c a p a i a n g k a s e p u l u h , m e r e k a
menempatkan satu batu sebagai tanda sepuluh. Dari sini, kata tersebut berarti
menghitung. Pemilihan kata ini j u g a memberi kesan bahwa j u m l a h nikmat-
nikmat Allah bagaikan sebanyak batu-batu atau bagian dari tanah. Seseorang
baru akan m a m p u m c n g h i t u n g n v a jika ia m a m p u m e n g h i t u n g batu-batu
yang ada di bumi.
Kata tersebut juga mengandung makna pengetahuan menyangkut sesuatu
dari himpunan dan bilangannya. Jangkauan pengetahuan seperti itulah yang
d i n a m a i Ihsha dan p e l a k u n y a d i n a m a i Muhshiy. Karena itu, h a n y a Allah
vang dapat menyandang sifat itu karena hanya Allah yang dapat menjangkau
segala sesuatu, termasuk dari segi perincian kualitas dan kuantitas sesuatu.
M a n u s i a tidak akan m a m p u mengetahui sedetail mungkin segala sesuatu.
Kalaupun ada sesuatu vang dapat dijangkaunya, jangkauannya tidak akan
mencapai segala perincian sesuatu itu. Dari sini. dapat d i p a h a m i mengapa
ayat yang menggunakan ketiga rangkaian huruf itu d i k e m u k a k a n al-Qur'an
dalam bentuk negasi dan menyangkut objek pengetahuan vang mustahil dapat
diketahui secara terperinci. Siapa vang dapat mengetahui secara terperinci
apa yang akan terjadi setiap detik? la tuhshuhalkamu sekali-kali tidak dapat
menghitungnya, yakni tidak dapat mengetahui kadar dan peristiwa vang
terjadi ketika itu. Siapa vang dapat mengetahui berapa banyak nikmat Allah
y a n g telah dan akan diperolehnya.'//? tuhshuha/kamu tidak dapat menghitung
dan mengetahui perinciannya.

Ayat ini ditutup dengan m e n g e m u k a k a n dua sifat buruk mari usia sangat
zalim, dan sangat kafir. Di tempat lain, Allah berfirman:

» < ^ .t' \T \ s

"Dan jika kamu hendak menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak
dapat menghinggakannya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang"'(QS. a i v N a h l [16J: 18). Perbedaan fdshilat/penutup
kedua ayat tersebut—di sini zhalurnun kajfar dan di sana Ghafurun Rahim
agaknya disebabkan konteks avat dalam surah Ibrahim ini adalah uraian
tentang sikap manusia vang durhaka terhadap aneka anugerah Allah. Mereka
382 Surah Ibrahim [14] Kelompok IV Ayat 34

tidak m e n s y u k u r i n y a karena itu mereka dikecam, sedangkan d a l a m surah


an-Nahl konteks u r a i a n n y a adalah tentang a n e k a a n u g e r a h A l l a h dan
kemurahan-Nya serta bagaimana Allah menghadapi manusia, yakni betapapun
mereka durhaka, Allah masih j u g a m e m b u k a pintu pemaafan buat mereka
serta tetap mencurahkan rahmat-Nya.
KELOMPOK 5

AYAT 35-41

9
> sS S * ^

383
Surah Ibrahim [14]
Kelompok V Ayat 35-36 Surah Ibrahim [14] 385

AYAT 3 5 - 3 6

Dan ketika Ibrahim berkata: "Tuhanku, jadikanlah negeri ini (negeri) yang
aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-
berhala. Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak
manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya dia
termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka
sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. "

Ayat-ayat yang lalu mengecam kekufuran dan menganjurkan kesyukuran.


Tokoh y a n g tampil secara utuh dan sempurna dalam hal kesyukuran adalah
N a b i Ibrahim as. Beliau adalah Bapak para nabi y a n g k e p r i b a d i a n n y a
menandai uraian surah ini, sebagaimana surah ini dinaungi pula oleh uraian
tentang nikmat Ilahi dan sikap manusia atas n i k m a t - n i k m a t i t u — s y u k u r
atau kufur. Demikian Sayyid Q u t h u b menghubungkan ayat ini dengan ayat-
ayat sebelumnya.
Kalau uraian kelompok ayat y a n g lalu dimulai dengan N a b i M u s a as.
bersama Bani Isra'il yang merupakan keturunan Nabi Ibrahim as., kelompok
ayat berikut berbicara tentang keturunan N a b i Ibrahim as. y a n g lain yaitu
dari putra beliau, Isma'il. Kelompok ayat ini dengan menyebut Nabi Ibrahim
as. y a n g m e m o h o n keamanan kota M e k k a h , di m a n a anak dan istrinya
bertempat tinggal serta kesejahteraan p e n d u d u k n y a dan keterhindaran dari
penyembahan berhala. Demikian Thabathaba'i m e n g h u b u n g k a n kelompok
ayat ini dengan ayat-ayat yang lalu.
Apa pun hubungan yang Anda pilih, yang jelas ayat ini menyatakan bahwa
dan ingat serta ingatkan jugalah, setelah menyampaikan kandungan ayat yang
lalu, peristiwa ketika Ibrahim berkata: "Tuhanku, y a n g selalu berbuat baik
kepadaku, jadikanlah negeri ini, M e k k a h , negeri yang aman dan jauhkanlah
aku secara terus-menerus h i n g g a akhir zaman beserta anak cucuku dari
menyembah berhala-berhala. Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah
menyesatkan banyak manusia, aku sangat m e m b e n c i n y a maka karena itu aku
m e n y a t a k a n k e p a d a siapa p u n b a h w a barang siapa yang mengikutiku
386 Surah Ibrahim [14] Kelompok V Ayat 35-36

membenci berhala-berhala, maka sesungguhnya dia termasuk golonganku maka


anugerahi pulalah dia k e b a h a g i a a n dan kebaikan sebagaimana Engkau
anugerahkan kepadaku, dan barang siapa yang mendurhakai aku sehingga
m e n y e m b a h berhala atau merestuinya maka sesungguhnya mereka wajar
Engkau siksa karena mereka telah melanggar dan berdosa. A k a n tetapi, jika
Engkau m e n g a m p u n i mereka, itu pun wajar karena sesungguhnya Engkau,
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. "
Avat 35 di atas serupa w a l a u tidak s a m a dengan doa beliau y a n g
diabadikan oleh Q S . al-Baqarah [ 2 ] : 126. Di sana, beliau berdoa:

"Tuhanku, jadikanlah negeri ini (negeri) yang aman dan berikanlah rezeki
berupa buah-buahan kepada pendudidznya yang beriman di antara mereka,
kepada Allah dan hari Kemudian. "
Agaknya, doa di sana dipanjatkan pada w a k t u yang berbeda dengan doa
ini. Di sana, beliau berdoa kiranya lokasi di mana beliau meninggalkan anak
dan istri beliau (Isma'il dan Hajar) dijadikan satu kota yang aman sejahtera.
Selanjutnya, setelah beberapa tahun, beliau berdoa sekali lagi tetapi kali ini
lokasi tersebut telah ramai dikunjungi—khususnya setelah ditemukan Sumut
zam-zam. Karena itu, ayat a!-Baqarah menggunakan kata ( IJJJ ) baladan dalam
b e n t u k nakirah/indifinite sedang pada ayat ini digunakan bentuk ma 'rifah/
difinite { a J J i ) al-balad.
Doa Nabi Ibrahim as. u n t u k menjadikan kota M e k k a h dan sekitatnya
sebagai kota yang a m a n adalah doa untuk menjadikan keamanan yang ada di
sana berkesinambungan hingga akhir masa. Atau, menganugerahkan kepada
penduduk dan pengunjungnya kemampuan untuk menjadikannya aman dan
tenteram. Permohonan ini, menurut banyak ulama antara l a i n T h a b a t h a b a i
dan asy-Sya'rawi, bukan berarti menjadikannya a m a n secara terus-menerus
tanpa peranan m a n u s i a atau dalam istilah kedua ulama ini ( ^ j & JA\ ) amn
takunniy/keamanan yang tercipta atas dasarpenciptaan keamanan. Yang beliau
mohonkan itu adalah ( ) amn tasyniy, yakni permohonan kiranya
Allah menetapkan h u k u m keagamaan yang mewajibkan orang mewujudkan,
memelihara, dan menjaga keamanannya. Memang, ini dapat saja dilaksanakan
Kelompok V Ayat 35-36 Surah Ibrahim [14] 387

atau dilanggar manusia, dan karena itu, jika suatu ketika pada masa lalu kini
atau masa datang terjadi di sana rasa tidak aman, hal tersebut wajar-wajar saja
karena m e m a n g Nabi Ibrahim as. tidak memohon amn takwiniy tetapi amn
tasyniy. Allah mengabulkan doa beliau tetapi sekali lagi harus diingat bahwa
Yang Mahakuasa tidak menjadikan kota Mekkah aman dalam arti diciptakan
dalam keadaan aman terus-menerus serupa dengan penciptaan matahari yang
terus-menerus memancarkan cahaya atau cairan yang diciptakan terus-menerus
mencari tempat y a n g rendah.
M a n u s i a — p a d a umumnya—sejak dahulu hingga kini memang
menghormati kota M e k k a h baik secara tulus dan didorong oleh ketaatan
beragama m a u p u n melalui adat kebiasaan y a n g berlaku pada p e n d u d u k n y a
atau peraturan yang ditetapkan oleh penguasanya yang melarang non-muslim
memasukinya.
Ayat ini bukan saja mengajarkan agar berdoa u n t u k k e a m a n a n dan
kesejahteraan kota Mekkah, tetapi juga mengandung isyarat tentang perlunya
setiap m u s l i m berdoa u n t u k keselamatan dan k e a m a n a n w i l a y a h tempat
tinggalnya dan agar p e n d u d u k n y a memeroleh rezeki y a n g m e l i m p a h .
Kata ( ) shanam adalah berhala yang berbentuk manusia, sedang kata
( . v j ) ivatsan adalah batu atau apa saja yang dikultuskan. Demikian pendapat
ath-Thabari, al-Biqa'i, dan asy-Sya'rawi. Ibn ' Asyur m e m a h a m i kata shanam
dalam arti patung, atau batu, atau bangunan yang dijadikan sesembahan dan
diakui sebagai tuhan. Nabi Ibrahim as. memanjatkan doa ini setelah melihat
di daerah sekitarnya terjadi penyembahan berhala-berhala. Beliau berhijrah
meninggalkan tempat t i n g g a l n y a di U r — n e g e r i orang-orang K e l d a n i a —
karena p e n d u d u k n y a menyembah berhala. Di Mesir pun beliau m e n e m u k a n
hal serupa demikian juga di Palestina. Lalu, beliau membawa istri dan anaknya
berhijrah ke Jazirah A r a b — t e p a t n y a M e k k a h s e k a r a n g — d a n di sana beliau
m e n e m u k a n orang-orang y a n g masih hidup dengan sangat bersahaja dan
n o m a d d a n di s a n a l a h b e l i a u m e n e m p a t k a n istri d a n a n a k n y a serta
mengajarkan Tauhid.

Permohonan Nabi Ibrahim as. agar menghindarkan anak cucu beliau


dari penyembahan berhala, bukanlah dalam arti memaksa mereka mengakui
keesaan Allah, tetapi bermohon kiranya fitrah kesucian y a n g dianugerahkan
388 Surah Ibrahim [14] Kelompok V Ayat 37-38

Allah dalam jiwa setiap manusia dan y a n g intinya adalah Tauhid, bermohon
kiranya fitrah tersebut terus terpelihara. Ini serupa dengan peneguhan yang
diuraikan pada ayat 2 7 yang lalu.
Penutup doa Nabi Ibrahim as., Engkau Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang, bukan berarti m e m o h o n p e n g a m p u n a n bagi para penyembah
berhala, tetapi menyerahkan kepada Allah swt. putusan teraldiir karena hanya
Allah yang memiliki hak prerogatif menyangkut pengampunan atau
penyiksaan. Inilah juga yang ditiru oleh Nabi 'Isa as. ketika beliau ditanya
tentang paham Trinitas yang dianut oleh mereka yang mengaku pengikutnya.
Nabi 'Isa as. menjawab bahwa:

"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-


hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya
Engkaulah YangMahaperkasa lagi Mahabijaksana"{QS. a l - M a idali [5]: 118).
Doa Nabi Ibrahim as. di atas m e n u n j u k k a n betapa halus budi beliau dan
betapa iba dan kasihnya terhadap umat manusia.

AYAT 3 7 - 3 8

"Tuhan kami! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku


di satu lembah yang tidak dapat mempunyai tanaman di dekat rumah-Mv.
yang dihormati, Tuhan kami! Itu agar mereka melaksanakan shalat, maka
jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka
rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Tuhan kami'.
Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang
kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik
yang ada di bumi maupun yang ada di langit. "

Setelah berdoa u n t u k u m u m , kini beliau berdoa u n t u k anak istrinya.


Dan juga setelah berdoa m e m o h o n keterhindaran dari keburukan, beliau
bermohon kiranya Allah melimpahkan anugerah kesejahteraan. Beliau berdoa
Kelompok V Ayat 37-38 Surah Ibrahim [14] 389

timpa berkata "wahai" sebagaimana kebiasaan al-Qur'an melukiskan doa orang-


orang yang dekat kepada Allah. Doanya: "Tuban kami dan Tuhan m a k h l u k
seluruhnya! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di
satu lembah y a i t u M e k k a h vang kini belum dihuni dan yang tidak dapat
mempunyai tanaman karena gersang t a n a h n y a . N a m u n d e m i k i a n , a k u
tempatkan mereka di sana karena lokasinva di dekat rumah-Mu (Baitullah)
Ka'bah yang agung lagi yang dihormati, Tuhan kami!, yang d e m i k i a n itu,
yakni penempatan mereka di sana, adalah agar mereka melaksanakan shalat
secara bersinambung lagi baik dan sempurna, maka karena tempat itu seperti
y a n g aku lukiskan dan E n g k a u ketahui dan t u j u a n k u tidak luput dari
p e n g e t a h u a n - M u , maka aku bermohon: Jadikanlah hati -manusia cenderung
kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan, baik yang
Engkau t u m b u h k a n di sana m a u p u n vang dibawa oleh manusia ke sana,
mudah-mudahan dengan aneka a n u g e r a h - M u itu mereka terus-menerus
bersyukur. Tuhan kami y a n g m e m e l i h a r a dan m e m b i m b i n g kami!
Sesungguhnya Engkau mengetahui apa. vaknl segala yang kami sembunyikan
dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu betapa/>ww kecil dan
remeh nya yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang
ada di langit. Dengan d e m i k i a n , Engkau mengetahui bukan saja ketulusan
kami bermohon dan beribadah tetapi juga mengetahui kebutuhan dan
keinginan, walau tanpa kami mohonkan dan mengetahui pula apa yang
terbaik bagi kami."

A L B i q a i m e m a h a m i kata sebagian keturunanku sebagai isyarat tentang


akan b a n y a k n y a keturunan Nabi Ibrahim as. y a n g r u p a n y a Allah telah
sampaikan kepada Nabi Ibrahim as. bersamaan dengan penyampaian berita
gembira tentang kelahiran putra beliau yang kedua yaitu Ishaq. Demikian al-
Biqa'i. H e m a t penulis, apa y a n g d i k e m u k a k a n al-Biqa'i ini tidak harus
demikian karena bisa saja doa ini beliau panjatkan setelah istri beliau, Sarah,
melahirkan Nabi Ishaq as., sebagaimana diisyaratkan oleh lanjutan doa beliau
yang diabadikan oleh avat berikut.
Firman-Nya: ( ^ j j j£ ) gbairi dzi zar'iu/tidak dapat mempunyai
tanaman menunjukkan bahwa tanah di daerah itu bukanlah lahan pertanian.
R e d a k s i y a n g d i g u n a k a n ini b u k a n s e k a d a r berarti t i d a k ditumbuhi
390 Surah Ibrahim [14] Kelompok V Ayat 39-4'

t u m b u h a n , tetapi lebih dari itu, yakni tidak m e m i l i k i atau tidak berpotensi


u n t u k d i t u m b u h i t u m b u h a n . M e m a n g , kenyataan m e n u n j u k k a n bahwa
M e k k a h dan sekitarnya bukan saja gersang, tetapi j u g a dikelilingi oleh batu-
batu sehingga tidak m e m u n g k i n k a n a d a n y a t u m b u h - t u m b u h a n . Ini serupa
dengan firman Allah melukiskan al-Qur'an ( tS* jf-) ghairi dzi 'iwajin,
yakni al-Qur'an sedikit pun tidak berpotensi membelokkan menuju kesesatan.
Ka'bah dinamai Baitullah/rumah Allah karena ia dibangun hanya untuk
pengabdian kepada-Nya, b u k a n u n t u k m a k s u d selain itu.
Kata ( tabwi terambil dari kata ( ) hawa y a n g bermakna
meluncur dari atas ke bawah dengan sangat cepat. M a k s u d n y a menuju ke
satu arah didorong oleh keinginan dan kerinduan. D e m i k i a n al-Biqa'i.
Agaknya, doa Nabi Ibrahim as. inilah yang menjadikan setiap muslim selalu
m e r i n d u k a n u n t u k datang ke M e k k a h , bahkan kembali dan kembali lagi ke
sana walau telah berulang-ulang mengunjunginya.
Ayat ini dapat menjadi dasar perlunya berhijrah ke suatu tempat yang
aman bagi kelangsungan pendidikan a g a m a u n t u k anak dan pemeliharaan
akidahnya. Karena itu, sementara u l a m a m e n g h a r a m k a n keluarga m u s l i m
u n t u k hidup menetap di tengah masyarakat n o n - m u s l i m bila keberadaan
m e r e k a di sana d a p a t m e n g a k i b a t k a n k e k a b u r a n a j a r a n a g a m a a t a u
k e d u r h a k a a n k e p a d a A l l a h swt., b a i k u n t u k d i r i n y a m a u p u n sanak
keluarganya.

AYAT 3 9 - 4 1

"Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua
(ku) Ismaildan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar
doa. Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap
melaksanakan shalat; Tuhan kami, perkenankanlah doaku, Tuhan kami,
ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin
pada hari Perhitungan."
Kelompok V Ayat 39-41 Surah Ibrahim [14] 391

Setelah bermohon aneka permohonan, doanya diakhiri dengan pujian


atas n i k m a t y a n g telah l a m a d i d a m b a k a n n y a , y a i t u a n a k - a n a k , sambil
mendoakan mereka sebagaimana beliau mendoakan pula kedua orangtuanya,
bahkan s e m u a k a u m b e r i m a n : Segala puji bagi Allah yang telah
menganugerahkan n i k m a t y a n g sangat besar kepadaku di hari tua ku y a i t u
Ismail y a n g k u t e m p a t k a n di dekat Baitullah dan Ishdq y a n g kini berada
bersama ibu k a n d u n g n y a di Palestina. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar
Maha Mendengar, yakni memperkenankan doa yang dipanjatkan secara tulus
kepada-Nya.
S e l a n j u t n y a , N a b i I b r a h i m as. b e r d o a m e n g g a r i s b a w a h i tujuan
penempatan keluarganya di dekat Masjid al-Haram (baca ayat 37) sekaligus
u n t u k m e n g i s y a r a t k a n b a h w a tujuan itu baru dapat tercapai bila dia
memeroleh bimbingan dan kekuatan dari Allah. N a b i Ibrahim as. berdoa:
"Tuhanku, yang selalu berbuat baik kepadaku, jadikanlah aku dan anak cucuku
orang-orang yang tetap melaksanakan secara benar, baik dan bersinambung
shalat."
Selanjutnya, beliau bermohon sambil m e n g i k u t k a n seluruh pengikut-
pengikut beliau dengan berkata: "Tuhan kami, perkenankanlah doaku, b a i k
y a n g u n t u k d i r i k u m a u p u n u n t u k p e n g i k u t - p e n g i k u t k u ; Tuhan kami,
ampunilah aku dan a m p u n i pula kedua ibu bapakku dan sekalian orang-
orang mukmin pada hari Perhitungan, y a k n i Hari Kiamat. "
D a l a m doa Nabi Ibrahim as. di atas, terbaca bahwa beliau mendoakan
k e d u a orangtuanya. T h a b a t h a b a ' i m e m a h a m i doa Nabi Ibrahim as. ini
merupakan doa terakhir Nabi Ibtahim as. y a n g direkam al-Qur'an. J i k a
demikian, doa beliau kepada kedua orangtuanya menunjukkan bahwa kedua
orangtuanya adalah orang-orang y a n g meninggal dalam keadaan m u s l i m ,
bukan musyrik. Ini sekaligus m e m b u k t i k a n bahwa Azar b u k a n l a h ayahnya.
D e m i k i a n u l a m a itu b e r k e s i m p u l a n . U l a m a lain b e r p e n d a p a t bahwa
p e r m o h o n a n p e n g a m p u n a n u n t u k orangtuanya ini terjadi sebelum adanya
larangan mendoakan orangtua yang musyrik. Rujuklah kembali bahasan para
1 2
ulama tentang siapa ayah N a b i Ibrahim as. dalam Q S . al-An'am 16]: 7 4 .

12
Rujuk volume 3 halaman 505-
KELOMPOK 6

AYAT 42-52

393
Surah Ibrahim [14]
Kelompok VI Ayat 42-43 Surah Ibrahim [14] 395

AYAT 4 2 - 4 3

"Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai dari apa yang
diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah hanya memberi
tangguh mereka sampai hari yang pada waktu itu mata terbelalak. Mereka
datang dengan bergegas dengan mengangkat kepala mereka, sedang mata
mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong. "

Akhir ayat y a n g lalu mengabadikan permohonan Nabi Ibrahim as. agar


beliau bersama orang-orang beriman memeroleh pengampunan Allah swt.
pada Hari Kiamat. Penutup doa itu mengantar kepada pembicaraan tentang
Hari Kiamat. Dari sini, ayat ini menyatakan Dan janganlah sekali-kali engkau
siapa p u n e n g k a u mengira bahwa Allah lalai sehingga Allah lupa dalam arti
tidak menjatuhkan sanksi dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim,
yakni mereka y a n g mempersekutukan-Nya, tidak mensyukuri n i k m a t - N y a
dan atau menganiaya orang lain. M e m a n g , engkau melihat mereka bagaikan
hidup bahagia memeroleh aneka kesenangan dan kekayaan, tetapi ketahuilah
bahwa sesungguh)iya Allah hanya memberi tangguh mereka beberapa saat
sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak. Ketika itu, y a k n i
di Hari Kiamat nanti, mereka akan datang m e m e n u h i panggilan dengan
bergegas ketakutan dan dengan mengangkat kepala mereka melihat dengan
penuh kecemasan siapa y a n g m e m a n g g i l n y a , sedang mata mereka tidak
berkedip-kedip dan hati mereka kosong t i d a k berisi lagi keangkuhan
sebagaimana ketika mereka hidup di d u n i a atau hati mereka kosong dari
k e m a m p u a n berpikir dan merenung.

Kata ( jyik^s ) muhthi'in terambil dari kata ( *1ZA\ ) ahtha'ayaltu berjalan


cepat sambil menegakkan leher seperti seorang yang ketakutan.
Kata ( ^J*SJIA ) muqni'iterambil dari kata ( ^ ) aqna'aya.hu mengangkat
kepala dan mengarahkan pandangan tanpa menoieh ke kiti dan ke kanan.
396 Surah Ibrahim [14] Kelompok VI Ayat 4^

AYAT 4 4

Dan peringatkan/ah manusia tentang hari Kedatangan azab kepada mereka,


maka berkatalah orang-orang yang zalim: "luhan kami, beri tangguhlah kami
walaupun ke waktu yang dekat, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu
dan akan mengikuti para rasul. " "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu
bahwa sekali-kali kamu tidak akan berali!??"

Banyak ulama yang m e m a h a m i ayat ini .sebagai ancaman dan gambaran


centang keadaan para pendurhaka itu pada hari Kemudian, setelah pada ayat
y a n g lalu telah dilukiskan betapa pedihnya siksa ukhrawi. Ayat ini bagaikan
berkata: J i k a demikian itu h a l n y a keadaan siksa kelak di hari Kemudian
m a k a — w a h a i Nabi M u h a m m a d — s a m p a i k a n l a h itu kepada mereka dan
per ingatkanlah sem ua manusia tentang hari Kedatangan azab kepada mereka
yang durhaka, maka ketika itu akan berkatalah orang-orang yang zalim yang
menganiaya diri mereka dengan aneka kedurhakaan: "Tuhan kami, beri
tangguhlah kami, yakni kembalikanlah kami ke d u n i a walaupun ke beberapa
waktu yang dekat, yakni sebentar saja, niscaya kami akan mematuhi seruan-
Mu y a n g tadinya kami tolak dan akan mengikuti secara sungguh-sungguh
para rasul yang Hngkau utus. " L a l u , k e p a d a m e r e k a d i k a t a k a n : Tidak!
"Bukankah kamu telah bersumpah dengan sombong lagi angkuh dahulu
sewaktu hidup di dunia bahwa sekali-kali kamu tidak akan beralih dati
keyakinan k a m u dan tetap akan mempertahankan kekufuran atau tidak akan
beralih dari kehidupan duniawi ke kehidupan ukhrawi?"

Ada j u g a u l a m a yang m e m a h a m i m a k n a penggalan akhir ayat di atas


dalam arti; di dunia dulu kalian pernah bersumpah b a h w a apabila kalian
mati kemudian datang hari Pembangkitan, kenikmatan yang kalian rasakan
itu tidak akan hilang.
Thabathaba'i berpendapat lain. M e n u r u t n y a , ayat ini berbicara tentang
siksa duniawi setelah menyampaikan ancaman tentang siksa yang akan dialami
oleh para pembangkang di hari Kemudian. Di sini, Allah swt. memerintahkan
y
Rasul saw . m e n y a m p a i k a n a n c a m a n tentang siksa d u n i a w i , di m a n a mereka
Kelompok VI Ayat 45 Surah Ibrahim [14] 397

terancam untuk dipunahkan. D e n g a n d e m i k i a n , a y a t ini b a g a i k a n


m e m e r i n t a h k a n kepada Rasul saw. bahwa dan di samping m e n y a m p a i k a n
ancaman ukhrawi, peringatkanlah manusia tentang hari Kedatangan azab
kepada mereka dalam kehidupan d u n i a ini. Ketika siksa ini datang, maka
berkatalah orang-orang yang zalim y a n g m e m p e r s e k u t u k a n Allah dan
melakukan aneka kedurhakaan: "Tuhan kami, beri tangguhlah kami ke waktu
yangdekat, yakni jangan d a h u l u Engkau jatuhkan siksa ini karena, jika siksa
ini Engkau tangguhkan, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan akan
mengikuti para rasul. "Permintaan mereka itu ditanggapi dengan ejekan bahwa
"Bukankah kamu telah bersumpah dahulu sebelum turunnya siksa ini bahwa,
dengan kekuatan dan pertahanan y a n g k a m u miliki, k a m u akan menjadi
masyarakat y a n g akan bertahan s e l a m a - l a m a n y a sehingga sekali-kali kamu
tidak akan beralih dari posisi k a m u . Nah, mengapa sekarang kamu meminta
u n t u k d i t a n g g u h k a n w a l a u dalam w a k t u y a n g singkat?"
Pendapat ini dihadang oleh penggunaan bentuk jamak, yaitu kata ( J _ - j )
rusul, y a k n i para rasul, padahal semestinya ia berbentuk tunggal. B u k a n k a h
a n c a m a n siksa y a n g d i m a k s u d T h a b a t h a b a ' i d i s a m p a i k a n oleh N a b i
M u h a m m a d saw. dan beliau seharusnya ditunjuk dengan bentuk tunggal
( J w j ) rasul b u k a n j a m a k ( J->j ) rusuk Thabathaba'i m e m a h a m i b a h w a
penggunaan bentuk jamak itu sebagai pertanda bahwa siksaan itu turun karena
penolakan risalah kenabian—siapa pun orangnya—sedang risalah kenabian
telah disampaikan oleh sekian rasul sehingga pendustaan seorang rasul sama
dengan pendusraan semua rasul.

AYAT 45

"Padahal kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang


menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagi kamu bagaimana Kami
telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepada kamu
perumparnaan-perumpamaan. "

D e m i k i a n siksa y a n g kalian alami di hari Kemudian, padahal dahulu


ketika kamu hidup di dunia kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman,
398 Surah Ibrahim [14] Kelompok VI Ayat 46-47

yakni perkampungan orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri dengan


kekafiran dan kedurhakaan yang mereka lakukan, dan telah nyata bagi kamu
dari peninggalan mereka bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka,
yakni m e n y i k s a mereka akibac kedurhakaan itu, tapi kalian tidak merasa
gentar dan di samping itu telah Kami berikan kepada kamuperumpamaan-
perumpamaan, y a k n i penjelasan y a n g d e m i k i a n terang, n a m u n kalian tidak
m e n g a m b i l n y a sebagai pelajaran. D e m i k i a n dua hal yang begitu jelas, apa
y a n g k a m u lihat dengan mata kepala dan apa yang k a m u dengar dengan
telinga, tetapi k e d u a n y a tidak k a m u g u n a k a n u n t u k m e n g a m b i l pelajaran.
Kata ( J \ ^ i ) al-amtsal adalah bentuk j a m a k kata ( J i « ) matsal yang
sering kali diartikan peribahasa. M a k n a ini tidak sepenuhnya benar. Peribahasa
biasanya singkat dan populer, sedang matsal&\-QyLV &n tidak selalu demikian,
bahkan ia selalu panjang sehingga tidak sekadar "mempersamakan" satu hal
dengan satu hal y a n g lain tetapi m e m p e r s a m a k a n n y a dengan beberapa hal
yang saling berkait. A h Q u r ' a n m e n g g u n a k a n n y a bukan u n t u k tujuan agar ia
menjadi peribahasa, tetapi u n t u k memperjelas sesuatu yang abstrak dengan
menampilkan gabungan sekian banyak hal konkret lagi dapat dijangkau oleh
pancaindra.

M e m a n g , ada perbedaan antara matsal dan mitsil. Yang kedua (mitsilj


m e n g a n d u n g m a k n a persamaan bahkan keserupaan atau kemiripan, sedang
matsal tekanannya lebih b a n y a k pada keadaan atau sifat y a n g menakjubkan
y a n g dilukiskan oleh k a l i m a t matsal'itu. Matsal dapat m e n a m p u n g banyak
makna, tidak hanya satu m a k n a tertentu. Ia memerlukan perenungan untuk
m e m a h a m i n y a secara baik.

AYAT 4 6 - 4 7

"Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar mereka, dan di sisi Aliah­
lah makar mereka. Dan sesungguhnya makar mereka tidak dapat melenyapkan
gunung-gunung. Karena itu, janganlah sekali-kali engkau mengira Allah akan
menyalahijanji-Nya kepada para rasul-Nya; sesungguhnya Allah Mahaperkasa
lagi Pemilik pembalasan."
Kelompok V) Ayat 46-47 Surah Ibrahim [14] 399

Dan sesungguhnya siksaan y a n g m e n i m p a mereka itu tidak m a m p u


mereka elakkan w a l a u mereka telah membuat makar mereka. Dan cahaya
Allah, tidak dapat mereka p a d a m k a n w a l a u mereka melakukan aneka tipu
daya. Bagaimana mungkin tipu daya dan makar mereka dapat berhasil padahal
di sisi Allah-lah balasan makar mereka. Allah mengetahui makar itu dan
m e n g g a g a l k a n n y a . Dan sesungguhnya makar mereka ringan tidak berarti
sehingga tidak dapat melenyapkan gunung-gunung y a n g demikian k u k u h .
Karena itu, janganlah sekali-kali engkau, wahai siapa pun, mengira Allah
akan menyalahijanji-Nya kepada para rasuhNya untuk memenangkan mereka
dan mengalahkan serta menyiksa para p e m b a n g k a n g sesungguhnya Allah
Mahaperkasa tidak dapat dikalahkan dan selalu mengalahkan siapa yang akan
dikalahkan-Nya, lagi Pemilik pembalasan dan m e n j a t u h k a n n y a bagi y a n g
m e m b a n g k a n g perin cah-Nya.
U l a m a berbeda pendapat menyangkut m a k n a ayat ini akibat perbedaan
qiraatl bacaan. M a y o r i t a s u l a m a membaca kata ( J j y l ) htazula dengan
mengkasrahkan huruf/^m y a n g dinamai lam al-juhd dan, dengan demikian,
kata in dipahami dalam arti tidak sehingga ayat ini meremehkan makar mereka
dan akhirnya bermakna m a k a r mereka kecil tidak akan menggeser g u n u n g
atau melenyapkannya. Sedang, yang dimaksud dengan gunung adalah syariat
agama Allah yang diilustrasikan kekukuhannya bagaikan kekukuhan gunung-
g u n u n g . I m a m al-Kis;Vi berdasar riwayat y a n g diperolehnya, membaca
lataztdu dan, dengan demikian, ayat ini menggambarkan kehebatan makar
mereka sehingga seakan-akan m a m p u menggeser atau melenyapkan gunung-
gunung. Kata gunung dalam m a k n a kedua ini bukan dalam arti syariat tetapi
pengertian hakiki.
N a k n a k a t a ( J£J> ) makrlmakar dalam bahasa al-Qur'an adalah
mengalihkan pihak lain dari apa yang dikehendaki dengan cara tersembunyi/
tipu daya. M a k a r ada d u a m a c a m , m a k a r baik dan makar buruk. M a k a r
yang baik adalah yang mengakibatkan kebaikan, sebaliknya mahar yang buruk
adalah y a n g mengakibatkan keburukan, dalam firman-Nya:

"Makar yang buruk tidak akan menimpa selain orang-orang yang


merencanakannya sendiri"'(QS. Fathir [ 3 5 ] : 4 3 ) .
400 Surah Ibrahim [14] Kelompok VI Ayat 46-^"

j i k a m u s u h - m u s u h para nabi melakukan makar, Allah pun melakukan


makar tetapi dengan tujuan baik, yakni m e n g h a l a n g i rencana terselubungi:
yang mereka lakukan itu. Demikian Allah membalas makar/tipu daya mereka.
M e m a n g , Allah adalah sebaik-haik pembalas tipu daya. Betapa tidak, Dia
tidak pernah terkalahkan, Dia mengulur para penipu dan membiarkan merek-
melanjutkan r e n c a n a n y a , tetapi k e t i k a tiba m a s a p e l a k s a n a a n , Allah
membatalkan m a k s u d mereka, bahkan pada akhirnya m e m e n a n g k a n rasuk
Nya dan menyiksa musuh-musuhnya. M a k a r Tuhan sangat rapi betapa tidak,
sedang Dia berfirman:

"Sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka telah mengadakan makar,


tipu daya, tetapi semua tipu daya itu dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui
apa yang diusahakan setiap jin dan orang-orang kafir akan mengetahui milik
siapa tempat kesudahan yang baik" ( Q S . ar-Ra'd [ 1 3 ] : 4 2 ) .
Kata ( .u-j ) wa V/biasa digunakan untuk janji yang baik. Janji yang bersifat
a n c a m a n / b u r u k dinamai ( j wa'id. J i k a d e m i k i a n , ayat ini menjamin
bahwa segala janji Allah y a n g baik untuk siapa p u n pasti d i p e n u h i - N y a .
Adapun a n c a m a n - N y a , bisa saja tidak d e m i k i a n . Para u l a m a — k h u s u s n y a
kalangan Ahl as-Sunnah—menyatakan bahwa rahmat dan kasih savang Allah
m e n g a n t a r - N y a u n t u k dapat membatalkan wa'id (ancaman) y a n g telah
dijanjikan-Nya. Bukankah yang tercela hanya yang membatalkan janji baik,
sedang dalam banyak hal dapat terpuji yang membatalkan ancamannya?
D e m i k i a n itulah Allah swt. yang samudra kasih-Nya tidak bertepi, walau
ancaman dan siksa-Nya amat pedih.
Kata ( _ j i ) dzu intiqam terdiri dari kata ( j i ) dzit yang biasa diartikan
pemilik serta memberi kesan k e m a n t a p a n dan kelekatan sifat y a n g ditunjuk
pada sesuatu. Sedang, kata ( ) intiqam terambil dari kata ( ) naqama.
Pakar-pakar bahasa menyatakan bahwa kata yang terdiri dari huruf-huruf
nun, qdf, dan mim m a k n a n y a berkisar pada tidak menyetujui sesuatu karena
menilainya buruk. Dari sini k e m u d i a n lahir m a k n a menyiksa karena yang
Kelompok VI Ayat 46-47 Surah Ibrahim [14] 401

tidak menyetujui dan menilai b u r u k sesuatu dapat m e n g a n c a m , bahkan


marah, sehingga kemarahan m e n g u n d a n g n y a menyiksa.
Pakar bahasa, az-Zajjaj, menulis bahwa kata ( ) niqmah, yang terangkai
dari ketiga h u r u f di atas, berarti tidak menyenangi sesuatu disertai dengan
kemarahan. Dari sini, k a t a n i q m a t d i a r t i k a n sebagai antonim ( ) nimah.
Yang membalas kejahatan orang lain sering kali dinamai ( ) muntaqim
dan karena biasanya y a n g d e m i k i a n d i l a k u k a n setelah berlalunya kejahatan
itu, muntaqim diartikan sebagai pembatas dendam. M a k n a ini tentu mustahil
bagi AJlah swt.

Dalam al-Qur'an, tidak ditemukan kata muntaqim (berbentuk tunggal).


Yang ditemukan adalah bentuk j a m a k n y a , yakni ( Oyjai* ) muntaqimim
sebanyak 3 kali, j u g a kata kerja masa lalu sebanyak 6 kali ( ) naqamu,
dan sekali dalam bentuk kata kerja y a n g m e n u n j u k masa datang ( ^ i s i )
yantaqirn y a n g merupakan berita ancaman bahwa Allah akan membalas.
Kesemua y a n g disebut di atas mengacu kepada Allah swt. Baca misalnya:
Q S . a l - M a ' i d a h [ 5 ] : 9 5 . D i s a m p i n g itu, d i t e m u k a n empat ayat y a n g
m e n u n j u k kepada Allah dengan istilah ( flisii j i ) dzit intiqam.

Penggunaan bentuk-bentuk j a m a k — t a n p a adanya bentuk tunggal i t u —


memberi kesan bahwa Allah enggan/tidak suka m e n u n j u k diri-Nya sendiri
sebagai muntaqim. Penggunaan b e n t u k j a m a k itu mengisyaratkan bahwa
pembalasan atau penyiksaan yang terjadi melibatkan bahkan dilakukan oleh
s e l a i n - N y a , w a l a u p u n d i a k u i - N y a b a h w a Dia dzit intiqdm (Pemilik
pembalasan). Bukankah, seperti telah berulang-ulang d i k e m u k a k a n , bahwa
penggunaan bentuk jamak yang menunjuk kepada Allah mengandung makna
keterlibatan pihak lain bersama Allah dalam aktivitas yang ditunjuk atau
penugasan pihak lain u n t u k m e l a k u k a n - N y a ? M e m a n g , d i t e m u k a n sekian
banyak ayat dalam al-Qur'an yang berbicara tentang hal-hal yang mengandung
kesan negatif, disingkirkan dari sifat dan perbuatan Allah.

Hal lain yang perlu dicatat dalam rangka memahami sifat Allah ini adalah
bahwa ayat-ayat y a n g m e n g g u n a k a n kata muntaqimun semuanya berkaitan
dengan pembalasan di hari Kemudian. Perhatikan Q S . as-Sajdah [ 3 2 ] : 22
atau az-Zukhruf [ 4 3 ] : 4 1 atau a d - D u k h a n [ 4 4 ] : 16.
402 Surah Ibrahim [14] Kelompok VI Ayat 46-4~"

M e m a n g , patron kata seperti Muntaqim, menunjuk pelaku yang


merencanakan melakukan sesuatu dan belum m e l a k u k a n n y a . Acaman yang
d i k a n d u n g ayat-ayat di atas disampaikan setelah mereka berulang-ulang
m e l a k u k a n kejahatan dan berulang-ulang pula Allah memaafkan mereka.
J i k a d e m i k i a n , Allah al-Muntaqim adalah D i a y a n g tidak menyetujui
kejahatan, tidak menyenanginya, serta benci dan murka terhadap pelakunya
yang telah berulang-ulang diperingatkan. Allah m e n g a n c a m n y a dengan siksa
dan menugaskan pihak lain menyiksanya.
Thabathaba'i ketika menafsirkan ayat ini mengemukakan bahwa ( j
intiqdm adalah pembalasan vang bersifat khusus y a i t u menjatuhkan siksa
kepada lawan setimpal atau lebih keras daripada apa y a n g dijatuhkannya
kepada Anda. Ini dapat terlihat dalam perlakuan manusia, bahkan binatang
terhadap lawannya. Tujuan pembalasan sering kali dilakukan seseorang untuk
m e m u a s k a n hatinya sebagai akibat perlakuan b u r u k y a n g dideritanya. Hal
ini tentu saja mustahil bagi Allah swt.
Ada juga pembalasan yang dinamai oleh Thabathaba'i sebagai al-lntiqan:
ab Ijtimailpembalasan sosial, yakni ketentuan h u k u m vang dijatuhkan
berdasar u n d a n g - u n d a n g y a n g ditetapkan masyarakat. Biasanya, tujuan
p e m b a l a s a n tersebut b u k a n u n t u k m e m u a s k a n hati, tetapi berdasar
pertimbangan logika, bahkan tuntutan akal, yakni untuk memelihara sistem
dan h u k u m agar tidak terjadi kekacauan dan kepincangan dalam masyarakat.
Ini merupakan hak masyarakat, bahkan boleh jadi seorang pelaku kriminal
dijatuhi hukuman kendati korban atau keluarganya memaafkannya. Demikian
tcy]\\y,upenj balasan dapat lahir dari pribadi demi pribadi dan terdorong oleh
keinginan memuaskan hati, dan boleh jadi juga pembalasan itu dilakukan
atas nama masyarakat untuk memelihara keamanan dan stabilitas. Pembalasan
vang dilakukan Allah adalah bentuk vang kedua ini, walau di celah jatuhnya
pembalasan i m terbalaskan pula penganiayaan terhadap korban dan terpuaskan
pula hati korban atau keluarganya. Demikian Thabathaba'i.

Apa y a n g dikemukakan ulama ini. menyangkut pembalasan Allah yang


dicontohkan dengan pembalasan masyarakat, tidak sejalan dengan kesan yang
penulis peroleh dari penggunaan kata intiqnm yaitu ia berkaitan dengar:
pembalasan di hari K e m u d i a n . N a m u n d e m i k i a n , p a d a akhir uraian.
Kelompok VI Ayat 48-51 Surah Ibrahim [14] 403

Thabathaba'i m e n a m b a h k a n satu catatan. Tulisnya, " Pembalasan", kalau


ditinjau dari segi dampak amal, ia pada hakikatnya adalah akibat buruk yang
menyakiti jiwa seseorang yang terjadi dari potensi negatif y a n g diperolehnya
dalam kehidupan duniawi dan yang dirasakannya setelah kematian.

AYAT 4 8 - 5 1

"Pada hari bumi diganti dengan bumi yang lain dan langit juga, dan mereka
semuanya tampil menampakkan diri ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi
Mahaperkasa. Dan engkau akan melihat para pendurhaka ketika itu diikat
di dalam belenggu-belenggu. Pakaian mereka adalah dari pelangkin dan muka-
muka mereka ditutup oleh api neraka agar Allah memberi pembalasan kepada
setiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sesungguhnya Allah Mahacepat
pembalasan-Nya. "

Ayat y a n g lalu menjelaskan keadaan Kiamat y a n g menjadikan mata


manusia tidak berkedip dan hati mereka kosong dan ketika itu sangat jelas
pembalasan Ilahi. Pembalasan itu akan terjadi pada Hari Kiamat pada hari
itu bumi diganti dengan bumi yang lain dan d e m i k i a n pula langit juga, dan
mereka semuanya b e r k u m p u l di padang M a h s y a r tampil menampakkan diri
m e n g h a d a p ke hadiratAllah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Dan engkau,
siapa p u n engkau, akan melihat para pendurhaka ketika itu diikat bersama
rekan-rekan mereka di dalam belenggu-belenggu. Pakaian mereka adalah dari
pelangkin, y a k n i sekujur t u b u h mereka dibalur dengan cairan sejenis "ter"
y a n g mempercepat pembakaran dan m e n i m b u l k a n bau y a n g busuk, dan
muka-muka mereka ditutup oleh api nerakaAtu semua Allah perintahkan
untuk dilakukan atas mereka agar Allah memberi pembalasan yang adil kepada
setiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Kalau usahanya baik, dia
m e n e r i m a pembalasan y a n g baik d e m i k i a n j u g a sebaliknya. Sesungguhnya
Allah Mahacepat pembalasan-Nya karena D i a tidak m e m b u t u h k a n w a k t u
u n t u k menyelesaikan sesuatu apalagi segala sesuatu d i k e t a h u i - N y a dan
h u k u m a n - N y a sangat adil.
404 Surah Ibrahim [14] Kelompok VI Ayat 51

Kata ( J j L j ) tubaddaluldiganti d i g u n a k a n oleh a l - Q u r \ i n d a l a m arc:


mengganti sifat atau m e n g g a n t i d e n g a n sesuatu vang lain s a m a sekali.
Pergantian y a n g dimaksud ayat ini dapat berarti mengganti sifar-sifatnw;
sehingga sistem dan h u k u m - h u k u m alam yang berkaitan dengan dunia yang
kita huni dewasa ini diganti Allah dengan yang lain. Atau bumi yang kita
huni p u n a h sama sekali dan diganti dengan b u m i yang lain y a n g tidak kira
ketahui bagaimana keadaannva.
Kata ( i j j y ) barazu telah dijelaskan makna n va ketika menafsirkan a y a :
1
21 surah ini. Rujuklah ke sana!' Dan rujuk jugalah ke QS.Yusuf [ 1 2 ] : 39
u n t u k m e m a h a m i makna ( jl^iii J\) al-Wdhidal-Qahhdr.
Kata ( j^yifi ) muqarranin terambil dari kata ( j y j ) qarana y a n g berarti
bersama atau berteman. Ada yang memahaminya dalam arti setiap pendurhaka
digabung dan diikat dengan pendurhaka sejenis, ada juga y a n g berpendapat
b a h w a setiap pendurhaka diikat dengan setannya. Kata ( d J ) qarn yang
berasal dari kata niuqarranin berarti tali.
Kata ( j ^ ^ i ) a l-aslfa d 3-d-dhh bentuk jamak dari kata ( } ash-shafaa
yaitu ikatan vang diletakkan di kaki, berbeda dengan ( J^jU^i ) al-aghldlyaivz
merupakan belenggu vang mengikat tangan ke leher seseorang.
Kata ( Jwjij^») sambil adalah bentuk jamak dari ( J l ^ ) sirbdl yaitu sesuatu
yang m e n u t u p badan atau katakanlah baju, sedang ( ^\ ) qathirdn adalah
sejenis cairan y a n g dikeluarkan dari pohon tertentu berwarna hitam dan
berbau busuk serta mudah terbakar. Pakaian mereka dari qathirdn bermakna
bahwa sekujur tubuh mereka dibasuh oleh cairan itu sehingga mereka lebih
tersiksa dengan bau dan keterbakaran mereka.

AYAT S2

"Ini adalah penjelasan bagi manusia dan supaya mereka diberi peringatan
dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Vang
Maha Esa dan agar U lu l Albdb mengambil pelajaran. "

' ' Lihat kembali halaman 3 5 / .


• Rujuk penafsiran Q>. Yusuf [12]: .VI halaman 95.
1
Kelompok VI Ayat 52 Surah Ibrahim [14] 405

Akhirnya, Allah menegaskan bahwa: Ini, yakni ayat-ayat y a n g dibacakan


di atas yang mengeluarkan manusia dari aneka kegelapan menuju cahaya yang
terang benderang, adalah penjelasan yang cukup dan sempurna bagi manusia
u n t u k kebahagiaan dunia dan akhirat mereka, dan di samping itu ia j u g a
d i t u r u n k a n supaya mereka diberi peringatan dengannya oleh siapa pun yang
m e m a h a m i dan memercayai, dan supaya mereka y a n g belum percaya dan
tahu mengetahui bahwa Dia Yang IVlahakuasa y a n g w u j u d - N y a diakui oleh
fitrah y a n g suci adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar Ulul Albdb, yakni
mereka y a n g tidak dikeruhkan akalnya oleh satu kerancuan, mengambil
pelajaran.
Kata ( i j j J u J ) liyundzaridsupaya mereka diberi peringatan pada hakikatnya
adalah hasil akhir yang akan dituju dari kehadiran al-Qur'an. Hasil-hasil
perantara tidak disebut di sini karena teriaki banyak bahkan agung lagi tidak
terjangkau s e m u a n y a oleh nalar m a n u s i a . Karena itu, p e r i n g a t a n dan
pengetahuan tentang keesaan Allah swt. serta kesadaran tentang hal tersebut
adalah tiga hal yang mewakili segala tujuan kehadiran al-Qur'an.
Seperti telah dikemukakan sebelum ini, Tauhid adalah pusat yang beredar
di s e k e l i l i n g n y a k e s a t u a n - k e s a t u a n . Ketika m e n a n a m k a n nilai Tauhid
( K e t u h a n a n Yang M a h a E s a ) , a l - Q u r ' a n memulai dengan mengajak
memerhatikan ciptaan-ciptaan-Nya, atau kenyataan empiris—bumi, langit,
tumbuhan, angin, dan sebagainya—guna mengantar kepada keyakinan adanya
Pencipta. Bahkan, hal-hal kecil dan remeh pun dalam dunia empiris sering
kali dikaitkan dengan Keesaan dan Pengetahuan-Nya. Perhatikan firman-Nya:

%^%/si\ naj;;«

"Tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula),
dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang
basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh
Mabfuzh)"{QS. al-An'am [ 6 ] : 5 9 ) .
Selanjutnya, perhatikanlah kata-kata ayat di atas, b a g a i m a n a ia disusun
dengan rapi dan serasi, l a dimulai dengan sesuatu y a n g bersifat u m u m , yaitu
406 Surah Ibrahim [14] Kelompok VI Aya: f

balclghlpenyampaian dan penjelasan, lalu disusul dengan peringatan, dan


dapat m e n d o r o n g u n t u k merenung dan berpikir sehingga menghasilkan.
pengetahuan bahwa m e m a n g Allah swt. M a h a Esa lagi Mahaperkasa dan ha-
itulah y a n g selalu menghiasi jiwa UlulAlbdb.
Demikian surah ini ditutup sebagaimana uraian pembukaannya. Awalnya
adalah Alif, Ldm, RA'. Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya engku::
mengeluarkan manusia dari aneka gelap gulita menuju cahaya teraur
benderang dengan izin Tuhan mereka, yaitu jalan Tuhan Yang Mahamuli.i
lagi Maha Terpuji. A w a l n y a berbicara tentang a h Q u r ' a n , dan kandungan
ayatnya adalah perintah kepada Nabi M u h a m m a d saw. untuk menyampaikan,
d a k w a h m e n u j u j a l a n Allah y a n g lebar dan lurus dan d e n g a n tujuan
mengeluarkan mereka dari aneka kegelapan menuju terang benderang. Kalau
manusia m e n y a m b u t ajakan itu, mereka terbebaskan dari kegelapan dan
mereka mengetahui lagi menghayati m a k n a Tauhid, y a n g enggan
m e n e r i m a n y a — a k h i r n y a p u n — d i hari Kemudian pasti akan menyadari
bahwa m e m a n g tidak ada tuhan selain Allah swt. Betapapun sebelum mereka
meninggal mereka telah diberi peringatan tetapi mereka menolaknya berbeda
dengan Ulul Albab yang selalu menghayati dan mengamalkan tuntunan kitab
a b Q u r ' a n ini.

D e m i k i a n , wa Alldh A'lam.