Anda di halaman 1dari 146

TINDAKAN WORLD ORGANIZATION OF THE SCOUT MOVEMENT

(WOSM) DALAM MENCIPTAKAN PERDAMAIAN MELALUI


PROGRAM AMAHORO AMANI DI WILAYAH GREAT LAKES AFRIKA
TAHUN 2005-2007

SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Oleh

ARI WIJANARKO ADIPRATOMO


NRP: 2008231002

INSTITUT ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK JAKARTA


JAKARTA-2011
Abstrak

(a) Ari Wijanarko Adipratomo (2008231002)


(b) Tindakan World Organization Of Scout Movement (WOSM) Dalam Menciptakan
Perdamaian Melalui Program Amahoro Amani Di Wilayah Great Lakes Afrika
Tahun 2005-2007
(c) ix + 110 Halaman : 10 Lampiran (1996-2010)
(d) Kata Kunci: Pramuka, Perdamaian, NGO, WOSM, Diplomasi Antar
Masyarakat, Second Track Diplomacy, Preventive Diplomacy
(e) Tujuan : Mengetahui lebih dalam tindakan yang ditempuh WOSM dalam
mendorong perdamaian di Wilayah Great Lakes; mengetahui lebih dalam efektifitas
WOSM dalam mempromosikan perdamaian; dan bagaimana peranan non-state
actors dalam mendorong perdamaian melalui perspektif liberalisme. Metode
Penelitian : Kualitatif-Deskriptif-Analitif Hasil Penelitian : Krisis dan
konflik berkepanjangan di Wilayah Great Lakes disebabkan oleh kebencian antar
suku yang diwariskan turun menurun yang mengakibatkan konflik
berkepanjangan dan seakan tidak putus. Generasi muda dipaksa dan juga
diindoktrinasi untuk bergabung sebagai pelaku kejahatan perang. Dengan
besarnya populasi generasi muda menyebabkan mereka menjadi pelaku
sekaligus korban kejahatan perang. Untuk dapat tercapainya perdamaian,
pasifikasi serta de eskalasi konflik di wilayah Great Lakes diperlukan
organisasi yang mampu bergerak di tingkatan masyarakat untuk
memberikan pendidikan perdamaian terutama pada generasi muda agar
siklus konflik dapat terpotong. Dalam hal ini organisasi yang dimaksud
adalah gerakan kepramukaan dunia yang melalui pendekatan khususnya
mampu membawa perubahan di wilayah great lakes Kesimpulan: Upaya
pasifikasi regional great lakes telah berhasil membawa perubahan disana-
sini diseputaran wilayah Great Lakes. Upaya diplomasi yang dilakukan
WOSM ini cukup signifikan dalam memberikan kontribusi terhadap
perdamaian kedepan. Sebuah diplomasi yang mengandalkan upaya
pendekatan langsung melalui masyarakat (Second Track Diplomacy) serta
diplomasi untuk mencegah konflik terburuk terulang lagi (Preventive
Diplomacy).
(f) Buku : 8 (1907-2008) ; Kamus: 2 (1990-2003) ; Karya Ilmiah :11 (2001-2008);
Publikasi : 16 (1992-2010); Sumber Lainnya: 23 (1992-2010); Surat Kabar: 1
(2005)
INSTITUT ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK JAKARTA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI

Nama : Ari Wijanarko Adipratomo


NRP : 2008231002
Judul : Tindakan World Organization Of Scout Movement (WOSM)
Dalam Menciptakan Perdamaian Melalui Program Amahoro
Amani Di Wilayah Great Lakes Afrika Tahun 2005-2007

Jakarta, 22 Januari 2011

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

(Dra.Enny Suryanjari, M.Si.) (Yudhi Indrajati, S.Ip, M.Si.)

Ketua Program Studi

(Netik Indarwati, S.S. M.Si.)


INSTITUT ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK JAKARTA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

Telah diuji di Jakarta, tanggal -_______________, dan dinyatakan ________

Nama : Ari Wijanarko Adipratomo


NRP : 2008231002
Judul : Tindakan World Organization Of Scout Movement (WOSM)
Dalam Menciptakan Perdamaian Melalui Program Amahoro Amani
Di Wilayah Great Lakes Afrika Tahun 2005-2007

Penguji
Ketua

Anggota Anggota
LEMBAR PERNYATAAN MAHASISWA

Bersama ini, saya :

Nama : Ari Wijanarko Adipratomo


NRP : 2008231002
Judul : Tindakan World Organization Of The Scout Movement (WOSM)
Dalam Menciptakan Perdamaian Melalui Program Amahoro Amani
Di Wilayah Great Lakes Afrika Tahun 2005-2007
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa :
1. Skripsi ini orisinil, bukan plagiat ;
2. Semua keterangan yang berkaitan dengan data primer dan sekunder adalah sah.

Bila dikemudian hari ditemukan bahwa terdapat peniruan dan pemalsuan pada
sebagian atau keseluruhan isi skripsi, maka saya siap mempertanggungjawabkan
secara akademik maupun didepan hukum.

Jakarta, 22 Januari 2011


Mahasiswa

(Ari Wijanarko Adipratomo)


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Pertama, perkenankan penulis menyampaikan rasa syukur yang tidak

terhingga kepada Tuhan Semesta Alam, Allah SWT atas segala rahmat dan

karuniaNya. Tak lupa penulis juga ingin menyampaikan shalawat dan salam

kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Gerakan kepramukaan dunia bukan merupakan sebuah topik yang sering

diangkat dalam skripsi jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Sangat ironis

adanya karena mengingat gerakan kepanduan atau kepramukaan adalah salah satu

organsiasi kepemudaan yang telah memberikan banyak sumbangsih bagi

perkembangan perdamaian di dunia. Untuk itu, saya ingin mendedikasikan skripsi

ini bagi seluruh akademisi yang mempelajari Ilmu Hubungan Internasional

sehingga mampu memberikan sedkit pencerahan mengenai hubungan gerakan

kepramukaan dan perdamaian dunia; Dan juga tak lupa juga skripsi ini

didedikasikan kepada seluruh anggota pramuka di dunia yang telah rela, ikhlas

dan tanpa sumbangsih membagi sebagian waktunya untuk sebuah tujuan yang

mulia sesuai dengan motto gerakan kepramukaan dunia, create a better world

(menciptakan dunia yang lebih baik). Saya sadar sepenuhnya bahwa skripsi ini

tidaklah sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan seluruh masukan dan

dukungan untuk memperbaiki kualitas tulisan ini di masa yang akan datang.

Ijinkan penulis untuk juga menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam

kepada:

1. Keluarga saya: Bapak- Alm. Drs.Zainal Arifin, S.H., S.Sos ; Ibu- Wiwik

i
Prihatin Widjiastuti; Adik- Arif Fajar Sulistyo atas segala dukungan moral,

materil dan sejuta dukungan lain yang tentunya tak terhingga besarnya dan tak

mampu diukur oleh materi. Skripsi ini juga khusus didedikasikan kepada

Bapak yang telah dipanggil menghadap Sang Khalik sebelum skripsi saya ini

terselesaikan, semoga dapat membuat beliau tersenyum disisiNYA.

2. DR. Ir Maslina W. Hutasuhut, M.M., selaku Rektor Institut Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Jakarta.

3. Dra. Enny Suryanjari, M.Si, selaku PUREK I dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial

dan Ilmu Politik Jakarta; Serta Ibu Netik Indarwati, S.S, M.Si selaku Ka.Prodi

HI- IISIP Jakarta

4. Yudhi Indrajati, S.Ip,M.Si selaku Dosen pembimbing skripsi atas masukan dan

bantuannya dalam proses penyusunan, penulisan hingga tahap akhir skripsi.

5. Hana Fauziyah, My loved one dan Inspirator, pendukung serta penyemangat

dalam mengerjakan skripsi.

6. Sekretaris Jenderal World Organization of Scout Movements-WOSM, Mr. Luc

Panissod (Jenewa-Swiss) dan Wakil Ketua World Scout Committee Mr.Simon

Rhee (Korea Selatan) atas informasi dan dukungan moril yang diberikan

7. Prof. DR. Dr. H. Azrul Azwar,MPH. Ketua Kwartir Nasional Gerakan

Pramuka Indonesia, atas motivasi dan bantuan tak terhingga yang telah

diberikan.

8. Mr.Abdullah Rasheed, WOSM-Asia Pacific Regional Director

9. DR. Irid Agoes M.A. Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka –

Bidang Hubungan Luar Negeri.

ii
10. Drs. Fachry Sulaiman, S.H. Kepala Kekonsuleran di KBRI Singapura dan juga

sebagai Andalan Nasional bidang Hubungan Luar Negeri Gerakan Pramuka.

11. Keluarga besar KJRI Chicago, masyarakat Indonesia dan PERMIAS di

Chicago atas dukungan semangatnya.

12. Om Yudho Sasongko,M.A. dan Mas Arief Adnan, Phd, Diplomat RI di PTRI

New York atas masukannya

13. Rengsina Suryati, M.Si. (Mbak kiki) dan Franky P.Roring,M.Si. sebagai dosen

HI di IISIP Jakarta, terima kasih atas diskusi yang konstruktif.

14. Rekan-rekan seperjuangan di Jurusan Hubungan Internasional IISIP Jakarta:

yang mungkin tidak mampu tersebutkan satu per satu.

15. Rekan-rekan seperjuangan di Dewan Kerja Nasional (Kak Ipeh, Mas Karno,

Kak Putri, Kak Fitrah, Mas Adam, Fuad, Yudha, Kak Iman, Kak Bambang,

Razak, Kak Rully, Kak Fatiah); Rekan-rekan Dewan Kerja tingkat Asia

Pasifik/YAMG (Maeed-Maladewa, Jessy-Korea Selatan, Benz-Thailand,

Hafidz-Malaysia, Ollie Lim-Singapura, Dicky-Hongkong).

Dan kepada semua pihak yang telah memberikan sumbangsih saran serta

dukungan namun tidak tersebutkan, terima kasih. Semoga skripsi ini dapat berguna

bagi akademisi dan para pramuka di seluruh dunia yang memiliki ketertarikan

dalam mempelajari tentang kepramukaan dan Hubungan Internasional.

Jakarta, Januari 2011

Penulis

iii
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI
LEMBAR PERNYATAAN
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
KATA PENGANTAR ………………………………………………….. i
DAFTAR ISI …………………..……………………………………….. v
DAFTAR LAMPIRAN …………………………….…...……………… vii
GLOSARIUM …………………………………………………………… viii
DAFTAR SINGKATAN …………..………………..………………….. ix
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………….. 1
A. Latar Belakang Masalah………………………………… 1
B. Masalah Pokok………………………………………… 15
C. Tujuan Penelitian…………………………………..…… 16
D. Kegunaan Penelitian…………………………………….. 16
E. Sistematika Penulisan…………………………………… 16
BAB II KERANGKA TEORI…………………………………… 19
A. Tinjauan konseptual……………………………………. 19
A.1. Diplomasi………………………………………... 20
A.1.1. Diplomasi Antar Masyarakat……………... 23
A.1.2. Diplomasi Preventif………………………… 25
A.2. Organisasi Internasional…………………………. 27
A.2.1. Organisasi Non-Pemerintah (NGO)…… 28
B. Operasionalisasi Konsep……………………………… 29
C. Kerangka Pemikiran…………………………………… 33
C.1. Skema Alur Penelitian…………………………… 34
BAB III METODE PENELITIAN…………….………….….. 36
A. Desain Penelitian………………………………………. 36
B. Unit Analisa Penelitian………………………………… 37
B.1. Perilaku Kelompok………………………………. 39
B.2. Negara Bangsa…………………………………… 39
C. Teknik Pengumpulan Data……………………………. 40
D. Metode Analisa Data…………………………………. 41
BAB IV PERANAN WOSM TERHADAP PERDAMAIAN DUNIA
DAN TINJAUAN UMUM TERHADAP KONFLIK DI
GREAT LAKES ..….………………………..………….. 43
A. Peranan WOSM Dalam Perdamaian Dunia .………… 43
A.1. Sejarah WOSM……………………..…………… 44
A.2. Peran WOSM dalam perdamain dunia………….. 47
B . Sejarah Konflik di Great Lakes……………………….. 50
B.1. Konflik di Rwanda……………………………….. 55
B.2. Konflk di Republik Demokratik Kongo…………. 61
B.3. Konflik di Burudi………………………………… 63
BAB V TINDAKAN WOSM DALAM MENCIPTAKAN
PERDAMAIAN DI GREAT LAKES………………..…… 69

iv
A. Tindakan WOSM terhadap penyelesaian konflik
di Great Lakes Afrika. …………………………… 69
B. Penanggulangan dan Pemulihan Pasca Konflik
di wilayah Great Lakes……………………………. 72
B.1 Bentuk Kegiatan Penanggulangan
Pasca Konflik………………………………… 73
C. Pelaksanaan Program Amahoro Amani………………. 75
C.1 Latar Belakang dan
Tujuan Program Amahoro Amani…..……….. 75
C.2 Pembentukan Kepengurusan Program
Amahoro Amani…………………..…………….. 79
C.3 Wilayah yang Dijangkau
Program Amahoro Amani……………………… 79
C.4 Implementasi dan Realisasi
Program Amahoro Amani…………………… 81
C.4.1 Melatih 420 Mediator Komunitas…. 84
C.4.1.1 Peran Utama Mediator
Komunitas……………………….. 84
C.4.1.2 Aktifitas Mediator
Komunitas……………………….. 85
C.4.1.3 Rekrutmen Mediator
Komunitas……………………….. 87
C.4.1.4 Pelatihan Mediator
Komunitas……………………….. 88
C.4.2 Melatih Pelatih Mediator Komunitas 90
C.4.2.1 Peran Pelatih Mediator
Komunitas……………………….. 90
C.4.2.2Materi Pelatihan bagi Para
Pelatih Mediator Komunitas……. 90
C.4.2.3 Program Latihan dan Aktifitas
Pelatih Mediator Komunitas…….. 91
C.4.3 Mengevaluasi Mediator Komunitas.. 92
C.4.3.1 Pawai Perdamaian bagi
Mediator Komunitas……………… 92
C.4.3.2 Pawai Perdamaian
Internasional……………………… 93
D. Hasil Program Amahoro Amani……………………………….. 94
E. Signifikansi Program Amahoro Amani………………………… 98

BAB VI KESIMPULAN…………………………………………. 102


DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….. 109
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP

v
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Hasil Wawancara Dengan Luc Panissod


Lampiran 2 : Hasil Wawancara Dengan Simon Hang Bock Rhee
Lampiran 3 : Hasil Wawancara Email Dengan Jean Jacques Bagalwa
Murhandikire
Lampiran 4 : Struktur Kepengurusan Amahoro Amani
Lampiran 5 : Peta Burundi
Lampiran 6 : Peta North dan South Kivu (RDK)
Lampiran 7 : Peta Rwanda
Lampiran 8 : Tabel Rincian Kegiatan Amahoro Amani
Lampiran 9 : Laporan Keuangan Program Amahoro Amani
Lampiran 10 : Logo Amahoro Amani

vi
GLOSARIUM

Amahoro Perdamaian (dalam bahasa Kinyarwanda dan Kurundi)

Amani Perdamaian (dalam bahasa Swahili)

Baraza Dewan Tetua Adat di Wilayah Timur Republik Demokratik


Kongo

Bashingantahe Kelompok orang yang dituakan yang memiliki kekuasaan


dalam suku

Banyamulenge Sebuah istilah kuno untuk suku Tutsi Rwanda yang


mendiami Kivu Selatan

Gacaca Dewan Tetua Adat di Rwanda

Intahe Dewan Tetua Adat di Burundi

Kijana Remaja yang telah melewati upacara kedewasaan adat


(Kinyarwanda)

Pygmy Kelompok suku yang memiliki tinggi kurang dari 150 cm

Interwahme Kelompok orang yang menyerang bersama-sama

Mai Mai Kelompok militan yang memaksa remaja dan wanita


menjadi tentara

vii
DAFTAR SINGKATAN

APR Asia Pacific Region (World Scout Bureau)

BBC British Broadcasting Corporation

BP Baden Powell

BDEGL Banque de Developpement des Etats des Grands Lacs

CEPGL Communauté Économique des Pays des Grand Lacs

CSGL Consultation Scouts Great Lakes

CIA Central Intelligence Agency

FDD Forces for the Defense of Democracy

FNL National Liberation Front

IGO Inter-Governmental Organization

INGO International Non Governmental Organization

IRAZ Institute of the Agronomic Researches and Zootechniques

LRA Lord Resistance Army

MNC Multi National Corporation

NGO Non-Governmental Organization

NSO National Scout Organization

OSAA United Nations Office of the Special Adviser on Africa

RDK Republik Demokratik Kongo

RPF Rwandan Patriotic Front

SINELAC Société International d'Electricite des Pays des Grands


LACS

UN United Nation

WOSM World Organization of Scout Movements

WSB World Scout Bureau

viii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DATA DIRI
Nama Lengkap : Ari Wijanarko Adipratomo
Tempat /Tanggal Lahir : Jakarta / 18 November 1986
Agama : Islam
Nama Ayah : Alm.Zainal Arifin S.H. S.Sos
Nama Ibu : Wiwik Prihatin Widjiastuti
Alamat Email : AriFutureDiplomat@gmail.com

PENDIDIKAN FORMAL
 1990 -1991 : TK Yasdwipa Pasar Minggu
 1992– 1995 : SDN Jatipadang 01 Pagi Pasar Minggu
 1995- 1997 : SDN Pabuaran 01 Pagi Bojong Gede
 1998 – 2001 : SLTPN 2 Bojong Gede
 2001 – 2003 : SMAN 9 Kota Bogor
 2003 - 2004 : Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta
 2004 - 2008 : City Colleges of Chicago- Harry S.Truman College
 2008- 2011: Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta

PENGALAMAN ORGANISASI
 2005-2008 : Wakil Presiden Persatuan Mahasiswa Indonesia di
Amerika-Chicago (PERMIAS-Chicago)
 2008-Sekarang : Anggota pada Kwartir Nasional Gerakan Pramuka RI
 2008 – 2010 : Anggota Dewan Kerja Nasional Gerakan Pramuka RI
 2008 – 2012 : Anggota Dewan Kerja Pramuka Tingkat Asia Pasifik /
APR Young Adult Member Group

ix
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Berakhirnya Perang Dingin menandai lahirnya sebuah realitas baru dalam

hubungan antarbangsa di dunia ini. Dengan hancurnya imperium Soviet di Eropa

Timur, hancurlah juga struktur bipolar1 yang membangun sebuah kerangka

hubungan antarbangsa yang telah ada selama lebih dari lima puluh tahun di dunia.

Isu-isu baru dalam dunia hubungan internasional juga mulai berevolusi dan

berkembang. Meskipun isu-isu klasik semisal keamanan nasional dan konflik

kepentingan masih muncul ke permukaan, namun tidak bisa dibohongi bahwa isu-

isu baru mulai muncul dalam tataran hubungan antar bangsa dan antarnegara

pasca Perang Dingin.

Pada masa pasca Perang Dingin, isu dan permasalahan yang dibahas dalam

dunia hubungan internasional bertambah secara pesat. Jika sebelumnya hubungan

internasional lebih berkaitan dengan hubungan diplomatik antar negara-negara,

dan isu-isu yang diangkat umumnya adalah perang dan damai, setelah Perang

Dingin terjadi proliferasi isu-isu internasional setidaknya datang dari dua sumber

(Snow dkk, 2000: 9).

Sumber pertama yang menyebabkan pertambahan isu dan permasalahan

dalam dunia internasional adalah munculnya isu-isu transnasional. Menurut

Donald M. Snow (2000: 9) isu transnasional adalah “…problems that transcend

1 Bipolar adalah konfigurasi perimbangan kekuatan dimana dua negara lebih kuat
dibandingkan negara-negara lain dan menjadi sumbu-sumbu utama dalam sistem internasional
(International Relations Brief 2006-2007 Edition)
1
2

state boundaries in ways individual states have very little control over.”

(…permasalahan-permasalahan yang melintas batasan negara dan membuat setiap

negara hanya memiliki sedikit kontrol atas masalah ini). Permasalahan-

permasalahan transnasional ini mendorong negara-negara untuk bekerja sama

dalam menyelesaikannya, karena upaya yang dibutuhkan tidaklah kecil dan

mudah. Isu-isu transnasional ini telah merambah berbagai dimensi atau dapat

dikatakan menjadi multidimensional dan tidak terpaku pada isu-isu tradisional

dalam hubungan internasional. Eugene Brown dan Donald M. Snow juga

mendukung pendapat mengenai makin kompleksnya isu-isu dalam hubungan

internasional dewasa ini dengan menyatakan bahwa indikator terjadinya

perubahan aktor dan isu dalam hubungan internasional salah satunya dapat dilihat

dari bentuk diplomasi yang dilakukan oleh negara-negara, tidak hanya first track

diplomasi yang "murni" negara, tetapi juga second track bahkan multitrack

diplomacy yang menggabungkan aktor negara dan non-negara di dalamnya (2000:

30).

Sumber yang kedua dari proliferasi2 isu-isu internasional adalah

bertambahnya jumlah dan tipikal para individu dan kelompok yang berpartisipasi

dan ikutserta dalam rezim internasional. Apabila di masa-masa awal berdirinya

sistem internasional modern hanya negara dan pemerintah yang memiliki posisi

sebagai aktor di arena internasional, saat ini seiring dengan makin meluasnya

demokrasi dan juga terjadinya interdependensi antar negara di dunia, masuklah

aktor-aktor baru dalam dunia internasional yang ikutserta menikmati

2
Proliferasi disadur dari bahasa Inggris proliferation yang berarti pertambahan
3

keistimewaan peran aktor internasional di dunia. Aktor-aktor internasional baru

yang turut serta dalam sistem internasional modern pasca Perang Dingin termasuk

individu, aktor sub-nasional, organisasi internasional, perusahaan multinasional

(multinational cooperation, MNC), dan organsiasi non-pemerintah (Non

Governmental Organizations, NGO).

Aktor-aktor non-negara dalam dunia hubungan internasional ini memiliki

kekuatan untuk mempengaruhi negara dalam suatu tingkatan tertentu. Menurut

Goldstein dan Pevehouse, aktor-aktor baru di sistem internasional ini mampu

dikategorikan dalam beberapa kategori (2007: 10). Pertama adalah substate actors

yakni kelompok-kelompok kepentingan dalam suatu negara yang mempengaruhi

kebijakan luar negeri negara itu. Kelompok yang kedua adalah multinational

corporations (MNCs) atau perusahaan multinasional. Ketiga adalah organisasi

non pemerintah (Non Governmental Organizations, NGOs). Organisasi-organisasi

ini memiliki ukuran dan sumber daya yang berbeda-beda dan secara konstan

berhubungan dengan negara, aktor non-negara, MNC, dan juga NGO lainnya.

Tidak sedikit dari NGO yang terlibat dalam masalah-masalah internasional dan

berupaya melakukan kontribusi untuk menyelesaikannya, dan terkadang upaya

gabungan dari jejaring NGO ini mampu memberikan dampak yang sangat

signifikan dalam penyelesaian masalah internasional. Dalam hal ini PBB pun

memandang peranan penting NGO sebagai aktor dalam dunia hubungan

internasional, sebagaimana yang dinyatakan Goldstein dan Pevehouse:

“increasingly NGOs are being recognized, in the UN and other forums as

legitimate actors along with the states, though not equal to them.” (NGOs
4

semakin diakui, di PBB dan forum lainnya sebagai aktor yang sah bersama

dengan negara-negara, meskipun tidak setara dengan negara) (2007: 10).

Bentuk keempat aktor dalam dunia hubungan internasional dewasa ini

adalah Intergovernmental Organization (IGO) atau organisasi antar pemerintah

seperti Bank Dunia, IMF dan WTO. Secara kolektif, IGOs dan NGOs lebih sering

diistilahkan sebagai Organisasi Internasional atau International Organizations

(IOs). Setidaknya terdapat lebih dari 25.000 (dua puluh lima ribu) NGOs dan

lebih dari 5.000 (lima ribu) IGOs (Goldstein dkk, 2007: 11). Di dunia dimana

negara dan aktor-aktor internasional lainnya memiliki tendensi untuk saling

ketergantungan, peran negara masih cukup vital. Namun dalam beberapa hal,

peranan negara mulai terpinggirkan oleh perusahaan multinasional, kelompok dan

bahkan individu yang memiliki peranan di dunia internasional dimana aktor-aktor

non-negara ini lebih sering berinteraksi secara langsung, melintas batas, dan

melakukan interaksi secara langsung dibandingkan negara. Baik aktor negara dan

non-negara mempengaruhi secara kuat dunia hubungan internasional pasca Perang

Dingin, terlebih dengan makin majunya perkembangan informasi teknologi dan

makin meluasnya demokrasi.

Di masa modern ini walaupun nilai nilai universal dan norma-norma

internasional sudah menjadi acuan dalam hubungan antarbangsa dan diplomasi

menjadi sebuah alat pelembagaan konflik-konflik, namun tidak dipungkiri masih

saja terjadi conflict of interest atau ketegangan lokal yang makin bereskalasi dan

berujung pada transnational issues. Bentuk – bentuk isu dan konflik saat ini telah

berevolusi tidak hanya terbatas pada konflik bersenjata, namun juga pada konflik-
5

konflik kecil yang berevolusi menjadi konflik lintas batas. Seiring dengan

fenomena makin banyaknya isu dan aktor dalam dunia hubungan internasional,

dalam upaya penyelesaian konflik pun sudah tidak lagi terpaku pada upaya

mediasi di meja perundingan oleh para diplomat dan utusan state actors saja.

Dengan tren diplomasi yang semakin bergeser kepada diplomasi publik, saat ini

bukan hanya state actors saja yang memiliki peranan penting dalam hubungan

internasional, namun MNC, NGO, Non State Actors, bahkan individual memiliki

peranan yang amat penting dalam proses menjaga perdamaian dalam berbagai

tingkatan dan berbagai cara, baik pasif maupun aktif. PBB sendiripun telah

mengakui betapa pentingnya peranan organisasi-organisasi non pemerintah

(NGOs) dalam menjaga perdamaian. Daniel S. Papp, dalam bukunya

“Contemporary International Relations” mengatakan bahwa: “Some NGOs such

as International Red Cross, and CARE undertake humanitarian efforts.

Sometimes their effort can be quite sizeable” ("Beberapa LSM seperti Palang

Merah Internasional, dan CARE melakukan upaya kemanusiaan. Kadang-kadang

usaha mereka bisa sangat besar) (Papp, 2002: 119).

Pasca Perang Dingin, salah satu benua yang selalu diwarnai konflik adalah

Afrika. Wilayah di Afrika yang terus-menerus dihantui oleh perang, salah satunya

adalah daerah Great Lakes3. Wilayah ini menghadapi turbulensi politik selama

3 Istilah Great Lakes adalah sebuah istilah yang sering digunakan untuk merujuk pada area di
Afrika Tengah yang terletak di antara bagian utara dari Danau Tanganyika, hingga wilayah
bagian barat danau Victoria, dan danau Kivu, danau Edward serta danau Albert. Adapun
negara-negara yang terletak di wilayah Great Lakes adalah Burundi, Rwanda, Republik
Demokratik Kongo, Uganda, Kenya, dan Tanzania. Terkadang, beberapa ahli juga
menyertakan negara Zambia, Malawi, Mozambik dan Ethiopia sebagai negara-negara yang
termasuk dalam wilayah Great Lakes. http://en.wikipedia.org/wiki/African_Great_Lakes
6

lebih dari 50 (lima puluh) tahun. Tercatat beberapa konflik telah mewarnai

wilayah ini selama lebih dari empat dasawarsa terakhir, antara lain: Genosida di

Rwanda, perang sipil di Burundi, dan perang berkepanjangan di Republik

Demokratik Kongo (Vanessa, 2003: 1). Salah satu konflik yang paling berdarah

diwilayah ini adalah tragedi Genosida di Rwanda pada tahun 1994 yang dimulai

ketika Suku Hutu 'menghabisi' hampir satu juta orang anggota suku Tutsi

(Wiliam, 2004: 1).

Genosida di Rwanda tahun 1994 itu mengejutkan dunia internasional dan

menangkap perhatian banyak tokoh dunia. Kebrutalan yang ditimbulkan sulit

tergambarkan oleh kata-kata. Konflik antara suku Tutsi dan Hutu dapat dirunut

hingga 1959. Bila dirunut melalui sejarah, hubungan antara Tutsi dan Hutu

tergolong damai dan tentram, hidup berdampingan di wilayah Great Lakes yang

meliputi beberapa negara. Namun kedamaian ini hilang ketika Belgia melakukan

aksi kolonialisme mereka di wilayah tersebut. Belgia sebagai penjajah di wilayah

itu menerapkan sistem yang menguntungkan bagi kaum Tutsi yang menjadi

minoritas dan membuat kaum Hutu sebagai mayoritas merasa tersingkir dan

dikucilkan. Namun ketidakpuasan suku Hutu terhadap sistem tersebut tidak serta-

merta menyulut api kekerasan di wilayah tersebut. Konflik antara suku Tutsi dan

Hutu muncul ketika suku Hutu mendapatkan akses terhadap pendidikan yang

lebih tinggi dengan bantuan dari gereja Katholik. Melalui pendidikan yang

didapat, suku Hutu sadar bahwa mereka selama ini telah menjadi korban

ketidakadilan sistem politik di Rwanda. Perasaan kebencian terhadap suku Tutsi

pun makin berkembang dikalangan orang orang Hutu terpelajar ini (Mohammed,
7

2003: XV). Konflik menyebar secara sporadis ke wilayah-wilayah negara

tetangga, dimana suku Tutsi tinggal melalui kelompok-kelompok Hutu ekstrimis

yang mendukung sebuah ideologi Hutu Power. Konflik ini semakin bereskalasi

ketika pada 1962 Belgia memberikan kemerdekaan kepada Rwanda. Sekelompok

Hutu ekstrimis mengambil alih kekuasaan dan mulai menyingkirkan rival Tutsi

mereka yang sebelumnya berkuasa.

Pada saat yang sama, pengungsi Tutsi di Uganda - didukung oleh beberapa

Hutu moderat - telah membentuk Front Patriotik Rwanda (RPF), yang dipimpin

oleh Mr. Kagame. Tujuan mereka adalah untuk menggulingkan Presiden Rwanda,

Habyarimana dan mengamankan hak mereka untuk kembali ke tanah air mereka.

Habyarimana memilih untuk mengeksploitasi informasi ini sebagai sebuah bentuk

ancaman dan kemudian mempergunakannya sebagai alat propaganda untuk

membawa Hutu yang membangkang kembali ke sisinya, dan sebagai alat untuk

menjatuhkan tuduhan kepada Tutsi di Rwanda sebagai kolaborator RPF (BBC:

2008).

Pada bulan Agustus 1993, setelah beberapa bulan negosiasi, kesepakatan

damai ditandatangani antara Habyarimana dan RPF. Tetapi hal ini tidak membawa

efek signifikan untuk menghentikan kerusuhan lanjutan. Ketika pesawat yang

membawa Presiden Habyarimana ditembak jatuh pada awal bulan April 1994,

membuat konflik antar kedua suku itu mencapai klimaksnya. Insiden itu

membunuh presiden Habyarimana beserta Presiden Burundi dan para kepala staf

kedua negara (BBC: 2008).


8

Di ibukota Rwanda, Kigali, pasukan pengawal presiden Habyarimana

segera memulai kampanye balas dendam. Pemimpin oposisi politik dibunuh, dan

hampir dengan segera, pembantaian Tutsi dan Hutu moderat dimulai. Dalam

beberapa jam saja, para pengawal presiden itu berhasil merekrut kelompok-

kelompok Hutu yang bersedia menjadi militan untuk melakukan balas dendam

kepada para Tutsi. Beberapa jam setelah pembunuhan tersebut, mereka direkrut

dan dikirim ke seluruh penjuru negara Rwanda untuk melakukan gelombang

pembantaian.

Beberapa Tutsi berhasil melarikan diri ke tenda-tenda pengungsian dan

gelombang pengungsi mulai melintas perbatasan antara Rwanda, dengan Kongo

dan Burundi yang tidak dijaga ketat, mereka mencari keselamatan diri mereka

sendiri. Para penggagas awal termasuk pejabat militer, politisi dan pengusaha, dan

masyarakat sipil Hutu lain segera bergabung dalam kekacauan itu. Didorong oleh

propaganda pengawal presiden dan media radio, kelompok milisi tidak resmi yang

disebut Interahamwe (orang yang menyerang bersama-sama) dikerahkan. Pada

puncaknya, kelompok ini memiliki kekuatan personil sebesar 30.000-an (tiga

puluh ribuan) (BBC: 2008).

Tentara dan polisi mendorong warga sipil untuk ambil bagian dalam upaya

pembersihan etnis ini. Dalam beberapa kasus, warga sipil Hutu dipaksa untuk

membunuh tetangga Tutsi mereka oleh personil militer.Warga sipil ini seringkali

diberikan insentif, seperti uang atau makanan, dan bahkan dalam beberapa kasus,

ketika mereka menyatakan bahwa mereka tidak dapat membunuh rekan Tutsi
9

mereka, warga sipil Hutu ini malah dibunuh oleh tentara atau militer (BBC:

2008).

Kondisi di lapangan semakin memburuk ketika Rwanda ditinggal oleh

masyarakat internasional. Pasukan PBB mundur setelah terjadi pembunuhan

terhadap 10 (sepuluh) tentara penjaga perdamaian PBB. Satu hari setelah

kematian Habyarimana, para RPF memperbaharui serangan mereka terhadap

pasukan pemerintah, dan sejumlah upaya oleh PBB untuk menegosiasikan

gencatan senjata berakhir sia-sia.

Pada bulan Juli, RPF berhasil menguasai Kigali, pemerintah runtuh dan

RPF menyatakan gencatan senjata.Segera setelah kondisi menjadi jelas bahwa

RPF menang, sekitar dua juta orang Hutu melarikan diri ke Zaire (sekarang

Republik Demokratik Kongo). Diantara para pengungsi Hutu ini banyak yag telah

terlibat dalam aksi pembunuhan para Tutsi Pasca insiden yang menewaskan

presiden Habyarimana.

Pada awal RPF menguasai Rwanda, pemerintah multi-etnik didirikan,

dengan seorang anggota Hutu, Pasteur Bizimungu sebagai presiden dan Kagame

dari Tutsi sebagai wakilnya.Tapi pasangan kemudian tergulingkan dan Bizimungu

dipenjara atas tuduhan menghasut kekerasan etnis, sementara Kagame naik

menjadi presiden (BBC: 2008).Meskipun pembunuhan di Rwanda telah berakhir,

kehadiran milisi Hutu di Kongo telah menyebabkan konflik berkepanjangan di

sana dan menyebabkan sampai lima juta kematian. Pemerintah Rwanda di bawah

Presiden Kagame, seorang Tutsi, telah dua kali menginvasi tetangganya jauh lebih
10

besar, ia mengatakan bahwa ia ingin menghapus pasukan Hutu di wilayah Great

Lakes.

Konflik di Great Lakes dimulai dari konflik di Rwanda ini dengan cepat

bereskalasi menjadi permasalahan transnasional di wilayah Great Lakes. Hal ini

disebabkan karena beberapa negara di Great Lakes yang bertetangga dengan

Rwanda memiliki latar belakang kesukuan yang sama, sehingga ketegangan akan

pembantaian suku Tutsi dengan cepat menyebar menjadi ketegangan wilayah di

Great Lakes sebagaimana dijabarkan diatas. Konflik di wilayah ini pada akhirnya

terkonsentrasi pada tiga negara bertetangga, yakni: Rwanda, Burundi dan

Republik Demokratik Kongo, dimana suku Hutu dan Tutsi merupakan mayoritas

suku di ketiga negara tersebut.

Hal yang menambah rumit permasalahan dan juga pemecahan konflik di

wilayah Great Lakes adalah adanya inkonsistensi antara koalisi kelompok-

kelompok politik yang ada di negara-negara di wilayah Great Lakes, dan juga

adanya ikatan tradisional terhadap identitas kesukuan. Lebih rumit lagi karena

kedua kelompok etnis yang bertikai mendapatkan dukungan dari pihak-pihak

asing semisal Inggris, dan Perancis yang berupaya meluaskan pengaruhnya di

Afrika. Di wilayah ini pula batasan wilayah seolah menjadi kekuatan yang tak

berdaya untuk mencegah meluasnya konflik dan kekerasan dari satu negara ke

negara lain. Pengungsi yang lari menghindari penganiayaan dan juga kekejaman

tentara negaranya, melintas terlalu mudah antara Rwanda, Burundi dan Republik

Demokratik Kongo (Northern Press Online, 2001: 1).


11

Upaya-upaya penyelesaian konflik yang dilakukan oleh pemerintah, PBB

dan organisasi internasional dan antar pemerintah seakan tidak membawa hasil.

Upaya peacemaking, peacekeeping dan peacebuilding yang dibangun PBB seakan

tidak mampu menurunkan ketegangan suasana. Menurut Dr. Claude Shema

Rutangengwa, koordinator wilayah program Great Lake Initiative, telah banyak

upaya yang dilakukan untuk menurunkan tensi ketegangan, namun tidak

membawa banyak dampak positif. Dr. Claude (2006: 4) menyatakan bahwa

“many other peace alternatives have been taken like cease fire and peace

accords, demobilization, demilitarization, repatriation and reintegration and so

forth. But all of this seems to be a flat compromise.” (telah banyak [upaya]

alternatif yang ditempuh semisal gencatan senjata dan perjanjian damai,

demobilisasi [pasukan] , demiliterisasi [wilayah], repatriasi dan penggabungan

kembali, dan juga berbagai upaya lainnya. Namun, semua ini nampaknya

hanyalah usaha kompromi yang sia-sia).

Untuk menyelesaikan konflik yang rumit ini, diperlukan aktor yang

mampu melakukan aksi preventif untuk mencegah konflik dan membangun

pemahaman antara pihak yang bertikai. Aktor yang tepat adalah Organisasi

Internasional Non Pemerintah (NGO) yang tidak memiliki ikatan atau agenda

politik. Snow dan Brown mengatakan bahwa, “karena mereka (organisasi

internasional) tidak memiliki ikatan dengan pemerintahan atau agenda politik

tertentu, mereka dapat dipercaya sebagai semacam pihak 'perantara yang jujur'

[honest broker].” (2000: 55).


12

NGO yang diperlukan di wilayah itu adalah NGO yang selama ini

mungkin tidak pernah diperhitungkan dalam dunia hubungan internasional, sosok

NGO yang mampu bergerak di tingkatan akar rumput yang mampu lebih banyak

merangkul masyarakat dan mampu melipatgandakan kekuatan pesan perdamaian

dengan memanfaatkan kekuatan jaringan sosial yang belum tercederai oleh

konflik dan pertikaian yang ada di wilayah tersebut, yang mampu melintas batas,

mampu mengeliminir perbedaan kelas, kepercayaan, suku, kewarganegaraan dan

warna kulit. Sebuah NGO yang mampu menekankan betapa pentingnya nilai

persaudaraan dan yang mampu membawa pesan perdamaian kepada generasi

muda sehingga mampu memotong siklus rantai permusuhan dari satu generasi ke

generasi lain. Sebuah organisasi yang mampu menginspirasikan kepada generasi

muda untuk menciptakan rasa toleransi, kebersamaan, kesatuan, pengertian,

kesetaraan dan kehausan akan keadilan di dunia ini. Salah satu pihak yang

tergolong sebagai aktor revolusioner yang akan dibahas kali ini adalah Gerakan

Kepramukaan Dunia (World Organization Of Scout Movement/ WOSM) atau

lebih dikenal dengan nama gerakan pramuka di Indonesia yang membawa pesan

perdamaian melalui pendidikan perdamaian yang diberikan melalui metode

kepramukaan yang menyenangkan dan bersahabat . Gerakan Kepramukaan Dunia

(World Organization of Scout Movement/ WOSM) merupakan sebuah NGO,

sesuai dengan konsititusi WOSM bab II pasal 4 ayat 1 yang menyatakan bahwa:

“The organization of the Scout Movement at world level is governed by this

Constitution under the title of „The World Organization of the Scout

Movement,…as an independent, nonpolitical, non-governmental organization.”


13

Organisasi Gerakan Kepramukaan di tingkat dunia diatur oleh Konstitusi ini

dengan nama „Organisasi Dunia Gerakan Kepramukaan‟...sebagai sebuah

organisasi independen non-politik, non-pemerintah. (WOSM, 2000: 11).

WOSM didirikan oleh Lord Robert Stephenson Smyth Baden-Powell (of

Gilwell), 1st Baron pada tahun 1907. Gerakan kepramukaan berangkat dari

keprihatinan Baden Powell yang melihat efek negatif dari perang yang membuat

banyak keluarga menderita. Tema yang paling sering muncul dalam buku-buku

dan pidato-pidato Baden Powell adalah ide untuk menjadikan gerakan

kepramukaan sebagai sebuah Wordwide Brotherhood, sebuah organisasi yang

mampu menginspirasikan kepada generasi muda untuk menciptakan rasa

toleransi, kebersamaan, kesatuan, pengertian, kesetaraan dan keadilan di dunia ini.

Baden Powell melalui tulisannya dalam buku “Aids to Scoutmastership”

menekankan betapa pentingnya nilai persaudaraan, sebuah nilai yang tidak

mengindahkan perbedaan kelas, kepercayaan, kewarganegaraan dan warna kulit.

Baden Powell menulis: “Scouting is a brotherhood-a scheme which in practice,

disregards differences of class, creed, country and color.” (Kepramukaan adalah

sebuah persaudaraan-sebuah skema dimana dalam prakteknya mengabaikan

perbedaan kelas, kepercayaan, negara dan warna [kulit]) (1920: 67).

Jumlah anggota pramuka yang terhimpun dalam WOSM saat ini

berjumlah 28 (dua puluh delapan) juta orang yang tersebar di 160 (seratus enam

puluh) negara (WOSM, 2004: 4) yang terbagi kedalam 6 (enam) region kantor

wilayah kepramukaan. Kegiatan manajemen Pramuka di tiap negara diregulasikan


14

secara terintegrasi oleh 6 (enam) kantor regional, yakni: Afrika, Arab, Asia-

Pasifik, Eurasia, Eropa dan Interamerica.

Salah satu alasan mengapa pendidikan perdamaian sangat penting untuk

membawa perdamaian yang didambakan di daerah tersebut adalah karena lebih

dari 60% (enam puluh persen) populasi penduduk di wilayah Great Lakes adalah

kalangan muda dibawah umur 30 (tiga puluh) tahun (WOSM, 2003: 1). Para

pemuda dan anak-anak yang mendominasi jumlah populasi di wilayah ini

termasuk ke dalam korban-korban pertama yang merasakan langsung penderitaan

yang timbul akibat kekerasan di wilayah ini. Banyak pula individu dari golongan

ini yang dimanipulasi oleh orang dewasa untuk menjadi biang keladi baru atau

menjadi tentara dalam konflik yang berkepanjangan ini (WOSM, 2003: 1).

Dengan mengadakan sebuah program promosi perdamaian yang memiliki

target para golongan muda, diharapkan kedepannya tingkat ketegangan konflik

dapat menurun dengan drastis seiring dengan makin bertambahnya pemahaman

antara para pemuda yang berasal dari suku dan negara yang berbeda. Para pemuda

ini kemudian diharapkan kedepannya ketika sudah menjadi pemimpin negara

mereka masing-masing, akan mampu membawa konflik berkepanjangan ini ke

arah yang lebih baik dan bahkan bila memungkinkan, menghentikan konflik ini.

Hal ini memungkinkan karena mereka telah terbiasa berkomunikasi dan

membangun pemahaman dengan pemuda dari negara yang seharusnya menjadi

“musuh” mereka, maka dari itu diharapkan dengan membaiknya pemahaman akan

pihak lain akan mendorong terciptanya suatu kondisi damai di wilayah ini. Para

pemuda ini adalah sumber berharga dalam mempromosikan perdamaian yang


15

abadi di wilayah ini. Tentu saja hal ini harus memenuhi satu syarat; apabila

mereka mampu berpartisipasi secara positif dalam kegiatan ini yang memiliki

tujuan akhir perdamaian yang abadi (WOSM, 2008: 32).

Dalam kondisi tanggap bencana kemanusiaan di wilayah Great Lakes

itulah muncul aksi kepedulian yang digagas oleh tiga organisasi nasional

kepramukaan (National Scout Organization/ NSO). Aksi terkoordinasi ini

berevolusi menjadi sebuah program promosi perdamaian dan pendidikan

perdamaian di wilayah Great Lakes. Bekerjasama dengan beberapa organisasi

internasional lainnya, WOSM dan organisasi kepramukaan di 3 (tiga) negara itu

mencanangkan program pendidikan dan promosi perdamaian yang disebut dengan

program Amahoro Amani yang memiliki arti kata 'perdamaian' dalam bahasa

setempat.

Tujuan dari gerakan promosi perdamaian yang dilakukan oleh WOSM di wilayah

Great Lakes ini adalah : (i) untuk menambah kegiatan dengan nuansa perdamaian

bagi para pemuda; (ii) untuk mempromosikan perdamaian dan pemahaman antara

para pemuda, baik pramuka maupun non-pramuka; dan (iii) untuk membangun

persaudaraan diantara pemuda dari suku dan negara berbeda.

B. Masalah Pokok

Dalam permasalahan ini, maka muncul sebuah pertanyaan: Bagaimana tindakan

World Organization of Scout Movement (WOSM) dalam menciptakan perdamaian

di wilayah Great Lakes Afrika tahun 2005-2007?


16

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penulisan penelitian skripsi mengenai WOSM dan peranannya dalam

perdamaian adalah untuk mengetahui lebih dalam tindakan yang ditempuh

WOSM dalam mendorong perdamaian di Wilayah Great Lakes; mengetahui lebih

dalam efektifitas WOSM dalam mempromosikan perdamaian; dan bagaimana

peranan non-state actors dalam mendorong perdamaian melalui perspektif

liberalisme.

D. Kegunaan Penelitian

Penulis mengharapkan penelitian ini mampu memperkaya pengetahuan

mahasiswa jurusan Hubungan Internasional dan juga memperkaya khasanah

dalam dispilin Ilmu Hubungan Internasional. Khususnya, terhadap topik yang

berkaitan dengan peranan non-state actors dalam dunia Hubungan Internasional.

E. Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif dan utuh mengenai

permasalahan penelitian, penulis membagi pembahasan ke dalam 6 (enam) bab

yang terdiri dari:

Bab I Pendahuluan: terdiri dari; Latar Belakang Masalah; kemudian akan

membahas Masalah pokok; Tujuan Penelitian; Kegunaan Penelitian; dan terakhir

sistematika penulisan.

Bab II Kerangka Teori: Kerangka teori, menjelaskan konsep-konsep yang akan

digunakan sebagai alat ukur utama dalam melakukan analisa dalam penelitian

untuk menjawab permasalahan yang ada seperti Organisasi Internasional,

Diplomasi Antar Masyarakat (People to People Diplomacy/ Second Track) serta


17

Diplomasi Preventif. Selain itu, operasionalisasi konsep yang bertujuan

menerangkan kaitan antar konsep-konsep yang digunakan menuju pembentukan

sebuah kerangka pemikiran.

Bab III Metode Penelitian: Bab ini terdiri dari beberapa sub-bab yakni: Desain

penelitian; Bahan penelitian dan unit analisis; Konsep / Variabel; Metode

pengumpulan data; Metode analisis data.

Bab IV Objek Penelitian: Penjabaran mengenai variabel dependen dan

independen yang berisi; Informasi mengenai negara Rwanda, Republik

Demokratik Kongo dan Burundi; Sejarah mengenai konflik-konflik di wilayah

Great Lakes; Sejarah mengenai WOSM.

Bab V Pembahasan: Proses masuknya WOSM dalam kegiatan kegiatan promosi

perdamaian pasca genosida dan konflik berkepanjangan sebagai upaya diplomasi

preventif yang dilakukan oleh NGO dan peranannya dalam menyemai bibit

perdamaian, menumbuhkan pemahaman dan rasa persaudaraan di tingkat remaja

dari suku-suku yang saling bermusuhan dengan tujuan akhir tercapai perdamaian

jangka panjang melalui proses yang bertahap dan mampu menjangkau tingkatan

akar rumput. Adapun bagian-bagian dari bab ini adalah: masuknya WOSM

kedalam penanganan konflik di wilayah Great Lakes; Aksi WOSM dalam tanggap

bencana kemanusiaan di Great lakes; Program Amahoro Amani dalam membantu

proses perdamaian di wilayah Great Lakes; Dampak Amahoro Amani terhadap

konflik di Great Lakes dengan fokus pada dampak yang ditimbulkan pada
18

generasi muda.

BAB VI Kesimpulan : Berisi mengenai uraian singkat dan kesimpulan dari bab I-

V.
BAB II

KERANGKA TEORI

A. Tinjauan Konseptual

Untuk dapat mengkaji sebuah realitas secara ilmiah, diperlukan konsep -

konsep atau teori-teori agar mampu mentransmisikan sebuah realitas menjadi sebuah

kajian ilmiah yang terarah dan mampu diukur. Untuk mengkaji realitas mengenai

permasalahan yang akan penulis angkat ini, penulis akan mengambil beberapa konsep

yang memiliki korelasi dan relevansi terhadap isu yang akan menjadi topik

pembahasan utama dalam karya tulis ini.

Kata konsep itu sendiri memiliki beberapa pengertian dan fungsi. Menurut

Mohtar Mas‟oed, Konsep adalah “abstraksi yang mewakili suatu obyek, sifat suatu

obyek, atau suatu fenomena tertentu” (1990: 109). Mas‟oed juga menyatakan bahwa

konsep juga dapat dipahami sebagai “…sebuah kata yang melambangkan suatu

gagasan” (1990:109). Adapun konsep memiliki setidaknya empat fungsi. Pertama,

konsep berfungsi sebagai media untuk mengkomunikasikan dan mengabstraksikan

kesan yang ditangkap dari indera manusia dan kemudian mentransmisikan kesan tadi

menjadi sebuah persepsi dan informasi. Kedua, untuk memperkenalkan suatu metoda

untuk mengamati sebuah fenomena empiris. Ketiga, konsep berfungsi sebagai sebuah

alat untuk mengorganisir ide, persepsi dan simbol dalam sebuah bentuk klasifikasi

dan generalisasi sehingga mampu tersusun secara baik dalam kategori-ketegori,

19
20

struktur dan tata urutan tertentu. Keempat, konsep berfungsi sebagai dasar penyusun

teori.

Untuk mengkaji seberapa efektif upaya-upaya peacemaking dan pendidikan

perdamaian yang dilakukan WOSM di wilayah Great Lakes di Afrika, penulis akan

menggunakan beberapa konsep yang sangat relevan dan memiliki korelasi yang kuat

terhadap studi kasus yang akan diangkat. Adapun konsep-konsep yang akan penulis

pergunakan untuk membedah permasalahan ini adalah: Diplomasi, dimana terangkum

di dalamnya dua jenis diplomasi yang saling mendukung yakni Diplomasi antar

masyarakat (People to People Diplomacy) dan Diplomasi Preventif sedangkan

konsep lain yang akan dipergunakan untuk menganalisa kasus ini adalah konsep

Organisasi Internasional.

A.1 Diplomasi

Pada masa-masa awal terjalinnya hubungan antarbangsa, kegiatan diplomasi

didominasi oleh diplomat-diplomat atau pejabat negara saja. Ranah diplomasipun

seolah menjadi sebuah ranah eksklusif bagi diplomat dan pejabat negara. Namun,

seiring dengan globalisasi dan perkembangan jaman, terutama pasca Perang Dingin

terjadi pergeseran peranan dan pertambahan aktor-aktor dalam hubungan

internasional sehingga definisi Diplomasi pun lambat laun berkembang dalam

upayanya mengakomodasi perubahan-perubahan pada realitas hubungan

internasional.

Salah satu definisi tradisional tentang diplomasi menurut Berridge dan James

dalam A Dictionary of Diplomacy adalah: “The conduct of relations between


21

sovereign states through the medium of officials based at home or abroad, the latter

being either members of their state‟s diplomatic service or temporary diplomats.”

(Penyelenggaraan hubungan antara negara-negara yang berdaulat melalui media

pejabat yang berbasis di negara mereka sendiri atau di luar negeri, dimana yang

disebut terakhir [pejabat di luar negeri] merupakan salah satu anggota misi diplomatik

ataupun diplomat sementara) (2003: 69). Berikutnya, Berridge dan James juga

mencatat terdapat makna lain dari kata diplomasi yakni: “Any attempt to promote

international negotiations (particularly in circumstances of acute crisis), whether

concerning inter- or intra-state conflicts; hence „track two diplomacy.” (Setiap usaha

untuk mempromosikan negosiasi internasional [terutama dalam kondisi krisis yang

parah], baik menyangkut konflik antar atau intra negara; maka [juga dipergunakan]

diplomasi jalur kedua) (2003:70).

Sedangkan, Daniel S. Papp dalam bukunya Contemporary International

Relations: Framework for Understanding menyatakan sebuah definisi yang cukup

mampu mengakomodasi perkembangan realita dalam hubungan internasional.

Diplomasi didefinisikan sebagai: “…implementation of an international actor‟s

policies toward another actors, establishes a set of expectations about what an

internationals actor will and will not do.” (Pelaksanaan kebijakan seorang aktor

internasional terhadap aktor lainnya, menetapkan sebuah pedoman harapan-harapan

mengenai apa yang seorang aktor internasional akan lakukan dan tidak akan

dilakukan) (2002:388).
22

Dari beberapa pengertian diatas, penulis menarik sebuah kesimpulan

mengenai definisi dari kata diplomasi yang cocok untuk diterapkan di masa pasca

Perang Dingin ini. Dapat dikatakan bahwa diplomasi saat ini adalah sebuah seni

melaksanakan atau menyelenggarakan kebijakan melalui kegiatan menjalin

hubungan-hubungan baik dengan aktor-aktor internasional dengan tujuan

menyelesaikan permasalahan nasional atau internasional lewat cara-cara damai atau

dengan negosiasi. Dunia diplomasi “modern” saat ini adalah campuran dari elemen-

elemen diplomasi tradisional dan kontemporer dimana kompetisi dan elitisme eksis

secara bersama. Apakah cara-cara diplomasi tertutup dan rahasia ataupun cara-cara

diplomasi terbuka yang dipergunakan, masing-masing tetap memiliki peranan yang

penting dalam mencapai tujuan masing-masing; jenis diplomasi bilateral dan

multilateral pun bekerja secara simultan; aktor-aktor dunia internasional baik

diplomat, duta besar, individu, organisasi dan bahkan perusahaan multinasional saling

bercampur dan berinteraksi. Dunia diplomasi modern adalah hal yang sangat

kompleks. Dalam kaitannya dengan studi kasus yang penulis angkat, kegiatan

mempromosikan perdamaian yang dilaksanakan oleh WOSM mampu digolongkan

sebagai sebuah aksi diplomasi yang dilakukan oleh aktor selain negara (non state

actor). Adapun secara lebih spesifik, terdapat dua jenis diplomasi yang dilakukan

oleh WOSM melalui program Amahoro Amani, yakni diplomasi antar masyarakat

(People to People Diplomacy) dan diplomasi preventif.


23

A.1.1 Diplomasi antar masyarakat (people to people diplomacy)

Diplomasi antar masyarakat (people to people diplomacy) acapkali sering

juga disebut sebagai citizen diplomacy atau track two diplomacy dalam konsep multi

track diplomacy4. Menurut Berridge dan James Dalam A Dictionary of Diplomacy,

track two diplomacy itu sendiri adalah

“…Formerly known as „citizen diplomacy‟, mediation (sense 2) in an


inter- or intra-state conflict conducted by any agency other than a state or an
intergovernmental organization, typically by a non-governmental
organization...Track two diplomacy may be pursued on its own or in
partnership with track one diplomacy, in which case it will form part of an
instance of twin-track diplomacy.” (Sebelumnya [istilah diplomasi ini] dikenal
[sebagai] 'diplomasi warga negara' sebagai upaya mediasi dalam konflik-antar
atau intra-negara yang dilakukan oleh lembaga selain negara atau organisasi
antar pemerintah, biasanya [diplomasi ini dilakukan] oleh organisasi non-
pemerintah…Diplomasi jalur kedua/track two diplomacy ini dapat saja
dijalankan sendiri atau dalam kemitraan dengan jalur satu diplomasi
[pemerintah], dalam hal ini akan membentuk bagian dari sebuah contoh dari
diplomasi twin-track.) (2003:260).

Sedangkan menurut Montville sebagaimana dikutip oleh Olga Botchariva dalam

tulisannya Implementation of Track Two Diplomacy: Developing a Model of

Forgiveness, diplomasi jalur kedua atau track two diplomacy adalah:

“… an unofficial interaction between members of adversarial groups or


nations to develop strategies, influence public opinion, and organize human
and material resources in ways that might help resolve their conflict...track two
diplomacy is in no way a substitute for official, formal track one government-

4 Multi Track Diplomacy adalah sebuah konsep yang menyatakan bahwa untuk mendorong sebuah
proses negosiasi, perlu dilakukan berbagai upaya melalui berbagai jalur. Hal ini termasuk upaya-upaya
mendorong proses negosiasi yang dilakukan oleh individu, otoritas keagamaan, organisasi non-
pemerintah (NGO), dan perusahaan multinasional. Ada sembilan jalur atau tracks yang dipergunakan
dalam multi-track diplomacy ini. Adapun kesembilan tracks tersebut adalah Government , Non Formal,
Bussiness, Private Citizen, Research and Education, Activism, Religious, Funding, dan
Publication/media. disadur dari McDonald, John W. "Multi-Track Diplomacy." Beyond Intractability.
Eds. Guy Burgess and Heidi Burgess. Conflict Research Consortium, University of Colorado, Boulder.
September 2003 <http://www.beyondintractability.org/essay/multi-track_diplomacy/>.
24

to-government or leader-to-leader relationships.”(…Sebuah interaksi tidak


resmi antara anggota kelompok yang bermusuhan atau negara-negara untuk
mengembangkan strategi, mempengaruhi opini publik, dan mengatur sumber
daya manusia dan materi dengan cara tertentu yang mungkin dapat membantu
menyelesaikan konflik mereka...diplomasi jalur kedua ini bukanlah bermaksud
sebagai pengganti bagi hubungan-hubungan [jalur] resmi, [diplomasi] formal
jalur pertama antar pemerintah atau antar pemimpin negara. (2001:285)

Jadi, penulis berpandangan bahwa berdasarkan dua definisi diatas diplomasi

antar masyarakat / people to people diplomacy atau sering juga disebut sebagai track

two diplomacy memiliki arti upaya interaksi atau mediasi yang dilakukan oleh aktor-

aktor internasional non-negara, terutama organisasi non-pemerintah (NGO) dan

masyarakat dengan tujuan mempengaruhi opini publik yang pada akhirnya akan

mampu mendorong upaya mediasi atau bahkan penyelesaian permasalahan nasional

atau internasional. Diplomasi antar masyarakat ini bukanlah sebagai pengganti

diplomasi formal, karena upaya diplomasi formal adalah jalan resmi dalam

menyelesaikan masalah. Diplomasi antar masyarakat ini lebih berperan sebagai

pendorong apabila dalam suatu konflik amat sulit digunakan diplomasi jalur pertama

/ first track diplomacy yang merupakan jalur formal antar pemerintah dan upaya-

upaya mediasi lainnya tidak mudah dilakukan.

Dalam studi kasus yang penulis angkat, konsep track two diplomacy ini sangat

tepat untuk diaplikasikan, karena ketika ketegangan antara suku Hutu dan Tutsi

menyebabkan pemerintah di tiga negara di wilayah Great Lakes mengalami

kegagalan dan selalu berada dalam turbulensi konflik tribal, diperlukan upaya-upaya

mediasi oleh aktor-aktor non-negara untuk menciptakan kondisi yang kondusif agar
25

mampu digelar mediasi dan negosiasi. Apa yang dilakukan WOSM di wilayah Great

Lakes berdasarkan definisi diatas sudah dapat digolongkan sebagai sebuah aktifitas

diplomasi people to people karena dilakukan oleh aktor internasional, NGO dalam hal

ini WOSM itu sendiri dan melibatkan masyarakat dalam aktifitasnya untuk mengubah

pandangan mereka terhadap suku rivalnya baik Tutsi ataupun Hutu.

A.1.2 Diplomasi Preventif

Pada awal abad ke-20 dan pasca Perang Dingin, muncul beberapa istilah baru

dalam dunia hubungan internasional. Istilah-istilah ini antara lain adalah preventive

diplomacy, peacemaking, peacekeeping, peace enforcement, dan peace building .

Istilah diplomasi preventif ini sendiri digagas oleh sekretaris jenderal PBB yang

kedua yakni Dag Hammarskjöld. Dalam buku International Relations: the changing

contours of power, Donald M.Snow dan Eugene Brown menyatakan bahwa

:“Preventive diplomacy…refers to diplomatic initiative undertaken to persuade

potential warring partners not to engage in hostilities.” (diplomasi preventif merujuk

pada inisiatif diplomatik yang diambil untuk membujuk pihak-pihak yang memiliki

potensi untuk berperang agar tidak terlibat dalam permusuhan) (2000:442).

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengeluarkan definisi

mengenai diplomasi preventif, menurut PBB diplomasi preventif adalah: “…action to

prevent disputes from arising between parties, to prevent existing disputes from

escalating into conflicts and to limit the spread of the latter when they occur.”

(tindakan mencegah sengketa agar tidak muncul, untuk mencegah sengketa yang ada
26

dari kemungkinan semakin meningkat menjadi konflik dan untuk membatasi

penyebaran konflik apabila telah terjadi) (1992:5).Sedangkan Michael G.Roskin dan

Nicholas O.Berry dalam bukunya The New World of International Relations lebih

memandang diplomasi prefentif sebagai: “Efforts of third parties to dampen a

dispute before it turns violent.” (Upaya-upaya pihak ketiga untuk meredam sengketa

sebelum menjadi kekerasan) (1999: 406).

Berdasarkan tiga definisi diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa diplomasi

preventif adalah upaya-upaya baik formal secara diplomatik maupun non-formal yang

dilakukan oleh aktor-aktor internasional baik negara ataupun aktor internasional

lainnya dengan tujuan untuk mencegah terjadinya sengketa antar pihak yang bertikai,

untuk mencegah sengketa bereksalasi menjadi konflik dan untuk membatasi

penyebaran konflik apabila telah terjadi.

Dalam menelaah upaya yang dilakukan WOSM di wilayah Great Lakes melalui

program Amahoro Amani, konsep diplomasi preventif ini sangat cocok untuk

digunakan karena mampu mengakomodasi secara utuh kegiatan-kegiatan yang

dilakukan dalam program Amahoro Amani kedalam konsep hubungan internasional.

Sebagaimana deskripsi diplomasi preventif yang telah diberikan diatas, penulis dapat

melihat bahwa program Amahoro Amani melalui upaya-upaya pendidikan

perdamaian dan pelatihan mediator konflik telah mencerminkan suatu aktifitas

diplomasi preventif yang signifikan dengan tujuan untuk mencegah konflik timbul

lagi di tingkatan masyarakat di wilayah Great Lakes.


27

A.2 Organisasi Internasional

Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, seiring dengan perkembangan

jaman, makin bertambahlah aktor-aktor yang berkecimpung dalam dunia hubungan

internasional. Salah satu aktor yang muncul pasca Perang Dingin adalah organisasi

internasional. Jack C.Plano dan Roy Olton dalam kamus Hubungan Internasional

mendeskripsikan organisasi internasional sebagai :

“Suatu ikatan formal melampaui batas wilayah nasional yang menetapkan


untuk membentuk suatu mesin kelembagaan agar memudahkan kerjasama di
antara mereka dalam bidang keamanan, ekonomi, dan sosial, serta bidang
lainnya…dua jenis organisasi internasional yang dikenal antara lain, organisasi
publik antar dua negara atau lebih; serta organisasi swasta yang lebih dikenal
dengan Organisasi Non Pemerintah (NGO).”(1990:270)

Sedangkan dalam buku Adminstrasi dan Organisasi Internasional, Teuku May Rudy

(1998:3) menyatakan bahwa Organisasi Internasional didefinisikan sebagai

“Pola kerjasama yang melintasi batas-batas negara, dengan didasari


struktur organisasi yang jelas dan lengkap serta diharapkan atau diproyeksikan
untuk berlangsung serta melaksanakan fungsinya secara berkesinambungan dan
melembaga guna mengusahakan tercapainya tujuan tujuan yang diperlukan
serta disepakati bersama, baik antara pemerintah dengan pemerintah maupun
antar sesama kelompok non-pemerintah pada negara yang berbeda.”
Berdasarkan dua definisi diatas, penulis menyimpulkan bahwa organisasi

internasional dapat dikatakan sebagai sebuah pola kerjasama formal yang melampaui

batasan-batasan negara yang memiliki bentuk organisasi yang jelas sehingga

memudahkan kerjasama diantara anggota-anggotanya dalam berbagai bidang

sehingga tercapai tujuan yang telah disepakati bersama. Walaupun aktor-aktor dalam

dunia internasional telah bertambah, negara tetaplah memainkan peranan kunci dalam
28

hubungan internasional. Sebagaimana yang dikatakan Goldstein dan Pevehouse,

“increasingly NGOs are being recognized, in the UN and other forums as legitimate

actors along with the states, though not equal to them”. (NGOs semakin diakui, di

PBB dan forum lainnya sebagai aktor yang sah bersama dengan negara-negara,

meskipun tidak setara dengan negara) (2007:10).

Senanda dengan Plato dan Olton, Donald M Snow dan Eugene Brown

menyatakan bahwa secara lebih jauh organisasi internasional dapat dibedakan

menjadi dua jenis yakni “…intergovernmental organizations (IGOs), whose members

are national governments, and nongovernmental organizations (NGOs), whose

members are individuals and groups not part of governments.” (Organisasi antar

pemerintah [IGO], yang beranggotakan pemerintah nasional, dan lembaga swadaya

masyarakat [NGO], yang beranggotakan individu dan kelompok yang bukan

merupakan bagian dari pemerintah." (2000:435).

A.2.1 Organisasi Non-Pemerintah (NGOs)

Menurut A Dictionary of Diplomacy, organisasi non-pemerintah atau NGO

adalah:

“…is a private, non-profit-making body which has an international


membership. Such bodies, especially when granted observer status, are often
active in international organizations and major conferences…NGOs are
sometimes referred to as international nongovernmental organizations
(INGOs)”. (Adalah sebuah badan swasta, non-profit yang memiliki
keanggotaan internasional. Badan-badan tersebut, terutama bila diberikan status
pengamat, mereka akan sering aktif dalam organisasi internasional dan
konferensi-konfrensi besar ... NGOs kadang-kadang disebut sebagai organisasi
non-pemerintah internasional [INGOS] ) (2003:187).
29

Sedangkan dalam kamus Hubungan Internasional, Plano dan Olton mendefinisikan

NGO sebagai “suatu organisasi internasional privat yang berfungsi sebagai

mekanisme bagi kerjasama di antara kelompok swasta nasional dalam ihwal urusan

internasional, terutama dalam bidang ekonomi, sosial, kebudayaan humanoria dan

teknis”(1990:275).

Dengan menilik dua definisi diatas, dapat penulis simpulkan bahwa NGO

adalah organisasi internasional privat dengan orientasi non-profit yang memiliki

keanggotaan internasional yang berfungsi sebagai mekanisme kerjasama antara

kelompok non-pemerintah dalam hal hal yang berkaitan dengan ekonomi, sosial,

kebudayaan, kemanusiaan dan lain-lain. Konsep NGO ini diambil karena dalam

upaya meneliti kegiatan WOSM, harus dipahami bahwa realita WOSM adalah sebuah

organisasi non pemerintah internasional atau INGO sehingga dalam melakukan

kajian terhadap aktifitas WOSM dalam lingkup isu-isu internasional, penulis

menggunakan konsep organisasi internasional, lebih khususnya konsep organisasi

non-pemerintah.

B. Operasionalisasi Konsep

Sebagaimana penulis telah jelaskan sebelumnya, dalam penelitian ini penulis

menggunakan beberapa konsep untuk dapat secara gamblang menjelaskan fenomena

dan realita yang terjadi sehingga mampu menjawab masalah yang ada. Konsep-

konsep yang digunakan oleh penulis adalah diplomasi antar masyarakat, diplomasi

preventif dan juga organisasi internasional. Sebelum penulis membahas lebih lanjut

mengenai operasionalisasi konsep, terlebih dahulu penulis akan memberikan sedikit


30

penjelasan mengenai indikator dari konsep-konsep yang akan dipergunakan. Untuk

memberikan penjelasan tersebut, penulis akan mencoba menjabarkannya dibawah ini:

No. Konsep Indikator


1 Diplomasi Antar Masyarakat Dalam dunia internasional dewasa ini
(People to People Diplomacy) / banyak ragam diplomasi yang digunakan
Track Two Diplomacy aktor-aktor internasional untuk mencapai
tujuan atau agendanya. Salah satu teknik
diplomasi yang dipergunakan selain
diplomasi formal sebagai jalur pertama,
dipergunakan pula diplomasi antar
masyarakat atau juga dikenal sebagai
track two diplomacy. Dalam konteks
penelitian ini, penulis akan menggunakan
Konsep Diplomasi antar masyarakat
untuk mengukur seberapa efektif dampak
yang ditimbulkan oleh program Amahoro
Amani untuk menurunkan tingkat
ketegangan di tingkatan komunitas / akar
rumput sehingga mampu diketahui
seberapa signifikan dampak yang dibawa
program Amahoro Amani terhadap
komunitas di wilayah Great Lakes.
2 Diplomasi Preventif Diplomasi preventif adalah salah satu
istilah diplomasi dunia modern yang akan
dipergunakan dalam penelitian ini untuk
mengukur beberapa hal yang relevan
dengan definisi dari diplomasi preventif
itu sendiri. Yakni mencegah terjadinya
sengketa, mencegah eskalasi sengketa
menjadi konflik dan mencegah
penyebaran konflik bila telah terjadi.
Melalui penggunaan konsep ini, penulis
ingin mengukur seberapa signifikan
dampak yang ditimbulkan oleh program
Amahoro Amani dalam mengurangi
konflik antar suku, seberapa efektif
peranan Amahoro Amani dalam
mencegah eskalasi konflik di tingkat
komunitas melalui mediator-mediator
yang dididik melalui program Amahoro
31

Amani dan seberapa signifikan dampak


yang diberikan oleh program Amahoro
Amani terhadap penurunan jumlah tentara
anak-anak di wilayah Great Lakes.
3 Organisasi Internasional Salah satu aktor baru dalam dunia
internasional yang mendapatkan tempat
yang cukup prestis pasca Perang Dingin
adalah organisasi internasional.
Pertambahan jumlah organisasi
internasional baik IGOs maupun NGO
telah merubah wajah ranah diplomasi dan
juga menambah signifikansi peranan
aktor-aktor non-negara. WOSM sebagai
salah satu NGO yang telah cukup lama
menyandang posisi sebagai mitra dari
beberapa badan PBB memiliki misi dan
visi untuk menciptakan dunia yang lebih
baik.Penulis menggunakan konsep
organisasi internasional dalam penelitian
ini untuk dapat membedah isu-isu yang
berkaitan dengan WOSM dan
kapasitasnya sebagai NGO dan juga
kaitannya antara WOSM dengan program
Amahoro Amanidan pendidikan
perdamaian di Great Lakes.

Untuk menelaah hubungan antara konsep yang telah dipaparkan diatas dengan

studi kasus dalam penelitian ini, penulis akan mencoba memaparkan bagaimana

konsep-konsep itu akan digunakan dalam sebuah alur pemikiran yang logis dan

tertata.

Aktor internasional dalam penelitian ini adalah World Organization of Scout

Movement (WOSM). Organisasi ini adalah sebuah NGO yang secara umum

digolongkan kedalam organisasi internasional (IO). Sebagai sebuah organisasi

internasional, sejak berdirinya WOSM pada 1907 telah memfokuskan diri pada
32

kegiatan-kegiatan yang mendorong terciptanya perdamaian di berbagai belahan

dunia. Salah satu visi dan misi yang tidak pernah hilang dalam gerakan ini adalah

tema perdamaian yang selalu diusung sejak lebih dari seratus tahun yang lalu.

Sebagai organisasi internasional yang memiliki visi creating a better world, WOSM

juga menaruh perhatian yang besar terhadap konflik yang terjadi di wilayah Great

Lakes yang disebabkan oleh rasa benci dan permusuhan antar suku.

WOSM kemudian merespon akan tragedi kemanusiaan di wilayah itu dengan

mengeluarkan program bernama Amahoro Amani sebagai aksi lanjutan dari operasi

tanggap bencana kemanusiaan pasca perang dan tragedi genosida yang mewarnai

kehidupan di wilayah Great Lakes. Berangkat dari pemikiran bahwa baik korban

maupun pelaku dari tragedi kemanusiaan di wilayah itu mayoritas adalah generasi

muda dibawah 25 tahun sebagaimana telah disebutkan di awal penelitian, WOSM

mendesain Amahoro Amani sedemikian rupa agar mampu mengatasi trauma;

mencegah terjadinya sengketa di tingkatan komunitas melalui cara-cara memberikan

pendidikan, promosi perdamaian dan pelatihan mediator; mencegah meningkatnya

ketegangan dan juga mencegah terjadinya konflik lanjutan dan juga berusaha

menjaga agar konflik yang sama tidak menyebar ke wilayah lainnya. Semua ini

sangat mencerminkan ciri-ciri kegiatan diplomasi preventif. Segala upaya yang

dilakukan oleh WOSM ini pun secara gamblang dapat dikategorikan sebagai

diplomasi antar masyarakat karena selain dilakukan oleh NGO, program WOSM ini

juga membutuhkan keterlibatan komponen masyarakat untuk mencapai tujuan


33

mengubah opini mereka terhadap suku yang menjadi musuh mereka sehingga

diharapkan situasi yang kondusif dapat tercipta.

C. Kerangka Pemikiran

Dalam kerangka pemikiran ini penulis akan mencoba untuk memaparkan

mengenai korelasi antara variabel dependen dan independen sehingga mampu

diketahui hubungan sebab akibat yang menimbulkan pertanyaan sebagaimana yang

telah disampaikan dalam Bab I. Konflik antara suku Tutsi dan Hutu yang

menyebabkan berbagai macam konflik dan genosida di wilayah Great Lakes

merupakan hasil dari politik kolonialisme Belgia yang menjajah wilayah itu dan

menjadikannya semacam „Belgia baru‟ di Afrika Tengah. Politik pilih kasih dan

„pembagian‟ wilayah jajahan menjadi negara negara baru tidak didasari pada

observasi pada sistem sosiokultur yang telah ada di wilayah itu sejak lama. Pada

akhirnya ketika Belgia memberikan negara-negara di wilayah Great Lakes ini

kemerdekaan, terjadilah kekacauan politik akibat ketidakpuasan golongan-golongan

yang dianaktirikan. Kecemburuan sosial yang ada menciptakan dendam dan

kebencian antara kedua suku mayoritas yang mendiami wilayah Great Lakes itu

sehingga pada akhirnya berujung pada konflik berkepanjangan. Hal ini terjadi karena

aksi kebencian yang dilakukan oleh satu pihak akan dibalas oleh aksi balas dendam

dan kebencian oleh pihak yang lain, sehingga siklus ini terus berjalan dan seakan tak

pernah putus.

Berangkat dari pemikiran bahwa mayoritas populasi yang terkena dampak dari

konflik di wilayah Great Lakes adalah generasi muda, WOSM sebagai NGO yang
34

berkonsentrasi pada pendidikan dan perdamaian pada generasi muda turun tangan ke

wilayah Great Lakes untuk membantu mengatasi permasalahan dan juga

mempromosikan perdamaian dengan sasaran utama program mereka adalah generasi

muda sehingga siklus rantai kekerasan diharapkan dapat dihilangkan dari generasi

muda ini.

C.1 Skema Alur Penelitian

Konflik yang terjadi di wilayah Great Lakes digolongkan oleh penulis sebagai

variabel independen (bebas) sedangkan tindakan WOSM di wilayah Great Lakes

melalui program Amahoro Amani penulis golongkan sebagai variabel dependen

(terikat). Dikarenakan terjadi konflik di wilayah Great Lakes maka sebagai salah satu

wujud dari kepedulian terhadap generasi muda di Great Lakes maka WOSM

mengeluarkan program lanjutan Amahoro Amani sebagai program utama di wilayah

Great Lakes pasca kegiatan tanggap bencana kemanusiasn di wilayah Great Lakes.

Alur kerangka pemikiran yang digunakan oleh penulis ialah alur deduktif dimana

penulis akan mengupas dahulu permasalahan secara umum yakni dengan memberikan

gambaran latar belakang mengenai negara Rwanda, Republik Demokratik Kongo dan

Burundi serta sejarah pertikaian di wilayah tersebut yang melibatkan dua suku

mayoritas yakni Hutu dan Tutsi yang berawal dari sistem kolonialisasi yang gagal,

kemudian akan membahas lebih rinci mengenai peranan WOSM dalam memberikan

pendidikan perdamaian di wilayah tersebut. Apabila digambarkan dalam sebuah

bagan, maka variabel dependen dan independen akan terlihat seperti dibawah ini:
35

Variabel Bebas ( Independen) Variabel Terikat (Dependen)

Tindakan WOSM dalam


Konflik di Great Lakes menciptakan perdamaian melalui
program Amahoro Amani
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain penelitian

Untuk mendapatkan sebuah pemahaman yang utuh mengenai fenomena yang

akan diteliti, diperlukan sebuah metode penelitian yang mampu secara utuh

memberikan data yang diperlukan untuk menganalisa sebuah fenomena yang diteliti

tersebut. Metode penelitian itu sendiri menurut Soehartono, adalah “cara atau strategi

menyeluruh untuk menemukan atau memperoleh data yang diperlukan” (2004:9).

Metode penelitian sendiri dibagi menjadi dua yakni penelitian kualitatif dan

kuantitatif (Sugiyono, 2004:9) . Untuk membahas diplomasi WOSM di Great Lakes

yang menjadi subjek dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan metode

kualitatif. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan tidak

hanya data, melainkan juga makna yang terdapat dan tergambarkan dari data-data

yang ada sehingga didapatkan pemahaman yang mendalam, tidak hanya generalisasi

(Sugiyono, 2004: 9).

Metode penelitian kualitatif itu sendiri sebagaimana diungkapkan oleh

Sugiyono adalah:

“metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan


untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah...dimana peneliti adalah
sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi
(gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian
kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi” (Sugiyono, 2004: 9).

36
37

Jenis penelitian sendiri dapat dibagi menjadi tiga, yakni penelitian eksploratif,

penelitian eksplanatif dan penelitian deskriptif. Dalam penelitian ini, jenis penelitian

yang penulis gunakan adalah penelitian deksriptif. Penelitian deskriptif itu sendiri

memiliki makna penelitian yang berusaha menjawab “pertanyaan siapa, apa, di mana,

kapan atau berapa” (Mas’oed, 1990: 79).

Berdasarkan definisi yang ditawarkan oleh Maso’ed diatas, penulis dengan

yakin mempergunakan jenis penelitian deskriptif untuk mampu menelaah

“Bagaimana tindakan WOSM dalam menciptakan perdamaian di wilayah Great

Lakes Afrika tahun 2005-2007?”

B. Unit Analisa Penelitian

Dalam rangka menganalisa, menelaah dan mengamati sebuah fenomena atau

isu-isu dan permasalahan internasional, maka perlu dipilih tingkat analisa yang akan

dipergunakan. Setelah tingkat analisa didapat, maka mampu ditetapkan unit analisa

yang perilakunya akan dideskripsikan atau sering disebut dengan variabel dependen

dan kemudian menetapkan unit eksplanansi atau disebut dengan variabel independen

yang akan membawa dampak terhadap unit analisa yang akan diamati.

Adalah hal yang penting untuk mengetahui masalah tingkat analisa.

Setidaknya ada empat alasan mengapa persoalan tingkat analisa harus sangat

diperhatikan. Pertama, untuk menjelaskan sebuah permasalahan atau isu

internasional, kemungkinan besar terdapat lebih dari satu faktor yang menjadi sumber

penyebabnya, “…mulai dari perilaku individual, pemimpin, perilaku kelompok,


38

karakteristik negara itu sendiri, hubungannya dengan beberapa negara dalam

lingkungan regional, sampai struktur hubungan pada tingkat global” sehingga dengan

menggunakan tingkat analisa akan mampu ditelaah faktor-faktor apa saja yang

menjadi penyebab isu dan permasalahan internasional (Mas’oed, 1990:40). Kedua,

untuk membantu memilih faktor apa saja yang harus mendapatkan penekanan, karena

beberapa faktor tertentu validitasnya akan berubah sesuai dengan perubahan masa

dan rezim. Ketiga, kerangka tingkat analisa mampu membantu penulis untuk

memilah-milah dampak dari “sekumpulan faktor tertentu terhadap suatu fenomena

dan mana dampak dari kumpulan faktor lain terhadap fenomena itu; dan kemudian

membandingkan dampak dari kedua kelompok faktor yang berbeda itu” (Mas’oed,

1990:41). Keempat, penulis harus peka terhadap masalah tingkat analisa karena

“kemungkinan melakukan kesalahan metodelogis yang disebut fallacy of composition

dan ecological fallacy” (Mas’oed, 1990:41).

Mas’oed menambahkan bahwa ada lima tingkat analisa yang dinilai paling

komprehensif dan paling tuntas dalam membahas semua kemungkinan tingkat

analisa, yakni: Individu, kelompok individu, negara bangsa, kelompok negara-negara

dalam suatu region, dan sistem global (1990:46). Adapun dua tingkat analisa yang

akan penulis gunakan adalah : kelompok individu serta negara bangsa.Tingkat analisa

tersebut digunakan karena perilaku dan aktifitas yang dilakukan oleh WOSM di

wilayah Great Lakes sebagai Organisasi Internasional dapat digolongkan sebagai

perilaku kelompok, dan perilaku negara dalam menghadapi kondisi tragedi

kemanusiaan di wilayah Great Lakes dapat digolongkan sebagai negara bangsa.


39

B.1 Perilaku Kelompok

Banyak ahli dalam Hubungan Internasional berasumsi bahwa dalam

melakukan tindakan internasional, individu tidak akan melakukannya sendirian,

melainkan melakukan tindakan dalam kelompok. Sebagaimana Mas’oed menyatakan

bahwa:

“peristiwa internasional sebenarnya ditentukan bukan oleh individu, tetapi


oleh kelompok kecil (seperti kabinet, dewan penasehat keamanan, politburo
dan sebagainya) dan oleh organisasi, birokrasi, departemen, badan-badan
pemerintahan, dan sebagainya” (1990:46).
Untuk itu, dalam memahami permasalahan dan isu-isu serta fenomena di dunia

Hubungan Internasional terutama dalam upaya memahami fenomena yang penulis

angkat, penulis menggunakan tingkat analisa perilaku kelompok sebagai induk dari

unit analisa WOSM yang dalam hal ini adalah Organisasi Internasional.

B.2 Negara Bangsa

Berbagai fenomena, isu dan permasalahan yang timbul dalam dunia

Hubungan Internasional pada dasarnya dipengaruhi paling utama oleh perilaku

negara-bangsa. Dalam proses pengambilan sebuah keputusan atau sikap sangat

dinominasi oleh bagaimana “perilaku individu, kelompok, organisasi, lembaga dan

proses perpolitikan mereka” mempengaruhi kebijakan internasional suatu negara

yang bersangkutan (Mas’oed, 1990: 46). Penulis menggunakan tingkat analisa

negara bangsa dalam mempelajari konflik dan tragedi kemanusiaan yang bersifat

transnasional di wilayah Great Lakes untuk mengetahui bagaimana sebuah proses

kebijakan internasional yang diambil negara-negara di Great Lakes tersebut

dipengaruhi oleh kelompok-kelompok dalam negara tersebut.


40

C. Teknik pengumpulan data

Dalam melakukan pengumpulan data untuk penelitian ini, penulis menggunakan

tiga teknik yaitu:

1. Wawancara

Teknik wawancara ini digunakan karena penulis ingin melakukan sebuah studi

pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang akan diteliti dan juga sebagai alat

yang digunakan peneliti untuk menggali hal-hal yang mendalam dari sumber yang

kompeten di bidangnya dan memiliki keterkaitan dengan penelitian yang sedang

disusun. Wawancara dilakukan menggunakan dua teknik yakni wawancara langsung

dan wawancara tidak langsung. Wawancara langsung dilakukan secara tatap muka

antara penulis dengan para nara sumber dimana penulis mengajukan pertanyaan

secara langsung kepada nara sumber dan merekamnya dalam alat perekam digital.

Sedangkan wawancara tidak langsung dilakukan mengingat nara sumber yang

bersangkutan berjauhan letaknya dan tidak mungkin untuk menjangkau yang

bersangkutan dalam tempo yang singkat. Wawancara tidak langsung dilakukan

melalui media skype dan email.

2. Studi pustaka

Studi pustaka adalah teknik pengumpulan data-data dengan menekankan kepada

pustaka sebagai objek utama studi. Melalui teknik ini, penulis mengarahkan

penelitian kepada perolehan data-data dan literatur yang memiliki korelasi yang

relevan dengan topik penelitian yang penulis angkat. Literatur-literatur yang relevan
41

tersebut termasuk: buku-buku, jurnal, newsletter, dan berbagai sumber lainnya yang

berfungsi sebagai sumber data sekunder dalam penelitian ini.

3. Sumber internet terpercaya

Penulis menggunakan situs-situs resmi dari berbagai organisasi internasional, lsm

internasional, ensiklopedia terpercaya dan berbagai sumber internet terpercaya

lainnya untuk mendapatkan data-data pelengkap terbaru untuk menambah keakuratan

penelitian ini.

D. Metode Analisa Data

Sebagaimana yang telah disebutkan diatas, pengumpulan data dalam

penelitian kualitatif dilakukan dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber dan

bermacam-macam bentuknya (triangulasi) dan data tersebut terus dikumpulkan

hingga tersusun data utama yang dapat menekankan makna. Teknik analisa data yang

dimaksud disini adalah mengolah berbagai jenis data yang ada yang didapat dari

sumber primer, sekunder dan lain sebagainya dan mengorganisasikannya kedalam

kategori-ketegori, kemudian menjabarkannya kedalam unit-unit penelitian, setelah itu

dilakukan sintesa dan penyusunan pola sehingga mampu terbaca data mana yang vital

dan mana yang bukan sehingga kemudian mampu dipilih untuk menciptakan sebuah

penelitian yang mampu menjelaskan secara gamblang dan mudah dipahami baik oleh

penulis maupun orang lain.

Analisa data kualitatif dilakukan baik sebelum terjun ke lapangan melakukan

penelitian ataupun saat telah selesai melakukan penelitian. Analisa data kualitatif

bersifat induktif artinya, dalam menganalisa data kualitatif ini, penulis “menelaah
42

kasus-kasus tunggal secara seksama sampai ia menemukan suatu pola dalam banyak

kasus-kasus tunggal tersebut” sehingga kemudian dapat “membangun teori yang bisa

memberikan penjelasan terhadap fenomena yang dipelajarinya” (Mas’oed, 1990:92).

Jadi berdasarkan penjabaran diatas, penulis menggunakan metode penelitian secara

kualitatif dan melakukan penjabaran penelitian secara deskriptif.


BAB IV

PERANAN WOSM TERHADAP PERDAMAIAN DUNIA


DAN TINJAUAN UMUM TERHADAP KONFLIK DI GREAT LAKES

A. Peranan WOSM dalam perdamaian dunia

A.1. Sejarah WOSM

World Organization of Scout Movement (WOSM) adalah sebuah organisasi

Internasional non pemerintahan atau INGO yang berfungsi sebagai federasi yang

membawahi 160 organisasi nasional kepramukaan di dunia dengan total anggota

sebanyak 28 juta orang (WOSM, 2000, 2007b). WOSM didirikan pada tahun

1920 dan berpusat di Jenewa, Swiss. Misi dari WOSM adalah untuk memberikan

kontribusi terhadap pendidikan generasi muda melalui sebuah sistem nilai yang

berbasis pada Sumpah atau Satya Kepramukaan (Scout Promise) dan janji atau

Darma Kepramukaan (Scout Law) dengan tujuan utama untuk “membantu

membangun dunia yang lebih baik dimana orang mampu menjadi mandiri sebagai

individual dan memainkan peran yang konstruktif dalam masyarakat” (WOSM,

2010b). Saat ini kegiatan kepramukaan ada di lebih dari 215 negara yang

dikoordinir oleh 6 kantor wilayah WOSM yakni Eropa (Jenewa, Swiss); Inter-

Amerika (Santiago, Chile); Asia Pasifik (Manila, Filipina); Arab (Cairo, Mesir);

Afrika (Nairobi, Kenya) dan Eurasia (Yalta, Ukraina). Secara organisasi, bagian

WOSM terbagi tiga yakni Konferensi Pramuka Dunia atau World Scout

Conference, Komite Pramuka Dunia atau World Scout Committee, dan Biro

Pramuka Dunia atau World Scout Bureau. Konferensi Pramuka dunia berfungsi

sebagai "sidang umum" dari Pramuka dunia dimana pesertanya adalah wakil-

43
44

wakil dari 160 organisasi kepramukaan di seluruh dunia; Fungsinya untuk

mempertimbangkan kebijakan dan standar Gerakan Pramuka di seluruh dunia,

merumuskan kebijakan umum Organisasi Dunia, dan mengambil tindakan yang

diperlukan untuk memajukan tujuan gerakan pramuka dunia. Komite Pramuka

Dunia adalah badan eksekutif dari konferensi yang merepresentasikan konferensi

pada kegiatan-kegiatan kepramukaan yang dilangsungkan pada waktu diantara

dua konferensi; Komite Pramuka dunia beranggotakan 12 anggota yang dipilih

dari 160 Organisasi Nasional Kepramukaan (National Scout Organization / NSO)

tanpa memandang perbedaan kewarganegaraan untuk masa jabatan enam tahun.

Sedangkan Biro Pramuka Dunia adalah sekretariat yang bertugas menjalankan

instruksi Konferensi Pramuka Dunia dan juga Komite Pramuka Dunia (WOSM,

2010d).

Kepramukaan itu sendiri adalah sebuah gerakan pendidikan sukarela yang

bersifat non politik yang diperuntukkan secara terbuka bagi seluruh generasi muda

tanpa adanya pembedaan dalam hal “jenis kelamin, asal, suku atau ras, sesuai

dengan tujuan, prinsip-prinsip dan metode sebagaimana yang diterapkan oleh

pendiri…”(WOSM 2010c). Tujuan dari gerakan kepramukaan itu sendiri adalah

untuk memberikan “kontribusi terhadap pendidikan generasi muda dalam (tujuan)

mencapai potensi penuh (mereka secara) fisik, intelektual, emosional, sosial dan

spiritual sebagai individu, sebagai warga yang bertanggung jawab dan sebagai

anggota komunitas lokal, nasional dan internasional mereka.” (WOSM, 2010b).

Kepramukaan didirikan di Inggris pada tahun 1907 oleh seorang perwira

kavaleri Angkatan Darat Kerajaan Inggris, Letnan Jenderal Lord Robert Baden
45

Powell of Gilwell yang menulis buku Scouting for Boys dan juga dikenal sebagai

pahlawan perang Mafeking atau perang Boer di Afrika Selatan. Pada awalnya

pendidikan kepramukaan adalah pendidikan yang digunakan Baden Powell (BP)

dalam melatih pasukan kavaleri sehingga setiap anggota kavaleri mampu menjadi

pemimpin pasukan. Dalam pelatihannya, mereka diberikan kemampuan melacak,

mengintai, membaca peta, memberikan sinyal, tali temali, pertolongan pertama

pada kecelakaan dan juga kemampuan berkemah dan berkegiatan di luar ruangan.

Teknik kepramukaan ini kemudian BP adopsi dan terapkan pada generasi

muda di Inggris dan kemudian dengan cepat menyebar di seantero Inggris dan

juga dunia. Pada tahun 1910 telah terdapat gerakan kepramukaan di Swedia,

Meksiko, Argentina, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Afrika Selatan

(Britannica, 2010b). Pada akhir abad ke-20 gerakan kepramukaan menyebar di

215 negara dan teritori dan diikuti oleh lebih dari 8 juta anggota pramuka.

Prinsip-prinsip gerakan kepramukaan menggambarkan sebuah kode

perilaku untuk semua anggota dan menjadi sebuah ciri khas gerakan

kepramukaan. Metode kepramukaan adalah sebuah sistem progresif yang didesain

untuk mencapai tujuan yang memiliki tujuh elemen sebagaimana yang disebutkan

WOSM yakni: “law and promise, learning by doing, team system, symbolic

framework, personal progression, nature, and adult support.” (dasa dan dharma

pramuka, belajar dengan melakukan langsung, sistem kelompok, kerangka

simbolis, perkembangan pribadi, alam dan dukungan orang dewasa) (WOSM,

1998: 13). Pengabdian masyarakat juga sebuah elemen utama dalam program

WOSM.
46

A.2. Peranan WOSM dalam perdamaian Dunia

Semenjak BP mendirikan kepramukaan pada 1907, ide menjadikan

gerakan kepramukaan sebagai sebuah persaudaraan dunia atau Wordwide

Brotherhood, telah tercetus. Terlebih pasca Perang Dunia I, BP yang sangat

terguncang melihat dampak yang ditimbulkan oleh Perang Dunia I semakin

bertekad menjadikan kepramukaan sebagai alat untuk menciptakan perdamaian.

Dalam banyak tulisan BP, dia mengekspresikan betapa pentingnya perdamaian

bagi umat manusia. BP yakin bahwa Pramuka mampu menjadi sebuah ikatan

persaudaraan dunia yang mampu menginspirasikan “feelings of tolerance,

fraternity, understanding, fairness and justice on earth” (perasaan toleransi,

persaudaraan, kesepahaman, dan keadilan di muka bumi) (WOSM, 2007a:3).

BP menilai bahwa dengan menjalankan dan mengamalkan satya dan

dharma pramuka, maka peperangan dan konflik dapat dicegah. Dalam tulisan

Scouting and Peace terbitan sebagaimana dikutip WOSM, BP menyatakan bahwa:

“He saw the Promise and Law as a way to prevent wars and conflicts: „It is the

spirit that matters. Our Scout Law and Promise, when we really put them into

practice take away all occasion for wars and strife between nations.‟” (Dia [BP]

memandang bahwa satya dan darma pramuka sebagai jalan untuk mencegah

perang dan konflik: „yang terpenting adalah semangatnya. Satya dan Darma kita,

ketika kita benar-benar menjalankannya akan membuang semua kesempatan

untuk perang dan perselisihan antar bangsa.)” (WOSM, 2007a:5).

BP juga melihat hubungan yang erat antara perkembangan perdamaian di

dunia dengan tujuan gerakan pramuka. Dalam hal ini, BP menulis dalam jurnal
47

„jamboree‟ tahun 1932 sebagaimana dikutip oleh WOSM dalam tulisan Scouting

and Peace (2007a):

“Our aim is to bring up the next generation as useful citizens with a wider
outlook than before and thereby to develop goodwill and peace in the
world through comradeship and co-operation, in place of the prevailing
rivalry between classes, creeds and countries which have done so much in
the past to produce wars and unrest. We regard all men as brothers, sons
of the one Father, among whom happiness can be brought only through
the development of mutual tolerance and goodwill – that is through love.”
(Tujuan kita adalah membawa generasi selanjutnya menjadi warga negara
yang berguna dengan pandangan yang lebih luas dari [generasi]
sebelumnya dan dengan demikian [dapat] mengembangkan niatan baik
dan perdamaian di dunia melalui persahabatan dan kerjasama,
menggantikan persaingan antar kelas, kepercayaan, dan negara-negara
yang telah berlaku selama ini yang telah menghasilkan perang dan
kerusuhan di masa lalu. Kami menganggap semua manusia sebagai
saudara, anak dari satu Bapak, dimana diantaranya kebahagiaan dapat
dibawa hanya melalui pengembangan saling toleransi dan niatan baik-hal
itu melalui cinta) (WOSM, 2007a: 3-4).

Semenjak berdirinya WOSM pada tahun 1920, WOSM telah secara

konstan memberikan kontribusinya terhadap perdamaian dunia. Kontribusi dalam

menciptakan perdamaian ini tidak dilakukan dengan jalan mengintervensi secara

langsung baik dengan mengirimkan pasukan penjaga perdamaian maupun menjadi

penengah pihak yang bertikai, namun lebih kepada upaya-upaya promosi

perdamaian dan pendidikan perdamaian yang memiliki pandangan jauh kedepan

untuk menciptakan perdamaian yang berkesinambungan. Sebagaimana

dikemukakan WOSM dalam Scouting and Peace:

“Scouting‟s contribution is obviously very indirect. In the true sense of


peace, however, Scouting‟s contribution, although mainly indirect,
becomes immediately obvious, and concerns the very heart of the issue.”
(Kontribusi Pramuka [terhadap perdamaian] sangat jelas [bersifat] tidak
langsung. Dalam makna sebenarnya dari perdamaian, namun, kontribusi
pramuka, walaupun kebanyakan tidak secara langsung, menjadi jelas
[bahwa upaya pramuka], memperhatikan inti permasalahan dari isu [yang
berkembang]) (WOSM, 2007a: 11).
48

WOSM memandang upaya yang dilakukan pramuka kebanyakan bersifat

tidak langsung karena definisi dari kata „perdamaian‟ itu sendiri memiliki

beberapa makna dan sudut pandang. WOSM memandang bahwa:

“Peace is not simply the absence of war. Peace is a dynamic process of


collaboration between all states and peoples. This collaboration must be
based on a respect for liberty, independence, national sovereignty,
equality, respect for the law, human rights, as well as a just and equitable
distribution of resources to meet the needs of peoples” (Perdamaian tidak
hanya ketiadaan perang. Perdamaian adalah proses dinamis dari kerjasama
antara semua negara dan masyarakat. Kerjasama ini harus didasarkan pada
penghormatan terhadap kebebasan, kemerdekaan, kedaulatan nasional,
kesetaraan, penghormatan hukum, hak asasi manusia, serta distribusi yang
adil dan merata dari sumber daya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat)
(WOSM, 2007a:11).

Sehingga bila kita menilik pemahaman makna kata “perdamaian” sebagaimana

disebutkan diatas, kontribusi yang dilakukan demi perdamaian tidak selamanya

harus secara aktif ikutserta dalam upaya menghentikan perang dan konflik, namun

juga pada aspek-aspek kemanusaan lainnya yang dinamis dan saling berhubungan.

Semenjak berdiri, tercatat WOSM secara aktif mengadakan kampanye-kampanye

yang mempromosikan perdamaian, mengadakan pendidikan perdamaian, dan juga

turut serta dalam membangun kesadaran akan pentingnya perdamaian.

WOSM sejak dahulu telah secara aktif bekerjasama dengan organisasi-

organisasi kepramukaan yang menjadi anggotanya untuk mempromosikan

perdamaian di seluruh dunia. Kegiatan tersebut bentuknya bermacam-macam

namun mengandalkan prinsip-prinsip dasar kepramukaan, antara lain: bermain

sambil belajar, belajar dengan melakukan secara langsung, pengembangan diri

pribadi dan dengan dibantu pengawasan orang dewasa. Beberapa program WOSM

yang cukup mendapat sorotan dunia antara lain: Kampanye anti ranjau darat yang
49

mempromosikan tentang bahaya ranjau darat peninggalan perang di seluruh dunia

pada 1997; Bekerjasama dengan Pramuka Kolumbia dalam kampanye COTIN

(Columbia Tiera Nuestra) yang berarti Kolumbia negaraku, yang bergerak dalam

kampanye konservasi penyu dan juga upaya proteksi generasi muda dari kartel

narkotika; Bekerjasama dengan Pramuka Kroasia dan beberapa NGO lain dalam

Kampanye Sunrise City di Kroasia yang bergerak dalam hal penyembuhan trauma

korban pasca perang Balkan; Pendidikan perdamaian di wilayah Great Lakes

Afrika; Operasi solidaritas terhadap pemuda korban Chernobyl dan lain-lain .

Selain program-program diatas yang terfokus pada permasalahan khusus

pada kampanye perdamaian di tempat tertentu, WOSM juga memiliki program

lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan perdamaian di seluruh dunia.

Program-program itu antara lain: Jambore baik di tingkat regional maupun dunia

dimana didalamnya dilakukan banyak kegiatan untuk saling meningkatkan

pemahaman antar orang dari wilayah yang berbeda dan membangun

persaudaraan; Program Rover Moot yang serupa dengan Jambore namun dengan

peserta para pramuka dari golongan usia yang lebih dewasa; Minggu perdamaian

dan hari perdamaian (Peace week and peace day); dan berbagai kegiatan

kerjasama lainnya yang dijalin WOSM dengan badan-badan PBB dan NGO

lainnya (WOSM, 2007a:11-55).

Dari berbagai kegiatan WOSM mempromosikan perdamaian dunia,

penulis akan mengambil studi kasus terhadap peranan dan tidakan yang WOSM

ambil dalam upaya menciptakan perdamaian di wilayah Great Lakes, Afrika

Tengah. Di wilayah Great Lakes ini konflik seakan tidak pernah berujung dan
50

telah menjadi permasalahan transnasional yang berlangsung cukup lama dan

tercatat konflik di wilayah ini merupakan konflik dengan korban terburuk di era

modern pasca Genosida pada Perang Dunia II. Penyebab konflik di wilayah Great

Lakes didominasi oleh konflik antara suku Tutsi dan Hutu yang didasari atas

kebencian yang tertanam sejak lama yang merupakan produk dari penjajahan

Belgia. Konflik di wilayah Great Lakes antara suku Hutu dan Tutsi itu

mendominasi pergolakan politik yang terkonsentrasi di tiga negara yang saling

bertetangga yakni Republik Demokrasi Kongo, Burundi dan Rwanda. Berikut

akan dibahas mengenai asal mula konflik di wilayah Great Lakes.

B. Sejarah Konflik di Great Lakes Afrika

Konflik yang berkepanjangan di Great Lakes Afrika Tengah sebenarnya

berasal dari satu sumber utama yakni perseteruan dan perebutan kekuasaan antara

suku Hutu dan Tutsi yang kemudian berkembang menjadi peristiwa-peristiwa

tragedi kemanusiaan yang berkepanjangan di Great Lakes. Wilayah Great Lakes

sendiri adalah sebuah sub-region di Afrika Tengah yang mendapatkan julukannya

karena terletak diantara danau-danau besar di Afrika Tengah. Wilayah Great

Lakes membentang dari wilayah Danau Tanganyika yang menjadi batas alam di

Utara, hingga bagian barat Danau Victoria, Danau Kivu, Danau Edward serta

danau Albert. Sub-Region Great Lakes mencakup beberapa negara, antara lain:

Burundi, Republik Demokrasi Kongo, Uganda, Kenya, Tanzania, dan dalam

beberapa definisi lain juga mengikutsertakan wilayah Zambia, Malawi,

Mozambik, dan Ethiopia (Wikipedia, 2010). Di wilayah Great Lakes pada zaman

dahulu, suku Hutu dan Tutsi hidup berdampingan secara damai. Kurang lebih 600
51

tahun yang lalu, suku Tutsi yang memiliki ciri fisik tubuh yang tinggi, dan

merupakan golongan suku kesatria, pindah dari wilayah Ethiopia dan mulai

menginvasi wilayah suku Hutu yang merupakan suku petani yang telah lama

mendiami wilayah Great Lakes bersama suku asli setempat yakni suku Twa yang

merupakan suku pemburu dan pengumpul makanan (CNN, 1996; Mohammed,

2003). Walaupun lebih kecil jumlahnya, suku Tutsi mampu menundukkan suku

Hutu dan mampu menekan suku Hutu untuk memberikan upeti berupa hasil

pertanian dengan imbal balik perlindungan dari potensi ancaman serangan suku

lain. Ketiga kelompok suku ini hidup bersama, berbicara bahasa yang sama,

terjadi pernikahan silang, dan bahkan mereka sama-sama mengagungkan tokoh

yang mereka anggap seperti tuhan, yakni raja Tutsi (CNN, 1996; Mohammed,

2003).

Bibit-bibit konflik antara suku Hutu dan Tutsi ini bisa ditelusuri ke masa

invasi negara asing ke wilayah Great Lakes Afrika. Tiga negara di wilayah Great

Lakes yakni Rwanda, Burundi dan Republik Demokratik Kongo memiliki

kesamaan dalam hal sejarah berdirinya. Belgia, yang mewarisi koloni bekas

jajahan Jerman atas wilayah Burundi dan Rwanda dibawah sebuah sistem yang

didirikan oleh liga bangsa-bangsa melalui traktat Versailles (Treaty of Versailles)5

melakukan penjajahan di wilayah tiga negara tersebut. Belgia memperlakukan

wilayah jajahan baru ini sebagai negara-negara dibawah persemakmuran Belgia.

5 Traktat Versailes adalah Traktat yang mengakhiri perang dunia I pada tahun 1919. Memberikan
kewenangan penyelesaian sengketa pada liga bangsa-bangsa dan memberikan sanksi kepada
Jerman dengan jalan mengurangi teritori jajahan Jerman dan mewajibkan Jerman untuk membayar
biaya repatriasi sebagai “pembayaran dosa perang” mereka. Rusia juga kehilangan wilayah
jajahannya dengan berdirinya kembali beberapa negara di Eropa Timur semisal Polandia
http://occawlonline.pearsoned.com/bookbind/pubbooks/stearns_awl/medialib/glossary/gloss_T.ht
ml
52

Negara Belgia berusaha mendirikan apa yang mereka sebut sebagai Belgia di

Ekuator Afrika (Belgian Equatorial Africa). Ketiga wilayah ini diatur secara

terintegrasi oleh Belgia baik dalam hal manajemen maupun kebijakan moneter.

Kemudahan melakukan kegiatan lintas batas diantara ketiga negara ini telah

dirancang sedemikian rupa oleh Belgia dengan cara-cara: pertama, dengan adanya

pendirian universitas-universitas yang menerima mahasiswa dari negara

bertetangga, sehingga mahasiswa dari wilayah Burundi, Republik Demokrasi

Kongo dan Rwanda bisa dengan mudah belajar di universitas manapun di tiga

negara yang bertetangga tersebut tanpa adanya hambatan-hambatan; kedua,

adanya mutasi silang pejabat-pejabat setempat ke wilayah lain di Great Lakes

sehingga menyebabkan terjadinya penyebaran SDM dan mudahnya lalu-lalang

warga negara dari tiga negara di Great Lakes tersebut; ketiga, adanya pengaturan

kelompok jama‟ah misionaris dalam format yang sama sehingga tercipta

kesamaan dan keseragaman di tiga negara di Great Lakes tadi. Ketika mengelola

tiga wilayah ini, sistem administrasi kolonial yang diberlakukan Belgia lebih pilih

kasih terhadap suku Tutsi. Sebagaimana yang dikatakan Jean-Pierre Chrétien:

“Konstruksi ras sosial yang dilakukan oleh adminsitrasi kolonial melihat


adanya unsur mistik yang tercipta (di wilayah itu untuk mendukung)
superioritas Tutsi, dan dukungan dari Belgia terhadap suku Tutsi untuk
memimpin dalam bidang ekonomi, pendidikan dan kesempatan-
kesempatan (memimpin hal-hal) administratif, didukung oleh pengaruh
baru Gereja Katolik yang semakin meningkat.” (2003 dalam Broughton
2006).

Kebijakan Belgia yang lebih memilih suku Tutsi ini adalah salah satu faktor yang

makin memperuncing pertikaian antara suku Hutu dan Tutsi. Kebijakan Belgia

yang lebih memilih suku Tutsi lebih didasari kepercayaan mistis setempat yang
53

telah sejak lama mengagungkan Tutsi dan Raja Tutsi sebagaimana dijelaskan di

atas, namun Belgia gagal dalam melihat potensi timbulnya konflik di masa depan

yang diakibatkan timbulnya kecemburuan sosial dari suku Hutu yang pada

umumnya menjadi suku mayoritas di wilayah Great Lakes terhadap suku Tutsi

yang minoritas namun memiliki kekuasaan yang cukup besar sebagai partner

Belgia dalam menjalankan negara jajahannya.

Setelah kemerdekaan diberikan oleh Belgia kepada negara-negara di Great

Lakes yakni Republik Demokratik Kongo (RDK) pada 30 Juni 1960, Burundi

pada 1 Juli 1962 dan Rwanda pada 2 Juli 1962 (Murhandikire, 2003: 9).

Hubungan antar ketiga negara tersebut dilihat dari permukaan, terlebih pada masa

pasca kemerdekaan bisa dibilang relatif damai walaupun terkadang terjadi

perselisihan antara suku Tutsi dan Hutu yang secara konstan berusaha saling

memperebutkan kekuasaan pasca perginya penjajah. Namun bisa dikatakan bahwa

pasca kemerdekaan, secara relatif kondisi di wilayah Great Lakes tergolong damai

dan dapat tercipta kestabilan politik makro. Kestabilan pada tingkatan atas ini

menghasilkan beberapa kerjasama antar negara di wilayah Great Lakes. Pada

tahun 1976 tercipta sebuah kerjasama multilateral dengan kerangka Komunitas

Ekonomi antara negara-negara di wilayah Great Lakes atau yang disebut sebagai

The Economic Community of Great Lakes Countries (CEPGL) dan menetapkan

kesepakatan bersama mengenai pembuatan dokumen imigrasi bersama yang

bernama Pass CEPGL yang memberikan keistimewaan bagi warga negara

Rwanda, RDK, dan Burundi untuk bebas melintas batas ketiga negara tersebut

dengan menggunakan Pass CEPGL tanpa memerlukan Visa (Murhandikire,


54

2003:9). Selain CEPGL terdapat beberapa kesepakatan dan kerjasama lain antara

tiga negara tersebut antara lain : International Society of Electricity of the Great

Lakes (SINELAC), The Economic Development Bank of the Great Lakes

(BDEGL) dan The Research Institute of Agro Zootechnique (IRAZ).

Namun sebenarnya pada masa pasca kemerdekaan, pertikaian antar suku

Hutu dan Tutsi makin sering terjadi di tingkat bawah. Konflik-konflik di tingkatan

bawah itu berkembang menjadi konflik yang lebih besar lagi, dan bahkan

bereskalasi menjadi konflik yang mendominasi beberapa negara di Great Lakes,

terutama Rwanda, RDK, dan Burundi dimana suku Tutsi dan Hutu mendominasi

populasi di ketiga negara tersebut. Konflik yang berkepanjangan di wilayah

tersebut telah membuat kehidupan masyarakat di wilayah Great Lakes menjadi

terancam, khususnya generasi muda yang mendominasi 60% (enam puluh persen)

populasi di wilayah itu (WOSM, 2007a; Metropolis, 2008). Dalam tabel di bawah

ini akan penulis sampaikan data perbandingan jumlah suku Tutsi dan Hutu serta

golongan usianya:

Tabel 1: Persentase populasi penduduk di RDK, Burundi dan Rwanda berdasarkan


kelompok usia dan suku
Kelompok Suku Kelompok Usia
Suku Suku Twa Usia 0- Usia 15- Usia >
Negara Hutu Tutsi (Pygmy) 6 14 thn 64 thn 65 thn
Rwanda 84% 15% 1% 42,7% 54,8% 2,5%
Burundi 85% 14% 1% 46,3% 51,2% 2,5%
Kongo 45% 10% 45 % 46,9% 50,6% 2,5%
Sumber : CIA World Factbook, 2010 (a,b,c)

6. Pygmy menurut ensiklopedia Britannica adalah sebuah istilah dalam antropologi yang yang
berarti: anggota kelompok manusia dimana pria dewasanya memiliki tinggi badan yang cukup
rendah, rata-rata dibawah 150 cm http://www.britannica.com/EBchecked/topic/484571/Pygmy
55

Dari tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kelompok populasi yang

mendominasi wilayah di ketiga negara tersebut yakni kelompok suku Hutu.

Meskipun demikian, suku Hutu berada di bawah kontrol dari suku Tutsi yang

merupakan minoritas namun mendapatkan hak keistimewaan dari Belgia.

Dari tabel diatas dapat disimpulkan juga bahwa gabungan kelompok umur

0-64 tahun mendominasi populasi di wilayah RDK, Rwanda dan Burundi. Dengan

jumlah mereka yang amat besar tersebut, otomatis kelompok pemuda dan usia

produktif ini adalah kelompok yang memiliki kecenderungan paling besar

terpengaruh dan bahkan terlibat dalam konflik berkepanjangan. Untuk memahami

perkembangan konflik di wilayah Great Lakes, berikut akan dijabarkan secara

singkat mengenai konflik Tutsi-Hutu di Rwanda, Burundi dan RDK.

B.1. Konflik di Rwanda

Rwanda adalah sebuah negara di wilayah Timur Afrika Tengah dengan

ibukota Kigali (Britannica, 2010c). Pemerintahan di Rwanda adalah republik

multi partai dengan dua badan legislatif. Kepala Pemerintahan dan Kepala Negara

adalah Presiden dengan dibantu oleh seorang Perdana Menteri. Pada 1923, Liga

Bangsa-Bangsa menjadikan wilayah Ruanda-Urundi sebagai wilayah mandat

dibawah kekuasaan Belgia (Britannica, 2010c). Pada 1959, tiga tahun sebelum

Rwanda mendapatkan kemerdekaan dari Belgia pada 1962, suku mayoritas di

Rwanda yakni suku Hutu menggulingkan kekuasaan kerajaan Tutsi. Dalam

beberapa tahun, ribuan orang Tutsi dibunuh dan lebih dari 150.000 suku Tutsi

terpaksa mengasingkan diri ke negara-negara tetangga. Generasi muda Rwanda

yang berada di pengasingan inilah yang pertama membentuk kelompok


56

pemberontak yang menamakan dirinya The Rwandan Patriotic Front (RPF) yang

menjadi salah satu aktor utama yang menyebabkan munculnya perang sipil pada

tahun 1990 (CIA, 2010c).

Perang sipil yang diikuti oleh pergolakan politik, ekonomi dan

ketegangan antar kelompok menyebabkan terpicunya sebuah tragedi kemanusiaan

di Rwanda yakni peristiwa Genosida dimana setidaknya terdapat 800.000 orang

dari suku Tutsi dan kaum Hutu moderat dibunuh. Kaum pemberontak Tutsi

akhirnya berhasil mengalahkan rezim Hutu untuk kemudian kembali ke tampuk

kepemimpinan dan mengakhiri pembantaian massal. Dengan kembalinya suku

Tutsi memegang tampuk kekuasaan, setidaknya 2 juta orang suku Hutu

meninggalkan Rwanda dan memilih menjadi pengungsi di negara-negara

tetangga. Di antara negara yang menjadi tujuan utama pengungsi Hutu ini antara

lain, yakni: Burundi, Tanzania, Uganda dan Zaire (Saat ini Zaire berganti nama

menjadi Republik Demokratik Kongo). Persoalan pengungsi ini kemudian

menciptakan permasalahan transnasional. Rwanda mengadakan pemilu lokal

pertama pasca tragedi Genosida pada tahun 1999 dan pada tahun 2003 diadakan

Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden untuk pertama kalinya setelah tragedi

Genosida 1994 (CIA, 2010c; Britannica, 2010c).

Genosida di wilayah Rwanda ini sendiri dipicu oleh rasa amarah dari suku

Hutu yang selalu ditindas oleh suku Tutsi. Beberapa tahun pasca kemerdekaan,

suku Hutu di Rwanda menjadi sadar akan kondisi mereka yang terjajah melalui

pendidikan yang mereka dapatkan pasca kemerdekaan dari Belgia. Mereka

berhasil mendidik generasi Hutu muda di Rwanda agar mereka mampu


57

memberikan sebuah perlawanan balik. Sehingga munculah kekuatan suku Hutu

yang cukup besar yang terdiri dari para “perawat, ahli agronomi, dan guru untuk

membentuk kelompok „counter-elite‟ untuk melawan „Feudalisme Tutsi‟

(Broughton, 2006: 2).

Pada pemilu pertama pasca kemerdekaan, partai Permehutu yang mewakili

lebih dari 70% populasi di Rwanda menang pemilu secara telak. Setelah partai

Parmehutu memenangkan pemilu, tingkat kekerasan terhadap suku Tutsi naik

secara drastis dengan maraknya aksi balas dendam terhadap suku Tutsi dan

bahkan suku Hutu yang moderat. Hal ini menyebabkan gelombang pengungsian

ke negara tetangga. Uganda menjadi negara yang menerima jumlah pengungsi

paling banyak. Alasan banyak suku Tutsi yang melarikan diri ke Uganda adalah

karena kebanyakan pengungsi “memiliki kerabat yang telah bermigrasi pada

generasi sebelumnya atas alasan ekonomi” (Broughton, 2006: 2). Banyak kaum

muda dari suku Tutsi bergabung dengan Angkatan Darat Uganda dengan tujuan

utama membalaskan dendamnya sutu saat. Pemahaman inilah yang mendorong

Paul Kagame, seorang Tutsi yang mengungsi dan masuk ke militer Uganda

kemudian berhasil menjadi salah satu komandan pasukan Uganda memimpin

pasukan Tutsi dan kelompok Hutu Moderat untuk menyerang Rwanda.

Oktober 1990 menandai 24 tahun kepemimpinan represif dan diktatorian

dari partai Parmehutu. Salah satu diktator terakhir dari Parmehutu adalah Juvénal

Habyarimana. Kelompok Tutsi di Uganda yang telah mampu mengumpulkan

kekuatan yang cukup besar akhirnya menyerang Rwanda bersama pasukan Hutu

moderat dari wilayah Uganda dibawah kepemimpinan Kagame untuk


58

“membebaskan Rwanda dari Pemerintahan yang melanggar Hak Asasi Manusia”

Kelompok ini lebih dikenal dengan nama Rwandan Patriotic Front atau Front

Patriotik Rwanda yang disingkat RPF (Broughton, 2006: 2). Walaupun

menyerang dari Uganda, namun militer Uganda mengklaim bahwa mereka tidak

ambil bagian dalam penyerangan tersebut. Habyarimana yang mengetahui rencana

aksi ini kemudian mengeluarkan sebuah kebijakan dengan maksud menarik suku

Hutu moderat yang ikut berjuang dengan suku Tutsi agar kembali ke sisi pro

pemerintah Rwanda dan menuduhkan semua kesalahan kepada suku Tutsi.

Sebagai kolaborator aksi pemberontakan (BBC, 2008). Aksi yang dilakukan

Kagame itu menandai dimulainya perang sipil di wilayah Rwanda (Broughton,

2006: 3).

Perang sipil tersebut antara RPF dan pemerintah Rwanda tersebut

berlanjut dan semakin bereskalasi, walaupun pada satu sisi RPF mulai melemah.

Konflik ini tetap panas hingga akhirnya terjadi upaya mediasi dengan

ditawarkannya gencatan senjata yang mengajukan kesepakatan membangun

pemerintahan dengan konsep saling berbagi antara Kagame dan Habyarimana dan

dikuranginya pasukan penjaga keamanan PBB dari jumlah yang

direkomendasikan pada Agustus 1993 untuk menurunkan eskalasi konflik.

Meskipun perjanjian ini telah ditanda tangani, namun tidak membawa dampak

yang signifikan. Konflik di Rwanda semakin memburuk setelah pesawat yang

membawa Presiden Habyarimana ditembak jatuh oleh kelompok yang tak dikenal

di bandara Kigali pada awal bulan April 1994, membuat konflik antar kedua suku

itu mencapai klimaksnya. Insiden itu membunuh presiden Habyarimana beserta


59

Presiden Burundi dan para kepala staf kedua Negara (BBC, 2008, Broughton,

2006: 2).

Terbunuhnya Presiden Habyarimana menyebabkan kekacauan lebih lanjut.

Militer Rwanda bersama warga sipil dan Pasukan Pengawal Presiden mulai

melakukan aksi pembantaian besar-besaran terhadap suku Tutsi dan Hutu moderat

di Rwanda sebagai aksi balas dendam. Didorong oleh propaganda pengawal

presiden dan media radio, kelompok milisi, pejabat, pengusaha dan bahkan sipil

Hutu yang bergabung dan secara tidak resmi yang disebut Interahamwe (orang

yang menyerang bersama-sama) dikerahkan. Pada puncaknya, kelompok ini

memiliki kekuatan personil sebesar 30.000-an.(BBC:2008). Diperkirakan lebih

dari 800.000 orang Tutsi dan juga Hutu moderat dibantai secara terorganisir.

(Broughton, 2006: 3). Oleh PBB perisitiwa ini diklasifikasikan sebagai genosida7

(PBB, ND)

7 Suatu kondisi tragedi pembunuhan massal dapat disebut Genosida apabila memenuhi definisi
yang ada dalam konvensi PBB tentang pencegahan dan penghukuman kejahatan Genosida atau
United Nations Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide (UNCG)
yang mendefinisikan Genosida sebagai :“In the present Convention, genocide means any of the
following acts committed with intent to destroy, in whole or in part, a national, ethnical, racial or
religious group, as such:
(a) Killing members of the group;(b) Causing serious bodily or mental harm to members of the
group;(c) Deliberately inflicting on the group conditions of life calculated to bring about its
physical destruction in whole or in part; (d) Imposing measures intended to prevent births within
the group;(e) Forcibly transferring children of the group to another group.
(Dalam Konvensi ini, genosida berarti setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk
menghancurkan, secara keseluruhan atau sebagian, suatu kelompok nasional, etnis, ras atau
keagamaan, dengan cara seperti:
(A) Membunuh anggota kelompok; (B) Menyebabkan luka fisik atau mental yang serius kepada
anggota kelompok; (C) Dengan sengaja menimbulkan kondisi kehidupan [yang buruk] yang
terkalkulasi untuk membawa dampak kerusakan fisik baik secara keseluruhan atau sebagian
kepada kelompok tertentu; (D) Pengenaan tindakan-tindakan yang dimaksudkan untuk mencegah
kelahiran di dalam kelompok tertentu;(E) secara paksa memindahkan anak-anak dari satu
kelompok ke kelompok lain.
60

Aksi pembunuhan besar-besaran atas suku Tutsi itu membuat RPF

kembali mengorganisir kekuatan dan kembali menyerang pemerintah Rwanda.

Banyak upaya PBB untuk “menegosiasikan gencatan senjata tidak menghasilkan

apa-apa” (BBC:2008). Akhirnya pada bulan Juli 1994 RPF berhasil menguasai

ibukota Rwanda, Kigali. Pemerintahan tumbang dan RPF mendeklarasikan

gencatan senjata. Setelah Nampak jelas bahwa RPF berkuasa di Rwanda, “sekitar

dua juta suku Hutu melarikan diri ke Zaire (Sekarang Republik Demokratik

Kongo)” (BBC, 2008). Banyak diantara para pengungsi adalah pelaku genosida.

Di Rwanda sendiri, sebuah pemerintahan multi etnik pertama di Rwanda didirikan

dengan Presiden yang berasal dari suku Hutu, Pasteur Bizimungu dan Mr Kagame

sebagai Deputinya. Namun duet pasangan ini tidak bertahan lama dan Bizimungu

dipenjara atas tuduhan menyulut kekerasan etnis; Kagame kemudian naik menjadi

presiden. Walaupun pembunuhan massal di Rwanda telah berakhir, namun

kehadiran milisi suku Hutu di Republik Demokratik Kongo yang bekerjasama

dengan militer Kongo telah menghasilkan konflik berkepanjangan disana,

mengakibatkan setidaknya lima juta orang tewas (BBC:2008). Rwanda yang saat

ini dipimpin oleh pemerintahan Tutsi selalu berupaya menginvasi tetangganya,

Republik Demokratik Kongo, yang memiliki wilayah dua kali lebih besar dari

Rwanda. Tujuan utama dari pemerintah Rwanda adala untuk menghabisi seluruh

pasukan Hutu di wilayah Great Lakes.

Kerumitan masalah semakin menjadi dengan kuatnya pemberontakan suku

Tutsi di Kongo yang merasa teracam akibat aliansi antara Milisi Hutu (yang

merupakan pelarian dari Rwanda) dengan militer RDK yang mengancam nyawa
61

mereka. Kelompok pemberontak Tutsi di RDK menyatakan tidak akan pernah

meletakkan senjata karena khawatir akan kemungkinan terjadinya genosida untuk

yang kedua kalinya. Konflik antar suku Tutsi Hutu yang mengakibatkan perang

sipil, genosida, dan konflik transnasional semakin memperumit kondisi di wilayah

Great Lakes karena tidak hanya terjadi di Rwanda dan RDK.

B.2. Konflik di Republik Demokratik Kongo

Republik Demokratik Kongo (RDK) yang dahulu bernama Zaire adalah

sebuah negara yang terletak di wilayah Afrika Tengah dan tergolong sebagai

negara landlocked8. RDK merupakan negara ketiga terbesar di benua Afrika

dibawah Sudan dan Algeria. RDK merupakan sebuah negara kesatuan dengan

sistem Republik multipartai dengan dua badan legislatif yakni Senat dan Dewan

Perwakilan Nasional (National Assembly). Kepala negara adalah Presiden dengan

Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan (CIA, 2010b).

RDK adalah sebuah negara yang sangat kaya dan terbesar pula dalam luas

wilayahnya di Afrika Tengah. Tercatat negara ini memiliki cadangan mineral

berupa emas, permata, tembaga, kobalt dan zinc. Kekayaan alam yang sangat

besar yang dimiliki RDK telah menarik banyak pihak terutama pedagang gelap,

perusahaan gadungam, serta kelompok-kelompok bersenjata yang ingin

menguasai sumber-sumber daya alam yang dimiliki RDK. Ditambah dengan

korupnya pemerintahan RDK membuat kelompok-kelompok tidak bertanggung

jawab tadi memcah masyarakat hanya demi kepentingan mendapatkan dan

menguasai SDA (BBC, 2010c). Kemerdekaan RDK dari Belgia diberikan pada

8 Landlocked menurut kamus Merriam Webster adalah negara yang seluruhnya atau hampir
seluruh wilayahnya adalah daratan dan tidak memiliki wilayah laut. http://www.merriam-
webster.com/dictionary/landlocked
62

tahun 1960; setelah melewati perjuangan yang cukup berat yang hampir memecah

belah RDK. Namun, masa-masa pasca kemerdekaan ditandai oleh banyaknya

periode kudeta militer yang seolah tanpa henti hingga naiknya Joseph Mobutu

pada 1965 yang menyerukan persatuan seluruh komponen negara sekaligus

mengancam para pemberontak. Mobutu juga mengganti nama RDK yang

sebelumnya bernama Kongo menjadi Zaire. Namun idealisme Mobutu terkikis

oleh godaan akan kekayaan, kekuasaan serta pengaruh di tingkat regional. Mobutu

mulai menggunakan kekayaan alam negaranya untuk satu tujuan, yakni membuat

dirinya tetap di pucuk kekuasaan. (BBC, 2010c; CIA, 2010b; Britannica, 2010d)

Namun semakin lama pemerintahan Mobutu semakin korup dan

memburuk, dan semakin memburuk ketika peristiwa genosida berlangsung di

negara tetangga mereka, Rwanda yang semakin mengacaukan kondisi politik dan

kestabilan di RDK. Wilayah timur dari RDK berbatasan langsung dengan

Rwanda, sehingga ketika di Rwanda terjadi peristiwa genosida, lebih dari dua

juta Hutu diperkirakan mengungsi ke RDK karena takut akan aksi balas dendam

dari pemerintahan Tutsi yang memimpin Rwanda pada masa itu. Banyak diantara

para pengungsi dari Rwanda yang masuk ke RDK adalah milisi yang bertindak

sebagai otak dari tragedi genosida di Rwanda (BBC, 2010c). Para pengungsi Hutu

dari Rwanda ini dalam upaya balas dendamnya terhadap Tutsi dengan cepat

bersekutu dengan pemerintahan Mobutu dan mulai melakukan serangan terhadap

suku Tutsi di RDK yang telah hidup disana selama beberapa abad (BBC, 2010c).

Pemerintah Tutsi Rwanda yang mengetahui hal tersebut berusaha masuk

kedalam konflik di RDK dengan cara memberikan dukungan kepada milisi


63

separatis di RDK yang melakukan perlawanan terhadap milisi Hutu dan

pemerintah RDK. Upaya ini berhasil menurunkan Mobutu dari tampuk

kepemimpinan dan menggantikannya dengan seorang tokoh bernama Laurent

Kabila. Ketika Kabila menjabat, dia mengalami kesulitan yang amat hebat dalam

mengatasi milisi Hutu sehingga dia meminta bantuan dari Zimbabwe, Angola dan

Namibia sehingga terciptalah proxy war di wilayah RDK selama lima tahun.

Banyak yang menilai bahwa sebenarnya perang di RDK hanyalah sebuah kedok

untuk mengeruk kekayaan SDA yang berlimpah. Konflik berkepanjangan di RDK

ini telah memakan banyak korban jiwa. Semenjak mulainya konflik di RDK

diperkirakan telah lima juta orang tewas terbunuh dalam berbagai insiden (BBC,

2008; 2010c).

B.3. Konflik di Burundi

Burundi adalah sebuah negara kecil di bagian timur dari Afrika Tengah dan

terletak disebelah selatan dari garis khatulistiwa. Burundi adalah sebuah negara

landlocked yang memiliki sejarah kerajaan yang panjang. Burundi adalah salah

satu negara di Afrika yang batasan-batasan negaranya tidak ditentukan oleh aturan

penjajah yang membagi-bagi wilayah Afrika. Mayoritas masyarakat di Burundi

adalah Suku Hutu (Bantu), yang juga menghuni beberapa negara tetangga

Burundi. Walaupun suku Hutu menjadi mayoritas di Burundi, namun suku

minoritas Tutsi memegang kendali atas Angkatan Darat dan sektor ekonomi,

terutama yang berhubungan dengan ekspor internasional kopi (Britannica, 2010e).

Hal ini serupa dengan kondisi di Rwanda dimana suku Tutsi minoritas memegang

kendali atas suku Hutu yang menjadi populasi mayoritas.


64

Di Burundi juga terjadi permasalahan yang sama yang ditimbulkan oleh

ketegangan antara suku Hutu dan Tutsi. Semenjak kemerdekaannya pada 1961,

ketegangan antara suku Tutsi yang minoritas dan Suku Hutu yang mayoritas telah

menyebabkan konflik berkepanjangan sehingga Burundi mendapatkan predikat

sebagai “negara Afrika dengan konflik paling rumit” (BBC:2010a). Tercatat

terjadi dua kali peristiwa konflik yang menyebabkan presiden Burundi terbunuh

yakni pada 1993 dengan terbunuhnya Melchior Ndadaye dan pada 1994 dengan

terbunuhnya Cyprien Ntaryamira yang terbunuh di pesawat yang ditembak jatuh

bersama dengan presiden Rwanda Habyarimana (BBC:2010b). Burundi juga

mengalami problematika transnasional lainnya yakni membanjirnya pengungsi

dari wilayah Rwanda ke wilayahnya.

Ketegangan antara kelompok Tutsi dan Hutu telah mewarnai perjalanan

Burundi, bahkan sebelum mendapatkan kemerdekaannya dari Belgia pada 1962.

Sebagian rakyat Burundi melarikan diri dan memilih mengungsi ke negara

tetangga ketika konflik antar etnis kembali memanas pada era 90-an. Tercatat

tidak ada aktifitas penjaga perdamaian internasional hingga setidaknya akhir

1990an dan tidak terdapat pula upaya untuk mendamaikan perseteruan perebutan

kekuasaan antara Hutu dan Tutsi. Permasalahan antara Tutsi-Hutu di Burundi juga

dipicu oleh ketegangan yang serupa, yakni perebutan kekuasaan antara suku

Tutsi-Hutu yang mendiami Rwanda. Konflik transnasional dan ketegangan antar

suku bereskalasi dan besifat sangat sensitif. Sebuah isu yang terjadi di Burundi

dapat menyebabkan pecahnya pertikaian bersenjata antara Tutsi dan Hutu di

Rwanda dan sebaliknya. Burundi saat ini menghadapi isu-isu penyelesaian


65

sengketa antar etnis, mempromosikan persatuan dan membangun kembali negara

mereka (Britannica , 2010e).

Burundi telah terlibat dalam perang sipil yang ditandai dengan kekerasan

antar etnis Tutsi-Hutu dan berbagai konflik horizontal lainnya yang menyebabkan

korban jiwa rakyat sipil berjatuhan, terlebih pasca terbunuhnya presiden Melchior

Ndadaye. Permasalahan nasional yakni lemahnya bidang pertanian makin

menambah rumitnya permasalahan disana dan bahkan menjadi sumber

perseteruan baru bagi Hutu dan Tutsi. Pada Juli 1996 Presiden Sylvestre

Ntibantunganya, seorang Hutu digulingkan melalui kudeta militer dan digantikan

oleh Mayor Pierre Boyuya, seorang Tutsi (Global Security, 2010).

Boyuya menghapuskan konstitusi tahun 1992 serta menghapuskan U.U.

tahun 1994 mengenai pemerintahan. Pada 1996 Boyuya mengeluarkan dekrit

presiden sebagai pengganti konstitusi selama masa yang disebut sebagai periode

transisi. Pada 4 Juni 1996 di Arusha, Tanzania terjadi pertemuan untuk

membicarakan kesepakatan pembentukan pemerintahan sementara antara rezim

Boyuya dengan Dewan Nasional yang dianggap pemberontak. Pertemuan Arusha

menandai mulainya dialog antara Hutu dan Tutsi di Burundi yang panjang dan

berliku selama lebih dari tiga tahun namun proses pembicaraan panjang ini gagal

ditengah jalan akibat meninggalnya mediator Julius Nyerere pada 1999. Namun

awal pertemuan Arusha walaupun signifikan namun tidak membawa dampak

signifikan ditingkat bawah. Berbagai insiden pertikaian bersenjata tetap terjadi

dan memaksa ratusan ribu warga Burundi mengungsi. Pada Juni 1998 Buyoya

mengumumkan sahnya konstitusi transisi dan juga mengumumkan kerjasama


66

antara pemerintah dan oposisi. Dibawah fasilitator Nelson Mandela, perjanjian

Arusha berhasil disepakati pada tahun 2000 dimana isi kesepakatannya antara lain

pembentukan pemerintahan bersama dengan periode jabatan tiga tahun. Pierre

Buyoya bertindak sebagai presiden dan Domitien Nadayizeye, seorang Hutu

sebagai wakil presiden. Nadayizeye hanya menjabat selama 18 (delapan belas)

bulan untuk kemudian digantikan oleh perwakilan Hutu lain dari Dewan Nasional.

Perjanjian Arusha tersebut juga menghasilkan konstitusi transisional sebagai

pengganti konstitusi 1992 dan 1994 (Global Security, 2010; Britannica, 2010e)

Pada Desember 2001 kelompok Hutu yang tidak puas dengan perjanjian

Arusha yang menamakan dirinya the Forces for the Defense of Democracy (FDD)

dan Front Liberasi Nasional atau FNL melakukan serangan terhadap wilayah Kota

Bujumbara. Pemerintah meresponnya dengan menyerang balik dan berhasil

menewaskan lebih dari 500 (lima ratus) pemberontak (Global Security, 2010).

Pertikaian terjadi lagi pada Januari 2003 antara pemberontak Defense of

Democracy faction dan FNL dengan pemerintah dan baru mereda ketika Wapres

Ndayizeye menjadi presiden menggantikan Pierre Buyoya (Global Security,

2010). Kesepakatan damai antara pemerintah dengan pemberontak Hutu

ditandatangani di Dar Es Salaam pada 16 November 2003 antara pemerintah

dengan FDD. Pada akhir November FNL sebagai kelompok pemberontak Hutu

terbesar kedua menolak menandatangani kesepakatan damai karena mereka tidak

diberikan kesempatan untuk berdialog dengan Tutsi. Pastor Habimana, juru

bicara FNL menyatakan bahwa siapapun yang menyatakan dirinya mencintai

Burundi harus mengajak Tutsi bergabung dalam kelompok FNL agar mereka
67

mengakui dosa-dosa yang telah mereka lakukan terhadap suku Hutu. Hal ini

menimbulkan konflik tajam antara FDD dan FNL sehingga kelompok yang pada

awalnya sama-sama menyerang pemerintah menjadi saling berhadapan dan mulai

terlibat perang terbuka semenjak 7 Januari 2004 (Global Security,2010; Human

Right Watch, 2005: 150; Stijn De Reu, 2004: 11).

Pada 21 April 2004 terjadi pertemuan empat hari antara FNL dengan

pemerintah di Kigoma, Tanzania. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan yang

berisi pernyataan bahwa FNL tidak akan melakukan serangan kepada pemerintah

transisi apabila pemerintah tidak melakukan tindakan provokatif. Pertemuan ini

menjadi jalan pembuka bagi negosiasi selanjutnya. Walaupun suasana berangsur

mereda ketegangannya, dan tercapai beberapa hasil positif semisal referendum

konstitusi pada awal 2005, pemilu legislatif pada Juli 2005 dan pendirian komisi

independen untuk pemilu nasional pada taun yang sama, namun pertikaian masih

marak menghiasi suasana wilayah pinggiran dan dan wilayah seputaran ibukota

Kigali (Global Security, 2010)

Setelah mengetahui mengenai tiga konflik di tiga negara sebagaimana

dijabarkan diatas, dapat penulis kesimpulan bahwa, penyebab umum dari konflik

adalah perebutan kekuasaan dan perseteruan antar suku Hutu dan Tutsi yang

didasari oleh kebencian, dan dendam yang mendalam. Untuk mampu

menghentikan konflik berkepanjangan ini tidak hanya memerlukan keterlilbatan

pihak-pihak terkait namun juga generasi muda sebagai populasi mayoritas di

ketiga negara tersebut. Pasifikasi wilayah Great Lakes mampu dicapai dengan

memberikan pendekatan pada kaum muda. Karena selain mayoritas penduduk di


68

wilayah Great Lakes merupakan generasi muda, mayoritas masyarakat yang

menjadi korban konflik dan tragedi kemanusiaan ini adalah kaum muda.

Walaupun banyak dari pemuda ini yang telah menjadi pelaku kejahatan perang

akibat pengaruh, hasutan maupun indoktrinasi orang dewasa, namun bila

diberikan pemahaman yang baik dan menyeluruh serta dilakukan dengan cara-

cara yang tepat, generasi muda merupakan kelompok yang paling tepat dijadikan

agen perdamaian sekaligus sebagai potensi-potensi terbaik untuk menanamkan

bibit perdamaian di wilayah Great Lakes. Berkaitan dengan hal tersebut, WOSM

sebagai organisasi yang bergerak dalam hal pendidikan kepemudaan, berupaya

membantu upaya perdamaian di Great Lakes melalui cara-cara kepramukaan yang

dianggap mampu secara efektif membentuk generasi muda kearah yang lebih baik

sekaligus menjadikan mereka bibit-bibit perdamaian masa depan. Tindakan yang

diambil WOSM ini dapat dibagi menjadi dua tahapan. Pertama, yakni Recovery

Sosial pasca konflik di tiga negara tersebut dan kedua adalah pendidikan

perdamaian melalui program Amahoro Amani. Kedua tahapan ini akan dijabarkan

penulis dalam pembahasan bab V.


BAB V

TINDAKAN WOSM DALAM MENCIPTAKAN PERDAMAIAN

DI GREAT LAKES

A. Tindakan WOSM Terhadap Penyelesaian Konflik di Great Lakes

Afrika

Organisasi kepramukaan dunia ini memberikan perhatian yang besar

terhadap konflik yang terjadi di Great Lakes ini. Seluruh konflik tersebut

menyebabkan degradasi pada sektor ekonomi yang pada akhirnya berujung pada

rusaknya tatanan sosial yang ada di masyarakat. Dari kesemua hal tersebut, yang

paling mendapatkan sorotan dan yang sangat disayangkan oleh WOSM adalah

tingginya jumlah penduduk generasi muda yang menjadi korban dari konflik

tersebut. Bahkan banyak pula para Kijana, para remaja yang telah melewati

upacara adat menjadi dewasa, yang menjadi penggagas serta pelaku kejahatan

perang (Redress Trust, 2006: 14).

Di wilayah Great Lakes generasi muda tumbuh dalam situasi yang buruk

dimana para pemuda dilatih dalam situasi yang memburuk dan kearah yang salah.

Banyak dari mereka yang diajak bergabung atau bahkan direkrut secara paksa

untuk menjadi tentara atau pengacau. Konflik yang berkepanjangan makin

memperburuk suasana, banyak orang dewasa mengindoktrinasi generasi muda

bahkan anak kecil agar membenci etnis rivalnya sehingga sikap permusuhan

diturunkan dari generasi ke generasi; sistem pendidikan sangat lemah dan tidak

menerima sumber daya yang cukup untuk bergerak; sistem politik sangatlah tidak

69
70

stabil dan secara umum moral masyarakat sangat buruk dan korup

(WOSM,2007a:36). Hal ini menyebabkan generasi muda menjadi korban utama

dari situasi ini, khususnya para generasi muda yang telah kehilangan anggota

keluarganya dalam konflik. Seringkali banyak dari generasi muda ini membentuk

kelompok-kelompok kecil untuk mempertahankan hidup mereka sendiri.

Kelompok ini terlibat dalam banyak kegiatan antisosial, dunia narkotik dan

prostitusi sehingga tidak aneh bila banyak dari mereka dipenjarakan. (WOSM,

2007a:36; Metropolis, 2008:17).

Untuk dapat membantu pasifikasi wilayah ini, WOSM berpendapat bahwa

cara yang paling efektif ialah dengan memberikan pendidikan dan penyuluhan

mengenai perdamaian pada generasi muda. WOSM menilai bahwa pasifikasi

wilayah Great Lakes mampu dicapai dengan memberikan pendekatan pada kaum

muda. Karena selain mayoritas penduduk di wilayah Great Lakes merupakan

generasi muda, mayoritas masyarakat yang menjadi korban konflik dan tragedi

kemanusiaan ini adalah kaum muda. Dan yang menyedihkan, para penggagas dan

pelaku kejahatan kemanusiaan juga didominasi oleh kaum muda. Namun generasi

muda dari tiga negara di wilayah Great Lakes dapat juga dijadikan aktor utama

perdamaian bila diarahkan dengan benar. WOSM berpendapat bahwa generasi

muda mampu membuka tembok-tembok penghalang komunikasi antar kelompok,

melawan stereotip etnis, dan bekerja sebagai aktor utama dalam membangun

perdamaian melalui sistem relawan (Cervo, 2007:3).

Pendidikan non-formal melalui kepramukaan dipilih oleh WOSM untuk

membantu upaya pasifikasi wilayah Great Lakes. Pendidikan non-formal tidak


71

hanya dapat menjadi alat untuk mengelola konflik, namun juga untuk memainkan

peranan vital dalam mentransformasi konflik kearah perdamaian dengan jalan

memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai toleransi dan membangun

pemahaman terhadap kelompok atau etnis lain, serta mempromosikan rekonsiliasi

dengan jalan memberikan ide dan sumbangsih kemampuan individu demi

terciptanya perdamaian (Cervo, 2007:3). Dengan melakukan kegiatan-kegiatan

pendidikan perdamaian terhadap kaum muda, diharapkan mampu memotong mata

rantai kekerasan yang mendominasi wilayah Great Lakes (Amahoro Project,

2007:3).

Tentunya tujuan akhir pasifikasi dan perdamaian di wilayah ini tidak dapat

dicapai dalam satu atau dua tahun saja. Membutuhkan waktu yang cukup panjang

untuk dapat mencapai perdamaian yang utuh di wilayah Great Lakes. Namun

dengan adanya program dari kepramukaan dunia di wilayah Great Lakes ini

diharapkan mampu terciptakan kelompok-kelompok generasi muda yang mampu

menjadi multiplier dan juga dalam mediator di tingkat bawah sehingga mampu

meredam konflik di tingkat bawah yang bagaikan api dalam sekam (Republika,

2005) dan mampu mencegah eskalasi konflik ke tingkatan yang lebih tinggi.

Tujuan akhir yang ingin dicapai yakni pasifikasi wilayah mampu terpenuhi secara

bertahap melalui kontak langsung antara generasi muda dengan masyarakat

ditingkat bawah yang dimulai dari lingkungan bertetangga, komunitas lokal dan

bertahap hingga ke nasional (Cervo, 2007:3). Secara garis besar tindakan WOSM

di wilayah Great Lakes dibagi dalam dua tahapan. Tahapan yang pertama adalah

tahapan penanggulangan dampak konflik yang dilakukan pasca konflik dan


72

tahapan yang kedua adalah pendidikan perdamaian melalui program Amahoro

Amani.

B. Penanggulangan dan Pemulihan Pasca konflik di wilayah Great Lakes

Tindakan tanggap darurat pertama yang dilakukan WOSM adalah dengan

mengadakan pertemuan bersama antara beberapa pembina Pramuka, akademisi

dan kelompok advokat generasi muda yang berasal dari beberapa negara di

wilayah Great Lakes yang memiliki kesamaan visi untuk menangani

permasalahan kemanusiaan pasca konflik dan juga untuk menciptakan perdamaian

di wilayah tersebut di Bujumbara pada 10-14 Juni 1996 (WOSM, 2007:36).

Dalam pertemuan tersebut disimpulkan bahwa generasi muda adalah korban dari

konflik yang tidak pernah berhenti dan generasi muda juga merupakan aktor yang

dimanipulasi oleh orang dewasa untuk terjun dalam konflik (WOSM, 2007:38).

Dari pertemuan itu lahirlah sebuah pakta perjanjian bersama yang

dinamakan "The Charter for Peace Scouts of the Great Lakes" (CPSGL). Pakta

CPSGL ini kemudian dibawa ke tingkat Konferensi Pramuka Dunia (World Scout

Conference) ke-34 di Oslo pada tanggal 8-12 Juli 1996, Norwegia. Pakta ini

kemudian mendapatkan dukungan suara penuh dari peserta konferensi dan

diadopsi ke dalam resolusi World Scout Conference nomor 13/96, dimana resolusi

tersebut tidak hanya memberikan mandat kepada WOSM namun juga kepada

seluruh National Scout Organizations/ Organisasi Kepramukaan Nasional (NSO)

untuk turun langsung ke Great Lakes dan memberikan kontribusi terhadap

perdamaian di wilayah tersebut (WOSM, 2007:38).


73

WOSM bersama tujuh asosiasi nasional kepramukaan di tiga wilayah di

Great Lakes yakni Burundi, Kongo dan Zaire membentuk sebuah wadah

kerjasama bernama “Concertation des Scouts des Grands Lacs / Consultation

Scouts Great Lakes” atau CSGL yang menjadi salah satu wadah kerjasama yang

berani turun tangan secara langsung ke lapangan untuk memberikan pendidikan

perdamaian dan bantuan darurat kepada korban konflik (Murhandikire, 2007:47).

Pembentukan CSGL dan kegiatan-kegiatannya ini merupakan sebuah tonggak

awal lahirnya program Amahoro Amani dikemudian hari.

B.1 Bentuk Kegiatan Penanggulangan Pasca Konflik

Terdapat dua bentuk kegiatan penanggulangan pasca konflik yang

dilaksanakan WOSM melalui CSGL. Pertama ialah bantuan kemanusiaan tanggap

darurat secara teknis yang merata di tiga negara di wilayah Great Lakes, dimana

wilayah-wilayah yang terkena dampak paling parah diprioritaskan. Bentuk

bantuan yang diberikan di antaranya, yakni; bantuan makanan, suplai darah, obat-

obatan serta pembangunan kembali jembatan yang yang menjadi penghubung

antar desa. Dukungan dana didapatkan WOSM dari dana kemanusiaan atau scout

solidarity funding yang merupakan iuran dari NSO anggota-anggota WOSM

(Murhandikire, 2007:47).

Kedua ialah dengan melakukan recovery sosial berupa pendidikan

perdamaian, terutama terhadap generasi muda. Terdapat tiga trilogi pendidikan

perdamaian yang digunakan WOSM melalui CSGL, yakni: perdamaian-

pendidikan-pembangunan. Dengan menggunakan konsep perdamaian, WOSM

berupaya membimbing generasi muda baik pramuka maupun non-pramuka


74

menjadi pasifikator dan aktor pembawa pesan perdamaian menuju pemulihan

nilai-nilai kemanusiaan dengan membantu mereka untuk mengembangkan etika

toleransi, keadilan dan hidup berdampingan dengan damai serta demokrasi, juga

membantu kaum muda untuk ikut serta berperan aktif dalam komunitas yang

konstruktif. Mereka dilatih untuk mengorganisir perkemahan, jambore, seminar

mengenai perdamaian dan membangun kembali komunitas dan fasilitas umum

dengan tujuan untuk merevitalisasi prinsip-prinsip hidup berdampingan secara

damai, memberikan pendidikan manajemen konflik, dan konsep-konsep menarik

lainnya yang mendukung tujuan jangka panjang untuk menciptakan perdamaian di

Great Lakes (Murhandikire, 2007:40).

Konsep yang kedua yakni pendidikan, digunakan WOSM untuk

mengembangkan komunikasi dan saling berbagi informasi untuk mengurangi

kesalahpahaman. WOSM berupaya untuk mengembangkan keterampilan pada

pemuda khususnya dalam menganalisa informasi serta berbagi informasi dalam

semangat keterbukaan; membantu generasi muda membawa pandangan baru

kepada masyarakat yang mencerminkan pemikiran kritis mereka;

Sedangkan melalui konsep pendidikan perdamaian berbasis budaya,

WOSM berusaha untuk memperkuat hubungan antar pemuda di Great Lakes

melalui pertukaran pemuda dan pentas budaya; Mempromosikan hidup

berdampingan secara damai dan belajar menerima perbedaan melalui

pengorganisiran kegiatan bersama diantara suku yang berbeda, baik di tingkat

lokal, nasional dan internasional, serta dengan cara membuka kegiatan Pramuka
75

dengan generasi muda lainnya untuk mempromosikan pertukaran ide tanpa

memandang asal-usul (Murhandikire, 2007:40).

C. Pelaksanaan Program Amahoro Amani

C.1 Latar Belakang dan Tujuan Program Amahoro Amani

Setelah melakukan program penanggulangan dan pemulihan pasca

konflik yang telah berhasil menurunkan eskalasi konflik dalam kurun waktu yang

cukup lama di Great Lakes, pada tahun 2004 konflik kembali bereskalasi ke

tingkatan yang tinggi dan mencemaskan. Walaupun organisasi internasional telah

berhasil mendorong terbentuknya pemerintahan di wilayah itu dengan sistem

sharing power antar suku yang bertikai, baik di Burundi, RDK maupun Rwanda,

namun pemerintahan sharing power tersebut belum membawa perubahan

seutuhnya. Di RDK, pemerintahan transisi masih dibayang-bayangi oleh saling

ketidakpercayaan, ketidakpuasan yang ada di masyarakat serta pertentangan antar

kelompok. Terlebih dengan memanasnya suasana di perbatasan antara RDK

dengan Uganda dan Rwanda (Human Right Watch, 2005:115 ; Marina Rafti,

2006:11).

Negara tetangga RDK, Burundi, juga mengalami hal yang serupa.

Walaupun kondisi yang relatif damai dapat dirasakan oleh penduduk di wilayah

ibukota, namun pada wilayah perbatasan luar ibukota terjadi perang yang cukup

meresahkan antara kelompok Angkatan Bersenjata Burundi yang berkoalisi

dengan Pasukan Pertahanan untuk Demokrasi atau Forces for the Defense of

Democracy (FDD) yang berkoalisi dengan pemerintahan melawan pemberontak

Pasukan Pembebasan Nasional atau National Liberation Forces (FNL).


76

Sedangkan di Rwanda, pasukan RPF pasca memenangkan pemilu pada 2003

semakin mendapatkan “keleluasaan” melaksanakan aksinya menangkap,

mengintimidasi, dan mengobarkan ketakutan pada suku musuhnya. Bahkan pada

tahun 2004 RPF menyerang kelompok sipil, organisasi-organisasi, gereja dan

bahkan sekolah yang dicap menyebarkan “paham genosida” (Human Right

Watch, 2005: 150; Stijn De Reu, 2004: 11 ).

WOSM menyadari bahwa:

“The return to peace will be precarious if the causes of the violence are not
eradicated, particularly the prejudice that is currently well anchored
within the various social strata of the countries of the sub-region. Indeed,
politicians exploit this prejudice to remain in power. Parents incite their
children against the children of others, encouraging prejudice and
stereotypes. The wars between these countries have developed a
chauvinistic mentality among the population. These young people, though
actively involved in the violence, can also become a precious resource for
promoting lasting peace in the region, if we commit to involving them
positively in the peace process. (Kembalinya perdamaian akan sulit jika
penyebab kekerasan tidak diberantas, terutama prasangka buruk yang saat
ini telah tertanam pada berbagai strata sosial dari negara-negara di region
tersebut. Para politisi memang mengeksploitasi perasaan prasangka buruk
ini agar tetap berkuasa. Para orangtua menghasut anak-anak mereka
terhadap anak suku lain, menganjurkan prasangka buruk dan stereotip.
Perang antara negara-negara tersebut telah mengembangkan mentalitas
chauvinis diantara para penduduk. Generasi muda ini meskipun secara aktif
terlibat dalam kekerasan, juga bisa menjadi sumber yang berharga untuk
mempromosikan perdamaian abadi di wilayah tersebut, jika kita
berkomitmen untuk melibatkan mereka secara positif dalam proses
perdamaian.) (Project Amahoro, 2007: 3)

Berdasarkan pengalaman yang didapatkan WOSM melalui CSGL, pada

tahun 2005 WOSM menggandeng beberapa pihak lokal dan internasional untuk

bekerjasama dalam sebuah program bernama Amahoro Amani. Kata Amahoro

diambil dari bahasa Kinyarwanda dan Kurundi yang berarti Perdamaian;

sedangkan Amani adalah bahasa Kurundi yang juga berarti Perdamaian (Cervo,
77

2007:1). Ini merupakan salah satu program yang dihimpun dalam gerakan

Scouting for Peace sebagai sebuah persembahan kepada dunia dan untuk

memperingati 100 tahun berdirinya kepramukaan di dunia yang bertujuan

menciptakan perdamaian secara utuh di masa depan.

Program Amahoro Amani secara Resmi dibentuk di Jenewa pada Oktober

2005. Dalam melaksanakan program Amahoro Amani ini, WOSM bekerjasama

dengan Asosiasi Pandu dan Pramuka Putri Dunia atau World Association of Girl

Guides and Girl Scouts (WAGGGS), tujuh organisasi kepramukaan dan

kepanduan putri dari RDK, Rwanda dan Burundi; Carpe Vitam Foundation

(Wallenberg Foundation), Catholic Foundation against Hunger and Development

CCFD / Perancis, serta organisasi kepramukaan dari negara lain yang juga turut

membantu pendanaan yakni Scouts and Guides of France, Scouts and Guides of

Flanders, AGESCI (Association of Catholic Guides and Scouts of Italy) dan juga

Advice Swedish Guides Set Scouts. (European Youth Forum, 2009: 35;

Murhandikire, 2010 ). Program Amahoro Amani ini secara resmi diluncurkan pada

bulan Oktober 2005 dan berakhir pada Oktober 2007.

Isu perdamaian di wilayah Great Lakes tidak secara simple terbatas hanya

pada isu perang-damai saja, mengingat dimana-mana muncul kekerasan baik

secara terbuka maupun tersembunyi sebagai efek sekunder dari perang dan

ketegangan antar suku. Pendidikan perdamaian yang ditawarkan oleh WOSM

secara spesifik ditujukan pada manajemen konflik dan memerangi prasangka serta

stereotip buruk yang telah tertanam dalam benak generasi muda melalui upaya

deliberasi mempromosikan pendidikan perdamain di wilayah Great Lakes lewat


78

sekolah, regu pramuka, tempat kerja, taman, di jalanan, melalui media dan lain-

lain. (The Amahoro Project, 2007:6).

Secara umum, tujuan program Amahoro Amani adalah: dalam rentang

waktu dua tahun dapat memobilisasi dan mengajak beberapa ribu generasi muda

yang berada di jantung populasi konflik untuk ikutserta dalam sebuah kegiatan

bersama dimana didalamnya diajarkan nilai-nilai toleransi dan pembelajaran

untuk menolak prasangka buruk pada diantara generasi muda yang berbeda suku

dan menginspirasikan kepada generasi muda untuk memberikan kontibusi nyata

untuk terwujudnya sebuah perubahan sosial dan pada akhirnya membawa sebuah

kedamaian abadi di wilayah Great Lakes (The Amahoro Project, 2007: 6).

Sedangkan tujuan secara spesifiknya adalah: Pertama, untuk melatih 420 mediator

komunitas yang memiliki kompetensi untuk memberikan kontribusi terhadap

perubahan sosial komunitas mereka dengan jalan membawa rekan-rekannya

sesama generasi muda untuk mempromosikan perdamaian dan pembangunan

komunitas. Kedua, meletakkan sebuah sistem pendidikan yang permanen dalam

usaha mendukung dan melatih mediator komunitas. Dan terakhir adalah untuk

menguatkan, mengkonsolidasikan dan mengevaluasi pengalaman dari para

mediator komunitas pada tingkatan regional dan internasional demi terciptanya

pendidikan perdamaian berkesinambungan di masa depan (The Amahoro Project,

2007:6).

Tentunya tujuan akhir yakni pasifikasi dan perdamaian tidak dapat dicapai
dalam satu atau dua tahun saja. Namun dengan adanya program dari kepramukaan
dunia di wilayah ini diharapkan mampu terciptakan kelompok-kelompok generasi
muda yang mampu menjadi multiplier dan mediator, sehingga mampu meredam
79

konflik di tingkat bawah yang bagaikan api dalam sekam (Republika, 2005) dan
mampu mencegah eskalasi konflik ke tingkatan yang lebih tinggi.
C.2 Pembentukan Kepengurusan Program Amahoro Amani

Struktur kepengurusan program Amahoro Amani terdiri dari Komite

Manajemen, Komite Internasional untuk Kerjasama, Tim Eksekutif, Pelatih

Mediator Komunitas, 420 mediator (lihat lampiran 4). Komite Manajemen terdiri

dari perwakilan pengurus pramuka dari 7 organisasi kepramukaan dan juga

kepanduan putri yang bekerjasama dengan WOSM dan WAGGS. Tugas utamanya

adalah menetapkan strategi dan mempromosikan program, mereka bertemu dua

kali dalam setahun. Komite Internasional untuk kerjasama terdiri dari perwakilan

organisasi internasional yang ikut serta membantu program Amahoro Amani;

mereka bertugas menggalang dana, memberikan saran teknis; pertemuan diadakan

satu tahun sekali.

Kemudian terdapat Tim eksektif yang terdiri dari Program Direktur, tujuh

relawan perdamaian, dan seorang Direktur Keuangan yang bertugas

mengimplementasikan program di lapangan. Lalu ditingkat lapangan juga terdapat

kelompok pelatih yang bertugas memberikan pendidikan perdamaian kepada 420

(empat ratus dua puluh) mediator komunitas. Empat ratus dua puluh orang inilah

yang kemudian masing-masing diberikan tugas untuk membentuk klub-klub

perdamaian dan rekonsiliasi di daerah kantong-kantong konflik.

C.3 Wilayah yang diajangkau program Amahoro Amani

Wilayah konsentrasi kegiatan Amahoro Amani ini menyebar di tiga negara

dan difokuskan pada area-area kantong-kantong konflik serta area perbatasan

yang sangat rentan terhadap permasalahan transnasional. Berdasarkan dokumen


80

The Amahoro Project (2007:4), wilayah-wilayah konflik yang dijangkau program

Amahoro Amani adalah: Burundi, RDK dan Rwanda.

Di Burundi sendiri, Amahoro Amani terpusat di wilayah Bujumbara,

Muyinga, Bururi, Gitega, Makamba, Karesidenan Bujumbara, Rutana, Chitoke,

dan Cyakuzo (lihat lampiran 5). Wilayah wilayah ini dipilih karena dianggap

sebagai wilayah yang paling berpotensi untuk menjadi sumber konflik karena

wilyah tersebut merupakan wilayah yang telah dikuasai oleh kelompok bersenjata

atau daerah yang dijadikan tempat pengungsian bagi korban perang, atau daerah

dimana korban perang sipil di Burundi dibunuh secara massal.

Di Republik Demokratik Kongo (RDK), Amahoro Amani terpusat di dua

region yakni wilayah region Kivu Utara dan Kivu Selatan yang terkenal selama

ini selalu berada dalam yang sangat labil. Dikuasai oleh kelompok-kelompok

pemberontak Mai-mai (Kelompok militan yang memaksa remaja laki-laki dan

wanita menjadi tentara ), Banyamulenge (Sebuah istilah kuno untuk suku Tutsi

Rwanda yang mendiami Kivu Selatan ) dan Interahamwe (Kelompok yang

menyerang bersama-sama ). Wilayah ini telah menjadi saksi hidup kekerasan

antar-etnis yang cukup kejam. Selain itu juga beberapa kota diatas telah menjadi

pusat penampingan pengungsi dan korban perang. Di Kivu Utara, kota-kota yang

dijangkau Amahoro Amani adalah wilayah Beni, Lubero, Kanyabayonga, Masisi

dan Goma. Sedangkan di Kivu selatan adalah kota Uvira, Walungu, Kalehe, Fizi,

Mwenga, Bukavu) (lihat lampiran 6).

Sedangkan di Rwanda, Amahoro Amani terpusat di wilayah Kibungo,

Gikongoro, Umutara, Ruhengeri, Cyangugu, Butare, Kigali dan Gisenyi. Wilayah


81

tersebut adalah wilayah dimana penduduknya sedang mengungsi ke Burundi dan

Uganda akibat daerah-daerah itu menjadi pusat kekerasan atau menjadi lokasi-

lokasi utama terjadinya Genosida atau kekerasan di Rwanda (lihat lampiran 7).

Dengan luasnya persebaran wilayah yang disentuh oleh program Amahoro Amani

di ketiga negara tersebut, diharapkan dapat menurunkan eskalasi konflik dan

dapat membawa perdamaian secara meluas di wilayah Great Lakes ini.

C.4 Implementasi dan Realisasi Program Amahoro Amani

WOSM melakukan berbagai macam tindakan untuk mempromosikan

perdamaian serta menggunakan berbagai macam konsep dalam memberikan

pendidikan perdamaian. Semua tindakan dan konsep ini merupakan sebuah

pengembangan berdasarkan pengalaman yang didapatkan WOSM melalui CSGL

saat melaksanakan kegiatan tanggap bencana kemanusiaan dan setelah melalui

sebuah proses kajian yang cukup panjang (lihat lampiran 8)

Dalam tindakan WOSM melakukan pasifikasi wilayah melalui Amahoro

Amani, WOSM menawarkan konsep dan kegiatan yang didesain secara khusus

agar mudah diadopsi oleh masyarakat Tutsi dan Hutu di wilayah Great Lakes dan

agar mampu secara spesifik memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Dalam

upaya mengidentifikasi sumber permasalahan terkait dengan intoleransi antar

suku untuk menemukan sebuah solusi, WOSM melakukan pengkajian secara

sosilogis dan psikologis dan dengan memperhatikan kearifan local (Cervo,

2007:2). WOSM menyimpulan bahwa cara paling efektif untuk mempromosikan

perdamaian serta pasifikasi wilayah adalah dengan pendidikan non formal karena

bila dibandingkan dengan pendidikan formal, maka pendidikan non-formal


82

memiliki beberapa kelebihan ketika diimplementasikan terhadap konflik Great

Lakes. Kelebihan tersebut antara lain: Pertama, mampu memberikan solusi yang

mampu menjawab dan memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar serta mampu

memahami kebutuhan yang berbeda dari setiap komunitas; Kedua mampu

mencakup seluruh area intrapersonal dari seorang individu; Ketiga, menggunakan

metode partisipasi agar mampu mensintesiskan antara teori dan kenyataan

dilapangan sehingga dapat dicari solusi bagaimana mengimplementasikannya;

Keempat, terdapat kearifan lokal serta masukan dari anggota komunitas terhadap

desain dan implementasi dari program pendidikan; Dan terakhir, memiliki dampak

yang kuat terhadap partisipasi politik yang aktif sebagai langkah awal

membangun sistem yang demokratis. (Cervo, 2007: 3-4)

Dalam konflik ini WOSM menawarkan sebuah pendidikan perdamaian

non formal melalui kepramukaan yang dianggap mampu memainkan peranan vital

dalam mengtransformasi konflik. Pendidikan perdamaian diusung oleh pramuka

karena pramuka lebih mudah diterima oleh komunitas di wilayah konflik tersebut.

Menurut Murhandikire, pramuka dikenal dengan: “…their political neutrality and

peace messages they dissemenated…” (kenetralan mereka secara politis dan pesan

perdamaian yang disebarluaskan oleh mereka). Berikut akan dijelaskan mengenai

bentuk kegiatan dan metode yang digunakan WOSM dalam upaya

mempromosikan perdamaian dan pasifikasi wilayah Great Lakes. Bentuk kegiatan

dan metode akan dijelaskan dibawah ini secara individual sesuai dengan tujuan

spesifik yang akan dicapai.


83

Selain itu, hal ini juga dikarenakan kegiatan pendidikan non-formal

mengenai perdamaian tersebut tidak hanya dapat menjadi alat untuk mengelola

konflik, namun juga untuk memainkan peranan vital dalam mentransformasi

konflik kearah perdamaian dengan jalan memberikan pemahaman kepada

masyarakat mengenai toleransi, membangun pemahaman terhadap kelompok atau

etnis lain, serta mempromosikan rekonsiliasi dengan jalan memberikan ide dan

sumbangsih kemampuan individu demi terciptanya perdamaian (Cervo, 2007:3).

Sehingga pada akhirnya kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan mampu memotong

mata rantai kekerasan yang mendominasi wilayah Great Lakes (Amahoro Project,

2007:3) dan tercapainya pasifikasi di wilayah tersebut.

Para pemuda yang menjadi aktor dalam konflik tersebut juga dapat

menjadi aktor bagi sebuah perubahan di wilayah itu, apakah perubahan yang lebih

baik atau lebih buruk, tergantung pada bagaimana mereka dilatih atau

dimanipulasi oleh orang dewasa. (The Amahoro Project, 2007:5). Para pemuda

tersebut juga diyakini dapat secara mudah dilatih untuk menjadi pekerja bagi

perdamaian, dengan syarat apabila mereka memahami nilai saling berbagi,

keberagaman, saling menghormati, toleransi dan tentu saja diberikan kesempatan

bersama rekan-rekan sesama generasi muda lainnya yang berasal dari kelompok

etnis, suku, dan keluarga yang berbeda dalam beragam kegiatan yang

mempromosikan perdamaian, rekonsiliasi dan toleransi. Dengan cara ini, ketika

generasi muda ini beranjak dewasa, mereka diharapkan akan memiliki

kemampuan untuk bekerjasama dalam menyelesaikan isu-isu dan permasalahan


84

utama dalam bidang sosial yang terdapat di masyarakat dan mampu bekerjasama

dengan kelompok lain tanpa mengedepankan prasangka buruk.

C.4.1 Melatih 420 Mediator Komunitas

Untuk mencapai tujuan spesifik ini, WOSM melalui program Amahoro

Amani melatih 420 orang generasi muda dengan usia antara 15-25 tahun yang

akan dilatih menjadi mediator pedamaian didalam komunitas mereka, yang

mampu memerangi prasangka buruk antar etnis dan membantu komunitas untuk

mengelola konflik menggunakan cara-cara non kekerasan, dan juga bertidak

sebagai multiplier yang mampu mengajak para generasi muda lainnya, baik

pramuka maupun non pramuka, serta masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan

yang menentang kebencian ras dan kekerasan di wilayah Great Lakes (The

Amahoro Project , 2007: 6-9) . Berikut akan dijelaskan lebih mendalam mengenai

peran mediator, aktifitas mediator serta sistem rekrutmen dan pelatihan mediator.

C.4.1.1 Peran Utama Mediator Komunitas

Mediator komunitas yang terdiri dari 420 orang ini memiliki peranan

khusus yakni, sebagai berikut: (Project Amahoro,2007:7): Pertama,

mengidentifikasi penyebab konflik dan kekerasan dan untuk memerangi

prasangka buruk antar etnis yang ada di komunitas mereka masing-masing.

Kedua, memberikan pengetahuan kepada anggota komunitas mereka mengenai

penyebab dan akar konflik di negara mereka dan membuat mereka semakin sadar

bagaimana cara mengelola konflik secara damai. Ketiga, mengetengahi situasi-

situasi konflik dengan menggunakan dialog, negosiasi atau mediasi. Terakhir,

berusaha agar setiap mediator mampu melatih setidaknya 50 orang generasi muda
85

usia 15-25 tahun yang mampu menjadi agen perdamaian dengan cara memberikan

mereka input mengenai dampak buruk dari konflik, memberikan mereka motivasi

dan alasan untuk memerangi prasangka buruk dan kekerasan antar etnis dan juga

mengajak mereka secara aktif untuk dapat memberikan pelayanan terhadap

komunitas.

C.4.1.2 Aktifitas Mediator Komunitas

Dalam rangka mewujudkan tujuan program Amahoro Amani , para

mediator komunitas memiliki beberapa aktifitas. Aktifitas utama sebagaimana

dideskripsikan dalam dokumen The Amahoro project. Aktifitas utama mereka

adalah (2007:6): Pertama, mediator komunitas mengorganisir kegiatan awareness

campaigns (kampanye kesadaran) di tempat-tempat umum, sekolah dan berbagai

fasilitas umum lainnya yang mentargetkan generasi muda dan masyarakat umum.

Awareness campaign ini mengusung beberapa tema yaitu hidup berdampingan

secara damai; menolak prasangka buruk antar etnis; mengutuk genosida. Adapun

tema-tema tersebut dikemas dalam berbagai macam kegiatan seperti :Pertunjukan

drama, pembacaan puisi dan permainan tradisional di tempat umum; Malam

kebudayaan; dan Kegiatan Olahraga.

Kedua, setiap mediator komunitas ditugaskan untuk mempersiapkan dan

mengurus sesi-sesi seminar di berbagai wilayah yang bertujuan untuk mengajak

generasi muda menjadi agen perdamaian. Pada akhir dari seminar itu, para

generasi muda akan diajak untuk bersama-sama membuat sebuah kesepakatan

dimana mereka berjanji untuk menghormati martabat semua orang, menolak

kebencian antar suku, dan mengadopsi praktek-praktek serta prinsip-prinsip


86

penyelesaian masalah secara damai dalam komunitas mereka. Setelah kegiatan

seminar ini, setiap peserta akan menerima kartu identitas sebagai “agen

perdamaian” dan menjadi anggota klub perdamaian dan rekonsiliasi, serta setiap

peserta diharapkan mampu menjadi multipler yang bekerjasama dengan dewan

adat komunitas mereka untuk mempromosikan perdamaian dan pembangunan

komunitas serta mengedepankan cara-cara damai dalam mengatasi dan mengelola

konflik.

Selain aktifitas utama tersebut, para mediator komunitas beberapa aktifitas

lain. Aktifitas lain tersebut adalah (The Amahoro Project, 2007:7): Pertama,

menghadiri secara rutin pertemuan-pertemuan komunitas Intahe di Burundi,

Gacaca di Rwanda dan Baraza di RDK9. Setelah ikutserta dalam rapat adat

tersebut, mereka mampu mengumpulkan informasi serta melakukan investigasi

mengenai jenis-jenis konflik serta penyebabnya yang ditemui di tingkatan grass

root; Kedua, mengorganisir berbagai sesi debat, dialog dan pertemuan atau

seminar dengan generasi muda lainnya yang membahas mengenai konflik-konflik

yang terjadi di masyarakat serta mengangkat berbagai tema dalam kegiatan

dengan pemuda semisal solidaritas, saling menerima dan

harmoni dalam keragaman. Kesemua kegiatan ini mengambil lokasi di berbagai

tempat umum semisal sekolah, Sekolah asrama / Boarding

School, tempat hiburan dan lain-lain; Ketiga, mengorganisir kegiatan untuk

memberikan dukungan moral dan material bagi korban konflik dan masyarakat

9
Intahe, Gacaca dan Baraza adalah nama-nama yang digunakan untuk mendskripsikan dewan
tetua adat di daerah Burundi, Rwanda dan wilayah Timur RDK.
87

yang membutuhkan (tahanan, korban luka, dll) melalui media klub perdamaian

dan rekonsiliasi. Dukungan moral dan material ini diberikan dalam bentuk

pendistribusian makanan dan pakaian, mengunjungi korban perang, pengungsi

dan tahanan, kegiatan edukatif untuk anak-anak korban perang serta memberikan

sumbangan darah secara sukarela; dan terakhir melakukan reboisasi wilayah yang

ditempati para pengungsi , memerangi HIV/AIDS, membangun rumah tinggal

bagi manula, penyandang cacat dan korban luka, serta membuat komunitas,

khususnya generasi muda makin menyadari pentingnya sikap positif dan saling

toleransi di masyarakat.

C.4.1.3 Rekrutmen Mediator Komunitas

Melihat tugas yang berat dan peranan penting mediator komunitas

sebagaimana telah dideskripsikan diatas, maka diperlukan mediator komunitas

yang kompeten dan memiliki skill serta keberanian yang cukup tinggi untuk dapat

masuk ke wilayah-wilayah kantong-kantong konflik dan melakukan kegiatan

sebagaimana dijelaskan diatas. Untuk itu, WOSM menetapkan sebuah persyaratan

yang cukup tinggi serta sistem seleksi yang ketat dalam sistem perekrutannya.

Adapun beberapa syarat bagi seorang pramuka untuk dapat menjadi mediator

komunitas sebagaimana dijelaskan dalam dokumen The Amahoro Project (2007)

adalah :

- Berusia antara 15-25 tahun;


- Telah ikut serta dalam aktivitas mempromosikan perdamaian sebelumnya,
dan kandidat itu merupakan penduduk lokal diwilayah yang menjadi
sasaran program Amahoro Amani;
- Memahami ancaman-ancaman yang berpotensi menjadi konflik di
wilayahnya; telah sebelumnya ikutserta dalam kegiatan pembangunan
komunitas; mampu mengidentifikasi kelompok yang rentan terkenda
88

dampak konflik serta kelompok yang rentan ikutserta dalam konflik;


mampu melakukan presentasi publik serta telah mendapatkan penilaian
baik dari lingkungan sekitarnya karena cinta damai. (7-8)
Seluruh 420 mediator komunitas ini diambil dari wilayah yang berbeda di

RDK, Burundi dan Rwanda dengan perincian sebagai berikut: Burundi 140 orang

dari 3 wilayah geografis yang berbeda; Rwanda 120 Orang dari 3 wilayah yang

berbeda; RDK South Kivu dan North Kivu masing-masing 80 orang dari 2

wilayah yang berbeda. Beragamnya latar belakang para mediator komunitas

adalah sebuah langkah inovatif dari WOSM yang memiliki tujuan utama agar para

mediator komunitas ini lebih mudah dan cepat diterima masyarakat dan komunitas

lokal dibandingkan harus menggunakan sukarelawan yang berasal dari luar yang

belum tentu mendapatkan reaksi yang sama dari komunitas yang menjadi target

program Amahoro Amani. Perekrutan diadakan pada bulan September 2005 dan

diawasi oleh kwartir nasional masing-masing negara.

C.4.1.4. Pelatihan Mediator Komunitas

Pada periode November-Desember 2005, langkah awal yang diambil

WOSM dalam mengimplementasikan program Amahoro Amani setelah merekrut

mediator komunitas adalah dengan memberikan pelatihan kepada para mediator

komunitas tersebut. Pelatihan akan diadakan di masing-masing negara dengan

supervisi dari CSGL dan menggunakan materi dan modul pelatihan yang sama.

Tujuan dari pelatihan ini adalah memberikan skill penting yang dibutuhkan para

mediator komunitas ini di lapangan. Skill atau kemampuan yang dikembangkan

adalah (The Amahoro Project 2007:8-9): Pertama, kemampuan untuk

mentransformasikan budaya kekerasan ke budaya perdamaian; kedua,


89

kemampuan untuk bernegosiasi dan melakukan mediasi pada situasi konflik;

ketiga, kemampuan untuk mengidentifikasi dan menganalisa gejala-gejala

intoleransi yang berkembang di masyarakat (stereotip, kebencian, diskriminasi,

menghina, pemisahan, tekanan pada kelompok tertentu, dsb) dan berupaya untuk

mencegahnya; keempat, kemampuan untuk merancang, mengelaborasi dan

menjalankan program-program kebudayaan; kelima, kemampuan untuk

mempersiapkan dan mengisi sesi pelatihan bagi agen-agen muda perdamaian; dan

terakhir yakni kemampuan untuk mempraktekkan beberapa hal dibawah ini yakni:

 Manajemen konflik secara damai

 Memberikan pendidikan pada sesama (melalui diskusi, permainan

simulasi, permainan peran)

 Merencanakan kegiatan

 Membagi pengetahuan mengenai teknik berbagi informasi, meningkatkan

kesadaran akan pentingnya perdamaian, komunikasi dan kerjasama untuk

menumbuhkan pemahaman dan solidaritas di kalangan generasi muda

sehingga pada akhirnya dalam jangka panjang mampu menekan hostility

yang selama ini terdapat diantara Hutu dan Tutsi.

Setelah mendapatkan pelatihan, para mediator komunitas ini disebar pada

bulan Januari 2006 ke daerah-daerah target program Amahoro Amani ini dan

dalam operasionalnya mendapatkan dukungan, supervisi dan bantuan pemenuhan

kebutuhan dari WOSM serta mendapatkan bimbingan dan bantuan secara

langsung dilapangan dari mentor-mentor mereka para pelatih mediator komunitas.


90

C.4.2 Melatih Pelatih Mediator Komunitas

Dalam upaya mendukung dan melatih mediator komunitas, dibutuhkan

pelatih mediator komunitas yang kompeten agar kelak mampu menghasilkan para

mediator komunitas yang memiliki kualifikasi yang baik serta dapat secara

optimal menggunakan pengetahuannya di komunitas sasaran program Amahoro

Amani. Untuk itu, WOSM menetapkan sebuah sistem pendidikan bagi pelatih

mediator komunitas. Berikut akan dijelaskan secara lebih rinci mengenai peran

pelatih mediator komunitas, materi pelatihannya, program pelatihannya dan

aktifitas para pelatih mediator komunitas.

C.4.2.1 Peran Pelatih Mediator Komunitas

Peran dari para pelatih mediator komunitas ini sebagaimana dideskripsikan

dalam The Amahoro Project adalah: Pertama, mempersiapkan dan menjalankan

pelatihan bagi mediator komunitas; kedua, melakukan supervisi dan mendampingi

aktifitas yang dilakukan kelompok-kelompok mediator komunitas; ketiga,

memberikan dukungan di lapangan pada mediator komunitas yang menjalankan

tugasnya; keempat, menjembatani dan memfasilitasi para mediator dengan kwartir

nasionalnya masing-masing dan terakhir memonitor aktivitas manajemen konflik

di area dimana mereka ditugaskan (The Amahoro Project, 2007:9).

C.4.2.2 Materi Pelatihan bagi Pelatih Mediator Komunitas

Untuk mempersiapkan para pelatih ini agar mampu bekerja secara optimal

dan mampu menghasilkan para mediator komunitas yang memiliki kualifikasi

tinggi, para pelatih ini telah terlebih dahulu mendapatkan pelatihan pula yang

intensif dengan materi pelatihan antara lain: memahami peran dan bagaimana
91

mengetahui tingkat ompetensi para mediator; memahami secara menyeluruh apa

peran para pelatih dalam program Amahoro Amani; mengetahui secara mendalam

mengenai konsep-konsep perdamaian universal; mengembangkan dan

mengoptimalisasikan kemampuan manajemen dan pencegahan konflik dari para

mediator; memaksimalkan kemampuan para mediator untuk melakukan intervensi

dalam situasi konflik melalui dialog, negosiasi, mediasi dan upaya

mengembalikan kedamaian; menggunakan pendidikan perdamaian sebagai

instrumen perlawanan kebencian etnis; dan memberdayakan komunikasi tanpa

kekerasan melalui cara-cara kebudayaan dan juga mendorong terjadinya

perubahan sosial (The Amahoro Project, 2007:9).

C.4.2.3 Program Latihan dan Aktifitas Pelatih Mediator

Komunitas

Pada bulan Oktober 2005, sebelum program Amahoro Amani resmi

diluncurkan, setiap kwartir nasional gerakan kepramukaan dan kepanduan putri di

tiga negara di wilayah Great Lakes telah mengirimkan para pelatihnya ke Bukavu

(RDK) untuk mendapatkan pelatihan sebelum mulai melatih para mediator

komunitas. Terdapat 40 orang pelatih dengan perincian sebagai berikut: Burundi

dan Rwanda masing-masing 12 orang pelatih, dan dari RDK sebanyak 16 pelatih

(masing-masing 8 dari South dan North Kivu). Mereka kemudian akan dilatih

oleh 7 orang relawan perdamaian dan pada bulan November 2005 mereka telah

memulai kegiatannya melatih para mediator komunitas di wilayah asalnya

masing-masing dan selanjutnya untuk tetap memberikan dukungan yang


92

dibutuhkan para mediator ini dalam menjalankan tugasnya. (The Amahoro

Project, 2007:9).

C.4.3 Mengevaluasi Mediator Komunitas

Setelah segala upaya dari mediator komunitas yang secara aktif dan

signifikan terjun langsung ke wilayah-wilayah konflik, diperlukan pula kegiatan

evaluasi dalam rangka menguatkan dan mengkonsolidasikan kegiatan-kegiatan

yang telah diupayakan selama ini. Adapun kegiatan evaluasi yang dilakukan

yakni sebagaimana dideskripsikan dibawah ini:

C.4.3.1 Pawai Perdamaian bagi Mediator Komunitas

Sebuah metode evaluasi telah didesain WOSM untuk memungkinkan

mengevaluasi dampak yang diberikan program Amahoro Amani melalui para

mediator komunitas terhadap masyarakat di tingkatan Grass Root. Kegiatan

pertama dilakukan dengan mengadakan hiking bersama yang dilakukan oleh para

mediator komunitas dari tiga negara pada bulan Juli 2006, yang menempuh rute

kurang lebih seratus kilometer. Dalam hiking ini, mereka mengunjungi tempat-

tempat yang menjadi target program Amahoro Amani. Sepanjang perjalanan

mereka mengkampanyekan perdamaian kepada seluruh orang yang mereka temui

dijalan dan mereka mengajak untuk menstimulus kembali perdamaian di Great

Lakes; setiap kali mereka berhenti di tempat sasaran program Amahoro Amani

mereka akan mengorganisir sesi saling berbagi untuk dapat mengetahui suka duka

serta berbagi pengalaman dan teknik yang mereka dapatkan serta praktekkan di

lapangan. Tujuan dari kegiatan pawai perdamaian ini adalah untuk saling berbagi
93

pengalaman dan memperkaya teknik para mediator komunitas, sehingga program

Amahoro Amani akan semakin efektif pada tahun berikutnya.

C.4.3.2. Pawai Perdamaian Internasional (International Peace

Rally Caravans)

Pawai perdamaian internasional ini adalah tahap akhir program Amahoro

Amani. Pawai perdamaian ini adalah sebuah kesempatan untuk

mengkonsolidasikan dan mengevaluasi kegiatan para mediator perdamaian di

komunitas dengan membandingkan hasil yang telah dicapai oleh kelompok-

kelompok yang berbeda di berbagai wilayah. Pada puncak pawai perdamaian ini,

dilaksanakan perkemahan besar yang dipusatkan di wilayah Bukit Bungere-Gitega

di Burundi pada 30 Juli-4 Agustus 2007 (International Gathering for

Amahoro,2007:1). Dalam puncak pawai ini turut serta 420 mediator komunitas,

delegasi dari organisasi internasional yang bekerjasama dalam Amahoro Amani,

pengurus program, 40 pelatih mediator komunitas, pramuka dari berbagai wilayah

diluar Afrika, serta generasi muda yang tergabung dalam berbagai klub

perdamaian dan rekonsiliasi bentukan para mediator komunitas, serta perwakilan

dari negara-negara lain.

Pawai perdamaian internasional ini dilaksanakan pada periode Juli-

Agustus 2007. Tahapan awal program dimulai di North Kivu kemudian berjalan

bersama-sama ke wilayah South Kivu, lalu masuk ke Rwanda dan Burundi.

Sepanjang perjalanan mereka juga mempromosikan pentingnya perdamaian dan

mengajak generasi muda serta masyarakat umum untuk ikut serta dalam kegiatan

mereka. Dalam perjalanan , lebih dari 750 Pemuda ikut bergabung dalam pawai
94

perdamaian dan ikut menempuh perjalanan hingga mengikuti puncak acara di

Burundi (Vanessa, 2007:2). Setiap kali rombongan beristirahat, maka akan

diadakan sesi Peace Gathering dengan masyarakat setempat. Program ini akan

diakhiri dengan deklarasi komitemen bersama para peserta untuk menjaga

perdamaian.

Selepas tahun 2007, program Amahoro Amani ini akan diadopsi oleh

masing-masing kwartir nasional gerakan kepramukaan dan kepanduan putri di

tiga negara tersebut. Dengan semakin memperkuat kerjasama dan dinamika antara

gerakan kepramukaan dan kepanduan putri di tiga negara tersebut, diharapkan

dimasa mendatang, tujuan akhir untuk mengembalikan perdamaian serta

pasifikasi wilayah dapat tercapai, karena sebenarnya upaya untuk membangun

perdamaian hanya dapat menghasilkan hasil yang baik ketika terdapat aksi-aksi

yang tersinergikan antara aktor-aktor yang berbeda dalam upaya kerjasama untuk

tujuan yang sama. WOSM berpendapat bahwa dengan kerjasama yang semakin

erat antara asosiasi kepramukaan dan kepanduan putri di tiga negara tersebut akan

dapat menghasilkan sebuah pemahaman yang utuh mengenai permasalahan di

wilayah Great Lakes dan kebijakan apa yang semestinya dikeluarkan oleh otoritas

pemerintahan untuk mendukung peranserta generasi muda dalam upaya

membangun perdamaian di wilayah Great Lakes. (Amahoro Amani Newsletter

September, 2007:4)

D. Hasil Program Amahoro Amani

Patokan keberhasilan dari program ini -selain diukur dari banyaknya agen

perdamaian dari generasi muda yang berhasil direkrut; banyaknya jumlah klub
95

perdamaian dan rekonsiliasi yang terbentuk dan secara rutin beraktifitas; serta

kegiatan banyaknya kegiatan bakti- juga diukur dari seberapa besar dampak yang

diberikan langsung kepada masyarakat umum ditingkatan grass root.

Dari sisi jumlah generasi muda yang berpartisipasi dalam program

Amahoro Amani, sebagaimana disebutkan oleh Murhandikire dalam wawancara,

didapatkan jumlah sebagai berikut pada akhir program Amahoro Amani pada

2007:

- Mediator Komunitas : 420 orang

- Pelatih Mediator : 40 orang

- Agen Perdamaian : 21.000 orang generasi muda

- Agen Perdamaian (Pramuka) : 35.000 orang

Murhandikire menambahkan, pada tahun 2009 jumlah total orang yang tergabung

dalam program lanjutan Amahoro Amani telah bertambah dengan rincian sebagai

berikut :

- Mediator Komunitas : 750 orang

- Pelatih Mediator : 75 orang

- Agen Perdamaian : 37.500 orang generasi muda

- Agen Perdamaian (Pramuka) : 60.000 Orang

Selain dari pertambahan agen-agen perdamaian baik dari generasi muda

maupun pramuka, terdapat pula perubahan ditingkat masyarakat. Perubahan

kearah yang lebih baik ini menjanjikan sebuah masa depan yang lebih baik dan

tentunya diharapkan dapat memenuhi tujuan jangka panjang program WOSM

tersebut disana, yakni pasifikasi wilayah dan terciptanya kembali perdamaian


96

yang abadi seutuhnya di wilayah Great Lakes. Walaupun dengan adanya program

Amahoro Amani ini tidak dapat secara langsung menyelesaikan konflik di wilayah

Great Lakes, namun melalui keberadaan program Amahoro Amani ini, telah

ditumbuhkan benih-benih perdamaian yang melakukan penetrasi jauh lebih

dalam dalam di tingkat Grass Root, khususnya pada generasi muda yang menjadi

populasi mayoritas di wilayah itu yang dalam beberapa tahun kedepan akan

memimpin wilayah itu. Melalui program Amahoro Amani dan program-program

lainnya, WOSM bersama organisasi koleganya telah memberikan sebuah nafas

dan harapan baru untuk kehidupan generasi muda (Murhandikire, 2007: 30-32).

Menurut Paula Cervo, Murhandikire dan Oxford Univeristy, pada tahun-

tahun pasca program Amahoro Amani dapat diamati beberapa perubahan positif

yang terjadi di masyarakat yang merupakan bibit perdamaian untuk masa depan.

Beberapa perubahan yang dapat diamati tersebut antara lain:

- Antusiasnya minat para orang dewasa dalam komunitas penduduk

lokal untuk bergabung dengan sesi-sesi yang diadakan para pelatih

mediator;

- Para pelatih mediator bersama dengan para mediator komunitas

mampu secara bertahap membantu komunitas untuk membangun

kembali komunitas mereka secara sosial;

- Keikutsertaan orang dewasa dalam kegiatan membangun perdamaian.

(Cervo, 11-12).

- Pasukan Pembebasan Nasional atau National Liberation Forces (FNL)

yang merupakan kelompok pemberontak terakhir yang tersisa di


97

Burundi mulai melucuti persenjataannya, karena selain mereka

mengalami kesulitan yang hebat dalam merekrut tentara baru-yang

pada umumnya mereka ambil dari generasi muda, mereka juga

didorong oleh masyarakat untuk meletakkan senjata dan ikut

berpartisipasi dalam pemilu dalam platform yang murni sipil.

- Di wilayah Kivu yang menjadi perbatasan RDK dan Rwanda, pasukan

FLDR juga mengalami kesulitan yang amat hebat dalam merekrut para

tentara baru, terutama yang berasal dari generasi muda. Bahkan jumlah

tentara mereka ,yang mayoritas juga berasal dari generasi muda, turun

lebih dari 50% atau ke kisaran angka 2500 personil saja. Komunitas di

wilayah Kivu telah cukup protektif terhadap para generasi muda dan

mulai melakukan perlawanan; demikian pula nasib yang dialami

kelompok bersenjata LRA (Lord Resistance Army), (Oxford analytica,

2009: 3-4)

- Berkurangnya secara drastis remaja yang bergabung dengan child

soldier, banyaknya remaja yang meninggalkan child soldier dan

meningkatnya dukungan komunitas untuk mencegah direkrutnya

generasi muda kedalam child soldier (Murhandikire).

Keseluruhan perubahan sebagaimana disebutkan diatas itu juga

diupayakan oleh berbagai program kerjasama organisasi internasional yang ingin

membantu penduduk di wilayah Great Lakes untuk mengembalikan perdamaian

di wilayah mereka. Namun diantara banyak program itu, Amahoro Amani

merupakan sebuah program yang menawarkan hal yang berbeda, tidak hanya
98

solusi darurat pada saat konflik, namun juga sebuah program yang menawarkan

sebuah prospek masa depan yang damai dan lebih baik bagi penduduk di wilayah

Great Lakes. Prospek ini hanya mampu dicapai dengan mengubah pola pikir

generasi muda yang mendominasi populasi di wilayah Great Lakes. Dengan

mengubah pola pikir dan pemahaman serta cara interaksi mereka terhadap suku

lain, diharapkan mampu membawa perdamaian yang abadi di wilayah Great

Lakes di masa depan.

E. Signifikansi program Amahoro Amani

Program Amahoro Amani yang dilaksanakan WOSM bersama koleganya

di wilayah Great Lakes tidak hanya dapat dipandang sebagai sebuah aksi

kemanusiaan dan kepedulian saja, melainkan juga sebagai sebuah aktifitas

diplomasi yang dilakukan oleh organisasi non-pemerintah demi menciptakan

perdamaian di sub-region Great Lakes. Ketika negara gagal memberikan

perlindungan dan kepastian hukum terhadap warganegaranya dan ketika negara

sedang berada dalam ketidakstabilan, political turmoil, dan perebutan kekuasaan,

maka kewajiban untuk melindungi atau responsibility to protect akan jatuh ke

tangan komunitas internasional untuk segera melakukan intervensi atas dasar

kemanusiaan (humanitarian intervention) sehingga tragedi kemanusiaan yang

lebih buruk dapat dicegah. Namun tidak semua aktor dalam komunitas

internasional dengan mudah mampu melakukan intervensi ini, terlebih para aktor-

aktor neg Amahoro Amaniara. Hal ini dikarenakan adanya prinsip state

sovereignty yang menjamin independensi suatu negara secara politis tanpa


99

dicampuri negara lain. (Asia-Pacific Centre for the Responsibility to Protect,

ND:1-13)

Ketika genosida, kejahatan perang, pembersihan etnis dan kejahatan

kemanusiaan terjadi di wilayah Great Lakes, PBB dan negara lain tidak dapat

dengan mudah masuk kedalam untuk membantu, walaupun alasan untuk

melakukan intervensi telah cukup kuat, namun hambatan politik, diplomatik dan

kedaulatan yang menghalangi upaya mereka. Disinilah WOSM sebagai NGO

memiliki sebuah kelebihan yang tidak dimiliki negara. Dengan menggunakan

diplomasi jalur kedua melalui masyarakat, WOSM yang tidak memiliki afiliasi

politik dengan pihak manapun memiliki sebuah keleluasaan untuk masuk ke

tingkat bawah dan WOSM mampu untuk secara efektif untuk melakukan kegiatan

penyaluran bantuan kemanusiaan serta secara langsung menyentuh masyarakat

melalui program-programnya. Pendekatan diplomasi WOSM yang lebih merakyat

dan personal membuat masyarakat lebih mudah menerima keberadaan mereka

dalam komunitas yang memiliki tensi yang tinggi. Segala aksi yang dilakukan

oleh WOSM melalui program-programya haruslah dipandang sebagai upaya

diplomasi yang dilakukan dari tingkat lokal untuk mendorong negosiasi,

perjanjian damai, serta de-eskalasi konflik di tingkatan nasional (SAIS, 2010;

Benny Susetyo, 2008:1).

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh WOSM di wilayah Great Lakes

yang digolongkan sebagai diplomasi track two dan diplomasi preventif ini dapat

dikatakan berhasil dan memberikan dampak yang cukup signifikan bagi prospek

perdamaian di wilayah Great Lakes di masa yang akan datang, Upaya diplomasi
100

yang dilakukan WOSM ini dapat dikatakan signifikan dan berhasil karena mampu

membuat penduduk dari komunitas berbeda yang dahulu bertikai mampu

mencapai saling pengertian dan bahkan bekerjasama dan berkegiatan bersama

dalam kegiatan Amahoro Amani. Dapat dikatakan bahwa dengan membuat kedua

pihak yang sebelumnya saling bertikai bertemu dan duduk bersama dalam sebuah

kegiatan, diplomasi yang dilakukan WOSM tersebut sudah bisa dianggap berhasil.

(SL Roy, 1991:19). Dalam perjalanan program Amahoro Amani ini, diplomasi

WOSM mampu dikatakan sebagai sangat berhasil karena banyak pihak-pihak

terkait dengan program ini walaupun berasal dari suku yang berbeda mampu

terpuaskan oleh keberadaan program Amahoro Amani ini.

Diplomasi preventif yang dilakukan WOSM juga tergolong sukses karena

walaupun belulm mampu memenuhi definisi mencegah terjadinya konflik di

seluruh wilayah, namun WOSM melalui Amahoro Amani telah berhasil mengubah

pandangan masyarakat sehingga mampu merubah secara bertahap pola pikir

mereka terhadap suku rivalnya. Walaupun beberapa konflik masih terjadi, namun

program Amahoro-Amani sedikit banyak membantu proses de-eskalasi

ketegangan di Great Lakes dengan menjaga agar ketegangan di wilayah tersebut

tidak menyebar keluar wilayah kantong-kantong konflik dengan cara

mempromosikan pentingnya perdamaian kepada siapa saja yang mereka temui

sepanjang perjalanan mereka dalam pawai perdamaian. Hal ini tentu saja sejalan

dengan konsep mencegah penyebaran konflik dalam diplomasi preventif yang

telah dijelaskan sebelumnya.


101

Diplomasi Track One dan Track Two adalah dua proses yang saling

memperkuat kembali (mutualliy reinforcing) dalam konteks pengelolaan konflik.

Kedua proses ini memiliki beberapa karakteristik dan tanggung jawab yang sama

dalam konflik-konflik. Setiap jalur diplomasi memiliki metode dan keefektifannya

masing-masing. Namun bagaimanapun juga, kedua jalur diplomasi ini memiliki

peranan masing-masing yang penting tetapi juga tidak dapat berjalan sendirian.

Peranan diplomasi track one tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh track two,

vice versa. Dalam kasus wilayah Great Lakes dimana suku minoritas dan

mayoritas saling balas membalaskan dendam, pihak yang berkuasa di negara-

negara di wilayah Great Lakes tidak mengakui legitimasi suku yang menjadi

lawannya dan pemerintah berkuasa biasanya hanya memandang sebelah mata

kelompok yang dianggap musuhnya, sehingga negosiasi terkadang gagal atau

apabila terjadi negosiasi biasanya tidak memiliki legitimasi karena pemerintah

hanya mengirimkan pejabat rendahan saja ke sebuah negosiasi (SAIS,2010).

Disinilah peran vital WOSM dalam mendorong terjadinya rekonsiliasi di

tingkatan masyarakat untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi sebuah

negosiasi berperan penting. Ketika masyarakat telah kondusif dan pandangan

mereka terhadap suku rivalnya telah berubah, mereka dapat mendorong

pemerintah berkuasa serta kelompok bersenjata untuk bertemu dan mengadakan

negosiasi.

Upaya diplomasi yang dilakukan WOSM memang belum secara langsung

menghasilkan kondisi yang lebih baik bagi terciptanya perundingan. Namun hasil

yang paling signifikan dan dapat dilihat dalam upaya WOSM mencapai tujuan
102

pasifikasi wilayah dan menciptakan perdamaian adalah terjadinya rekonsiliasi di

beberapa komunitas, berhasilnya WOSM mengajak beberapa puluh ribu relawan

generasi muda untuk bergabung dalam kegiatan promosi perdamaian, menyatukan

komunitas-komunitas yang dahulu bertikai untuk saling bekerjasama dalam

pendidikan dan promosi perdamaian dan berkurangnya angka Child Soldier,

kesemuanya merupakan pencapaian yang mungkin tidak akan secara mudah

mampu ditandingi oleh NGO lain yang bekerja di wilayah Great Lakes.

Sekretaris Jenderal. WOSM, Luc Panissod, bahkan menyatakan bahwa kekuatan

pramuka dalam menyampaikan pesan pada tingkatan komunitas mereka, keluarga

mereka, di tempat ibadah, sekolah, desa, kota ,lingkungan sekitar dan bahkan

negara mereka adalah kekuatan membawa perdamaian yang dimiliki oleh

pramuka dan belum tentu dimiliki oleh organisasi lain. Luc menambahkan,

Pramuka sebagai generasi muda yang telah memahami prinsip utama

persaudaraan dan toleransi, akan mampu membantu memberikan kontribusi

terhadap terciptanya dunia yang lebih baik, dunia yang damai; Konflik yang

terjadi akibat kesalahpahaman antara kelompok dan kurangnya rasa saling

menghormati serta toleransi adalah salah satu penyebab utama konflik-konflik di

dunia ini. Luc berkata, “Be a brother to your brother and build a world of

tolerance, definitely scouting can be a component of peace building process in the

world level” (menjadi saudara bagi sesamamu dan membangun dunia yang penuh

toleransi, secara pasti kepramukaan mampu menjadi komponen dalam

membangun perdamaian di tingkat dunia).


103

Untuk secara singkat menjawab pertanyaan penelitian: “Bagaimana

Tindakan World Organization of Scout Movement (WOSM) dalam menciptakan

perdamaian di wilayah Great Lakes Afrika tahun 2005-2007?” , WOSM telah

melaksanakan dua kegiatan yakni aksi tanggap bencana melalui CSGL dan

kemudian berlajut melalui program Amahoro Amani. Melalui dua bentuk kegiatan

tersebut WOSM bersama 7 (tujuh) organisasi kepramukaan dan kepanduan putri

serta organisasi rekanan lainnya berupaya memberikan sebuah bantuan tanggap

bencana, pendidikan perdamaian, serta upaya rekonsiliasi melalui kegiatan-

kegiatan yang menarik dan edukatif. Upaya ini telah memberikan dampak yang

signifikan dan mampu dianggap berhasil dalam upaya diplomasi karena telah

berhasil mempertemukan para anggota komunitas-komunitas yang dahulu bertikai

dalam sebuah kegiatan promosi perdamaian dan pada akhirnya tercapai sebuah

saling pengertian diantara mereka. Kedepannya upaya WOSM dan gerakan

pramuka di Great Lakes ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih mendalam

dari berbagai karena prospek perdamaian jangka panjang yang ditawarkan oleh

WOSM lebih menjanjikan dibandingkan yang ditawarkan oleh pihak lain karena

langsung mentargetkan generasi muda yang merupakan mayoritas populasi di

Great Lakes sekaligus para calon pemimpin di masa depan, sehingga upaya

menciptakan perdamaian bukan merupakan sebuah insidental pasca konflik saja.


104
BAB VI
KESIMPULAN

Berakhirnya Perang Dunia II menandai terjadinya proliferasi isu-isu serta

aktor-aktor dalam dunia Hubungan Internasional . Demikian pula dengan konflik

yang semakin beragam dan semakin kompleks bentuknya. Salah satu wilayah di

dunia yang mengalami konflik yang sangat memilukan adalah wilayah Great

Lakes di Afrika yang disebut-sebut sebagai wilayah dimana tragedi pembantaian

paling memilukan pasca holocaust terjadi. Wilayah konsentrasi konflik di sub

regional Great Lakes ini terkonsentrasi pada tiga negara yang saling bertetangga,

yakni Republik Demokratik Kongo, Burundi dan Rwanda. Di ketiga negara ini,

perebutan kekuasaan politik dan kekuasaan pengelolaan sumber daya alam antara

suku Tutsi dan Hutu terjadi.

Dua suku yang awalnya hidup dalam kedamaian selama ratusan tahun,

bertransformasi menjadi dua suku yang hidup penuh kebencian, rasa permusuhan

dan dendam terhadap suku lain. Kedamaian ini hilang ketika Belgia melakukan

aksi kolonialisme mereka di wilayah tersebut. Belgia sebagai penjajah di wilayah

itu menerapkan sistem yang menguntungkan bagi kaum Tutsi yang menjadi

minoritas dan membuat kaum Hutu sebagai mayoritas merasa tersingkir dan

dikucilkan. Pertikaian demi pertikaian silih berganti mewarnai wilayah Great

Lakes. Beberapa pertikaian bahkan bereskalasi menjadi tragedi kemanusiaan yang

memilukan, semisal peristiwa genosida yang terjadi di Rwanda. Gagalnya

pemerintahan di wilayah Great Lakes dalam memberikan kepastian hukum serta

keamanan akibat ketidakstabilan politik membuat kondisi semakin memburuk.

104
105

Hal ini makin diperparah karena kecenderungan konflik berubah dari konflik

internal dalam satu negara menjadi konflik transnasional karena terdapat

kemudahan dalam melintas batas serta kesamaan etnis penduduk diketiga negara

tersebut

Upaya-upaya penyelesaian konflik yang dilakukan oleh pemerintah, PBB

dan organisasi internasional dan antar pemerintah seakan tidak membawa hasil.

Upaya peacemaking, peacekeeping dan peacebuilding yang dibangun PBB seakan

tidak mampu menurunkan ketegangan suasana. Untuk menyelesaikan konflik

yang rumit ini, diperlukan aktor yang mampu melakukan aksi prefentif untuk

mencegah konflik dan membangun pemahaman antara pihak yang bertikai. aktor

yang tepat adalah Organisasi Internasional Non Pemerintah (NGO) yang tidak

memiliki ikatan atau agenda politik.

NGO yang diperlukan di wilayah itu adalah NGO yang selama ini

mungkin tidak pernah diperhitungkan dalam dunia hubungan internasional, sosok

NGO yang mampu bergerak di tingkatan akar rumput yang mampu lebih banyak

merangkul masyarakat dan mampu melipatgandakan kekuatan pesan perdamaian

dengan memanfaatkan kekuatan jaringan sosial yang belum tercederai oleh

konflik dan pertikaian yang ada di wilayah tersebut, yang mampu melintas batas,

mampu mengeliminir perbedaan kelas, kepercayaan, suku, kewarganegaraan dan

warna kulit. sebuah NGO yang mampu menekankan betapa pentingnya nilai

persaudaraan. sosok NGO yang mampu membawa pesan perdamaian kepada

generasi muda sehingga mampu memotong siklus rantai permusuhan dari satu

generasi ke generasi lain. sebuah organisasi yang mampu menginspirasikan


106

kepada generasi muda untuk menciptakan rasa toleransi, kebersamaan, kesatuan,

pengertian, kesetaraan dan kehausan akan keadilan di dunia ini.salah satu pihak

yang tergolong sebagai aktor revolusioner ini adalah gerakan kepramukaan dunia

(World Organization Of Scout Movement/WOSM) atau lebih dikenal dengan

nama gerakan pramuka di Indonesia yang membawa pesan perdamaian melalui

pendidikan perdamaian yang diberikan melalui metode kepramukaan yang

menyenangkan dan bersahabat.

Dengan mengadakan sebuah program promosi perdamaian yang memiliki

target para golongan muda, diharapkan kedepannya tingkat ketegangan konflik

dapat menurun dengan drastis seiring dengan makin bertambahnya pemahaman

antara para pemuda yang berasal dari suku dan negara yang berbeda Untuk dapat

membantu pasifikasi wilayah Great Lakes ini, WOSM berpendapat bahwa cara

yang paling efektif ialah dengan memberikan pendidikan dan penyuluhan

mengenai perdamaian pada generasi muda. WOSM menilai bahwa pasifikasi

wilayah Great Lakes mampu dicapai dengan memberikan pendekatan pada kaum

muda. Karena selain mayoritas penduduk di wilayah Great Lakes merupakan

generasi muda, mayoritas masyarakat yang menjadi korban konflik dan tragedi

kemanusiaan ini adalah kaum muda. Dan yang menyedihkan, para penggagas dan

pelaku kejahatan kemanusiaan juga didominasi oleh kaum muda. Namun generasi

muda dari tiga negara di wilayah Great Lakes dapat juga dijadikan aktor utama

perdamaian. WOSM berpendapat bahwa generasi muda mampu membuka

tembok-tembok penghalang komunikasi antar kelompok, melawan stereotip etnis,


107

dan bekerja sebagai aktor utama dalam membangun perdamaian melalui sistem

relawan. (Cervo, 2007:3)

Para pemuda ini kemudian diharapkan kedepannya ketika sudah menjadi

pemimpin negara mereka masing-masing, akan mampu membawa konflik

berkepanjangan ini kearah yang lebih baik, dan bahkan bila memungkinkan,

menghentikan konflik ini. Hal ini memungkinkan karena mereka telah terbiasa

berkomunikasi dan membangun pemahaman dengan pemuda dari negara yang

seharusnya menjadi “musuh” mereka, maka dari itu diharapkan dengan

membaiknya pemahaman akan pihak lain akan mendorong terciptanya suatu

kondisi damai di wilayah ini. Para pemuda ini adalah sumber berharga dalam

mempromosikan perdamaian yang abadi di wilayah ini. Tentu saja hal ini harus

memenuhi satu syarat; apabila mereka mampu berpartisipasi secara positif dalam

kegiatan ini yang memiliki tujuan akhir perdamaian yang abadi. Dengan

melakukan kegiatan-kegiatan pendidikan perdamaian terhadap kaum muda,

diharapkan mampu memotong mata rantai kekerasan yang mendominasi wilayah

Great Lakes.

Untuk menjawab pertanyaan penelitian yakni: “bagaimana Tindakan

World Organization of Scout Movement (WOSM) dalam menciptakan perdamaian

di wilayah Great Lakes Afrika tahun 2005-2007, WOSM telah melaksanakan dua

kegiatan di wilayah Great Lakes untuk mendorong terciptanya perdamaian di

Wilayah Great Lakes. Pertama, dengan dasar perjanjian CPSGL, WOSM bersama

tujuh organisasi kepramukaan dan kepanduan putri di wilayah Great Lakes

membentuk CSGL sebagai wadah untuk melakukan kegiatan kemanusiaan


108

tanggap bencana di wilayah Great Lakes kegiatan ini tidak hanya berisi kegiatan

tanggap bencana kemanusiaan dengan menolong korban perang dan

mendistribusikan bantuan, namun juga diisi dengan pendidikan perdamaian yang

terkonsentrasi pada tiga area fokus yakni pendidikan perdamaian di masyarakat,

membangun pemahaman melalui berbagi informasi dan keterbukaan, serta

mempromosikan perdamaian melalui kebudayaan.

Ketika konflik mulai memanas kembali di tahun 2004 CSGL

memfokuskan upayanya pada pendidikan perdamaian dan upaya mendorong

terciptanya perdamaian dan rekonsiliasi. Upaya ini dirangkum dalam Program

Amahoro Amani, dua kata yang bermakna perdamaian dalam bahasa setempat.

Selama dua tahun program itu berlangsung, 420 pramuka mediator komunitas

yang dilatih oleh 40 orang pelatih mediator menyebar ke kantong-kantong konflik

di tiga negara untuk mempromosikan dan memberikan pendidikan perdamaian

melalui berbagai cara, antara lain seni budaya, dialog, membangun ulang fasilitas

umum, dan ikutserta dalam pertemuan tetua suku. Upaya ini berhasil mengajak

21.000 orang generasi muda serta 35.000 orang pramuka untuk menjadi agen

perdamaian dan banyak dari mereka pada awalnya ialah aktor sekaligus korban

dari konflik yang terlibat dalam pertikaian sebagai Child Soldier bergabung dalam

program ini. Belum lagi dampak yang dapat dirasakan dimasyarakat dengan

bergabungnya orang dewasa dalam mempromosikan perdamaian, turunnya

kekuatan kelompok bersenjata akibat kesulitan merekrut child soldier serta

rekonsiliasi komunitas-komunitas yang sebelumnya saling berseteru. Program ini

ditutup dengan sebuah perkemahan besar yang didahului dengan pawai keliling
109

tiga negara untuk mempromosikan perdamaian.

Upaya Diplomasi yang dilakukan WOSM ini cukup signifikan dalam

memberikan kontribusi terhadap perdamaian kedepan. Sebuah diplomasi yang

mengandalkan upaya pendekatan langsung melalui masyarakat (Second Track

Diplomacy) serta diplomasi untuk mencegah konflik terburuk terulang lagi

(Preventive Diplomacy). Perdamaian yang abadi di masa depan adalah cita-cita

yang diharapkan mampu dituai dari bibit-bibit rasa perdamaian yang telah

ditanamkan didalam pemikiran generasi muda yang merupakan penduduk

mayoritas di wilayah Great Lakes. Diharapkan dalam beberapa puluh tahun

kedepan telah mampu dilihat dampak dari pendidikan perdamaian yang diajarkan

dalam program Amahoro Amani ini. Kedepannya upaya WOSM dan gerakan

pramuka di Great Lakes ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih mendalam

dari berbagai pihak karena prospek perdamaian jangka panjang yang ditawarkan

oleh WOSM lebih menjanjikan dibandingkan yang ditawarkan oleh pihak lain

karena langsung mentargetkan generasi muda yang merupakan mayoritas populasi

di Great Lakes sekaligus para calon pemimpin di masa depan, sehingga upaya

menciptakan perdamaian bukan merupakan sebuah insidental pasca konflik saja.

Apabila pemerintahan yang stabil secara politis telah tercipta di tiga

negara di wilayah Great Lakes, alangkah baiknya para pembuat kebijakan

melakukan konsultasi dengan WOSM dan 7 gerakan kepramukaan di Great Lakes

sebagai pemegang saham CSGL untuk mengadopsi program-program yang telah

dilaksanakan CSGL kedalam pendidikan formal di ketiga negara tersebut. Dengan


110

cara ini sebuah perdamaian yang berkesinambungan diharapkan akan tetap terjaga

dimasa depan.

-00-
111

DAFTAR PUSTAKA

1. Buku

Goldstein, Joshua S. dan John C. Pevehouse. (2007). International Relations:


Brief 2006-2007 Edition. New York: Pearson Longman.

Papp, Daniel.(2002). Contemporary International Relations :6th Edition. New


York: Longman Addison.

Powell, Baden.(1907). Aids to Scoutmastership. London: World Scout


Foundation.

Roy, S.L. (1991). Diplomasi. Jakarta: Rajawali Press.

Rudi, Teuku May. (1998). Administrasi dan Organisasi Internasional. Jakarta:


Refika Adiatma.

Snow, Donald dan Eugene Brown. (2000). International Relations: The Changing
Contours of Power. New York: Longman-Addison.

Soehartono, Irawan (2004). Metode Penelitian Sosial: Suatu Teknik Penelitian


Bidang Kesejahteraan Sosial Dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung : Remaja
Rosdakarya.

Sugiyono, Prof.Dr. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D.


Bandung: Penerbit Alfabeta.

2. Karya Ilmiah

Abdulatif, Mohammed. (2003). Genocide In Rwanda: The Interplay Of Human


Capital, Scarce Resources And Social Cohesion. Monterey: Naval Post
Graduate School

Botcharova, Olga. (2001). Implementation of Track Two Diplomacy: Developing


a Model of Forgiveness dalam Helmick, Raymond G. dan Petersen, Rodney
L. (Eds.), Forgiveness and Reconciliation: Religion, Public Policy and
Conflict Transformation(hal. 269-293). Philadelphia: Templeton Foundation
Press.

Broughton, Gianne. (2006). Central Africa Crisis Analysis. New York: Aubier

Cervo, Paola. (2007). A Youth Contribution to the Fight against Ethnic Prejudice
in the Great Lakes Region of Africa. Genève: World Scientific Conference
of WOSM
112

Chrétien, Jean Piere. (2003). The Great Lakes of Africa : Two Thousand Years of
History. New York: Urzone.

De Reu, Stijn. (2004). The Impact Of International NGOS And Civil Society
Organisations On The Peace Process In Burundi. Ghent: Conflict Research
Group University of Ghent-Belgium

Murhandikire, Jean-Jacques Balgawa. (2008). Scoutisme Dans La Sous-Region


Des Grands Lacs Africains Et Education A La Paix . Bukavu: Institute
Superieur De Developpement Rural

Rafti, Marina. (2006). South Kivu: a Sanctuary for the Rebellion of the
Democratic Forces for the Liberation of Rwanda. Antwerp: University of
Antwerp

Rutagengwa, Claude.S. (2005). Conflict in Eastern Congo (DRC) and Peace


Perspectives. Tromsø: Universitetet i Tromsø Norway

Susetyo, Benny R. (2008). Peranan Diplomasi Publik. Jakarta: Bappenas

Vallory, Edward. (2007). Global Citizenship Education: Study of the ideological


bases, historical development, international dimension, and values and
practices of World Scouting. Barcelona: Universitat Pompeu Fabra
Department of Political and Social Sciences.

3. Publikasi

A European Youth Forum Report–2009 Development needs Youth! Youth


Organisations in Action 2009. (2009). Brussel: European Youth Forum.

An Agenda for Peace Preventive diplomacy, peacemaking and peace-keeping.


(1992). A/47/277 - S/24111. New York: U.N. Security Council.

Overview of African development 2005 conflict in Africa and the role of


disarmament, demobilization and reintegration in post-conflict
reconstruction.(2005). New York: United Nations Office of the Special
Adviser on Africa (OSAA).
The Amahoro Project. (2007). Amahoro Amani Management Committee.
Bujumbara: CSGL

Vanessa, Von Der Muhll. (2008). Amahoro Amani - DVD highlights project's
success. Genève: World Scout Bureau.

Victims, Perpetrators or Heroes? Child Soldiers before the International Criminal


Court. (2006). London: The Redress Trust dan Essex University
113

World Organization of Scout Movement (WOSM). (1998). Scouting: an


educational system. Genève: World Scout Bureau.

………………………………………………………(2000). “Constitutions and


By-Laws of the World Organization of Scout Movement, 3rd Edition”.
Genève: World Scout Bureau.

----------------------------------------------------------- . (2003). Scout Sub-Regional


Peace Education Program in the Great Lakes Region of Africa. Genève :
World Scout Bureau.

-------------------------------------------------------------(2008). Scouting’s Gift For


Peace. Genève: World Scout Foundation.

-------------------------------------------------------. (2007a). “Scouting and Peace”..


World Organization of Scout Movement. Genève: World Scout Bureau

-------------------------------------------------------. (2010a). “Scouting Promise and


Law”. World Organization of Scout Movement. Genève: World Scout
Bureau.
-------------------------------------------------------. (2010b). “Scouting Vision and
Misson ”. World Organization of Scout Movement. Genève: World Scout
Bureau

-------------------------------------------------------.(2010c).“Scouting Educational
Method”. World Organization of Scout Movement. Genève: World Scout
Bureau

-------------------------------------------------------.(2010d).“Our Organization”. World


Organization of Scout Movement. Genève: World Scout Bureau.

World Report 2010. (2005). New York: Human Right Watch

4. Kamus
Berridge, G.R. dan Alan James.(2003). A Dictionary of Diplomacy. New York:
Palgrave MacMillan

Pleno, Jack dan Roy Olton. (1990). Kamus Hubungan Internasional. Jakarta:
Abardin

5. Internet
“African Great Lakes”, (2010) Wikipedia.
114

http://en.wikipedia.org/wiki/African_Great_Lakes. Diakses pada 11 Maret


2010.

"Baden-Powell, Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, 1st Baron." (2010a)


Encyclopedia Britannica. Encyclopedia Britannica Online. http://0-
www.search.eb.com.colib.ccc.edu:80/eb/article-9011700. Diakses pada
28 November 2010

"Boy Scouts." Encyclopedia Britannica. (2010b). Encyclopedia Britannica Online.


(http://0-www.search.eb.com.colib.ccc.edu:80/eb/article-9016054). Diakses pada
28 November 2010

Burgess, Guy dan Heidi Burgess. (2003). "Multi-Track Diplomacy." Beyond


Intractability. Boulder: Conflict Research Consortium University of
Colorado. http://www.beyondintractability.org/essay/multi-
track_diplomacy/ . Diakses pada 20 November 2010

“Burundi.” World Factbook (2010a). Central Intelligence Agency (CIA).


https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/by.html.
Diakses pada 07 November 2010

“Burundi Civil War”.(2010). Global Security.


http://www.globalsecurity.org/military/world/war/burundi.htm. diakses pada
21 November 2010

“Burundi Country Profle”. (2010a). BBC News. http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-


/2/hi/africa/country_profiles/1068873.stm. diakses pada 21 November 2010

“Census.” World Organization of Scouts Movement. (2007b). World Scout


Bureau
http://www.scout.org/en/about_scouting/facts_figures/census .
Diakses pada 01 November 2010

Clay, Daniel dan René Lemarchand (2010c). Rwanda dalam Encyclopædia


Britannica.
http://www.britannica.com.colib.ccc.edu/EBchecked/topic/514402/Rwanda.
Diakses pada 05 November, 2010

Cordell, Dennis dan René Lemarchand (2010d). Democratic Republic of Congo


dalam Encyclopædia Britannica. http://0-
www.britannica.com.colib.ccc.edu/EBchecked/topic/132363/Congo.
Diakses pada 07 November, 2010.
115

“Democratic Republic of The Congo”. World Factbook (2010b). Central


Intelligence Agency (CIA). https://www.cia.gov/library/publications/the-
world-factbook/geos/cg.html. Diakses pada 07 November 2010

“Diplomacy”.(2010). The Paul H. Nitze School of Advanced International Studies


(SAIS), The Johns Hopkins University. http://www.sais-
jhu.edu/cmtoolkit/approaches/peacemaking/diplomacy.htm . Diakss pada
tanggal 22 November 2010.

Eggers, Ellen dan René Lemarchand (2010e). Burundi dalam Encyclopædia


Britannica. http://0-
www.britannica.com.colib.ccc.edu/EBchecked/topic/85931/Burundi .
Diakses pada 07 November 2010.

Hutu-Tutsi Conflict , A brief history 1400-1994. (1996). CNN year review.


http://edition.cnn.com/EVENTS/1996/year.in.review/topten/hutu/history.ht
ml. diakses pada 07 November 2010

“Landlocked”. (2010). Miriam Webster on-line . http://www.merriam-


webster.com/dictionary/landlocked. Diakses pada 22 September 2010

Muslim di Rwanda Seruan Rekonsiliasi dari Masjid. (2005). Jakarta: Republika


online. http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=Ug8EA1YFA1cF .
Diakses pada 2 November 2010

“Preventive Diplomacy” (1992). United Nation Secretary General.


http://www.un.org/Docs/SG/agpeace.html. Diakses pada 05 November 2010

“Pygmy”. (2010f) Encyclopædia Britannica.


http://www.britannica.com/EBchecked/topic/484571/Pygmy. diakses pada
07 November 2010.

Q & A: DR Congo Conflict. (2010c). BBC News.


http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-11108589. diakses pada tanggal 07
Novemver 2010

Responsibility to Protect Informasi tentang Prinsip ini dan Langkah-langkah


Implementasi. (ND). Jakarta: Asia-Pacific Centre for the Responsibility to
Protect.http://www.r2pasiapacific.org/documents/R2P_basic%20info_Bahas
a.pdf . Diakses 07 November 2010

“Rwanda.” World Factbook (2010c). Central Intelligence Agency


(CIA).https://www.cia.gov/library/publications/the-world-
factbook/geos/rw.html .Diakses pada 07 November 2010
116

“Rwanda: How the Genocide Happened.” (2008). BBC News.


http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/africa/1288230.stm. Diakses pada
tanggal 21 November 2010

“Timeline: Rwanda”. (2010b). BBC News. http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-


/2/hi/africa/country_profiles/1070329.stm. diakses pada tanggal 21
November 2010

“Treaty of Versailes”. (ND).Glossary of Term.


http://occawlonline.pearsoned.com/bookbind/pubbooks/stearns_awl/mediali
b/glossary/gloss_T.html. Diakses pada 8 November 2010
Lampiran 1

Transkrip Wawancara Verbatim


Ari Wijanarko Adipratomo
Dengan
LUC PANISSOD
Sekretaris Jenderal Organisasi Kepramukaan Dunia
(World Organization of The Scout Movement)

Lokasi: Hotel Atria, Kota Bengalore, Propinsi Karnataka, Republik India


24 Juni 2010. Pukul 17:15

Ari : My name is Ari, I am going to interview Mr Luc Panissod , Secretary General of


WOSM .So , sir how do you think of Scout and Peace?

Luc : This is a quite vast subject. I would like you to tell me how do you define peace, what is
your definition of peace?

Ari :My definition of peace would be a situation where the people are not fighting each other
and they are basically live in peace and respecting each other’s right

Luc : I think for the hard job to lit peace has been the school of friendship and brotherhood,
tolerance and learning to live with others, learning to live with others and respecting their
differences for me is the ,..the basic principal of making it possible of between two
people to live in peace together. It is by having to disseminate that concept at the level of
their community, local family, local community, church, school, village, city, region and
even national country that scout people who have been learning the principal of
brotherhood and tolerance will help contribute to build better world, a peaceful world.

Ari : How significant do you think the impact that is brought by scout to the peacemaking
process,..how significant the impact from scouting?

Luc I think scouting can impact the peace building process in various manners, and it depends
at which level scouting has the opportunity to interfere . it can interfere at the family
level, it can interfere in the group, aaa the basic aaa the basic scout group patrol can be
the school for learning about peace but also bringing peace between the , the young
people composing the team. Its not always very easy, everyone is always of doing things
and characters and by learning how to live together and building the peace it can start
here. It can be also at national level, being part of peace building processes, being part of
organizations preaching for peace, being a recognized peace leader at the level of one’s
community

Ari : Ok is it important to scout to help to create peace do you think? It is important for us
because Baden Powell has said also in the first book that by doing scouting you are
removing the classes, genders and all just come together as one brotherhood.
Luc :Peace is probably the thing, which is, the most complicate and the most difficult to build
around the world. We can see that (pause) around the world that every, every level of
society, local, or regional , national, international there are conflicts due to
misunderstanding between people, due to lack of respect between people, due to lack of
tolerance between people, and I think since these are basic components of what we
learning in scouting, it is in the scout law, yes? be a brother to your brother, and build a
world of tolerance definitely scouting can be a component of peace building process at
the world level.

Ari : Do you think what is the advantages of scout , I mean what kind of method that scout
has that doesn’t have in other organizations that can help to create the or maintain the
peace situation

Luc : scouting is for me is the code of self impose discipline. Nobody is obliged to join
scouting. People join scouting because they are attracted to scouting. What do we have
that so particular that a lot of the people do not have, first we have scout law, when we
entering scouting and when we take our scout promise, we promise to do my best for my
family for God, for the country, for whatever, we also agreed with the scout law . That
we agreed to work ourselves along the scout law. We have also the system of patrols.
Scout patrols 6 people with 1 patrol leader, this is the school to learn leadership when you
have a patrol scout patrol with six, five-six people between (age of) 12 and 13 and you
have a scout patrol leader with a (age of) 15-16 there is no other school in the world
where when you have 15-16 you are in charge of group of peers and you manage and you
handle relationship between people and its not always easy. We have the principle of
outdoor life and activities, with camping living with nature, we have the principle of
badge and progressive schemes , attractive program and we have the principle of having
adult leaders in the back supporting the young people and helping the young people. All
these together is what form the uniqueness to scouting

Ari : last question, sir. Do you think it is important for United Nation or other organization to
aaa incorporate scout in their peacemaking effort?

Luc : I think its very very important. Scouting has been and is recognized by some agencies
of the United Nations as a reliable partner and we have signed several memorandum of
understanding at world level with UNICEF, UNESCO, the International Labor
Organization, the World Health Organization, and even the UN secretariat in the New
York. Scouting is credible with the UN it is due to the history and track record for the last
100 years and what we have continue to do is to make sure that scouting remain so
feasible and credible

Ari : Thank you so much Mr Secretary General

Luc : OK
Lampiran 2

Transkrip Wawancara Verbatim


Ari Wijanarko Adipratomo
Dengan
Simon Hang Bock Rhee
Wakil Ketua World Scout Committee

Lokasi: Parktel Olympic Hotel, Kota Seoul, Republik Korea


24 Agustus 2010. Pukul 16:25

Ari : Ok my name is Ari, and I want to ask you mm Mr Simon Rhee, several
questions about the topic is scout and peace, so the first question is, what do you
think about the role of scout in creating peace or help to maintain peace?
Simon Rhee Ok what I’m thinking like this the.. many people or many organization they are
talking about peace but we are the scouts are in world organization not a not like
any other organization and we have a friend in all of the world 160 countries,
even mm we have a friend and they are facing politically mm they are in a
difficult situation, still they have a scout and also that between the scout can
communicate to each other, so one person become a scout and then he joined with
all the activities of scouting and then he can have a friend all over the world and
through this world organization he can make friendship with any other people
continuously, this become friendship with some other people, this can help
gradually mold the people more and more just become some kind of make it in
one global world and we can talk about in a peace the, in a peace land of the
world that is my the understanding and we can make it this thing with the scout
movement
Ari By what kind of method the scout are help to maintain or mm making peace do
you think?
Simon Rhee yes, just before what I’m explain and we have a special program, we had special
program in the 2007 and the scouting for peace, so this program is the some of the
small groups or small unit they studied about peace and peaceful world and they
are making their plan how can make it , how can help the peace for the world.
And so, based on their study and their program, they are really working on that.
And based on that, they can receive the kind of award from the world scouting. So
when they receive the scout of the world award, and they can join together and
they can continue to study and they can make it more the better we can make it a
better world through the scouting

Ari :Is there are several programs that where the scout are helping people who have
problems with the peace like in Africa and amahoro amani program and also in
several other region in Africa, do you think that is effective in helping to create
peace or at least prevent war or something?
Simon Rhee :I think peace can have like this, some of the aa African countries they aa is
difficult to say but we understand that they are underdeveloped countries. So
underdeveloped countries, the total committee they need some kind of exercise
and study, so they need time to organize and then get experiences to become a
better democracy, better peacemaking, better peaceful world, so through this
scouting relationships with the world, they can communicate or they can do the
exchange program with developed country, so like some of the European country
or some of the Asian countries and American countries they can exchange the
program through this exchange program, Africa or any other underdeveloped
country, they can make a better life.
Ari :Ok the last question. We’re also,.. I also heard several programs between N
Korea and South Korea, like mm together join camp, do you think it’s a good
program to make a better relation between South and North Korea
Simon Rhee :Ok, anytime we’re ready, as I’m from South Korea, anytime we’re ready to make
this exciting program, ,just an example we have a world cup game in South Africa
now, and fortunately the North Korea and South Korea, they are all selected
among the 32 countries, so by hope, actually it is fail now as of today, because
North Korea fail to become the 16 team, but if North Korea and South Korea are
success to become 16 and if they making another success to become the 4
victories or 8 victories, then all the world will be watching for the North Korea
and South Korea, and they know and they are looking for it and they know why
they are divided into north and south and what is their situation, I think this will
be another hard topic to the world, and this topic can help with the unification of
the Korea, so, maybe this kind of thing so, in Israel or some neighbor countries
and all they have a scout and I think if the they are meeting in a scout event, they
can help each other, they have a good dialog between their situation without any
political consideration, so Scout can help to make it one, One world can make it
peace world.
Ari :So basically Scouts removes all the differences and the creeds and the race and
the just join as one brother, do you think something like that?

Simon Rhee :Ooo yes I can say so, but one import, important think is like this. Once become
scout and yes, they can join with the uniform and all of the environment, but the
most important thing is once anyone becoming a scout, should do the real
scouting and can achieve this, just wearing uniform and go this country and that
country and then just , just exchange with some other their benefit only we cannot
achieve this what our founder, the Baden Powell dream , so like has we have
international scout centre in Kanderstaag in Switzerland, in 6 months there all
covered with snow and they are every year around 90.000 scouts are visiting
there, so they can mixed with all mm other different nationalities they can really
enjoy the scouting life, so maybe this is the one example, all the Asian scouts try
to pay visit to the Kanderstag, this will be a good experience to them, but only
problem is they need some, they need some cost, so if they not rely on their
parents, they should work hard and save the money and maybe and maybe can
make money though some of the job taking, so with, with that the gathering
money, pay a visit to the Kanderstag, this is more w and meaningful activity for
them Yup
Ari :Thank you so much for Mr Simon Rhee
Simon Rhee : Thank You Thank you
Lampiran 3

Transkrip Wawancara Melalui Email


Dengan
Jean Jacques BAGALWA MURHANDIKIRE
Technician Sup. Developing and Scoutmaster
Researcher in Conflict Transformation at Bukavu ADEPAE
Bukavu-Sud Kivu Republic Democratic Congo
Ibanda, 5 Av.Kasongo, Siege de L’ASSK
BP 02 et 03 Cyangugu Rwanda
Telp: +243 0997733995 – 0811655200-0853708136
Jjbamur@yahoo.fr / jjbamur@gmail.com
(SEBAGAIMANA DITERJEMAHKAN DALAM BAHASA INGGRIS DARI BAHASA
ASLINYA, PERANCIS)

1. What are the main reasons for the Scouts to be involved in education activities
and promotion of peace in the Great Lakes?

The Great Lakes region in Africa is Way for several years of interethnic conflicts, conflicts
that have kindled the whole country and there were gruesome killings. The people who died
and those who are sponsors of the killings are the same communities as the Scouts. The main
losers are the young as they are recruited into armed groups, they are killed and have no
access to power, and it is the young who are the targets of scouting. And Scout leaders saw
the need to make an equity share in the pacification of the region.

2. What are the activities performed by the scouts during the conflict and after the conflict to
reduce tension?
The activities are grouped into three themes:
- Peace education and responsible citizenship
o Mediation in conflicts
o Rights Education
o Awareness Elections
o Workshops for exchange and dissemination of laws

- Health and Fight against HIV / AIDS


o Voluntary Blood Donation (there are many casualties of war)
o Awareness campaigns to protect and fight against HIV / AIDS
o campaigns against drugs and drug

- Environmental protection and development


o Construction of community interest: Upgrade paths and roads, repairing bridges
o Planting trees (there was deforestation through the establishment of refugee camps or
deforestation due to population movements)
3. What kind of Activities are carried out by scouts to promote support to win the peace by
local governments in the Great Lakes?
Scouts did not direct action with the governments but we work with civil society in general
actions can be retrieved or strengthened by the actions of governments ...

4. Could you mention some of the significant impacts (eg reducing the number of children
who are transformed into a soldier, the decrease in violence, etc.). created by Amani Amahoro
to prevent further conflict in the Great Lakes
- Reduction of street children
- Return of the coexistence border
- Recovery of children affiliated with armed groups and child soldiers

5. How many people affected by the Amahoro Amani, and could you tell me the statistics?
- Direct beneficiaries:
o Community Mediators: 750
o Peace Officers: 37500
o Educators Community Mediators: 75
o Scout groups and guide the sub-regions (more than 60000 Members)
o Population

6. Where Amahoro Amani obtain financial support?


- GTZ
- WOSM (WOSM)
- Carpe Vitam (Wallenberg Foundation)
- Catholic Foundation against Hunger and Development CCFD / France
- Scouts and Guides of France
- Scouts and Guides of Flanders
- AGESCI (Association of Catholic Guides and Scouts of Italy)
- Advice Swedish guides set Scouts

7. Do you think the Amahoro Amani is more effective in spreading the message of peace for
the people and society than other similar projects by other NGOs
- The Amahoro Amani is effective because it uses young people who are permanent. The
other projects involved with people changing all the time and there is no logical sequence. In
addition to the scouts base their actions on the law to which all freely associated
members. Even with less money the scouts and guides carry a lot of action than other
organizations because it yal'esprit volunteering and volunteer account also.

8. What kind of reactions and answers do Amahoro Amani get from population, tribal feuds
(Tutsi and Hutu) and governments in the Great Lakes?
- The great achievement is to combine them in places where they feel scouts, community
mediators as Tutsi and Hutu. In the subregion, the Scouts are now known by their political
neutrality and peace messages are disseminated and experienced by members of the
movement. Scouting has a visa to contact the organizations and it is never pointed partisan.
9. . Amahoro Amani DID get the support of the UN project of its organs or organ?
No

10. . What are the major achievements the Amahoro Amani program successfully completed?
- Organizations caravans for peace in the three countries in July 2007 (with different
nationalities)
- Organization of international peace gathering in July in August 2007
- Training of Trainers for community mediators and mediators
- The networking peace clubs
- Financial support of small projects of peace clubs
Organizing delegations to participate in world events
Lampiran 5: Peta Burundi

SUMBER : Encyclopedia Britannica 2010


Lampiran 6 : Peta South dan North Kivu (Republik Demokratik Kongo)

Sumber
http://www.google.co.id/imglanding?q=South+and+North+Kivu+Map&hl=id&bi
w=1152&bih=706&gbv=2&tbs=isch:1&tbnid=S0hBAWlCQIIiiM:&imgrefurl=ht
tp://fuuo.blogspot.com/2010_08_01_archive.html&imgurl=http://4.bp.blogspot.co
m/_VDXamh_mBFE/THbADkAFSaI/AAAAAAAAAHE/Czbl1GW8J8U/s320/n
orth%252Bsouth%252Bkivu_drc_map.gif&ei=m4U1TY2vFYnksQPgrOyzBQ&z
oom=1&w=300&h=295&iact=hc&oei=goQ1TYTyG87NrQefqvDGCA&esq=17
&page=1&tbnh=140&tbnw=142&start=0&ndsp=24&ved=1t:429,r:2,s:0
Lampiran 4 : Struktur Pengurus Program Amahoro Amani

Sumber: Murhandikire Hal 52

Lampiran D: Tabel Rincian Kegiatan Amahoro Amani


Lampiran 8 :Tabel Rincian Kegiatan Amahoro Amani

Lampiran Pendanaan Amahoro Amani


Lampiran 9: Laporan Keuangan Program Amahoro Amani
Lampiran 10: Logo Program Amahoro Amani. Sumber: Murhandikire, 2007
Lampiran 7: Peta Rwanda

Gambar 3: Peta Rwanda. Sumber: http://www/lib.utexas.edu/maps/africa/rwanda_pol96.jpg