Anda di halaman 1dari 15

BAHAN KULIAH

TEORI HUKUM
Oleh:
Prof. Dr. Kadri Husin, SH., MH

Pada Perkuliahan Program Doktor Ilmu Hukum


KPK Undip – Unila
Tahun Akademik 2008 – 2009
Hampstead menyatakan ada dua hal yang
penting dalam hal kita membicarakan teori
hukum, yaitu:
1. Apakah Teori Hukum dipengaruhi oleh
masyarakat;
2. Apakah Teori Hukum sama dengan filsafat
hukum atau bagian dari filsafat, atau sama
dengan sains, hal ini mengingat teori hukum
itu kurang disukai karena terlalu sempit dan
terbatas sehingga kurang disukai oleh
kalangan teoritisi.
Adapun Kelsen (Reine Recthslehre: I), menyatakan ada dua hal
yang penting bagi seseorang yang mempelajari Teori Hukum :
pertama untuk memahami unsur unsur penting dari teori hukum
(teori hukum murni), kedua untuk merumuskan teori tersebut agar
dapat mencakup masalah-masalah dan institusi-institusi hukum
terutama berkaitan dengan tradisi dan suasana hukum sipil, anglo
saxon. Teori hukum umum menurut Kelsen adalah berguna untuk
menerangkan hukum positif sebagai bagian dari suatu masyarakat
tertentu. Jadi teori ini berusaha untuk menerangkan secara ilmiah
tentang tata hukum tertentu yang menggambarkan komunita hukum
terkait (misalnya: hukum Perancis, hukum Amerika dll). Ini berarti
teori hukum umum bekerja secara analisis komparatf dari sejumlah
hukum positif yang berbeda-beda. Kajian utama dari teori hukum
umum adalah norma-norma hukum, unsur-unsur hukum (norma
tersebut), interrelasinya (hubungan antara berbagai tata hukum),
tata hukum sebagai satu kesatuan, strukturnya termasuk hukum
dalam pluralitas tata hukum positif.
Disebut teori hukum murni karena teori ini tidak boleh dicemari
oleh motif-motif yang menggambarkan keinginan atau
kepentingan baik individu atau kelompok dari sipembentuk
undang-undang. Jadi titik beratnya adalah substansi serta
analisis struktur hukum positif, bukan kepada kondidisi-kondisi
atau penilaian moral atau politik menyangkut tujuannya.
Kedua hal tersebut di atas di latar belakangi oleh dua hal yang
menjadi pertimbangan entitas (realita),yaitu:
1. Antara hukum disatu pihak yang dipandang hanya sebagai
norma (rechts als norm) dan hukum hukum sebagai
kenyataan (rechts als feit) dengan masing-masing metode
pendekatan juridische dogmatisch disatu pihak berhadapan
dengan metode jurisdische histories in ruime zjin di lain
pihak ;
2. Hukum bersifat non analitical dan hukum bersifat analytical.
Pendapat di atas dikemukakan tentunya dengan beberapa alasan
yang menjadi dasar pertimbangan timbulnya istilah tersebut.
Pendapat pertama memiliki latar belakang yang diawali adanya
suatu pemikiran atau asumsi bahwa hukum adalah bersifat imperatif
(pandangan yang bersifat dogmatis) dengan pendapat lain, hukum
bersifat fakultatif. Berangkat dari hal tersebut, maka teori hukum
terbagi atas:
1. Seperangkat gagasan tentang bagaimana seharusnya kehidupan
masyarakat atau gagasan bagaimana seharusnya suatu bangunan
hukum dalam masyarakat. Jadi teori ini berkaitan dengan substantif
dari suatu hukum yaitu lebih menekankan kepada kajian hukum
normatif. Para ahli hukum menyatakan teori hukum ini disebut teori
hukum tradisional
2. Seperangkat gagasan tentang bagaimana kenyataan
hukum/perilaku kehidupan masyarakat atau bagaimana hukum
dalam kaitannya dengan interaksi masyarakat. Jadi teori ini
berkaitan dengan kenyataan hukum dalam bentuk perilaku, sikap,
pendapat, atau dengan kata lain yuridis empiris. Teori hukum ini
disebut teori hukum modern.
Secara terminology teori hukum dikenal dengan beberapa istilah
(Hampstead: 20) yaitu:
1. Legal theory
2. Jurisprudence
3. Legal history
Ad.1). Legal theory adalah suatu teori hukum yang
memfokuskan kajiannya bahwa hukum yang dianggap
eksis adalah apa yang ada di dalam undang-undang,
sedangkan di luar undang-undang dapat dianggap
bukan/bagian dari hukum. Istilah legal theory banyak lebih
mengacu pada pandangan positivistik. Pada posisi
demikian ini para praktisi hukum (jurist als medespeler)
kurang atau tidak menyukai teori hukum (legal theory)
karena dianggap sangat terbatas dan sempit sifatnya.
Ad.2). Jurisprudence adalah suatu teori hukum yang lebih
meletakkan pada suatu dasar pemikiran bahwa hukum
dan masyarakat bersifat dialektika fungsional. Yaitu
antara hukum dan masyarakat tidak dapat dilepaskan
satu dan lainnya dan saling pengaruh mempengaruhi.
Pemikiran ini dikemukakan oleh L.A. Hart maupun W.
Halverson (1981 : hal. 2 dan 9).
Ad.3). Legal history adalah suatu teori
yang berdasarkan pemikiran tentang teori
hukum erat hubungannya dengan ideology
(legal ideology) dari masyarakat
pendukungnya yang berarti bahwa teori
hukum sangat erat hubungannya dengan
sejarah hukum. Pendapat ini salah
satunya adalah Hampstead.
I. Apakah Teori Hukum Dapat Berdiri Sendiri atau
Merupakan Ilmu Pengetahuan, atau Merupakan Bagian
Dari Filsafat Hukum?
Teori hukum tidak terlepas dari masyarakatnya dan masyarakat tidak terlepas dari
idiologinya.
Catatan : Hal tersebut di atas adalah sama dengan yang diutarakan oleh Hart maupun
Haverson. Kita tak dapat mempelajari hukum itu sendiri sehingga kita mencarinya
dalam What the Law Does Not Says.
Ilmu hukum dipengaruhi oleh masyarakatnya dan masyarakat dipengaruhi oleh
idiologinya.
Kenyataan bahwa meskipun ada perbedaan-perbedaan idiologi di Negara-negara
Barat, Timur dan Negara-negara berkembang, maka yang mempersatukan adalah para
Jurist.
Apabila idiologi-idiologi tersebut hamper bersamaan maka mudah untuk
mempersatukan, akan tetapi apabila perbedaan tersebut jauh, maka sulit
mempersatukan, akan tetapi bagaimanapun tipisnya untuk mempersatukan idiologi-
idiologi tersebut.
Sebagai contoh : adalah Treaty of Rome (1958)
Semua yang dapat bergabung dalam pasaran bersama Eropa adalah Negara-negara
yang idiologinya hampir bersamaan (Jerman, Perancis, dan Italia) sedangkan Inggris
karena idiologinya berbeda sulit untuk masuk gabung tersebut, akhirnya dan dengan
mencari benang penghubung tersebut, maka Inggris akhirnya masuk dalam gabungan
tersebut (sejak 1973)
Dan ternyata dapatnya mempersatukan idiologi yang berbeda adalah tergantung dari
pimpinan.
Maka juga untuk Indonesia mempersatukan idiologi hukum haruslah
ada ditangan penguasa (yang arif dan intelektual)
Idiologi masyarakat mempengaruhi idiologi hukumnya; kalau
masyarakatnya beridiologi “hanya menurut saja” maka hukumnya
akan menjadi statis.
Sedangkan apabila masyarakatnya berkompetisi maka hukumnya
akan menjadi dinamis dan ini menjadikan masyarakatnya akan
menjadi suatu masyarakat yang maju.
Contoh lain adalah India : mula-mula mereka bermasyarakat sistim
kasta yang rigid.
Lalu diperkenalkan dengan nilai baru melalui konstitusi, dengan
kebebasan beragama dan mengeluarkan pendapat, sehingga timbul
kegoncangan-kegoncangan dalam masyarakat.
Akhirnya dapat diselesaikan melalui pimpinan dalam hal ini adalah
Pengadilan yang mengatasinya.
Contoh di Indonesia : Bidang KB, yang semula mempunyai nilai
tertentu dalam masyarakat Indonesia, maka sekarang telah dirobah
dengan nilai yang baru dan inipun melalui tangan penguasa.
Sukar untuk teori hukum termasuk filsafat ataukah termasuk sains.
Austin mengatakan bahwa peraturan tidak keluar dari filsafat
sedangkan peraturan dari para penguasa adalah termasuk hukum,
jadi termasuk sains, dan Austin dalam bukunya yang berjudul
Lectures on Jurisprudence menyebut juga filsafat positif.
Juga demikianhalnya dengan Kelsen (General Theory of Law and
State), dimana dikatakannya bahwa grundnorm nya adalah suatu
sains, dan dia menyatakan dirinya sibagai positivist, padahal dengan
cara dia menerangkan tentang grundnorm, menunjukkan bahwa dia
telah bersilsafat.
Bapak dari filsafat positivist, adalah COMTE.
Menurut Hampstead kedua-duanya dipakai baik sebagai filsafat
maupun sebagai sains.
Sulit untuk dipisahkan apakah teori hukum tersebut termasuk filsafat
saja ataukah sains, sehingga kalau kita perhatikan, dimana teori
hukum tersebut menjelaskan tentang hukum itu sendiri, maka ini
disebut sebagai sains, akan tetapi apabila dibicarakan hukum
sebagai alat perkembangan atau penghambat, maka kita telah
berfilsafat.
Seperti yang diutarakan oleh NORTHROP adalah bahwa :
Systim of norm adalah positif dan ini adalah sains.
Hukum sebagai social control ini adalah filsafat.
Sebagai contoh :
Pasal 115 KUHAP, dimana diatur tentang seorang tertuduh yang
dapat didampingi oleh pembelanya pada waktu dia diperiksa;
apabila diuraikan tentang peraturan itu sendiri maka ini termasuk
sains, sedangkan apabila kita bicara tentang apakah pembela
mendampingi sitertuduh pada waktu diperiksa, ialah tentang apakah
mungkin ini dilakukan, apa yang harus dipersiapkan (tentang
ketrampilan si pembela) dalam mendampingi pasal tersebut,
bagaimana efeknya terhadap perkembangan KUHAP maka ini kita
telah masuk dalam bidang filsafat.
Contoh : Umpamanya di dunia biologi.
Clone – membuat orang yang persis sama dengan seseorang
dengan
mempergunakan cara penguraian gene-2 (Gene splitcing)
Dalam cara pembuatan clone itu sendiri adalah
termasuk sains, sedangkan kalau berbicara
tentang pengaruh clone ini terhadap
masyarakat, maka ini termasuk filsafat.
Tingkat – 2 proses hukum :
- Policy formulation
- Rule - making
- Implementation
- Dispute resolution
Hampstead berkeinginan untuk mengemukakan bahwa
teori hukum itu jika dianggap merupakan science atau
pengetahuan akan menyebabkan kajiannya terlalu
sempit, karena menurut Hampstead teori hukum dapat
berkembang karena bersifat interdisipliner karena hukum
tidak dapat dilepaskan dengan masyarakat. Pendapat ini
senada dengan apa yang dikemukakan oleh Lord
Radeliffe(1981: 92), yang menyatakan:

“you will not mistake my meaning or suppose that I


depreciate one of the great humane studies if I say that
we cannot learn law by learning law. If it is to be anything
more than just a technique it is to be so much more than
itself: a part of history, a part of economics and
sociology, a part of ethics and philosophy of life”.
Catatan: Hampstead menanggapi apakah teori hukum
(legal theory) merupakan science atau bagian dari
filsafat yang mengatakan harus diakui hal ini tidak
mudah, karena walaupun ada beberapa sarjana yang
dapat kita kategorikan bahwa teori hukum sebagai
science sehingga oleh karenanya bersifat rasional atau
pun merupakan bagian dari ajaran mazhab hukum positif
sebagaimana dianut oleh Agus Comte, John Austin,
maupun oleh Hans Kelsen tetapi apabila dikaji lebih
lanjut ternyata tidaklah murni merupakan sains yang
terlepas dari kajian filsafat. Misalnya, pendapat Kelsen
dengan teori hukumnya yang terkenal bernama “Teori
Hukum Murni (reine rechts lehre)” yang mengemukakan
bahwa konsep hukum adalah ajaran hukum positif yang
terkenal dengan Stufen Bow Theorie. Ternyata apabila
kita perhatikan Kelsen memulai teorinya dengan Ground
Norm atau yang dikenal dengan hukum dasar, yang
intinya bersifat dasar-dasar hukum seperti keadilan,
keseimbangan, perlindungan. Semua itu merupakan
konteks filsafat.
Demikian pula jika teori hukum semata-mata sebagai sains yang
berarti eksistensinya pada kekuatan rasionalitas, maka teori hukum
ini sendiri tidak dapat menjelaskan bahwa mengapa hukum (hukum
positif) memerlukan suatu pembenaran dari hal-hal yang bersifat
irrasional atau di luar hukum positif itu sendiri, sehingga
berdasarkan hal tersebut di atas teori hukum tidaklah dapat
dianggap sebagai suatu hal yang berdiri sendiri melainkan
memerlukan suatu pendekatan yang bersifat sintesis. Atau dengan
kata lain teori hukum tidak dapat melepaskan dari filsafat hukum.

Contoh dalam bidang lain misalnya dalam lapangan biologi di mana


teori tentang clone atau gen splitcing, hal ini dapat dianggap murni
sebagai sains tetapi di dalam kenyataan, aktualisasi dari pengadaan
klon, untuk dapat eksis seperti misalnya mengadakan percobaan
(eksperimen) tentang klon tersebut apakah bisa dilakukan atau tidak
akan terbentur dengan persoalan rasa keadilan, etika, moralitas
yang semua itu justru menyebabkan teori tentang gen, yang murni
sebagai sains tidak lepas dari pandangan filsafat, apakah klon dapat
dilakukan atau tidak minimal pada manusia.