Anda di halaman 1dari 19

MENGUKUR VOLUME DAN KAPASITAS PARU

Disusun oleh :

KADEK SINTHIA GRAHITA A


41090017
Kelompok C

Kamis, 25 November 2010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA

YOGYAKARTA
2010

BAB I
1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Paru-paru merupakan salah satu organ terpenting dalam tubuh manusia. Fungsinya
sebagai bagian utama dari sistem respirasi tubuh memegang peranan yang cukup besar.
Dalam kekompleksannya paru juga tak lepas dari fungsi yang sangat besar, terutama dalam
prosese homeostasis tubuh.
Sering kali kita melihat orang yang memilki kecepatan pernapasan dan kedalaman
pernapaan berbeda-beda. Hal ini sangat erat kaitannya dengan penyeimbangan kondisi
tubuh/homeostasis. Misalnya ketka seseorang sedang melakukan pekerjaan berat seingga
harus melakukan inspirasi maksimal untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan O 2. Namun
sayangnya, ada kondisi patologis dimana perbedaan frekuensi nafas yang menyebabkan
perbedaan kapasitas dan volume paru seseorang justru mengindikasikan adanya suatu
peyakit. Misalnya saja penyakit yang disebabkan gangguan ventilasi sehingga bagian dari
paru-paru akan melakukan adaptasi seperti penyempitan jalan napas dan inflamasi yang
mengakibatkan seseorang menjadi sesak napas atau batuk. Dan akhirnya menurunkan
kapasitas dan volume pada paru.
Olehnya itu, untuk mengetahui paru-paru lebih lanjut tertutama mengenai volume dan
kapasitasnya, dilakukanlah praktikum ini. Harapannya, dengan mengtahui volume dan
kapasitas paru melalui pengukuran spirometer kita mampu mengetahui ada tidaknya kondisi
patologis dalam paru kita sehingga mampu mendeteksi lebih dini penyakit-penyakit pada
paru.

B. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu mengukur volume dan kapasitas paru menggunakan spirometer.
2. Mahasiswa mampu memahami spiro statis.

BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA

A. SISTEM PERNAFASAN MANUSIA

Menurut Syaifudin (1997: 87) anatomi pernapasan terdiri dari :

1) Rongga hidung
Hidung merupakan saluran pernapasan udara yang pertama, mempunyai 2 lubang (kavum
nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Rongga hidung ini dilapisi oleh selaput
lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah dan bersambung dengan faring dan dengan
semua selaput lendir semua sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam rongga hidung.
Rongga hidung mempunyai fungsi sebagai panyaring udara pernapasan oleh bulu hidung dan
menghangatkan udara pernapasan oleh mukosa. (Syaifudin, 1997: 87)

2) Faring / tekak
Faring atau tekak merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan
makanan. Faring atau tekak terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan
mulut setelah depan ruas tulang leher. (Syaifudin, 1997:102)
Dalam faring terdapat tuba eustachii yang bermuara pada nasofarings. Tuba ini berfungsi
menyeimbangkan tekananudara pada kedua sisi membran timpani, dengan cara menelan.pada
daerah laringofarings bertemu sistem pernapasan dan pencernaan. Udara melalui bagian
anterior ke dalam larings, dan makanan lewat posterior ke dalam esofagus melalui epiglotis
yang fleksibel. (Jan Tambayong, 2001: 79)
Faring mempunyai fungsi sebagai saluran bersama bagi sistem pernapasan maupun
pencernaan.

3) Laring
Laring merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara yang terletak
di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk kedalam trakea
dibawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah empang tenggorok yang
disebut epiglotis, yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita
menelan makanan manutupi laring (Syaifudin, 1997: 87). Dalam laring terdapat pita suara
yang berfungsi dalam pembentukan suara. Suara dibentuk dari getaran pita suara. Tinggi
rendah suara dipengaruhi panjang dan tebalnya pita suara. Dan hasil akhir suara ditentukan
oleh perubahan posisi bibir, lidah dan platum mole. (Jan Tamabayong, 2001: 80)

4) Batang tenggorok
Batang tenggorok atau trakea merupakan lapisan dari laring yang dibentuk oleh 16
sampai dengan 20 cincin terdiri dari tulang rawan yang berbentuk seperti kaki kuda (huruf
C). Trakea dilapisi epitel bertingkat dengan silia dan sel goblet. Sel goblet menghasilkan
mukus dan silia berfungsi menyapu pertikel yang berhasil lolos dari saringan di hidung, ke
arah faring untuk kemudian ditelan / diludahkan / dibatukkan. Panjang trakea 9-10 cm dan
dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos (Syaifudin,1997: 102; Jan
Tambayong, 2001: 80).

3
Batang tenggorok dapat berfungsi dalam mengeluarkan benda-benda asing yang masuk
bersama udara pernapasan yang dilakukan oleh sel-sel bersilia.

5) Cabang tenggorok
Cabang tenggorok merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada
ketinggian vertebra torakalis ke 4 dan ke 5. Bronkus mempunyai struktur serupa dengan
trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. (Syaifudin, 1997: 103)
Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dan terdiri dari 6-8 cincin, punya 3 cabang.
Bronkus kiri lebih panjang dan ramping, dan terdiri dari 9-12 cincin punya 2 cabang. Bronkus
bercabang-cabang yang lebih kecil disebut bronchiolus dan terdapat gelembung paru atau
gelembung hawa / alveoli. (Syaifudin, 1997: 103; Jan Tambayong, 2001:81)

6) Paru
Paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung
(gelembung hawa / alveoli). Gelembung ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Pada
lapisan inilah terjadi pertukaran udara, oksigen masuk kedalam darah dan karbondioksida
dikeluarkan dari darah. Pembagian paru ada 2, yaitu : paru kanan terdiri dari 3 lobus (belah
paru), lobus pulma dekstrasuperior, lobus media dan lobus superior. Tiap lobus tersusun oleh
labulus. Tiap lobus terdiri dari belahan-belahan yang lebih kecil bernama segmen.
(Syaifudin, 1997: 90)
Paru terletak pada rongga dada datarannya menghadap ke tengah rongga dada atau kavum
mediastinum. Pada bagian tengah itu terdapat tumpuk paru / hilus. Pada mediastinum depan
terletak jantung. Paru dibungkus oleh selaput yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi 2,
yaitu :
1. Pleura viseral (selaput dada pembungkus) yaitu selaput paru yang langsung membungkus
paru.
2. Pleura parietal, yaitu selaput yang melapisi rongga dada sebelah luar. Antara kedua pleura
ini terdapat rongga (kavum pleura). (Syaifudin, 1997: 90)

Dalam paru terdapat alveoli yang berfungsi dalam pertukaran gas O2 dengan CO2
dalam darah. (Jan Tambayong, 2001:81)

B. FISIOLOGI SISTEM PERNAFASAN

Pernapasan paru merupakan pertukaran oksigen dan karbondioksida yang terjadi pada
paru. Fungsi paru adalah tempat pertukaran gas oksigen dan karbondioksida pada pernapasan
melalui paru / pernapasan eksterna. Oksigen dipungut melalui hidung dan mulut. Saat
bernafas, oksigen masuk melalui trakea dan pipa bronchial ke alveoli, dan dapat erat
berhubungan dengan darah di dalam kapiler pulmonalis. (Syaifudin, 1997: 92)
Proses pernapasan dibagi empat peristiwa, yaitu :
1) Ventilasi pulmonal yaitu masuk keluarnya udara dari atmosfer ke bagian alveoli dari paru.
2) Difusi oksigen dan karbondioksida di udara masuk ke pembuluh darah disekitar alveoli.
3) Transpor oksigen dan karbondioksida di darah ke sel
4) Pengaturan ventilasi. (Guyton, 1997: 342)

4
Penyakit Parenkin Paru
Menurut Guyton,(1997 : 627) menyatakan bahwa penyakit yang dapat mempengaruhi
kapasitas paru meliputi :

1) Emfisema paru kronik


Merupakan kelainan paru dengan patofisiologi berupa infeksi kronik, kelebihan mucus dan
edema pada epitel bronchiolus yang mengakibatkan terjadinya obstruktif dan dekstruktif paru
yang kompleks sebagai akibat mengkonsumsi rokok.

2) Pneumonia
Pneumonia ini mengakibatkan dua kelainan utama paru, yaitu : 1) penurunan luas permukaan
membran napas, 2) menurunnya rasio ventilasi perfusi Kedua efek ini mengakibatkan
menurunnya kapasitas paru.

3) Atelektasi
Atelaktasi berarti avleoli paru mengempis atau kolaps. Akibatnya terjadi penyumbatan pada
alveoli sehingga aliran darah meningkat dan terjadi penekanan dan pelipatan pembuluh darah
sehingga volume paru berkurang.

4) Asma
Pada penderita asma akan terjadi penurunan kecepatan ekspirasi dan volume inspirasi.

5) Tuberkulosis
Pada penderita tuberkulosis stadium lanjut banyak timbul daerah fibrosis di seluruh paru, dan
mengurangi jumlah paru fungsional sehingga mengurangi kapasitas paru.

6) Alvelitis yang disebabkan oleh faktor luar sebagai akibat dari penghirupan debu organik.
(Mukhtar Ikhsan, 2001: 74).

C. KAPASITAS DAN VOLUME PARU

1. Volume

Volume dan udara dalam paru-paru dan kecepatan pertukaran saat inspirasi dan ekspirasi
dapat diukur malalui spirometer. (http://id.shvoong.com)

a. Volume tidal (VT), yaitu volume udara yang masuk dan keluar paru-paru selama ventilasi
normal biasa. Nilai VT pada dewasa normal sekitar 500 ml untuk laki-laki dan 380 ml untuk
wanita. (http://id.shvoong.com)

b. Volume cadangan inspirasi (VCI), yaitu volume udara ekstra yang masuk ke paru-paru
dengan inspirasi meksimum di atas inspirasi tidal. VCI berkisar 3100 mlpada laki-laki dan
1900 ml pada wanita. (http://id.shvoong.com)

5
c. Volume cadangan ekspirasi (VCE), yaitu volume ekstra udara yang masih dapat dengan
kuat dikeluarkan pada akhir ekpirasi normal. VCE berkisar 1200 ml pada laki-laki dan 800
ml pada wanita. (http://id.shvoong.com)

d. Volume residusal (VR), yaitu volume udara sisa dalam paru-paru setelah melakukan
ekspirasi kuat. Rata-rata pada laki-laki sekitar 1200 ml dan pada perempuan 1000 ml. volume
residual penting untuk kelangsungan aerasi dalam darah saat jeda pernafasan.
( http://id.shvoong.com)
2. Kapasitas

a. Kapasitas residual fungsional (KRF) adalah penambahan volume residual dan volume
cadangan ekspirasi. Kapasitas merupakan jumlah udara sisa dalam system respiratorik setelah
ekspirasi normal. Nilai rata-ratanya adalah 2200 ml. jadi nilai KRF = VR + VCE.

(http://id.shvoong.com)

b. Kapasitas inspirasi (KI) adalah penambahan volume tidal dan volume cadangan inspirasi.
Nilai rata-ratanya adalah 3.500 ml. jadi nilai KI = VT + VCI. (http://id.shvoong.com)

c. Kapasitas vital (KV), yaitu penambahan volume tidal, volume cadangan inspirasi dan
volume cadangan ekspirasi. Nilai rata-ratanya adalah 4500 ml. jadi nilai KV = VT + VCI +
VCE. (http://id.shvoong.com)

d. Kapasitas total paru (KTP) adalah jumlah total udara yang ditampung dalam paru-paru dan
sama dengan kapasitas vital ditambah volume residual. Nilai rata-ratanya adalah 5700 ml.
jadi nilai KTP = KV + VR. (http://id.shvoong.com)

PEAK FLOW METER

Peak Flow Meter (PFM) adalah alat untuk mengukur jumlah aliran udara dalam jalan
napas (PFR). Nilai PFR dapat dipengaruhi beberapa faktor misalnya posisi tubuh, usia,
kekuatan otot pernapasan, tinggi badan dan jenis kelamin. (www.en.wikipedia.com, 2008)

Peak Flow Meter adalah alat ukur kecil, dapat digenggam, digunakan untuk
memonitor kemampuan untuk menggerakkan udara, dengan menghitung aliran udara bronki
dan sekarang digunakan untuk mengetahui adanya obtruksi jalan napas.

(www.en.wikipedia.com, 2008)

Peak Flow Meter (PFM) mengukur jumlah aliran udara dalam jalan napas. Peak Flow
Rate (PFR) adalah kecepatan (laju) aliran udara ketika seseorang menarik napas penuh, dan
mengeluarkannya secepat mungkin. Agar uji (tes) ini menjadi bermakna, orang yang
melakukan uji ini harus mampu mengulangnya dalam kelajuan yang sama, minimal sebanyak
tiga kali.

(www.statcounter.com, 2007)

Terdapat beberapa jenis alat PFM. Alat yang sama harus senantiasa digunakan, agar
perubahan dalam aliran udara dapat diukur secara tepat. Pengukuran PFR membantu
menentukan apakah jalan napas tebuka atau tertutup. PFR menurun (angka dalam skala turun

6
ke bawah) jika asma pada anak memburuk. PFR meningkat (angka dalam skala naik ke atas)
jika penanganan asma tepat, dan jalan napas menjadi terbuka. Pengukuran PFR dapat
membantu mengetahui apakah jalan napas menyempit, sehingga penanganan asma dapat
dilakukan dini, juga membantu mengenali pemicu (penyebab) asma pada anak, sehingga
dapat dihindari. (www.statcounter.com, 2007)

Terdapat perbedaan nilai pengukuran (siklus) PFR dalam satu harinya. Dengan
mengukur nilai PFR dua kali dalam sehari menunjukkan gambaran PFR sepanjang hari. Anak
yang berbeda usia dan ukuran badan memiliki nilai PFR yang berbeda.

(www.statcounter.com, 2007)

Usia berpengaruh terhadap PFR dimana saat lahir terjadi perubahan respirasi yang
besar yaitu paru-paru yang sebelumnya berisi cairan menjadi berisi udara dan luas paru-paru
masih terlalu kecil. Perkembangan paru pada masa bayi belum terl;alu baik sehingga PFRnya
lebih rendah dibandingkan orang dewasa. Demikian halnya pada usia lanjut, PFR akan
menurun akibat otot-otot pernapasan tidak seelastis dengan orang yang lebih muda.
Posisi juga berpengaruh terhadap nilai PFR. Nilai PFR pada posisi berbaring terlentang lebih
besar dibandingkan pada saat duduk karena ketika duduk diafragma akan mendorong rongga
dada keatasa sehingga ketoka menghirup udara, udara akan lebih sedikit masuk ke paru-
parudibandingkan ketika berbaring dimana diafragma tidak mendorong rongga dada sehingga
udara yang masuk lebih banyak dan yang akan diekspirasikan juga lebih banyak.
Selain usia dan posisi, tinggi badan atau ukuran tubuh setiap orang juga berpengaruh terhadap
nilai PFR dimana tubuh yang lebih besar akan memiliki PFR lebih besar karena orang ini
membutuhkan lebih banyak oksigen dari udara untuk memenuhi kebutuhan jaringan di dalam
tubuhnya. Selain itu. Orang yang memiliki ukuran tubuh lebih besar juga memilki kekuatan
menghirup udara lebih banyak. (Anonim, 20110)
PFR pada laki-laki juga lebih besar dibandingkan perempuan karena kekuatan otot-
otot pernapasan laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan sehingga udara yang dihirup
dan dihembuskan lebih banyak dibandingkan perempuan. ( Anonim, 2010)

SPIROMETER

Spirometer adalah suatu alat sederhana yang dilengkapi pompa atau bel yang akan
bergeser pada waktu pasien bernafas kedalamnya melalui sebuah katup dan tabung
penghubung. Pada waktu menggunakan spirometer, grafik akan terekam pada sebuah drum
yang dapat berputar dengan sebuah pena pencatat. (Sylvia. A. Price, 2005)

Pengukuran volume paru statis dalam praktik digunakan untuk mencerminkan


elastisitas paru dan toraks. Pengukuran yang paling berguna adalah VC, TLC, FRC, dan RV.
Penyakit yang membatasi pengembangan paru (gangguan restriktif) akan mengurangi
volume-volume ini. Sebaliknya, penyakit yang menyumbat saluran nafas hampir selalu dapat
meningkatkan FRC dan RV akibat hiperinflasi paru. (Sylvia. A. Price, 2005)

Dengan alat spirometri dapat diukur beberapa parameter faal paru yaitu:

7
 Kapasitas vital paksa (KVP) adalah jumlah udara yang bisa diekspirasi maksimal
secara paksa setelah inspirasi maksimal.
 Volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) adalah jumlah udara yang bisa
diekspirasi maksimal secara paksa pada detik pertama.
 Rasio VEPl/KVP.
 Arus puncak ekspirasi (APE).

Apabila nilai VEP1 kurang dari 80% nilai dugaan, rasio VEP1/KVP kurang dari 75%
menunjukkan obstruksi saluran napas. Bila digunakan spirometri yang lebih lengkap dapat
diketahui parameter lain :

 Kapasitas vital (KV), jumlah udara yang dapat diekspirasi maksimal setelah inspirasi
maksimal.
 Kapasitas paru total (KPT), yaitu jumlah total udara dalam paru pada saat inspirasi
maksimal.
 Kapasitas residu fungsional (KRF), yaitu jumlah udara dalam paru saat akhir ekspirasi
biasa.
 Volume residu (VR), jumlah udara yang tertinggal dalam paru pada akhir ekspirasi
maksimal.
 Air trapping, selisih antara KV dengan KVP.

Pada obstruksi saluran napas didapatkan peningkatan volume residu, kapasitas residu
fungsional, kapasitas paru total, rasio VR/KRF, rasio KRF/KPT dan air trapping.
Pemeriksaan VEP1, dan rasio VEPl/KVP merupakan pemeriksaan yang standar, sederhana,
reprodusibel, dan akurat. Pengukuran ini paling sering digunakan untuk menilai obstruksi
saluran napas.
Pemeriksaan lain yang juga dapat digunakan untuk melihat obstruksi adalah flow-
volume curve; pada pemeriksaan ini akan terlihat gambar hubungan antara volume dan arus
udara yang diekspirasikan. Dengan melihat grafik yang terjadi dapat diketahui apakah
seseorang itu mempunyai faal paru normal, obstruksi atau restriksi. Apabila telah ditemukan
kelainan pada pemeriksaan faal paru, biasanya penderita sudah mempunyai gejala-gejala
obstruksi.
Beberapa pemeriksaan faal paru dapat mendeteksi kelainan sebelum gejala obstruksi
timbul. Pemeriksaan ini lebih rumit, memerlukan waktu serta alat yang canggih.
Pemeriksaan ini antara lain ialah pengukuran closing volume, volume of isoftow dan dynamic
lung ciompliance. Selain pemeriksaan volume paru atau ventilasi, pemeriksaan faal paru yang
lain yaitu kapasitas difusi juga mempunyai arti diagnostik pada penyakit paru obstruktif.
Pemeriksaan difusi biasanya dilakukan dengan menggunakan gas monoksida (CO) untuk
menilai kemampuan paru menangkap oksigen dari alveoli dan melepaskan karbondioksida.
Pada emfisema penurunan kapasitas, difusi merupakan hal yang karakteristik, sedangkan
pada asma dan bronkitis kronik kapasitas difusi biasanya tidak menurun.

Kapasitas dan Volume Paru

8
No Pengukuran Simbol Nilai rata- Definisi
rata laki-laki
dewasa (ml)
1. Volume tidal VT 500 Jumlah udara yang diinspirasi atau
diekspirasi pada setiap kali bernafas (nilai
ini adalah untuk keadaan istirahat)
2. Volume cadangan inspirasi IRV 3100 Jumlah udara yang dapat diinspirasikan
secara paksa sesudah inhalasi volume tidal
normal.
3. Volume cadangan ekspirasi ERV 1200 Jumlah udara yang dapat diekspirasikan
secara paksa sesudah ekspirasi volume tidal
normal.
4. Volume residu RV 1200 Jumlah udara yang tertinggal dalam paru
sesudah ekspirasi paksa.
5. Kapasitas paru total TLC 6000 Jumlah udara maksimal yang dapat
dimasykkan kedalam paru sesudah inspirasi
maksimal. TLC = VT + IRV + ERV + RV ;
TLC = VC + RV
6. Kapasitas vital VC 4800 Jumlah udara maksimal yang dapat
diekspirasikan sesudah inspirasi maksimal.
VC = VT + IRV + ERV (seharusnya 80 %
dari TLC)
7. Kapasitas inspirasi IC 3600 Jumlah udara maksimal yang dapat
diinspirasikan sesudah ekspirasi normal. IC
= VT + IRV
8. Kapasitas residu fungsional FRC 2400 Volume udara yang tertinggal dalam paru
sesudah ekspirasi volume tidal normal. FRC
= ERV + RV
(Comroe JH, 1971)

Pengukuran Volume

Pada percobaan ini volume tidal diperoleh dengan cara melakukan ekspirasi dan inhalasi
normal. Spirometer ditiup saat praktikan melakukan ekshalasi normal tersebut. Besar volume
tidal biasanya 500 mL untuk pria maupun wanita. Kesalahan yang terjadi pada nilai volum
tidal pada pria dapat disebabkan karena praktikan menghirup napas dalam sehingga udara
yang dikeluarkan banyak. (http://alusss.000space.com)

Volume ekspirasi cadangan diukur dengan cara praktikan menghirup napas normal, namun
menghembuskan napas sekuat-kuatnya pada spirometer. Nilai volum ekpirasi cadangan
sendiri adalah pengurangan angka yang tercatat pada spirometer dikurangi dengan volum
tidal yang telah diukur sebelumnya. Volume ekspirasi cadangan berdasarkan literatur adalah
sekitar 1200 mL untuk pria dan 700 mL untuk wanita. Kesalahan yang terjadi pada percobaan
dapat terjadi karena praktikan berusaha untuk memaksakan proses ekspirasi secara berlebihan
(dari yang mestinya dilakukan). (http://alusss.000space.com)

9
Kapasitas vital diukur dengan cara melakukan inspirasi sekuat-kuatnya dan ekspirasi sekuat-
kuatnya. Saat melakukan ekspirasi sekuat-kuatnya, udara dihembuskan ke dalam spirometer.
Angka yang ditunjuk oleh jarum pada spirometer merupakan kapasitas vital paru-paru (dalam
mL). Menurut literatur, volume kapasitas vital paru-paru untuk pria adalah sekitar 4800 mL
sedangkan untuk wanita 3100 mL. (http://alusss.000space.com)

Dari kapasitas vital ini dapat diketahui volume inspirasi cadangan dengan mengurangi
kapasitas vital dengan volume tidal dan volume ekspirasi cadangan. Laki-laki memiliki
volume inspirasi cadangan yang lebih tinggi dibandingkan wanita, yaitu sekitar 3100 mL,
untuk pria, dan 1900 mL, untuk wanita. Data yang diperoleh jauh di bawah dari data dari
literatur. Hal ini dikarenakan data yang diperoleh dari kapasitas total, volume tidal, dan
volume ekspirasi cadangan sudah berbeda jauh dari data literatur. Hal inilah yang
menyebabkan hasil untuk volume inspirasi cadangan juga berbeda dengan data dari literatur.

(http://alusss.000space.com)

Pada umumnya perbandingan antara volume tidal, volume ekspirasi cadangan dan
volume inspirasi cadangan adalah 1:2:6 untuk pria. Sedangkan untuk wanita,
perbandingannya sebesar 2:3:8. Namun dari hasil percobaan menunjukan bahwa
perbandingan tidak sesuai dengan literatur. Kesalahan ini bisa disebabkan oleh pernapasan
yang kurang normal dari praktikan. Bisa juga disebabkan kondisi lingkungan, contohnya
keadaan udara di dalam ruangan tempat praktikum berlangsung. (http://alusss.000space.com)

Sebagai aplikasi dalam pengukuran volume respirasi adalah untuk mendeteksi


patologi pada volume paru-paru. Contohnya pada orang asma konstriksi jalannya udara
cenderung menutup sebelum ekshalasi penuh. Hasilnya fungsi paru-paru menunjukkan
pengurangan kapasitas vital, pengurangan ekspirasi cadangan, dan kecepatan pergerakan
udara. Pada saat kontriksi saluran udara akan menghasilkan suara yang tidak normal pada
serangan asma. Kondisi itu membatasi penggembungan maksimal paru-paru yang berefek
sama terhadap kapasitas vital. Karena hal tersebut, inspirasi cadangan menjadi rendah.
Meskipun demikian ekspirasi cadangan dan pergerakan kecepatan ekspirasi relatif normal.

(http://alusss.000space.com)

BAB III

METODOLOGI

10
A. ALAT DAN BAHAN
 Spirometer sederhana : - 2 buah baskom (besar dan kecil)
- Air
- Corong dan selang penghubung

B. LANGKAH KERJA

 Mengukur Volume Tidal

Dibersihkan mulut pipa pengukur dengan alkohol untuk mengindari ada patogen
mikroorganisme.

Dimasukkan dan dihembuskan udara pernapasan/udara inspirasi dan ekspirasi biasa
(pernapasan reflektoris) melalui pipa pengukur dengan menutup hidung.

Dilakukan masing-masing sebanyak 3x.

Dicatat kenaikan dan penurunan baskom air pada spirometer dan diukur volume tidal yang
diperoleh.

 Mengukur Volume Cadangan Ekspirasi dan Cadangan Inspirasi

Dibersihkan mulut pipa pengukur dengan alkohol untuk mengindari ada patogen
mikroorganisme.

Dimasukkan dan dihembuskan udara pernapasan/udara inspirasi dan ekspirasi sekuat-
kuatnya setelah pernafasan biasa (pernapasan reflektoris) melalui pipa pengukur dengan
menutup hidung.

Dilakukan masing-masing sebanyak 3x.

Dicatat kenaikan dan penurunan baskom air pada spirometer dan diukur volume tidal yang
diperoleh.

 Mengukur Kapasitas Inspirasi

11
Dibersihkan mulut pipa pengukur dengan alkohol untuk mengindari ada patogen
mikroorganisme.

Dilakukan inspirasi sekuat-kuatnya dan ekspirasi sampai ekspirasi normal melalui pipa
pengukur dengan menutup hidung.

Dilakukan masing-masing sebanyak 3x.

Dicatat kenaikan dan penurunan baskom air pada spirometer dan diukur volume tidal yang
diperoleh.
(Dapat juga diperoleh dengan rumus : Volume tidal + Volume Cadangan inspirasi)

 Mengukur Kapasitas Vital

Dibersihkan mulut pipa pengukur dengan alkohol untuk mengindari ada patogen
mikroorganisme.

Dilakukan inspirasi sekuat-kuatnya diikuti ekspirasi sekuat-kuatnya melalui pipa pengukur
dengan menutup hidung.

Dilakukan masing-masing sebanyak 3x.

Dicatat kenaikan dan penurunan baskom air pada spirometer dan diukur volume tidal yang
diperoleh.
(Dapat juga diperoleh dengan rumus : Volume tidal + Volume Cadangan inspirasi + Volume
Cadangan ekspirasi)

BAB IV
12
PEMBAHASAN

A. HASIL PERCOBAAN
 Probandus Jimmy Indarto Gunawan, pria, 20 th, tinggi badan 162 cm dan berat
badan 81 kg.

Hasil Percobaan
Volume Vol. Vol. cadangan Kapasitas Kapasitas Kapasitas vital
tidal cadangan ekspirasi inspirasi vital prediksi
inspirasi
250 ml 1300 ml 600 ml 1550 ml 2150 ml
300 ml 1300 ml 900 ml 1600 ml 2500 ml 4113, 18 ml
300 ml 1300 ml 900 ml 1600 ml 2500 ml
 Kapasitas vital prediksi :
Laki-laki [27,63-(0,112 x umur)] x TB (cm)
= [27,63-(0,112 x 20)] x 162 cm
= 4113, 18 ml

 Probandus Kadek Sinthia Grahita, wanita, 19 th, tinggi badan 158 cm dan berat
badan 52 kg.

Hasil Percobaan
Volume Vol. Vol. cadangan Kapasitas Kapasitas Kapasitas vital
tidal cadangan ekspirasi inspirasi vital prediksi
inspirasi
300 ml 700 ml 700 ml 1000 ml 1700 ml
200 ml 700 ml 700 ml 900 ml 1600 ml 3138, 04 ml
250 ml 800 ml 700 ml 1000 ml 1850 ml

 Kapasitas vital prediksi :


Perempuan [21,78-(0,101 x umur)] x TB (cm)
= [21,78-(0,101 x 19)] x 158 cm
= 3138, 04 ml

B. PEMBAHASAN

Dari percobaan yang dilakukan pada probandus Jimmy Indarto Gunawan dengan
meminta probandus melakukan ekspirasi dan inspirasi biasa (pernapasan reflektoris) ke
dalam spirometer sederhana sebanyak tiga kali, didapatkan bahwa hasil tertinggi sebagai hasil
akhir volume tidal probandus Jimmy yang berhasil terukur adalah 300 ml. Hasil ini berada
dibawah nilai normal jika dibandingkan dengan nilai volume tidal normal laki-laki yang
dikemukakan oleh Comroe JH dalam dasar teori, dimana nilai volume tidal normal untuk
laki-laki yaitu 500 ml.
Akan tetapi, perihitungan spirometer yang memiliki fungsi kerja sama dengan PFR
setiap orang memang berbeda-beda dan banyak faktor yang mempengaruhinya misalnya
13
umur, jrnis kelamin, postur tubuh, posisi selama pengukuran, ataupun karena standar tersebut
hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang berbeda ras dengan orang Indonesia pada
umumnya. Kesalahan yang terjadi pada nilai volume tidal pada pria dapat disebabkan karena
praktikan menghirup napas dalam sehingga udara yang dikeluarkan banyak.. Jadi, sangat
dimungkinkan meskipun penghitungan volume tidal menunujukkan bahwa volume tidal yang
terukur berada dibawah normal, tetapi seseorang tidak mengalami gangguan pernapasan.

Pada beberapa kondisi patologis, penurunan volume tidal sangat berpengaruh dalam
mengindikasi adanya beberapa penyakit, misalnya atelaktasi. Pada kasus atelaktasi, avleoli
paru mengempis atau kolaps. Akibatnya terjadi penyumbatan pada alveoli sehingga aliran
darah meningkat dan terjadi penekanan dan pelipatan pembuluh darah sehingga volume paru
berkurang.

Untuk pengukuran volume cadangan inspirasi, diketahui bahwa probandus Jimmy


memiliki volume cadangan inspirasi sebesar 1300 ml. Hasil ini berada jauh dibawah nilai
normal jika dibandingkan dengan nilai volume cadangan inspirasi normal laki-laki yang
dikemukakan oleh Comroe JH dalam dasar teori, dimana nilai volume cadangan inspirasi
normal untuk laki-laki yaitu 3100 ml.
Fakto-faktor yang mempengaruhi pengukuran seperti yang dijelaskan sebelumnya pada
pembahasan volume tidal, juga turut berpengaruh pada hasil pengukuran volume cadangan inspirasi.
Namun kesalahan utama yang paling sering terjadi adalah praktikan berusaha untuk memaksakan
proses inspirasi secara berlebihan (dari yang mestinya dilakukan). Sehingga hasilnya justru berbeda
dengan nilai normal yang ditetapkan.
Pada beberapa kasus patologis, misalnya pada serangan asma dimana kontriksi
saluran udara akan menghasilkan suara yang tidak normal. Kondisi itu membatasi
penggembungan maksimal paru-paru yang berefek sama terhadap kapasitas vital. Karena hal
tersebut, inspirasi cadangan menjadi rendah. Meskipun demikian ekspirasi cadangan dan
pergerakan kecepatan ekspirasi relatif normal.
Sedangkan untuk pengukuran volume cadangan ekspirasi, diketahui bahwa probandus
Jimmy memiliki volume cadangan ekspirasi sebesar 900 ml. Hasil ini berada cukup jauh
dibawah nilai normal jika dibandingkan dengan nilai volume cadangan ekspirasi normal laki-
laki yang dikemukakan oleh Comroe JH dalam dasar teori, dimana nilai volume cadangan
ekspirasi normal untuk laki-laki yaitu 1200 ml.
Fakto-faktor yang mempengaruhi pengukuran seperti yang dijelaskan sebelumnya
pada pembahasan volume tidal, juga turut berpengaruh pada hasil pengukuran volume
cadangan ekspirasi. Namun kesalahan utama yang paling sering terjadi adalah praktikan
berusaha untuk memaksakan proses ekspirasi secara berlebihan (dari yang mestinya
dilakukan). Sehingga hasilnya justru berbeda dengan nilai normal yang ditetapkan. Kondisi
lingkungan, contohnya keadaan udara di dalam ruangan tempat praktikum berlangsung juga
sangat berpengaruh terhasap proses perhitungan.
Pada beberapa kasus patologis, misalnya pada serangan asma dimana konstriksi
jalannya udara cenderung menutup sebelum ekshalasi penuh. Hasilnya fungsi paru-paru
menunjukkan pengurangan kapasitas vital, pengurangan ekspirasi cadangan, dan kecepatan
pergerakan udara.
Untuk pengukuran kapasitas inspirasi, diketahui bahwa probandus Jimmy memiliki
kapasitas inspirasi sebesar 1600 ml. Hasil ini berada jauh dibawah nilai normal jika

14
dibandingkan dengan nilai kapasitas inspirasi normal laki-laki yang dikemukakan oleh
Comroe JH dalam dasar teori, dimana nilai kapasitas inspirasi normal untuk laki-laki yaitu
3600 ml.
Fakto-faktor yang mempengaruhi pengukuran seperti yang dijelaskan sebelumnya
pada pembahasan volume tidal, juga turut berpengaruh pada hasil pengukuran kapasitas
inspirasi. Namun perbedaan yang sangat jauh dari nilai normal untuk hasil pengukuran
volume tidal dan cadangan inspirasi juga menjadi salah satu faktor berbedanya hasil
penghitungan kapasitas inspirasi dibandingkan hasil normal dalam literatur.
Selain itu, adanya penyakit tuberkulosis, pneumonia dan efisema kronik paru juga
berpengaruh terhadap penurunan kapasitas paru. Sehingga sangat dimungkinkan adanya
indikasi penyakit tersebut diatas jika ditemukan adanya penurunan kapasitas paru.
Sedangkan untuk pengukuran kapasitas vital paru untuk probandus Jimmy, didapati
nilai sebesar 2500 ml. Hasil ini berada jauh dibawah nilai normal jika dibandingkan dengan
nilai kapasitas vital normal laki-laki yang dikemukakan oleh Comroe JH dalam dasar teori,
dimana nilai kapasitas vital normal untuk laki-laki yaitu 4800 ml.
Fakto-faktor yang mempengaruhi pengukuran seperti yang dijelaskan sebelumnya
pada pembahasan volume tidal, juga turut berpengaruh pada hasil pangukuran kapasitas vital
paru.
Adanya penurunan kapasitas vital paru dapat menjadi indikasi adanya suatu penyakit.
Misalnya pada serangan asma dimana konstriksi jalannya udara cenderung menutup sebelum
ekshalasi penuh. Hasilnya fungsi paru-paru menunjukkan pengurangan kapasitas vital,
pengurangan ekspirasi cadangan, dan kecepatan pergerakan udara.
Selain itu, penyakit TB, pneumonia dan efisema kronik paru juga merupakan penyakit
yang memperlihatkan adanya penurunan kapasitas paru.
Untuk penghitungan terakhir, yaitu kapasitas vital prediksi paru probandus Jimmy,
hasil yang dapat diperoleh melalui penghitungan rumus adalah sebesar 4113, 18 ml.
Pengukuran banding untuk mengetahui kisaran kapasitas vital paru probandus Jimmy ini
ternyata berbeda cukup jauh dari kapasitas vital paru yang telah didapatkan dan dijelaskan
sebelumnya.
Adanya perbedaan prediksi dengan hasil penghitungan kapasitas vital yang
didapatkan menjadi indikasi adanya kesalahan dalam praktikum. Namun belum didapatkan
literatur yang jelas mengenai dampak perbedaan kapasitas vital prediksi paru yang dihitung
dengan menggunakan rumus dengan kapasitas vital paru yang diukur melalui spirometer.

Untuk percobaan yang dilakukan pada probandus Kadek Sinthia Grahita dengan
meminta probandus melakukan ekspirasi dan inspirasi biasa (pernapasan reflektoris) ke
dalam spirometer sederhana sebanyak tiga kali, didapatkan bahwa hasil tertinggi sebagai hasil
akhir volume tidal probandus Kadek yang berhasil terukur adalah 300 ml. Hasil ini berada
dibawah nilai normal jika dibandingkan dengan nilai volume tidal normal wanita yang
dikemukakan dalam dasar teori, dimana nilai volume tidal normal untuk wanita yaitu 380 ml.
Akan tetapi, perihitungan spirometer yang memiliki fungsi kerja sama dengan PFR
setiap orang memang berbeda-beda dan banyak faktor yang mempengaruhinya misalnya
umur, jrnis kelamin, postur tubuh, posisi selama pengukuran, ataupun karena standar tersebut
hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang berbeda ras dengan orang Indonesia pada
umumnya. Kesalahan yang terjadi pada nilai volume tidal pada pria dapat disebabkan karena
praktikan menghirup napas dalam sehingga udara yang dikeluarkan banyak.. Jadi, sangat
15
dimungkinkan meskipun penghitungan volume tidal menunujukkan bahwa volume tidal yang
terukur berada dibawah normal, tetapi seseorang tidak mengalami gangguan pernapasan.

Pada beberapa kondisi patologis, penurunan volume tidal sangat berpengaruh dalam
mengindikasi adanya beberapa penyakit, misalnya atelaktasi. Pada kasus atelaktasi, avleoli
paru mengempis atau kolaps. Akibatnya terjadi penyumbatan pada alveoli sehingga aliran
darah meningkat dan terjadi penekanan dan pelipatan pembuluh darah sehingga volume paru
berkurang.

Untuk pengukuran volume cadangan inspirasi, diketahui bahwa probandus Kadek


memiliki volume cadangan inspirasi sebesar 800 ml. Hasil ini berada jauh dibawah nilai
normal jika dibandingkan dengan nilai volume cadangan inspirasi normal wanita yang
dikemukakan dalam dasar teori, dimana nilai volume cadangan inspirasi normal untuk wanita
yaitu 1900 ml.
Fakto-faktor yang mempengaruhi pengukuran seperti yang dijelaskan sebelumnya pada
pembahasan volume tidal, juga turut berpengaruh pada hasil pengukuran volume cadangan inspirasi.
Namun kesalahan utama yang paling sering terjadi adalah praktikan berusaha untuk memaksakan
proses inspirasi secara berlebihan (dari yang mestinya dilakukan). Sehingga hasilnya justru berbeda
dengan nilai normal yang ditetapkan.
Pada beberapa kasus patologis, misalnya pada serangan asma dimana kontriksi
saluran udara akan menghasilkan suara yang tidak normal. Kondisi itu membatasi
penggembungan maksimal paru-paru yang berefek sama terhadap kapasitas vital. Karena hal
tersebut, inspirasi cadangan menjadi rendah. Meskipun demikian ekspirasi cadangan dan
pergerakan kecepatan ekspirasi relatif normal.
Sedangkan untuk pengukuran volume cadangan ekspirasi, diketahui bahwa probandus
Kadek memiliki volume cadangan ekspirasi sebesar 700 ml. Hasil ini normal jika
dibandingkan dengan nilai volume cadangan ekspirasi normal wanita yang dicantumkan di
situs http://alusss.000space.com dalam dasar teori, dimana nilai volume cadangan ekspirasi
normal untuk wanita yaitu 800 ml.
Pada beberapa kasus patologis, misalnya pada serangan asma dimana konstriksi
jalannya udara cenderung menutup sebelum ekshalasi penuh. Hasilnya fungsi paru-paru
menunjukkan pengurangan kapasitas vital, pengurangan ekspirasi cadangan, dan kecepatan
pergerakan udara.
Untuk pengukuran kapasitas inspirasi, diketahui bahwa probandus Kadek memiliki
kapasitas inspirasi sebesar 1000 ml. Hasil ini berada jauh dibawah nilai normal jika
dibandingkan dengan nilai kapasitas inspirasi yang dikemukakan oleh Comroe JH dalam
dasar teori, dimana nilai kapasitas inspirasi normal yaitu 3600 ml.
Fakto-faktor yang mempengaruhi pengukuran seperti yang dijelaskan sebelumnya
pada pembahasan volume tidal, juga turut berpengaruh pada hasil pengukuran kapasitas
inspirasi. Namun perbedaan yang sangat jauh dari nilai normal untuk hasil pengukuran
volume tidal dan cadangan inspirasi juga menjadi salah satu faktor berbedanya hasil
penghitungan kapasitas inspirasi dibandingkan hasil normal dalam literatur.
Selain itu, adanya penyakit tuberkulosis, pneumonia dan efisema kronik paru juga
berpengaruh terhadap penurunan kapasitas paru. Sehingga sangat dimungkinkan adanya
indikasi penyakit tersebut diatas jika ditemukan adanya penurunan kapasitas paru.

16
Sedangkan untuk pengukuran kapasitas vital paru untuk probandus Kadek, didapati
nilai sebesar 1850 ml. Hasil ini sedikit dibawah nilai normal jika dibandingkan dengan nilai
kapasitas vital normal wanita yang dicantumkan di situs http://alusss.000space.com dalam
dasar teori, dimana nilai kapasitas vital normal untuk wanita yaitu 1900 ml.
Fakto-faktor yang mempengaruhi pengukuran seperti yang dijelaskan sebelumnya
pada pembahasan volume tidal, juga turut berpengaruh pada hasil pangukuran kapasitas vital
paru.
Adanya penurunan kapasitas vital paru dapat menjadi indikasi adanya suatu penyakit.
Misalnya pada serangan asma dimana konstriksi jalannya udara cenderung menutup sebelum
ekshalasi penuh. Hasilnya fungsi paru-paru menunjukkan pengurangan kapasitas vital,
pengurangan ekspirasi cadangan, dan kecepatan pergerakan udara.
Selain itu, penyakit TB, pneumonia dan efisema kronik paru juga merupakan penyakit
yang memperlihatkan adanya penurunan kapasitas paru.
Untuk penghitungan terakhir, yaitu kapasitas vital prediksi paru probandus Kadek,
hasil yang dapat diperoleh melalui penghitungan rumus adalah sebesar 3138, 04 ml.
Pengukuran banding untuk mengetahui kisaran kapasitas vital paru probandus Kadek ini
ternyata berbeda cukup jauh dari kapasitas vital paru yang telah didapatkan dan dijelaskan
sebelumnya.
Adanya perbedaan prediksi dengan hasil penghitungan kapasitas vital yang
didapatkan menjadi indikasi adanya kesalahan dalam praktikum. Namun belum didapatkan
literatur yang jelas mengenai dampak perbedaan kapasitas vital prediksi paru yang dihitung
dengan menggunakan rumus dengan kapasitas vital paru yang diukur melalui spirometer.

17
BAB V
KESIMPULAN

1. Pernapasan paru merupakan pertukaran oksigen dan karbondioksida yang terjadi pada
paru. Fungsi paru adalah tempat pertukaran gas oksigen dan karbondioksida pada
pernapasan melalui paru / pernapasan eksterna.
2. Volume dan udara dalam paru-paru dan kecepatan pertukaran saat inspirasi dan
ekspirasi dapat diukur malalui spirometer.
3. Pengukuran volume paru dapat berupa pengukuran volume tidal (VT), volume
cadangan inspirasi (VCI), volume cadangan ekspirasi (VCE) dan volume residusal
(VR)
4. Pengukuran kapasitas paru dapat berupa pengukuran kapasitas residual fungsional
(KRF), kapasitas inspirasi (KI), kapasitas vital (KV), dan kapasitas total paru (KTP).
5. Pada pengukuran volume dan kapasitas paru probandus Jimmy, didaptkan bahwa
volume tidal paru probandus Jimmy sebesar 300 ml, volume cadangan inspirasi sebesar
1300 ml, volume cadangan ekspirasi sebesar 900 ml, kapasitas inspirasi sebesar 1600
ml, dan kapasitas vital sebesar 2500 ml.
6. Hasil pengukuran kapasitas dan volume paru probandus Jimmy, kesemuanya
memberikan hasil yang lebih rendah dibawah nilai normal seperti yang dicantumkan
dalam dasar teori.
7. Pada pengukuran volume dan kapasitas paru probandus Kadek, didaptkan bahwa
volume tidal paru probandus Kadek sebesar 300 ml, volume cadangan inspirasi sebesar
800 ml, volume cadangan ekspirasi sebesar 700 ml, kapasitas inspirasi sebesar 1000 ml,
dan kapasitas vital sebesar 1850 ml.
8. Hasil pengukuran kapasitas dan volume paru probandus Kadek, kesemuanya
memberikan hasil yang lebih rendah dibawah nilai normal seperti yang dicantumkan
dalam dasar teori, hanya penghitungan volume cadangan ekspirasi yang memberikan
hasil normal.
9. Beberapa penyakit yang menyebabkan perbedaan kapasitas dan volume paru terhadap
nilai normalnya antara lain efisema paru, asma, pneumonia dan TB paru.
10. Banyak faktor yang menyebabkan perbedaan hasil penghitungan kapasitas dan volume
paru dengan hasil normal yang dicantumkan dalam literatur.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. American Thoracic Society, Medical Section of the American Lung Association.


Standard for diagnostic and care of patients with chronic obstructive pulmonary
disease (COPD) and asthma. Am Rev Respir. 1987; 136-43.
2. Arthur C Guyton, John E Hall . 1997. Fisiologi Kedokteran. Terjemahan Irawati
Setiawan . Jakarta: EGC
3. Carilli PA, Denson U. The Flow Volume Curve in Normal Subject and Diffuse Lung
Disease. Chest 1974; 66: 472-7
4. Comroe JH. The lung : clinical physiology and pulmonary function test, ed 2.
Chicago. 1971. Mosby.
5. Hodgkin JE. Diagnosis and differentiation. Dalam: Chronic Obstructive Pulmonary
Disease. Park Ridge: The American College of Chest Physicians. 1979: 5-34.
6. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1957903-kapasitas-paru-paru/
7. Jan Tambayong. 2001. Anatomi Fisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: Rineka Cipta
8. Petty TL Practical Pulmonary Function Tests. Dalam: Pulmonary Diagnostic
Technique. Philadelphia: Lea & Febiger, 1975: 1-50.
9. Syaifudin. 1997. Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat. Jakarta: EGC
10. www.statcounter.com. 2007. Asma 2. diakses pada tanggal 29 Nopember 2008.
11. http://alusss.000space.com/index.php?option=com_content&view=article&id=47:kapasitas-
paru-paru&catid=35:materi-&Itemid=54

19

Anda mungkin juga menyukai