Anda di halaman 1dari 19

TUGAS

MAKALAH

FILSAFAT SAINS DAN BIOETIKA

KEBENARAN ILMIAH

Oleh:

KELOMPOK III

1. NANA CITRAWATI LESTARI (A2C110009)


2. ROSYANA (A2C11000?)
3. SITI NOORHASANAH (A2C11000?)

Dosen Pengajar:

Drs. DHARMONO, M.Si

PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 1


BANJARMASIN
2010
BAB I
PENDAHULUAN

Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan

fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh

manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-

tahap metode ilmiah. Kriteria ilmiah dari suatu ilmu memang tidak dapat

menjelaskan fakta dan realitas yang ada. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan

yang berada dalam lingkup religi ataupun yang metafisika dan mistik, ataupun

yang non ilmiah lainnya. Di sinilah perlunya pengembangan sikap dan

kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam dunianya.

Penegasan di atas dapat kita pahami karena apa yang disebut ilmu

pengetahuan diletakkan dengan ukuran. Pertama, pada dimensi fenomenalnya

yaitu bahwa ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat, sebagai

proses dan sebagai produk. Kedua, pada dimensi strukturalnya, yaitu bahwa ilmu

pengetahuan harus terstruktur atas komponen-komponen, obyek sasaran yang

hendak diteliti (begenstand), yang diteliti atau dipertanyakan tanpa mengenal titik

henti atas dasar motif dan tata cara tertentu, sedang hasil-hasil temuannya

diletakkan dalam satu kesatuan sistem (Wibisono, 1982). Tampaknya anggapan

yang kurang tepat mengenai apa yang disebut ilmiah telah mengakibatkan

pandangan yang salah terhadap kebenaran ilmiah dan fungsinya bagi kehidupan

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 2


manusia. Ilmiah atau tidak ilmiah kemudian dipergunakan orang untuk menolak

atau menerima suatu produk pemikiran manusia.

BAB II
ISI

2.1 Arti Kebenaran

Kata kebenaran dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret

maupun abstrak (Hamami, 1983). Jadi ada 2 pengertian kebenaran, yaitu

kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi di satu pihak, dan kebenaran dalam arti

lawan dari keburukan (ketidakbenaran) (Syafi’i, 1995). Jika subjek hendak

menuturkan kebenaran artinya adalah proposisi yang benar . Proposisi maksudnya

adalah makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement. Apabila

subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki

kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan dan nilai, hal yang demikian itu karena

kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan, dan nilai

itu sendiri.

Dalam bahasan ini, makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna

“kebenaran keilmuan (ilmiah)”. Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun

langgeng, melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan hanya

merupakan pendekatan (Wilardo, 1985). Kebenaran intelektual yang ada pada

ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan.

Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 3


pengabdian ilmu secara netral, tak bermuara, dapat melunturkan pengertian

kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang

masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya

kebenaran (Daldjoeni, 1985). Selaras dengan Poedjawiyatna (1987) yang

mengatakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang

disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang

diketahui. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif.

Kebenaran pertama-tama berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya,

setiap pengtahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui sesuatu objek

dilihat dari jenis pengetahuan yang dibangun. Adapun pengetahuan itu berupa

berikut ini:

1. Pengetahuan biasa disebut juga Knowledge of the man in the street atau

ordinary knowledge atau common sense knowledge. Pengetahuan seperti ini

memiliki inti kebenaran yang sifatnya subjektif. Artinya sangat terikat pada

subjek yang mengenal. Dengan demikian, pengetahuan tahap pertama ini

memiliki sifat selalu benar sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan

bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.

2. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang telah menetapkan objek yang

khas dengan menerapkan atau hampiran metodologis yang khas pula.

Artinya, metodologi yang telah mendapatkan kesepakatan di antara para ahli

yang sejenis. Maksudnya kandungan kebenaran dari jenis pengetahuan ilmiah

selalu mendapatkan revisi yaitu selalu diperkaya oleh hasil penemuan yang

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 4


paling mutakhir. Dengan demikian, kenbenaran dalam pengetahuan ilmah

selalu mengalami pembaharuan sesuai dengan hasil penelitian yang paling

akhir dan mendapatkan persetujuan, adanya agreement konvensi para

ilmuwan sejenis.

3. Pengetahuan filsafat adalah sejenis pengetahuan yang pendekatanya melalui

metodologi pemikiran filsafat yang bersifat mendasar dan menyeluruh dengan

model pemikiran yang analistis, kritis dan spekulatif. Sifat kebenaran yang

terkandung dalam penegetahuan filsafati adalah absolute intersubjektif.

Maksudnya nilai kebenaran yang terkandung jenis pengetahuan filsafat

selalu merupakan pendapat yang selalu melekat pada pandangan filsafat dari

seorang pemikir filsafat serta selalu mendapat pembenaran dari filsafat

kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran yang sama pula. Jika

pendapat filsafat itu ditinjau dari sisi lain, artinya dengan pendekatan filsafat

yang lain sedah dapat dipastikan hasilnya akan berbeda atau bahkan

bertentangan atau menghilangkan sama sekali. Mis alnya, filsafat matematika

atau geometri dari Phytagoras sampai sekarang masih tetap seperti eaktu

Phytagoras itu pertama kali memunculkan pendapatnya pada abad VI SM.

4. Kebenaran jenis pengetahuan adalah kebenaran pengetahuan yang terkandung

dalam pengetahuan agama. Pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis,

Artinya pernyataan dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan yang

telah tertentu sehingga pernyataan-pernyataan dalam ayat-ayat kitab suci

agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 5


untuk memahaminya itu. Implikasi makna dari kandungan kitab suci dapat

berkembang secara dinamik sesuai dengan perkembangan waktu. Akan tetapi,

kandungan maksud dari ayat kitab suci itu tidak dapat diubah dan sifanya

absolut.

Kebenaran kedua dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana

cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuanya itu. Apakah

ia membangun dengan penginderaan atau sense experience, akal pikiran atau

ratio, intuisi, atau keyakinan. Implikasi dari penggunaan alat untuk memperoleh

pengetahuan melalui alat tertentu akan mengakibatkan karakteristik kebenaran

yang dikandung oleh pengetahuan itu akan memiliki cara tertentu untuk

membuktikanya. Artinya, jika seseorang membangunnya melalui indera atau

sense experience. Maka pada saat ia membuktikan kebenaran pengetahuan itu

harus melalui indera pula. Begitu juga dengan cara yang lain misalnya dengan

indra kimiawi. Jenis pengetahuan menurut kriteria karakteristiknya dibedakan

dalam jenis pengetahuan seperti berikut ini:

1. pengetahuan indrawi

2. pengetahuan akal budi

3. pengetahuan intuitif

4. pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan otoritatif dan pengetahuan

yang lainnya.

Kebenaran pengetahuan ketiga adalah nilai kebenaran pengetahuan yang

dikaitkan atau ketergantungan terjadinya pengetahuan. Artinya bagaimana relasi

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 6


atau hubungan antara subjek dan objek. Juka subjek yang berperan maka jenis

pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran yang sifatnya subjektif. Artinya

nilai kebenaran dari pnegetahuan yang dikandungnya sangat tergantung pada

subjek yang memiliki pengetahuan itu atau jika objek yang berperan . Sifatnya

objektif seperti pengetahuan tentang alam dan ilmu-ilmu alam.

Meskipun demikian, apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran

mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang

lebih jati lagi dan demikian seterusnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan

keberadaan manusia yang transenden,dengan kata lain, keresahan ilmu bertalian

dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Dari sini terdapat petunjuk

mengenai kebenaran yang trasenden, artinya tidak henti dari kebenaran itu

terdapat diluar jangkauan manusia.

2.2 Teori Tentang Kebenaran

Dalam perkembangan pemikiran filsafat perbincangan tentang kebenaran

sudah dimulai sejak Plato, kemudian diteruskan oleh Aristoteles. Plato melalui

metode dialog membangun teori pengetahuan yang cukup lengkap sebagai teori

pengetahuan yang paling awal. Sejak itu teori pengetahuan berkembang terus

dengan mendapatkan penyempurnaan sampai sekarang. Hal itu seperti yang

dikemukakan seorang filusuf abad XX Jaspers yang dikutip oleh Hamersma

(1985) mengemukakan bahwa sebenarnya para pemikir sekarang ini hanya

melengkapi dan menyempurnakan filsafat plato dan filsafat Aristoteles. Teori

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 7


kebenaran selalu paralel dengan teori pengetahuan yang dibangunnya. Teori-teori

kebenaran yang telah terlembaga itu seperti berikut:

1. Teori kebenaran Korespondensi

2. Teori kebenaran Koherensi

3. Teori kebenaran Pragmatis

4. Teori kebenaran Sintaksis

5. Teori kebenaran Semantis

6. Teori Kebenaran Non-Deskripsi

7. Teori Kebenaran Logis yang berlebihan

Teori-teori di atas akan dijelaskan secara rinci pada uraian berikut:

1. Teori Kebenaran Korespondensi

Ujian kebenaran yang dinamakan teori korespondensi ini adalah teori yang

paling diterima secara luas oleh kelompok realis. Menurut teori ini, kebenaran

adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelity to objective reality). Kebenaran

adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri, atau

antara pertimbangan (judgement) dan situasi yang pertimbangan itu berusaha

untuk melukiskan, karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan

pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu (Titus, 1987).

Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori

korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang

dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang

dituju oleh pernyataan tersebut (Suriasumantri, 1990). Misalnya jika seorang

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 8


mahasiswa mengatakan “kota Yogyakarta terletak di pulau Jawa” maka

pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat

faktual, yakni kota Yogyakarta memang benar-benar berada di pulau Jawa.

Sekiranya orang lain yang mengatakan bahwa “kota Yogyakarta berada di pulau

Sumatra” maka pernnyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek

yang sesuai dengan pernyataan tersebut. Dalam hal ini maka secara faktual “kota

Yogyakarta bukan berada di pulau Sumatra melainkan di pulau Jawa”.

Menurut teori koresponden, ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai

hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan, oleh karena atau

kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yang sudah ditetapkan atau

diingkari. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta, maka pertimbangan ini

benar, jika tidak, maka pertimbangan itu salah (Jujun, 1990).

2. Teori Kebenaran Koherensi

Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu

bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang

dianggap benar (Jujun, 1990), artinya pertimbangan adalah benar jika

pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima

kebenarannya, yaitu yang koheren menurut logika. Misalnya, bila kita

menganggap bahwa “semua manusia pasti akan mati” adalah suatu pernyataan

yang benar, maka pernyataan bahwa “si Hasan seorang manusia dan si Hasan

pasti akan mati” adalah benar pula, sebab pernyataan kedua adalah konsisten

dengan pernyataan yang pertama.

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 9


Seorang sarjana Barat A.C Ewing (1951:62) menulis tentang teori

koherensi, ia mengatakan bahwa koherensi yang sempurna merupakan suatu idel

yang tak dapat dicapai, akan tetapi pendapat-pendapat dapat dipertimbangkan

menurut jaraknya dari ideal tersebut. Sebagaimana pendekatan dalam aritmatik,

dimana pernyataan-pernyataan terjalin sangat teratur sehingga tiap pernyataan

timbul dengan sendirinya dari pernyataan tanpa berkontradiksi dengan

pernyataan-pernyataan lainnya. Jika kita menganggap bahwa 2+2=5, maka tanpa

melakukan kesalahan lebih lanjut, dapat ditarik kesimpulan yang menyalahi tiap

kebenaran aritmatik tentang angka apa saja.

Kelompok idealis, seperti Plato juga filosof-filosof modern seperti Hegel,

Bradley dan Royce memperluas prinsip koherensi sehingga meliputi dunia;

dengan begitu maka tiap-tiap pertimbangan yang benar dan tiap-tiap sistem

kebenaran yang parsial bersifat terus menerus dengan keseluruhan realitas dan

memperolah arti dari keseluruhan tersebut (Titus, 1987). Meskipun demikian

perlu lebih dinyatakan dengan referensi kepada konsistensi faktual, yakni

persetujuan antara suatu perkembangan dan suatu situasi lingkungan tertentu.

3. Teori Kebenaran Pragmatis

Teori pragmatik dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam

sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yangberjudul “How to Make Ideals

Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang

kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering

dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filasafat ini di antaranya adalah

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 10


William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Hobart Mead

(1863-1931) dan C.I. Lewis (Jujun, 1990)

Pragmatisme menantang segala otoritanianisme, intelektualisme dan

rasionalisme. Bagi mereka ujian kebenaran adalah manfaat (utility),kemungkinan

dikerjakan (workability) atau akibat yang memuaskan (Titus, 1987), Sehingga

dapat dikatakan bahwa pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa

yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan

akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatis adalah

logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup praktis

(Hadiwijono, 1980) dalam kehidupan manusia.

Kriteria pragmatisme juga dipergunakan oleh ilmuan dalam menentukan

kebenaran ilmiah dalam prespektif waktu. Secara historis pernyataan ilmiah yang

sekarang dianggap benar suatu waktu mungkin tidak lagi demikian. Dihadapkan

dengan masalah seperti ini maka ilmuan bersifat pragmatis selama pernyataan itu

fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan itu dianggap benar,

sekiranya pernyataan itu tidak lagi bersifat demikian, disebabkan perkembangan

ilmu itu sendiri yang menghasilkan pernyataan baru, maka pernyataan itu

ditinggalkan (Jujun, 1990), demikian seterusnya. Tetapi kriteria kebenaran

cenderung menekankan satu atu lebih dati tiga pendekatan (1) yang benar adalah

yang memuaskan keinginan kita, (2) yang benar adalah yang dapat dibuktikan

dengan eksperimen, (3) yang benar adalah yang membantu dalam perjuangan

hidup biologis. Oleh karena teori-teori kebenaran (koresponden, koherensi, dan

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 11


pragmatisme) itu lebih bersifat saling menyempurnakan daripada saling

bertentangan, maka teori tersebut dapat digabungkan dalam suatu definisi tentang

kebenaran. kebenaran adalah persesuaian yang setia dari pertimbangan dan ide

kita kepada fakta pengalaman atau kepada alam seperti adanya. Akan tetapi

karena kita dengan situasi yang sebenarnya, maka dapat diujilah pertimbangan

tersebut dengan konsistensinnya dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang

kita anggap sah dan benar, atau kita uji dengan faidahnya dan akibat-akibatnya

yang praktis (Titus, 1987).

4. Teori Kebenaran Sintaksis

Para penganut teori kebenaran sintaksis berpangkal tolak pada keteraturan

sintaksis atau garamatika yang dipakai ole suatu pernyataan atau tata bahasa yang

melekatnya. Dengan demikian, suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan

itu mengikuti aturan-aturan sinaksis yang baku atau apabila proporsisi itu tdak

mengikuti syarat atau keluar dari hal yang diisyaratkan proporsisi itu tidak

mempunyai arti. Teori ini berkembang diantara para pilsuf analisa bahasa,

terutama yang bgitu ketat terhadap pemakaian gramatikal, seperti Friederich

Schleiermacher (1768-1834).

5. Teori Kebenaran Semantis

Teori kebanaran semantis dianut oleh faham filsafat Bertrand Russel

sebagai kokoh pemula dari filsafat Analitika Bahasa. Menurut teori kebenaran

semantis bahwa suatu proporsisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 12


makna. Apakah proporsisi yang merupakan pangkal tumpunya inti mempunyai

pengacu (referent) yang jelas. Oleh karena itu, teori ini memiliki tugas untuk

menguak kesyahan proporsisi dalam referensinya.

Teori kebenaran emantis sebenarnya berpangkal atau mengacu pada

pendapat Aristoteles sebagaimana yang dgambarkan oleh White (1978) seperti

berikut ini:

“To say of what is that is or of what is not, is true”,

Atau mengacu pada teori tradisional korespondensi yang mengatakan:

“ …that truth consists in correspondence of what is said and what is fact.

Dengan demikian, teori kebenaran semantik menyatakan bahwa proporsisi

itu mempunyai nilai kebenaran jika proporsisi itu memiliki arti. Arti ini

menunjukkan makna yang sesungguhnya dengan menunjuk pada referensi atau

kenyataan. Selain itu juga arti yang dikemukakan itu memiliki arti yang bersifat

definitive (arti yang jelas dengan menunjuk cirri yang khas dari sesuatu yang ada).

6. Teori Kebenaran Non-Deskripsi

Teori kebenaran non-deskripsi dikembangkan oleh penganut filsafat

fungsionalisme karena pada dasarnya suatu statemen atau pernyataan itu akan

mempunyai nilai benar yang sangat tergantung peran dan fungsi pada pernyataan

itu.

White (1978) menggambarkan tentang kebenaran sebagaimana

dikemukakanya berikut ini:

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 13


“….to say. It is true that not many people are likely to do that “is away of
agreeing with the opinion that not many people are likely to do that anda not a
way of talking about the opnion , much less of talking about the sentence used to
express the opinion.
Memiliki pernyataan d atas dapat dikatakan bahwa pengetahuan akan

memiliki nilai banar sejauh pernyataan itu memiliki fungsi yang sangat praktis

dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan itu juga merupakan kesepakatan bersama

untuk menggunakan praktis dalam kehidupan sehari-hari.

7. Teori Kebenaran Logis yang berlebihan

Teori ini dikembangkan oleh kaum Positivistik yang diawali oleh Ayer.

Pada dasarnya menurut teori kebenaran ini adalah bahwa problem kebenaran

hanya merupakan kekacauan bahasa saja, dan hal ini akibatnya merupakan suatu

pemborosan karena pada dasarnya apa, pernyataan yang hendak dibuktikan

kebenaranya memiliki derajat logic yang sama dan masing-masing saling

melingkupinya. Dengan demikian , sesungguhnya setiap proporsisi yang bersifat

logic dengan menunjukkan bahwa proporsisi itu mempunyai isi yang sama,

memberikan informasi yang sama, dan semua orang sepakat sehingga apabila kita

membuktikanya lagi hal yang demikian itu hanya merupakan bentuk logis yang

berlebihan.

Hal yang demikian itu sesungguhnya karena suatu pernyataan yang

hendak dibuktikan nilai kebenaranya sebenarnya telah merupakan fakta atau data

yang telah memiliki evidensi. Artinya, objek pengetahuan itu sendiri telah

menunjukkan kejelasan dalam dirinya sendiri (Gallagher, 1984).

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 14


2.3 Sifat Kebenaran Ilmiah

Suatu kebenaran ilmiah lahir dari hasil penelitian ilmiah. Jadi agar

kebenaran tersebut dapat muncul maka harus melalui proses-proses atau suatu

prosedur. Prosedur baku yang harus dilalui adalah tahaan-tahapan untuk

memperoleh pengetahuan ilmiah, yang pada hakikatnya berupa teori, melalui

metodologi ilmiah yang baku sesuai dengan sifat dasar ilmu. Maksudnya, adalah

setiap ilmu secara tegas menetapkan jenis objek secara ketat apakah objek itu

berupa hal konkrit atau abstrak. Selain itu ilmu menetapkan langkah-langkah

ilmiah sesuai dengan objek yang dihadapinya itu.

Kebanaran data ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif. Maksudnya,

bahwa kebenaran dari suatu teori atau lebih tinggi dan aksioma atau paradigma,

harus didukung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam keadaan

objektifnya. Kebenaran yang benar-benar lepas dari keinginan subjek. Kenyataan

yang dimaksud adalah kenyataan yang berupa suatu dapat dipakai sebagai acuan

atau kenyataan yang pada mulanya merupakan objek dalam pembentukan

pengetahuan ilmiah itu.

Mengacu pada status ontologisme objek, pada dasarnya kebenarana dalam

ilmu dapat digolongkan dalam dua jenis teori yaitu teori kebenaran koepondensi

atau teori kebenaran kohensi. Ilum-ilmu kealaman pada umumnya menuntut

kebenaran korespondensi karena fakta-fakta objektif sangat dituntut dalam

pembuktian terhadap setiap proposisi atau pernyataan (statement) . Akan tetapi,

berbeda dengan ilmu-ilmu kemausiaan, ilmu-ilmu social, ilmu logika dan

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 15


matematika. Ilmu-ilmu tersebut menuntut konsistensi dan keherensi diantara

proposisi-proposisi sehingga pembenaran bagi ilmu-ilmu itu mengikat teori

kebenaran koherensi.

Hal yang cukup penting dan perlu mendapatkan perhatian dalam

kebenaran ini adalah kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil

persetujuan dan konvensi dari para ilmuwan di bidangnya. Sifat kebenaran ilmu

memiliki sifat universal sejauh kebenaran ilmu itu dapat dipertahankan.

Pernyataan tersebut karena kebenaran ilmu harus selalu merupakan kebenaran

yang disepakati dalam konfensi sehingga keuniversalan sigat ilmu harus selalu

harus masih dibatasi oleh penemuan baru atau penemuan lainnya yang hasilnya

menolak pertemuan terdahulu atau bertentangan sama sekali. Apabila terdapat hal

semacam ini, diperlukan suatu penelitian yang mendalam apabila hasilnya

berbeda. Kebenaran yang lama harus diganti oleh penemuan baru atau kedua-

duanya berjalan bersama dengan kekuatanya atas kebenaranya amasing-masing .

Contoh kasus yang terjadi adalah teori geometri, Euklides dan teori geometri.

Reinnan yang bersama-sama dengan Labocevsky tentang jumlah besar 3 sudut

dari suatu segitiga. Contoh yang lain adalah tentang peralihan teori tentang pusat

alam raya dari bumi nmenjadi matahari atau bahkan teori baru yang menunjukkan

bahwa pusat alam raya pada pusat galaksi bimasakti.

2.4 Cara Untuk Menemukan Kebenaran Ilmiah

Untuk menentukan kebenaran Ilmiah (AR-lacey) adalah:

1. Menemukan kebenaran dari masalah

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 16


2. Pengamatan dan teori

3. Metode Hipotetico-dedukatif

4. Pengamatan dan eksperimen

5. Falsification/operasionalm

6. Konfirmasi kemungkinan

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebenaran ilmiah tidak bisa

dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan

dan dimanfaakan oleh manusia serta proses atau prosedur suatu penelitian ilmiah.

Teori-teori kebenaran ada tujuh, yakni korespondensi, koherensi, pragmatis,

sintaksis, semantis, non-deskripsi, dan kebenaran logis yang berlebihan. Teori-

teori tersebut mencoba untuk menjelaskan tentang apa itu kebenaran. Kebenaran

ilmiah bersifat obyektif dan universal. Dalam teori keilmuan, untuk membuktikan

kebenaran ilmiah dari suatu pernyataan ilmiah harus sesuai dengan sifat dasar

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 17


metodologis yang digunakan dan sangat bergantung pada konvensi serta peran

masyarakat dalam menentukan karakteristik kebenaran ilmiah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Awing, A.C. 1951. The Fundamental Questions of Philosophy. Routledge and


Kegan Paul. London.
Burhanuddin Salam. 1995. Pengantar Filsafat. Bumi Aksara. Jakarta.
Butler, J. Donald. 1951. Four Philosophies and Their Practice in Education and
Religion. Horper and Brothers. New York.
Dharmono, M.Si. 2008. Filsafat Saints & Bioetika. Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan UNLAM. Banjarmasin.
Hadiwijono, H. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat II. Kanisius. Yogyakarta.
I.R. Poedjawijatna. 1987. Tahu dan Pengetahuan, Pengantar ke IImu dan
Filsafat. Bina Aksara. Jakarta.
Jujun S. Sumiasumantri (ed). 1985. Ilmu dalam Prespektif. Gramedia. Jakarta.
_______________________. 1990. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer.
Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
Kneller, George F., Movement of Thought in Modern Education, New York: John
Witey and Sound, 1984
Koento, W. 1982. Arti Perkemabangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste
Comte. Gadjah Mada Univercity Press. Yogyakarta.
Rapar, J.H. 1996. Pengantar Filsafat. Kanisius. Yogyakarta.

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 18


Richard Pratte. 1977. Conteporary Theories of Education. Intext International
Publisher. Scranton.
Syafi’i, I.K. 1995. Filsafat kehidupan (Prakata). Bumi Aksara. Jakarta.
Titus, Harold H., dkk. 1987. Living Issues in Philasophy, Terj. H. M.
Rasyidi, Persoalan-Persoalan Filsafat. Bulan Bintang. Jakarta.

Tugas Filsafat SAINS by NANA CL 19